LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN PROSES 2

ESTERIFIKASI
SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016

MODUL :ESTERIFIKASI (Metil Ester)
PEMBIMBING : Emmanuela, M.T

Oleh :
Dani Gustiana Sandie 151411005
Echa Kaniasari 151411006
Fatah Dwi P 151411007
Fitri Gina Gunawan 151411008

2 A- D3 Teknik Kimia
Kelompok 2

Tanggal Praktikum : 28 September 2016

Tanggal Penyerahan : 05 Oktober 2016

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

konversi. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi reversible yang sangat lambat. indeks bias. baud an warna. angka asam. II. DASAR TERORI Proses esterifikasi adalah sutu reaksi reversible antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Mahasiswa dapat mengidentifikasi produk etil asetat dan metil asetat melalui pengukuran titik didih. TUJUAN PERCOBAAN 1. Melalui percobaan ini. Persamaan reaksinya diringkas sebagai berikut : O OH O H+ RCOH + R’OH R – C – OH RCOR’ + H2O Asam Karboksilat OR’ Ester Proses esterifikasi adalah suatu reaksi reversible antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. 2. mahasiswa dapat mengetahui dan mengetahui bahwa laju reaksi esterifikasi diperngaruhi oleh faktor-faktor antara lain. . 3. Sehingga pada umumnya digunakan sebagai pengharum (essence) sintetis. Produk esterifikasi disebut ester yang mempunyai sifat yang khas yaitu baunya yang harum sehingga pada umumnya digunakan sebagai pengharum (essence) sintesis. Produk esterifikasi disebut ester yang mempunyai sifat yang khas yaitu baunya yang harum. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi reversibble yang sangat lambat. Mahasiswa dapat membuat metil ester atau FAME (Fatty Acid Methyl Ester) melalui esterifikasi. volume hasil titrasi. konsentrasi. kesetimbangan reaksi akan tercapai dalam beberapa jam. suhu. Tetapi apabila menggunakan katalis asam sulfat atau asam klorida kesetimbangan reaksi akan tercapai dalam beberapa jam. katalis dan waktu. berat jenis. I. Tetapi bila menggunakan katalis asam sulfat atau asam klorida.

Ester dapat dibuat dari reaksi antara lain klorida asam dengan suatu alkohol dalam media basa seperti piridin. Reaksi ini merupakan reaksi kesetimbangan. Bau dari isopentenil asetat adalah mirip dengan aroma buah pisang ataupun buah pir. Dalam kimia. suhu proses dan konsentrasi katalis maupun reaktan. Bau yang enak dan buah-buahan adalah campuran yang kompleks dari ester volatil. Ada dua metode yang digunakan dalam esterifikasi yaitu proses batch dan proses kontinyu. Teknologi ini didasarkan pada prinsip reaksi esterifikasi dengan absorpsi simultan superheated metanol vapor dan desorpsi metanolwater mixture. Butil butanoat seperti aroma nanas.Esterifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah. Asam oksigen adalah suatu asam yang molekulnya memiliki gugus - OH yang hidrogennya (H) dapat terdisosiasi menjadi ion H+. dan juga reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol menggunakan katalis karboksilat dan alkohol direfluks secara bersama-sama dengan adanya asam sebagai katalis. air dipindahkan secara kontinyu untuk menghasilkan ester. Henkel telah mengembangkan esterifikasi countercurrent kontinyu menggunakan kolom reaksi dodel plate. sehingga tidak mungkin mendapatkan ester secara kuantitatif dalam setiap mol reaktannya. ester adalah suatu senyawa organik yang terbentuk melalui penggantian satu (atau lebih) atom hidrogen pada gugus hidroksil dengan suatu gugus organik (biasa dilambangkan dengan R’). dari reaksi asam anhidrida dengan suatu alkohol. Sedangkan berton-ton senyawa polimer p-dimetil terephtalat disintesis setiap tahunnya untuk membuat produk dengan nama Dacron. yang merupakan polimer dari ester. Pada reaksi kesetimbangan. biasanya reaktan yang harganya relatif murah. struktur molekul dari alkohol. Proses esterifikasi berlangsung dibawah tekanan pada suhu 200-250°C. sedangkan propil 2-metilpropanoat memberi aroma rum (minuman). atau dengan membuat lebih kuantitas salah satu reaktan. Ester merupakan senyawa yang penting dalam industri dan secara biologis. Kesetimbangan dapat diarahkan ke produk dengan mengambil produk airnya. . Lemak adalah ester yang mempunyai rantai panjang asam karboksilat dengan trihidroksi alkohol(gliserol).

