Korosi merupakan proses kerusakan ataupun penurunan sifat material (logam) oleh

reaksi elekrokimia karena berinteraksi dengan lingkungan. Pada kebanyakan situasi praktis,
serangsn korosi ini tidak dapat dicegah, dan upaya yang dapat dilakukan adalah pengendalian
sehingga struktur ataupun komponen mempnyai masa pakai lebih panjang. Pengendalian
korosi bertujuan mengatur laju korosi, sehingga perkembangannya tetap berada dalam
rentang tertentu atau dapat untuk meramalkan batas umur suatu struktur.
Setiap komponen mengalami tiga tahapan utama yaitu perancangan, pembuatan dan
penggunaannya. Dalam setiap tahapan tersebut, perlakuan pengendalian korosi merupakan
suatu hal yang penting. Kegagalan salah satu dari aspek-aspek pengendalian korosi ini dapat
menyababkan struktur mengalami kerusakan/kegagalan yang prematur.

Proteksi terhadap korosi atau lebih tepat disebut pengendalian terhadap korosi dapat
digolongkan menjadi empat golongan besar yaitu :
A. Pengendalian korosi dengan mengubah jenis logam dan desain.
B. Pengendalian korosi dengan mengubah media korosif.
C. Pengendalian korosi dengan cara mengubah potensial (tegangan) antara logam/media
korosif.
D. Pengendalain korosi dengan pelapisan permukaan.

Keempat cara pengendalian tersebut diatas bertujuan untuk menghambat laju korosi
sehingga dapat diharapkan umur logamnya menjadi lebih lama, penghematan pemakaian
bahan, yang pada gilirannya akan menurunkan biaya-biaya operasi yang disebabkan oleh
masalah-masalah korosi.

A. Pengendalian Korosi dengan Mengubah Jenis Logam dan Desain.
Daya tahan bahan metalik terhadap korosi seringkali dapat ditingkatkan dengan cara
mengubah komposisi logam, struktur mikronya atau dengan mengubah kondisi tegangan dan
permukaannya. Peningkatan daya tahan korosi dengan pemaduan (alloying) dapat bersifat :
1). Passivatif, misalnya penambahan Cr (11%), Ni dan Mo dalam baja tahan karat dan dalam baja
tahan asam.
2). Katodik, mendorong proses pasifasi misalnya penambahan unsur-unsur Cu, Ag, Pd atau Pt
dalam baja tahan asam; Ni dalam aluminium.
3). Penetral, misalnya Ti, Nb dan ta sebagai pembentuk karbida dalam austenitic stainless
steel; ce, Ti dan Cu untuk menetralkan unsur S dalam baja; demikian pula Mg dan Mn untuk
menetralkan Fe dan Si dalam aluminium.
4). Pembentuk oksida, misalnya Cr, Al dan Si dalam baja tahan panas; Al, Be dan Mg dalam
tembaga untuk meningkatkan daya tahan terhadap korosi.
5). Inhibiting, misalnya As atau Sb dalam kuningan (brass)untuk mencegah pengawa-seng-an
(dezincification).

Proses pemurnian seperti pengurangan sulfur dalam berbagai jenis baja, carbon
dalam stainless steel, juga Fe, Si dan cu dalam aluminium dapat memperbaiki daya tahan
korosi. Perubahan truktur mikro dengan cara perlakuan panas dengan tujuan melarutkan fasa-
fasa sekunder (senyawa intermetalik atau karbida) yang diikuti proses pendinginan cepat,
dapat memperbaiki daya tahan korosinya.
Demikian pula stress reliefing annealing dilakukan untuk menghilangkan tegangan
tarik sehingga kemungkinan terjadinya stress corrosion cracking atau hydrogen cracking

dapat dikurangi. Sebaliknya tegangan tekan pada permukaan logam merupakan keadaan yang
menunjang daya tahan bahan terhadap stress corrosion dan corrosion fatique.
Surface treatment seperti polishing menempati tempat penting dalam memperbaiki
daya tahan korosi logam pasifatif seperti stainless steel atau logam-logam prup Pt. Contoh
lain, misalnya acid pickling merupakan cara yang efisien untuk memperbaiki daya tahan
korosi baja karbon dan baja tahan karat.
Dalam medesain suatu konstruksi atau mesin sejak awal harus sudah dipikirkan
langkah-langkah untuk menanggulangi masalah-masalah korosi, karena konstruksi atau
mesin tersebut berada dalam lingkungan yang korosif. Oleh karenanya didalam mendesain
suatu konstruksi memerlukan langkah sebagai berikut :
1. Harus dapat memenuhi persyaratan-persyaratan dasar.
2. Memilih bahan-bahan konstruksi dan surface teratment yang tepat atau metoda proteksi
lainnya.
3. Melaksanakan pekerjaan desain dengan seksama.

Prinsip-prinsip desain yang berkaitan dengan masalah korosi adalah :
a. Penyederhanaan bentuk.
b. Hindari redsidual moisture.
c. Perhatikan kemungkinan terjadinya korosi galvanik.
d. Hati-hati dengan joints dan juction.
e. Perhitungkan adanya perubahan dimensi karena korosi.
f. Perhitungkan adanya perubahan dimensi karena pelapisan protektif.
g. Beri petunjuk tentang masalah fabrikasi dan pemeliharaan.

B. Pengendalian Korosi dengan Mengubah Media Korosif.
Langkah-langkah pengendalian korosi dengan mengubah media korosifnya dapat
dilakukan dengan berbagai cara :
1. Menghilangkan O2 dalam air dengan cara evakuasi.
2. Menghilangkan asam dalam air dengan cara netralisasi.
3. Menghilangkan garam-garam dalam air dengan pertukaran ion.
4. Penghilangan air dalam udara dengan cara peng-awa-lembaban (dehumidification).
5. Penurunan kelembaban misbi udara sekeliling dengan menaikkan temperatur.
6. Peniadaan partikel-partikel debu dalam air atau udara dengan cara filtrasi.

C. Pengendalian Korosi dengan Cara Mengubah Potensial Logam/Media Korosif.
Karena masalah korosi logam dalam lingkungan basah melibatkan proses
elektrokimia maka penanggulangannya pun harus secara elektrokimia. Pengendalian korosi
secara elektrokimia dilakukan dengan cara mengubah tegangan elektrodanya agar korosi
dapat dicegah atau paling tidak mengurangi pelarutan logam. Tergantung apakah tegangan
elektrodanya digeser kearah positif atau negatif, proteksi korosi dapat dibagi menjadi :
1. Proteksi katodik dan
2. Proteksi anodik

Dari kedua cara tersebut diantara proteksi katodiklah yang merupakan cara yang
lebih penting. Prinsip bekerjanya dapat dijelaskan dengan menggunakan diagram tegangan
(E) – pH.

