9 Cerpen Seno

Seno Gumira Ajidarma

Daftar Isi :

Cintaku Jauh di Komodo*

Rembulan dalam Cappuccino

Gerobak

Cinta di Atas Perahu Cadik

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

Dodolitdodolitdodolibret

Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol

Karangan Bunga dari Menteri

Mayat Yang Mengambang Di Danau

Sumber : www.cerpenkompas.wordpress.com

bukuLIAT ...

ini harus kalian ketahui ... apa yang kami lakukan sama sekali tidak ada
tendensi kepedulian melestarikan lingkungan. sebenarnya kami suka menyentuh
dan membuka kertas buku lembar demi lembar halaman demi halaman, bunyi
gesekan kertas dan baunya yg khas melahirkan sebuah sensasi tersendiri ...
karena itu kami tidak peduli jika untuk menghasilkan buku harus menebang
berpuluh-puluh pohon karena kami percaya pada teori kekekalan energi. tapi
kami akan marah jika berpuluh-puluh pohon ditebang hanya untuk membuat tisu
atau tusuk gigi.

siapa kami ?

kami hanya salah satu dari masyarakat pengumpul dan peramu di dunia maya,
kami pun bagian dari para cyber-crafter yg mengumpul dan mendaur ulang
sampah-sampah informasi menjadi sesuatu yg betul-betul berguna

siapa kami ?

kami bukanlah bagian dari orang-orang yg mencoba beralih dari era paper
menuju era paperless. kami hanyalah orang-orang yg ingin mengakses buku-
buku, hanya saja di dunia "yg jauh dari keyboard" tidak jarang kami
diperhadapkan pada pilihan makanan atau buku (sesuatu yg tidak seharusnya
diperhadap-hadapkan) dan tidak jarang (dengan sangat terpaksa) kami memilih
buku dengan konsekuensi kami harus mengencangkan ikat pinggang berhari-
hari.

siapa kami ?

rasanya tidak penting untuk memperjelas siapa kami, anggap saja kami adalah
anda dan anda adalah kami ....

yang terpenting adalah ...

apa itu www.bukuliat.info ?

www.bukuliat.info hanyalah salah satu dari sekian banyak perpustakaan di
dunia maya yg menyediakan ebook. ebook-ebook yang berhasil kami
kumpulkan dari berbagai sumber di dunia maya. hanya begitulah kami, tidak
lebih !

Catatan:

buat anda yg mempunyai uang lebih kami harap anda tetap membeli buku
aslinya demi

mempertahankan kelangsungan hidup penulis, penerbit (khususnya penerbit-
penerbit kecil) dan para distributor.

Ucapan Terima Kasih :

terima kasih untuk mereka-mereka yg telah bekerja keras membuat ebook

terima kasih telah menjadikan kami sedikit berguna. Aku mengatakannya semacam takdir. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti.. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. Hanya kekosongan. karena kami memang tidak terpisahkan.terima kasih juga untuk mereka-mereka yg telah meluangkan waktunya untuk meng-upload ebook-ebook miliknya . meski perahuku melaju menembus angin yang bergaram. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. dan bukan takdir itu sendiri. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati.. Bagaimana cinta akan berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. kami juga mengucapkan terima kasih untuk mereka-mereka yg review atau resensi bukunya telah kami gunakan dalam postingan kami. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. kami tetap menghormati anda dengan selalu mencantumkan alamat sumber dari review atau resensi yg kami gunakan. Cintaku Jauh di Komodo* Hanya laut. terima kasih juga buat seluruh netizen yg telah berkunjung dan memanfaatkan apa yg kami buat. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. jika cinta ini belum juga berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. Cinta yang abadi . dari suatu masa ketika cinta pertama kali ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati.

tetap bertahan. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. Walaupun kami terbukti saling mencintai. Demikianlah cinta kami selalu diuji. dan sebagai manusia kami tidak bisa berkelebat seenak udel kami. tetap penuh pesona. tetap membara. Cinta yang sejati. tetap menggelisahkan.kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. Kesetiaan kami masing-masing telah membuat kami selalu bertemu kembali. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. kukira. Memang begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. kemudian berbeda kelas sosial. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. meski terkadang penuh dengan luka-luka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. . tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. nah. begitulah. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. Apabila kami berbeda kulit. lantas berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. namun kami tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak udelnya. bisa berupa kursi kekuasaan. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. Hmm. tetap misterius. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu kembali. cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. Kami memang diciptakan dari sepasang bayang-bayang. lengket bagai benalu. menempel seperti ketan. Cinta diuji oleh cinta. dan tetap terus-menerus menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. barangkali menunggu kami mati dan menjadi pasangan baru. yakni cinta yang dahsyat itu. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama hebohnya.

sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. . kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang juga dihuni komodo. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda-tanda alam memberi isyarat kepadaku. Hanya kekosongan. kekasihku menimbulkan masalah besar. Sebagai seekor komodo. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. kekasihku berenang dan menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. Akibatnya. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. Namun. dan aku tidak mengetahuinya. Karena kami selalu berperilaku baik. kekasihku dianggap sebagai komodo asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. Karena undang-undang melindungi komodo. maka kekasihku tidak dibunuh. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. masihbisa mencintaikekasihku. tapi mereka sebetulnya tidak bersentuhan sama sekali. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. kami akan saling mengenali.Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. di tempat yang baru itu. yang sekarang berada di Pulau Komodo. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Tetapi. Laut dan langit bagai bertaut. sebagai manusia biasa. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo.

dan meluncur masuk ke kubangan. . apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. Semuanya sudah terlambat. aku menjadi ragu. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. Bersenjatakan tongkat bercabang. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. Apakah yang masih bisa kukenal dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan pandangan mata yang penuh dengan cinta. Aku terpeleset dari tebing. dan aku sangat mencintainya. Kalau aku tidak keliru.bagaimanakah caranya ia akan mengenaliku-dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai seekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. Pasti Supermie tidak akan pula mengenyangkannya. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. Di dalam tubuh itu hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. hatiku terasa kosong. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu-apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. ataukah hanya seolah-olah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. Sudah jelas ia tampak kelaparan. langsung patah beberapa bagian. Atas nama cinta. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu kekasihku? Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang kosong. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku mencintai kekasihku….

yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod-nya. terjemahan A Ikram. Rembulan dalam Cappuccino Seminggu setelah perceraiannya. Cintaku Jauh di Pulau (1946). . Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. “Introduction” dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. Kampung Komodo. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. wisatawan asal Swiss berusia 84 tahun.Labuan Bajo. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. dengan jumlah sekitar 1. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. 3. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Muller. terdapat pula di Pulau Rinca. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. ibid. Pulau Komodo: Tanah. kurator Museum Zoologi Bogor. Mereka menyebut komodo sebagai ora. dalam Muller. 5. perempuan itu memasuki sebuah kafe. hal 111-114. hal 111-2. Lebih jauh baca JAJ Verheijen. Ia datang bersama senja. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram.. satu-satunya kampung di pulau itu. 1. hal 75. 4. kaki tiga untuk kamera. op.000 ekor. 2. dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. terdiri atas 400 KK (2003). Rakyat. pada 1972. Nostalgi=Transendensi (1995). Baca Linda Hoffman. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. sebanyak 1. hal 112. dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ternyata. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. yang lenyap di Poreng. namun terjadinya di Pulau Rinca. cit. East of Bali: from Lombok to Timor (1997). dan Bahasanya (1987)..650 ekor (1994).

” katanya. dingin tapi panas. mengenakan rompi. dan rembulan itu memang sudah tidak ada. tapi tidak menjadi gempar. satu!” Teriak pelayan ke dapur. Para pelayan yang berbaju putih lengan panjang. ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa terapung-apung cangkir perempuan sebenarnya. tapi lantas pingpong-tapi bukan bola pingpong. tenggelam sebentar. “Rembulan dalam Cappuccino. karena rembulan memang hanya satu. seperti kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini. panas tapi dingin. Apakah perempuan itu akan memakan rembulan itu. dan minuman itu memang hanya bisa dipesan satu kali. berbincang dengan bahasa yang beradab. seperti pemandangan Kutub Utara-tapi cappuccino itu panas. “aku sudah bosan melihatnya di daftar menu tanpa pernah ada yang pesan. sudah tidak ada lagi yang membutuhkan rembulan. Semenjak kafe itu berdiri sepuluh tahun lalu. bahkan pura-pura seperti tidak terpengaruh sama sekali. ini rembulan.” Kepala dapur itu bicara dengan entah siapa melalui hp. . Semua orang berada dalam kafe diam-diam melangkah keluar. menengok ke langit. seolah-olah ada persiapan khusus. menyendoknya sedikit demi sedikit seperti menyendok es krim. Mereka kembali duduk.” Perempuan itu bukan tidak tahu kalau orang-orang memperhatikannya. namun diam-diam melirik. ataukah akan menelannya begitu saja seperti Dewa Waktu menelan matahari? Ia memperhatikan rembulan yang terapung-apung di cangkirnya. seperti telah pelajari semenjak di sekolah dasar. dan rambutnya tersisir rapi diam-diam juga memperhatikan. bagaikan masih mendidih. Mereka bergumam. yakni yang tiada pernah mereka saksikan sisi gelapnya. segala sesuatu tidak selalu seperti tampaknya. berdasi kupu-kupu. baru kali ini ada yang memesan Rembulan dalam Cappuccino. Kafe itu memang menyediakannya. turunin aja. “Iyalah. datang langsung dari tercemplung cangkir. permukaan cappuccino masih dipenuhi busa putih. “Akhirnya tiba juga pesanan ini. dan kepala bagian dapur memijit-mijit nomor hp.Cappuccino¹ dalam lautan berwarna coklat. Ia senang dengan penampakan itu.

