BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberculosis (TB) adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang paru-paru
yang secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan
nekrosis jaringan. Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular dari
penderit kepada orang lain. (Santa, dkk, 2009)

Jumlah penderita TB paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat,.
Menurut laporan WHO, penderita TB di Indonesia pada tahun 2009
sebanyak 294.731 orang. Pada tahun 2010, jumlah penderita TB paru naik
menjadi 330.000 orang dan pada tahun 2012, jumlah penderita TB paru
meningkat cukup tajam yaitu 583.000 orang. Prevalensi tuberkulosis paru
BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam tiga wilayah yaitu
Sumatera, Jawa, dan Bali. Prevalensi tuberkulosis di wilayah Sumatera
sebesar 160 per 100.000 penduduk. Prevalensi tuberkulosis di wilayah
Jawa dan Bali sebesar 110 per 100.000 penduduk. Prevalensi
tuberkulosis di wilayah Indonesia bagian timur sebesar 210 per 100.000
penduduk (Departemen Kesehatan, 2008).

Pada bulan mei sampai juni 2015, jumlah penderita TB paru di RSUP
persahabatan terbanyak pada kelompok umur dibawah 45 tahun yaitu
sebanyak 79,8%. Penderita TB paru ditemukan dengan BTA positif sebanyak
227 (86%), dengan kasus terbanyak kasus baru (kategori 1) sebanyak 225
(85,2%) orang. (Rekam Medik Soka Atas, 2015)

Masalah utama yang dialami klien dengan TB paru yaitu gangguan
oksigenasi, yang disebabkan karena adanya bakteri mycobaterium didalam
paru-paru sehingga mengakibatkan terjadinya proses peradangan pada saluran
pernapasan. Pada penderita TB paru bila penangananya kurang baik akan
mengalami komplikasi, salah satunya kerusakan pada paru yang akan
menimbulkan gejala sesak nafas, batuk dan dapat menyebar ke organ tubuh

1

lainnya, untuk itu diperlukan terapi pemberian oksigen dengan kanula nasal
pada penderita TB paru.

Pemberian terapai oksigen dengan menggunakan kanula nasal dengan tepat
sesuai standar operasional prosedur diharapkan mampu memberikan dan
mempertahankan kebutuhan oksigen dalam tubuh yang adekuat.

Dalam jurnal Roca, et al (2010: 408-413) yang berjudul High Flow
Oxygen Therapy in Acute Respiratory Failure menyebutkan bahwa
tujuan dari terapi ini adalah untuk membandingkan kenyamanan
terapi oksigen aliran tinggi melalui nasal kanul (HFNC) dengan
masker wajah pada pasien dengan kegagalan pernafasan akut (ARF).
Kegagalan pernapasan akut didefinisikan sebagai saturasi oksigen
darah < 96 % saat menerima sebagian kecil dari oksigen. Selama
memberikan oksigen dengan nasal kanul pada aliran rendah diberikan
oksigen 1- 6 L/ menit, sedangkan pada aliran tinggi diberikan oksigen
6- 15 L/ menit. Oksigen pertama kali dilembabkan dengan gelembung
humidifier dan digunakan melalui masker wajah selama 30 menit, dan
kemudian melalui nasal kanul (HFNC) dengan humidifier dipanaskan
selama 30 menit. Pada setiap akhir periode 30 menit pasien di
evaluasi adanya dispnea, mulut kering, dan keseluruhan kenyamanan.
Hasil observasi menunjukkan 95% pasien memilih menggunakan
terapi oksigen nasal kanul (HFNC). HFNC dapat memberikan
oksigenasi lebih baik dan dapat menurunkan tingkat pernafasan yang
lebih rendah.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan dengan prosedur nasal kanul pada pasien
gangguan kebutuhan oksigen akibat tuberculosis?

2

C. Tujuan Studi Kasus

a. Tujuan umum:
Memberikan gambaran tentang Penerapan Pemberian Oksigenasi Melalui
Nasal Kanul akibat tuberculosis di Rumah Sakit Umum Pusat
Persahabatan.
b. Tujuan khusus:
1. Mampu memberikan gambaran mengenai gangguan oksigenasi
2. Mampu memberikan gambaran mengenai konsep dasar dari penyakit
tuberculosis
3. Mampu memberikan gambaran mengenai asuhan keperawatan pada
gangguan oksigenasi
4. Mampu memberikan gambaran mengenai prosedur oksigenasi

D. Manfaat Studi Kasus
Studi kasus ini di harapkan memberikan manfaaat bagi:

a. Masyarakat

Membudidayakan pengelolaan pasien tuberculosis dalam pemenuhan
kebutuhan oksigenasi.

b. Bagi pengembang ilmu dan teknologi keeperawatan

Menambah keluaasaan ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan
dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi.

c. Penulis

Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan,
khususnya studi kasus tentang pelaksanaan pemenuhan kebutuhan
oksigenasi pada pasien tuberculosis.

3

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Tuberculosis
1. Pengertian
Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan
mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan hampir
seluruh organ lainnya. Bakteri ini dapat masuk melalui saluran pernafasan
dan saluran pencernaan (GI) dan luka terbuka pada kulit. Tetapi paling
banyak melalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang terinfeksi
bakteri tersebut.(Sylvia A.Price dalam NANDA, 2015)

2. Etiologi
Penyebab tuberkolosis adalah mycobacterium tuberculosis. Basil ini tidak
berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar matahari, dan
sinar ultraviolet. Ada dua macam mikobakteria tuberculosis yaitu Tipe
Human dan Tipe Bovin. Basil Tipe Bovin berada dalam susu sapi yang
menderita mastitis tuberkolosis usus. Basil Tipe Human bias berada di
bercak ludah (droplet) dan di udara yang berasal dari penderita TBC, dan
orang yang terkena rentan terinfeksi bila menghirupnya. (Wim de Jong
dalam NANDA, 2015)

Setelah organism terinhalasi, dan masuk paru-paru bakteri dapar bertahan
hidup dan menyebar konodus limfatikus local. Penyebaran melalui aliran
darah ini dapat menyebabkan TB pada orang lain, dimana infeksi laten
dapet bertahan sampai betahun-tahun. (Patrick Davey dalam NANDA,
2015)

3. Patofisiologi

4

Demam 40-410C. Suara khas pada perkusi dada. Malaise. Manifestasi 1. Sesak nafas dan nyeri dada 3. Peningkatan sel darah putih dengan dominasi limfosit 5. Penatalaksanaan a. Pemeriksaan Penunjang 5 . serta ada batuk/batuk darah 2. keringat dingin 4. 2005) 4. (S umber: Price. bunyi dada 5.

Indurasi berupa kemerahan jika lebar 0-5 mm hasilnya adalah negative. b) Sputum BTA.1 cc. b. Pemeriksaan Medis 6 . pada TB paru aktif biasanya ditemukan peningkatan leukosit dan laju endap darah(LED). lokasi penyuntikan umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah sebelah kiri bagian depan. jika 6-9 m hasilnya adalah meragukan dan jika lebih dari 10 mm hasilnya adalah positif. 3) Test tuberculin (Mauntoux Test) Pemeriksaan ini biasanya digunakan untuk menegakan diagnose terutama pda anak-anak. Biasanya diberikan suntikan PPD (Protein Perified Derivation) secara intrakutan sebanyak 0. Dilakukan tiga kali berturut-turut dan biakan /kultur BTA selama 4-8 minggu.Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk tuberculosis paru adalah sebagai berikut: (Santa dkk. Penilaian test tuberculosis dilakukan setelah 48-72 jam penyuntikan dengan mengukur diameter dari pembengkakan yang terjadi pada lokasi suntikan (indurasi). 2008) 1) Pemeriksaan radiologi: foto rontgen thoraks Terdapat gambaran yang karakteristik untuk tuberculosis paru yaitu: a) Apabila lesi terdapat terutama dilapangan diatas paru b) Banyangan berwarna atau bercak c) Terdapat kavitas tunggal atau multiple d) Terdapat klasifikasi e) Apabila lesi bilateral terutama bila terdapat pada lapangan atas paru f) Bayangan abnormal yang menetap pada foto toraks setelah foto ulang beberapa minggu kemudian 2) Pemeriksaan laboratorium a) Darah. diagnosa pasti ditegakkan bila pada biakan ditemukan kuman tuberculosis.