1. Proteksi katodik

Untuk proteksi baja bahan anoda yang dipakai adalah Mg. Galvanic anodic protection : dalam hal ini logam-logam mulia (Pt. Proteksi katodik dapat dibagi menjadi : a. seperti dalam larutan khlorida. Sebagai pelat anoda terdispersi dengan atau tanpa pengutaran arus b. Dalam lingkunagn yang mengandung larutan klorida material standar yang dipakai sebagai anoda adalah grafit. Al dan Zn atau paduan dari logam-logam tersebut atau dengan Ca. Kemudian tegangan elektrodanya digeser kearah positif sehingga untuk logam-logam tertentu akan terjadi pasifasi kimiawi. Untuk kebanyakan logam hal ini justru akan menyebabkan terjadinya korosi. Ta.Sebagai pelapis pada logam dasarnya (mis. Galvanic protection : dalam hal ini benda yang terkorosi dipasang sebagai katoda pada suatu sel galvanic. Jadi proteksi anodic tidak dapat dipakai dalam lingkungan yang mengandung konsentrasi anion dalam jumlah besar. Untuk proteksi tembaga dapat dipakai karbon sebagai anoda karbonnya. Memilih insoluble anode untuk electrolytic cathodic protection adalah hal yang tidak mudah. Kalau tegangan elektrodanya digeser kearah negative sampai dibawah harga tegangan kesetimbangan korosinya. Pada proteksi katodik. Jadi baja 18/8 dapat dilindungi secara anodic dalam larutan yang mengandung 30 % H2SO4 dan 1 % NaCl. Selain itu komposisi dari larutan korosifnya harus mendukung terjadinya pasifasi. Zn atau Al berfungsi sebagai anoda korban yang dapat dilakukan : . Anodanya yang terdiri dari logam Mg. Pb. Zr) . Proteksi anodic dapat pula dibagi menjadi dua sub kategori yaitu : 1. Ion-ion sulfat dalam konsentrasi tinggi dapat menggantikan ion-ion khlorida pada permukaan logam. Elektrolytic cathodic protection : cara ini menggunakan objek yang mengalami korosi sebagai katoda sel elektrokimia yang arusnya disuplai dari sumber arus searah luar (impressed) current. C dan Ni). baja galvanis) . Anoda tambahannya biasanya terdiri dari logam yang tidak larut (Pt. maka benda tersebut tidak akan terkorosi. Oleh karena itu cara ini pada prinsipnya hanya cocok untuk logam yang menunjukkan pasifasi kimiawi. tetapi dapat pula berupa logam yang dapat larut (Fe. sedang dalam larutan sulfat paduan timbale dengan antimony dan atau perak. Proteksi Anodik Pada proteksi anodik objek yang akan dilindungi dipasang sebagai anoda dari suatu sel galvanic atau biasanya sel elektrolitik.Al). Pd. Ag. karena tidak ada bahan yang sama sekali tidak larut bila dipasang sebagai anoda dalam sel elektrolisa. Ti. benda yang terkorosi berfungsi sebagai katoda dari suatu sel elektrokimia. Cu) dipakai sebagai unsure-unsur pemandu atau sebagai surlace coating pada logam-logam pasifasi (stainless steel. 2.

misalnya khlorida dari logam perlindungannya (mis. Pada temperature rendah metalisasi dapat dilakukan dengan cara : a. induction heating c. polishing.2. Pelapisan permukaan metalik dapat dilakukan dengan 3 cara yakni : a. Operasi preatment biasanya dilakukuan dalam dua tahap : Tahap pertama untuk menghilangkan bahan-bahan organic dan tahapan lainnya untuk menghilangkan bahan-bahan anorganik dan juga untuk mendapatkan surface finish tertentu. pneumatic blasting. Reduksi kimia : BCl2 + H2 B + 2HCl c. membentuk paduan permukaan oleh proses difusi. scraping. Metode fisik : dalam cara ini pelapisan logam dilakukan pada temperature tinggi. D. b. atau proses tumblingdalam serbuk logam yang digunakan sebagai bahan pelapis. steam degreasing Tahap selanjutnya dapat dilakukan dengan cara : a. tumbling. mekanis : antara lain hammering. Tergolong juga dalam kategori ini adalah proses sherardizing (pelapisan baja dengan Zn) dan proses calorizing (pelapisan baja dengan Al)/. Logam pelapisan dapat diendapkan menurut reaksi sebagai berikut : a. Kimia : pickling 1.cleaning. Cara kimia : cara ini melibatkan pemakaian lelehan atau uap logam dengan komposisi tertentu. Pb. Desosiasi thermal : BCl2 B + Cl2 dengan A = benda yang teroksidasi B = logam pelapis/pelindung Dalam contoh tersebut diatas logam B akan membentuk paduan dengan logam A yang terlapisi. alkaline degreasing c. Termal : flame. Permukaan baja karbon dapat juga dilapisi dengan s/s steel dengan cara pengelasan. centrifugal blasting. penyemprotan logam cair (Al. lapisan oksida seperti mill scale dan karat. Zn) atau pengecetan menggunakan cat yang mengandung serbuk seng atau aluminium. mechanical plating. Metode mekanis : contohnya. c. b. Pertukaran : A + BCl B + ACl2 b. emulsion cleaning d. Misalnya proses hot dipping. Pengendalian Korosi dengan cara Pelapisan Permukaan (surface coating) Langkah awal sebelum dilakukan protective coating macam apapun adalah preatment untuk membersihkan permukaan logam dari kotoran-kotoran seperti grease dan garam-garam. Proses degresing meliputi : a. Cr). Electro deposition (electroplating) . organic degreasing b. Sn atau Al. Electrolitic anodic protection : disini digunakan arus searah dari luar yang disuplai melalui katoda tambahan dan tegangan potensial objek yang akan dilindungi (anoda) diatur dengan bantuan potentiostat. yaitu pencelupan logam dalam cairan logam Zn. Pelapisan permukaan metalik (metallic surface coating).

