BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Pengartian Kopling

kopliang adalah alat penyambung antar dua poros yaitu poros penggerak dengan poros

yang digerakkan dan berfungsi sebagai penerus putaran dan daya.

I.2. Macam-Macam Kopling

Berdasarkan konstruksi dan cara kerjanya kopling dapat dibagi atas :

1. kopling tetap (Permanent Coupling)

2. kopling tidak tetap (Non Permanen Coupling)

I.2.1. Kopling Tetap

Kopling tetap adalah sebuah elemen mesin yang berfungi sebagai penerus putaran dan

daya dari poros keporos penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa terjadi slip)

kopling ini tidak dapat dilepaskan, kopling ini dalam keadaan bersambung, dan kopling ini

hanya dapat diputuskan dan dihubungkan apabila poros penggeraknya dihentikan. Kopling tetap

dibagi atas :

A. Kopling Kaku

Kopling kaku digunakan apabila kedua poros harus dihubungkan dengan sumbu yang

segaris. Kopling ini bisa dipakai pada poros mesin dan transmisi umum dipabrik-pabrik.

Salah satu contoh kopling kaku :

1.Kopling Bus

Pada kopling ini poros penggerak dengan poros yang digerakkan diikat oleh tabung pengikat

dan poros penggerak tidak terjadi gesekan berputar dengan baik tanpa ada kejutan.

Gambar 1.1 Kopling Bus

B. Kopling Flens Kaku

Kopling flens kaku ini prinsipnya sama dengan kopling bus, dimana proses

yang satu masuk kerumah penggerak, gunanya sewaktu kopling ini berputar dengan

serentak dan baut pengikat-pengikatnya tidak begitu besar menerima beban geser.

Gambar 1.2 Kopling Flens Kaku

C. Kopling Flens Tempa

Kopling ini prinsipnya sama dengan kopling flens kaku hanya saja antar poros

dengan tempa pengikatnya ditempelkan menjadi satu.

Gambar 1.3 Kopling Flens Tempa.

D. Kopling Luwes

Kopling luwes dapat dibedakan atas :

1. Kopling Flens Luwes

Kopling ini mempunyai bentuk rumah yang sama dengan kopling, tetapi dengan

ada penonjolan pemasangan poros tidak dapat dipasang bus karet atau kulit sebagai

penghubung antara baut dengan dinding flens yang lain. Disamping ini bus karet atau

kulit ini dapat mengurangi kejutan.

Gambar 1.4 Kopling Flens Luwes

2. Kopling Karet Ban.

Kopling ini hampir sama prinsipnya dengan kopling flens luwes yang juga

mempunyai atau tumbukan kopling karet ban dan dapat juga bekerja dengan baik

meskipun kedua sumbu poros tidak benar-benar segaris.

Gambar 1.5 Kopling Karet Ban

3. Kopling Gigi

Pada kopling ini dipakai gigi untuk mengurangi gesekan yang terjadi pada saat

bekerja antara masing-masing diikat dengan satu rumah pengikat poros dilengkapi

dengan roda gigi kemudian diikat menjadi satu.

Gambar 1.6 Kopling Gigi.

4. Kopling Universal

Kopling ini dipasang secara menyilang untuk menghubungkan masing-masing

poros. Kopling ini mempunyai kecepatan yang tetap

Kopling ini ada 2 jenis antaranya :

 Kopling universal hook

 Kopling universal kecepatan tetap

Gambar 1.7 Kopling Universal Hook

I.2.2. Kopling Tidak Tetap

Kopling tidak tetap merupakan bentuk sambungan yang menghubungkan poros

penggerak dengan poros yang digerakkan dengan putaran yang sama dalam meneruskan daya.

Serta dapat memutuskan hubungan kedua poros tersebut baik pada saat berputar maupun pada

saat diam.

Kopling tidak tetap dibedakan atas beberapa macam :

A. Kopling Cakar

Kopling cakar ini merupakan kopling yang meneruskan momen dengan

perantara gesekan sehingga tidak terjadi slip.

Ada dua bentuk kopling cakar antara lain :

1. Kopling Cakar Persegi

Dimana jenis kopling ini dapat meneruskan momenb dalam dua arah

putaran tetapi tidak dihubungkan dalam keadaan berputar.

Gambar 1.8 Kopling Cakar Persegi

2. Kopling cakar Spiral

Kopling ini hanya dapat bekerja meneruskan momen dengan baik pada

suatu putaran tertentu saja dan dapat dihubungkan dalam keadaan berputar.

10 Kopling Plat . Kopling Plat banyak Gambar 1. B. Kopling Plat Kopling ini berfungsi meneruskan momen denghan perantara gesekan. Gambar 1. Selain itu karena dapat terjadi slip maka kopling berfungsi sebagai pembatas moment ● Menurut jumlahnya kopling ini dapat dibedakan atas . 1. dengan demikian pembebanan yang berlebihan pada poros penggerak pada waktu dihubungkan dapat dihindari.9 Kopling Cakar Spiral. Kopling Plat tunggal 2.

Apabila kopling terinjk anak penekannya akan dipindahkan kekanan maka plat kopling akan lepas dari roda penerus. Hanya karena bidang platnya lebih besar maka momen putaran yang dipindahkan lebih besar pula. Gambar 1.11 Kopling Plat Tunggal 2. Kopling Plat Banyak/Kopling Ganda. Didalam sikap ini kopling terhubung supaya kopling dapat terlepas anak penekannya diberi pada yang berputar. Anak penekan menjepit plat kopling diantara roda gigi penerus dan anak penekan. Sekumpulan piring-piringnya berputar pada sumbu pertama.1. Jika pedal ini dilepas pegas diantara anak penekan dan roda penerus dengan sumbu yang pertama berputar bersama roda penerus. Cara kerja sama dengan kopling plat tunggal. Kopling Plat Tunggal Pada kopling ini platnya sering sekali disebut piring priksi peranan gesekan disatukan pada kopling tersebut. Beda dengan kopling plat tunggal karena pada kopling ini mempunyai banyak plat kopling. .

tetapi daya tidak seragam. Kopling kerucut Kopling kerucut adalah suatu kopling gesek dengan konstruksi sederhanan dan banyak keuntungan dimana dengan daya aksial yang kecil dapat ditransmisikan momen yang besar.12 Kopling Plat ganda C. Gambar 1. Gambar 1. Menurut pelayanannya pada kopling plat dapat dibagi atas :  Cara manual  Cara Hidraulik  Cara magnetic Kopling tersebut kering bila plat-plat gesek bekerja dalam keadaan kering (tanpa pelumas) dan tersebut basah apabila terendam atau dilumasi minyak.13 Kopling Kerucut .