minuman itu sudah tidak lagi ada Tuan. seorang lelaki memasuki kafe itu.” Lelaki itu terpana.Seminggu kemudian. mungkin Tuan masih bisa mendapatkan rembulan itu. “Tidak Tuan…” “Jadi?” “Kalau memang perempuan itu istri Tuan…” “Bekas…. Para pelayan saling berpandangan. “Rembulan dalam Cappuccino. “Apakah Tuan tidak memperhatikan. “Seorang perempuan? Istri saya? Eh. maaf. pasti dia! Dasar! Apa sih yang tidak ingin ditelannya dari dunia ini? Apakah dia makan rembulan itu?” Para pelayan saling berpandangan lagi. “Ah.” “Maaf. dan memesan minuman yang sama. Salah seorang pelayan menjelaskan ciri-ciri perempuan yang telah memesan Rembulan dalam Cappuccino itu. sudah tidak ada rembulan lagi dalam seminggu ini?” Lelaki itu tersentak. bekas istri saya?” Para pelayan saling berpandangan. “Oh.” katanya.” “Maksudmu?” . bekas istri Tuan. seorang perempuan telah memesannya minggu lalu.

tapi tidak menyentuh rembulan itu sama sekali. sampai tamu-tamu di kafe itu habis menjelang dini hari. tolong katakan saya juga mau rembulan itu.” Para pelayan di kafe itu teringat. ia tidak menyentuhnya sama sekali. Mereka ingat. perempuan itu masih di sana dengan air mata bercucuran. padahal penasaran sekali. Itulah sebabnya kepala dapur meminta agar pencoretan Rembulan dalam Cappuccino dari daftar menu ditunda.“Dia tidak memakannya Tuan. betapa perempuan itu mengaduk-aduk Rembulan dalam Cappuccino. sambil sesekali mengusap air mata. Kemudian dia meminta rembulan itu dibungkus. dan masih tetap di sana. tamu-tamu lain itu segera berpura-pura tidak peduli.” katanya.” Lelaki itu memandang pelayan yang berkisah dengan seru. “seperti main drama saja. dia minta rembulan itu dibungkus.” “Dibungkus?” “Ya Tuan. tapi sempat berbalik sebentar. “Rembulan itu belum hilang. Ia baru sadar semua orang memandang ke arahnya. “Kalau dia muncul lagi. hanya memandanginya saja berjam-jam. Perempuan itu hanya memandanginya saja berlama-lama.” . kebetulan di tempat sekarang lelaki itu duduk. rembulan sebesar bola pingpong yang semula terapung-apung di dalam cangkir itu berubah menjadi sebesar bola basket.” “Ya Tuan. bahkan menyeruput cappuccino itu sedikit-sedikit. “siapa tahu perempuan itu mengembalikannya.” katanya. “Dan tolong jangan panggil saya Tuan. Ketika dibungkus. Ketika ia menoleh.” Lelaki itu melangkah pergi.

nasib yang sebetulnya jamak pula dialami siapa pun jua di muka bumi yang sebesar merica. Digelandang dan diarak sepanjang kota sebelum akhirnya disabet lehernya dengan celurit sehingga kepalanya menggelinding di jalanan dan darahnya menyembur ke atas seperti air mancur deras sekali sampai menciprati orang-orang yang mengaraknya itu. Namun. Namun. kelam. seperti ditenggelamkan malam. dan karena itu berhak disiksa dan diperkosa. Tiada rembulan di langit. Tanpa pembelaan sama sekali. “Atau pura-pura romantis. Tentu kini hanya bisa dibayangkannya bagaimana rembulan itu seperti perahu yang membawa kelinci pada malam hari dan mendarat di Pulau Jawa. seperti peta dengan nama-nama kota.² Tanpa pembelaan.” katanya lagi. Namun di kota cahaya. siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak? “Yang masih peduli hanyalah orang. Perempuan itu belum lupa. tidakkah manusia lebih banyak hidup dalam kepalanya daripada dalam dunia di . Banyak orang lain harus hidup dengan gambaran bagaimana ayahnya diambil dari rumahnya di tengah malam buta. sehingga bintang-bintang yang bertaburan tampak jelas. padahal semua itu merupakan kebohongan terbesar di muka bumi. Dia berada di suatu tempat tanpa cahaya. Tidak sedikit orang yang hidup dengan kutukan betapa ibunya telah menjadi setan jalang yang memotong-motong alat kelamin lelaki sambil menyanyi dan menari.Padahal ia sangat menikmati perlakuan itu-seperti yang dilakukan bekas istrinya sebelum mereka berpisah. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi betapa tiada lagi rembulan di langit malam.” kata perempuan itu kepada dirinya sendiri. Tapi selebihnya baik-baik saja. Agak malu juga sebetulnya. Ada yang terasa hilang memang. apalah artinya nasib satu manusia di tengah semesta. terlalu jelas. Tanpa… Langit malam tanpa rembulan. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-baik meskipuntidak mempunyaikesalahan samasekali. begitu kelam.orang romantis. ia merasa bagaikan kiamat sudah tiba.

perempuan itu tidak bisa melihat senyuman maupun air matanya sendiri di permukaan sungai yang mengalir perlahan. apakah akan dibuangnya saja rembulan itu ke sungai. ia bahkan masih memiliki sebuah dunia di dalam kepalanya. tapi itu cerita masa lalu-sekarang ia berada di sebuah jembatan dan sedang berpikir.³ Rembulan itu berada di punggungnya sekarang. seperti membuang suatu masalah agar pergi menjauh selamanya dan tidak pernah kembali? Setiap orang mempunyai peluang bernasib malang. ini kan restoran Itali?4 Nah! . pada hari hujan yang pertama musim ini. kami tidak punya soto Betawi. Tiga minggu kemudian. yang diketahuinya selalu bercita-cita memesan Rembulan dalam Cappuccino? Kalau mau kan banyak cappuccino instant di lemari dapur (ia lebih tahu tempat itu daripada suaminya) dan meski rembulan di punggungnya sekarang sebesar bola basket. jangan-jangan ia hanya mewajibkan dirinya berduka. bisa diganti soto Betawi?” Itulah masalahnya. Dia dan bekas suaminya sebetulnya sama-sama tahu betul hukum rembulan itu. Tonight I can write the saddest lines…. karena selayaknyalah seorang istri yang diceraikan dengan semena-mena merasa terbuang. Tanpa rembulan di langit ia bisa melihat rembulan seperti perahu membawa kelinci yang mendarat di Pulau Jawa. nanti kalau mau dimasukkan cangkir akan menyesuaikan diri menjadi sebesar bola pingpong.luar batok kepalanya itu? Apabila dunia kiamat. terbungkus dan tersimpan dalam ransel-apakah ia berikan saja kepada bekas suaminya. kenapa dirinya harus menjadi perkecualian? Ia seperti sedang mencurigai dirinya sendiri. “Saya kembalikan rembulan ini. padahal perpisahan itu membuat peluangnya untuk bahagia terbuka seluas semesta… Dalam kegelapan tanpa rembulan. “Tidak bisa Puan. perempuan itu muncul lagi di kafe tersebut. dan tidak ada sesuatu lagi kecuali dirinya sendiri entah di mana.dan ia tak tahu apakah masih harus mengutip Pablo Neruda.

Tentang penyiksaan sesama manusia Indonesia. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. terjemahan Dick Hartoko. Latief: Soeharto Terlibat G 30 S (2000). 1. 4. Pleidoi Kol.” Tentang segi astronomi bait ini. Pipit Rochijat. baca PJ Zoetmulder. yang memungkinkan gambaran seekor kelinci. 20 Puemas de amor y una Cancion desesperada (Twenty Love Poems and a Song of Despair). Gerobak Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. Dari Sumanasantaka (sekitar 1204) karya Mpu Monaguna: “sang hyang candra bangun bahitra dateng ing kulem amawa sasa mareng jawa. 07:40. terbit pertama kali tahun 1969. Minggu 31 Agustus 2003. 3. dan tentu saja Pramoedya Ananta Toer. terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh WS Merwin.Pondok Aren. bisa dilacak dalam sejumlah dokumen. Terempas Gelombang Pasang (2003). A Latief. ataukah bulan purnama. Puedo escribir los versos mas triste esta noches-dari “Puedo Escribir” (“Tonight I Can Write”) dalam Pablo Neruda (1904-1973). (Sumber: dari bungkus gula non- kalori Equal). Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (1995). dihidangkan dengan cangkir. h238. biasanya untuk sarapan-kopi espresso yang dibubuhi susu panas dan buih. Perempuan-Kebenaran dan Penjara (1999). Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. apakah itu bulan sabit di cakrawala sehingga bentuknya seperti perahu. Sudjinah. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. sering juga ditaburi cokelat. 2. dalam seduhan air panas 80 derajat celsius. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983). “Am I PKI or Non PKI?” dalam Indonesia edisi 40 (Oktober 1985). antara lain. Kopi tradisional Italia. atau bahkan gerobak sampah lainnya. Sulami. A. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan di depan. 1924. Dari balik .

” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. menggelar tikar. perusahaannya pun banyak sekali. Karena tidak pernah betul-betul mengamati. memasang tenda plastik. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota.” Aku tidak bertanya lebih lanjut. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung kakekku. aku hanya melihat gerobak- gerobak itu selintas pintas. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. tetapi . “Kakek. mereka menginap di kaki lima. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. dan nanti menghilang setelah Lebaran. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. Semuanya ia tangani sendiri. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumah-rumah gedung bertingkat. “Oh. Anak-anak kecil itu tampaknya seusiaku. Di samping menjadi pejabat tinggi. dan tidur-tiduran dengan santai. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. Dari jendela loteng. dengan seorang bapak bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. karena kakekku adalah orang yang sibuk. mereka datang untuk mengemis. anak-anak itu pekerjaannya hanya bermain-main saja. Apabila tanah lapang sudah penuh.dinding gerobak berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. mereka selalu datang selama bulan puasa. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu.

Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol tepinya. dalam kerumunan nyamuk yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. tetapi tak bisa kuketahui apa yang dikatakan mata itu.” “Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak- enak untuk berbuka puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. Di mana tempatnya.rumah orang untuk mengemis.” kata Kakek.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan sudah tidak jelas warnanya lagi. Apa yang akan kamu pikir jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. “Hati- hati terhadap orang miskin. Benarkah. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Kakek tidak pernah menjelaskan. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di depan rumah. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada . karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak-gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Memang mereka tidak pernah menyebutkan kata-kata semacam.” atau “Orang miskin itu jahat. seperti kata Kakek. memang selalu kulihat mata yang menatap.Kakek tentu saja melarangku.

Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya.gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit mengantar kolak untuk berbuka puasa. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu pemandangan. pulang ke Negeri Kemiskinan. “Tenang saja.” “Tapi kali ini banyak sekali.” “Ya. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan pula. Ketika kemudian gerobak- gerobak itu makin banyak saja berjajar-jajar di depan rumah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. biasanya kan begitu. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. karena tentu mendahulukan Kakek. mendapat omelan panjang dan pendek.” kata Kakek. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang.” Para tetangga tidak membantah. bahkan mobil Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan pagar. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. . Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. Mereka juga berharap begitu. >diaC< Pada hari Lebaran. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka sendiri.

entah dari mana. pasti tidak lewat jalan tol. kali ini gerobak- gerobak itu masih tetap di sana. kuat. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. mandi di kamar mandi mereka.Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. makan di meja makan mereka. kali ini kota kami penuh sesak dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. asri. padahal hari Lebaran sudah berlalu. penghuni rumahrumah gedung itu banyak yang pulang kampung. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang.” . Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. tidur di tempat tidur mereka. Pada hari Lebaran.rumah gedung itu. kokoh. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. bahkan sebagian telah pula masuk. merayapi tembok. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. Lagi-lagi Kakek menghela napas. Gerobak-gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga satpam. dan mewah dari luar pagar tembok. dan hidup di dalam rumah. dihela seorang lelaki kuat yang melangkah keliling kota. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. dititipkan kepada tetangga. atau ditinggal dan dikunci begitu saja.” kataku kepada Kakek. seperti hadir begitu saja di dalam kota. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. dan berenang di kolam renang mereka. melompati pagar. mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” “Ya. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? “Mereka masih di sini Kek.

Heran. memasuki rumah-rumah gedung bertingkat. Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. 23.” Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. bahkan merayapi tembok.” sahut Nenek.30.” katanya kepada Nenek. menduduki setiap tanah yang kosong. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. melompati pagar. sambil menuruni tebing bisa . gerobak-gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. setelah hari Lebaran berlalu. Apakah maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. sehingga kadang-kadang mereka tampak seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak.Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Pondok Aren. kenapa manusia tidak pernah cukup puas dengan apa yang sudah mereka miliki. “kita harus menerima segala akibat perbuatan kita. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh. Minggu. Baru kusadari betapa manusia-manusia gerobak ini memang sangat jarang berkata- kata. Barangkali saja untuk selama-lamanya. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. tinggal di sana entah sampai kapan. 7 Oktober 2006. Rupa- rupanya seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. Seperti mereka betul-betul hanyalah patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. Sebaliknya semakin lama semakin banyak. Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti.

bahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. sejak beribu-ribu tahun yang lalu.melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Hayati berlari begitu cepat. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. “Sukab! Tunggu aku!” Di pantai. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. Ia meletakkannya begitu saja di samping gubuknya. seolah-olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. Tentu. seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. bagaimana mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. sejak bertahun. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. “Hayati! Mau ke mana?” . Para nelayan memang hanya tahu perahu.

Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. . masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. lantas melangkah ringan sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan Hayati. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. perahu Sukab belum juga kelihatan. burung-burung camar menghilang. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali.Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. “Hayati dan Sukab saling mencintai. aku juga sudah bicara kepadanya. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. Pada akhir hari setelah senja menggelap.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. Perahu Sukab melaju ke tengah laut. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. sangat kencang. “Cabut badik? Heheheh. dan memang selalu kencang di pantai itu. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. “Ke mana Hayati.

“Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh.” “Perahu Sukab menyalipku. Jawaban mereka bermacam-macam.” “Oh. “Ya. mesinnya sudah mati.” Nenek itu memaki. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. bukannya tambah penumpang. Kulihat mereka tertawa-tawa. nenek tua itu menggerundal sendirian. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. tetapi tidak seorang pun di atasnya. tetapi membentuk suatu rangkaian. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. dan . mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia.Menjelang tengah malam. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. ya. “Aku lihat perahunya. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. Wajahnya pucat. berkeringat.

lemari kayu yang buruk. Alas kaki yang serba buruk. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. dan jala di dinding kayu.di dahinya tertempel sebuah koyo. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. pakaian yang buruk tergantung di sana-sini. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. “Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. Sebuah foto pasangan bintang film India. kursi buruk. berikut pancing dan bubu. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. Dipan yang buruk. Ada juga pesawat televisi. Nenek tua itu melihat ke sekeliling. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. hanya sandal jepit yang jebol. tetapi tampaknya sudah mati. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Waleh?” . meja buruk. tentu saja tidak ada sepatu. tapi mungkin ada juga yang lain. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong.

Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. “Ya. tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” Waleh yang menggigil hanya memandangnya. Ibu.“Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. “Aku memang hanya orang kampung. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali.” Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. Nenek tua itu terdiam. melalui perceraian. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat—dan jika dia bahagia bersama Hayati. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” Mendengar ucapan itu. bahwa jika bukan . Hari pertama. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. kedua. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.

mungkin bukan mati. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. di tengah angin yang selalu ribut . banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.” sahut yang lain. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. “Kukira mereka tidak akan kembali. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Di pantai. pada hari ketujuh. “apalagi jika di perahunya ada Hayati. mereka seperti masih berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. mana mau ia mencari ikan bersama kita. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. karena memang sering terjadi. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. “Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita.perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. Namun setelah hari keempat. Hal itu selalu mungkin dan sangat mungkin.” “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam.” Segalanya mungkin terjadi.” kata seseorang. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah.

yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sabang. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar yang lebih besar dari perahu mereka. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Desember 2006/ Merauke. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Rambut. Telepon berdering. wajah. telepon. Ketika disambarnya pula. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. Pintu. Diangkatnya ke telinga. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. April 2007. perabotan. Namun keduanya juga mengerti. buku. Keduanya mengerti. televisi. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. cangkir teh.terlihat perahu Sukab mendarat juga. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang membara. jendela. deringnya sudah berhenti. Ibu yang Anaknya Diculik Itu Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. pakaian basah kuyup. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya menyengat sekali. Ibu bergumam. . Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah— tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Kulit terbakar. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Sukab tampak lemas di atas perahu. Keduanya terdiam saling memandang. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

Saras. ’Satria sudah mati. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran sama siapapun. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. Ibu terdiam. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. ”Bapak… Kursi itu. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. lukisan itu. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya tidak bisa terus menerus menunggu Satria. ruang dan waktu yang seperti ini. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi.”Hmmh. Ibu. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak punya… ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. seperti Saras itu punya dua ibu. Berharap dan menunggu. membantu aku membereskan kamar Satria. ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. Seperti ini juga keadaannya. ruangan ini. dan kami masih seperti orang menunggu. Ibu Saleha. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. dan duduk lagi di situ. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat simpati. ’Saya selalu teringat Satria. ’tapi cinta adalah soal kata hati.’ kata Bapak. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. Berharap dan menunggu. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini.’ katanya!” . bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. memang rasanya ia seperti anakku juga. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah.’ kataku. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. meja itu.” katanya. Saras. Lantas melihat ke sekeliling. saya tidak bisa’. Dulu almarhum Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi.

Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini.Ia menggigit bibir. dan akhirnya dibunuh. dianiaya. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua boleh kita terima begitu saja?” Saat Ibu menghela nafas. Foto orangtuanya. Di hadapannya. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan . Munir juga sudah mati. Menerima? Menerima? Baik. Bapak sudah mati. Lantas orang-orang itu berkata. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis.’ katamu. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas tutup matanya dibuka. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. ’Kami tahu siapa saja keluarga Saudara. ”Pak. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Bapak. ”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Nanti dulu. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota.’ ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. ”Bapak sendiri yang bilang. Pak. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. foto saudara-saudaranya.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto-foto di atas meja. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. ”Sudah sepuluh tahun. Satria sudah mati.

tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau berpikiran seperti itu?” Sejenak Ibu terdiam. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. berkobar menantikan saat membakar dunia…” Ibu mendadak berhenti bicara. membara dan menyala-nyala. menutupi wajahnya. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. luka sayatan yang panjang dan dalam. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada lagi di muka bumi ini. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. berbisik tertahan. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya membara. seperti Ibu berada di dunia yang lain. ke langit. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. aku masih juga terkenang-kenang kalian berdua. mengembara dalam kekelaman semesta. sekarang untuk kalian berdua. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. setiap waktu makan tiba. ”…. menata gelas dan piring.aku sunyi sendiri di sini. dengan begitu nyata seolah- olah kalian tidak pernah mati. Impian. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. memegang kepalanya. tetapi kalau terbangun. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. Jiwa terasa memberat. jauh. kenangan. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. seperti palung terpanjang dan terdalam. jauh. ”Tapi…. menyatu dengan jiwa terluka. padahal aku selalu makan sendirian saja. .” Nada bicaranya menjadi dingin. o palung-palung luka setiap jiwa.

.”Menculik anak orang dan membunuhnya. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang dan bahagia hanya dengan akalnya. Bapak. ”Pak. bahwa Satria tentu sudah tidak ada. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. Dulu aku bisa bertanya jawab dengan Bapak. Lantas bertanya-tanya lagi. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. Mencoba menjawab sendiri. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. dan aku masih tidak tahu apa-apa. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. tempat seolah-olah ada seseorang diajaknya bicara. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? Ya. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. Hanya bertanya-tanya. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana perasaanku bisa membuatku yakin.

