TUJUH. Cindewhorella merampas topeng gadis lainnya, berharap Prince Charming merenungnya.

“Jadi kau juga berniat untuk mengejar Kyuhyun?”

Pertanyaan yang dilemparkan Soojin barusan mampu menghentikan langkah lebar Sooyoung menuju
kamar mandi yang berada di depan kamarnya. Dengan handuk tersampir di pundak, ia berbalik dan
memberikan senyumannya yang terbaik.

“Tidak, sebenarnya. Hanya saja, karena kau menyukainya sampai rela menurunkan harga dirimu sebegitu
rendahnya, mengapa tidak?” Ia mengerling, sebelum menghilang ke dalam kamar mandi.

Selepas mandi dan berpakaian, Sooyoung memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di kamarnya
sebelum turun dan menonton TV—kegiatan normalnya di hari Minggu. Ponselnya entah di mana, dan
sebenarnya, ia tidak terlalu peduli. Sooyoung menyalakan

laptop-nya dan menunggunya aktif selama semenit, entahlah, tiba-tiba ia ingin melihat-lihat situs Hollow.
Satu menit setelah login, terdengar suara ring

tanda notifikasi masuk, dan segera saja atensinya terpusat pada satu hal: bosnya ternyata juga tengah
duduk santai di suatu ruangan di apartemennya, memutuskan untuk mengunjungi website

Hollow, lantas mengirim pesan padanya.

kyuhyunc: aku sangat tidak menghargai perbuatanmu merusak apa-yang-seharusnya-disebut kencan.

Oops. Sepertinya Mr. Cranky Pants yang lama telah kembali. Mendapati itu, Sooyoung merasa agak lega
dan ringan. Seakan-akan beban berat baru saja ditarik kembali dari bahunya yang kurus. Paling tidak, ia
bisa terbebas sebentar dari keseriusan pikirannya yang kadang-kadang menyeretnya mendekati masalah-
masalah yang harusnya sudah ia tendang sedari dulu.

sooyc: sorry . Kukira kau menyuruhku memesannya untuk makan siang bersama denganmu.

Ha-ha . Alasan yang sangat bodoh dan tidak masuk akal. Ia tidak peduli akan itu, Sooyoung yakin bosnya
sudah tahu alasan yang sebenarnya—bahkan tanpa ia atau Soojin harus membuka mulut.

Laptop-nya berbunyi lagi.

kyuhyunc: mataku saja atau kau memang berharap bisa makan bersama denganku?

sooyc: aku tidak bilang begitu. Tapi keputusan berada di tanganmu sepenuhnya, Sir.

kyuhyunc: huruf terakhir di username kita membuatku tidak nyaman. Entahlah.

sooyc: maafkan saya sekali lagi, Sir. Mungkin kau harus memprotes ayahku karena memberiku marga
yang nyaris sama denganmu.

kyuhyunc: kau sangat menyebalkan. Mengapa kau tidak bisa bersikap sedikit lebih mirip dengan
kakakmu?