khususnya untuk baja adalah Pb3O4. Anti – corrosive primer yang tertiua dan yang sampai kini masih digunakan. . Pelindung organic seperti cat dan laquer adalah bahan yang terpenting sebagai pencegah korosi dan barangkali menghabiskan biaya hamper separuh dari total biaya penanggulangan korosi. Lapisan pelindung yang mempunyai inhibitive action adalah. Ion chromat mempunyai sifat inhibitive baik dalam larutan netral dan basa (alkali).l. 2. Sementasi yaitu reduksi logam yang lebih noble dari senyawa garamnya oleh logam yang kurang noble sebagai logam dasar. adalah vitreous enamel. atau chemical nikel plating oleh reduksi dengan hypophosphate. Bahan ini dapat tahan terhadap alkali (yang tidak terlalu kuat). Inorganik atau non-metalik coating Inorganic coating dapat berfungsi hanya sebagai lapisan pelindung atau berfungsi juga sebagai inhibitor. air mendidih dan uap dan juga berfungsi zat pelarut organic dan bahkan sampai temperature 6000C. Bahan pelindung organic dapat pula mengadung bahan-bahan polimer dan anti – corrosive primers.b. dengan membentuk lapisan zinc dan manganese phosphate pada permukaan logam. dan asam (kecuali asam hydrofluor). c. Cat anti karat biasanya terdiri dari primer dan TOPCOAT. yang mempunyai inhibitive action. contoh lain. Contoh pigmen lainnya yang dipakai sebagai anti – corrosive inhibitor adalah chromat . oksigen dan bahan korosif lainnya masuk kedalam primer. a. blac oxidation of steel dan proses-proses anodizing. atau dikenal dengan nama meni (red lead). misalnya pelapisan perak dengan menurunkan nitrat perak dan formaldehyde. misalnya. Yang tergolong dalam kategori pertama. yang fungsinya adalah melindungi primernya dengan cara mengurangi laju transfer uap air. Phosphating baja dan logam-logam non ferro. Reduksi kimia. Chromating adalah proses yang serupa dengan phosphating dan acap kali digunakan untuk passivating treatment setelah phosphating.

CSE Lingkungan Anaerob :  . dan hamper merupakan konsensus umum. Gambar 2. dalam praktek menunjukan bahwa besi sudah akan tidak terkorosi bila konsentrasi ion (Fe2+) di sekitarnya 10-3 M. Arus yang diperlukan untuk memproteksi pipa dalam tanah sangat ditentukan oleh lapis lindung. Kita akan memperoleh nilai potensial proteksi : Angka ini pada saat ini diterapkan sebagai kriteria proteksi katodik untuk besi / baja pada umumnya. Inggris ( BSI Code. Makin tinggi tahanan. Faktor – factor lain yang dapat mempercepat kecepatan korosi juga akan memperbesar keperluan arus korosi. Potensial proteksi besi tuang dan baja  . Lapis Lindung Kualitas lapis lindung pada permukaan menentukan lumlah permukaan logam telanjang yang berkontak dengan lingkungan . Faktor – faktor yang mempengaruhi keperluan arus korosi : 1. Tahanan dari elektrolit Kecepatan korosi ditentukan juga oleh tahanan tanah . sedang dalam praktek kondisinya jauh berbeda. CSE 3. Lapis lindung yang sempurna dapat mereduksi keperluan arus proteksi sampai 0.950 mV. 4. diantaranya : 1.2 % dari baja telanjang . c. CSE Lingkungan Anaerob :  .850 mV terhadap elektroda Cu / CuSO4 C. Berdasarkan pengalaman . Penurunan potensial sebesar 100 mV CSE bila arus diinterupsi. CSE 2. Tetapi angka tersebut diperoleh dari kondisi ideal . chapter 1. Perancis (RPECIS De Protection Chatodique) menerapkan potensial proteksi baja antara 960 – 1100 (-mV) CSE Pada dasarnya angka – angka potensial proteksi tersebut tidak berbeda. Book 49 . Belanda ( Beleidscommisie Bescherming Buisleidingen ) menetapkan : Lingkungan Aerobik :  -850 mV. App D ) a.850 mV. KEPERLUAN ARUS KOROSI Jumlah arus proteksi yang diperlukan untuk memproteksi katodik tergantung dari kecepatan korosi dan luas permukaan yang diproteksi. . CSE dengan memperhitungkan potensial jatuh ( IR drops ) b. menurut NBS ( National Bureau of Standards ).1973 ) menetapkan : Lingkungan Aerobik :  -850 mV.933 V (CSE). makin kecil arus yang diperlukan.0. Proteksi Katodik Dengan anoda Korban (A) dan Arus Tanding(B) Jadi menurut teori diatas . Amerika ( Code of Federal Regulations.950 mV. besi akan terproteksi katodik bila potensialnya E. baik logamnya maupun lingkungannya. CP 1021 . Penurunan potensial sebesar 300 mV CSE dari potensial yang diukur. bahwa besi / baja terproteksi katodik bila potensialnya  . Berbagai negara telah menetapkan criteria potensial proteksi untuk besi dan baja . 2. Faktor lain kecil saja pengaruhnya.