14 Kopling Friwil Pemilihan Kopling Kopling yang dipakai dalam rancangan ini adalah kopling plat tunggal. maka gerakan yang timbul akan menyebabkan rol/bola terjepi diantara poros penggerak dan anak luar sehingga anak luar bersama poros digerakkan akan berputar meneruskan gaya jika poros penggerak berputar berlawanan arah. Kopling Friwel. Kopling ini hanya diteruskan moment dalam suatu arah putaran saja. Sehingga putaran berlawanan arahnya tidak dapat diteruiskan berputar lebih lambat dalam arah berlawannan dari poros yang digerakkan. Gambar 1. .D. Karena anak penekan menjepit plat kopling diantara roda gigi penerus dan anak penekan didalam sikap ini kopling dapat terhubung.Jika poros yang digerakkan bekerja lebih cepat dari poros penggerak maka bola/rol akan lepas dari jepitannya. Cara kerja berdasarekan efek biji dari bola atau rol bola dipasang dalam ruangan yang bentuknya sedemikian rupa sehingga jika poros penggerak berputar searah jarum jam.

maka perlu diperhatikan sebaik mungkin.1 Macam-macam poros 1.roda gigi rantai dan lain-lain.1.harus diperhatikan jenis bahan yang harus digunakan biasanya bahan poros terbuat dari baja batang yang mempunyai sifat-sifat berikut : * Tahan terhadap momen puntir * Mempunyai elastissitas yang baik * Tidak mudah patah 2. 3. Poros Poros merupakan salah satu yang terpenting dalam merancang kopling. .daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling. Poros transmisi Poros transmisi ini mendapat beban puntir atau lentur. 2.Hampir semua kopling sebagai penerus daya dan putaran. Poros sebagai komponen pemindah daya dan putaran. BAB II POROS p D Gambar 2. Spidel Poros transmisi ini relative pendek dimana baban utama berupa puntiran pada poros ini dideformasinya harus kecil dan ukurannya harus teliti. Gender Poros seperti ini banyak dipasang antara roda-roda kereta agar boleh dapat berputar.peranan seperti ini dipegang oleh poros.

7457 = 93.2 daya maksimum Dengan demikian : Pd = 1.43 kw = 112.2 Perhitungan poros Pada rancangan ini proses pemindah daya (p) sebesar 87 Ps dan putaran sebesar 5700 rpm maka harus dikalikan dengan 0. Tabel 2.11 kw Momen puntir yang terjadi : 111.855 kw Pd T = 9.2 x 93.0 Daya maksimum yang diperlukan 0.8 – 1.(Sularso 1987.74 x 105 n 10∫ …………………………….0 – 1.2.7) Faktor koreksi yang diabil 1.7457 kw P = 125 x 0.43 kw Untuk mengatasi beban kejut atau beban lebih maka diperlukan factor koreksi Pd = Fc x P (kw) ………………………………………(Sularso 1987.735 untuk mendapatkan daya (Kw) Daya : 125 Hp Putaran : 8700 Rpm Mengingat pada saat start meneruskan daya lebih (over load) maka perlu diperhitungkan faktor koreksi yang ditransmisikan.2 – 2.2 Daya normal 1.1 factor koreksi Daya yang ditransmisikan fc Daya rata-rata yang diperlukan 1.7) Dimana : Pd = Daya (kw) n = Putaran (Rpm) .5 Dimana : 1 hp = 0.

dibubut atau gabungan antara hal-hal tersebut Bahan poros diambil dari baja kabon untuk kontruksi mesin (S-C) baja yang difinis dingin dalamhal ini diambil bahan poros S55C-D dengan kekuatan tarik τb 72 kg/mm2 Dengan factor keamanan Sf1 x Sf2 .11 T = 9. Pemilihan bahan poros Ada 9 baja karbon untuk kontruksi mesis dan baja baja yang difinis dingin untuk poros Tabel 2.0 Sf2 = Faktor yang mempengaruhi kontruksi tegangan dan kakasaran permukaan .mm 2. τb τa = Sf 1xSf 2 (mm)……………………………………(Sularso 1987.2 Bahan Poros.01288 = 12545 .12 kg.74 x 105 x 8700 5 = 9. Standart Lambang Perlakuan Kekuatan Ketarangan dan macam panas tarik S30C Penomalan 48 S35C 52 Baja karbon S40C 55 Kontruksi S45C 58 Mesin(715 G S50C 62 4501) S55C 66 Batang baja S35C-D 53 Ditarik Yang difinis S45C-D 60 dingin.a.74 x 10 x 0. 112.8) Dimana : Sf1 = Untuk bahan S-C dengan pengaruh massa dan baja paduan 6.2.digerinda dingin S55C-D 72 .

12 = 3 ( 33 ) τ g = 1.0 2 = 6 kg/mm 2. 780 kg/mm 2 . 12kg .3-3.1 x T τ g= ds 3 5.1 x 12545 .1 τa xKtxCbxT ] 1 3 …………………………(Sularso. (1.6 x12545.0) diambil 2.2.1 6kg/mm 2 x 2.0 (direncanakan 2.0 τa = Tegangan geser yang diizinkan kg/mm 2 τb = Tegangan tarik izin poros 72 kg/mm 2 Maka : τb τa= Sf 1 x Sf 2 72 kg/mm 2 = 6.2 sampai dengan 2.mm ] 3 = 33 mm Menghitung tegangan geser (τg) digunakan rumus : 5. harganya 1.b Diameter poros Diameter poros dapat dihitungdengan rumus : ds = [ 5.3 (direncanakan 1.1987:8) Dimana : ds : Diameter poros Kt : Faktor bila terjadi kejutan dan tumbukan besar atau kasar 1.5 sampai dengan 3.1) Cb : Faktor keamanan terhadap beban lentur.0 x 2.1 x 1.6) Maka diameter poros dapat dihitung : 1 ds = [ 5.

4 40 100 * 224 400 24 (105) 240 11 25 42 110 250 420 260 440 4. 2. Pemeriksaan kekuatan Pada pemeriksaan kekuatan.780 kg/mm Berarti diketahui bahwa τa > τg dengan demikian bahwa kontruksi cukup untuk digunakan.2.6 14 * 35.1 71 75 8 80 85 9 90 95 Keterangan : 1. Tanda * menyatakan bahwa bilangan yang bersangkutan dipilih dari bilangan standart.5 48 * 315 480 5 * 12.c.2 28 45 * 112 280 450 12 30 120 300 460 * 31.5 * 11.5 56 140 * 355 560 (15) 150 360 6 16 38 60 160 380 600 (17) 170 6. .5 32 50 125 320 500 130 340 530 35 55 5. dimana tegangan puntir (τg) yang timbul harus lebih kecil dari tegangan geser yang diizinkan τa > τg dimana : τa = 6 kg/mm τg = 1.3 18 63 180 630 19 190 20 200 22 65 220 7 70 * 7. 2. Tabel 2. Bilanagan didalam kurung hanya dipakai untukbagian dimana akan dipasang bantalan gelinding.3 Diameter Poros (Satuan mm) 4 10 * 22.

156 x ds = 0.8 x ds = 1.a.1.156 x 33 = 5.095 x ds = 0.8 x 33 = 59.untuk perencanaan ini clearenya dianggap nol.Besar dan jumlah alur pada splain dan naaf adalah sama serta saling terikat satu sama lain. Gambar 3.Perhitungan Splain Splain berfungsi meneruskan daya tarik poros yang digerakkan dengan putaran naaf. BAB III SPLAIN DAN NAAF 3. Splain mempunyai alur yang berbeda pada poros.095 x 33 = 3. Data perencanaan untuk splain terdiri dari 10 buah alur diperoleh : ● Panjang splain (I) = 1.4 ● Tinggi splain (h) = 0.148 ● Diameter poros (ds) = 33 Karena diameter minimum = diameter poros.sedangkan naaf mempunyai alur alur dalam yang terdapat pada kedudukan plat gesek.1. Pemeriksaan terhadap splain dan naaf Jumlah alur splain dan naaf (direncanakan 10 buah) tujuannya agar getaran yang terjadi pada splain dan naaf relatif halus.1 Splain dan Naaf 3. maka diameter splainnya adalah : Ds = 2 x h + ds (mm) .135 ● Lebar (w) = 0.

b.06 mm = 863.mm 15603.48 kg. Pemeriksaan terhadap tegangan geser Fs τ g= bxl Dimana : b = w = lebar splain = 5.27 mm a.14 l = panjang = 59. 27 + 33 = mm 4 = 18 .1.40 kg 3.135) + 33 mm = 39. Jari-jari rata-rata antara poros dan naaf (rm) Ds + ds rm = mm 4 39 .06 mm Pemeriksaan kekuatan terhadap splain dan naaf. = 2 x (3.mm Fs = 18.98 F1 = 10 = 86.b.48 kg. Gaya yang bekerja pada splain (Fs) Mtd (kg ) Fs = rm Dimana : Mtd momen torsi rencana = 15603.4 .98kg c. Gaya yang diterima tiap-tiap splain (F1) Fs F1 = n dimana (n) jumlah splain adalah 10 buah 863 .direncanakan bahan naaf diambil sama dengan bahan splain dan akibat adanya gaya yang ditransmisikan oleh plat gesek keporos kopling melalui splain akibat mengalami gaya.