alergi. dkk. TB kulit. kegagalan pengobatan atau pengobatan tidak selesai. 2008) 1) Kategori I: 2 RHZE/4H3R3 diberikan untuk: a) Penderita baru TB paru dengan BTA (+). RO (+). b) Penderita baru TB paru. c) Penderita batu TB dengan kerusakan yang berat pada TB ekstra pulmons. 3) Kategori III: 2 RHZ/4 R3H4 diberikan untuk a) Penderita baru BTA (-) dan hasil rontgen (+) sakit ringan b) Penderita ekstra paru ringan yaitu TB kelenjar limfe. Pengobatan TB paru di Indonesia sesuai program nasional menggunakan panduan OAT yang diberikan adalah sebagai berikut: (Santa. TB tulang. Pengkajian a. Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Oksigenasi 1. batuk. B. Riwayat Keperawatan 1) Masalah pernafasan yang pernah di alami a) Pernah mengalami perubahan pola pernafasan b) Pernah mengalami batuk dengan sputum c) Pernah mengalami nyeri dada d) Aktivitas apa saja yang menyebabkan terjadinya gejala- gejala di atas 2) Riwayat penyakit pernafasan a) Apakah sering mengalami ISPA. TB. dan lain-lain? b) Bagaimana frekuensi setiap kejadian? 7 . asma. dengan kerusakan parenkim paru yang luas. pleuritis eksudatif unilateral. 2) Kategori II: 2 RHZES/HRZE/ 5R3R3E3 diberikan untuk: Penderita TB paru BTA (+) dengan riwayat pengobatan sebelumnya kambuh. BTA (-).

3) Riwayat kardiovaskular Pernah mengalami penyakit jantung atau peredaran darah 4) Gaya hidup Merokok. keluarga perokok. atau lingkungan kerja dengan perokok. b. Pemeriksaan fisik 1) Mata a) Konjungtiva pucat (karena anemia) b) Konjungtiva sianosis (karena hipoksemia) c) Konjungva terdapat pathechial (karena emboli lemak atau endokarditis) 2) Kulit a) Sianosis perifer (vasokonstriksi dan menurunnya aliran darah perifer) b) Sianosis secara umum (hipoksemia) c) Penurunan tugor (dehidrasi) d) Edema e) Edema periorbital 3) Jari dan kuku a) Sianosis b) Clubbing finger 4) Mulut dan bibir a) Membran mukosa sianosis 8 .

e) Suara naffas tidak normal (crackles/ronkhi. dullness). hiperesonan. wheezing. b) Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan. dispnea. ronki. Pemeriksaan penunjang 1) Tes untuk menentukan keadekuatan sistem konduksi jantung a) EKG b) Exercise stress test 2) Tes untuk menentukan kontraksi miokardium aliran darah 9 . bronkovesikular. b) Bernafas dengan mengerutkan mulut 5) Hidung Pernafasan dengan cuping hidung 6) Vena leher Adanya distensi/bendungan 7) Dada a) Retraksi otot bantu pernafasan (karena peningkatan aktivitas pernafas. f) Bunyi perkusi (resonan. thrills (getaran pada dada karena udara/suara melewatkan saluran/rongga pernafasan). c) Taktil fremitus. atau obstruksi jalan pernafasan). friction rub/pleura friction). d) Suara napas normal (vesikular. 8) Pola pernapasan a) Pernapasan normal (eupnea) b) Pernapasan cepat (takipnea) c) Pernapasan lambat (bradikdi) c. bronkial).

a) Echocardiography b) Kateterisasi jantung c) Angiografi 3) Tes untuk mengukur ventilasi dan oksigenasi a) Tes fungsi paru-paru dengan spirometri b) Tes astrup c) Oksimetri d) Pemeriksaan darah lengkap 4) Melihat striktur sistem pernapasan a) Foto toraks (X-ray) b) Bronkoskopi c) CT Scan paru 5) Menentukan sel abnormal/infeksi sistem pernapasan a) Kultur apus tenggorok b) Sitologi c) Spesimen sputum (BTA) 2) Diagnosa Pola pernapasan tidak efektif berhungan dengan hiperventilasi 3) Perencanaan Keperawatan 10 .

kedalaman dan ekspansi dada b) Auskultasi dan catat bunyi napas krekels. gesekan pleura c) Atur posisi semi fowler dan bantu mengubah posisi d) Observasi pola batuk dan karakter sekret e) Anjurkan klien naps dalam dan latihan batuk efektif f) Kolaborasi dalam pemberian oksigen g) Kolaborasi dalam pemberian inhalasi h) Kolaborasi dalam fisioterapi dada 4) Pelaksanaan Pelakanaan keperawatan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. wheezing. Dalam menyusun perencanaan keperwatan berpatokan pada diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien gangguan sistem pernafasan yang ditemukan pada klien gangguan sistem perapasan. yaitu: Pola pernapasan tidak efektif berhungan dengan hiperventilasi Tujuan: klien menunjukan pola napas efektif Kriteria hasil: a) Frekuensi napas normal 16-20 kali/ menit b) Suara paru jelas dan bersih c) Klien berpartisipasi dalam aktifitas/ perilaku meningkatkan fungsi paru Intervensi: a) Kaji frekuensi. 5) Evalusi 11 .

seperti berbicara atau makan. Pemberian oksigen pada klien yang memerlukan oksigen secara kontinyu dengan kecepatan aliran 1-6 liter/menit serta konsentrasi 20-40%. relatif nyaman. (Aryani.3 cm. Pemasangan nasal kanula merupakan cara yang paling mudah. Panjang selang yang dimasukan ke dalam lubang dihidung hanya berkisar 0. dengan cara memasukan selang yang terbuat dari plastik ke dalam hidung dan mengaitkannya di belakang telinga. yang mengacu pada tujuan dan kriteria hasil 1) Pola nafas efektif a) Frekuensi nafas normal b) Suara pernafasan bersih c) Partisipasi dalam menigkatkan fungsi paru C. Oksigenasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung Oksigen (O2) ke dalam tubuh serta menghembuskan Karbondioksida (CO2) sebagai hasil sisa oksidasi. cocok untuk pemasangan jangka pendek dan jangka panjang.6 – 1. mudah digunakan cocok untuk segala umur. Prosedur Keperawatan Pemberian Oksigenasi dengan Nasal Kanul 1) Definisi Oksigen (O2) adalah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. sederhana. dan efektif dalam mengirimkan oksigen. 2009:54) 2) Manfaat 12 . Pemakaian nasal kanul juga tidak mengganggu klien untuk melakukan aktivitas. Evaluasi pelaksanaan dilakukan berdasarkan pelaksanaan keperawatan. murah.

Mengkaji kebutuhan klien terhadap terapi oksigenasi 3. Membangun hubungan saling percaya dengan klien 2. 2009:54) 4) Indikasi Klien yang bernapas spontan tetapi membutuhkan alat bantu nasal kanula untuk memenuhi kebutuhan oksigen (keadaan sesak atau tidak sesak). Mengecek program terapi oksigen 13 . 2008:67) 5) Kontraindikasi Tidak ada konsentrasi pada pemberian terapi oksigen dengan syarat pemberian jenis dan jumlah aliran yang tepat. (Suparmi. berbicara. klien bebas makan.(Aryani. pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal. bergerak. 3) Tujuan a) Memberikan oksigen dengan konsentrasi relatif rendah saat kebutuhan oksigen minimal. perhatikan pada khusus berikut ini a) Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun) yang mulai bernafas spontan maka pemasangan masker partial rebreathing dan non rebreathing dapat menimbulkan tanda dan gejala keracunan oksigen. lebih mudah di tolerin klien dan terasa nyaman. Namun demikan. b) Memberikan oksigen yang tidak terputus saat klien makan atau minum. 2009:53) Memberikan oksigen melalui nasal kanul 1. Manfaat penggunaan nasal kanul dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur. (Aryani. Hal ini dikarenakan jenis masker rebreathing dan non- rebreathing dapat mengalirkan oksigen dengan konsentrasi yang tinggi yaitu sekitar 90-95% b) Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntah- muntah c) Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal kanul.

