RANCANGAN PERHITUNGAN BIAYA PELAYANAN DOKTER

UNTUK KENDALI MUTU DAN KENDALI BIAYA

RM. Padmosantjojo

Biaya pertolongan kesehatan dapat dirinci menjadi 3 bagian utama yaitu :
1. Biaya pemeriksaan penegakan diagnosa yang terdiri atas :
a. Biaya pemeriksaan Dokter
b. Biaya pemeriksaan tambahan termasuk didalamnya laboratorium dan penggunaan
alat-alat bantu penegak diagnosa.
Biaya dokter untuk pemeriksaan dan pemeriksaan tambahan ini seyogyanya ditentukan
oleh Perhimpunan dokter ahli terkait.
2. Biaya pengobatan yang dapat dibagi menjadi :
a. Biaya pengobatan/tindakan yang dilakukan oleh dokter, ini sama dengan jasa dokter.
b. Biaya pemakaian sarana kesehatan. Seyogyanya dibicarakan bersama perhimpunan
rumah sakit dan perhimpunan dokter terkait.
c. Biaya pemakaian obat, ditentukan bersama pemerintah, perhimpunan rumah sakit,
perhimpunan dokter dan perhimpunan farmasi.
3. Biaya perawatan yang terdiri atas :
a. Jasa medik dokter.
b. Biaya rawat inap, seyogyanya diatur oleh perhimpunan rumah sakit.
Dengan demikian jelas bahwa perhimpunan dokter hanya dapat menentukan sebagian saja
komponen biaya pertolongan kesehatan. Hal yang pasti dapat disusun oleh perhimpunan dokter
adalah jasa dokter, baik untuk pemeriksaan, perawatan, maupun pengobatan.
Adapun latar belakang perhimpunan spesialis bedah saraf Indonesia menyusun konsep tarif jasa
dokter adalah :

1. Permintaan Kakanwil Kesehatan Jakarta kepada setiap perhimpunan dokter spesialis untuk
menentukan berapa tarif jasa dokter spesialis terkait. Duapuluh lima tahun yang lalu
Perspebsi Jakarta menyusun pola tarif ini dan berlaku untuk seluruh rumah sakit dan
praktek pribadi bedah saraf di Jakarta.
2. Menjawab permintaan Departemen Kesehatan , Askes maupun program DRG dalam sektor
penentuan tarif dokter.
3. Diundangkannya UUDK no.29 tahun 2004 yang mengamanahkan adanya kendali biaya.
4. Permintaan PB IDI 6 bulan sebelum muktamar kerja Oktober 2008; agar ada konsep
tentang tarif jasa dokter yang akan dibawakan ke pertemuan perhimpunan dokter se
ASEAN sebagai suara dari Indonesia.
5. Belum Terciptanya tarif dokter baku yang berlaku untuk semua macam pertolongan
kedokteran dan berlaku di Indonesia.
6. Keinginan dari kelompok dokter untuk menciptakan konsep tarif jasa dokter sendiri,
sebelum tarif itu ditentukan oleh orang lain diluar dokter.
7. Konsep ini disusun oleh bukan ahli dalam bidang ‘Ekonomi Kedokteran’, melainkan
berdasarkan pengalaman bekerja sebagai dokter spesialis bedah saraf baik di Indonesia
maupun di negeri Belanda. Konsep ini terbuka untuk perbaikan karena pasti terdapat
kekurangan. Penyusun berpendapat harus ada suatu konsep perencanaan dulu sebelum
mulai bekerja; perbaikan akan dibuat sambil berjalan. Hal ini lebih baik daripada bertahun-
tahun hanya berdiskusi tentang suatu wacana tanpa adanya konsep yang konkrit.