06 )2 32 = 32 kg /mm 2 Maka : Ml τl= Wl 1560 . 14 x 59 . Pemeriksaan terhadap tegangan lengkung (τl) Ml τl= ( kg /mm 2 ) Wl Dimana : Ml = Momen lengkung Ml = Fl x rm = 86 . Fs τ g= bxl 863 . 38 kg/mm = 32 kg/mm τ l = 40. 98 = 5. 76 kg/mm Tegangan lengkung izin . 38 kg/mm Wl = Momen perlawanan lengkung π Wl = x ( rm )2 32 3.c.8 x 50 kg /mm 2 = 40 kg/mm2 Diketahui bahwa τ harus lebih besar dari (τg) dimana 40 kg/mm2 > 5. 3.06 2 = 1560 .1.77 kg/mm2 maka kontruksi kopling dinyatakan aman dari tegangan geser yang terjadi.83 Maka : mm 2 Tegangan geser izin (τg) τ g = 0.8 x δ t = 0. 4 kg = 2 . 14 = x ( 18 . 40 x 18 .

512 dinyatakan kopling aman dari tegangan lengkung yang berlebihan.27 )3 L= ( 33 )3 = 1.0 Sf 2 = 2.2 Perhitungan Naaf Dengan merencanakan splain masuk kedalam naaf. Gambar 3. 68 mm Untuk naaf dihitung kekuatannya terhadap tegangan tumbuk dan tegangan geser pada perencanaan ini bahan naaf diambil sama dengan bahan splain S 35 C dimana : τ b = 52 kg/mm Sf 1 = 6.13 mm ● Tinggi splain (t) = lebar naaf (w) = 5.0 . jadi panjang naaf (L) jadi panjang Naaf ( CL ) ( Ds )3 L= ( ds )3 Dimana : Ds = Diameter splain Ds = Diameter poros Maka : ( 39.2 Naaf 3. maka berlaku : ● Diameter maximal splain (Ds) = tinggi naaf (h) = 3. 2 τ i = δ t = 50 kg/mm Dimana diketahui τ > τi dari hasil yang direncanakan 50 > 5.06 mm Tetapi untuk panjang splain tidak sama panjang naaf (L).14 mm ● Jari-jari rata-rata splain (rm) = 18.

Dari kesamaan bahan splain dan naaf dapat disimpulkan bahwa tegangan tarik izin (τt) pada naaf sama dengan tegangan tarik izin pada splain yaitu : 50 kg/mm2. 2.1 Langkah kerja plat gesek Ada 4 tingkat mekanisme kerja yang dilakukan plat gesek adalah : 1. Permukaan kerja dari kopling didorong dan ditekan plat gesek.juga berfungsi untuk memindahkan daya dari poros penggerak kopling melalui fly wheel dalam bentuk gesekan. Gambar 4. . BAB IV PLAT GESEK Plat gesek adalah suatu elemen yang ter dapat pada kopling berfungsi untuk meneruskan daya dan putaran poros penggerak dengan poros yang digerakkan.maka poros yang digerakkan dipercepat sampai pada putararan poros yang menggerakkan.1 Plat Gesek 4. Kopling ini dipergunakan selama putaran input dan putaran output berputar pada putaran yang sama.

03 4.0.10 – 0.0. 3. 4. D22 x 0.20 0.52 ) .3 Perhitungan ukuran plat gesek π F= x ( D22 − D21 ) x Pa 4 π F = x ( D21 x D22 ) x Pa 4 Nilai untuk D1 / D2 > 0.1 Plat gesek Bahan permukaan μ Pa kontak Kering Dilumasi Besi cor 0. maka poros yang digerakkan putarannya menurun dan kemudian akan berhenti. 011775 D22 kg/mm Jari-jari rata-rata .09 – 0. Pada keadaan tidak bekerja.08 – 0.02 – 0.10 – 0.05 – 0.10 – 0.5 Dimana : F = Gaya tekan Pa = Tekan rata-rata pada bidang gesek dengan nilai 0.12 0.35 0. 0.007 . Kopling tidak berfungsi bila permukaan kerja digerakkan.20 0.07 Besi cor dan serat 0.diantara dua permukaan kerja dipisahkan oleh sebuah jarak dimana poros yang digerakan berhenti walaupun poros berputar.10 0.03 dipilih 0. 02 kg/mm 4 π = x ( 1 − 0.5 tidak boleh kecil dari 0.02 – 0.02 kg/mm 4 Maka : = 0.03 Besi cor dan kayu .05 – 0.65 .005 .35 – 0.08 Besi cor dan asbes 0.02 kg/mm2 π F= x (1 − D21 ) .10 – 0.17 Besi cor dan perunggu 0.05 – 0.15 0.20 0. Bahan plat gesek Tabel 4. D22 x 0. 0.

. D2 = 4 = 0. D 1 x D2 rm = 4 ( 0.44 mm Maka jari-jari rata-rata (rm) rm = 0.50 x 0..12 = 0........12 kg. 2078 x 10−3 D22 12545.50 untuk gesek kering T = μ x F x rm 12545.....3 = 178 .....mm μ : Koefisien gesek (0...12= 2..5 + 1 ) .375 x 178 .... 12 D32 = 2.2078 x 10−3 D 22 D32 = 5682181......... 375 D2 12545.... ( Sularso ...3 3 D2 = √5682181 . 011775 D22 x 0...375 x D2 = 0.91mm Gaya yang ditimbulkan tekanan plat gesek (F) dapat dicari ......35 – 0.....44 mm = 66 ..65) dipilih 0......375 D2 Untuk mencari diameter luar plat gesek dapat dirumuskan T = μ x F x rm........1987: 62 ) Dimana : T : Torsi yang direncanakan = 12545.

91− 33.5 rm diambil 0.5 maka b = 0.45 mm Diameter dalam plat gesek (D1) D1 = 2 x rm − b = 2 x 66.91 = 33. mm = 104 . 44 )2 = 374 .92 kg Lebar bidang gesek (b) b = 0.5 x rm = 0. 011775 kg/mm 2 x ( 178 .4 Perhitungan momen plat gesek Dalam perencanaan ini perlu diperhatikan momen gesek yang terjadi pada plat gesek tersebut.5 x 66 .maka syarat-syarat dibawah ini harus diperhatikan. Mg = Mtp + Mpm + Mpk ( kg. 86 kg. m ) Dimana untuk mencari momen plat gesek harus ditentukan momen torsi puntirnya p Mtp = 9. F = 0. 5986 kg . 43 = 9. 011775 kg/mm 2 x ( D 2 ) 2 F = 0.m Dimana : Mg = Momen gesek Mpm =Momen perancanaan massa Mpk = Momen perencanaan kopling .37 mm 4.supaya kontruksi kopling aman.45 = 100 . 74 x 10 5 x 8700 = 10459.4 − 0. 74 x 10 5 x n 93 .