Menyiapkan alat-alat 6.4. Menanyakan pada klien apakah sesaknya berkurang 12. sambung paten b) Ada gelembung udara pada humudifiler c) Terasa oksigenasi keluar dari nasal kanul atau masker  Nasal Kanul a) Melekatkan ujung kanul pada lubang hidung klien b) Mengatur pitan elastis atau selang plastik ke kepala atau kebawah dagu sampai kanula pas dan nyaman c) Memberikan plaster pada kanul dikedua sisi wajah 11. Menyiapkan alat-alat yang telah di gunakan 13. Merapihkan klien 14. Menyiapkan klien pada posisi semi fowler jika memungkinkan 8. Mencuci tangan 15. Jelaskan pada klien bahwa pemberian oksigenasi tidak bebahaya dan akan diobsevasi secara adekuat 9. Mengobservasi respon klien terhadap terapi oksgen 16. Menyambungkan selang oksigenasi dengan nasal kanul atau face mask ke sumber oksigenasi yang sudah dihumidikasi 10. Mencuci tangan 7. Memberikan oksigenasi sesuai dengan kecepatan aliran menurut program medis dan pastikan berfungsi dengan baik a) Selang tidak telekuk. Menjelaskan langkah-langkah tindakan 5. Cek kanul setiap 8 jam 14 .

Cek jumlah keceppatan aliran oksigen dan program terapi setiap 8 jam 19. Rancarangan studi kasus Menurut Moeleong (2007:6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku. pada suatu konteks khusus yang dialami dan dengan memanfaatkan berbagi metode alamiah. 17. perpepsi. Mendokumentasikan tindakan dan hasil a) Menilai dan mencatat respon klien terhadap pemberian oksigen b) Mengobservasi pola pernafsan c) Mendokumentsikan metoda pemberian oksigen. Dipertahankan. waktu pemberian karakteristik pernafasan BAB III METODOLOGI PENULISAN A. kecepatan aliran. motivasi. Kaji membran mukosa hidung dari adanya iritasi (pada nasal kanul) 20. B. dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Subjek studi kasus 15 . dll secara holistik. level air pada botol humidifiter setiap waktu 18. tindakan.

Kriteria Eksklusi 1. Pasien laki-laki yang termaksud kategori II 3. Pasien laki-laki yang bukan termaksud kategori II 3. 2. Pasien laki-laki yang bukan memiliki diagnose medis tuberculosis di Rumah Sakit Umum Persahabatan. Pasien laki-laki yang memiliki gangguan Oksigenasi dengan terpasangnya nasal kanul 4. Untuk studi kasus tidak kenal populasi dan sampe. (Maryam Siti dkk 2017) a. namun lebih mengarah kepada istilah subyek studi kasus oleh karena yang menjadi subyek studi kasus sekurang-kurangnya dua klien (individu. Pasien laki-laki yang tidak memiliki gangguan Oksigenasi 4. keluarga. 2. Penerapan prosedur nasal kanul pada pasien gangguan kebutuhan Oksigenasi 16 . Pasien laki-laki dengan diagnosa medis tuberculosis di Rumah Sakit Umum Persahabatan. Subyek studi kasus perlu dirumuskan kriteria inkusi dan eksklusi. Pasien laki-laki berusia 30-60 tahun b. Kebutuhan Oksigenasi pada pasien Efusi Pleura b. atau masyarakat kelompok khusus) yang diamati secara mendalam. Pasien laki-laki berusia 20 tahun C. Kriteria inkusi 1. Fokus studi kasus Fokus studi adalah kajian utama dari masalah yang akan dijadikan titik acuan studi kasus a.

sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran konstrak yang lebih baik. diagnosa. adapun keuntungannya adalah pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju. D. cocok untuk pemasangan jangka pendek dan jangka panjang. Pemakaian nasal kanul juga tidak mengganggu klien untuk melakukan aktivitas. dengan cara memasukan selang yang terbuat dari plastik ke dalam hidung dan mengaitkannya di belakang telinga. Pasien bebas berbicara dengan nyaman. Bakteri ini sering disebut sebagai tahan asam yaitu tahan terhadap peluntur warna atau alcohol jika diwarnai.3 cm. Pemasangannya mudah.6 – 1. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Definisi operasional menjelaskan cara tertentu yang digunakan untuk meneliti dan mengoperasikan konstrak. dan efektif dalam mengirimkan oksigen. b. implementasi dan evaluasi. Prosedur Pemberian Nasal Kanul Nasal kanul merupakan selang bantu pernafasan yang di letakan pada lubang hidung. Definisi operasional Menurut Sugiyono (2012: 31). pasien bebas makan. sederhana. Selain itu nasal kanul juga memiliki kerugian di antaranya adalah tidak dapat memberi 17 . Dengan kebutuhan Oksigenasi Pemberian oksigen pada klien yang memerlukan oksigen secara kontinyu dengan kecepatan aliran 1-6 liter/menit serta konsentrasi 20-40%. Sebagian besar TB menyerang paru. 2009:54) c. seperti berbicara atau makan. Panjang selang yang dimasukan ke dalam lubang dihidung hanya berkisar 0. 2014) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yaitu suatu bakteri yang berbentuk batang dan tidak membentuk spora. pernafasan teratur. Klien di amati selama 8 hari mulai dari pengumpulan data. intervensi. relatif nyaman. mudah digunakan cocok untuk segala umur. murah. (Aryani. a. Pasien dengan Tuberculosis Tuberkulosis paru menurut (Black. Pemasangan nasal kanula merupakan cara yang paling mudah. definisi operasional adalah penentuan konstrak atau sifat yang akan dipelajari sehingga menjadi variabel yang dapat diukur.

gambar misalnya foto. dapat mengiritasi selaput lendir. gambar hidup. a. G. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian. Tempat dan waktu studi kasus Studi kasus dilakukan pada tanggal 13 sampai 21 April 2017 di Rumah Sakit Umum Persahabatan Ruang Soka Atas. menurut Sugiiyono (2013:240) dokumen merupakan catatan peristiwaa yang sudah berlalu. sketsa dan lain-lain. Prosedur pengumpulan data Prosedur pengumpulan data dalam studi kasus yang dilakukan pada tanggal 13-21 April ruang Soka Atas di Rs. Teknik dokumentasi. c. Teknik pengamatan/observasi. biografi. peraturan. atau karya-karya monumental dari seseorang. konsentrasi oksigen lebih dari 44% . skema mialnya foto. sehingga dapat dikontruksikan maknandalam suatu topik tertentu. Teknik wawancara. sejarah kehidupan. F. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. dokumentasi dan observasi. b. menurut Esterberg dalam Sugiyono (2013:231) orang untuk bertukar informasi dan infoormasi dan ide melalui tanya jawab. kebijakan. gambar. suplai oksigen berkurang bila pasien bernafas melalui mulut. 18 . Studi dokumen merupakan pelengkapan dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumen bisa berbentuk tulisan.Persahabatan menggunakan studi kasus dokumentasi dan studi kepustakaan. criteria. Instrumen yang digunakan pada studi kasus ini adalah berupa wawancara. observasi merupakan suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikhologis. karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto. Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2013:145) mengemukakan bahwa. E. gambar hidup. Instrumen studi kasus Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian.

Hasil Studi Kasus 19 . Penyajian data di sesuaikan dengan studi kasus deskripsi. Yaitu: a. Analisis data dan penyajian data Menurut Ardhana12 (dalam Lexy J. Moleong 2012: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data. yaitu keadilan antara beban dan manfaat yang diperoleh subjek dari ke ikut sertaannya dalam penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Prinsip etik keadilan (justice). I. Desain penelitian memenuhi persyaratan ilmiah c. Penyajian data merupakan alur kedua dalam kegiatan analisis data. kategori. Prinsip etik berbuat baik (beneficence). 2. data di sajikan secara tekstural/narasi dan dapat disertakan dengan ungkapan verbal dari studi kasus yang akan menjadi data pendukung data studi kasus yang di susun. jaringan dan bagan. mengorganisasikanya ke dalam suatu pola. grafik. Penyajian data dapat meliputi berbagai macam jenis matriks. Prinsip menghormati martabat manusia (respect for persons). H. Data dan informasi yang sudah di proleh dilapangan di maksukan ke dalam suatu matriks. yang menyangkut manfaat maksimal dan kerugian minimal. Etika studi kasus Prinsip dasar etik penelitian: 1. dan satuan uraian dasar. Tidak merugikan subjek penelitian 3. dengan tujuan menghormati otonomi untuk mengambil keputusan dan melindungi manusia yang otonominya terganggu dari perlakuan dan penyalahgunaan. Peneliti dapat melaksanakan penelitian dengan menjaga kesejahteraan subjek d. Resiko penelitian wajar dibandingkan manfaat yang diharapkan b.