Baja telanjang dalam tanah dengan resistivitas < 300 ohm meter 30 – 50 mA/ m2 300 sd 1000 ohm meter 20 – 30 mA/ m2 1000 sd 5000 ohm meter 10 – 20 mA/ m2 > 5000 ohm meter 5 – 10 mA/ m2 Dari data tersebut di atas jelas bahwa keperluan arus proteksi sangat bervariasi.7 volt Paduan Al  0.1 mA/ m2 Asphalt mastic 20 mm – 0. yang bervariasi tergantung dari turbulensi. yang perhitungannya menggunakan rumus ohm yang sederhana saja : I =E/R Tegangan dorong E. Dalam air laut . Dalam sistem anoda korban harga E sudah tertentu.1 mA/ m2 Polyethylene 4 mm 0. spesi yang dapat direduksi biasanya adalah oksigen yang terlarut .01 mA/ m2 Butyrubber + PVC 0.25 volt . Arus listrik ini kita peroleh dari sumber anoda korban atau penyarah arus. atau variabel hidrodinamik lain. yang semula hanya diizinkan sampai 60 V. Suatu tanah yang bersifat asam misalnya akan mengandung ion H+ tinggi dan ini akan mempercepat reaksi katodik dan keperluan arus korosi akan lebih besar.5 mA/ m2 C. dari suatu system proteksi katodik dengan arus tandingan dapat kita atur dan tidak merupakan masalah. Keperluan arus proteksi untuk berbagai kondisi adalah sebagai berikut: a.001 – 0. nilai yang biasa digunakan dalam perhitungan adalah : Paduan Mg  0. telah banyak dioperasikan penyearah arus dengan tegangan 100 volt. PERHITUNGAN – PERHITUNGAN Dalam proteksi katodik . Baja telanjang dalam berbagai medium Tanah netral 4 – 16 mA/ m2 Tanah netral teraerasi 20 – 32 mA/ m2 Tanah kering teraerasi 5 – 16 mA/ m2 Tanah basah ganas 25 – 60 mA/ m2 Tanah asam 50 – 160 mA/ m2 Tanah mengandung bakteri pereduksi sulfat 50 – 450 mA/ m2 Beton kering 5 – 16 mA/ m2 Beton basah 50 – 270 mA/ m2 Air Laut 50 – 270 mA/ m2 B. Kandungan Spesi yang dapat direduksi Kecepatan korosi juga dapat ditentukan oleh jumlah spesi yang dapat direduksi dalam elektrolit . yang kita perlukan adalah sejumlah arus listrik searah tertentu untukmemproteksi seluas permukaan logam tertentu.Baja dengan lapis lindung Coaltar 5 mm 0.01 – 0. sehingga kita akan mengalami kesulitan untuk membuat desain yang eksak. D. Pada saat ini.3. Pada umumnya keberhasilan proteksi katodik ditentukan di lapangan. yang memang tidak mungkin.05 – 0.

Pengalaman – pengalaman menunjukan bahwa keluaran arus anoda sering lebih kecil dari perhitungan . E. cm D : diameter anoda . Paduan Zn  0. Membiarkan pipa tanpa proteksi katodik Demikian kita menempatkan logam dalam pelayanan produksi. tahanan logam ke tanah . ohm Rv : tahanan satu anoda dipasang vertikal RVN : tahanan N anoda dipasang vertical  : resistivitas tahanan. cm Ex : potensial pipa pada x km dari groundbed EA : potensial pipa dekat groundbed R : tahanan pipa . Rk 2. Makin lambat kita menerapkannya hanya . Oleh karena itu ada juga perhitungan yang menggunakan rumus : sehingga diperole harga R lebih tinggi. yang besarnya sekitar 3 volt. semua tahanan diperhitungkan dan masih perlu diperhitungkan adanya tegangan balik ( back voltage ) antara struktur dan groundbed. Ra Dalam proteksi katodik dengan system anoda korban . mencakup tahanan – tahanan : 1. ohm / km G : konduktivitas lapis lindung . yang mengakibatkan keluaran arus lebih kecil. seharusnya perlindungan terhadap korosi segera diterapkan . Demikian juga mengenai keperluan arus proteksi. tahanan kabel.25 volt Tahanan listrik R. perlu ditambahkan sekitar 25 % dari perhitungan untuk mengatasi ketidakmerataan distribusi arus dan penambahan 30 % diperlukan untuk pipa – pipa yang telah terkorosi. cm N : jumlah anoda S : jarak antar anoda . ohm-meter L : panjang anoda . karena pada umumnya dalam praktek terjadi penyimpangan – penyimpangan karena kondisi lapangan sangat bervariasi. Ada juga yang menyarankan bahwa bila pipa diberi lapis lindung maka keluaran arus anoda berkurang sekitar 30 %. BEBERAPA MASALAH DALAM PROTEKSI KATODIK 1. tahanan grounbed ke tanah . nilai R diperhitungkan dari tahanan grounbed saja. Rumus – rumus yang banyak dipergunakan untuk perhitungan – perhitungan adalah: dimana: Rx : tahanan satu anoda dipasang horizontal. Re 3. ohm / km Rumus – rumus diatas hanyalah merupakan pegangan saja. sehingga : I =E / Ra Dalam system arus tandingan.

2. Kerusakan anoda premature Banyak terjadi kerusakan anoda premature. masih banyak pipa telanjang tanpa proteksi katodik. III. yang berakibat kurang berfungsinya proteksi katodik.akan memperbesar kerugian. 4. 3. kita tidak boleh membiarkan pipa dengan lapis lindung lebih dari satu tahun. yang berakibat tidak berfungsinya proteksi katodik. Pipa telanjang tanpa proteksi Di Indonesia. Selain dari pipa . banyak pula tiang – tiang pancang dermaga tanpa proteksi katodik. Berdasarkan peraturan . Desain yang kurang sempurna Telah menjumpai beberapa desain yang kurang sempurna . yang tentu saja akan mengalami kebocoran – kebocoran yang sangat merugikan. yang akan berakhir dengan kegagalan. PELAPISAN . Kondisi ini hanya akan menimbulkan rasa was – was yang terus menerus.

yaitu : . . Pelapisan pada umumnya merupakan bagian akhir dari proses produksi dari suatu produk. tekelupas dll. Keunggulan dari pelapisan anodic adalah sifat logam pelapis yang bersifat melindungi logam yang dilapisi. Pelapisan Metalik 2. Memberikan sifat khusus pada permukaan logam seperti sifat keras. maka pelapisan dapat dikategorikan atas tiga jenis. sampai batas tertentu tetap terproteksi oleh logam pelapis. atau setelah proses pengerjaan mesin serta penghalusan terhadap permukaan benda kerja dilakukan. Dilihat dari jenis material pelapis. Pelapisan untuk sifat khusus permukaan 3. Proses tersebut dilakukan setelah benda kerja mencapai bentuk akhir. sehingga walaupun terjadi cacat pada permukaan pelapis karena berbagai sebab seperti seperti tergores. Dengan demikian. tahan suhu tinggi dll. Sifat seperti ini tidak terdapat pada logam yang dilapisi dengan logam yang lebih katodik. Memperbaiki tampilan luar permukaan . Mengisolasi permukaan logam dari interaksi dengan lingkungan. Pelapisan Dekoratif 2. Pelapisan Protektif 3. 1 Pelapisan Anodik atau Sacrificial Coating Pelapisan Anodik merupakan pelapisan dimana potensial listrik logam pelapis lebih anodik terhadap substrate. 1. TUJUAN DAN JENIS PELAPISAN Secara teknis tujuan pelapisan logam untuk : . MACAM – MACAM PELAPISAN LOGAM 1. sehingga terjadi “exposure” terhadap lingkungan sekitarnya. Pelapisan Inorganik . tahan aus. Pelapisan Organik . . retak. proses pelapisan termasuk termasuk dalam kategori pekerjaan finishing dari suatu benda kerja. PELAPISAN LOGAM DITINJAU DARI SIFAT ELEKTROKIMIA BAHAN PELAPIS 3.

