Kementerian Perindustrian

Republik Indonesia

Proyek Pengembangan IKM
melalui
Peningkatan Penyediaan Layanan di Indonesia

Laporan Akhir Proyek

Juni 2016

Japan International Cooperation Agency (JICA)

KRI International Corp. IL
UNICO International Corporation JR
16-042

Kementerian Perindustrian
Republik Indonesia

Proyek Pengembangan IKM
melalui
Peningkatan Penyediaan Layanan di Indonesia

Laporan Akhir Proyek

Juni 2016

Japan International Cooperation Agency (JICA)

KRI International Corp.
UNICO International Corporation

Wilayah/ Industri Sasaran Proyek
Wilayah Industri Sasaran
Industri fesyen Ulos (kain tenun dari Batak)

Kab. Samosir
di Provinsi
Sumatera Utara

Kunjungan pemasaran ke pembeli potensial Contoh produk
Industri logam (komponen kapal)

Kab. Tegal
di Provinsi
Jawa Tengah

Konsultasi teknis prototipe Produk tersertifikasi dikirim ke pembeli
Industri pengolahan kakao Industri mebel rotan

Kota Palu dan
sekitarnya
di Provinsi
Sulawesi Tengah

Uji produksi olahan kakao Kunjungan audit proses manufaktur
Industri pengolahan aloe

Kota Pontianak
di Provinsi
Kalimantan Barat

Pameran promosi produk Workshop pengolahan aloe
Industri alas kaki

Kota Mojokerto
di Provinsi
Jawa Timur

Workshop pembuatan alas kaki Desainer ternama tertarik dengan produk

2-2 Pencapaian Tujuan Proyek dan indikator 20 II. Informasi Umum Proyek I.5-2 Output dan Kegiatan yang Diharapkan dalam Proyek 3 I.7 Informasi Proyek Lainnya (fase dan industri sasaran) 4 II.1-1 Input dari Pihak Jepang 5 (1) Mobilisasi tenaga ahli 5 (2) Biaya lokal 5 (3) Pengadaan perlengkapan kantor 5 (4) Pelatihan (studi banding) di Jepang 6 (5) Kesempatan pelatihan lain di Jepang selama Proyek 6 II.6 Lembaga Pelaksana (Counterparts) 3 I.2-1 Output dan Indikator 16 (1) Pencapaian Output-1 16 (2) Pencapaian Output-2 18 (3) Pencapaian Output-3 19 II. Hasil Review Bersama III.1-2 Input dari Pihak Indonesia 7 (1) Counterpart (C/P) 7 (2) Pembiayaan lokal 8 (3) Kantor dan fasilitas lain untuk Proyek 8 II.3 Modifikasi PDM 21 II.4-2 Hasil terkait Gender/ Perdamaian/ Pengurangan Kemiskinan 22 III.5 Tujuan Umum dan Tujuan Proyek 2 I. Hasil Proyek II.1 Negara 1 I.4 Latar Belakang 1 I.4 Lainnya 22 II.2 Pencapaian Proyek 16 II.2 Nama Proyek 1 I.1 Hasil Review berdasarkan Kriteria Evaluasi DAC 23 III.1-2 Efektivitas 23 III.4-1 Hasil terkait Lingkungan dan Sosial 22 II.1 Hasil Proyek 5 II.3 Durasi Proyek 1 I.1-3 Efisiensi 24 .1-1 Relevansi 23 III.1-3 Kegiatan Proyek 8 (1) Kegiatan untuk Output-1 8 (2) Kegiatan untuk Output-2 10 (3) Kegiatan untuk Output-3 13 (4) Kegiatan umum 15 II.5-1 Tujuan Proyek 2 I. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan di Indonesia Laporan Akhir Proyek Daftar Isi Wilayah/ Industri Sasaran pada Proyek I.

ketiga) dan mid-term monitoring Lampiran-13: Minutes of Meeting dari Komite Koordinasi Bersama (JCC) terakhir Lampiran-14: Daftar produk (Petunjuk.2 Faktor Kunci yang Mempengaruhi Implementasi dan Hasil 27 III. III.1-2 Tujuan Umum-2 30 IV.1 Prospek untuk Mencapai Tujuan Umum 30 IV. kedua. Buku Panduan) .4 Pelajaran 28 IV. Untuk Pencapaian Tujuan Umum setelah Proyek Selesai IV.2 Rekomendasi bagi Pihak Indonesia untuk Mencapai Tujuan Umum 31 IV.2-1 Faktor Pendukung 27 III.1-4 Dampak 25 III.3 Evaluasi Hasil Manajemen Resiko Proyek 28 III.1-5 Keberlanjutan 26 III. pertama.3 Rencana Monitoring sejak Akhir Proyek hingga Evaluasi Ex-Post 31 Lampiran-1: Record of Discussions Lampiran-2: Matriks Desain Proyek (PDM.2-2 Faktor Penghambat 27 III. awal dan revisi) Lampiran-3: Revisi Rencana Operasional (yang direncanakan dan aktual) Lampiran-4: Berita acara serah terima barang kantor Lampiran-5: Rencana studi banding ke Jepang dan daftar peserta Lampiran-6: Daftar counterpart yang terlibat dalam Unit Pelaksana Proyek (PIU) dan Kelompok Kerja Daerah (Pokja) Lampiran-7: Rencana Aksi Industri Lokal dan industri sasaran awal Lampiran-8: Rincian output/ pencapaian fasilitasi Rencana Aksi Industri Lokal oleh wilayah/ industri sasaran Lampiran-9: Surat penawaran mengenai penerapan model fasilitasi SMIDeP Lampiran-10: Daftar Disperindag Provinsi yang berminat untuk berpartisipasi dalam tahap penerapan model fasilitasi SMIDeP berbasis petunjuk Lampiran-11: Surat permohonan konfirmasi kesediaan sebagai calon sasaran penerapan model fasilitasi SMIDeP (kepada pemerintah daerah yang berminat) Lampiran-12: Minutes of Meeting dari Komite Koordinasi Bersama (JCC.1-1 Tujuan Umum-1 30 IV.

.

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

LAPORAN AKHIR PROYEK

I. Informasi Umum Proyek

I.1 Negara

Republik Indonesia

I.2 Nama Proyek

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan di Indonesia

I.3 Durasi Proyek

Rencana : dari April 2013 sampai Februari 2016
Aktual : dari April 2014 sampai April 2016

Durasi proyek diperpanjang selama satu bulan, karena salah satu kegiatan Proyek, seminar nasional,
dilaksanakan mengikuti jadwal counterpart untuk menyelenggarakan rapat koordinasi nasional Direktorat
Jenderal Industri Kecil Menengah, Kementerian Perindustrian.

I.4 Latar Belakang

Indonesia telah mengimplementasikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional lima tahunan,
berdasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (2005-2025). Mengikuti landasan
kebijakan pembangunan tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyusun Rencana Strategis
(RENSTRA, 2010-2014) untuk mempromosikan klaster industri dan pengembangan industri lokal yang
didukung oleh Peraturan Presiden No. 28, 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional yang diterbitkan
pada bulan Mei 2008 sebagai pedoman untuk pengembangan industri, termasuk pengembangan industri
kecil dan menengah (IKM).

Kebijakan dasar Kemenperin untuk pengembangan perindustrian terdiri dari dua pilar berikut: i)
Pendekatan Top-down (pengembangan klaster industri), di mana Kemenperin memilih industri - industri
prospektif dan memimpin perencanaan dan penerapan rencana aksi; dan ii) Pendekatan Bottom-up
(industri prioritas/ pengembangan kompetensi inti), di mana pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota
mengidentifikasi sumber daya lokal, serta menyusun dan menerapkan rencana aksi guna meningkatkan
nilai tambah sumber daya dan komersialisasinya.

Di bawah kebijakan dan program tersebut, JICA melakukan studi rencana induk berjudul “Penguatan
Klaster (SENTRA) IKM (2009-2010)” berdasarkan permintaan Pemerintah Indonesia. Studi ini
merekomendasikan pengembangan IKM (klaster) yang efektif melalui, i) pendirian sistem pengembangan
IKM tidak hanya di tingkat pemerintah pusat, tetapi juga di tingkat daerah dengan cara yang tepat, ii)
diseminasi konsep pengembangan klaster, dan iii) penempatan fasilitator praktis.

Ketersediaan dukungan/ layanan untuk pengembangan IKM juga disampaikan dalam studi ini;
pemerintah pusat/ daerah dan penyedia layanan lainnya menawarkan berbagai dukungan/ layanan bagi
IKM. Di sisi lain, hasil studi mengindikasikan bahwa dukungan secara umum direncanakan dan
diimplementasikan berdasarkan pertimbangan dan prosedur dari sisi penyedia. Kemudian, IKM sebagai

1

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

penerima manfaat dukungan tidak mengenali apa dan kapan dukungan tersedia, mengakibatkan
infleksibilitas penyediaan layanan terhadap kebutuhan IKM.

Dengan kata lain, dukungan untuk IKM mengalami masalah dalam hal penyediaan. Permintaan dari IKM
untuk dukungan tumbuh, membutuhkan diskusi, persiapan dan pengadaan dukungan yang sesuai oleh
penyedia layanan terkait kebutuhan IKM. Sehingga, perbaikan dan peningkatan mekanisme penyediaan
layanan tersebut dianggap penting. Dalam situasi ini, Pemerintah Indonesia meminta Pemerintah Jepang
untuk menyediakan proyek kerja sama teknis dengan Kementerian Perindustrian sebagai counterpart
utama. Catatan Diskusi 1 (R/D) telah disetujui bersama pada bulan Desember 2012 untuk mencapai
tujuan-tujuan yang dideskripsikan berikut.

I.5 Tujuan Umum dan Tujuan Proyek

I.5-1 Tujuan Proyek
Proyek ini bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan IKM/ industri lokal di industri/ wilayah sasaran
melalui peningkatan dan penguatan mekanisme untuk berdiskusi, menyiapkan dan menyediakan
dukungan/ layanan secara efisien (platform penyediaan layanan). Selain itu, pengembangan IKM/ industri
lokal melalui platform akan dijadikan sebagai "model kerja" di wilayah lain, berdasarkan pelajaran/
pengalaman di industri dan wilayah sasaran.

Tujuan umum dan output yang diharapkan dari Proyek ini adalah sebagai berikut:

Tujuan Umum
Produksi dan daya saing IKM di daerah sasaran meningkat, dan model
pengembangan IKM yg dibentuk berbasis service delivery platform yg
efisien (“the model”) dipraktekkan di daerah lain.

Tujuan Proyek
Persiapan utk disseminasi model utk pengembangan IKM berbasis
service delivery platform yg efisien dilaksanakan di Kemenperin.

Platform utk service delivery yg
efisien disediakan sbg fondasi
Output 1
pengembangan IKM di masing2
daerah sasaran. Model utk pengembangan IKM
dibentuk berdasarkan pengalaman
Output 3 dan pelajaran yg didapatkan melalui
kegiatan Output 1 & 2 utk diterapkan
Daya saing IKM sasaran di masing2 di daerah lain.
Output 2 daerah sasaran diperkuatkan dengan
service delivery yg efisien.

Gambar I.5.1 Tujuan Proyek

1
Lihat Lampiran 1 untuk R/D
1
Lihat Lampiran 2 untuk PDM awal dan revisi.

2

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

I.5-2 Output dan Kegiatan yang Diharapkan dalam Proyek

Sesuai dengan output yang diharapkan pada Proyek, kegiatan Proyek dirangkum sebagai berikut. Kedua
Project Design Matrix 2 (PDM) dengan indikator terverifikasi yang asli dan revisi disampaikan dalam
lampiran.
Tabel I.5.1 Kegiatan proyek untuk setiap output
No. Kegiatan
Output-1: Pembentukan platform bagi pengembangan industri lokal
Platform penyediaan layanan yang efisien disusun sebagai dasar pengembangan IKM di setiap wilayah sasaran.
1-1: Membentuk Unit Pelaksana Proyek (PIU) yang diorganisir oleh Ditjen IKM di Kemenperin untuk mengelola Proyek
secara keseluruhan.
1-2: Membentuk POKJA di setiap wilayah sasaran guna mengkoordinasikan kegiatan pengembangan IKM dalam
mengelola Proyek secara keseluruhan.
1-3: Meninjau dan memetakan lembaga dan layanan pengembangan IKM yang tersedia saat ini oleh berbagai wadah dan
penyedia layanan di setiap wilayah sasaran.
1-4: Menetapkan sistem untuk memastikan penyediaan layanan yang efisien bagi IKM.
1-5: Menugaskan dan melatih pegawai penanggung jawab di pemerintah daerah yang memfasilitasi layanan oleh
lembaga pemerintah daerah/ pusat dan penyedia layanan swasta untuk IKM.
1-6: Membuat Direktori Layanan (web) untuk memperkenalkan layanan dukungan IKM oleh lembaga pemerintah dan
swasta.
1-7: Memfasilitasi dan mendukung kegiatan POKJA di setiap wilayah sasaran.
* Dianggap sama dengan kegiatan 2-4 untuk Output-2.
1-8: Memantau situasi penyediaan layanan di setiap wilayah sasaran.
Output-2: Pengoperasian platform bagi pengembangan industri lokal
Daya saing IKM sasaran di setiap wilayah sasaran diperkuat dengan penyediaan layanan yang efisien.
2-1: Melaksanakan rapat POKJA rutin di setiap wilayah sasaran.
2-2: Menganalisis permasalah dan kebutuhan rantai nilai serta hubungan industri dari IKM sasaran di setiap wilayah
sasaran.
2-3: Mengidentifikasi tujuan, tugas dan kegiatan pengembangan IKM sasaran berdasarkan hasil analisis yang dilakukan
di atas.
2-4: Melaksanakan kegiatan yang telah diidentifikasi dengan menggunakan mekanisme penyediaan layanan yang telah
ditingkatkan.
2-5: Menganalisis dan mengevaluasi hasil kegiatan pengembangan IKM sasaran oleh POKJA di setiap wilayah.
Output-3: Pembuatan model pengembangan IKM
Model pengembangan IKM dibuat berdasarkan pengalaman dan pelajaran yang diperoleh melalui pelaksanaan kegiatan untuk
Output-1 dan 2 agar dapat diaplikasikan ke wilayah lain.
3-1: Menganalisis dan mengevaluasi pengalaman yang diperoleh melalui Kegiatan dibawah Output-1 dan 2 ditiap
wilayah.
3-2: Mengidentifikasi konten dan faktor-faktor yang membentuk model agar dapat diadaptasikan ke wilayah lain.
3-3: Mengembangkan panduan sebagai materi referensi bagi wilayah lain guna mereplikasi dan melaksanakan model
3-4: Menyelenggarakan lokakarya guna mensosialisasikan model tersebut kepada pemangku kepentingan lain.
3-5: Memfasilitasi pengaturan anggaran yang diperlukan sebagaimana juga memformulasikan program guna merespon
adanya kemungkinan permintaan dari pemerintah provinsi lain diluar wilayah sasaran.

I.6 Lembaga Pelaksana (Counterparts)

Lembaga-lembaga pelaksana, termasuk Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian
Perindustrian sebagai counterpart utama pada tingkat pusat, dan pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota
(khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Dinas Koperasi & UMKM) sebagai counterparts
utama di tingkat regional (di wilayah sasaran).

3

Sebagai hasilnya.Maret 2016).Juli 2014) dan Fase II (September 2014 . 4 . Wilayah III: Industri pengolahan kakao. dengan demikian memfasilitasi pelaksanaan Rencana Aksi untuk industri sasaran dari Fase I. Kabupaten/ Kota Posisi Kebijakan Wilayah I: Industri pengolahan aloevera Ditetapkan sebagai komoditas sasaran dari program Kalimantan Barat Kota Pontianak One-Village One-Product (OVOP) (oleh Ditjen IKM dari Kemenperin) Wilayah II: Industri alaskaki Ditetapkan sebagai kompetensi inti daerah (oleh Kota Jawa Timur Kota Mojokerto Mojokerto) Pada paruh akhir Fase II. platform penyedia layanan (dalam konteks Proyek ini adalah platform bagi pengembangan industri lokal) telah dibentuk untuk industri sasaran Fase I.1 Wilayah/ industri sasaran dalam pelaksanaan Fase I Wilayah/ Provinsi Industri. Untuk industri/ wilayah sasaran baru. Kebijakan Industri Nasional (Mei 2008) membutuhkan setiap pemerintah daerah untuk merancang dan mempersiapkan/ melaksanakan Peta Panduan untuk pengembangan industri dengan pendekatan bottom-up. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek I.7. Tabel I.7 Informasi Proyek Lainnya (fase dan industri sasaran) Proyek ini terbagi menjadi Fase I (April 2013 . Kemudian. Rotan: Ditetapkan sebagai kompetensi inti daerah (oleh Kota tapi difokuskan di Kota Palu Palu) dan didukung sebagai industri prioritas melalui surat dan kabupaten sekitarnya keputusan gubernur. Keterangan: Industri atau komoditas unggulan ditetapkan sebagai industri unggulan daerah oleh pemerintah provinsi dan sebagai kompetensi inti oleh kabupaten/ kota. Dalam Fase I. Di Fase II. Wilayah II: Industri logam berfokus Ditetapkan sebagai kompetensi inti daerah (oleh Kabupaten Jawa Tengah pada komponen kapal Tegal) Kabupaten Tegal * Di antara beragam produk logam di kabupaten ini. Tidak ada kab/kota tertentu. industri/ wilayah sasaran tersebut untuk pembentukan dan pengoperasian platform ditambahkan berdasarkan rekomendasi dari Ditjen IKM. POKJA/ fasilitator terus mengoperasikan dan memperkuat platform. Kemenperin dan Tim Tenaga Ahli mempertimbangkan relevansinya untuk fokus pada satu yang memiliki posisi kebijakan yang kuat oleh pemerintah daerah. Tim Tenaga Ahli mendukung POKJA dalam menjalankan diagnosis bagi industri sasaran. Berdasarkan pelajaran yang dipelajari dari evaluasi. Pengolahan kakao: Ditetapkan sebagai industri unggulan Sulawesi Tengah Industri mebel rotan provinsi (oleh Sulawesi Tengah).7. Kabupaten/ Kota Posisi Kebijakan Wilayah I: Industri fesyen Ulos (kain Ditetapkan sebagai klaster industri prioritas dalam sektor Sumatera Utara tenun khas Batak) fesyen (oleh Ditjen IKM Kemenperin) dan kompetensi inti Kabupaten Samosir daerah (oleh Kabupaten Samosir). kegiatan Proyek yang dipraktekkan dalam paruh pertama Fase I akan diulangi. Tabel I. hasil kegiatan Proyek dievaluasi. Pada awal Fase II. Sementara itu. Tim Tenaga Ahli akan membantu Kemenperin menyebarkan model ini ke wilayah lain. dan memulai pelaksanaan/ pengawasan Rencana Aksi melalui pengoperasian dan penggunaan platform.2 Wilayah/ industri tambahan pada Fase II Wilayah/Provinsi Industri. struktur pelaksana Proyek telah dibentuk (pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) dan penempatan fasilitator untuk POKJA) untuk industri/ wilayah sasaran. merumuskan Rancana Aksi. direktori layanan telah diperbarui (untuk mencakup wilayah tambahan) dan diperbaiki lebih lanjut. dengan kegiatan/ layanan dukungan yang tersedia bagi pengembangan IKM telah disurvei. petunjuk teknis sebagai referensi model kerja untuk pengembangan IKM (industri lokal) akan dibuat.

aktivitas POKJA difasilitasi dan dibimbing oleh masing-masing tenaga ahli yang bertanggung jawab untuk setiap wilayah (dibagi kedalam Wilayah I: Sumatera/ Kalimantan. Sementara itu. Wilayah II: Jawa/ Bali.1 Hasil Proyek II.1 Pengadaan Perlengkapan Proyek Nama Tipe/Merek Jumlah Keterangan Komputer desktop MS Office Lenovo H520-3216 2 unit Dalam kondisi yang baik. 3 Lihat Lampiran-3 revisi Rencana Operasi. waktu penugasan sebesar 51.7 juta untuk seluruh industri sasaran. Kemudian. 4 Perlengkapan ini dialihkan ke Ditjen IKM setelah Proyek selesai melalui Memo Pengalihan Perlengkapan pada Lampiran 4. I) Printer multi-fungsi Epson L210 1 unit Idem (Wil. Di antara biaya operasional lokal selama Fase I (sebagian besar merupakan biaya konsultan nasional/ lokal. sewa mobil. Printer laser warna Canon Laser Shot LBP9100Cdn 1 unit Idem Mesin fotokopi multi-fungsi Ricoh Aficio MP2000L2 1 unit Idem Mesin tel/fax Panasonic. Tabel II. dan Wilayah III: Wilayah Timur).8 juta akan dialokasikan sebagai dukungan anggaran untuk mendukung kegiatan dukungan yang difasilitasi oleh POKJA.2 juta (tidak termasuk sub-kontrak survei profil lembaga dukungan senilai JPY 4. meningkat dari Fase I karena adanya tambahan wilayah/ industri sasaran. Biaya operasional lokal selama Fase II diestimasi mencapai JPY 26.1 juta. Tidak ada pengadaan perlengkapan kantor yang dijadwalkan selama periode Fase II. Biaya operasional lokal selama Fase I yang ditanggung oleh Tim Tenaga Ahli adalah sebesar JPY 17. JPY 1. KX-FT503CX-W 1 unit Idem Printer multi-fungsi Canon MP237 1 unit Idem (Wil.1. konsultan lokal (yang juga mendampingi aktivitas PIU dan POKJA/ fasilitator) ditempatkan di setiap tempat kerja daerah/ industri sasaran dalam rangka semakin memperkuat pendampingan ke/ komunikasi dengan C/P terkait. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek II. Seperti yang ditunjukkan pada tabel perbandingan untuk penugasan tenaga ahli (Rencana Operasi yang telah direvisi 3). Chief Advisor dan Koordinator Proyek mendukung kegiatan PIU termasuk dalam pembuatan model kerja dan penyiapan petunjuk teknis untuk fasilitasi industri lokal. dan didukung oleh konsultan nasional yang bertempat di kantor pusat. perjalanan dengan pesawat/ kereta api). (3) Pengadaan perlengkapan kantor (penting dalam kegiatan Proyek) Pengadaan perlengkapan kantor berikut dilakukan sesuai rencana awal pada Fase I 4. Dari total biaya tersebut. 5 . dukungan anggaran untuk kegiatan dukungan yang difasilitasi oleh POKJA bernilai JPY 1. Hasil Proyek II.0 juta). input lain dari Tim Tenaga Ahli termasuk pada biaya operasional lokal untuk membiayai kegiatan fasilitasi untuk pengembangan industri sasaran di lapangan. III) Keterangan: Daftar ini tidak termasuk barang habis pakai. II) Printer multi-fungsi Canon MG3170 1 unit Idem (Wil.33 bulan dialokasikan kepada Tenaga Ahli. Pada Fase II. (2) Biaya lokal (penting dalam kegiatan Proyek) Selain Tenaga Ahli. Tenaga Ahli telah dimobilisasi secara fleksibel sesuai dengan jadwal kegiatan Proyek.94 bulan selama Fase I.1-1 Input dari Pihak Jepang (1) Mobilisasi tenaga ahli Jumlah total waktu penugasan Tenaga Ahli mencapai sebesar 49.

Kedutaan Besar Indonesian (Atase Perindustrian) di Tokyo (5) Kesempatan pelatihan lain di Jepang selama Proyek Sejak dimulainya Proyek. Asosiasi yang Ehime terkait industri komponen kapal Hari 5 Pusat Perdagangan Produk Agro (Fresh Park KaRaRi). ~ Feb. Misi pelatihan (studi banding) dipimpin oleh Sekretariat Ditjen IKM yang terdiri dari 14 anggota 5 dari PIU dan POKJA. Tabel II. Ehime Hari 4 Pusat Pengembangan Industri Lokal Imabari. Pusat Ristek Industri Ehime. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek (4) Pelatihan (studi banding) di Jepang Tim Tenaga Ahli telah mengatur pelatihan untuk counterpart dalam mempelajari kebijakan dan program dukungan untuk industri lokal/ IKM di Jepang selama dua minggu tanggal 13-24 Januari 2014. ‘14 2 JICA Kansai Dukungan Keuangan dan Teknis untuk Promosi UKM Oct. Tabel II. ‘14 14 JICA Shikoku Merchandize Branding/Marketing dengan Menggunakan Nov. ‘14 1 JICA Chubu Sumber Daya Lokal Manajemen Korporat Praktis untuk Perbaikan Produktivitas Jan. Peserta mengunjungi i) Perfektur Ehime untuk belajar mengenai kebijakan dan program dukungan unt industri lokal/ IKM. ‘14 2 JICA Kansai Pengembangan dan Promosi UKM Nov. ‘15 2 JICA Chubu Kebijakan Pengembangan UKM Feb. Dua observator bergabung sebagai bagian dari pelatihan terutama di Ehime dari 14-18 Januari. ii) Organization for SME & Regional Innovation (SMRJ) di Tokyo untuk mempelajari program nasional dan peran dalam pengembangan industri regional. Univ.1.2 Rencana Perjalanan (ringkasan) Hari Lembaga/ tempat yang dikunjungi Kota Hari 1 Kantor Pusat JICA (courtesy visit) Tokyo Hari 2 Pemerintah Provinsi Ehime.~Aug. ~ Mar. Departemen Ekonomi dan Tenaga Kerja Hari 3 Yayasan Pengembangan Industri Lokal Ehime. dan bagaimana mereka dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan IKM/ industri lokal. dan iii) belajar metode regional/ product branding. ~ Nov. Pelatihan ini pada khususnya bertujuan untuk mempelajari skema dukungan yang dipersiapkan oleh pemerintah Jepang dan SMRJ. Peserta termasuk dua observator yang partisipasinya dibiayai oleh Ditjen IKM. ‘15 1 JICA Sumber Daya Lokal Okinawa 5 Lihat lampiran-5 untuk rencana perjalanan dan daftar peserta. ‘15 1 JICA Tokyo melalui metode KAIZEN/ Pengendalian Mutu Memperkuat BDS untuk Promosi Industri Jan.3 Daftar kesempatan pelatihan JICA yang telah dihadiri Jumlah Institusi Nama Pelatihan Periode Peserta Pelatihan Kebijakan Pengembangan UKM Aug. JICA telah menyediakan delapan (8) kesempatan pelatihan di Jepang pada topik terkait pengembangan IKM dan fasilitasi berikut. ~ Sep. 6 . Asosiasi Industri Towel Imabari. Ditjen IKM dan Direktorat Jenderal Kemenperin telah menominasi dan mengirim staf mereka maupun staf pemerintah daerah di wilayah sasaran untuk kesempatan ini.1. seperti yang ditunjukan pada rencana perjalanan dibawah. ‘15 2 JICA Shikoku Merchandize Branding/ Pemasaran dengan Memanfaatkan Jul. Toko untuk produk khas lokal Hari 10 Kantor Pusat JICA (pelaporan). ~ Mar. Museum Kerajinan Tekstil Hari 6 Hari kosong Hari 7 SMRJ Hari 8 Kuliah mengenai product/regional branding Tokyo Hari 9 Toko Antenna Ehime. ~ Des.

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

II.1-2 Input dari Pihak Indonesia

(1) Counterpart (C/P)

Komite Koordinasi Bersama (JCC) terdiri dari Ditjen IKM sebagai anggota inti, Direktorat Jenderal yang
terkait di Kemenperin dan Kementerian terkait, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesa dan Bank
Indonesia (BI).

Unit Pelaksana Proyek (PIU), yang sebagian besar terdiri dari pegawai Ditjen IKM, dibentuk sebagai C/P
pada tingkat pusat dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) dari Ditjen IKM di bulan Juni 2013. Tim
Tenaga Ahli menyarankan PIU terdiri dari satu tim untuk setiap wilayah sasaran dan kegiatan utama
(direktori layanan, pengembangan kapasitas) dibawah pengawasan Ditjen IKM dan Direktur setiap
wilayah. PIU kemudian direvisi dengan penerbitan SK dari Ditjen IKM di bulan Mei 2015 sehingga tim
kerja untuk salah satu kegiatan proyek (pembentukan model kerja/ petunjuk teknis untuk pengembangan
industri lokal) itu baru dirumuskan. Struktur dan anggota dari PIU yang ditunjukan dibawah ini
melibatkan 37 C/P selama Proyek berjalan.

Gambar II.1.1 Struktur Revisi PIU-Kemenperin

Di tingkat daerah, pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota (terutama Dinas Perindustrian dan
Perdagangan, dan Dinas Koperasi dan UMKM), asosiasi industri terkait, lembaga keuangan, universitas
dan lembaga layanan yang terkait (lembaga dukungan) membentuk POKJA untuk setiap industri sasaran
sebagai C/P daerah. Dalam proyek ini, enam (6) POKJA telah dibentuk untuk industri sasaran Fase I dan
II dengan penerbitan SK dari setiap kepala pemerintah daerah. Secara keseluruhan, 82 C/P daerah
sebagian besar telah ikut serta selama Proyek berlangsung.

Kedua POKJA untuk industri pengolahan kakao dan mebel rotan di Sulawesi Tengah secara resmi
dibentuk sebagai kelompok kerja dibawah Tim Koordinator untuk Pengembangan Industri Lokal yang
sebelumnya sudah dibentuk oleh Pemerintah Provinsi pada tahun 2012 (yang terdiri dari 14 pegawai).

Daftar C/Ps yang terlibat dalam PIU dan POKJA dapat dilihat pada Lampiran 6.

6
Lihat Lampiran-6 untuk daftar C/Ps dalam PIU dan POKJA.

7

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

(2) Pembiayaan lokal (penting untuk mobilisasi C/P pada Proyek)

Terkecuali biaya perjalanan jika C/P daerah diundang untuk menjalani pelatihan fasilitasi di Jakarta,
seluruh biaya perjalanan dan honorarium untuk mobilisasi C/P ditanggung oleh pihak Indonesia. Perlu
dicatat bahwa sebagian besar kegiatan dukungan yang difasilitasi POKJA untuk industri sasaran telah
dibiayai oleh pihak Indonesia, kecuali untuk kegiatan dukungan yang dijadwalkan pada tahap awal
fasilitasi (berbagi dengan dana dari Tim Tenaga Ahli, tetapi untuk sebagian kecil).

(3) Kantor dan fasilitas lain untuk Proyek

Proyek berlokasi di kantor pusat dan lima kantor daerah di wilayah sasaran Proyek. Kantor pusat
berlokasi di Ditjen IKM, yang merupakan kantor sebagian besar anggota PIU. Setiap kantor daerah diatur
dalam premis Dinas Perindustrian & Perdagangan, yang memimpin POKJA.

II.1-3 Kegiatan Proyek

C/P bersama dengan Tim Tenaga Ahli telah bekerja sama di kegiatan Proyek untuk Output-1: Persiapan
platform penyediaan layanan (pembentukan platform untuk pengembangan industri lokal), Output-2:
Memperkuat daya saing IKM sasaran melalui penyediaan layanan (pengoperasian platform untuk
pengembangan industri lokal) dan Output 3: Pembentukan model pengembangan IKM (industri lokal)
berdasarkan pengalaman dan pelajaran dari Output-1 dan Output-2, yang telah dilaksanakan melalui
analisa/ evaluasi pendekatan SMIDeP oleh POKJA mengenai pendekatan SMIDeP untuk fasilitasi industri
lokal.

Semua kegiatan yang dijadwalkan untuk Output-1 sampai Output-3 telah dilaksanakan (kecuali untuk
kegiatan 2-5: Menganalisis dan mengevaluasi hasil kegiatan pengembangan IKM sasaran oleh POKJA di
setiap wilayah, pada industri/ wilayah sasaran tambahan sejak fase II). Status pelaksanaan kegiatan
proyek disampaikan berikut.

(1) Kegiatan untuk Output-1

Status pelaksanaan untuk setiap kegiatan Output-1 dijelaskan dengan rinci dibawah ini. Berdasarkan
tujuan, struktur, langkah/ metode, dan informasi Proyek, yang mengharuskan C/P untuk mengoperasikan
platform dengan efektif, telah dipersiapan untuk wilayah/ industri sasaran pada Fase I maupun II.
Tabel II.1.4 Status pelaksanaan kegiatan untuk Output-1
Output-1: Pembentukan platform bagi pengembangan industri lokal
Platform penyediaan layanan yang efisien disusun sebagai dasar pengembangan IKM di setiap wilayah sasaran.
No. Kegiatan Ringkasan kemajuan
1-1: Membentuk Unit Pelaksana Proyek (PIU) Sebuah Surat Keputusan (SK) dikeluarkan tentang pembentukan PIU
yang diorganisir oleh Ditjen IKM di oleh Ditjen IKM di bulan Juni 2013, yang terdiri atas tim penasehat,
Kemenperin untuk mengelola Proyek koordinasi, dukungan arsip (Tim Wilayah untuk masing-masing 3
secara keseluruhan. wilayah), direktori layanan, dan pengembangan kapasitas.
Pada Mei 2015, Ditjen IKM telah merevisi SK untuk i) menambah
anggota Tim Wilayah PIU dalam merespon wilayah/ industri sasaran
tambahan sementara melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan
industri terfokus, dan ii) untuk membentuk Tim Petunjuk baru yang
meliputi anggota PIU pada tingkat pegawai yang lama dan staf Ditjen
Pengembangan Perwilayahan Industri (Ditjen PPI) yang bertanggung
jawab pada persiapan fasilitasi rencana pengembangan industri
regional.

8

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

1-2: Membentuk POKJA di setiap wilayah POKJA dibentuk masing-masing untuk enam industri sasaran di lima
sasaran guna mengkoordinasikan kegiatan wilayah melalui penerbitan SK oleh kepala daerah, yang menetapkan
pengembangan IKM dalam mengelola POKJA dipimpin oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di setiap
Proyek secara keseluruhan. wilayah, mengangkat satu fasilitator (dari tenaga penyuluh lapangan
atau konsultan diagnosis IKM) dan melibatkan lembaga dukungan
terkait kepada industri sasaran. Sejak Maret sampai April 2014,
keanggotaan POKJA untuk industri fesyen Ulos di Kabupaten Samosir
dan industri rotan di Provinsi Sulawesi Tengah telah direvisi guna
memastikan dukungan yang efektif bagi industri sasaran dan
keterkaitan dengan institusi pendukung.
1-3: Meninjau dan memetakan lembaga dan Peninjauan/ pemetaan terhadap kebijakan/ program yang ada dan
layanan pengembangan IKM yang tersedia lembaga dukungan yang terkait dengan pengembangan IKM di tingkat
saat ini oleh berbagai wadah dan penyedia pusat dan daerah telah dilaksanakan oleh konsultan lokal terpilih dan
layanan di setiap wilayah sasaran. selesai pada awal Desember 2013 yang meliputi wilayah sasaran Fase I
(lembaga dukungan di Povinsi Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan
Sulawesi Tengah).
Pekerjaan yang sama untuk wilayah sasaran Fase II telah dilaksanakan
pada bulan Desember 2014 dengan mendampingi POKJA yang baru
dibentuk yang kemudian diselesaikan pada bulan Februari 2015.
1-4: Menetapkan sistem untuk memastikan Sistem penyediaan layanan yang efisien bagi IKM, dengan kata lain
penyediaan layanan yang efisien bagi IKM. platform bagi pengembangan industri lokal, telah disusun untuk
wilayah/ industri sasaran dari Fase I dan II dalam beberapa hal berikut;
- Struktur operasional platform telah tersusun (dalam bentuk PIU dan
POKJA pada setiap industri sasaran),
- Langkah/ metode pengembangan industri lokal telah dipelajari
(melalui pelatihan fasilitasi) oleh POKJA dan PIU pada tingkat
pegawai,
- Dukungan sumber informasi telah disiapkan (melalui data profil
lembaga dukungan).
Platform bagi pengembangan industri lokal untuk setiap industri telah
beroperasi selama Proyek berjalan guna memberikan dukungan lebih
baik dengan bimbingan/ saran Tim Tenaga Ahli di lapangan.
1-5: Menugaskan dan melatih pegawai Pegawai yang bertanggung jawab ditugaskan sebagaimana dilaporkan
penanggung jawab di pemerintah daerah dalam kegiatan 1-1 & 1-2, termasuk fasilitator yang diangkat di setiap
yang memfasilitasi layanan oleh lembaga POKJA untuk industri sasaran. Para C/P di tingkat kerja (pegawai Tim
pemerintah daerah/ pusat dan penyedia Wilayah dari PIU dan Disperindag di POKJA, fasilitator yang
layanan swasta untuk IKM. ditempatkan di POKJA) telah menerima petunjuk praktis melalui
keikutsertaan dalam pelatihan fasilitasi yang dilaksanakan selama
tanggal 3-5 Juli 2013 (untuk industri sasaran Fase I) dan selama
tanggal 17-19 November 2014 (untuk industri sasaran Fase II).
1-6: Membuat Direktori Layanan (web) untuk Direktori penyedia layanan (dalam bentuk buku), yang mencakup data
memperkenalkan layanan dukungan IKM lembaga dukungan baik di tingkat pusat maupun wilayah (3 wilayah
oleh lembaga pemerintah dan swasta. sasaran) telah disusun berdasarkan hasil survei yang disub-kontrakkan,
dan didistribusikan kepada Tim Wilayah dari PIU dan POKJA di
industri sasaran Fase I. Ditjen IKM dan Tim Tenaga Ahli telah
mencapai kesepakatan bahwa profil lembaga dukungan yang telah
dikumpulkan akan dibuatkan database dari aspek i) berbagi
pengetahuan diantara Ditjen IKM dan pemerintah daerah dan ii)
perluasan cakupan data/ wilayah di masa mendatang.
Versi demo database direktori telah disiapkan dan kemudian diperbaiki
dalam hal kegunaannya pada bulan Mei 2015 dengan mengakomodasi
data profil lembaga dukungan di wilayah tambahan di Fase II.
Meskipun begitu, sejak Ditjen IKM memutuskan untuk mengganti
sistem operasional website yang merupakan wadah mengunggah
database direktori, sehingga sistem pemograman database direktori
dapat disesuaikan. Kemudian, Ditjen IKM menunjuk teknisi
pemograman untuk menyesuaikan sistem ini, dan hampir selesai di
bulan November 2015 termasuk database direktori.

9

meskipun terkadang mengamati perencanaan/ pengadaan tanpa konsultasi sebelumnya dengan POKJA. Meskipun begitu. kecuali pada proses fasilitasi awal. Selanjutnya. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek 1-7: Memfasilitasi dan mendukung kegiatan Ditjen IKM (setiap direktorat wilayah) telah mendukung dalam POKJA di setiap wilayah sasaran. Rapat ini umumnya diadakan dengan fasilitasi Tim Tenaga Ahli psda kasus POKJA komponen kapal di Tegal dan industri fesyen ulos di Samosir. Diantara Tim Wilayah dari PIU untuk setiap wilayah sasaran. fasilitasi/pengawasan pelaksanaan Rencana Aksi) atau juga dilaksanakan sewaktu-waktu ketika terdapat topik khusus.5 Status pelaksanaan kegiatan untuk Output-2 Output-2: Pengoperasian platform bagi pengembangan industri lokal Daya saing IKM sasaran di setiap wilayah sasaran diperkuat dengan penyediaan layanan yang efisien.1. Tim Wilayah telah diharapkan dapat memperkuat bimbingan/ saran di lapangan kepada POKJA demi memastikan dan mempercepat kemajuan/ pencapaian kegiatan fasilitasi oleh POKJA. layanan (misalkan kemajuan penyusunan/ pelaksanaan Rencana Aksi Industri Lokal) yang difasilitasi oleh POKJA. evaluasi terminal (kegiatan 2-5) masih belum tercapai selama Proyek karena POKJA menyadari bahwa Rencana Aksi industri sasaran tambahan baru difasilitasi setengah jalan. POKJA untuk industri sasaran Fase II telah menyelesaikan diagnosis industri dan perencanaan Rencana Aksi melalui pertemuan POKJA/ focus group discussion (FGD) dengan industri sasaran dibawah bimbingan Tim Tenaga Ahli dan Ditjen IKM. Sejauh ini PIU telah mengadakan dua rapat-bersama dengan POKJA dan Ditjen IKM telah menyelenggarakan dua kali JCC guna memonitor kemajuan dan mencari tahu permasalahan dalam fasilitasi pengembangan industri lokal untuk industri sasaran di setiap POKJA. dalam rangka mewujudkan ‘Tantangan Aksi’ yang ditetapkan oleh POKJA melalui konsultasi dengan pelaku industri sasaran. POKJA lain telah mengadakan rapat secara mandiri guna berbagi kemajuan/ permasalahan dan membahas langkah- langkahnya. (2) Kegiatan untuk Output-2 Status pelaksanaan untuk setiap kegiatan Output-2 dijelaskan dengan rinci dibawah ini. Peran ini belum sepenuhnya dilakukan oleh Tim Wilayah (kecuali pada kasus Samosir) dan dianggap belum optimal. meskipun pengembangan industri lokal diartikan sebagai tugas yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Hal ini sebagian karena industri fesyen ulos di Samosir dirancang oleh program yang ditangani langsung oleh Ditjen IKM (pengembangan klaster industri). Masing-masing POKJA untuk industri sasaran Fase I dan II telah menyelesaikan diagnosis industri untuk industri sasaran mereka dan menyusun Rencana Aksi (LIAP) awal sesuai dengan langkah dan metode yang dipelajari dari pelatihan fasilitasi. mengamankan anggaran untuk bagian kegiatan dukungan yang diusulkan oleh POKJA secara umum. beberapa kegiatan dukungan telah diberikan sesuai dengan jadwal yang diasumsikan pada awalnya untuk tiga dari empat industri sasaran. Kegiatan Ringkasan kemajuan 2-1: Melaksanakan rapat POKJA rutin di setiap Rapat POKJA telah dilaksanakan sekali dalam 2 bulan guna wilayah sasaran. 1-8: Memantau situasi penyediaan layanan di PIU (Tim Wilayah) secara periodik memonitor situasi penyediaan setiap wilayah sasaran. 10 . dimana untuk Samosir (Wilayah I) telah dianggap lebih aktif dalam membantu POKJA memfasilitasi kegiatan dukungan dan datang pada rapat POKJA. Kedua POKJA yang baru terbentuk telah memulai fasilitasi pelaksanaan kegiatan dukungan yang telah diusulkan pada Rencana Aksi mereka. menyelesaikan tugas (diagnosa industry. perencanaan Rencana Aksi. Meskipun begitu. Tabel II. No.

tugas dan kegiatan POKJA bersama dengan Tim Wilayah di PIU menyusun Rencana Aksi pengembangan IKM sasaran berdasarkan sesuai dengan metode yang dipelajari dalam pelatihan fasilitasi dan hasil analisis yang dilakukan di atas. 2015. Sejak pelajaran dari persiapan Rencana Aksi oleh POKJA dari Fase I telah ditekankan pada pelatihan fasilitasi untuk anggota POKJA di Fase II. hasil diagnosis. Rencana Aksi kemudian diperbaiki pada rapat POKJA yang diadakan pada bulan Nov. Rencana Aksi dari 3 industri telah dilaksanakan sebagaimana awalnya diasumsikan. . POKJA Fase II masih memiliki kesusahan dalam menetapkan tujuan yang dapat diukur dengan objektif. baik POKJA maupun industri sasaran telah mengidentifikasi permasalahan/ hambatan yang harus diatasi dan berbagi ide tentang tindakan dan dukungan apa yang dapat diajukan pada langkah penyusunan Rencana Aksi. dan . 2015 sesuai dengan kemajuan/ pencapaian sejauh ini. mereka diingatkan mengenai hal-hal berikut ini. kecuali untuk industri furnitur rotan di Kota Palu yang 7 Lihat Lampiran-7 untuk Rencana Aksi dan industri sasaran awal. Pada saat POKJA menyusun kegiatan dukungan.Memastikan pengaturan waktu/ rangkaian yang baik diantara kegiatan dukungan yang diajukan. IKM sasaran 7 . POKJA industri di Fase II telah melaksanakan FGD dengan IKM dan kunjungan lapangan ke IKM dalam rangka mengulas hasil draf Rencana Aksi yang dibuat pada bulan Feb. Telah diamati secara umum bahwa POKJA kurang memperhatikan poin-poin tersebut di atas (yaitu kurang perhatian terhadap implikasi anggaran/ rangkaian kegiatan dukungan yang diajukan) ketika menyusun Rencana Aksi awal (September 2013). 11 . Namun. difasilitasi dan didukung dengan lebih baik dalam rangka ditingkatkan. Rencana Aksi telah diperbaiki secara periodik pada rapat POKJA dengan menyesuaikan kemajuan/ pencapaian. aksi mereka sendiri (seperti pengembangan produk baru/ lebih baik./Des. pada awal Sep. didampingi oleh Tim Tenaga Ahli. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek 2-2: Menganalisis permasalahan dan kebutuhan Setelah pelatihan fasilitasi yang meliputi diagnosis industri melalui rantai nilai serta hubungan industri dari analisis pemangku kepentingan/ analisa rantai pasok untuk IKM sasaran di setiap wilayah sasaran.Mengumpulkan semua kegiatan dukungan dari pemangku kepentingan yang telah dianggarkan atau sedang diajukan berdasarkan masalah/ kebutuhan yang dihadapi IKM melalui proses diagnosis. POKJA telah lebih memperhatikan aspek-aspek tersebut ketika POKJA merevisi Rencana Aksi tersebut (mulai dari 2014 dan seterusnya).Mengidentifikasi lembaga dukungan yang masuk akal dan melakukan konsultasi dengan mereka terlebih dahulu terkait kemungkinan kerjasama. Namun. setiap POKJA untuk industri sasaran melaksanakan kerja diagnosis melalui kunjungan lapangan ke IKM dan rapat POKJA. 2013 untuk industri sasaran fase I dan di bulan Desember 2014 untuk industri fase II. pemasaran/ promosi ke pasar/ pembeli potensial) dan kegiatan dukungan yang diajukan oleh anggota POKJA/ lembaga dukungan. . Berdasarkan diagnosis ini. Rencana Aksi yang terdiri atas ‘tantangan aksi’. . Pekerjaan diagnosis dilakukan oleh POKJA. 2-4: Melaksanakan kegiatan yang telah Tim Tenaga Ahli telah memberikan bimbingan/ saran pada setiap diidentifikasi dengan menggunakan POKJA sehingga kegiatan dukungan yang diusulkan Rencana Aksi mekanisme penyediaan layanan yang telah dirancang. memastikan output yang diharapkan. draf Rencana Aksi awal telah diperbaiki setidaknya pada impilkasi anggaran.Menyaring kegiatan dukungan yang memiliki hubungan masuk akal dengan tantangan aksi. mengidentifikasi permasalahan/ hambatan. 2-3: Mengidentifikasi tujuan. sambil review/ konfirmasi hasil penyusunan diagnosis yang dibuat di pelatihan fasilitasi.

pusat litbang dan supplier bahan baku produksi untuk mencapai tujuan utama. Kesimpulan dari evaluasi yang dilakukan POKJA dinyatakan secara singkat sebagai berikut dan selanjutnya dijelaskan secara detail pada bagian Pencapaian Proyek. dan komunikasi dengan produsen sasaran untuk mendiskusikan solusi bersama. Survey ini dirancang untuk menunjukkan berapa IKM/ produsen sasaran yang berhasil mencapai tantangan aksi. setidaknya dalam hal jumah kegiatan dukungan yang dilaksanakan. di bulan Sep. 2-5: Menganalisis dan mengevaluasi hasil Setiap POKJA untuk industri fase I melakukan evaluasi terminal kegiatan pengembangan IKM sasaran oleh mengenai pencapaian fasilitasi Rencana Aksi selama 2 tahun terakhir POKJA di setiap wilayah. Diantara semua POKJA. dengan POKJA melalui rapat rutin. dan berhasil memfasilitasi penyediaan dukungan dari lembaga dukungan teknis. POKJA untuk industri komponen kapal secara aktif merevisi penggunaan program yang telah dianggarkan dan mendekati pemerintah pusat/provinsi agar dapat membiayai dukungan tambahan yang diperlukan guna mendukung IKM-IKM menjawab tantangan aksi. Kedua POKJA pada industri Fase II telah memulai kegiatan ini: fasilitasi penerapan Rencana Aksi dengan menyediakan kegiatan dukungan. meskipun maih diharapkan unuk memperkuat arahan dalam tujuan utama Rencana Aksi (dukungan pengembangan pasar pada khususnya). POKJA untuk industri alas kaki di Mojokerto telah mulai pengadaan beberapa kegiatan dukungan penting. POKJA untuk industri pengolahan kakao/ komponen kapal telah mengoperasikan dan menggunakan platform pengembangan industri lokal dalam memfasilitasi kegiatan dukungan. Di sisi lain. setiap POKJA telah difasilitasi dengan baik dalam pelaksanaan kegiatan dukungan yang diusulkan. produsen sasaran telah aktif berbagi kebutuhan dan permasalahan. POKJA industri pengolahan aloevera di Pontianak masih cukup lambat dalam memfasilitasi kegiatan dukungan yang diusulkan. . 2015. atau Nov. dan baru mencapai kemajuan nyata di bulan Nov. 2015 dimana POKJA dan IKM sasaran dapat mereview Rencana Aksi awal dan mengusulkan/ merevisi kegiatan dukungan / tindakan IKM sendiri untuk mencapai tantangan aksi. Hal ini dapat dianggap sebagai kasus baik dalam pemanfaatan platform ini. dan memutuskan untuk memperpanjang 12 . Sedangkan untuk industri pengolahan kakao. yang mana berubah sesuai kemajuan/ pencapaian Rencana Aksi. dan telah memfasilitasi banyak kegiatan dukungan dengan memanfaatkan sumber daya dukungan lembaga seperti universitas lokal.POKJA industri komponen kapal/ pengolahan kakao mereview tujuan keseluruhan Rencana Aksi (tantangan aksi) telah dicapai oleh IKM/ produsen sasaran. dan hasil penting fasilitasi lainnya sesuai dengan PDM. POKJA untuk industri fesyen ulos juga telah aktif dalam mencari dukungan CSR dari pihak luar untuk melengkapi keterbatasan anggaran pemerintah. POKJA juga aktif dalam berjejaring dan melakukan pendekatan dengan lembaga dukungan diluar lembaga dalam bidang industri. Untuk mempersiapkan evaluasi terminal ini. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek membutuhkan proses lebih panjang dalam mengidentifikasi tindakan dan dukungan yang diberikan kepada IKM sararan pada tahap awal. Namun. Tim Tenaga Ahli membimbing setiap POKJA untuk menyiapkan dan melaksanakan survey wawancara dengan kuisioner kepada IKM/ produsen sasaran yang terlibat dalam Rencana Aksi. POKJA kemudian merespon kebutuhan/ permasalahan yang disampaikan produsen sasaran dan merevisi Rencana Aksi secara periodic dalam rangka mengusulkan/ menganggarkan kegiatan dukungan tambahan. dan memfasilitasi identifikasi lembaga dukungan potensial yang dapat merespon kebutuhan/ permasalahan tersebut.

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

fasilitasi sesuai dengan Rencana Aksi yang telah direvisi
(peningkatan lebih lanjut dalam kasus keberhasilan IKM/ produsen)
dengan tetap menjaga kerangka fasilitasi yang ada, seperti POKJA.
- POKJA untuk mebel rotan, yang mengakui bahwa tujuan
keseluruhan masih belum tercapai dalam hal jumlah kasus
keberhasilan IKM, juga memutuskan untuk terus memfasilitasi
Rencana Aksi namun akan melakukan reorganisasi POKJA.
- POKJA untuk fesyen ulos tampak puas dengan pencapaian (transaksi
yang dibuat dengan saluran penjualan/ pembeli yang dimaksud) dan
pembentukan koperasi usaha bersama, meskipun nilai dan skala
transaksi masih terbatas. Fasilitasi melalui kerangka yang ada,
seperti POKJA dari lembaga antar sektor, mungkin berhenti, namun
Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi wajib
menindaklanjuti Rencana Aksi.
Adapun fasilitasi Rencana Aksi untuk industri fase II, evaluasi terminal
tidak dilakukan karena POKJA mengakui bahwa pelaksanaan fasilitasi
masih setengah jalan.

(3) Kegiatan untuk Output - 3

Kegiatan - kegiatan Output-3: penciptaan model pengembangan IKM/ industri lokal berdasarkan
pengalaman dan pelajaran dari Output-1 dan -2 yang dimulai sejak Mei 2015. Tim Tenaga Ahli memulai
kegiatan dengan pembentukan tim petunjuk yang bertanggung jawab terhadap Output-3, yang terdiri dari
10 C/P anggota PIU di tingkat kerja dan staf dari Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan
Industri (Ditjen PPI) 8.

Sebagai salah satu output penting dari Proyek, model kerja (yang dipaparkan lebih rinci dalam petunjuk
teknis) disiapkan dengan tujuan meningkatkan praktik fasilitasi pengembangan industri lokal yang
dijalankan saat ini oleh pemerintah daerah. Selanjutnya, paparan terperinci mengenai peningkatan praktik
- praktik tersebut dalam petunjuk teknis dijelaskan dan disosialisasikan kepada pemerintah daerah lainnya
melalui penyelenggaraan seminar.
Tabel II.1.5 Status pelaksanaan kegiatan untuk Output-3
Output-3:Penciptaan model untuk pengembangan IKM
Model pengembangan IKM/ industri lokal dibuat berdasarkan pengalaman dan pelajaran yang diperoleh saat melakukan
kegiatan - kegiatan terkait Output-1 dan -2, agar dapat diaplikasikan di daerah lain.
No. Aktivitas Ringkasan kemajuan
3-1: Menganalisis dan mengevaluasi Kuesioner bagi POKJA disiapkan oleh tim petunjuk dan Tim Tenaga Ahli pada
pengalaman yang diperoleh dari bulan Mei 2015 guna mengkaji tingkat efektivitas/kelayakan penerapan
kegiatan - kegiatan terkait Output-1 pendekatan SMIDeP dalam fasilitasi industri lokal. POKJA kemudian diminta
dan -2 di setiap daerah. untuk memberikan ulasan/ komentar mengenai pendekatan fasilitasi yang
dipraktikan selama 2 tahun terakhir, dalam hal i) pelaksanaan persiapan, ii)
perancangan Rencana Aksi, iii) fasilitasi/ monitoring Rencana Aksi. Pada bulan
Juni 2015. Tim Tenaga Ahli dan tim petunjuk mengkaji jawaban hasil
kuesioner POKJA, sebagai masukan untuk medesain model kerja/ petunjuk
teknis (kegiatan 3-2).
3-2: Identifikasi konten dan faktor - Tim Tenaga Ahli dan tim petunjuk telah membahas, bahwa elemen - elemen
faktor untuk membuat model, yang penyusun model kerja meliputi i) pelaksanaan persiapan (yang terdiri dari
dapat diadaptasi di daerah lain. POKJA/ fasilitator di daaerah), ii) tahapan/ metode fasilitasi industri lokal
(terdiri dari diagnosis, perencanaan, penerapan, monitoring/ evaluasi rencana
aksi), dan iii) informasi sumber dukungan (termasuk direktori lembaga
dukungan). Berdasarkan hasil evaluasi di atas, poin - poin untuk peningkatan
praktik fasilitasi industri lokal (pelajaran dan praktik baik yang diobservasi
selama pembentukan/ pengoperasian platform) diambil dan dikategorikan

8
Ditjen PPI bertanggung jawab terhadap fasilitasi pengembangan wilayah yang direncanakan oleh pemerintah daerah, termasuk kompetensi
inti daerah dan industri unggulan provinsi (d/h), dan rencana induk pengembangan industri daerah (saat ini).

13

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

menjadi tiga elemen tersebut untuk memastikan tingkat efektivitas/kelayakan
penerapan model kerja.
3-3: Membuat petunjuk teknis sebagai Fasilitasi industri lokal dengan pendekatan SMIDeP mengungkapkan praktik
materi referensi bagi daerah lain baik, tips, dan pembelajaran, baik dari kasus sukses maupun tidak sukses dari
untuk mereplikasi dan menerapkan wilayah - wilayah sasaran. Poin - poin tersebut diungkapkan dalam proses
model. persiapan petunjuk teknis untuk fasilitasi industri lokal. Selain itu, Tim Tenaga
Ahli memperoleh opini dan umpan balik dari C/Ps melalui i)evaluasi
pendekatan SMIDeP oleh POKJA di wilayah sasaran, ii)wawancara para
anggota PIU, dan iii) mengorganisasikan serangkaian pertemuan diskusi
dengan tim petunjuk. Petunjuk teknis disusun menurut elemen - elemen yang
sama dengan model kerja, yaitu: i) struktur fasilitasi (pelaksanaan persiapan),
ii)fasilitasi pelaksanaan (tahapan/ metode fasilitasi industri lokal, dan iii)
informasi sumber dukungan, dan disiapkan sebagai dokumen referensial (atas
dasar sukarela), khususnya bagi staff pelaksana pemerintah daerah (juga staff
pelaksana Ditjen IKM). Petunjuk teknis didraf pertama kali oleh Tim Tenaga
Ahli pada bulan September 2015. Draf ini kemudian dikaji oleh tim petunjuk
dan direvisi berdasarkan komentar yang diperoleh, paralel dengan diskusi
intermiten dengan tim petunjuk dan Direktur Proyek/ Manajer mengenai i)
diseminasi kepada pemerintah daerah, ii) posisi/ pemanfaatannya dalam
program Ditjen IKM, dan iii) kemungkinan insentif bagi pemerintah daerah
yang memanfaatkannya.
3-4: Menyelenggarakan lokakarya untuk Kegiatan ini terdiri dari dua sub-kegiatan, yaitu:
mensosialisasikan model kepada Seminar regional untuk diseminasi pengalaman/ pencapaian fasilitasi industri
para pemangku kepentingan lokal dengan pendekatan SMIDeP. Seminar regional, berfokus pada
lainnya. industri-industri sasaran di fase I, diselenggarakan untuk i) berbagi pendekatan
fasilitasi, ii) berbagi faktor-faktor kunci (pelajaran dan praktik baik yang
diobservasi selama fasilitasi) dari kasus sukses, dan iii) mengusulkan
Kemenperin (Ditjen IKM dan direktorat terkait) untuk memperluas model
dukungan yang sama kepada daerah lain yang memiliki indutri lokal sejenis
atau berpotensi untuk pengembangan industri tersebut:
Fokus Undangan Tgl/ Tempat
Seminar Fasilitasi industri Pemerintah Provinsi/ 17 Nov.
Wilayah I fesyen ulos di Kabupaten yang memiliki Medan
Samosir potensi untuk pengembangan
industri fesyen (menggunakan
kain tradisional)
Seminar Fasilitasi industri Pemerintah Provinsi/ 30 Nov.
Wilayah II komponen kapal di Kabupaten yang memiliki Jakarta,
Tegal in Tegal industri pengerjaan logam, Kementerian
BKI, asosiasiasi produsen Perindustrian
komponen kapal
Seminar Fasilitasi industri Pemerintah Provinsi/ 17 Nov.
Wilayah pengolahan kakao Kabupaten yang memiliki Palu
III di Sulawesi Tengah industri pengolahan kakao atau
potensi untuk
pengembangannya
Seluruh seminar regional dirancang dan diatur oleh Ditjen IKM, sedangkan
Tim Tenaga Ahli dan perwakilan dari masing - masing POKJA menjelaskan
pendekatan SMIDeP dan kasus sukses fasilitasi. Petunjuk teknis juga
diinformasikan kepada pemerintah daerah yang diundang.
Seminar Nasional untuk diseminasi model fasilitasi SMIDeP dan petunjuk
teknis. Tim Tenaga Ahli telah diberikan sesi presentasi untuk memperkenalkan
petunjuk teknis guna menyebarluaskan/ berbagi model fasilitasi SMIDeP untuk
pengembangan industri lokal dan pengalaman fasilitasi di lapangan, pada rapat
koordinasi nasional Ditjen IKM bulan Februari di Bengkulu.
Ditjen IKM kemudian mengumumkan kepada seluruh pemerintah daerah di
seminar, jika pemerintah daerah berkomitmen untuk memfasilitasi industri
prioritas mereka mengikuti petunjuk fasilitasi, maka Ditjen IKM berniat akan
mengarahkan program dukungan dengan cara yang terfokus dan intensif ke
beberapa sasaran daerah / industri .

14

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan
Laporan Akhir Proyek

3-5: Memfasilitasi pengaturan anggaran Kelanjutan dua model dukungan yang sukses
yang diperlukan serta menyusun Di antara industri - industri sasaran, industri komponen kapal dan pengolahan
program untuk merespon kakao dianggap sebagai kasus sukses fasilitasi di rapat Komite Koordinasi
kemungkinan permohonan dari Bersama ketiga. Menanggapi ini, Kemenperin mulai mempertimbangkan
pemerintah provinsi lain di luar pengaturan yang diperlukan untuk mereplikasi model dukungan yang
wilayah sasaran. difasilitasi pada industri - industri sasaran Proyek.
Di industri komponen kapal, tiga pihak terkait (Kemenperin, BKI) memasuki
MoU untuk program percepatan sertifikasi komponen skala nasional guna
meningkatkan jumlah komponen bersertifikat dan meningkatkan konten lokal
galangan kapal. Tim Tenaga Ahli menyarankan agar proses fasilitasi
berdasarkan pada petunjuk teknis dan konten / anggaran dari setiap dukungan
yang diberikan, agar Kemenperin dapat mengatur persiapan yang diperlukan
untuk keberlanjutan program tersebut.
Di industri pengolahan kakao, Tim Tenaga Ahli dibantu Kemenperin
menyelenggaraan rapat koordinasi antara Ditjen IKM dan Ditjen IA untuk
memastikan keberlanjutan model dukungan yang telah dilakukan di Sulawesi
Tengah ke daerah lain, dan menyarankan pembagian tugas di antara kedua
belah pihak dan pentingnya dukungan perencanaan kepada pemerintah daerah.
Kelanjutan model fasilitasi berbasis petunjuk teknis
Menindaklanjuti pengumuman Ditjen IKM (pada seminar nasional di
Bengkulu) mengenai kelanjutan model fasilitasi SMIDeP ke daerah lain, Ditjen
IKM telah mengeluarkan surat resmi pada Maret 2016 terkait pengumuman 9
tersebut yang memuat syarat/ kondisi yang harus dipenuhi oleh pemerintah
daerah yang berminat berpartisipasi dalam tahap lanjutan. Tim Tenaga Ahli
telah menyarankan Ditjen IKM untuk mempersiapkan syarat/ kondisi, dan
merekomendasikan aksi penting kepada Ditjen IKM termasuk penyusunan tim
fasilitasi, penganggaran, pengadaan insentif dan peningkatan kapasitas ke
pemerintah daerah sasaran, untuk perluasan model fasilitasi.
Tim Tenaga Ahli kemudian membantu Ditjen IKM dalam melakukan sesi
konsultasi kepada pemerintah daerah yang telah merespon surat dengan
ketertarikan untuk berpartisipasi dalam tahap lanjutan model fasilitasi, dimana
model fasilitasi dan petunjuk teknis dijelaskan melalui konsultasi bersamaan
dengan bimbingan persiapan yang dibutuhkan dan diatur oleh pihak pemerintah
daerah, menggunakan kesempatan pada rapat koordinasi nasional pada bulan
Maret 2016 di Aceh.
Menindaklanjuti hasil sesi konsultasi, kandidat pemerintah daerah yang
terdaftar untuk tahap lanjutan, Tim Tenaga Ahli juga menyarankan Ditjen IKM
mengenai i) seleksi pemerintah daerah sasaran, ii) estimasi anggaran untuk
bimbingan (termasuk peningkatan kapasitas)/ monitoring oleh Ditjen IKM
selama proses fasilitasi, dan iii) kemungkinan dukungan anggaran untuk usulan
kegiatan dukungan oleh pemerintah daerah terpilih dan penempatan fasilitator
mereka.

(4) Kegiatan umum

Tim Tenaga Ahli bekerja sama dengan C/P telah menyelengggarakan kegiatan - kegiatan umum berikut
dalam Proyek. Kegiatan tersebut termasuk a) Komite Koordinasi Bersama (JCC) dan rapat bersama
antara PIU dan POKJA, b) laporan dan PR, serta c) pelatihan C/P (studi banding) di Jepang.

Tabel II.1.6 Kegiatan umum dalam Proyek
Kegiatan Umum Penjelasan Singkat
a) JCC dan rapat JCC Yang pertama diselenggarakan pada bulan April 2013, untuk menjelaskan
bersama antara kegiatan Proyek selama Fase I dan meminta C/P untuk melakukan
PIU dan pengaturan yang diperlukan.
POKJA Yang kedua diselenggarakan di akhir Fase I pada bulan Juli 2014, untuk
menjelaskan dan membahas kemajuan kegiatan Proyek secara keseluruhan,
kemajuan spesifik, serta pencapaian Rencana Aksi dari tiap POKJA, dan
kemungkinan pencapaian hasil jangka menengah (outcome) Proyek, serta
menjelaskan jadwal dan kegiatan di Fase II.

9
Lihat Lampiran-9 untuk surat tersebut.

15

0 Ver. Yang terakhir diselenggarakan di akhir Fase II pada bulan Maret 2016. menjelaskan wilayah/ industri sasaran tambahan. program dukungan. kemajuan spesifik. melaporkan hasil kajian Proyek dengan pembelajaran. menerangkan rencana operasional kegiatan Proyek yang mencakup Fase II secara keseluruhan. Rencana Kerja (Ver. Rapat bersama antara Diselenggarakan dua kali. buletin (10 edisi yang diterbitkan tiap 3 bulan) .1) Maret 2014.1. Rencana Kerja (Ver. dan pengkinian situs proyek kerja sama teknis JICA.2-1 Output dan Indikator (1) Pencapaian Output-1 Pencapaian output-1: pembentukan platform untuk pengembangan IKM/ industri lokal di tiap wilayah/ industri sasaran dikaji menggunakan indikator-indikator terverifikasi berikut berdasarkan PDM (versi revisi). kemudian direvisi menjadi Ver. mendokumentasikan kegiatan dan kemajuan Proyek. 0 disampaikan pada bulan Maret 2013. II. dan dianggap memuaskan karena output (dan platform pengembangan industri local sebagai hasilnya) disusun sesuai asumsi. dan kemungkinan pencapaian hasil jangka menengah (outcome) Proyek. pada bulan Oktober 2014 dan Maret 2014 10 PIU dan POKJA (dipimpin oleh Direktur Jenderal atau perwakilannya) untuk berbagi kemajuan dan membahas perubahan/ saran terkait kegiatan Proyek di antara C/Ps yang paling terkait.1) kemajuan Proyek hingga akhir Juni 2015.3) Disampaikan pada bulan September 2014. Media PR Menerbitkan brosur Proyek.2) Disampaikan pada bulan Maret 2014. dan merevisi Ver. dan pencapaian Rencana Aksi dari tiap POKJA. 2) Proyek. untuk menjelaskan pencapaian Proyek secar akeeluruhan yang berfokus pada keberlanjutan diseminasi/ kelanjutan model fasilitasi melalui petunjuk teknis untuk fasilitasi pengembangan industri lokal.0) JICA. 16 . 14 orang termasuk di Jepang dua peserta dengan biaya mandiri (Sesdijen IKM) berpartisipasi pada pelatihan tersebut. menerangkan rencana PR &1) operasional kegiatan Proyek yang mencakup Fase I secara keseluruhan. b) Laporan dan Rencana Kerja (Ver. sedangkan rapat bersama fokus pada C/P di Kemenperin dan Disperindag. agar C/P dapat belajar (studi banding) mengenai kebijakan IKM pada level nasional dan regional. Laporan Akhir Proyek Mendokumentasikan kegiatan dan kemajuan Proyek secara keseluruhan. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek Yang ketiga diselenggarakan di pertengahan Fase II pada bulan Juni 2015.2 Pencapaian Proyek II. dan (Ver. Total. Lembar Monitoring Disampaikan di bulan Januari 2015 pada pengenalan sistem monitoring baru (Ver. 1 pada bulan Mei 2013 setelah mendapat kepastian tentang wilayah/ industri sasaran. mendokumentasikan kegiatan dan (Ver. 10 JCC melibatkan beberapa kementerian lain dan KADIN. pencapaian dari output/ tujuan (Ver. Laporan Kemajuan Mendokumentasikan seluruh kegiatan dan kemajuan Proyek hingga akhir (Ver. dan menjelaskan jadwal kegiatan untuk Output-3 pada jangka waktu yang tersisa. Laporan Akhir Proyek Mendokumentasikan seluruh kegiatan Proyek. untuk menjelaskan dan mendiskusikan kemajuan kegiatan Proyek secara keseluruhan. Lembar Monitoring Disampaikan pada bulan Juni 2015. c) Pelatihan C/P Pelatihan C/P dilaksanakan di Prefektur Ehime/ Tokyo pada 12-24 Januari 2014. prospek realisasi tujuan umum pada akhir Februari 2016. 1) menelaah pencapaian ouput-output Proyek hingga akhir Juli 2014. dan membahas tindakan- tindakan/ inisiatif yang diperlukan oleh Ditjen IKM. mendokumentasikan seluruh kegiatan dan kemajuan Proyek hingga akhir Desember 2015 dan merevisi PDM selama misi monitoring jangka menengah.

dibuat agar dapat lama Ditjen IKM) dan pada Desember 2015 dimanfaatkan oleh para staf Ditjen (di situs baru.Mempelajari tahapan/ metode fasilitasi industri lokal oleh POKJA dan anggota PIU di tingkat pelaksana. mencakup data profil lembaga dukungan (72) di wilayah sasaran (5 provinsi)/ di tingkat pusat.masing wilayah/ industri di Fase I dan Fase II telah beroperasi selama berlangsungnya Proyek untuk penyediaan dukungan yang lebih baik melalui 17 . Sekretariat Ditjen IKM disarankan untuk membahas secara internal terkait pengaturan kerja untuk pengkinian/ perluasan (data/ cakupan wilayah) direktori secara berkesinambungan setelah proses restrukturisasi Ditjen IKM selesai pada bulan April 2016. platform pengembangan industri lokal) dapat dirumuskan sebagai berikut: . dan menunjuk fasilitator. sehingga direktori tersedia bagi staf Ditjen IKM/ pemerintah daerah. yang Direktori lembaga dukungan telah disiapkan dapat dimutakhirkan secara berkala dan diunggah pada bulan Mei 2015 (di situs oleh Ditjen IKM. dipimpin oleh Dinas fasilitator yang mampu ditugaskan Perindustrian dan Perdagangan di masing .Penyusunan struktur pengoperasian platform (dalam bentuk POKJA/ fasilitator di setiap industri sasaran.masing wilayah dan melibatkan untuk mempersiapkan Rencana para pemangku kepentingan terkait.1 Struktur platform pengembangan industri lokal Platform untuk pengembangan industri lokal pada masing . sebelah kanan). 1-2: Direktori berbasis situs (web). No.1 Pencapaian output-1 Output-1: Pembentukan platform pengembangan industri lokal Platform untuk penyediaan layanan yang efisien dipersiapkan sebagai landasan pengembangan IKM di tiap wilayah sasaran. seperti terlihat pada gambar di IKM dan Dinas. . didukung oleh PIU/ Tim Wilayah).2.Melengkapi informasi sumber dukungan (data profil lembaga dukungan di setiap wilayah) Gambar II. pelaksanaannya.2. untuk Aksi dan memfasilitasi menyiapkan Rencana Aksi dan memfasilitasi pelaksanaannya. bahwa salah satu hasil kegiatan untuk Output-1. Dipahami pula. . Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek Tabel II. mekanisme penyediaan layanan bagi IKM/ industri lokal yang efisien (misalkan. Indikator terverifikasi Pencapaian 1-1: Kelompok Kerja dirumuskan di POKJA dirumuskan di ke-6 industri sasaran di 5 wilayah (Fase I dan II) wilayah/ industri sasaran dan melalui penerbitan SK oleh kepala pemerintah daerah.

2 Pencapaian Output-2 Output-2: Pengoperasian platform untuk pengoperasian pengembangan industri lokal Daya saing IKM sasaran di setiap wilayah sasaran diperkuat mellaui penyedian layanan yang efisien. Indikator terverifikasi Pencapaian 2-1: Jumlah rapat POKJA yang Hingga laporan ini disampaikan. sementara Tim Tenaga Ahli membantu sebagian kecil pembiayaan kegiatan dukungan yang tidak dianggarkan namun harus dilaksanakan pada tahap awal pelaksanaan. No. sekitar 40 IKM (dari industri komponen menerima/ memanfaatkan kegiatan kapal).lembaga tersebut untuk memfasilitasi dukungan yang belum terlaksana. Ketua POKJA diharapkan untuk aktif mendekati lembaga . Akan tetapi. Sebagian besar kegiatan dukungan yang pembiayaannya diasumsikan berasal dari "lini perindustrian/perdagangan" termasuk Kemenperin (Ditjen IKM. Lihat detail untuk masing-masing industri sasaran di Lampiran-8. seperti Dinas Pariwisata (fesyen ulos).industri sasaran Fase I sudah terlaksana. tetapi POKJA lainnya menyelenggarakan rapat secara sukarela untuk berbagi/ membahas kemajuan. Pihak Indonesia mendanai sebagai besar kegiatan dukungan yang diusulkan. POKJA secara umum dapat memanfaatkan sumber dukungan seperti instruktur. Tabel II.masing industri sasaran di Lampiran-8. Lihat detail untuk masing . dan dukungan/ layanan yang difasilitasi. Ditjen terkait lainnya) dan Dinas Perindag Provinsi atau Kabupaten/ Kota dapat dengan mudah dianggarkan dan difasilitasi pelaksanaannya. 66 rapat POKJA telah diselenggarakan oleh diselenggarakan. perencanaan Rencana Aksi. Rencana Aksi industri . Di sisi lain. kepuasan oleh IKM/ produsen sasaran dengan kegiatan dukungan. isu. baik industri sasaran di Fase I maupun Fase II untuk melaksanakan tugas yang diberikan (diagnosis industri. Mayoritas usulan dukungan Aksi. dan hasil yang dicapai dari fasilitasi POKJA setidaknya untuk industri sasaran fase I).industri sasaran Fase II baru dimulai pada bulan Maret 2015 dengan beberapa kegiatan dukungan kunci dan difasilitasi dengan amat baik pada kasus industri alas kaki. 2-3: Jumlah IKM/ produsen yang telah Hingga laporan ini disampaikan. usulan kegiatan dukungan yang pembiayaannya diasumsikan berasal dari lembaga dukungan di luar "lini perindustrian/ perdagangan". trainer. fasilitasi/ monitoring pelaksanaan Rencana Aksi) atau sesekali jika terdapat topik khusus. 80 produsen (pengrajin individual fesyen ulos) telah menerima/ memanfaatkan kegiatan dukungan / layanan (paling tidak satu kali) yang difasilitasi oleh masing .masing POKJA industri sasaran Fase I. dan ukuran. IKM/ produsen sasaran yang menjadi fokus dan terlibat dalam Rencana Aksi tersebut masih 18 . dan dianaggap cukup memuaskan karena output telah diwujudkan (khususnya pada jumlah kegiatan dukungan yang difasilitasi POKJA. Dinas Perkebunan/ Litbang pertanian (pengolahan kakao) dan lembaga keuangan belum dapat difasilitasi seperti yang diharapkan. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek bimbingan/ saran dari Tim Tenaga Ahli di lapangan. 2-2: Jumlah kegiatan dukungan/ layanan Hingga laporan ini disampaikan. Walaupun pada kasus POKJA industri komponen kapal/ fesyen ulos sering kali rapat difasilitasi oleh Tim Tenaga Ahli.masing industri sasaran di Lampiran-8).2. (2) Pencapaian Output-2 Pencapaian output-2: pengoperasian platform untuk pengembangan IKM/ industri lokal di tiap wilayah/ industri sasaran (daya saing IKM sasaran di setiap wilayah sasaran diperkuat melalui penyediaan layanan yang efisien) dikaji menggunakan indikator-indikator terverifikasi berikut berdasarkan PDM (versi revisi). konsultan secara memadai dengan menggunakan pengetahuan mereka sendiri atau bertanya pada Dinas provinsi atau Ditjen IKM. sedangkan Rencana Aksi industri . POKJA . 28 produsen (bisnis pengolahan kakao/ mebel rotan skala mikro) . 183 kegiatan dukungan layanan telah yang difasilitasi dari usulan difasilitasi oleh POKJA dan disiapkan untuk industri sasaran (lihat detail untuk dukungan/ layanan dalam Rencana masing . akan tetapi komitmen mereka untuk menyediakan dukungan tergolong lemah. Beberapa lembaga tersebut secara resmi tergabung dalam POKJA.

.2 Tujuan dan Ruang Lingkup Petunjuk 1. .3 Pencapaian Output-3 Output-3: Penciptaan model pengembangan IKM Model untuk pengembangan IKM/ industri lokal dibuat berdasarkan pengalaman dan pelajaran yang diperoleh melalui kegiatan . kewirausahaan.2 Survei Profil Lembaga Dukungan Daerah Sumber 4.3 Penyusunan Rencana Aksi 3. 2-4: Tingkat kepuasan (mayoritas IKM sasaran) terhadap kegiatan Lihat detail untuk masing . dan diversifikasi produk. di Lampiran-8.2. karyawan). 20 produsen/ pengrajin.Kinerja manajemen (penjualan. No. Tabel II. terutama bagi staf pelaksana pemerintah daerah. seperti dijelaskan pada seksi sebelumnya.1 Langkah Keseluruhan Fasilitasi Pengembangan Industri Pelaksanaan Lokal Fasilitasi 3. jumlah IKM yang menerima/ memanfaatkan kegiatan/ layanan dukungan (paling tidak satu kali) sejauh ini berjumlah 21 (pengolahan aloe) dan 30 (alas kaki).5 Monitoring. dan aspek lainnya) (3) Pencapaian Output-3 Pencapaian output-3: pembuatan model untuk pengembangan IKM/ industri lokal berdasarkan pengalaman dan pembelajaran dari Output-1 dan Output-2 dikaji menggunakan indikator-indikator terverifikasi berikut berdasarkan PDM (versi revisi).Perbaikan berdasarkan komentar dari pengguna/ konsumen. baik seminar regional (3 lokasi) maupun nasional seminar (2 kali) telah diselenggarakan oleh Ditjen IKM bekerja sama 19 .1 Latar Belakang dan Rationale Pendahuluan 1. Mereka juga merupakan IKM sasaran yang menjadi fokus dan telah terlibat dalam tantangan untuk tujuan utama dari Rencana Aksi.kegiatan yang dilaksanakan terkait Output-1 dan -2 agar dapat diaplikasikan di daerah lain. Indikator terverifikasi Pencapaian 3-1: Pembuatan petunjuk teknis sebagai Petunjuk teknis dibuat setelah model kerja.masing industri sasaran dukungan/ layanan yang difasilitasi. akses keuangan. untuk mendiseminasi model diselenggarakan oleh Kemenperin kerja dan petunjuk teknis fasilitasi industri lokal ke daerah lain serta kasus sukses fasilitasi industri lokal. 3-2: Lokakarya sosialisasi Seperti yang dijelaskan pada seksi sebelumnya. Pada industri Fase II.1 Platform Pengembangan Industri Lokal Struktur 2.3 Definisi dan Pengertian Bab 2 2. Evaluasi dan Laporan Rencana Aksi Bab 4 4. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek terbatas pada 12 IKM.Pencapaian relevan lainnya (kelembagaan.3 Fasilitasi dan Skema Pembiayaan yang tersedia bagi Dukungan Pemerintah Daerah Petunjuk (dengan versi singkat) disiapkan sebagai dokumen referensi bersifat sukarela. melalui serangkaian diskusi dengan materi referensi untuk model yang tim petunjuk di Ditjen IKM.4 Pelaksanaan Rencana Aksi 3.masing industri sasaran sasaran/ produsen terhadap aspek -aspek yang relevan termasuk di Lampiran-8.Persiapan prototipe atau produksi produk baru/ modifikasi.Perluasan/ diversifikasi pasar dan saluran penjualan. . berikut ini: . .2 Perumusan Kelompok Kerja Fasilitasi 2. 21 produsen. dan seminar sosialisasi untuk model ini yang diatur oleh Ditjen IKM) terwujud sesuai asumsi. Lihat detail untuk masing-masing industri sasaran di Lampiran-8.3 Penempatan Fasilitator Bab 3 3. 2-5: Hasil (perubahan positif) dari aksi yang dilakukan oleh IKM Lihat detail untuk masing . dan dianggap cukup memuaskan karena output (baik petunjuk teknis untuk model fasilitasi pengembangan industri lokal. serta pengembangan pasar/ pembeli baru.1 Sumber Dukungan untuk Pengembangan Industri Lokal Informasi 4.2 Diagnosis Industri 3. dan. Berikut baru dibuat untuk mengembangkan adalah daftar isi dari petunjuk teknis: IKM Bab Seksi Bab 1 1.

Pada saat pelaporan. daerah lain. Kemudian.industri sasaran. yang telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam tahap lanjutan. Ditjen IKM sedang memfinalisasi daftar kandidat pemerintah daerah yang berkomitmen dalam tahap lanjutan. Tabel II. Seminar Regional: Seminar wilayah II menyoroti kasus sukses fasilitasi industri komponen kapal di Tegal. Sulawesi Tenggara. yang berminat untuk berpartisipasi dalam tahap perluasan model fasilitasi berbasis petunjuk 11. 20 . II. Pada rapat koordinasi Ditjen IKM telah membuat daftar 14 kandidat Pemda (Dinas Perindag Provinsi). yang diselenggarakan bersama oleh dua Ditjen di IKM (IKM dan industri agro). Melalui kesempatan ini. dan petunjuk sebagai dokumen referensial (atas dasar sukarela) terutama bagi staf pelaksana pemerintah daerah juga telah diakui oleh Direktur Jenderal IKM dengan tanda tangan beliau untuk distribusi awal melalui rapat koordinasi nasional dengan seluruh Dinas Perindustrian dan Perdagangan tingkat provinsi. Seminar wilayah III menyoroti kasus sukses industri pengolahan kakao. Seminar Nasional: Dua (2) kali kesempatan untuk persiapan perluasan model fasilitasi SMIDeP ke wilayah lain telah diatur oleh Ditjen IKM dengan menggunakan rapat koordinasi nasional. Sulawesi Selatan. Ditjen IKM telah menerbitkan surat 12 lainnya bagi Dinas Perindag Provinsi yang berminat guna mengonfirmasi komitmen mereka (untuk menyiapkan struktur fasilitasi. 13 Termasuk Disperindag Provinsi Bangka Belitung. Ditjen IKM telah memperluas model yang dibuat ke berkomitmen kepada pengaturan untuk persiapan berikut. Adopsi resmi petunjuk yang telah Model SMIDeP dan petunjuk untuk fasilitasi pengembangan industri lokal dibuat untuk pengembangan IKM telah diadopsi oleh Ditjen IKM dan diumumkan melalui surat resmi untuk oleh Kemenperin. juga tercapai konsensus antara dua Ditjen untuk mengaplikasikan model dukungan yang dilakukan di Sulawesi Tengah ke daerah lain. tahap lanjutan ke pemerintah daerah lainnya (bagi yang tertarik mengikuti model/ petunjuk).2-2 Pencapaian Tujuan Proyek dan Indikator Pencapaian tujuan Proyek di akhir Proyek ditinjau berdasarkan tiga (3) indikator berikut sesuai dengan PDM (versi revisi). Pengaturan penganggaran dan Kelanjutan model fasilitasi berbasis petunjuk organisasi Kemenperin untuk Dalam kelanjutan model fasilitasi SMIDeP ke daerah lain.4 Pencapaian Tujuan Proyek Tujuan Proyek: Persiapan perluasan model pengembangan IKM (industri lokal) berdasarkan platform penyediaan layanan yang efisien (untuk fasilitasi industri lokal) diatur di Kemenperin. yang mengundang seluruh Dinas Perindustrian & Perdagangan Provinsi. Tujuan Proyek terkait dengan i) posisi dan pemanfaatan petunjuk teknis.. 2. dan iii) jumlah kasus sukses (IKM / produsen yang mencapai tujuan utama dari Rencana Aksi sebagai hasil dari fasilitasi POKJA) di industri . lima (5) Disperindag Provinsi 13 telah memberikan tanggapan ke Ditjen IKM melalui surat konfirmasi komitmen untuk berpartisipasi dalam tahap perluasan model fasilitasi berbasis petunjuk. ii) persiapan oleh Ditjen-IKM untuk melanjutkan model fasilitasi pengembangan industri lokal berbasis petunjuk. Indikator terverifikasi Pencapaian 1. No. Jawa Timur dan Papua. Pertama.: kabupaten/ kota di provinsi) untuk difasilitasi melalui surat tanggapan dari masing-masing Kepala Dinas. anggaran daerah yang diperlukan untuk proses fasilitasi) dan industri/ daerah mereka (mis. dan memastikan konsensus di antara para peserta untuk memperluas fasilitasi serupa di daerah lain di bawah program baru yang dirumuskan untuk akselerasi sertifikasi komponen. Seminar ini. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek dengan Tim Tenaga Ahli. 12 Lihat Lampiran-11 untuk surat tersebut.2. Ditjen IKM bersama dengan Tim Tenaga Ahli dapat menjelaskan model fasilitasi SMIDeP dan keunggulan mengikuti model berdasarkan petunjuk dengan mengutip kasus sukses SMIDeP. dan proses/metode seleksi untuk 11 Lihat Lampiran-10 untuk daftar Dinas provinsi.

Tidak teramati.3 Modifikasi PDM PDM Proyek direvisi sekali saat monitoring jangka menengah JICA pada bulan Februari 2015. 16 produsen telah mulai dan terus bertransaksi dengan pembeli Indistri / saluran penjualan di pasar segmen modern untuk produk pengolahan kakao cokelat. Industri Lokal) Industri sasaran Jumlah IKM/ produsen yang telah mencapai tujuan 20 produsen tergabung dalam koperasi produsen yang baru Industri fesyen didirikan dan telah mulai serta terus bertransaksi dengan ulos pembeli / saluran penjualan untuk turis/ pasar lokal untuk produk kerajinan. dan mempertimbangkan kemungkinan sebagian dana untuk membiayai usulan kegiatan dukungan oleh pemerintah daerah selama proses fasilitasi. Meskipun. dengan memperhatikan kapasitas organisasional dan anggaran. dan Kemenperin mengamankan anggaran yang diperlukan (tidak memerlukan pengaturan organisasi tertentu di Kemenperin). dan pernyataan resmi dari Menteri pada kasus industri pengolahan kakao). yang akan menentukan staf yang bertanggung jawab dalam i) koordinasi keseluruhan. model dukungan juga diakui mealui pernyataan Menteri (pada November 2015) yang berharap kasus ini dapat memotivasi daerah lain. 4 IKM telah menerima sertifikasi BKI (untuk 7 komponen) Industri komponen dan mulai bertransaksi dengan galangan kapal / industri dan kapal telah mendapat permintaan transaksi untuk tahun-tahun berikutnya. Menanggapi hal tersbut. dan iii) bimbingan dan monitoring kepada pemerintah daerah/ industri. di mana 3 pihak (Kemenperin. Modifikasi di PDM dibuat sebagai berikut. asosiasi) mempersiapkan rencana aksi untuk tujuan tersebut. 21 . Jumlah kasus sukses (IKM / Sebagai kasus sukses fasilitasi industri lokal Proyek di wilayah sasaran. transaksi nyata dengan pembeli / pengguna di segmen lokal modern belum dilaporkan. baik Ditjen IA dan -IKM telah membahas pembagian tugas dan cakupan wilayah yang akan diperluas (tidak memerlukan pengaturan organisasi tertentu di Kemenperin). karena POKJA mengakui bahwa pelaksanaan Rencana Aksi baru setengah jalan difasilitasi. Untuk industri komponen. terlepas dari kemiripan wilayah/ sektor. termasuk biaya perjalanan/ rapat dengan tujuan bimbingan/ monitoring terhadap beberapa pemerintah daerah sasaran. Ringkasan naratif dari tujuan/ output Proyek serta kegiatan tidak dimodifikasi. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek mengidentifikasi pemerintah daerah/ industri sasaran. yang akan dipeluas. Catatan: Terkait industri sasaran Fase II (pengolahan aloe / alas kaki). Direktur Jenderal IKM telah meminta Sekretariat untuk mempersiapkan anggaran (untuk tahun anggaran 2017) untuk tahap lanjutan model fasilitasi. 5 IKM baru-baru ini telah mampu Industri mebel berproduksi sesuai dengan standar praktik manufaktur lokal rotan yang ditetapkan oleh POKJA. Kedua. 3. Direktur Jenderal IKM telah memberi instruksi untuk mempersiapkan tim di Ditjen IKM sebagai focal point untuk perluasan model. dua model dukungan (sebagai paket dukungan) dapat dilanjutkan baik industri komponen kapal maupun industri pengolahan kakao di daerah lain yang telah diakui oleh Kemenperin (dalam bentuk MoU antara para pemangku kepentingan pada kasus komponen kapal. model dukungan diakui dalam bentuk MoU mengenai program akselerasi sertifikasi komponen. berikut produsen yang merealisasikan tujuan jumlah IKM / produsen yang telah mencapai tantangan aksi (tujuan utama) yang ditetapkan dalam Rencana Aksi yang ditetapkan dalam Rencana Aksi dari masing-masing industri sasaran. Kelanjutan dua model dukungan sukses Selain model fasilitasi berbasis petunjuk teknis. ii) penjelasan petunjuk dengan cerita sukses SMIDeP. II. Untuk industri pengolahan kakao. BKI. Ketiga. agar indikator-indikator dari tujuan dan output Proyek dapat disesuaikan atau diparafrasakan secara logis terhadap konten aktual kegiatan-kegiatan Proyek yang diakui oleh C/Ps. pencapaian tujuan utama tidak direview.

3. 2-5: Hasil (perubahan positif) akibat aksi yang dilakukan oleh IKM/ produsen sasaran dalam aspek-aspek yang relevan. penyediaan layanan (berbasis database). diversifikasi pasar. Aksi Industri Lokal). Sama II. II. pengembangan IKM di masing-masing wilayah sasaran. Output-2: Pengoperasian platform untuk pengembangan industri local 2-1: Sebagian besar IKM mengakui peningkatan pelayanan. Kepuasan perusahaan swasta yang mengambil layanan Dihilangkan tetapi dijadikan sebagai salah satu indikator dukungan. 2. hubungan memanfaatkan kegiatan/ layanan dukungan yang keterkaitan di antara/ dalam IKM dan lain-lain. 3-2: Lokakarya sosialisasi diselenggarakan oleh Kemenperin. Adopsi resmi petunjuk dibuat untuk pengembangan IKM Sama oleh Kemenperin. sebagian besar terdiri dari produsen/ pengusaha wanita.4-2 Hasil terkait Gender/ Perdamaian/ Pengurangan Kemiskinan Tidak ada perhatian atau pendekatan khusus yang telah dilakukan dalam Proyek terkait isu-isu ini.1 Modifikasi yang dilakukan dalam PDM No. usulan dukungan/ layanan dalam Rencana Aksi. Jumlah rapat POKJA yang diselenggarakan.4-1 Hasil terkait Lingkungan dan Sosial Tidak berlaku di Proyek ini. kegiatan/ layanan dukungan yang difasilitasi. 2-2: Sebagian besar IKM yang menggunakan layanan yang Jumlah kegiatan/ layanan dukungan yang difasilitasi dari disediakan puas. Indikator terverifikasi untuk output Output-1: Pembentukan platform untuk pengembangan industri lokal 1-1: Perumusan POKJA untuk mengkoordinasikan penyedia Perumusan POKJA (dan penempatan fasilitator) di layanan dan IKM di antara para pemangku kepentingan wilayah/ industri sasaran. 4. 2-3: Perubahan positif yang teramati di IKM antara lain Jumlah IKM/ produsen yang telah menerima/ penjualan produk. Awal Modifikasi Indikator terverifikasi untuk tujuan Proyek 1. Dipahami juga bahwa Rencana Aksi industri fesyen ulos di Samosir memiliki karakteristik sebagai dukungan peningkatan pendapatan bagi para wirausahawati desa. 3.4 Lainnya II. Pengaturan penganggaran dan organisasi Kemenperin Sama untuk memperluas model yang dibuat ke daerah lain. 2-4: Realisasi petunjuk sebagai bahan referensi untuk model Kepuasan (oleh sebagian besar IKM sasaran) terhadap yang baru dibuat untuk mengembangkan IKM. output. meskipun dua industri sasaran (industri fesyen ulos di Samosir dan industri pengolahan kakao di Palu) dari 6 industri sasaran. 1-2: Pengembangan direktori (berbasis kertas dan berbasis Persiapan dan ketersediaan (staf Ditjen IKM) direktori situs) sebagai layanan bagi IKM. xx (jumlah) perusahaan swasta yang memanfaatkan Jumlah kasus sukses (IKM/ produsen yang layanan pengembangan dan layanan konsultasi organisasi merealisasikan tujuan yang ditetapkan dalam Rencana pendukung meningkat xx%. difasilitasi. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek Tabel II. Output-3: Pembuatan model pengembangan IKM 3-1: Realisasi petunjuk sebagai bahan referensi untuk model Sama yang baru dibuat untuk mengembangkan IKM. 22 .

pembentukan platform (output-1) dan pengoperasian/ pemanfaatan platform (output-2) di wilayah/ industri sasaran. Hasil Review Bersama III. 15 Menurut ‘Industry Fact and Figure 2015’. seperti akses keuangan. Rencana Strategis (RENSTRA.3% pada akhir tahun 2013. Selanjutnya. pasar dan pembeli potensial yang buruk atau terbatas. III. fasilitasi industri lokal) yang tetap relevan dan signifikan dengan kebijakan saat ini dan di masa mendatang. 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional" berubah saat berlangsungnya Proyek. iv) dampak dan v) keberlanjutan) dirangkum di bawah ini. Proyek telah mencapai output (-1 dan -2) sesuai asumsi dengan mewujudkan salah satu tujuan Proyek. Oleh karena itu. 23 . iii) efisiensi. Masalah yang sering dihadapi IKM tetap sama. yang mengharapkan IKM untuk memainkan peran penting dalam memperkuat struktur industri nasional (dalam rantai pasok industri strategis nasional).4% per 2013) 15. kasus sukses fasilitasi industri lokal berdasarkan pendekatan yang ditunjukkan oleh Proyek: yaitu. Dalam hal ini. kualitas bahan baku. ii) efektivitas.000 yang terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kontribusi IKM terhadap PDB di sektor industri mencapai 34. dengan memampukan Ditjen IKM (berdasarkan UU Perindustrian) untuk menyediakan rentang fasilitasi yang lebih luas (pilihan dukungan) untuk mengakomodasi berbagai masalah/ kebutuhan yang dimiliki oleh IKM/ industri lokal dengan lebih baik. 2010-2014) untuk mempromosikan klaster industri dan pengembangan industri lokal sejalan dengan "Peraturan Presiden No. mekanisme yang bisa diterapkan secara efektif dan efisien menjawab masalah/ kebutuhan yang dimiliki oleh IKM/ industri lokal secara terus-menerus menjadi agenda di tingkat pusat dan daerah. Pertama. bisnis start-up. pekerja terampil. dan mendukung kegiatan yang diusulkan oleh pemerintah daerah.1-2 Efektivitas Efektivitas dianggap “tinggi“. Kementerian Perindustrian. dan digantikan dengan yang baru. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek III.1 Hasil Review berdasarkan Kriteria Evaluasi DAC Hasil review di akhir Proyek berdasarkan kriteria evaluasi DAC (5 kriteria yang mencakup: i) relevansi.1-1 Relevansi Relevansi dianggap “tinggi”. Proyek telah menyusun sebuah model fasilitasi dalam bentuk petunjuk teknis (output-3) berdasarkan pengalaman dan pembelajaran dari kegiatan-kegiatan untuk output-1 dan -2.28. RENSTRA (2015-2019) yang dipersiapkan untuk mengikuti Undang -Undang Perindustrian yang baru diberlakukan dan rencana induk industri nasional jangka panjang yang disebut RIPIN (sampai 2035). RENSTRA menetapkan sasaran pembangunan seperti penguatan kelembagaan sentra 14industri dan Unit Pelayanan Teknis. Proyek ini bertujuan meningkatkan mekanisme penyediaan layanan (misalkan. Di sisi lain. RENSTRA baru berdasarkan RIPIN mempertahankan arah kebijakan yang sama seperti sebelumnya di bidang IKM/ pengembangan industri lokal. serta mengukuhkan kembali peran Kemenperin sebagai pendukung kuat pemerintah daerah (melalui pendekatan bottom-up terkait pengembangan IKM/ industri lokal). dukungan teknis berkualitas. Dilaporkan terdapat sekitar 8~9. pengembangan produk. III. Model fasilitasi berbasis petunjuk teknis diadopsi oleh Ditjen 14 Didefinisikan sebagai pusat produksi lokal dengan jumlah usaha lebih dari lima pada area tertentu. keberadaan dan peran IKM di Indonesia tetap besar dari segi jumlah total unit usaha dari industri nasional (90% per 2013) dan total tenaga kerja di sektor industri non-migas (65.

24 . Penyesuaian kegiatan Proyek tersebut dibuat agar selaras dengan konteks aktual sistem administrasi Indonesia terkait IKM/ pengembangan industri lokal. dll). dan jika diunggah di website dalam bentuk database. Proyek juga telah berhasil mendukung Kemenperin untuk memperoleh model pendukung bagi industri tertentu (industri pendukung: komponen kapal. Oleh karena itu. pengamatan di lapangan melalui kegiatan Proyek menunjukkan bahwa direktori lebih bermanfaat jika mencantumkan lembaga dukungan untuk pengembangan IKM sebagai referensi pihak pemerintah. Walaupun. Mobilisasi sumber dukungan oleh pihak Indonesia: Hampir semua kegiatan dukungan untuk industri sasaran dimobilisasi dari sumber dukungan Indonesia (seperti instruktur/ tenaga ahli untuk pelatihan/ bimbingan teknis. dan mencerminkan hasil diskusi dengan C/Ps di tingkat pusat/ daerah. Namun. kecuali pembiayaan untuk kegiatan dukungan kecuali merevisi penggunaan anggaran yang sudah dianggarkan (tetapi masih membutuhkan persetujuan DPRD). Mobilisasi aset kerja sama teknis JICA terdahulu: Di antara aset tersebut. yang dapat diterapkan di daerah lain. ii) aset kerja sama teknis JICA terdahulu. layanan pengiriman desainer untuk pengembangan produk ekspor yang diperkenalkan ke Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor 16 Direktori layanan yang sebelumnya dipersiapkan dalam bentuk boklet untuk mencakup layanan yang tersedia bagi IKM sebagai referensi mereka. bahan baku untuk mempersiapkan prototipe pada pengembangan produk) hampir tidak dapat dibiayai oleh pihak pemerintah. bahwa aksi mandiri oleh IKM/ produsen sasaran (misalnya. Lembaga pemerintah/ lembaga dukungan publik tidak memiliki dana yang bersifat fleksibel untuk membiayai kegiatan dukungan. kecuali seorang tenaga ahli Jepang untuk bimbingan teknis pengenalan 3S.1-3 Efisiensi Efisiensi dianggap “moderat”. Proyek ini memandang bahwa output dan kegiatan yang diperlukan dirancang secara holistik dengan logis. Tim Tenaga Ahli bermaksud untuk untuk memobilisasi konsultan manajemen IKM (shindan-shi). biaya perjalanan untuk pemasaran. Karena POKJA menghadapi kesulitan untuk memfasilitasi lembaga pendukung yang bertanggung jawab untuk mengamankan/ memobilisasi anggaran yang diperlukan secara cepat atau tepat waktu. peluang pameran/ pameran dagang. III. laboratorium uji. meskipun jumlahnya relatif kecil. sehingga membutuhkan dukungan dana dari Tim Tenaga Ahli di banyak kasus. dan industri yang berbasis ketersediaan sumber daya lokal: pengolahan kakao). dan telah disesuaikan (bila konten atau maksud dari kegiatan dirasa kurang dipahami C/Ps). Kegiatan yang berhubungan dengan direktori layanan adalah salah satu contohnya 16. ketika C/Ps terlibat dalam kegiatan dari pengoperasian platform untuk fasilitasi industri sasaran. Tim Tenaga Ahli kemudian merespon kebutuhan berbagi biaya (cost-sharing) yang muncul pada periode "penyiapan anggaran" dan kegiatan yang tak terduga/ terjadwal (berdasarkan review kemajuan kegiatan fasilitasi). Proyek ini diharapkan memanfaatkan dengan baik: i) sumber daya dukungan dari pihak Indonesia. walaupun tidak menyeluruh. di mana isi dan maksud disesuaikan dengan hasil observasi di lapangan dan kondisi aktual dari perencanaan dan penyediaan layanan dukungan untuk pengembangan IKM/ industri lokal. ada dana kegiatan dukungan yang dibantu oleh Tim Tenaga Ahli (tapi hanya sebagian kecil) terutama pada tahap awal. Guna mewujudkan mobilisasi input yang efisien. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek IKM dan diumumkan melalui surat resmi untuk perluasan ke pemerintah daerah lain (yang berminat untuk menggunakan model/ petunjuk teknis) sesuai tujuan Proyek. Perlu dicatat. Proyek ini dianggap telah dijalankan secara efisien.

1-4 Dampak Dampak dianggap “high”. III.) memperpanjang mobilisasi Tenaga Ahli. salah satunya POKJA mebel rotan telah mendemonstrasikan cara yang direkomendasikan untuk memanfaatkan konsultan IKM. Di antara POKJA. sehingga memastikan prospek dalam mencapai tujuan umum. Proyek telah mengubah kontrak untuk menambah total biaya Proyek dan memperpanjang periode saat mendekati akhir. yang diikuti dengan penerbitan surat yang meresmikan komitmen tersebut. Dalam hal ini. untuk mengidentifikasi pemerintah daerah (Dinas 25 . salah satunya adalah “memperbanyak wilayah (pemerintah daerah) yang memilih model yang telah dibuat dan meningkatkan layanan pengembangan IKM. Proyek menentukan dua tujuan umum untuk dicapai setelah Proyek selesai. Namun. contohnya. Proyek menyarankan agar masing-masing pemerintah daerah untuk menempatkan konsultan manajemen IKM sebagai fasilitator dalam POKJA.1. Kemudian. dalam rangka menjawab kebutuhan C/P dengan lebih baik. Ditjen IKM mengatur sesi konsultasi kepada pemerintah daerah yang tertarik pada model fasilitasi (untuk penjelasan petunjuk fasilitasi industri lokal lebih lanjut secara konsultatif dan membimbing persiapan yang dibutuhkan untuk perancangan oleh pihak pemerintah daerah) pada rapat koordinasi nasional pada bulan April 2016 di Aceh. Tabel dibawah ini menunjukkan perbandingan antara biaya dan periode Proyek asli dan aktual. Ditjen IKM telah berkomitmen untuk memperluas model fasilitasi SMIDeP berbasis petunjuk teknis ke daerah lain melalui seluruh Dinas Perindustrian & Perdagangan tingkat provinsi. di mana mereka dikerahkan untuk mengawasi dan mengaudit kepatuhan produsen mebel rotan dalam menjalankan SOP yang ditujukan untuk mebel buatan lokal. Fase II Asli September 2014 ~ April 2016 JPY 174 juta Diubah untuk Aktual September 2014 ~ April 2016 JPY 180 juta (est. Baik biaya maupun periode Proyek untuk fase II diubah untuk memperpanjang mobilisasi Tenaga Ahli untuk salah satu kegiatan Output-3 (3-5: Fasilitasi pengaturan anggaran yang dibutuhkan dan menyusun program untuk merespon kemungkinan permintaan dari pemerintah provinsi lain di luar wilayah sasaran). Perubahan ini dianggap signifikan untuk menindaklanjuti tujuan Proyek: Pengaturan persiapan untuk perluasan model fasilitasi ke wilayah lain. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek Nasional (Ditjen PEN) di Kementerian Perdagangan (Kemendag). melalui pertisipasi dalam sesi konsultasi (dijadwalkan setelah periode akhir proyek yang diasumsikan di awal) untuk menjelaskan model fasilitasi dan petunjuk dengan lebih detail kepada pemerintah daerah yang tertarik. 3 dari total 6 POKJA tidak dapat mengangkat mereka karena tidak ada konsultan IKM yang ditempatkan.1 Perbandingan antara biaya dan periode Proyek asli dan aktual Periode Proyek Biaya Proyek (Tim Tenaga Ahli) Keterangan Fase I Asli Maret 2013 ~ Juli 2014 JPY 169 juta Sebagai hasil dari dana Aktual Maret 2013 ~ Juli 2014 JPY 163 juta tidak terpakai. Layanan pengiriman desainer oleh Ditjen PEN dimobilisasi oleh salah satu POKJA (untuk mebel rotan). Tim Tenaga Ahli memandang bahwa konsultan IKM yang termobilisasi dalam Proyek relatif mampu dan termotivasi sebagai fasilitator terutama dalam memastikan komunikasi antara POKJA dan IKM/ produsen. Tabel III.

tetapi tergantung pada tingkat kesiapan Ditjen IKM untuk memperluas model fasilitasi berbasis petunjuk kepada pemerintah daerah lain. melalui penerbitan surat resmi mengenai perluasan model.1-5 Keberlanjutan Keberlanjutan secara keseluruhan dianggap “moderat untuk sementara”. Pada saat laporan ini ditulis. untuk memilih model yang telah dibuat untuk meningkatkan layanan pengembangan IKM) dan industri/ daerah mereka (yaitu. ii) penjelasan petunjuk kasus sukses SMIDeP. mengharapkan bimbingan dan penyediaan dukungan dari Kemenperin. Aspek teknis: dianggap moderat. karena Ditjen IKM telah mengumumkan komitmennya untuk memperluas model fasilitasi berbasis petunjuk ke wilayah lain. lima (5) Disperindag provinsi telah merespon ke Ditjen IKM melalui surat konfirmasi komitmen untuk berpartisipasi dalam tahap perluasan model fasilitasi (beberapa pemerintah daerah mungkin dipilih sebagai sasaran pada tahap awal dari mereka yang telah berkomitmen melalui surat balasan). Sedangkan bagi industri pengolahan kakao. kabupaten/kota di provinsi) untuk difasilitasi melalui surat balasan dari masing . Aspek kebijakan/ kelembagaan: dianggap tinggi. dan iii) bimbingan dan monitoring ke pemerintah daerah/ industri. Proyek ini melakukan review keberlanjutan untuk perluasan model fasilitasi ke wilayah lain di tingkat Ditjen IKM dalam beberapa aspek berikut. namun tergantung pada tingkat kesiapan terhadap salah satu rekomendasi yang dibuat untuk Ditjen IKM: penyusunan Tim Fasilitasi yang ditugaskan untuk koordinasi dan bimbingan/ monitoring secara keseluruhan selama tahap lanjutan model fasilitasi. Aspek organisasi: dianggap moderat. dan akan menunjuk staf yang bertanggung jawab untuk i) koordinasi keseluruhan. Provinsi Lampung dan Sulawesi Barat telah menunjukkan minat untuk mengikuti model dukungan. Ditjen IKM telah memperoleh daftar 14 Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi yang sudah merespon surat tersebut serta berminat untuk berpartisipasi pada tahap perluasan. Proyek juga telah berhasil menunjukkan model dukungan yang dapat diperluas untuk industri-industri tertentu (industri komponen kapal dan industri pengolahan kakao) yang diakui oleh Kemenperin. agar ada staf Ditjen IKM (beberapa ditunjuk/ditugaskan) yang disiapkan secara khusus untuk mengalokasikan waktu dan anggaran guna melakukan tugas .masing kepala Dinas. dengan menerbitkan surat lainnya bagi para pemerintah yang berminat guna mengonfirmasi komitmen mereka (yaitu. bermaksud mempeluas program dukungan serupa (untuk akselerasi sertifikasi komponen kapal) ke daerah lain yang memiliki industri pengerjaan logam di tahun 2016. Direktur Jenderal IKM telah menginstruksikan persiapan tim di Ditjen IKM sebagai focal point untuk perluasan model. III. Pengaturan organisasional diperlukan. Selain itu. Dalam persiapan perluasan model fasilitasi ke daerah-daerah terpilih. yang telah disampaikan pada bagian sebelumnya.tugas di atas. dalam MoU dengan pihak-pihak terkait. yang akan dilakukan untuk menambah 26 . Ditjen IKM sedang memfinalisasi daftar pemerintah daerah yang berkomitmen terhadap tahap perluasan. Ditjen IKM telah juga membahas metode seleksi dan pengaturan yang diperlukan dalam aspek organisasional (personalia) dan anggaran. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek Perindustrian & Perdagangan tingkat provinsi) yang berniat dalam berkomitmen partisipasi di tahap perluasan model fasilitasi SMIDeP berbasis petunjuk. namun tergantung pada tingkat komitmen terhadap salah satu rekomendasi yang dibuat untuk Ditjen IKM: pelatihan fasilitasi. Kemenperin. Pada saat pelaporan. Adapun bagi industri komponen kapal.

MoU ini juga direalisasikan sebagai respon terhadap visi pemerintah terbaru. dan mempertimbangkan kemungkinan sejumlah anggaran tertentu untuk membiayai usulan kegiatan dukungan dari pemerintah daerah sasaran. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek jumlah staf Ditjen IKM yang memiliki pengetahuan dan keahlian membimbing terkait model fasilitasi dan petunjuk.2-2 Faktor Penghambat Tidak ada yang terobservasi secara khusus selama berlangsungnya Proyek. 27 . dengan mengindikasikan insentif (dukungan alokasi anggaran secara terfokus dan intensif) guna meningkatkan animo pemerintah daerah untuk mengikuti model berbasis petunjuk. pemerintah daerah (melalui Pokja/ fasilitator) di industri sasaran diharapkan untuk terus memperkuat peran monitoring/ review fasilitasi industri lokal. Di tingkat wilayah sasaran (POKJA. seluruh industri sasaran akan tetap menjadi unggulan di masing-masing daerah (mengingat Rencana Induk Pengembangan Industri Daerah akan disiapkan untuk beberapa tahun mendatang). III. Ditjen IKM juga diharapkan untuk: i) meneruskan perluasan model fasilitasi kepada pemerintah daerah lain yang telah berkomitmen. kecuali satu pencapaian yaitu keputusan mengenai perluasan model dukungan untuk industri komponen kapal yang terwujud dengan MoU akselerasi sertifikasi komponen skala nasional. yaitu "Bangsa Maritim" yang mempercepat pembangunan kelas galangan kapal domestik dengan konten komponen lokal yang lebih tinggi. Dalam hal ini. III. Meskipun begitu.2 Faktor Kunci yang Mempengaruhi Implementasi dan Hasil (Outcome) III. Selain itu. yang akan dijelaskan kemudian. khususnya Dinas Perindag) POKJA di wilayah sasaran Proyek (kecuali untuk industri fesyen ulos di Samosir) telah menyatakan bahwa fasilitasi industri sasaran mereka akan dilanjutkan dengan mempertahankan (atau merevisi) struktur fasilitasi yang sudah terbentuk (yaitu. dan ii) mendiseminasi model beserta petunjuk ke pemerintah daerah lainnya melalui berbagai kesempatan yang relevan. POKJA dengan fasilitator) dan mengikuti praktik-praktik yang telah dilaksanakan di SMIDeP untuk meningkatkan kasus sukses IKM (wilayah Fase I) atau mewujudkan kasus sukses (wilayah Fase II). seperti yang telah dijelaskan pada bagian selanjutnya. Tim Tenaga Ahli telah menyusun rekomendasi aksi bagi Ditjen IKM. sehingga beragam dukungan/ layanan yang disediakan oleh pemerintah pusat dan daerah dapat terus diakses. karena Ditjen IKM telah meminta Sekretariat untuk mempersiapkan anggaran (tahun anggaran 2017) untuk tahap perluasan model fasilitasi. Dalam rangka memastikan keberlanjutan Proyek. dengan memperkuat kemampuannya dalam melakukan bimbingan/ monitoring. tingginya keberlanjutan di tingkat wilayah sasaran dapat dipastikan.selama proses fasilitasi. termasuk biaya perjalanan/ rapat dengan tujuan bimbingan/ monitoring kepada beberapa pemerintah daerah yang terfokus. Aspek keuangan: dianggap moderat.2-1 Faktor Pendukung Tidak ada faktor khusus yang secara positif mempengaruhi pelaksanaan/ hasil Proyek. Dengan perhatian lebih dalam aspek ini.

Kunjungan belajar untuk Disarankan untuk mengadakan kunjungan belajar selama proses perencanaan rencana aksi.industri prioritasnya. Menetapkan tujuan yang jelas. Tabel di bawah ini menyatakan perubahan dalam situasi masing-masing asumsi risiko. Proyek. sebagai masukan 28 . misalnya. Kebijakan pemerintah untuk Silakan merujuk ke no. Asumsi penting dalam PDM Perubahan asumsi selama berlangsungnya Proyek Di tingkat Output 1. bahwa pelajaran- pelajaran ini sepatutnya terefleksikan dalam penyusunan petunjuk teknis untuk fasilitasi industri lokal. meskipun resiko tersebut berada di luar lingkup kontrol manajemen tenaga ahli. Hal ini merupakan titik para pemangku kepentingan kritis yang harus diingat pada saat masing-masing pemerintah daerah memfasilitasi industri . 2. Silakan juga merujuk ke seksi III. III. Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek III. menanyakan "Produk Apa yang harus dikembangkan atau ditingkatkan bagi" Pasar/ Segmen Konsumen yang Mana". kunjungan belajar ke industri sejenis yang lebih mumpuni (studi banding) atau pasar potensial (studi pasar).1 Asumsi penting dalam PDM No. Seperti yang terlihat di atas.4 Pelajaran Proyek telah mengkaji pelajaran-pelajaran kunci berikut untuk meningkatkan praktik fasilitasi pengembangan IKM/ industri lokal berdasarkan pengalaman di lapangan di wilayah sasaran. dan kemudian tidak dapat ditinjau pencapaiannya. Perlu dicatat. yang sering terobservasi dalam proses perencanaan oleh pemerintah daerah. Dengan demikian. Kondisi ekonomi industri sasaran Tidak ada penurunan luar biasa yang teramati selama berlangsungnya tidak memburuk. Rencana Strategis Ditjen IKM di RENSTRA (2010-2014) digantikan dengan yang baru (2015-2019) Kemenperin berkelanjutan. Tujuan harus didefinisikan secara spesifik. melanjutkan kegiatan ekonomi mereka selama periode tersebut. sebagai asumsi risiko penting yang dapat mempengaruhi kemajuan dan pencapaian output / tujuan proyek. teknologi terbaru dan kebutuhan pasar / persyaratan.1-1 Relevansi Proyek. asumsi-asumsi risiko tidak memberikan perubahan yang tmempengaruhi kemajuan dan pencapaian output/ tujuan proyek. tujuan yang terukur ditentukan dengan jelas. terukur secara obyektif. sehingga lebih baik menghadapi kesulitan dalam menyuarakan tujuan spesifik dari rencana aksi. IKM bisa memperoleh perbandingan atau pengetahuan / informasi yang berharga. Table III. perencanaan rencana aksi yang IKM cenderung memiliki sedikit gagasan tentang arah pengembangan. Dalam hal ini. Risiko tertentu lainnya yang mungkin tmempengaruhi Proyek tidak teramati ataubelum dilaporkan selama berlangsungnya Proyek. Pelajaran Kunci Penjelasan Berbagi Satu Rencana Aksi Pengembangan industri lokal harus difasilitasi berdasarkan satu rencana aksi dan mengarah untuk Satu Industri Lokal antar pada satu tujuan bersama antar para pemangku kepentingan terkait.3. mengikuti Undang-Undang Perindustrian dan RIPIN (sampai 2035). 3 dan seksi III.1-1 Relevansi Proyek. atau berakhir sebagai kegiatan dari rencana tanpa tujuan. Di tingkat Proyek 4. rencana aksi tidak akan Rencana Aksi bermakna. Hal ini merupakan poin terpenting dalam perumusan rencana aksi pengembangan industri spesifik dan terukur dalam lokal. yang dapat mengekspos IKM pada ide-ide inovatif.3 Evaluasi Hasil Manajemen Resiko Proyek Keterangan berikut dicatat dalam PDM. direkomendasikan. IKM kontinu melanjutkan kegiatan IKM / produsen yang aktif terlibat dalam kegiatan proyek telah ekonominya di wilayah sasaran. promosi IKM tidak berubah. menantang namun realistis. 3. Pemerintah daerah harus menetapkan tujuan umum rencanan aksi melalui konsultasi dengan industri sasaran mengenai kebutuhan-kebutuhan atau ide-ide arah pengembangan di masa depan. Kecuali. RENSTRA baru secara alami tidak mempengaruhi kegiatan proyek selama periode tersebut.

berbagi 29 . pemerintah daerah (Dinas Perindustrian & Perdagangan) dapat menetapkan banyak fasilitator dengan kombinasi senior yang berpengalaman (untuk fasilitasi kepada kelompok/ lembaga pendukung kerja terkait) dengan junior yang masih kurang berpengalaman (untuk komunikasi dengan IKM dan monitoring di lapangan). Penempatan fasilitator secara jamak dapat juga mempertimbangkan kombinasi staf Dinas dengan sumber daya privat eksternal. tetapi juga harus industri sasaran yang memiliki aksi yang harus dilakukanl oleh industri sasaran. Selanjutnya. atau saluran penjualan yang dikembangkan). pihak IKM 'juga harus berkomitmen untuk menyatakan (dalam rencana aksi) dan mengambil aksi mereka sendiri yang diperlukan untuk mencapai tujuan dengan biaya sendiri. Oleh karena itu. yaitu. bahkan jika pada mulanya banyak yang bersikap ‘wait-&-see’. Optimisasi peran fasilitator Fasilitator harus menjalan perannya untuk menjembatani dukungan yang diperlukan IKM dalam fasilitasi industri lokal kepada kelompok kerja. dan memfasilitasi kelompok kerja untuk membahas. yang harus diajukan sebelumnya dan pada rencana aksi periode waktu tertentu untuk pencairan. dan terdiri dari kegiatan-kegiatan dukungan yang diperlukan untuk mengisi kesenjangan teknis yang dihadapi oleh industri sasaran. karena IKM sendiri adalah aktor berkomitmen kuat utama dalam pengembangan usaha. melalui penugasan pemantauan kinerja IKM sasaran. yang membuat fasilitator berkunjungan ke IKM secara rutin. yang dapat dialokasikan untuk tujuan melaksanakan rencana aksi secara keseluruhan. dan lembaga teknis yang memberikan panduan tentang isu-isu standar/ sertifikasi yang diperlukan untuk pengembangan pasar. dan dilakukan dengan cara review secara berkala yang berorientasi pada tujuan dan berkala. formulasi atau penguatan sistem kolaborasi mereka. yang rencana aksi menunjukkan kesediaan untuk mewujudkan rencana aksi dan menggunakan sumber daya mereka sendiri / waktu untuk aksi yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Pentingnya monitoring dan Tugas monitoring/ review perlu diberikan lebih ditekankan. menentukan pasar/ segmen konsumen khusus. pengenalan dana dukungan (yaitu. perencanaan rencana aksi. karena upaya monitoring bertujuan untukmengungkapkan faktor yang mendorong atau menghambat kemajuan. Tindakan tersebut sendiri dapat dimulai dengan sejumlah kecil IKM. Poin kunci adalah bahwa rencana aksi harus dirumuskan dengan berorientasi pada pasar (misalnya. Proses penganggaran/ pencairan seperti ini terkadang menyebabkan kesulitan untuk menjawab kebutuhan/ masalah yang dimiliki IKM secara tepat waktu. yang dapat memimpin dan mengkoordinasikan IKM lain. atau perubahan lingkungan bisnis. Pentingnya aksi mandiri oleh Rencana aksi tidak boleh hanya dapat terdiri dari kegiatan dukungan saja. Selain itu. sehingga IKM dengan tantangan pengembangan produk dapat menerima aksi umpan balik untuk perbaikan lebih lanjut (atau diversifikasi) secara trial-&-error. Pemangku kepentingan yang berpengaruh tersebut termasuk mereka yang menyediakan wawasan pasar. setidaknya satu atau beberapa IKM unggulan (berpotensi) perlu diidentifikasi di industri sasaran. dengan melibatkan pelaku pasar seperti pembeli/ agen dalam proses perencanaan. Mengakomodasi praktik Peluang pemasaran dukungan/ promosi harus dijadwalkan secara selang-seling selama ‘Trial-&-Error’ dalam rencana rencana aksi.IKM sasaran Tidak semua IKM di industri sasaran perlu terlibat dalam rencana aksi. tetapi menghadapi kesulitan dalam merevisi secara fleksibel dan tepat waktu. Identifikasi IKM . seperti upaya pengembangan produk atau promosi. Pemerintah masih bisa merevisi penggunaan anggaran. Ketersediaan dana fleksibel Sebagian besar kegiatan dukungan yang diusulkan dalam rencana aksi mengandalkan yang dialokasikan untuk anggaran pemerintah untuk pelaksanaanya. terutama kebutuhan/masalah muncul sejalan dengan kemajuan rencana aksi. Rencana aksi yang ingin terlibat dalam sebaiknya fokus pada IKM. dalam bentuk dana paket). Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek yang berharga untuk menetapan tujuan dan perencanaan dukungan. sehingga mereka dapat saling melengkapi. dan bahkan membawa hasil nyata dalam waktu singkat. Dengan demikian. misalnya. pemerintah daerah perlu mengatur kondisi yang memungkinkan fasilitator untuk mengaktifkan dan mempertahankan observasi lapangan dan komunikasi dengan IKM sasaran. atau kelompok (kelompok-kelompok) IKM. Untuk mengoptimalkan peran fasilitator tersebut. Keterlibatan awal para Disarankan bagi pemerintah daerah (Dinas Perindustrian & Perdagangan) untuk pemangku kepentingan yang melibatkan para pemangku kepentingan yang paling berpengaruh (tidak hanya Dinas) dari paling berpengaruh tahap awal fasilitasi. melaksanakan dan monitoring/ mereview rencana aksi. Praktik tersebut dapat memberikan umpan balik yang berharga dan dapat terus memotivasi IKM dalam percobaan pengembangan produk. merumuskan. dapat disarankan.

1-1 Tujuan Umum-1: Peningkatan omset dan saluran pemasaran IKM di wilayah sasaran Prospek untuk mencapai tujuan umum dianggap memungkinkan. dapat mempengaruhi kinerja rencana aksi. saluran penjualan) untuk industrinya secara keseluruhan. IV. IV. perluasan pasar) IKM/ produsen di daerah sasaran dipandang cukup besar. prospek untuk mencapai tujuan umum juga dianggap “memungkinkan”. bahwa cukup sulit untuk mengumpulkan data kuantitatif kinerja operasional IKM di daerah industri sasaran. sehingga besar kemungkinan untuk dapat terus mengakses berbagai dukungan/ layanan yang akan disediakan oleh pemerintah pusat dan daerah. memilih model yang dibuat untuk meningkatkan layanan pengembangan IKM). banyak IKM di daerah sasaran yang tidak mencatat omset atau pembeli/ saluran penjualan secara memadai. dan sejauh ini telah menerima surat konfirmasi komitmen dari lima (5) Disperindag provinsi (beberapa pemerintah daerah yang mungkin dipilih sebagai sasaran pada tahap awal dari mereka yang telah berkomitmen melalui surat balasan). Oleh karena itu.1 Prospek untuk Mencapai Tujuan Umum Tim Tenaga Ahli dan C/Ps dari Ditjen IKM berbagi prospek . seluruh industri sasaran akan tetap menjadi unggulan di masing-masing daerah. Ditjen IKM sedang memfinalisasi daftar pemerintah daerah yang berkomitmen terhadap tahap perluasan.1-2 Tujuan Umum-2: Meningkatkan jumlah daerah yang memanfaatkan model fasilitasi dan meningkatkan dukungan IKM Seperti dinyatakan sebelumnya. mengingat pemerintah daerah tidak terlalu sering mensurvei data seperti omset dan pasar (pembeli.prospek berikut terkait pencapaian tujuan umum saat Proyek selesai. Kemungkinan untuk mencapai tujuan umum ini dapat juga dipastikan dari arah kebijakan IKM berikut. kesempatan komunikasi informal dengan IKM dapat diakui sebagai saluran pemantauan. dan mereview isi rencana aksi. Untuk Pencapaian Tujuan Umum setelah Proyek Selesai IV. Selain itu. terutama untuk mengamati perubahan kondisi industri sasaran dan situasi bisnisnya. hal yang paling memungkinkan diperoleh adalah kecenderungan kinerja operasional secara kualitatif dari IKM yang difasilitasi. POKJA di wilayah sasaran telah menyatakan bahwa fasilitasi industri sasaran mereka akan terus berlanjut dengan mempertahankan (atau merevisi) struktur fasilitasi yang telah terbentuk (yaitu. Bahkan jika ditanyakan kepada IKM yang difasilitasi secara individual. karena pembukuan/ manajemen pelanggan jarang dipraktikan. Selain pertemuan formal. POKJA dengan fasilitator) dan mengikuti praktik-praktik yang telah dipelajari dari SMIDeP untuk lebih meningkatkan kasus sukses IKM (wilayah Fase I) atau merealisasikan kasus sukses (wilayah Fase II). Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek kemajuan/ pencapaian di antara para pemangku kepentingan. kecuali perekonomian daerah menghadapi kesulitan atau melambat. Oleh karena itu. IV. Oleh karena itu. dengan menerbitkan surat kepada 14 pemda yang berminat dalam rangka mengonfirmasi komitmen mereka untuk mengadopsi model fasilitasi berbasis petunjuk (yaitu. Namun perlu dicatat. 30 . kontinuitas pertumbuhan dalam kinerja operasional (peningkatan omset.

Proyek Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Laporan Akhir Proyek Undang-Undang Perindustrian yang baru dianggap sebagai 'pendorong' untuk diseminasi (oleh Ditjen IKM) dan referensi/ pemanfaatan (oleh pemerintah daerah) petunjuk teknis fasilitasi industri lokal. IV.3 Rencana Monitoring sejak Akhir Proyek hingga Evaluasi Ex-Post Kegiatan monitoring setelah Proyek selesai dan evaluasi ex-post akan dijadwalkan dan dilaksanakan oleh Kantor JICA Indonesia melalui konsultasi dengan Kantor JICA Pusat. sebagai referensi untuk meningkatkan praktik fasilitasi industri lokal. IV. menjadi bernilai bagi pemerintah daerah. Hal ini terutama karena Undang-Undang ini memandang peningkatan pengalihan tanggung jawab/ akuntabilitas pengembangan IKM/ industri lokal ke pemerintah daerah. dan pengetahuan/ aksesibilitas pemanfaatan berbagai dukungan/ layanan yang tersedia baik di tingkat pusat dan daerah.2 Rekomendasi bagi Pihak Indonesia untuk Mencapai Tujuan Umum Ditjen IKM direkomendasikan untuk sebaiknya: i) melanjutkan perluasan model fasilitasi berbasis petunjuk (bagi pemerintah daerah lain) sesuai skenario perluasan model dengan memperkuat kemampuannya dalam melakukan bimbingan/ monitoring. akan lebih memotivasi jika insentif bagi pemerintah daerah yang mengikuti model fasilitasi sesuai dengan petunjuk diindikasikan secara jelas oleh Ditjen IKM. Dalam hal ini. Dalam hal ini. dan ii) mendiseminasi model di antara pemerintah daerah lain melalui acara-acara terkait. Hal ini dapat menimbulkan perhatian (dari Ditjen IKM) dan ketidaksiapan (dari pemerintah daerah) akibat peningkatan tanggung jawab/ akuntabilitas ke daerah. 31 . sehingga pemerintah daerah perlu untuk meningkatkan dan memperkuat kapabilitasnya dalam memastikan fasilitasi industri lokal yang berorientasi pada hasil. petunjuk teknis. Aksi yang direkomendasikan dengan rinci ke Ditjen IKM untuk memastikan perluasan dan diseminasi model fasilitasi berbasis petunjuk sesuai perkembangan disusun dalam Berita Acara Diskusi (Minutes of Meeting) yang dilakukan di JCC final yang digelar pada bulan Maret 2016 (lihat Lampiran-13). serta menegaskan kembali peran pemerintah pusat sebagai pendukung kuat daerah (melalui pendekatan bottom-up).

Lampiran-1: Record of Discussions .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

awal dan revisi) . Lampiran-2: Matriks Desain Proyek (PDM.

Tanggal: 1 November Melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Kelompok Sasaran: IKM diwilayah sasaran dan 2012 Wilayah Sasaran: Jawa Tengah. KEGIATAN INPUT [Pembentukan platform penyediaan layanan yang efisien] 1-1 Membentuk Unit Pelaksana Proyek (PIU) yang diorganisir Pihak Indonesian: oleh Ditjen IKM. pengembangan IKM meningkat. 3 xx usaha swasta yang memanfaatkan layanan pengembangan dan jasa konsultasi dalam mendukung organisasi meningkat xx%. panduan. 3-2 Mengidentifikasi isi dan faktor yag akan membangun model tersebut. hubugan antar/ dengan IKM. penyedia layanan serta pemangku kepentingan lainnya yang terkait dengan pengembangan IKM ditiap wilayah sasaran. 3-2 Lokakarya sosialisasi diselenggarakan oleh Dokumen proyek. keseluruhan. 1-5 Menugaskan dan melatih staf penanggung jawab di pemerintah daerah yang memfasilitasi layanan oleh lembaga pemerintah daerah dan pusat serta penyedia layanan swasta untuk IKM (perhatian harus diberikan kepada Shindan-shi). Matriks Desain Proyek (PDM) Nama Proyek: Proyek Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Durasi: Sejak 2013 selama tiga tahun. proyek. 1-4 Menetapkan sistem untuk memastikan penyediaan layanan . Kondisi ekonomi industri sebagai dasar pengembangan IKM di setiap wilayah sasaran. yang disediakan terpuaskan. Kemenperin. kontinu mendukung IKM dipraktekkan diwilayah lain. dsb. Kab. diselesaikan oleh proyek. Kota. Pihak Jepang: 1-3 Meninjau dan memetakan lembaga dan layanan . mengkoordinasikan kegiatan pengembangan IKM dalam mengelola Proyek secara keseluruhan. [Penguatan IKM: pengoperasian platform] 2-1 Melaksanakan rapat POKJA rutin di setiap wilayah sasaran.Biaya pengeluaran lokal bagi kegiatan proyek. . 3-3 Membuat pedoman sebagai bahan acuan bagi wilayah lain untuk mereplikasi dan menerapkan model tersebut.Pengadaan peralatan yang diperlukan bagi kegiatan proyek. OUTPUT 1 Platform untuk penyediaan layanan yang efisien disusun 1-1 Pembentukan POKJA guna Dokumen Proyek. 2-3 Perubahan positif tampak diantara IKM./ Pemerintah daerah yang saingnya serta terbentuknya model pengembangan IKM melalui diwilayah sasaran meningkat. telah dibentuk ke wilayah lain. Ditjen: Direktorat Jenderal . Model dan menigkatkan layanan diwilayahnya. Kemenperin guna memperluas model yang dari Kemenperin. diversifikasi kuestioner yang diselesaikan oleh pasar. 01 INDIKATOR YANG DAPAT DIUKUR SECARA PENJELASAN NARASI SARANA VERIFIKASI ASUMSI PENTING OBYEKTIF TUJUAN KESELURUHAN IKM diwilayah sasaran akan meningkat produksi dan daya 1 Penjualan dan saluran pasar bagi IKM Data statistic dari Provinsi.Ruang kantor dan fasilitasnya bagi Proyek. pengembangan IKM yang telah disusun. dan kegiatan pengembangan Proyek. [Penetapan model pengembangan IKM] 3-1 Menganalisis dan mengevaluasi pengalaman yang diperoleh melalui Kegiatan Output-1 dan -2 di setiap wilayah. Sumatera Utara pemerintah yang mendukung IKM tersebut PDM ver. yang efisien bagi IKM.Tenaga ahli dari Jepang bagi sektor yang dibutuhkan. yang dapat diadaptasikan di wilayah lain. 3-4 Menyelenggarakan lokakarya untuk mensosialisasikan model tersebut kepada para pemangku kepentingan lainnya. cetak. 2-4 Melaksanakan kegiatan yang telah diidentifikasi dengan menggunakan mekanisme penyediaan layanan yang telah ditingkatkan. hasil survei misalkan penjualan produk. Kemenperin untuk mengelola Proyek secara . IKM sasaran berdasarkan hasil analisis yang dilakukan di atas. TUJUAN PROYEK Persiapan untuk perluasan model pengembangan IKM melalui 1 Adopsi resmi oleh Kemenperin atas panduan Dokumen dan pernyataan resmi Kebijakan pemerintah guna penyediaan layanan yang efisien dilaksanakan di Kemenperin. 3-5 Memfasilitasi penyusunan anggaran yang diperlukan serta merumuskan program untuk merespon kemungkinan permintaan dari pemerintah provinsi lain di luar wilayah sasaran. Catatan) IKM: Industri Kecil dan Menengah. Berkelanjutannya rencana pengalaman dan pelajaran yang diperoleh melalui kegiatan pengembangan IKM baru di Indonesia yang strategis Ditjen IKM di Output-1 dan -2 untuk dapat diterapkan ke wilayah lain. 2-5 Menganalisis dan mengevaluasi hasil kegiatan pengembangan IKM sasaran oleh POKJA di setiap wilayah. dibentuk tersusun. wilayah model menerima 2-3 Mengidentifikasi tujuan. direktori versi berbasis web) layanan bagi IKM. memperomosikan IKM 2 Pengaturan anggaran dan organisasi Dokumen dan pernyataan resmi tidak berubah. PRE-KONDISI 2-2 Menganalisis permasalahan dan kebutuhan rantai-nilai serta hubungan industri dari IKM sasaran di setiap wialayah sasaran Pemerintah provinsi dan (mempertimbangkan jenis IKM sasaran seperti industri kabupaten/kota dalam berbasis sumber daya lokal dan industri pendukung). 1-7 Memfasilitasi dan mendukung kegiatan POKJA di setiap wilayah sasaran. situs web. 2 Daya saing IKM sasaran di setiap wilayah sasaran diperkuat 2-1 Mayoritas IKM mengenali peningkatan Hasil survei kuestioner yang IKM-IKM melanjutkan dengan penyediaan layanan yang efisien. dari Kemenperin. wadah dan penyedia layanan di setiap wilayah sasaran.Jumlah personel counterpart di Kemenperin yang mencukupi. mengadaptasi Model secara platform penyediaan layanan yang efisien (Model) untuk kemudian 2 Jumlah wilayah yang memilih menggunakan Data dari Kemenperin. kegiatan ekonomi mereka 2-2 Mayoritas IKM yang memanfaatkan layanan Hasil survei kuestioner yang di wilayah sasaran. 1-6 Membuat Direktori Layanan (dalam bentuk buku/ web) untuk memperkenalkan layanan dukungan bagi IKM oleh lembaga pemerintah dan swasta. dan KADIN(DA). pengembangan IKM yang tersedia saat ini oleh berbagai . Kemenperin: Kementerian Perindustrian. Dokumen proyek.Pelatihan ke Jepang bagi personel counterpart. penyediaan layanan.Biaya pengeluaran lokal yang diperlukan bagi counterpart dalam kegiatan proyek. diselesaikan oleh proyek. . Sulawesi Tengah. 1-8 Memantau situasi penyediaan layanan di setiap wilayah sasaran. Kemenperin. mengkoordinasikan diantara IKM dan sasaran tidak memburuk. 3 Model pengembangan IKM dibentuk berdasarkan pada 3-1 Panduan sebagai materi referensi bagi model Dokumen proyek. 1-2 Membentuk POKJA di setiap wilayah sasaran untuk . 4 Kepuasan usaha swasta yang menggunakan layanan dukungan. tugas. 1-2 Penyusunan direktori (baik cetak maupun Dokumen Proyek.

dan metode seleksi untuk mengidentifikasi teknis. situs ). dalam tahap lanjutan. Jumlah kasus sukses (IKM/ produsen yang mencapai Dokumen proyek Berikut jumlah IKM/ produsen yang telah mencapai tantangan aksi (tujuan Terkait industri sasaran fase II. 21 produsen. 2. IKM sasaran/ produsen yang menjadi fokus dan telah terlibat dalam Rencana Aksi terbatas pada 12 IKM.instansi selain Aksi. Penjualan dan saluran pemasaran IKM di wilayah sasaran Data statistik dari Provinsi. tujuan yang ditetapkan dalam Rencana Aksi) utama): 20 produsen di industri Ulos fesyen. Kedua. serta melibatkan para pemangku kepentingan terkait dan fasilitator yang ditunjuk untuk menyiapkan Rencana Aksi dan memfasilitasi pelaksanaannya. namun POKJA lainnya telah sasaran. yang membahas secara internal terkait tersedia untuk digunakan oleh staf Ditjen IKM dan Dinas. Dalam industri fase II. pemerintah guna telah diadopsi oleh Ditjen IKM dan diumumkan melalui surat resmi untuk kandidat Dinas Perindustrian & di Kemenperin. Pihak instansi tersebut merupakan anggota Indonesia telah membiayai sebagian besar usulan kegiatan dukungan. dan 80 produsen (pengrajin individual difasilitasi. Kab. lain. model secara Idem. Pemerintah daerah Akan direview setelah Proyek usai. Rencana Aksi dan menfasilitasi implementasinya. Namun. 2-3 Jumlah IKM/ produsen yang telah menerima/ Idem. baik di wilayah sasaran (5 pengaturan kerja untuk pengkinian/ provinsi)/ di tingkat pusat. TUJUAN PROYEK (REVISI) Persiapan perluasan model pengembangan IKM 1. yaitu industri komponen instruksi untuk mempersiapkan tim di Ditjen IKM sebagai focal point kapal dan industri pengolahan kakao di untuk perluasan model. Platform untuk penyediaan layanan yang efisien 1-1 Kelompok Kerja dibentuk di tiap wilayah/industri sasaran. tidak memburuk. dan setiap wilayah sasaran. diajukan ke instansi . Ditjen IKM sedang memfinalisasi daftar kandidat berkomitmen Selain model fasilitasi berbasis petunjuk memperluas model yang telah dibentuk ke wilayah lain. memperomosikan tahap lanjutan ke pemerintah daerah lainnya (bagi yang tertarik mengikuti Perdagangan Provinsi. Dokumen proyek Kondisi ekonomi POKJA dibentuk di masing-masing 6 industri sasaran di 5 wilayah (dari disusun sebagai dasar pengembangan IKM di dan fasilitator yang handal ditugaskan untuk menyusun industri sasaran fase I dan II) melalui penerbitan SK oleh kepala pemerintah daerah. dan yang IKM melalui platform penyediaan layanan yang KADIN(DA). Ketiga. Beberapa Maret 2015 dan berfokus pada beberapa kegiatan dukungan kunci. Jumlah wilayah yang memilih menggunakan model dan Data dari Kemenperin. Ditjen IKM selesai pada April 2016. sukarela) terutama bagi staf pelaksana pemerintah daerah juga telah diakui model fasilitasi berbasis petunjuk. fesyen. resmi dari Kemenperin. fasilitasi/ monitoring komponen kapal di Tegal dan Ulos mereka di wilayah pelaksanaan Rencana Aksi) atau jika ada topik khusu. daya saingnya serta terciptanya model pengembangan meningkat. Jawa Timur. setengah jalan difasilitasi. perencanaan Rencana Aksi. 20 produsen di masing-masing industri. Sumatera Utara dan Kalimantan Barat Kelompok Sasaran: IKM di wilayah sasaran dan pegawai pemerintah yang mendukung IKM tersebut PDM ver. meningkatkan layanan pengembangan IKM bertambah. Sekitar 40 IKM (industri komponen kapal). kontinu mendukung IKM diwilayahnya. Pengaturan anggaran dan organisasi Kemenperin guna Dokumen dan pernyataan Pertama. Tanggal: Akhir April 2016 Wilayah Sasaran: Jawa Tengah. 28 produsen (usaha mikro memanfaatkan kegiatan dukungan/ layanan yang pengolahan kakao/ mebel rotan). namun komitmen mereka untuk memberikan dukungan terbilang lemah. 01 INDIKATOR YANG DAPAT DIUKUR ASUMSI RINGKASAN NARATIF SARANA VERIFIKASI PENCAPAIAN KETERANGAN SECARA OBYEKTIF PENTING TUJUAN UMUM IKM di wilayah sasaran akan meningkat produksi dan 1. dan komponen kapal dan pernyataan resmi mempertimbangkan kemungkinan sebagian dana untuk membiayai usulan Menteri pada kasus industri pengolahan kegiatan dukungan oleh pemerintah daerah selama proses fasilitasi. Sulawesi Tengah. dengan memperhatikan kapasitas dukungan (dalam bentuk paket organisasional dan anggaran. mengadaptasi efisien ("model") yang akan dipraktikkan di wilayah 2. Daya saing IKM sasaran di setiap wilayah sasaran 2-1 Jumlah rapat POKJA yang telah diselenggarakan. jumlah IKM yang menerima/ memanfaatkan kegiatan dukungan/ layanan (setidaknya . meliputi data profil lembaga dukungan (72). kakao). dipimpin/ dimotori oleh Disperindag di setiap wilayah. resmi dari Kemenperin. Direktur Jenderal IKM telah memberi dukungan)./ Kota. Dirjen IKM telah meminta Sekretariat daerah lain yang telah ditetapkan dalam untuk mempersiapkan anggaran (tahun anggaran 2017) untuk tahap MoU (dalam bentuk MoU antar para lanjutan model fasilitasi. baik untuk Walaupun mayoritas rapat difasilitasi diperkuat melalui penyediaan layanan yang efisien. sedangkan Rencana Aksi industri fase II baru dimulai pada difasilitasi sesuai harapan. sehingga direktori tersedia bagi para staf Ditjen perluasan direktori setelah restrukturisasi IKM/ pemerintah daerah. OUTPUT (REVISI) 1. Adopsi resmi oleh Kemenperin atas petunjuk teknis Dokumen dan pernyataan Kebijakan Model SMIDeP dan petunjuk untuk fasilitasi pengembangan industri lokal Ditjen IKM telah mendaftarkan 14 melalui penyediaan layanan yang efisien dilaksanakan pengembangan IKM yang telah disusun. 4 IKM di industri komponen pencapaian tujuan utama tidak ditinjau kapal. 3. termasuk biaya perjalanan/ rapat dengan tujuan pemangku kepentingan pada kasus bimbingan/ monitoring terhadap beberapa pemerintah daerah sasaran. melanjutkan industri sasaran fase I dan II guna melakukan tugas-tugas yang diberikan oleh Tim Tenaga Ahli pada kasus Pokja kegiatan ekonomi (diagnosis industri. Dokumen proyek IKM-IKM 66 kali rapat POKJA telah diselenggarakan oleh POKJA. 2. 2-2 Jumlah kegiatan dukungan/ layanan yang telah difasilitasi Idem. akan dilanjutkan pula dua model pemerintah daerah/ industri sasaran. 5 oleh Direktur Jenderal IKM dengan tanda tangan beliau untuk distribusi Dinas telah memberikan tanggapan ke awal melalui rapat koordinasi nasional dengan seluruh Dinas Perindustrian Ditjen IKM melalui surat konfirmasi dan Perdagangan teingkat provinsi. komitmen. Lembar Monitoring Proyek I (Revisi Matriks Desain Proyek: PDM) Nama Proyek: Proyek Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Durasi: Sejak 2013 selama tiga tahun. 183 kegiatan dukungan/ layanan telah difasilitasi oleh POKJA (lihat rincian Kegiatan dukungan yang diusulkan/ dalam dukungan/ layanan yang diusulkan dalam Rencana lengkap untuk masing-masing industri sasaran pada Lampiran-8). 16 produsen di industri pengolahan kakao dan tidak ada untuk karena pelaksanaan Rencana Aksi baru industri mebel rotan. menyelenggarakan rapat secara sukarela. dan petunjuk sebagai dokumen referensial (atas dasar untuk berpartisipasi dalam tahap lanjutan berubah. 1-2 Direktori penyedia layanan bagi IKM berbasis situs dapat Dokumen proyek dan Direktori lembaga dukungan telah disiapkan dan diunggah pada bulan Mei Sekretariat Ditjen IKM disarankan untuk dimutakhirkan secara berkala oleh Ditjen IKM telah database direktori (di 2015 (di situs lama Ditjen IKM) dan Desember 2015 (di situs baru). yang berminat IKM tidak model/ petunjuk). POKJA. ulos fesyen) telah menerima/ memanfaatkan kegiatan dukungan/ layanan setidaknya sekali. Mayoritas usulan dukungan pada Rencana Aksi industri fase I telah perindustrian/ perdagangan belum dapat terlaksana.

Model pengembangan IKM dibuat berdasarkan 3-1 Petunjuk teknis sebagai materi referensi dari model Dokumen proyek dan Berkelanjutannya Petunjuk teknis dibuat setelah model kerja.Biaya pengeluaran lokal 2-1 Melaksanakan rapat POKJA rutin di setiap wilayah sasaran. Mereka juga dianggap sebagai IKM sasaran yang menjadi fokus dan telah terlibat dalam Rencana Aksi. Kemenperin: Kementerian Perindustrian. dan lainnya). telah dilakukan di Sulteng ke daerah lain. Kemenperin untuk mengelola Proyek Pihak Indonesia: Pemerintah secara keseluruhan. counterpart.dan . Ditjen IKM bersama dengan Tim Tenaga Ahli konsensus antara dua Dirjen untuk dapat menjelaskan model fasilitasi SMIDeP dan keunggulan mengikuti mengaplikasikan model dukungan yang model berdasarkan petunjuk dengan mengutip kasus sukses SMIDeP. dan melanjutkan fasilitasi serupa di bawah praktik baik/ pelajaran SMIDeP. dan diversifikasi produk. <Masalah dan 2-5 Menganalisis dan mengevaluasi hasil kegiatan pengembangan IKM sasaran oleh POKJA di setiap wilayah.Pelatihan ke Jepang sasaran (mempertimbangkan jenis IKM sasaran seperti industri berbasis sumber daya lokal dan industri bagi personel pendukung). terutama bagi staf pelaksana di pemerintah daerah. Persiapan prototipe atau produksi produk baru/ ditingkatkan. 3. yang diperlukan dalam 2-4 Melaksanakan kegiatan yang telah diidentifikasi dengan menggunakan mekanisme penyediaan layanan yang telah kegiatan proyek. penyelesaiannya> [Pembuatan model pengembangan IKM] 3-1 Menganalisis dan mengevaluasi pengalaman yang diperoleh melalui Kegiatan Output-1 dan -2 di setiap wilayah. 3-2 Lokakarya sosialisasi diselenggarakan oleh Kemenperin. Penguatan hubungan keterpautan di antara IKM/ pemangku kepentingan terkait. bagi kegiatan proyek. dan Tim Tenaga Ahli dan perwakilan dari masing-masing dikonfirmasikan konsensus untuk POKJA berbagi mengenai pendekatan. 3-5 Memfasilitasi penyusunan anggaran yang diperlukan serta merumuskan program untuk merespon kemungkinan permintaan dari pemerintah provinsi lain di luar wilayah sasaran. lembaga pemerintah dan swasta. pemerintah daerah dan pusat serta penyedia layanan swasta untuk IKM (perhatian harus diberikan kepada . . Perluasan dan diversifikasi pasar dan saluran penjualan. dan kegiatan pengembangan IKM sasaran berdasarkan hasil analisis yang dilakukan . Pada seminar industri koordinasi nasional yang mengundang seluruh Disperindag Provinsi. Pencapaian lain yang relevan (pada aspek kelembagaan. pengalaman/ pencapaian. jumlah karyawan). counterpart dalam 1-5 Menugaskan dan melatih staf penanggung jawab di pemerintah daerah yang memfasilitasi layanan oleh lembaga kegiatan proyek. 3-3 Membuat pedoman sebagai bahan acuan bagi wilayah lain untuk mereplikasi dan menerapkan model tersebut. kewirausahaan.Biaya pengeluaran lokal model menerima penyedia layanan di setiap wilayah sasaran. sekali) sejauh ini sebanyak 21 (pengolahan lidah buaya) dan 30 (alas kaki). 1-7 Memfasilitasi dan mendukung kegiatan POKJA di setiap wilayah sasaran. Ditjen IKM di singkat) dipersiapkan sebagai dokumen referensial bersifat sukarela. ditingkatkan. yang diperlukan bagi Proyek. 1-4 Menetapkan sistem untuk memastikan penyediaan layanan yang efisien bagi IKM. . Kinerja manajemen (penjualan. .Tenaga ahli Jepang di sektor yang dibutuhkan. Kemenperin memadai dalam wilayah 1-3 Meninjau dan memetakan lembaga dan layanan pengembangan IKM yang tersedia saat ini oleh berbagai wadah dan . produsen) terhadap kegiatan dukungan/ layanan yang telah survei kuesioner difasilitasi.Pengadaan peralatan di atas. 3-4 Menyelenggarakan lokakarya untuk mensosialisasikan model tersebut kepada para pemangku kepentingan lainnya. Pihak Jepang: 1-8 Memantau situasi penyediaan layanan di setiap wilayah sasaran. fasilitasnya bagi 1-6 Membuat Direktori Layanan (dalam bentuk buku/ web) untuk memperkenalkan layanan dukungan bagi IKM oleh Proyek. tugas. Catatan) IKM: Industri Kecil dan Menengah. oleh IKM/ produsen sasaran pada aspek yang relevan antara berikut ini. . yang dapat diadaptasikan di wilayah lain. KEGIATAN INPUT PRAKONDISI [Pembentukan platform penyediaan layanan yang efisien] 1-1 Membentuk Unit Pelaksana Proyek (PIU) yang diorganisir oleh Ditjen IKM.Jumlah personel provinsi dan 1-2 Membentuk POKJA di setiap wilayah sasaran untuk mengkoordinasikan kegiatan pengembangan IKM dalam counterpart di kabupaten/kota mengelola Proyek secara keseluruhan. . Dokumen proyek Seminar regional diselenggarakan oleh Ditjen IKM di setiap wilayah Pada seminar industri komponen kapal sasaran fase I. . serta pengembangan pasar/ pembeli baru. 2-2 Menganalisis permasalahan dan kebutuhan rantai-nilai serta hubungan industri dari IKM sasaran di setiap wialayah . Dua (2) kali kesempatan untuk seminar program baru untuk akselerasi sertifikasi nasional diselenggarakan oleh Ditjen IKM dengan memanfaatkan rapat komponen. Petunjuk teknis (dengan versi kegiatan Output-1 dan -2 agar dapat diterapkan di tersedia. Peningkatan dalam komentar dari pengguna/ konsumen. 3-2 Mengidentifikasi isi dan faktor yag akan membangun model tersebut. [Penguatan IKM] . melalui serangkaian diskusi pengalaman dan pelajaran yang diperoleh melalui pengembangan IKM di Indonesia yang baru disusun petunjuk teknis rencana strategis dengan tim petunjuk teknis di Ditjen IKM. 2-4 Tingkat kepuasan (oleh sebagian besar sasaran IKM/ Dokumen proyek dan hasil Lihat rincian lengkap untuk setiap industri sasaran di Lampiran-8. 2-3 Mengidentifikasi tujuan. Ditjen: Direktorat Jenderal . . Kemenperin. wilayah lain.Ruang kantor dan Shindan-shi). 2-5 Hasil (perubahan positif) terhadap aksi yang dilakukan Idem Lihat rincian lengkap untuk setiap industri sasaran di Lampiran-8. akses keuangan. pengolahan kakao telah dicapai Melalui kesempatan ini.

Lampiran-3: Revisi Rencana Operasional (yang direncanakan dan aktual) .

in terms of the achievements. Output 3: Establishment of model for SMI development based on experience/ lessons learned through activities under Outputs The guideline team and the Expert Team reviewed the efficacy/ Analyze and evaluate the experience which is acquired Plan practicability of SMIDeP approach thru the questionnaire to LWGs. Revised SK to i) N/A the Project Actual add the region team members. The guideline was firstly drafted by the Expert Team in Sep. 2015. In each target region. and 1. coordination. and LWGs for the Implement the identified activities by using improved 2. Develop the guideline as reference materials for other Plan This was then reviewed among the guideline team. target SMIs and support activities 2.5 GoI/ JICA reviewing the achivements and results of the questionnaire interview N/A development of target SMIs by LWG in each region Actual survey to the target SMIs conducted by each LWG beforehand. with the terms/ conditions to be met by the regional governments willing to 3. bringing the idea of what actions/ supports to be N/A linkage in target SMIs in each target region Actual proposed at the next step of the Local Industry Action Plan (LIAP). Develop a Service Directory (paper based and web based) Plan Uploaded at the new website of the DG-SMI in Nov.4 GoI/ JICA industry development) for the target industries of both Phase I and II.1 GoI/ JICA support). in parallel to the intermittent discussion on the position/ usage of the guideline with the guideline team. 1.1 Conduct regular LWG meetings in each target region GoI/ JICA (industry diagnosis. region (for field Set up PIU by DG-SMI in MoI for overall management of 1.3 services for SMI development by various entities and GoI/ JICA institutions in the target regions of both Phase I and II together with N/A service providers in each target region Actual those at central level. Identify the goals. None N/A Actual Plan Monitoring Sheets are to be prepared Progress Report/ Monitoring Sheet as Progress Report. DG-SMI has issued a letter to officialise the announcement at the Plan national meeting at Bengkulu concerning the extension of a facilitation Facilitate the necessary budgetary arrangement as well as model of the SMIDeP based on the guidelline to other regions. that for Samosir has been deemed more 1. using an occasion of the national meeting in Mar.8 Monitor situation of service delivery in each target region GoI/ JICA N/A the JCC/ joint-meeting with LWG in order to figure out achivement Actual and issues of facilitation of LWGs. Establish the system to ensure efficient service delivery for Plan Formulated the system for efficient service delivery (platform for local 1. The Expert Team has then assisted other provincial governments out of target areas DG-SMI in conducting a consultative session to those regional gov. Plan consisting of challenge action. and ii) newly establish the guideline team. PM Form3-3 Monitoring Sheet Project Monitoring Sheet II (Revision of Plan of Operation) Version 2 Dated April 2016 Project Title: Project on Small and Medium Industry Development Based on Improved Service Delivery in Indonesia Monitoring Plan 2013 2014 2015 2016 Inputs Remarks Issue Solution Actual Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Expert Plan Taro Tsubogo (Chief Advisor/ SMI Development (1)) None N/A Actual Keisuke Sugiyama (Deputy Chief Advisor/ Region I (Local Plan None N/A Industry Development)) Actual Takuya Okada (SMI Development (2)/ Region II Plan None N/A (Supporting Industry Development) (1)) Actual Hiromichi Hara (Region II (Supporting Industry Plan None N/A Development) (2)/ SMI Service Delivery (2)) Actual Plan Yoko Tanaka (Region III (Local Industry Development)) None N/A Actual Plan Ahmad Subagyo (Financial Access) None N/A Actual Plan Yoichi Yamazaki (SMI Service Delivery (1)) None N/A Actual Izumi Ogawa (Project Coordinator/ SMI Development Plan None N/A Assistant) Actual Equipment Plan Computer None N/A Actual Plan Photocopier None N/A Actual Plan Laser printer None N/A Actual Training in Japan Plan 12 participants completed the Counterpart Training on SMI Support Policy and Measures training while 2 MoI officials None N/A Actual participated as observers. 2016. Actual which responded to the letter. having 1. ii) steps/ method for local industry facilitation.3 GoI/ JICA N/A regions to replicate and implement the model Actual their comments. 3.5 formulate program to respond to the possible requests from GoI/ JICA N/A participate in the extension stage. thus submitting the None N/A Actual periodic monitoring sheet.1 GoI/ JICA N/A through Activities under Outputs 1 and 2 in each region Actual and analysed the answers to the questionnaire in order to provide the inputs for design of work model/ technical guideline. facilitation/ monitoring of the N/A Actual LIAP implementation) or occasionally when special topics arise. A majority of the proposed supports/ services in the LIAP has been Plan already conducted for the Phase I industries. Plan comprising of the teams of advisor.2 GoI/ JICA and II industries. Seminars for dissemination of local industry facilitation by SMIDeP Organize workshop to socialize the model for other Plan approach were conducted both at reginal level (the target 3 provinces 3.5 who facilitate services by local/ central governmental GoI/ JICA trained C\Ps at the working level through facilitation training for both N/A institutions and private service providers for SMIs Actual Phase I and II. planning of the LIAP. and activities for the development Already prepared the LIAP both for the Phase I and II industries. None N/A Actual Plan Joint Monitoring None N/A Actual Plan Post Monitoring To be scheduled. None N/A Actual Reports/Documents Plan Ver. LWGs for cacao/ ship-parts have been ideally and Actual effectively utilizing the platform.3 of the target SMIs based on the result of the analysis done GoI/ JICA N/A proposed by LWG.7 Facilitate and support LWG activities in each target region GoI/ JICA active in assisting LWG to facilitate the better support activities N/A Actual through providing the guidance/advice and attending LWG meetings. Review and map the currently available institutions and Plan Already reviewed and profiled the service providers/ support 1.4 has been cancelled at the time Work Plan of the contract for Phase II. Plan Among the Region Teams. Analyze and evaluate the result of activities for Plan The evaluation meetings for the Phase I industries were conducted.2 activities for SMI development for overall management of GoI/ JICA Dinas Industry & Trade in each region lead LWG.2 GoI/ JICA N/A is adaptable to other regions Actual up. 2. Output 2: Strengthening of competitiveness of target SMIs with efficient service delivery Plan Has been held once in 2 months for performing the assigned tasks 2. The Expert Team and the guideline team both discussed that the Identify contents and factors to constitute the model.4 GoI/ JICA Phase II industries have been also facilitating the support activities N/A service delivery mechanism since March 2015. and iii) support resources information. 2015. None N/A Actual Plan Project Completion Report None N/A Actual Public Relations Plan Website (JICA technical cooperation project website) None N/A Actual Plan Newsletter None N/A Actual : Initial plan : Actual implementation : Plan for the future . appointing N/A the Project Actual facilitators and involving the concerned support institutions. Activities Plan 2013 2014 2015 2016 Responsible Organization Achievements Issue & Countermeasures Sub-Activities Actual Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ GoI JICA Output 1: Preparation of platform for efficient service delivery for SMI development Already established PIU with a decision letter (SK) of DG-SMI. Analyze issue and needs of value chain and industrial Plan Already conducted thru field visit/ LWG meeting both for the Phase I 2. Plan Set-up the Detailed Plan of Operation None N/A Actual Plan Introduced the monitoring system since Submission of Monitoring Sheet the mission below. support directory and capacity building. N/A SMIs Actual Assign and train staff in charge at the local government Plan Already assigned the staffs in charge including facilitators. formulate LWG to coordinate the Plan Already formulated each of 6 target industries in 5 regions. which Plan composing elements of the work model include i) implementation set- 3. Plan Duration / Phasing Actual Plan 2013 2014 2015 2016 Monitoring Plan Remarks Issue Solution Actual Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Ⅲ Ⅳ Ⅰ Ⅱ Monitoring Plan PIU-LWG Joint Meeting is added to Joint Coordination Committee/ PIU-LWG Joint Meeting reinforce progress sharing between None N/A Actual central and regional gov. Region Teams of PIU periodically monitor the situation of support Plan delivery (progress of Local Industry Action Plan) by LWGs through 1. tasks. and revised upon 3.6 to introduce SMI support services by government and GoI/ JICA accommodating the profile data of support institutions in every target N/A private institutions Actual region (5 province) and central level.4 GoI/ JICA N/A stakeholders Actual for the Phase I) and national level with the participants from all provincial Dinas industry & Trade. Plan Has been done in the mid of January Monitoring Mission from Japan 2015. and revised according to the progress/ necessity above Actual (for the Phase I industries).

Lampiran-4: Berita acara serah terima barang kantor .

.

.

Lampiran-5: Rencana studi banding ke Jepang dan daftar peserta .

and cooperation with the central government for these support activities * Program for enhancing utilization of local resources. and making supporter system. and a one-stop support system (a support desk Lunch (in the office or nearby) and a supporter system) 13:00-15:00: Management Support Div. 24 January 2014 Training Itinerary Date Activities Purposes Place of stay 12 Jan.Courtesy call Ditto (Wed) Economic and Labor Dept.Learn about basic policy for local specialty product promotion and Local Products Div.To learn about prefectural policies on economic/ industrial Economic and Labor Dept. and their implementation 16 Jan. 9:00-12:00: TIC . 10:00-10:30: International Affairs Div. including the followings. and International its outcomes and issues Hotel 10:20-12:00: Shikoku Towel Industry . support for the creation of new industries. promotion facility Labor Dept.Reception party with Indonesian students 17 Jan. development..To learn about overview of the institute’s activities (especially Industrial Technology (Food Industry the Food Technology Center). 09:00-10:00: Imabari Local Industrial .To learn about overview of the center’s activities. . Imabari Association and a facility tour of the background of the establishment. facilities and equipment. Annex/ Lampiran-5 Course Name : Counterpart Training for the Project on Small and Medium Industry Development Based on Improved Service Delivery in Indonesia Participants : 14 persons (Indonesian nationals only) Country : Indonesia Training Period : Sunday./ . and Public Policy Dept.Briefing by JICA briefing staff Tokyu-Inn (Tue) Lunch Matsuyama 14:00-15:00: Private Sector . JICA Evening: Moving from Haneda Airport JL1469: 17:30-18:55 to Matsuyama Airport Check in at Hotel Tokyu-Inn Matsuyama 15 Jan. contents of joint activities. support Ditto (Thu) Foundation activities including the followings and their success cases * Ehime Regional Business Creation Fund/ SME Challenge Fund (a subsidy scheme to create new business and explore new Lunch (at the Techno Plaza Ehime) markets) and business matching service 12:30-14:30: Ehime Institute of . including branding.To learn about support activities for the existing local industries/ Industry Creation Div. contents Technology Center) of R&D support including the followings. Economic and and programs. market development. development. Industrial Dev.. and finance) Labor Dept.. Late night: Departure from Jakarta JL726 On the plane (Sun) International Airport 13 Jan. 10:30-12:00: Industrial Policy Div. technical consultation. and development and dissemination of general-purpose technology * R&D support through industry-academia-government collaboration. Morning: Arrival at Narita. fund support for agriculture-commerce-industry collaboration. 9:00-11:00: Ehime Industrial Promotion . Economic and SMIs (on product development.To learn about overview of the association’s activities. . especially important programs on support to local industries/ SMIs. .. and moving Check-in at Hotel Sunroute Plaza Shinjuku Sunroute Plaza (Mon: to hotel in Tokyo Shinjuku Tokyo holiday) 14 Jan.To learn about overview of the foundation’s activities. Ehime Prefectural Govt. 15:30-17:00: Marketing Bureau/ Tourism . seeds/ needs matching service 17:00~: Ehime University . support Imabari (Fri) Promotion Center activities to local industries (ship parts and towels/ textiles)..Courtesy call and a report on the project activities Development Div. 12 January 2014 – Friday. 1..

and outcomes . Lunch (nearby) 13:00-14:00: Visit to an association . its management system. Annex/ Lampiran-5 Texport Imabari efforts for branding.To learn about product and regional branding strategy and cases Ditto (Tue) at KRI International Corp.To discuss and share the results of training 15:30-: KRI International Corp. efforts for market development.). . fund support for agriculture-commerce-industry collaboration. Morning: Moving from Shinjuku to JL725 Return to (Fri) Narita Airport Indonesia Arrival at Jakarta International Airport . Holiday Ditto (Sun) 20 Jan.To learn about overview of national programs and support Medium Enterprises and Regional measures on local economic and industrial development.To visit and interview SMI of ship components 18 Jan. coordination with the government 16:30-17:00: Visit to the cooperative support. 10:00-16:00: Hitonomori Co. Ltd. etc. Morning: Self-study .To learn about overview of the cooperative’s activities. coordination with the government support. and cooperation with local governments. learn about its facility layout Tokyo Station .To visit an antenna shop and learn about its management system. 09:30-12:30: Uchiko Fresh Park KaRaRi . 21 Jan. Marunouchi. and efforts of product Shinjuku Tokyo processed products) development and quality improvement through market/ customer tests at the shop 14:00-15:30: Iyo Textile (Pattern Folk) . member company (one or two) . Industry Cooperative background of the establishment. . study of regional branding in Japan 22 Jan. overview and outcomes of support for market development and fund schemes (SME Challenge Fund. selection of products to be displayed.To review learning and check its outcomes Ditto (Mon) 13:30-15:30: Organization for Small and . 10:00-11:00 Training evaluation (at .To visit a facility for promotion of local specialty products and 13:30-14:30: KITTE.To present the training results and feedbacks to the project Ditto (Thu) JICA) activity 14:00-15:30 Embassy of Indonesia in .To visit and interview SMI of towel manufacturer member company 15:00-16:00: Onishi Shipbuilding-related .To learn about the direct promotion facility of agricultural Sunroute Plaza (Sat) (Direct promotion facility of agricultural processed products.To report the training results Tokyo 24 Jan. Ditto (Wed) Setouchi-Shunsaikan cooperation with the local government and product suppliers.To learn about measures to promote traditional textile crafts Craft Museum (artifacts) and cases of product development utilizing traditional textile Afternoon: Moving from Matsuyama to JL1472: 17:05-18:35 Haneda Airport Re-check in at Hotel Sunroute Plaza Shinjuku 19 Jan. 23 Jan. etc. 10:00-12:00: Antenna shop of Ehime. contents of joint activities. etc. etc. Innovation (SMRJ) including program for enhancing utilization of local resources.

Sub-directorate of Metal. 14 Dodi Widodo of Industry Secretariat of DG-SMI . Directorate SMI Region III of DG-SMI Local Working Head of Industry Division. Transportation 2 Lismaniar Siagian Equipment. Industry & Trade of Central Sulawesi Province Observers (self-financed participants) 13 Central Busharmaidi Secretary to DG-SMI Government The Ministry Head of Program. Dinas Cooperatives. Industry & 8 Sumitro M. Eripson Mangasi H. Annex/ Lampiran-5 List of Participants for the Comparative Study to Japan No. SMEs. Dinas Cooperatives. Directorate for SMI Region I of DG-SMI Staff. Building Material and Craft Industry 12 Region-III Evyana Marwati Bangkel Section. Textile Industry Section. & Building Material Industries. Secretariat General of DG-SMI Head of Sub-directorate of Metal. Metal Industry Section. 5 Manosetta Satria Srigama Transportation Equipment. Creative & Tele-communication Industries. Creative & Tele-communication Industries. Sub-directorate of 7 Flori Indrasanti Program. Industry Division. Evaluation & Reporting Division. Classification Name Position Head of Cooperation Sub-division. Fishery and Chemical Industries Section. Directorate SMI Region II of DG-SMI of Industry Staff. Simbolon Group Trade of Samosir Regency Region-I 9 Local Abdul Honi Head of Dinas Industry & Trade of Tegal Regency Working 10 Group Amin Thoyib Mustofa Functional staff. Industry & Mustanto Working Trade of Central Sulawesi Province Group Head of Forestry. Evaluation & Reporting. SMEs. Dinas Industry & Trade of Tegal Regency Region-II Head of Agro. 4 Government Transportation Equipment. Directorate SMI Region III of DG-SMI Staff. Bambang Andry 11 Local Industry Division. Sub-directorate of Craft & 3 Satrio Pratomo Textile Industries. Evaluation & Reporting Section. 6 Dwi Yogo Pamudji Sub-directorate of Food. Sub-directorate of Metal. Chemical. Directorate SMI Region II of DG-SMI Head of Chemical & Building Material Industries. Creative & Tele-communication Sinaga The Ministry Industries. Directorate for SMI Region I of DG-SMI Central Head of Metal Industry Section. Legal & Cooperation 1 Bayu Fajar Nugroho Division. Dinas Cooperative.

Lampiran-6: Daftar counterpart yang terlibat dalam Unit Pelaksana Proyek (PIU) dan Kelompok Kerja Daerah (Pokja) .

Secretariat of DG-IIC Bayu Fajar Nugroho Head of Cooperation Section. Directorate of SMI Region III Anggota Edi Suhendera Head of Program Section. Directorate of SMI Region II Eripson Mangasi H. Secretariat of DG-IIC Indra Akbar Dilana Staff of Secretariat of DG-SMI Anggota Tim Wilayah I Posisi Nama Lembaga Ketua Lismaniar Siagian Sub-director of Craft and Textile Industry. Transportation. Secretariat of DG-SMI Parentina Meinawaty Staff of Data and Information . Chemical and Building Material Industry. Directorate of Maritime. Directorate of SMI Region III Sunandar Head of Food Industry Section. Directorate of SMI Region I Anggota Tim Wilayah II Posisi Nama Lembaga Ketua Darmanto Sub-director of Metal Product. Directorate of SMI Region III Anggota Tim Direktori Posisi Nama Lembaga Ketua Dody Widodo Head of Program. Directorate of SMI Region II Manosetta Satri Srigama Staff of Metal Product and Transportation Industry Section. Directorate of SMI Region I Bhakti Widyasari Ikaningtyas Head of Food Industry Section. Aerospace and Defence Equipment Industry Budi Hartono Head of Program Section. Directorate of SMI Region I Satrio Pratomo Staff of Craft Industry Section. Directorate of SMI Region I Wibowo Multizamiati Nizam Head of Textile Industry Section. Directorate of SMI Region III Dwiyogo Pamudji Head of Chemical and Building Material Industry. Sinaga Head of Metal Product and Transportation Industry Section. Directorate of SMI Region I Kris Sasono Ngudi Head of Program Section. Directorate of SMI Region II Anggota Ismodian Sub-director of Craft and Textile Industry. Directorate of SMI Region II Anggota Tim Wilayah III Posisi Nama Lembaga Ketua Musnidar Sub-director of Food Industry. Lampiran-6 Daftar Counterparts (C/Ps) yang terlibat dalam PIU dan POKJA Unit Implementasi Proyek (PIU) Anggota Tim Supervisi Supervising Team Posisi Nama Lembaga Advisor Euis Saedah Director General for SMI Ketua Busharmaidi Secretary for DG-SMI Anggota Reisend Emil Panjaitan Director of SMI Region I Roy Sianipar Director of SMI Region II Endang Suwartini Director of SMI Region III Riris Marhadi Secretary for Directorate General of International Industry Cooperation (DG-IIC) Mujiyono Head of Industry Training Institute (Pusdiklat) Anggota Tim Koordinasi Posisi Nama Lembaga Ketua Janu Suryanto Head of Legal & Cooperation Division. Directorate of SMI Region I Anggota Nurhayanti Gobel Sub-director of Food. Evaluation & Report Division. Secretariat of DG-SMI Eko Agus Nugroho Head of Technical Assistance Administration Section. Directorate of SMI Region II Ciska Farida Ariany Section of Textile Industry. Secretariat of DG-SMI Anggota Tri Harsono Head of Data and Information Section. Secretariat of DG-SMI Anggota Kastoro Head of Foreign Aid Division. Directorate of SMI Region III Sukma Paramita Dewi Staff of Food Industry Section. Directorate of SMI Region II Asrin Naholo Sub-director of Offshore Structure and Components Industry. Creative and Telematics Industry.

Secretariat of DG-SMI Anggota Bayu Fajar Nugroho Head of Cooperation Section. Sinaga Head of Metal Product and Transportation Industry Section. Disperindag Sumatera Utara Marudut Tua Sitinjak Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). ST Kepala Seksi Logam. Disperindag Tegal Syaeful Bahri. Directorate of SMI Region III Siti Nurkomariah Staff of Chemical and Building Material Industry Section. Hasil Kelautan dan Kimia. Mesin. Diskoperindag Samosir Mangasi Situmorang Koperasi Kredit (Credit Union) Dame Samosir Rolika Manik Kelompok produsen Ulos Tigor Siahaan Sekolah Kejuruan Lauputi. Disperindag Tegal Anggota POKJA untuk industri pengolahan kakao di Provinsi Sulawesi Tengah: Posisi Nama Lembaga Ketua Bambang Musthofa Kepala Seksi Industri Agro. Secretariat of DG-SMI Eripson Mangasi H. Samosir Herdon Simbolon Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Evaluation and Reporting. Diskumperindag Prov. Diskoperindag Samosir Anggota Yani Pane Kepala Bidang Industri. Samosir R Arthe M Simbolon Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda). UPL. Bidang Industri. Directorate of SMI Region II Sukma Paramita Dewi Staff of Food Industry Section. Elektronika dan Aneka (ILMEA). Sos Bappeda Tegal (Fasilitator) Amin Totib. . Pusdiklat Ni Wayan Yuni Widayanti Head of Extension Officer Section. SE Kepala Bidang Industri. Directorate of SMI Region II Heru Kustanto Head of Program. BI Munadi. Disperindag Tegal Anggota Mukti Sarjono Kepala Bidang Industri. Bidang Industri. Samosir (Fasilitator) Grecy M. Diskumperindag Prov. Directorate of Industrial Facilitation Development Region II Indra Akbar Dilana Staff of Secretariat of DG-SMI Angga Walesa Yudha Staff of Secretariat of DG-SMI Satrio Pratomo Staff of Craft Industry Section. Lampiran-6 Anggota Tim Petunjuk Teknis Posisi Nama Lembaga Ketua Janu Suryanto Head of Legal & Cooperation Division. Disperindag Jawa Tengah Abdullah AN Anggota Kadinda Sutardi Kepala Cabang Tegal. ST Pegawai. S. Toba Samosir Sihol Simbolon Bank Sumatera Utara Lince Nainggolan Konsultan NGO Anggota POKJA untuk industri komponen kapal di Kabupaten Tegal: Posisi Nama Lembaga Ketua Abdul Honi Ketua Disperindag Tegal Wakil Ketua Arifin. Directorate of SMI Region I Manosetta Satri Srigama Staff of Metal Product and Transportation Industry Section. Pusdiklat Kelompok Kerja (POKJA) Anggota POKJA untuk Industri Fesyen Ulos di Kabupaten Samosir: Posisi Nama Lembaga Ketua Hotraja Sitanggang Ketua Diskoperindag Samosir Wakil Ketua Ombang Siboro Ketua Disparsenibut Samosir Sekretaris Sumitro Mardi Simbolon Kepala Bidang Industri. Directorate of SMI Region III Anggota Tim Capacity Building Posisi Nama Lembaga Ketua Mayerfin Head of Training Standard Sub-division. Secretariat of Directorate General of Regional Development Sri Yunianti Sub-director of Regency/City Core Competence Industry. Sekretaris/fasilitator Yiska Elvis L Konsultan Diagnosis IKM. Simbolon Tenaga Penyuluh Lapangan. Pusdiklat Anggota Setia Diarta Head of Vocational Training Sub-division. ST Konsultan Diagnosis IKM. Disperindag Tegal Sekretaris Edy Suharno.

Chemical. SMEs & Cooperatives Pontianak Ditto Head of Production Development Section. MoI Ditto Head of City Development Planning Board Mojokerto Ditto Head of Dinas Labor & Transmigration Mojokerto Ditto Head of Economic Affairs Division. Mojokerto (Fasilitator) Ditto Head of Industrial Technology Dev. Agro & Forestry Product Industries Division. Bahan Bangunan dan Kerajinan. Disperindagkop Palu Toni Sawolino Kepala Bidang Pengembangan Usaha Perkebunan. Diskoperindag Mojokerto Anggota Ditto Head of Disperindag East Jawa Ditto Head of Indonesian Footwear Industry Development Center. Mojokerto Observer Ali Mashud Secretary to Indonesian Footwear Association (APRISINDO) East Java David S. Agro & Forestry Product Industries Division. Fishery & Forestry Pontianak Ditto Head of Technical Service Development Section. Trade. Prajuitkulon District. Disperindag West Kalimantan Ditto Head of Industry Division. Dinas Industry. Dinas Industry. Mayor’s Office Mojokerto Ditto Head of Prajuitkulon District. Prevention of Industrial Pollution Section. Dinas Agriculture. Disperindag West Kalimantan Ditto (3 persons) Head of 3 Sub-districts. Section. Agro & Forestry Product Industries Division. Disperindagkop Palu Alfred Nobel Lamandasa Tenaga Penyuluh Lapangan. Disperindag West Kalimantan Anggota Ditto Head of Agricultural Product Processing & Marketing Division. Baristand Pontianak Ditto Head of Development. Diskumperindag Province Sekretaris/fasilitator Syarifudin Konsultan Diagnosis IKM. Disperindag West Kalimantan Ditto Head of Industrial Facility Section. Disperindag West Kalimantan Parningotan Functional Staff. Disperindag West Kalimantan Anggota POKJA untuk industri alas kaki di Kota Mojokerto: Posisi Nama Lembaga Ketua Specified job position Secretary to Diskoperindag Mojokerto Sekretaris Ditto Head of Industry Div. Monitoring. Ciputra University Surabaya . Disperindagkop Palu Anggota Jeremia Tapusa Kepala Bidang Industri. Pemanfaatan Hutan ProduksiWil. Agro & Forestry Product Industries Division. Bidang Industri. Disperindag West Kalimantan (Fasilitator) Erni Sulissiawati Head of Admin. Chemical. Dinas MSEMs & Cooperatives West Kalimantan Ditto Head of Training Unit-SMI. Diskoperindag Mojokerto (Fasilitator) Ditto Head of Business Dev. Trade. XIV Palu Suaza Arsal ASMINDO Anggota POKJA untuk industri pengolahan aloevera di Kota Pontianak: Posisi Nama Lembaga Ketua Specified job position Head of Disperindag West Kalimantan Wakil Ketua Ditto Secretary of Disperindag West Kalimantan Sekretaris Ditto Head of Chemical. Lampiran-6 Anggota Muslimin Universitas Tadulako Yuslam Kepala Bidang Industri Kecil. Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah Toni Mangitung Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) Anggota POKJA untuk industri mebel rotan di Provinsi Sulawesi Tengah: Posisi Nama Lembaga Ketua Evyana Marwati B Kepala Seksi Hasil Hutan. Dinas Food Crop Agriculture & Horticulture West Kalimantan Ditto Head of Empowerment of MSMEs & Cooperatives Division. Chemical. SMEs & Cooperatives Pontianak Ditto Head of Agriculture & Forestry Division. Mayor’s Office Mojokerto Ditto Head of Development Affairs Division. Section. Diskoperindag Mojokerto Ditto Head of Business Development Section.. Agro & Forestry Product Industries Division. Kodrat Faculty of Economics. Training Unit-SMI. Disperindag West Kalimantan Ditto Head of Business Development Section. Section. Disperindag West Kalimantan Sumarna Functional Staff. Chemical. Diskumperindag Province Mahmud Laga Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Hutan Produksi Balai Pemantauan.

Lampiran-7: Rencana Aksi Industri Lokal dan industri sasaran awal * Daftar rinci industri sasaran (termasuk informasi kontak) diserahkan kepada JICA .

Meningkatkan penjualan produk fashion berbahan kain motif ulos yang modis di pasar high-end dimana proses desainnya bekerja sama dengan desainer dari Jakarta. Sentra pengrajin IKM Fashion akan untuk penghanian ke dalam boom pengrajin Anggaran) didirikan dalam satu wadah koperasi sehingga memudahkan program pengembangan IKM fashion tenun ulos 4 Dukungan CSR Bank Sumut Dengan adanya Bank Sumut sebagai lembaga permodalan dalam Ada benang yang dapat dipakai 2-3 boom benang terpakai oleh 10 pengrajin Bank Sumut (Diharapkan ada Diskoperindag. Tahap 3 : Desain sesuai trend global dan segmentasi pasar. CU Dame Maret-April 2015 anggota tidak punya modal untuk membeli bahan baku dan material dana awal KUB dan pengrajin lainnya dan pengrajin lainnya lainya untuk membuat produk diversifikasi. benang dari Majalaya Kabupaten pengiriman benang dari Supplier Majalaya Samosir. 10 JICA (Ada Anggaran) Diskoperindag Maret 2014 Produk Kerajinan diharapkan akan ada kegiatan untuk memperlombakan hasil untuk mengikuti kegiatan TOT membuat produk kerajinan kelompok penjahit. Bank Jun-July 2014 Untuk supply benang Pokja ini akan memudahkan koperasi IKM Fashion Tenun untuk penghanian ke dalam boom pengrajin anggaran dari Bank Sumut) Sumut mengakses dana CSR untuk pengadaan benang 5 Linkages bisnis dengan Selama ini kebutuhan bahan baku khusus tenun ATBM Ada MOU antara pengrajin Terjadinya transaksi 10 Kelompok Dinas Koperindag Samosir Pokja. Diharapkan lainnya aplikasinya dalam aksesoris pengrajin gedokan Diharapkan dari Ditjen IKM (Dina Mediani) dan dari kedepannya secara berkelanjutan terjadi mekanisme bisnis dari lainnya seperti sepatu dan tas dan JICA) medan proses tersebut antara designer dan pengrajin. Kemenperin Hanya ada satu pedagang benang (supplier lokal) yang Bandung. kerajinan. Maret 2014 ulos sehingga ada alternative produk selain kain tenun untuk berbahan kain tenun kerajinan dan terjualnya di kelompok penjahit. 2 Dinas Sosial dan tenaga dipasarkan. dll) berbahan kain motif ulos dikalangan wisatawan dimana proses desainnya bekerja sama dengan desiner lokal dan juga dengan industri pariwisata dalam hal Sasaran: i 20 pengarajin gedokan. 10 pengrajin ATBM. beberapa suplier benang lainnya pengrajin ATBM selain dari kabupaten Majalaya. Suhi-suhi baru . Samosir) Tantangan Aksi: 1. 6 Akses pinjaman kredit Diskusi anggota KUB pada Bulan Desember menymipulkan bahwa Ada akses dana untuk mendukung Ada kredit pinjaman bagi KUB KUB Harungguan Diskoperindag Samosir Bank Sumut. 4 Fasilitasi ATBM baru bagi Dalam rangka pengembangan perluasan area sentra baru dan akan Adanya rumah produksi yang baru di 2 unit ATBM yang baru dan 1 3 pengrajin ATBM Kemenperin (Ada Anggaran) Dekranasda Sep-Des 2013 pengrajin turunnya bantuan ATBM 2 unit dan 1 unit alat hanni dalam waktu sekitar sentra lama di desa Lumban unit hanni dalam sentra yang dekat. 2. JICA (Anggaran Designer dari jakarta design tenun motif ulos yang inovatif bagi pengrajin. Ada MOU dengan majalaya ke kelompok mengusahakannya. 2 Dukungan Kementrian Dijjen Akses kemungkinan bantuan benang dari Kemenperi sehingga Ada 2-3 boom bantuan dari 2-3 boom benang terpakai oleh 10 pengrajin Kemenperi (Diharapkan ada Kemenperi. Disperindag DisKoperindag Samosir.baik dalam fashion maupun product baru dalam fashion dan pengrajin ATBM serta 20 Propinsi.03 No Kegiatan Penjelasan Output Indikator Sasaran PIC Pihak yang terlibat Periode I Bahan Baku/ Input Supply 1 Dukungan APBD untuk supply Input supply untuk pengadaan benang bisa diakses dari belanja Ada 2-3 boom benang yang bisa 2-3 boom benang terpakai oleh 10 pengrajin Diskoperindag Samosir (Ada Diskoperindag Samosir Agust-Sep 2014 benang APBD. yaitu Tahap 1 : Pengembangan pola pikir kreatif dan ketrampilan teknis. Tahap 2 : Pengembangan design dan standarnisasi product. Diskoperindag Maret-April 2015 supplier benang (bahan berasal dari Majalaya Kab. April-May 2014 design diperkuat kapasitasnya sehingga mampu untuk menciptakan design. 1 unit assosiasi IKM (KUB Harungguan) Durasi: November 2013-December 2015 Des 2014_Ver. Bappeda baku) untuk tenun ATBM (kuantitasnya) terbatas serta pemesanan yang relatif lama. Ada 3 tahapan pelatihan selain TOT. Bandung yang jumlah (kelompok pengrajin) dan Suplier permintaan benang dan Pengrajin ATBM dan (Ada Anggaran) samosir. II Proses Produksi 1 Pelatihan Produk Kerajinan Pengrajin mampu membuat produk kerajinan berbahan kain tenun Ada produk-produk kerajinan Muncul nya produk produk 10 pengrajin. Jan-Des 2015 IKM untuk supply benang kebutuhan dapat teratasi Kemenperi pengrajin anggaran dari Kemenperi) Diskoperindag Samosir 3 Dukungan Bidang Koperasi Bidang koperasi menyediakan dana Bansos untuk bisa diakses Ada benang yang dapat dipakai 2-3 boom benang terpakai oleh 10 pengrajin Diskoperindag Samosir (Ada Bidang Koperasi Jun-July 2015 untuk supply benang koperasi yang telah berdiri. Peserta yang terpilih 3-5 orang peserta akan yang unik dan menarik serta anggota PKK dari diikutsertakan dalam kegiatan berikutnya yaitu TOT punya harga jual Deskranasda 3 Pelatihan pengembangan Setelah muncul kandidat designer lokal yang potensial perlu Adanya pengembangan design baru Munculnya beberapa design 3 desainer baru dan 10 Ditjen IKM. 2 pelatihan. 10 JICA (Ada Anggaran) Diskoperindag Samosir. Hal ini juga akan menambah nilai tambah produk pasar lokal anggota PKK dari kerja dan Deskranasda Deskranasda 2 Lomba Protype hasil pelatihan Setelah diadakan pelatihan produk kerajinan selama 4 hari Ada 3-5 orang pengrajin yang terpilih Peserta yang terpilih mampu 10 pengrajin.RENCANA AKSI untuk Industri Fasyen Ulos di Kabupaten Samosir (Local Industry Action Plan for Ulos Fashion Industry. Meningkatkan penjualan suvenir (aksesoris. Diskoperindag mengupayakan bisa mengalokasikan didatangkan dari Majalaya pengrajin Anggaran) pengadaan benang dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pengrajin dan orderan yang ada.

Palipi dan kecamatan Sianjur Mula bank Sumut. JICA (Anggaran dibuat sehingga masyarakat. dan instansi minimal 1 BUMN 2-3 kali Harunnguan dai Bappeda) dan industri pariwisata dengan mencari tema tema yang berhubungan dengan pangsa lainnya permintaan dalam setahun pasar tenun dan dikaitkan dengan pelestarian budaya 4 Kegiatan pemasaran promosi Kegiatan ini bertujuan untuk melihat peluang pemasaran produk Ada tempat-tempat yang strategis Produksi kain tenun KUB IKM Pengrajin ATBM. Nainggolan.5 Magang pengrajin tenun ulos Dibutuhkan magang bagi pengrajin selama 2 minggu munculnya pengrajin yang siap pengrajin mampu melakukan 2 pengrajin JICA (Ada Anggaran) Diskoperindag Samosir Nov-Des 2013 ATBM baru ke sentra tenun di untuk kegiatan untuk pembuatan pro tenun ikat motif harongguan dan lembaga yang Jepara. pengebooman dan pewarnaan dengan jangka waktu kurang mengikuti magang di Diskoperindag Samosir (Ada yang magang dari Jepara Selama melakukan pengebooman pengrajin akan dibiayai dari sehingga tidak perlu mendatangkan lebih 2 bulan. dompet. Palipi dan Nainggolan 12 Fasilitasi ATBM baru bagi Terkait pengembangan sentra baru di beberapa kecamatan. Ditjen IKM. bahan pewarna benang untuk tenun Dinas Koperindag Samosir) ATBM serta gedokan 10 Pengembangan sentra baru Melihat kebutuhan kain tenun ATBM semakin meningkat perlunya Munculnya beberapa sentra baru di Ada sentra baru di Kecamatan Pengrajian tenun di Diskoperindag Samosir Diskoperindag Samosir. Selain itu profil pengrajin IKM tenun ulos ATBM dan gedokan perlu desa Lumban Suhi-suhi samosir maupun hotel dan villa Harungguan PUPUK. toko-toko aksesoris. ATBM/gedokan. Samosir yang di Jakarta sebagai semakin terkenal dan Samosir (Dana diharapkan dari Dinas yaitu Jakarta. Jawa Tengah type dan diversifikasi produk untuk diversifikasi produk menerima pengrajin 6 Pembuatan prototype product Sebagai lanjutan pelatihan produk kerajinan Diskoperindag akan ada beberapa sampel pro type beberapa variant product laku 22 peserta yang telah Diskoperindag Samosir (Ada Juni 2014 fashion menjadi tas. pembeli dan lainnya mengenal. Samosir Samsir Nainggolan mula. CSR Bank pengembangan sentra baru untuk di letakkan di sentra yang baru jumlah produksi Sumut dan Inalum III Pemasaran dan Promosi 1 Pembuatan media promosi Masih belum dikenalnya sentra produksi lumban suhi-suhi oleh Tersedia leaflet/flyer (media promosi Leaflet tersebar di outlet Pengrajin Dinas Parsenibud Samosir. Ada ATBM baru di sentra Sianjur Ada tambahan ATBM Pengrajin ATBM Diskoperindag Samosir. 2-3 lembar kain Jepara (Natalia dan Anggaran) untuk intensive penghanian anggaran Deskranasda sehingga 2 orang pengrajin yang telah boom benang dari Majalaya tenun ikat dapat terselesaikan Sondang) benang ke boom ATBM dan mengikuti magang di Jepara mampu melakukan pengebooman dan pewarnaan pewarnaan sendiri. Hal ini melihat beberapa provinsi sudah memulai dan medai promosi meningkatnya jumlah produksi Koperindag Samosir) Diskoperindag mengupayakan membuka antena shop di Jakarta sehingga proses pemasaran lebih cepat 3 Temu bisnis antar pengusaha Temu bisnis bertujuan untuk membuka peluang pasar tenun samosir. swasta Temu bisnis ini bentuknya dapat sebagai lokakarya atau seminar dengan BUMN. dan Palipi sehingga bisa menambah Ditjen IKM. Intruktur dari Majalaya May-June 2015 ke pembuatan zat warna alam yang berkaitan dengan eco friendly product. seperti hotel-hotel untuk memasarkan produksi kain Fashion dapat terjual Harunnguan (Anggaran diharapkan dari . Bappeda June-July 2014 masyarakat dan wisatawan dan industri wisata (hotel dan homestay). 20 Dinas Koperindag Samosir. dasi. dari Jepara 9 Bimbingan teknis dan magang Perlunya alternative pewarnaan alami sebagai salah satu kegiatan Terjadinya kegiatan pewarnaan alami Beberapa pengrajin ATBM dan 10 Pengrajin ATBM. tentang tenun dan sejarah tenun dari wisata. Sehingga ada transfer ilmu bagi pengrajin demikian juga pewarnaan Anggaran) orang pengrajin yang magang lainnya. Ada nya permintaan dan transaksi Terjadi permintaan kain tenun Pengrajin ATBM. KUB Bidang Perdagangan Samosir. Agustas 2015 pengembangan sentra tenun ATBM di beberapa kecamatan di beberapa kecamatan di Kabupaten Sianjur Mula mula. Agust-Ok 2015 pengrajin untuk Diksoperindag membutuhkan dukungan ATBM yang baru Mula mula. KUB Bappeda (Dana diharapkan Diskoperindag Samosir Ags-Okt 2014 tenun dengan BUMN. mengadakan pelatihan lanjutan Prototype sebagai contoh bagi variant product di pasarkan mendapatkan pelatihan Anggaran dan Diharapkan sepatu sendal. Selain itu pewarnaan di Samosir dengan tersedianya gedokan sudah mampu pengrajin gedokan dan 3 Dinas Pertanian Samosir alami diharapkan mampu memperkecil biaya produksi tenun tanaman-tanaman lokal sebagai melakukan pewarnaan alami designer lokal (Anggaran diharapkan dari samosir. (Pengrajin Gedokan dan ATBM) diharapkan dari masing- masing pihak PIC) 2 Antena Shop di Jakarta Salah satu usaha Diskoperindag adalah memasarkan produk produk Ada wadah/toko Diskoperindag Produk-produk dari Samosir Industri di Kabupaten Dinas Koperindag Samosir Bappeda May-June 2015 kain tenun dan produk kerajinan Samosir ke Ibu Negara Indonesia. scarf dan pelaku untuk di pasarkan sebagai produck yang siap pakai untuk produk kerajinan Anggaran dari Disperindag pelatihan pembuatan product pasar high-end dan pariwisata sebagai produk oleh-oleh Propinsi) 7 Dukungan Deskranasda 2 orang pengrajin intensive untuk melakukan pengbooman sendiri 2 orang pengrajin mampu melakukan 3 boom benang mampu terisi 2 pengrajin yang telah Deskranasda dan Diskoperindag Samosir Jun-July 2015 kepada dua ornag pengrajin dengan mesin hanni yang tersedia serta melakukan pewarnaan. Palipi dan CSR Nainggolan 11 Pelatihan ATBM bagi Perlunya penambahan pengrajin pengrajin yang mahir Munculnya 20 orang pengrajin Ada 20 orang pengrajin 20 pengrajin tenun Diskoperindag Samosir Instruktur dari Agust-Nov 2015 pengrajin baru bertenun di ATBM untuk memenuhi permintaan kain tenun baru yang mewakili beberapa yang baru dari kecamatan Pengrajin Samosir ATBM kecamatan Sinajur Mula mula. oulet maupun tempat strategis lainnya yang bisa menampung tenun maupun produk kerajinan JICA) produk kain tenun untuk dipasarkan lainnya . KUB Diskoperindag Samosir Pengajin Jan-Dec 2015 langsung tenun dan produk kerajinan lainnya di pasar lokal. PHRI. Hal ini juga bertujuan untuk memulai pembuatan tenun ikat Harongguan 8 Training penghanian dan Setelah Natalia dan Sondang telah mampu melakukan 8 orang pengrajin lainnya mampu masing-masing pengrajin 8 pengrajin Deskranasda dan Dekranasda dan Nov-Dec 2015 pewarnaan bagi 8 pengrajin pengebooman sendri akan diadakan pelatihan penghanian boom melakukan penghanian ke boom mampu mengisi 1 boom Diskoperindag Samosir (Ada Diskoperindag Samosir lainnya yang dilatih oleh 2 kepada pengrajin lainnya. Parsenibud.

pengrajin Dinas Parsenibud Samosir. KUB Samosir . aksesoris pendapatan bagi masyarakat lainnya yang berasal dari tenun Desa Lumban Suhi suhi gedokan 4 Penetapan regulasi tentang Memulai pengenalan sosialisasi pengganti batik dengan memakai Regulasi (perbup. April product dari berbagai aspek yang melihat atau membeli product produk-produk ulos sebanyak satu Selain itu ada input dan lokal Samosir dan JICA (Anggaran Dinas Parsenibud (INNACRAFT). FDT 9 Promosi Pasar Produk KUB Agar produk KUB Harungguan dikenal di pasar luas maka perlu Ada leatflet atau brosur yang Leaflet tersebar di outlet KUB Harungguan JICA. Dinas Parsenibud . dll) Perbup diterima baik oleh Pengrajin Bupati Samosir Pemda Samosir Jan-Feb 2015 pengadaan bahan dan jasa product tenun lokal sebagai media promosi di kalangan PNS kab yang dibuat oleh Pemkab mengenai pegawai negeri sipil Samosir ATBM/gedokan. Shindanshi dari Nov 2014. KUB harungguan memerlukan dukungan pembuatan Harunnguan branding karena selama ini produk yang telah dipasarkan belum punya branding.Dec 2015 tenun tentang Manajemen KUB yang baru berdiri dalam melakukan manajemen bisnis menjadi manager bisnis bagi lokakarya manajemen PUPUK. toko-toko aksesoris. bisnis sehingga skill dan pengetahuan bertambah di pengrajin kelompok bisnis kepada 10 orang CU Dame (Ada Anggaran) TPL dari demikian juga pedagang pengrajin ATBM dan 20 Diskoperindag orang gedokan Samosir 3 Penumbuhan komunitas Berkaitan dengan desa wisata dan peningkatan wisata di daerah Adanya Kegiatan-kegiatan lain yang Kegiatan industri kreatif Pengrajin. Dinas Pariwisata maupun hotel dan villa Samosir IV Faktor Dukungan 1 Pendirian KUB IKM Tenun Ada nya wadah organisasi pengrajin dimana ada AD/ ART yang Berdirinya satu koperasi usaha KUB mampu meningkatkan Pengrajin tenun ATBM. Diskoperindag Samosir. suhi kreatif lainnya Parsenibud Samosir) 8 Pameran dan Fashion Show Perlunya kegiatan sebagai media promosi dan pengenalan branding Diharapkan akan terjadi pameran Beberapa kali pameran dan Pengrajin Kemenperi. JICA. restaurant amupun di sentra Harunnguan APBD) 6 Pemunculan dan pendaftaran Perlunya menjaga identitas lokal sehingga perlunya memunculkan Adanya merk dan terdaftarnya merk Terdaftarnya satu merk dari Pengrajin Kemenperin (Anggaran Diskoperindag Samosir Jun-July 2015 merk tenun motif ulos samosir ( merk dan mendaftarkannya dan juga untuk memudahkan promosi dari kelompok pengrajin kelompok pengrajin ATBM ATBM/gedokan. Disperindag propinsi. Bappeda April 2015 wadah untuk melatakkan display pajangan hasil tenun dan produk dipajangkan di beberapa tempat tempat seperti hotel dan ATBM/gedokan. tas. pedagang Dinas Parsenibud Samosir Dinas Koperindag Jun-Okt 2015 industri kreatif Samosir samosir. KUB belum mampu membuat packaging yang menarik.5 Pengadaan etalase/display Melihat kebutuhan yang berkembang di sentra tenun. Designer dari Wisata tepat menjadikan desa lumban suhi-suhi sebagai tujuan wisata. surat edaran. KUB diharapkan dari Kemenperi) Branding dan Packging ) product. Demikian halnya juga packaging.Dinas Perindag Koperindag Samosir (Indonesia Fashion Melalui pameran ini juga diharapkan ada input dan pembelajaran ulos samosir dan diversifikasi transaksi bisnis serta orderan. di Samosir dan salah satu desa gedokan di Desa Lumban Suhi Harunnguan. dan fashion show tenun kain motif fashion show dan terjadinya ATBM/gedokan. perlu meningkatkan kegiatan industri kreatif tenun dan berhubungan dengan penumbuhan berjalan dinamis dan (Anggaran diharapkan dari Samosir diversifikasi tenun ulos di desa Lumban Suhi suhi sebagai sentra industri kreatif selain tenun seperti menghasilkan sumber Dinas Parsenibud Samosir) dan asal muasal tenun di samosir pembuatan scarf. designer Sumut. Week). KUB (Anggaran diharapkan dari pengrajin. murah dan efective 7 Branding Lumban Suhi-Suhi Lumban suhi-suhi adalah desa tertua di kabupaten samosir dimana Ada nya branding lumban suhi-suhi Terdaftarnya satu merk dari Desainer lokal. KUB Harungguan Diskoperindag Samosir. pameran dan fashion show) PRSU. KUB Ditjen IKM (Anggaran JICA. pengrajin diharapkan dari Dinas Jakarta dan Medan tertua di samosir. Juli (PRJ). May-June 2015 dan pengembangan Desa tenun ulos berasal dari desa ini. pihak untuk perbaikan product PIC berkontribusi terhadap Nov (INDOCRAFT). kali selama rencana dukungan pembelajaran dari berbagai diharapakan masing-masing Samosir dan JICA (ICCRA). Untuk pengembangan desa sangat Samosir sebagai asal muasal tenun kelompok pengrajin tenun ATBM/gedokan. perlunya ada Ada beberapa display untuk Display terpasang di beberapa Pengrajin Diskoperindag Samosir Deskranasda. Ditjen IKM.Dinas Perindag Sumut. Diskoperindag Samosir (Ada Diskoperindag Samosir Jun 2014-Mar 2015 Fashion mengikat pengrajin untuk lebih serius mengembangkan tenun. bersama sentra tenun motif ulos jumlah produksi kain tenun dan penjahit Anggaran) samosir binaan Diskoperindag produk kerajinan lainnya 2 Penguatan kelompok IKM Perlunya penguatan kapasitas pengrajin sebagai organisasi Ketua kelompok mampu berperan Terjadinya seminar atau KUB Harunnguan Diskoperindag Samosir. Hal ini juga akan memudahkan untuk promosi. Dinas Koperindag Kemenperi. Harunnguan. Juli tenun samosir beserta divesifikasi lainnya. February-March 2015 media promosi untuk menjelaskan produk kerajinan ulos menjelaskan produk KUB wisata. KUB pemerintah untuk penggunaan samosir penggunaan pakaian motif tenun ulos dimulainya dari ES 2 untuk Harunnguan tenun motif ulos sebagai penggunaan seragam PNS atribute pemkab samosir . Dinas 2014&2015: February pengrajin ATBM dan gedokan serta diversifikasi product lainnya.

Pembuatan prototipe komponen kapal IKM-IKM yang membuat Disperindag Tegal. . Pengisian dokumen sistem mutu dan IKM-IKM yang membuat Disperindag Propinsi BKI. Ditjen Mei .RENCANA AKSI Pengembangan IKM Komponen Kapal di Kabupaten Tegal (Local Industry Action Plan for Ship-part Industry.Sep 2014 untuk sertifikasi komponen prototipe Ditjen IUBTT. SMIDeP SMIDeP 2015 (dilanjut) d.Apr. BKI 2015 (dilanjut) Ditjen IUBTT. Ditjen IUBTT. Okt. BKI. Mei . 2013 pasar dan galangan kapal di Jakarta Koperasi RRT JICA 2015 Studi-banding dan temu Studi-banding dan temu bisnis ke galangan IKM-IKM yang membuat Disperindag Tegal Disperindag Tegal 2015 bisnis ke galangan kapal kapal/ asosiasi galangan kapal komponen prototipe .Okt. Pengujian kinerja dan materi komponent IKM-IKM yang membuat Disperindag Tegal.Apr. Tegal ) Tantangan Aksi Sertifikasi produk komponen untuk kapal klas BKI untuk 10 produk IKM logam Komponen Kapal untuk pasar galangan Kapal Indonesia IKM Sasaran 30 IKM Komponen Kapal (Koperasi Mandiri Sejahtera) Kabupaten Tegal Periode Juli 2013 sampai dengan Oktober 2015 Kegiatan Dukungan Sumber Dana Periode Aspek Tujuan Umum Penanggung Jawab (skema/ program) (bulan/ tahun) Judul Isi Sasaran Dukungan Bahan Baku Pengembangan dan Penelitian bahan dasar Penelitian pengembangan bahan baku scrap IKM yang menggunakan Disperindag Tegal Disperindag Tegal Jul. Okt. Ditjen Mar. Ditjen IUBTT. 2014 standardisasi bahan scrap menjadi bahan bahan baku non ferro 2015 (dilanjut) baku standar Produksi Peningkatan produksi. Disperindag Tegal Dinperindag Provinsi. Fasilitasi mesin produksi Fasilitasi mesin produksi (mesin lahe 6m) Koperasi Mandiri Sejahtera Disperindag Tegal Ditjen PPI 2015 dan pencapaian sertifikasi BKI untuk Bimbingan teknis Perbaikan lingkungan kerja untuk 12 IKM Disperindag Tegal Disperindag Tegal.Sep. Penyusunan dokumen sistem mutu 30 IKM Disperindag Propinsi BKI. Ditjen Mei 2014 pendampingan pembuatan dokumen komponen prototipe Jawa Tengah IKM dan Disperindag 2015 (dilanjut) tersebut Propinsi Jawa Tengah c. . Workshop drawing dan pendampingan 30 IKM Disperindag Tegal. 2015 bebelapa komponen penerapan 3S peningkatan produktivitas IKM melalui SMIDeP kapal bimbingan penerapan 3S Dukungan sertifikasi BKI a. Dinperindag Prov. Ditjen IUBTT. JICA Peningkatan sarana Fasilitasi dapur pengecoran dan termocopel Koperasi Mandiri Sejahtera Disperindag Tegal Disperindag Tegal 2015 produksi Pemasaran Pengembangan akses Studi-banding ke BKI Studi-banding ke BKI dan 3 galangan kapal Koperasi Mandiri Sejahtera. 2013 . 2014 kapal sasaran (10 produk for sertifikasi BKI). Ditjen IUBTT April 2014 drawing komponen kapal untuk sertiifikasi Ditjen IUBTT 2015 (dilanjut) BKI c. komponen prototipe Dinperindag Provinsi IUBTT. 2014 untuk bebelapa (proses produksi komponen kapal sasaran) Jawa Tengah IKM dan Disperindag komponen kapal Propinsi Jawa Tengah b.

Tegal. 2014 material/ komposisi Tegal Apr. 2014 laboratorium pengujian akreditasi KAN nasional Tegal materi Fasilitasi alat lab uji Bantuan alat pengujian komposisi Al-Mg UPTD Labo Disperindag Ditjen IKM (Wilayah II) Ditjen IKM (Wilayah II) Sep. 2015 (Al=Mg) . 2013. JICA manajemen keuangan KospinJasa masalah keuangan Pelatihan manajemen Pelatihan pembukuan dan manajemen kas IKM komponen logam Disperindag Tegal. YDBA-LPB. Disperindag Tegal. BI Disperindag Tegal. Des. dan konsultasi langsung ttg. KospinJasa. . JICA KospinJasa. Kegiatan Dukungan Sumber Dana Periode Aspek Tujuan Umum Penanggung Jawab (skema/ program) (bulan/ tahun) Judul Isi Sasaran Dukungan Faktor Dukungan Kelembagaan Sumber Daya Pengembangan SDM Pelatihan teknologi Pelatihan pengecoran non ferro 20 IKM komponen logam Dinperindag Provinsi Dinperindag Provinsi Sep.Des. JICA KospinJasa Infrastruktur Penguatan UPTD Fasilitasi asessmen Asessmen akreditasi komite akrdeitasi UPTD Labo Disperindag Disperindag Tegal Disperindag Tegal Jan. 2014 2015 (dilanjut) Keuangan Penguatan akses Temu bisnis tentang Pengenalan produk/ layanan keuangan IKM komponen logam Disperindag Tegal. Dec 2013 Manusia (SDM) keterampilan pengrajin pengecoran (2 kali) logam Pelatihan teknologi Pelatihan pengelasan non ferro 20 IKM komponen logam Ditjen IUBTT Ditjen IUBTT Sep. .Mar. JICA. 2014 keuangan (cash-flow) usaha YDBA-LPB.Jun. 2013 keuangan dan produk/ layanan KospinJasa. Apr.. 2013 pengelasan Pelatihan die&mould Pelatihan die&mould IKM komponen logam Disperindag Tegal Disperindag Tegal Okt.

supermarket. Sulteng (Rumah Cokelat) dapat memproduksi cokelat batangan liquor & couverture (Cokelat Sulteng) secara kontinu. Promosi dan Sosialisasi Cokelat Sulteng Memperkenalkan Cokelat Sulteng dan pabrik Meningkatnya pemahaman Cokelat Rumah Cokelat Disperindag Prov. yang menggunakan cokelat batangan & liquor couverture (Cokelat Sulteng) dari Rumah Cokelat. hotel/ restoran/ kafe. yang terbuat dari biji kakao fermentasi di perkebunan Prov. khususnya JICA JICA IKM cokelat Kunjungan promosi kepada Melaksanakan kunjungan promosi langsung Teridentifikasi kebutuhan/ selera calon APECC APECC APECC calon pembeli di Kota Palu kepada swalayan. promotion Fasilitasi outlet bandara dan Rumah Cokelat Tersedianya pusat pemasaran dan APECC Disperindag Prov. ke pasar lokal (swalayan. mengenai budidaya/ fermentasi budidaya/ fermentasi atas kerjasama secara kontinu yang berkualitas sesuai sasaran UNTAD kepada petani kakao anggota POKJA (dosen pertanian UNTAD. mendapatkan masukan Jakarta terhadap produk Cokelat Sulteng. saat kunjungan promosi dan pameran Disperindag Prov. Hari Nusantara (Des) juga mendapatkan masukan Perindagkop & & UKM Kota even 2. Ditjen BI 5. 12 IKM anggota APECC (Asosiasi Pengusaha Cokelat Celebes) Periode Agustur 2013 sampai dengan Desember 2015 Lembaga Kegiatan Dukungan Jadwal Pelaksanaan Penanggung Jawab Sumber Dana Aspek Sasaran & (skema/ program) Judul Isi Tujuan Dukungan Pendukung lain 2013 2014 2015 Kegiatan Dukungan II III IV I II III IV I II III IV Bahan Baku Bimbingan teknis/ dukungan Membina petani biji kakao mengenai teknis Tersedianya biji kakao fermentasi Petani biji kakao Disperindag Prov. Disperindag Prov. Pabrik pengolahan biji kakao Dinas Perindag Prov. kafe untuk pengembangan produk. Hari Kakao (Sep) pengembangan produk JICA Perindustrian 4. Disperindag Prov. Sulawesi Tengah (Local Industry Action Plan for Cacao Processing Industry. JICA generasi muda di Kota Palu (kunjungan siswa sekolah ke Rumah Dinas Pendidikan Cokelat/ IKM cokelat) Prov. toko kue/ roti. Disperindag Prov. restoran/ kafe) Jangka Panjang IKM cokelat sasaran dapat meningkat produksi dan pemasaran olahan Cokelat Sulteng dan jumlah IKM yang menggunakan Cokelat Sulteng meningkat Sasaran 1. oleh. supermarket) 2. Pameran lokal lainnya IA JICA Bantuan peralatan dan fasilitas Pengadaan motor sebagai sarana mobile Tersedianya media promosi APECC Disperindag Prov./ Kota . - tempat strategis di Kota Palu terhadap produk Cokelat Sulteng APECC Promosi produk dan Promosi melalui pameran di Kota Palu dan Meningkatnya minat masyarakat Rumah Cokelat Disperindag Prov. Sulteng (Rumah Cokelat) 2. Palu Ekspo (Sep) Ditjen IKM. Sulteng. IKM cokelat sasaran di Kota Palu (dan sekitarnya) dapat memproduksi dan memasarkan olahan cokelat secara kontinu. Membuat baliho Cokelat Sulteng di beberapa Meningkatnya minat masyarakat Rumah Cokelat Disperindag Prov. dan APECC Dinas Dinas Perindagkop konsumen melalui pameran/ 1. Disperindag Prov. toko oleh-oleh. restoran.RENCANA AKSI Industri Pengolahan Kakao di Prov. pameran dll. sebagai tempat pemasaran produk olahan meningkatnya penjualan produk IKM Rumah Cokelat JICA JICA Cokelat Sulteng Demonstrasi (pengenalan) Memperkenalan produk Cokelat Sulteng di Meningkatnya pemahaman generasi Rumah Cokelat APECC Disperindag Prov. dan memasarkan ke pasar lokal (IKM cokelat. Disperindag Prov. hotel. produk Cokelat Sulteng kepada sekolah dan mengadakan Cacao Tour muda tentang Cokelat Sulteng APECC Disperindag Prov. Sulteng Ekspo (Apr) konsumen melalui kuesioner untuk UKM Kota Kementerian 3. pembeli dan dapat feedback pada Rumah Cokelat Disperindag Prov. supermarket. dan BI JICA mendapatkan informasi peluang penjualan meningkatnya penjualan produk IKM dan mempromosi produk Cokelat Sulteng Penyusunan media promosi Membuat brosur/ katalog tentang Cokelat Terciptanya brosur/ katalog produk APECC JICA JICA produk Cokelat Sulteng Sulteng/ produk olahan IKM untuk kunjungan Cokelat Sulteng dan digunakan pada Rumah Cokelat APECC Disperindag Prov. Pemasaran kepada pasar sasaran pengolahan biji kakao Sulteng di pasar sasaran. promosi. hotel. dengan standar Rumah Cokelat Dinas Perkebunan Dinas Perkebunan Prov. Central Sulawesi ) Disusun pada Mei 2014 Versi ke-2 Tujuan Utama Jangka Pendek 1. Disperindag Prov.) Prov. Pabrik pengolahan biji kakao Dinas Perindag Prov. toko oleh.

Ditjen IA Sulteng APECC Ditjen IA Ditjen IUBTT Ditjen IUBTT Kelembagaan Penguatan kelembagaan Pertemuan koordinasi antara POKJA dan Terjadi koordinasi. lemak kakao Mendiversifikasi produk Cokelat Rumah Cokelat Disperindag Prov. - meningkatkan penggunaan Cokelat Sulteng (supermarket. di outlet bandara menetap. GMP. pembeli dan dapat feedback pada Disperindag Prov. kemajuan dan koordinasi kegiatan pertemuan rutin . penjualan dll) Disperindag Prov. JICA Peraturan Audiensi antara POKJA dengan Laporan Kegiatan perkembangan kegiatan Meningkatnya penggunaan Cokelat POKJA Disperindag Prov. Disperindag Prov. dan membuat Ditjen IKM Dinas Perindagkop pengetahuan usaha untuk IKM minuman cokelat. hotel. liquor & couverture di pabrik & couverture di pabrik pengolahan biji kakao (cokelat batangan liquor & couverture) Perusahaan Kementerian pengolahan biji kakao mesin Perindustrian UNTAD Pelatihan/ dukungan teknis Mengadakan pelatihan/ dukungan teknis Operator pabrik dilatih keterampilan Rumah Cokelat Disperindag Prov. pembuatan olahan cokelat dan kebutuhan IKM (pembuatan kue cokelat/ batangan couverture. untuk operator pabrik pengolahan operator mesin di pabrik (sesuai untuk mengoperasi alat dan dapat Perusahaan Kementerian dengan kebutuhan) menghasilkan produk sesuai dengan mesin Perindustrian standar ditentukan Kementerian Pelatihan keterampilan Mengadakan pelatihan sesuai dengan Terlatihnya IKM mengolah cokelat APECC Disperindag Prov. beragam olahan cokelat moderan. Disperindag Prov. oleh. restoran. Ditjen IA Secara kontinu JICA Pemasaran/ Promosi kunjungan Melaksanakan kunjungan promosi langsung Teridentifikasi kebutuhan/ selera calon . distribusi informasi APECC Disperindag Prov. Lembaga Kegiatan Dukungan Jadwal Pelaksanaan Penanggung Jawab Sumber Dana Aspek Sasaran & (skema/ program) Judul Isi Tujuan Dukungan Pendukung lain 2013 2014 2015 Produksi Standarisasi cokelat batangan Menentukan standar cokelat batangan liquor Ditentukan standar produk di pabrik Rumah Cokelat Disperindag Prov. - Gubernur dan koordinasi demi kelancaran kegiatan Sulteng di lingkup pemerintah (snak di JICA Menyusun surat himbauan Gubernur demi rapat dll) maupun di pihak swasta APECC Disperindag Prov. berciri-khas Sulteng Bantuan mesin Rumah Cokelat Pengadaan mesin bubuk. supermarket. kemajuan dan feedback ke kegiatan melalui Dinas dan koordinasi kegiatan pertemuan rutin Perindagkop & UKM Kota Penguatan kelembagaan Pelatihan untuk pengurus APECC mengenai Meningkatnya pengetahuan dan Pengurus BI BI APECC aspek manajemen kelembagaan (koperasi) keterampilan IKM dalam pengolahan APECC PINBUK PINBUK manajemen kelembagaan (koperasi) JICA C Coaching hi Kli Klinik ik ttentang t pencatatan t t IKM malakukan l k k catatan t t keuangan k APECC BI BI keuangan APECC (produksi. - dukungan APECC APECC untuk distribusi informasi. distribusi informasi . hotel. Disperindag Prov. dan JICA mendapatkan informasi peluang penjualan meningkatnya penjualan produk IKM dan mempromosi produk Cokelat Sulteng Operasional outlet bandara Melaksanakan manajemen usaha bersama Terjalinnya saluran penjualan . kafe untuk pengembangan produk. APECC APECC Promosi kepada swalayan. APECC Disperindag Prov. APECC - APECC antara POKJA dan APECC untuk distribusi dan feedback ke kegiatan melalui informasi. teknis tempering. APECC APECC Produksi dan pengembangan kemasan moderan cokelat IKM dan saluran penjualan Disperindag Prov. dan meningkatnya penjualan JICA olahan cokelat APECC Kelembagaan Penguatan kelembagaan Pertemuan koordinasi internal APECC dan Terjadi koordinasi. restoran dll) Rumah Cokelat JICA di Kota Palu Usaha Sendiri oleh IKM Sasaran Produksi/ Proses Pengembangan produk baru Diversifikasi ragam produk olahan cokelat Meningkatnya daya tarik produk . CEFE dll) meningkatnya pengetahuan terkait Dinas Kementerian tempering) usaha IKM Perindagkop & Perindustrian Pembuatan merek Cokelat Menciptakan nama/ logo/ kemasan yang Meningkatnya daya tarik Cokelat APECC APECC JICA Sulteng menarik untuk produk Cokelat Sulteng Sulteng melalui penciptaan kemasan Rumah Cokelat Disperindag Prov. toko oleh. dan Ditjen IA & UKM Kota cokelat (termasuk teknik AMT. Ditjen IKM.

dan Diskumperindag Prov. m Sulteng (dalam bentuk talkshow) produk rotan secara massa dan UKM Kota JICA a s secara kontinu dan kuntinu JICA a * XXX kali di tahun 2014 r a n Penyusunan media promosi produk Membuat brosur/ katalog untuk IKM Terciptanya brosur/ katalog JICA Dinas Perindagkop JICA rotan kunjungan promosi. Central Sulawesi ) Tantangan Aksi IKM rotan di Kota Palu dapat memproduksi mebel dan/ atau kerajinan rotan sesuai dengan standar mutu yang ditentukan. restoran/ café. Sulawesi Tengah (Local Industry Action Plan for Rattan Furniture Industry. Hotel. PIRNaS JICA kepada IKM dan memfasilitasi IKM kegiatan promosi IKM Dinas Perindagkop dan menyusun kegiatan promosi UKM Kota selanjutnya Kunjungan Promosi kepada kantor Melaksanakan kunjungan promosi IKM Tersedianya informasi IKM PIRNaS JICA pemerintah dan swasta di Kota langsung kapada SKPD. perumahan baru. pameran dll. dan UKM Kota informasi peluang penjualan dan meningkatnya jumlah Diskumperindag Prov. menjadi pembeli Seminar hasil survei pasar lokal Membagi hasil survei pasar lokal IKM Tersusunnya rencana Diskumperindag Prov. jalan pejabat) demi Prov JICA raya dll) meningkatkan minat masyarakat Kota Palu terhadap produk rotan Pelaksanaan pameran/ even Promosi melalui pameran di Kota IKM Meningkatnya minat Dinas Perindagkop dan JICA Dinas Perindagkop dan promosi Palu. dan memasarkan ke pasar modern (hotel. mempromosi produk rotan penjualan produk rotan P e Promosi melalui acara TV Mengadakan promosi di TVRI IKM Tersebarnya informasi Diskumperindag Prov. "Palu Ekspo terhadap produk rotan. RENCANA AKSI Pengembangan IKM Rotan di Prov. masyarakat Kota Palu UKM Kota UKM Kota "Sulteng Expo (Apr)". produk rotan dan Kementerian dan UKM Kota Kementerian Perindustrian digunakan pada saat Perindustrian kunjungan promosi dan pameran Membuat baliho promosi produk IKM Terciptanya baliho produk Dinas Perindagkop dan PIRNaS Dinas Perindagkop dan rotan untuk dipasang di beberapa rotan (foto dengan UKM Kota Diskumperindag UKM Kota tempat strategis (bandara. RS dan kantoran) di Kota Palu. "Hari Nusantara (Des)". Dinas Perindagkop Diskumperindag Prov. Diskumperindag Prov (Sep)" dan Pameran lainnya di mendapat feedback melalui PIRNaS Kementerian Perindustrian tempat keramaian kuisioner JICA . potensi/ kebutuhan calon Dinas Perindagkop dan JICA Palu Restoran dll untuk mendapatkan pembeli di Kota Palu. Sasaran IKM rotan di Kota Palu: sekitar 20 IKM Jadwal Pelaksanaan Sasaran Sumber Dana Kegiatan Isi Dukungan Indikator/ Output Penanggung jawab Pendukung lain (skema/ program) 2013 2014 2015 II III IV I II III IV I II III IV Survei kebutuhan produk rotan di Mengadakan survei pasar lokal IKM Tersedianya informasi Dinas Perindagkop dan JICA JICA pasar moderan untuk mengetahui potensi/ potensi/ kebutuhan pasar UKM Kota PIRNaS kebutuhan produk rotan moderan berpotensi Diskumperindag Prov.

- rotan di kantor pemerintah meminta SKPD menganggarkan di lingkup pemerintah Kota dana pembelian produk rotan di Palu TA 2015 . dan UKM Kota 2014) d baku sampai produk jadi atas dan bisa menjamin mutu u kerjasama IKM dan Tim QC. desain. disepakati antara POKJA UKM Kota Diskumperindag 2014) produk jadi dan membentuk Tim QC. IKM juga untuk memenuhi Kementerian Kementerian Perindustrian standar mutu produk Perindustrian K Penguatan kelembagaan dukungan Pertemuan koordinasi antara IKM Terjadi koordinasi/ Diskumperindag Prov. PIRNaS e l IKM Rotan POKJA dan IKM untuk distribusi distribusi informasi dan Dinas perindagkop dan JICA e m informasi. r Gubernur/ Walikota tentang himbauan Gubernur/ Walikota thn Walikota demi mendukung Dinas perindagkop dan a penggunaan produk rotan di 2011. Diskumperindag Prov. dan IKM Prov. produk bagi pembeli k s i Pelatihan keterampilan tenaga Mengadakan pelatihan IKM Pelaksanaan pelatihan Dinas perindagkop dan PIRNaS Dinas Perindagkop dan kerja di IKM keterampilan (finishing. keterampilan sesuai UKM Kota Diskumperindag UKM Kota anyaman dll) untuk tenaga kerja dengan kebutuhan IKM dan Prov. Penetapan standar dan tahap QC Penyusunan check list untuk IKM Check list QC dan tahap QC Dinas Perindagkop dan PIRNaS JICA (untuk kebutuhan mulai dari bahan baku sampai pengendalian mutu produk rotan. - u lingkup pemerintah dan swasta tentang penggunaan produk rotan kunjungan oleh IKM r di kantor pemerintah dan swasta a sprt hotel dan restoran n Penyusunan surat Walikota kepada Sebagai tindaklanjut dari hasil IKM Terbitnya surat Walikota Dinas perindagkop dan SKPD tentang anggaran tahun kunjungan promosi oleh IKM. PIRNaS Gubernur/ Walikota dan koordinasi demi kelancaran fasilitasi untuk meperlancar Dinas perindagkop dan JICA kegiatan kegiatan UKM Kota - P e Penyusunan surat himbauan Sebagai tindaklanjut dari surat IKM Terbitnya surat Gubernur/ Diskumperindag Prov. kemajuan dan feedback ke kegiatan/ UKM Kota n - b a koordinasi kegiatan rencana aksi. P r Pelaksanaan pengendalian mutu IKM Produk IKM dapat sertifikat Tim QC Dinas Perindagkop JICA (untuk kebutuhan o produk rotan mulai dari bahan melalui pelaksanaan QC. menyebarkan kembali surat kegiatan promosi UKM Kota t . demi meningkatkan UKM Kota depan untuk pengadaan produk keluarkan surat Walikota yang penggunaan produk rotan . melalui g pertemuan rutin/ sesuai a a dengan kebutuhan Audiensi antara POKJA dengan Laporan perkembangan kegiatan IKM Mendapat dukungan/ Diskumperindag Prov.

Kalbar teknologi pendukung terkait dengan air bersih Untuk mengetahui kondisi layout produksi IKM Kunjungan lapangan ke Kunjungan lapangan minuman aloevera serta lokasi usaha IKM Olahan 5 IKM aloevera produk minum POKJA Tidak menggunakan anggaran Apr. 2015 oleh tim POKJA melakukan pengambilan Aloevera sampel terkait dengan pengujian kualitas produk . Kota Pontianak Sosialisasi Budidaya Pemberian materi terkait kecakapan. kemampuan. Kalbar Prov. Kalbar Prov. Kalbar pengembangan aloevera produksi yang baik pemahaman mengenai managemen produksi yang baik Proses Produksi Fasilitasi pertemuan Pertemuan antara pihak 1. Petani aloevera Dinas Pertanian. Kelompok petani aloevera Dinas Koperasi dan UMKM APBN Dinas Koperasi dan UKM 2015 aloevera dengan cara melakukan sikap. Pontianak ) Tantangan Aksi IKM aloevera dapat memproduksi produk olahan Aloevera yang berdaya saing di pasar modern dengan fokus produk minuman IKM Sasaran 21 IKM Periode January 2015~2 tahun Ver. Kalbar 2015 dengan cara melakukan orang petani) Pangan dan Holtikultura penanaman yang baik Provinsi Kalbar Pembinaan Petani Pengembangan lahan Optimalisasi lahan IKM binaan yang memiliki Dinas Koperasi dan UKM APBN Dinas Koperasi dan UKM 2015 Aloevera aloevera di lahan binaan terhadap peningkatan lahan pribadi Prov. terhadap kegiatan usaha seperti: GAP tani yang dilakukan Sekolah lapang aloevera Pemberian materi terkait 1 kelompok petani (15-20 Dinas Pertanian Tanaman APBD Dispan Prov. Perikanan APBD Dinas Pertanian. Kalbar Prov. Kalbar penanaman yang baik.RENCANA AKSI Pengembangan IKM Pengolahan Aloevera di Kota Pontianak (Local Industry Action Plan for Aloe Processing Industry. dan motivasi petani Prov. Kalbar kapasitas produksi dengan penggunaan teknologi tepat guna Pelatihan managemen Pemberian materi terkait Agar dapat meningkatkan Kelompok petani aloevera Dinas Koperasi & UKM APBN Dinas Koperasi & UKM 2015 produksi dalam dengan alur managamen pengetahuan serta Prov. Untuk mendapatkan antara pihak IKM dengan IKM dengan teknologi 2015 Politeknik Negeri Politeknik/SMTI Disperindagkop & UKM pendukung/kemasan Pontianak Pontianak Asosiasi IKM aloevera Kota Pontianak / Tidak menggunakan anggaran 2. 2015 penyuluh lapangan bagi petani aloevera perubahan dalam diri dan Kehutanan Pemerintah Perikanan dan Kehutanan petani petani yang mencakup Kota Pontianak Pemerintah Kota Pontianak tingkat pengetahuan. Untuk mendapatkan Disperindag Prov. 1_18/5/2015 Kegiatan Sumber Dana Penanggung Jawab Periode Judul Isi Tujuan Sasaran (skema/ program) Bahan Baku/ Pasokan Bahan Baku Dukungan tenaga Pendampingan para Menumbuhkan perubahan.

Kalbar 2016 Packaging dan kemasan bantuan peralatan untuk IKM melakukan minuman yang terpilih (APBD) packaging serta bantuan perubahan kemasan yang kemasan lebih baik . Kalbar Disperindag Prov.-Sep. Kalbar Prov. GMP GMP yang dikeluarkan oleh minuman yang terpilih Tim SMIDeP Dana Tim SMIDeP 2015 lembaga terakreditasi Lembaga sertifikasi GMP/Lembaga terkait Pelatihan teknologi tepat Pelatihan penggunaan Untuk meningkatkan IKM aloevera Dinas Koperasi dan UKM APBN Dinas Koperasi & UKM 2015 guna dalam proses teknologi pendukung pengetahuan terkait Prov. 2015 usaha besar kepada serta untuk mendapatkan Kota Pontianak/ Asosiasi IKM Aloevera masukan langsung dari Disperindag Prov. Kalbar dengan (Bimbingan) pelaku usaha yang sudah bisnis oleh besar INACO/Sumber Keong/Aloevera Indonesia Bantuan Peralatan Memberikan dukungan Memberikan dukungan 3 IKM aloevera produk Disperindag Prov. 2015 produk minuman JICA Aloevera Laboratorium) kedepannya pelaku IKM dapat meningkatkan kualitas Pemberian materi yang Untuk memberikan berkaitan dengan pemahaman tentang Disperindagkop & UKM Disperindagkop & UKM Kota Pelatihan home packing pengemasan produk. air dan diharapkan dengan adanya 5 Kandidat IKM Aloevera Baristan dan Tim SMIDeP Produk Minuman kualitas produk (Uji pengujian tersebut Dana Tim SMIDEP JICA Apr. dan bahan kemasan yang baik. Provinsi Kalbar Provinsi Kalbar III) aspek GMP Bimbingan penerapan Melakukan bimbingan IKM menerapkan GMP 3 IKM aloevera produk Ditjen IKM Wil. GMP penerapan GMP yang pada workshopnya. I APBN Ditjen-IKM/ Dekon Okt. guna kemasan meningkatkan mutu produk Fasilitasi kepada IKM Pelayanan Klinik Design yang terkait dengan Meningkatkan kualitas Disperindagkop & UKM Disperindagkop & UKM Kota Merek Kemasan dan desain label/kemasan IKM Pengolahan Aloevera Agustus 2015 kemasan produk IKM Kota Pontianak Pontianak (APBD) HAKI maupun konsultasi tentang HAKI Meningkatkan pengetahuan IKM Aloevera mengenai Dinas Pertanian Tanaman Dinas Pertanian Tanaman Mei 2015 Sosialisasi penerapan Pelatihan penerapan GM standar proses produksi IKM Pengolahan Aloevera Pangan dan Holtikultura Pangan dan Holtikultura (Minggu ke GMP sesuai dengan aspek. dan Pengujian Kualitas Uji produk. I APBN Ditjen-IKM/ Dekon Apr. bagaimana membuat IKM Pengolahan Aloevera Mei 2015 Kota Pontianak Pontianak (APBD) label. Untuk mengetahui kualitas produk IKM. minuman yang terpilih Tim SMIDeP Dana Tim SMIDeP 2015 dilakukan oleh tenaga Lembaga sertifikasi ahli langsung di GMP/Lembaga terkait workshop IKM Penerapan dan sertifikasi Fasilitasi sertifikasi GMP Memperoleh sertifikasi 3 IKM aloevera produk Ditjen IKM Wil.-Des. Kalbar produksi produksi yang tepat guna dengan alternatif teknologi yang dapat mendukung kegiatan produksi Mentoring bisnis Mediasi antara pihak Meningkatkan pemahaman Asosiasi IKM aloevera Disperindagkop & UKM Tidak menggunakan anggaran Apr.

PIRT. Kalbar manajemen usaha. 2015 Pangan dan Holtikultura Memperluas Jaringan Fasilitasi produk secara pembuatan website Seluruh IKM (termasuk IKM Provinsi Kalbar pemasaran melalui media online untuk produk aloevera) Disperindag Prov. Kalbar APBD Disperindag Prov. pemasaran dan kemasan Aspek Kelembagaan Pembentukkan asosiasi Pembentukan dan Perkuatan akses informasi. distributor. Kalbar Jun.2015 IKM pengolahan aloevera pendampingan asosiasi komunikasi dan penguatan Kota Pontianak Kota Pontianak organisasi IKM Pelatihan tentang Fasilitasi pembuatan IKM mengerti dan sadar Seluruh IKM (termasuk IKM Disperindagkop & UKM APBD Disperindagkop & UKM 2015 perijinan perijinan untuk IKM yang tentang kewajiban perijinan aloevera) Kota Pontianak Kota Pontianak belum mendaftarkan/memiliki ijin-ijin terkait dengan kegiatan IKM. Bogor perluan. seperti. pasar sasaran baru (ke termasuk kebutuhan. Kalbar/ Prov. Perikanan Biaya ditanggung oleh IKM Jun. Kalbar sosial Sumber Daya Manusia Bimbingan Teknis Melakukan pelatihan Untuk meningkatkan 3 IKM aloevera Dinas Koperasi dan UKM APBN Dinas Koperasi & UKM 2015 Manajemen Usaha mengenai dasar-dasar pengetahuan dan Prov. meningkatkan jiwa Disperindagkop & UKM pelatihan pembuatan kewirausahaan pelaku IKM Kota Pontianak proposal . aloevera di Hotel-hotel Pontianak termasuk produk Pontianak Aloevera . temu bisnis ke pasar/ ke persyaratan dari pembeli pembeli pontensial pada paham konsep kegiatan dan APBD Disperindag Prov. persyaratan terkait atau Malang) dengan isi/ kemasan produk. dan mendapatkan masukan langsung dari konsumen/ visitor Fasilitasi kerjasama Perpanjangan kontrak Memperluas jaringan 2 IKM aloevera Dinas Pertanian./ Mar. Wilayah Jawa. Promosi produk aloevera Dartar parmeran Meningkatkan brand Seluruh IKM (termasuk IKM POKJA Masing-masing anggota POKJA 2015-2016 untuk uji konsumen/ terlampir awareness konsumen aloevera) pasar melalui pameran terhadap produk.Pemasaran/ Promosi Kunjungan langsung dan Belajar kebutuhan dan Feedback/ komen dari Kerang lebih 5 IKM yang Tim SMIDeP. Peraturan terkait dengan industri ini Dukungan Pemerintah Surat Himbauan dari Perluasan /peningkatan IKM Aloevera Disperindag Kota Tidak menggunakan anggaran 2015 Kota dalam penggunaan Walikota/Gubernur konsumsi produk lokal produk lokal di Industri tentang pengunaan terutama produk olahan Perhotelan Kota produk IKM/Lokal . 2015 pelaku IKM dengan kerjasama dengan pihak pemasaran produk olahan dan Kehutanan Pemerintah (Misalnya biaya yang perusahaan besar Garuda Indonesia aloevera Kota Pontianak dikeluarkan untuk pengiriman barang ke Kantor Garuda) Dinas Pertanian Tanaman APBD Dispertan Prov. Dana Tim SMIDeP/ Feb. IKM aloevera Disperindagkop & UKM APBD Disperindagkop & UKM 2014.Kalbar 2015 agen. mau mumuju bisnis.dll pontesial pada calon calon pasar sasaran baru.

RENCANA AKSI Pengembangan IKM Sepatu/ Alas Kaki di Kota Mojokerto (Local Industry Action Plan for Footwear Industry. Mojokerto ) Tantangan Aksi Meningkatkan kualitas produk IKM alas kaki yang mampu menembus pasar domestik guna mendukung ikon Mojokerto sebagai Kota Alas Kaki 1. dll) .20 IKM sebagai pilot project/ percontohan) Periode Desember 2014~2 tahun Kegiatan Sumber Dana Penanggung Jawab Periode Judul Isi Tujuan Sasaran (skema/ program) Bahan Baku/ Pasokan Bahan Baku Unit bisnis/lembaga Menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas dengan IKM alas kaki kota Diskoperindag Provinsi Ditjen IKM 2016 penyedia bahan baku harga bersaing bagi industri alas kaki kota Mojokerto Mojokerto (perlu konfirmasi) Ditjen IKM Proses Produksi Pendampingan oleh Identifikasi produsen lem yang akan diajak Mengidentifikasi produsen lem berkualitas baik dengan IKM yang ditunjuk APRISINDO APRISINDO Triwulan I/2015 produsen lem untuk berkolaborasi (dengan melakukan survei IKM) harga bersaing untuk memperbaiki kualitas pengeleman Produsen lem dgn BPIPI BPIPI peningkatan kualitas produk alas kaki Mojokerto kualitas baik Diskoperindag Kota pengeleman Bimbingan teknis pada pengeleman oleh teknisi/ tenaga Memperbaiki cara pengeleman untuk meningkatkan IKM yang ditunjuk APRISINDO Produsen lem Triwulan I/2015 ahli lem kualitas dengan harga bersaing pada segmen pasar yg BPIPI (perlu konfirmasi) BPIPI (perlu konfirmasi) dituju Diskoperindag Kota Melakukan uji laboratorium terhadap hasil proses Monitoring dan evaluasi daya rekat produk alas kaki IKM yang ditunjuk BPIPI BPIPI 2015~2016 pengeleman pada produk yang dihasilkan untuk menjamin peningkatan kualitas IKM yg ditunjuk IKM yg ditunjuk pengeleman Tim SMIDeP Dana Tim SMIDeP Peningkatan kualitas Sosialisasi standarisasi produk alas kaki (SNI dan ISO Pengenalan standar mutu SNI (wajib dan belum wajib) IKM alas kaki Diskoperindag Kota APBD kota Triwulan II/ 2015 produk melalui 9001) untuk produk alas kaki dan ISO 9001 (5 KUB. 5 . Kota lembaga dukungan. 30 IKM) SDPI Disperindag standarisasi produk alas Provinsi kaki Pendampingan SNI alas kaki dan ISO 9001 Penerapan SNI alas kaki/ISO 9001 di IKM yang ditunjuk IKM alas kaki yg SDPI Disperindag APBD Provinsi Semester II /2015 untuk memperoleh sertifikasi SNI alas kaki tertentu/ISO lolos verifikasi Provinsi 9001 (sistem manajemen mutu) kelayakan Diskoperindag Kota SNI/ISO 9001 Pelatihan teknologi IKM alas kaki Meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi alas kaki IKM yg ditunjuk Diskoperindag Kota APBD Kota Triwulan II/ 2015 dengan menggunakan peralatan yang lebih maju Pelatihan grading alas kaki ? IKM yg ditunjuk BPIPI BPIPI-APBN 2-13 Feb 2015 Diskoperindag Kota Pengembangan produk Pelatihan desain alas kaki Meningkatkan kemampuan dan pengembangan desain IKM yg ditunjuk Diskoperindag Kota APBD Kota 2015 produk alas kaki Pelatihan desain alas kaki . kebijakan. IKM yg ditunjuk Disperindag Provinsi APBD Provinsi 2015 barcode. dll) Sosialisasi dan Bimtek tentang 3K/3S kepada IKM alas IKM dapat menerapkan 3K/3S untuk manajemen proses IKM yg ditunjuk Tim SMIDeP Dana Tim SMIDeP Mar 2015/Apr 2015 kaki produksi yang baik dan memperbaik effisiensi produksi Diskoperindag Kota Studi banding ke sentra industri alas kaki Memperluas wawasan IKM dan dinas terkait mengenai IKM yg ditunjuk Diskoperindag Kota Dana SMIDeP 2015 pengembangan sentra alas kaki yang baik (peningkatan Diskoperindag Tim SMIDeP APBD Kota mutu. Branding kota Mojokerto sebagai Kota IKM Alas Kaki untuk memperluas pasar produk alas kaki kota Mojokerto IKM Sasaran Akan diseleksi melalui FGD (target. perluasan pasar. perbaikan sistem. Pengembangan model IKM untuk meningkatkan mutu dan daya saing produk alas kaki Mojokerto melalui praktek proses produksi yang baik serta pengembangan desain 2.3 seri Meningkatkan kemampuan dan pengembangan desain IKM yg ditunjuk BPIPI BPIPI-APBN 23 Feb-6 Mar 2015 produk alas kaki Diskoperindag Kota 9-20 Mar 2015 4-15 Mei 2015 Sosialisasi HaKI Mensosialisasi HAKI kepada IKM sehingga IKM IKM yg ditunjuk Disperindag Kota APBD Kota 2015 or 2016 mendapat perlindungan/manfaat dari pendaftaran HAKI BPIPI APBN Ditjen-IKM/ BPIPI Fasilitasi HaKI Penerapan HaKI di IKM alas kaki (registrasi merek.

Pameran Alas Kaki (Stand dr APRISINDO. Ciputra JICA SMIDeP 2015 (brosur/leaflet. Plaza Kemenperin. FB) Pembuatan facebook fanpage dan twitter untuk IKM yg ditunjuk Univ. 2015 POKJA (Diskoperidag Ditjen IKM Kota) Tim SMIDeP Ditjen IKM Tim SMIDeP Pendirian tugu sepatu/ alas kaki di Kota Mojokerto Memperkuat branding kota Mojokerto sebagai kota alas Dito POKJA APBD Kota Triwulan III 2015 kaki . dan eksportir Fasilitasi kerjasama kemitraan diantara IKM dan pihak Memperluas segmentasi pasar IKM alas kaki Mojokerto IKM yg ditunjuk Diskoperindag Kota APBD Kota 2015 swasta (siapa??) APRISINDO Promosi melalui website/ media sosial (blog. Kupang Temu bisnis antara IKM alas kaki dan calon pembeli Mempromosikan produk alas kaki Mojokerto bermutu IKM yg ditunjuk APRISINDO APBD Kota 2015 baik serta kerja sama antara IKM dengan buyer. Banjarmasin 3. Tahun??? . peta IKM yg ditunjuk Pemkot APBD Kota ??? Outlet) Alas Kaki Mojokerto (GMCC?) sentra. Perdagangan Diskoperindag Kota Temu bisnis rutin melalui Kantor Perwakilan Daerah Temu bisnis dengan mitra potensial melalui jaringan IKM yg ditunjuk Disperindag Prov. IV berikut. leaflet) kepada pembeli dan Disperindag Kota Dana Tim SMIDeP pengunjung ke sentra Mojokerto Tim SMIDeP (utk alat promosi) Branding Kota sebagai Sosialisasi Mojokerto sebagai kota alas kaki kepada Mempromosikan "Alas Kaki Kuat" Mojokerto IKM alas kaki dan POKJA APBD Kota Semester II /2015 kota alas kaki IKM dan masyarakat masyarakat terkait Launching "Alas Kaki Kuat" Kota Mojokerto ? Dito Pemkot APBD Kota Jul.Pameran Sepatu. II./ Agu. APBD Prov. Okt 2015. JCC Jakarta) APRISINDO APRISINDO . Sorong 2. katalog produk. Diskoperindag Kota supplier. brand identity. Kegiatan Sumber Dana Penanggung Jawab Periode Judul Isi Tujuan Sasaran (skema/ program) Promosi/ Pemasaran Promosi "Alas Kaki Pelatihan branding IKM ? IKM yg ditunjuk BPIPI BPIPI-APBN 4-15 Mei 2015 Kuat" Mojokerto Diskoperindag Kota Display produk alas kaki unggulan di KPD Jatim Promosi produk alas kaki unggulan yg diminati jejaring IKM yg ditunjuk Disperindag Provinsi APBD Prov. Perdagangan . Disperindag Prov.Dinas Pariwisata Materi pemasaran & promosi sepatu Membuat materi promosi sepatu "Mojokerto" IKM yg ditunjuk Univ. 2015 (Triwulan) ~2016 (KPD) dengan calon pembeli pasar KPD Bag. Jkt) - Penguatan kampung sepatu Mojokerto Pengembangan kampung sepatu Mojokerto sebagai IKM alas kaki Pemkot Mojokerto APBD Kota 2016 destinasi bisnis dan wisata Mojokerto . Juni 2015. Kulit dan Fashion (stand dr Ditjen-IKM/ BPIPI APBN Ditjen-IKM/ Dekon APRISINDO. 2015 ~ 2016 pasar KPD Bag. Ciputra Univ. katalog produk. Ciputra 2015~2016 mempromosikan produk alas kaki unggulan kota APRISINDO APRISINDO Partisipasi pada/ promosi melalui pameran/ trade Fair Promosi produk alas kaki melalui acara pameran sbg IKM yg ditunjuk Diskoperindag Kota APBD Kota Triwulan I. APBD Prov.Diskoperindag Kota . product IKM yg ditunjuk tag) Diskoperindag Kota JICA SMIDeP Pendirian Pusat Informasi/ Promosi (atau Pusat Grosir/ Memberikan layanan informasi (database IKM. APBD Kota Rencana temu bisnis 2015 (Bidang Perdagangan Diskoperindag Kota Diskoperindag Kota): 1.

14 Juni 2014 ditunjuk atau Diskoperindag Kota kandidat yang Mojokerto sesuai Peraturan terkait dengan industri ini Regulasi penggunaan Penetapan regulasi tentang pengadaan barang dan jasa Mensosialisasikan pemakaian sepatu Mojokerto di Instansi POKJA (Diskoperindag APBD Kota Semester II /2015 sepatu Mojokerto oleh pemerintah untuk penggunaan sepatu Mojokerto di lembaga pemerintahan dan sekolah sebagai media pemerintah dan Kota) Pemkot (Peraturan lingkungkan instansi pemerintahan dan sekolah kota promosi sekolah di kota Pemkot Mojokerto Walikota. sol kaki Mojokerto serta mengurangi jumlah penganguran produktif yang Disperindag Kota tidak memiliki pekerjaan Pelatihan teknologi acuan alas kaki ? IKM / pengrajin yg BPIPI BPIPI 3 .~Feb. Kemendag. Memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di IKM alas Masyarakat usia Disnaker Kota APBD Kota (Disnaker) 2015 untuk industri alas kaki seperti jahit upper. Kegiatan Sumber Dana Penanggung Jawab Periode Judul Isi Tujuan Sasaran (skema/ program) Faktor Dukungan Aspek Kelembagaan Persiapan pembentukan Mempersiapkan pembentukan Koperasi untuk Membentuk koperasi khusus pemasaran IKM yang ditunjuk Diskoperindag Kota APBD Kota Jan. observasi dan wawancara oleh pembeli dan pengunjung ke sentra Akses Keuangan/ Manajemen Usaha Optimalisasi KUB sentra Pelatihan manajemen dan kewirausahaan Memperkuat kelembagaan dan kewirausahaan KUB yang ditunjuk Diskoperindag Kota APBD Kota 2015 alas kaki Tim SMIDeP Pelatihan manajemen IKM alas kaki . KemenKop&UMKM) . Surat Edaran.2 seri ? IKM yang ditunjuk BPIPI BPIPI 6-17 Apr 2015 Diskoperindag Kota 18-29 Mei 2015 Permodalan pada IKM Bantuan modal bergulir pada IKM alas kaki Mempermudah akses permodalan dalam upaya IKM alas kaki Diskoperindag Kota APBD Kota 2015 alas kaki meningkatkan pengembangan usaha IKM alas kaki Sumber Daya Manusia Tenaga kerja terampil Pelatihan keterampilan khusus untuk industri alas kaki. Mojokerto Mojokerto dll) Surat Penetapan Penetapan Mojokerto sebagai Kota Alas Kaki oleh Mensosialisasikan kota Mojokerto sebagai kota alas Instansi POKJA (Diskoperindag APBD Kota Semester II /2015 Mojokerto sebagai Kota Walikota kaki kepada instansi pemerintahan terkait pemerintah terkait Kota) Alas Kaki Surat pemberitahuan kepada Gubernur (Jatim) dan Pemkot Mojokerto Kementerian terkait (Kemenperin. 2015?? koperasi alas kaki pemasaran produk alas kaki Mojokerto Melengkapi database Mengumpulkan data IKM alas kaki melalui berbagai Menbuat database IKM alas kaki yang bisa diakseskan IKM alas kaki Diskoperindag Kota APBD Kota Des-Jan 2014 IKM metode FGD.

Pangururan. Member List of KSU HARUNGGUAN (Cooperative) for Ulos Fashion Products Head of Cooperative Ms. Merry Suryani Tel: 0821-6881-8288 Address of Cooperative Jl. Kec. Lektol Sugiopranoto.Situngkir Situngkir M Penjahit 25 Krimson Malau Pangururan M Penjahit 26 Resti Sidebang Pangururan F Penjahit 27 Murni Sitinjak Pangururan F Penjahit 28 Sariani Hasugian Parbaba F Penjahit 29 Martha Simalango Pangururan F TPL 30 Putri Tamba Pangururan F TPL 31 Deliana Malau Pangururan F Penjahit 32 Lampita Sinaga Situngkir F Penjahit 33 Olga Silalahi Secretariat Situngkir F Staf Diskoperindag 34 Anna Sitanggang Secretariat Parbaba F Honor Diskoperindag . Kab. Desa Pardomuan 1. Samosir The exsiting members from the former Joint-Business Group (KUB) No Name Position Address Sex Job 1 Yuti Pasaribu Simbolon F TPL 2 Palipi Naibaho Huta Namora M Penjahit 3 Mangabing Simbolon Huta Namora M Penjahit 4 Melwandi Manullang Huta Namora M Penjahit 5 Wiwi Simbolon Pangururan F Penjahit 6 Jalebar Sitanggang Pangururan M Honor Diskoperindag 7 Rosalin Manullang Pintu Sona F Penjahit 8 Rumania Malau Pangururan F Penjahit 9 Merry Suryani Kepala (head) Pangururan F Pengusaha 10 Lince Veronika Pangururan F Konsultan 0821-6834-5798 11 Winda Simbolon Pangururan F Penjahit 12 Lawessani Limbong Pangururan F Pengrajin 13 Benget Sianturi Lumban Suhisuhi M Penjahit 14 Frenky Sihombing Lumban Suhisuhi M Pengrajin 15 Wantimer Simbolon Lumban Suhisuhi F Pengrajin tenun 16 Dewi Sagala Lumban Suhisuhi F Pengrajin tenun 17 Hotmaida Silalahi Pangururan F Pengrajin 18 Denny Simbolon Pangururan F Pengrajin 19 Fransiska Tamba Pangururan F Penjahit 20 Surya Nengsi (Jovito) Pangururan F Penjahit Newly joined members after Cooperative (KSU) No Name Position Address Sex Job 21 Supriadi Sihombing Parbaba M Penjahit 22 Julina Sitinjak Pangururan F Penjahit 23 Junita Sibarani Pangururan F Penjahit 24 H.

000 720.000 Kipas Pompa PC 5 After Market Industri Galangan Kapal 7 Karya Manunggal 65.000 AS Pompa PC As Pompa STA 5 After Market Pully 16 Logam Cor 95.000 300.000 900.000 360.000 912.000 Jendela kapal Kotak 6 After Market Jendela kapal Bulat Industri Galangan Kapal Tempat Lampu 23 Ali Langgen 100.000 240.000 Baling Baling Kapal 5 After Market Pompa Keong PC .000 780.020.000 240.000 Stir Kapal 5 After Market 9 Anugrah Teknik 65.000 1.000 Jendela kapal 5 After Market Handel Pintu Industri Galangan Kapal Tempat Lamu Bushing Koker 25 Haira 95.000 1.000 Baling Baling kapal 5 After Market Pelendes 28 Husni 50.000 720.000 Baut Kupu kupu 5 After Market Handel Pintu Anoda Zink 4 Karya Utama Logam 100.000 Kopel Mesin kapal 8 After Market Pully 14 Langgan Menatari Jaya 150.000 480. Daftar IKM Komponen Kapal Kabupaten Tegal (List of the initial target SMIs for Ship-part Industry ) No Nama Perusahaan Nama Pemilik Investasi Nilai Produksi Produk Tenaga Kerja Pasar (Rp.000 300.000) (Rp.000 Dudukan Stir kapal 8 After Market Puller Kerekan 11 Bintang Rejeki 70.000 180.000 180.000 540.000 Baut Kupu Kupu 7 After Market Nepel 5 Iqro Logam 100.000 840.000 1.000 Pompa Keong STA 6 After Market Pompa keong PC 17 Incor 85.000 Baling baling Kapal 4 After Market Kili kili 29 Putra Eka Jaya 50.020.000 600.000 Jendela Kapal Bulat 7 After Market Jendela Kapal Kotak Industri Galangan Kapal 24 Lulu Putra Mandiri 45.140.000 as Pompa PC 7 After Market Bushing Koker Industri Galangan Kapal Baling baling kapal 18 H.000 Baling baling Kapal 5 After Market Bushing Koker Baut kupu kupu 10 Putra Teknik 100.000 540.000 240.000 Pompa Keong PC 5 After Market Pompa Keong STA Jangkar Kapak 12 Risna Jaya 100.000 Jendela kapal 6 After Market Pelendes Industri Galangan Kapal Dudukan Lampu Kapal 26 Logam Bahari 50.000) 1 Setia Kawan 100.000 Baling baling kapal 6 After Market Kili kili Baut kupu kupu 6 Rojiki 50.000 540.000 Pompa Keong 80 8 After Market Pompa Keong STA 3000 3 Utama Rajin Teknik 75.000 780.000 Jendela kapal 6 After Market Bushing Koker Industri Galangan Kapal Tambatan 22 Nadin 90.000 Jendela Kotak 10 After Market Jendela Bulat Industri Galangan Kapal Jendela Mati Jendela Hidup Pintu Kedap Air Handel Pintu Soket 2 Rizky Saputra 100.000 420.000 Baling baling kapal 5 After Market Kili kili Industri Galangan Kapal 27 Utama Jaya 50.000 as Pompa PC 7 After Market Bushing Koker Industri Galangan Kapal As Kapal Pompa 20 Hasil Karya Putra 100.000 1.000 Pompa Keong PC 8 After Market Pompa keong STA 15 Rizky Baru 70.080.Ony 20.000 Jendela Kapal Bulat 5 After Market Jendela Kapal Kotak 8 Karya Mulya 30.000 240.000 300.000 240.000 Pompa Keong PC 6 After Market Baling Baling Kapal Industri Galangan Kapal Pancing 19 Kamali 30.000 Jendela kapal 6 After Market Handel Pintu Industri Galangan Kapal Tempat lampu 21 Sani 100.

Penjualan langsung Pemilik cokelat praline n/a n/a 10 Choco-Pal Choco-Pal Kota Palu 2013 1 ○ ○ 1. 1. Toko oleh oleh "Sri Rejeki" 3. Swissbell Hotel (café) *sdh tdk lagi 13. Pameran Tenaga kerja tetap 1 dan brownies. Penjualan langsung rp. 7. cokelat candy. SMK rp. minuman cokelat jahe. Toko Oleh Oleh "Sofie" 11. Toko Oleh Oleh "Rhema" rp. cokelat praline. Pameran 5. Toko oleh oleh "Salhan" kebutuhan dan pemilik 3. 600 rb lolypop 2. Outlet Banua Cokelat n/a 11 Kaili Cokelat Kaili Cokelat Kota Palu 2014 n/a n/a 12 Merpati Cokelat Merpati Cokelat Kota Palu 2014 . SD. Toko Oleh Oleh "Sri Rejeki" 7. Toko Oleh Oleh " Sumber Rezeki " 1 Sa'adah Banua Cokelat Kota Palu 2010 4 7. Swalayan "Galeri Sigi" 5 Sakulati Cokelat Sakulati Cokelat Kab. cokelat edible 2. cokelat praline. cokelat crispy. 1 praline. Kios/ Kedai (4) rp. cokelat praline. SMP penjualan roti ) Rumah roti dan kue 8 Mangun Cokelat Kota Palu 2013 1 sesuai kebutuhan dan kering 3. 1. Toko Oleh Oleh "Diverso" 9 Chocolate craft Chocolate craft Kota Palu 2013 1 3. 4 juta 6 Wanita Mandiri Aisyah Cokelat Kota Palu 2012 2 pemilik 2. cokelat bar. Penjualan Langsung rp. Kios Pemilik brownies. Toko oleh oleh "Raja Bawang" 5. Toko oleh oleh "Diana" 4. 2. cokelat praline. 2.Pameran rp. cokelat candy 1. Sumber Rejeki 9 Pameran 1 orang dipanggil sesuai selai cokelat.6 juta orang dipanggil sesuai 2. cokelat praline. Penjualan Langsung rp.1 juta kebutuhan dan pemilik cokelat lolypop. 1. 2. Toko oleh oleh "Garuda Jaya" 4. Toko Oleh Oleh "Diverso" 9. Pameran Pemilik (memakai tenaga Roti cokelat.Daftar Anggota APECC (Member list of Association for Chocolate Producers ) Thn mulai Penjualan per Bulan No Nama Usaha Merek Produk Pemilik Alamat Tenaga Kerja Jenis Produk Olahan Tempat Penjualan PIRT Halal usaha ( Rata Rata ) Tenaga kerja tetap 2. Penjualan langsung ○ ○ marbel. Toko oleh oleh "Mbok Sri" 6. puding cokelat. kue 2. Pameran Tenaga kerja tetap 2 dan cokelat bar. TK ○ ○ 3. Jualan di pantai *sdh tidak lagi 14 Pameran Tenaga kerja tetap 2. SD rp. Sigi 2012 2 cokelat 4. cokelat praline. cokelat bar 1. 1. cokelat marbel. cokelat bar. 1. Toko Oleh Oleh "Sri Rejeki" 7. Koperasi 5. cokelat kurma 3. Penjulan langsung 7. Toko Oleh Oleh "Sibayak" Balikpapan 4. 1. Toko Oleh Oleh "Salhan" 4 Moon's Chocolate Moon's Chocolate Kota Palu 2012 2 ○ ○ 3. Toko Oleh Oleh "Diverso" ○ ○ 6. Penjualan langsung Pemilik brownies. Toko Oleh Oleh "Sibayak" Balikpapan 8. Toko Oleh Oleh "Rhema" 2 Rapoviaka Simple Rapoviaka Simple Kota Palu 2010 4 ○ ○ 5. 5. Toko Oleh Oleh "Sibayak" Balikpapan 8.4 juta 7 Al Ikhsan Cokelat Halwa Kota Palu 2013 1 cokelat lolypop. brownies 2. cokelat bar. Swalayan (Gorontalo) ○ ○ Mangunsarkoro tenaga dari Sa'adah) 4.2 juta pemilik dan suaminya cokelat paket dll. 1.9 juta ( diluar kerja pada usaha roti cokelat lolypop. Toko oleh oleh "Salhan" 3. 1. 1. Toko Oleh Oleh " Salhan " ○ ○ 8. cokelat bar. Toko Oleh Oleh "Raja Bawang" ○ ○ 5. cokelat candy. Toko Oleh Oleh " Zahra" 10. kukiw cokelat. Toko Oleh Oleh "Rhema" 6. cokelat bar. Toko Oleh Oleh "Rhema" 3 Maryam's Family Tadulako Cokelat Kota Palu 2012 3 5. Outlet milik sendiri rp. Toko oleh oleh "Diana" 4. Pameran Tenaga kerja tetap 1 dan lolypop. cokelat sagu. SD (1) cokelat kurma. minuman 3. Toko Oleh Oleh "CLP" 12. semprong cokelat. 2 juta pemilik cokelat kurma. cokelat praline. 1. Toko Oleh Oleh "Diverso" 6.8 juta pemilik cokelat lolypop. cokelat 2. Sekolah ○ ○ 4.

 tutup saji.000) 1 orang Penurunan penjualan. 1 orang kursi@Rp 1. Tanah Toraja. Bulan biasa: 5‐10 jt/ bln Tora Tora tidak tetap kecuali orderan natal tahun ini menurun. Palu. kursi santai. kursi santai. 9 orang tenaga kerja tetap termasuk pemilik Natal 2013: 135 jt (30 set@4. Pantai Timur Jaya 5 1973 kursi meja teras. kursi meja makan. tutup saji tenaga kerja tetap kursi meja tamu. dll Lebaran: 60 jt terlibat dalam proses produksi) (menurut IKM). kursi meja makan.  Tanah Pribadi. Palu. tetap berproduksi sehingga ada tumpukan stok 085341367728 Pantai Timur Jaya Layana Indah Lebaran: 50 jt piring. Manado. disebabkan tingkat Indra Jaya kursi meja tamu. tutup saji. Bulan biasa: 5‐10 jt/ bln Palu dan Sumber Rotan Pantai Timur Jaya 4 2005 kursi meja teras. sketsel. kursi meja makan. kursi santai 2014 tenaga kerja selain pemilik Lebaran: 60 jt (50 set) aktifitas di luar kota) bekerja di sentra ujuna) Penjualan khususnya produk rotan cukup kursi meja makan. kursi meja makan. kursi meja makan. Bulan biasa : Rp 5 juta/ bln (2 ‐ 5 Pribadi. Instansi Pemda 3 Bamba Rotan 2007 (diri Panggil tenaga jika ada orderan Palu.. 6 orang tenaga kerja tetap termasuk pemilik Parigi.000. sketsel. disebabkan tingkat kursi meja tamu. Bulan biasa : Rp 6 juta / bulan (5 set kursi meja tamu. Dinas. tenaga kerja CV. (diri Panggil tenaga jika ada orderan Lebaran : Rp 37.000 ‐ 1. 4 Palunesia 2007 kursi meja teras. tutup saji. dll Makassar Pendidikan/ Kebudayaan Kota) yang siap untuk finishing. kursi meja tamu. cafe Penjualan tahun 2014 sangat meningkat. Daftar Produsen Meubel Rotan di Kota Palu (Non‐target Producers ) Tahun Sumber Bahan No Nama IKM Pemimpin Jenis Produk Jumlah Tenaga Kerja Penjualan Asal Pembeli Kelompok Pembali Keterangan TELEPON / HP Berdiri Baku kursi meja tamu. kursi santai. Instansi/ lembaga ( meningkat (pemilik memiliki usaha mebel kayu PT Verko 7 Meubel Rizki 1990 5 orang tenaga kerja tetap termasuk pemilik 085241398029 kursi meja teras. Pribadi. kursi santai. sketsel.000 ‐ 1. Palopo kesibukan pemilik sangat tinggi (pemilik memiliki085241224660 Pantai Timur Jaya kursi meja teras.000). 3 orang Palu dan sekitarnya Pribadi 085394353549 Pantai Timur Jaya Lebaran: 20 jt piring. Instansi Pemda Penjualan tahun 2014 menurun. 4 orang Poso. dll Lebaran: 180 jt (40 set@4. dll tenaga kerja tetap kursi meja tamu. Bulan biasa: 2‐5 jt/ bln 1 Kaili Jaya 1979 kursi meja teras. kursi santai. (namun sekarang bulan desember Bulan biasa: 12 jt/ bln 6 2008 4 orang Palu dan sekitarnya Pribadi kesibukan pemilik sangat tinggi (memiliki 082193778583 Rotan kursi meja teras.200. kursi meja makan. meubel kayu Lebaran: 30 jt Mamuju PIRNAS) juga). Subur Rotan Bulan biasa: 20 jt/ bln 2 1986 kursi meja teras. Morowali.5 jt) sekitarnya.000) Penurunan penjualan. Hotel. 081245186613 Tohti ?@Tawaeli piring. tutup saji. sketsel.000 dan 7 set kursi@Rp profesi sebagai guru) 4. Poso. disebabkan tingkat Istana Seni Palu dan sekitarnya. Instansi / lembaga ( 2 2005 kursi meja teras. kursi santai. kursi meja makan. tutup saji. .000 (8 set kesibukan pemilik sangat tinggi (pemilik memiliki081354561140 Pantai Timur Jaya Rupa Makassar PIRNAS) piring. (Perkebunan Prov.5 jt) Toraja 4 orang tenaga kerja tetap. kursi meja tamu. kursi santai. dll sendiri) kursi@1. kursi meja makan. dll Ampana.Daftar Produsen Meubel Rotan di Kota Palu (Target Producers for Rattan Furniture Industry ) Tahun Penjualan 2014 Sumber Bahan No Nama IKM Pemimpin Jenis Produk Jumlah Tenaga Kerja Asal Pembeli Kelompok Pembeli Perubahan yang terjadi Telepon Berdiri (Natal 2013. (Pariwisata). Bone Bulan biasa: 5 jt/ bln 1 2004 kursi meja teras. Toli Toli. kursi meja makan. tutup saji. dll tenaga kerja tetap kursi meja tamu.200.500. Bandara sendiri) kesibukan sebagai staff di PIRNAS) kursi meja tamu. disebabkan keaktifan IKM dalam UD Fajar Baru mengikuti pameran lokal. sketsel. Morowali kurungan ayam. Pribadi. 12 orang Palu dan sekitarnya Pribadi 082195991003 Pantai Timur Jaya 1&2 Lebaran: 200 jt (100 set) piring. meubel 5 Eka Bintang 2 1987 2 orang 5‐6 jt/ bln Palu dan sekitarnya Pribadi UD Fajar Baru (jika ada orderan) tenaga kerja tetap Bina 6 2000 Kerajinan Parsel Buah 5 orang tenaga kerja tidak tetap 400 rb/ bln Palu Pribadi 085241051848 Sampesuvu . kursi santai set@Rp 1.200.500. Bulan biasa: 10 jt/ bln Palu. tenaga kerja tetap termasuk pemilik Penurunan penjualan. sketsel.600. sketsel. sketsel. kursi meja makan. 2 orang Palu dan sekitarnya Pribadi 085241182018 Pantai Timur Jaya Rotan Lebaran: 15 jt piring. tutup saji. Irma Jaya Bulan biasa: 2‐5 jt/ bln 3 1981 kursi meja teras. ayunan bayi. 6 orang Penjualan tahun 2014 dalam kondisi stabil. Pribadi 081354582708 Pantai Timur Jaya piring. kursi santai. Lebaran 2014) Baku kursi meja tamu. Pribadi. 10 orang Natal 2013: 40 jt Palu dan sekitarnya Pribadi 082187696831 Rotan (tidak termasuk pemilik/ pemilik tidak kemungkinan disebabkan oleh kenaikan BBM CV Budi Mulia piring.

Tahun Penjualan 2014 Sumber Bahan No Nama IKM Pemimpin Jenis Produk Jumlah Tenaga Kerja Asal Pembeli Kelompok Pembeli Perubahan yang terjadi Telepon Berdiri (Natal 2013. . lampu. kursi meja tamu. 081341216787 20 Rotan Baiya Sekarang tidak ada produksi/ tenaga kerja. 17 Eka Bintang 2 Sekarang tinggal meubel kayu. kursi meja makan. IKM 14 Bunga Talise memiliki bekerja bersama dgn IKM Bamba 085241362147 Rattan. Hasta Roviega Produksi kurang aktif. Poso Pribadi (penjual buah) 081354529344 Fatikh 13 Taipa Rotan 1 2013 kursi meja tamu. 12 Astri Lauro 2006 1 orang kurang aktif melakukan produksi di tempat 081341460513 kursi meja teras. pelaku IKM memiliki 15 2010 kursi meja tamu.5 jt/ bln Palu. 085341299177 UPT Batik & 18 Sekarang fokus pada industri batik. Kursi meja Teras 1 orang 081944593568 Rotan pekarjaan lain. kursi santai sendiri. Meubel Rotan Produksi belum rutin dilakukan. Sudah tutup. tudung saji. produksi kurang aktif (perlu 11 2009 085298730704 Very konfirmasi). 9 Prima Rotan 2004 1 orang 300 rb / bln Palu Pribadi Guru SMK 5 085241355223 Pantai Timur Jaya dll) Meubel Rotan 10 Keranjang Buah 1 orang 1. Lebaran 2014) Baku 8 Kriya Rotan 2008 tempat sampah dan piring rotan 1 orang 085228923263 Kerajinan (piring. Sekarang menjadi tenaga di IKM Palunesia. 081354276658 Rotan 19 Kopinkra Untuk sementara belum menjual produk. kursi meja teras 4 orang Meubel Rotan Untuk sementara. Pelaku IKM bekerja pada IKM lain 16 Taipa Rotan 2 sebagai tenaga kerja. Produksi di tempat sendiri kurang aktif. hasil produksi 21 2012 kerajinan 1 orang 081341442000 Jagat juga belum dapat dipasarkan.

Kerupuk Terminal Agrobisnis. Tea. Halal 0561-73-9189 Minuman. Familymart. Halal. Sabun Malaysia (sabun) 3 Kemuning PIRT. Citraniaga. Palembang. Mitramart. Citraniaga. Halal. Surabaya. MM Alamin. Kantoran (café lga bakar) kerja 7 Rotiku Hidup Haki. Mitra-anda Jakarta (Smesco). PIRT. Mitraanda 15 Jetskin PIRT. Hotels. Manisan. Stik tulang ikan. Jakarta. Lego. Sungai Duri 14 Amplang PIRT. Hulu Jogjyakarta 4-tetap . Mitramart. Mitra Lestari. Le Gita 6 60 kg Cake 4 Nusa Indah PIRT. Anjungan. Haki 0812-5763-6555 Kopi Aloevera Kafe Jirey Bali. PSP. Mitra-anda Jakarta 8 1 ton Aloe Vera 6 Mavera PIRT. Citra Santan. HM. Hypermart Carefour.Daftar IKM Pengolahan Aloevera Pontianak (List of the initial target SMIs for Aloe Processing Industry ) Pasar Tenaga No Nama Merek Alamat Pemilik Izin Usaha No. Semarang 7 1~2 ton 0813-4592-5189 Kerupuk. Sabar Subur. Kuching. Kuala Lumpur 15-kontrak 1600 botol/produksi Elqeuu/ Sandra tj. Nasi. Saricha Cake.5 ton Freshmarket. Mitramart. PSP. Surabaya 3 tenaga 2~2. Semarang 7 30~40 kg Sehat Kaisar 2 I Sun Vera Haki. Minuman PSP. Kingmart. Cokelat. Ahui 2 60 dos Rasa 18 My Beauty PIRT 0852-5221-0990 Cokelat Hypermart. Cokelat. Mega Mitra. Kaisar 7 30 kg 20 Kaliovera PIRT 0812-560-1679 Minuman Gajahmada. Manisan. Sisinga Maharaja. Ditributors. Halal 0813-4505-5219 Minuman. Halal 0813-5208-2882 Dodol. Salon Jakarta. Mitra-anda. Asoka 9 Kimken PIRT. Mempawa. Halal 0852-4594-2178 Manisan Minimarket Kota Madya. PSP. Indah Selera. Purnamamart. Happymart. Koperasi 3 50 kg Alas Kusuma. Halal 0813-4543-1775 Dodol PSP. IMB? 0852-5233-5812 Minuman PSP Jakarta 30 500 dus 13 Artika Vera PIRT. Pilus. Kapuas Darma. Freshmart. Sangat Manis. Minimarket Serasan. Sintang. PSP. Resto. Halal Minuman Pontianak. Tea. Le gita Cake. Sungai Penyu. Mamamart. Mitramart. Jakarta 2 10 kg Juwara 11 Tripple PIRT. Cita Rasa. Kini. Rindu Alam. Jutali. 3 10 kg Pontianak Merpati). Carefour. Kab. Hypermart. Bakso. Gajahmada. Sintang 2 30 kg: batangan Balas Tara. Incubator BI Jakarta. Banks. B-Pom 0852-49-6472 Amplang Perhotelan (Orchad. Kab. 7 30~50 kg Toko buah. Minuman. Ketapang 4 50 dos 10 Kope Aloevera PIRT. Layak 0852-5046-3078 Dodol. Lottemart Singapura (minuman). Halal. Stick. Dodol 8 Saviera PIRT. Halal 0561-88-4056 Manisan PSP 21 75~80 kg 5 Mitra Sumber PIRT.000 dus Tea Superindo 16 Ulira Food PIRT 0852-4964-7298 Rempeyek. Sangai Jawi.Telepon Jenis Produk Produksi (harian) Lokal Domestik Mancanegara Kerja 1 Barokah PIRT. Jelly. Tea. Mitra-anda. Cokelat. Legita Cake. Manisan. Bunda Rasa Cake 21 O-Degree PIRT 0812-572-1721 Kosmetik Apotik Sungai Landak. Korea (lwt online). 35 2 ton Jelly. Halal 0852-2244-7355 Minuman Minimarket Garuda. Hotel Santika 30 kg: kiloan 19 Hidayah PIRT 0812-5671-7776 Dodol PSP. Harum Manis. Halal 0812-5675-0677 Minuman PSP. CS. Halal 0812-560-7554 Manisan. Happymart. Harum 2 40 dus Manis. Brunei (tea/sabun). Sengti 2 16 kg Stik keju 17 Aloevera Segar PIRT. Halal 0852-4724-2980 Minuman Toko 56. Kota Baru. PIRT. Kerupuk. Mitramart. PSP. Mempawah. 15 1. Harum Manis. Amplang Pelai.

Alimda Sepatu/ Sandal 0321325268 √ Satria Maja √ 20 Model Product 17 UD. Nama Alamat Produk Kontak Tel KUB Keterangan Domestik Ekspor Ada Tidak Pengrajin Kelurahan Miji 1 UD. Cipta Karya Sepatu/ Sandal Kulit 08123156085 √ √ 22 Kurang motivasi 2 Victor Sepatu/ Slop 081335715023 √ √ 25 Kurang motivasi 3 Nurah Sepatu 0321391388 √ √ 6 Perlu diobservasi 4 Vandiaz Sepatu/ Sandal 085648877718 √ √ 20 Model Product 5 UD. Priti Sepatu wanita 0321 391918 √ √ 32 Model Product/ Pendampingan SNI (BSN/ PUPUK) Kelurahan Prajuritkulon 22 Dani Irawan Sandal 0321390384 √ Java Dwipa √ 12 Model Product 23 Makruf Sandal 087856528999 √ √ 12 Perlu diobservasi 24 Jaya Mulya Sepatu Kulit 0321390731 √ √ 6 SNI Coaching (SDPI) 25 Fadil Jaya Abadi Sandal 081330512390 √ √ 6 Perlu diobservasi 26 D & R Sepatu 0817584125 √ √ 8 Model Product 27 Indra Jaya Sepatu/ Sandal 082140010090 √ √ 12 Pendampingan SNI (BSN/ PUPUK) 28 Putra Jaya Sandal 08133001600 √ √ 15 Perlu diobservasi Kelurahan Blooto 29 Puspa Utama Sepatu/ Sandal √ √ 8 Perlu diobservasi 30 TBG Sepatu/ Sandal 085648834674 √ Java Dwipa √ 4 Model Product 31 Magersari Safety Shoes √ √ SNI Coaching (SDPI) . Mitra Kerja Sepatu Sport Anak 082234982877 √ √ 30 Pendampingan SNI (BSN/ PUPUK) 20 Handeye Sepatu/ Sandal 03217220630 √ Java Dwipa √ 7 Model Product 21 UD. Perdana Sepatu/ Slop 0321395826 √ √ 8 Perlu diobservasi 6 Abbro Sepatu/ Slop 321323493 √ √ 6 Perlu diobservasi 7 Zanlo Sepatu/ Slop 08542635858 √ Satria Maja √ 12 Model Product 8 Sandal Zainul Sandal 0321320722 √ √ 7 Perlu diobservasi 9 Shandy Suryawijaya Sepatu/ Sandal Imitasi 081330352879 √ √ 60 Kurang motivasi 10 Wenders Sepatu/ Sandal Wanita 0321395887 √ √ 10 Model Product 11 Wardhana Sepatu Boot 0321325446 √ Kompak √ 25 Model Product. Orlando Jaya Safety Shoes 0321390968 √ Satria Maja √ 5 SNI Coaching (SDPI) 18 The Hero Sepatu Kulit 085732924550 √ √ 6 Model Product 19 UD. SOP Coaching (SDPI) Kelurahan Surodinawan 12 Alas Kaki Sai'Un Sepatu 085645590596 √ √ 22 Perlu diobservasi 13 Al Atthyah Sandal 081235726636 √ Satria Maja √ 15 Pendampingan SNI (BSN/ PUPUK) 14 Karya Abadi Sepatu/ Sandal 085649153007 √ Java Dwipa √ 20 Model Product.Data IKM Alas Kaki Sasaran di Kota Mojokerto (List of the initial target SMIs for Footwear Industry ) Pasar Legalitas Usaha Jumlah No. SOP Coaching (SDPI) 15 Fandy Anger Prayugo Sandal/ Sepatu 0857497780 √ √ 14 Perlu diobservasi 16 UD.

Lampiran-8: Rincian output/ pencapaian fasilitasi Rencana Aksi Industri Lokal oleh wilayah/ industri sasaran .

Industri komponen kapal .Telah mengadakan 14 rapat POKJA termasuk evaluasi terminal dan juga menghadiri pertemuan periodik oleh produsen sasaran dimana anggota POKJA/ fasilitator meninjau kemajuan aksi yang dilakukan oleh produsen. namun kini telah diadakan secara sukarela pada bulan-bulan terakhir. perencanaan Rencana Aksi awal. termasuk.Telah mengadakan 6 rapat POKJA dengan tujuan diagnosis industri.pada pengembangan pasar: 6 kali . Industri pengolahan kakao .pada manajemen bisnis/ akses keuangan: 2 kali . POKJA menyiapkan agenda/ materi untuk rapat-rapat sukarela ini. Kegiatan/ layanan dukungan (berjumlah 183) yang telah difasilitasi sejauh ini oleh setiap POKJA di industri sasaran (pada saat pelaporan). PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 Pencapaian dari Output Output-2: Pengoperasian platform bagi pengembangan industri lokal = Memperkuat daya saing IKM sasaran dengan penyediaan layanan yang efisien.Telah mengadakan 17 rapat POKJA termasuk evaluasi terminal. .pada bahan mentah/ peralatan: 12 kali . dimana sebagian besar diadakan berdasarkan fasilitasi Tim Ahli sebelumnya. Pertemuan ke-empat dan selanjutnya telah diadakan secara sukarela. dan review perkembangan/ kemajuan Rencana Aksi.pada manajemen bisnis/ akses keuangan: 2 kali 1 . Industri pengolahan aloevera . Jumlah kegiatan/ layanan dukungan yang difasilitasi oleh setiap POKJA di industri sasaran Industri Jumlah kegiatan dukungan yang telah diberikan Industri fesyen ulos Jumlah: 43 kali.Telah mengadakan 8 rapat POKJA termasuk evaluasi terminal.pada pengembangan infrastruktur/ kelembagaan industri: 1 kali Industri komponen kapal Jumlah: 21 kali. 2-1 Jumlah Pertemuan POKJA yang Telah Dilaksanakan Jumlah pertemuan POKJA yang dilaksanakan oleh setiap industri sasaran Industri Jumlah pertemuan yang dilaksanakan dan penjelasan Industri fesyen ulos . Pertemuan POKJA telah diadakan secara sukarela pada bulan-bulan terakhir. Industri mebel rotan . dan review perkembangan/ kemajuan Rencana Aksi. termasuk FGD dengan industri sasaran.pada produksi/ peningkatan teknis: 11 kali . termasuk FGD dengan industri sasaran.Telah mengadakan 6 rapat POKJA dengan tujuan diagnosis industri. persiapan kegiatan dukungan penting. Perkumpulan kecil ini telah dilakukan secara sukarela dalam rangka berbagi kemajuan/ isu mengenai implementasi Rencana Aksi. Industri alas kaki .Telah mengadakan 13 rapat POKJA termasuk evaluasi terminal dan beberapa perkumpulan kecil diantara anggota kunci POKJA. dan mendengar kebutuhan/ permintaan untuk dukungan tambahan.pada produksi/ peningkatan teknis: 16 kali .pada bahan mentah/ peralatan: 1 kali . persiapan kegiatan dukungan penting. perencanaan Rencana Aksi awal.pada pengembangan pasar: 12 kali . termasuk: . 2-2 Jumlah kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi diantara dukungan/ layanan yang diajukan pada Rencana Aksi.

Pengadaan peralatan (alat tenun/ mesin jahit/ bahan mentah) (12 kali) .Pelatihan/ bimbingan teknis peningkatan mutu kain/ keterampilan pembuatan motif (2 kali) . PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 .pada pengembangan infrastruktur/ kelembagaan industri: 2 kali Tabel dibawah meringkas kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi oleh setiap POKJA pada industri sasaran. Kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi: Jawa Tengah .pada manajemen bisnis/ akses keuangan: 0 kali .Bimbingan teknis mengenai praktik produksi yang baik/ peningkatan kualitas workshop Industri melalui pengenalan 3S (fase percobaan dan perpanjangan) Komponen . termasuk.pada bahan mentah/ peralatan: 0 kali . dan aksi yang telah dilakukan oleh IKM sasaran (pada saat pelaporan).pada pengembangan pasar: 19 kali . Ringkasan kegiatan/ layanan dukungan yang difasilitasi dan aksi yang dilakukan oleh IKM sasaran Wilayah/ Kegiatan/ Layanan Dukungan Industri Aksi yang dilakukan IKM sasaran Samosir.pada bahan mentah/ peralatan: 0 kali .Bimbingan teknis dan dukungan terkait untuk sertifikasi komponen kapal oleh BKI.pada pengembangan infrastruktur/ kelembagaan industri: 1 kali Industri alas kaki Jumlah: 22 kali. 2 . termasuk. .pada produksi/ peningkatan teknis: 8 kali . termasuk. termasuk.pada pengembangan pasar: 5 kali .pada produksi/ peningkatan teknis: 13 kali . .pada produksi/ peningkatan teknis: 12 kali .Magang untuk penenun ATBM yang sudah mahir dan pelatihan pengoperasian ATBM (3 kali) .pada pengembangan pasar: 24 kali .Kunjungan pasar ke pembeli potensial/ saluran penjualan (pasar lokal/ turis) Tegal.pada manajemen bisnis/ akses keuangan: 3 kali .Promosi melalui acara/ pameran (11 kali) .Pengembangan/ diversifikasi produk kerajinan tangan Ulos . Kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi: Sumatera .Pendirian kelompok usaha bersama dan kemudian koperasi produsen . .pada pengembangan infrastruktur/ kelembagaan industri: 1 kali Industri mebel rotan Jumlah: 29 kali.pada pengembangan pasar: 18 kali .pada produksi/ peningkatan teknis: 6 kali .Pelatihan desain dan pengembangan keterampilan untuk kerajinan tangan/ baju yang Fesyen Ulos menggunakan Ulos (5 kali) .pada bahan mentah/ peralatan: 0 kali .pada pengembangan infrastruktur/ kelembagaan industri: 1 kali Industri pengolahan kakao Jumlah: 43 kali. .Pelatihan kewirausahaan/ manajemen keuangan KUB (2 kali) .pada bahan mentah/ peralatan: 3 kali .Pengembangan alat promosi dan branding .Pelatihan/ bimbingan teknis pengembangan/ diversifikasi produk kerajinan tangan Utara (menggunakan Ulos) (4 kali) Industri .Fasilitasi/ bimbingan teknis pendirian koperasi kepada para produsen Aksi yang dilakukan IKM sasaran: .pada manajemen bisnis/ akses keuangan: 2 kali Industri pengolahan aloevera Jumlah: 25 kali.pada manajemen bisnis/ akses keuangan: 2 kali .

Persiapan katalog produk .Pelatihan kewirausahaan (2 kali) Aksi yang dilakukan IKM sasaran: .Pertemuan bisnis dengan politeknik 3 .Seminar mengenai jasa keuangan oleh lembaga non-bank lokal .Pembuatan prototipe.Iklan billboard/ PR melalui televisi lokal (2 kali) .Studi banding/ pemasaran ke BKI/ industri pembuatan kapal di Jakarta .Uji pasar/ promosi melalui acara/ pameran (16 kali) .Promosi melalui acara/ pameran (12 kali) .Pengembangan/ diversifikasi produk cokelat/ berbahan kakao .Pengadaan peralatan/ mesin (3 kali) .Temu bisnis dengan pemilik galangan kapal di Tegal .Studi komparatif pada industri cokelat Industri .Kunjungan pasar ke pembeli/ pengguna potensial di pasar modern lokal.Pelatihan mengenai manajemen keuangan (pembukuan/ manajemen arus kas) Aksi yang dilakukan IKM sasaran: .Bimbingan teknis mengenai kemasan produk .Survei pasar modern lokal di Palu/ seminar survei pasar untuk mebel rotan .PR melalui radio lokal/ pemasangan instrumen PR (2 kali) .Pelatihan kewirausahaan (2 kali) Aksi yang dilakukan IKM sasaran: . * Pelatihan dokumentasi proses produksi * Lokakarya mengenai persiapan gambar untuk komponen sasaran * Bimbingan teknis mengenai prototipe/ dokumentasi proses produksi untuk komponen sasaran * Uji mutu/ performa dari komponen prototipe * Penelitian pada standarisasi bahan pengecoran berbahan scrap .Pengenalan 3S di workshop .Pendirian toko cokelat milik asosiasi (di bandara lokal) Industri Mebel Kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi: Rotan .Temu bisnis dengan otlet retail nasional/ industri perhotelan lokal (3 kali) .Seminar bimbingan mengenai pendirian/ manajemen lembaga keuangan mikro .Pelatihan desain produk dan keterampilan penyelesaian (6 kali) .Partisipasi dalam pameran dan lokakarya industri maritim (3 kali) . PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 Kapal termasuk.Pemasaran dan promosi kepada pembeli yang sudah ada maupun yang potensial Sulawesi Kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi: Tengah .Penerbitan surat dukungan untuk aksi pemasaran/ pengembangan peraturan (2 kali) .Bimbingan teknis/ konsultasi teknis mengenai keterampilan produksi/ pengoperasian mesin Pengolahan kepada operator di pabrik pengolahan (2 kali) Kakao .Pelatihan Good Manufacturing Practice . Pontianak Kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi: Kalimantan .Misi penjualan ke pasar regional (2 kali) .Pembentukan praktik manufaktur standard dan sistem audit proses (2 kali) . dokumentasi proses produksi untuk persiapan sertifikat BKI .Bimbingan teknis pengolahan produk cokelat untuk produsen cokelat local/ pelatihan diversifikasi produk (7 kali) .Pendirian asosiasi produsen cokelat lokal .Kunjungan pasar ke penjual potensial di segmen modern lokal .Fasilitasi pembentukan toko di bandara lokal .

Pengenalan 3S di workshop .Misi dagang/ temu bisnis dengan pembeli domestik/ asing potensial . Langgam dan pengembangan saluran penjualan Souvenir (semua di Sumatera Utara) Asosiasi Perancang Busana Indonesia Industri Komponen Biro Klasfikasi Indonesia (BKI). pengembangan produk Ulos yaitu.Bimbingan teknis sertifikasi GMP (persiapan) Pengolahan .Pelatihan pengembangan produk/ desain (3 kali) termasuk riset pasar . dalam rangka mengembangkan produk yang laku di pasaran dan memperluas saluran penjualan. khususnya pembeli/ merchandiser. Industri Pemangku kepentingan yang telah Objektif bekolaborasi Industri Fesyen 3 merchandiser kerajinan tangan di Medan.Uji mutu produk (minuman) Industri .Pelatihan/ bimbingan penguatan kelompok usaha bersama (KUB) .Pelatihan desain kemasan . Bimbingan teknis. Kriya Ulos.Fasilitasi pembentukan/ penguatan asosiasi industri Aksi yang dilakukan IKM sasaran: .Studi banding ke pusat industri alas kaki yang lebih mumpuni Aksi yang dilakukan IKM sasaran: .Promosi melalui acara/ pameran (18 kali) . sertifikasi komponen Kapal akreditasi untuk komponen kapal kapal KospinJasa.Promosi/ uji pasar melalui acara/ pameran (3 kali) . badan Bimbingan teknis. lembaga non-bank lokal Memperkuat akses keuangan terbesar Industri Pengolahan 2 kelompok tani (dibimbing mengenai Pasokan stabil pada biji berkualitas yang Kakao praktik bertani yang baik) telah difermentasi 4 . dan lembaga akreditasi dalam rantai pasokan pada industri sasaran seperti yang ditunjukkan dibawah.Pelatihan kewirausahaan/ manajemen bisnis (2 kali) Industri Alas .Pelatihan pembuatan acuan (shoelast) alas kaki . I Love Medan.Pelatihan standarisasi ukuran .Sosialisasi/ bimbingan teknis (pendampingan) Standar Nasional Indonesia/ praktik manufaktur standar (SOP) . dokumentasi proses produksi sebagai persiapan pelaksanaan SOP . PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 Barat .Pemasaran dan promosi kepada pembeli yang ada/ potensial Kolaborasi dengan pemangku kepentingan yang mendukung dalam rantai pasokan (kecuali lembaga pendukung) Setiap POKJA yang telah memfasilitasi networking dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan pendukung lainnya.Pembentukan asosiasi IKM pengolahan aloevera lokal . Networking dan kolaborasi dengan pemasok bahan mentah hanya terbatas pada kasus industri pengolahan kakao.Studi banding mengenai kemasan/ GMP di Jakarta dan Bandung Aloevera .Pelatihan desain lanjut kaki .Sosialisasi/ bimbingan teknis peningkatan tempat kerja/produksi (workshop) melalui pengenalan 3S .Pelatihan/ klinik praktik pengeleman .Pembuatan prototipe.Pembentukan jasa desain kemasan Mojokerto Kegiatan/ layanan dukungan yang telah difasilitasi: Jawa Timur .Pelatihan branding .Pelatihan jahit upper/ produksi out sole (2 kali) .Uji kualitas (daya rekat) produk prototipe .

Aloevera Indonesia (perusahaan besar Bimbingan teknis pengembangan produk Aloevera pengolahan aloevera) Federasi Kemasan Indonesia. 20 penjahit. dan Bantuan teknis dukungan desain kemasan/ Distributor/ produsen kemasan pasokan materi Industri Alas kaki Universitas Ciputra (mahasiswa)/ Asosiasi Desain/ pengembangan/ pemasaran produk Persepatuan Indonesia (APRISINDO) PT. 10 penjahit) layanan: 80 produsen (30 penenun. 30 pendatang baru) Produsen sasaran yang sekarang menjadi fokus: 20 produsen (anggota koperasi yang baru dibentuk) Komponen kapal 30 IKM yang menjadi anggota Mereka yang menerima/ menggunakan dukungan/ koperasi industri komponen kapal layanan: Sekitar 40 IKM (termasuk yang bukan anggota koperasi) IKM sasaran yang menjadi fokus sekarang: 12 IKM (termasuk yang bukan anggota koperasi) Pengolahan kakao 20 produsen cokelat (yang telah Mereka yang menerima/ menggunakan dukungan/ membentuk kelompok produsen). Greco (distributor agen pengeleman) Peningkatan kualitas produk 2-3 Jumlah IKM/ produsen yang telah menerima/ menggunakan dukungan/ layanan yang telah difasilitasi Jumlah IKM/ produsen yang telah menerima/ menggunakan dukungan/ layanan Industri Target awal IKM/ produsen Target actual IKM/ produsen Fesyen Ulos 40 produsen Mereka yang menerima/ menggunakan dukungan/ (30 penenun. layanan: dan satu pabrik pengolahan yang 18 produsen (tambahan 95 orang menerima pelatihan dijalankan pemerintah wirausaha cokelat) Produsen sasaran yang menjadi fokus sekarang: 16 produsen (10 mengikuti asosiasi produsen) Mebel rotan Sekitar 20 produsen Mereka yang menerima/ menggunakan dukungan/ layanan: 10 produsen (termasuk yang bukan anggota kelompok) Produsen sasaran yang menjadi fokus sekarang: 5 produsen Industri Pengolahan 21 IKM (yang membentuk Mereka yang menerima/ menggunakan dukungan/ Aloevera asosiasi industri) layanan: 21 IKM IKM sasaran yang menjadi fokus sekarang: Sama seperti diatas Industri Alas kaki Sekitar 40 IKM Mereka yang menerima/ menggunakan dukungan/ layanan: 30 IKM Produsen IKM yang menjadi fokus sekarang: 25 IKM 2-4 Kepuasan (oleh sebagian besar IKM sasaran) dengan layanan/ kegiatan dukungan yang difasilitasi Tingkat kepuasan IKM sasaran yang menerima/ memanfaatkan dukungan/ layanan Industri Tingkat kepuasan Keterangan 5 . PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 Industri Pengolahan PT.

sehingga kapasitas produksi kerajinan tangan ini dapat meningkat seiring dengan peningkatan jumlah hotel/ toko souvenir yang menunjukkan ketertarikan untuk memamerkan produk kerajinan tangan. telah 6 .Penguatan hubungan keterpautan antar IKM/ dengan pemangku kepentingan eksternal . akses keuangan. berjumlah 28 hotel wisata/ toko souvenir yang dikunjungi di Samosir. Kemudian. . . pelatihan pengembangan/ diversifikasi produk juga diberikan pada penenun/ penjahit tambahan. .Pencapaian terkait lainnya (kelembagaan. dsb. termasuk tas. kurangnya partisipasi pada tahap akhir sedangkan 2 produsen tidak yakin dan Rencana Aksi.. dengan mencantumkan jumlah IKM/ produsen yang terlibat dalam kasus sukses. Prototipe kerajinan tangan yang menggunakan bahan Ulos.Perluasan/ diversifikasi saluran pasar dan penjualan.Kinerja manajemen (penjualan. difasilitasi oleh Diskoperindag Samosir. dan aspek lainnya) Industri Sasaran Fase I Industri fesyen Ulos di Kabupaten Samosir. Tingkat kepuasan oleh IKM sasaran disurvei untuk industri sasaran fase I. Produsen sasaran utama tersebut kemudian membentuk kelompok bisnis bersama (KUB). dan diversifikasi produk. Anggota KUB. ditambah juga memfasilitasi kesempatan pameran. 10 penenun/ penjahit dipilih sebagai sasaran utama dalam kegiatan aksi oleh IKM sasaran dukungan berdasarkan keterampilan yang mereka miliki dan kemauan. sedangkan 4 IKM ada efek langsung pada jumlah permintaan. 2-5 Hasil (perubahan positif) fasilitasi POKJA kepada IKM/ produsen sasaran dalam aspek terkait Review pencapaian fasilitasi POKJA atas Rencana Aksi telah dikompilasi pada bagan di bawah ini berdasarkan aspek-aspek berikut (sesuai dengan tujuan umum Rencana Aksi). mereka tidak melihat efek nyata untuk bisnis mereka. 7 IKM merasa Satu IKM menjawab ‘tidak puas’ karena tidak sangat puas/ puas. dimana merchandiser kerajinan tangan dari luar dimobilisasi sebagai instruktur. merasa biasa dan 1 IKM merasa tidak puas. Pengolahan cokelat Diantara 10 produsen sasaran. satu merasa kurang puas. . karyawan). PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 Fesyen Ulos Diantara 20 produsen sasaran. sedangkan satu merasa biasa. 7 Satu produsen menjawab ‘kurang puas’ karena produsen merasa sangat puas/ puas. telah dikembangkan melalui pelatihan/ bimbingan teknis pengembangan/ diversifikasi produk kerajinan tangan dan keterampilan proses/ desain. Komponen kapal Diantara 12 IKM sasaran. POKJA melakukan fasilitasi pada produsen sasaran untuk melaksanakan kunjungan pasar. 19 produsen sangat puas atau puas. Mebel rotan Lima (5) produsen sasaran tidak yakin Mereka menjawab ‘tidak yakin’ karena tentang kepuasan mereka.Persiapan prototipe atau pengembangan produk baru/ diperbaiki.Perbaikan komentar dari pengguna/ konsumen. sehingga mereka dapat berbagi peran pada produksi dan pemasaran. dan pengembangan pasar/ pembeli baru. dan. Provinsi Sumatera Utara Fasilitasi kegiatan Di antara 30 penenun Ulos dan 10 penjahit yang sebelumnya menjadi sasaran pada dukungan oleh POKJA/ Rencana Aksi. Kemudian. Penyediaan modal awal (dalam bentuk bahan mentah) dan peralatan (mesin jahit) ke KUB telah difasilitasi oleh Ditjen IKM dan melalui pendekatan pada penyalur dana CSR di provinsi. aksesoris. kewirausahaan. .

6 juta (93 item dari untuk untuk 350 produk). penjualan telah mencapai Rp. dibandingkan dengan kondisi awal. karyawan) . Total penjualan dari 12 produsen telah mencapai Rp 52. koperasi bekerjasama dengan belum mampu memenuhi semua karena kapasitas produksi terbatas. jumlah produsen terlibat dalam usaha kerajinan Ulos dan penjualan produk telah cukup meningkat dibandingkan dengan kondisi awal. koperasi telah mencatat penjualan sebesar Rp.Di antara anggota koperasi. 5 toko suvenir di Samosir dan 1 merchandiser kerajinan di Medan secara konsinyasi. koperasi beranggotakan 22 produsen dan secara terus-menerus meningkatkan kapasitas produksi/ manajemennya. Pengembangan pasar/ pembeli/ saluran penjualan baru .Berbagai jenis kerajinan produk memanfaatkan kain motif Ulos termasuk tas. dan topi (total 93 item. Anggota koperasi menilai perbaikan dalam kinerja tindakan bersama ini. PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 memutuskan untuk berubah menjadi koperasi produsen (KSU) untuk melegitimasi dan memperkuat entitasnya (dalam hal memungkinkan akses langsung ke dukungan keuangan/ dana dari pemerintah/ CSR).Sebagaimana dinyatakan di atas. Dari desainer-desainer lokal produk-produk konsinyasi ini. Aspek lain: Peningkatan kinerja tindakan bersama . tujuan keseluruhan dianggap tercapai. Pengadaan bahan baku 16: Meningkat 4: Tidak berubah Kapasitas produksi 11: Meningkat 8: Tidak berubah 1: Tidak jelas Produktivitas (waktu dan biaya yang dibutuhkan 14: Meningkat dalam produksi) 5: Tidak berubah 7 . Meskipun pembeli lain juga dipasar lokal dan turis. Kinerja manajemen (penjualan. mengingat hampir tidak ada produksi dan penjualan sebelum fasilitasi. anting-anting. Meningkatkan penjualan Koperasi produsen (KSU) telah menyadari kasus transaksi konsinyasi produk produk berbahan Ulos kerajinan Ulos dengan 11 saluran pembeli/ penjualan di pasar lokal/ turis. 3. Pencapaian tujuan Mengingat hampir tidak ada penjualan kerajinan Ulos yang dibuat di Samosir Rencana Aksi sebelum pelaksanaan Rencana Aksi. sedangkan tingkat pencapaian kemajuan lebih lanjut sebagai berikut.8 juta sampai saat ini. produsen sasaran bersama-sama membentuk KUB dan kemudian mengubahnya menjadi koperasi produsen (KSU) yang saat ini terdiri dari 22 anggota. Hasil nyata (perubahan Persiapan prototipe dan pengembangan produk baru positif) fasilitasi ke IKM . telah menunjukkan minat mereka dalam menempatkan kerajinan ini. dan dengan industri Diantara anggota koperasi. Selain itu. jika menghitung berbagai spesifikasi masing-masing jenis produk). beberapa hotel lokal dan toko souvenir. meskipun (aksesoris/ kerajinan) penjualan belum mencapai jumlah yang signifikan. aksesoris rambut.Sebagaimana dinyatakan di atas. pakaian. telah ada 12 anggota yang telah memulai usaha kerajinan mereka sendiri di tempat mereka selain menempatkan produk di beberapa hotel lokal dan toko-toko suvenir. Penguatan hubungan antar IKM/ dengan pemangku kepentingan eksternal . terdapat 12 anggota yang telah memulai bisnis kerajinan pariwisata untuk mereka sendiri di tempat masing-masing selain menempatkan produk mereka di promosinya. 5 juta dari 9 pengembangan desainnya pameran. sasaran dompet.Koperasi produsen 'telah mengembangkan pasar dan saluran penjualan kerajinan Ulos. cincin. Per Oktober 2015.POKJA telah memfasilitasi kerjasama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia untuk pengembangan keterampilan dan pengembangan produk baru dari produsen sasaran. termasuk 5 hotel wisata. dasi. .

dijadwalkan akan membangun 193 kapal. kapal mampu membuat dan katup gerbang yang memerlukan sertifikasi proses pengecoran besi juga). Anggaran yang diperlukan untuk tujuan ini (seperti biaya audit) juga telah dijamin oleh Kemenperin (Ditjen IKM) untuk meningkatkan jumlah komponen dalam negeri yang bersertifikat. yang disiapkan oleh IKM berdasarkan gambar yang telah disetujui.. Lima (5) komponen (dengan nama koperasi) menjadi target awal untuk sertifikasi BKI pada tahun anggaran 2014. Dalam menanggapi prediksi pertumbuhan galangan kapal di tahun-tahun mendatang. POKJA mengalami kesulitan dalam memperkirakan dan mempersiapkan dukungan yang diperlukan secara terjadwal. dua jenis nozzle) telah disertifikasi oleh BKI.Kementerian Perhubungan. komponen kapal BKI-class prototipe yang disusun melalui kolaborasi 3 IKM dan 1 tambahan. Provinsi Jawa Tengah Fasilitasi kegiatan Dalam rangka sertifikasi komponen kapal oleh BKI. dan beberapa pembeli baru yang sudah memesan komponen bersertifikat (nilai pesanan dari pembeli baru sebesar Rp 400 juta). PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 1: Tidak jelas Diversifikasi produk 17: Meningkat 3: Tidak berubah Pemasaran dan promosi 18: Meningkat 2: Tidak berubah Manajemen keuangan 19: Meningkat 1: Tidak berubah Pemenuhan tanggung jawab setiap anggota 13: Meningkat 4: Tidak berubah 3: Tidak jelas Negosiasi/ komunikasi dengan pemerintah 12: Meningkat 7: Tidak berubah 1: Tidak jelas Industri komponen kapal di Kabupaten Tegal. Sebab itulah POKJA secara aktif memfasilitasi penyesuaian program yang telah dianggarkan dan pendekatan ke pusat/ pemerintah provinsi yang dapat membiayai tambahan dukungan yang diperlukan guna mendukung tantangan aksi IKM-IKM dengan segera. 3 (pintu kapal. Prototipe dari komponen sasaran. 7 komponen telah disertifikasi atau akan disertifikasi Rencana Aksi segera. terdapat sejumlah pembuat kapal/ galangan kapal yang telah memperkuat permintaan/ transaksi komponen tersebut. . Di antara 7 komponen. kegiatan dukungan telah dukungan oleh POKJA/ disediakan dalam aspek i) produksi/ pengendalian mutu (bimbingan teknis dalam aksi oleh IKM sasaran pengenalan 3S. jendela. di mana 3 SIMS atas nama koperasi telah menerima IKM-IKM komponen sertifikat BKI. telah diuji dengan metode try &error di laboratorium Dinas dalam mempersiapkan audit dari BKI. penggambaran. sambil mengamati peningkatan permintaan dari pembeli baru/ yang ada sebagai berikut. 8 . dan POKJA telah memfasilitasi bimbingan teknis untuk dokumentasi manual mutu produk. dukungan langsung dalam persiapan untuk sertifikasi BKI). Pencapaian tujuan Sebagai hasil dari fasilitasi. ii) akses keuangan. dan persiapan prototipe secara bertahap. industri pembuatan kapal Karena dukungan pemasaran untuk komponen-komponen bersertifikat. Saat ini 4 komponen lainnya (berbagai jenis jendela kapal. air rent. POKJA memutuskan untuk memperpanjang dukungan bimbingan teknis/ pemasaran untuk beberapa komponen tambahan pada TA 2016 dan seterusnya dengan tetap menjaga pengaturan fasilitasi yang sudah ada. sedang dalam dan menyuplainya ke proses audit final BKI. Karena tantangan ini merupakan kasus pertama bagi industri lokal di Indonesia.

coverture (cokelat susu dan pahit). dijadwalkan akan membangun 12 kapal. PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 .Seperti disebutkan di atas. Kinerja manajemen (penjualan. Hasil nyata (perubahan Persiapan prototipe dan produksi produk yang ditingkatkan positif) fasilitasi ke IKM .Satu galangan kapal.IKM sasaran (12) mengakui peningkatan berikut karena pengenalan 3S dan bimbingan terkait selama fasilitasi. BKI dan asosiasi industri komponen kapal) telah memasuki MoU untuk percepatan sertifikasi komponen kapal di seluruh Indonesia dalam meningkatkan jumlah komponen bersertifikat dan meningkatkan konten lokal pada galangan kapal. Produk kakao olahan telah disediakan untuk 9 . sementara 3 IKM tidak ada perubahan dan 4 IKM mengalami penurunan (karena ketidakpedulian pemilik kapal 'dalam persiapan untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat). Pengurangan waktu produksi sampai pengiriman 5: sangat meningkat 7: sedikit meningkat Pengurangan biaya produksi/ input 4: sangat meningkat 7: sedikit meningkat 1: tidak meningkat Pengurangan produk yang tidak sempurna 4: sangat meningkat 7: sedikit meningkat 1: tidak meningkat Waktu yang dibutuhkan untuk pemilik dalam 5: sangat meningkat mengawasi workshop/ karyawan 7: sedikit meningkat Kesadaran karyawan dalam kontrol kualitas/ 5: sangat meningkat produktivitas 7: sedikit meningkat Industri pengolahan kakao di Provinsi Sulawesi Tengah (Kota Palu dan sekitarnya) Fasilitasi kegiatan Pabrik pengolahan penghasil couverture (olahan kakao yang siap digunakan oleh dukungan oleh POKJA/ produsen cokelat) yang dikelola pemerintah telah melanjutkan percobaan produksi.IKM sasaran mengakui bahwa komunikasi/ kerjasama di antara mereka telah banyak ditingkatkan melalui berbagi proses sertifikasi BKI. 5 IKM melaporkan peningkatan karyawan dibandingkan dengan fasilitasi sebelumnya.POKJA mengakui bahwa kemitraan dengan BKI baru dikembangkan dan masih dipertahankan. aksi oleh IKM sasaran mencapai level kualitas yang dapat diterima (menurut uji pada konsumen yang dilakukan melalui rangkaian dukungan pengembangan pasar).Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penguatan hubungan antara IKM/ dengan pemangku kepentingan eksternal . di mana BKI terus memberikan bimbingan/ saran untuk POKJA/ IKM. . . bubuk cokelat.Di antara 12 IKM sasaran.540 perahu ikan Hal ini juga dicatat bahwa 3 pihak terkait (Kemenperin.Di antara 12 IKM sasaran. seperti tentang pilihan komponen yang akan disertifikasi. Aspek lain: peningkatan produktivitas/ manajemen produksi . karyawan) . dan cokelat mentega. . MoU merupakan hasil dari kasus sukses bimbingan teknis di Tegal. 5 IKM melaporkan peningkatan penjualan dibandingkan dengan fasilitasi sebelumnya. 7 komponen kapal telah diperbaiki sesuai dengan sasaran standar yang ditetapkan oleh otoritas (BKI) melalui pengulangan persiapan prototipe dan pengujian. dijadwalkan akan membangun 3.Perusahaan perminyakan. Skala produksi oleh pabrik pengolahan kakao ini terus meningkat dan berbagai produk olahan kakao juga telah diperluas untuk larutan cokelat. dijadwalkan akan membangun 609 kapal . sementara 3 IKM tidak ada perubahan dan 4 IKM mengalami penurunan.

Produsen sasaran yang bergabung di asosiasi menegaskan bahwa komunikasi antara produsen sebagian besar telah ditingkatkan melalui tindakan bersama untuk kegiatan promosi/ pemasaran. Penguatan keterkaitan antar IKM/ dengan pemangku kepentingan eksternal . Akibatnya. Dinas Perindustrian & Perdagangan Provinsi memutuskan untuk melegalkan pabrik pengolahan kakao sebagai unit usaha dalam bentuk UPT. Pada bulan Agustus 2015.Di antara 10 produsen sasaran di asosiasi. selai dan brownies. dan Rp. Produsen cokelat aktif berjumlah 10 rata-rata selama tahap awal fasilitasi. Pencapaian tujuan Tujuan keseluruhan dianggap tercapai dengan jumlah yang memadai dengan kasus Rencana Aksi transaksi produk cokelat dari olahan biji kakao lokal di pasar segmen modern lokal. Hasil nyata (perubahan Persiapan prototipe dan pengembangan produk baru positif) fasilitasi ke IKM . Peningkatan komentar dari pengguna/ konsumen . 300 juta pada tahun 2014. dibandingkan dengan sebelum fasilitasi. Setelah menyadari tanda-tanda kasus keberhasilan produsen cokelat.Kuisioner konsumen yang dibagikan pada beberapa pameran menunjukkan bahwa kemasan produk cukup memuaskan dan dapat diterima di pasar domestik. Sejauh ini POKJA telah berhasil mendorong 6 pengusaha untuk memulai bisnis coklat di tahun 2015. 10 . diversifikasi dan mempromosikan produk cokelat mereka melalui kunjungan pemasaran kepada pembeli potensial/ konsumen di segmen modern dan mengalokasikan waktu untuk pameran. couverture yang diproses Carrefour di Kota Palu. 9 IKM melaporkan peningkatan jenis sasaran produk seperti cokelat batang. 36 juta (65 juta cokelat/ kue secara kontinu tertinggi) oleh 13 produsen total (10 anggota asosiasi dan 3 pendatang baru). Produsen aktif ini kemudian membentuk asosiasi produsen untuk mengkompilasi kebutuhan dukungan mereka kepada POKJA dan untuk mengaktifkan tindakan bersama (seperti promosi/ pemasaran bersama). 24 bahan makanan/ toko-toko suvenir. 1 Hotel. yang memanfaatkan produk olahan kakao untuk pengembangan/ pemasaran produk coklat) untuk meningkatkan kualitas. praline. PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 produsen cokelat lokal. 450 juta pada tahun yang sama. Pengembangan pasar/ pembeli/ saluran penjualan baru . POKJA telah memfasilitasi produsen cokelat lokal (start-up bisnis skala mikro. dengan peningkatan produk yang besar. Dinas Provinsi memberikan kesempatan pelatihan kepada 15 orang di Palu untuk belajar pengolahan produk cokelat. termasuk 3 supermarket. lokal modern. Hal ini membuat pabrik lebih solid dalam melanjutkan/ memperluas skala produk kakao olahan sesuai dengan berbagai kebutuhan pengguna berorientasi komersial dan lebih proaktif dalam memberikan dukungan kepada produsen pemula sebagai unit pelayanan inti teknis industri. 28 kasus transaksi dengan pembeli/ saluran penjualan di segmen modern lokal telah Menghasilkan produk dilaporkan dengan rata-rata angka penjualan bulanan sebesar Rp. asosiasi telah mencapai penjualan tahunan dari biji kakao lokal dan sebesar Rp. Satu dengan memanfaatkan produsen telah mendapat kesepakatan dengan jaringan supermarket besar. dan telah menginspirasi satu sama lain dalam melewati tantangan pengembangan produk/ pasar lebih lanjut.Para anggota asosiasi (dan beberapa produsen pendatang) sejauh ini mengembangkan 28 pembeli/ saluran penjualan di pasar segmen modern lokal. 300 juta selama Januari-September memasuki segmen pasar tahun 2015 dengan target penjualan sebesar Rp. POKJA memutuskan untuk meningkatkan jumlah produsen lokal dalam tahap terakhir fasilitasi. Selanjutnya. Mereka telah melakukan kunjungan pemasaran ke pembeli/ pengguna potensial di segmen modern lokal untuk mengeksplorasi dan membangun saluran penjualan yang stabil. Sejalan dengan upaya di atas.

4 IKM melaporkan peningkatan karyawan dibandingkan dengan sebelum fasilitasi. POKJA telah melaksanakan audit proses manufaktur secara terus-menerus untuk 5 produsen prioritas sejak bulan Februari 2015 dalam rangka memastikan praktik jaminan kualitas oleh produsen lokal yang memiliki orientasi ke segmen modern.Di antara 10 produsen sasaran dalam asosiasi. . karyawan) . Kendari. sementara 5 lainnya tidak mengalami perubahan dan 1 IKM mengalami penurunan. PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 . dalam rangka menghapus kesan negatif produk rotan lokal (yang diperoleh dari hasil survei). dan telah mempersiapkan proses produksi standar (SOP) untuk mebel rotan. fasilitas publik) mengalami stagnansi.Di antara 10 produsen yang sama. seperti kota besar lainnya di Pulau Sulawesi (Gorontalo. Setelah hasil survei pasar disebarkan ke produsen lokal. Berkaitan dengan SOP ini. dibandingkan dengan kondisi awal. . Pengetahuan dan teknik karyawan atas 6: Cukup Meningkat produktivitas/ kontrol kualitas 2: Meningkat 2: Sangat meningkat Kemampuan/ kepercayaan diri dalam kegiatan 5: Meningkat promosi 5: Sangat meningkat Kesadaran atas manajemen keuangan 5: Cukup Meningkat 4: Meningkat 1: Sangat meningkat Industri mebel rotan di Kota Palu. Oleh karena itu. . 7 IKM melaporkan peningkatan penjualan rata-rata bulanan dibandingkan dengan sebelum fasilitasi. sementara 3 lainnya mengalami penurunan. Provinsi Sulawesi Tengah Fasilitasi kegiatan Fasilitasi penerapan Rencana Aksi untuk industri ini sedikit lebih lamban jika dukungan oleh POKJA/ dibandingkan dengan yang lain karena Rencana Aksi dianggap kurang bermanfaat aksi oleh IKM sasaran atau cukup kuat oleh produsen sasaran sejak awal. kunjungan pasar ke pengguna segmen modern (seperti hotel.10 produsen dalam asosiasi menilai peningkatan dalam beberapa aspek berikut ini.Pada tahap awal fasilitasi. beberapa produsen bersedia bergabung dalam usaha pemasaran dan perbaikan produk. yang merupakan bagian Dinas Perindustrian & Perdagangan Provinsi dan Kota untuk pengawasan di lapangan 11 . Kinerja manajemen (penjualan. POKJA merubah Rencana Aksi dan memulai inisiasi jaminan mutu. restoran. POKJA merevisi Rencana Aksi dan memutuskan untuk memulai dengan survei di pasar modern lokal. Aspek lain: Pengembangan kelembagaan . 8 juta sejauh ini. Inisiatif untuk jaminan kualitas produk ini didukung oleh konsultan manajemen IKM.Sejauh ini 3 IKM telah berhasil mengembangkan saluran penjualan diluar Kota Palu. Secara bersamaan. kantor pemerintahan. POKJA juga memfasilitasi penerbitan surat dukungan oleh gubernur/ walikota mengenai rekomendasi penggunaan mebel rotan yang dibuat secara lokal untuk pengguna modern lokal. dan Toli-toli) dan Jakarta. 12 orang memutuskan untuk membentuk asosiasi produsen cokelat lokal. dengan asumsi bahwa hasil survei tersebut dapat membuat produsen lokal merasakan tuntutan dan masalah yang harus ditangani. Namun.Asosiasi ini juga telah membuka outlet produk cokelat mereka di bandara lokal sejak Mei 2015 di mana 11 produsen memiliki penjualan bulanan rata-rata Rp. Asosiasi ini telah aktif dalam melakukan pemasaran dan promosi dengan inisiatif mereka pribadi dan bekerja bersama dalam meningkatkan kualitas produk.

POKJA juga telah melakukan dukungan promosi untuk mengubah persepsi yang kurang baik di konsumen terhadap mebel rotan buatan lokal. sehingga menimbulkan komunikasi yang intermiten dan terbatas dengan produsen sasaran selama periode fasilitasi.Diantara 10 produsen yang sama. Namun.Semua produsen belum mencatat penjualan sesuai permintaan. Aspek lain: peningkatan produksi dan pemasaran . Pencapaian tujuan Survei kuesioner kepada 10 produsen. sedangkan 2 IKM tidak mengalami perubahan dan 4 IKM mengalami penurunan. kedua POKJA tidak berani mengakui bahwa fasilitasi POKJA pada Rencana Aksi telah mencapai kenaikan transaksi dengan/ permintaan dari segmen modern lokal dengan kuesioner. Hal ini dikarenakan. 5 sasaran produsen menganggap adanya sedikit peningkatan atau peningkatan signifikan (dibandingkan dengan sebelum fasilitasi) pada jumlah penjualan secara keseluruhan. 4 IKM dilaporkan mengalami peningkatan karyawan jika dibandingkan dengan sebelum fasilitasi.Upaya pemasaran untuk pengguna segmen modern dengan produsen dianggap stagnan selama periode fasilitasi. dan pasar lokal modern bagi juga menunjukkan bahwa 5 produsen mengakui adanya peningkatan yang furnitur rotan dan/atau signifikan atau sedikit (dibandingkan dengan sebelum fasilitasi) dalam jumlah pembuatan kerajinan oleh penjualan ke pengguna segmen modern lokal. Hasil nyata (perubahan Kinerja manajemen (penjualan. karyawan) positif) fasilitasi ke IKM . termasuk dengan terlibat dalam pameran lokal untuk menunjukkan contoh produk yang sesuai dengan SOP dan menampilkan produk tersebut dalam media televisi. Namun. Pengetahuan & teknik karyawan pada kontrol 2: Cukup Meningkat kualitas/ produktivitas 3: Meningkat 5: Sangat meningkat Kemampuan/ kepercayaan diri dalam kegiatan 2: Cukup Meningkat promosi 3: Meningkat 12 . sebelumnya. PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 secara periodik sesuai dengan SOP. . Salah satu dari mereka mengaku Palu. .10 produsen yang menerima kegiatan dukungan setidaknya lebih dari sekali mengakui tingkat perbaikan pada aspek berikut. sedangkan yang lain mengakui tidak ada perubahan ataupun sedikit menurun. hanya beberapa dari mereka yang terlibat dalam Rencana Aksi. yang telah menerima kegiatan dukungan Rencana Aksi setidaknya lebih dari sekali selama fasilitasi Rencana Aksi. sedangkan sisanya mengaku 'tidak produsen lokal di Kota ada perubahan atau sedikit penurunan'. sesuai dengan proses pertumbuhan lebih dari empat kali lipat penjualan dibandingkan dengan fasilitasi produksi standar. sementara berkala meninjau Rencana Aksi/ mengusulkan dukungan tambahan dalam mendorong produsen lokal untuk terlibat dalam Rencana Aksi. Dinas provinsi memutuskan untuk menerapkan persiapan SOP dan proses audit produksi yang terkait sebagai alat dukungan peningkatan kualitas untuk industri lainnya mulai tahun depan.Diantara 10 produsen yang mengikuti kegiatan dukungan lebih dari sekali. Terinspirasi dari kegiatan ini. . POKJA ini telah memfasilitasi sejumlah kegiatan dukungan. sehingga jawaban mereka tidak dianggap cukup tepat. dan fasilitasi kegiatan dukungan (terutama selama tahap awal fasilitasi) belum sejalan dengan arah tujuan keseluruhan. . sedangkan 2 produsen mengaku 'tidak ada perubahan'.Hanya beberapa produsen yang aktif/ konsisten terlibat dalam Rencana Aksi. mengungkapkan bahwa 8 produsen mengakui adanya peningkatan yang signifikan atau sedikit (dibandingkan dengan sebelum fasilitasi) dalam jumlah order dari pengguna Mengembangkan segmen segmen modern lokal.

Provinsi Kalimantan Barat Fasilitasi kegiatan Rencana Aksi terdiri dari dua program utama. Hasil nyata (perubahan Memperkuat hubungan antar IKM/ dengan pemangku kepentingan eksternal positif) fasilitasi ke IKM . dan berkomunikasi memproduksi produk erat dengan IKM sasaran untuk menangkap kebutuhan mereka yang terbaru dan olahan aloevera. asosiasi telah membentuk layanan desain kemasan untuk anggotanya dan industri makanan/ minuman lainnya di Pontianak. temu bisnis dengan industri kemasan. Selain itu. Meskipun kecepatan pelaksanaan Rencana Aksi dianggap agak lambat pada tahap awal. pemberian pelatihan/ peralatan untuk perbaikan kemasan. Asosiasi industri pengolahan aloevera mengunjungi produsen minuman skala menengah dan distributor/ pembuat kemasan.POKJA telah memulai untuk memfasilitasi pengolah aloevera skala besar (PT sasaran Aloe Vera Indonesia. POKJA telah Meningkatkan kemampuan secara bertahap mempercepat fasilitasi kegiatan dukungan utama yang memberikan yang memadai untuk kontribusi langsung pada pencapaian tujuan secara keseluruhan. bimbingan teknis untuk sertifikasi Good Manufacturing Practice (GMP). pelatihan desain kemasan telah diselenggarakan untuk anggota asosiasi. Adapun program i). yang dapat menawarkan layanan untuk IKM seperti permintaan kecil dan biaya bahan yang lebih rendah. selain melakukan pertemuan dengan Federasi Kemasan Indonesia dan Rumah Kemasan di Kemenperin. pada produk minuman. . uji kualitas produk dua IKM sasaran yang dilakukan oleh pusat riset (Baristan). POKJA telah memfasilitasi kunjungan belajar ke Jakarta/ Bandung untuk tujuan belajar tentang perbaikan kemasan. dan menjawab kebutuhan konsultasi oleh IKM mengenai pilihan paket desain/ bahan. yang kompetitif di segmen pasar modern. dan bimbingan bisnis dengan perusahaan besar. 3 IKM sasaran telah menerima bimbingan teknis sertifikasi GMP sejak Juli 2015 dan audit yang diharapkan selesai pada Januari 2016. POKJA telah memfasilitasi asosiasi untuk membuka outlet untuk produk aloevera di bandara Pontianak. sedangkan hasil uji harus diperiksa lebih lanjut untuk membahas dan menetapkan standar produk lokal yang harus diikuti oleh IKM sasaran. POKJA menyarankan serangkaian aksi oleh IKM sasaran kegiatan dukungan. Mengambil manfaat dari pengalaman dari kunjungan belajar. berfokus mengidentifikasi perlunya meningkatkan / meninjau Rencana Aksi. Aspek lainnya: pengembangan kelembagaan 13 . i) standardisasi proses produksi. Selain itu. PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 5: Sangat meningkat Industri sasaran fase II Industri Pengolahan Aloevera di Kota Pontianak. POKJA juga telah memfasilitasi IKM sasaran untuk berpartisipasi dalam 18 pameran sejauh ini untuk pengembangan pasar produk mereka. Untuk program ini. dan dukungan oleh POKJA/ ii) perbaikan kemasan. Setelah kunjungan belajar.) untuk memberikan layanan bimbingan kepada IKM sasaran. Adapun program ii). Pencapaian tujuan Pencapaian tujuan belum dilakukan peninjauan karena POKJA mengakui bahwa Rencana Aksi pelaksanaan Rencana Aksi hanya difasilitasi setengah jalan.Para anggota asosiasi telah mulai mencari penawaran bisnis dengan distributor/ pembuat kemasan (melalui kunjungan belajar). menunjukkan poin untuk perbaikan. termasuk uji kualitas produk. meskipun tindakan nyata belum terwujud.

Pencapaian tujuan Pencapaian tujuan belum ditinjau karena POKJA mengakui bahwa pelaksanaan Rencana Aksi Rencana Aksi hanya difasilitasi setengah jalan. Greco. POKJA. sehingga membangun saluran untuk menyampaikan kepentingan industri kepada pemerintah daerah. Hasil nyata (perubahan Persiapan prototipe dan pengembangan produk baru positif) fasilitasi ke IKM . Hasil pengujian menunjukkan bahwa produk-produk dari Mojokerto tidak memenuhi standar. PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 . Sekitar 20 desain produk telah diseleksi oleh Universitas Ciputra/ APRISINDO guna mengidentifikasi desain berorientasi pasar yang akan dibuat menjadi prototipe. POKJA saat ini memfasilitasi penyediaan kesempatan uji pasar. menyelenggarakan pelatihan pengeleman dengan pemasok lem (PT. dalam menanggapi lebih lanjut hasil tes ini. penerima manfaat dari kegiatan dukungan secara langsung ditunjuk oleh pemerintah tanpa konsultasi). Greco) yang memperkenalkan lem berkualitas dan praktik pengeleman yang memadai untuk IKM. dan pelatihan produksi alas oleh BPIPI. membuat IKM sasaran mengakui pengeleman mereka yang buruk. pelatihan desain (dasar dan lanjut). POKJA telah melakukan bimbingan teknis 3S sebagai persiapan pendampingan SOP yang kemudian dilakukan oleh Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) untuk membantu IKM terpilih mengikuti standar proses produksi dan mengontrol kualitas produk. dukungan pengembangan produk telah difasilitasi secara kontinu bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Ciputra/ Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO dan sejauh ini telah menyelesaikan riset pasar. sehingga mampu menetapkan IKM yang paling relevan untuk setiap kegiatan dukungan (sebelumnya. Provinsi Jawa Timur Fasilitasi kegiatan Tantangan aksi didukung melalui dua program dukungan utama. POKJA. Selama uji pasar. Selain itu. penentuan segmen. dan ii) aksi oleh IKM sasaran pengembangan model sepatu berkolaborasi dengan mahasiswa di Surabaya. meskipun kecepatan pelaksanaan Rencana Aksi dianggap memuaskan. meminta BPIPI untuk membantu pengujian mengenai kekuatan lem terhadap prototipe. Tim Ahli mengakui bahwa POKJA telah melakukan revisi Rencana Aksi yang dapat mengadopsi yang baik dan memfasilitasi industri sasaran secara fleksibel dan tepat waktu sesuai praktik produksi yang dengan kebutuhan/ masalah yang dimiliki oleh industri sasaran.Hampir semua IKM pengolahan aloevera di Pontianak mengambil bagian dalam pembentukan asosiasi baru. Asosiasi telah memperkuat komunikasi dengan POKJA. dan desain produk. . isu pengeleman (penyelesaian buruk pada pengeleman antara upper sepatu dan alasnya) telah diidentifikasi. 14 . kaku. Industri Alas kaki di Kota Mojokerto.Sejauh ini. .Asosiasi juga berfungsi sebagai jendela untuk menerima peluang dukungan dari pemerintah. i) dukungan oleh POKJA/ Pendampingan SOP kepada IKM terpilih dengan bimbingan teknis 3S. baik berdasarkan SOP dan mengembangkan segmen pasar baru melalui pengembangan produk yang memadai. 7 IKM telah mengembangkan 14 produk baru (model) yang fokus sasaran pada segmen mahasiswa/ pekerja muda. Prototipe awal telah dibuat untuk mempersiapkan model produk untuk uji pasar berikut. agar IKM sasaran memperoleh masukan untuk perbaikan produk lebih lanjut.Asosiasi juga telah membentuk layanan desain kemasan untuk anggotanya. Meskipun menghadapi sistem anggaran yang Menciptakan model IKM. Masalah ini telah ditindaklanjuti oleh layanan klinik periodik pada pengeleman oleh PT. menanggapi ini.

PM Form 4 Laporan Penyelesaian Proyek Lampiran-8 Penguatan hubungan antar IKM/ dengan pemangku kepentingan eksternal .Diantara 25 IKM sasaran (yang direspon oleh 22 IKM). .7 juta dan menerima permintaan senilai Rp 465. dan tes pasar. 6 IKM berhasil meningkatkan jumlah karyawan mereka di tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2014 (sebelum fasilitasi).POKJA telah aktif memanfaatkan Universitas Ciputra (mahasiswa) dan APRISINDO untuk memfasilitasi IKM dalam mengembangkan produk-produk untuk segmen baru yang ditargetkan mereka. Pengurangan waktu produksi sampai pengiriman 3: sangat meningkat 6: sedikit meningkat 1: tidak meningkat Pengurangan biaya produksi/ input 4: sangat meningkat 5: sedikit meningkat 1: tidak meningkat Pengurangan produk yang tidak sempurna 5: sangat meningkat 5: sedikit meningkat Waktu yang dibutuhkan untuk pemilik dalam 4: sangat meningkat mengawasi workshop/ karyawan 4: sedikit meningkat 2: tidak meningkat Kesadaran karyawan dalam kontrol kualitas/ 5: sangat meningkat produktivitas 4: sedikit meningkat 1: tidak meningkat 15 . . karena mereka telah melakukan pengembangan produk yang membutuhkan bahan-bahan dan segmen pasar baru. Greco melakukan pelatihan keterampilan pengeleman.POKJA juga telah mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan antara pemasok lem (PT. . 12 IKM memperoleh peningkatan jumlah penjualan mereka secara keseluruhan dari tahun 2014 (sebelum fasilitasi) ke tahun 2015.2% di tahun 2015. sedangkan sisanya mengakui tidak ada perubahan ataupun ada penurunan. 6 dari 7 IKM yang terlibat dalam program pengembangan model produk sejauh ini telah melakukan transaksi senilai Rp 713. Aspek lain: peningkatan produktivitas/ manajemen produksi . sedangkan sebagian besar IKM sisanya tidak mengalami perubahan. di mana PT. sebagai berikut. . Jumlah penjualan dari 22 IKM responden ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 2. dan telah mendirikan layanan klinik dwi-mingguan pada pengeleman.5 juta untuk produk baru mereka melalui percobaan pengembangan/ pemasaran pada pameran/ upaya promosi sendiri sampai akhir tahun 2015.Meskipun masih terbatas jumlahnya. Pengembangan/ diversifikasi pasar/ saluran penjualan . Greco) dan IKM.Diantara 25 IKM sasaran (yang direspon oleh 22 IKM). Hal ini memungkinkan IKM untuk mendapatkan pengelem yang memadai dengan mudah. konsep/ desain produk.4 dari 7 IKM telah mengidentifikasi beberapa pembeli baru/ saluran penjualan untuk produk baru mereka Kinerja manajemen (penjualan.Program pengembangan model produk telah meningkatkan bentuk kolaborasi baru antar IKM seperti penggunaan bahan baku bersama dan pemasaran.10 IKM sasaran yang menerima bimbingan teknis pada pengenalan 3S mengakui peningkatan. di mana Ciputra/ APRISINDO telah memberikan saran/ panduan kepada IKM pada studi pasar. dibandingkan dengan 2014 (sebelum fasilitasi). karyawan) .

Lampiran-9: Surat penawaran mengenai penerapan model fasilitasi SMIDeP .

.

.

.

Lampiran-10: Daftar Disperindag Provinsi yang berminat untuk berpartisipasi dalam tahap penerapan model fasilitasi SMIDeP berbasis petunjuk .

Daftar Dinas Perindag Provinsi yang berminat pada penerapan Model Fasilitasi SMIDeP berbasis Petunjuk Pada akhir April 2016 No.S. atau tenun grinsing karena tidak dapat mempresiapkan utk menenuhi persyaratan. Sintang/ Kapuas Hulu Akan dikonfirmasi lebih lanjut oleh Ditjen Barat Yenny Kabid ILMEA Tenun ikat IKM. Kecil Kerajinan Fashion berbasis Batik karena tidak dapat melihat manfaat (dari model fasilitasi SMIDeP). Ditjen IKM. Lamongan Berkomitmen secara resmi utk Ingin mengikuti model bantuan Timur Komponen kapal penerapan model dgn membalas ke dari Kab. 11 Papua Elsje Pekade Kabid Industri Belum ditemskan utk daerah. Suamba Industri Anyaman. 3 Bali I Gde Wayan Kabid Aneka Kab. Dinas Perindag Nama Kontak Jabatan Kab. 8 Jambi Rosnifa Kabid Industri Kota Jambi Diputuskan utk tidak berpatisipasi. Fak Fak Diputuskan utk tidak berpatisipasi. Karangasem Diputuskan utk tidak berpatisipasi. 2 Sulawesi Monasman Kabid Industri Kota Bau-Bau Berkomitmen secara resmi utk Tenggara Pengolahan mutiara Mabe penerapan model dgn membalas ke Ditjen IKM. Jamilah. 7 Sulawesi Meyke N. OKI & Ogan Ilir Diputuskan utk tidak berpatisipasi. Mamuju Berkomitmen secara resmi utk Barat Pengolahan kakao penerapan model dgn membalas ke Ditjen IKM. Quillo Kabid Industri Kab. Selatan Non-agro Fashion berbasis songket 6 Sulawesi Idrus Kabid Industri Kab. . SH Sekretaris Kab.. Berkomitmen secara resmi utk Pengolahan makanan (kopi. Kabid IKAHH Kota Makassar Berkomitmen secara resmi utk Telah mengadakan FGD pertama Selatan Emas-perak (kerajinan) penerapan model dgn membalas ke dgn mengundan staf lokal dari Tim Ditjen IKM. Industri Status Balasan (ke Ditjen IKM) Keterangan 1 Bangka Hj. buah merah) penerapan model dgn membalas ke Ditjen IKM. 9 Papua M. 4 Kalimantan Bulyadi S. Ditjen IKM. komposisi timah). Barat Pala karena belum mempeloleh persetujuan dari Kadis pada saat ini. Tegal. Perlu pendampingan tenaga ahli (masalah produktivitas.M./Kota. 10 Jawa Yannedi Kabid IATT Kab. Kabid IKAHH Kab. kakao. Susilawati 5 Sumatera Peri Rizal Kabid Industri Kab. Bangka Barat Berkomitmen secara resmi utk Lebih baik jika tersedia pelatihan Belitung Pewter timah (kerajinan) penerapan model dgn membalas ke fasilitasi bagi fasilitator/ Pokja. SMIDeP.

13 Bengkulu Hermadewi Kabid Industri Mebel kayu kelapa Diputuskan utk tidak berpatisipasi. Utara karena belum mempeloleh persetujuan dari Kadis pada saat ini. 14 Aceh Murni Kabid Industri Kerajinan kulit Akan dikonfirmasi lebih lanjut oleh Ditjen IKM.12 Sulawesi Alwy Pontoh Kabid IKM Ide belum ditawarkan. karena tidak dapat mempresiapkan utk menenuhi persyaratan. . Diputuskan utk tidak berpatisipasi.

Lampiran-11:
Surat permohonan konfirmasi kesediaan
sebagai calon sasaran penerapan model fasilitasi SMIDeP
(kepada pemerintah darerah yang berminat)

.

.

Lampiran-12: Minutes of Meeting dari Komite Koordinasi Bersama (JCC. pertama. ketiga) dan mid-term monitoring . kedua.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lampiran-13: Minutes of Meeting dari Komite Koordinasi Bersama (JCC) terakhir .

.

.

.

.

.

.

Lampiran-14: Daftar produk (Petunjuk. Buku Panduan) .

The List of Products prepared by the Project Name of Product Date of Preparation Note Technical Guideline for Local Industry Facilitation March 2016 Attached Guidebook for 3S Introduction October 2014 Attached Brochure of the SMIDeP Project April 2013 Attached Newsletter (Bulletin) of the SMIDeP Project (10 editions) Every three month Not attached Topic article to the Project website of JICA Periodically Not attached Daftar Produk yang disusun dalam Proyek Tanggal Nama Produk Catatan Penyusunan Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Maret 2016 Terlampir Buku Panduan Pengenalan 3K Oktober 2014 Terlampir Brosur Proyek SMIDeP April 2013 Terlampir Newsletter (Buletin) Proyek SMIDeP (10 edisi) Setiap tiga bulan Tidak terlampir Topik artikel dalam situs Proyek JICA Secara periodik Tidak terlampir .

Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Kementerian Perindustrian Republik Indonesia 2016 2016 Bekerjasama dengan Bekerjasama dengan SMIDeP SMIDeP Proyek Kerjasama Teknis JICA Proyek Kerjasama Teknis JICA Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan Pengembangan IKM melalui Peningkatan Penyediaan Layanan .

2 Metode dan Output 16 (1) Pendekatan ke lembaga yang bertanggung jawab terhadap usulan dukungan 16 (2) Kerja sama dengan lembaga di luar perindustrian & perdagangan 16 (3) Mempertimbangkan keterkaitan antar kegiatan dukungan 17 3.1 Sumber Dukungan untuk Pengembangan Industri Lokal 21 Daftar Isi 4.5.4.3 Peran dan Tugas 6 BAB III FASILITASI UNTUK PENGEMBANGAN INDUSTRI LOKAL 3.3.1 Tujuan dan Ruang Lingkup 18 3.3 Peran dan Tugas 5 Lampiran 3 Contoh Analisis Rantai Pasok 2.3.3 Definisi dan Pengertian 1 4.5.2 Metode.2 Perumusan Kelompok Kerja 3 Lampiran 1 Contoh Surat Keputusan Perumusan Kelompok Kerja: Tegal 2.1 Tujuan dan Ruang Lingkup 15 3. Format dan Output 18 (1) Monitoring/ review 18 (2) Revisi Rencana Aksi 19 (3) Evaluasi 20 (4) Pelaporan monitoring/ review dan evaluasi 20 .3. Format dan Output 21 4.2. Format dan Output 10 (1) Tujuan umum 11 (2) IKM sasaran 12 (3) Kegiatan dukungan 13 (4) Aksi oleh IKM sasaran 14 3.2.1 Langkah Keseluruhan Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal 7 3.1 Tujuan dan Ruang Lingkup 10 3.2 Metode.2 Ditjen Terkait di Kementerian Perindustrian 23 1.1 Pimpinan dan Keanggotaan 3 Lampiran 2 Contoh Peta Pemangku Kepentingan 2.3.1 Ditjen IKM di Kementerian Perindustrian 22 1.2 Otorisasi Keanggotaan 4 2.3.2 Metode.5 Monitoring.4 Pelaksanaan Rencana Aksi 15 3. Evaluasi dan Pelaporan Rencana Aksi 18 3.2 Survei Profil Lembaga Dukungan 21 Pengantar 4.2 Diagnosis Industri 7 3. Format dan Output 8 (1) Analisis pemangku kepentingan 8 (2) Analisis rantai pasok 9 3.1 Kandidat Fasilitator 5 Lampiran 5 Format Laporan Monitoring/ Review 2.3.3 Fasilitas Dukungan dan Skema Pembiayaan bagi Pemerintah Daerah 22 BAB I PENDAHULUAN 4.2.2.2 Otorisasi Penempatan 6 Lampiran 6 Format dan Contoh Survei Profil Lembaga Dukungan 2.4 Fasilitasi dan Skema Pembiayaan dari Non-pemerintah 24 BAB II STRUKTUR FASILITASI PENUTUP: ~ Hal-hal penting selama fasilitasi pengembangan industri lokal 2.2.1 Tujuan dan Ruang Lingkup 7 3.2 Tujuan dan Ruang Lingkup Petunjuk 1 4.1 Latar Belakang 1 4.3.3 Penempatan Fasilitator 5 Lampiran 4 Contoh Rencana Aksi Industri Lokal 2. Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal BAB IV INFORMASI SUMBER DUKUNGAN 4.2.3 Kementerian Terkait (Perdagangan. Koperasi) 23 1.4.2.3 Penyusunan Rencana Aksi 10 3.1 Platform Pengembangan Industri Lokal 3 2.1 Tujuan dan Ruang Lingkup 21 4.3.3.2 Metode.

diketahui pusat. sementara 3 komponen lainnya sedang dalam proses audit terakhir. melaksanakan. serta produk menengah berupa komponen otomotif dan kapal.473 unit usaha dan menyerap 117. Penerbitan sertifikasi BKI adalah kasus pertama di industri lokal di Indonesia.. dan menyuplainya ke yang berdaya saing.. 2 tipe komponen bersertifikasi BKI dengan nilai lebih dari 700 juta rupiah telah dibeli dan digunakan oleh industri galangan kapal untuk memproduksi 3 kapal perintis. Penyediaan alat pengecoran dan uji laboratorium Petunjuk Teknis ini dimaksudkan sebagai referensi bagi pemerintah daerah. Dari potensi industri lokal dengan memanfaatkan dukungan dari semua pemangku kepentingan dan pemerintah tersebut 2. UU Perindustrian No. Kepentingan Tegal. ikan. telah melaksanakan kerja sama teknis mencapai standar sertifikasi dari BKI. pertanian. Bimtek penerapan 3S untuk perbaikan efisiensi produksi/ workshop 3. kami mempublikasikan serta mengantarkan Petunjuk Teknis ini kepada saudara-saudara di daerah. satu komponen lainnya masih dalam proses penjajakan/penawaran dengan industri galangan lainnya dengan potensi 250 kapal yang sedang/ akan dibangun terutama kapal negara. iv) uji mutu/ performa dari prototipe. Bappeda Kab. perintis. Kementerian Perindustrian dan BKI telah berhasil menghantarkan para IKM memperoleh sertifikasi BKI untuk 3 Kementerian Perindustrian produk komponen kapal. kepentingan di bawah Satu Rencana untuk Satu Industri Lokal’. PENGANTAR Kasus Sukses dengan Pendekatan SMIDeP -1 Industri Sasaran : Industri komponen kapal Industri Kecil dan Menengah (IKM) memiliki posisi penting dalam perekonomian nasional. Pelaksanaan UU dan PP diatas mengamanatkan kewajiban pemerintah daerah untuk menyusun Peraturan Daerah tentang Rencana Latar Belakang Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) atau Rencana Pembangunan Industri Kabupaten/ Kota (RPIK). Peningkatan Penyediaan Layanan di Indonesia (Project on Small and Medium Industry (SMI) Development Based on Improved Service Delivery SMIDeP)’. Diponegoro. dan Lokasi : Kabupaten Tegal berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan.198 tenaga kerja. Pengalaman SMIDeP selanjutnya disusun sebagai Petunjuk Teknis produksi untuk komponen sasaran. Kemudian Pokja mengusul dan memfasilitasi kegiatan dukungan berikut Sejauh ini. Potensi industri secara umum ada 28. berperan signifikan dalam penguatan struktur industri nasional serta pengentasan industri galangan kapal. dan telah menghasilkan kasus sukses di IKM. EUIS SAEDAH Selama monitoring pemasaran. Politeknik lokal Kewajiban pemerintah tersebut didukung dengan PP No. dan disusun sebagai tujuan utama dari Rencana Aksi. Disperindag Prov. industri/ komoditas. Sedangkan. Guna mengaktifkan Sebagai salah satu upaya dalam menanggapi amanat tersebut. 2016 Direktur Jenderal Pencapaian dan Perkembangan Industri Kecil dan Menengah Kolaborasi yang baik antara Pokja. bahwa untuk dapat menyuplai produk komponen kapal ke industri galangan harus memiliki sertifikat BKI. Tantangan sertifikasi BKI untuk pengembangan industri lokal. “IKM-IKM komponen pengembangan industri lokal di wilayah percontohan melalui pembentukan dan pemanfaatan platform kapal mampu membuat komponen kapal BKI-klas dan menyuplainya ke industri galangan kapal”. Kemenperin (Ditjen IKM. dan Kementerian Perindustrian di Kabupaten Tegal.14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Kelompok Sasaran : 30 IKM komponen kapal. ILMATE). Dengan adanya Petunjuk Teknis ini diharapkan pembinaan IKM/ Karena Pokja telah menyusun Rencana Aksi sesuai dengan kebutuhan IKM secara baik. Selain itu. Kunjungan pemasaran ke industri galangan. iii) bimtek prototipe/ dokumentasi proses provinsi atau kabupaten/ kota lain. Provinsi Jawa Tengah dan industri pengolahan kakao di Kota Palu. .3 Tahun Landasan : Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Tegal 2014 mengamanatkan bahwa pemerintah wajib melakukan pemberdayaan IKM guna mewujudkan IKM Tujuan Utama : IKM-IKM komponen kapal mampu membuat komponen kapal BKI-klas. Perbaikan fasilitas pengecoran/ termokopel diperoleh melalui kegiatan fasilitasi di lapangan untuk wilayah/ industri percontohan dalam SMIDeP. Jakarta. Melalui diagnosis industri dan mendengarkan kebutuhan dari pelaku IKM. serta monitoring dan mereview rencana aksi secara periodik. dsb. yaitu Dinas Perindag. terkait dengan kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam ‘Proyek Pengembangan IKM melalui (P3DN) maka sertifikasi klas dari BKI menjadi tantangan sekaligus peluang sangat baik bagi IKM. Pelatihan manajemen keuangan (pembukuan/ manajemen arus kas) Maka sejalan dengan hal tersebut. SMIDeP ini telah memfasilitasi Fasilitasi Rencana Aksi Menanggapi kebutuhan IKM tersebut. termasuk. seperti i) perbaikan dan penerapan 3S di workshop IKM. 1 komponen dalam persiapan sertifikasi. Pokja industri komponen kapal menetapkan tujuan utama yakni. Kementerian Perindustrian melalui para pelaku IKM komponen kapal agar dapat memproduksi dan memasok produknya ke industri galangan. produk IKM harus Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (Ditjen IKM). Bimtek dan pendampingan untuk memfasilitasi sertifikasi komponen BKI. ii) pembuatan prototipe. monitoring dan evaluasi pengembangan industri lokal yang lebih baik. dalam 6. ii) pelatihan mengenai persiapan gambar untuk komponen sasaran. Provinsi 2. dan menghasilkan barang dan jasa industri untuk ekspor. antara lain industri komponen kapal 1. Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal ini berdasarkan pendekatan. Kasus-kasus ini dipandang sebagai “model fasilitasi” yang dapat diterapkan oleh produksi. kemiskinan. Studi banding ke industri galangan kapal. dengan fokus pada 12 IKM Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 yang menjadi pedoman dan acuan bagi pemerintah Model : Penguatan industri pendukung (penyuplai komponen) dan pelaku industri dalam perencanaan dan pembangunan industri. dan beberapa komponen lain yang telah diidentifikasi sebagai sasaran selanjutnya. 5. BKI. pelajaran dan praktik baik yang 4. berupaya secara mandiri pada beberapa kegiatan dukungan. temu bisnis. i) pelatihan dokumentasi proses Sulawesi Tengah. Univ. Kabupaten Tegal merupakan sentra industri pengolahan logam yang diandalkan sejak era pemerintahan kolonial Belanda Hal ini sejalan dengan arah otonomi daerah yakni pemerintah daerah adalah pelaku utama pembangunan hingga saat ini.. termasuk dokumentasi proses produksi untuk sertifikasi BKI dan iii) upaya penjualan melalui pemasaran bersama. Pemangku : Disperindag Kab. Temu bisnis dengan jasa keuangan dari lembaga lokal non-bank 8. dan fasilitasi promosi melalui pameran merencanakan. dengan prinsip ‘Kolaborasi Kerja antara semua pemangku awalnya ditetapkan untuk lima (5) komponen berdasarkan suara dari pasar (telah diperluaskan menjadi delapan komponen). Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). patroli.761 unit usaha bergerak di sektor perlogaman berupa peralatan rumah tangga. 7. pendekatan SMIDeP memfasilitasi lima wilayah percontohan dengan berbagai sektor yang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan tersebut. BI Cab. maka IKM pun terdorong untuk industri lokal kita akan lebih efektif dan berorientasi pada tujuan.

oleh karena itu diperlukan perencanaan bottom-up pengembangan industri lokal yang 7. Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Kasus Sukses dengan Pendekatan SMIDeP -2 BAB I PENDAHULUAN Industri Sasaran : Industri pengolahan kakao Lokasi : Kota Palu dan sekitarnya 1. tujuan rencana aksi. Uji coba produksi di Rumah Cokelat hingga diperoleh standar produk berkualitas layak untuk bahan baku IKM cokelat. i) perumusan tata laksana fasilitasi. Pembentukan kelembagaan IKM yang beranggotakan para IKM yang memiliki kesamaan visi untuk maju bersama dalam mengembangkan cokelat Sulteng. industri sasaran. pengembangan industri lokal. Petunjuk dimaksudkan untuk membantu pemerintah daerah dalam memberikan fasilitasi yang lebih baik untuk pengembangan industri Fasilitasi Rencana Aksi Kegiatan dukungan penting yang difasilitasi Pokja untuk mencapai kedua tujuan utama: unggulan yang berfokus pada tujuan. Promosi/ pemasaran aktif ke segmen pasar sasaran. dengan saling berkoordinasi untuk mencapai tujuan pengembangan bersama. ataupun monitoring dan review dengan para tenaga ahli pengolahan kakao. Petunjuk ini mencakup tiga (3) aspek pengembangan industri lokal. industri sasaran. Sudah terhitung 6 IKM lokal) merumuskan. secara baik ke Rumah Cokelat. Selama ini biji kakao produksi Sulawesi Tengah dipasarkan di pasar nasional (pabrik biji kakao) dan mancanegara dalam bentuk SMIDeP memobilisasi pihak pemerintah pusat dan regional. Hasil pengamatan menunjukkan. Sulawesi Tengah serta keengganan petani untuk memfermentasi biji kakao. Bersama Ditjen IKM membina dan menumbuhkan IKM cokelat baru melalui program Wirausaha Baru. Asosiasi Pengusaha Cokelat Celebes (APECC) Industri-industri sasaran SMIDeP mencakup ‘kumpulan IKM/ produsen sejenis’ di wilayah tertentu. Rumah Cokelat bersedia membeli biji kakao fermentasi di atas harga pasar.1 Latar Belakang Landasan : Industri Unggulan Provinsi (IUP) Sulawesi Tengah Tujuan Utama : 1) Pabrik pengolahan biji kakao Dinas Perindag Prov. 1. mebel (rotan). yang disusun berdasarkan pengalaman kegiatan fasilitasi di wilayah/ Pemangku : Disperindag Prov. langkah dan metode proses fasilitasi (diagnosis.2 Tujuan dan Ruang Lingkup Petunjuk dengan dua tujuan utama. 33 juta/ bulan. dan mengevaluasi Rencana Aksi cokelat baru selain anggota APECC mulai produksi dan memasarkan produk Cokelat Sulteng. dan penjualan di 2015 pengembangan industri setiap industri sasaran sebagai sarana bagi pihak-pihak terkait untuk berjalan stabil dengan angka Rp. Petunjuk ini menyediakan pedoman praktik fasilitasi industri lokal IKM sasaran. dan monitoring/ evaluasi 3. Studi lapangan ke industri kakao di wilayah lain untuk mempelajari industri pengolahan biji kakao lokal. dan menggunakan sumber daya dukungan biji mentah yang belum difermentasi. (Kemenperin)/ Direktorat Jenderal IKM (Ditjen IKM) telah dilaksanakan sejak bulan April 2013 selama 2) IKM cokelat sasaran dapat meningkatkan produksi dan pemasaran olahan cokelat Sulawesi tiga (3) tahun. bakeri. dan yang bertujuan untuk meningkatkan praktik dan kapasitas pemerintah pusat akan dilengkapi dengan pusat penjualan produk IKM (olahan Cokelat dan daerah dalam memfasilitasi pengembangan industri lokal di wilayah/ Sulteng). Rumah Cokelat peningkatan penyediaan layanan di Indonesia antara JICA dan Kemenperin telah membuka kafe minuman cokelat bekerja sama dengan IKM. kulit (alas kaki). ii) 2. 8. Perindustrian dan Perdagangan) di tingkat kabupaten/ kota dan provinsi. manufaktur produk. serta uji coba pasar dengan kuesioner untuk input komentar/ masukan dari konsumen. Pemilihan IKM sasaran yang berkomitmen kuat dalam pencapaian tujuan utama. maka Dinas Perindag Provinsi melalui Pokja menyusun Rencana Aksi 1. Palu. Bekerja sama dengan Gapoktan di Sulawesi Tengah untuk menjamin kontinuitas suplai biji kakao lokal yang difermentasi terkait dengan pengembangan IKM). Omzet penjualan produk Cokelat Sulteng dari 10 anggota APECC di Platform (untuk : Menerapkan struktur fasilitasi pengembangan industri lokal yang dibentuk di tahun 2014 telah mencapai Rp. dan 2) IKM cokelat sasaran dapat meningkatkan produksi dan pemasaran olahan cokelat. yang dapat dipergunakan. Kemenperin (Ditjen IKM.3 Definisi dan Pengertian 9. IKM juga mengacu pada produsen atau sebuah kelompok produsen bergantung pada Pencapaian dan Perkembangan konteksnya. rencana aksi). 1 . sebagai dokumen referensial bagi pemerintah daerah (khususnya Dinas segmen pasar sasaran lainnya. Asosiasi Pengusaha Cokelat Celebes (APECC). 300 juta. bimbingan teknis dan pelatihan secara terus-menerus antara tenaga operator Rumah Cokelat kali tidak menyertakan proses dialog dengan IKM di industri sasaran. BI Cab. melaksanakan. Univ. bahwa penyusunan rencana aksi pengembangan industri lokal sering Diperlukan konsultasi. Penetrasi pasar lokal komoditas termasuk makanan (kakao)/ minuman (aloe). Kepentingan BBIHP). pameran. Industri Agro. perencanaan. outlet bandara. kemajuan/ pencapaian. hotel di Kota Palu. pelaksanaan. kerajinan tangan/ fesyen (kain Latar Belakang tradisional). Penumbuhan wirausaha baru. Istilah penting yang digunakan pada Petunjuk ini didefinisikan dan/ atau dipahami sebagai berikut.. Dalam memfasilitasi industri sasaran. Hal ini mengakibatkan minimnya penyesuaian terhadap kebutuhan IKM dan 6. dan berbagai macam sektor/ Model : Hilirisasi hasil agro. 10. memonitor. SMIDeP bertujuan untuk merumuskan model fasilitasi dan Petunjuk untuk fasilitasi Tengah. Sosialisasi dan pelatihan tentang cara pengolahan batangan cokelat (couverture) dan diversifikasi olahan cokelat kepada lebih memadai dari pihak pemerintah. Guna mengembangkan industri pengolahan kakao dan menumbuhkan wirausaha baru di bidang cokelat. (Rumah Cokelat) dapat memenuhi Proyek Kerja Sama Teknis untuk Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Melalui kebutuhan bahan baku IKM cokelat (batangan liquor & couverture). Tadulako. Kelompok Kerja : Tim kerja khusus yang mengatur proses fasilitasi pengembangan industri (Pokja) lokal secara keseluruhan di setiap industri sasaran. dan iii) informasi sumber dukungan (fasilitas dukungan dan skema pembiayaan yang 4. Rumah Cokelat dapat mengolah biji kakao khas Sulteng yang telah difermentasi menjadi olahan cokelat berupa batangan liquor/ SMIDeP : Proyek kerja sama teknis pengembangan industri kecil dan menengah melalui couverture untuk memenuhi kebutuhan IKM cokelat. Untuk itu. 5. Pengajuan proposal pengadaan mesin/ peralatan pengolahan biji kakao ke Ditjen Industri Agro. yaitu 1) Pendirian dan pengoperasian pabrik pengolahan cokelat (Rumah Cokelat) di Kota Palu yang Petunjuk ini bertujuan untuk memperkenalkan praktik-praktik yang disarankan dalam fasilitasi dapat memenuhi kebutuhan bahan baku IKM cokelat (batangan liquor dan couverture) serta menyuplai produk cokelat ke pengembangan industri lokal. akibat belum tersedianya industri pengolahan biji kakao menjadi produk setengah jadi di yang tersedia di wilayah masing-masing. ASKINDO. mulai dari skala menengah. kecil dan mikro. yang Kelompok Sasaran : Pabrik pengolahan kakao (Rumah Cokelat) dan 20 IKM cokelat mencakup IKM/ produsen baik dari sentra industri dan wirausaha baru. Rumah Cokelat ini sedang proses dijadikan UPTD Provinsi. serta menyuplai produk Peningkatan Penyediaan Layanan di Indonesia (SMIDeP) antara JICA dengan Kementerian Perindustrian cokelat ke kafe. 1. Monitoring/ evaluasi Rencana Aksi secara berkala dengan berkomunikasi intensif dengan IKM sasaran untuk mencari IKM : Unit bisnis yang menggunakan berbagai bentuk teknologi pengolahan untuk solusi terhadap hambatan yang ditemui. pengolahan logam (komponen kapal). Disperindag Kota.

Lembaga dukungan : Seluruh organisasi yang bisa menyediakan kegiatan dukungan untuk pengembangan IKM/ industri. seperti kementerian. Aksi (oleh IKM Seluruh aksi (atau inisiatif) yang dilakukan oleh IKM sasaran dengan usaha/ sasaran) sumber daya sendiri yang dapat mendukung pencapaian tujuan Rencana Aksi. merencanakan.1 Pimpinan dan Keanggotaan Monitoring/ review dan : Tugas-tugas untuk mengobservasi. iii) informasi sumber daya dukungan bisnis yang dihadapi industri sasaran yang meliputi seluruh aspek rantai pasok (lembaga dukungan yang terkait dengan industri sasaran) tersedia untuk Pokja. dsb. 2.faktor yang mempengaruhi performa. skema/ program dukungan. mengimplementasikan. memfasilitasi pelaksanaan Rencana Aksi. IKM sasaran : IKM yang diidentifikasi dari industri (lokal) sasaran dan menunjukkan Gambar 2. masalah/ kendala. dan evaluasi melaporkan secara berkala mengenai kemajuan dan pencapaian Rencana Aksi dibentuk dengan kepemimpinan kuat dari Dinas Perindag. mendiskusikan. Tujuan umum : Sasaran spesifik dan terukur yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ide arah pengembangan industri lokal di masa depan bersama dengan seluruh pihak terkait yang diatur dalam 2 tahap. yaitu platform pengembangan industri lokal. dan monitoring/ evaluasi kemajuan dan pencapaian secara Lembaga di luar : Lembaga pemerintah. yaitu jangka pendek (2 tahun pertama) dan jangka menengah (5 tahun). perindustrian dan yang menangani sektor di luar perindustrian dan perdagangan. dasar komunikasi dan kolaborasi bersama antara ‘pendukung’ yang diwakili oleh Pokja dan ‘penerima manfaat’ dari industri sasaran. barang/ jasa. Dinas sektor terkait (khususnya terkait masalah bahan baku). yaitu. Pokja disarankan untuk melibatkan bidang-bidang terkait di Dinas Perindag (dan Koperasi).1 Platform Pengembangan Industri Lokal Diagnosis industri : Tugas mengidentifikasi dan menganalisis pemangku kepentingan di industri sasaran (analisis pemangku kepentingan). atau kelompok usaha bersama Struktur fasilitasi pengembangan industri lokal meliputi beberapa unsur penting. perdagangan 2. mulai dari organisasi publik (termasuk lembaga pemerintah seperti kementerian. dana. ii) fasilitator sebagai orang yang ditugaskan secara khusus untuk ikut serta pada proses tujuan Rencana Aksi. pemangku kepentingan terkait dapat mendiskusikan. memuat tujuan umum. mengonfirmasikan. dan Pemangku : Seluruh entitas yang memiliki peran penting dalam pengembangan industri melakukan monitoring/ review Rencana Aksi secara lebih baik untuk memenuhi kebutuhan industri kepentingan sasaran. IKM sasaran di industri lokal. yang pengembangan industri mengindikasikan arah. dan Pokja harus terdiri dari para pemangku kepentingan yang sangat terkait dengan industri lokal sasaran. seperti pemasok bahan baku. Industri (lokal) sasaran : Kumpulan IKM/ produsen sejenis yang difasilitasi dan dapat disebut sebagai industri inti. dalam rangka mengidentifikasi faktor . bersama. Melalui platform ini. i) Kelompok Kerja (KUB). Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitator : Orang yang ditunjuk khusus untuk terlibat dalam proses fasilitasi BAB II STRUKTUR FASILITASI pengembangan industri lokal dengan tujuan membantu Kelompok Kerja.2 Perumusan Pokja Fasilitasi : Tugas untuk mengawal Rencana Aksi pengembangan industri lokal agar Pokja sebaiknya selalu dirumuskan sebagai tim kerja khusus yang merencanakan dan melaksanakan pengembangan industri dapat terlaksana (seperti memfasilitasi setiap lembaga yang bertanggung Rencana Aksi dalam pengembangan di setiap industri lokal sasaran. 2. swasta dan akademis. seperti sumber daya manusia.2. dapat berupa kelompok IKM yang membentuk koperasi. menetapkan tujuan umum. pengembangan industri lokal. mengusulkan kegiatan dukungan untuk mencapai tujuan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) yang industri sasaran (analisis rantai pasok). dan aksi yang dilakukan oleh IKM sasaran. Dinas dan lembaga dibawahnya). para pemangku 2 3 . Rencana Aksi untuk : Dokumen perencanaan tunggal bagi setiap pengembangan industri lokal. industri pendukung/ sasaran dengan saling berkoordinasi dan melibatkan satu sama lain guna mencapai tujuan pengembangan terkait. lembaga dukungan yang terkait erat. pelaku pasar. (Pokja) sebagai tim khusus yang ditugaskan untuk mengatur seluruh proses fasilitasi pengembangan Kegiatan dukungan : Berbagai dukungan yang dianggap penting bagi IKM sasaran untuk mencapai industri sasaran. dan kebutuhan Sebagai langkah pertama. asosiasi.1 Struktur (platform) fasilitasi pengembangan industri lokal keinginan kuat untuk terlibat dalam Rencana Aksi. Dinas dan organisasi terkait). seperti identifikasi masalah dan kebutuhan memfasilitasi IKM sasaran untuk melakukan aksi sendiri) guna mencapai industri sasaran. Pokja harus mengelola proses lokal (Rencana Aksi) jawab dalam penyediaan kegiatan dukungan yang diusulkan dan fasilitasi pengembangan industri sasaran secara keseluruhan. juga bagi pemerintah untuk mengintervensi siklus fasilitasi pengembangan industri lokal untuk membantu Pokja. pemerintah daerah. informasi. tujuan umum dari Rencana Aksi.1. dan peningkatan Rencana Aksi dan struktur fasilitasi. kegiatan dukungan. cara dan tujuan pengembangan yang dimiliki dan lokal dituju bersama oleh seluruh pihak terkait. Dinas dan lembaga dibawahnya konsultatif dengan industri sasaran. teknologi/ keahlian. dan lembaga dukungan (termasuk lembaga pemerintah seperti kementerian. Platform ini akan menjadi dan faktor dukungan bisnis. yang kemudian hasilnya bertanggung jawab dalam pengembangan industri lokal sasaran harus menyusun struktur fasilitasi dielaborasikan dalam perumusan Rencana Aksi. Sumber dukungan : Seluruh ragam bentuk sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri sasaran.

otorisasi anggota memerlukan penerbitan Surat Keputusan (SK) oleh kepala pemerintah memiliki orientasi yang lebih kuat untuk memastikan kemajuan/ pencapaian Rencana Aksi.Asosiasi industri skala besar di sektor sejenis (jika dibutuhkan) Dalam rangka melakukan peran dan tugas tersebut di atas dan berbagi hasil dari proses fasilitasi diantara . dengan membagi peran dan tugas kepada fasilitator. serta memastikan komunikasi yang terus-menerus dengan IKM dan mengobservasi kemajuan Rencana Aksi.Lembaga dukungan swasta (BDS) yang aktif di industri lokal sasaran (jika dibutuhkan) para anggotanya. melibatkan Dinas provinsi sebagai anggota. menjadi penting karena implementasi peran dan tugas memerlukan pengaturan anggaran operasional.2. karena lebih dekat dengan IKM. yang akan menjadi dasar komunikasi dan kerja sama di antara lembaga yang berbeda. Pelibatan lembaga-lembaga seperti ini membantu Pokja dalam merancang kegiatan dukungan ketersediaan anggaran.3 Peran dan Tugas Para pemangku kepentingan lain (contohnya. Kandidat-kandidat berikut ini yang berorientasi pasar dan mempercepat kemajuan Rencana Aksi sejak awal. Kemudian. SK akan melakukan proses manajemen selama berjalannya fasilitasi. ruang lingkup dan konten dukungan yang dikehendaki). Karenanya.Dosen.Dinas di sektor terkait bahan baku. Penentuan Dinas tingkat provinsi atau kabupaten/ kota yang akan memimpin Pokja bergantung pada Secara umum.Konsultan Manajemen IKM (Shindan-shi) di Dinas Perindag. dan Pemerintah yg . Pokja bisa memiliki lebih dari dua (2) fasilitator sesuai dengan kebutuhan Pokja dan Rencana Aksi.Lembaga keuangan (seperti bank) (jika dibutuhkan) Petunjuk ini merekomendasikan agar Pokja dimulai dengan jumlah anggota yang sedikit.Perumusan Rencana Aksi untuk pengembangan industri lokal sasaran. dibandingkan dengan fasilitator yang dimobilisasi dari Dinas dilihat pada Lampiran 1. koperasi/pengadaan .Staf struktural dengan wawasan/ pengalaman relevan di Dinas Perindag. Pokja juga bisa mempertimbangkan mobilisasi fasilitator (sebagai tambahan) dari sumber daya eksternal seperti universitas lokal atau organisasi swasta. dan pelaku pasar Pokja harus melakukan peran dan tugas berikut selama keseluruhan proses fasilitasi untuk pengembangan utama.. mulai 2. Hal ini khususnya untuk pemangku kepentingan yang bisa memberikan perumusan dan fasilitasi Rencana Aksi. Sektor swasta . . Disarankan peran kesekretariatan dalam Pokja dipegang oleh kepala bidang industri yang bertanggung jawab terhadap . Daftar di bawah ini merupakan anggota Pokja untuk pengembangan industri lokal. relevan sebagai fasilitator yang membutuhkan kunjungan lapangan berkala dengan tujuan untuk Pokja harus dipimpin oleh Dinas Perindag kabupaten/ kota dengan berperan sebagai secretariat. asosiasi. Hal ini lebih menguntungkan jika fasilitator adalah Konsultan Manajemen IKM (Shindan-shi). untuk memonitor dan mengevaluasi. jalinan kemitraan dengan industri sasaran. dsb.Evaluasi pencapaian Rencana Aksi pada akhir. Pokja harus mengorganisasi serangkaian rapat dan/ atau Focus Group Discussion (dengan industri sasaran untuk tujuan diagnosis industri dan perumusan Rencana Aksi). Kob. asosiasi. .2./ Kota) . namun terlibat 2. . .Dinas di sektor terkait: sama seperti diatas . atau sasaran) dan bidang perdagangan. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal kepentingan berpengaruh. memimpin termasuk kepala Dinas. . lembaga keuangan dan institusi akademik. misalnya Kepala Dinas Perindag.Dinas Perindag: sama seperti diatas melaksanakan usulan kegiatan dukungan. (Prov.Lembaga dukungan teknis mengenai riset/ pengujian/ standarisasi/ jaminan kualitas .Diagnosis pada industri lokal sasaran. termasuk biaya remunerasi.3. konsultan atau sejenisnya dari universitas/ institusi akademik lokal.Konsultan atau sejenisnya dari organisasi swasta atau individual. dan selanjutnya menjadi dasar dapat dipertimbangkan sebagai fasilitator untuk pengembangan industri lokal.1 Keterlibatan awal para pemangku kepentingan di Pokja 2. Meskipun begitu. dukungan lain . Pokja sebaiknya dipimpin oleh Dinas Perindag.Identifikasi lembaga dukungan yang berpotensi untuk usulan kegiatan dukungan. kepala/ staff bidang industri (bertanggung jawab pada industri . rapat dan perjalanan untuk anggota. industri dukungan) bisa didekati sesuai kebutuhan ketika kebutuhan dukungan jelas teridentifikasi.Fasilitasi lembaga dukungan yang bertanggung jawab untuk menyiapkan. pengetahuan/ wawasan mengenai pengembangan pasar dan pemasaran.1 Kandidat Fasilitator Pokja industri alas kaki mengundang asosiasi industri alas kaki berskala besar dan pusat bisnis inkubasi Setidaknya satu fasilitator harus ditempatkan di Pokja untuk setiap industri lokal sasaran sebagai salah universitas lokal (sebagai pemangku kepentingan dalam aspek pemasaran) di Pokja dari proses perencanaan satu anggota.1 Anggota yang memungkinkan untuk Pokja Pemerintah yg . menunjang . berhasil dalam pengembangan peralatan pengolahan. staf fungsional akan lebih cenderung untuk memperbarui wawasan atas industri sasaran. atau industri lokal sasaran. UPTD terkait. Fasilitator dimobilisasi dari sumber daya eksternal bisa Dalam hal ini.Staf fungsional bidang Industri (PFPP) di Dinas Perindag. mobilisasi staf fungsional tersebut bisa memberikan keuntungan lebih dalam fasilitasi setiap proses Otorisasi resmi keanggotaan Pokja merupakan tugas pokok dalam administrasi Indonesia agar para diagnosis. Bagan 2. signifikan amatlah berharga. Pokja untuk industri pengolahan aloevera juga menunjukkan kasus yang sama di mana sekolah politeknik lokal terlibat sejak awal di Pokja dan membuahkan kemitraan yang . yaitu apakah industri sasaran diakui sebagai industri prioritas di Dinas kerja ke lapangan. staf struktural Dinas Perindag memiliki keterbatasan waktu untuk melakukan kunjungan posisi kebijakan industri sasaran.BAPPEDA (jika dibutuhkan) . Akan tetapi.Universitas lokal (jika dibutuhkan) . Perindag.Fasilitasi pelaksanaan Rencana Aksi (usulan kegiatan dukungan).2. mereka mungkin kurang lebih efektif apabila mendeskripsikan kewajiban bersama para anggota dan kewajiban individu spesifik terbiasa dengan proses administrasi dalam perencanaan/ penganggaran kegiatan dukungan.3 Penempatan Fasilitator secara proaktif dalam proses fasilitasi.Monitoring/ review Rencana Aksi secara berkala. 4 5 . staf fungsional (dan/ atau Konsultan Manajemen IKM) mungkin lebih provinsi atau kabupaten/ kota. keterlibatan awal pemangku kepentingan kunci yang Pokja harus menempatkan fasilitator yang terlibat dalam proses fasilitasi pengembangan industri sasaran. dsb. dsb).2 Otorisasi Keanggotaan dari aspek teknis dan manajemen hingga kondisi pasar.2. Otorisasi resmi IKM.Perwakilan IKM di industri lokal (dapat dalam bentuk koperasi.Pelaporan hasil monitoring/ review dan evaluasi Rencana Aksi. menganggarkan. pelaksanaan dan monitoring/ review Rencana Aksi secara konsultatif dengan anggota dari lembaga yang berbeda dapat berbagi peran dan tugas dengan selaras.) . bisa memiliki peran signifikan dalam perencanaan Rencana Aksi dan menawarkan sumber daya dukungan Fasilitator harus membantu Pokja dalam menjalankan peran dan tugasnya.Dinas Perindag. 2. industri lokal sasaran. mulai dari diagnosis. UPL. . Contoh SK dapat daya/ skema dukungan yang tersedia. Sehingga. Tabel 2. . Jika industri sasaran diakui sebagai prioritas pemerintah kabupaten/ kota. dan perumusan. .BAPPEDA (jika dibutuhkan) Lembaga . dan daerah. dan sumber kepada setiap anggota (seperti. dan perwakilan IKM di sentra (misalnya dalam bentuk koperasi.

-$)*' dan stakeholder pada aspek rantai 'LDJQRVLVLQGXVWUL pasok/ faktor dukung bisnis) 2.3 Peran dan Tugas DQDOLVD VWDNHKROGHUUDQWDL SDVRN. rapat Pokja (dan IKM ke Pokja. dimana sebagai staf struktural. dan mengarahkan diskusi Pokja dengan konstruktif dalam waktu yang sama. karena implementasi tugas dan perannya 5) Rapat Pokja memerlukan pengaturan anggaran operasional. meskipun fasilitator muda terbiasa dengan kondisi IKM dan ide realistis pada dukungan untuk IKM. harus menghabiskan sebagian waktu kerja di kantor. kendara 5DSDW 32. Otorisasi resmi bagi fasilitator juga penting. dimana staf muda di Dinas Perindag ditunjuk sebagai fasilitator 3. Selama fasilitasi.1 Langkah Keseluruhan Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal dibandingkan staf senior yang sudah berpengalaman di Dinas. dan menjadi pendengar yang baik bagi IKM. Pada kasus lain. dilanjutkan dengan tahap iii) implementasi Karena itu fasilitator muda tidak bisa bekerja secara optimal dalam tugas menjembatani kebutuhan dukungan Rencana Aksi. memfasilitasi diskusi dan menyampaikan pandangan pribadinya secara sukarela di acara formal seperti rapat Langkah fasilitasi dimulai dengan i) diagnosis industri melalui analisis pemangku kepentingan dan rantai Pokja. Fasilitator muda biasanya cenderung ragu-ragu untuk Setelah struktur fasilitasi pengembangan industri lokal dirumuskan. fasilitator harus cukup ramah dalam membina hubungan dengan IKM.3. Ketua Pokja pada khususnya disarankan untuk lebih memperhatikan hal ini. yang dijelaskan pada bab sebelumnya) secara lebih baik. oleh Pokja/ fasilitator.1 Kebutuhan untuk penempatan beberapa fasilitator BAB III FASILITASI UNTUK PENGEMBANGAN INDUSTRI LOKAL SMIDeP mengobservasi beberapa kasus. FGD dengan para IKM sasaran di industri lokal) diselenggarakan untuk mendorong proses di atas.sehingga keduanya dapat melengkapi satu sama lain untuk mengoptimalkan fungsi pemanfaatan struktur (platform.3. Salah satunya dengan menempatkan beberapa fasilitator dengan kombinasi senior yang berpengalaman dengan junior yang masih Bagian selanjutnya menjelaskan cara/ metode memfasilitasi proses pengembangan industri lokal melalui punya sedikit pengalaman. rajin dalam mengerjakan peran dan tugasnya di lapangan. Membangun 1) Diagnosis industri (melalui analisis pemangku kepentingan dan rantai pasok) hubungan saling percaya dengan IKM adalah satu dari kunci sukses Rencana Aksi. serta iv) monitoring/ review dan evaluasi Rencana Aksi.3. ii) penyusunan Rencana Aksi untuk industri sasaran. proses fasilitasi bisa dimulai. 凑 Hasil analisa (isu. Fasilitator harus ditunjuk sebagai salah satu anggota Pokja dalam Surat Keputusan yang sama terkait perumusan Pokja oleh kepala pemerintah daerah. pasok. masalah. Penempatan beberapa fasilitator bisa dipertimbangkan dengan kombinasi mobilisasi staf Dinas dan memberikan petunjuk mengenai bagaimana tahapan fasilitasi berikut dapat dilakukan secara lebih baik konsultan swasta. Bagian ini fasilitator. 2) Penyusunan Rencana Aksi 3) Fasilitasi pelaksanaan Rencana Aksi 2.2 Otorisasi Penempatan 4) Peninjauan/ review dan evaluasi pelaksanaan Rencana Aksi Pokja harus mengotorisasi penempatan fasilitator agar staf yang ditunjuk secara resmi mengenali peran dan tugasnya. SK akan lebih Tahap melalui Output efektif jika mendeskripsikan kewajiban spesifik untuk fasilitator. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Bagan 2.

Mendengarkan secara periodik masalah dan kebutuhan IKM sasaran melalui kunjungan lapangan dari Rencana Aksi 5HQFDQD $NVL )DVLOLWDVL NHSDGD kepada IKM sasaran. sehingga fasilitator ditugaskan secara rutin untuk berkunjung dan peranan penting dalam pengembangan industri sasaran. dari itu.. 3.0 凑 Kebutuhan dan permintaan dari pihak Fasilitator harus terlibat dalam proses fasilitasi pengembangan industri lokal sasaran guna membantu industri sasaran Pokja dalam melakukan peran dan tugasnya.-$ 凑 Kemajuan (kegiatan dukungan/ )DVLOLWDVL 3HODNVDQDDQ usaha sendiri yang dilaksanakan) . FGD dan kesempatan diskusi lain. Dalam hal ini. karena menjadi staf struktural di Dinas. . beberapa Pokja mengatur kondisi dimana fasilitator bisa melakukan observasi lapangan dan komunikasi dengan IKM sasaran.Fasilitasi pelaksanaan Rencana Aksi melalui identifikasi dan konsultasi kepada lembaga dukungan kegiatan dukungan.Moderasi rapat Pokja.1.1 Langkah keseluruhan dan output dari fasilitasi pengembangan industri lokal mengobservasi IKM sasaran dan kegiatan dukungan selama fasilitasi Rencana Aksi.Melaporkan setiap kunjungan ke lembaga dukungan dan IKM sasaran. dari IKM . NXQMXQJDQ SDVDU 凑 Rencana Aksi yang terdiri dari tujuan . 3HQ\XVXQDQ 5DSDW 32. :DZDQFDUD NH .2. 6 7 . Hasil diagnosis akan dikaji secara mendalam untuk memperoleh arah perkembangan melakukan monitoring secara berkala ke seluruh IKM sasaran. dan ii) masalah/ kendala dan kebutuhan dan wawancara IKM tersebut. Maka industri dan dukungan yang diperlukan/ diminta dalam merumuskan Rencana Aksi..1 Tujuan dan Ruang Lingkup sebagai contoh. Pokja untuk industri pengolahan kakao telah menetapkan monitoring penjualan bulanan untuk IKM sasaran di Diagnosis industri bertujuan untuk mengidentifikasi: i) pemangku kepentingan yang memiliki pengaruh Rencana Aksi sebagai salah satu tugas fasilitator.-$)*' utama (jangka waktu pende/ 5HQFDQD $NVL menengah). 0RQLWRULQJ5HYLHZ 0RQLWRULQJ 5HYLHZ pencapaian Rencana Aksi 3HODSRUDQ 5HQFDQD $NVL 5DSDW 32. dan untuk menjembatani antara Pokja.Observasi secara berkala mengenai kegiatan dukungan dan kemajuan/ pencapaian Rencana Aksi melalui kunjungan lapangan ke IKM sasaran. 5DSDW 32. Pokja memutuskan untuk melibatkan staf fungsional (Shindan-shi) tambahan di Dinas Perindag.-$ 凑 Rencana Aksi yang direvisi Bagan 2. meskipun begitu. tidak mudah bagi fasilitator untuk mengulang kunjungan lapangan karena kurangnya pengaturan kelembagaan (atau 3.2 Cara untuk memastikan kunjungan berkala fasilitator ke IKM SMIDeP mendorong setiap fasilitator untuk melakukan kunjungan lapangan secara berkala untuk Gambar 3.Memberikan review yang diperlukan dalam Rencana Aksi kepada Pokja. industri sasaran dan 6WXGL EDQGLQJ para pemangku kepentingan. usaha sendiri :DZDQFDUD NH . OHPEDJD GXNXQJDQ 凑 Alur kegiatan dari Rencana Aksi . dalam memperkuat monitoring kemajuan kegiatan penting pada setiap IKM sasaran.3. fasilitator harus melakukan tugas berikut. Melihat peranannya.0 yang bertanggung jawab terhadap usulan kegiatan dukungan.2 Diagnosis Industri instruksi pekerjaan) oleh atasan fasilitator dan kurangnya anggaran perjalanan. Ketua Pokja harus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung fasilitator dengan memahami posisi 凑 Laporan monitoring dari kemajuan/ yang diembannya di Pokja dan menyiapkan anggaran untuk melakukan cakupan tugas yang diharapkan. IKM sasaran. kepada Pokja. usul . dan melaporkan hasilnya. Fasilitator untuk industri mebel rotan memiliki waktu yang terbatas untuk industri sasaran.

2.1 Gambar peta pemangku kepentingan Kelompok Kerja sebaiknya menentukan nama para pemangku kepentingan yang dipetakan dan (2) Analisis rantai pasok keterlibatan/ peranan pemangku kepentingan tersebut dalam pengembangan industri sasaran. serta faktor-faktor dukungan yang mempengaruhi bisnis IKM.2 Metode. industri skala besar. seperti industri kemasan (dalam kasus industri pengolahan lidah buaya).2. analisis dalam rapat/ FGD sebaiknya dibantu oleh fasilitator. Petani bahan baku Penanaman bahan baku skala kecil. pendukung pemrosesan. terbagi menjadi empat (4) kelompok. dan menganalisisnya Pokja sebaiknya mengompilasi informasi dari hasi pemetaan pemangku kepentingan ke dalam daftar secara mendalam guna memahami akar permasalahan. kegiatan-kegiatan dukungan yang tepat untuk menangani penyebab tersebut. penjual/ saluran distribusi. universitas Dapat melakukan transfer ilmu/ pengetahuan mengenai Tidak tinggi lokal pengolahan makanan. peraturan/ kepentingan kunci/ utama. Disarankan Analisis rantai pasok harus mengidentifikasi masalah/ kendala dan kebutuhan industri sasaran bagi Pokja untuk menilai pengaruh kontribusi pemangku kepentingan terhadap pengembangan industri berdasarkan aspek-aspek rantai pasok mulai dari pengadaan bahan baku. Gambar 3. fasilitas layanan umum.2 Format daftar pemangku kepentingan (contoh) Pokja melakukan diagnosis industri yang terdiri dari i) analisis pemangku kepentingan dan ii) analisis Kelompok Stakeholder Keterlibatan/ Peranan Pengaruh rantai pasok melalui rapat POKJA. FGD dengan IKM di industri sasaran atau kunjungan wawancara Pemasok Pemasok bahan baku Pengumpulan/ pengolahan primer/ pasokan bahan baku Sangat tinggi langsung kepada IKM. Format dan Output Tabel 3. pemasok mesin (pengolahan kakao) dan desainer/ penjahit terampil (fesyen ulos).1 Pentingnya pra identifikasi industri pendukung/ terkait Hampir semua Pokja di SMIDeP mengakui perlunya kontribusi teknis atau masukan dari industri pendukung/ terkait selama fasilitasi. Tidak tinggi komponen Analisis pemangku kepentingan dilakukan dengan menggambar peta para pemangku kepentingan Pemain Supermarket Saluran pemasaran kepada kelas menengah/atas dalam Tidak tinggi berdasarkan pengkategorian para pemangku kepentingan utama/ kunci terkait industri sasaran yang pasar jumalh besar / sistem konsinyasi. sehingga dalam Rencana Aksi dapat diusulkan pemangku kepentingan dari industri sasaran. jarang Tidak tinggi digunakan sebagai sumber pinjaman modal kerja. Di antara para pemangku kepentingan. Kelompok Contoh Glossary shops Saluran pemasaran kepada kelas menengah/bawah Tinggi Pemasok input Pemasok/ petani bahan baku. Industri tersebut dapat mencakup desain/ industri kemasan. logistik. Jika tidak diidentifikasi di wilayah itu. pemroses bahan baku. dan contoh dapat dilihat pada Badan-POM/ Dinas Layanan lisensi/ perijinan produk mamin dan konsultasi Tinggi Lampiran 2. penyedia layanan desain/ kemasan/ uji. pemasok suku cadang/ mesin/ peralatan. pemasok bahan input lainnya. untuk memahami kondisi sebenarnya saat ini dari industri sasaran. Pemain pasar Pembeli. agen/ distributor. ketersediaan industri pendukung/ terkait biasanya terbatas. Bagan 3.2. Pokja harus mengidentifikasi masalah/ kendala yang dianggap faktual dan penting. sebagai berikut.2. 8 9 . Contoh analisis rantai pasok terdapat pada Lampiran 3. Lembaga pendukung Lembaga publik terkait riset dan pengembangan. dan kegiatan (yang dapat Industri Pemasok mesin Manufaktur/ suplai/ perawatan dari peralatan Tinggi mendorong pengadaan produk dari industri sasaran). industri kemasan/ percetakan layanan desain. lembaga Lembaga Baristand Provinsi Layanan uji kualitas (berdasarkan standar Indonesia)/ Tinggi akredetasi standar/kualitas. Kemudian. dalam perumusan Rencana Aksi dan analisis rantai pasok pada tahapan selanjutnya sebagai narasumber.2. pengolahan kakao). Khususnya di luar Jawa/ Bali. dll. perantara/ intermediat keuangan. laboratorium uji. dan riset pengembangan produk BDS swasta. dan menandai pemangku kepentingan yang memiliki pengaruh tinggi sebagai pemangku pemasaran. dll.1 Kategori pengelompokan para pemangku kepentingan penjualan (grosir). Kesehatan GMP/higienitas. Pokja sebaiknya memberikan perhatian lebih terhadap ‘industri pendukung/ terkait’. sumber daya manusia dan akses pembiayaan. bahan baku prosesor/ arranger (mebel rotan. Para pemangku kepentingan dengan pengaruh tinggi sebaiknya diundang kelembagaan. /terkait Produsen material Percetakan/ pasokan bahan kemasan (cardboard) dengan Sangat tinggi Industri pendukung/ Pemasok mesin/ peralatan. seperti infrastruktur. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal 3. dengan jumlah pesanan kecil/ sistem konsinyasi. Tinggi (1) Analisis pemangku kepentingan Pedagang aksesoris/ Pasokan aksesoris/ suku cadang metal siap pakai. Di bawah ini adalah ilustrasi dari pemetaan pemangku kepentingan. Pokja harus menentukan masalah/ kendala yang faktual dan penting untuk industri sasaran dengan menggunakan matriks di bawah ini. Pengalaman SMIDeP mengindikasikan bahwa Pokja yang mengidentikasi dan melibatkan industri pendukung/ terkait pada tahap awal dapat memberikan kemajuan dan pencapaian Rencana Aksi yang baik. dll. dll. dll. baru. Diskusi dan Input dalam bentuk siap pakai dengan hutang tunggakan. produksi/ pengolahan hingga sasaran. Distributor Saluran distribusi mencakup Surabaya dan area Sangat tinggi sekitarnya dengan pesanan jumlah besar/ sistem Tabel 3. sehingga industri sasaran sering kali kesulitan dalam mengakses produk/ jasa dari industri pendukung/ terkait dengan biaya terjangkau. fesyen ulos. maka disarankan agar Pokja dapat mencari potensi tersebut di daerah lain. penyedia pendukung komposisi material. LSM. sekolah kejuruan (yang menyelenggarakan kursus terkait industri sasaran). institusi pendidikan. terkait hulu. Bank komersial Umumnya menggunakan deposito tunai.

SDM .3. Dapat Diukur. dsb. Informasi pariwisata untuk promosi. 10 11 . idepengembangan produk/pasar. atau perluasan pasar ke tingkat nasional. Kegiatan dukungan yang dibutuhkan (untuk IKM sasaran guna mencapai tujuan) Berdasarkan hasil pengamatan. Pokja harus menetapkan Faktor dukung tujuan umum (dengan hasil yang diharapkan) di Rencana Aksi melalui konsultasi dengan industri sasaran. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Rantai pasokan Kondisi selama ini Isu / Kendala Kebutuhan Dalam merumuskan Rencana Aksi. Pada kasus ini. yang memungkinkan).1 Standar konten Rencana Aksi untuk pengembangan industri lokal Fasilitator juga disarankan untuk mengunjungi dan mewawancarai IKM yang diundang secara individual sebelum rapat/ FGD dan memperoleh ide arah pengembangan sebelumnya. Format dan Output Agar industri sasaran dapat mengungkapkan aspirasi/ kebutuhan pengembangan. pembeli. Infrastruktur tahun).1 Contoh Tujuan Umum Rencana Aksi para anggotanya terlebih dahulu. Pokja dapat menggambar peta rantai pasok industri sasaran. dengan i) menentukan tujuan umum terekspos keluar.3. dari masing-masing IKM dapat membantu dalam memastikan validitas analisis. pengembangan produk baru. Menantang namun cukup Realistis (khususnya untuk jangka pendek). pendek harus didefinisikan sebagai milestone untuk mencapai tujuan jangka menengah. Rencana Aksi harus dianggap sebagai dokumen perencanaan tunggal untuk setiap tidak terukur secara obyektif. IKM mencapai Tujuan Umum. sering ditemukan pihak terkait termasuk Pokja. baik untuk jangka pendek (2 tahun) maupun jangka menengah (5 tahun sesuai dengan standar koperasi) di industri. sehingga diperoleh gambaran sedangkan tujuan jangka menengah akan lebih luas dan berorientasi harapan. 3. lembaga dukungan. Industri fesyen ulos di Untuk meningkatkan penjualan produk dengan aplikasi Ulos (kerajinan Kelompok Kerja juga direkomendasikan untuk mengunjungi beberapa perwakilan IKM guna memperoleh Kabupaten Samosir. pesaing dan pasar (potensial). Tujuan Umum yang akan dicapai (baik untuk jangka pendek maupun jangka menengah) beberapa kasus. iii) mengusulkan kegiatan dukungan industri sasaran untuk IKM mengetahui teknologi terbaru dan tren pembeli/ konsumen. Jawa Tengah kapal klas BKI dan sebagai pemasok pada industri galangan kapal. Rencana Aksi menjadi tidak bermakna atau dapat dievaluasi. Kabupaten Tegal. pengadaan bahan baku. Produksi (1) Tujuan umum Pemasaran Hal ini merupakan bagian paling penting dalam Rencana Aksi. rapat/ FGD mungkin terlalu resmi untuk IKM secara proaktif menyampaikan pendapat. melalui FGD dan wawancara langsung dengan para IKM dan para pemangku kepentingan kunci. Pada 2. Pertama-tama. . usulan kegiatan dukungan di rencana aksi memiliki konsistensi/ kontribusi yang lemah terhadap tujuan. Kondisi terkini industri lokal sasaran sendiri tidak memungkinkan setiap peserta untuk mengutarakan pendapat akibat keterbatasan waktu.1 Tujuan dan Ruang Lingkup segmen pasar modern lokal. dan iv) mengindikasi aksi (atau inisiatif) yang dilakukan IKM sasaran. peningkatan kualitas produk. industri sasaran. Tabel 3. dsb. yang mengindikasikan arah/ skenario pengembangan yang dituju bersama oleh semua inovasi industri.2. bekerja sama dengan informasi spesifik-individu. kecuali IKM Pokja harus merumuskan Rencana Aksi untuk industri sasaran. Kelembagaan depan. Gambar 3. IKM biasanya memilih untuk menjaga status-quo dibandingkan dengan 5. Aksi yang dilakukan oleh IKM sasaran. bisa memperoleh wawasan/ informasi yang bermanfaat untuk diskusi tujuan Rencana Aksi. Contoh peta juga dapat dilihat pada Lampiran 3. Tanpa tujuan terukur yang spesifik. Bagian Distribusi bahan dibawah dapat menjadi panduan bagaimana Rencana Aksi yang layak diformulasikan. jika Sebelum menyusun matriks di atas. Fasilitator dapat membantu diskusi ini untuk memperoleh aspirasi/ kebutuhan dari periode perencanaan di Indonesia). industri sasaran dan pemangku kepentingan. Dianjurkan agar Pokja dapat mengorganisasikan pertemuan untuk melakukan analisis pendahuluan antar Bagan 3. Pokja dapat mengatur kunjungan belajar (dengan hasil yang diharapkan) yang ingin dicapai oleh industri sasaran. dan mengetahui Industri komponen kapal di Untuk memampukan IKM komponen kapal memproduksi komponen dukungan yang diperlukan. mengilustrasikan aliran (produk jadi. Peraturan dalam 2 tahapan. melakukan tantangan baru yang diikuti dengan tindakan beresiko. Sumatera tangan/ aksesoris) di pasar wisatawan dan lokal. Objektif (secara kuantitatif. karena dalam rapat/ FGD itu 1. Pada kasus seperti itu. Tujuan umum Rencana Aksi akan ditetapkan . Ditjen IKM. 3. seperti segmen pasar. pertama untuk jangka pendek (2 tahun pertama) dan kedua untuk jangka menengah (5 . dan menembus 3. ii) mengidentifikasi IKM sasaran ke industri sejenis namun lebih maju. Rapat Pokja Bahan baku dan FGD tersebut bisa diselenggarakan beberapa kali hingga Rencana Aksi diterima oleh kedua belah pihak yaitu Pokja dan industri sasaran. seperti peningkatan daya saing. pemasok. Dengan melakukan hal tersebut. Pokja sebaiknya mengorganisasi rapat dan/ atau FGD dengan industri sasaran untuk memperoleh Rencana Aksi berdasarkan konsultasi dengan industri sasaran. menentukan "Produk Apa yang akan dikembangkan atau ditingkatkan untuk Segmen Pasar/ Konsumen Mana. IKM peserta.3 Penyusunan Rencana Aksi Industri pengolaha kakao di Untuk memproduksi produk cokelat secara terus menerus dengan Provinsi Sulawesi Tengah memanfaatkan olahan couverture dari biji cokelat lokal.2 Metode.3.2 Format matriks analisis rantai pasok Tujuan Rencana Aksi dapat didefinisikan secara Spesifik. segmen pasar. Berdasarkan i) pemangku kepentingan utama dan ii) masalah/ hambatan dan kebutuhan yang diidentifikasi melalui analisa rantai pasok. contohnya. bahan baku). dalam rangka membuat di industri untuk mengikuti Rencana Aksi. Perencanaan dan diskusi dapat dibantu oleh fasilitator. Tujuan yang kurang jelas diutarakan. tujuan jangka akurat dari rantai pasok industri. atau ke pasar potensial. kemudian hasil yang diperoleh didiskusikan dan diverikasi lebih lanjut Di bawah ini merupakan contoh Tujuan Umum (tujuan jangka pendek dari industri sasaran SMIDeP). Pokja harus mengatur Perencanaan Rencana Aksi untuk pengembangan industri lokal setidaknya harus mencakup konten rapat dan/ atau FGD dengan mengundang sejumlah IKM (atau perwakilan IKM dari setiap asosiasi/ berikut.3. dan Bagaimana cara mencapainya". produk setengah jadi. Pokja harus merumuskan Rencana Aksi untuk pengembangan Pokja sangat disarankan untuk menghindari penetapan tujuan yang tidak diutarakan secara spesifik dan industri sasaran. IKM sasaran (di industri lokal) yang terlibat di Rencana Aksi 4. Akses keuangan Pokja harus berdiskusi dengan industri sasaran mengenai kebutuhan atau ide arah pembangunan di masa . Utara perancang lokal untuk pengembangan desain dan dengan industri skala omset dan jumlah pegawai/pekerja. penjualan. 3. perluasan pasar. Sehingga. IKM cenderung memiliki sedikit ide mengenai arah pengembangan. pada dokumen perencanaan untuk pengembangan industri lokal.

tujuan. asosiasi. karena IKM cenderung memprioritaskan berjalannya bisnis dengan lancar atau memperoleh kemampuan/ input yang dibutuhkan dalam mengoperasikan bisnis berkelanjutan terlebih dahulu. Pokja dapat menerjemahkan kebutuhan dan permintaan yang diamati selama rapat/ FGD dengan industri sasaran. . kunjungan belajar ini menyediakan peluang. namun hanya 5 IKM yang merespon . Badan Klasifikasi Indonesia (BKI) dan galangan kapal guna mengetahui prosedur dan pengaturan untuk sertifikasi serta peluang pasar beberapa jenis Ketiga. Berbagai dukungan yang memungkinkan ditulis di bawah ini. akses keuangan.3. kecuali untuk . IKM-IKM tersebut membentuk . ke-20 produsen tersebut berkeinginan untuk membentuk kelompok usaha bersama guna menjalankan bisnis kerajinan tangan bersama. Pokja harus mengatur rapat ini dengan mengundang para pemangku kepentingan utama (yang diidentifikasi dalam diagnosis industri) untuk mengusulkan kegiatan dukungan yang 12 13 . Faktor dukung Mebel Rotan Awalnya teridentifikasi seluruh 20 IKM yang aktif . Industri IKM sasaran Kegiatan Lembaga Fesyen ulos Awalnya teridentifikasi 30 produsen dari beberapa kelompok penenun ulos oleh Rantai pasokan Penanggung Periode Disperindag. 12 IKM aktif terlibat dalam Rencana Aksi.2 Format Matriks Usulan Kegiatan Dukungan aktif terlibat dalam Rencana Aksi. juga agar pemerintah dapat mengintervensi stagnanasi Kunjungan belajar ini memungkinkan Pokja untuk memperoleh input yang dibutuhkan untuk mengembangkan siklus bisnis yang dihadapi oleh industri sasaran.3. lembaga yang bertanggung jawab.3. SDM Rencana Aksi dengan positif. dan bertambah 10 penjahit lokal untuk menjamin keberadaan pengrajin Judul Isi Tujuan Sasaran Jawab terampil potensial. sasaran. tidaklah mudah bagi IKM untuk mendapat ide arah pengembangan. Akses keuangan Pengolahan Menargetkan 21 IKM yang berminat untuk terlibat dalam Rencana Aksi. Aksi di SMIDeP. IKM sasaran pada Rencana Aksi dapat berupa kelompok IKM yang membentuk koperasi. periode pelaksanaan. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Bagan 3. Jika industri sasaran berada pada tahapan awal pengembangan bisnis (mis. Bahan baku Komponen Awalnya menargetkan 25 anggota IKM dari koperasi industri komponen kapal dan Distribusi bahan kapal ditambah IKM yang berminat di luar koperasi. sekitar 25 IKM Gambar 3. Pokja memutuskan untuk melakukan (3) Kegiatan dukungan kunjungan belajar ke lembaga akreditasi sertifikasi komponen kapal. jumlah keseluruhan IKM sasaran untuk setiap Rencana Aksi berkisar Pokja industri komponen kapal menghadapi kesulitan dalam mendata kegiatan dukungan yang dibutuhkan antara 20 sampai 30 IKM (atau produsen). proses start-up). Aksi.3 IKM sasaran dari setiap industri sasaran di SMIDeP Setiap usulan dukungan harus mencantumkan setidaknya: judul. Kemudian. Pokja bisa menyarankan tujuan pengembangan untuk menantang industri sasaran (khususnya untuk jangka pendek) dengan skenario pengembangan. Pokja juga harus menyeleksi IKM dengan mengamati tingkat keterlibatan dan kontribusi pada proses diagnosis dan perumusan Rencana Aksi.1 Cara dukungan yang memungkinkan Bagan 3. Kegiatan dukungan harus diusulkan pada i) setiap aspek Rencana Aksi dan juga membuat Memorandum bersama BKI untuk kesuksesan sertifikasi komponen sasaran. atau kelompok usaha bersama (KUB).3. Infrastruktur Alas Kaki 40 IKM terpilih (dari 100 IKM di daerah sasaran) yang mewakili kelompok bisnis yang aktif (berdasarkan pengamatan lapangan oleh Disperindag). Kemudian.2 Kunjungan pendahuluan ke pasar potensial/ lembaga dukungan teknis Berdasarkan pengalaman SMIDeP. Kemudian. konten. meskipun tujuan disetujui IKM sasaran. usulan kegiatan dukungan Dibawah ini menjelaskan bagaimana IKM sasaran diidentifikasi dan difokuskan selama pelaksanaan Rencana harus tergabung dalam Rencana Aksi dan tersusun dalam bentuk matriks di bawah ini. sepanjang kelompok tersebut dianggap bersemangat untuk mencapai tujuannya. sasaran untuk mencapai tujuan Rencana Aksi. Produksi Pengolahan Awalnya teridentifikasi seluruh 20 IKM yang berpartisipasi dalam program Pemasaran Kakao kewirausahaan sebelumnya. pengembangan (atau perbaikan) kebijakan/ lembaga dan pengembangan infrastruktur. Kesimpulannya. Sekitar 20 IKM dan anggota Pokja mengikuti kunjungan. Kemudian. dan ii) setiap Kemudian. Pokja harus mengidentifikasi IKM sasaran dari industri sasaran yang menunjukkan keinginan untuk berbagi dan berpartisipasi dalam mencapai tujuan Rencana Aksi. Pokja harus mengusulkan dan mendata kegiatan-kegiatan dukungan yang dibutuhkan IKM komponen selama perumusan Rencana Aksi. Akhirnya. Peraturan asosiasi untuk aksi bersama. dimana pemangku kepentingan dapat berbagi Rencana faktor dukungan bisnis seperti pengembangan sumber daya manusia (SDM). BKI ke industri galangan kapal. Paling tidak satu atau beberapa IKM terkemuka (yang berpengaruh) dapat diidentifikasi di antara IKM/ kelompok yang memimpin dan mengkoordinasi lainnya dan menunjukkan aksi (atau inisiatif) untuk yang lainnya. Dalam kasus tersebut. 12 diantaranya membentuk asosiasi untuk aksi bersama dan aktif terlibat dalam Rencana Aksi. Meskipun setiap IKM yang mau berkomitmen terhadap Rencana Aksi dapat diterima sebagai sasaran. sumber anggaran. Kelembagaan Aloevera beberapa yang menunjukkan kurang tertarik. dan pemasaran/ promosi. Pokja disarankan untuk memulai fasilitasi dengan beberapa untuk mencapai Tujuan Umum Rencana Aksi: yaitu memampukan IKM memproduksi komponen kapal klas IKM yang mudah dihubungi. (2) IKM sasaran Kedua. rantai pasok yang terdiri dari bahan baku. Akhirnya. produksi/ pengolahan. Gambar 3. .

Fasilitator dapat membantu . 3. Pokja dapat mengumpulkan informasi mengenai kegiatan dukungan yang berkaitan Bagan 3. seperti berikut ini. IKM mengusulkan pembangunan toko. . dan memasukkan aksi tersebut kedalam format matriks. IKM sasaran disarankan untuk mempertimbangkan aksi (atau inisiatif) IKM sendiri yang membantu pencapaian tujuan. Aksi (atau Gambar 3. Hal ini membutuhkan biaya untuk Produksi sertifikasi setiap produk. keikutsertaan dalam pameran. sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pabrik dan untuk memperoleh sertifikat dari lembaga akreditasi yang terotorisasi. yang telah dijadwalkan (atau dianggarkan untuk tahun anggaran kedepan) oleh para pemangku kepentingan. Kegiatan Lembaga Uji laboratorium untuk Fasilitasi uji laboratorium prototipe/ bahan material sesuai permintaan oleh Rantai pasokan Penanggung Periode Judul Isi Tujuan Sasaran Jawab prototipe/ bahan material lembaga sertifikasi harus dipersiapkan dengan biaya yang terjangkau (atau gratis. atau perbaikan fungsi lembaga sentra (seperti koperasi. bersama.Perbaikan atau standarisasi produk yang sudah ada (prototipe) Melanjutkan penyusunan Rencana Aksi (versi awal).Pengembangan produk baru atau diversifikasi produk (prototipe) 3. dan telah beroperasi secara terus menerus. Fasilitator memiliki peran penting dalam memfasilitasi lembaga dukungan . dengan melibatkan lembaga tersebut dari tahap awal Rencana Aksi. Jika konten dukungan yang dijadwalkan oleh pemangku kepentingan utama IKM sasaran di industri pengolahan kakao aktif terlibat sejak tahap perencanaan Rencana Aksi dan mengadakan rapat secara periodik dengan Pokja dalam rangka berbagi kemajuan dan kebutuhan (atau memiliki konsistensi dengan tujuan umum (dan/ atau kebutuhan IKM sasaran).4 Pelaksanaan Rencana Aksi . SDM terhadap kegiatan dukungan.1 Tujuan dan Ruang Lingkup . atau unit dukung usaha lainnya) Secara paralel. Kemudian. Bahan baku Audit/ konsultasi oleh Proses audit biasanya mencakup dokumen proses produksi (kualitas lembaga sertifikasi manual). mempromosikan produk cokelat mereka. IKM setuju untuk membentuk asosisasi untuk bersama-sama dalam Rencana Aksi. Dari pengalaman SMIDeP di industri komponen kapal. Aksi oleh IKM sasaran sangat penting dalam mencapai tujuan. (hasil yang diharapkan) Bimbingan teknis persiapan Tenaga ahli yang dapat memberikan saran/ konsultasi langsung harus IKM-IKM sasaran pembuatan prototipe/ ditempatkan dalam periode waktu tertentu agar IKM dapat melakukan spesimen material pembuatan prototipe secara terus menerus sesuai gambar/ standar. Asosiasi tersebut menyarankan dan melakukan berbagai usaha Bagan 3. Contoh Rencana Aksi untuk pengembangan industri lokal dapat dilihat di Lampiran 4. Pokja harus memulai dan melanjutkan fasilitasi . Pokja harus memfasilitasi IKM sasaran untuk mengidentifikasi aksi (atau inisiatif) apa yang penting Sosialisasi standar Diatur oleh lembaga akreditasi yang terotorisasi untuk mengenalkan dalam mencapai tujuan umum dari Rencana Aksi.Partisipasi pada pameran perdagangan melakukan usulan kegiatan dukungan. Pertama-tama. paket kegiatan dukungan berikut dapat menjadi rekomendasi bagi industri pendukung sejenis untuk melakukan sertifikasi. seperti yang diindikasikan di bawah. Infrastruktur (4) Aksi oleh IKM sasaran Perlu dicatat bahwa penyediaan kegiatan dukungan saja tidak akan mendorong IKM mencapai tujuan Aksi oleh IKM umum di Rencana Aksi. bahwa salah satu tantangan bagi industri bandara lokal. persiapan media PR.Pengadaan bahan baku berkualitas yang dibutuhkan untuk memperbaiki standar produk . Hal ini sangat disarankan untuk memastikan . Misi pemasaran untuk Mengorganisasi IKM dalam mendekati pengguna (pabrik) potensial Pemasaran komponen bersertifikat komponen tersertifikasi sebagai peluang temu bisnis. dsb). Akses keuangan dalam melaksanakan tugas yang ditetapkan sesuai jadwal. standar. Pelatihan/ lokakarya gambar Diatur untuk IKM agar dapat mempersiapkan gambar teknis dan dokumen teknis dan dokumentasi proses produksi untuk komponen berdasarkan standar yang harus disetujui proses produksi (kualitas oleh lembaga akreditasi sebelum pembuatan prototipe dan kegiatan Tujuan Umum manual) pengujian. .Pendirian dan pengoperasian. proses dan syarat sertifikasi. baik untuk jangka pendek maupun jangka menengah.3.5 Aksi yang dilakukan industri sasaran (pengolahan kakao) dengan industri sasaran. Toko ini berhasil direalisasikan di Kasus industri komponen kapal di SMIDeP menunjukkan.Persiapan alat dan media pemasaran/ promosi .Kunjungan promosi ke pembeli/ saluran penjualan sendiri untuk mencapai tujuan umum.3. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal dibutuhkan IKM sasaran dalam mencapai tujuan umum Rencana Aksi.4 Paket dukungan yang disarankan untuk tantangan sertifikasi promosi dengan biaya sendiri atau dengan mencari dana dari pihak ketiga. Kelembagaan komitmen dari lembaga dukungan. dan berkomitmen melakukan aksi tersebut. jika mengantisipasi revisi prototipe). hal ini bisa dimasukkan permintaan) untuk Rencana Aksi. dan mendorong IKM sasaran untuk melakukan aksi (atau inisiatif) . kelompok usaha diskusi Pokja selama proses pengusulan.Aplikasi dan usaha untuk sertifikasi produk dan praktek manufaktur/ manajemen pelaksanaan Rencana Aksi dengan membantu masing-masing lembaga yang bertanggung jawab untuk . dan hasil uji laboratorium pada produk prototipe (kinerja/ ukuran) Distribusi bahan terotorisasi dan bahan material (komposisi). kafe.4. Faktor dukungan Amatlah penting untuk memastikan koordinasi antara Pokja dengan lembaga yang bertanggung jawab .3 Format Matriks Rencana Aksi inisiatif) yang dilakukan oleh IKM sasaran dapat mencakup berbagai macam konten. Pada saat Sasaran perumusan Rencana Aksi. hotel.Pembukaan dan toko operasional/ ruang pamer 14 15 .3. Keikutsertaan secara aktif pada Rencana Aksi pendukung lokal dalam memasuki pasar pemasok komponen asli adalah memastikan produksi terstandarisasi dipimpin oleh beberapa IKM terkemuka yang berkeinginan kuat untuk maju dalam industri. Peraturan . Usaha promosi ini termasuk kunjungan pasar ke pembeli/ pengguna potensial (supermarket. dsb.

Aksi untuk menjawab kebutuhan diversifikasi saluran penjualan/ segmen pasar yang disampaikan oleh industri sasaran. Pokja perlu mengidentifikasi lembaga terkait yang dapat bertanggung jawab (lembaga dukungan yang bisa memberikan dukungan yang diusulkan) dan ketersediaan sumber dana/ anggaran pada iii) Menentukan peran/ tanggung jawab lembaga terkait pada Surat Keputusan (SK) oleh kepala masing-masing usulan kegiatan dukungan. perkebunan. sasaran.4. konten. pengembangan jaringan yang dibutuhkan. sebagai berikut. Salah satu cara yang paling mungkin bagi Pokja untuk Menanggapi usulan dukungan i) dan ii). selaku pemimpin Pokja) untuk kunjungan pasar ke pembeli. tujuan. penting untuk menghidari pengadaan dukungan secara ad-hoc tanpa mempertimbangkan hubungan antar dukungan.1 Contoh baik fasilitasi kerja sama ke lembaga dukungan i) Mana saja usulan kegiatan dukungan. sehingga IKM/ produsen termotivasi i) Membuat ketua Pokja (Kepala Dinas Perindag) mendekati kepala lembaga yang terkait dalam rangka untuk memperbaiki produk dan mencari saluran penjualan dalam jangka waktu yang relatif pendek. perhutanan. Pokja harus sesuai dengan Rencana Aksi. penyelaraskan tujuan/ sasaran/ pemilihan waktu pelaksanaan dukungan tidak memiliki saluran penjualan.3 Mengakomodasi pendekatan 'trial-&-error' pada Rencana Aksi Seringkali beberapa kasus kegiatan dukungan penting yang membutuhkan kerja sama dengan pemangku Kedua Rencana Aksi untuk industri pengolahan kakao dan fesyen ulos menargetkan IKM/ produsen pada kepentingan di luar perindustrian dan perdagangan tidak dapat diimplementasikan. Pokja Mengenai hal i) diatas. hal ini tidak dibutuhkan. Pada awalnya. sukses secepat mungkin dalam jangka pendek. 16 17 . Oleh karena itu.4. program dukungan yang diusulkan untuk pengembangan produk berhasil Kemudian. memprioritaskan fasilitasi kegiatan dukungan yang memiliki efek demonstratif kepada IKM sasaran dan Pokja kemudian mempersiapkan konsep dan output yang diharapkan dari usulan program.4. dsb. dan kemudian membantu lembaga tersebut untuk memfasilitasi Rencana Aksi memberikan tantangan pengembangan produk atau pasar baru). dimana pengembangan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaannya.2 Metode dan Output ii) Mempersiapkan Memorandum of Understanding (MoU) antara Dinas Perindag (atau ketua Pokja) dengan lembaga terkait dalam rangka memastikan kerja sama selama pelaksanaan Rencana Aksi. Bagan 3. dilaksanakan oleh Dinas tersebut yang tidak hadir pada rapat Pokja kecuali pada tahap awal. misalnya. yang dapat dimulai terlebih dahulu. Bagan 3. Pokja untuk start-up bisnis ini mengatur kesempatan pemasaran/ promosi secara Dalam memfasilitasi kerja sama dengan pemangku kepentingan di luar perindustrian dan perdagangan. yang mengikuti. bersamaan dengan memfasilitasi dukungan teknis untuk perbaikan produk. Pokja disarankan untuk menyediakan rangkaian peluang uji pasar seperti pameran.). Pokja dapat menerapkan pendekatan trial-&-error selama Rencana Aksi (terutama jika kandidat untuk meminta kolaborasi. (3) Mempertimbangkan keterkaitan antar kegiatan dukungan Untuk dukungan dengan status iii). Pokja/ fasilitator harus mengidentifikasi dan mendekati lembaga kandidat terlebih dahulu. Pengembangan desa ulos pada Rencana Aksi belum dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten. Pokja industri alas kaki mengusulkan serangkaian program dukungan pengembangan produk dalam Rencana ii) Mana saja kegiatan dukungan. yang bisa mengakomoasi pendekatan trial-&-error. Biasanya hanya beberapa pameran yang dipersiapkan untuk bisnis pemula tetap menjadi isu penting. atau. telah proses start-up. Jika masalah ini tidak diatasi dapat menyebabkan terhambatnya pencapaian tersebut sebagai kesempatan promosi. Pengembangan jaringan dengan kelompok petani kakao diasumsikan iii) Tidak dapat mengidentifikasi lembaga yang bertanggung jawab. Bagan 3. dan Perindag). dan belum terjamin anggaran yang asosiasi hotel lokal telah menekankan kebutuhan pengembangan atraksi wisata yang sejenis. dan mendekati pemangku kepentingan agar terlibat dalam Rencana Aksi secara berkelanjutan dan menghasilkan kasus Universitas Ciputra dan Aprisindo untuk meminta kerja sama dan umpan balik atas konsep program tersebut. Cukup menantang bagi Pokja (Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Meskipun. seperti. dan bertujuan untuk mengidentifikasi lembaga dukungan yang bisa membantu pengembangan produk/ dukungan promosi dengan cara berorientasi pada hasil. Pokja harus mempertimbangkan kegiatan dukungan yang mengikuti sehingga output dari memberikan output yang nyata seperti permintaan transaksi dengan merek desainer fesyen terkenal dan dukungan awal bisa terefleksi dengan baik dan/atau dimanfaatkan dalam dukungan selanjutnya. temu bisnis. dan/atau mempersiapkan pelaksanaan (atau mengusulkan anggaran yang dibutuhkan). Meskipun begitu. tingkat kesiapan. pariwisata. Pokja/ fasilitator harus mengidentifikasi dan mendekati lembaga Pada akhirnya. IKM tidak melakukan bisnis secara komersil dan dianggarkan atau dilaksanakan. sering terjadi. Pokja industri pengolahan kakao dan industri fesyen ulos telah mengusulkan kegiatan dukungan yang ii) Teridentifikasi lembaga yang bertanggung jawab dan akan mengusulkan atau meminta anggaran membutuhkan kerja sama kuat dengan Dinas terkait (selain Dinas Perindag). dan sering terobservasi dalam SMIDeP. Pokja bisa juga yang sebelumnya tidak memberikan hasil nyata. Dalam hal ini. Menanggapi status dukungan iv). namun terjamin anggaran yang sebagai tanggung jawab Dinas Perkebunan provinsi (salah satu anggota Pokja). dan pengembangan desa ulos untuk memikat perhatian turis kepada ulos. memperoleh kolaborasi dan kontribusi dari kementerian. produk (dalam bentuk prototipe) dan pengembangan pasar (dalam bentuk uji pasar) diulangi secara siklik (2) Kerja sama dengan lembaga di luar perindustrian dan perdagangan (komentar pembeli/ pengguna menjadi dasar atas perbaikan produk/ prototipe lebih lanjut). yang diharapkan dapat berkonsultasi langsung dengan kepala lembaga terkait dan meminta intervensi kepala pemerintah daerah. kelompok petani kakao untuk memastikan pasokan buah berkualitas. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal 3. Hal ini pengembangan saluran penjualan/ segmen pasar baru. (1) Pendekatan ke lembaga yang bertanggung jawab terhadap usulan dukungan atau. meskipun iv) Tidak dapat mengidentifikasi lembaga yang bertanggung jawab. Status usulan kegiatan dukungan bervariasi berdasarkan pemerintah daerah pada perumusan Pokja. menjalin kerja sama dan/ atau pengaturan anggaran yang dibutuhkan. yang baru belajar keterampilan produksi. dalam interval dua tahun sekali.4. untuk menerima umpan balik atas produknya dan untuk mengembangkan pembeli/ konsumen yang stabil. Pendekatan trial-&-error dianggap signifikan. Kasus seperti ini dibutuhkan. berselang-seling sehingga IKM/ produsen tersebut dapat menerima umpan balik atas produknya dan bertemu Pokja disarankan untuk melakukan pengaturan sebagai berikut: konsumen/ pembeli potensial kapan saja produk tersedia. Pokja harus memulai dengan kegiatan dukungan berkepentingan dan tingkat (Dinas Perindag dan Koperasi Kota) memiliki ketakutan untuk mengulangi dukungan pengembangan produk urgensi yang relatif tinggi dalam hal kontribusi terhadap tujuan umum Rencana Aksi. Persepatuan Indonesia) sebagai pemangku kepentingan paling relevan di bidang ini. Pokja/ fasilitator harus mendekati lembaga dukungan yang memfasilitasi lembaga di luar perindustrian dan perdagangan adalah dengan keterlibatan ketua Pokja (Dinas teridentifikasi dalam rangka membantu lembaga tersebut merancang metode. mempertimbangkan beberapa hal berikut.2 Fasilitasi usulan kegiatan dukungan oleh lembaga di luar Perindag i) Teridentifikasi lembaga yang bertanggung jawab dan terjaminnya anggaran yang dibutuhkan. dan kemudian meminta kerja sama teknis dari Universitas Ciputra dan Aprisindo (Asosiasi iv) Jangka waktu dan urutan. kegiatan PR lainnya secara berselang-seling. Atas konsultasi sebelumnya. pemilihan waktu kegiatan dukungan tersebut sesuai dengan Rencana Aksi. dengan tidak terlalu memperhatikan pentingnya IKM/ produsen pemula tujuan Rencana Aksi. Dinas dan lembaga di luar perindustrian dan perdagangan (terkait pertanian. dan kemudian membantu dalam merancang dan mempersiapkan dukungan Dalam mengelola pelaksanaan Rencana Aksi dan mencapai Tujuan Umum secara terkontrol.

5. Indikator kemajuan: untuk dimonitor pada setiap rapat. Tugas monitoring/ review pada khususnya tidak hanya untuk memahami hasil Rencana Aksi. dan harus diulang (2) Revisi Rencana Aksi secara periodik. Perbaikan . dan bisa dilakukan ketika muncul topik Monitoring/ review termasuk i) pengumpulan informasi/ data yang dibutuhkan untuk monitoring. Pokja akan informasi/ data untuk monitoring.Peningkatan apapun yang diperlukan pada platform (seperti anggota Pokja).Tingkat pencapaian tujuan umum dari Rencana Aksi . dan harus melaporkan revisi tersebut kepada pihak terkait. dan derivatif seperti pertumbuhan jumlah IKM. dan ii) berdiskusi untuk review Rencana Aksi.Faktor yang menghambat kemajuan aksi (atau inisiatif) oleh IKM sasaran. . yang diusulkan dalam . IKM sasaran .Kebutuhan memperkenalkan hasil Rencana Aksi (mengingat perluasan kasus sukses IKM Kategori Informasi/ data Cara Pengumpulan lain di industri yang sama). dukungan yang tambahan untuk kerja sama/ kontribusi. fasilitator bersama dengan anggota Pokja harus mengumpulkan dan menyusun informasi/ data Aksi sasaran yang terbaru berubah jauh dari awal) penting untuk monitoring kemajuan dan pencapaian Rencana Aksi.Jumlah IKM sasaran yang secara terus-menerus terlibat dalam Rencana Aksi. volume .5. Pokja harus melakukan monitoring. Aksi oleh IKM . adalah untuk memenuhi akuntabilitas kepada pihak-pihak terkait mengenai kemajuan dan pencapaian . Format dan Output Rapat monitoring/ review harus diatur setidaknya setiap triwulan.Faktor yang menghambat kemajuan pengadaan kegiatan dukungan. Monitoring.Kinerja dan pemanfaatan lembaga. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal 3. kepada IKM sasaran pelaporan kemajuan dan pencapaian Rencana Aksi. evaluasi.Jumlah IKM penerima kegiatan dukungan yang difasilitasi.Aksi (inisiatif) yang akan dilakukan.1 Informasi/ data yang akan dikumpulkan untuk monitoring (disarankan) . dengan pelaporan hasil. Revisi Rencana . dan iii) revisi Rencana Aksi berdasarkan hasil review.Kinerja fasilitator. Kegiatan dukungan yang ditunda dengan alasan penundaan. bertanggung jawab . namun wajib untuk merevisi fasilitas dan perbaikan peraturan.Kebutuhan menambah dan/ atau mengganti anggota Pokja.5. Rencana Aksi.Kuisioner/ wawancara produksi. Tabel 3. Kegiatan dukungan lengkap dengan output dan tindak lanjut. . (1) Monitoring/ review Tabel 3. Kemajuan dari kegiatan lain: pengembangan kelembagaan/ Pokja dapat merevisi Rencana Aksi secara fleksibel berdasarkan kebutuhan. review informasi/ data tersebut. . Lainnya .Kemajuan dan pencapaian keseluruhan pelaksanaan Rencana Aksi. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa masalah dan kebutuhan pada lingkungan usaha. industri sasaran dapat berubah sejalan dengan perkembangan Rencana Aksi.5 Monitoring. dan memfasilitasi diskusi untuk review Rencana Aksi. Daftar dibawah menunjukkan . .Perubahan mendasar pada lingkungan usaha.5.Aksi (inisiatif) yang telah/ sedang dilakukan dengan output. .Kebutuhan akan tambahan usulan kegiatan dukungan infromasi/ data yang akan dikumpulkan untuk monitoring. fasilitas dan peraturan 3.2 Hal-hal yang harus diperhatikan pada revisi Rencana Aksi Monitoring/ review harus dimulai dua (2) sampai tiga (3) bulan setelah versi awal Rencana Aksi disusun.Laporan oleh fasilitator . hal-hal berikut harus diperhatikan lebih khusus.Kebutuhan mengidentifikasi dan mendekati pemangku kepentingan (lembaga dukungan) . Fasilitator harus melaksanakan i) monitoring kemajuan dan pencapaian Rencana Aksi secara periodik dan meninjau revisi melaporkan informasi/ data untuk monitoring kepada Pokja. dan iii) melaporkan hasil monitoring/ dalam hal-hal berikut. . disiapkan oleh lembaga . 3.Masalah.Kebutuhan merevisi (atau memperjelas) tujuan umum (jika masalah dan kebutuhan IKM Awalnya. fasilitator Indikator pencapaian: untuk dimonitor setiap dua kali setahun atau tahunan Tujuan umum . Evaluasi dan Pelaporan Rencana Aksi Dampak . .Kebutuhan menambah dan/ atau mengganti fasilitator. review dan evaluasi ke pihak terkait.Jumlah kasus sukses (IKM sasaran yang mencapai tujuan kepada IKM sasaran umum dari Rencana Aksi). ii) evaluasi pencapaian pada akhir Rencana Aksi.Kuesioner/ wawancara .Laporan oleh fasilitator Selama proses fasilitasi pelaksanaan Rencana Aksi. kebutuhan (atas dukungan) IKM sasaran (jika ada). Tujuan lain bagi Pokja .Laporan oleh fasilitator (indikator ditentukan berdasar konten tujuan umum). . Kemudian.Kebutuhan mengubah dan/ atau menambah IKM sasaran.Setiap dampak positif yang diamati pada keseluruhan industri. . . dan perubahan mendasar untuk meningkatkan konten Rencana Aksi. pekerja. Monitoring/ review dan evaluasi tersebut harus diikuti Ketika Pokja mengenali kebutuhan revisi Rencana Aksi atau peningkatan platform sebagai hasil review. ii) khusus untuk diskusi. evaluasi pencapaian harus dilakukan sampai akhir Rencana Aksi (dua kali untuk jangka pendek dan jangka menengah). .2 Metode. Cara Pokja Pokja kemudian harus mengatur rapat.1 Tujuan dan Ruang Lingkup yang dikembangkan atau diperbaiki. Kegiatan .Setiap laporan kegiatan platform .Laporan oleh fasilitator Rencana Aksi setidaknya setiap tahun. .Masalah dan kebutuhan (atas dukungan) terbaru oleh IKM sasaran (jika ada). namun juga . evaluasi dan pelaporan Rencana Aksi merupakan tugas penting bagi Pokja. Rencana Aksi. dukungan .Kebutuhan merevisi kegiatan dukungan (untuk yang telah diusulkan sebelumnya). penjualan. Kegiatan dukungan yang akan difasilitasi.Laporan oleh fasilitator sasaran . .IKM tambahan yang tertarik untuk terlibat dalam Rencana Aksi. 18 19 .Laporan p oleh . mengundang IKM sasaran dengan tujuan i) berbagi dan konfirmasi melakukan monitoring dan evaluasi akan secara signifikan mempengaruhi hasil Rencana Aksi.

1 Monitoring/ review berdasarkan pengalaman SMIDeP BAB IV INFORMASI SUMBER DUKUNGAN Meskipun monitoring/ review dianggap penting. dimana asosiasi 4. Pokja menambah dan Pemerintah daerah sebaiknya memiliki informasi mengenai lembaga dukungan yang tersedia di daerah menyesuaikan kegiatan dukungan. . setiap akhir jangka pendek (2 tahun) dan menengah (5 tahun). namun dukungan terkait (lembaga pemerintah.Proses/ Cara Produksi dan Manufaktur Bagan 3. lainnya) berdasarkan kategori berikut. yang mengonfirmasi pencapaian tujuan umum (transaksi dengan industri galangan kapal untuk komponen yang telah Lembaga-lembaga yang tercakup dalam survei ini harus cukup aktif dan memiliki layanan spesifik/ disertifikasi). Dinas Perindustrian dan Perdagangan tingkat provinsi. informasi kontak dan sektor keahlian Peluang komunikasi seperti itu antara fasilitator dan IKM bisa sengaja dirancang dalam berbagai bentuk. atau tingkat tantangan. melalui survei profil.1 Sumber Dukungan untuk Pengembangan Industri Lokal Kebutuhan utama bisa dialihkan sejalan dengan kemajuan Rencana Aksi: Kebutuhan yang dimiliki Fasilitasi pengembangan industri lokal membutuhkan keterlibatan serta kerja sama dari lembaga industri kakao lebih berat pada kestabilan pasokan bahan yang berkualitas pada perencanaan awal. Pokja pada awalnya berasumsi untuk lebih Fasilitasi ini juga memerlukan pemanfaatan fasilitasi/ skema dukungan IKM yang telah dipersiapkan oleh menekankan pada dukungan pemasaran/ promosi pada Rencana Aksi.Desain/ Kemasan Tanpa memahami apa yang telah dicapai oleh rencana aksi. Pokja harus mengatur rapat evaluasi dengan mengundang IKM sasaran dan pemangku kepentingan terkait 1) Manajemen Bisnis dan akses keuangan dengan Rencana Aksi. sehingga kontribusi/ input teknis yang dibutuhkan rapat dengan IKM sasaran untuk melakukan review pencapaian sementara Rencana Aksi. akademi dan swasta yang menyediakan dukungan/ layanan kebutuhan utama secara bertahap beralih kepada dukungan pemasaran/ promosi produk. 4. 4. Bupati atau Walikota) guna memfasilitasi kerja sama antar lembaga dukungan terkait. merevisi Rencana Aksi.2 Metode. Pokja juga disarankan untuk membuat laporan periodik mengenai kemajuan/ pencapaian Rencana Aksi kepada kepala daerah (Gubernur. dan membahas faktor yang mempengaruhi hasil tersebut.2 Evaluasi menurut pengalaman SMIDeP . Meskipun begitu. memerlukan revisi pada Rencana Aksi. BUMN. Pengalihan dari lembaga terkait dapat dimobilisasi secara efektif untuk menyediakan usulan kegiatan dukungan kebutuhan utama untuk dukungan juga terjadi pada Rencana Aksi untuk ulos fesyen dan komponen kapal.Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) ketika Pokja mengenali kebutuhan untuk menyesuaikan Rencana Aksi jangka menengah pada kemajuan dan pencapaian yang dibuat dalam jangka pendek.2 Survei Profil Lembaga Dukungan mengobservasi perubahan situasi IKM sasaran dan situasi bisnis. menekankan aspek produksi dengan fokus pada bimbingan proses produksi yang baik. dan lembaga dan dampak derivatif. Pengumpulan IKM bisa menjadi kesempatan untuk mengobservasi perubahan masalah/ kebutuhan: Selain rapat formal Pokja. Pokja memutuskan untuk secara optimal untuk menjawab usulan kebutuhan dukungan pada Rencana Aksi. 20 21 . Kasus SMIDeP berikut ini menjelaskan mengapa monitoring/ review sangat signifikan. masalah teknis penting muncul dan harus ditangani. yang dikategorikan kedalam. prosedur untuk mengakses layanan. sehingga keterbatasan anggaran daerah dapat dilengkapi dijalankan. tidak ada yang dapat memutuskan apakah rencana 3) Pengembangan SDM akan dilanjutkan.2. dan harus Pada setiap rapat monitoring/ review dan evaluasi terminal. Pokja memutuskan untuk memperpanjang Rencana Aksi dengan menambah komponen sasaran sumber daya relevan untuk pengembangan IKM. Menanggapi hal itu. Pokja mengadakan kepada IKM) yang saling berkoordinasi satu sama lain.Sertifikasi/ Uji/ Riset termasuk perijinan Rencana Aksi disarankan bisa direvisi secara keseluruhan berdasarkan evaluasi pada akhir jangka pendek. Pokja untuk industri kakao merancang monitoring penjualan setiap bulan bagi IKM sasaran dalam Rencana Aksinya. Evaluasi terakhir harus menganalisis Dinas Perindustrian dan Perdagangan tingkat provinsi.1 Tujuan dan Ruang Lingkup menyusun peralihan masalah/ kebutuhan kepada fasilitator. dalam Rencana Aksi. Namun. Fasilitator bersama dengan anggota Pokja harus mengumpulkan informasi/ data yang dibutuhkan untuk evaluasi sehingga Pokja dapat menganalisa dan mengkonfirmasi tingkat 2) Produksi dan Teknis. yayasan. Pokja harus melampirkan Rencana Aksi yang telah direvisi ke laporan monitoring. Industri komponen kapal 4) Pemasaran dan promosi merupakan kasus baik yang menunjukkan pentingnya evaluasi. untuk penyediaan usulan dukungan di Rencana Aksi. Oleh karena itu.5. . peluang komunikasi informal dengan IKM sasaran sangat penting untuk 4. Berdasarkan hasil evaluasi jangka pendek. tugas ini tidak dilakukan secara periodik dan berorientasi pada tujuan. dan kemudian memutuskan untuk merevisi Rencana Aksi yang lebih menekankan pada dukungan pemasaran/ PR. pencapaian. Format langsung kepada lembaga dukungan yang sudah diidentifikasi. dan lembaga swasta masih bisa menambah atau merevisi indikator tersebut berdasarkan perubahan konten Rencana Aksi. yang akan disertifikasi untuk periode Rencana Aksi berikutnya. Pokja melaporkan hasil dalam rangka dilaksanakan oleh Dinas Perindag provinsi melalui kombinasi distribusi kuisioner atau wawancara memenuhi akuntabilitas kepada pihak terkait mengenai kemajuan dan pencapaian Rencana Aksi. Indikator pencapaian harus disetujui pada tahap awal. atas nama pemerintah kabupaten/ (3) Evaluasi kota. saat dukungan pemasaran pemerintah pusat untuk pemerintah daerah. bersama dengan contoh hasil survei. .5. apakah bisa meningkatkan cakupan rencana. Format dan Output (4) Pelaporan monitoring/ review dan evaluasi Survei profil lembaga dukungan di daerah harus mencakup informasi/ data berikut.2. Industri mebel rotan menunjukkan fenomena yang berlawanan. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Bagan 3. Dalam hal ini. Fasilitator untuk industri pengolahan kakao berkomunikasi erat dengan asosiasi IKM sasaran melalui kehadiran pada pertemuan reguler. Format dari survei profil ditunjukkan pada standar laporan monitoring/ review dapat dilihat di Lampiran 5. disarankan untuk melakukan survei profil lembaga dukungan yang tersedia di provinsi tersebut Pokja harus mengevaluasi pencapaian keseluruhan Rencana Aksi pada akhir: misalkan dua kali pada dengan keahlian yang terkait dengan industri unggulan. Pada kasus monitoring/ review yang Lampiran 6. sebaiknya mengidentifikasi tingkat pencapaian Tujuan Umum (dan jumlah kasus sukses IKM sasaran yang mencapai tujuan tersebut) lembaga dukungan utama yang tersedia di daerah dari lembaga publik (universitas. (termasuk cakupan layanan. lembaga dukungan) agar dapat mengidentifikasi dan memobilisasi kontribusi/ input dari lembaga tersebut yang menugaskan fasilitator secara rutin untuk mengunjungi dan mewawancarai IKM tersebut. Pokja pemerintah lainnya) dan lembaga swasta (asosiasi. lembaga non-profit.

mesin/ peralatan) di industri sentra industri menggunakan DAK sejak tahun 18.2 Ditjen Terkait di Kementerian Perindustrian sebanyak mungkin dari Rencana Aksi.1 Fasilitasi kerja sama dengan Ditjen terkait dalam Rencana Aksi 4. b. c. keuangan dan koperasi. dan pemberian fasilitasi dukungan untuk sektor IKM. Pokja dapat mengusulkan dan memanfaatkan fasilitasi dan skema pembiayaan (berdasarkan RPJMN d. Bantuan pencegahan pencemaran lingkungan hidup. di mana proposal bantuan dari Dinas Perindustrian dan 13. perdagangan. 16. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan sertifikasi kompetensi. Visi. Koperasi dan UMKM. Kompetensi Teknis dalam bentuk gedung. 20. Pokja industri pengolahan aloe juga meminta Ditjen Industri Agro (Ditjen IA) untuk memperkenalkan beberapa industri minuman skala menengah yang melakukan manejemen pabrik berdasarkan Good Manufacturing a. Ditjen IKM mempersiapkan skema Restrukturisasi Mesin/ Peralatan IKM dalam rangka mempercepat penggantian mesin/ peralatan tua IKM melalui penyediaan subsidi terhadap nilai modal kepada IKM yang menghadapi keterbatasan modal. anggota Pokja dan berbagi Rencana Aksi. terkait lainnya untuk pengembangan industri lokal termasuk Kementerian Perdagangan serta Kementerian f. Penyediaan kawasan industri untuk IKM yang berpotensi mencemari lingkungan. Kasus Sukses dari Lembaga kebutuhan penguatan infrastruktur industri (sarana prasarana) terkait pada industri sentra. dan tata cara pendaftaran serta 4. Tahun Berdiri 9. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Tabel 4. Bagan 4. Profil Singkat cara fasilitasi di atas dalam rangka mewujudkan (sebagian) usulan kegiatan dukungan dalam Rencana 11.3. Akses pembiayaan. 2. Alamat g. dengan meminta kepada Ditjen IKM sesuai dengan proses penganggaran resmi. 1. Nama Lembaga/ Instansi f. pendampingan promosi dan pameran. 6.3. Bantuan dan bimbingan teknis. Nomor Faksimili h. Proposal bisa juga disampaikan melalui surat permintaan ke Ditjen IKM (sekretariat 15. Provinsi Ditjen IKM juga meluncurkan skema pembangunan/ revitalisasi infrastruktur industri (bantuan fisik 17. dan hubungan kemitraan dengan industri besar serta dengan 7. industri galangan kapal besar. Ditjen IKM sesuai dengan kewenangannya dapat lain (misalkan. Peningkatan kemampuan industri sentra (bantuan bersifat fisik untuk infrastruktur industri melalui Practice (GMP). Mesin. program pembinaan GMP di industri ini. Sumber Pembiayaan untuk Program/ Layanan yang ditawarkan tahun berikutnya. Biaya yang dikenakan untuk Pengguna dan Direktorat sektoral). Terkait hal ini. Ditjen IKM merumuskan enam (6) program sertifikasi komponen perkapalan oleh BKI. b. Berikut ini adalah fasilitas dukungan utama dan skema pembiayaan yang tersedia di Ditjen-Ditjen yang terkait dengan industri sasaran. Alamat Situs Web i. dan. Pokja dapat memobilisasi dukungan fasilitas dan skema pembiayaan yang tersedia dari Kementerian e. pemerintah pusat Ditjen lain dalam rangka memfasilitasi Rencana Aksi. bimbingan dan jasa konsultasi) Selain itu. Usulan kegiatan dukungan sebaiknya disampaikan mempersiapkan berbagai fasilitas dukungan dan skema pembiayaan yang dapat dimanfaatkan oleh dari kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan atau bahkan lewat pimpinan daerah kepada pemerintah daerah. dalam rangka pembelajaran praktik nyata GMP bagi IKM lokal dan memastikan keberhasilan skema Dana Alokasi Khusus). Staf Terkemuka dari Lembaga (instruktur/ dosen untuk pelatihan. Ditjen IKM secara 12. kriteria. berskala besar. promosi. penguatan kapasitas kelembagaan. Revitalisasi UPT. Pokja juga dapat meminta kerja sama dengan industri pemerintah pusat. 5. Pengembangan produk (bantuan bersifat non-fisik). melalui kepala Dinas Perindag dapat memanfaatkan skema ini untuk menjawab 19. pada khususnya Ditjen IKM Kementerian Perindustrian. Pengembangan produk. Nomor Telepon Kantor 4. Alamat E-mail j. Penyediaan mesin dan peralatan IKM. 3. Bantuan informasi pasar. Pokja (Dinas Perindustrian dan skema tersebut.2. Berikut ini adalah contoh fasilitas 22 23 .3 Kementerian Terkait (Perdagangan. bidang perdagangan dan koperasi) di Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebagai memberikan dukungan dengan 10 cara fasilitasi. Memobilisasi beragam sumber dukungan dari lembaga di luar perindustrian merupakan salah satu tantangan bagi Pokja. utama yakni. dan atau. Pengembangan. Bantuan mesin dan peralatan. 2015-2019) yang tersedia di Kementerian Koperasi dan UMKM. Pokja disarankan untuk melibatkan bidang Dalam rangka meneruskan program di atas. Pembangunan wirausaha baru (untuk bisnis start-up). promosi dan pemasaran. Pokja. (1) Kementerian Koperasi dan UMKM c. 8. melalui perumusan Elektronika (Ditjen ILMATE) untuk memfasilitasi kunjungan kerja ke Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) dan kebijakan. Persyaratan. Koperasi) d. Misi Lembaga Aksi.3 Fasilitas Dukungan dan Skema Pembiayaan bagi Pemerintah Daerah jenis mesin/ peralatan yang dapat diikutsertakan pada skema ini dapat dilihat dari petunjuk teknis untuk Dengan keterbatasan anggaran daerah (APBD) bagi pemerintah daerah. Program/ Layanan yang ditawarkan reguler melakukan Rapat Koordinasi. Pokja (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) dapat juga melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Dalam rangka membantu pengembangan industri lokal oleh pemerintah daerah. dengan harapan Ditjen ILMATE dapat memulai bimbingan teknis dalam Dalam RENSTRA Kementerian Perindustrian (2015-2019). Penyediaan informasi pasar. untuk merealisasikan usulan kegitan dukungan terkait a. Persyaratan dan Prosedur untuk Program/ Layanan Dukungan Perdagangan daerah akan disampaikan ke dan disaring oleh Ditjen IKM untuk penyusunan anggaran 14. Nama Pimpinan Lembaga/ Penanggung jawab Pokja (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) dapat mengakses dan memanfaatkan dukungan dengan 10 10. Bantuan bahan baku dan bahan penolong. Alat Transportasi dan Ditjen IKM bertanggungjawab langsung terhadap pengembangan IKM/ industri lokal. termasuk mengusahakan penyediaan modal awal bagi wirausaha baru. Sektor Industri dimana Lembaga tersebut terspesialisasi anggaran 2016. 4.3. penguatan keterkaitan.2 Informasi/ data yang dimuat pada profil lembaga dukungan e.3. Perdagangan) sebaiknya secara aktif mengidentifikasi dan memanfaatkan fasilitas dukungan dan skema pembiayaan yang tersedia di pemerintah/ lembaga pusat dalam rangka merealisasikan kegiatan dukungan 4.1 Ditjen IKM di Kementerian Perindustrian Pokja industri komponen kapal di Tegal meminta Ditjen Industri Logam. Status Lembaga sektor ekonomi lainya dengan prinsip saling menguntungkan.

yang dialami oleh SMIDeP. Petunjuk ini bertujuan untuk memperkenalkan pendekatan dan praktik b. Layanan pemasaran oleh SMEsCO (trading house dan showroom bagi produk UMKM atau . dsb. Fasilitasi ekspor melalui pengembangan produk (seperti layanan designer dispatch). Terukur secara Obyektif. Program peningkatan penggunaan barang produksi dalam negeri (P3DN). mengimplementasikan. terhadap kebutuhan terkait dengan pengembangan dagang/ ekspor dari pemerintah daerah. Rencana Aksi. dimana aksi potensir).) dan penyediaan informasi melakukan monitoring dan review secara memadai. . Pokja disarankan untuk mengidentifikasi dan mendekati para penyedia pembiayaan potensial dari masing-masing daerah sejak tahap awal fasilitasi. program kemitraan (PKBL) dari badan usaha milik negara/ daerah dan lembaga swadaya masyarakat. yang disarankan untuk memfasilitasi pengembangan industri lokal berdasarkan pelajaran dan praktik baik bantuan dana bergulir melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). karena ini merupakan sarana untuk mengungkapkan dan berbagi hasil Rencana Aksi. yang Spesifik. jika diperlukan. melalui promosi untuk pasar dalam dan luar negeri.4 Fasilitasi dan Skema Pembiayaan dari Non-pemerintah Dukungan fasilitas dan sumber pembiayaan yang diberikan oleh lembaga non-pemerintah dapat juga dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan usulan kegiatan dukungan Rencana Aksi untuk melengkapi kekurangan anggaran dari pemerintah. kementerian menyediakan skema pembiayaan melalui Dana Dekonsentrasi (Dekon) untuk kesulitan dalam memastikan keterlibatan dan kolaborasi proaktif industri sasaran dalam Rencana Aksi. Fasilitasi akses pembiayaan UMKM dan koperasi melalui penguatan Lembaga Kredit Mikro (LKM). kalibrasi dan sertifikasi standar. Konsultasi bisnis dan pendampingan melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Berikut ini adalah contoh fasilitasi yang dukungan dan tidak akan memberikan hasil nyata terhadap pihak terkait. akan memberikan pelajaran untuk aksi-aksi berikutnya. dengan d. pasar luar negeri. dengan cara yang berorientasi pada tujuan. Petunjuk ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah. Fasilitasi ekspor melalui pengembangan SDM (seperti pelatihan bagi eksportir dan eksportir kepentingan. Pokja perlu menghindari kehilangan kesempatan pembelajaran yang berharga untuk mengembangkan Rencana Aksi. dan Bagaimana cara mencapainya". pengembangan industri lokal. seperti diagnosis industri dan f. Ini adalah kesempatan baik untuk memanfaatkan dana CSR atau PKBL yang tersedia di masing-masing wilayah. melakukan kegiatan fasilitasi secara lebih baik sesuai dengan arah pengembangan industri lokal yang Kementerian Perdagangan juga menyediakan skema pembiayaan melalui Dana Dekon sebagai respon diharapkan. menanggapi kebutuhan daerah terhadap koperasi/ pengembangan UKM dari pemerintah daerah. Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal Fasilitasi Pengembangan Industri Lokal dukungan yang tersedia di kementerian tersebut. Pokja dapat memanfaatkan Dana Dekon untuk membiayai kegiatan dukungan seperti pendirian/ penguatan . kemudian memperbaiki b. review selama pelaksanaan Rencana Aksi merupakan tugas yang harus diutamakan Pokja. Petunjuk ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memampukan kawan-kawan pemerintah daerah untuk e. Fasilitasi pengembangan industri lokal merupakan proses pembelajaran. seperti Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan besar. perumusan Rencana Aksi. temu bisnis. PENUTUP ~ Hal-hal penting selama fasilitasi pengembangan industri lokal a. misi dagang. hambatan dan kebutuhan aktual dari industri sasaran melalui konsultasi.Diagnosis dan Rencana Aksi secara konsultatif: Petunjuk ini menekankan proses fasilitasi secara koperasi). Sumber pembiayaan. Layanan pengujian mutu barang. dan bahkan meningkatkan keterlibatan lebih lanjut dari industri sasaran dan pemangku c. serta merefleksikannya ke dalam Rencana Aksi. 4. Fasilitasi peningkatan akses pasar. Tanpa tujuan terukur yang Pokja dapat mengusulkan dan memanfaatkan fasilitasi dan skema pembiayaan (berdasarkan RPJMN spesifik. Fasilitasi pengembangan pasar (pameran. Berikut adalah rangkuman hal-hal penting dalam fasilitasi d. dsb.Monitoring dan review secara terus-menerus: Petunjuk ini menyatakan bahwa monitoring dan a. serta kredit bagi UMKM. e. sehingga pemerintah daerah bisa c. memonitor dan mengevaluasi pengembangan industri sasaran koperasi. Oleh karena itu. dan Ditjen IKM. Fasilitasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan dari UMKM dan koperasi. yaitu Dinas Perindag di tingkat kabupaten/ kota maupun provinsi. dan dana hibah lain bisa masuk kategori ini. Pokja dapat memanfaatkan Dana Dekon ini untuk membiayai kegiatan dukungan seperti pengembangan pasar dan fasilitasi perdagangan (baik internasional maupun regional) produk-produk industri lokal pada khususnya. Fasilitasi pengembangan produk unggulan dari sumber daya lokal yang dihasilkan UMKM atau merencanakan. 24 25 . Pokja akan menghadapi Selain itu. khususnya pada tahap awal fasilitasi. Rencana Aksi akan berakhir sebagai rencana tanpa tujuan dengan hanya mendaftar kegiatan 2015-2019) yang tersedia di Kementerian Perdagangan juga. and. Karena itu. Tanpa memastikan masalah. tersedia di Kementerian ini. konsultatif dengan industri sasaran.Penetapan tujuan secara jelas: Petunjuk ini juga menekankan pentingnya penetapan tujuan umum koperasi atau kelompok usaha bersama. Menantang namun Realistis dalam Rencana Aksi. Seperti yang telah disampaikan. dengan mempertanyakan "Produk Apa (atau Mana Saja) yang akan dikembangkan atau ditingkatkan untuk (2) Kementerian Perdagangan Segmen Pasar/ Konsumen Mana.3.

Tambahan Lembaran Negara melancarkan pelaksanaan Program Percepatan Republik Indonesia Nomor 4737). 7. Pronvinsi Jawa Tengah Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 ) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang– undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang – undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. perlu dilaksanakan Pembinaan dan Pendampingan Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Industri Kecil yang memiliki keunggulan di Kabupaten Nasional. menciptakan lapangan kerja.Peraturan Daerah Kabupaten Tegal Nomor 8 Tahun 2. 11. BUPATI TEGAL. Tambahan Lembaran PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA (POKJA) DAERAH Negara Republik Indonesia Nomor 4700). KEPUTUSAN BUPATI TEGAL 5.Lampiran 1: Sample Surat Keputusan tentang Pembentukan Kelompok Kerja Industri Komponen Kapal di Kabupaten Tegal. Pemerintah Daerah ( Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH 6. Kabupaten Tegal Nomor Tahun 2008 tentang Pola 3.Peraturan Daerah Kabupaten Tegal Nomor 6 Tahun Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam 2008 tentang Pola Organisasi Pemerintah Daerah. Peraturan Daerah Kabupaten Tegal Nomor 9 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Indonesia Nomor 3274 ). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Menimbang : Bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.13 Tahun 1950 tentang 10. Tahun 1984 Nomor 22. meningkatkan daya saing Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Industri lokal di Kabupaten Tegal. Tambahan Lembaran Republik 12. Undang–undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaga Negara Republik BUPATI TEGAL Indonesia Tahun 2004 Nomor 126. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438). Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 7425). Tegal dengan membentuk Kelompok Kerja (POKJA) 9. Tambahan . 4. Undang – undang No. mendukung Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia pencapaian Visi Misi Daerah serta untuk mendorong dan Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Presiden Republik Indonesia Indonesia Tegal.Peraturan Daerah Kabupaten Tegal Nomor 2 tentang Daerah Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di Urusan Pemerintah yang menjadi Kewenangan Kabupaten Tegal dalam Keputusan Bupati Tegal . Mengingat : 1. Pemerintah Kabupaten Tegal. Undang – undangoNomor 26 Tahun 2007 tentang KABUPATEN TEGAL penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68.Undang – undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Organisasi Pemerintah Daerah. Lingkungan Profinsi Djawa Tengah. Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844 ). Undang – undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang 2008 tentang Pembentukan Organisasi Dinas – Dinas perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Daerah. Undang–undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang NOMOR : 050/ / 2013 Rencana Pengembangan Jangka Panjang Nasional TENTANG Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33.

pendampingan serta memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan Program . KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Merumuskan dan melaksanakan pembinaan pada para pelaku usaha Industri Kecil dan Menengah yang ditetapkan sebagai Kompetensi Industri Inti. konsultasi.Peraturan Daearah Kabupaten Tegal No. 13. 17 Tahun 2009 Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di tentang RPJMD Kabupaten Tegal Tahun 2009 – 2014 Kabupaten Tegal. d. HARON BAGAS PRAKOSA b. Merumuskan kebijakan dan langkah . pusat dan daerah serta tim proyek Japan International Cooperatioan Agency (JICA) dalam pelaksanaan Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Tegal. KETIGA : Membebankan biaya pelaksanaan tugas tim koordinasi Memperhatikan : 1. Memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh tim Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Tim Proyek JICA dalam melakukan Pembinaan. integrasi dan SEKRETARIS DAERAH. 2 Tahun 2009 f. Tegal. Bersama pihak terkait dalam hal ini Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan tim Proyek JICA melakukan pembinaan. pada tanggal KEDUA : Menugaskan Tim Koordinasi sebagaimana dimaksud Diktum KESATU. Melakukan koordinasi. 3 (tiga) tahun pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tegal. c. BUPATI TEGAL a. Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 135/M-IND/PER/12/2011 tentang Peta sebagaimana dimaksud Diktum KEDUA pada Anggaran Panduan (Road Map) Pengembangan Kompetensi Inti Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tegal selama Industri Kabupaten Tegal.2015. sinkronisasi dengan instansi dan pihak terkait.dan 14. Pendampingan Industri Kecil dan Menengah. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KESATU : Membentuk Kelompok Kerja (POKJA) Daerah Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Tegal dengan susunan keanggotaan sebagaimana tersebut Ditetapkan di SLAWI dalam lampiran. Peraturan Daerah Kabupaten Tegal No. Melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya kepada Bupati tentang RPJP Kabupaten Tegal Tahun 2005 . adalah sebagai berikut : Plt.langkah yang diperlukan dalam pelaksanaan Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Tegal dengan mengatasi permasalahan hambatan dan kendala yang timbul. e.

ST Ditetapkan di SLAWI pada tanggal Plt. Saeful Bachri Arif. Industri Pengolahan Aloe di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat Lampiran I : Keputusan Bupati Tegal Nomor : Tanggal : Juni 2013 SUSUNAN KEANGGOTAAN KELOMPOK KERJA (POKJA) DAERAH PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH KABUPATEN TEGAL I. Msi 2. Sekretaris : Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tegal III. Abdullah An 3. BUPATI TEGAL SEKRETARIS DAERAH. S. Mesin dan Aneka Dinas Perindustrian dan Perdagangan IV. Drs. ST 6. Sutardi 4. Wakil Sekretaris : Kepala Seksi Industri Logam. Munadi. HARON BAGAS PRAKOSA . Ketua : Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tegal II. Mukti Sarjono.Sos 5. Anggota : 1. Amin Toyib Mustofa.

.

Mesin. Industri inti Industri pendukung/ terkait .UPTD Lab (machining. Provinsi Jawa Tengah Biro Klasifikasi .Ditjen IUBTT-Dit Industri Maritim.Bidang Industri Logam (Industri Galangan) . Rumah IKM Memberlair Kapal di Cirebon di Jakarta Pompa Setengah Jadi di Pegirikan Lampiran : Contoh Peta Stakeholders Toko Perlengkapan Toko Kaca Tegal Kapal di Surabaya Koperasi PIK Kebasen IKM Perkapalan Industri Pompa Kapal Perbankan Komersial (pengeloaan IPAL) Sidoarjo dan Pasuruan dari Cina Distenaker Kab.Ditjen IKM-Dit IKM Wilayah II Pemasok input Lembaga pendukung Pelaku pasar .Bidang Industri-Seksi Logam Indonesia (sertifikasi .UPTD Logam (machining) Indonesia Kemenperin . Jateng Asosiasi Pembuat Kapal . Tegal Industri Komponen Kapal di Kabupaten Tegal. Pengepul/ Pedagang Toko Perlengkapan Rongsok di Kapal di Jakarta Lemahduwurwr (aluminium dan kuningan) IKM Pengecoran Ingot Toko Perlengkapan Dok Bahari Aluminium di Pesarean Kapal di Tegal Shipyard di Tegal Pemulung Rongsol IKM Komponen Kapal Al dan Cu di Kebasen Industri Pengecoran (Koperasi) Toko Perlengkapan Dok Koja Bahari Ferro di Ceper.Balai Latihan Kerja . ujian) komponen kapal) Universitas Diponegoro . Teknik Kapal Disperindag Prov. Tegal Disperindag Kab.UPL (termasuk shindan-shi) .Riset Pompa.

relevant certifications including GMP. 凑 Aloe processing companies in Pontianak do not possess 凑 Provision of packaging machines decent skills in package-designing. against the product quality and safety safety of their products. Provinsi Kalimantan Barat Lampiran : Contoh Analisis Lantai Pasokan Rantai pasokan Kondisi selama ini Isu/ kendala Kebutuhan Bahan baku/ 凑 Variety of Pontianak-grown aloe plant is superior and its 凑 Supply of aloe plant is not sufficient. association/ cooperative 凑 Akses keuangan Kalimantan. 凑 There is no learning opportunity from the 凑 Business mentoring from the large companies 凑 Kelembagaan 凑 There is no local association or cooperative for the large companies. 凑 Sales channels to distribute the products 凑 Establishment of firm relationship with the 凑 Aloe product demand in Pontianak is relatively stable. 凑 Sufficient supply of quality aloe plant Distribusi bahan midrib overweighs other varieties’. 凑 Availability of clean water is limited. Industri Pengolahan Aloe di Kota Pontianaka. Produksi 凑 Production process and quality is not standardized. MD. 凑 Rainwater is used for the production. 凑 Collaboration and joint actions among SMIs 凑 Establishment and strengthening of the 凑 SDM 凑 There is a special credit scheme from Bank of West are not existent. 凑 Production process standardization and safety 凑 Production site of some SMIs are not hygienic enough for 凑 The product safety is not reliable. 凑 Aloe products are designated as a priority product by the local government. improvement through obtainment of the food/ beverage production. Industri Pengolahan Aloe di Kota Pontianak. 凑 Stable electric supply 凑 Infrastruktur 凑 There is no collaboration with the large companies. 凑 Land in Pontianak is predominantly peaty. 凑 Easy access to the packaging facility 凑 Skill development in packaging-designing Pemasaran 凑 Product quality does not meet market standards. 凑 Electric supply is unstable. and commercial properties. Provinsi Kalimantan Barat Lampiran : Contoh Peta Lantai Pasokan . high. outside Pontianak are still limited. 凑 No private water-processing company operates in Pontianak. 凑 Some IKMs own aloe-farm land with the contracted farmers. distributors 凑 Certain and long-term business relationship has not been 凑 Logistical cost of product distribution is 凑 Expansion and diversification of the sales established in the outside markets. 凑 Packaging companies are scarce in Pontianak. 凑 Price of aloe plant is fluctuated and often 凑 Sufficient supply of clean water 凑 Land conditions in Pontianak are conducive to aloe planting. 凑 Product quality remains low and varied. influenced by the companies procuring the 凑 Farmers are altering their land-usage to pineapple cultivation large amount. and PIRT 凑 Packaging design is not attractive. 凑 Regulatory support from the local government 凑 Peraturan aloe-processing industry. channels (especially outside Pontianak) Faktor dukung 凑 Structured training system is not existent. 凑 Consumers’ confidence against the product 凑 Enhancement of consumers’ confidence 凑 Some IKMs have not obtained necessary certificates to prove quality and safety is not high enough. 凑 Packaging cost is high.

凑Air hujan digunakan dalam proses produksi. produk ke luar Pontianak masih terbatas. 凑Biaya pengemasan tinggi. 凑Kepercayaan konsumen terhadap kualitas 凑Peningkatan kepercayaan konsumen terhadap 凑Beberapa IKM belum memiliki sertifikasi yang dibutuhkan dan keamanan produk tidak cukup kuat. dalam jumlah besar. 凑Beberapa IKM memiliki pertanian aloevera dengan petani kontrak. 凑Tanah di Pontianak didominasi dengan tanah bergambut. 凑Infrastruktur 凑Produk aloevera ditetapkan sebagai produk prioritas oleh pemerintah daerah. sertifikat yang relevan. (terutama yang diluar Pontianak) Faktor dukung 凑Tidak adanya sistem pelatihan terstruktur. 凑Hubungan bisnis pasti dan jangka panjang yang belum 凑Biaya logistik untuk distribusi produk tinggi. 凑Saluran penjualan untuk mendistribusikan 凑Pembentukan hubungan kuat dengan 凑Permintaan produk aloevera di Pontianak relatif stabil. 凑Pasokan listrik tidak stabil. dan 凑Perusahaan kemasan jarang ada di Pontianak. varietas lain. keterampilan yang cukup dalam mendesain kemasan. 凑Pasokan listrik yang stabil. Distribusi bahan unggul dan pelepahnya lebih berat dibandingkan dengan 凑Harga aloevera berfluktuasi dan sering kali 凑Pasokan air bersih yang mencukupi. Pemasaran 凑Kualitas produk tidak sesuai dengan standar pasar. Industri Pengolahan Aloe di Kota Pontianak. diantara IKM koperasi. MD. 凑Akses keuangan 凑Tidak ada asosiasi atau koperasi lokal untuk industri 凑Tidak ada kesempatan belajar dari 凑Mentoring bisnis dari perusahaan besar. 凑Kelembagaan pengolahan aloevera. Industri Pengolahan Aloe di Kota Pontianak. kualitas dan keamanan produk. 凑Kemudahan akses pada fasilitas pengemasan. untuk membuktikan keamanan produknya. Provinsi Kalimantan Barat Lampiran 3: Contoh Peta Rantai Pasokan . 凑Tidak adanya kolaborasi dan aksi bersama 凑Pembentukan dan penguatan asosiasi/ 凑SDM 凑Adanya skema peminjaman khusus dari Bank Kalbar. Produksi 凑Proses dan kualitas produksi belum distandardisasi 凑Kualitas produk rendah dan bervariasi. perusahaan besar. Provinsi Kalimantan Barat Lampiran 3: Contoh Peta Rantai Pasokan Rantai pasokan Kondisi selama ini Isu/ kendala Kebutuhan Bahan baku/ 凑Berbagai aloevera yang tumbuh di Pontianak adalah budidaya 凑Pasokan aloevera tidak mencukupi. 凑Desain kemasan tidak menarik. 凑Dukungan peraturan dari pemerintah daerah. keamanan pangan melalui didapatkannya untuk produksi makanan/ minuman. 凑Tidak ada perusahaan pengolahan air swasta yang beroperasi di Pontianak. 凑Standardisasi proses produksi dan peningkatan 凑Lokasi produksi beberapa IKM masih belum cukup higenis 凑Keamanan produk tidak terpercaya. dipengaruhi oleh perusahaan yang membeli 凑Kondisi tanah Pontianak cocok untuk penanaman aloevera. 凑Pasokan aloevera berkualitas yang mencukupi. distributor. 凑Perusahaan pengolahan aloevera di Pontianak tidak memiliki 凑Pengadaan mesin pengemasan. 凑Pengembangan kemampuan desain pengemasan. PIRT. nanas dan properti komersial. 凑Perluasan dan diversifikasi saluran penjualan ditetapkan di pasar luar. 凑Petani mengubah lahan penggunaan tanah untuk budidaya 凑Ketersediaan air bersih yang terbatas. seperti GMP. 凑Peraturan 凑Tidak ada kolaborasi dengan perusahaan besar.

Penyediaan bahan baku untuk pembuatan IKM-IKM yang membuat Disperindag Tegal. dan konsultasi langsung ttg. Ditjen IUBTT. KospinJasa YDBA-LPB. JICA. Pembuatan prototipe komponen kapal IKM-IKM yang membuat Mei . Pengujian kinerja dan materi komponent IKM-IKM yang membuat Disperindag Tegal.April peningkatan produktivitas IKM sesuai dengan komponen prototipe 2014 prinsipil 3S Pemasaran/ Pemasaran komponen Perkenalan lansung komponen tersetifikasi Realisasi transaksi .September 2014 sasaran dari sertifikasi BKI. JICA Penerapan 3S Perbaikan lingkungan kerja untuk IKM-IKM yang membuat Oktober 2013 . Koperasi Mandiri Koperasi Mandiri 2014 . Jangka Panjang IKM Sasaran 30 IKM Komponen Kapal (Koperasi Mandiri Sejahtera) di Kabupaten Tegal Periode Juli 2013 sampai dengan Oktober 2015 Kegiatan Dukungan Lembaga Sumber Dana Periode Aspek Judul Isi Tujuan Sasaran Dukungan Penanggung Jawab (skema/ program) (bulan/ tahun) Kegiatan Dukungan Bahan Baku Penelitian bahan dasar Penelitian pengembangan bahan baku scrap Pengembangan dan IKM yang menggunakan Disperindag Tegal Disperindag Tegal Juli . BKI. JICA Infrastruktur Usaha Sendiri oleh IKM Sasaran Produksi/ Proses Pembuatan prototipe a. Dilanjut pada 2015 pengaturan bahan baku yang dibutuhkan Ditjen IUBTT. BKI Dilanjut pada 2015 Peningkatan sarana Fasilitasi dapur pengecoran dan termocopel Peningkatan Koperasi Mandiri Disperindag Tegal Disperindag Tegal Oktober . termasuk komponen prototipe. Penyusunan dokumen sistem mutu/ Pencapaian sertifikasi . bidang logam Dilanjut setiap tahun Pelatihan teknologi Pelatihan pada keterampilan pengelasan non. Lampiran 4: Contoh Rencana Aksi Pengembangan Industri Lokal RENCANA AKSI Industri (Sentra IKM) Komponen Perkapalan di Kabupaten Tegal Disusun pada Juli Versi Pertama Tujuan Utama Jangka Pendek IKM-IKM komponen kapal mampu membuat komponen kapal BKI-class (10 produk komponen Kapal yang sertifikasi oleh BKI) dan menyuplainya ke industri/ pasar galangan kapal Indonesia. Ditjen Maret . Ditjen Mei . Ditjen IUBTT. Kegiatan Dukungan Lembaga Sumber Dana Periode Aspek Judul Isi Tujuan Sasaran Dukungan Penanggung Jawab (skema/ program) (bulan/ tahun) Faktor Dukungan Fasilitasi alat lab uji Bantuan alat pengujian komposis materi Penguatan fungsi IKM komponen logam. Bimbingan teknik selama pembuatan IKM-IKM yang membuat Disperindag Tegal. usaha sertifikasi BKI kunjungan pembeli. Koperasi RRT JICA transaksi lansung Studi-banding dan temu Studi-banding dan temu bisnis ke galangan dengan industri IKM-IKM yang membuat Disperindag Tegal Disperindag Tegal Setelah sertifikasi bisnis ke galangan kapal kapal/ asosiasi galangan kapal galangan komponen prototipe komponen sasaran Pameran terkait dengan Partisipasi dalam pameran-pameran terkait IKM-IKM yang membuat Ditjen IUBTT Ditjen IUBTT Selama dan setela industri galangan/ dengan industri galangan/ maritim dengan komponen prototipe usaha sertifikasi BKI maritime produk komponen yang (akan) tersertifikasi. Ditjen IUBTT April 2014 komponen kapal untuk sertiifikasi BKI Ditjen IUBTT Dilanjut pada 2015 c.Maret 2014 ke UPTD Labo. 20 IKM komponen logam Ditjen IUBTT Ditjen IUBTT September 2013. JICA Mei . Disperindag Tegal.Oktober 2014 kapal untuk sertifikasi BKI komponen prototipe Dinperindag Provinsi IUBTT. 2014 keuangan (cash-flow) usaha YDBA-LPB.Desember produksi produksi dan Sejahtera 2014 perbaikan effisiensi Fasilitasi mesin produksi (mesin lathe 6m) Koperasi Mandiri Disperindag Tegal Ditjen PPI 2015 produksi Sejahtera Pemasaran/ Studi-banding ke BKI dan Studi-banding ke BKI dan 3 galangan kapal di Pengembangan akses Koperasi Mandiri Disperindag Tegal Dinperindag Provinsi. Koperasi Koperasi Kelembagaan Perkuatan kelembagaan Perbaikan fungsi dan pengembangan aksi Perkuatan manajemen . Bank keuangan KospinJasa masalah keuangan manajemen Indonesia Tegal Pelatihan manajemen Pelatihan pembukuan dan manajemen kas IKM komponen logam Disperindag Tegal.Juni 2015 UPTD tsb. 2013 Promosi galangan kapal Jakarta pasar. lansung dengan membuat komponen komponen prototipe. keuangan dan KospinJasa KospinJasa. oleh Komite Akrdeitasi Nasional pada layanan pengujian dari UPTD Laboratorium Sumber Daya Pelatihan teknologi Pelatihan pada keterampilan pengecoran Peningkatan pengrajin 20 IKM komponen logam Dinperindag Provinsi Dinperindag Provinsi September/ Manusia (SDM) pengecoran (2 kali) non-ferro muda yang terampil di Desember 2013. JICA Mei 2014 prototipe komponen kapal untuk seritikasi BKI komponen prototipe Ditjen IUBTT Dilanjut pada 2015 d.April 2014 sertifikasi BKI untuk 10 dokumen sistem mutu (proses produksi IKM dan Disperindag Dilanjut pada 2015 komponen kapal komponen kapal) Propinsi b.September 2014 prototipe komponen kapal untuk sertifikasi komponen prototipe Ditjen IUBTT Dilanjut pada 2015 BKI d. IKM-IKM yang IKM-IKM yang membuat Maret .Desember 2014 Dilanjut pada 2015 Akses Keuangan Temu bisnis tentang Pengenalan produk/ layanan keuangan Penguatan akses IKM komponen logam Disperindag Tegal.2015 sentra komponen kapal bersama dari koperasi industri komponen dan layanan lembaga Sejahtera Sejahtera kapal yang ada di sentra koperasi dalam sentra .April Produksi penerapan 3S peningkatan produktivitas IKM sesuai dengan BKI untuk bebelapa 2014 prinsipil 3S komponen kapal Pendampingan proses a. Apr.September 2014 scrap menjadi bahan standardisasi bahan bahan baku non ferro standar baku Produksi/ Proses Bimbingan teknis pada Perbaikan lingkungan kerja untuk Pencapaian sertifikasi 12 IKM Disperindag Tegal Disperindag Tegal. pengelasan ferro Dilanjut setiap tahun Pelatihan die&mould Pelatihan pada keterampilan die & mould IKM komponen logam Disperindag Tegal Disperindag Tegal Oktober .) industri galangan prototipe. Workshop dan penyusunan drawing 30 IKM Disperindag Tegal. Dinperindag Prov. produk (Al=Mg) ke UPTD Laboratorium pengujian (materi) dari khususnya yang membuat April . komponen prototipe Fasilitasi akreditasi KAN Bantuan teknis untuk asessmen akreditasi Disperindag Tegal Disperindag Tegal Januari .April 2014 Produksi komponen kapal untuk drawing pada komponen kapal sasaran dari BKI untuk bebelapa membuat komponen komponen prototipe Dilanjut pada 2015 sertifikasi BKI sertifikasi BKI komponen kapal prototipe b. Okt. Ditjen IUBTT. Ditjen IKM (Wilayah II) Ditjen IKM (Wilayah II) September 2014 Kelembagaan material ke UPTD Labo. Desember 2013 produk/ layanan KospinJasa. JICA Oktober 2013 . dan realisasi Sejahtera. IKM-IKM yang IKM-IKM yang membuat Selama dan setela Promosi tersetifikasi kepada industri galangan (lewat telepon. dll. Pendampingan pada penyusunan 30 IKM Disperindag Propinsi BKI. Disperindag Tegal.

dan JICA informasi peluang penjualan dan mempromosi meningkatnya penjualan produk IKM produk Cokelat Sulteng Operasional outlet bandara Melaksanakan manajemen usaha bersama di Terjalinnya saluran penjualan menetap. lemak kakao Mendiversifikasi produk Cokelat Sulteng Rumah Cokelat Disperindag Prov. IKM cokelat sasaran di Kota Palu (dan sekitarnya) dapat memproduksi dan memasarkan olahan cokelat secara kontinu. supermarket) 2. Hari Nusantara (Des) juga mendapatkan masukan konsumen & UKM Kota & UKM Kota even 2. mengenai budidaya/ fermentasi budidaya/ fermentasi atas kerjasama anggota secara kontinu yang berkualitas sesuai sasaran UNTAD kepada petani kakao POKJA (dosen pertanian UNTAD. - dukungan APECC APECC untuk distribusi informasi. restoran dll) meningkatkan penggunaan Cokelat Sulteng di Rumah Cokelat JICA Kota Palu Usaha Sendiri oleh IKM Sasaran Produksi/ Proses Pengembangan produk baru Diversifikasi ragam produk olahan cokelat dan Meningkatnya daya tarik produk cokelat . toko oleh-oleh. kafe untuk mendapatkan pengembangan produk. teknis tempering. Dinas dengan standar Rumah Cokelat Dinas Perkebunan Perkebunan Prov. hotel/ restoran/ kafe. supermarket. pembeli dan dapat feedback pada Disperindag Prov. pameran dll. JICA generasi muda di Kota Palu (kunjungan siswa sekolah ke Rumah Cokelat/ Dinas Pendidikan IKM cokelat) Prov. restoran/ kafe) Jangka Panjang IKM cokelat sasaran dapat meningkat produksi dan pemasaran olahan Cokelat Sulteng dan jumlah IKM yang menggunakan Cokelat Sulteng meningkat Sasaran 1. yang menggunakan cokelat batangan & liquor couverture (Cokelat Sulteng) dari Rumah Cokelat. saat kunjungan promosi dan pameran Disperindag Prov. dan memasarkan ke pasar lokal (IKM cokelat. Ditjen Perindustrian 4. operator pabrik pengolahan operator mesin di pabrik (sesuai untuk mengoperasi alat dan dapat Perusahaan mesin Kementerian dengan kebutuhan) menghasilkan produk sesuai dengan Kementerian Perindustrian standar ditentukan Perindustrian Pelatihan keterampilan Mengadakan pelatihan sesuai dengan Terlatihnya IKM mengolah cokelat APECC Disperindag Prov. Promosi dan Sosialisasi Cokelat Sulteng Memperkenalkan Cokelat Sulteng dan pabrik Meningkatnya pemahaman Cokelat Rumah Cokelat Disperindag Prov.RENCANA AKSI Industri Pengolahan Kakao di Prov. - tempat strategis di Kota Palu terhadap produk Cokelat Sulteng APECC Promosi produk dan Promosi melalui pameran di Kota Palu dan Meningkatnya minat masyarakat Rumah Cokelat Disperindag Prov. beragam olahan cokelat moderan. kafe untuk mendapatkan pengembangan produk. Sulteng. Sulteng (Rumah Cokelat) dapat memproduksi cokelat batangan liquor & couverture (Cokelat Sulteng) secara kontinu. hotel. hotel. 12 IKM anggota APECC (Asosiasi Pengusaha Cokelat Celebes) Periode Agustur 2013 sampai dengan Desember 2015 Lembaga Kegiatan Dukungan Penanggung Jawab Sumber Dana Jadwal Pelaksanaan Aspek Sasaran & (skema/ program) Judul Isi Tujuan Pendukung lain Dukungan 2013 2014 2015 Kegiatan Dukungan II III IV I II III IV I II III IV Bahan Baku Bimbingan teknis/ dukungan Membina petani biji kakao mengenai teknis Tersedianya biji kakao fermentasi Petani biji kakao Disperindag Prov. CEFE dll) meningkatnya pengetahuan terkait Dinas Perindagkop Kementerian tempering) usaha IKM & UKM Kota Perindustrian Pembuatan merek Cokelat Menciptakan nama/ logo/ kemasan yang Meningkatnya daya tarik Cokelat APECC APECC JICA Sulteng menarik untuk produk Cokelat Sulteng Sulteng melalui penciptaan kemasan Rumah Cokelat Disperindag Prov. Hari Kakao (Sep) produk Ditjen IKM. Palu Ekspo (Sep) IA BI 5. sebagai tempat pemasaran produk olahan meningkatnya penjualan produk IKM Rumah Cokelat JICA JICA Cokelat Sulteng Demonstrasi (pengenalan) Memperkenalan produk Cokelat Sulteng di Meningkatnya pemahaman generasi Rumah Cokelat APECC Disperindag Prov. kemajuan dan koordinasi kegiatan pertemuan rutin . - Gubernur dan koordinasi demi kelancaran kegiatan Sulteng di lingkup pemerintah (snak di JICA rapat dll) maupun di pihak swasta Menyusun surat himbauan Gubernur demi APECC Disperindag Prov. restoran. promotion Fasilitasi outlet bandara dan Rumah Cokelat Tersedianya pusat pemasaran dan APECC Disperindag Prov. oleh. pembeli dan dapat feedback pada Rumah Cokelat Disperindag Prov. Disperindag Prov. kemajuan dan feedback ke kegiatan melalui Dinas Perindagkop dan koordinasi kegiatan pertemuan rutin & UKM Kota JICA Penguatan kelembagaan APECC Pelatihan untuk pengurus APECC mengenai Meningkatnya pengetahuan dan Pengurus BI BI aspek manajemen kelembagaan (koperasi) keterampilan IKM dalam pengolahan APECC PINBUK PINBUK manajemen kelembagaan (koperasi) JICA Coaching Klinik tentang pencatatan keuangan IKM malakukan catatan keuangan APECC BI BI APECC (produksi. APECC APECC Produksi pengembangan kemasan moderan IKM dan saluran penjualan Disperindag Prov. toko oleh. yang terbuat dari biji kakao fermentasi di perkebunan Prov. khususnya JICA JICA IKM cokelat Kunjungan promosi kepada calon Melaksanakan kunjungan promosi langsung Teridentifikasi kebutuhan/ selera calon APECC APECC APECC pembeli di Kota Palu kepada swalayan. Pameran lokal lainnya BI JICA Bantuan peralatan dan fasilitas Pengadaan motor sebagai sarana mobile Tersedianya media promosi APECC Disperindag Prov. GMP. - (supermarket. supermarket. Disperindag Prov. mendapatkan masukan Jakarta terhadap produk Cokelat Sulteng. restoran.) Prov. toko kue/ roti./ Kota Lembaga Kegiatan Dukungan Penanggung Jawab Sumber Dana Jadwal Pelaksanaan Aspek Sasaran & (skema/ program) Judul Isi Tujuan Pendukung lain Dukungan 2013 2014 2015 Produksi Standarisasi cokelat batangan Menentukan standar cokelat batangan liquor & Ditentukan standar produk di pabrik Rumah Cokelat Disperindag Prov. dan Ditjen IA & UKM Kota cokelat (termasuk teknik AMT. ke pasar lokal (swalayan. toko oleh. pembuatan olahan cokelat dan kebutuhan IKM (pembuatan kue cokelat/ batangan couverture. APECC APECC Promosi kepada swalayan. oleh. Pabrik pengolahan biji kakao Dinas Perindag Prov. dan BI JICA informasi peluang penjualan dan mempromosi meningkatnya penjualan produk IKM produk Cokelat Sulteng Penyusunan media promosi Membuat brosur/ katalog tentang Cokelat Terciptanya brosur/ katalog produk APECC JICA JICA produk Cokelat Sulteng Sulteng/ produk olahan IKM untuk kunjungan Cokelat Sulteng dan digunakan pada Rumah Cokelat APECC Disperindag Prov. Sulawesi Tengah Disusun pada Mei 2014 Versi ke-2 Tujuan Utama Jangka Pendek 1. hotel. Pabrik pengolahan biji kakao Dinas Perindag Prov. distribusi informasi APECC Disperindag Prov. Ditjen IA Secara kontinu JICA Pemasaran/ Promosi kunjungan Melaksanakan kunjungan promosi langsung Teridentifikasi kebutuhan/ selera calon . outlet bandara dan meningkatnya penjualan olahan JICA cokelat APECC Kelembagaan Penguatan kelembagaan Pertemuan koordinasi internal APECC dan Terjadi koordinasi. penjualan dll) Disperindag Prov. Sulteng Ekspo (Apr) melalui kuesioner untuk pengembangan JICA Kementerian 3. dan APECC Dinas Perindagkop Dinas Perindagkop konsumen melalui pameran/ 1. berciri-khas Sulteng Bantuan mesin Rumah Cokelat Pengadaan mesin bubuk. Disperindag Prov. Ditjen IKM. APECC Disperindag Prov. promosi. Disperindag Prov. hotel. APECC - APECC antara POKJA dan APECC untuk distribusi dan feedback ke kegiatan melalui informasi. Sulteng (Rumah Cokelat) 2. . JICA Peraturan Audiensi antara POKJA dengan Laporan Kegiatan perkembangan kegiatan Meningkatnya penggunaan Cokelat POKJA Disperindag Prov. Ditjen IA APECC Ditjen IA Ditjen IUBTT Ditjen IUBTT Kelembagaan Penguatan kelembagaan Pertemuan koordinasi antara POKJA dan Terjadi koordinasi. Membuat baliho Cokelat Sulteng di beberapa Meningkatnya minat masyarakat Rumah Cokelat Disperindag Prov. Disperindag Prov. dan membuat Ditjen IKM Dinas Perindagkop pengetahuan usaha untuk IKM minuman cokelat. Disperindag Prov. liquor & couverture di pabrik couverture di pabrik pengolahan biji kakao (cokelat batangan liquor & couverture) Perusahaan mesin Kementerian pengolahan biji kakao UNTAD Perindustrian Ditjen IA Pelatihan/ dukungan teknis untuk Mengadakan pelatihan/ dukungan teknis Operator pabrik dilatih keterampilan Rumah Cokelat Disperindag Prov. supermarket. distribusi informasi . produk Cokelat Sulteng kepada sekolah dan mengadakan Cacao Tour muda tentang Cokelat Sulteng APECC Disperindag Prov. Disperindag Prov. Disperindag Prov. Pemasaran kepada pasar sasaran pengolahan biji kakao Sulteng di pasar sasaran. Disperindag Prov.

. pekerja. jika ada. IKM sasaran . besar . dalam Rencana Aksi) keseluruhan industri volume produksi. seperti. Tindakan oleh . usaha 1 2 . IKM sasaran yang berhasil mencapai tujuan Usulan kegiatan . Pencapaian Rencana Aksi (untuk dimonitor dua kali setahun) Kategori Indikator (Informasi/ data yang dilaporkan) Keterangan Lembar Monitoring/ Review untuk Program Pengembangan Industri Lokal Tujuan .Kegiatan dukungan yang telah Dijelaskan dengan garis besar.Kegiatan dukungan yang akan difasilitasi Dijelaskan dengan garis besar dan output. produk yang baru dikembangkan dan Nama industri sentra sasaran : diversifikasi produk dengan penawaran transaksi.Jumlah IKM yang terlibat secara terus Dijelaskan dengan tingkat keaktifan.Jumlah kasus sukses Seperti. Kemajuan Rencana Aksi (yang akan dimonitor pada setiap rapat Pokja) Indikator (Informasi/ data yang akan Kategori Penjelasan dilaporkan) . sasaran .Kemajuan dari pengembangan ‘Pengembangan kelembagaan’ termasuk penguatan kelembagaan dan fasilitas. penerbitan sertifikasi. dukungan di dilaksanakan yang dibutuhkan. output dan tindak lanjut keseluruhan Rencana Aksi. dan perbaikan peraturan (yang diusulkan pengembangan fasilitas termasuk revitalisasi UPT.Tindakan yang akan dilakukan Dijelaskan dengan garsi besar dan output. .Segala dampak positif yang diamati pada Seperti pertumbuhan jumlah IKM.Tingkat pencapaian dari Tujuan Umum Tergantung pada isi tujuan keseluruhan.Kegiatan dukungan dengan keterlabatan Dijelaskan dengan alasan. segera .Jumlah IKM yang menerima fasilitasi kegiatan dukungan . serta koperasi.Lampiran 5: Format Laporan Monitoring dan Review 2.Masalah dan kebutuhan terbaru dari IKM Dijelaskan. Dampak turunan . dsb. . Disusun oleh : pertumbuhan pendapatan. keseluruhan Rencana Aksi transaksi dengan segmen pasar/ pembeli. Diakui oleh : Tanggal persiapan : No.Perubahan mendasar dalam lingkungan Dijelaskan. dan tindak lanjut IKM sasaran yang dibutuhkan. versi dari monitoring : A.IKM tambahan yang tertarik untuk terlibat dalam Rencana Aksi Lainnya . penjualan. output. menerus dalam Rencana Aksi fasilitas dan peraturan yang dikembangkan atau diperbaiki. bergantung pada isi tujuan. Monitoring Rencana Aksi 1.Tindakan yang sudah dilakukan Dijelaskan dengan garis besar. jika ada.Kinerja dan pemanfaatan lembaga. pendirian unit usaha untuk bahan baku. Rencana Aksi .

Rencana Aksi untuk Pengembangan Industri XXXXXX di XXXXXX (versi XX) . Misi penyediaan kegiatan dukungan dan tindakan oleh IKM sasaran 12 Program/ Layanan Revisi Rencana Aksi 13 Persyaratan/ Prosedur untuk Program/ Layanan Perbaikan yang diperlukan dari platform Terkait dengan struktur fasilitasi Rencana Aksi.Surat Keputusan tentang Pembentukan Pokja (dan Penempatan Fasilitator) (jika direvisi) 19 Sukses Story dari Lembaga Tersebut 20 Nama dan Kontak Staf yang Terkemuka dari Lembaga Tersebut untuk Instruktur. Ahli. termasuk perubahan anggota Pokja.B. Konsultan 3 . fasilitator. 14 Sumber Pendanaan untuk Program/ Layanan 15 Biaya yang Dikenakan kepada Pengguna 16 Provinsi (atau Lembaga Nasional) 17 Bidang Lembaga 18 Sektor Industri Dimana Lembaga Tersebut Lampiran: Terspesialisasi . Review Rencana Aksi (untuk dimonitor pada setiap Rapat Pokja) Hal yang di review Hasil review atau segala tindakan yang akan dilakukan Lampiran : Format Survei Profil untuk Lembaga Dukungan Kemajuan dan pencapaian keseluruhan pada pelaksanaan Rencana Aksi 1 Nama Lembaga/ Instansi 2 Alamat 3 Nomer Telepon Kantor 4 Nomer Facsimile 5 Alamat Situs Web 6 Alamat e-mail 7 Status Lembaga/ Hukum 8 Tahun Berdiri 9 Nama Pimpinan/ Penanggung Jawab 10 Profil Singkat Faktor-faktor penghambat kemajuan 11 Visi.

Prosedur pelayanan: Misi: Untuk mewujudkan visi pembangunan sektor . 4 Nomer Facsimile 031-5345650 Fasilitas yang Tersedia: 5 Alamat Situs Web http://p3esurabaya. menyajikan pengetahuan praktis dan ketrampilan 14 Sumber pendanaan untuk program/ APBN.Bagaimana memulai ekspor . Promosia . 16 Provinsi (atau Lembaga Nasional) Jawa Timur seperti. telah mengikuti pelatihan prosedur eksport.com kota yang strategis p3ed@rad.Ruang konsultasi bisnis dan memfasilitasi September 2002 atas kerjasama antara kontak dagang Kemendag dan JICA. Program ini biaya diklat sebesar Rp.Ruang auditorium lengkap berkapasitas +/.Jaringan komputer mutakhir terpadu dengan profesionalise sumber daya manusia (SDM) di ruang kelas komputer khusus lengkap dengan Bidang ekspor dan promosi yang berkontribusi 20 PC yang dapat langsung mengakses internet dalam pengembangan ekspor Jatim.100 peserta 7 Status lembaga/ hukum Badan Pemerintah .Kontak dagang melalui internet 19 Sukses Story dari Lembaga Tersebut Mendampingi dan melatih pemilik PT.id . APBD. Saat ini perusahaan .Negoisasi dan kontrak dagang tersebut sudah dapat melakukan kegiatan ekspor . Timur yaitu mewujudkan makmur bersama Wong Peserta pameran dipilih dari alumni UP3S yang Cilik melalui APBD untuk Rakyat. Surabaya perluasan pasar bagi UKM yang diberikan oleh 3 Nomer Telepon Kantor 031-5343807 para ahli dibidangnya.Contoh Profil Lembaga Dukungan (badan pemerintah) produknya. dan mengaplikasikan misi dari Provinsi Jawa . Konsultan Bp.Export costing and pricing Terspesialisasi . berdaya saing global 13 Persyaratan/ prosedur untuk program/ Persyaratan Peserta: dan berperan sebagai motor penggerak utama layanan . Biaya dari pengguna yang diharapkan dapat membantu para pelaku layanan dunia usaha untuk memperoleh gagasan baru 15 Biaya yang dikenakan kepada pengguna Peserta dari Dinas Perindag Kota/ Kab di wilayah ataupun masukan.Pendaftaran. sehingga dapat membuat Prov. .Memiliki produk sendiri kesejahteraan masyarakat’.Layanan informasi dan publikasi melalui mini 8 Tahun berdiri - resource center 9 Nama Pimpinan/ Penanggung Jawab - .Tenaga pengajar yang handal dengan topik- 11 Visi.Memiliki usaha dan legalitas usaha perekonomian dalam rangka peningkatan .Gedung kantor modern berlantai dua di tengah 6 Alamat e-mail p3esurabaya@gmail. Jatim tidak dikenakan biaya. 12 Program/ Layanan Pelatihan dan Seminar: disesuaikan antara produk IKM dan tema Program pelatihan dengan durasi 1 s/d 10 hari pameran yang difasilitasi oleh Disperindag Jatim.000 selama 3 hari.Prosedur ekspor 18 Sektor Industri Dimana Lembaga Tersebut Umum . berkaitan dengan Persaingan Internasional.Pelatihan perdagangan internasional 20 Nama dan Kontak Staf yang Terkemuka Ibu Ir. Disperindag Jatim pengembangan produksi dan promosi ekspor. Bagi para peserta juga akan mendapat kesempatan masuk dalam Virtual Exhibition yang memudahkan akses informasi secara internasional untuk mempromosikan . mengisi formulir dan memenuhi industri dan perdagangan di Provinsi Jawa Timur persyaratan administrasi sesuai ketentuan.com . Konsultasi Bisnis: 1 Nama Lembaga/ Instansi Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah Konsultasi bisnis dibidang rencana (P3ED).Strategi pemasaran ekspor handicraft mulai tahun 2003. 17 Bidang lembaga Bidang pemasaran . 500. dengan harapan dapat dilanjutkan melalui kontak dagang yang lebih pro- aktif dengan mendatangkan buyer potensial dari manca negara.Showroom permanen display 10 Profil Singkat P3ED merupakan lembaga yang didirikan pada . perubahan-perubahan positif yang dapat Peserta mandiri dari IKM Potensial dikenakan menguntungkan perusahaan. 2 Alamat Jalan Kedungdoro 86 .Seleksi administrasi.Masita Rahman Menampilkan komoditas atau produk potensial Ahli. P3ED mempunyai tanggung . .Manajemen ekspor-impor ke mancanegara. Ibu Dra.Ruang kelas pelatihan lengkap dengan AC dan jawab besar untuk terus menerus meningkatkan audio visual dengan kapasitas 15 dan 30 orang pelayanan dan kinerja untuk meningkatkan . Soekarsih Pameran melalui Showroom / Mini Display: dari Lembaga Tersebut untuk Instruktur.90. Joni Sumedyo untuk pasar ekspor.net. Misi Lembaga Visi: ‘Jawa Timur sebagai pusat industri dan topik bahasan berkualitas perdagangan terkemuka.Pembayaran ekspor dengan L/C dan non-L/C Asia Dagang Surabaya yang memproduksi .

Calon BMT menyediakan modal awal dan akan ditambahkan modal penyertaan oleh PINBUK. dana program Kementerian Sosial. Pelatihan. Pendampingan.Mempunyai Rekening Simpanan di BMT 1 Nama Lembaga/ Instansi Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) 14 Sumber Pendanaan untuk Program/ PINBUK tidak menarik biaya layanan kepada IKM. 4.Contoh Profil Lembaga Dukungan (lembaga swasta) (Keterangan Pengurus Wilayah) . biaya yang didirikan pada Maret 1995 di Jakarta oleh Ketua ditanggung IKM besarnya dinegoisasikan sesuai Umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se. PINBUK banyak membantu penyaluran Terspesialisasi modal kepada masyarakat melalui BMT. SE.com/ dari INKOPSA. dengan jumlah peserta.H. merata dan berkelanjutan sehingga ummat mampu mengejawantahkan fungsinya sebagai rahmatan lil alamin.Menyerahkan fotocopy Surat Ijin Usaha .com/ program-program yang sedang berjalan. Jakarta Selatan 12740 dari dana swadaya kelompok. .Menyerahkan laporan keuangan (Bagi Badan Usaha).Mengisi formulir permohonan pembiayaan. . . jenis pelatihan dan lama Indonesia) Prof. B. 2 Alamat Gedung ICMI Center Lt. pinbukpusat@yahoo. DR. .J. 12 Program/ Layanan Menetaskan dan mengembangkan BMT sebagai lembaga keuangan masyarakat. Layanan . Sumber pembiayaan terhadap pelayanan yang 4 Nomer Facsimile 021-29407150 diberikan kepada BMT dan IKM berasal dari 5 Alamat Situs Web Http://www.pinbukindonesia. Pancoran.Menumbuhkuatkan sumber daya insani dan sumber daya ekonomi mikro dan kecil melalui BMT dan KUBE serta lembaga-lembaga pendukung pengembangannya berdasarkan prinsip syariah. Warung Jati Timut Layanan Untuk keperluan operasional BMT sendiri berasal No.Mengajukan permohonan kepada PINBUK wilayah.Kelompok minimum 20 orang IKM. . Selain itu. 8 Tahun Berdiri Maret 1995 15 Biaya yang Dikenakan kepada Pengguna . Misi Sebagai lembaga fasilitator dan inkubator BMT Ahli.Membangun lembaga yang mampu sebagai wahana berkarya dan beribadah bagi kader- kadernya sebagai insan kamil. Hasan 16 Provinsi (atau Lembaga Nasional) Nasional Basri dan Direktur Utama Bank Muamalat 17 Bidang Lembaga Bidang manajemen/ akses keuangan Indonesia (BMI) Zainul Bahar Noor. Kurniawan 11 Visi.com Iuran Kesejahteraan Sosial (IKS) dan swadaya 7 Status Lembaga/ Hukum Yayasan masyarakat (modal dan tabungan). 1 Kalibata. Konsultan dan KUBE. Syarat-syarat IKM menjadi anggota BMT. contoh. dari Lembaga Tersebut untuk Instruktur. Ketua Umum pelatihannya MUI (Majelis Ulama Indonesia) alm. Dalam 18 Sektor Industri Dimana Lembaga Tersebut Umum kiprahnya.Bila program pelatihan swadana. modal awal BMT 30 juta dan diberikan modal penyertaan sebesar 100 juta. . .131 iuran wajib dan iuran pokok.Menyerahkan fotocopy KTP dan KK. UMKM tidak dipungut biaya 10 Profil Singkat Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) . . Habibie. seperti 6 Alamat e-mail pinbuk.Bila ada program atau pelatihan yang didanai 9 Nama Pimpinan/ Penanggung Jawab Abdul Jabir Uksim instansi lain.PINBUK wilayah melakukan pelatihan kepada calon BMT. . K.indonesia@gmail. untuk pengembangan bisnisnya. Jl. . Konsultansi. PINBUK memiliki misi.Mewujudkan penguasaan dan pengelolaan sumber daya yang adil. Kemitraan dan layanan networking bagi UMKM 13 Persyaratan/ Prosedur untuk Program/ Syarat-syarat kelompok IKM mendirikan BMT. yang berasal dari 3 Nomer Telepon Kantor 021-29407140 ext. 19 Sukses Story dari Lembaga Tersebut PINBUK juga mendampingi IKM dalam capacity 20 Nama dan Kontak Staf yang Terkemuka Irfan Sismiyanto building.

6 8QWXN.HFLOGDQ0HQHQJDK ..HFLO      2NWREHU    3UR\HN-.QGXVWUL0DQXIDNWXU6NDOD.    Ń %XNX3DQGXDQ 3HQJHQDODQ.0PHODOXL 3HQLQJNDWDQ3HQ\HGLDDQ/D\DQDQGL.HPHQWHULDQ3HULQGXVWULDQ     .QGXVWUL.QGRQHVLD     'LUHNWRUDW-HQGHUDO.&$3HQJHPEDQJDQ.

6 .HUDSLKDQ >ŶƈƌƗƒƑ@ .$7$ .HEHUVLKDQ >ŶƈƌƖƒ@.HWHUDWXUDQ >Ŷƈƌƕƌ@ . BukuPanduanPengenalan3K/3S 35$.

HOHVWDULDQ >ŶƈƌƎƈƗƖƘ@ GDQ .6  .HGLVSOLQDQ >ŶƋƌƗƖƘƎƈ@.6DGDODKXSD\D\DQJ KDUXVGLODNXNDQXQWXNPHQFDSDLSHUEDLNDQNXDOLWDVSURGXNSHQLQJNDWDQSURGXNVL GLVDPSLQJXQWXNPHQFDSDLHIHNWLILWDVGDQVWDQGDULVDVLNHUMD 'L.QGRQHVLDWHODKEDQ\DNGLVHOHQJJDUDNDQNHJLDWDQSHQJHQDODQ.6 .  DGDODK SHUVLDSDQPHQGDVDUPHODOXLSHUEDLNDQOLQJNXQJDQNHUMD.

6 NHSDGD SDUD LQGXVWUL NRPSRQHQ NDSDO \DQJ EHUSXVDW SDGD 8QLW 3HQGDPSLQJDQ /DQJVXQJ 83/.HUMDVDPD 7HNQLV GHQJDQ -.&$ WHODK GLODNVDQDNDQ SURJUDP EDQWXDQSHQJHQDODQ .DEXSDWHQ 7HJDO 3URYLQVL -DZD 7HQJDK PXODL EXODQ 6HSWHPEHU  PHODOXL ELPELQJDQ 3UR\HN . PHODOXL VHPLQDU PDXSXQ SHODWLKDQ 7HWDSL GDODP SHQHUDSDQQ\D WLGDN VDPSDL NH OHYHO LQGXVWUL VNDOD NHFLO WHUXWDPDGLGDHUDKWHUNHFXDOLSDGDLQGXVWUL\DQJPHPDQJPHPSXQ\DLKXEXQJDQ NHPLWUDDQGHQJDQLQGXVWULGLOXDUQHJHUL 'L .

HUMDVDPD -.DEXSDWHQ7HJDO6HWHODKELPELQJDQSHQJHQDODQ. SDGD 'LQDV 3HULQGXVWULDQ GDQ 3HUGDJDQJDQ.6GLOHELKEDQ\DNWHPSDWLQGXVWULPHODOXLSHPHULQWDKVHWHPSDW  83/ DWDX %LGDQJ .6 VHFDUD VHQGLUL 'DODP SDQGXDQ LQL GLSHUNHQDONDQ GDQ GLSUDNWHNNDQ.QGXVWUL 'LQDV.&$ NHSDGD SLKDNSLKDN\DQJWHODKPHQGDSDWELPELQJDQGLOHPEDJDSHQGXNXQJ GDQLQVWDQVL SHPHULQWDK \DQJ WHUNDLW GHQJDQ ELGDQJ LQGXVWUL %XNX SDQGXDQ LQL MXJD GDSDW PHQMDGL UHIHUHQVL EDJL SHPLOLN SDEULN DWDX LQGXVWUL VHUWD PDQDMHU \DQJ DNDQ PHPSHUNHQDONDQ .6GLODNVDQDNDQ GDODPZDNWXVLQJNDWVDMDWHUQ\DWDKDVLOQ\DVHJHUDWHUOLKDW7HODKWHUFLSWDSHUEDLNDQ OLQJNXQJDQNHUMD\DQJPHQGDWDQJNDQSHQLQJNDWDQHIHNWLILWDVNHUMD %XNX SDQGXDQ LQL EHUWXMXDQ PHPEDJL GDQ PHQWUDQVIHU SHQJHWDKXDQ GDQ SHQJDODPDQ EDLN \DQJ WHODK GLSHUROHK PHODOXL 3UR\HN .

 GDQ GLKDUDSNDQ GDSDW PHQFDSDL PRPHQWXP XSD\DSHQLQJNDWDQNXDOLWDVSURGXNGDQSHQLQJNDWDQSURGXNVL   .&$   7$52768%2*2      .HWXD7LP7HQDJD$KOL-.

6" 7HUGLULGDULDSDNDK.6+23 /$1*.6  'L.$7$1/$<287:25.6" $SDVDMD\DQJKDUXVGLSHUVLDSNDQXQWXNSHQJHQDODQ.HFLO  ŧƄƉƗƄƕŃŬƖƌ  3(1*$17$5 35$.6"  /$1*.83$1'8$13(1*(1$/$1.QGXVWUL0DQXIDNWXU6NDOD.$7$ $3$.(7(5$785$1 Ŷƈƌƕƌ.$+.$+3(1.78. BukuPanduanPengenalan3K/3S %8.6" 8QWXNDSD.6" /DQJNDKDSD\DQJPHQJLNXWL.1*.

+$1Ń ŶƈƌƗƒƑ.(5$3.$+. /$1*.

(%(56.+$1Ń ŶƈƌƖƒ.$+. /$1*.

 /$1*.$+021.6XQWXNPRQLWRULQJEHUNDOD 3HQFDWDWDQGDQDQDOLVDNLQHUMDSURGXNVL  /DPSLUDQ&RQWRKWDJODEHOLGHQWLILNDVL /DPSLUDQ&RQWRK/HPEDUFDWDWDQSURGXNVL /DPSLUDQ&RQWRKSRVWHUVORJDQ6   .725.1* ŦƋƈƆƎŃƏƌƖƗ.

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S $3$.6   DGDODK VORJDQ \DQJ GLDPELO GDUL KXUXI EHVDU .6" GDSDWPHQJKLODQJNDQNHVLDVLDDQ .6" PHOHWDNNDQEDUDQJGLWHPSDW\DQJWHODKGLWHQWXNDQVHUWDPHQMDJD GDODPNHDGDDDQGDSDWFHSDWGLJXQDNDQROHKVLDSDVDMDPDNDDNDQ 7HUGLULGDULDSDNDK.78.HWHUDWXUDQ Ŷƈƌƕƌ.

 0HQLQJNDWNDQ -LND WHPSDW NHUMD GLEHUVLKNDQ PDND DNDQ WXPEXK SHUDVDDQ XQWXN .HUDSLKDQ ŶƈƌƗƒƑ.

.HEHUVLKDQ ŶƈƌƖƒ.

HWHUDWXUDQ 0HPLODKPLODK EDUDQJ \DQJ SHUOX GDQ WLGDN SHUOX %DUDQJ \DQJ WLGDN GLSHUOXNDQKDUXVGLEXDQJ /DQJNDKDSD\DQJPHQJLNXWL.Ń6ORJDQVORJDQLQLKDUXVGLODNVDQDNDQGL PRWLYDVLGDQFLWUD VHODOXEHUNDWDn0DULODKNLWDMDJDWHPSDWNHUMD\DQJEHUVLK|VHKLQJJD WHPSDWNHUMDVHEDJDLXSD\DXQWXNSHUEDLNDQOLQJNXQJDQNHUMD SHUXVDKDDQ PHPEXDW RUDQJ VHODOX RSWLPLV WHUKDGDS SHNHUMDDQQ\D 6HODLQ LWX DNDQ PXQFXO UHSXWDVL GDUL SHODQJJDQ \DQJ VHFDUD DODPL PHQ\HEDU 0DVLQJPDVLQJGHILQLVL.6 LQL WHUGLUL GDUL  ODQJNDK PXODL  GDUL GLWHQWXNDQVXSD\DPXGDKGLJXQDNDQROHKVLDSDVDMDGDQKDUXVVHODOXGDODP NRQGLVLVLDSGLJXQDNDQ n3HQLQJNDWDQ/D\RXW 3HQJDWXUDQWDWDOHWDN.HUDSLKDQ %HUXVDKD PHOHWDNNDQ EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ GL WHPSDW \DQJ WHODK 6HEDJDL DOXU GDODP SHQJHQDODQ .6" .6WHUVHEXWDGDODKVHEDJDLEHULNXW GHQJDQPHQJDWDNDQn3DEULNLWXVHODOXEHUVLK| .

6 DGDODK PHQJXUDQJL NHWLGDNWHUDWXUDQ FDUD GDQ ZDNWX NHUMD .HWHUDWXUDQ VHODLQ EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ -DJD MDUDN \DQJ FXNXS DQWDUD EDUDQJ 7XMXDQ .QL \DQJ GLSHUOXNDQ GL WHPSDW NHUMD GDQ SHQ\LPSDQDQ EDUDQJ \DQJ PHQMDGLSHQ\HEDEXPXPNHOHELKDQVWRNDWDXEDUDQJUXVDN ƖƆƕƄƓ.HEHUVLKDQ 6HODOXPHQFLSWDNDQNRQGLVL\DQJEHUVLKGHQJDQFDUDPHPEHUVLKNDQWHPSDW JDPEDUEHULNXWLQL NHUMDGDQEDUDQJEDUDQJGLVHNLWDUGLULVHQGLULVXSD\DGDODPNRQGLVLWLGDN DGDVDPSDK GDQWLGDNDGDNRWRUDQ  0HQJLNXWLDOXUSURVHVSURGXNVLPHQJDWXUOHWDNSHUOHQJNDSDQGDQPHVLQ 3HQLQJNDWDQ &DWDWDQ<DQJ GLVHEXW GHQJDQ EDUDQJ GL VLQL DGDODK VHPXD EDUDQJEDUDQJ DWDX EHQGD \DQJ DGD GL GLWHPSDWNHUMDVHUWDPHQMDJDJDULVMDOXUSHUSLQGDKDQNHUMD\DQJOHELK ůƄƜƒƘƗŃ GDODPWHPSDWNHUMDDWDXSDEULNVHSHUWLPHVLQSHUDODWDQEDKDQEDNXSURGXNMLJSHUDODWDQ ORQJJDUPDNDDNDQPHQJXUDQJLSHUVLPSDQJDQEDUDQJGDQRUDQJ EDQWXPHEHOGDQODLQODLQ  0HPLODKPLODK EDUDQJ \DQJ SHUOX GDQ WLGDN SHUOX %DUDQJ \DQJ WLGDN 8QWXNDSD.|VDPSDLn0RQLWRULQJ|VHVXDLGHQJDQ .6" GLSHUOXNDQ GLEXDQJ 'L WHPSDW NHUMD WLGDN EROHK PHOHWDNNDQ EDUDQJ .

PHQLQJNDWNDQ GLSHUOXNDQ VWDQGDUGLVDVL NHUMD VHUWD PHOHWDNNDQ GDVDU EDJL SHUEDLNDQ NXDOLWDV SURGXN GDQ  %HUXVDKDODKVHODOXPHQ\LPSDQEDUDQJGLWHPSDW\DQJWHODKGLWHQWXNDQ SHQLQJNDWDQSURGXNVL VXSD\DVLDSDSXQGDSDWGHQJDQPXGDKPHPDNDLQ\D/DNXNDQXSD\DFDUD +DVLO\DQJVHFDUDODQJVXQJDWDXWLGDNVHFDUDODQJVXQJDGDODKVHSHUWLEHULNXWLQL .HEHUVLKDQ ODNXNDQMXJDSHUDZDWDQGDQSHPHULNVDDQEHUNDODWHUKDGDSPHVLQ MLJ HILVLHQ 'DQ MXJD GDSDW  VHJHUD PHQJHWDKXL GHQJDQ VHNDOL OLKDW SHUDODWDQGDQODLQODLQ EDUDQJ \DQJ DGD GL GDODP SDEULN 0XGDK GLSDNDL GDQ PXGDK GLNHPEDOLNDQVHKLQJJDGDSDWPHQJKHPDWZDNWX  /DNXNDQSHPHULNVDDQGDQPRQLWRULQJNRQGLVLSHQJHQDODQ.HUDSLKDQ PHOHWDNNDQGDQWHPSDWPHOHWDNNDQEDUDQJPHQJLNXWLXUXWDQNHUMDGDQ DOXU SURVHV SURGXNVL NHWLND DQGD PHQHQWXNDQ WHPSDW PHOHWDNNDQ 0HQLQJNDWNDQ %DUDQJWLGDNSHUOX\DQJGLOHWDNNDQGLWHPSDW\DQJWLGDNWHUDWXUDNDQ EDUDQJ HILVLHQVLNHUMD PHQJJDQJJX SURVHV NHUMD VHKLQJJD DNDQ PHQXUXQNDQ HILVLHQVL  %HUVLKNDQWHPSDWNHUMDGDQEDUDQJEDUDQJGLVHNLWDUGLULDQGD6HODLQLWX 'HQJDQSHQHNDQDQ.6 EXDWODK 0HQLQJNDWNDQ 'HQJDQ SHPEDJLDQ \DQJ MHODV DQWDUD EDUDQJ \DQJ SHUOX GDQ WLGDN 0RQLWRULQJ ODSRUDQKDULDQSURGXNVLVHUWDGLKDUDSNDQPHQJKLWXQJGDQPHQJDQDOLVD SHUSXWDUDQVWRN SHUOX PHQJKLODQJNDQ NHOHELKDQ VWRFN GDQ PHQJKLODQJNDQ WHPSDW GDWDWHUNDLWWUHQGSURGXNVL EDUDQJ PHOHWDNNDQEDUDQJ\DQJWLGDNGLSHUOXNDQPDNDDNDQPHPXQFXONDQ SHUPDVDODKDQ \DQJ WLGDN WHUOLKDW VHODPD LQL 'HQJDQ EHUXVDKD     6OHELKGLNHQDOVHEDJDL6 6.6GHQJDQ PHQJJXQDNDQ ƆƋƈƆƎŃ ƏƌƖƗ 8QWXN PHPDKDPL KDVLO GDUL .HOHVWDULDQ>ŶƈƌƎƈƗƖƘ@GDQNHGLVSOLQDQ>ŶƈƌƖƒ@.6GDSDWPHQFLSWDNDQDOXUNHUMD\DQJOHELK .

HOHVWDULDQGDQ.HGLVSOLQDQPHPHUOXNDQZDNWX\DQJUHODWLIODPDXQWXNPHQJDNDUVHUWDWHUWDQDP   .7DSLEXNXLQLEHUIRNXVSDGD6 VHKLQJJD PHPLOLNL HIHN MDQJND SHQGHN SDGD SHQLQJNDWDQ ZRUNVKRS LQGXVWUL VNDOD NHFLO +DO LQL NDUHQD SUDNWHN .

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S 6HEHOXPPHODNXNDQSHQLQJNDWDQ/D\RXWZRUNVKRSSDEULNKDUXVGLPXODLGHQJDQ  L.

0HQGHQJDUNDQSLKDNPDQDMHPHQSHQJHOROD LL.

0HPEHUL SHQMHODVDQ NHSDGD SHNHUMD GL EDZDK LQVWUXNVL SHQJHOROD GDQ PHQXQMXNSHQDQJJXQJMDZDE\DQJPHQGDSDWWXJDVPHQJHQDONDQ.6.

 LLL.

0HPSHUVLDSNDQPDWHULDO\DQJGLSHUOXNDQGDODPSHQJHQDODQ.HEHUVLKDQGDQPHQJXODVOD\RXW 6HWHODKLWXVDPELOVHODOXPHQMDJDNRQGLVLXQWXNWHWDSEHUVLKODNXNDQPRQLWRULQJ  NHPXGLDQEHUSLQGDKNHSHUEDLNDQ\DQJEHUNHODQMXWDQGDODPPHWRGHNHEHUVLKDQ 6LWXDVLPHQGHQJDUNDQSLKDNPDQDMHPHQ NLUL.HUDSLKDQ.6 7HUPDVXN GDODP SHUVLDSDQSHUVLDSDQ LQL NLUDNLUD GLODNXNDQ GDODP ZDNWX VDWX EXODQXQWXNSHQJHQDODQ.HWHUDWXUDQ.

6SHUOXXQWXNPHPSHUVLDSNDQKDOKDOEHULNXW LQL 0HQGHQJDUNDQ 3DVWLNDQKDOKDOWHUNDLWnPHQGHQJDUNDQ|PLQLPDOVHSHUWLGLEDZDKLQL SLKDN .6NHSDGDSHNHUMD $SDVDMD\DQJKDUXVGLSHUVLDSNDQXQWXNSHQJHQDODQ.6"  6HEHOXPPHPXODLSHQJHQDODQ.7DUJHWPDQDMHPHQ GDULVHJLQLODLSURGXNVLSDVDUWHNQLN. 6LWXDVLSHQMHODVDQSRVWHU.

3URGXN\DQJVHGDQJGLSURGXNVL EHUWDQ\DGDULSURGXNXPXPNH SHQJHOROD WLDSWLDSSURGXNGLEDZDKQ\D. PDQDMHPHQ .

6DJDUOHELKHIHNWLI 3LKDN PDQDJHPHQ VHEDLNQ\D PHQXQMXN SHQDQJJXQJ MDZDE \DQJ PHQGDSDW WXJDV PHQJHQDONDQ .HWHUDWXUDQ.3HQDQJJJXQJMDZDE.-LJSHUOHQJNDSDQPHVLQGDQSHNHUMD\DQJGLSHUOXNDQ .HQGDOD EDWDVDQWHUNDLWSURVHVNHUMDSHQLODLDQSHODQJJDQ 3HQMHODVDQNHSDGD 3LKDN PDQDMHPHQ KDUXV PHPEHUL SHQMHODVDQ NHSDGD SDUD SHNHUMD SHNHUMD PHQJHQDLJDULVEHVDUNHJLDWDQGDQWDUJHWSHQJHQDODQ. .HUDSLKDQ ..HEHUVLKDQ NHEHUVLKDQWHPSDWNHUMDGDQ SHUDZDWDQDODWDODWMLJ.6'DODP DFDUD SHQMHODVDQ WHUVHEXW SHUOX GLVLDSNDQ SRVWHU \DQJ EHUWXOLVNDQ VORJDQ.6 WHWDSL VHEDLNQ\DPHQXQMXNSHQDQJJXQJMDZDEVHSHUWLGLEDZDKLQL .3HQDQJJXQJMDZDE.3URVHVNHUMD .6 3LKDN PDQDMHPHQ ELVD MXJD PHQMDGL SHQDQJJXQJ MDZDE XQWXN PHQJHQDONDQ .

 .3HQDQJJXQJMDZDEPRQLWRULQJ 3HUVLDSDQEDUDQJ 5DNSHQ\LPSDQDQ XQWXNSHQ\LPSDQDQSURGXNVHWHQJDKMDGLEDUDQJ \DQJGLEXWXKNDQ KDELV SDNDL MLJ.

 SDSDQ JDQWXQJ XQWXN PHQ\LPSDQ EDUDQJ KDELV GDODPSHQJHQDODQ SDNDL MLJ GDQ ODLQODLQ.

6 PHQJXODV OD\RXW. FDW XQWXN PHQXQMXNNDQ DOLUDQ NHWLND .

VRODVL ZDUQD PHUDK KLMDX NXQLQJ ELUX GDQ ODLQODLQ. .

   .

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S /$1*.$7$1ůŤżŲŸŷ:25.$+3(1.1*.DODXƏƄƜƒƘƗ\DQJGLXODVVXGDKGLEXDWEXDWODKWDQGDGHQJDQPHQJJXQDNDQ LVRODVL ZDUQD DWDX FDW KLMDX NXQLQJ PHUDK.6+23  .

 GL ODQWDL VHVXDL GHQJDQ 'HILQLVLGDQ2XWSXW JDPEDU 6HWHODK LWX GLSLQGDKNDQ GL WHPSDW PHOHWDNNDQ SURGXNEDKDQ 0HOHWDNNDQGHQJDQWHSDWSHUOHQJNDSDQPHVLQGDQODLQODLQGDODPWHPSDWNHUMD EDUDQJEHVDUVHSHUWLPHVLQGDQSHUOHQJNDSDQVHVXDLGHQJDQEORNNHUMDGDQ KDUXVPHQJLNXWLDOLUDQSURVHVSURGXNVLGDQPHQMDJDJDULVODMXUNHUMD\DQJOHELK EDKDQEDNX ORQJJDU 'HQJDQ PHQJXVDKDNDQ SHUEDLNDQ ƏƄƜƒƘƗ WHPSDW NHUMD NHJLDWDQ  'HQJDQPHQJJXQDNDQSDSDQ SHOHWDNDQ.

HWHUDWXUDQ .HUDSLKDQ .SHUDODWDQ\DQJGLJDQWXQJNDQGL .HEHUVLKDQ VHWHODKQ\D DNDQ GDSDW GLMDODQNDQ GHQJDQ ODQJLWODQJLWDWDXGLGLQGLQJGLWLDSWLDSEORNNHUMDDNDQGDSDWPHQXQMXNNDQ PXGDK0HQMDJDMDUDN\DQJGLSHUOXNDQSDGDSHQ\LPSDQDQEDUDQJGDQNHJLDWDQ SURVHVNHUMDDSD\DQJVHGDQJGLODNXNDQGLDUHDWHUVHEXW SURGXNVLNHUMD PHPSHUVLQJNDW JDULV MDOXU NHUMD ZDNWXMDUDN SHUSLQGDKDQ.

  GDSDWGLKDUDSNDQ .

 -LNDSURVHVNHUMD\DQJWHUWXOLVGLDWDVVHOHVDLODNXNDQODJLSHPHULNVDDQVLUNXODVL  GDQ SHQFDKD\DDQ NHPXGLDQ GLSHULNVD \DQJ WHUDNKLU NDOLQ\D PXODL GDUL +DOKDO\DQJ+DUXV'LODNXNDQ NHVHVXDLDQGHQJDQJDPEDU .

 0HPDVWLNDQNRQGLVLƏƄƜƒƘƗWHPSDWNHUMD 7LSVGDQ3HWXQMXN   3DVWLNDQ DSDNDK NRQGLVL ODQWDL GLQGLQJ GDQ DWDS FXNXS WHUOLKDW DSDNDK VLUNXODVLGDQSHQFDKD\DDQQ\DFXNXS'LKDUDSNDQODQWDLGDODPNRQGLVLUDWD *DPEDUXODVDQƏƄƜƒƘƗWHPSDWNHUMDŃůƄƜƒƘƗ\DQJGLPDNVXGWHUGLULGDULVHWHODK GDQWLGDNDGDWUDS EDKDQEDNXGLEDZDPDVXNNHPXGLDQPHOHZDWLSURVHVSHUWDPDGDQNHGXD EORN  $SDNDK PHVLQ SHUOHQJNDSDQ EDKDQ EDNX EDUDQJ VHWHQJDK MDGL VWRN NHUMDSURGXNVHWHQJDKMDGL.

VDPSDLSURVHVSHQJLULPDQEDUDQJMDGL%DJLDQ\DQJ EDUDQJ UXVDN PDFDPPDFDP MLJ VDPSDK GDQ ODLQODLQ GLOHWDNNDQ VHFDUD EHUZDUQD KLMDX DGDODK JDULV NHUMD ZDUQD NXQLQJ DGDODK EORN NHUMD GDQ ZDUQD WLGDNUDSLEHUDQWDNDQ&DUDPHOHWDNNDQGDQWHPSDWPHOHWDNNDQVHPXDLQL PHUDKPHQXQMXNNDQWHPSDWPHOHWDNNDQSURGXNGDQEDKDQEDNX KDUXVGLSDVWLNDQGLFHN ƒ Žƒ– ƒ Žƒ–  3DVWLNDQKDVLOGDULPHQGHQJDUNDQSLKDNPDQDMHPHQGDQWHPSDWNHUMD\DQJ –‘ ‡’ƒ– –‘ ‡’ƒ– –‘ ƒŠƒ ”‘†— ƒ•‹Ž ”‘†— VHEHQDUQ\D NHPXGLDQ DSDNDK VXGDK PHQMDGL ƏƄƜƒƘƗ WHPSDW NHUMD \DQJ ƒƒ” ‡‰‡…‘”ƒ ‡‰‡…‘”ƒ ‡‰‘Ž‘Šƒ  ‡–‡‰ƒŠǦŒƒ†‹  VHVXDL GHQJDQ SURVHV SURGXNVL 'HQJDQ NDWD ODLQ KDUXV GLOLKDW DSDNDK WHPSDW SRVLVL SHQJDWXUDQ PHVLQ GDQ SHUOHQJNDSDQ FRFRN GHQJDQ ƒŽƒ– SURVHVQ\D ‡’ƒ– ‡‰‘Ž‘Šƒ  .

 0HODNXNDQNHJLDWDQEHUVLKEHUVLKGLWHPSDWNHUMDPHPEHUHVNDQEDUDQJ\DQJ ƒ Žƒ–Ȁ ‡”ƒŽƒ–ƒ —— WLGDN SHUOX VHSHUWL VDPSDK \DQJ PHQJHQGDS GLELDUNDQ WHUODOX ODPD DWDS ‡”ƒŽƒ–ƒ —— –‘ ƒŠƒ ƒ— ƒ Žƒ–Ȁ ODQJLWODQJLWGLQGLQJGDQODQWDLKDUXVGDODPNHDGDDQELVDGLOLKDWGHQJDQMHODV –‘ ”‘†— .

 0HQJXODVOD\RXWWHPSDWNHUMD ‡–‡‰ƒŠǦŒƒ†‹   0HPEXDW JDPEDU ƏƄƜƒƘƗ VXSD\D DOXUQ\D VHVXDL GHQJDQ SURVHV SURGXNVL –‘ ‡’ƒ– PLVDOQ\D GDUL SHQ\LPSDQDQ EDKDQ EDNX PHQXMX SURVHV WUHDWPHQW ƒŠƒ ƒ— ‹‹•Š‹‰ EHULNXWQ\D GDUL ILQLVKLQJ SURGXN VDPSDL SHPHULNVDDQ WHUDNKLU VHEHOXP ‡’ƒ– ‹‹•Š‹‰ SHQJLULPDQ EDUDQJ 7HUXWDPD XQWXN SHQJDWXUDQ WHPSDW EDUDQJEDUDQJ ƒ Žƒ– EHVDU VHSHUWL PHVLQ SHUOHQJNDSDQ SHUOX XQWXN GLXODV ODJL 'DQ MXJD –‘ VHWHODKGLXODVGLSDVWLNDQMXJDDSDNDKFXNXSPHQGDSDWSHQFDKD\DDQGDQ .

 ”‘†— ƒ†‹ VLUNXODVL\DQJEDLN ƒ•‘ƒ ƒŠƒ †ƒ”‹ ‡ƒ•‘ ‡‰‹”‹ƒ ”‘†— ƒ†‹   'L GDODP OD\RXW WHUVHGLD EORN NHUMD PLVDOQ\D EORN EDUDQJ FHWDNDQ EORN 7DQGDGLODQWDLPHQJLNXWLJDPEDU7HPSDWNHUMDWHUEDJLGHQJDQMHODVDWDVEORN PHVLQ EORNŃ ƉƌƑƌƖƋƌƑƊ GDQ ODLQODLQ.

 GDQ WHPSDW XQWXN PHOHWDNNDQ EDKDQ NHUMDWHPSDWPHOHWDNNDQEDUDQJ\DQJGLSURGXNVLGDQEDKDQEDNX0LVDOQ\DJDULV EDNX GDQ SURGXN VHVXDL DOXU SURVHV SURGXNVL 3HUOX XQWXN PHPEHGDNDQ NHUMD GLEHUL ZDUQD KLMDX EORN NHUMD GLEHUL ZDUQD NXQLQJ WHPSDW PHOHWDNNDQ GHQJDQMHODVJDULVMDOXUNHUMD EDJLDQMDODQ.

\DQJGLEXDWXQWXNSHUSLQGDKDQ EDUDQJ\DQJGLSURGXNVLGDQEDKDQEDKDQGLEHULZDUQDPHUDK EDUDQJGDQRUDQJ   .

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S /$1*.(7(5$785$1 ŶŨŬŵŬ.$+.

DUHQDEDQ\DNEDUDQJ\DQJWLGDNDGDKXEXQJDQQ\DGHQJDQ SHNHUMDDQ \DQJ VHGDQJ GLODNXNDQ GL WHPSDW NHUMD GLELDUNDQ EHJLWX VDMD EDUDQJEDUDQJVHSHUWLLQLWDQSDGLVDGDULDNDQGDSDWPHQJXQGDQJPDVDODKGDQ  NHVLDVLDDQ 3HQXQMXN LVL NHUMD 0HQJHQDL EORN NHUMD LVL NHUMDQ\D GLWXQMXNNDQ VHSHUWL SDGD 'HQJDQWLGDNPHOHWDNNDQEDUDQJVHODLQEDUDQJ\DQJGLEXWXKNDQL. 'HILQLVLGDQ2XWSXW 0HPLODK EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ GDQ WLGDN GLSHUOXNDQ EDUDQJ \DQJ WLGDN GLSHUOXNDQGLEXDQJ.

MDUDN\DQJ FRQWRKGLEDZDKLQL FXNXS\DQJGLEXWXKNDQXQWXNNHUMDGDQPHQ\LPSDQEDUDQJ\DQJGLSHUOXNDQDNDQ WHUMDJD LL.

 VWRN DNDQ EHUNXUDQJ ZDNWX \DQJ GLSHUOXNDQ XQWXN LQYHQWDULVDVL SHQJDPELODQ VWRN.

 DNDQ ELVD GLWHNDQ \DQJ VHFDUD KDVLO ELVD GLKDUDSNDQ HIHNWLILWDVVHSHUWLEHUNXUDQJQ\DEDUDQJVHWHQJDKMDGL\DQJEHUOHELKDQ +DOKDO\DQJ+DUXV'LODNXNDQ .

 0HPDKDPLGHQJDQEDLNWHUOHELKGDKXOXDGDDSDGLWHPSDWNHUMDWHUVHEXW  'LGDODPSDEULNSDGDXPXPQ\DWHUGDSDWEDKDQEDNXEDKDQEDNDUEDUDQJ  \DQJ GLSURGXNVL EDUDQJ VHWHQJDK MDGL EDUDQJ MDGL EDUDQJ \DQJ WLGDN VHVXDL EDUDQJ \DQJ GLNHPEDOLNDQ.

 PHVLQ SHUOHQJNDSDQ MLJ SDNDLDQ    NHUMDVDPSDKGDQODLQODLQ NHFXDOLGRNXPHQ.

 .

 7HQWXNDQVWDQGDUEDUDQJ\DQJGLSHUOXNDQXQWXNNHUMDVDDWLQL/DOXVLDSNDQ ODEHOLGHQWLILNDVL   3LVDKNDQ GHQJDQ MHODV EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ GDQ EDUDQJ \DQJ WLGDN GLSHUOXNDQ 8QWXN EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ SHQDQJDQDQQ\D GLODNXNDQ VHWHODKGLSDVWLNDQIUHNXHQVLSHPDNDLDQQ\D PLVDOQ\DGLSDNDLVHWLDSKDUL VHPLQJJXVHNDOLGLSDNDLGLSDNDLVHWLDSVDWXEXODQVHNDOLGVE.

   'DQMXJDGLSDVWLNDQDSDNDKEDUDQJ\DQJGLSHUOXNDQDGDGDODPNRQGLVLEDLN GDQELVDGLSDNDL  6LDSNDQODEHOLGHQWLILNDVL\DQJELVDGLOLKDWGHQJDQVHNHMDSVHVXDLGHQJDQ \DQJWHUWXOLVGLDWDV .

 6DPELO PHQHPSHO ODEHO LGHQWLILNDVL SLODKSLODKNDQ EDUDQJ VHVXDL GHQJDQ VWDQGDU\DQJWHUWXOLVGLDWDVVHWHODKGLODNXNDQSHQJHFHNDQVHNDOLODJLXQWXN SHPEHULDQQDPDEDUDQJ .

%DUDQJ\DQJWLGDNGLSHUOXNDQGLVLQJNLUNDQEDUDQJ\DQJGLSHUOXNDQGLULQJNDV ODJLOHELKULQFL  .XPSXONDQ EDUDQJ \DQJ WLGDN GLSHUOXNDQ ODOX SLNLUNDQ FDUD SHQJRODKDQ DWDXSHPEXDQJDQQ\D%XDQJODKVHVXDLGHQJDQFDUDSHPEXDQJDQQ\D  %DUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ GLWHQWXNDQ IUHNXHQVLQ\D NHPXGLDQ GLSLODK EHUGDVDUNDQIUHNXHQVLSHPDNDLDQQ\D   .

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S  0HVNLSXQEDUDQJWHUVHEXWGLSHUOXNDQNDODXWHUQ\DWDNRQGLVLQ\DWLGDNELVD /$1*.+$1 ŶŨŬŷŲű.$+.(5$3.

 GLSDNDL ODNXNDQ SHUEDLNDQ DWDX GLSHUWLPEDQJNDQ ODJL SHPEHOLDQQ\D NHPXGLDQGLNHPEDOLNDQGDODPNRQGLVLELVDGLSDNDL 'HILQLVLGDQ2XWSXW 7LSVGDQ3HWXQMXN %DUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ GLXVDKDNDQ GLVLPSDQ GL WHPSDW \DQJ WHODK GLWHQWXNDQ VXSD\DPXGDKGLSDNDLROHKVLDSDVDMD'LWHPSDWNHUMDVHULQJGLNDWDNDQEDKZD /DEHO LGHQWLILNDVL .HWLND PHPLODK EDUDQJ \DQJ DGD GL WHPSDW NHUMD SDGD NHJLDWDQnPHQFDUL|LWXPHPHUOXNDQZDNWX\DQJVDQJDWODPD.HUDSLKDQDGDODK XPXPQ\DPHQJJXQDNDQNDUWXNODVLILNDVL GLWXQMXNNDQSDGDFRQWRKGLODPSLUDQ VXDWX SHNHUMDDQ EHUXVDKD PHQVWDQGDULVDVL FDUD PHOHWDNNDQ DWDX PHQ\LPSDQ WHUSLVDK.

/DEHOLGHQWLILNDVLODQJVXQJGLWHPSHOGLEDUDQJVHWHODKGLSLOLKGDQGLLVL EDUDQJ\DQJGLSHUOXNDQVHUWDNHJLDWDQPHPEXDWPHNDQLVPHVXSD\DnELVDFHSDW KDOKDO\DQJGLSHUOXNDQ GLWHPXNDQ| nELVD FHSDW GLJXQDNDQ| GDQ nELVD FHSDW GLNHPEDOLNDQ| 6HKLQJJD  %DUDQJ \DQJ WLGDN GLSDNDL VHJHUD %LDVDQ\D GLKDUDSNDQ WHUMDGL  HIHNWLILWDV GHQJDQ L.

 SHQJXUDQJDQ ZDNWX SHUVLDSDQ GDODP GLNODVLILNDVLNDQ VHEDJDL EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ PHQJJXQDNDQGDQZDNWX PHQFDULGDQ LL.

 PHQXUXQQ\DSHPEHOLDQ\DQJ VLDVLD 0LVDOQ\DEDUDQJ\DQJKDQ\DGLSDNDLEXODQVHNDOL NDUHQDNHKLODQJDQGDQOHELKOHELKODJLDGDODKSHQJXUDQJDQSHUXEDKDQUHQFDQD GLVLPSDQGLJXGDQJ6HGDQJNDQEDUDQJ\DQJPDVD DWDXSHQJKHQWLDQSURVHVSURGXNVL SHPDNDLDQQ\DVXGDKOHZDWDWDXEDUDQJ\DQJOHELK +DOKDO\DQJ+DUXV'LODNXNDQ GDULWDKXQWLGDNGLJXQDNDQDNDQGLDQJJDSVHEDJDL EDUDQJ\DQJWLGDNGLSHUOXNDQ .

 %DUDQJ\DQJGLSHUOXNDQGLWHPSDWNDQVHWHODKGLWHQWXNDQFDUDPHOHWDNNDQGDQ 3HQDQJDQDQEDUDQJ\DQJWLGDNMHODV'LWHPSDWNHUMDMXJDDGDEDUDQJ\DQJ WHPSDW PHOHWDNNDQ \DQJ VHVXDL GHQJDQ XUXWDQ NHUMD DWDX DOXU SURVHV WLGDNGLNHWDKXLVLDSDSHPLOLNQ\DDWDXSHQDQJJXQJMDZDEQ\DVHUWDEDUDQJ\DQJ SURGXNVL WLGDNGLNHWDKXLDODVDQQ\DPHQJDSDGLOHWDNNDQGLWHPSDWWHUVHEXW8QWXNKDOKDO  %DUDQJEDUDQJ \DQJ GLNODVLILNDVLNDQ VHEDJDL EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ VHSHUWLLQLNXPSXONDQMDGLVDWXWHQWXNDQEDWDVZDNWXQ\DODOXOHWDNNDQGLWHPSDW VHSHUWLEDKDQEDNXEDKDQEDNDUEDUDQJ\DQJGLSURGXNVL EDUDQJVHWHQJDK \DQJPXGDKGLOLKDWROHKVLDSDVDMDVHSHUWLSDGDJDPEDU8QWXNEDUDQJEDUDQJ MDGLEDUDQJMDGLEDUDQJ\DQJWLGDNVHVXDLEDUDQJ\DQJGLNHPEDOLNDQ.

MLJ NHFLO VLDSNDQ VHEXDK nNRWDN NHKLODQJDQ| NHPXGLDQ WDQ\DNDQ MHODVNDQ DODW XNXU GLSHULNVD WHPSDW SHQJJXQDDQ\D  GDQ DVDOQ\D  EDUDQJ \DQJ NHSHPLOLNDQGDQDODVDQQ\D GLSURGXNVL.

 NHPXGLDQ VLPSDQODK GDODP OLQJNXS \DQJ GHNDW GHQJDQ GLJXQDNDQQ\D EDUDQJEDUDQJ WHUVHEXW VXSD\D WLGDN WHUMDGL JDQJJXDQ SHQJDQJNXWDQGDULWHPSDWDVDOQ\D  3LNLUNDQ WHPSDW PHOHWDNNDQ EDUDQJ VHVXDL GHQJDQ IUHNXHQVL SHPDNDLDQ EDUDQJ \DQJ GLSHUOXNDQ %DUDQJ \DQJ IUHNXHQVL SHPDNDLDQQ\D WLQJJL GLVLPSDQGLORNDVL\DQJOHELKGHNDWODJLGHQJDQSHNHUMD .

 0HQJXSD\DNDQ FDUD PHOHWDNNDQ GDQ SHQ\LPSDQDQ \DQJ FRFRN GHQJDQ IUHNXHQVL GDQ FDUD SHQJJXQDDQ NHPXGLDQ VHWHODK GLWXQMXNNDQ QDPD EDUDQJQ\DEDUXODKGLOHWDNNDQ  0HQJHQDLFDUDSHQJJXQDDQWHODDKWHUOHELKGDKXOXFDUDSHQJJXQDDQFDUD PHPEDZDQ\D GDQ IUHNXHQVLQ\D 6XSD\D WLGDN GLSHUOXNDQ NHJLDWDQ \DQJ EHUXODQJXODQJ GDQ UXPLW GDODP PHQJHOXDUNDQ EDUDQJ PDND SHUOX NHUDSLDQGHQJDQFDUD\DQJPXGDKGLSDKDPLROHKVLDSDVDMD0HQJHQDLFDUD PHQJHPEDOLNDQQ\DMXJDVDPD  8QWXNEDUDQJ\DQJSHUOXGLEXDQJVHWHODKGLJXQDNDQ VHSHUWLWDEXQJJDV NHFLOEDKDQEDNXVLVD.

WRORQJGLSHUWLPEDQJNDQVHJLNHDPDQDQQ\DSHUOX GLWHODDKFDUDGDQWHPSDWSHQ\LPSDQDQVDPSDLNHSHPEXDQJDQQ\D   .

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S 7LSVDQG3HWXQMXN /$1*.+$1 ŶŨŬŶŲ.$+.(%(56.

HPXGLDQ GDODP PHOLKDW SDGD XPXPQ\D SHQ\LPSDQDQ MLJ PHQJJXQDNDQ SDSDQ SHQ\LPSDQDQ SHUDODWDQ 3DSDQ SHUDODWDQ WLGDN WHUEDWDV GL VDWX WHPSDW VDMD  PHODNXNDQSHPHULNVDDQGDQSHPHOLKDUDDQPHVLQSHUOHQJNDSDQPDFDPPDFDP EROHKMXJDGLOHWDNNDQEHEHUDSDGLWLDSWLDSEORNNHUMD MLJ VHFDUD EHUNDOD 'HQJDQ PHODNXNDQ ƎƈƅƈƕƖƌƋƄƑŏŃ GLKDUDSNDQ KDVLO VHEDJDL  EHULNXW L. &RQWRKŮƈƕƄƓƌƋƄƑSDGDEHUEDJDLPDFDPMHQLVMLJSHUDODWDQ 'HILQLVLGDQ2XWSXW 'HQJDQ PHPSHUWLPEDQJNDQ NHPXGDKDQ GDODP SHPDNDLDQ GDQ NHPXGDKDQ 0HPEHUVLKNDQ EDUDQJEDUDQJ GL VHNLWDU GLUL GDQ WHPSDW NHUMD .

 NHVDQ \DQJ GLEHULNDQ NHSDGD SHODQJJDQ PHQMDGL EDLN LL.

 PXGDK GLNHWDKXL MLND DGD NHWLGDNEHUHVDQ WHUNDLW NRQGLVL NHVHODPDWDQNHEHUVLKDQ GDQ SHQJRQWURODQ LLL.

 PXGDK GLFHJDK MLND DGD PDVDODK VHSHUWL NHUXVDNDQ PHVLQtSHUOHQJNDSDQVHEHOXPWHUMDGL +DOKDO\DQJ+DUXV'LODNXNDQ .

 0HQHWDSNDQMDGZDOGDQSHQDQJJXQJMDZDEPDVLQJPDVLQJWHPSDWEHULNXWLQL   WHUPDVXN VSDVL UXDQJ XQWXN EORN WHPSDW NHUMD EDKDQ EDNX WHPSDW  PHOHWDNNDQSURGXN\DQJGLSURGXNVLJDULVMDOXUNHUMDWRLOHWGDQNDQWRU 3DGD DNKLUQ\D SHQWLQJ VHNDOL XQWXN PHQMDJD NHUDSLKDQ VXSD\D nELVD GLNHWDKXL  7HQWXNDQ DSD GDQ GHQJDQ IUHNXHQVL \DQJ EDJDLPDQD PHPEHUVLKNDQ GHQJDQ VHNDOL OLKDW| 3HUOX GLSHUKDWLNDQ EDKZD NHUDSLKDQ LWX EXNDQODK KDQ\D  NRWRUDQNRWRUDQVHSHUWLVDPSDKSXLQJOLPEDK ƆƘƗƗƌƑƊ.

QRGDDLUNRWRUDQ PHQ\XVXQ EHUGHUHW PHUXEDK GHUHWDQ EDUDQJ DWDX PHQXPSXN XODQJ.

 DWDX PLQ\DN MDPXU EDUDQJEDUDQJ \DQJ WLGDN GLSHUOXNDQ GDQ ODLQODLQ  PHPSHUOLKDWNDQ PHQJDWXUEDUDQJ.

HUDSLKDQ \DQJ WDPSDN  IUHNXHQVLQ\DPLVDOQ\DGLEHUVLKNDQVHWLDSKDULGLEHUVLKNDQVHFDUDEHUNDOD SDGDWHPSDWPHOHWDNNDQEDUDQJPHUXSDNDQKDO GDQ GLEHUVLKNDQ VHNDOLJXV KDO \DQJ VDPD MXJD GLODNXNDQ XQWXN  \DQJ HIHNWLI 0HVNLSXQ VXGDK EHUXVDKD ƐƄƌƑƗƈƑƄƑƆƈ.GHQJDQLQGDK %XDWODK UHQFDQD GDODP PHPEDJL LVL GDQ RE\HN NHEHUVLKDQ EHUGDVDUNDQ 0HQJHQDL SHQXQMXN .

 PHQ\LPSDQ GHQJDQ EDLN MLND LQIRUPDVL WHUNDLW EDUDQJ PLVDOQ\D QDPD XNXUDQ NHJXQDDQ  8QWXNEORNNHUMDSHUOXGLEHUVLKNDQVHVHULQJPXQJNLQPLVDOQ\DMLNDVHOXUXK FDUD PHQJJXQDNDQ GDQ ODLQODLQ.

 NXUDQJ DGD SHNHUMDDQ VXGDK VHOHVDL KDUXV ODQJVXQJ GLEHUVLKNDQ 3HQWLQJ XQWXN NHPXQJNLQDQ DNDQ EHUDNKLU GHQJDQ VXDWX GLELDVDNDQPHODNXNDQEHUVLKEHUVLKMLNDDGD\DQJNRWRU'LVDUDQNDQVHWLDS GHUHWDQ EHODND +DO LQL WLGDN ELVD GLNDWDNDQ VHEDJDL PHNDQLVDVL \DQJ GLVHEXW KDULPHQJDORNDVLNDQZDNWXVHNLWDUPHQLWXQWXNEHUVLKEHUVLK GHQJDQnELVDFHSDWGLWHPXNDQ|nELVDFHSDWGLJXQDNDQ| .

 8QWXN PHVLQ SHUOHQJNDSDQ GDQ PDFDPPDFDP MLJ SHUDODWDQ EDQWX   WHQWXNDQODKMDGZDOGDQWXJDVNDQSHQDQJJXQJMDZDEQ\D  7HQWXNDQ DSD GDQ GHQJDQ IUHNXHQVL \DQJ EDJDLPDQD PHPEHUVLKNDQ NRWRUDQNRWRUDQ VHSHUWL VDPSDK OLPEDK SRWRQJDQ ƆƘƗƗƌƑƊ.

 QRGD DLU NRWRUDQPLQ\DNNDUDWEDUDQJEDUDQJ\DQJWLGDNGLSHUOXNDQGDQODLQODLQ  0XODPXODWHQWXNDQWHUOHELKGDKXOXKDOKDO\DQJGLSHULNVDVHFDUDVSHVLILN SDGD PHVLQ SHUOHQJNDSDQ PDFDPPDFDP MLJ SHUDODWDQ EDQWX VHSHUWL DODW PHQXDQJ PLQ\DN PHVLQ SROLVKLQJ DODW NDOLEUDVL GDQ ODLQODLQ %DUX NHPXGLDQWHWDSNDQIUHNXHQVLQ\DEDJDLPDQD   .

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S .

HFLO GDQ .725.$+021.1* GLJXQDNDQXQWXNEHUVLKEHUVLK 'DODP NHUMDVDPD WHNQLV DQWDUD -.QGXVWUL . 3DVWLNDQ SHQJJXQDDQ DGD WLGDNQ\D SHUDODWDQ XQWXN NHEHUVLKDQ \DQJ /$1*.&$ GDQ 'LUHNWRUDW -HQGUDO .

6 FRQWRKXVDKD$.GHŃXQWXNPHPSHUPXGDKNHEHUVLKDQ8QWXNPHQFHJDKGHEXGDQVHUSLKDQ VHUSLKDQ VLVD SRWRQJDQ ƆƘƗƗƌƑƊ EHUKDPEXUDQ ELVD PHQJJXQDNDQ ƆƒƙƈƕŃ ƖƋƈƈƗ DWDX SDUWLVL 6HSHUWL KDOQ\D PDFDPPDFDP MLJ SHUDODWDQ NHEHUVLKDQ SHQWLQJ XQWXN PHQ\LPSDQQ\D GLWHPSDW \DQJ PXGDK NHWLND DNDQ GLSDNDL GDQ PXGDK NHWLNDPHQJHPEDOLNDQQ\DODJL   6LWXDVLVHEHOXP.6 WHODK PXQFXO FRQWRKFRQWRK KDVLO \DQJ 7LSVGDQ3HWXQMXN VDQJDW EDLN GDUL XSD\D \DQJ WHODK GLODNXNDQ 6HSHUWL ELVD WHUOLKDW GDUL JDPEDU GLEDZDKLQL . /DNXNDQƎƈƅƈƕƖƌƋƄƑVHVXDLGHQJDQUHQFDQDNHEHUVLKDQ\DQJWHODKGLWHQWXNDQ 0HQHQJDK NKXVXVQ\D GDODP LQGXVWUL NRPSRQHQ NDSDO GL NDEXSDWDQ 7HJDO \DQJ VHEHOXPQ\DVHSHUWLSDGDSRLQWGLDWDV WHODK PHODNVDQDNDQ SHQJHQDODQ .

6 FRQWRKXVDKD$. 6LWXDVLVHWHODK.

DPLV -XPDW 6LWXDVLVHEHOXP.    0HQJXPXPNDQ PHPEHULWDKXNDQ MDGZDO NHEHUVLKDQ /DNXNDQ GHQJDQ PHQ\LDSNDQGDIWDUSLNHWJLOLUDQVHSHUWLFRQWRKGLEDZDKLQLKDOLQLPHUXSDNDQ XSD\DXPXPGDODPSHPEHULWDKXDQMDGZDOƎƈƅƈƕƖƌƋƄƑNHSDGDSDUDSHNHUMD    3HQDQJJXQJ 6HQLQ 6HODVD 5DEX .6 FRQWRKXVDKD%.

6LWXDVLVHWHODK.6 FRQWRKXVDKD%.

DPDUNHFLO  3HUPHVLQDQ 3HQJHFRUDQ VDMD 6HWHODK SHQJHQDODQ SXQ SHUOX XQWXN PHODNXNDQ ELPELQJDQ PRQLWRULQJ 7HPSDW 7HPSDW 7HPSDW PHODOXL NXQMXQJDQ EHUNDOD +DO LQL SHQWLQJ GDODP PHOHWDNNDQ NHJLDWDQ .DQWRU  3HQJHFRUDQ 3URGXN 3HUPHVLQDQ VHEDJDLWXJDVVHKDULKDULSHQJHORODDQZRUNVKRSPHQMDJDWHPSDWNHUMD\DQJWHODK 7HPSDW 7HPSDW 5XDQJ 7HPSDW 6XODLPDQ  GLSHUEDLNL VHFDUD EHUNHODQMXWDQ VHUWD WHUXV PHODNXNDQ SHUEDLNDQ VHEDJDL VXDWX 3HPRWRQJDQ SURGXN . -DZDE 7HPSDW 7HPSDW 7HWDSLKDOLQLSDVWLWLGDNEROHKKDQ\DEHUKHQWLSDGDELPELQJDQNHWLNDSHQJHQDODQ 5L]N\ -DOXUNHUMD .VWLUDKDW 3HPRWRQJDQ  NHKDUXVDQ'HQJDQPHQJJXQDNDQUHIHUHQVLVHSHUWLGLEDZDKLQLGLVDUDQNDQXQWXN   PHODNXNDQELPELQJDQPRQLWRULQJNRQGLVLSHQJHQDODQ.6 :DZDQ .6     .

HEHUVLKDQ .6XQWXNPRQLWRULQJEHUNDOD .HWHUDWXUDQ 5HQFDQDNHEHUVLKDQGDQDODWDODW\DQJGLJXQDNDQ $SDNDKWLGDNDGDEDUDQJ\DQJWLGDNSHUOXDWDXWLGDNMHODVGLPDVLQJPDVLQJEORN  $SDNDKUHQFDQDNHEHUVLKDQVXGDKGLWHWDSNDQ REMHNLVLNHZDMLEDQIUHNXHQVL. BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S ŦƋƈƆƎŃƏƌƖƗ.

"  NHUMD" $SDNDKFDUDPHPEHUVLKNDQVXGDKGLWHWDSNDQ"  $SDNDK WLGDN DGD EDUDQJ \DQJ WLGDN SHUOX DWDX WLGDN MHODV SDGD WHPSDW  $SDNDKDODWDODWNHEHUVLKDQVXGDKGLFHNWHUDWXU PXGDKGLSDNDLGLNHPEDOLNDQ.

"  PHOHWDNNDQ EDKDQ EDNX SURGXN \DQJ GLSURGXNVL EDUDQJ VHWHQJDK MDGL VWRFN 3HPHULNVDDQGDQSHQJHFHNDQNHEHUVLKDQ EDUDQJUXVDNEDUDQJ\DQJGLNHPEDOLNDQ.

GHQWLILNDVL"  0HQJHQDL EDJLDQtEDJLDQ \DQJ EHOXP GLEHUVLKNDQ \DQJ GLWHPXNDQ NHWLND  ." $SDNDKVXGDKGLEHUVLKNDQVHVXDLGHQJDQUHQFDQDNHEHUVLKDQ"  $SDNDKWLGDNDGDEDUDQJ\DQJWLGDNSHUOXDWDXWLGDNMHODVGLMDOXUNHUMD"  $SDNDKFDUDGDQSRLQSHPHULNVDDQSHQJHFHNDQVXGDKGLWHWDSNDQ"  $SDNDKWLGDNDGDEDUDQJ\DQJWHUWHPSHOODEHO.HUDSLKDQ PHPHULNVDPHQJHFHNDSDNDKODQJVXQJVHJHUDGLEHUVLKNDQ" $SDNDK SDGD PDVLQJPDVLQJ EORN NHUMD GDQ MDOXU NHUMD EDUDQJ \DQJ SHUOX   3URGXN\DQJGLSURGXNVLEDKDQEDNX EDUDQJ\DQJGLSDNDL.

WLGDNWHUEHQJNDODL" $SDNDK VDPSDK SXLQJSXLQJ NRWRUDQ GHEX QRGD DLU NDUDW \DQJ EHUDVDO GDUL   $SDNDKPDFDPPDFDPMLJDODWSHQJXNXUWHUOHWDNVHVXDLGHQJDQXUXWDQNHUMD"  EDUDQJVHWHQJDKMDGLVWRNGDQEDKDQEDNXVXGDKGLEHUVLKNDQ" $SDNDKPDFDPPDFDPMLJGDQDODWSHQJXNXU\DQJIUHNXHQVLSHPDNDLDQQ\DWLQJJL  $SDNDK GLSDVDQJ EDQWDODQ GDQ SHPEDWDV XQWXN PHQFHJDK EHQWXUDQ VHVDPD  GLOHWDNNDQGLGHNDWWHPSDWNHUMD" EDKDQEDNXDWDXSURGXN\DQJGLSURGXNVL" $SDNDKPDFDPPDFDPMLJDODWXNXUWHUVLPSDQGDODPNRQGLVLVXGDKGLEHULQDPD"  $SDNDK NRWRUDQ SDGD NRQWDLQHU WUROL SDOHW \DQJ GLJXQDNDQ XQWXN PHPLQGDK  $SDNDKDODWXNXUGLVLPSDQGLWHPSDW\DQJVWDELO WLGDNPXGDKJRQFDQJ.

"$SDNDK  EDUDQJVXGDKGLEHUVLKNDQ" VXGDKGLSHUWLPEDQJNDQXQWXNSHQFHJDKDQEHUXEDKEHQWXN" 0HVLQSHUOHQJNDSDQPDFDPPDFDPMLJ 3DGDWHPSDWPHOHWDNNDQEDKDQEDNXGDQSURGXN\DQJGLSURGXNVLDSDNDKEDUDQJ  $SDNDK VDPSDK SXLQJSXLQJ NRWRUDQ GHEX QRGD DLU NDUDW \DQJ EHUDVDO GDUL   \DQJGLSHUOXNDQWHODKGLVLPSDQGHQJDQFDUDGDQWHPSDW\DQJWHODKGLWHQWXNDQ" PHVLQSHUOHQJNDSDQVXGDKGLEHUVLKNDQ" 3DGDWHPSDWPHOHWDNNDQEDKDQEDNXGDQSURGXN\DQJGLSURGXNVLDSDNDKEDUDQJ  $SDNDKPHVLQGDQSHUOHQJNDSDQVXGDKGLUDZDWVHFDUDWHSDWVXSD\DELVDODQJVXQJ  \DQJGLSHUOXNDQGLVLPSDQGDODPNHDGDDQVXGDKGLEHULQDPD" GLJXQDNDQ" $SDNDK WLGDN DGD NHOXKDQ DWDX NHLQJLQDQ GDUL SDUD SHNHUMD PHQJHQDL WHPSDW  $SDNDK VDPSDK SXLQJSXLQJ NRWRUDQ GHEX QRGD DLU NDUDW \DQJ EHUDVDO GDUL  PHOHWDNNDQEDUDQJSDGDWHPSDWNHUMDFDUDPHOHWDNNDQFDUDPHQJHPEDOLNDQ" PDFDPPDFDPMLJ WHUPDVXNFHWDNDQ.

VXGDKGLEHUVLKNDQ" $SDNDKSURGXN\DQJGLSURGXNVLEDKDQEDNXVXGDKGDODPSRVLVLũƌƕƖƗŐƌƑŃũƌƕƖƗŃŲƘƗ   $SDNDK PDFDPPDFDP MLJ VXGDK GLUDZDW VHFDUD WHSDW VXSD\D ELVD ODQJVXQJ  SHUWDPDPDVXNSHUWDPDNHOXDU.

" GLJXQDNDQ" $SDNDKEDUDQJUXVDNEDUDQJ\DQJGLNHPEDOLNDQEDUDQJVHWHQJDKMDGLGDQVWRFN  $SDNDK VDPSDK SXLQJSXLQJ NRWRUDQ GHEX QRGD DLU NDUDW \DQJ EHUDVDO GDUL  GLVLPSDQGLWHPSDW\DQJWHUMDQJNDXGHQJDQQDPD\DQJODLQ" DODWDODWSHQJXNXUVXGDKGLEHUVLKNDQ" $SDNDKEDKDQEDNX\DQJSDQMDQJWLGDNGLOHWDNNDQEHUGLUL"$SDNDKDGDSHQ\DQJJD  $SDNDK DODWDODW XNXU VXGDK GLUDZDW VHFDUD WHSDW VXSD\D ELVD ODQJVXQJ  XQWXNEDUDQJ\DQJPXGDKMDWXK" GLJXQDNDQ"$SDNDKVXGDKSDKDPPDVDEHUODNXQ\D" $SDNDK EDUDQJEDUDQJ WLGDN PHQXPSXN GDQ PXGDK URERK" $SDNDK WLGDN  $SDNDK VDPSDK SXLQJSXLQJ NRWRUDQ GHEX QRGD DLU NDUDW \DQJ EHUDVDO GDUL  GLWXPSXNVHFDUDEHUOHELKDQ" PHMDNHUMDUDNGDQDODWXNXUODLQQ\DVXGDKGLEHUVLKNDQ" $SDNDK DGD SHQXQMXN NKXVXV GDQ SDJDU SHQJDPDQ XQWXN WHPSDW PHOHWDNNDQ  $SDNDKVDPSDKSXLQJSRWRQJDQNRWRUDQGHEXQRGDDLUNDUDW\DQJEHUDVDOGDUL  EDUDQJ\DQJSHUOXSHQDQJDQDQNKXVXV EDKDQEDNDUDWDXWDEXQJJDV.

" SLSDNDEHOOLVWULNGDQƈƛƋƄƘƖƗŃƉƄƑVXGDKGLEHUVLKNDQ" $SDNDK VDPSDK SXLQJSXLQJ NRWRUDQ GHEX QRGD DLU NDUDW \DQJ EHUDVDO GDUL  SHQHUDQJDQODPSXQHRQVXGDKGLEHUVLKNDQ"   .

DWHJRUL 厔 0HVLQ 厔 -LJGDQDODWDODW 厔 $ODWXNXU GLNHPEDOLNDQ GHQJDQ FDUD PHQFDWDW WUHQ SURGXNVLGDQPHQJDQDOLVDWUDQVLVLQ\D 厔 3URGXNMDGL 厔 3URGXFWUHMHFW 厔 3URGXNNHPEDOL 6HWHODK PHPEXDW ODSRUDQ SURGXNVL VHSHUWL 厔 0DWHUL EDKDQ.6WLGDNKDQ\DEHUKHQWLSDGDPRQLWRULQJ /DEHO.QGHQWLILNDVL \DQJ PHQJJXQDNDQ ƆƋƈƆƎŃ ƏƌƖƗ WHWDSL SHUOX MXJD PHPDVWLNDQ QLODL SURGXNVL \DLWX 1R           SHQLQJNDWDQYROXPHSURGXNVLSHQLQJNDWDQHILVLHQVLSURGXNVLSHQJXUDQJDQVWRN  SHQXUXQDQ EDUDQJ UXVDN GDQ EDUDQJ \DQJ . BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S 3HQFDWDWDQGDQDQDOLVDNLQHUMDSURGXNVL /DPSLUDQ&RQWRKODEHOLGHQWLILNDVL 8QWXNPHPDKDPLHIHNWLILWDVNHJLDWDQ.

 厔 3DUWVNRPSRQHQ 厔 3URGXNGDODPSURVHV SDGD ODPSLUDQ ODSRUDQ SURGXNVL \DQJ PHPXDW YROXPH SURGXNVL MXPODK EDUDQJ 厔 %DKDQEDNDU 厔 0HEHOƉƌƗƗƌƑƊ 厔 /LPEDKVDPSDK VHWHQJDK MDGL MXPODK VWRN MXPODK EDUDQJ 厔 /DLQODLQ   UXVDN.

 GLKDUDSNDQ XQWXN EHUXSD\D PHQJDQDOLVD GDQ PHQJKLWXQJ GDWD WUHQ 1DPDEDUDQJ  SURGXNVL -XPODKEDUDQJ  6HODQMXWQ\D PHQJHQDL NHPDMXDQ NRQGLVL PDXSXQ VDVDUDQ SURGXNVL SDVDQJODK ƚƋƌƗƈƅƒƄƕƇ SDSDQSXWL.

DGDQJNDGDQJ 厔 -DUDQJGLJXQDNDQ GLJXQDNDQ 'DODPSURVHVDSDXQWXNWXMXDQDSD"   3HQDNVLU  7JOSHQDNVLUDQ   .GLWHPSDW\DQJPXGDKWHUOLKDWGLGDODPZRUNVKRSVHSHUWL 3HQDNVLUDQ 厔 7LGDNSHUOX‫ܒ‬$ODVDQ   SDGD FRQWRK JDPEDU GL VHEHODK NDQDQ 3DSDQ LQL VHEDLNQ\D MXJD GLNHWDKXL ROHK   VHPXDSHNHUMD &DUDSHPEXDQJDQ            厔 3HUOX    ‫ܒ‬ 厔 'LJXQDNDQ 厔 7LGDNGLJXQDNDQ -LNDd'LJXQDNDQb   厔 6HULQJGLJXQDNDQ 厔 .

BukuPanduanPengenalan3K/3S BukuPanduanPengenalan3K/3S /DPSLUDQ&RQWRKOHPEDUFDWDWDQSURGXNVL /DPSLUDQ&RQWRKSRVWHUVORJDQ6 &DWDWDQ3URGXNVL%XODQDQ8'$$$ %XODQ-DQXDUL7DKXQ %DUDQJUHMHFW %DUDQJ %DUDQJ 5HQFDQD +DVLO 6LVD 0LQJJX VLDS .HWHUDQJDQ SHVDQDQ SURGXNVL SURGXNVL 3HUEDLNL 6FUDS EDUDQJ NLULP .H 3URGXN$       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN%       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN&       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN'       .

%DKDQEDNX 3URGXN(       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN)       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN* .

       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN-       .%DKDQEDNXÆ       PLQJJXGHSDQ          .H 3URGXN* 6DVDUDQVHMDNPLQJJX       NHWHUSHQXKL 3URGXN+       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN.

XWNSURGXN%          . $NDQGLƐƄƆƋƌƑƌƑƊGDQ       ƉƌƑƌƖƋƌƑƊPLQJJXGHSDQ 3URGXN/       3DUWV.H 3URGXN0 .%DKDQEDNX 3URGXN.

 6DVDUDQVHMDNPLQJJX       NHWHUSHQXKL 3URGXN/       3DUWV<XWNSURGXN%             .%DKDQEDNXÆ       PLQJJXGHSDQ 3URGXN.H 3URGXN0 0HVLQUXVDNDNDQGL       ƉƌƑƌƖƋƌƑƊPLQJJXGHSDQ 3URGXN2       6DVDUDQWHUSHQXKL 3URGXN3       6DVDUDQWHUSHQXKL  3URGXN4       3DUWV=XWNSURGXN%   .

Wilayah III: Pengolahan Kakao (SULTENG) Penyediaan dukungan yang lebih baik untuk pengembangan industri lokal Pemerintah provinsi membangun pabrik pengolahan kakao sebagai pusat pasokan bahan cokelat dan pusat pengolahan aneka produk cokelat. Kantor Proyek JICA Alamat : Direktorat Jenderal IKM. Daerah Mana dan Industri Apa yang Menjadi Sasaran? Proyek menargetkan daerah dan industri berikut sebagai sasaran platform. mesin berat. Jakarta Selatan 12950 Telp/ Fax : 021 5253782 Situs Web : http://www. digunakan terutama dalam upacara tradisional seperti pernikahan & ritual keagamaan. dan membentuk sistem pembinaan IKM melalui sistem yang memastikan cara pembuatan mebel rotan dengan mutu yang baik. sebagaimana juga memfasilitasi IKM cokelat/ kue untuk memanfaatkan cokelat buatan dari biji kakao lokal dan membangun jaringan pasar modern regional dan lokal di Palu. Proyek ini bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan pasar lokal dan turis melalui pengembangan dan diversifikasi produk fashion ulos. Proyek ini bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memfasilitasi dan memperluas akses pasar modern lokal (hotel. perkapalan. Samosir (terkenal dengan Danau Toba-nya) adalah salah satu sentra produksi ulos.html . kantoran. Biro Klasifikasi Indonesia). Wilayah I: Fesyen Ulos di Samosir (SUMUT) Ulos adalah kain dengan motif unik daerah lokal yang ditenun secara tradisional.jica. Proyek Pengembangan IKM Wilayah II: Komponen Logam di Tegal (JATENG) Tegal terkenal dengan produksi penuangan dan pencetakan logam dengan lebih dari Melalui Peningkatan Penyediaan Layanan di Indonesia 2. dan lain-lain. Wilayah I: Pengolahan Aloevera di Pontianak (KALBAR) Kota Pontianak yang terkenal sebagai kota budidaya aloevera memiliki 16 industri pengolahan aloevera untuk makanan minuman (mamin) dan kosmetik. otomotif. dan membentuk Kelompok Usaha Bersama dari pengrajin kerajinan ulos.go. Wilayah III: Mebel Rotan (SULTENG) Saat ini ada sekitar 20 IKM mebel rotan beroperasi di Kota Palu dengan jumlah pengrajin terampil yang terbatas. Proyek ini memfasilitasi pabrik untuk beroperasi secara komersil. Kementerian Perindustrian Jl. Industri sasaran dipilih dari Industri Klaster/ OVOP yang telah ditetapkan oleh Kemenperin atau Industri Unggulan Propinsi/ Kompetensi Inti Industri Daerah yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah melalui konsultasi dengan Ditjen IKM. Proyek ini bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memfasilitasi IKM dalam menembus pasar mamin nasional dan regional. dan lain-lain). Wilayah II: Sepatu/ Alas Kaki di Mojokerto (JATIM) Jawa Timur merupakan salah satu wilayah produsen alas kaki utama. yang termasuk didalamnya Kota Mojokerto yang mengakomodasi hampir 273 IKM.jp/project/english/indonesia/012/index. serta memperbaiki produk mamin olahan aloevera agar memenuhi persyaratan keamanan dan kebutuhan dari pasar sasaran. 14. 52-53. Proyek ini berfokus pada komponen kapal dan memfasilitasi IKM dalam meningkatkan keterampilan/ pengetahuan guna memperoleh sertifikasi sesuai dengan standar BKI (PT.500 IKM memproduksi komponen logam untuk mesin pertanian. Lt. serta mampu memasok komponen logam kepada perusahaan pembangunan kapal yang besar. restoran. Gatot Subroto Kav. Proyek ini bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memfasilitasi IKM dalam memproduksi sepatu/ alas kaki yang kuat dan menciptakan branding (merek daerah) sepatu/ alas kaki Mojokerto.

dukungan yang diberikan tidak sepenuhnya mencerminkan keinginan dan (POKJA/ fasilitator) sesuai dengan tahapan berikut : kebutuhan industri. berdasarkan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman Proyek ini. merevisi isi rencana dukungan sesuai Kasus Sukses dari IKM Sasaran dengan kemajuan dan hasil pelaksanaan. dibentuk dalam kegiatan Proyek PIU Ditjen-IKM Pengawasan tenaga ahli dan konsultan terdiri dari Unit Implementasi (Tim Wilayah) POKJA Fasilitator nasional ditempatkan di Proyek (PIU) di Ditjen-IKM. dan kantor daerah ada di Output guna pengembangan industri 2 setiap daerah sasaran yang dialokasikan oleh setiap Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Dalam rangka mewujudkan Platform Pengembangan pemberian bimbingan yang Pembentukan Platform untuk Pengembangan Industri Lokal Industri Lokal yang akan memadai kepada staf C/P. Oleh karena itu. serta dikembangkan memastikan kelancaran dan melalui pelatihan/ bimbingan Perencanaan/ pelaksanaan keseragaman pelaksanaan Permintaan dukungan tentang langkah dan metode dukungan kegiatan Proyek di setiap TANTANGAN AKSI oleh fasilitasi bagi pengembangan IKM-IKM di industri lokal wilayah kerja. langkah dan metode Berdasarkan struktur pengembangan industri Info. 5 dukungan serta monitoring dan Pelaksanaan rencana Tujuan Proyek dukungan dan MonEv evaluasi. . Tim Ahli daerah. Dikembangkan melalui Daerah setiap lokasi kerja. Kemenperin Jakarta. Penyusunan rencana dukungan. Kelompok Kerja (POKJA) dan pelatihan/ bimbingan ttg. Pembentukan Platform melalui platform tersebut dilaksanakan Artinya. pengembangan industri. sasaran Di setiap kantor daerah. Selanjutnya. POKJA dan 3 fasilitator memasuki tahap diagnosis Proyek ini akan memfasilitasi pengembangan/ peningkatan dan promosi pemasaran produk Identifikasi IKM sasaran industri. Dukungan/ Layanan kepda IKM fasilitator di masing-masing (Pemetaan service providers yg tersedia) operasional tersebut. industri dan pemetaan service Pemanfaatan Platform untuk Pemgembangan Industri Lokal providers yang tersedia. pihak industri mengharapkan kepada pemangku 2 Setelah pembentukan struktur kepentingan terkait persiapan dan penyediaan kegiatan/ layanan dukungan yang lebih baik Diagnosis industri platform dan pelatihan fasilitasi melalui diskusi maupun kerjasama dengan pelaku industri. kemudian melakukan oleh industri sasaran di ketiga wilayah sasaran dengan tujuan mengkreasikan kasus sukses dan tantangan aksi identifikasi IKM-IKM sasaran dan dari IKM melalui pembentukan dan pemanfataan ”service delivery platform” (platform 4 tantangan aksi mereka. Proyek SMIDeP Melakukan Apa? Bagaimana Alur Pemanfaatan Platform? Kegiatan/ layanan dukungan untuk industri kecil dan menengah (IKM) pada umumnya 1 Kegiatan pengembangan industri lokal direncanakan dan dilaksanakan melalui pemikiran dan prosedur dari pihak penyedia layanan. penyusunan pengembangan industri lokal) selama tiga (3) tahun (2013-2015). Pembentukan Platform Output Pengembangan Industri Lokal 1 untuk industri sasaran Pembentukan model Bagaimana Cara Mengelola Proyek? Output pengembangan industri lokal berdasarkan pengalaman dan Pemanfaatan Platform tersebut 3 pelajaran Kantor utama proyek berada di Ditjen IKM. Kemudian kegiatan kembali Model untuk pengembangan industri lokal ke tahap awal secara periodik untuk berbasis platform tersebut akan diterapkan ke wilayah-wilayah di Indonesia oleh Kemenperin. serta fasilitasi pengembangan industri lokal melalui platform tersebut akan dibentuk sebagai “model kerja” rencana dukungan pelaksanaan kegiatan/ layanan bagi wilayah lain. staf counterpart (C/P) dari anggota POKJA/ fasilitator ditempatkan guna melaksanakan tugas mereka didalam Proyek sesuai dengan tahapan pengembangan Bagaimana Caranya Mengembangkan Platform? industri (terlihat diatas).