perawat serta dokter yang berkerja di ruangan soka atas. Kasus II bernama Tn. keluarga.S pelaksanaan dilaksanakan mulai tanggal 14-18 April 2017. Lingkup pembahasan ini akan menjelaskan kesenjangan yang terdapat antara teori pada BAB II sesuai dengan tahap proses keperawatan yang meliputi: pengkajian data.R Pengkajian dilakukan pada tanggal 14 April 2017 jam 10. Dalam hasil studi ini subjek yang di butuhkan 2 pasien dengan gangguan dan perencanaan yang sama. Dalam teori disebutkan bahwa pada kasus TB Paru akan menimbulkan gejala salah satunya adalah dispnea yang akan mengakibatkan gangguan pada pemenuhan kebutuhan oksigen pasien (Djojodibroto. Ruangan ini di rancang khusus untuk pasien Tuberculosis dengan ventilasi udara yang cukup untuk penderita tubercosis. Pelaksanaan studi kasus ini dilakukan melalui wawancara maupun observasi. Hasil dari kasus II didapati informasi dari pihak pasien. 1. Kasus I bernama Tn. .Dalam bab ini penulis ingin menguraikan pembahasan mengenai penerapan prosedur oksigenasi melalui nasal kanul pada pasien akibat tuberculosis di rumah sakit umum persahabatan ruang soka atas. Kapasitas yang tersedia di ruang soka atas terdiri dari 30 tempat tidur. diagnosa keperawatan. pengkajian ini dilakukan pada pasien 20 .00 WIB. Identitas Kasus I Tn. Pengkajian a.R pelaksannan dilakukan pada tanggal 13-17 April 2017. perawat serta dokter yang berkerja di ruangan soka atas. Hasil dari kasus I didapati informasi dari pihak pasien. intervensi keperawatan. Observasi yang di lakukan kasus II melalui catatan keperawatan dan pengamatan dari perawat kepada pasien. implementasi keperawatan serta evaluasi. Observasi yang di lakukan kasus I melalui catatan keperawatan dan pengamatan dari perawat kepada pasien. Hasil dari studi kasus kasus I dan kasus II ini memiliki permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen karna bakteri Tuberculosis ini menyerang paru-paru dan mengakibatkan gangguan pernafasan. Pelaksanaan studi kasus ini dilakukan melalui wawancara maupun observasi. Pengkajian ini dilakukan dengan metode kualitatif. 2009 ).

Pola kebiasaan sehari-hari Tn. Tn.S berumur 59 tahun.R mengatakan kambuh lagi. bapak seta adiknya pernah menderita TB.S Pengkajian dilakukan pada tanggal 15 April 2017 jam 13. menyikat gigi 2 21 . dengan keluhan utama sesak. Tn. frekuensi BAB 1x/hari pada pagi hari. pendidikan terahir SMP. dan riwayat keluarga Tb paru. Tn. b. frekuensi 5-6 x/hari berwarna kuning. memiliki dx medis TB paru putus obat. Tn.R sebelum sakit. Riwayat kesehatan keluarga. warna kecoklatan. status belum menikah. memiliki dx medis TB paru kambuh. status menikah. Tn. Berat badan 70 kg dan tinggi badan 182 cm. nafsu makan baik.R Tn. riwayat penyakit sekarang Tb paru. Kasus II Tn. nyeri dada.Sa.R berumur 33 tahun. jenis makanan sehari-harinya yaitu nasi.R mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan saat berobat di balai dewa. Pola nutrisi Tn.R mengatakan sejak SMP ia merokok dan dapat menghabiskan 1 bungkus rokok dalam sehari dan pernah beberapa kali minum-minuman yang beralkohol. batuk berdahak. batuk disertai darah dan nyeri dada. beragama islam. pengkajian ini dilakukan pada pasien dengan inisial Tn. hipertensi. dengan inisial Tn. riwayat penyakit sekarang Tb paru.00 WIB. keringat dingin pada malam hari.R sebelumnya berobat di balai dewa dekat rumahnya.R mandi 2 kali sehari memakai sabun.Persahabatan pada tanggal 06-05-2017 dengan sesak. beragama islam.R datang ke RS. lauk pauk dan sayur mayur serta buah. frekuensi makan 3 kali sehari. dengan keluhan utama sesak. Pengkajian ini dilakukan dengan metode kualitatif. pendidikan terahir S1.R mengatakan saat ini nafsu makannya berkurang dan berat badan menurun BB saat ini 60 Kg dan TB 182 cm. Sesak bertambah jika batuk terus menerus dan jika beraktifitas. batuk disertai darah dan nyeri dada. berkerja sebagai guru fisika.R mengatakan anggota ibu. akan tetapi Tn. Personal hygiene Tn. berkerja sebagai penjual motor. dan riwayat keluarga hipertensi.R mengatakan sebelumnya pernah mengalami penyakit Tb Paru pada saat SMA. Riwayat Keperawatan Kasus I Tn.Tn. Pola eliminasi. bau khas dan konsistensi padat.

Tn. nafsu makan baik.6 g/dL (13.S frekuensi makan 3 kali sehari.Persahabatan pada tanggal 07-05-2017 dengan keluhan sesak. jenis makanan sehari- harinya yaitu nasi. pernafasan pasien terlihat sesak dan adanya retraksi dada. Personal hygiene Tn. Tn. kali sehari pada waktu pagi dan sore hari.S mengatakan sejak SD ia mulai mencoba coba merokok dan dapat menghabiskan 16 batang/hari. Pola nutrisi Tn.S Tn. TnS sering minum-minuman beralkohol.S datang ke RS. Sistem pernafasan Saat di inspeksi jalan nafas terdapatnya sputum. lauk pauk dan sayur mayur serta buah.4 0C.S mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan saat berobat di balai dewa. nyeri dada.R tidur 8 jam pada malam hari. Frekuensi pernafasan 24x/menit. GCS: 15. Riwayat kesehatan keluarga. warna kecoklatan. N: 80x/mnt. batuk terdapat sputum. c. Pola istirahat dan tidur. Kegiatan dalam pekerjaan Tn. S : 36. Pola eliminasi.Sa tidur 6 jam pada malam hari. Berat badan 55 kg dan tinggi badan 170 cm. Tn.0) Hematokrit 46.R sebagai guru fisika.S mandi 2 kali sehari memakai sabun. berwarna kehujauan.0-48.0-16. Riwayat penyakit keturunan hanya hipertensi. Mengunakan alat bantu nasal kanul. batuk berdahak.R Hasil pengkajian TTV: TD: 110/80 mmHg. frekuensi 5-6 x/hari berwarna kuning.0) 22 .S mengatakan berat badan saat ini 55 Kg dan TB 170 cm.S penjual motor.S mengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami penyakit Tb. Pemeriksaan fisik Kasus I Tn. Pola istirahat dan tidur.S mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita Tb. Kegiatan dalam pekerjaan Tn. Auskultrasi suara nafas ronchi. irama tidak teratur dan nafas dangkal. Tn. frekuensi BAB 1x/hari pada pagi hari.Tn. saat ini pasien mengatakan batuk sudah tidak berdarah. konsistensi kental. RR: 24x/mnt.0 % (40.S sebelumnya berobat di pukesmas dekat rumahnya. Tn. menyikat gigi 2 kali sehari pada waktu pagi dan sore hari. Tn. Pemeriksaan data penunjang laboratorium: a) Hematologi Darah perifer lengkap : Hemoglobin 15. Kasus II Tn. keringat dingin pada malam hari. Tn. Sesak bertambah jika batuk terus menerus dan jika beraktifitas. bau khas dan konsistensi padat.