Dasar Bapak. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. di kursi itu. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. makan pisang goreng yang disediakan Si Mbok. datang menengok cuma hari Lebaran. memberi komentar tentang situasi negeri. ”Bapak. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu malam entah karena apa. banyak juga yang tidak pernah berubah. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin orang. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. dan hanya didengarnya sendiri. tapi tidak memanggilnya. pakai kaos oblong dan sarung. malah seperti lupa.’ kataku. Ibu tampak mengenali. kadang aku seperti melihatnya di sana. menonton televisi.”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. banyak yang sudah berubah. menyusul Bapak. Tidak jelas jam berapa. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Ada saja yang dia omongin itu. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak itu. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. tukang bakmi langganan Satria. ”Sudah sepuluh tahun. menyusul teman- temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. Ibu masih berbicara sendiri. Tidak pernah ketemu lagi memang. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. . Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya.” Di luar rumah. ’Ya enggaklah kalau ngibul. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” Terdengar dentang jam tua. sampai setahun lamanya. menyeruput teh panas. ”Bagiku Satria masih selalu ada. lantas ngomong tentang dunia. membaca koran. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari luar negeri. Tapi selalu ada. lewat.

bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. Hanya lewat. Lupa ini-itu. ”Kursi itu tetap kosong. Duduk di kursi itu seperti biasanya. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” Ibu tersenyum geli sendiri. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? . kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria.” Ibu masih berbicara. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. ”Bapak. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. atau kadang-kadang keluar amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. ’Seperti apa Satria kalau masih hidup sekarang?’. Muncul dong sekali-sekali Bapak. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. ”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. Ia selalu bertanya. tanpa senyum.”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. ”Ceritakanlah semua rahasia…. sembunyi-sembunyi pula!’ Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. bagaimana dia diperlakukan. Susah rasanya mengingat-ingat apapun.

” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.”Rahasia sejarah. ”Ya. ”Eh. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. ”Pasti ibunya Saras lagi. malah Si Saras. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. Namun. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. Rahasia kehidupan. ”Ini suatu aib. bahkan jangan-jangan bertentangan. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. maka ia harus belajar membaca doa secara benar. betapapun semua itu tentunya hanya dongeng. Telepon genggam Ibu berdering. ”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana- . tentu maknanya berbeda. Ibu seperti tersadar dari mimpi.” pikir Kiplik. suatu kejahatan. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa.” pikirnya. ”karena jika kata-katanya salah. Tapi rupanya bukan. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden!” Dodolitdodolitdodolibret Kiplik sungguh mengerti.” gumamnya. “Mana ada orang bisa berjalan di atas air.

melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar. bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar. ”Dongeng itu hanyalah perlambang.” Justru karena itu. Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik. tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan. dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri. . akan mampu berjalan di atas air. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu. selain tentu saja perhatiannya terpusat. dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa. Namun. betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar. akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi. dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air. bukan hanya karena cara-caranya. tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu. ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya. sangat benar. sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.” pikirnya. bahwa dengan berdoa secara benar. bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar. siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan. ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar. Kiplik memang bisa membayangkan. pembayangan yang bagaimanapun. kebahagiaannya bertambah.mana?” Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru. ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai. dan waktunya terukur. gerakannya tepat. kepada siapa pun yang ditemuinya. betapapun masuk akalnya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan. bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. selain mencapai kebahagiaan. ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?” Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi. dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar. agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar. Sementara itu. ”Ah. dari kota ke kota. bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya. dari sungai ke laut. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu. yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Dari kampung ke kampung.” katanya. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. *** Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Namun. dari lembah ke gunung. sampai ke negeri- negeri yang jauh. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar. ”Izinkan kami mengikutimu Guru. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum . izinkanlah kami mengabdi kepadamu.” kata mereka. merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi. Guru Kiplik selalu menolaknya.Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu. itu hanya takhayul. Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya.

Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu. Guru Kiplik membayangkan. Namun. benar-benar tepat di tengah. karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan. yang konon terletak tepat di tengah danau. Bahkan. alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing. Setelah beberapa saat lamanya. sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas. Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik.” pikir Guru Kiplik. para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu. ”mereka berdoa dengan cara yang salah. pulau itu tidak akan bisa ditemukan. ”apalagi yang masih bisa kukatakan?” Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu. sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah. bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini. Namun.” pikirnya. sangat luas.” pikir Guru Kiplik. seperti lautan saja layaknya. sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa! ”Tetapi sayang. orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar.pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar. ”Jangan-jangan mereka pun mengira. ”Danau seluas lautan. karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas. . Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa. sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.” Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut. lagi. Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil.” pikir Guru Kiplik. Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar. selalu saja langsung salah lagi. begitu benar dan sangat benar . salah satu dari awak perahunya berteriak. Pada saat waktu untuk berdoa tiba. Baru saja selesai berdoa. telah begitu benar doanya. bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya. setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa. ”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu. matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. ”Guru! Lihat!” Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Namun. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air! Guru Kiplik terpana. Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.” katanya kepada para awak perahu. Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali. akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar. yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu. ”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang. mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri! ”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah. tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik. demikian pendapat Guru Kiplik.” pikir Guru Kiplik.

tombak. tampak sangat amat siap menggebuk dan menyabet. *) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa. tiada satu pun tiada membawa senjata. Ribuan. perampok. mendekati perahu sambil berteriak-teriak. barangkali lebih dari sepuluh ribu. kayu. maupun badik yang lekuk liku dan geriginya jelas dibuat agar ketika ditusukkan mampu menembus perut dengan mulus. tetapi bahkan berlari-lari di atas air? Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air. parang-golok-kelewang. Oktober 2009 / Kampung Utan.bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar. dan ketika ditarik keluar membawa serta seluruh isi perut itu tanpa dapat dibatalkan. alu. pentungan besi. sehingga mampu bukan hanya berjalan. ”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!” Ubud. dan pelacur. siap menyerbu perkampungan para pencuri. begitu tenang. sebut saja beribu-ribu orang baik- baik telah siap dengan segenap senjata tajam. pembunuh. Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol Ribuan orang baik-baik telah berkumpul di atas bukit. dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi. bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang. yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam. . Beribu-ribu orang baik-baik. Agustus 2010. mencincang dan membantai. rantai. linggis. yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang.

Pak Carik sendiri. karena memang penakut dan pengecut jika sendirian.” kata seseorang sambil mengacungkan pentungan. yang segera saja menjadi gempar. tepat pada saat hari menjadi gelap. Ia ditemukan terkapar di jalan keluar desa setelah hilang semalaman. “Siapa mereka. bagai tiada tujuan lain dalam hidup ini selain melakukan pembunuhan dan tiada lain selain pembunuhan. tanpa harus bernoda darah . ”Jika mereka masih tidak mau menyerahkan pemerkosa itu. Para penggali kapur yang berangkat pada pagi hari berembun segera membawanya kembali ke desa. telah dihinakan begitu rupa sehingga nyaris tak bisa menangis dan tak bisa berbicara. kembang desa sederhana. senjata tajam maupun senjata tumpul. Sebentar lagi. karena perasaan yang terbayang di wajahnya pun mustahil diterjemahkan. ayah dari korban yang tak bisa bersuara. Mirah? Siapa?” Pak Lurah yang berkumis melintang tampak begitu berang.” Disebutkan betapa anak perempuan Pak Carik telah diperkosa. “Katakan Mirah. Orang baik-baik yang sebelumnya tampak sebagai orang-orang yang selalu ketakutan. kaku beku membisu seribu bahasa. karena baginya penghinaan ini bukanlah hanya penistaan kepada seorang perawan umur 16 tahun yang diperkosa. bertanya terus sambil memaksa. Mirah. semua orang sibuk dengan alat-alat pembunuhan. mendadak bagai kerasukan setan ketika melebur dalam jumlah ribuan. Terdengar dentang parang saling diadukan seperti tiada sabar lagi untuk ditetakkan. katakan! Supaya aku tidak membunuh sembarang manusia!” Wajah Mirah sulit diceritakan. “perkampungan itu harus dibakar. yang telah disahihkan untuk memberlangsungkan pembinasaan. suara kelewang diasah pada batu basah demi jaminan betapa darah pasti akan tersemburkan. tetapi yang justru karena itu layak dipuja.memenggal dan menyembelih. Namun cerita para penggali kapur tentang kain dan kebayanya yang koyak moyak dan centang perenang. melainkan juga penghinaan kepada desa. telah disepakati menjadi waktu penyerbuan.

Sebetulnya belum jelas bagaimana Mirah bisa ditemukan terkapar pada pagi hari di tempat itu. Tidak jelas juga mengapa kecurigaan dan kesalahan harus dialamatkan kepada perkampungan para pencuri. mencari ikan di sungai. sampai mereka lupa sebelumnya orangtua mereka mendapatkan penghasilan darimana. dan sekadar berkebun di tengah hutan supaya ada yang bisa dimakan. Namun beberapa saat lagi. pembunuh. Sebagai penjaga keamanan ia tahu diri betapa selama ini hanya menjadi tertawaan para pencuri. tempat mereka melinggis dinding-dinding di bukit kapur. Mulai dari berburu dan menjerat binatang. jadi nenek moyang mereka. seseorang atau beberapa orang. lantas dibuang… Tepatnya lebih baik begitu. tentu mempertahankan kehidupan dengan segala cara. bagi orang-orang desa itu sudah lebih dari segala pengungkapan. supaya terdapat pihak yang bisa diganyang. diperkosa di tengah jalan itu. dan mengumpulkan bongkahannya yang menggelinding. melainkan percabangannya yang menuju ke atas. Jalan keluar itu memang terarah menuju perkampungan di bawah sebuah bukit kapur. bahkan sampai kepada orangtua mereka yang beberapa di antaranya masih hidup.segala. Bagi mereka yang belum pernah melakukan perjalanan keluar desa. anak gadis seperti Mirah pasti sudah berada di dalam rumah pada pukul enam sore. Di pegunungan kapur tidak ada sawah.” kata Pak Lurah kepada Jagabaya yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kata. harus menculiknya—dan pikiran semua orang memang Mirah itu pasti diculik. *** “Seandainya pun tidak ada peristiwa pemerkosaan ini. ribuan orang yang merupakan gabungan duapuluh desa di sekitar pegunungan kapur itu sudah akan menyerbu perkampungan. Untuk berada di sana. dijamin tidak pernah mengunyah nasi dan . tetapi penduduk desa tidak pernah menapakinya turun ke sana. dan pelacur yang menghuni perkampungan itu. Di desa terpencil seperti itu. Batu-batu kapur yang putih kekuning- kuningan telah lama menjadi sumber kehidupan mereka. perkampungan candala itu memang sudah lama harus dibakar. perampok.