14 x 8700 = 60 = 910 . 2 x Wp Mpm = wxt Dimana : Wp = Kerja kopling N xt = kg . 6 x 3 = 0. mm 12 t = Waktu kontak plat gesek ( 1−3 det ik diambil 3 det ik ) 2. 34 = 910 . π .n w = Kecepa tan sudut = rad /det 60 N = Daya 125Hp 1 hp = 125 x 75 kg m/ s 100 hp = 125 x 75 kg m/s = 9375kg m/s 2. 01541 kg /m Momen kecepatan kopling (Mpk) .6 rad /det Maka : N xt Wp = 12 9375 x 3 = 12 = 2.n W = 60 2 x 3.π. 34 kg/ mm Momen kecepatan massa (Mpm) dapat dicari : 2 x Wp Mpm = W xt 2 x 2.

4 10.91 mm = 0.2 2. 06691 m 3315 x 105 x 910 . Lk x W Mpk = t Maka : Lk = Gaya yang dialami kopling Y b = π rm 4 ( kg .45 mm→ 0. 03345 m g = 9.5 3. 33.ms−1 ) g 2 Dimana : Y = 7800 kg . 15 21 8 5 0 0 0 0 0 .10 kg . 91.5 5 10 20 20 70 10 0 Batas keausan permukaan 2.0 3.5 3.10 = 104 .m Tabel 4.5986 + 0.0 3.3 Nomor kopling Nomor kopling 1.2 laju keausan pemakaian plat gesek Bahan permukaan W (cm3 / kg.m Tabel 4.m Maka momen plat gesek Mg = Mtp + Mpm + Mpk = 104 . 63.5 2.5 Volume total pada batas keausan (cm2) 7.6 Mpk = 3 = 0. 81 m/ s ( Grafitasi ) rm = 66 .0 2.m ( berat jenis baja ) b = 33 .7140 kg .01541 + 0. 22.0 2.m) Paduan tembaga sinter ( 3 − 6 ) x 10−7 Paduan sinter baja ( 4 − 8 ) x 10−7 Setengah logam ( 5 − 10 ) x 10−7 Damar cetak ( 6 − 12 ) x 10−7 Dari tabel diatas dipilih bahan setengah logom −7 3 W = 8 x 10 cm kg.

.85 x 8 .m Direncanakan umur plat gesek.W 210 = −7 1268 .L3 = 210 kerja penghubung untuk sekalihubungan (E) GD 2 x nr 2 T do kg. 06691 = 974 x 8700 = 0. . . .936 = 1268 . .. . . .. . . .m2 Nr = Putaran relatif poros kopling (rpm) Tdo = Momen gesek dinamis (kg..... . . m E= 7160 x T do − TI 1 lb ( ) .... ... 10 = 2068880 .85 kg. . . 936 kg. .m) Maka momen start (Tlo) P x rm Tlo = 974 x n 125 x 0.Dipilih nomor kopling yang digunakan 100...(Sularso : 1987 : 70) Dimana : GD2 = Gaya yang terjada pada poros koplin.m Jadi ker ja kopling untuk sekali hubungan ( E ) ( 3 )2 x ( 1000 )2 100 E= x 7160 100 − 0. L3 Nml = E . .m) Tlo = momen start (kg.untuk poros roda 4 dipilih G3 kg. 2 hb .. . .

.......m W = Kecepatan sudut = 628 rad/det t = Waktu kontak plat gesek (1-3) detik diambil t = 3 detik z = Jumlah hubungan gesek per jam Maka : 104.Lama keja kopling Kopling direncanakan bekerja 5 jam perhari dengan frekwensi hubungan N = 30 hb/jam..7140 x 910..... Jadi jumlah hubungan sehari : = 5 jam/hari x 30 hb/jam = 150 hb/hari Dengan jumlah hari 365 hari /tahun.............. z Ng = ..6 x 3 x 30 Ng = 2 x 75 x 3600 = 1....2 = 54750 = 3......69668 kg...7 tahun sekali 4.. W .(Sularso 1987 : 73) 2 x 75 x 3600 Dimana : Ng = Daya gesek Mg = Momen gesek = 13........158 Daya maksimum (N maks) .5 Perhitungan daya plat gesek Mg . t .......7 tahun Dengan demikian plat gesek diganti tiap 3....... maka : Cyr = 150 x 365 = 54750 hb/hari Nml Nmd = Cry 2068880 ........

158 = 339....86 x 8700 N maks = 71620 = 1270 ..7 x 5 x 365 Dimana : = 6752 ..5 jam F = Luas permukaan plat gesek π = ( D22 − D12 ) z dim ana z = 2 4 3. akibat pergesekan sehingga temperatur kopling akan naik..037 )2 ] x 2 = 339 ..14 = 4 [ ( 17 .........2 x 6 = 3..m = 10459.....60 Hp 4....5984 kg.mm N = putaran = 8700 rpm Maka : 10459 .94 cm 4...2 cm2 Sehingga tebal plat gesek L x Ng a= F x Ak 6935 x 1... Temperatur permukaan plat gesek biasanya naik saat terjadi hubungan .( Literatur alat−alat mesin hal 63) Ng L = Lama pemakaian plat gesek = 3..... Kecepatanrata-rata .7 Perhitungan temperatur Kerja pada plat gesek akan menimbulkan panas.86 kg.8 )2 − ( 10 . Mtp x n N maks = 71620 Mtp = Momen torsi 104.....6 Perhitungan tebal plat gesek a x F x Ak L= ......

..246 mm /det = 60 .....09 0 C Tabel 4.3 Koefisien panas dan kecepatan rata-rata Koefisien panas (α) kkal m2 0c Kecepatan rata-rata (Vm) m/det 4...... Vm = W x rm = 910 ....5 0 24...6 10 57 15 62 20 72 25 83 30 88 35 96 40 104 45 .928246 m /det 4.6 x 66 ..158 AT = 0..928246 α= x ( 104 − 96 ) + 104 45 − 40 = 78.3392 m2 AT = Perubahan temperature tergantung kecepatan rata-rata 623 x 1.....( Literatur alat−alat me sin hal : 56) Fxα Karena untukVm = 60.....3393 x 78.0 5 4..51 kka e/m2 0 C Maka : 623 x Ng AT = Fxα Dimana : F = 339.......928246 tidak terdapat pada tabel maka : 45 − 60.2 cm2 = 0.8 Perubahan temperatur 623 x Ng AT = .. 91 = 609228.....51 Maka : = 27...

Menurut arah dan gerakan bantalan terhadap poros a.09 + 28 0 C = 55.aman dan poros akan tahan lebih lama. Bantalan aksial : arah beban yang diterima sejajar dengan sumbu poros c.09 0 C Temperatur yang diizinkan untuk bahan asbes adalah : 0 0 T = 80 C − 200 C Dimana perbandingan antara temperatur dan temperatur krja adalah : ( T > Tw ) maka ( 200 0 C >55 .9 Temperatur kerja (Tw) Tw = AT + TK ( ¿ 0 C ) Dimana : TK = Temperatur kamar = 27. Bantalan gelinding (Rolling contact bearing) 2. 090 C ) Jadi konstruksi kopling dinyatakan aman dari temperatur akibat panas yang ditimbulkan oleh plat gesek. . Bantalan secara umum dibagi 2 macam yaitu : 1. Bantalan gelinding khusus : arah beban yang diterima adalah aksial dan radial.1 Klasifikasi bantalan Fungsi bantalan adalah untuk menumpu poros. 114 50 125 55 130 60 4. BAB V BANTALAN 5. Menurut arah beban terhadap poros a. Bantalan luncur (Selding contact bearing) b. Bantalan radial : arah beban yang diterima tegak lurus terhadap sumbu utama b. sehingga putaran dan gesek bolak-balik dapat berlangsung secara halus.