S : 36. bulous emfisem paru kiri atas efusi pleura kiri Kasus II Tn.5) c) Kimia klinik Analisa gas darah: PH 7.450).00). irama tidak teratur dan nafas dangkal. Fibroinfitrat kedua paru kiri atas.350-7.Eritrosit 5.0) Hematokrit 28.5-14.00) .90 mmHg (75~100).5-14.4 (82.1 pg (27.0) Limosit L 5.4 g/dL (13.17 (5.0) Limosit 26.37 (4.00-10. Saat di inspeksi jalan nafas terdapatnya sputum. PCO2 35. PO2 107.0-31.00-10.0-92.5 % (40.00-27. Sinus kiri tumpul. pernafasan pasien terlihat sesak dan adanya retraksi dada. HCO3 23. b) Hitung jenis Basofil 0.40 mmol/L (21~55).50% (95.00-45. atelectasis paru kiri atas.00) std HCO3 23.0-92.0-36.481 (7.9% (2-8) RDW-CV 13. Tampak scolisosis thoracalis. PO2 133.0% (11.366 (7.1% (0-1) Eosinofil L 0. menarik trakea.0-16.5~25).0) MCH/HER 29. RR: 26x/mnt.00). convexitas ke kanan Kesan : TB paru. N: 78x/mnt.4 mmol/L (22~24) Foto thoraks Cor tidak membesar. O2 saturation H 99.9 pg (27.S Hasil pengkajian TTV: TD: 150/100 mmHg.00-98. HCO3 26.0 mmHg (35.5).9 g/dL (32.0) Jumlah trombisit 593 (150- 400) Jumlah leukosit 11.60 mmol/L (21~55).3% (20- 40) Monosit 6.0) Eritrosit 3.0 g/dL (32. c) Kimia klinik Analisa gas darah: PH 7.0-31.5% (52.90 mmHg (75~100).00).10 (-2.3% (1-3) Neutrofil 61. batuk terdapat sputum. berwarna kehijauan saat ini pasien mengatakan batuk sudah tidak berdarah. tolat CO2 24.5% (0-1) Eosinofil H 4.0) MCHC/KHER 33.2% (20-40) Monosit 7.41 (5.1% (2-8) RDW-CV H 15.350-7. konsistensi kental. Konsolidasi homogen lapangan atas kiri.0) MCH/HER 26.00) base excess -2.0-76.50) MCV/VER 85.50 (4.0) Jumlah trombisit 284 (150- 400) Jumlah leukosit 10.0% (1-3) Neutrofil H 88. jantung dan mediastinum ke kiri. GCS: 15.50) MCV/VER 81.5% (11.0) MCHC/KHER 33.0-36.2 0C.0-76.20 mmHg (35. PCO2 40. Frekuensi pernafasan 26x/menit. hilus kanan balik. Pemeriksaan data penunjang laboratorium: a) Hematologi Darah perifer lengkap : Hemoglobin 9.7 (82. Auskultrasi suara nafas ronchi. tolat 23 . b) Hitung jenis Basofil 0.450). Mengunakan alat bantu nasal kanul.0-48.50-5.00- 45.50-5.1% (52.60 mmol/L (21.

Analisa Data Kasus I Tn.60 mmol/L (21.2 0C. S : 36. penulis melakukan analisa data pada tanggal 15 April 2017 ditandai dengan Data Pasien mengatakan sesak. adanya ronkhi. Data Objektif pasien tampak sesak.S Dari data pengkajian dan observasi diatas.90 mmHg (75-100) Kasus II Tn. Diagnosa Keperawatan Dari data diatas penulis merumuskan pada Kasus I Tn. sinus kostofrenikus kiri tumpul.tampak adanya retraksi dada dangkal. Keadaan umum lemah. kesadaran composmentis.R terdapat beberapa diagnosa keperawatan : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi Dari data diatas penulis merumuskan pada Kasus II Tn.00-27. RR : 26 x/mnt. adanya ronkhi TTV : TD : 110/80 mmHg.00) base excess H 2. penulis melakukan analisa data pada tanggal 14 April 2017 ditandai dengan Data Subjektif Pasien mengatakan sesak nafas. S : 36.R Dari data pengkajian dan observasi diatas.S terdapat beberapa diagnosa keperawatan : 24 . keadaan umum lemah.00-98.5~25).90 (-2. hasil lab PO2 meningkat 133. N : 94 /mnt. hiperventilasi basal paru. N : 89 x/mnt. pasien mengatakan sesak semakin bertambah jika beraktifitas dan saat batuk terus-menerus.90 mmHg (75~100). Hilus elevasi. 3. hari hasil lab adanya peningkatan PO2 107. pasien mengatakan lemah dan lemas karna sesaknya. CO2 27.8 mmol/L (22~24) Foto thoraks: Diafgrama tenting.90% (95. Jantung ukuran normal trachea tertarik ke kiri normal Kesan : sugestif TB paru aktif lesi luas dengan bronkiektasis 2.00) std HCO3 27. O2 saturation H 98.5 0C. TTV: TD : 150/100 mmHg. adanya retraksi dada dangkal. RR : 24 x/mnt. Fibroinfitrat disertai kanvitas multiple dan bronkiektasis di lapangan atas paru bilateral. Data Objektif Pasien tampak sesak. kesadaran composmentis. konsolidasi in homogen apeks paru kiri.

N: 86x/mnt. Pelaksanaa/ Implementasi Kasus I Tn.3 0C. (13. (15. Perencanaan/ Intervensi Pola nafas tidak efektif erhubungan dengan hiperventilasi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi teratur.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif tidak ada respon. respon objektif sesak tampak berkurang RR: 23x/mnt. Posisikan pasien semi fowler Rasional: untuk memaksimalkan ventilasi c. Monitor vital sign Rasional: untuk mengetahui intervensi selanjutnya b. pola nafas tidakefektif dapat teratasi Kriteria hasil: sesak berkurang.15) mengkolaborasi dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif pasien mengatakan setelah di berikan oksigen sesak berkurang. N: 80x/mnt. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi 4. Kolaborasi dalam pemberian oksigen terapi Rasional: menjaga aliran oksigen mencukupi kebutuhan pasien d. respon objektif aliran tampak lancar. RR: 22x/mnt. RR: 24x/mnt. Monitor aliran oksigen Rasional: menjaga aliran oksigen mencukupi kebutuhan pasien 5. tanda- tanda vital dalam batas normal Intervensi: a. respon subjektif tidak ada. menunjukan jalan nafas yang paten.20) memonitor aliran oksigen. S: 36. tidak ada sumbatan. respon objektif TTV: 100/80 mmHg. Tindakan hari kedua dilakukan pada tanggal 15 April 2017 jam (15. respon objektif TTV: 110/80 mmHg. (13. (13.00) meonitor vital sign dengan respon sujektif tidak ada. S: 36.R Tindakan hari pertama dilakukan pada tanggal 14 April 2017 jam (13.10) memposisikan pasien semi fowler respon subjektif pasien mengatakan nafas lebih enak dengan posisi setangah duduk.3 oC.10) memposisikan 25 .

6 0C.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif todak ada. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi lebih teratur. S: 36. (08.00) mengkolaborasi dalam pemberian oksigenasi terapi dengan respon subjektif pasien mengatakan sudak tidak sesak seperti kemarin. respon objektif sesak tampak berkurang RR: 24x/mnt. (09.2 0C. RR: 20x/mnt.2 0C. alirsn tampak lancar Tindakan hari keempat pada tanggal 18 April 2017 (08.30) memposisikan pasien semi fowler dengan respon subjektif pasien mengatakan jika setengah duduk nafas menjadi lebih enak. RR: 24/mnt. S:36.40) memonitor aliran oksigenasi respon subjektif tidak ada.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif todak ada. RR: 26/mnt. repson objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi lebih teratur.00) memonitor vital sign dengan respon sunjektif tidak ada. Tindakan hari kedua di lakukan pada tanggal 17 April 2017 (08.30) mengkolaborasi 26 . N: 86x/mnt. N: 81x/mnt. (09. respon objektif aliran tampak lancar. tampak sudah tidak sesak. dan pernafasan tampak lebih teratur.semi fowler respon subjektif pasien mengatakan nafas lebih enak dengan posisi setengah duduk. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dengan posisi setengah duduk. respon objektif pasien tampak sudah tidak menggunakan oksigen. respon objektif TTV: 1140/80 mmHg. (08. (09. (15. tidak ada sumbatan. Kasus II Tn. (15. respon objektif sesak tanpak berkurang dengan aliran oksigen 2L/mnt.S Tindakan hari pertama di lakukan pada tanggal 15 April 2017 (15. N: 86x/mnt. respon objektif tidak ada sumbatan. respon objektif TTV: 120/80 mmHg. Tindakan hari ketiga dilakukan pada tanggal 17 April 2017 jam (09.10) memonitor aliran oksigen respon subjektif tidak ada. respon objektif TTV: 150/100 mmHg. S: 36.10) memposisikan pasien semi fowler respon subjetif pasien mengatakan lebih suka dengan posisi setengah duduk karna bernafas menjadi lebih enak.00) mengkolaborasi dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif pasien mengatakan mulai dari semalem sudah belajar tidak menggunakan oksigen.40) mengkolaborasi dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif pasien mengatakan setelah di berikan oksigen sesak berkurang.