1

Keadaan yang relatif ini dapat digambarkan seperti contoh dibawah ini : Suatu soal matematika untuk tingkat lulusan SMA diberikan kepada golongan lulusan SD. Tidak pernah diukur seluruh faktor yang mempengaruhi besaran Jasa. Kenyataan setiap Perhimpunan dokterdengan berbeda-beda tingkat pendidikan menggolong-golongkan pelayanannya dalam golongan kecil. 7. besar dan khusus. baik biaya pemeriksaan/diagnostik. 2 . Tidak pernah diukur tingkat kemampuan kognitif dan profesional skill dalam menentukan besaran jasa. Rencana yang kami akan usulkan menyatakan faktor ini dapat diukur. 5. Kenyataan yang sekarang dihadapi adalah tidak adanya tarif baku untuk pelayanan kesehatan. 4. Bahkan faktor ‘stress’ pada dokter yang menurut ‘komisi’ yang dibentuk PB IDI untuk menciptakan sistim jasa medik sebelum UUPK diundangkan mengatakan faktor ini tidak dapat diukur. Besaran pemasukan jasa dokter dapat dipakai untuk mengukur remunerasi. 6. dan kelompok lulusan SMA akan mengatakan sedang/ biasa saja. sedang. baik ditingkat pusat maupun daerah. Biaya pertolongan kesehatan sudah lebih dari 50 tahun diberlakukan. Cara yang dianggap layak ini ternyata sangat subyektif sehingga sukar didapat tarif yang rasional. 4. Yang disebut dengan uang jasa dokter adalah jumlah uang yang dipungut dari orang sakit atau “provider” sebagai imbalan dari pelayanan yang diberikan oleh dokter. perawatan dan pengobatan. kelompok lulusan FIPA ( S1 ) akan menganggap soal sangat mudah. mereka akan membuat penilaian soal tersebut sukar sekali. pengobatan dokter maupun biaya rumah sakit. Survey yang telah menghabiskan banyak biaya tidak menghasilkan sesuatu yang dapat disepakati. Beberapa dokter spesialis tanpa alas an yang jelas meminta imbalan yang sangat tinggi.rambu yang kami perhatikan adalah : 1. Perundang-undangan dan peraturan pemerintah. Mencoba menentukan berapa pendapatan yang layak dokter di suatu daerah. lahir pada tahun yang paling disenangi. Jasa dokter tidak harus merupakan pendapatan dokter. Jasa dokter ditentukan oleh situasi hubungan dokter dan orang sakit. Secara sepihak ditentukan Departemen Kesehatan berlakunya INA DRG. Jelas disini tingkat pendidikan menentukan derajad kemudahan dalam menolong memecahkan masalah. Tarif harus dapat berlaku bagi semua jenis pelayanan kedokteran atau bagi segala macam dokter baik umum maupun spesialis. Pada dokter yang bekerja mandiri. 6. pasti biayanya tidak rasional. 5. sedangkan kelompok lulusan SMP megatakan sukar. Usaha yang dapat kami usulkan adalah membenahi/membakukan jasa dokter mencakup biaya pemeriksaan. 2. atau jasa pelayanan kepada sebagian besar warga Negara. 3. Tarif dapat berlaku proporsional diseluruh wilayah Indonesia. Uang jasa dokter dapat masuk ke kas penyelenggara pelayanan kesehatan sedangkan dokternya menerima gaji atau remunerasi dari Institusi penyelenggara pelayanan kesehatan. sehingga perbandingan dengan dokter umum dapat menjadi 1 berbanding 20.Rambu. 3. 2. Tarif yang disusun hanya untuk kelas III. Yang paling menonjol biaya persalinan anak laki-laki keluarga Tionghoa yang sebelumnya hanya mempunyai anak-anak perempuan. Pembakuan tarif dokter saat ini tidak dapat dicapai karena beberapa dasar pemikiran yang mendasari sistim jasa dokter yang baku sukar disepakati bersama. Hal-hal tersebut seperti : 1. perawatan. jasa dokter merupakan salah satu penghasilannya.