5.88 kg Maka : Frd = 0.1.10 Y = Koefisien beban aksial = 0. Fr + Y .5 x 11. Fa………………….1 Bantalan Pendukung Poros Kekuatan bantalan poros terhadap gaya radial dinamis : Frd = X .5 Fa = gaya aksial di rencanakan = 11.(kg) Dimana : X = Koefisien beban radial = 0.88 = 69 kg Kapasitas normal dinamis sfesifikasi (C) Fh x d C= Fn Dimana : Fh = Faktor lama pemakaian Fn = Faktor kecepatan Lh = Lama pemakaian kopling (direncanakan kendaraan jarang dipakai 5000 – 15000 jam dipilih 10000) .a Bantalan radial Gambar 5.6 Fr = Gaya radial = 105.10 + 0.6 x 105.

.71 jam Fn = n √ 3 33 .15 Rpm Kapasitas nominal dinamis spesifik (c) Fh x Fd C= Fn 2.5 mm Co = kapasitas nominal statis spesifikasi = 915 mm C = kkapasitas nominal dinamis spesifikasi = 1250 mm . d = Diameter minimum ukuran lengkap bantalan = 35 mm D = Diameter luar bantalan = 62 mm B = Tebal bantalan = 14 mm R = Jari-jari bantalan = 1.(Sularso 1987 : 143) (Tabel 413) diperoleh ukuran lengkap. 3 = √ 3 33 . Fh = Lh 500√ 3 =3 500√ 10000 = 2.15 C = 1255 kg Dengan melihat harga kapasitas normal dinamis spesifik (C) didapat nomor bantalan 6007 zz……….71 x 69 C= 0. 3 8700 = 0.

1 Bantalan Nomor bantalan Ukuran luar (mm) Kapasitas Kapasitas nominal nominal Dua sekat dinamis statis Jenis Dua sekat tanpa spesifikasi C spesifik Co terbuk kotak d D B r (kg) (kg) a 6000 10 26 8 0.5 1310 1010 6009 6009 ZZ 6009 VV 45 75 16 1.5 1030 740 6007 6007 ZZ 6007 VV 35 62 14 1.5 1640 1320 6010 6010 ZZ 6010 VV 50 80 16 1. Tabel 5.5 360 196 6001 6001 ZZ 6001VV 12 28 8 0.5 1710 1430 6200 6200 ZZ 6200 VV 10 30 9 1 400 236 6201 6201 ZZ 6201 VV 12 32 10 1 535 305 6202 6202 ZZ 6202 VV 15 35 11 1 600 360 6203 6203 ZZ 6203 VV 17 40 12 1 750 460 6204 6204 ZZ 6204 VV 20 47 14 1.5 440 263 6003 6003 ZZ 6003 VV 17 35 10 0.5 1000 635 .5 400 229 6002 6002 ZZ 6002 VV 15 32 9 0.5 1250 915 6008 6008 ZZ 6008 VV 40 68 15 1.5 470 296 6004 6004 ZZ 6004 VV 20 42 12 1 735 465 6005 6005 ZZ 6005 VV 25 47 12 1 790 530 6006 6006 ZZ 6006 VV 30 55 13 1.

5 3200 2300 6309 6309 ZZ 6309 VV 45 100 25 2.5 1070 660 6304 6304 ZZ 6304 VV 20 52 15 2 1250 785 6305 6305 ZZ 6305 VV 25 62 17 2 1610 1080 6306 6306 ZZ 6306 VV 30 72 19 2 2090 1440 6307 6307 ZZ 6307 VV 35 80 20 2.b Bantalan aksial     Gambar 5. Clerence antara poros dengan peluncur (C1) dan kelonggaran antara bantalan dengan peluncur C11 direncanakan .5 2620 1840 6308 6308 ZZ 6308 VV 40 90 23 2.5 895 545 6303 6303 ZZ 6303 VV 17 47 14 1.1. disaat bantalan ditekan oleh tuas.5 760 450 6302 6302 ZZ 6302 VV 15 42 13 1.5 1530 1050 6207 6207 ZZ 6207 VV 35 72 17 2 2010 1430 6208 6208 ZZ 6208 VV 40 80 18 2 2380 1650 6209 6209 ZZ 6209 VV 45 85 19 2 2570 1880 6210 6210 ZZ 6210 VV 50 90 20 2 2750 2100 6300 6300 ZZ 6300 VV 10 35 11 1 635 365 6301 6301 ZZ 6301 VV 12 37 12 1.5 1100 730 6206 6206 ZZ 6206 VV 30 62 16 1. 6205 6205 ZZ 6205 VV 25 52 15 1.2 Bantalan aksial Fungsi bantalan aksial adalah untuk menekan pegas tekan.5 4150 3100 6310 6310 ZZ 6310 VV 50 110 27 3 4850 3650 5.

Fr + Fa Dimana : Fr = Gaya radial = 1 (karma bantalan yang direncanakan bantalan (aksial) Fa = Gaya aksial pada pegas tekan Y = Koefisien beban aksial 1. t = 33 .4 + 4 x 2 = 41.00 – 2. 4 mm Diameter luar peluncur (dl) dl = di + 4 . 4 + 0.30 (direncanakan 2.2 = 41 .6 mm Pemeriksaan bantalan terhadap bantalan aksial dinamis : Frd = X .0) Sehingga Frd = 0 x 1 + 2.4 Perencanaan bantalan aksial Diameter bantalan (d) dl = dl + C11 = 41 .Tebal peluncur (t) = 2 mm (direncanakan) C1 = 0.99 = 25.4 mm (direncanakan) C11 = 0.4 = 33 .98 kg Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) .0 x 12.2 mm (direncanakan) Diameter dalam peluncur (di) di = ds + C 1 = 33 + 0.

dengan data sebagai berikut : d = Diameter minimum ukuran lengkap bantalan = 35 mm D = Diameter luar bantalan = 62 mm B = Tebal bantalan = 14 mm r = Jari-jari bantalan = 1. Fh x Frd C= Fn 2.5 mm C = Kapasitas nominal statis spesifikasi = 1250 mm Co = Kapasitas nominal dinamis spesifikasi = 915 mm BAB VI PEGAS .6 mm.6 kg Dimana : Fh = Faktor lama pemakaian 2.71 jam Fn = Faktor kecepatan 0. maka jenis bantalan yang harus digunakan dengan nomor bantalan 6007 ZZ……….17 rpm Dengan memperoleh diameter bantalan = 34.71 x 69 = 0.15 = 1246 .

1 Pegas Dalam perancangan ini ada 2 pegas yang digunakan yaitu : @ Pegas kejut @ Pegas tekan 6.6. Gaya keliling yang bekerja pada pegas (Fk) Mtd Fk = R Dimana : Mtd = momen torsi yang direncanakan 15603. 9024 kg Pegas kejut direncanakan 6 buah mendapat peredam yang seimbang . Jenis ini tergolong pada jenis pegas tekan yang terpasang pada rangka naaf dan dudukan pegas kejut.1 Pegas kejut Pegas kejut adalah pegas yang berpungsi sebagai peredam kejutan atau getaran Pada saat plat menyatu dengan fly wheel.mm R = Jarak antara sumbu poros kepegas kejut direncanakan 50 mm 12545 . Gambar. 12 FK = 50 = 250 .48 kg.

Fk Fk 1 = 6 250 .8173 = 3.(Literatur EMS hal : 316) 8 x C Fk 1 d2 = π x d2 8 x 9 x 41.14 x 96 2 d = √ 9.6.1 mm d = 3 mm Tabel.8 x Tb = 0..904 = kg 6 = 41 .8 x 120 kg/mm2 = 96 kg /mm Diameter kawat pegas (d) 8 x C x Fk 1 T π x d2 Dimana : C = D/d : Indeks pegas dipilih C = 9 …………….1) dipilih τ = 120 kg/mm2 Tegangan geser izin (τg) τ g = 0.9 d = 3. 8173 kg Diameter pegas kejut dibuat dari Jis 4314 dengan bahan Sus 302 WPA dengan kekuatan tarik (τb) = 120 – 145 kg/mm2 (lihat table 5.1 diameter pegas .