Ia sedang tidak ingin berpakaian formal. Pergi dulu. peduli amat dengan hal itu. duduk bersandar di three-seat -nya. aku suka hal-hal yang asli. . peduli amat dengannya. Mungkin saja Kyuhyun memang tengah melakukannya. Ma!” Ia melemparkan pandangannya ke arah Soojin sekali lagi—tambahkan ekspresi kesal di penampilan Soojin—sebelum melesat keluar. Pertemuan penting dengan bosku. ia tidak tahu. Sooyoung bisa saja pergi mengembara di Seoul—berjalan-jalan. “Yep. Kakaknya itu tampak nelangsa dan kelelahan. Sesuatu apakah itu. Oh.sooyc: apa itu berarti aku harus menjadi palsu sepertinya? Tidak. Baru saja Sooyoung berniat untuk mematikan laptop-nya. membuatnya kesulitan melihat dan bernapas. ia sudah siap dengan rok denim pendek dan T-shirt . sepertinya ia berharap terlalu banyak mengingat apa yang baru saja ia kirimkan. :) Untuk beberapa detik. Sooyoung menoleh. sengaja benar menekankan kata ‘penting’-nya untuk mencuri atensi Soojin. Selepas itu. Lima menit kemudian. Namun. Kyuhyun enggan mengakui ini. “Aku akan membeli sarapan di perjalanan. Sooyoung mengharapkan balasan—apapun—dari Kyuhyun. namun tiba-tiba saja muncul keraguan pada diri Soojin. Sooyoung tertawa dengan agak sinis. sooyc: apa? Apa asisten pribadi tidak mendapat hari libur sama sekali? kyuhyunc: pergi saja. toh akhirnya Sooyoung bangkit ke walk-in-closet -nya dan berusaha mencari sesuatu yang layak dipresentasikan. Membaca pesan terakhirnya. berbelanja. kyuhyunc: pergi ke apartemenku. lagi pula ini toh bukan kunjungan resmi.” ia menyahut. Sebelum keluar. satu notifikasi masuk. menghentikan langkahnya untuk menatap Soojin yang tengah duduk di meja makan dengan pakaian rumahannya—jelas sekali tidak ada kencan hari ini. Hah. Kedengarannya menyenangkan. lantas bergegas menuruni tangga. – Ada sesuatu pada diri asistennya. Meskipun malas dan tidak bersemangat. Mungkin Kyuhyun hanya ingin membahas satu-dua hal mengenai Hollow dengannya. seandainya saja Kyuhyun tahu apa yang ada di balik wajah itu . apa saja. ia bisa menebak itu. Sooyoung nyaris bisa melihat Kyuhyun menghela napas dengan lelah. sekedar membuat kakaknya itu iri. “Ada acara?” Pertanyaan ibunya mengambang di langit-langit. Sooyoung menyempatkan dirinya untuk menyambar kunci mobil dan tas kecilnya. Dan ketidaktahuan itu terasa seperti asap yang mengambang di langit-langit. Ia tidak repot-repot menata rambutnya. Sekarang.

memandangi raut kesal Sooyoung yang tengah sibuk merogoh tasnya. Sooyoung tersenyum miring—senyum yang menyebalkan.” Sooyoung mengirimkan sorot tidak terlalu setuju dengan sikap memerintah Kyuhyun. Sooyoung buru-buru menyiapkan alasan yang tepat—kebohongan yang tepat—untuk mempertahankan posisinya di Hollow kalau-kalau Kyuhyun berniat untuk memecatnya. mengisyaratkan Sooyoung untuk duduk. yang dibalas dengan angkat-sebelah-alis oleh Sooyoung. Kyuhyun agak ngeri. Sejak kapan Sooyoung ada di sini? Mengapa Nadine tidak menginformasikan apa-apa? Biasanya suara elektrik dari interkomnya itu membuatnya kesal setengah mati karena berteriak terus-menerus. Seakan-akan kakak-beradik Choi adalah sosok Pim dan Ploy di film Thailand yang memiliki judul Alone yang pernah Kyuhyun tonton—murni karena paksaan teman- temannya. Setelah beberapa kali terlibat perang mulut dengan Sooyoung.Anehnya. Film ini membuatnya ngeri setengah mati. berusaha mencari tahu omong kosong apa lagi yang tengah dibicarakan bosnya. ia harap. “Aku hanya ingin kau menjawab ini dengan benar-benar jujur. “Apa yang kau inginkan dariku? Apa aku seharusnya membawa sarapan untukmu?” Kyuhyun menggeleng.” Sooyoung menyahut. ia akhirnya mengangguk. mendudukkan pantatnya di kursi di seberang Kyuhyun. “Ada masalah apa antara kau dan Choi Soojin?” Oops. Sooyoung mengerutkan bibirnya. hal ini tidak mengagetkannya lagi. membuat Kyuhyun melompat beberapa senti dari kursinya. Ternyata cuma pertanyaan sok tahu khas bosnya. Hal yang sama dengan Sooyoung dan Soojin.” Ujarnya sambil menunjuk kursi di seberangnya. “Aku yakin kau akan mendapat jawaban omong kosong yang tidak jelas. jawaban asistennya barusan.?” tanyanya. entah mencari apa. kepercayaan dirinya kepada asistennya bertambah tahap demi tahap. “Apa ini semacam interviu prakerja atau. Kalau yang itu.” suara Sooyoung tiba-tiba saja menggema di penjuru dapurnya.” Aneh. Tidak menemukan apapun. Sooyoung mengerjakannya dengan cukup baik dan tepat waktu. mengangkat bahunya untuk sepersekian detik sebelum menurunkannya kembali.” Tipikal Choi Sooyoung sekali. “Mengapa kau tidak menanyakan itu pada Soojin saja? Kalau kau sebegitu percayanya padanya. ke tingkat yang lebih tinggi.. namun ia tetap mengikuti perintah. “Aku tidak suka ini. Mungkin saja Kyuhyun telah menemukan cara liciknya untuk masuk ke dalam Hollow. “Kau tidak perlu melakukannya.” .” Kata Kyuhyun. “Bukan juga. Semuanya tidak pernah mudah jika melibatkan asistennya—kecuali tugas-tugasnya. tenang saja. “Aku hanya ingin menanyakan sesuatu. “Kau sudah berjanji akan menjawabnya. Memikirkan ini.