sistim ini telah dapat dilaksanakan di beberapa negara seperti USA dan Australia. c. Biaya perawatan penderita rawat inap. bedah plastik. tetapi banyak negara (baik Eropa maupun Amerika ) yang belum dapat menerapkan secara lengkap. Mengusahakan UUD 45 yang mengamanahkan agar seluruh warga negara dapat menikmati pelayanan kesehatan yang baik. Dokter mana ( spesialis-spesialis maupun dokter umum ) yang bertanggung jawab melakukan dan berapa biayanya.A. Clinical pathway. Hal ini untuk mengatur pelayanan tumpang tindih yang dapat mempengaruhi atau membuat biaya pertolongan untuk satu penyakit dapat berbeda-beda. untuk tindakan arteriografi karotis biaya termurah bila delakukan oleh Radiologist. Kesepakatan tiga pihak ini menentukan : 1. sedangkan bila oleh Neurosurgeon lebih mahal lagi. Perhimpunan Perusahaan Asuransi dan Perhimpunan Dokter ( baik umum maupun Spesialis ). terutama pelayanan yang tumpang tindih. . Memakai sistim Skor Dilakukan pada setiap jenis pertolongan kesehatan.terbaik dalam hal biaya. akan tetapi bila timbul penyulit urologik. Dalam pelayanan. Berapa jasa dokter untuk setiap pertolongan b. Mentaati UU no 29 tahun 2004 agar tercapai kendali mutu dan kendali biaya dalam melaksanakan praktek kedokteran. C. bahkan cukup banyak negara yang belum sanggup menerapkan. Ditentukan besaran jasa dokter untuk : a) Jenis /tingkat asuransi ( Compulsary/private) b) Kualifikasi dokter yang mengerjakan untuk setiap pertolongan kesehatan yang sama. . a. Suatu contoh : Hipospadia sebelum professional conduct dapat ditolong oleh spesialis Bedah anak. B. 3 . Oleh karena itu sebaiknya dipegang oleh Spesialis Bedah Urologi saja. bila dilakukan oleh Neurologist biaya mahal. Tantangan yang dihadapi oleh Masyarakat Indonesia : 1. Malaysia yang merupakan negara konsultan INA DRG sendiri belum sanggup melaksanakan . skornya kemudian dikalikan satuan uang yang disetujui di negara terkait. Semua baik. Untuk sistim ini diperlukan kesepakatan antar spesialis. Contoh di negeri Belanda . maka harus dikonsulkan ke Spesialis Bedah Urologi. Profesional conduct ini berdasarkan pemikiran kepentingan orang sakit harus diutamakan. 2. Sistim yang tertua adalah dibuat kesepakatan antara Perhimpunan Rumah Sakit. hanya ada satu untuk setiap jenis pelayanan kedokteran. WHO menganjurkan dalam menghitung biaya pertolongan seyogyanya memakai sistim yang mereka sebut Diagnosis Related Group ( DRG ). 2. a. ‘Clinical pathway’ baku setiap jenis pertolongan kesehatan. bedah urologi. dengan demikian orang sakit harus mendapatkan : . 3. Spesialis mana yang melaksanakan pelayanan. bahkan kadang-kadang oleh spesialis Bedah Umum. Hal ini disebut ‘ professional conduct’. b.terbaik dalam hal waktu.terbaik dalam kualitas.

Perencanaan ini hanya untuk penderita kelas III 2. 2.  Kepastian dalam pendanaan / pengelolaan keuangan RS Swasta maupun Institusi pelayanan kesehatan pemerintah 2.Bersifat Rasional dan Nasional .3. untuk mendapatkan biaya dalam bentuk rupiah. Satuan uang dikontrol oleh : 2.2. Undang-undang. 4.3. Untuk kelas lebih tinggi dari kelas III kesepakatan harganya belum ditentukan 3. Bukan untuk bedah plastik tetapi bedah rekonstruksi masuk dalam perhitungan. Kontrol Biaya pelayanan dalam bentuk skor. Kepastian biaya yang diperlukan dalam perencanaan menghitung biaya pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun perusahaan asuransi. Dengan memperhatikan konsideran diatas.1. TUJUAN DAN KONTROL DARI SISTIM : 1. 6. 3. Tujuan 1. Dapat dicari ‘ pembenaran’ bila terjadi kesenjangan besaran dibandingkan dengan tarif di Luar Negeri.Dapat diterima oleh Stake Holder. 4. maka diusahakan suatu sistim biaya Jasa Pertolongan medik ini yang bersifat : . dikalikan dengan stuan uang .  Kebutuhan penghitungan premi asuransi  Perencanaan pembiayaan oleh pemerintah sesuai dengan anjuran WHO . Laju Inflasi 2.2. Untuk spesialis penunjang dibuat modifikasi dari sistim ini. Tarif baku harus dapat diterapkan atau diterima untuk segala macam pelayanan kesehatan dan segala jenis dokter baik umum maupun spesialis. Suatu tarif baku yang bersifat rasional dan dapat dipakai secara nasional. Faktor Ekonomi dan pendapatan daerah. 4 .4. Peraturan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. KETENTUAN LAIN DALAM SISTIM INI : 1. antara lain  Memiliki daftar biaya yang seragam untuk orang sakit  Dapat mencegah kesalah-fahaman dengan stake holder. Menciptakan biaya jasa dokter untuk :  Melengkapi perencanaan pelayanan kesehatan di setiap Rumah Sakit. Memenuhi kebutuhan stakeholder.Memperhitungkan semua faktor yang mempengaruhi besaran Jasa Pertolongan Dokter . Persetujuan Perhimpunan Profesi. Peraturan Pemerintah Pusat.1. 1. 2. 5. Menciptakan suatu sistem yang dapat diterima oleh setiap dokter dan provider pelayanan kesehatan di Indonesia. sistim DRG 1.