18 165 .14 165 .225 2.225 2.90 150 .185 210 .20 120 .20 140 .00 100 . 1.32 160 -185 210 .160 170 .195 160 .165 0.185 200 .29 160 .205 0.135 140 .190 220 .195 160 .225 185 .10 165 .50 100 .205 170 .00 .155 0.90 120 . 1.165 180 .155 - 0.225 185 .00 110 .80 135 .220 4.Diameter Kekuatan tarik (kg/mm2) Diameter Kekuatan tarik (kg/mm2) kawat kawat (mm) SUS302WPA SUS302WPB SUS631WPC (mm) SUS302WPA SUS302WPB SUS631WPC SUS304WPA SUS304WPB SUS304WPA SUS304WPB SUS316WPA SUS316WPA 0.145 160 – 185 150 .60 135 .145 150 .190 220 .185 210 .165 130 .215 180 .225 1.190 220 .185 210 .23 160 .70 160 .195 160 .115 - Diambil diameter kawat pegas 3 mm .135 140 .215 180 .50 110 .155 - 0.185 0.225 185 .175 190 .245 .210 6.220 3.245 200 .20 165 .60 160 .155 - 0.165 130 .185 210 .210 5.205 10.135 140 .205 170 .190 220 .235 195 .225 185 .185 200 .185 210 .125 130 .50 110 .225 2.190 220 .00 .190 220 .195 0.234 195 .135 140 .135 150 .205 12.245 200 .175 140 .185 200 .215 180 .00 110 .210 6.195 0. 90 .175 0.50 160 .185 200 .00 100 .235 195 .00 .190 220 .140 - 0.40 140 .225 180 .235 195 .00 135 .40 160 .185 200 .00 150 .175 190 .165 0.08 165 .175 140 .35 160 .185 0.55 160 .80 150 .155 0.190 220 .235 195 .09 165 .220 4.220 3.26 160 .220 5.16 165 .160 170 .210 9.235 200 .155 160 .165 0.245 200 .65 160 .30 130 .165 130 .125 130 .185 200 .245 200 .185 150 .45 160 .155 0.165 0.125 - 0.245 200 .175 190 .12 165 .225 1. 115 .210 8.175 140 .60 120 .145 150 .245 200 .145 150 .125 130 .185 0.225 2.00 110 .225 185 .245 .165 170 .225 1.50 120 .175 0. 100 .165 130 .210 7.165 180 .175 140 .155 0.

..5 x 103 Kawat tembaga birilium BeCuW 5 x 103 Jumlah lilitan (N) ..1 ) x 8 . ..4 mm Defleksi yang terjadi pada pegas (δ) 3 8 n x D x Fk 1 δ= 4 mm 2 . 32 . . ..4 )3 x 41.(Sularso 1987 : 137) G = Modilus geser dengan bahan kawat distemper dengan minyak.. . .1 = 12 . . . .2) 8n x D3 x Fk 1 δ= d4 x G 8 x 4 ( 12. ...2 Bahan pegas Bahan Lambang Harga G (kg/mm) Baja pegas SUP 8 x 103 Kawat baja keras SW 8 x 103 Kawat piano SWP 8 x 103 Kawat distemper dengan minyak ..6... ...... 103 = 0.8173 4 = ( 3. ... . .....(Lihat tabel 5. 40) SUS 7.. dengan nilai 8 x 103 kg/mm2 ……………. ...5 x 103 Kawat kuningan BSW 4 x 103 Kawat perak nikel NSWS 4 x 103 Kawat perunggu pospor PBW 4... 8 x 103 Kawat baja tahan karat (SUS 27 . .. 86 mm Tabel... . Diameter lilitan (D) D=4 xd = 4 x 3. ( Sularso 1987 :318 ) d xG Dimana : n = Jumlah lilitan aktif ≥ 3 dipilih 4………………….

08 kg/mm2 6.72 mm Panjang pegas saat kopling bekerja (L) L = Lo − δ = 22.62 kg dan tekanan permukaan direncanakan 0.13 + 2 .2.99 kg 6.2 Pegas tekan Pegas tekan berfungsi memberi gaya aktual terhadap plat penekan.62 x 0. 13 mm Panjang pegas sebelum menerima gaya (Lo) Lo = n . Direncanakan jumlah pegas tekan 8 buah. agar penyambungan dan pemutaran daya antara poros penggerak keporos yang digerakkan dapat terlaksana.8173 = 3. 4 x 41 .03 = 12. N = 2 + (n) =2+4 = 6 buah Jarak antara pegas (P) D P= 3 12 .1 )3 = 443 . p + 2 .02 kg/mm2 Maka : Fa = 433.1 = 22.72− 0.86 mm Momen tahan punter yang terjadi (τg) 8 x D xFk 1 τ g= π x d3 8 x12 . 4. Gaya yang diterima plat gesek pada saat penekanan F = 433. 4 = 3 = 4 .a Besar gaya yang diterima setiap pegas (Fni) .14 x (3. 3.86 = 21. 08 kg /mm 2 Tegangan geser (τg) > momen tahan punter (τg) 96 kg/mm2 >37. d = 4 .

115 = 92 Kg/mm2 Faktor Tegangan ( k ) dengan Indeks pegas dipilih 5 4C  1 0.615   4 .10  8  48..3 ) Tabel 6.2b. 1987 : 316 ) 4 .3 Sifat Mekanis Perlakuan panas ( °C ) Batas mulur (Regangan Kekuatan Celup Tampar Lambang Permanen Tarik Kekerasan Dingin 0.8 .5  4 5  1.8 . 5  1 0. Tb = 0.31 . Diameter Pegas Kawat Pegas Tekan (d) 8 x C x Fni Td   xd2 Dimana : Td = ( Kukuatan tarik ) dari pegas baja yang dipakai adalah SPU 4 dengan Tb = 115 kg / mm ( dari tabel 6.( Sularso.26 Kg 6. F Fni  8 386.2%) ( Kg/mm2 ) ( HB ) Kg/mm SUP 4 450 – 500 110 115 352 – 415 SUP 6 480 – 530 110 125 363 – 429 SUP 7 490 – 540 110 125 363 – 429 SUP 9 830 – 860 460 – 510 110 125 363 – 429 SUP 10 Pendinginan 470 – 540 110 125 363 – 429 SUP 11 460 – 510 110 125 363 – 429 Minyak Ta = 0.615 K  4C  4 5 …………….

31 d2  3.5 x 48.8 + 2 x 2.9 = 25 mm Panjang pegas saat menerima gaya maksimal L min = Lo – (δ + δ1) Dimana : .9  14.26 3    2. 8 x C x Fni Td   xd2 8 x 5 x 48.5  3  4.9 mm D  C xd  5 x 2.5 mm 6.9 4 x 8 x 10 3  8.32 mm Jumlah seluruh lilitan ( N ) N= 2 + n = 2 + 4 = 6 lilitan Jarak antara lilitan ( P ) D P 3 14.7 d  2.8 mm Panjang pegas sebelum menerima gaya ( Lo ) Lo = (n x P) + (2 x d) = 4 x 4.2c.14 x 92 d 2  8. Defleksi Pada Pegas 8 x n D 3 x Fni  d4 x g Dimana : n = Jumlah lilitan aktif = 4 g = Modus geser = 8 x 103 8 x 4 15.26 x 1.