tidak ada sumbatan. dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif pasien mengatakan tidak terlalu sesak setelah di berikan oksigen. respon objektif aliran tampak lancar. (09. N: 88x/mnt. RR: 20/mnt. (08. S: 27 . RR 24x/menit S: 36.3 0C.00 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah subyektif pasien mengatakan masih sesak. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pasien dapat mengatur nafas RR: 22x/mnt. hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 15 April 2017 jam 18. N: 86x/menit.30) memposisikan pasien semi fowler dengan respon subjektif pasien mengatakan sesak berkurang jika posisi setengah duduk. TTV: TD: 100/80mmHg.2 oC. hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 14 April 2017 jam 15. Tindakan hari pertama di lakukan pada tanggal 19 April 2017 (08. Obyektif pasien tampak masih sesak. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi lebih teratur. 6.30 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah subyektif pasien mengatakan sesak berkurang. Tindakan hari ketiga pada tanggal 18 April 2017 (09.30) memposisikan pasien semi fowler dengan respon subjektif pasien mengatakan jika setengah duduk nafas menjadi lebih enak. respon objektif sesak tampak berkurang RR: 24x/mnt.10) memonitor aliran oksigen respon subjektif tidak ada. Obyektif pernafasan pasien tampak mulai stabil. respon objektif aliran tampak lancar.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif todak ada. (09.00) memonitor aliran oksigen respon subjektif tidak ada. Evaluasi Keperawatan Kasus 1 Tn. S: 36. respon objektif TTV: 130/90 mmHg. Assesment masalah tidak teratasi. Planning intervensi dilanjutkan . TTV: TD: 110/80 mmHg. Setelah dilakukan tindakan keperawatan. tidak ada sumbatan.Sa Setelah dilakukan tindakan keperawatan.

RR: 22x/mnt. Planning intervensi dilanjutkan. Assesment masalah tidak teratasi. memakai aliran oksigen 4L/menit TTV: TD: 130/90 mmHg. S: 36. hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 17 April 2017 jam 15.2 0C. Assesment masalah teratasi sebagian. hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 18 April 2017 jam 15.00 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah Subjektif pasien megatakan sudah tidak sesak. Assesment masalah tidak teratasi. tampak menunjukan jalan nafas yang paten TTV: 120/80 mmHg. Planning intervensi dilanjutkan . Kasus 2 Tn. N: 80x/mnt. Planning intervensi dihentikan.36. Planning intervensi dilanjutkan Setelah dilakukan tindakan keperawatan. Obyektif pasien tampak masih sesak.Sy Setelah dilakukan tindakan keperawatan.3 0C.30 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah subyektif pasien mengatakan masih sesak. S:36. N: 80x/mnt. N: 86x/mnt.2 0C. Assesment masalah tidak teratasi. RR: 20x/mnt Assesment masalah teratasi. 28 . Setelah dilakukan tindakan keperawatan. Planning intervensi dilanjutkan. N: 81x/mnt.3 0C. Setelah dilakukan tindakan keperawatan. RR: 22x/mnt. hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 17 April 2017 jam 18. Obyektif pasien tampak tidak memakai oksigen.00 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah subyektif pasien mengatakan sudah tidak sesak. S: 36. tampak memakai oksigen 5L/menit TTV: TD: 150/100 mmHg. RR: 26/mnt. hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 15 April 2017 jam 15. Obyektif pemberin terapi oksigen tampak dikurangi menjadi 2L/menit.00 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah subyektif pasien mengatakan masih sesak. Obyektif pasien tampak masih sesak.

hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 18 April 2017 jam 15.00 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah Subjektif pasien megatakan dengan posisi setengah duduk nafas menjadi lebih enak. pemberin terapi oksigen tampak dikurangi menjadi 2L/menit. laki-laki memiliki mobilitas yang lebih tinggi dibandingkan perempuan sehingga memungkinkan untuk terpapar bakteri penyebab TB paru lebih besar. Pengkajian a. Planning intervensi dihentikan. B. minum alkohol dan keluar malam hari dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. selain itu kebiasaan laki-laki mengkonsumsi rokok. Planning intervensi dilanjutkan Setelah dilakukan tindakan keperawatan. tampak tidak memakai oksigen. Hal ini sesuai dengan 29 .R dengan TB kambuh dalam kasus ini mengalami resiko tinggi menderita Tuberculosis paru dikarenakan mempunyai kebiasaan merokok 1 bungkus perhari. Obyektif sesak tampak berkurang. Assesment masalah teratasi.3 0C. Data pendukung lain yang mengakibatkan Tn. Kebiasaan Tn. N: 88x/mnt.R terkena TB paru karna salah satu keluarga ada yang menderita TB. Pada kasus I Tn.R mengkonsumsi rokok dan alkohol ini menjadi data pendukung terjadinya TB. hasil evaluasi dilakukan pada tanggal 19 April 2017 jam 15. tampak mulai menunjukan jalan nafas yang paten. RR: 20/mnt. Assesment masalah teratasi sebagian. S: 36. pernah beberapa kali minum- minuman alcohol dan kontak langsung dengan pamannya yang menderita Tuberculosis paru. Obyektif pasien tampak lebih nyaman dengan posisi semi fowler. Menurut (Dhewi 2011) dalam journal mengatakan. tampak menunjukan jalan nafas yang paten TTV: 130/90 mmHg.00 WIB dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah subyektif pasien mengatakan sesak berkurang. Setelah dilakukan tindakan keperawatan. Pembahasan 1.

2015) yang mengatakan bahwa Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan hampir seluruh organ lainnya. keringat dingin. Berdasarkan fakta yang ada saat pengkajian. Saat pemeriksaan fisik di dapati hasil TTV: TD. Tetapi paling banyak melalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang terinfeksi bakteri tersebut. sesak nafas dan nyeri dada. serta ada batuk/batuk darah. N. Sesuai dengan refrensi (Santa dkk. terdapat klasifikasi. bunyi khas pada dada. namun terdapat kesamaan antara hasil foto rontgen dada dengan teori yaitu adanya bayangan lesi terletak di lapangan atas kiri.17. 36. batuk disertai darah. bunyi dada. terdapat kavitas tunggal atau multiple. hasil inspeksi jalan nafas terdapatnya sputum berwarna kekuningan dengan konsistensi kental dan frekuensi yang di keluarkan >10 kali. jantung dan mediastinum ke kiri.4 0C dan hasil leukosit menunjukan 10. 2008). 30 . 2015) yang menyatakan bahwa adanya demam 40-410C. 110/80 mmHg.teori (Nurarif. Keluhan utama yang di derita pasien meliputi sesak nafas. tampak terlihat bentuk abnormal pada foto thoraks. Austrasi terdapat ronchi pada paru kiri. apabila lesi bilateral terutama bila terdapat pada lapangan atas paru. batuk di sertai darah. RR. atelectasis paru kiri atas. suara khas pada perkusi dada. bulous emfisem paru kiri atas efusi pleura kiri. menarik trakea. Yang mengatakan bahwa adanya lesi terdapat terutama dilapangan diatas paru. Berdasarkan fakta dari hasil foto rontgen dada pasien tidak semua sama persis dengan teori. Bakteri ini dapat masuk melalui saluran pernafasan dan saluran pencernaan (GI) dan luka terbuka pada kulit. malaise. S. banyangan berwarna atau bercak. nyeri dada. Hal ini sesuai dengan teori menurut (Nurarif. peningkatan sel darah putih dengan dominasi limfosit Hasil foto rontgen dada pasien menunjukan kesan : TB paru. meningkatnya sel darah putih. sebagian sudah sesuai dengan teori yaitu sesak nafas. Pernafasan terlihat sesak dan adanya retraksi dada. 80x/menit. nyeri dada. 24x/menit.