1. 1.4. akan tetapi hak dokter tetap proporsional dan rasional karena skornya tetap untuk setiap penyakit. 2. Jasa Pelayanan Rehabilitasi CARA MENGHITUNG BIAYA : 1. semua faktor yang berperan dalam pelayanan ditentukan angkanya sesuai dengan pembebanan. Jasa Dokter non Bedah atau Psikiatri iii.2. Jasa Pelayanan dokter spesialis c.4. Harus ditentukan standar kompetensi dan standar pelayanan anestesi. Peraturan Pemerintah Pusat. Perhitungan yang rasional dan proporsional dapat menghasilkan hak dari dokter yang mempunyai kekuatan dalam bernegosiasi tentang hak dokter terkait dengan beban kerja pelayanan kesehatan.2. angka-angka dari setiap faktor yang berperan dijumlah menjadi total skor untuk pelayanan tersebut 1. Jasa Pemeriksaan Penunjang dan diagnostik d. Dokter Bedah ii. 2.5.1. Setiap pelayanan. Jasa pelayanan dokter umum b. 1.5. Sistim perhitungan yang diusulkan harus memperhatikan seluruh faktor yang mempengaruhi kinerja dokter dalam memberikan pelayanan: 1. 1. Jasa Medik yang direncanakan mencakup a. Laju Inflasi 2. Pada setiap pelayanan. Peraturan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Jasa dokter Psikiatri iv. Daya beli lokal 5 . Satuan uang yang dijadikan perkalian seluruh Indonesia berbeda. b. Setiap faktor yang mempengaruhi kinerja pelayanan diberi angka sesuai dengan tingkat beban kerja. Perhitungan biaya disesuaikan dengan standar kompetensi dan standar pelayanan yang telah ditentukan 6. Untuk spesialis Anestesi dapat menggunakan sistim ini untuk mengganti cara konvensional yang sekarang dipakai : a.3. Jasa pengobatan/tindakan i. Undang-undang. Dengan demikian dapat ditentukan biaya yang sebenarnya bukan perkiraan berapa layaknya penerimaan dokter didaerah tertentu hasil jejak pendapat yang tidak berdasar rasio.3. Total Skor dikalikan dengan satuan uang akan menjadi biaya yang merupakan hak dokter. 2. Satuan dapat berubah sesuai dengan : 2.

5.2. 6 . Persetujuan Perhimpunan Profesi.

4. Dokter spesialis sampai 6 sms d. EMG. Faktor kualifikasi pelayanan kedokteran ( F1) a. Harus dilakukan spesialis d. 4. Dokter spesialis 7-10 semester e.1) : a. Tingkat Pencapaian Kompetensi (F2. Harus dilakukan spesialis dengan pendidiksn khusus e. Pemeriksaan ulang baik berupa follow up yang berupa penilaian keadaan penderita dan pemeriksaan tambahan sebagai akibat perubahan keadaan penderita.2) : a.3. Non dokter b. Dokter spesialis >10 semester. sedangkan faktor kedua masih dirinci dengan subfaktor 1 dan 2. Bius umum dengan alat khusus atau monitoring 7 . 3.1. EEG atau alat yang senilai 4. Bius sederhana c.2. yang kedua adalah tingkat kesulitan lain yang dapat diukur. Dalam hal ini tingkat kesukaran dibagi dalam 2 subfaktor. Tenaga pelayanan kesehatan ini dibedakan sesuai dengan pendidikannya. Tanpa pembiusan b. Tingkat kesukaran (F2). Satuan uang pengali skor ditetapkan bersama dengan Perhimpunan Profesi dibedakan : 3.2.3. Harus dilakukan beberapa jenis spesialis secara kelompok 4. Faktor yang mempengaruhi kinerja yang dinilai dalam menentukan total skor terdiri atas empat factor.2.1. yaitu yang berkaitan dengan cara pembiusan. Dokter Umum c.2. Pemeriksaan pertama 3. Bisa dilakukan non-dokter b. Visite biasa tanpa evaluasi data-data baru 3.1. Kaitan dengan pembiusan (F2. yang pertama pelayanan dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan minimal kualifikasi ijazahnya apa. Dokter yang masih dalam masa pendidikan spesialis dihitung sebagai dokter umum .4. Bisa dilakukan dokter umum c. Bius umum d. Tindakan pembiusan tingkat pertama dapat dianalogikan dengan pemeriksaan memakai alat sebagai bagian dari kemajuan teknologi seperti pemeriksaan EKG.2. Tindakan yang dapat berupa :  Tindakan diagnostik  Tindakan pengobatan/rehabilitasi 4.