3. bentuk plasma. yaitu pengecatan untuk mengisolasi bahan pelapis yang sudah ada dari proses oksidasi atmosfer. Pelapisan yang dilakukan dengan emas atau perak terhadap tembaga merupakan contoh pelapisan katodik yang banyak dikenal. Prinsip kerjanya sama. 1 Pelapisan dengan celup panas (Hot Dipping) Pelapisan dengan celup panas dilakukan dengan cara mencelupkan logam yang akan dilapisi kedalam logam pelapis yang berada dalam keadaan cair. Temperature gas panas dalam . Bila terjadi cacat pada logam pelapis. adalah kerawanan terhadap korosi lokal tidak terjadi cacat pada permukaan logam pelapis. yaitu : bentuk kawat. METODE PELAPISAN LOGAM (PELAPISAN METALIK) Secara teknis. 2. sehingga akan terjadi korosi local yang intensif terhadap substrate. pelapisan metalik dapat dilakukan dengan beberapa cara. bentuk bubuk. dimana kebagian dalam ‘chamber’atau ruang pembakar yang ada pada alat penyemprot dialirkan gas campuran antara acetylene dan oksigen. Pelapisan Katodik Pelapisan Katodik dikatakan pada setiap pelapisan dimana logam pelapis sifat elektrokimianya lebih katodik dibandingkan dengan substrate. Dapat dilakukan dengan alat yang mirip alat tembak (Gun) dengan tiga bentuk logam pengumpan. maka logam yang dilapisi akan terekspose kelingkungan dan akan bersifat anodik. contohnya pelapisan sheet baja dengan Zinc pada pembuatan atap seng. Gas ini akan terbakar ketika melewati elektroda panas dalam ‘chamber’. Pada umumnya pelapisan ini dilengkapi dengan pelapisan lain. 4. Kelemahan dari pelapisan katodik. 4. Karena itu titik cair logam yang akan dilapisi harus lebih tinggi dari titik cair logam pelapis. 2 Pelapisan dengan penyemprotan logam (Metal Spraying) Pelapisan dengan penyemprotan logam dilakukan dengan menyemprotkan logam cair dalam bentuk partikel-partikel halus kepermukaan logam yang akan dilapisi hingga membentuk suatu lapisan. antara lain adalah dengan cara sebagai berikut:  Pelapisan dengan celup panas (Hot Dipping)  Pelapisan dengan penyemprotan (Metal Spraying)  Cladding  Conversion Coating  Pelapisan listrik 4.

. Contoh pelapisan logam yang pernah dilakukan. Cladding merupakan pelapisan logam dengan logam lain dengan ketebalan yang tinggi. . 4. karena hasilnya lebih rata kekuatannya dan lebih mudah dikontrol. pelapisan kromat. menimbulkan lapisan yang melekat kuat pada permukaan 2. Cladding merupakan suatu proses pelapisan dengan kesenyawaan yang sangat kuat. Paduan aluminium dilapis dengan aluminium murni. .3 Cladding Proses cladding umumnya dilakukan dengan dua cara yaitu :  Hot Rolling  Exsplosive forming Dari kedua cara ini pelapisan dengan rolling lebih banyak digunakan. dapat menyerap oil atau wax sehingga membantu ketahanan korosi permukaan. diantaranya adalah : . setidaknya selama proses pengapalan 3. dilapis cladding dengan stainless steel 1/8 inch. 4. chamber berkisar antara 15000 – 30000 0F. bersifat dapat menahan korosi. Cladding merupakan suatu cara pelapisan logam untuk mengendalikan korosi merata dalam jangka waktu relatif panjang misalnya dilingkungan dengan korosifitas yang tinggi. butiran-butiran logam yang halus ini akan terdampar pada permukaan logam ‘ substrate’ dan tetap disana sebagai logam pelapis. dan c. pelapisan konversi memiliki fungsi-fungsi berikut : 1. Plat baja tebal ¾ inch. pelapisan posfat b. Beberapa pelapisan konversi yang sudah luas dikenal saat ini adalah : a. anodizing. Cladding umumnya dilakukan untuk pelapisan logam dengan logam lain yang tidak bebrbeda jauh beda potensial elektrokimianya. 4 Conversion Coating Conversion coating merupakan pelapisan logam yang dilakukan dengan cara ‘mengkorosikan’ permukaan logam tersebut sehingga membentuk lapisan yang kuat serta protektif. Tujuan pelapisan dengan perbedaan potensial elektrokimia yang kecil adalah untuk menghindari efek korosi galvanik antara keduanya selama masa operasi. Plat baja 1 inch dilapis dengan plat nikel 1/8 inch. Dalam implementasinya. ketika aliran gas ini disemprotkan ke permukaan ‘substrate’ .

maka cat harus memiliki sifat- sifat sebagai berikut : 1. 3. anoda. memberikan warna permukaan yang lebih baik 5. 6. 4. voltmeter serta alat pengatur voltage serta arus. cadmium. 2 Logam pelapis katodik Yang termasuk kedalam logam pelapisan yang katodik adalah logam-logam kromium. katoda. cat harus mudah dilapiskan dengan cara-cara yang dianjurkan dalam proses pengecatan. 4. 2. Cat bukan hanya dikenal untuk mengendalikan korosi pada logam tetapi juga untuk memberikan efek dekoratif pada permukaan lain seperti kayu. lapisan cat yang disapukan kepermukaan harus bersifat dapat menutupi permukaan dengan merata dan sempurna. 2. yaitu elektroda negatif. larutan pelapis diman terdapat ion-ion logam pelapis. sirkuit luar. LOGAM-LOGAM PELAPIS 5. PELAPISAN DENGAN CAT Pelapisan logam dengan bahan cat merupakan cara pengendalian korosi yang sudah lama dikenal masyarakat. Terdapat empat unsur pokok dalam electroplating. cat harus memiliki daya adhesi yang kuat terhadap benda dan sifat ini harus stabil terhadap waktu. perak dan emas. kaca dan lain-lainnya. yang terdiri dari sumber arus DC dengan peralatan seperti amperemeter. 5 Pelapisan dengan elektroplating Proses pelapisan dengan elektroplating disebut juga dengan electrodeposition. Sehubungan dengan fungsinya sebagai bahan pelapis. tembaga. aluminium. . nikel. misalnya dengan kuas. yaitu elektroda positive yang merupakan logam pelapis. rol dan semprot. yaitu : 1. Anoda tersebut merupakan logam inert atau anoda yang tak larut. plastik. yang merupakan elektroda yang akan dilapisi. 3. 5. 1 Logam pelapis anodik Termasuk dalam kategori logam pelapis anodik adalah zinc. memberikan ketahanan permukaan terhadap abrasi 4. 5.