4. Adanya gaya antar molekul menyebabkan ester memilki titik didih yang lebih tinggi dari senyawa hidrokarbon lain yang memiliki bentuk molekul dan massa atom relatifnya mirip. Ester merupakan senyawa karbon yang netral. Hal ini disebabkan ester tidak memiliki gugus OH. Kelarutan ester berkurang dengan bertambahnya atom karbon. Sifat kimia ini menyebabkan ester yang jumlah atom karbonnya sedikit mudah larut dalam air. 3. Contoh : R– COOR1 + H2O ------> R– COOH + R1 – OH (Ester) (Air) (As. Dengan hasil yang sama.Senyawa – senyawa ester antara lain mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 1. Metil ester yang melalui proses distilasi tidak memerlukan proses pemurnian.sehingga interaksi antar molekul ester tidak membentuk ikatan hidrogen. Esterifikasi proses kontinyu lebih baik daripada proses batch. Senyawa ester pada umumnya sedikit larut dalam air dan bersifat polar. Contoh : R –COOR1 + 2H2 → R– CH2 – OH + R1 – OH Ester Alkohol Alkohol . Reaksi ini menggunakan tekanan sekitar 1000 Kpa dan suhu 240 °C. Ester merupakan senyawa polar yang mempunyai dipol-dipol yang saling berinteraksi di mana interaksi ini menimbulkan gaya antar molekul. Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis. 5. proses kontinyu membutuhkan waktu yang lebih singkat dengan kelebihan metanol yang lebih rendah. 2. Ester lebih mudah menguap dibandingkan dengan asam atau alcohol pembentuknya.5 : 1 molar metanol : asam lemak dibandingkan proses batch dimana rasionya 3-4 : 1 molar. Sifat Fisika dan Kimia Ester Ester pada umumnya bersifat polar. Keuntungan dari proses ini adalah kelebihan metanol dapat dijaga secara nyata pada rasio yang rendah yaitu 1. menyerupai bau buah-buahan. Ester dapat direduksi dengan H2 menggunakan katalisator Ni dan dihasilkan dua buah senyawa alkohol. Namun dibandingkan dengansenyawa alkohol dan asam karboksilat yang bentuk molekul dan molekulrelatifnya mirip titik didih ester lebih rendah.Alkanoat) (Alkohol) 6. Kelebihan metanol di rectified dan digunakan kembali. Pada umumnya mempunyai bau yang harum.

untuk memperoleh rendemen ester yang tinggi. Untuk mencapai keadaan ini dapat ditempuh dengan cara : a) Salah satu pereaksi (yang murah) digunakan secara berlebihan. Ester khususnya minyak atau lemak bereaksi dengan basa membentuk garam(sabun) dan gliserol. . Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah asam. biasanya asam sulfat (H2SO4) atau asam fosfat (H2PO4). Esterifikasi adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) dengan alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester asam lemak (FAME) dan air. Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan trigliserida dalam minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol rantai pendek seperti methanol atau etanol (pada saat ini sebagian besar produksi biodiesel menggunakan metanol) menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty Acids Methyl Esters / FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk samping. biasanya digunakan natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH). Transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar menggunakan kalium hidroksida) untuk bahan baku refined oil atau minyak nabati dengan kandungan FFA rendah. Sesuai dengan hukum aksi massa (mass-action law). Reaksi ini dikenal dengan reaksi safonifikasi penyabunan. Biodiesel Biodiesel merupakan monoalkil ester dari asam-asam lemak rantai panjang yang terkandung dalam minyak nabati atau lemak hewani untuk digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. maka kesetimbangan harus bergeser ke arah pembentukan ester. Berdasarkan kandungan FFA dalam minyak nabati maka proses pembuatan biodiesel secara komersial dibedakan menjadi 2 yaitu : 1. Katalis yang digunakan pada proses transeterifikasi adalah basa/alkali. b) Membuang salah satu produk dari dalam campuran reaksi. Biodiesel dapat diperoleh melalui reaksi transesterikasi trigliserida dan atau reaksi esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku.7. misalnya melalui proses distilasi air secara azeotropisl.

Termometer (1 buah) . pemurnian metil ester (netralisasi. ALAT DAN BAHAN 3.1 Alat-alat yang digunakan :  Refraktometer  Buret  Erlenmeyer  Statif dan Klem Rangkaian peralatan refluks : a. Proses pembuatan biodiesel dari minyak dengan kandungan FFA rendah secara keseluruhan terdiri dari reaksi transesterifikasi. Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika minyak nabati mengandung FFA di atas 5%. pengambilan gliserol sebagai produk samping (asidulasi dan pemisahan metanol) dan pemurnian metanol tak bereaksi secara destilasi/rectification. Jika minyak berkadar FFA tinggi (>5%) langsung ditransesterifikasi dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi dengan katalis membentuk sabun. Penangas air (1 buah) c. III. Reaktor (1 buah) b. Esterifikasi dengan katalis asam ( umumnya menggunakan asam sulfat) untuk minyak nabati dengan kandungan FFA tinggi dilanjutkan dengan transesterifikasi dengan katalis basa.2. Kondensor (1 buah) d. pemisahan gliserol dari metil ester. Terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup besar dapat menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan berakibat terbentuknya emulsi selama proses pencucian. pemisahan methanol. Jadi esterifikasi digunakan sebagai proses pendahuluan untuk mengkonversikan FFA menjadi metil ester sehingga mengurangi kadar FFA dalam minyak nabati dan selanjutnya ditransesterifikasi dengan katalis basa untuk mengkonversikan trigliserida menjadi metil ester. pencucian dan pengeringan/dehidrasi).

Asam oleat 20 mL c.2 Bahan-bahan yang digunakan : a. KOH alkolic e. Tabung CaCl2 (1 buah) f. Selang silicon (3 buah) 3. Alkohol netral . THF 4 mL d. e. Indikator phenopthalin f. Amberlyst 2 gram g. Methanol 100 mL b.

Penentuan Blanko 25 mL alcohol netral dan Melakukan tritrasi larutan dengan menggunakan 2 – 3 tetes indicator phenopthalin KOH alkolic Mencatat volume yang dibutuhkan untuk tritrasi b. Proses Analisa sampel a. Proses Esterifikasi Merangkai peralatan esterifikasi seperti gambar 100 mL methanol. Analisis Sampel Mengambil sampel di reaktor setiap 15 menit pada saat pemanasan Menimbang sampel yang diambil dan melakukan menetukan nilai indeks bias dengan menggunakan refraktometer kemudian mencatat hasilnya . SKEMA KERJA 1. 2gr amberlyst Melakukan proses esterifikasi pada suhu 60oC Setelah suhu mencapai 60oC kemudian melakukan analisa selam 90 menit 2. THF.IV. 25 mL diatas Asam oleat.

Memasukkan sampel ke dalam Erlenmeyer dan menambahkannya dengan 25 mL alcohol netral dan 2 – 3 tetes indicator phenopthalin Melakukan titrasi pada larutan sampel dengan KOH alcoholic hingga larutan berwarna merah muda Mencatat volume yang diperlukan untuk melakukan titrasi .

PENGOLAHAN DATA ?????? ??? ????ℎ????(+ ??????)− ?????? ??? ????ℎ???? (????? ??????) Angka Asam = ?? ?????? ????? ???? ???? (??0)− ????? ???? ????? ? (???) Konversi = ??0 .V.3 mL t (menit) Berat Erlenmeyer + Berat sampel Volume titrasi sampel (gram) (gram) (mL) 0 135.46 3.3584 16.7 5 4500 1.8 3.9 45 135.9 90 135.79 4.71 2.77 4.7 3 2700 1.4226 51.4020 41.36 3.87 2. Waktu (detik) Indeks Bias Brix 1 900 1.37 3.63 3.2 75 135.9 60 135.4324 55.3603 17.9 No. DATA PENGAMATAN Berat Erlenmeyer kosong : 131.7 3 30 135.6 15 135.97 2.11 2.7 4 3600 1.53 3.4412 59.66 gram Volume titrasi pada blanko = 0.9 VI.13 3.1 2 1800 1.2 6 5400 1.

36 1.2459 4 2700 0.7297 0.0527 1.5 0.45 1.8 0. Waktu (detik) Angka asam Konversi 1 0 0.7008 0.38 1.6549 0.39 R² = 0.6326 0.2715 5 3600 0.35 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Waktu (s) .7 y = -2E-05x + 0.2 0.41 1.1929 7 5400 0.9 0.4 y = -5E-06x + 1.4 0.3 0.6718 0.7021 0.43 1.4183 1.42 Indeks Bias 1.6 R² = 0.2263 Kurva Angka Asam terhadap Waktu 1 0.3566 0.1 0 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Waktu (s) Kurva Indeks Bias terhadap waktu 1.7729 Angka Asam 0.8684 0 2 900 0.1915 6 4500 0.1597 3 1800 0.No.44 1.37 1.

Mengiritasi mata dan kulit. Catatan untuk penanganan yang aman : Bekerja di ruang asam. Penyimpanan : Tutup rapat di dalam tempat yang berventilasi baik. Berikan pernapasan buatan secara mekanik jika diperlukan. kontak dengan kulit dan jika tertelan. kontak dengan kulit dan jika tertelan. jauhkan dari sumber nyala dan panas. timah atau seng. Toksik : bahaya efek serius yang tidak dapat dipulihkan melalui penghirupan. Panggil dokter. Penanganan dan penyimpanan Penanganan : Catatan untuk pencegahan kebakaran dan ledakan: Jauhkan dari sumber nyala. Pertolongan pertama Orang penolong pertama : pastikan perlindungan diri! Setelah menghirup : hirup udara segar. Pada +15 ̊C hingga +25 ̊C. Lepaskan pakaian yang terkontaminasi. Hubungi dokter mata. sebutkan methanol ingestion.VII. Jangan menghirup bahan. MSDS 1. Setelah kontak pada kulit : cuci dengan air yang banyak. Jika napas terhenti : berikan pernapasan buatan mulut ke mulut atau secara mekanik. METANOL Identifikasi bahaya Sangat mudah terbakar. Toksik jika terhirup. Hanya dapat digunakan oleh orang yang berwenang. Sifat Fisika dan Kimia Bentuk : cairan Warna : tak berwarna . Ambil tindakan untuk mencegah tegangan elektrostatik. Setelah kontak dengan mata : bilas dengan air yang banyak paling sedikit 10 menit dengan kelopak mata terbuka lebar. Persyaratan untuk ruang penyimpanan dan wadah : Bukan wadah aluminium. Setelah tertelan : berikan korban minum ethanol (mis :1 gelas minuman beralkohol 40%). Hindariterbentuknya uap/aerosol.

Mengantuk.77 (metanol) (Lit. Muntah-muntah.80 g/cm3 Kelarutan dalam air : (20 ̊C) dapat larut log Pow : -0. Dyspnoea Informasi tentang sifat fisika dan kimia Wujud Kondisi fisik : cair (fluida) Warna : tak berwarna Bau :seperti eter Parameter fisik dan kimia lainnya pH (nilai) : 7 .) Batas eksplosif • batas eksplosi bawah (LEL) . THF (Tetrahydrofuran) Formula molekul : C₄H₈O Massa molar : 72. 20 °C) Titik cair/titik beku : -108.66 °C Titik nyala -21 °C (c.11 g/moL Gejala dan efek paling penting Batuk.5 Suhu penyalaan : 455 ̊C (metanol) Titik nyala : 7 ̊C Batas ledakan lebih rendah 5.5 Vol% (metanol) lebih tinggi 31 Vol% (metanol) Densitas : (20 ̊C) 0.5 °C Titik didih awal dan rentang didih : 65 . Mual.8 (air: 200 g/l.) 2.c. Bau : berbau metanol nilai pH (20 ̊C) ~ 13. Efek narkotik.

Penghindaran sumber pengapian. Penyimpanan: Menyimpan di tempat yang sejuk. Gunakan ventilasi lokal dan umum. berventilasi baik jauh dari zat-zat yang tidak kompatibel. Proses menelan: Menyebabkan gangguan pencernaan dengan mual. 1. Amberlyst Emergency overview Efek Kesehatan Mata: Menyebabkan gangguan mata. Penanganan: Cuci bersih setelah menangani. Hindari kontak dengan kulit dan mata. KOH ALCOHOLIC Identifikasi Bahaya Potensi akut : . Gunakan dengan ventilasi yang memadai.49 udara = 1 Penanganan dan penyimpanan Simpan di tempat berventilasi baik. Hindari konsumsi dan inhalasi. Inhalasi: Menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Jaga wadah tertutup kedap/rapat. muntah dan diare.5 vol% • batas eksplosi atas (UEL) 12. Suhu penyimpanan yang disarankan: 20 .25 °C. 3.4 vol% Tekanan uap air : 173 hPa pada 20 °C Densitas : 0.89 g/cm³ pada 20 °C Densitas uap air 2. kering. 4. Kulit: Menyebabkan gangguan pada kulit.

5. Sangat berbahaya jika terjadi kontak kulit (korosif. menelan. yang ditandai dengan batuk. kontak kulit mungkin menghasilkan luka bakar. berventilasi. tersedak. pakai peralatan pernapasan yang sesuai Jika tertelan. Penyimpanan Dapat menimbulkan korosi permukaan logam.8 ° C (100 ° F). Jauhkan dari panas. kadang-kadang. Radang mata ditandai dengan kemerahan. mulut dan saluran pernapasan. kontak mata (iritan). peradangan kulit ditandai dengan gatal. dan gatal-gatal. Tanah semua peralatan yang mengandung bahan. Cair atau semprot kabut dapat menghasilkan kerusakan jaringan terutama pada selaput lendir mata. atau. Penangan dan Penyimpanan Penanganan Simpan wadah kering. kontak mata (iritan). Melakukan tidak menelan. Jangan pernah menambahkan air untuk produk ini Dalam hal ventilasi cukup. iritan). segera dapatkan saran medis dan tunjukkan wadah atau label. Asam oleat (oleac acid) Sifat Fisik Asam Oleat . asam. Jauhkan dari sumber api. Potensi kronik : Sangat berbahaya jika terjadi kontak kulit (korosif. Simpan wadah tertutup rapat. inhalasi. Tanah semua peralatan yang mengandung bahan. scaling. inhalasi. Jauhkan dari panas. memerah. Jauhkan dari sumber api. berair. Sebuah ruang berpendingin akan lebih untuk bahan dengan titik nyala lebih rendah dari 37. Hindari kontak dengan kulit dan mata Jauhkan dari incompatibles seperti agen pengoksidasi. atau sesak napas. Jangan menghirup gas / asap / uap / semprotan. Simpan di sejuk. terik. menelan. Simpan di logam atau dilapisi gendang fiberboard menggunakan polietilen paket batin yang kuat. bahan yang mudah terbakar harus disimpan dalam lemari penyimpanan aman terpisah atau kamar. Menghirup kabut semprotan dapat menghasilkan iritasi parah saluran pernapasan. iritan).

Uapnya dapat mengakibatkan mual dan pusing VIII.85 (90) Panas spesifik J/g (oC) 2. Tidak ada variasi variable yang digunakan dalam praktikum kali ini sehingga katalis. Dapat mengakibatkan iritasi mata. suhu. 4. 2007 Berikut ini adalah bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh asam oleat apabila terjadi kontak secara langsung . dan beberapa pelarut organic Titik lebur 13-14 oC Titik didih 360 oC (760 mmHg) Densitas 0. PEMBAHASAN Pada praktikum esterifikasi direaksikan asam oleat dengan methanol menghasilkan metil oleat dan hasil reaksi samping berupa H2O. Kontak yang berulang kali dapat mengakibatkan kulit kering dan pecah . atau sistem pernafasan . Material dapat menyebabkan iritasi pada membran mukosa dan sistem pernafasan bagian atas .64 (25). eter. Dilakukan analisa untuk menentukan angka asam dan indeks bias.895 g/mL Viskositas mPa. Persamaan reaksinya sebagai berikut : CH3OH + C18H34O2 C19H36O2 + H2O Digunakan THF bertujuan agar asam oleat dan methanol dapat tercampur. kulit. .046 (50) Sumber : Departemen Perindustrian. dan pengadukan diusahakan sama selama proses. Berat molekul 282. larut dalam alkohol. Dapat menyebabkan iritasi mata apabila terjadi kontak .s (oC) 27.4614 g/mol Wujud Cairan berwarna kuning pucat atau kuning kecoklatar Kelarutan Tidak larut dalam air.

Pencampuran Adanya pengadukan bertujuan agar molekul molekul pereaktan dapat sering bertumbukan sehingga reaksi berjalan optimal.8684 mgKOH/g dan setelah proses mencapai angkai 0. EN 14214 dan ASTM D6751. Karena indeks bias berbanding lurus dengan viskositas ester. Semakin pekat ester semakin besar pula indeks biasnya karena kecepatan rambat cahayanya semakin kecil. Namun jika melihat angka asam yang mengalami penurunan membuktikan bahwa jumlah asam dalam campuran berkurang karena asam oleat telah bercampur dengan methanol membentuk metil oleat. Selama proses variable yang berpengaruh diantaranya : . Pengaruh perbandingan zat pereaksi Proses esterifikasi ini bersifat reversible. Angka asam sebelum direfluks adalah 0. . Ini karena FFA yang dihasilkan dapat menyebabkan korosi bagian mesin otomotif dan batasan tersebut melindungi mesin kendaraan dan tangki bahan bakar. Untuk menurunkan angka asam ini bisa dengan penambahan waktu reaksi. angka asam hasil proses masih kurang dari standar yang ditetapkan untuk menjadi biodiesel. perbandingan zat pereaksi methanol dan asam oleat yakni 20 : 5. Semakin lama waktu reaksi maka indeks bias ester juga semakin tinggi. Dari grafik terlihat bahwa terjadi kenaikan angka asam kembali hal itu disebabkan gangguang pada alat yang tidak berfungsi sehingga mempengaruhi kecepatan reaksi.6718 mg KOH/g. Penggunaan satu zat pereaksi secara berlebih bertujuan agar reaksi berlangsung secara optimal saat pembentukan ester .50 mg KOH/gr dalam kedua standar bahan bakar. Analis indeks bias Dari grafik terlihat bahwa waktu reaksi berpengaruh terhadap indeks bias. Analisa angka asam Menurut litelatur Bilangan asam (mg KOH/gr minyak) untuk biodiesel harus lebih rendah dari 0. Namun pada dua titik mengalami penurunan hal ini disebabkan karena gangguan alat yang tidak berfungsi sehingga menghambat kecepatan reaksi.

Proses dipengaruhi katalis. Pada praktikun ini tidak dilakukan analisa yield karena terhambat oleh ketersediaan waktu. Daftar Pustaka  Alipart. J.. Ltd.com/2011/03/pembuatan-etil-asetat.  https://wawasanilmukimia. H. Willard Grantr Press Publisher.html. Fifth Edition. and Fessenden. 2nd Edition.6718 mg KOH/g yang masih kurang sari standar angka asam untuk pembuatan biodiesel dengan indeks bias akhir 1. 1982. Selama proses tidak dilakukan variasi terhadap katalis sehingga bilangan konversi seharusnya sama selama proses. 3. Pembuatan etil asetat. IX. Graw – Hill Kogakusha. “ Organic Chemistry “.. 2006. Tujuan menggunakan amberlyst yaitu mengurangi terjadinya korosi dan penggunaan air berlebih saat proses pencucian karena fasanya padat.  Fessenden. Massachusetts.. 2011. Pengaruh katalis Katalis yang digunakan yaitu amberlyst. Rekayasa Industri.2715. Bandung: ITB % PT.wordpress. Mc.blogspot. VIII. P. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa angka asam hasil proses mencapai 0.  Groggins.  Soerawidjaya. USA. perbedaan blangan konversi mungkin saja dipengaruhi suhu dan pengadukan yang kenyataannya selama proses mengalami gangguan sehingga kestabilannya berkurang.com/2014/01/08/bilangan-bilangan- penting-dalam-analisa-minyak-dan-lemak/ . International Student Edition. “Unit Proceses in Organic synthesis”. suhu.3603. http://alipart. pencampuran dan perbandinga zat pereaksi. Jika dilihat dari data perhitungan bilangan konversi tercapai dengan rentan 0. R. Jurnal : Intesifikasi Proses Produksi Biodisel..1597-0.