sudah cukup bahagia dengan ubi. sedikit demi sedikit datang pula orang-orang dari luar desa. Dalam waktu empatpuluh tahun wajah pegunungan itu sudah berubah. karena tidak dianggap sebagai senyum keramahan melainkan senyum rayuan. dan sejumlah pekerjaan yang tidak begitu dipahami penduduk desa. yang jika tidak ikut menggali atau membuka warung makan bagi para pekerja. Namun pemandangan orang . ikut menyanyi. “Senyum rayuan beracun!” Kata orang-orang yang merasa wajib menjaga kesucian di setiap desa orang baik-baik. Di antara pekerjaan itu antara lain menyewakan pengeras suara dan televisi untuk menyanyi-nyanyi. tidak kurang dari duapuluh desa sampai hari ini hidup dari penggalian kapur.” ujar Pak Lurah berulang-ulang. “Ini saat yang tepat untuk membasmi mereka. Sebetulnya hanya para penggali kapur dari luar desa sajalah yang dalam kesepian dan keterasingan alam pegunungan kapur datang ke sana untuk melewatkan waktu. di antaranya ada pula yang menjadi perantara pembelian bongkahan batu-batu. Senyuman itu juga dipermasalahkan penduduk desa. separuhnya kini lebih terlihat sebagai dinding-dinding tegak lurus dan jurang-jurang baru yang terbentuk karena penggalian. Dengan datangnya truk-truk pengangkut bongkahan batu kapur. Apa yang semula tampak sebagai pegunungan dengan punggung bukit memanjang. Maka jalan setapak bisa juga berarti jalan setapak dengan jurang dalam di sisi kiri dan kanan … Pada jalan setapak seperti itulah Mirah ditemukan. dan hampir selalu tersenyum dengan amat sangat manis sekali. Ketika jalan aspal dibuat nun di balik pegunungan kapur. membuka kios rokok dan sampo untuk membersihkan rambut dari serbuk-serbuk kapur. dan dari jalan aspal itu muncul sejumlah truk yang bersedia membeli dan mengangkut bongkahan batu-batu kapur. Adapun mereka yang menyewa pengeras suara dan televisi itu dilayani perempuan pekerja yang menyediakan minuman.

Betapapun kali ini seperti terdapat kesepakatan tanpa perlu peresmian. Jagabaya itu. Memang benar. Pandangan matanya sungguh tanpa makna. “Lagipula.menyanyi dan tertawa-tawa rupanya memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi orang-orang yang merasa dirinya suci. Manusia yang bermata dan berhati tidak akan terlalu keberatan. Memang benar pula betapa tiada pernah ada bukti. yang sejak awal sudah selalu ragu. Sebetulnya tidak ada kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan mata seperti itu. ya kebencian yang tidak mungkin dicari alasannya. bagaikan mata itu terbuat dari kelereng layaknya. jika perlu bahkan tanpa alasan! Kebencian. karena kambing yang lenyap dari kandang tak meninggalkan jejak. dan mayat korban selalu merupakan buangan dari desa takdikenal yang tidak pernah menunjuk langsung siapa pembunuhnya. perampokan. Apalagi jika itu senyuman yang manis sekali. pulang dengan tangan hampa. dengan tugas meminta penyerahan sang pemerkosa. orang-orang yang berbeda. Mirah masih terpaku beku tanpa suara. . siapa bilang penduduk desa suatu hari tidak akan pernah tergoda?” Tentu saja senyum yang manis adalah senyum yang manis. Telah dikirimkan Jagabaya yang selalu gagal menjaga datangnya bahaya itu ke sana. Namun tergeletaknya anak Pak Carik di jalan keluar desa yang mengarah ke perkampungan itu bagai telah menyimpulkan sesuatu. adalah satu- satunya alasan itu sendiri… Orang-orang luar. bahkan pembunuhan. selalu saja kecurigaan terarah ke perkampungan itu. orang-orang yang tidak mungkin sepenuhnya dimengerti. menimbulkan kebencian karena selalu tampak menyanyi dan tertawa-tawa. bahwa perkampungan itu sudah waktunya dimusnahkan. jika suatu ketika secara suka rela merasa lebih baik tergoda sahaja. begal menyambar dan menghilang pada remang senja bagaikan bayangan. apabila ada pencurian.

Ada yang tersandung batu dan jatuh tertelungkup lantas mati terinjak ribuan penyerbu di belakangnya. “Pemerkosa? Tidak ada pemerkosa di kampung ini! Mungkin kami memang sebangsa candala. kami tidak takut mati. bangsa orang-orang yang menamakan dirinya orang baik-baik itu. Ada yang menahan lari karena takut mati tetapi terseret dan terpaksa melaju ke depan jua.“Apa kata mereka?” Jagabaya pun menirukan jawaban kepala perkampungan di bawah sana. karena apapun yang kami lakukan selalu kami pertanggungjawabkan dengan seluruh hidup kami!” Dalam keremangan. tetapi kalian rupanya lebih suka menganggap kami sebagai candala! Katakan kepada bangsamu. tetap saja terasa betapa wajah Pak Lurah merah dan padam. “Dasar bejad!” Ia mengangkat pedangnya bagaikan Drestajumena bersiap memimpin balatentara Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Perlu waktu sehari penuh untuk berkeliling dari desa ke desa. karena di kampung ini cinta macam apapun setelah dibagi rata masih selalu bersisa. tetapi kami sama sekali tidak perlu memperkosa siapapun di luar kampung ini untuk mendapatkan cinta. Langit yang tadi kemerah- merahan dan membara sekarang memang sudah gelap. sebagian besar untuk menutupi ketakutannya sendiri. baik kepada orang luar. . “Serbu!” Maka ribuan orang baik-baik dari duapuluh desa yang mengelilingi bukit bersama lurahnya masing-masing segera menyerbu ke bawah dengan senjata di tangan. apalagi kepada saudara candalanya sendiri! Tuduhan apalagi yang ingin ditimpakan kepada kami? Kami telah membuka warung makan dan kami telah membuka kios rokok maupun sampo maupun sabun untuk membasuh debu-debu kapur. meyakinkan setiap lurahnya untuk ikut membasmi kampung candala. Tidakkah kalian sadari betapa semua perempuan memang pelacur di kampung ini? Dan perempuan kampung ini sudah jelas senyumannya manis sekali. Mereka berlari dalam gelap sambil berteriak-teriak.

jika memang candala. betapa para candala. yang selalu terpinggirkan dari zaman ke zaman. meskipun dikeroyok orang baik-baik begitu banyaknya? Tidakkah telah sering mereka bicarakan juga. Tidakkah segenap orang baik-baik itu menyadari.Ada pula yang menyerbu dengan semangat tekad bulat seolah-olah memang membela keadilan dan kebenaran. dan setelah merapal ilmu halimunan bila perlu dapat menghilang bersama senja? Tidakkah ribuan orang baik-baik yang menyerbu bagaikan air bah ke bawah menuju perkampungan candela di pegunungan kapur itu taksadar. tentulah jauh lebih siap menghadapi pertempuran terbuka daripada mereka. tampak semua orang dengan wajah sungguh-sungguh telah bersiap menyambut penyerbunya. begitu manis. Para pelacur yang senyumnya manis. betapa tindakan mereka itu seperti bunuh diri sahaja? Tidakkah mereka sadari. pembunuh. Ada yang memegang batang kayu. Mereka tidak perlu berteriak-teriak dan hanya dengan saling memandang telah sangat siaga. kebal tubuh. ada yang tampak mengebutkan selendang dan ada pula yang menggenggam ratusan jarum. perampok. Jumlah mereka tidak sampai seratus orang. dan tiada lain selain candala. karena berita yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa Mirah putri Pak Carik telah diperkosa. Siapa lagi pelakunya jika bukan begundal dari kampung candala? *** Syahdan. tenung. ada yang memegang gagang sapu. dan ada pula yang cukup memegang sebatang lidi. . teluh. bagaikan tiada lagi yang lebih manis. meski jika diamati jelas tidak menguasai cara bertempur sama sekali. di perkampungan takbernama di tepi sungai yang mengalir dengan tenang dan berkelok yang selama ini dikenal sebagai kampung tempat bermukimnya para pencuri. dan pelacur. meskipun tak pernah dan tiada akan pernah dengan bukti nyata. tetapi wajah mereka tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Namun dalam kegelapan segala perbedaan hanya melebur dalam gelombang serbuan penuh amarah. Nyaris tidak ada seorangpun yang memegang senjata karena apapun yang dipegangnya bisa menjadi senjata yang sangat berguna. betapa para candala sebagai manusia memang digjaya dengan segala mantra sirep.

betapa batang kayu. sehingga matanya yang semula bagaikan kelereng itu kini tampak bersukma dan bibirnya bergetar seperti mau berbicara. setidaknya ratusan dari mereka dalam seketika? Begitulah. melarikannya ke jalan itu dan berusaha—ya. masih berusaha— memaksakan suatu kehendak yang tidak dipahaminya. Namun. bahwa yang telah menyambarnya ketika ia kembali dari sumur pada pagi buta. gagang sapu. Sudah terlambat bagi Mirah untuk menyampaikan. ribuan orang baik-baik yang sedang berteriak-teriak sambil berlari-lari itu. segalanya sudah terlambat. betapapun tidaklah pernah membayangkan. betapapun. “Serbuuuuuuuuu!” Teriakan membahana yang terdengar dari jauh itulah yang telah menggugah kembali kesadaran Mirah. Sabtu 1 Januari 2011. sembari melenting-lenting di atas kepala. tiada lain dan tiada bukan adalah anak Pak Lurah adanya… Kampung Utan. dan betapa ratusan jarum dalam genggaman akan melesat seketika bagaikan bermata untuk mencabut ratusan nyawa. ”Pokoknya gue empet ngerti nggak? Empeeeeeeet banget!” ”Kenape emang?” Tanya Ira. bagaimana selendang yang halus dan wangi itu akan dapat memecahkan kepala. Banjir darah akan membuat bukit kapur itu menjadi merah. akan memakan korban jiwa. Karangan Bunga dari Menteri Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini. dan sebatang lidi itu sekali digerakkan.setaksadartaksadarnya. ”Empeeeeeeeeeetttt banget!!” . sohibnya. 23:23.