2015). Pada kasus II Tn. selain itu kebiasaan laki-laki mengkonsumsi rokok. sesak nafas dan nyeri dada. Yang mengatakan bahwa adanya demam 40-410C. faktor yang mempengaruhi putus OAT paling tinggi dari diri pasien sendiri yaitu kurang mengarti infomasi tentang penyakit TB dan pengobatannya. laki-laki memiliki mobilitas yang lebih tinggi dibandingkan perempuan sehingga memungkinkan untuk terpapar bakteri penyebab TB paru lebih besar.S mengkonsumsi rokok dan alkohol ini menjadi data pendukung terjadinya TB. 2014) dalam journal yang mengatakan bahwa. S. bayangan abnormal yang menetap pada foto toraks setelah foto ulang beberapa minggu kemudian. RR. dan lupa. batuk disertai darah. Beberapa alasan penderita mengalami putus obat sesuai dengan referensi menurut (Susilowati. tidak dapat dukungan sosial. Keluhan utama yang di derita pasien meliputi sesak nafas.41. suara khas 31 . b. sering memimum-minuman alcohol dan sering lupa untuk minum obat dikarenakan ia merasa badannya sudah tidak sakit. Berdasarkan fakta yang ada saat pengkajian. 26x/menit.S dengan putus obat memiliki kebiasa merokok 16 batang perhari. sudah sesuai dengan teori menurut (Nurarif. nyeri dada. Saat pemeriksaan fisik di dapati hasil TTV: TD. 150/100 mmHg. dan malas minum obat karna jumlah obat yang banyak. Pernafasan terlihat sesak dan adanya retraksi dada. pasien merasa lebih baik. keringat dingin. tidak ada PMO. 36. kurangnya motivasi. N. minum alkohol dan keluar malam hari dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. dan keringat dingin pada malam hari. Kebiasaan Tn. masalah transportasi. kurang nyaman dengan fasilitasi kesehatan.2 0C dan hasil leukosit menunjukan 11. serta ada batuk/batuk darah. malaise. 78x/menit. austrasi terdapat roncki pada paru kiri. jumlah obat yang banyak. hasil inspeksi jalan nafas terdapat sputum berwarna kekukingan dengan konsistensi kental dan frekuensi yang dikeluarkan >10 kali. Menurut (Dhewi 2011) dalam journal mengatakan.

2008). Yang mengatakan bahwa adanya lesi terdapat terutama dilapangan diatas paru. 2007). apabila lesi bilateral terutama bila terdapat pada lapangan atas paru. N- acepty-L-cystein 3 x 200. Pada kasus I dan kasus II termaksud kedalam katergori II Penderita TB paru BTA (+) dengan riwayat pengobatan sebelumnya kambuh. metilpredinsolon 2 x 30 mg. bunyi dada. Hasil pembacaan foto rontgen dada pasien menunjukan kesan : sugestif TB paru aktif lesi luas dengan bronkiektasis. banyangan berwarna atau bercak. sucralfat 3 x 1 mg. R selama perawatan diRuang Soka Atas mendapatkan terapi infus NaCl 0.9% 500 cc/12 jam. Tn. vit c 3 x 1 mg. vit k 3 x 1 mg. terdapat klasifikasi. Berdasarkan fakta dari hasil foto rontgen dada pasien tidak semua sama persis dengan teori. Pada kasus I dan kasus II memiliki gangguan pemenuhan oksigenasi terjadi karena late symtom dari proses lanjut tuberkolusis paru akibat adanya retriksi dan obstruksi saluran pernafasan serta loos of vaskular bad atau vascular trombosis yang dapat menyebabkan gangguan menurut (Asagaff dan Mukty. terdapat kavitas tunggal atau multiple. 32 . bayangan abnormal yang menetap pada foto toraks setelah foto ulang beberapa minggu kemudian.9% 500 cc/12 jam. 2008). namum terdapat kesamaan antara foto rontgen dada dengan teori yaitu adannya lesi bilateral terutama bila terdapat pada lapangan atas paru. Penataksanaan pada kasus I dan kasus II Tn. Sebagian sesuai dengan teori menurut (Santa dkk. asamnafenamat 3 x 300 mg.pada perkusi dada.S selama perawatan diRuang Soka Atas mendapatkan terapi infus NaCl 0. levofixacin 1 x 7 mg. peningkatan sel darah putih dengan dominasi limfosit. kegagalan pengobatan atau pengobatan tidak selesai sesuai dengan teori menurut (Santa dkk.

2. Kriteria hasil: sesak berkurang. Monitor aliran oksigen Rasional: menjaga aliran oksigen mencukupi kebutuhan pasien. tanda-tanda vital dalam batas normal. Pada pasien TB biasanya mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen karena adanya sputum yang berlebihan sehingga tidak adekuatnya pertukaran udara inspirasi ataupun ekspirasi sehinga menyebabkan pola nafas tidakefektif yang dikemukakan menurut (Nurarif. Posisikan pasien semi fowler Rasional: untuk memaksimalkan ventilasi. Monitor aliran oksigen Rasional: menjaga aliran oksigen mencukupi kebutuhan pasien. Diagnosa Pada kasus I dan kasus II penulis mengangkat diagnosa yang dapatkan secara teori mengenai pola nafas tidakefektif berhubungan dengan hiperventilasi. Dalam perencanaan yang dibuat penulis sesudah sesuai dengan buku panduan NANDA NIC-NOC menurut (Nurarif. 3. Kolaborasi dalam pemberian oksigen terapi Rasional: menjaga aliran oksigen mencukupi kebutuhan pasien. 2015). Berdasarkan fakta yang ada saat pengkajian sebagian sesuai dengan teori yaitu kedua pasien tersebut termasuk kategori II yang TB kambuh dan Tb Putus Obat sama-sama diberikan obat OAT tetapi jenisnya berbeda Tn. Perencanaan/ Intervensi Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam.Sa diberikan melalui injeksi Streptomisin 750 mg setiap harinya pada Tn. Posisikan pasien semi fowler Rasional: untuk memaksimalkan ventilasi. 2015) yang mengatakan bahwa perencanaan dapat di lakukan seperti: Monitor vital sign Rasional: untuk mengetahui intervensi selanjutnya. 33 . Kolaborasi dalam pemberian oksigen terapi Rasional: menjaga aliran oksigen mencukupi kebutuhan pasien.Sy diberikan obat OAT 4 KDT. pola nafas tidakefektif dapat teratasi. menunjukan jalan nafas yang paten. Intervensi: Monitor vital sign Rasional: untuk mengetahui intervensi selanjutnya.

respon subjektif tidak ada. (15. RR: 24x/mnt.R Tindakan hari pertama dilakukan pada tanggal 14 April 2017 jam (13.2 0C. respon objektif TTV: 120/80 mmHg. repson objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi lebih teratur. respon objektif sesak tanpak berkurang dengan aliran oksigen 2L/mnt. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi teratur. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dengan posisi setengah duduk. (13. respon objektif TTV: 110/80 mmHg. (08.10) memposisikan pasien semi fowler respon subjektif pasien mengatakan nafas lebih enak dengan posisi setangah duduk.10) memposisikan pasien semi fowler respon subjetif pasien mengatakan lebih suka dengan posisi setengah duduk karna bernafas menjadi lebih enak.3 oC.00) mengkolaborasi dalam pemberian oksigenasi terapi dengan respon subjektif pasien mengatakan sudak tidak sesak seperti kemarin. RR: 20x/mnt. (13. Pelaksanaa/ Implementasi Kasus I Tn.20) memonitor aliran oksigen. Tindakan hari kedua dilakukan pada tanggal 15 April 2017 jam (15. N: 86x/mnt. respon objektif TTV: 100/80 mmHg. respon objektif sesak tampak berkurang RR: 23x/mnt. S: 36. S: 36. (09. RR: 22x/mnt.00) mengkolaborasi dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif 34 .00) meonitor vital sign dengan respon sujektif tidak ada.3 0C. tidak ada sumbatan. respon objektif tidak ada sumbatan. dan pernafasan tampak lebih teratur.00) memonitor vital sign dengan respon sunjektif tidak ada. N: 81x/mnt.4. Tindakan hari keempat pada tanggal 18 April 2017 (08. S:36. N: 80x/mnt. alirsn tampak lancar.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif tidak ada respon.15) mengkolaborasi dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif pasien mengatakan setelah di berikan oksigen sesak berkurang. Tindakan hari ketiga dilakukan pada tanggal 17 April 2017 jam (09. (09.10) memposisikan semi fowler respon subjektif pasien mengatakan nafas lebih enak dengan posisi setengah duduk. respon objektif aliran tampak lancar.40) memonitor aliran oksigenasi respon subjektif tidak ada. (13.

respon objektif TTV: 130/90 mmHg. RR: 24/mnt.6 0C. (09. (15.30) memposisikan pasien semi fowler dengan respon subjektif pasien mengatakan jika setengah duduk nafas menjadi lebih enak.3 0C.pasien mengatakan mulai dari semalem sudah belajar tidak menggunakan oksigen. tidak ada sumbatan.00) memonitor aliran oksigen respon subjektif tidak ada.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif todak ada.10) memonitor aliran oksigen respon subjektif tidak ada.40) mengkolaborasi dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif pasien mengatakan setelah di berikan oksigen sesak berkurang.S Tindakan hari pertama di lakukan pada tanggal 15 April 2017 (15. (09. Tindakan hari pertama di lakukan pada tanggal 19 April 2017 (08.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif todak ada. (08. respon objektif TTV: 150/100 mmHg. respon objektif pasien tampak sudah tidak menggunakan oksigen. (08. N: 86x/mnt. Tindakan hari kedua di lakukan pada tanggal 17 April 2017 (08. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi lebih teratur. S: 36. respon objektif aliran tampak lancar. tidak ada sumbatan. tidak ada sumbatan. S: 36. respon objektif aliran tampak lancar. N: 86x/mnt. respon objektif sesak tampak berkurang RR: 24x/mnt.10) memonitor aliran oksigen respon subjektif tidak ada. respon objektif sesak tampak berkurang RR: 24x/mnt.30) memposisikan pasien semi fowler dengan respon subjektif pasien mengatakan jika setengah 35 . (09. Kasus II Tn. respon objektif TTV: 1140/80 mmHg. Tindakan hari ketiga pada tanggal 18 April 2017 (09.2 0C. N: 88x/mnt. S: 36. RR: 26/mnt.00) memonitor vital sign dengan respon subjektif todak ada. (15.30) memposisikan pasien semi fowler dengan respon subjektif pasien mengatakan sesak berkurang jika posisi setengah duduk. tampak sudah tidak sesak. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pasien dapat mengatur nafas RR: 22x/mnt. respon objektif aliran tampak lancar. RR: 20/mnt.30) mengkolaborasi dalam pemberian oksigen terapi respon subjektif pasien mengatakan tidak terlalu sesak setelah di berikan oksigen.

sedangkan pada aliran tinggi diberikan oksigen 6. Keterbatasan Studi Kasus Keterbatasan studi kasus yang penulis rasanya meliputi: Waktu dalam pembuatan studi kasus yang sangat singkat dan digabungkan serta disibukkan dengan praktik lapangan yang begitu padat. HFNC dapat memberikan oksigenasi lebih baik dan dapat menurunkan tingkat pernafasan yang lebih rendah. Evaluasi Dalam tahap evaluasi dilakukan selama 4 hari pada pasien dengan diagnose TB kambuh dengan masalah pola nafas tidakefektif berhubungan dengan hiperventilasi. reverensi buku untuk di jadikan data pendukung sangat sedikit. C. (2008) Tanda-tanda vital tuberkulosis biasanya di dapatkan peningkatan suhu tubuh secara signifikan. Pada setiap akhir periode 30 menit pasien di evaluasi adanya dispnea. mulut kering.15 L/ menit. denyut nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernapasan. frekuensi pernapasan meningkat apabila disertai sesak napas. Selama memberikan oksigen dengan nasal kanul pada aliran rendah diberikan oksigen 1. dan kemudian melalui nasal kanul (HFNC) dengan humidifier dipanaskan selama 30 menit. Hasil observasi menunjukkan 95% pasien memilih menggunakan terapi oksigen nasal kanul (HFNC). Menurut Muttaqin. Oksigen pertama kali dilembabkan dengan gelembung humidifier dan digunakan melalui masker wajah selama 30 menit. duduk nafas menjadi lebih enak. 36 .6 L/ menit. Hasil observasi menurut (Roca. dan keseluruhan kenyamanan. 2010) yang menyatakan tentang membandingkan kenyamanan terapi oksigen aliran tinggi melalui nasal kanul (HFNC) dengan masker wajah pada pasien dengan kegagalan pernafasan akut (ARF). buku yang tersedia tidak sesuai dengan kriteria. adanya. 5. respon objektif pasien tampak lebih nyaman dan pernafasan menjadi lebih teratur. bentroknya jadwal konsul dengan tugas lainnya.

R dan Tn. Antara lain monitor vital sign. Evaluasi masalah pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi pada pasien Tn. Kesimpulan 1. 3. S dengan diagnosa medis Tuberkulosis Paru penulis mendapatkan diagnosa utama yang muncul yaitu pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi. 4. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan Diharapkan institusi pelayanan kesehatan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan sesuia Standart Operasional Prosedur (SOP) di berbagai rumah sakiit. posisikan pasien semi fowler.R dan Tn. Analisis menerapkan prosedurpemberian nasal kanul pada pasien Tn. Intervensi keperawatan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi. Setelah melakukan pengkajian pada pasien Tn. Saran Dengan adanya uraian diatas maka penulis memberikan saran sebagai berikut : a. B. 2.S teratasi sehingga planning intervensi dihentikan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. b. monitor aliran oksigen. Implementasi yang dilakukan dalam upaya meningkatkan pola nafas efektif dengan penerapan prosedur nasal kanul. kolaborasi dala pemberian oksigenasi terapi.R dan Tn.S dengan diagnosa medis Tuberkulosis Paru yaitu menigkatkan pola nafas yang paten. 5. Bagi Tenaga Kesehatan 37 .

Bagi Institusi pendidikan Diharapkan agar dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang berkualitas dan profesional. sehingga pasien akan mendapatkan perawatan yang holistik dan komprehensif. dan handal dalam memberikan asuhan keperawatan.Diharapkan tenaga kesehatan menyadari pentingnya penerapan asuhan keperawatan yang konsisten dan sesuai dengan teori dalam memberikan 29 asuhan kepada pasien. terampil. cekatan. guna terciptanya perawat-perawat yang profesional. 38 . c.

Hubungan Kebiasaan Merokok Dan Kelembaban Rumah Dengan Kejadian Tb (Tubercolusis) Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro.2013. DAFTAR PUSTAKA Black. Jogjakarta: Penerbit Mediaction Jogja. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan TBC. buku-pedoman-nasional- penanggulangan-tbc. Sikap Pasien Dan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB Paru Di BKPM Pati. Jakarta : Salemba Medika. Jakarta: CV. J M. STIKES Telogorejo Semarang. Fitriana D 2011. 2014.Jakarta: Salemba Medika.pdf Dhewi. Santa. Asuhan Keperawatan pada Klien Gangguan Sistem Pernafasan Akibat Infeksi. (edisi 8.Konsep dan Praktik Penulisan Riset Edisi 2. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008. Fidiawati.2008. Buku 3). Nursalam.Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. (2008). Jilid 3. amin huda. Manurung. Trans Indo Media. Keperawatan Medikal Bedah. H. Hubungan Antara Pengetahuan. Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Graha Ilmu 39 . Nurarif. dkk. (2008). (2015). NANDA NIC-NOC. Setiadi. Politeknik Kesehatan Tanjung Karang.. & Hawks. Depkes RI 2006. Gendhis I 2011.

Buku Kerja Praltika Mata Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia II. (2008).C dengan efusi pleura.co. Pemasangan Oksigenasi.id/files/disk1/4/01-gdl-trisetyani-199-1-trisety- 1. Jakarta: Salemba Medika Febri Putri.Supartini.com/2016/11/25/pengertian-analisis-data- menurut-ahli/.com/2013/05/21/pengumpulan-data-dan- instrumen-penelitian/. (2014). Diakses dari https://afidburhanuddin. (2013).pdf.undip. tanggal 09 April 2017 Ningsih Nurwati. Diakses dari http://nurwatiningsihikd1. Jakarta: Poltekkes Kemenkes Jakarta III Tarwoto&wartonah.id/40789/3/BAB_III_METODE.wordpress. (2011). tanggal 29 April 2017 Dewi siiwi. Pemberian Oksigen dengan Berbagai Cara.id/2011/12/pemberian-oksigen-dengan- berbagai-cara.html. Diakses dari http://nikenadipuspita.ac.. (2016).wordpress. tanggal 29 Maret 2017 Silear Riyando.php? p=fstream&fid=49.eskripsi.id/2015/01/pemasangan- oksigenasi. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Y dkk.ac.id/eskripsi/index. Pengumpulan data dan intrsumen penelitian.blogspot..blogspot. Pengertian Analisis Data Menurut Ahli. (2015). Diakses dari https://metlitblog. tanggal 29 Maret 2017 Burhanuddin Afid.co. 2011.tanggal 29 Maret 2017 Niken. (2013). Diakses dari https://www.stikesmuhpkj.stikeskusumahusada.ac. http://digilib. BAB III METODE PENELITIAN. Pemberian terapi oksigen dengan nasal kanul terhadap penurunan sesakpada asuhan keperawatan Tn. Diakses dari https : eprints.pdf 40 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.