i

BUKU AJAR KEHUTANAN MASYARAKAT: DARI
TRADISI, DISKURSUS HINGGA PRAKTEK

Muhammad Alif K. Sahide
Universitas Hasanuddin
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa. Salam dan shalawat kepada utusan-
Nya dan seluruh guru kehidupan bagi alam semesta. Dengan berkah dan kasih sayang-Nya,
naskah buku ini telah terselesaikan tepat waktu mengingat tugas utama bagi seorang dosen
adalah mengoptimalkan fungsi dan perannya sebagai tenaga pendidik dan salah satunya
adalah menyediakan buku ajar sesuai dengan bidang ilmu penulis yakni kehutanan
masyarakat. Walaupun pengguna buku ini dikhususkan kepada kalangan mahasiswa, namun
tidak menutup kemungkinan buku ini sangat bermanfaat buat para penggiat kehutanan
masyarakat seperti pendamping masyarakat, penyuluh kehutanan, LSM lokal, Dinas yang
mengurusi bidang kehutanan. Penulis mendapatkan momentum yang tepat untuk menuliskan
berbagai pengalaman riset yang selama ini dilakukan, serta merangkum hasil riset dan
pengabdian masyarakat rekan sejawat lainnya dan mengemasnya dalam paket buku bahan
ajar ini
Buku ini ditulis berdasarkan beberapa pengalaman penulis dalam penelitian dan
pengabdian masyarakat di bidang kehutanan masyarakat. Beberapa hasil penelitian dan
dokumen laporan pengabidam masyarakat tersebut penting untuk dikemas sebagai hasil
pembelajaran dalam paket buku ajar kehutanan masyarakat di Pendidikan Tinggi Kehutanan
di Indonesia. Kasus-kasus kehutanan masyarakat di buku ini banyak berlokasi di Provinsi
Sulawesi Selatan serta beberapa hasil penelitian rekan sejawat dan penggiat kehutanan
masyarakat (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan aktifitas penulis sebagai fasilitator wilayah
Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Wilayah Sulawesi Selatan, serta
menjadi anggota Dewan Pembina pada Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM)
Universitas Hasanuddin
Struktur buku ini dimulai dengan prolog terkait kebutuhan program studi Kehutanan
Universitas Hasanuddin. Bahasan pertama dimulai dari situasi atau realitas carut marut
persoalan kehutanan nasional dan lokal kemudian di konstruksi menjadi teori yang sifatnya
filosofis. Dari teori-teori tersebut bahasan selanjutnya kemnbali ke alam realitas dengan
pertanyaan yang perlu dijawab “apakah teori-teori pengelolaan hutan tersebut dapat
diimplementasikan di masyarakat?”. Bahasan dvolusi, teori kelembagaan dan konsep tenurial
didalam kehutanan masyarakat diulas untuk melengkapi abstraksi teori yang mendasari KM
tadi. Buku ini dilengkapi dengan ragam ilustrasi, seperti kotak ilustrasi, ilustrasi kartun,
gambar, flow chart, serta tabel. Contoh-contoh kasus berasal dari hasil penelitian penulis
serta kutipan dari hasil penelitian penulis lainnya yang relevan. Demikian struktur bahan ajar
iii

ini dibuat dan terbuka akan kritikan dan masukan untuk perbaikan proses pembelajaran mata
kuliah ini di masa yang akan datang. Gaya penulisan buku ini juga beragam, terkadang
dialogis, juga terkadang sangat normative dalam menampilkan fakta-fakta hasil penelitian.
Ragam gaya penulisan ini sengaja dilakukan untuk memenuhi ragam penerimaan dari
pembaca, terutama dikalangan mahasiswa.
Pesan khusus penulis kepada pengguna utama buku ini (terutama mahasiswa
kehutanan strata 1) bahwa penulis telah berusaha menyajikan metodologi dan pendekatan
yang partisipatif dengan berbasis pada pendekatan orang dewasa, sehingga buku ini
diharapkan bersesuaian dengan ruh mata kuliah kehutanan masyarakat itu sendiri yang
berbasis pada masyarakat dengan salah satu prinsip dasar adalah partisipasi. Modul dan
bahan ajar ini hanyalah salah satu pelengkap dari proses pembelajaran mata kuliah kehutanan
masyarakat di Jurusan Kehutanan Universitas Hassanuddin khususnya pada minat kebijakan
kehutanan atau sosial ekonomi kehutanan. Penulis tentu mengharapkan interaksi pembaca
agar melengkapinya
Pesan khusus penulis kepada segmen pembaca pengggiat KM (selain mahasiswa),
bahwa buku ini perlu diterjemahkan atau dikontekstualisasi didalam kerja-kerja
pemberdayaan petani hutan, dan tidak semua kasus dalam buku ini mewakili kompleksitas
persoalan hutan dan kehutanan di Indonesia. Contoh kasus banyak diambil di provinsi
Sulawesi Selatan dan sekitarnya serta referensi buku ini masih terbatas, sehingga penulis
terbuka akan pengayaan dan bahkan diskusi dengan penulis sangat dibutuhkan
Penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) karena telah aktif mendorong dosen dalam menulis bahan ajar
sebagai salah satu kewajiban dalam menjalankan fungsinya pada Tri dharma Perguruan
Tinggi. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rektor Universitas
Hasanuddin dan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin atas motivasinya.
Ucapan yang sama diucapkan kepada Kepala Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan
Kehutanan Universitas Hasanuddin atas diskusi dan perannya dalam mendorong penyelesaian
buku ajar ini. Akhirnya ucapan terima kasih, penulis ucapkan kepada seluruh penggiat
kehutanan masyarakat baik dari pemerintah, pemerintah daerah, LSM, kepala desa, kepala
dusun, masyarakat kampung yang selama ini memberikan bantuan, motivasi dan saran-
sarannya. Penulis mengucapkan ucapan terima kasih secara khusus kepada keluarga, Ibunda
tercinta atas cintanya yang tulus, Istri tersayang atas kesabaran, dan kedua putraku atas
hiburan dan pelajaran otentiknya, dan semua pihak yang tak dapat saya tuliskan semua di
lembar yang terbatas ini.
iv

Sekali lagi, penulis menyadari akan banyaknya kesalahan dan kekurangan buku ini.
Sehingga penulis terbuka terhadap kritikan, saran dan masukan untuk memperbaiki buku ini.
Penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya jika pembaca berkenan
menyampaikan saran dan kritikan tersebut, sehingga buku ini dapat dioptimalkan fungsinya.
Pembaca dapat melakukan interaksi dengan menghubungi penerbit dan atau email penulis di
alif.mksr@gmail.com. Terima kasih

.

Penulis
v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................................... v
DAFTAR TABEL.................................................................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................................. x
DAFTAR ILUSTRASI .......................................................................................................................... xi
P R O L O G.......................................................................................................................................... xii
I. Gambaran umum profil lulusan program studi kehutanan Universitas Hasanuddin ............... xii
II. Kompetensi Lulusan Program Studi Kehutanan Universitas Hasanuddin ............................ xiii
III. Analisis Kebutuhan Pembelajaran ...........................................................................................xiv
IV. GBRP Kuliah Kehutanan Masyarakat ..................................................................................... xv
BAB I. REALITAS PENGELOLAAN HUTAN DI INDONESIA ...................................................... 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................................. 1
I. Tujuan Instruksional ............................................................................................................... 1
II. Proses pembelajaran................................................................................................................ 1
BAHAN PEMBELAJARAN .............................................................................................................. 3
I. Analisis Situasi Pengelolaan Hutan : Tinjauan sekilas............................................................ 3
II. Kemisikian Masyarakat di Dalam dan Sekitar Hutan ............................................................. 7
III. Kesalahan Berpikir : Antara Krisis Paradigma, Hambatan Psikologis dan Struktural,
Serta Mitos............................................................................................................................ 19
IV. Benang Kusut Konflik : Dari Kebijakan Hingga Implementasi ........................................... 25
PENUTUP ........................................................................................................................................ 29
I. Penugasan ............................................................................................................................. 29
II. Strategi merespon penugasan ................................................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 29
BAB II. FILOSOFI, KONSEPSI DAN VARIAN KEHUTANAN MASYARAKAT ........................ 31
PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 31
BAHAN PEMBELAJARAN ............................................................................................................ 32
I. Sejarah konsepsi KM ............................................................................................................ 32
II. Kehutanan Masyarakat : Proyek, Metode atau Paradigma ................................................... 35
III. Prinsip-prinsip kehutanan masyarakat dan ideologi Pancasila ............................................. 37
IV. Mengisi Kesenjangan Kebijakan .......................................................................................... 41
V. Ragam Konsepsi KM : Berbagi Tautan Konsepsi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat
.............................................................................................................................................. 43
vi

PENUTUP ........................................................................................................................................ 62
I. Penugasan ............................................................................................................................. 62
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 62
BAB IV. KONSEP DEVOLUSI, TENURIAL DAN KELEMBAGAAN KEHUTANAN
MASYARAKAT .................................................................................................................................. 65
PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 65
I. Tujuan Instruksional ............................................................................................................. 65
II. Proses pembelajaran.............................................................................................................. 65
BAHAN PEMBELAJARAN ............................................................................................................ 66
I. Konsep Devolusi Pengelolaan Hutan .................................................................................... 66
II. Konsep Tenurial .................................................................................................................... 75
III. Kelembagaan......................................................................................................................... 81
PENUTUP ........................................................................................................................................ 88
Penugasan ..................................................................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 88
BAB V. KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN DAN KEHUTANAN MASYARAKAT ............. 91
PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 91
I. Tujuan Instruksional ............................................................................................................. 91
II. Proses pembelajaran.............................................................................................................. 91
BAHAN PEMBELAJARAN ............................................................................................................ 92
I. Penugasan ........................................................................................................................... 107
II. Strategi merespon penugasan .............................................................................................. 107
BAB V. ANALISIS USAHA KEHUTANAN MASYARAKAT ...................................................... 109
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 109
I. Tujuan Instruksional ........................................................................................................... 109
II. Proses pembelajaran............................................................................................................ 109
BAHAN PEMBELAJARAN .......................................................................................................... 110
I. Pendahuluan ........................................................................................................................ 110
II. Analisis Kebijakan yang Terkait Pengembangan Kehutanan Masyarakat.......................... 112
III. Analisis potensi lahan usaha Kehutanan Masyarakat ......................................................... 114
IV. Analisis Faktor Pendukung Lain Berkembangnya Kehutanan Masyarakat ........................ 118
V. Analisis Potensi Kelembagaan Masyarakat ........................................................................ 121
VI. Saluran Pemasaran .............................................................................................................. 122
VII. Konsep Pengembangan Usaha Kehutanan Masyarakat ...................................................... 123
vii

VIII. Pengembangan Jejaring dan Kemitraan Bisnis ................................................................... 128
PENUTUP ...................................................................................................................................... 130
I. Penugasan ........................................................................................................................... 130
II. Strategi merespon penugasan .............................................................................................. 130
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 131
BAB VI. MANAJEMEN KONFLIK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN ....................... 132
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 132
I. Tujuan Instruksional ........................................................................................................... 132
II. Proses pembelajaran............................................................................................................ 132
BAHAN PEMBELAJARAN .......................................................................................................... 133
I. Konflik (Pengantar) ........................................................................................................... 133
II. Kenapa Konflik terjadi ? ..................................................................................................... 135
III. Pilihan-pilihan dasar dalam Manajemen Konflik ............................................................... 138
IV. Siapa aktor-aktor kunci ? ................................................................................................... 139
V. Eskalasi-deskalasi konflik : Analisis Trend ....................................................................... 139
VI. Transformasi Konflik dan KM ............................................................................................ 140
VII. Beberapa Kasus Konflik ..................................................................................................... 141
PENUTUP ...................................................................................................................................... 151
I. Penugasan ........................................................................................................................... 151
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 152
BAB VII. PRAKTEK-PRAKTEK KEHUTANAN MASYARAKAT.............................................. 154
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 154
I. Tujuan Instruksional ........................................................................................................... 154
II. Proses pembelajaran............................................................................................................ 154
BAHAN PEMBELAJARAN .......................................................................................................... 154
1. Kondisi Hutan desa bantaeng ...................................................................................................... 158
PENUTUP ...................................................................................................................................... 168
Penugasan ................................................................................................................................... 168
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 168
BAB VIII. INTERVENSI SOSIAL DALAM PRAKTEK DAN DISAIN PROGRAM KEHUTANAN
MASYARAKAT ................................................................................................................................ 170
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 170
I. Tujuan Instruksional ........................................................................................................... 170
II. Proses Pembelajaran ........................................................................................................... 170
viii