hmm. Hueeeeeekkk!” Perutnya mual. di gedung pertemuan termewah di Jakarta. ”Bunting pale lu botak! Gue ude limapulu. ketika menteri yang rambutnya tak boleh tertiup . Ia belum lagi membuka mulut. begitu mual. Seorang sekretaris tua. tau?” ”Yeeeeeee! Mane tau elu termasuk keajaiban dunie!” Usia 50. ”Bikin muntah?” ”Yo-i! Bikin muntah…. Tadi pun belum-belum ia sudah tampak seperti mau muntah di wastafel. Siti pernah diajari caranya menulis naskah sandiwara dalam eks-kul. seperti baru sekarang ia mengenal sisi yang membuatnya bikin muntah dari suaminya. bagaikan tiada lagi yang bisa lebih mual. 25 tahun perkawinan. ”Bagaimana tidak bikin muntah coba!” ”Nah! Pegimane?” *** Waktu masih SMU. jadi sedikit-sedikit ia bisa menggambarkan adegan di kantor seorang menteri seperti berikut.Ah elu! Empat-empet-empat-empet aje dari tadi! Empet kenape Sit?” Di tengah pesta nikah putrinya. membawa tumpukan surat yang sudah dipilahnya ke ruangan menteri. seorang perempuan dengan seragam pegawai negeri yang seperti sudah waktunya pensiun. Siti merasa perutnya mual. Meski sebegitu jauh tiada sesuatu pun yang bisa dimuntahkannya. ”Emang elu bunting Sit?” Ira main ceplos aje ketika melihatnya.

Sudah lima menteri silih berganti memanfaatkan pengalamannya. tapi justru waktu malam itulah sebenarnya gue bisa ngelembur dengan agak kurang gangguan. Ia terus saja mengomel sambil menengok tumpukan kartu undangan yang diserahkan itu.” sahut sekretaris tua itu dengan cuek. kapan bisa mengejar Jepang?” Perempuan tua itu tersenyum dingin sembari memungut kartu-kartu undangan pernikahan yang berserakan di mana-mana. ”Heran. Bapak itu seperti pura-pura tidak tahu saja…. ”Hmmmhh! Lagi-lagi undangan kawin?” ”Kan musim kawin Pak. Satu per satu dilemparkannya dengan kesal. kite-kite disuru dateng setiap kali ada yang anaknya kawin.” Belum habis tumpukan kartu undangan itu ditengok. tapi wajahnya tak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak diketahuinya. yang tentu saja tidak bisa berjalan jika tidak ditandatanganinya. doi sudah empet dengan basa-basi. ”Tidak tahu apa?” Menteri itu memang seperti bertanya. kalau menteri- menterinya nggak kerja lembur. ”Musim kawin? Jaing kali’!” Namanya juga menteri reformasi. Negeri kayak gini. ”Masa’ Bapak tidak tahu?” ”Coba Ibu saja yang bilang!” . Ngepet bener. bukan sanak bukan saudara. ”Ah. cuma kenal gitu-gitu aja. sang menteri menaruhnya seperti setengah melempar ke mejanya yang besar dan penuh tumpukan berkas proyek. bukan sahabat apalagi kerabat. Mereka pikir gue kagak punya kerjaan apa ya? Memang acaranya selalu malam. sehingga ada kalanya ia memang seperti ngelunjak.angin itu sudah berujar dengan kesal melihat tumpukan surat tersebut.

Perempuan berseragam pegawai negeri itu hanya tersenyum bijak dan
menggeleng. Pengalaman melayani lima menteri sejak zaman Orde Baru,
membuatnya cukup paham perilaku manusia di sekitar para menteri. Baginya,
menteri reformasi ini pun tentunya tahu belaka, mengapa sebuah acara keluarga
seperti pernikahan itu begitu perlunya dihadiri seorang menteri, bahkan kalau
perlu bukan hanya seorang, melainkan beberapa menteri!

Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi menteri itu sudah bergegas lari ke toilet
pribadinya. Dari luar perempuan berseragam pegawai negeri itu seperti
mendengar suara orang muntah.

”Hueeeeeeekkkk!!!”

Perempuan itu masih tetap berada di sana ketika menteri tersebut muncul
kembali dengan mata berair.

”Bapak muntah?”

Menteri yang kini rambutnya seperti baru tertiup angin kencang, meski hanya
ada angin dari pendingin udara di ruangan itu, membasuh air di matanya dengan
tissue.

”Sayang sekali tidak,” jawabnya, ”kok masih di sini Bu?”

”Kan Bapak belum bilang mau menghadiri undangan yang mana.”

”Hadir? Untuk apa? Cuma foto bersama terus pergi lagi begitu,” kata menteri
itu seperti ngedumel lagi.

“Jadi, seperti biasanya? Kirim karangan bunga saja?”

”Iyalah.”

”Bapak tidak ingin tahu siapa-siapa saja yang mengundang?”

”Huh!”

Sekretaris tua itu segera menghilang ke balik pintu. Menteri itu menggeleng-
gelengkan kepala tak habis mengerti. Kadang-kadang orang yang mengawinkan

anak ini tak cukup hanya mengirim undangan, melainkan datang sendiri melalui
segala saluran dan berbagai cara, demi perjuangan untuk mengundang dengan
terbungkuk-bungkuk, agar bapak menteri yang terhormat sudi datang ke acara
pernikahan anak mereka.

Apakah pengantin itu yang telah memohon kepada orangtuanya, agar pokoknya
ada seorang menteri menghadiri pernikahan mereka?

”Jelas tidak!”

Menteri itu terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia merasa bersyukur karena
sekretaris tua yang tiba-tiba muncul lagi itu tidak mendengarnya.

”Apa lagi Bu?”

”Karangan-karangan bunga untuk semua undangan tadi….”

”Ya kenapa?”

Menteri itu melihat sekilas senyum merendahkan dari perempuan berseragam
pegawai negeri tersebut.

”Mau menggunakan dana apa?”

Menteri itu menggertakkan gerahamnya.

”Pake nanya’ lagi!”

***

Seperti penulis skenario film, Siti bisa membayangkan adegan-adegan
selanjutnya.

Pertama tentu pesanan kepada pembuat karangan bunga. Karangan bunga?
Hmm. Maksudnya tentu bukan ikebana yang artistik karena sentuhan rasa, yang
sepintas lalu sederhana, tetapi mengarahkan pembayangan secara luar biasa.
Bukan. Ini karangan bunga tanpa karangan. Tetap sahih meskipun buruk rupa,
karena yang penting adalah tulisan dengan aksara besar sebagai ucapan selamat
dari siapa, dan dari siapa lagi jika bukan dari Menteri Negara Urusan

Kemajuan Negara Bapak Sarjana Pa.B

(Pokoknya Asal Bergelar), yang berbunyi SELAMAT & SUCCESS ATAS
PERNIKAHAN PAIMO & TULKIYEM, putra-putri Bapak Pengoloran Sa.L
(Sarjana Asal Lulus) Direktur PT Sogok bin Komisi & Co.

Lantas karangan bunga empat persegi panjang yang besar, memble, hanya
mengotor-ngotori dan memakan tempat, boros sekaligus mubazir, dalam jumlah
yang banyak dari segala arah,

berbarengan, beriringan, maupun berurutan, akan berdatangan dengan derap
langkah maju tak gentar diiringi genderang penjilatan, genderang ketakutan
untuk disalahkan, dan genderang basa-basi seperti karangan bunga yang datang
dari para menteri, memasuki halaman gedung pernikahan yang telah menjadi
saksi segala kepalsuan, kebohongan, dan kesemuan dunia dari hari ke hari
sejak berfungsi secara resmi.

Satu per satu karangan bunga itu akan diurutkan di depan atau di samping kiri
dan kanan pintu masuk sesuai urutan kedatangan, agar para tamu resepsi bisa
ikut mengetahui siapa sajakah kiranya yang berada dalam jaringan pergaulan
sang pengundang.

”Bukan ikut mengetahui,” pikir Siti, ”tapi diarahkan untuk mengetahui.
Tepatnya dipameri. Ya, pamer. Karangan bunga untuk pamer.”

Siti jadi mengerti, tak jadi soal benar jika tidak dihadiri menteri, asal para
tamu melihat sendiri, bahwa memang ada karangan bunga dari menteri. Ini juga
berarti para pengundang seperti berjudi, tanpa risiko kalah sama sekali, karena
meski yang diundang adalah sang menteri, yang datang karangan bunganya pun
jadi!

Begitulah, saat karangan-karangan bunga itu datang, Siti telah mengaturnya
sesuai urutan kedatangan. Ia mencatat dari siapa saja karangan bunga itu
datang, karena ia merasa sepantasnyalah kelak membalasnya dengan ucapan
terima kasih, atau mengusahakan datang jika diundang pihak yang mengirim
karangan bunga, atau setidaknya mengirimkan karangan bunga yang sama-sama
buruk dan sama-sama mengotori seperti itu.