93 Kg / mm 2 Jadi τb > t max = 115 kg/mm2 > 83.04 Kg Gaya maksimum yang diterima pegas ( F max ) F max = Fni + Ft = 48.93 kg/mm2 maka pegas dinyatakan mempunyai kekuatan yang aman.65 cm 6. Besar Gaya Untuk Melepas Hubungan Gaya Plat Gesek Dengan Plat Penekan Besar gaya untuk melepas plat gesek  x d4 x g Ft  1 8 x n x d4 0.31  3.32 + 0.14 x ( 2.26 + 0. BAB VII PELUMASAN .1 ) = 16.1 L min = 25 – ( 8.5 ) 4  0. δ = tegangan antara plat gesek dengan plat penekanan diperkirakan 0.2d.26 x 1.30 Kg Kekuatan pegas ( t max ) 8 x n x F max x K t max   x d3 8 x (14.04 = 48.1 x  2.9  x 8 x 10 3 4  8 x 4 (14.5 ) x 48.58 mm = 1.9 )  83.

pelumasan dengan gemuk 2. mencegah korasidan menghindari masuknya debu cara pelumasan ada dua macam yaitu: 1. 7. yang paling popular dari pelumasan minyak ini diantaranya adalah pelumasan celup. Untuk maksud ini dapat dipakai pipa pendingin. Pelumasan bertujuan untuk mengurangi gesekan dan keausan antara elemen gelinding dan sangkar membawa keluar panas yang terjadi antara elemen gelinding dan sangkar yang terjadi.09°C Tk = Temperatur Kamar = 30°C Maka : Tw = Ts + Tk = 2809°C + 30°C = 58.1 Pelumasan Gemuk Pelumasan gemuk lebih banyak disukai karena penyekatnya lebih sedehana dan rata-rata gemuk yang berkualitas baik sehingga dapat memberi umur panjang.09°C . atau sirkulasi air untuk poros tegak.3 Temepratur Kerja ( Tw ) Untuk mengetahui temperatur kerja kita terlebih dahulu harus mengetahui temperatur kamarnya. 7. minyak harus diisikan sampai tengah elemen gelinging yang terendah. Maka dari sistem pelumasan yang ada. adalah suatu keharusan bahwa temperatur minyak dijaga tetap. pelumasan dengan minyak 7. Cara yang paling umum digunakan ubtuk penggemukan adalah dengan mengisi bagiandalam bantalan dengan gemuk sebanyak mungkin. pelumasan gemuk dan pelumasan minyak pelumasan yang dipakai atau yang sesuai pada sistem kopling gesek adalah pelumasan minyak dan standart pelumasan adalah SAE 30 s/d 40.2 Pelumasan Minyak Pelumasan merupakan cara yang berguna untuk kecepatan tinggi. pada cara ini dengan poros mendatar. untuk temperatur kamar biasanya berkisar : Tk = 27°C s/d 30°C = 28°C…………( yang direncanakan ) Maka temperatur kerja ( Tw ) Tw = Ts + Tk Dimana : Ts = Temperatur Slip = 28.

Viskositi kinematik ( Z ) diperoleh dari persamaan :  180   0. 2 2.04 S . ( 1120 / S ) Englar 0.727 centi pois = 40 centi pois Tabel 7. ( 160 / S ) Red Wood No. ( 374 / S ) Jika viscisitas absolute minyak pelumas dan temperatur yang terjadi adalah : V = 40 Cp Tw= 58.22 x S   Z=  S  Centi Pois Dimana : Z = Viskositi Kinematik S = Sayblok Viskositi diambil ( 185 Second ) Maka :  180  Z   0.1 Formula Konversi Viskositi Viskositi ( S ) Viskositi Dinamis (10-6 m/s ) ( Cp ) Say bolt Universal 0.26 S . ( 171.09 ℃ . ( 180 / S ) Say bolt Furel 2.5 / S ) Red Wood No.22 x S    S   180    0.147 S .22 x 185    185  = 39.70 S .220 S . 1 0.

Maka minyak pelumasan yang ada rancangan ini adalah jenis SAE 60. dan Viskositas kinematik (z) = 40 Centi Pois BAB VIII . Dimana temperatur kerja ( Tw ) = 58.09°C.

...mm R = Jarak garis sumbu = ( direncanakan 40 mm ) n = Jumlah baut 12545...62 Kg Gaya keliling yang diambil setiap baut (F1)....... Mtd F R Dimana : F = Gaya keliling Mtd = Momen torsi design 12545. F F1 = n 313 ..12 kg...27 Bahan yang dipilih dari bahan poros dengan Fly whell yaitu Jis G 3101 SS 55 dengan C≤ 30%..1 Baut Jumlah baut yang direncanakan untuk mengikayporos penggerak ini adlah sebanyak 6 buah...( Sularso 1987 : 339 ) Dimana : . 12 F= 40 = 313.........62 = 6 =52............ BAUT Gambar 8.

6 mm . 5 diambil Pemeriksaan baut terhadap tegangan geser (τg).Kekuatan tarik (τb) = 55 Kg/mm2 Faktor Keamanan (V) = 8 ÷ 10 (direncanakan 9) Maka : b Ttr  V 55  9 6.9 Kg/mm2 Diameter luar (dl) dl ≥ √2 x F1 Ttr dl ≥ √ 2 x 52. F1 Τg = A Dimana : 3.8 x 6.27 6.11 dl ≥ 2.57 mm dl = 5.8 x Ttr = 0.11 Kg / mm 2 Tegangan Geser Izin (τg). Τg = 0.14 A = 4 x dl 3 = 4 x (5)2 = 19.11 = 4.

F1 τg = A 52.541 mm d1 = Diameter dalam = 4.6 = 2.9 ≥ 2. 1987 : 289 ) Dengan ulir M6 Diperoleh data – data sebagai berikut : P = Jarak bagi = 1 H1 = Tinggi kaitan = 6000 mm d = Diameter luar = 0.75 Panjang baut ekivalen (L) L = lp + H + Ls = 22 + 6 + 4 = 32 mm Diameter kepala baut (dk) Dk = 2 x dl = 2 x 5 .917 mm lp = Tabel yang dijepit = 22 mm ( Direncanakan ) ls = Tambah panjang = 2 .27 = 19.10 mm ( Diambil 4 mm ) H = Tebal jepit = 6 mm Tingakat kepala baut (H) 3 H = 4 x dl 3 = 4 x 5 = 3.66 kg / mm2 Setelah memperoleh diameter baut (dl = 6 mm) maka dari tabel ( Sularso.66kg / mm2 Jadi τg ≥ τg = 4.

083 16.000 39.026 9.046 5.917 M8 1 0.5 1.000 12.000 10.587 M 60 5.505 BAB IX PAKU KELING .000 6.165 39.000 60.5 0.376 17.000 20.211 M 36 M 33 3.165 36.000 56.000 8.727 26.1 Diameter Baut ulir Ulir dalam Diameter Diameter Diameter Jarak Tinggi luar D efektif D2 dalam D1 1 2 3 bagi p kaitan H1 Ulir luar Diameter Diameter Diameter luar d efektif d2 inti d1 M6 M7 1 0.752 42.894 30.000 64.000 10.5 2.706 48.75 0.077 40.000 52.977 56.5 1.077 37.000 34.376 15.106 M 16 2 1.350 6.5 2.000 9.25 0.947 12.541 7.294 2.812 11.350 4.402 31.376 M 12 M 14 1.376 1.917 1.25 0.376 19.000 7.5 2.026 9.863 1.353 22.752 3 1.436 42.587 M 56 M 52 5 2.000 25.000 30.026 8.026 10.670 M 42 M 45 4.647 M 11 1.353 20.103 57.701 13.000 36.353 18.000 44.188 8.701 1.505 6 3.835 2 1.051 20.642 27.248 64.5 1.436 45.188 7.677 9.083 14.129 5 2.129 M 48 4.046 M 64 M 68 6 3.752 3.000 22.211 M 39 4 2.812 10.000 27.706 52.5 1.541 6.000 16.835 M 20 M 18 2.677 8.428 54.051 23.647 M 10 M9 1.350 5.000 42.294 M 22 2.5 0.000 5.350 5.188 6.670 4 2.977 60.727 29.000 14.103 61.894 33.642 24.188 7.752 46. = 10 m Tabel 8.402 34.294 M 24 M 27 3 1.5 2.428 50.5 1.000 48.000 18.248 68.