“Aku pernah punya adik. tidak bisa. menerjang keluar dari apartemen Kyuhyun yang entah mengapa berubah ukuran menjadi jauh lebih sempit. kalau seseorang menemukan faktanya.” Sooyoung mengangkat alisnya. Sooyoung tidak pernah berkeinginan berubah menjadi Soojin. “Ya. Sayang sekali keputusannya sudah bulat. ia memang sudah berjanji untuk menjawabnya. Sooyoung melihat-lihat keadaan sekitar. Sooyoung tetap merasa bodoh dan lembek. memintanya untuk tidak berinteraksi dengan siapapun dalam keadaan seperti ini. Mood-nya berteriak- teriak. Kecuali kalau bosnya yang sok tahu memutuskan untuk mengejarnya. Sooyoung berdiri. Sooyoung menghentikan langkahnya di belokan ketiga sejak keluar dari gedung apartemen Kyuhyun. Dan Sooyoung bersyukur akan itu. Empat tahun lebih muda daripada aku. Tidak seharusnya ia menunjukkan ekspresinya tadi.” Dengan itu. dan meskipun ia tidak tahu apakah Kyuhyun melihat matanya yang berkaca-kaca. dan tangisan telah berada di kerongkongannya—Sooyoung tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia harap ia bisa menuliskannya di mana saja—fakta-fakta masa lalunya—hanya supaya pikirannya terlepas dari hal mengerikan itu sebentar saja. mengagetkan Kyuhyun dengan suara kursi berderit. Adik. sehingga kemungkinan berpapasan dengan seseorang yang ia kenal sangatlah kecil. yang memang dilakukannya sekarang ini… . rasanya sulit… Tentu saja Sooyoung pernah berpikiran untuk membuka diri. Tetap saja. lalu menatap telapak tangannya yang terasa basah dan dingin. “Dia tidak akan pernah bisa bicara lagi. Lalu ia berbalik. Tidak ada tanda kelemahan di sini lagi. Mengapa Sooyoung justru mengalihkan pembicaraan ke silsilah keluarganya? Well . Not anymore . air mata segera membuat jalannya menuju pipinya. Sialan. Terlalu rumit. Amat malu. ia terlalu takut kalau-kalau seseorang membacanya. Terlalu berat. bukan hal yang sulit dengan tempatnya berada sekarang. Ia pergi. Ia membuka mulut. – Sesaat setelah tangisannya menghilang—bahkan sebelum berhasil keluar—ia merasa malu dengan dirinya sendiri. namun ia tidak bisa.Sooyoung mengubah posisi duduknya dengan tidak nyaman. Hanya saja. ia tidak sanggup menangkap maksudnya. itu keahlian Soojin. Dan demi apapun. Jalan raya mulai dipenuhi mobil-mobil berkecepatan tinggi dan kafe-kafe mulai sesak oleh pengunjung. Sooyoung tidak mengenal siapapun di sini—kecuali bosnya. Namun. mencari toko yang tidak terlalu ramai. mungkin saja adik Choi Sooyoung ini adalah aktris atau apalah itu. Dan Sooyoung yakin dirinya pun tidak akan sanggup menjelaskannya dengan kalimat runtun yang dapat seseorang pahami.” seiring ucapannya. Kelemahan bukanlah hal yang senang ia tunjukkan. namun Sooyoung menahannya sekuat tenaga. “Adik?” Kyuhyun mengerutkan keningnya tidak mengerti. Ruangan itu menghimpitnya. Tidak akan pernah.

…sialan! “Apa yang kau lakukan di sini?!” Sooyoung nyaris tidak bisa mengatur suaranya. entah mengapa. mengejarmu. Sekarang. ia tidak perlu merasa harus membangun suasana.. ia justru berbalik. Agaknya Kyuhyun pun menyadarinya. Sooyoung bersedekap. . menantang Kyuhyun untuk mengatakan apa yang memang ia ingin katakan. “Sekarang setelah aku keluar.” ia berhenti sebentar. berusaha mencari kata yang tepat.” Katanya dengan kepercayaan diri meningkat perlahan- lahan. menyoroti bangunan-bangunan kecil di sepanjang jalan dan menunjuk salah satu toko yang tidak terlalu ramai. Namun usahanya itu gagal karena—sepertinya—lelaki itu telah berhasil menguasai dirinya kembali. Namun kali ini. “Aku baik-baik saja dari tadi. kenapa kita tidak pergi bersama? Kau akan pergi ke mana?” Pengalih topik yang handal . Dengan Sooyoung. tapi Kyuhyun merasa Sooyoung adalah teman bicara yang lebih menyenangkan ketimbang Soojin. “Dan?” Tidak berhasil menemukan kata yang dibutuhkan. ia hanya perlu mengikutinya saja. “Aku uh . Karena kau kelihatan seperti akan menangis tadi. Kyuhyun harus mencari topik obrolan untuk mengisi suasana.” ujar lelaki itu.” ujarnya. Kyuhyun tahu perempuan di hadapannya ini tengah berbohong.” “ Oh. well . berusaha mengendalikan napasnya. Kyuhyun tidak ingin mengakui itu. “Tapi kau kelihatan baik-baik saja sekarang. ia tidak tahu mengapa . Keduanya berjalan mendekati bangunan yang tadi ditunjuk Kyuhyun.” Tidak. Dan. sesuka hatinya. “Apa kau tahu kafe yang menyediakan menu sarapan khusus di sekitar sini?” Sebenarnya. setelah berhadapan dengan Sooyoung sendiri.“Kakimu cepat sekali. Mengeluyur di daerah tetangga bukanlah hal yang senang dilakoninya. Hanya saja. Ia jarang keluar dari apartemennya. “Itu dia. Kalimatnya barusan terdengar seperti suara yang keluar dari hidung—tinggi dan menyakiti telinga. menyoroti Kyuhyun dengan alis yang naik sebelah. Kafe favoritku. Sulit sekali menemukan seseorang yang tahu saat yang tepat untuk berbicara atau diam—biasanya. Kyuhyun tidak tahu. hanya gema sol sandal yang bergesekan dengan aspal yang terdengar. sulit untuk tidak merasa canggung. Tidak ada yang membuka suara. Kyuhyun memutuskan untuk mengubah pembicaraan.” Katanya. Kyuhyun menyukai ini. sesuka Choi Sooyoung yang kini menatapnya dengan pandangan mencerca. mungkin aku salah melihatnya. Ia enggan mengakuinya. Sooyoung berpikir sembari mengangguk. menyetujui ide bosnya untuk menghabiskan waktu bersama. “Dan apa maksudmu dengan akan menangis ? Aku tidak pernah kelihatan seperti akan menangis. Diam-diam.