4.3.2. Tanggung Jawab (F3) Faktor ini dimasukkan untuk menghitung stree yang diderita oleh pemberi pelayanan kesehatan.3. Selanjutnya bertahap tergantung dari tanggung jawab yang ada. Dalam faktor Kesulitan dipertimbangkan ekstra skor terhadap adanya penyulit .4. Pelayanan Non tindakan a.5. Perlu pengawasan sederhana 4. stress pun meningkat.3. Undang-undang mengatur kerja terus-menerus tidak boleh melebihi 8 jam.3. Tak memerlukan pengawasan pasca pelayanan 4. tiap 30 menit waktu kerja diberikan angka (skor) 5 (b) Lama Tindakan lebih dari 4 jam. Dalam 24 jam pertama harus mengawasi dan waspada. 1 Konsutasi dokter umum / spesialis non psikiatri untuk setiap 30 menit diberikan skor 5.3.4.3. setiap 15 menit diberikan skor 5 4. Untuk waktu diperhatikan juga faktor kelelahan sehingga dibedakan antara tindakan kurang dari 4 jam dan antara 4 – 8 jam. Pelayanan Tindakan (a) LamaTindakan kurang dari 4 jam. dengan demikian disusun pengelompokan berdasar waktu sebagai berikut : 4. 8 . Perkalian dengan angka tertentu ( dua atau tiga ) dipergunakan pada faktor Kesulitan dan Tanggung Jawab ( Faktor 2 dan faktor 3 ). dalam hali ini diterapkan pada faktor Kualifikasi dan Waktu. Usai memberi pelayanan pasien dapat dilupakan berarti tidak ada stress.1.3. Untuk lebih dari 8 jam belum difikirkan. Konsultasi Psikhiatri setiap 15 menit.4.2. diberikan skor 5 PERTIMBANGAN SKOR Pertambahan skor dalam tiap faktor dapat berupa deret hitung . 4. 4.4.1. Waktu (F4) Lama pelayanan merupakan beban yang harus dipertimbangkan. Beberapa jenis operasi harus dilaksanakan lebih dari 8 jam. Masuk ICU dan penderita harus dipantau memakai alat baku ICU 4. Masuk ICU dengan respirator dan pengawasan/pantauan rumit (sophisticated ) 4. sebaliknya bila kita masih harus menunggu atau mengawasi sesudah memberi pelayanan berarti ada stressor. b.

Tabel Perhitungan Skor : F1 : KUALIFIKASI ( Deret Hitung ) Non dokter 5 Dokter Umum 10 Dokter spesialis sampai 6 sms 15 Dokter spesialis 7-10 semester 20 Dokter spesialis >10 semestr 25 F2 : TINGKAT KESULITAN ( Perkalian angka 3 dan 2 ). EMG.1 yaitu : Tingkat Penyulit Skor Penyulit Ringan F 2.1 x 50 % 9 . dibagi 2 sub faktor F2.1 x 10 % Penyulit Sedang F 2.2. pemberian untuk kelompok ini mengacu pada skor pada kelompok tingkat kesulitan F2.1.: Pelayanan Memerlukan bantuan Tanpa pembiusan 5 Bius sederhana ( lokal / blok ).Dalam menentukan total skor kita mngacu pada tabel perhitungan skor sebagai berikut.1 x 25 % Penyulit Berat F 2. analoginya pemeriksaan 15 memakai alat canggih ( USG. : Pencapaian Kompetensi Bisa dilakukan non-dokter (contoh partus normal) 5 Bisa dilakukan dokter umum ( contoh operasi usus 15 buntu ) Dilakukan oleh dokter spesialis 45 Dilakukan spesialis dengan pendidikan khusus 90 Dilakukan beberapa jenis spesialis berkelompok 180 F2. EEG dsb) Bius umum 45 Bius umum dengan disertai monitoring alat khusus 90 Dalam faktor tingkat kesulitan dipertimbangkan adanya penyulit yang timbul dalam pelayanan.

Pelayanan Pathologi Anatomi .Pelayanan Radiologi . score diberikan setiap 30 menit 5 LT lebih dari 4 jam. tiap 30 menit 5 Konsultasi Psikhiatri dihitung setiap 15 menit 5 Setiap pelayanan dihitung skor dari tiap faktor.Pelayanan Anestesi Untuk Spesialis Psikiatri dikenal satu jenis pelayanan diberikan kepada lebih dari 1 pasien. kemudian dijumlahkan maka didapat total skor untuk pelayanan tersebut. score diberikan setiap 15 menit 5 Non tindakan / Konsultasi Konsutasi dokter umum / spesialis non psikiatri. Modifikasi dari sistim ini harus dibuat untuk pelayanan kesehatan yang sifatnya penunjang diagnostik meupun penunjang tindakan seperti : . F3 : Tanggung Jawab ( Perkalian angka 3 dan 2 ) Tak perlu pengawasan pasca tindakan 5 Perlu pengawasan sederhana 15 Pengawasan segera setelah operasi 45 Pemantauan ICU dengan pemantauan alat baku 90 Masuk ICU dengan respirator dan pemantauan khusus 180 F4 : Waktu Pelayanan Tindakan LT kurang dari 4 jam. Untuk ini diciptakan suatu faktor tambahan sebagai pengganti tingkat kesulitan F 2. diusulkan pemberian skor sbb : Pelayanan 1 – 4 orang pasien 5 Pelayanan s/d 10 orang pasien 10 Pelayanan sd 20 orang pasien 20 Pelayanan > 20 orang pasien 40 10 .Pelayanan Pathologi klinik .2.