Pada konstruksi plat gesek dan naaf digunakan paku keling pada tiga sambungan. lempengan gesek 2. paku keling untuk sambungan lingkar pembawa dengan plat pembawa 5. 2. sambungan lingkar pembawa pada plat gesek dengan plat pembawa. 1. Susunan Paku Keling Keterangan : 1. . sambungan plat pembawa dengan naaf. plat pembawa 6. paku keling untuk sambungan plat pembawa dengan naaf 7. 1 2 3 4 5 7 6 Gambar 7. 3. sambungan lempengan gesek (yang terbuat dari asbes) dengan lingkar pembawa. yaitu : 1. lingkar pembawa 4. paku keling untuk sambungan lempengan gesek dengan lingkar pembawa 3. naaf Jumlah paku keling yang digerakkan pada plat gesek digunakan sebanyak 16 buah paku keeling Maka gaya pada paku.

785 .96 187.14 193.7 kg / mm2 Tegangan geser izin Τg : 0.1 Gaya yang terjadi tiap paku keeling P P1 : 16 187.96 kg / mm2 Diameter paku keling π P : 2 x n 4 x d2 x τg 3.49 : 16 : 11.91 =187.12 rm : 66.49 d2 : 2 x33 x 2.71 kg Bahan Paku keeling diambil SS 37 dengan kekuatan tarik (τb) : 37 kg / mm2 faktor keamanan 8 : 10 (direncanakan 10) jadi tegangan tarik izin adalah: τb Ttr : v 37 : 10 : 3.8 x Ttr : 0.49 kg 9.07 : 2 x 33 4 x d2 x 2. Mtd P : rm Dimana : Mtd : 12545.12 P : 66.8 x 3.91 12545 .96 x 0.7 : 2.

22 : 3.96 kg / mm2 10.71 = 2 0.73 mm 9.22 kg / mm2 Diameter kepala paku keling D : 2. BAB X KESIMPULAN DAN SARAN .22 ) = 10 . : 1.6 x 1. Pemeriksaan paku keling terhadap tegangan geser.2.22 : 0.6 x d : 0.2 kg / mm2 ) Konstruksi yang dinyatakan aman.5 x d : 2.785 x ( 1. Tegangan geser Izin (τg) : Maka tegangan geser yang terrjadi (τg) pl τ g= π x d2 4 11 .05 mm Tinggi kepala paku (K) K : 0. 2 kg/mm 2 Sehingga diperoleh τg ≥ τg ( 2.5 x 1.

44 mm  Diameter dalam (D1) = 100.mm  Bahan poros = S55 C-D  Diameter poros = 33 mm 10. Fly wheel sangat berguna untuk menyimpan energi berlebih dan akan mengeluarkan energi pada saat kekurangan energi. Elemen mesin itu menjadi mahal. Factor keamanan juga harus diperhatikan dalam perencanaan suatu elemen mesin pemiihan faktor keamanan dipengaruhi oleh dua hal yang menjadi pertimbangan yaitu bila faktor keamanan kecil maka elemen itu akan rusak dengan mudah tetapi faktor keamanan itu besar keefesieananya. c.1.10.83kg / mm2  Tegangan lengkung (tl) = 40.12 kg.7140kg / m  Umur plat gesek (Nml) = 3. KESIMPULAN.92 mm  Momen dari plat gesek (Mg) = 104. jadi pemilihan bahan merupakan hal yang terpenting dalam perencanaan. Kopling adalah salah satu komponen yang sangat penting dalam bidang permesinan .1. peerencanaan poros  Momen torsi (mf) = 12545.91mm  Diameter luar (D2) = 178.68 mm 10.c.7 Tahun .45 mm  Takanan plat gesek (F) = 374. Perencanaan kopling di pengaruhi beberapa hal antara lain : a.40 mm  Tegangan geser yang terjadi (σg) = 2.37 mm  Lebar bidang gesek (b) = 33.76 kg / mm2  panjang naaf (L) = 1.1. perencanaan splain dan naaf  Jari-jari rata – rata antara paras dan splain (Rm) = 18. Dari daya dan putaran yang direncanakan. dimana Daya = 125 Hp Putaran = 8700 rpm Didapat perhitungan – perhitungan sebagai berikut : 10.06 mm  Gaya yang bekerja pada setiap alur splain (f1) = 86. dengan adanya kopling daya dan putaran dapat diteruskan atau ditransimisikan . rata – rata = 66. perencanaan plat gesek  Bahan plak gesek = Besi cor an asbes  Jari – jari.1.a. Bahan yang dapat dipakai untuk komponen perlu diperhatikan. sedangkan fly wheel itu sendiri dibuat dari bahan yang sama dengan bahan paras karena fly wheel paras diikat dengan baut menjadi satu dan bergerak terus selama mesin beroperasi.b. bahan yang digunakan haruslah mempunyai kekuatan tarik yang terjadi. b.

26 mm  Diameter kawat pegas tekan (d) = 92 mm  Gaya maxsimum pegas (F max) = 48. Perencanaan bantalan  Bantalan radial (Fr) = 69 kg  Bantalan aksial (Fa) = 12.49 kg  Gaya yang terjadi pada tiap paku keling = 11.99 kg  Gaya radial dinamis (Frd) = 25.1 e.158 kg  Temperatur kerja = 55. 2.1 mm  Diameter kawat lilitan (D) = 12 .30 mm  Kekuatan pegas (T max) = 83. SARAN.96 kg / mm2  Tegangan geser (σg) = 10.71 kg  Tegangan geser izin (τg) = 2.09 º C  Viskositi kinematik = 40 Centipais 10. Baut  Gaya keliling (F) = 313.2 kg / mm 10.27 kg  Tegangan geser izin (τg) = 4. 1 d.93 kg / mm2 10.86 mm  Besar gaya tiap pegas (Fm) = 48.62 kg  Gaya keliling tiap baut (F1) = 52.1 f.9 kg / mm2  Tegangan geser (σg) = 2. Paku keling  Gaya pada paku keling = 187.1 g. Pelumasan  Temperatur kerja = 58. Perencanaan pegas  Gaya pegas kejut (Ft) = 250.4 mm  Defleksi pada pegas (τ) = 0.66 kg / mm 10.1 h.  Daya gesek = 1.98 kg 10.9024 kg  Diameter kawat pegas (d) = 3.09 º C 10. .

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan – kekurangan yang terdapat dalam laporan rancangan kopling HONDA CITY ini salah satu penyebabnya adalah keterbatasan buku diperpustakaan untuk itu penulis berharap untuk kelenkapi kekurangan tersebut. Atas bimbingan penulis lebih dahulu mengucapkan banyak terimak kasih kepada bapak IR. . K. OPPUSUNGGUH. Kiranya dihari yang akan datang kita harus dapat memperaktekannya secara langsung di laboratorium agar lebih memahami yang telah dipelajari dalam teori sebelumnya. karna itu adalah untuk kemajuan mahasiswa INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN.