Tata Laksana Hipermesis Gravidarum

Penatalaksanaan utama hiperemesis gravidarum adalah rehidrasi dan penghentian
makanan peroral. Pemberian antiemetik dan vitamin secara intravena dapat dipertimbangkan
sebagai terapi tambahan.

Tata Laksana Awal
Pasien hiperemesis gravidarum harus dirawat inap di rumah sakit dan dilakukan
rehidrasi dengan cairan natrium klorida atau ringer laktat, penghentian pemberian makanan
per oral selama 24-48 jam, serta pemberian antiemetik jika dibutuhkan. Penambahan glukosa,
multivitamin, magnesium, pyridoxine, atau tiamin perlu dipertimbangkan. Cairan dekstrosa
dapat menghentikan pemecahan lemak.Untuk pasien dengan defisiensi vitamin, tiamin
100mg diberikan sebelum pemberian cairan dekstrosa. Penatalaksanaan dilanjutkan sampai
pasien dapat mentoleransi cairan per oral dan didapatkan perbaikan hasil laboratorium.

Pengaturan Diet
Untuk pasien hiperemesis gravidarum tingkat III, diberikan diet hiperemesis I.
Makanan yang diberikan berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama
makanan tetapi 1-2 jam setelah makan. Diet hiperemesis kurang mengandung zat gizi, kecuali
vitamin C, sehingga diberikan hanya selama beberapa hari. Jika rasa mual dan muntah
berkurang, pasien diberikan diet hiperemesis II. Pemberian dilakukan secara bertahap untuk
makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Diet
hiperemesis II rendah dalam semua zat gizi, kecuali vitamin A dan D. Diet hiperemesis III
diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Pemberian minuman dapat diberikan
bersama makanan. Diet ini cukup dalam semua zat gizi, kecuali kalsium.

Terapi Alternatif
Terapi alternatif seperti akupunktur dan jahe telah diteliti untuk penatalaksanaan mual
dan muntah dalam kehamilan. Akar jahe (Zingiber officinale Roscoe) adalah salah satu
pilihan nonfarmakologik dengan efek yang cukup baik. Bahan aktifnya, gingerol, dapat
menghambat pertumbuhan seluruh galur H. pylori, terutama galur Cytotoxin associated gene
(Cag) A+ yang sering menyebabkan infeksi. Empat randomized trials menunjukkan bahwa
ekstrak jahe lebih efektif daripada plasebo dan efektivitasnya sama dengan vitamin B6. Efek
samping berupa refluks gastroesofageal dilaporkan pada beberapa penelitian, tetapi tidak

seperti perdarahan retina atau hambatan gerakan ekstraokular. persalinan preterm. penurunan kesadaran berat. dan glaukoma sudut tertutup. seperti fenotiazin dan benzamin. Terapi stimulasi saraf tingkat rendah pada aspek volar pergelangan tangan juga dapat menurunkan mual dan muntah serta merangsang kenaikan berat badan. berat badan lahir rendah. Oleh karena itu. tetapi metoklopramid memiliki efek samping mengantuk dan pusing yang lebih ringan. Suplementasi dengan tiamin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berat hiperemesis. yaitu Wernicke’s encephalopathy.5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam sebagai farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif. Tata Laksana Farmakologis Pemberian obat secara intravena dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk. penyakit kardiovaskuler berat. klorpromazin menyembuhkan mual dan muntah dengan cara menghambat postsynaptic mesolimbic dopamine receptors melalui efek antikolinergik dan penekanan reticular activating system. telah terbukti efektif dan aman bagi ibu. metoklopramid dan prometazin intravena memiliki efektivitas yang sama untuk mengatasi hiperemesis.ditemukan efek samping signifikan terhadap keluaran kehamilan. Fenotiazin atau metoklopramid diberikan jika pengobatan dengan antihistamin gagal. kejang yang tidak terkendali. Antiemetik seperti proklorperazin. Namun. Dalam sebuah randomized trial. atau kematian perinatal. metoklopramid memiliki efek samping tardive dyskinesia. Obat-obatan tersebut dikontraindikasikan terhadap pasien dengan hipersensitivitas terhadap golongan fenotiazin. Antagonis reseptor 5-hydroxytryptamine3 (5HT3) seperti ondansetron mulai sering digunakan. hanya didapatkan sedikit informasi mengenai efek terapi antiemetik terhadap janin. antihistamin dan agen-agen prokinetik. empat kali sehari. Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah vitamin B6 (piridoksin). penggunaan selama lebih dari 12 minggu harus dihindari. Prochlorperazine juga tersedia dalam sediaan tablet bukal dengan efek samping sedasi yang lebih kecil. Komplikasi ini jarang terjadi. depresi sistem saraf pusat. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12. Dosisnya adalah 250 mg kapsul akar jahe bubuk per oral. tetapi perlu diwaspadai jika terdapat muntah berat yang disertai dengan gejala okular. prometazin. Studi kohort telah menunjukkan bahwa penggunaan metoklopramid tidak berhubungan dengan malformasi kongenital. Antiemetik konvensional. tetapi informasi mengenai penggunaannya dalam kehamilan masih terbatas. tergantung durasi pengobatan dan total dosis kumulatifnya. Namun. .

tetapi sekarang jarang digunakan karena risiko pemanjangan interval QT dan torsades de pointes. Metilprednisolon lebih efektif daripada promethazine untuk penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan. Hanya sedikit bukti yang menyatakan kortikosteroid efektif. namun tidak didapatkan perbedaan dalam tingkat perawatan rumah sakit pada pasien yang mendapat metilprednisolon dengan plasebo. Droperidol efektif untuk mual dan muntah dalam kehamilan. Pemeriksaan elektrokardiografi sebelum. selama dan tiga jam setelah pemberian droperidol perlu dilakukan. penggunaan glukokortikoid direkomen-dasikan hanya pada usia gestasi lebih dari 10 minggu. Ondansetron tidak meningkatkan risiko malformasi mayor pada penggunaannya dalam trimester pertama kehamilan.Seperti metoklopramid. Dalam sebuah metaanalisis dari empat studi. Oleh karena itu. . tetapi efek samping sedasi ondansetron lebih kecil. penggunaan glukokortikoid sebelum usia gestasi 10 minggu berhubungan dengan risiko bibir sumbing dan tergantung dosis yang diberikan. Efek samping metilprednisolon sebagai sebuah glukokortikoid juga patut diperhatikan. ondansetron memiliki efektivitas yang sama dengan prometazin.

dehidrasi.Evaluasi Keberhasilan Terapi Tujuan terapi hiperemesis gravidarum adalah untuk mencegah komplikasi seperti ketonuria. Secara klinis. Parameter laboratorium yang perlu dinilai adalah perbaikan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Penilaian keberhasilan terapi dilakukan secara klinis dan laboratoris. Jika sudah terjadi komplikasi. . hipokalemia dan penurunan berat badan lebih dari 3 kg atau 5% berat badan. frekuensi dan intensitas mual. perlu dilakukan tata laksana terhadap komplikasi tersebut. keberhasilan terapi dapat dinilai dari penurunan frekuensi mual dan muntah. serta perbaikan tanda-tanda vital dan dehidrasi.

Keton memiliki struktur yang kecil dan dapat diekskresikan ke dalam urin. Oksidasi lemak ini memiliki kerugian yakni meningkatkan kadar keton dalam urin akibat hasil dari oksidasi tidak sempurna dari asam lemak yakni tertimbunnya asam aseton asetik. dan apabila kemampuan ginjal untuk mengekskresi keton telah melampaui batas. . Tubuh mulai beradaptasi dengan mengambil jalur lain untuk memperoleh energi yakni melalui jalur glukoneogenesis dengan mengoksidasi asam lemak.Mekanisme Keton pada Hiperemesis Gravidarum Dengan adanya muntah yang terus menerus mengakibatkan berkurangnya cadangan energi. maka terjadi ketonemia. Apabila kapasitas jaringan untuk menggunakan keton sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat. asam hidroksi butirik dan aseton. kenaikan kadarnya pertama kali tampak pada plasma atau serum. Namun. Asam aseotasetat dan asam β -hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Ketonuria (keton dalam urin) terjadi akibat ketosis. kemudian baru urin.

Volum: 61. DAFTAR PUSTAKA Kevin Gunawan. Sarwono. Ilmu Kebidanan. 2014. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo . November 2011 http://dokumen.tips/documents/hiperemesis-gravidarum-55b34a06e6949. Diagnosis dan Tata Laksana Hiperemesis Gravidarum.* Dwiana Ocviyanti.* Paul Samuel Kris Manengkei.html diundh tanggal 1 februari 2017 Prawirohardjo. J Indon Med Assoc. Nomor: 11.