Rehabilitasi Medik 12. Obstetri dan Ginekologi 6. Patologi Anatomi 4. Penyakit Saraf 10.Untuk pemeriksaan-pemeriksaan rutin yang tidak dikerjakan dokter dan dokter hanya membuat ekspertise. Pemeriksaan rutin 2. Dalam Uji coba sistim ini diminta kepada perhimpunan untuk membuat perhitungan terhadap 10 besar pelayanan yang paling mendatangkan uang atau paling populer. Kesehatan anak 4.Segala Tindakan. Pulmonologi 3. Radioterapi Yang sudah mencoba tetapi belum memberi masukan final adalah : 1. THT 5. Kulit dan Kelamin 11. dapat diusulkan biaya dokter dapat dihitung dari prosentase total biaya atau prosentase dari harga jual. Pemeriksaan ulangan yang bersifat verifikatif 3. Bedah Onkologi 11 . Kardiologi 2. Hasil pemeriksaan menjadi penentu nasib penderita.Dapat dimungkinkan adanya perbedaan skor untuk pelayanan yang berbeda seperti : 1. Bedah Saraf 9. Kedokteran Okupasi 7. Patologi Klinik 5. Anestesi Dokter Spesialis : 6. Psikiatri 13. Radiodiagnostik 3. . Contoh adalah pemeriksaan foto thorax yang ditentukan oleh PDSRI .Dibedakan antara pemeriksaan yang memerlukan tanggung jawab atau sangat berarti dalam menentukan prognosa penderita Untuk Patologi anatomi dan Patologi Klinik : .Biaya pembiusan harus disesuaikan dengan standar pelayanan dan standar kompetensi anestesi. Bedah Umum 7. Bedah Urologi 8. Perhimpunan yang sudah menguji sistim ini adalah : 1.Untuk Spesialis Penunjang berlaku ketentuan : . perhitungan biaya dokter yang mengerjakan dapat dihitung sesuai dengan sistim diatas. Pemeriksaan yang memerlukan beberapa pendapat dokter ahli atau pewarnaan ulang 4. Bedah Ortopedi 8.Biaya pelayanan harus mendapat kendali dari perhimpunan . . Dokter Umum Dokter Spesialis Penunjang 2.

1.3 F.1 F2. BEDAH SARAF Jenis Tindakan F.1 F2.2 F.4 Jumlah Score Craniotomy > 4 jam 25 180 90 180 120 595 Craniotomy < 4 jam 25 45 90 180 20 360 Craniotomy Microsurgery 25 180 90 90 120 505 Transphenoidal Surgery 25 90 90 90 40 335 VP Shunt 25 45 45 45 20 180 Cloward 25 90 90 90 40 335 Trepanasi Cerebellar 25 180 90 180 120 595 Trepanasi Cerebeller 100 % + VP Shunt 50 % Trepanasi +VP Shunt ( 595 + 90 ) 685 Laminectomy 25 45 90 90 20 270 Koreksi Impresi Fracture 25 45 45 45 20 180 Konsultasi Pra/Pasca Bedah 25 45 0 0 5 75 12 .

1 F2.3 F. BEDAH Jenis Tindakan F.2 F. 2.1 F2.4 Jumlah Score Thyroidectomi Total 20 45 45 90 80 280 Reseksi Mandibula 20 45 45 90 40 240 Batu Empedu per laparoscopy 20 90 45 15 20 190 Mastectomy Radical 20 90 45 15 20 190 Vesicolithiasis ( Sectio Alta ) 20 45 45 15 10 135 Operasi Prostat Terbuka 20 45 45 15 20 145 Hernia Inguinalis + Reseksi Usus 20 45 45 45 20 175 Fibroadenoma Mammae 20 15 45 5 10 95 Hemiolectomy ( Ca Colon ) 20 45 45 45 40 195 Apendiktomi 20 15 45 5 5 90 Fraktur Kruris Terbuka 20 15 45 5 10 95 CONTOH MENGHITUNG SKOR PADA BEBERAPA SPESIALIS 13 .