“Kau mau masuk. aku punya pertanyaan untukmu. “Kau mau duduk di mana?” tanya Sooyoung lagi. Kyuhyun tidak memedulikan sindiran Sooyoung. Tidak mendapat sahutan yang diinginkan. “ Well . Juga. Saat pesanan mereka telah datang—segelas susu cokelat yang baik untuk kesehatan. Ia menoleh ke arah Kyuhyun. mendongak sebentar untuk mendapati Kyuhyun tengah menjilati jarinya.” Katanya. “Di dekat jendela itu. tidak memahami raut penuh arti yang disorotkan Sooyoung padanya. ya. dan dua piring ceper berisi donat-donat bertabur gula dan muisjes—Kyuhyun terpaksa menelan kembali segala pertanyaannya mengenai adik lainnya dari keluarga Choi.“Apa?” Tanya Kyuhyun. “Interogasi?” . “Donat adalah pengecualian.” Katanya membela diri.” Sulit sekali menyembunyikan rona merah yang kini tengah membuat jalannya ke pipi Kyuhyun.” Setelah berputar-putar beberapa saat—dua menit tepatnya. “Menarik.” ujar Sooyoung dengan nada mengolok-olok. “Aku yakin di sini tempatnya. “Oh…” “Kafe favorit. perutnya yang kosong meronta-ronta minta diisi. “ Well . sederhana tapi manis. melirik sekilas ke tiga donat yang masih duduk tenang di piringnya. Untuk menutupinya. namun—sebagai formalitas saja—ia menawari Kyuhyun untuk memberikan pendapat. Kyuhyun mengedikkan bahunya dengan gaya tidak peduli. tidak?” tanyanya.” “Apa ini?” Kyuhyun mengangkat kepalanya dengan dahi mengerut. yang ternyata merupakan gudang dari pabrik lima meter dari tempat mereka berdiri. tentu saja. “Dan kau harus menjawabnya dengan jujur. mungkin sudah pindah. secangkir teh herbal yang masih mengepulkan asap. terlalu terpesona dengan makanan di hadapannya. Kyuhyun bisa memberitahu. menunggu Kyuhyun sampai di sampingnya. Kyuhyun mengikutinya. Plus. mengingat ia selalu melirik jam tangannya setiap mereka berbelok dari lorong satu ke lorong yang lain—Sooyoung akhirnya berhenti di depan sebuah kafe kecil. Sebenarnya. menatap mata asistennya yang tiba-tiba berbinar setelah mendengar jawabannya. Perempuan itu sudah telanjur meloncat ke bangku itu sebelum ia berhasil mengatakan.” Ia menirukan pendapat Kyuhyun mengenai makanan-makanan manis waktu itu. “ Mengandung kalori yang terlalu banyak untuk sarapan . “Aku tidak tahu kau suka donat. karena dirinya sendiri sudah menaiki tangga kecil di depan kafe.” Kyuhyun menyahut. “ apa? ”.” gumam Sooyoung. ia sudah memiliki bangku pilihan. satu yang berada di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke lapangan kecil. tidak menunggu jawaban. Kyuhyun melayangkan pandangannya pada keadaan sekitar—pada kafe yang tadi disebutnya sebagai “ kafe favorit” . berhenti di depan pintu kafe. diam-diam Sooyoung ingin mengetes selera bosnya itu. memilih kursi.” Sooyoung menaikkan sebelah alisnya dengan gaya mengejek. Kelihatannya normal.