Sinta. sahabat Siti semasa SMU. memerintahkan sejumlah pekerja untuk mengambilnya. yang proyek-proyek kementeriannya sedang ditangani perusahaan suaminya itu. meski hanya tanda tangan menteri dapat membuat proyeknya menggelinding. Siti tentu saja tahu suaminya telah mengundang tiga orang menteri. Di sana memang hanya tertulis: dari Sinta. Itulah. setelah 25 tahun pernikahan. karena datangnya cukup siang. ”Yang ini ditaruh di mana Pak?” Siti melihat seorang pekerja bertanya tentang karangan bunga dari Sinta. Sama sekali bukan. berada jauh di urutan belakang. yang agak gusar melihat tiga karangan bunga dari tiga menteri saling terpencar dan berada jauh dari pintu masuk. bagi Siti pun karangan bunga dari menteri itu tidak harus lebih istimewa dari karangan bunga lainnya. setiap tamu yang datang akan menyaksikan betapa terdapat kiriman karangan bunga dari tiga menteri.”Ah. tetapi sudah jelas bahwa menteri yang mana pun bukanlah kawan apalagi sahabat dari suaminya itu. Namun ketika suaminya datang memeriksa. Suaminya hanya kenal baik dengan para pembantu menteri tersebut. Maka. Ia mengawasi sendiri. sahabatnya yang sederhana. Mengirim karangan bunga karena merasa dekat dan betul-betul tidak bisa datang. Suaminya. bukan nama-nama dengan embel-embel jabatan. Dengan terharu. nama perusahaan atau kementerian dan gelar berderet. agar terjamin bahwa ketika melewati pintu masuk. Siti menaruh karangan bunga dari Sinta di dekat pintu. masih ada yang ternyata belum dikenalnya. Tentu pernah juga mereka berdua berada dalam suatu rapat bersama orang-orang lain. mengirim karangan bunga seperti itu. Siti terpana melihat perilakunya. antara lain juga karena tiba paling awal. nyaris di dekat pintu masuk ke tempat parkir di lantai dasar. cukup sederhana untuk mengira karangan bunga empat persegi panjang seperti itu indah. dan pasti telah menyisihkan uang belanja agar dapat mengirimkan karangan bunga itu kepadanya. . dalam pesta pernikahan putri mereka. Tiga karangan bunga dari menteri. dari Sinta!” Ternyata ada juga yang tulus.

hanya bergerak. apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat. secercah cahaya pun cukuplah untuk melihat segala sesuatu yang bergerak. saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan. ”Emang elu bunting. hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas. tangannya hanya akan bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah otak. Suaminya juga minta dipotret di depan ketiga karangan bunga itu! Ia merasa mau muntah.”Terserahlah di mana! Pokoknya jangan di sini!” Siti melihat suaminya dari jauh. yang mana pun takkan lepas dari sambaran tombaknya yang sebat. tiada lain selain bergerak. 08:30. Memang hanya langit. Mayat Yang Mengambang Di Danau Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan. nyaris seperti berbisik. ketika hanya dengan sudut matanya pun ia tahu mana bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. Sabtu 3 September 2011. Ya. . ”Hueeeeeeeeeekkkk!!!” *** Itulah yang terjadi saat Ira bertanya. menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan. Sit?” Kampung Utan. sangat amat pelan. berombongan maupun terpisah dan tersesat. karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan.

Namun Barnabas juga tahu. Tentu ia mengenal ikan seperti mengenal dirinya sendiri. Ia telah memperhatikan. sehingga memang tak sadar bahaya mengancam. Bahkan Barnabas tak pernah lagi makan ikan yang diburunya itu. mengapung seperti kayu. naluri ikan terhadap bahaya bekerja dengan kepekaan tinggi. Ikan yang terlepas dari rombongan dan kebingungan kadang lebih menarik perhatian Barnabas. sehingga tidak mencukupi untuk berpikir. karena memang tak pernah membelinya. betapa ikan dalam rombongan akan lebih kurang berhati-hati daripada ikan yang berenang sendirian. memburu ikan. tak kalah sedap digoreng. yang kali ini tampaknya masih akan bertahan cukup lama. untuk pada saat yang tepat menombaknya tanpa ikan itu sempat mengelak. mungkin karena merasa aman bersama banyak ikan. memang harus melesatkan tombaknya lebih cepat dari bekerjanya naluri ikan. tetapi Barnabas beranggapan minyak goreng bukanlah bagian dari kehidupannya. menyelam seperti pemberat— dan sekali tangannya bergerak. setidaknya dua puluh sampai tiga puluh ikan yang bernasib malang di tangannya sudah tergantung di salah satu tiang dermaga. persembahan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan. karena langit mendung dan mega hitam bergumpal-gumpal. besarnya bisa sebesar betis. Jadi Barnabas pun tetap harus menipunya. tanpa ikan-ikan itu harus tahu betapa jiwanya sedang terancam. tanpa harus melirik ke permukaan. justru karena otak ikan sangat amat kecil. pikirnya. Dari dalam air. Jika langit yang keungu-unguan itu telah menjadi lebih terang. bukan? Barnabas terus berenang di dalam air nyaris seperti ikan.Kacamata yang digunakannya untuk menyelam memang sudah terlalu tua dan agak kabur jika digunakan untuk melihat dalam keremangan. Namun apalah artinya hujan rintik-rintik bagi seseorang yang menyelam dan memburu ikan. Ia suka mengintai dan mengincarnya dengan hati-hati. Ikan-ikan tak berotak. Makanya ia pun berenang seperti ikan. Jumlah yang cukup guna menyambung . pantaslah begitu mudah ditombak. sedap jika dibakar. tahulah Barnabas hujan rintik telah menitik di seluruh permukaan danau. Ikan merah artinya ikan gabus merah. Ikan gabus artinya ikan khahabei. kadang tanpa kentara memojokkannya.

jadi ke manakah mereka pergi hari ini? Bukanlah karena hujan maka ikan-ikan tidak terlihat. karena perahu bolotu tidak bermesin tempel. atau dari pulau ke daratan. tentu kecuali. Mungkinkah air danau dahulu tidak seperti air danau sekarang? Lebih jernih karena memang lebih bersih dan mata penyelam tak harus menjadi pedas meskipun menyelam berlama-lama? Barnabas tentu ingat betapa pada masa lalu di danau itu segala sesuatunya tidaklah sama dengan sekarang. Langit dan bumi bersenyawa tanpa peduli detak arloji—dan Barnabas lebih suka menjadi bagian langit maupun bagian bumi daripada arloji. Kadang penumpang bantu mendayung. tiga hari. tanpa peduli apakah itu cepat ataukah lambat karena memang tiada waktu yang terlalu tepat maupun terlambat. Dari pulau ke pulau. pikirnya lagi. Dulu tidak ada raungan Johnson. sedangkan ia hanya ingin jadi pemburu ikan dan tiada lain selain berburu ikan seperti yang selama ini dianggapnya sebagai panggilan. . dua hari. orang-orang menggunakan bolotu yang hanya perlu didayung. pada hari Minggu. tetapi tanpa bantuan penumpang pun.hidup untuk sehari. perjalanan dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lain di dalam danau yang dikelilingi perbukitan itu tetap bisa berlangsung. seminggu. Namun tetap saja Barnabas merasa jengkel karena ini membuatnya terpaksa memburu ikan lebih lama. karena pada hari itu Barnabas beribadah. karena Barnabas setiap harinya menyelam jua—kecuali. karena memasang bubu bukanlah berburu dan memasang jala juga bukanlah berburu. mungkin juga tiada sebab apa pun selain sedang berombongan mencari makan di tempat lain dengan moncongnya yang tak habis bergerak memamah-mamah. pikir Barnabas. Dari masa kecil diketahuinya orang-orang menyelam tanpa kacamata dan bahkan bisa mendapatkan ikan lebih banyak darinya sekarang. Ia memang tak suka memasang bubu dan tak juga suka memasang jala seperti banyak orang lainnya di pulau-pulau di dalam danau. tak penting benar berapa lama. Pada hari apa pun ikan-ikan tidak beribadah. pikirnya pula. Ada orang ingin jadi pendeta. aku ingin jadi pemburu ikan.

tapi membiarkan darah mengotori bumi….Maka tiada yang dikhawatirkan Barnabas jika pagi ini ikan-ikan seperti bersembunyi. bagaikan tiada lagi yang lebih biasa. setiap orang harus cukup bersabar menantikan makhluk yang akan menyerahkan jiwa hari ini demi kelanjutan hidup pembunuhnya. batinnya. yang putus sekolah teologia. pernah mengucapkan suatu kata yang tak dimengertinya. apa maknanya Klemen tidak melanjutkan sekolah untuk menjadi pendeta. lantas menggorengmu bagi santapan para wisatawan yang akan membuang tulang- tulang dan kepalamu untuk menjadi rebutan ikan-ikan emas di kolam yang tak tahu menahu betapa cepat atau lambat mereka juga segera akan jadi santapan dan tulang-tulang serta kepalanya juga akan dilempar sebagai pertunjukan kebuasan dunia yang tampaknya justru meningkatkan selera makan. ”Homo homini lupus…. meninggalkan sekolah di kota untuk selama-lamanya. membuang sisik dan isi perutmu. karena pada akhirnya aku akan membawamu ke pasar dan pedagang ikan akan segera memajang dirimu di meja kayu murahan. tempat setiap bukit berpuncak salib. menyia-nyiakan tabungan hasil berpuluh-puluh tahun berburu ikan. Aku sabar menunggumu ikan. membelimu. Apalah artinya menahan lapar sejenak untuk hidup lebih lama? Nikmatilah hidupmu yang amat sementara itu ikan. Di negeri danau. tempat koki restoran di tepi danau itu akan menunjukmu. Klemen anaknya.” Saat itu Barnabas memang bertanya. begitu biasa. Namun inilah jawaban Klemen anak tunggalnya itu. ”Apalah artinya memuja langit. Barnabas tiba-tiba teringat. Langit memang gelapnya agak lebih lama karena mendung dan hujan dan tentu saja ini harus dianggap biasa saja. tempat kecipak air danau selalu terdengar dari bawah lantai papan dari malam ke malam.” Selama tinggal di rumah mereka. menjadi pendeta adalah kehidupan terpuji. Klemen tampak sering tepekur. Ibunya sudah lama meninggal karena cacing pita dan mereka hanya hidup . yang pada suatu hari tiba- tiba saja muncul kembali dari balik kabut di atas danau sambil mendayung bolotu. dan sungguh Barnabas sama sekali tiada keberatan karenanya.

sampai Klemen pergi ke kota. dan kedalaman di balik permukaan danau tempatnya memburu ikan-ikan yang baginya merupakan segala dunia yang lebih dari cukup. Ditambah khotbah para pendeta yang menyejukkan setiap akhir pekan dan pesta rakyat dari segenap pulau setiap tahun. atas restu pendeta. dan syidos tahu persis siapa pelaku penembakan di gidinya. Negerinya hanyalah sebatas danau dengan tiga puluhan pulau yang dikelilingi tebing serba terjal dan meliuk berteluk-teluk itu. Jangan percaya omongan para petinggi munafik…. *** Hujan tampak menderas dan ketika Barnabas mengambil napas di permukaan danau memang . seragamnya sama dengan sagangrod ini. bahwa pendeta yang tidak bicara tentang kemerdekaan gerejanya akan sepi. bukit-bukit menghijau. senjatanya yang beda. beberapa hongibi. bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya data nama-nama pelaku penembakan. Namun Barnabas merasakan perubahan yang terjadi belakangan ini. Mereka adalah (self-censorship oleh pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede nyalabi. kami media tinggal tunggu siapa otoritas yang berani sebut siapa mereka. itu semua sudah lebih dari apa pun yang bisa dimintanya.berdua saja. tapi kudu hati-hati. ”Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara. Aku masih di hongyeb. Ini informasi A1. Klemen pernah membacakan pesan pada benda kecil yang sering digunakannya pula untuk bicara. yang telah memberikan kepadanya mega-mega terindah di langit biru. untuk belajar menjadi pendeta.” katanya. Ia tidak pernah tahu dan tidak butuh apa pun yang lain selain cakrawala negeri danaunya itu. Barnabas sungguh tak mengerti apa yang harus dikatakannya. ”benarkah sudah cukup kita hanya berdoa?” Barnabas bukan tak mendengar orang-orang berbicara dengan nada rendah tentang penembakan dan kerusuhan di berbagai tempat lainnya.

Setidaknya di dekat permukaan ini. Maka Barnabas menyelam. ikan gastor. batin Barnabas. Perutnya terasa agak lapar tetapi tenaganya sama sekali belum berkurang. ikan gabus hitam yang dahulu berlimpah kini hanya .sepanjang mata memandang hanyalah dunia yang kelabu karena tirai hujan dengan latar belakang bayangan punggung perbukitan di kejauhan. ikan gabus merah. tetapi jika hanya membawa sepuluh atau lima belas pun tidak ada yang harus disesalinya sama sekali. ikan gete-gete besar dan kecil. mengingatkan Barnabas kepada dirinya. Memang banyak hal tak dimengertinya pula dari gagasan-gagasan Klemen. tak hanya memakan telur-telur ikan gabus. keberbedaan yang mungkin menurun kepada Klemen. Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu. menyelam. Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan seli. Bahkan jika ikan yang ditombaknya cukup besar— dan ikan-ikan terbesar suka menyendiri—maka seekor atau dua ekor pun justru akan dibayar lebih tinggi daripada sepuluh ikan yang biasa. Manusia kadang masih seperti ikan. ikan-ikan tak tahu kapan akan mati. tetapi juga udang dan jengkerik . Ia bisa membawa ikatan dua puluh sampai tiga puluh ekor ikan ke pasar. seperti ikan gabus Toraja. pikirnya. Namun gagasan tentang ikan besar yang menyendiri ini. yang ternyata lebih suka memakan telur ikan gabus asli dari danau itu maupun ikan-ikan lainnya. Di danau itu telah dimasukkan ikan dari tempat asing. anak-anak ikan gabus. yang memisahkan dirinya secara alamiah karena tak dapat lagi berombongan ke sana kemari dengan ikan-ikan kecil meskipun dari jenisnya sendiri. dan di antara pemburu yang biasanya bekerja siang atau malam. ke tempat ikan besar biasanya menyendiri. hanyalah Barnabas yang selalu bekerja tepat menjelang fajar merekah—jelas membuatnya berbeda. dan menyelam semakin dalam. apalagi ketika ia bicara tentang pernyataan untuk merdeka…. tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya. Ikan gabus asli yang disebut khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam. tetapi pagi ini tampaknya belum ada yang akan mati. Sedikit pemburu di antara penjala dan pemasang bubu. Ya. dan ikan-ikan kecil lain.

yang . Namun di antara kepulan lumpur pekat Barnabas merasakan sesuatu datang dari dasar danau dan ia segera menghindarinya. termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur. dan sekarang hanya enam belas jenis. Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya. sesuatu yang mengambang karena gerakan ikan khahabei itu telah melepaskan keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau. di dasar danau ini tak dapat juga memperlihatkan sesuatu kepada Barnabas. bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar danau. Tak urung. Seekor ikan khahabei besar yang waspada berkelebat. Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih terang dari kekelabuan dalam hujan. ikan nila. Tetangganya menyampaikan kadang ada orang datang bertanya-tanya tentang Klemen—bukan. ketika beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan pada tengah malam. Ia terkesiap dan melepaskan dirinya dari kepulan lumpur. matanya terpaku kepada sosok itu. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan. dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis ikan. Dari balik kacamata selamnya yang buram. Mereka yang terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala sesuatunya sendirian. Barnabas tahu benar. melesat dan menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan sesosok mayat. Tempat mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan mata merah. Barnabas menyelam makin dalam. ikan tambakan. Sudah beberapa hari Klemen menghilang. mereka bukan sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal sejak dilahirkan. mengepulkan lumpur yang segera saja menutupi pandangan. Ikan makan ikan. tetapi ikan kehilo semakin susah dicari.tertangkap dalam jumlah sedang. yang masih banyak tinggal ikan-ikan hewu atau ikan pelangi. ikan sepat siam. itu pun tinggal sembilan jenis yang asli. ikan nilem. menyentuh tubuhnya juga dalam perjalanan ke permukaan danau. dan ikan mas. mungkin karena makin jauh bersembunyi. mungkin juga memang tinggal sedikit sekali. Barnabas tidak dapat melihat apa pun. apakah manusia tidak memakan manusia? Barnabas tidak terlalu peduli apakah ia pernah menjawab pertanyaannya sendiri.

Di antara deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di semua pulau. dan Insiden (roman). Amerika Serikat. . Pada 2014. Sepotong Senja untuk Pacarku. Dia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau. Angin keras menyapu seluruh permukaan danau. Jazz. 19 Juni 1958. dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih. dan Ketika Jurnalisme Dibungkam. meskipun tidak terlalu jelas. Sastra Harus Bicara(kumpulan esai). Di permukaan itu hujan bukan semakin mereda tetapi menderas. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah. umur 57 tahun) [2]adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan kaki mayat itu terikat. dan Negeri Senja. ”Klemeeeeeeeennnn!” Jayapura. terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau. Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen). Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam. Wisanggeni—Sang Buronan. dia meluncurkan blog bernama PanaJournal - www.com tentang human interest stories bersama sejumlah wartawan dan profesional di bidang komunikasi. Biola tak berdawai.perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di permukaan danau. sehingga air hujan yang turun dari langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang melambai-lambai. Parfum.panajournal. 12-14 November 2011 Tentang Penulis Seno Gumira Ajidarma (lahir di Boston. Kitab Omong Kosong.

Karena kehabisan uang. seorang guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada [3]. ibunya mengirim tiket untuk pulang. karya pengarang asal Jerman Karl May. Maka.Seno Gumira Ajidarma adalah putra dari Prof. M.S. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Selama tiga bulan. Tapi. dengan sepatu mocasin. Tapi. Tapi. komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat.Dia juga ikut teater Alam pimpinan Azwar A. menyeberang sungai. Seperti di film-film: ceritanya seru. Dr.N selama 2 tahun. lain ayah. naik kuda. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah . sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. lalu ke Sumatera. Ketika SMA.A Sastroamidjojo. dia pun mengembara mencari pengalaman. dia meminta uang kepada ibunya. Seno tidak mau melanjutkan sekolah. Teman-teman Seno mengatakan Seno sebagai penyair kontemporer. rumah orangtuanya. Tertarik puisi-puisi karya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung. ia mengembara di Jawa Barat. Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. ia sengaja memilih SMA Kolese De Britto yang boleh tidak pakai seragam. lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache. Seno pulang dan meneruskan sekolah. Setelah lulus SMP. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM).

Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996). hura-hura. menikah. Kesibukan Seno sekarang adalah membaca. bersama Linda Christanty dan Kris Budiman. Buku kumpulan cerpennya. bisa bicara. Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. 1997. Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater. dan pada tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta. Pendidikan Formal . Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Baru saja ia membuat teater. rambut boleh gondrong. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995). jurusan sinematografi. Penembak Misterius (1993). Pada usia 19 tahun. menulis. [4] Juga kini ia membuat komik. nyentrik. Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Pada tahun 2008 ia. antara lain: Manusia Kamar (1988). [3] Dia menjadi seniman karena terinspirasi oleh Rendra yang santai. memotret. Saksi Mata (l994). Pada tahun 1987. Berkat cerpennya Saksi Mata. Seno bekerja sebagai wartawan. jalan-jalan. Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang[ (2000). selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Seno mendapat Sea Write Award.sastra Horison. didapuk menjadi juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Fakultas Film & Televisi. Institut Kesenian Jakarta •2000 – Magister Ilmu Filsafat. antara lain •1987 – SEA Write Award •1997 – Dinny O’Hearn Prize for Literary •2005 – Khatulistiwa Literary Award •2012 – Ahmad Bakrie Award (tapi dia menolak) [5] . Universitas Indonesia •2005 – Doktor Ilmu Sastra. Universitas Indonesia Penghargaan yang pernah di peroleh.•1994 – Sarjana.

Document Outline 9 Cerpen Seno Daftar Isi : Cintaku Jauh di Komodo* Rembulan dalam Cappuccino Gerobak Cinta di Atas Perahu Cadik Ibu yang Anaknya Diculik Itu Dodolitdodolitdodolibret Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol Karangan Bunga dari Menteri Mayat Yang Mengambang Di Danau Cintaku Jauh di Komodo* Rembulan dalam Cappuccino Gerobak Cinta di Atas Perahu Cadik Ibu yang Anaknya Diculik Itu Dodolitdodolitdodolibret Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol Karangan Bunga dari Menteri Mayat Yang Mengambang Di Danau Pendidikan Formal Penghargaan yang pernah di peroleh. antara lain .