Teorema Bayes dikemukakan oleh seorang pendeta presbyterian Inggris pada tahun 1763 yang

bernama Thomas Bayes . Teorema Bayes ini kemudian disepurnakan oleh Laplace. Teorema
Bayes digunakan untuk menghitung probabilitas terjadinya suatu peistiwa berdasarkan pengaruh
yang didapat dari hasil observasi. Teorema ini menerangkan hubungan antara probabilitas
terjadinya peristiwa A dengan syarat peristiwa B telah terjadi dan probabilitas terjadinya
peristiwa B dengan syarat peristiwa A telah terjadi. Teorema ini didasarkan pada prinsip bahwa
tambahan informasi dapat memperbaiki probabilitas.
Misalkan {B1, B2,…,Bn} suatu himpunan kejadian yang merupakan suatu sekatan runag sampel
S dengan P(Bi) ≠ 0 untuk i = 1, 2,…n. Dan misalkan A suatu kejadian sembarang dalam S
dengan P(A) ≠ 0.
?(?? ∩ ?)
?(??|?) = ?
∑?=1 P(Bi ∩ A)

?(??)?(?|??)
?
∑?=1 P(Bi)P(A|Bi)

Contoh 1: Di sebuah sekolah terdapat 60% pelajar laki-laki dan 40% pelajar perempuan. Pelajar
perempuan mengenakan pantalon atau rok dalam angka yang sama sedangkan pelajar laki-laki
semuanya mengenakan pantalon. Seorang pengamat melihat seorang pelajar secara acak dari
jauh, mereka semua dapat melihat bahwa pelajar ini mengenakan pantalon. Berapa peluang
bahwa pelajar ini adalah seorang anak perempuan ?
Jelas bahwa peluangnya adalah kurang dari 40%, tetapi seberapa banyak ? Apakah setengahnya,
karena hanya setengah pelajar perempuan yang mengenakan pantalon. Jawaban yang benar dapat
dihitung dengan menggunakan teorema Bayes. Andaikan kejadian A adalah pelajar yang diamati
adalah perempuan, dan kejadian B adalah pelajar yang diamati mengenakan pantalon. Untuk
menghitung P(A|B), terlebih dahulu kita harus mengetahui :
a. P(A), atau peluang bahwa pelajar adalah seorang anak perempuan dengan mengabaikan
informasi lain. Karena pengamat melihat seorang pelajar secara acak, maksudnya adalah bahwa
semua pelajar mempunyai peluang yang sama untuk diamati dan peluangnya adalah 0,4.
b. P(A’), atau peluang bahwa pelajar adalah seorang anak laki-laki dengan mengabaikan
informasi lain. A’ adalah peristiwa yang komplementer untuk A. Peluangnya adalah 0,6.
c. P(B|A), atau peluang pelajar yang mengenakan pantalon dengan syarat pelajar itu adalah
seorang anak perempuan. Peluangnya adalah 0,5.
d. P(B|A’), atau peluang pelajar yang mengenakan pantalon dengan syarat pelajar itu adalah
seorang anak laki-laki. Peluangnya adalah 1.

e. P(B), atau peluang pelajar yang mengenakan pantalon dengan mengabaikan informasi lain

Daftar Pelajar Pelajar Perempuan Pelajar Laki-Laki Jumlah Pantalon 20 60 80 Rok 20 0 20 Jumlah 40 60 100 Dengan semua informasi tersebut. maka peluang dari pelajar yang diamati adalah anak perempuan yang mengenakan pantalon adalah : ?(?)?(?|?) ?(?|?) = ?(?) ?(?)?(?|?) ? .