2 Zat pengikat (Binder) Bahan pengikat pada cat berfungsi untuk memberikan sifat fisik dan sifat kimiawi tertentu dari cat. dan pigmen racun. misalnya hujan dan panas serta temperatur yang berubah-ubah. 6.1. Pigmen dapat juga berupa racun pada cat bawah air. ketahanan terhadap atmosfer. pelarut dan zat aditif. memiliki sifat khusus untuk kegunaan yang khusus pula. Kegunaan cat bahkan dapat dilihat dari jenis pengikat yang digunakannya. kurang baik digunakan pada lingkungan yang terekspose lingkungan yang variatif. Lingkungan tersebut dapat diartikan sebagai unsur diluar logam yamg dilapisi dan dapat juga unsur logam yang dilapisi itu sendiri. Zn kromat. elastisitas lapisan cat. berupa warna yang cerah.c Pigmen racun Pigmen racun merupakan pigmen yang disamping dapat melindungi. tahan suhu tinggi dan anti korosi. kualitas cat seperti warna dan viskositasnya harus tetap 5. misalnya tahan air untuk cat bawah air.b Pigmen pasif Pigmen pasif merupakan pigmen yang tidak memberikan reaksi terhadap lingkungan. zat pengikat. Komponen pengikat ini dapat menentukan sifat adhesi cat. Umumnya pigmen-pigmen ini berupa oksidasi-oksidasi yang tidak memiliki kemauan untuk bereaksi lagi seperti TiO2 dan Fe2O3.4. ketahanan terhadap cuaca. Karena unsur bereaksi dengan lingkungan ini maka pigmen-pigmen ini dikatakan aktif. Cat seperti ini misalnya digunakan pada lunas kapal. Ca2PbO4. Pigmen dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu . . Umumnya pigmen ini digunakan pada cat bawah air. Untuk memenuhi sifat-sifat diatas maka pada cat harus terkandung komponen- komponen seperti pigmen. pigmen pasif. tiang dermaga dan lain-lain.1. Cat dengan komponen pengikatan yang kurang baiak akan mudah terkelupas. 6. Cat seperti ini lebih baik digunakan pada interior dimana lingkungan sekitarnya hampir selalu tetap. Contoh pigmen aktif : serbuk seng.1. juga dapat meracuni mahkluk hidup yang menempel pada permukaan. zat filler (pengisi). pigmen aktif. 6.a Pigmen Aktif Pigmen aktif merupakan pigmen yang memberikan efek dekoratif dan mampu memberikan perlindungan terhadap logam dengan cara bereaksi terhadap lingkungan. 6. ketahana terhadap intrusi air dan senyawa kimia lainnya. 1 Pigmen Pigmen pada cat umumnya berbentuk serbuk yang berfungsi sebagai bahan pelindung yang memberikan efek dekoratif pada tampilan cat. 6.

4. epoxy. Diantara jenis bahan pengikat adalah : alkyd resin. Zat Tambahan (additif) Bahan additif biasanya ditambahkan dalam jumlah yang sedikit dengan maksud untuk memperbaiki sifat-sifat cat seperti : . INHIBITOR Upaya perlakuan sangat penting dalam penanggulangan korosi. 6. tidak elastis sehingga mudah retak. mencegah timbulnya jamur pada permukaan benda yang dicat. talc. 6. IV. mudah diresapi air dan embun sehingga tidak kedap air. Dengan adanya pengisi. 6. alkohol. . Pelarut dapat mengatur cepat lambatnya kering suatu lapisan cat. ester. Diantara zat-zat pelarut yang dikenal adalah senyawa-senyawa hidrokarbon. china clay dan mica. maka lapisan cat akan kuat. Mencegah terjadinya pengendapan pigmen. Zat pengisi akan berfungsi mengisi rongga-rongga dan porositas yang mungkin terbentuk dalam cat bila dikeringkan. Pengisi (filler) Zat pengisi berguna terutama untuk membuat cat menjadi suatu lapisan yang padat. Zat Pelarut Zat pelarut merupakan zat yang berguna untuk menjaga viskositas cat agar mudah disapukan kepermukaan logam dengan kuas.3. padat dan tidak mudah diresapi cairan apapun dari luar. khlorinated rubber. Lingkungan korosif diupayakan menjadi tidak atau kurang korosif. rol ataupun semprot. Beberapa peneliti dan ahli teknik berusaha . bitumen. keton dan alifatik. Cat yang baik selalu mempunyai waktu pengeringan yang tertentu.5. tidak tahan akan perubahan cuaca. Diantara zat-zat pengisi yang dikenal adalah CaCO3. mencegah terjadinya pemisahan warna . vinyl.

karena oksigen diperlukan . Inhibitor Anodik 2. walaupun tingkat penghambatannya mungkin tidak sama. yaitu : 1. inhibitor dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme penghambatannya maupun berdasarkan sifat senyawanya. Inhibitor bekerja menghambat laju korosi. Inhibitor semacam ini menaikkan potensial korosi bebas logam sampai dicapai potensial pasifasi.mengembangkan beberapa cara untuk menyelamatkan logam dari serangan korasi. Inhibitor campuran adalah tipe inhibitor yang bekerja dengan cara menghambat laju korosi secara keseluruhan. 1. Belum banyak diketahui bagaimana cara kerja inhibitor dalam menghambat korosi. Jika konsentrasinya sampai turun. sedangkan inhibitor katodik bekerja dengan cara menghambat reaksi katodik. Inhibitor anodik bekerja dengan membentuk lapisan pelindung yang pasif dipermukaan logam akibat reaksi logam dengan inhibitor tersebut (sama dengan reaksi korosi logam dengan inhibitor). Efek inhibitor ini bergantung pada konsentrasi yang digunakan. salah satunya adslsh dengan menggunakan inhibitor. Sebenarnya inhibitor sudah dikenal jauh sebelum abad pertengahan dan berkembang dari tahun ketahun sesuai dengan tuntutan zaman. Berdasarkan mekanisme penghambatannya. maka logam akan mengalami korosi hebat jenis pitting. baik reaksi anodik maupun katodik secara serentak. Inhibitor Campuran Inhibitor anodik bekerja dengan cara menghambat reaksi anodik. Konsentrasi inhibitor dalam media harus dipertahankan pada level tertentu. Inhibitor berasal dari bahasa latin inhibere yang artinya menahan atau memperlambat. Walaupun demikian. Kebanyakan mereka ini ditemukan berdasarkan hasil pengamatan atau penelitian empiris saja tanpa diketahui mekanisme kerjanya. maka inhibitor dapat diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) kategori. Inhibitor Katodik 3. Kehadiran oksigen / oksidator juga diperlukan pada inhibitor ini. Banyak macam dan rumusan atau resep-resep bahan inhibitor. KLASIFIKASI INHIBITOR Inhibitor adalah suatu bahan kimia yang jika ditambahkan dalam jumlah yang kecil saja kepada lingkungan media yang korosif. akan menurunkan kecepatan korosi.

Banyak perusahaan pembuat dan penjual inhibitor yang meramu resep-resep inhibitor dengan mencampurkan bermacam-macam inhibitor dan mempatenkannya dengan nama dagang dengan kode-kode tertentu berupa satu paket inhibitor untuk sistem-sistem tertentu. Inhibitor tipe anorganik antara lain adalah ammonia dan nitrit. Contoh jenis ini adalah senyawa amina organik. Oksidator. boiler feed water. Kemungkinan inhibitor jenis ini bekerja dengan membentuk lapis pelindung yang berasal dari corrosion product dipermukaan logam dan sekaligus juga mengendapkan bahan yang lebih kompleks diatasnya. Lapisan atau endapan tersebut akan menghambat akses oksigen kepermukaan logam. Sekalipun tidak dipahami mekanismenya. seperti : cooling water. Yang termasuk inhibitor jenis ini adalah kromat dan nitrit. 3. Inhibitor jenis campuran tidak memberikan efek perubahan potensial korosi bebas yang berarti pada logam. Beberapa inhibitor katodik malah menunjukkan efek negatif pada konsentrasi yang tinggi. tetapi rumus campuran beberapa macam inhibitor semacam itu mempunyai efek sinergi yang jauh lebih baik daripada efek penjumlahan jika mereka dipakai sendiri- sendiri. Inhibitor tipe organik biasanya adalah tipe mengendap pada situs anoda dan katoda sehingga menghambat berlangsungnya reaksi anodik dan katodik secara serentak. Dalam banyak kasus efeknya terhadap proses-proses anodik dan katodik tidak sama besar. 4. Berdasarkan sifat senyawanya.sedangkan nitrit dipakai sebagai pengikat oksigen terlarut selain sodium sulfit dan hidrazin. 5. Fasa uap atau volatil. dan lain-lain. sehingga konsentrasi inhibitor tidak boleh terlalu tinggi. bekerja dengan memebentuk lapisan ataupun endapan pada permukaaan logam. dan lain-lain. Agar efek inhibitor maksimal. Inhibitor katodik pada suasana netral.untuk pembentukan lapis pelindung pasif. Adsorbsi. Organik 2. sehingga akan menghambat reaksi katodik. . inhibitor bisa dikategorikan sebagai tipe: 1. diperlukan konsentrasi minimal yang harus ada dalam media elektrolik. Inhibitor jenis ini menurunkan potensial korosi bebas logam. Ammonia digunakan untuk menetralisir pH di kondensor. Anorganik.

05 gr pyragallol Steel Nitrogen fertilizer solutions 0. Hanya logam-logam yang membentuk lapisan pasif saja yang memanfaatkan inhibitor jenis ini. Lapisan film terdiri dari rantai hidrokarbon dengan “kepala” menempel dipermukaan logam dan lapisan “ekor” di atasnya.5% dodeyclamine or 2 amino bicyclohexyl and 0. Inhibitor tipe adsorpsi membentuk lapisan adsorpsi yang sampurna pada permukaan logam yang bersih dalam lingkungan sam ataupun lingkungan non aqueous. Selanjutnya lapisan oksida logam ini yang menahan ekspos logam ke lingkungan korosifnya. Inhibitor akan tersublimasi di udara dan terkondensasi di permukaan logam yang dilindungi.001% potassium iodide. seperti permukaan baja karbon dalam air biasa. Inhibitor fasa uap atau yang volatil dapat diletakkan didekat logam yang akan diproteksi. ia disebut sebagai pasifator. Jenis inhibitor ini tidak perlu dikontakkan langsung dengan logam sasaran. misalnya dikontainer untuk mengangkut peralatan yang terbuat dari logam inhibitor akan memproteksi logam dalam perjalanan selama menuju lokasi pengiriman. Inhibitor tipe oksidator adalah inhibitor yang bekerja berdasarkan pembentukan lapisan oksida logam yang protektif di permukaan logam.01-0. kromat. Contoh inhibitor tipe ini adalah amina dan surfaktan. Ia hanya efektif untuk ruang yang tertutup. Karena sifatnya yang mampu mempasifkan logam. Daftar beberapa zat perintang untuk Fe pada berbagai lingkungan Jenis Logam Lingkungan Zat Perintang (Inhibitor) Steel 1 : Methanol-Water To 41 water and 11. Inhibitor jenis ini juga ada yang membentuk lapisan adsorpsi yang non uniform pada permukaan logam yang tidak bersih. Ia bisa digunakan untuk melindungi bagian internal alat yang tertutup. Jenis inhibitor ini tidak cocok untuk ruang yang terbuka. potassium iodate . sehingga logam menjadi aman dari serangan korosif selanjutnya. methanol add 1 gr pyridine and 0. dan feri.1% ammonium thiocyanate Steel Phosphoric acid conc 0. Inhibitor ini bekerja mula-mula dengan “memangsa logam” sehingga membentuk corrosion product berupa oksida logam. Contoh inhibitor jenis ini adalah garam-garam nitrat.

dengan demikian ion-ion yang larut sangat mempengaruhi daya kerja inhibitor. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAYA KERJA INHIBITOR Air adalah lingkungan yang paling baik untuk melarutkan beberapa jenis garam sehingga merupakan unsur yang agresif terhadap kerusakan logam. 3.05-0. or iodacetis Steel Polyoxyalkene glycol fluids 2% emery’s acid (dilinoleic acid) 1. karena itu biasanya di perlukan konsentrasi inhibitor yang berlebih.25% N (CHMe2)3 0. klorida (Cl-) : baja akan lebih sukar terproteksi dengan adanya ion klorida.2% mercaptobenzothiazole Steel Sodium Cloride 0. kosentrasi oksigen yang larut. Bikorbonat (HCO3-) : Bikarbonat didalam air sudah dapat berfungsi sebagai inhibitor dengan membentuk endapan 4. 2. Inhibitor yang bersifat pengoksida akan mengoksida S2. konsentrasi inhibitor dan lain-lain. suhu. Sulfat (SO42-) : Pengaruh ion sulfat sama dengan pengaruh ion klorida.2% sodium nitrite Steel 50% sodium trichloracetate soln 0. hanya tidak separah yang disebabkan ion klorida.menjadi belerang bebas yang merupakan endapan . Senyawa-senyawa yang larut didalam air antara lain 1.5% sodium dichromate Steel sulfide containing brine formaldehyde Steel tetrahydrofurfuryl alcohol 1% sodium nitrate or 3% sodium cromate Steel water benzoic acid Steel water for flooding operations rosun amine Steel water saturated hydrocarbons sodium nitrite 2. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi daya kerja inhibitor adalah jenis dan konsentrasi garan yang larut. pH. Sulfida (S2-) : Ion sulfida dapat mengendapkan beberapa jenis ion logam misalnya inhibitor yang mengandung ion Zn2+ tidak dapat digunakan.

aluminium dan timah hitam akan mudah terkorosi pada pH > 9. koloid. . Sedangkan NaNO2 akan tidak efektif pada pH 6. anti foaming agent. Ion logam : Ion H+ akan mempercepatlaju korosi. Oksigen : Di dalam air dengan suasana netral oksigen dapat menyebabkan korosi.: Didalam suasana baja basa akan mudah terproteksi karena terbentuk lapisan hidroksida yang bersifat pasif. 5.0 dan senyawa kromat umumnya efektif pada pH sekitar 8.5-7. Biasanya disarankan penggunaan inhibitor pada tahap pertama proses diberikan dengan konsentrasi yang berlebih. Inhibitor ini akan kolektif apabila ditambahkan berlebih dimana endapan belerang bebas yang bersifat koloid dapat di tolelir. Untuk logam-logam Zn. 6.5. Efesiensi inhibitor dinyatakan dalam % dimana diperoleh laju korosi tanpa inhibitor. 7. kemudian pada tahap pemeliharaan biasanya inhibitor diberikan pada konsentrasi kurang dari 100 ppm. natrium arsenat sering digunakan di dalam proses pickling.1 ppm dengan menggunakan inhibitor yang dapat mengikat oksigen seperti Na2SO3 atau hidrasin laju korosi logam dapat dikurangi. Untuk inhibitor polifosfat misalnya efektif pada pH 6. Setiap inhibitor mempunyai jarak pH dimana dia bekerja secara efektif. PENGGUNAAN INHIBITOR Inhibitor biasanya dijual dalam bentuk padat maupun cair. beberapa jenis inhibitor seperti guanidine. Beberapa jenis inhibitor menjadi tidak efektif apabila suhu dari sistem naik misalnya polifosfat di atas suhu 400C dan akan berubah menjadi ortofosfat yang tidak efektif pada konsentrasi yang ada. apabila kandungan oksigen yang larut di turunkan sampai kurang dari 0. Kandungan inhibitor yang sebenarnya dinyatakan dalam % aktif. demulsifear difersant dan sebagainya.0 karena itu di perlukan inhibitor. Inhibitor akan bekerja lebih efektif apabila digunakan pada konsentrasi yang sesuai. Ion OH . Karena itu pengaturan pH sangat penting dalam menangggulangi korosi denganm menggunakan inhibitor. 3. Dalam beberapa hal penggunaan inhibitor dengan konsentrasi yang tidak sesuai akan menyebabkan lebih korosif daripada tidak mengunakan inhibitor. Bentuk padat biasanya relatif murni tetapi ada juga yang dicampur dengan bahan lain untuk memudahkan larut dalam air inhibitor dalam bentuk cair umumnya dicampur dalam bahan-bahan lain untuk mendapatkan sifat-sifat yang diperlukan misalnya ditambahkan surfaktan.

3.Satu jenis inhibitor pada umumnya hanya baik untuk satu jenis logam saja. Biasanya inhibitor kehilangan efektifitasnya jika konsentrasi dan suhu media naik. 4. Tidak semua media dapat diberi inhibitor sebab dapat mengkontaminasi lingkungan 2. Jenis inhibitor harus sesuai dengan logam yang akan di proteksi 2. Penggunaan konsentrasi inhibitor yang tepat. 5. 3. KELEMAHAN DALAM PENGGUNAAN INHIBITOR 1. Pada umumnya dinyatakan dalam ppm (bagian per juta).Inhibitor bentuk cair biasanya dinyatakan dalam satuan volume yang sama dari fluida yang ada di dalam sistem. KESIMPULAN Dalam menanggulangi korosi dengan menggunakan inhibitor yang perlu diperhatikan adalah : 1. 4. R0 = laju korosi logam tanpa inhibitor R1 = laju korosi logam dengan menggunakan inhibitor. Jumlah inhibitor yang diperlukan didalam suatu sistem. Pertimbangan faktor ekonomi.Efesiensi inhibitor dihitung dengan rumus : E = x 100 Dimana E adalah efesiensi inhibitor. . Pengolahan lingkungan yang tepat sehingga di peroleh lingkungan yang sesuai untuk inhibitor yang digunakan. 4. Inhibitor bentuk padat dinyatakan dalam satuan berat inhibitor per juta kali satuan berat yang sam dari fluida yang ada di dalam sistem. Inhibitor terutama dipakai sistem tertutup atau sistem sirkulasi dan tidak praktis untuk sistem one-through. Banyak inhibitor adalah racun sehingga pemakaianya terbatas padsa media yang tidak dipakai untuk penyimpanan makanan atau berhubungan langsung dengan manusia.