1 F2.2 F. 3.1 F2. ANESTESI IP Craniotomi with MCC 20 90 90 90 120 410 IP Carpal Tunnel release with 20 45 45 45 40 195 MCC IP Cleft Patate & palate repair 20 45 45 45 40 185 IP Tonsil and adenoid procedure 20 45 45 45 30 185 IP Complex respiratory 20 45 45 90 30 240 procedure IP Hearth &/0r Lung Procedure 20 90 90 90 40 370 IP Coronary bypass with cardiac 20 45 90 90 30 325 catheterization IP Appendiceal procedure 20 45 45 15 20 145 IP Major lower extremity joint 20 45 45 15 60 185 and limb reattachement procedure IP breast procedure 20 45 45 15 30 155 IP kidney transpantation 20 45 90 90 30 325 AP cesarian delivery 15 45 45 45 30 100 5. . 5 70 Konsultasi dg pemeriksaan 20 15 5 5 5 laboratorium 50 Peeling kimia spfs 20 15 5 5 5 50 Peeling kimia med. PENYAKIT SYARAF Jenis Tindakan F1 F2. 20 45 5 5 5 80 Peeling kimia medium/dalam 20 90 45 15 10 180 Laser CO2 20 45 15 15 5 100 Laser NdYag 20 45 15 15 5 100 Fototerapi 20 45 5 5 5 80 Bedah Listrik 20 15 5 5 5 50 Bedah Beku 20 15 5 5 5 50 Bedah Skalpel Ringan 20 15 15 5 5 60 Bedah Skalpel Sdg/brt 20 45 15 15 15 110 4. KULIT DAN KELAMIN Jenis Tindakan F.1 F2.2 F3 F4 Jumlah Score EEG 20 45 5 5 5 80 EMG 20 45 5 5 5 80 Lumbal Punksi 20 15 15 5 5 60 Fungsi Luhur Diagnostik 20 90 5 5 20 140 Fungsi Luhur Therapi 20 15 5 5 10 55 14 .3 F. 1.4 Jumlah Score Konsultasi 20 45 .

4 Jumlah Score Konsultasi 20 45 0 0 10 75 Assessment Feeding 20 45 15 0 10 90 Assessment Komunikasi 20 45 5 0 10 80 Assessment Disphagia 20 180 15 15 10 240 Assessment Maxillo Facial 180 15 15 10 Problem 20 240 Asessment Kontrol Motorik 20 15 5 5 10 55 Assessment alat bantu ADL 20 15 5 5 10 55 Assessment Spinal Cord Injury 20 90 45 5 10 170 Clinical Exercise Testing 20 45 45 5 10 125 Funct.000. 2.- CATATAN : 15 . 2.- Angiografi diagnostik 25 90 15 45 20 205 Rp.3 F. REHABILITASI MEDIK Jenis Tindakan F.2 F.1 F2.- Angiografi terapi 25 90 15 45 40 225 Rp.1.1 F2.1 F2.000. Exec Testing 20 15 5 5 10 55 Assessment Masalah kaki 20 90 5 5 10 130 Pressure Biofeedback 20 90 5 5 10 130 EMG Biofeedback 20 90 5 5 10 130 Laser 20 15 5 5 5 50 Casting 20 15 5 5 10 55 Vital Stimulation 20 45 5 5 10 85 7.2 F.4 Score Foto Thorax 5 15 0 0 5 25 Rp.- MRI dengan kontras 25 15 5 45 40 110 Rp.TCD 20 90 5 5 5 125 Neuro-opthalmologi 20 45 5 5 5 80 Visite ICU 20 45 5 45 5 120 Visite Ruangan/Ward 50 % dari Konsultasi 35 Stroke 20 45 45 45 5 160 Konsultasi Spesialis 20 45 0 0 5 70 6.000.000.- OMD/Colon In Loop 25 45 5 15 20 110 Rp. 3. 15. 2. 10. 1.000.1 F2.000.- Mammografi 5 15 5 5 5 35 BNO-IVP 25 45 5 45 10 125 Rp.500.- Abdomen 3 posisi 5 15 5 5 5 35 Rp.3 F. PDSRI (RADIODIAGNOSTIK ) Jumla Satuan h Uang Jenis Tindakan F.- ERCP 25 180 15 45 40 305 USG Abdomen 20 45 5 5 10 85 CT Scan dengan kontras 25 15 5 45 20 110 Rp.500.