mungkin? “Jawab saja.” Sooyoung menggumamkannya dengan lelah. Mungkin masih terlalu dini untuk menunjuk di mana tepatnya perasaan itu berada—sekedar teman.” Meskipun bertanya-tanya.” aku Sooyoung. “Kau mau menjawabnya tidak?” “Begini.” Cetus Sooyoung.” Kemudian matanya yang hitam dan bulat tiba-tiba dipenuhi nyala api kemerahan. Tentu saja begitu. kecewa. “Kau tahu. empat minggu? Sebulan? Dan kau benar mengenai perasaanku.” Lanjutnya diplomatis. “Oke. melemparkan kedua tangannya di atas kepala. “Tak bisakah kau memutuskannya sekarang?! Apakah kau menyukainya jangka panjang atau untuk jangka pendek saja?!” “Apa—” “Benar. tiba-tiba waspada akan serangan Sooyoung. “Hei. dan aku sangat bosan mendengarnya. Kau akan terus mengejarnya. mengaduknya ke kanan dan ke kiri. Mungkin asistennya itu ingin membongkar sesuatu. membuat Kyuhyun akhirnya menyerah. namun tepat. dan amarah. Kyuhyun toh akhirnya mengiyakan. Pertanyaan pertama—” “ Whoa . katakanlah. Pertanyaan Sooyoung itulah yang membuatnya berpikir ulang tentang perasaannya—bagaimana tepatnya hatinya mengenai ini.Ia berusaha menyembunyikan senyumannya—gagal. “Aku sering mendengar hal itu. Sooyoung memainkan sendok kecil dalam cangkir tehnya. Meskipun begitu. “Kau harus berjanji akan menjawabnya dengan jujur dan sungguh-sungguh. ia dan Soojin toh baru bertemu beberapa saat yang lalu. Bibirnya mengerut di satu sisi. dengan nada tidak sabaran. “Oke.” sela Kyuhyun segera. “—tapi aku juga tidak tahu apa perasaanku akan bertahan. kau tidak bilang pertanyaanmu akan lebih dari satu.” sela perempuan itu. Apa kau benar-benar menyukai Soojin seperti itu? Tipe suka yang membuatmu ingin menikahinya dan memiliki keturunan dengannya? Atau tipe di mana kau hanya ingin bersenang-senang?” Pertanyaan yang sangat menjebak. Kyuhyun tahu jelas bahwa dua tipe yang ditawarkan Sooyoung tidak benar-benar mewakili perasaannya pada Soojin. “Kalian laki-laki tidak bisa menentukan perasaanmu sendiri. Kau tidak bisa mencintai seseorang sebelum melihat . pertanyaan pertama. aku memang menyukainya—” Kyuhyun tidak bisa mengalihkan matanya dari perubahan ekspresi Sooyoung di hadapannya. dari sesuatu yang menekan ke arah kesurutan. membuat kemungkinan-kemungkinan tidak pasti yang menyedihkan. “Semacam itu. brankas rahasia di apartemennya.” dengan ragu. Kyuhyun berpikir kepada dirinya sendiri. mengatakan kau cinta padanya— bullshit . aku baru berkenalan dengan kakakmu sekitar… uhm . tanpa melihat ekspresi Kyuhyun. lima tahun ke depan. atau kekasih main-main? Pemikirannya buyar ketika Sooyoung menyodok bahunya dengan jari telunjuknya. cinta sejati.

dan saat kepalanya matanya sempurna terarah pada mata Kyuhyun. mengapa mata itu kelihatan begitu jujur. begitu murni. Kyuhyun lebih dulu berseru. yang kau rasakanlah yang paling penting. Sooyoung menoleh. “Mungkin aku kedengaran seperti penyihir jahat di serial kartun.” ia berhenti sebentar untuk menarik napas. terlalu pahit. sekaligus kelam ? Mata Sooyoung berair. Ia mengabaikannya sekali lagi. “Kau tahu.segalanya tentang orang itu!” Lalu ia tampak malu karena ledakannya yang tiba-tiba. tapi. kau akan tahu mengapa aku melakukan ini. Ia nyaris bisa merasakan tangisan dalam tenggorokannya. “Ya. Satu hal yang harus kutekankan padamu.” Menutup pidato pendeknya. untuk siapapun . Tetap saja. “Apa ini ada hubungannya dengan adikmu?!” Mendengar pertanyaan itu. end of chapter seven. Cho Kyuhyun. memandang tepat ke mata Sooyoung yang mengilatkan kepedihan dan apapun itu—sialan. mengapa ia peduli? Mengapa ia mengkhawatirkan sosok di hadapannya kini. Kyuhyun bisa melihat dengan jelas bulir air mata menuruni pipinya. dengan amat sangat pelan.” ia berucap dengan nada mengejek yang pahit. Kakakku tidak layak untukmu. yang tidak kau ketahui tentang Choi Soojin.” Sahut Sooyoung sebelum lenyap di belokan gang. . Sooyoung bangkit dari kursinya—menyentakkan benda malang itu beberapa senti ke belakang dengan tidak terlalu mulus—lantas menghambur keluar dari kafe. “ Memang ada sesuatu.. rasa malunya tidak bisa menyingkirkan sakit hatinya. sosok yang terus-menerus melakukan hal-hal jahat pada kakaknya sendiri? Sialan . adalah untuk tidak terlalu bersandar pada apa yang kaulihat. banyak sesuatu. sebelum Sooyoung berhasil mencapai pintu. “Sooyoung? Apa ada sesuatu tentang kakakmu yang tidak aku tahu?” Kyuhyun bertanya dengan hati- hati. dan nanti. meronta untuk dikeluarkan. Namun. sebelum dia mengatakan apa sesungguhnya.