BAHAN PEMBELAJARAN .......................................................................................................... 171
I. Intervensi Sosial .................................................................................................................. 171
II. Riset Aksi Partisipatif ......................................................................................................... 172
III. Fasilitasi dan Partisipatif ..................................................................................................... 173
IV. Alat-Alat Analisis ............................................................................................................... 182
PENUTUP ...................................................................................................................................... 198
Penugasan ................................................................................................................................... 198
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 199
GLOSARIUM ..................................................................................................................................... 201
INDEKS .............................................................................................................................................. 202
ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Desa Kasintuwu terhadap Kawasan Hutan ....... 8
Tabel 2. Faktor Pembeda Kelompok Petani Subsisten, Komersil dan Kapitalis di Sub DAS
Minraleng Hulu (Sumber: Dassir (2007)) ....................................................................... 12
Tabel 3. Tingkat Ketergantungan Masyarakat terhadap Lahan di Dalam Taman Nasional
Bantimurung Bulusaraung ................................................................................................ 16
Tabel 4. Deskripsi Pendapatan Masyarakat Desa Labuaja .......................................................... 16
Tabel 5. Ragam Peristilahan KM .................................................................................................... 33
Tabel 6. Varian Kehutanan Masyarakat ......................................................................................... 54
Tabel 7. Implikasi dari Masing-Masing Opsi Bentuk Desentralisasi dan Devolusi (Sumber:
Ekawati, dkk (2010)) ......................................................................................................... 71
Tabel 8. Tahapan Fasilitasi dalam Devolusi Pembangunan HTR di Sulawesi Selatan ........... 73
Tabel 9. Hak dan Kewajiban Pelaku Kelembagaan Penguasaan Lahan Teseng .................... 77
Tabel 10. Hak dan Kewajiban Sistem Tenurial Sanra.................................................................. 78
Tabel 11. Deskripsi Kelembagaan Adat Negeri Liang .................................................................. 87
Tabel 12. Desa-Desa pada Wilayah BKPH Lantebong Kabupaten bantaeng ........................... 99
Tabel 13. Wilayah BKPH Biyangloe Kabupaten Bantaeng ......................................................... 99
Tabel 14. Hubungan kelembagaan antara Dinas Kehutanan dan Perkebunan ........................ 104
Tabel 15. Road Map Pembangunan KPH Kabupaten Bantaeng ................................................ 105
Tabel 16. Pengelolaan Unit Usaha Kehutanan pada Setiap Wilayah KPH .............................. 106
Tabel 17. Rangkuman Panduan Analisis dan Pengembangan Pasar (APP) ............................. 111
Tabel 18. Matriks Peluang Usaha Pemanfaatan Hutan untuk Pemberdayaan Masyarakat
Lokal ................................................................................................................................ 113
Tabel 19. Kondisi Penutupan Hutan Produksi Sulawesi Selatan .............................................. 115
Tabel 20. Luas Indikatif Kawasan Hutan Produksi Sasaran Rehabilitasi ............................ 117
Tabel 21. Transek Sejarah Pemanfaatan Hutan Lindung Kontu Kontu ................................... 148
Tabel 22. Bentuk Larangan Negeri Liang ..................................................................................... 164
Tabel 23. Tingkat Konsumsi Kayu Bakar Rumah Tangga per Kapita di Kecamatan
Pujananting (Sumber: Bachtiar, 2010) .................................................................. 166
Tabel 24. Jenis-jenis Kayu yang Dipakai sebagai Bahan Bakar Kayu Bakar dalam Rumah
Tangga di Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru ........................................... 167
Tabel 25. Sumber Asal Kayu Bakar Rumah Tangga di Kecamatan Pujananting Kabupaten
Barru (Sumber: Bachtiar, 2010) ................................................................................... 168
Tabel 26. Perbedaan antara RRA dan PRA (dari ragam sumber).............................................. 179
Tabel 27. Hasil Analisis 3 R dalam Pembangunan HTR di Sulawesi Selatan ........................ 190
Tabel 28. Contoh Tabel SWOT Peningkatan Usaha Masyarakat Sekitar Hutan Produksi ... 197
x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Analisis Situasi Pengurusan dan Pengelolaan Hutan .............................................. 3
Gambar 2. Kehidupan masyarakat, tampak menujukkan hasil buruan babi hutan ................... 9
Gambar 3. Persentase Tingkat Kebutuhan Masyarakat (Sumber: Hasanudin, 2011) ............. 10
Gambar 5. Warga Miskin Yg Belum Tersentuh Dgn Bantuan Sosial ................................... 13
Gambar 4. Potensi Hasil Hutan Gula Merah di salah satu Desa di Kabupaten Maros .......... 15
Gambar 6. Ilustrasi Konflik Tenurial Sektor Kehutanan ........................................................ 25
Gambar 7. Sketsa Aliran Hidrologi dua DAS Mikro di Kabupaten Bantaeng ....................... 45
Gambar 8. Contoh lahan dengan pola agroforestry, Hutan Kemiri yang Dikelola Secara
Tumpangsari (Foto: Supratman) .......................................................................... 48
Gambar 9. Empat Tahapan Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan (Sumber: RUPES) .. 53
Gambar 11. Sampul Buku Peraturan Daerah Kabupaten Maros No. 05 Tahun 2009 Tentang
Kehutanan Masyarakat ......................................................................................... 69
Gambar 12. Ragam Faktor Terhadap Pilihan Skema KM ....................................................... 70
Gambar 13. Tahap Devolusi Pembangunan Kehutanan Masyarakat ..................................... 72
Gambar 14. Potensi Hutan Jati Rakyat di Pegunungan Desa Batu Putih .............................. 84
Gambar 15. Struktur Kelembagaan Adat Negeri Liang (Sumber: Muarapey, 2010) ............. 86
Gambar 16. Pewilayahan Lembaga KPH Lindung (Sumber : Ekawati, dkk, (2011)) ........... 94
Gambar 17. Struktur Organisasi KPH lantebong Kabupaten Bantaeng ................................ 100
Gambar 18. Skema Saluran Pemasaran Kayu Jati (Sumber: Alam, 2009) ............................ 122
Gambar 19. Skema Saluran Pemasaran Produk kayu Pertukangan )..................................... 123
Gambar 20.Praktek Penggalian Informasi dan Mediasi di Level Komunitas
Praktek/kunjungan lapangan membantu mereka mengaktualisasikan kemampuan
memediasi kepentingan masyarakat dan kepentingan stakeholder .................... 136
Gambar 21. Bawang Konflik (Sumber : Engel dan Korf (2005))........................................ 137
Gambar 22. kategorisasi/segitiga konflik (Sumber : Engel dan Korf (2005)) ..................... 138
Gambar 23. Contoh kondisi psikologis dan situasi masyarakat dalam eskalasi konflik (dari
konflik laten, konfllik di permukaan, dan konflik terbuka) ............................... 139
Gambar 24. Hutan Kemiri Rakyat di Salah satu sudut Taman Nasional Bantimurung
Bulusaraung di Kecamantan Mallawa Kabupaten Maros (Foto : Supratman) ... 142
Gambar 25. Grafik Eskalasi Konflik Pengelolaan Hutan Kontu ........................................... 147
Gambar 26. Kondisi Hutan Pinus di Sulawesi Selatan .......................................................... 161
Gambar 27. Bangunan Fasilitasi Pembangunan Hutan Desa, Hasil Pembelajaran di
Kabupaten Bantaeng. (Sumber : Sahide, 2011) ................................................ 174
Gambar 28. Suasana Pelatihan Partisipatif difasiltasi oleh RECOFTC kerjasama Fakultas
Kehutanan UNHAS ............................................................................................ 177
Gambar 29. Foto Ilustrasi Robert Chambers ......................................................................... 178
Gambar 31. Tangga Partisipasi Arnstein (1969).................................................................... 180
Gambar 32. Analisis Masalah Pembangunan HTR di Sulawesi Selatan ............................. 185
Gambar 33. Contoh Bagan Hubungan Kelembagaan/Diagram Venn ................................... 188
xi

DAFTAR ILUSTRASI

Kotak 1. Masalah Sistemik ....................................................................................................... 8
Kotak 2. Kesalahan Berpikir dan Perubahan Sosial ................................................................ 19
Kotak 3. Prinsip Kepelbagaian dalam KM .............................................................................. 38
Kotak 4. Ragam Tautan Konsepsi dalam KM ......................................................................... 43
Kotak 5. Indikator Lokal dalam Perubahan Iklim ................................................................... 49
Kotak 6. Persoalan Kelembagaan KM ..................................................................................... 82
Kotak 7. Ilustrasi Struktur KPH ............................................................................................... 92
Kotak 8. Perlunya Insentif buat Pengelola KM ..................................................................... 119
xii

PROLOG

I. Gambaran umum profil lulusan program studi kehutanan Universitas Hasanuddin

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di bidang kehutanan dalam membangun peradaban
kehidupan manusia menuntut dunia pendidikan untuk berbenah. Persoalan pembangunan
kehutanan yang semakin kompleks, menuntut kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia
yang semakin bervariasi. Pada tahun 1966, jumlah sarjana kehutanan di Indonesia tercatat
6500 orang dan diperkirakan sampai tahun 2010 jumlah sarjana kehutanan sudah 15.000
orang. Jika dibandingkan dengan luas hutan Indonesia, ratio antara sarjana kehutanan dan
luas lahan adalah 1 : 12.000 artinya setiap luasan areal hutan 12.000 ha terdapat satu sarjana
kehutanan. Ini menunjukkan bahwa jumlah sarjana kehutanan yang ada saat ini masih sangat
kurang bila dibandingkan dengan luas wilayah hutan yang dikelola.
Untuk kondisi saat ini, pengelolaan hutan berbasis masyarakat seperti skema-skema
program yang ditawarkan pemerintah antara lain Hutan Desa (HD), Hutan Kemasyarakatan
(HKm), Hutan Adat (HA) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) membutuhkan ratio antara
sarjana kehutanan dan luas hutan yang diusahakan sekitar 1 : 5.500, pengelolaan Kawasan
taman nasional membutuhkan ratio 1 : 2.500, Sehubungan dengan ratio tersebut,
pengusahaan hutan (IPHHK) seluas 68 juta hektar membutuhkan tenaga sarjana kehutanan
sebanyak 18.000 orang, pengelolaan kawasan Taman Nasional seluas 8 juta hektar
membutuhkan tenaga sarjana kehutanan sebanyak 5.700 orang. Pengelolaan hutan dengan
skema-skema Kehutanan Masyarakat (KM) membutuhkan tenaga sarjana kehutanan sekitar
6.8000 orang. Secara keseluruhan, jumlah sarjana kehutanan yang dibutuhkan untuk
mengurusi secara langsung sumberdaya hutan sebanyak 24.500 orang. Jumlah tersebut
belum termasuk kebutuhan sarjana kehutanan yang tidak secara langsung mengurusi
sumberdaya hutan.
Pasar penyerapan tenaga kerja kehutanan pada dasarnya dibedakan menjadi pasar
primer dan pasar sekunder. Pasar primer yaitu seluruh bidang pekerjaan yang langsung
mengurusi sumberdaya hutan seperti perencana, pelaksanaan, maupun pengawasan, termasuk
dalam upaya pemanfaatan pembangunan hutan tanaman industri, reboisasi, pengelolaan DAS
(Daerah aliran Sungai), penangkaran satwa, perlindungan hutan, penelitian dan
pengembangan, dan lain-lain. Pasar sekunder yaitu seluruh bidang pekerjaan yang tidak
langsung mengurusi sumberdaya hutan akan tetapi dang pekerjaan tersebut mendukung atau
xiii

dipengaruhi oleh pasar primer. Bidang pekerjaan yang dikategorikan ke dalam pasar
sekunder adalah jasa konsultasi, industri pengolahan kayu, perbankan, pemerintah daerah,
pendidikan (kursus, pelatihan, SKMA, perguruan tinggi dan departemen terkait lainnya)
Penyerap tenaga sarjana kehutanan terbanyak dalam pasar sekunder adalah bidang
pendidikan dan indutri pengolahan kayu. Jumlah tenaga sarjana kehutanan yang dapat
diserap melalui pasar sekunder diperkirakan sekitar 20% dari jumlah yang diserap melalui
pasar primer. Dengan demikian jumlah sarjana kehutanan yang dibutuhkan saat ini
seharusnya sekitar 29.000 orang. Jumlah tenaga sarjana kehutanan yang dapat diserap melalui
pasar sekunder diperkirakan sekitar 20% dari jumlah yang dapat diserap pasar primer.
Dengan demikian jumlah sarjana kehutanan yang dibutuhkan saat ini seharusnya sekitar
29.000 orang. Jumlah tenaga sarjana kehutanan yang ada saat ini baru sekitar 9.000 orang,
berarti masih kekurangan sekitar 20.000 orang.

II. Kompetensi Lulusan Program Studi Kehutanan Universitas Hasanuddin

Kompetensi utama mata kuliah kehutanan masyarakat terkait dengan kompetensi yang
akan dicapai oleh mahasiswa fakultas kehutanan UNHAS antara lain adalah (1) Memahami
prinsip-prinsip manajemen hutan berbasis masyarakat (2) Mampu meningkatkan
produktivitas dan nilai ekonomi sumberdaya hutan dan hasil hutan secara lestari (3) Mampu
merumuskan, merancang dan melaksanakan penelitian dan pengabdian pada masyarakat
dalam bidang kehutanan masyarakat, serta (4) Senantiasa peka dan peduli terhadap isu-isu
dan permasalahan kehutanan dan lingkungan . Begitupun dengan kompetensi pendukung
antara lain ; (1) memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan dan (2) mampu
mengembangkan kapasitas masyarakat. Kompetensi Lainnya yang akan dicapai adalah
mampu berkomunkasi, bermitra dan bersinergi dengan masyarakat
Adapun sasaran belajar mata kuliah kehutanan masyarakat adalah kemampuan
mahasiwa menjelaskan dari multi perspetif (kebijakan, aspek teknis, politis, ekonomi, sosial,
dll) tentang konsep kehutanan masyarakat serta menganalisis program pembangunan
kehutanan masyarakat
xiv

III. Analisis Kebutuhan Pembelajaran

Reforma/pembaharuan agraria di sektor kehutanan telah menjadi salah satu bagian
pengarusuatamaan program oleh banyak pihak termasuk pemerintah. Banyaknya konflik
tenurial antara masyarakat didalam maupun sekitar hutan dengan pemerintah membuat
banyak pihak mendorong penuntasan reforma agraria secara menyeluruh di sektor kehutanan.
KM dipandang sebagai salah satu program yang dapat mentransformasi konflik tenurial
menuju tata kelola pembangunan yang lebih adil terhadap masyarakat dan lingkungan. Mata
kuliah ini mengambarkan berbagai konsepsi dan praktek terkait kehutanan masyarakat atau
pengelolaan hutan berbasis maysrakat. Konsepsi ini dilihat dari ragam sudut pandang antara
lain prinsip-prinsip utama, teori-teori tenurial, kelembagaan lokal serta perspektif sosial,
politik, budaya dan ekonomi lainnya. Kehutanan masyarakat akhirnya banyak mengalami
evolusi dari proyek-proyek pemerintah, kemudian menjadi metodologi pengelolaan dan
akhirnya menjadi prinsip pengelolaan hutan lestari. Evolusi ini juga akhirnya kebijakan
pemerintah mengalami devolusi dalam kewenangan pengelolaan dari domain pemerintah
pusat ke struktur yang berada dibahwahnya yakni pemerintah daerah, pemerintah desa dan
mayarakat lokal. Kebijakan skema kehutanan masyarakat yang ditawarkan pemerintah juga
mengalami diskursus bagik dari segi konsep, prosedur dan prakteknya.
Mata kuliah kehutanan masyarakat adalah salah satu mata kuliah pilihan pada minat
sosial dan kebijakan kehutanan. Mata kuliah kehutanan masyarakat hadir untuk merespon
kebutuhan dunia kehutanan atas paradigma dan konsepsi pengelolaan hutan berbasis
masyarakat. Mata kuliah ini termasuk mata kuliah tingkat akhir dengan asumsi peserta mata
kuliah/mahasiswa telah menguasai mata kuliah dasar seperti manajemen hutan, dan
silvikultur. Mata kuliah ini juga dapat paralel dengan mata kuliah kebijakan kehutanan serta
ekonomi kehutanan. Dengan demikian diharapkan dengan mengambil mata kuliah ini,
mahasiswa dapat memberikan konstribusi dalam memperkaya konsep dan praktek
pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Indonesia
xv

IV. GBRP Kuliah Kehutanan Masyarakat

Matriks GBRP Mata Kuliah Kehutanan Masyarakat
Kriteria
Kemampuan akhir yang Strategi Unit Tugas Bobot
Minggu Materi Pembelajaran Penilaian
diharapkan Pembelajaran Mahasiswa Nilai (%)
(Indikator)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Menyepakati kontrak belajar (1) Kontrak Belajar (1) Ice breaking - Terbentuknya -
dan mengerti ruang lingkup (2) diskusi kontrak
mata kuliah perkuliahan dan
Kelompok
Diskusi
2-4 Menjelaskan realitas dan Analisis Situasi dan Discovery Kuis dan -
situasi pengelolaan hutan Sejarah perkembangan Learning Keaktifan
berbasis masyarakat kehutanan masyarakat
4-5 1. Mampu menjelaskan 1. Konsepsi kehutanan Small Group  membentuk  Kerja sama 10
Filosofi, Konsepsi dan masyarakat Discussion kelompok  Berfikir kritis
Varian Kehutanan 2. Prinsip-prinsip kunci  memilih bahan  Kreatif
masyarakat dalam sistem diskusi  Komunikasi
2. Memahami Prinsip-prinsip pengelolaan hutan  presentasikan berargumentasi
kunci dalam sistem berbasis masyarakat paper dan  Kuis
pengelolaan hutan berbasis  mendiskusikan di
masyarakat kelas

6-8 1. Menjelaskan konsep Konsep Devolusi, Small Group  membentuk  Kerja sama 20
devolusi pengelolaan Tenurial dan Discussion kelompok  Berfikir kritis
hutan Kelembagaan  memilih bahan  Kreatif
2. Menjelaskan konsep Pengelolaan Hutan dalam diskusi  Komunikasi
tenurial Kehutanan Masyarakat  presentasikan berargumentas
3. Menjelaskan konsep paper dan i
kelembagaan pengelolaan  mendiskusikan di
kehutanan masyarakat kelas
9-10 1.Mahasiswa mampu Analisis Pengelolaan Case Study  membentuk
menganalisis konsep usaha dalam Kehutanan kelompok
kebijakan (peraturan) yang Masyarakat  memilih kasus
mendukung  menganalisis
berkembangnya usaha kasus
kehutanan masyarakat  mempresentaseka
2.Mahasiswa mampu n hasil analisis
menganalisis potensi lahan
usaha masyarakat dalam
kawasan hutan
3.Mahasiswa mampu
menganalisis faktor
pendukung yang
mendorong
berkembangnya usaha KM
(usaha masyarakat dalam
kawasan hutan, sosial
budidaya masyarakat dan
pasar hasil hutan.

11-13 Menjelaskan Tata Kelola Konsep dan Prinsip Tata Small Group  membentuk  Kerja sama 20
Konflik Pengelolaan Kelola Konflik Discussion kelompok  Berfikir kritis
Sumberdaya Hutan Pengelolaan Hutan  memilih bahan  Kreatif
diskusi  Komunikasi
 presentasikan berargumentasi
paper dan
 mendiskusikan di
kelas
Menganalisis konflik Alat-Alat Analisis Self Directed  Memilih alat  Berfikir kritis
pengelolaan hutan Konflik Learning analis konflik  Kreatif
 Mengeskpolorasi  Komunikasi
cara menggunakan berargumentas
alat analisis i
konflik
 Menerapkan alat
analisis konflik
xvi

dalam simulasi

Menjelaskan Prinsip Prinsip-Prinsip Mediasi Role Play mempelajari dan Kerjasama
Mediasi Konflik Konflik Pengelolaan menjalankan suatu Keunikan
Pengelolaan Hutan Hutan peran-peran dalam gagasan
mediasi konflik Berpikir kritis
kreatif
14 1. Menjelaskan dan 1. Analisis Program- Guided Mencari dan (1) Kekayaan 20
menganalisis Program- Program kehutanan Discovery Merangkum Sumber Sumber, (2)
Program kehutanan di Masyarakat di negara Learning Bacaan serta Jurnal berbasis jurnal
negara lain lain (India, Pilipina dan penelitian
negara lainnya)
2. Menjelaskan dan 2.Praktek-praktek Project Mengerjakan tugas • Kreatifitas
menganalisis Praktek- kehutanan masyarakat. Based (berupa proyek) • Inisiatif
praktek kehutanan a) Praktek kehutanan Learning yang telah dirancang •Bertanggung
masyarakat. masyarakat di hutan secara sistematis. jawab
produksi Menunjukan kinerja •Berfikir
b) Praktek kehutanan dan komprehensif
masyarakat di hutan mempertanggung
lindung jawabkan hasil
c) Praktek kehutanan kerjanya di forum
masyarakat di hutan
konservasi
d) Praktek kehutanan
masyarakat di hutan
rakyat
e) praktek pengelolaan
hutan adat

15 - 16 1. Mahasiswa mampu Analisis situasi dan Contextual Membahas konsep • Analisis• 30
mengenali alat- disain program kehutanan Learning (teori) Percaya diri•
alat/metode masyarakat (Kunjungan kaitannya dengan Berfikir kritis•
a) Teknik-teknik Lapangan) situasi nyata Sensitif /
pengambilan data
mendiaknosis • Melakukan studi kepekaan•
RRA dan PRA permasalahan lapang/ terjun di Pengalaman
2. Mahasiswa mampu dimasyarakat (Need dunia nyata untuk
mendisain program assesment, RRA, mempelajari
kehutanan PRA, SWOT) kesesuaian teori.
masyarakat b) Mendesain program
kehutanan masyarakat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 1

BAB I. REALITAS PENGELOLAAN HUTAN DI INDONESIA

PENDAHULUAN
I. Tujuan Instruksional

1. Mampu menjelaskan realitas situasi dan permasalahan pengelolaan hutan aktual
2. Mampu menganalis kesalahan berpikir/fallacy dalam pengelolaan hutan di Indonesia

II. Proses pembelajaran

Pada pembelajaran ini akan dipakai metode discovery learning dengan fokus mahasiswa
diharapkan mencari temuan-temuan permasalahan mendasar dalam pengelolaan hutan dalam
menjawab tantangan terhadap kemiskinan masyarakat disekitar hutan dan laju degradasi
hutan yang tinggi
Pada Tahap pertama;
a. Dosen meminta satu persatu mahasiswa untuk mengungkapkan secara ringkas satu isu-
isu atau permasalahan kehutanan baik di tingkat nasional, tingkat regional maupun lokal
(sesuai hasil penugasan pada pertemuan sebelumnya)
b. Dosen menerangkan salah satu kasus pengelolaan hutan di tingkat lapangan yang
menggambarkan situasi secara umum terkait persoalan kemiskinan, pelayanan publik
kehutanan dan kerusakan hutan.
c. Dosen merangkum hasil eksplorasi mahasiswa dengan memaparkan point-point penting
mencari isu-isu atau permasalahan kehutanan baik di tingkat nasional, tingkat regional
maupun lokal.
d. Dosen mengumpulkan hasil tugas individu mahasiswa berupa klipping atau potongan-
potongan berita, artikel, jurnal, dan makalah ilmiah terkait fakta pengelolaan hutan di
Indonesia (sesuai hasil penugasan pada pertemuan sebelumnya)

Pada Tahap kedua;
a. Dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan issu-issu
utama dalam analisis situasi persoalan kehutanan, antara lain (sebagai contoh);
perambahan liar, degradasi hutan dan lahan, kekosongan pelayanan publik kehutanan
(pengurusan dan pengelolaan hutan) di tingkat tapak, otonomi daerah di sektor kehutanan,
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 2

kemiskinan masyarakat didalam dan sekitar kawasan hutan, konflik antara masyarakat
dan pemangku kawasan hutan, dll (kegiatan ini dapat dilakukan selama 2 menit)
b. Dosen mengarahkan kelompok-kelompok mahasiswa agar mampu mencari persoalan
substantif dari rangkaian masalah tersebut (mencari akar permasalahan) dengan metode
pohon masalah. Sebelumnya dosen memperkenalkan metode pohon masalah dan cara
menggunakannya.
c. Dosen meminta kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, setiap mahasiswa dalam
kelompok diharuskan memberikan paling tidak sekali kesempatan menyajikan
argumennya didepan kelas.
d. Dosen mencatat proses pembelajaran antara lain keaktifan mahasiswa baik individual
maupun kelompok
Pada Tahap ketiga;
a. Dosen memberikan evaluasi terhadap hasil diskusi kelompok dan menghubungkannya
dengan sejarah pengelolaan hutan berbasis masyarakat, akar persoalan dan proses-proses
transformasi pengelolaan hutan dalam kehutanan masyarakat
b. Dosen membagikan handout tentang filosofi, konsepsi dan varian kehutanan masyarakat
untuk dibaca dirumah, dosen meminta mahasiswa agar membaca dan mencari point-
point penting dalam proses pembelajaran
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 3

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Analisis Situasi Pengelolaan Hutan : Tinjauan sekilas

Kondisi Masyarakat
A di dalam dan sekitar
Kondisi Hutan Hutan
x
B C

Kondisi Penyelenggara,
Pengurus dan Pengelola
hutan

Gambar 1. Analisis Situasi Pengurusan dan Pengelolaan Hutan

Menganalisis situsi pengelolaan hutan memerlukan pengetahuan yang utuh tentang
keadaan kekinian baik di ranah masyarakat, kondisi hutan, maupun penyelenggara, pengurus
dan pengelolaa hutan. Salah satu alat yang sederhana yaitu situational analysis yang
didaptasi dari RECOFTC (Stephen dan Triraganon, 2006)
Dengan alat tadi, kita dapat melihat kesenjangan kondisi hutan aktual dengan
penyelenggara, pengurus dan pengelolaa hutan. Kita juga dapat menelisik lebih dalam konsisi
sosio-ekonomi-budaya masyarakat dengan kondisi hutan, serta kondisi masyarakat dan
pengelola hutan. Pada akhirnya kita dapat melihat kesenjangan diantara ketiganya.
Kesenjangan-kesenjagan tadi secara umum salah satunya dapat dilihat dari Awang
(2011) bahwa realitas yang cukup memperihatinkan terkait pengelolaan sumberdaya hutan
di Indonesia saat ini adalah:
1) paling sedikit ada 45 juta ha lahan kritis, akibat dari sistem pengelolaan hutan yang tidak
benar; 7
2) ada fenomena penebangan liar yang terorganisir rapi di dalam kawasan hutan negara dan
tidak mampu diselesaikan oleh pemerintah;
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 4

3) rendahnya rasa memiliki dari warga masyarakat terhadap hutan negara, karena manfaat
nyaris kecil sekali bagi mereka;
4) para pengusaha yang selama ini mendapat keberuntungan dari model HPH / HTI sangat
kapitalis dan tidak peduli dengan masyarakat;
5) banyak muncul konflik sumberdaya alam hutan antara pemerintah dan kelompok
masyarakat adat;
6) otonomi daerah terhadap sistem pengelolaan SDH;
7) eksistensi sistem pengelolaan sumberdaya hutan yang di inisiasi oleh masyarakat (bukan
program pemerintah) ” sangat sulit ” untuk diakui oleh pemerintah, karena ada persoalan
status lahan yang di klaim milik negara; dan
8) sebagian besar lahan hutan yang diklaim milik negara ternyata tidak dapat “diamankan”
batasnya oleh pemerintah, dan justru menjadi “arena” konflik sosial, politik dan budaya
yang mengancam keutuhan negara
Dalam buku saku FKKM mengungkapkan bahwa banyak penelitian melaporkan
sesungguhnya sumber daya hutan Indonesia yang memiliki tingkat keragaman hayati tinggi
telah sejak lama dikelola oleh beragam sistem pengelolaan tradisional oleh rakyat. Buku
Sejarah Kehutanan Indonesia yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan (waktu itu masih
bernama Departemen Kehutanan pada tahun 1987) menyebutkan bahwa para peneliti
Belanda pada akhir abad 18 telah melaporkan tentang keberadaan hutan damar rakyat di Krui,
Lampung, hutan kemenyan di Sumatra Utara dan Sumatra Selatan, hutan jati rakyat di
Palembang, hutan jati rakyat di Sulawesi dan hutan tengkawang yang dikelola rakyat di
Kalimantan Barat. Sistem-sistem tersebut dipengaruhi oleh situasi ekologis dan geografis
serta kondisi sosial-budaya. Laporan tentang keberadaan sistem pengelolaan sumberdaya
hutan oleh rakyat terus bertambah. Saat ini diketahui bahwa sistem ini telah lama tumbuh
dan berkembang secara mandiri di hampir seluruh wilayah Indonesia. Para peneliti
melaporkan bahwa sistem ini bukan saja menjamin kelestarian ekosistem sumberdaya hutan,
namun juga berperan penting dalam mendukung sistem sosial budaya masyarakat, bahkan
perekonomian tingkat lokal dan regional. Sebagai contoh, ekspor damar dari hutan damar
rakyat di Krui diketahui memberikan kontribusi terhadap devisa negara. Walaupun demikian,
sistem ini terus mengalami proses peminggiran (marjinalisasi) struktural akibat kebijakan
pembangunan dan kebijakan kehutanan yang berbasis pada cara pandang kontrol dan
dominasi negara dan cara pandang penambangan kayu.
Menurut Leslie (1989) dalam Santoso (2011) model kehutanan seperti ini sebenarnya
bukan sesuatu yang baru, sejak berabad-abad pengelolaan hutan ditujukan untuk memenuhi
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 5

berbagai kebutuhan manusia atau seharusnya memiliki dimensi yang bersifat sosial. Adalah
ironis kalau kemudian muncul pengertian baru yang bernama “kehutanan masyarakat”. Akan
tetapi pada realitasnya, kehutanan masyarakat memiliki pengertian berbeda dibandingkan
dengan kehutanan yang selama ini dipahami (kehutanan industri). Kehutanan masyarakat –
Westoby sering menyebutnya sebagai people centre forestry –, menurut Leslie (1989), adalah
pengelolaan hutan yang lebih mengutamakan kepentingan kelompok masyarakat tertentu,
khususnya mereka-mereka yang memiliki posisi ekonomi dan politik lemah. Sementara itu
kehutanan industri (sering juga disebut kehutanan konvensional), sebagaimana yang sudah
kita ketahui bersama, biasanya cenderung melakukan hal yang sebaliknya
Pada tahun 1984, Pemerintah melakukan penataan kawasan hutan dengan kegiatan
Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK). Secara yuridis penataan hutan memang cukup sah
dan mendapatkan pengakuan secara legal dari Kepala Desa, Camat, Bupati dan Gubernur
dengan tanda tangan pada berita acara tentang kawasan hutan. Namun secara prosedural,
sama sekali dalam melakukannya tidak partisipatif, masyarakat desa tidak terlibat dalam
membangun tata ruang kawasan hutan secara partisipatif di seluruh tahapan. Masyarakat desa
hanya dipekerjakan sebagai buruh pemasang patok pal batas kawasan hutan. Sementara itu
masyarakat desa memiliki kriteria tata ruang tersendiri. Pemerintah memiliki kriteria fisik
dalam menentukan tata ruang kawasan hutan, yakni curah hujan, kelerengan, jenis tanah dan
ketinggian. Akhirnya, kriteria pemerintah berbenturan dengan kriteria masyarakat desa yang
sangat berdampak pada pengaturan tata ruang pedesaan. Konflik tenurial mulai dirasakan
mengalami eskalasi yang menaik sampai sekarang.
Data dari Kementerian Kehutanan Tahun 2010 bahwa dari 31.864 jumlah desa,
terdapat 16.760 desa (52,60%) berada dalam kawasan hutan antara lain dalam hutan lindung
terdapat 6.243 desa, Hutan produksi 7.467 desa, Hutan Produksi terbatas 4.744 desa dan
Hutan Produksi Konversi 3.848 desa dan Hutan Konservasi sebanyak 2.270 desa. Dari
jumlah peduduk 21.563.447 Kepala Keluarga, terdapat 448.630 KK (2,08%) dalam kawasan
hutan dan 3.956.748 KK (18,35%) di tepi kawasan hutan. Dari data diatas menunjukkan
bahwa Desa sangat bersinggungan dengan kawasan hutan. Kata salah seorang masyarakat
desa “yang mana sesungguhnya benar, desa yang masuk hutan atau hutan yang masuk desa
?” (Praktek hutan desa akan dibahas secara detail pada Bab Praktek-Praktek Kehutanan
Masyarakat)
Dalam buku saku FKKM (2010) mengungkapkan bahwa banyak penelitian
melaporkan sesungguhnya sumber daya hutan Indonesia yang memiliki tingkat keragaman
hayati tinggi telah sejak lama dikelola oleh beragam sistem pengelolaan tradisional oleh
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 6

rakyat. Buku Sejarah Kehutanan Indonesia yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan (waktu
itu masih bernama Departemen Kehutanan pada tahun 1987) menyebutkan bahwa para
peneliti Belanda pada akhir abad 18 telah melaporkan tentang keberadaan hutan damar rakyat
di Krui, Lampung, hutan kemenyan di Sumatra Utara dan Sumatra Selatan, hutan jati rakyat
di Palembang, hutan jati rakyat di Sulawesi dan hutan tengkawang yang dikelola rakyat di
Kalimantan Barat. Sistem-sistem tersebut dipengaruhi oleh situasi ekologis dan geografis
serta kondisi sosial-budaya. Laporan tentang keberadaan sistem pengelolaan sumberdaya
hutan oleh rakyat terus bertambah. Saat ini diketahui bahwa sistem ini telah lama tumbuh
dan berkembang secara mandiri di hampir seluruh wilayah Indonesia. Para peneliti
melaporkan bahwa sistem ini bukan saja menjamin kelestarian ekosistem sumberdaya hutan,
namun juga berperan penting dalam mendukung sistem sosial budaya masyarakat, bahkan
perekonomian tingkat lokal dan regional. Sebagai contoh, ekspor damar dari hutan damar
rakyat di Krui diketahui memberikan kontribusi terhadap devisa negara. Walaupun demikian,
sistem ini terus mengalami proses peminggiran (marjinalisasi) struktural akibat kebijakan
pembangunan dan kebijakan kehutanan yang berbasis pada cara pandang kontrol dan
dominasi negara dan cara pandang penambangan kayu.
Menurut Leslie (1989) dalam Santoso (2011) model kehutanan seperti ini sebenarnya
bukan sesuatu yang baru, sejak berabad-abad pengelolaan hutan ditujukan untuk memenuhi
berbagai kebutuhan manusia atau seharusnya memiliki dimensi yang bersifat sosial. Adalah
ironis kalau kemudian muncul pengertian baru yang bernama “kehutanan masyarakat”. Akan
tetapi pada realitasnya, kehutanan masyarakat memiliki pengertian berbeda dibandingkan
dengan kehutanan yang selama ini dipahami (kehutanan industri). Kehutanan masyarakat –
Westoby sering menyebutnya sebagai people centre forestry –, menurut Leslie (1989), adalah
pengelolaan hutan yang lebih mengutamakan kepentingan kelompok masyarakat tertentu,
khususnya mereka-mereka yang memiliki posisi ekonomi dan politik lemah. Sementara itu
kehutanan industri (sering juga disebut kehutanan konvensional), sebagaimana yang sudah
kita ketahui bersama, biasanya cenderung melakukan hal yang sebaliknya
Pada tahun 1984, Pemerintah melakukan penataan kawasan hutan dengan kegiatan
Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK). Secara yuridis penataan hutan memang cukup sah
dan mendapatkan pengakuan secara legal dari Kepala Desa, Camat, Bupati dan Gubernur
dengan tanda tangan pada berita acara tentang kawasan hutan. Namun secara prosedural,
sama sekali dalam melakukannya tidak partisipatif, masyarakat desa tidak terlibat dalam
membangun tata ruang kawasan hutan secara partisipatif di seluruh tahapan. Masyarakat desa
hanya dipekerjakan sebagai buruh pemasang patok pal batas kawasan hutan. Sementara itu
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 7

masyarakat desa memiliki kriteria tata ruang tersendiri. Pemerintah memiliki kriteria fisik
dalam menentukan tata ruang kawasan hutan, yakni curah hujan, kelerengan, jenis tanah dan
ketinggian. Akhirnya, kriteria pemerintah berbenturan dengan kriteria masyarakat desa yang
sangat berdampak pada pengaturan tata ruang pedesaan. Konflik tenurial mulai dirasakan
mengalami eskalasi yang menaik sampai sekarang.
Data dari Kementerian Kehutanan Tahun 2010 bahwa dari 31.864 jumlah desa,
terdapat 16.760 desa (52,60%) berada dalam kawasan hutan antara lain dalam hutan lindung
terdapat 6.243 desa, Hutan produksi 7.467 desa, Hutan Produksi terbatas 4.744 desa dan
Hutan Produksi Konversi 3.848 desa dan Hutan Konservasi sebanyak 2.270 desa. Dari
jumlah peduduk 21.563.447 Kepala Keluarga, terdapat 448.630 KK (2,08%) dalam kawasan
hutan dan 3.956.748 KK (18,35%) di tepi kawasan hutan. Dari data diatas menunjukkan
bahwa Desa sangat bersinggungan dengan kawasan hutan. Kata salah seorang masyarakat
desa “yang mana sesungguhnya benar, desa yang masuk hutan atau hutan yang masuk desa
?” (Praktek hutan desa akan dibahas secara detail pada Bab Praktek-Praktek Kehutanan
Masyarakat)

II. Kemisikian Masyarakat di Dalam dan Sekitar Hutan

1. Persoalan kembar: kemiskinan dan degraassi hutan
Persoalan kembar pengelolaan hutan di Indonesia adalah kerusakan hutan dan
kemiskinan merupakan lingkaran persoalan yang cukup sistemik, sehingga mesti juga
dikelola dengan sistemik pula. Menurut Hariyadi, dkk (seperti dikutip Santoso, 2011: 44),
dua persoalan ini saling mempengaruhi, hingga dalam tingkat tertentu akan membentuk
semacam lingkaran setan yang tidak berujung-pangkal dan sulit dipecahkan.
Karena tingkat sistemik persoalannya, kita sudah tidak bisa lagi dengan serta
menentukan, mana yang menjadi penyebab maupun akibat, apakah degradasi hutan yang
menyebabkan kemiskinan, ataukah sebaliknya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada
tahun 2003 tercatat sekitar 48,8 juta jiwa atau 22 persen dari 219,9 juta penduduk Indonesia
yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, 10,2 juta jiwa di antaranya masuk dalam klasifikasi
penduduk miskin. Dari data tersebut diketahui sekitar 6 juta jiwa penduduk memiliki mata
pencaharian langsung dari hutan dan sekitar 3,4 juta jiwa di antaranya bekerja di sektor
swasta kehutanan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 8

Kotak 1. Masalah Sistemik
Contoh kasus ketika kita berada di desa-desa hutan, kita bisa bertanya kepada petani hutan,
kenapa hutan di desa anda rusak?, dengan seksama mereka jawab “karena kami mengganti
pohon dengan menanam kacang, jagung dan sayuran dalam kebun dan hutan”. Kenapa
menanam sayuran? dijawabnya “karena kami butuh hasil yang cepat dijual untuk pemenuhan
kebutuhan”. Kenapa tidak mengusahakan tanaman kayu?, dijawabnya karena lama hasil
panennya dan membutuhkan biaya perizinan yang ribet, “walaupun kayu itu di lahan kami
sendiri”. Kalau begitu, kenapa tidak mencari pekerjaan yang lain saja?, dijawabnya “karena
hanya ini yang kami bisa”. Kenapa tidak memiliki keterampilan yang lain?, dijawabnya
“karena kami tidak punya pendidikan dan pengalaman”. Kenapa tidak punya pendidikan?,
dijawabnya “karena kami tidak punya biaya untuk sekolah. Kenapa tidak punya biaya? ,
karena kami punya keterbatasan pekerjaan. Pertanyaan ini cukup berputar-putar. Sehingga
kategori miskin pada kasus ini adalah kategori sistemik
Salah satu contoh kasus dapat kita lihat pada salah satu dusun hutan di Desa Kasintuwu
Luwu Timur yang berada didalam kawasan hutan lindung. Besarnya tingkat ketergantungan
masyarakat Kasintuwu atas kawasan hutan dianalisis dengan membandingkan pendapatan
mereka dari kawasan hutan dengan dari luar kawasan hutan, seperti disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Desa Kasintuwu terhadap Kawasan Hutan

Penerimaan Tingkat
Pendapatan Pendapatan
dalam Kawasan Ketergantungan
Responden Diluar Kawasan Total
Hutan Terhadap Hutan
Hutan (Rp/tahun) (Rp/tahun)
(Rp/Tahun) (%)

Responden 1 1.300.000 1.200.000 2.500.000 52,00

Responden 2 2.500.000 1.200.000 3.700.000 67,57

Responden 3 2.000.000 1.200.000 3.200.000 62,50

Responden 4 3.600.000 6.000.000 9.600.000 37,50

Rata-Rata 2.350.000 2.400.000 4.750.000 49,47

Data pada Tabel 1 menunjukkan pendapatan total masyarakat relatif rendah yakni
rata-rata sebesar Rp. 4.750.000,-/KK/tahun atau rata-rata sebesar Rp. 950.000,-/kapita/ tahun
(berdasarkan data rata-rata jumlah anggota keluarga resonden sebanyak 5 orang/KK). Angka
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 9

ini termasuk katagori miskin apabila menggunakan standar kemiskinan yakni dari FAO yaitu
sebesar US $ 10/kapita/hari atau setara dengan Rp. 3.060.000,-/kapita/tahun.
Pendapatan masyarakat Desa Kasintuwu bersumber dari dalam kawasan hutan rata-
rata sebesar Rp. 2.350.000,-/KK/tahun dan dari luar kawasan hutan rata-rata sebesar Rp.
2.400.000,-/KK/tahun. Hal ini menunjukkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap
kawasan hutan relatif tinggi yakni rata-rata sebesar 49,47% pada kisaran antara 37,50%
sampai 67,57%. Dengan demikian, menghilangkan akses masyarakat terhadap kawasan hutan
tanpa menciptakan alternatif sumber mata penaharian akan berdampak kepada terjadinya
peningkatan kemiskinan masyarakat. Terbatasnya lahan di luar kawasan hutan yang dapat
dikelola oleh masyarakat, merupakan faktor penyebab utama tingginya ketergantungan
masyarakat terhadap kawasan hutan.

Gambar 2. Kehidupan masyarakat, tampak menujukkan hasil buruan babi hutan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 10

Hasil analisis kelayakan hidup (lifelihood analysis) diketahui besarnya pendapatan
minimal rumah tangga untuk dapat hidup secara layak di Desa Kasintuwu adalah sebesar 3
(tiga) kali lipat dari pendapatan rata-rata pada sat ini. Dapat pula dikatakan bahwa, untuk
dapat hidup secara layak, pendapatan rata-rata rumah tangga harus ditingkatkan menjadi rata-
rata sebesar Rp. 14.250.000,-/KK/tahun. Hal ini berarti bahwa masih terdapat selisih antara
pendapatan total rata-rata masyarakat pada saat ini dengan kebutuhan pendapatan untuk dapat
hidup layak sebesar Rp. 9.500.000,-/KK/tahun. Dapat pula dikatakan bahwa, untuk dapat
hidup layak, pendapatan rata-rata masyarakat Desa Kasintuwu harus ditingkatkan 66,66%
dari pendapatan rata-rata pada saat ini.
Contoh lainnya adalah Desa Labuaja yang sebagian wilayahnya berada di dalam
kawasan Taman Nasional bantimurung Bulusaraung. Menurut Hasanuddin, 2011 bahwa rata-
rata pengeluaran rumah tangga masyarakat petani Desa Labuaja pada setiap tahun untuk
kebutuhan pangan sebesar Rp.10.301.538,-/tahun/KK, untuk kebutuhan dalam hal bahan
bakar sebesar Rp.3.050.807,-/tahun/responden dan kebutuhan pelengkap sebesar
Rp.876.846,-/tahun/KK. Pengeluaran untuk bahan bakar setiap KK sedikit karena rata-rata
masyarakat di Desa Labuaja menggunakan kayu bakar. Total rata-rata pengeluaran rumah
tangga sebesar Rp.14.229.192,-/tahun/KK. Lebih jelasnya persentase tingkat kebutuhan
masyarakat di perlihatkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Persentase Tingkat Kebutuhan Masyarakat (Sumber: Hasanudin, 2011)

Pada Gambar 3 menunjukkan bahwa dari ketiga kebutuhan pokok masyarakat, tingkat
kebutuhan akan pangan paling tinggi yaitu sebesar 72,40 %, kemudian diikuti oleh kebutuhan
bahan bakar sebesar 21,44 %, dan kebutuhan pelengkap hanya sebesar 6,16 % dari total
kebutuhan masyarakat. Tingginya kebutuhan akan pangan di sebabkan oleh besarnya
tanggungan dalam setiap keluarga. Jika dikaitkan dengan tingkat ketergantungan masyarakat
terhadap kawasan TN Babul maka hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sekitar TN Babul
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 11

sangat tergantung pada keberadaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, dimana
semua aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat di dalam kawasan khususnya pemanfaatan
areal semua di lakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pangan, bahan bakar, dan
kebutuhan pelengkap. Selain itu tingginya ketergantungan masyarakat terhadap TN Babul
dipengaruhi oleh jenis mata pencaharian masyarakat, dimana 75,12% dari total penduduk
Desa Labuaja umumnya bermata pencaharian sebagai petani sehingga semua pendapatan
diperoleh dari lahan pertanian dan perkebunan, baik pertanian lahan kering, sawah tadah
hujan maupun pertanian irigasi. Umumnya areal pertanian dan perkebunan masyarakat
berada di dalam dan sekitar Taman Nasional Bantimurung Bulusraung.
Hal senada di kemukakan oleh Sumedi dan Simon (2000), menyatakan bahwa
tingginya ketergantungan masyarakat terhadap hutan karena secara fungsional hutan menjadi
sumber pangan, sumber kayu untuk bangunan, sumber kayu bakar, bahkan secara sosiologis,
hutan telah menjadi sumber ekspresi kebudayaan yang dominan. Di berbagai daerah dalam
hubungannya yang teramat panjang dengan masyarakat hutan telah menjadi satu-satunya
alternatife bagi kelangsungan hidup mereka. Hal ini kemudian di perkuat oleh pernyataan
yang dikemukakan oleh Soemarwoto dkk (1992), bahwa masyarakat yang tinggal di dalam
atau di sekitar hutan, menjadikan hutan sebagai sumber kehidupan bagi mereka, sebab
mampu memberikan segala aspek yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Dari hutan,
masyarakat mendapatkan lahan untuk berusaha dan atau berladang sayur, buah-buahan,
pakan ternak, obat-obatan, ikan dan juga binatang buruan sebagai sumber protein hewani
yang diperoleh dari hutan. Dari hutan pula, masyarakat dapat mengambil kayu untuk bahan
bangunan tempat tinggal di samping hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, dammar dan
lain-lain yang dapat dijual sebagai sumber pemenuhan kebutuhan pokok dan tambahan
penghasilannya.

2. Tujuan keuangan petani hutan: antara subsisten dan komersil
Tentu tidak semua petani hutan hidup dalam kemiskinan, banyak petani yang sukses
dalan berusaha disektor kehutanan khususnya hutan rakyat. Secara umum ada dua tipe
masyarakat dalam sudut pandang pemenuhan kebutuhan sehari-harinya. Ketika pendapatan
masyarakat itu hanya bisa maksimal memenuhi kebutuhan sehari-hari/domestiknya, maka
disebut subsisten. Tetapi ketika petani itu telah mampu memenuhi kebutuhan domestiknya
dan juga telah mampu memenuhi kebutuhan sekunder dan bahkan untuk bisa menabung
maka dapat dikategorikan sebagai komersil
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 12

Hasil penelitian Dassir (2007) bahwa faktor pembeda kelompok petani subsisten,
komersil dan kapitalis di sub DAS minraleng hulu (Kabupaten Maros). Hak ini dapat dilihat
pada Tabel 2 sebagai berikut;
Tabel 2. Faktor Pembeda Kelompok Petani Subsisten, Komersil dan Kapitalis di Sub DAS
Minraleng Hulu (Sumber: Dassir (2007))

No Ffaktor Variabel

imigrasi keluar desa

1 Demografi Jumlah Anggota keluarga membantu Wanatani

Luas lahan wanatani

total luas lahan milik dan sakap

Jumlah komoditas tanaman yang diusahakan

2 Teknologi Jenis pupuk dan pestisida yang digunakan

Jumlah pupuk yang di gunakan

Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan pada budidaya wanatani

Jenis dan jumlah Mesin pengolah hasil pertanian yang dimiliki

Iklim

4 Biofisik Topografi

Jumlah bulan Ketersediaan air untuk lahan

Jarak lahan dengan pasar

5 Infrastruktur Jumlah Jenis angkutan hasil wanatani

Akses responden ke pedagang untuk pemasaran hasil

Akses responden ke pedagang untuk penyediaan saprodi

Hasanuddin (2011) melakukan analisis tujuan keuangan yang dilakukan di Desa
Labuaja. Apabila penghasilan mengalami surplus berarti tujuan keuangannya untuk
menambah kekayaan. Sedangkan bila kebutuhan penghasilan mengalami defisiensi maka
tujuan keuangannya untuk menutupi kebutuhan pangannya.
Hasil penelitian Hasanuddin (2011) menunjukkan bahwa jumlah rata-rata pengeluaran
rumah tangga di Desa Labuaja untuk kebutuhan pangan sebesar Rp. 10.301.538,-
/tahun/responden, sementara jumlah rata-rata pengeluaran yang sebetulnya dibutuhkan untuk
kebutuhan pangan sebesar Rp.13.239.230,-/tahun/responden. Hal ini berarti bahwa untuk
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 13

memenuhi kebutuhan pangan yang sebenarnya maka setiap responden harus mencari
pendapatan tambahan sebesar Rp.2.937.692,-/tahun/responden.
Hasanuddin (2011) lebih lanjut mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan
yang sebenarnya maka setiap responden harus mencari pendapatan tambahan sebesar
Rp.5.250.886,-/tahun/KK. Dari hasil selisih tersebut, maka tujuan keuangan responden
mengelolah usaha di dalam baik dalam kawasan hutan maupun di luar adalah untuk menutupi
kebutuhan pangan. Agar responden mencapai jumlah kebutuhan pangan/ harapan jumlah
penghasilan yang ideal, maka responden harus meningkatkan jumlah penghasilan melalui
usaha baru.

Hal ini juga bersesuaian dengan hasil penelitian Rositah (2005) yang mengambil sampel
penelitian di Desa Sebinuang dan Metut, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Rositah
(2005) menemukan bahwa kekurangan pangan paling banyak dikaitkan dengan kondisi
kemiskinan oleh kedua desa. Kekurangan pangan dimaksud dalam hal ini bukan saja
terpenuhinya kebutuhan makan setiap hari, tetapi juga berkaitan dengan kualitas (gizi),
variasi makanan (menu) dan kontinuitas. Pakaian yang dimiliki sangat terbatas, dalam
pengertian hampir tidak ada peruntukkan pakaian khusus untuk aktivitas tertentu. Kondisi
rumah tempat tinggal juga dipandang tidak jauh berbeda oleh responden.

Gambar 4. Warga Miskin Yg Belum Tersentuh Dgn Bantuan Sosial (Foto : Safri
Mustakim, 2012)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 14

Lebih lanjut Rositah (2005) menemukan fakta bahwa kemiskinan masyarakat bersifat
multidimensi dengan faktor penyebab yang kompleks. Kemiskinan komunitas Punan di
kedua desa penelitian secara historis telah berlangsung lama dan terus berada dalam lingkaran
kemiskinan meski Otonomi Daerah telah diimplementasikan. Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan, secara umum penyebab kemiskinan masyarakat di dua desa tersebut dapat
dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain (1) Sumber
daya manusia rendah, (2) Budaya masyarakat (3) Motivasi lemah, (4) Pola hidup konsumtif,
dan (5)Jumlah penduduk terlalu sedikit.
Rendahnya sumberdaya masyarakat lokal turut mengkondisikan kehidupan sosial
ekonomi masyarakat setempat. Meski secara historistradisional mereka memiliki
ketangguhan untuk bertahan hidup di tengah hutan lengkap dengan kemampuan meramu
pengalaman menjadi sebuah kearifan lokal dalam mengelola dan memanfaatkan sumber
daya hutan di lingkungannya, belum cukup menjadikan mereka kuat menghadapi berbagai
intervensi pihak luar yang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam di sekitarnya.
Akibatnya, desa yang tidak memiliki lahan pertanian dan hutan lagi, seperti di lokasi
Sebinuang, menjadi semakin terdesak.

3. Kemisikinan ditengah kekayaan sumberdaya lahan
Hubungan sumberdaya hutan dan atau sumberdaya alam terhadap persolan pokok
kemiskinan dapat kita lihat pada contoh di Desa Labuaja, Kabupaten Maros, Propinsi
Sulawesi Selatan. Sebagian besar desa ini berada didalam kawasan konservasi Taman
Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. Supratman dan Oka (2009) melaporkan bahwa
sampai saat ini belum ada dilaporkan adanya potensi sumberdaya alam mineral di wilayah
Desa Labuaja. Sumberdaya alam yang paling menonjol bagi penghidupan masyarakat Desa
Labuaja adalah sumberdaya lahan, dimana masyarakat melakukan kegiatan bercocok tanam.
Lahan pertanian di Desa ini umumnya merupakan lahan pertanian tadah hujan, sehingga
kegiatan pertanian hanya dapat dilakukan sekali setahun. Diantara kegiatan pemanfaatan
lahan yang dilakukan masyarakat yang paling umum adalah sawah, dimana mereka menanam
padi, jagung, serta kacang tanah sesuai dengan musim. Beberapa jenis komodits pertanian
lainnya yang juga mereka kembangkan adalah sayur-sayuran, lamtoro, serta umbi-umbian.
Beberapa masyarakat juga ada yang mengembangkan tanaman aren untuk diambil niranya
sebagai bahan baku pembuatan gula merah. Selain bertani, terdapat pula beberapa masyarakat
yang memelihara ternak sapi, namun pada umumnya ternak tersebut tidak dikandangkan,
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 15

melainkan dilepas di dalam hutan. Jenis mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat
Desa Labuaja adalah petani. Mereka memanfaatkan lahan-lahan yang ada untuk ditanami
padi, jagung, kacang tanah, umbi-umbian, pisang, sayur-sayuran dan lain-lain. Mereka juga
memanen pohon aren untuk diambil niranya sebagai bahan untuk membuat gula merah,
mengambil tire, madu hutan, menggembala sapi dan lain-lain.Selain sebagai petani, terdapat
juga beberapa orang yang memelihara ternak sapi. Sebagian kecil masyarakt memiliki mata
pencaharian sebagai pegawai negeri dan pedagang.

Gambar 5. Potensi Hasil Hutan Gula Merah di salah satu Desa di Kabupaten Maros (Foto :
Muhammad Gusti Zainal)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 16

Ketergantungan masyarakat Desa Labuaja terhadap kawasan Taman Nasional
Bantimurung Bulusaraung direfleksikan oleh berbagai aktivitas pemanfaatan dan pemungutan
hasil hutan serta aktivitas pemanfataan kawasan hutan. Tingkat ketergantungan masyarakat
atas lahan di dalam kawasan taman nasional relatif tinggi, yakni sebesar 75% lahan yang
mereka kelola berada di dalam kawasan tamam nasional, bahkan hasil wawancara kepada 30
orang responden di ketahui bahwa lahan kebun yang mereka dikelola semuanya berada di
dalam kawasan tamanan nasional.
Tabel 3. Tingkat Ketergantungan Masyarakat terhadap Lahan di Dalam Taman Nasional
Bantimurung Bulusaraung
Katagori Ketergantungan Jumlah Responden Persentase (%)

tidak tergantung 2 6,7
tergantung 4 13,3
sangat tergantung 24 80,0

Sumber : Supratman dan Oka (2009)

Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa sebanyak 80% responden memiliki kategori
sangat tergantung terhadap kawasan taman nasional, dan hanya sebanyak 6,7% responden
yang termasuk katagori tidak tergantung. . Sebanyak 50% dari total respnden dengan katagori
sangat tergantung terhadap lahan taman nasional tidak memiliki lahan usaha tani dan sumber
mata pencaharian dari luar areal taman nasonal. Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap
kawasan taman nasional juga direfleksikan dari proporsi pendapatan masyarakat dari dalam
dan dari luar kawasan taman nasional (Tabel 3).
Tabel 4. . Deskripsi Pendapatan Masyarakat Desa Labuaja

Deskripsi Nilai Pendapatan Sumber Pendapatan Menurut Status Lahan (Rp/tahun)
(Rp/tahun) Di dalam TN Di luar TN
Minimum 7.680.000 0
Maksimum 32.290.000 20.490.000
Rata-rata 15.834.566 4.294.820

Pendapatan Rata-rata Total 20.129.836

Sumber : Supratman dan Oka (2009)

Pendapatan rata-rata total responden sebesar Rp. 20.129.836,-/tahun pada kisaran
pendapatan minimum sebesar Rp. 7.680.000,-/tahun dan pendapatan maksimum sebesar Rp.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 17

32.290.000,-/tahun. Proporsi pendapatan rata-rata total responden terdiri atas sebesar Rp.
15.834.566,-/tahun atau sebesar 78,7% berasal dari dalam kawasan taman nasional dan
sebesar Rp. 4.294.820,-/tahun atau sebesar 21,3% dari luar kawasan taman nasional. Proporsi
ini menunjukkan tingkat ketergantungan masyarakat yang relatif sangat tinggi terhadap
kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Proporsi pendapatan tersebut belum
termasuk potensi pendapatan dari pemanfaatan hasil hutan kayu gmelina yang telah ditanam
oleh masyarakat di dalam kawasan taman nasonal (yaitu pada areal HKM OECF) dengan
potensi nilai kayu pada saat ini sebesar Rp. 150.000,-/pohon.

4. Kemiskinan: masalah personal? atau masalah sosial?
Untuk kasus desa Kasintuwu diatas, menurut anda apa solusi yang harus diambil oleh
pemerintah?. Jawabannya mungkin beragam ada yang mengusulkan agar pemerintah
menyiapkan modal, ada yang mengusulkan diberikan penyuluhan tentang intensifikasi dan
ekstensifikasi lahan usahataninya, ada yang mengusulkan memberikan bantuan bibit
kehutanan dan bibit buah-buahan, bahkan mungkin ada yang mengusulkan agar direlokasi
saja ketempat yang memiliki pekerjaan yang lebih layak.
Sering sekali seseorang jika ditanya “apakah rumah tangga miskin yang berada didalam
dan sekitar hutan itu masalah sosial atau individual?”, dengan lantang dijawabnya masalah
sosial, tetapi kita ditanya bentuk solusi mengatasi kemiskinan tidak lah mencerminkan bentuk
solusi tersebut sebagai solusi sosial. Kira-kira menurut anda, apakah masalah desa
KaasintuwuMisalnya (siapaun dia) memandang persoalan kemiskinan sebagai masalah
individual. Umumnya pandangan seperti ini tidak secara sengaja mereka yakini. Rahmat
(2009) mengungkapkan bahwa seharusnya kita harus mengidentifikasi dulu apakah
kemiskinan itu masalah sosial atau masalah individual. Sebagai contoh, sering kita dapatkan
pengalaman dari lapangan, ada asumsi yang beredar bahwa orang miskin di sekitar hutan itu
perlu penyuluhan, perlu bantuan bibit, perlu bantuan modal sehingga program pemerintah
diarahkan kesana. Sebagai contoh, program GERHAN selama ini dikatakan salah satu
program yang dapat mengatasi kemiskinan karena para petani diberikan upah untuk
menanam pohon baik dalam kawasan hutan maupun di areal kebun petani sendiri. Betulkah
demikian?
Kalau ada sepuluh orang miskin disekitar hutan mungkin itu adalah masalah individu
seperti kemalasan untuk bekerja, tetapi kalau ada 10 juta orong miskin disekitar hutan,
apakah itu masalah individu?. Kalau ada 3 orang yang diidentifikasi malas dan menjadi
pengangguran, mungkin itu masalah pribadi, sehingga diperlukan kursus kepribadian. Tetapi
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 18

kalau satu kampung semuanya mayoritas malas, pasti ada system, kelembagaan ataupun
pranata sosial yang bermasalah baik dari segi penyebabnya maupun efek yang
ditimbulkannya.
Pertanyaan yang penting untuk dijawab bagi seluruh pemerintah maupun lembaga
lainnya yang melakukan intervensi sosial penanggulangan kemiskinan masyarakat hutan
adalah, apakah program-program tersebut menyentuh akar persoalan kemiskinan didaerah
itu?.
Sebagai contoh sederhana, program bantuan bibit kepada petani dan atau kelompok tani
hutan, nyatanya memang bermanfaat, tetapi apakah dengan serta merta mereka akan
menanam dan memelihara pohon dari bibit tersebut?, banyak laporan yang mengungkapkan
bahwa setelah bibit ditanam dan pemeriksaan oleh pengawas telah dilakukan, bibit itu
kemudian rusak dengan berbagai alasan seperti dimakan ternak liar, kebakaran, dll. Tetapi
alasan yang paling miris ketika petani dengan sengaja merusak tanaman agar mengharapkan
proyek rehabilitasi tetap ada di lahan mereka. Sampai disini kembali penulis bertanya, apakah
bantuan bibit itu solusi personal atau solusi sosial?.
Penanda kemiskinan masyarakat sebagai persoalan kemiskinan yang sifatnya structural,
bahwa baik penyebab kemiskinan maupun akibat yang ditimbulkannya sangat kompleks.
Mari kita melihat tiga rekomendsi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Rositah (2005).,
bahwa (1) pemerintah Kabupaten Malinau hendaknya memformulasi kebijakan kehutanan
yang dapat member konstribusi terhadap pembangunan daerah sekaligus melindungi hak-hak
tanah dan sumberdaya hutan masyarakat tradisional di sekitarnya, (2) Komite
Penanggulangan Kemiskinan (KPK) Daerah Kabupaten Malinau seharusnya mulai
membangun komitmen yang kuat terhadap upaya penanggulangan kemiskinan di daerah dan
merangkul stakeholders non pemerintah yang diharapkan dapat memberikan inisiatif yang
kreatif, inovatif dan adoptif terhadap perumusan dan pelaksanaan program, dan (3)
diperlukan sinkronisasi program penanggulangan kemiskinan masyarakat dengan kebutuhan
spesifik wilayah/desa melalui proses perencanaan secara partisipatif dan proses
pendampingan masyarakat dalam pelaksanaannya oleh pihak-pihak terkait dan memiliki
komitmen terhadap upayapenanggulangan kemiskinan.
Dari ketiga rekomendasi yang disuulkan semuanya membutuhkan keterlibatan dengan
ragam pihak dan ragam sektor atau bidang, hal inilah yang menjadikan issu kemiskinan
sangat penting menjadi perhatian dalam pengelolaan hutan di Indonesia
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 19

III. Kesalahan Berpikir : Antara Krisis Paradigma, Hambatan Psikologis dan
Struktural, Serta Mitos

Kesalahan berpikir dalam ilmu mantik atau ilmu logika sangat penting untuk dikenali.
Kesalahan berpikir ini disebut sebagai fallacy. Banyak kategori fallacy ini seperti
overgeneralisasi, berpikir berputar-putar, dll. Dalam dunia Kehutanan Masyarakat. Dalam
teori perubahan sosial dikemukanan bahwa mustahil aka nada perubahan sosial sebelum
kesalahan berpikir yang diidap oleh masyarakat tidak diretas.

Kotak 2. Kesalahan Berpikir dan Perubahan Sosial
Rakhmat (2009) mengungkapkan bahwa mustahil akan ada perubahan sosial sebelum
kesalahan berpikir diretas. Rakhmat lebih lanjut mengemukakan bahwa diperlukan upaya
pelurusan kesalahan berpikir dalam melakukan perubahan sosial? Pengacauan intelektual
yang masif dan intensif pada masa Orde Baru (bahkan sampai kini), merupakan hambatan
terbesar dalam upaya melakukan rekayasa sosial. Buku ini bermaksud memberikan wacana
besar bagi perubahan untuk Indonesia Baru. Seorang politikus atau pejuang apapun yang
memiliki komitmen mestilah memahami masalah mendasar ini. Biasanya para pendamping
atau fasilitator masyarakat dapat memulai aktifitasnya dengan melihat kesalahan berpikir
yang berkembang dikalangan masyarakat dan merumuskan strategi dalam menghadapi
kesalahan berpikir tersebut

Pada konteks tertentu, kesalahan berpikir diidentikkan dengan mitos. Tetapi tidak
menutup kemungkinan bahwa sesuatu yang dianggap mitos bisa saja menjadi ilmu
pengetahuan disuatu saat nanti. Untuk mengeksplorasi kesalahan berpikir ini, kita dapat
menggunakan banyak metodologi, seperti ilmu mantik atau ilmu logika.
Namun secara sosiologis, kesalahan berpikir ini juga dapat dieksplorasi secara
mendalam, karena terkadang masyarakat lokal “sengaja”mencipatakan mitos untuk
kepentingan kearifan bahkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Kebalikannya,
masyarakat modern yang sangat percaya dengan sains ilmu pengetahuan, namun terkadang
juga berakhir pada mitos. Pilih yang mana, dari mitos ke logos, atau dari logos ke mitos.
Beberapa kesalahan berpikir yang penulis kumpulkan, walaupun sebenarnya beberapa
diantaranya adalah hal yang betul (bukan mitos). Hal itu terjadi karena beberapa hambatan
structural yang dihadapi. Tetapi sebagaiannya adalah mitos.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 20

a. Ketakuatan terhadap hak akses masyarakat terhadap sumberdaya hutan
“Masyarakat tidak diberi akses saja, mereka merusak apatah lagi jika diberikan ijin
pengelolaan”, demikian kalimat yang cukup sering penulis dapatkan dari aparat pemerintahan
kita di lapangan. Sementara itu, keamanan hak dalam pengelolaan sumberdaya dalam
berbagai sudut pandang adalah menjadi syarat dalam kelesetarian dan keberlanjutan
pengelolaan.
Dalam sudut padang ekonomi sumberdaya mengungkapkan bahwa barang publik
biasanya cenderung rusak ketimbang barang yang memikiki kejelasan hak dan penguasaan.
Sederhananya, motor mana yang lebih terawat, moto
Dalam sudut pandang ilmu sosial, keamanan hak terhadap sumberdaya akan membuat
kohesivitas sosial masyarakat cenderung merasa terlindungi, kepastian akses dan penguasaan
sumberdaya akan berdampak pada kuatnya kelembagaan masyarakat yang selama ini
memiliki tradisi dan kearifan lokal dalam mengelola sumberdaya alam.
Dalam sudut pandang filosofis, hak adalah suatu esensi sekaligus eksistensi baik bagi
suatu makhluk sebagai personal maupun sebagai komunal.

b. Ketakutan/keengannan berkolaborasi.
Pengaruh demokratisasi dan keterbukan membuat penyakit ketakutan berkolaborasi
terutama di kalangan pemerintah udah mulai menurun. Walaupun demikian, dalam konteks
pengelolaan KM masih sering kita temukan kendala untuk kesusahan dalam berkolaborasi.
Kolaborasi disini diartikan sebagai
Keenganan berkolaborasi bukan hanya berpotensi diidap oleh kalangan birokrasi.
Kalangan penelitipun demikian. Suatu hari salah satu lembaga riset terpercaya dan telah
mendapatkan donor dari lembaga internasional mengunjungi sebuah Kabupaten untuk
membincangkan proyek Riset. Sang Bupatipun menawarkan sekertariat untuk dipakai
lembaga tersebut dalam beraktifitas, dengan nyamannya lembaga riset tersebut menolak
disaaat itu juga.
Kolaborasi membutuhkan proses, mungkin pada awalnya sangat formal kemudian
menjadi lembaga yang formal, atau juga mungkin kolaborasi itu diolah secara formal.
Mungkin pada awalnya kolaborasi hanyalah semacam wadah konsultasi, dan dapat berujung
pada tindakan atau aksi kolektif. Sahide (2010) meberikan contoh pada tangal 26 Desember
2010, sebuah forum rembug hutan desa Bantaeng dideklarasikan oleh Bupati Bantaeng di
Kantor Desa Labbo yang pada awalnya sangat formal dimana anggota tim teknisnya
kebanyakan pejabat atau kebanyakan para kepala Dinas di Kab. Bantaeng. Sehingga forum
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 21

ini kemudian seakan tidak aktif, namun penngiak Kehutanan Masyarakat dari unsur LSM
kemudian mendinamisasinya
Sekali lagi, kita tidak mungkin membiarkan masyarakat bekerja sendiri, dibutuhkan
keberpihakan semua stakeholder. Selama jangka waktu 2008 – 2010, RECOFTC (dengan
dukungan The Ford Foundation) telah ikut berperan aktif bersama stakeholder lainnya dalam
proses penguatan kapasitas masyarakat lokal dan Pemerintah Kabupaten melalui sebuah
program yang terencana sesuai dengan hasil asesment kebutuhan para pihak.
Tentunya program pendampingan terhadap masyarakat mesti terus dilajutkan dalam
ragam aktifitas sesuai dengan posisi dan peran stakeholder, antara lain payung kebijakan,
pendanaan, dan sistem pengolahan hasil hutan, serta mendekatkan pasar kepada produk
masyarakat. Yang menarik dari pernyataan Bupati Bantaeng yang disampaikan secara
terbuka pada saat peresmian forum rembuk hutan desa, ”meski program RECOFTC telah
berakhir di Bantaeng, beliau siap mendukung penganggaran pembangunan hutan desa
melalui dana APBD”.
Menurut Yuliani dan Tadjuddin (2006) bahwa pendekatan multipihak dapat menjadi
ruang dalam proses komunikasi dalam tata kelola konflik pengelolaan sumberdaya hutan.
Konflik pengelolaan hutan adalah sebuah keniscayaan yang mesti terkeloa. Tidak boleh ada
ruang pembiaran oleh pihak yang mempunyai otoritas dalam hal ini pemerintah.

c. Kemiskinan adalah takdir, tak dapat dituntaskan
Sepanjang sejarah peradaban manusia, kemiskinan pasti selalu ada. Kemiskinan adalah
takdir Tuhan sebagaimana takdir atas kekayaan. Jika tidak ada orang miskin, siapa yang akan
mengerjakan pekerjaan kasar?. Siapa yang akan menjadi buruh?.
Argumentasi diatas, seakan-akan argumentasi kokoh sehingga tibalah kesimpulan kita
bahwa kemiskinan adalah takdir sehingga orang dan atau masyarakat miskin itu penting
untuk dilestarikan.
Kontra argumentasi diatas juga dapat kita jabarkan bahwa sesunggguhnya kemiskinan
adalah penyakit sosial dan karena miskin adalah penyakit dan dapat disembuhkan. Banyak
kisah sukses masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan, banyak kota dan desa tanpa
masyarakat miskin Walaupun fakta ini jarang kita temui, namun bahwa kemiskinan dapat
diatasi adalah suatu fakta keras pula.
Hal yang paling substantial untuk mengatasi kemiskinan adalah mengurai akar masalah
kemiskinan tersebut. Setelah menemukan akarnya maka para pihak kemudian dapat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 22

mengambil aksi intervensi sosial sesuai dengan tanggungjawab dan perannya masing-
masing.

d. Petani selalu dianggap objek penyuluhan
Pendekatan penyuluhan dsektor pengelolaan sumberdaya sebenarnya telah banyak
mengalami kemajuan dengan memasukkan pendekatan partisipatif sebagai metodologi dan
perbaikan gaya komunikasi penyuluh. Namun yang dirasakan belum optimal adalah
pengelolaan pengetahuan di tingkat petani belumlah maksimal. Seringkali, petani masih
dianggap sebagai objek yang harus mengikuti pola pengelolaan sumberdaya secara modern.
Akibatnya pengetahuan dan kearifan lokal petani dalam mengelola sumberdaya hutan
misalnya mengalami degradasi.
Hal lain yang lebih penting adalah pengelolaan pengetahuan di tingkat petani belumlah
maksimal, seharusnya petani dapat mengelola pengetahuannya sendiri dan membagikannya
kepada petani yang lain.
Hal ini berbeda dengan yang diungkap oleh Mahbub (2007) bahwa sebaiknya
penyuluhan didekati dengan partisipatif yakni model penyluhan yang melibatkan para petani
pada keseluruhan proses pengambilan keputusan mulai dari pengumpulan dan analisis data,
identufikasi masalah, analisa kendala dan penerapan, pemantauan dan evaluasi.Peran
penyuluh dalam hal ini adalah memperkuat kemampuan-kemampuan dan potensi para petani
untuk memperbaiki uasaha mereka dalam mengelola uasaha tani dan memanfaatkan hutan.
Lebih lanjut lagi Mahbub (2007) menyatakan bahwa pendekatan penyuluhan partisipatif
dapat dilakukan dengan petani secara perorangan maupun kelompok. Dalam pelaksanaannya,
penyuluhan partisipatif ini diarahkan kepada masyarakat yang tingkat pengetahuannya telah
maju. Sedangkan untuk masyarakat yang tingkat pengetahuannya rendah, penyuluhan
dilaksanakan dengan pendekatan kovensional seperti sistem latihan dan kunjungan (LAKU).
Penyuluhan oartisipatif terutama diterapkan pada penyulah dengan materi-materi yang
bersifat pengembangan teknologi terapan atau dalam upaya transformasi teknologi kepada
petani.

e. Proyek infrastukrur dapat menyelesaikan segalanya
Proyek-proyek infrastruktur adalah program pemerintah yang tidak dapat dipungkiri
sangat dibutuhkan masyarakat seperti pengadaan jalan, instalasi air bersih, jembatan,
pengadaan peralatan pertanian, dll. Namun masyarakat dan bahkan pemerintah terkadang
menganngap program pengadaan infrsatruktur ini sebagai prioritas utama tanpa analisis yang
lebih dalam pada suatu wilayah. Hal ini penulis terkadang jumpai dalam program PNPM
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 23

(program nasional pemberdayaan masyarakat) yang isinya terkadang semuanya adalah
proyek infrastruktur atau proyek pisik tanpa memperhatikan sisi kelembagaan masyarakat.

f. Bantuan permodalan melalui lembaga keuangan lokal tanpa pendampingan dan
pemandirian kelembagaan
Program yang paling sering muncul ditengah masyarakat jika ditawari bantuan adalah
permohonan akan bantuan permodalan dan atau mengaktifkan lembaga keuangan lokal
seperti koperasi untuk membantu siklus permodalan kalangan petani.
Menarik mencermati apa yang dilakukan peraih nobel perdamaian Professor Muhammad
Yunus dari Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank untuk kaum miskin. Ada dua
unsur profesional yang utama pada institusi Grameen Bank yakni unsur akuntan bankir yang
profesional dan unsur fasilitasi kepada kaum miskin yang konsisten.
Mari kita lihat banyaknya kasus kredit macet dari bantuan sosial dan atau program sosial
baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang difasilitasi oleh lembaga donor. Hal ini
terjadi karena fasilitasi lembaga keuangan mikro skala lokal tidak mempertimbangkan kedua
unsur seperti yang dimiliki oleh Grameen Bank. Terkadang unsur fasilitasi sudah kuat,
namun tidak memiliki jasa akuntan yang profesional, begitupun sebaliknya.

g. Kelembagaan kuat jika telah ada struktur dan aturan
Terkadang jika masyarakat ditanya apakah kelembagaan lokal bapak/ibu sudah kuat?
Apa penandanya?, mereka akan menjawab bahwa kelembagaan mereka kuat karena sudah
ada struktur dan aturan yang tertulis yang tersimpan.
Jika kita melihat dokumen proyek yang ditempatkan di desa, banyak diantara dokumen
tersebut mengamanahkan pembentukan dan atau pembinaan kelembagaan. Tapi
pertanyaannya kenapa kelembagaan lokal di desa malah semakin tidak mandiri?, Jika semua
intansi pemerintah diamanahkan untuk membentuk kelompok, maka kita dapat menyisakan
ada banyak sekali kelompok tani di desa. Ada kelompok tani hutan, ada kelompok tani
ternak, ada kelompok tani pengelola kredit, ada kelompok tani pengelola air, ada kelompok
tani kakao, dll. Tak jarang kelompok-kelompok tersebut beranggotakan yang sama dan
terkadang tumpang tindih, dan memiliki benturan kepentingan. Akhirnya tak jarang
kelompok tani akhirnya hanya menjadi lembaga semu dan menjadi penghias administratif
dari sebuah proyek. Hal ini tidak hanya dilakukan pemerintah, lembaga non pemerintah pun
terkadang melakukannya.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 24

h. Pemerintah meragukan dampak ekonomi KM
Suatu waktu, Menteri Kehutanan ingin mengevaluasi HKm dan HD di seluruh Indonesia,
bagaimana perkembangannya pasca pemberian izin, apakah memiliki dampak ekonomi
secara langsung kepada masyarakat atau tidak. Kepada seluruh pegang ijin HKm dan HD
ditanyakan, apa manfaat ekonominya? Berapa uang yang telah didapatkan?.
Melihat dampak ekonomi pasca pemberian hak kelola “secara formal”, harus dihitung
secara menyeluruh. Deskalasi konflik yang menurun, dimulainya proses komunikasi
kelembagaan lokal dalam pengelolaan adalah dampak sosial yang sangat bermanfaat dan
mesti divaluasi (dinilai secara ekonomi) jika memang harus dihitung dampak ekonominya,
bukan hanya dampak financial dan atau konstribusi pendapatan semata. Memberikan
tambahan pendapatan bagi masyarakat lokal sebesar 10% saja akibat hak kelola KM
merupakan dampak ekonomi awal yang luar biasa jika itu mampu dicapai. Para pihak mesti
tidak terburu-buru dalam mengevaluasi perkembangan pasca ijin formal tersebut.