000 Tindakan Definitif Radiasi 3D Conformal Simulator 2 60 5.000 Gammagrafi Tindakan 30 25 2.000 1.000 awal Konsultasi 7 130 2.000 250.000 260.000 450. Satuan Uang yang dipergunakan untuk perkalian terhadap skor PDSRI membuat macam- macam diantaranya angka 1.3 F.000 1.5000.4 Score Psychoanalytic psychotherapy 20 45 5 5 20 95 1 jam Psychotherapy (CBT. Untuk pemeriksaan x foto thorax atau pemeriksaan dengan beban pada dokter spesialis stingkat.000.820.000 300. 1.000 50.000 900. RADIOLOGI TERAPI Contoh 1 paket Pelayanan Radioterapi terhadap 1 pasien dengan penyakit tertentu Tindakan Intensi Komponen Jumlah Total Skor Rp/Skor Total Rp-Skor Total Akhir Tindakan Pelayanan Persiapan Konsultasi 1 130 2.2 F.1 F2. 2.000. dapat dipakai perhitungan prosentase yaitu antara 30 – 35 % dari harga jual (contoh foto thorax ).000 260. 2. PSIKIATRI Jumla Keterangan h Jenis Tindakan F.000.000 8. dan 15.500. 3.000 500.000 Penyinaran JUMLAH 5. 2. misalnya jakarta: 16 .1 F2.000 Lanjutan Persiapan Kuratif 2 90 5.5000.000.000 Teknik Kompleks EPID / 2 50 5.000 600.000 260. 1.000 Cara sederhana menentukan satuan uang di suatu daerah. Dinamik) 20 45 5 5 20 95 1 jam Medical Hypnotherapy 20 90 5 5 20 140 1 jam Marital & Sex Therapy 20 90 10 5 20 145 1 jam Family Therapy 20 90 20 5 20 155 1 jam Withdrawal treatment (adiksi) 20 90 20 15 20 165 1 jam Geriatric psychiatry 20 90 5 5 20 140 1 jam Child Psychiatry 25 90 5 5 20 145 1 jam Forensic psychiatry 20 90 5 5 60 180 3 x 1 jam ECT 20 90 15 15 15 110 45 menit CLP 20 45 Baca 5 Dipakai Psikiatri komunitas 45 keterangan 5 tabel Pesien 20 lebih dari 1 9.580. 10.

000.( hampir Rp. 8 juta.. ternyata tarif kelas III RS..dibagi 90 hasilnya Rp. Hasil diskusi dengan kelompok spesialis di Jakarta didapatkan satuan uang untuk Jakarta : .Praktek Rp.900..- Diharapkan masing-masing daerah menentukan sendiri satuan uang dengan kontrol5 kebijakan yang telah disebutkan yaitu : .000. 11.210. 12 juta ).000..per pasien. Peraturan Pemerintah pusat . shingga bila praktek dokter spesialis skornya 75 maka satuan uangnya menjadi Rp. maka satuan uangnya menjadi Rp. 5.000.000. Laju Inflasi . dengan alasan Pancasila. Sumpah mengutamakan kepentingan orang sakit . Dengan demikian praktek dokter umum dengan skor 30 menjadi Rp.Tindakan diagnostik Rp. b. .000.000.Menjawab tantangan saat ini .000.Diperlukan komitmen setiap perhimpunan dokter demi : a. 1.-.- Kraniotomi 8 jam yang mempunyai skor 595 viayanya menjadi Rp.- . 60.Praktek spesialis di Jakarta rata-rata Rp.20. Karena Apendiktomi mempunyai skor 90.000. Untuk tindakan Bedah diambil rata-rata biaya apendiktomi di Jakarta.800..2.-. UUD 45 dimana setiap warga negara berhak menikmati pelayanan kesehatan (biaya pasti dan terjangkau) c. 150. 2000. Swasta di Jakarta rata-rata Rp. Peraturan Pemerintah Daerah .-. Daya Beli Daerah .-.10. 5. Peraturan dari perhimpunan menurunkan biaya ini menjadi 2/3 hak sebenarnya menjadi Rp.1.- . Untuk spesialis psikiatri dengan skor 105 menjadi Rp.000.Tindakan Bedah : Rp. 2.000.- x 105 = Rp. proporsional dan Nasional.s/d Rp.s/d Rp. Hak dokter terpenuhi ====000==== 17 .000.800.000. Perhimpunan Profesi KESIMPULAN Setelah dilakukan uji coba dan diskusi dengan berbagai Perhimpunan profesi dapat disimpulkan : Sistim ini dapat dipergunakan untuk menghitung biaya dokter rasional.Tindakan Pengobatan non bedah : Rp.- .000.2.20.