i. Elit masyarakatlah yang diuntungkan dengan KM
Kolusi di antara pemimpin masyarakat untuk mendapatkan keuntungan sering dijadikan
argumentasi untuk menilai kegagalan pemberian hak formal kelola sumberdaya hutan kepada
masyarakat lokal oleh para pihak. Proses pemusatan kekuasaan dan penumpukkan aset di
tangan segelintir orang adalah sangat memungkinkan terjadi jika proses fasilitasi
pembentukan KM mengalami cacat proses, terburu-buru dan hanya melibatkan sebgaian
kaum elit lokal saja.
Menciptakan mekanisme kelembagaan lokal yang adil mesti digali dari kearifan lokal
masing-masing komunitas. Hasil pembelajaran pembangunan KM di Sulawesi Selatan,
memang ditemukan bahwa dalam diskusi dengan masyarakat sebagain elit lokal terkadang
mendominasi perdebatan, dan terkadang kelompok masyarakat lainnya seperti kaum
perempuan terkadang pasif. Sehingga jika proses ini dilanjutkan tanpa melakukan intervensi
proses yang lebih adil kepada semua golongan memang dapat menguntungkan sebagaian elit
lokal saja. Walaupun demikian kalangan pemimpin lokal biasanya memperjuangkan hak-hak
kalangan marjinal juga, namun dalam ruang diskusi perlu melihat lebih jernih aspirasi mereka
bukan hanya terkait kebenaran suatu issu, tetapi dampak partisipasi masyarakat akan
terganggu jika dibiarkan.
Beberapa jalan keluar bagi masalah tersebut yang terinspirasi dari kebijakan pemerintah
bisa jadi bukanlah hal mudah khususnya ketika ada suatu keinginan kuat untuk tidak
melakukan campur-tangan terhadap urusan-urusan internal masyarakat. Mekanisme
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 25

penyelesaian konflik dapat dibuat atau dipromosikan tetapi umumnya masyarakat harus
mengambil keputusan secara demokratis bagaimana cara untuk menangani konflik-konflik
yang dihadapi. Program untuk meningkatkan transparansi proses pengambilan keputusan dan
menginformasikan kepada masyarakat tentang hak-hak mereka serta konsekuensi dari
keputusan-keputusan tersebut akan membantu upaya mempromosikan tata pemerintahan
masyarakat yang lebih baik.
IV. Benang Kusut Konflik : Dari Kebijakan Hingga Implementasi

Mari kita
negosiasikan
Kami hanya mengelola Kami hanya
menengakkan kebutuhan kita
lahan dari orangtua
aturan pak, masing-masing….
dan leluhur kami..,
kami akan jaga… bapak harus
kami proses…
sampai mati…

Gambar 6. Ilustrasi Konflik Tenurial Sektor Kehutanan

Ada banyak fakor yang menyebabkan konflik pengelolaan hutan, namun penulis hanya
akan memaparkan beberapa penyebab substantial terjadinya konflik. Pengelolaan konflik
sendiri akan menjadi tema khusus pada bab tertentu di Buku ini.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 26

1. Kebijakan yang dipaksakan tanpa partisipasi lokal
Sebagaimana bahasan sebelumnya bahwa kesalahan berpikir juga terjadi pada proses
pengambilan kebijakan di sektor kehutanan. Paling tidak proses tersebut terjebak pada
kesalahan overgeneralisasi. Seringkali pemerintah menetapkan sebuah kebijakan dengan
asumsi sampel wilayah sama dengan selurug wilayah di Indonesia, sementara entitas lokal
begitu beragam dan sangat kaya akan perbedaan. Perbendaan-perbedaan tersebut penting
untuk digali sebelum kebijakan ditetapkan. Seringkali kebijalkan dikeluarkan dengan kesan
uji coba, sementara dampak kebijakan yang dikeluarkan sangat merugikan publik.
Perbedaan-perbedaan entitas tadi semestinya harus dikonsultasikan kepada pengguna
kebijakan atau objek kebijakan tersebut. Partisipasi masyarakat lokal dalam proses
pengambilan keputusan harus dimaksimalkan. Di negara Republik Indonesia sebagai bangsa
yang demokratis semestinya institusi-institusi perwakilan rakyat mesti berperan dalam
menjaring partisipasi lokal ini, namun kenyataannya lembaga perwakilan dari yang paling
terkecil seperti BPD, DPRD dan DPR seringkali kehilangan kepercayaan publik dalam
menyuarakan aspirasi substantial mereka, khususnya dalam bidang pengelolaan hutan.
Tidak jarang lembaga-lembaga masyarakat sipil seperti LSM menjadi sasaran alternatif
dan bahkan yang utama dalam menyuarakan kepentingan masyarakat lokal dalam
pengelolaan hutan. Isu-isu substantial yang disuarakan seringkali terbentur dalam kepenti
ngan politik, sehingga ketika disuarakan melalui lembaga formal mendapatkan hambatan.
Persoalan komunikasi dan koordinasi pemerintahan di level kabupaten/kota juga menjadi
salah satu hambatan utama dalam mendukung program dan atau kegiatan kehutanan
masyaraka

2. Konflik Kebijakan
Konflik pengelolaan hutan juga terjadi karena ada persoalan inkonsistensi dan
pertentangan kebijakan dalam hirarki perundang-undangan, seringsekali dalam satu objek
urusan Undang-Undang yang berlaku terkadang tumpang tindih.
Sering juga kran partisipasi masyarakat dalam mengelola hutan telah dibuka, namun
pemerintah dilevel impelemntasi masih membutuhkan peraturan penjelas, karena ketakutan
akan melanggar aturan. Sebagai contoh pada Peraturan Menteri Kehutanan
Nomor: P.56/Menhut-II/2006 Tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional.
Dalam kebijakan ini telah memuat konsep sona khusus dan zona pemanfaatan
tradisional dalam kawasan Taman Nasional, namun dilevel manajemen pengelola Taman
seringkali kebingungan dalam mengimplemntasikan zona tersebut. Bukan pada meletakkan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 27

zona tradisonal tersebut, tetapi mereka membutuhkan aturan yang lebih detail lagi tentang
prekspripsi pengelolaan atau detail aktifitas masyarakat didalam zona tersebut. Belum lagi
kawasan konservasi bukan hanya dipayungi oleh Undang Undang Kehutanan (UU No.
41/1999) tetapi juga Undang-Undang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya (UU No. 5/1990) serta Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU
No. 23/1997). Sering sekali dalam mengimplementasikannya ditemukan benturan-benturan
dilevel Undang-Undang tersebut, terlepas dari ragam penafsirannya

UU bilangnya tidak boleh nebang kayu ….
Kata Peraturan Menteri boleh saja yang penting
permisi dulu…., Kata Bupati tidak boleh..
Kata ketua adat kami boleh saja……

Gambar 7. Ilustrasi kebingunan masyarakat terhadap ragam kebijakan

3. Kebijakan Kelola Adat : Antara Mandat Konstitusi, Ambiguitas Undang-Undang dan
Ragam Kepentingan
Pada berita resmi Mahkamah Konstitusi tahun 2012 dikabarkan bahwa Aliansi
Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengajukan gugatan untuk menguji UU No. 41 tahun
1999 tentang Kehutanan, khususnya Pasal 1 angka (6), Pasal 4 ayat (3), dan Pasal 5 ayat (1),
(2), dan (3) terhadap UUD 1945. Menurut AMAN bahwa Ketentuan UU Kehutanan No.
41/1999, khususnya Pasal 1 angka (6), menurut para Pemohon, Inkonstitusional sepanjang
tidak dibaca “hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.”
Dan Pasal 4 ayat (3), Inkonstitusional sepanjang tidak dibaca “penguasaan hutan oleh negara
tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada. Dan,
Pasal terakhir adalah Pasal 5 ayat (1), (2), dan (3), menurut para Pemohon, Inkonstitusional
sepanjang tidak dibaca ayat (1) “Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari: a. hutan negara,
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 28

dan b. hutan hak, dan hutan adat. Ayat (2) Hutan negara sebagaimana dimaksud pada ayat
(1).”
Menurut AMAN dalam pelaksanaannya UU Kehutanan ini telah digunakan untuk
menggusur dan mengusir kesatuan masyarakat hukum adat dari kawasan hutan adat mereka,
yang merupakan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka,”
Seringkali kebijakan memiliki ambiguitas, antara filosofi kebijakan dan keadaan
sosiologis dilapangan, hingga implementasi yang bertentangan dengan substansi konstitusi
atau dalam hal ini mengalami ambiguitas.

4. Identifikasi yang lemah dan konsultasi yang tidak cukup dengan para pihak
Mencari akar persoalan adalah esensial dalam menyusun sebuah kebijakan, proses
pencarian masalah tersebut juga mesti melibatkan para pihak yang terkait. Kebijakan
pengelolaan hutan sangat erat kaitannya dengan banyak kepentingan, sehingga kepentingan-
kepentingan tersebut mesti dikonsultasikan.
Seperti yang diulas pada bahasan sebelumnya bahwa para pihak sering sekali terjebak
pada kesalahan berpikir keenganan untuk berkolaborasi. Kecurigaan diantara para pihak
adalah sesuatu yang wajar, karena semua pihak memiliki persepsi, posisi dan kepentingan
dan yang berbeda. Namun dalam perspektif pengelolaan konflik, berkolaborasi adalah wadah
yang sangat penting dalam mepertemukan posisi dan kepentingan tersebut. Sering sekali
dalam konsultasi pra pihak dan atau proses-proses kolaboratif ditemukan kesamaam
kebutuhan dan mencoba menginisiasi agenda-agenda bersama

5. Kekosongan tata kelola konflik
Paradigma pengelolaan hutan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama
membutuhkan dukungan tata kelola konflik yang kuat di semua level pemerintahan dan juga
lembaga masyarakat sipil lainnya. Pada tingkat pusat, konsistensi kebijakan dan infrastruktur
sangat perlu dibuka. Seringkali ruang kebijakan telah dibuka, namun tidak didukung oleh
politik anggaran dan mobilisasi sumberdaya. Dari sini juga, sering terjadi konflikt.
Instiusi pemerintahan sering terjebak pada keenganan merespon konflik yang terjadi
secara cepat karena isu struktural dan menghindari kesalahan mandate institusi. Sehingga
banyak kesan yang muncul bahwa seringkali peran fasilitator konflik “diambil alih” oleh
LSM (lembaga swadaya masyarakat).
Dekade terakhir telah melihat minat yang tumbuh dalam peran pemerintahan dalam
mendorong tata kelola konflik. Organisasi sektor swasta semakin banyak terlibat dalam
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 29

menangani konflik, baik yang terkait langsung dengan kepentingannya ataupun bagian dari
kegiatan sosial mereka.
Masyarakat lokal juga memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam tata kelola
konflik ini, namun seringkali kehilangan arah dan terkadang menyuarakan kepentingannya
secara demonstratif.

PENUTUP

I. Penugasan

a. Analisis kondisi pengelolaan hutan di daerah anda masing-masing !
b. Dari hasil analisis diatas, temukan akar masalah serta pihak-pihak yang terlibat dan yang
saling mempengaruhi?
c. Sebutkan hubungan kesalahan berpikir dengan pengentasan kemiskinan dan pengelolaan
sumberdaya hutan?
Tugas untuk bab selanjutnya :
Dosen membagikan handout tentang filosofi, konsepsi dan varian kehutanan
masyarakat untuk dibaca dirumah, dosen meminta mahasiswa agar membaca dan mencari
point-point penting dalam proses pembelajaran

II. Strategi merespon penugasan

Mahasiswa mencari kasus-kasus atau fakta-fakta pengelolaan hutan secara umum yang
ditemukan dalam berbagai lapran penelitian, laporan pendampingan.

DAFTAR PUSTAKA

Awang S. Afri, 2011. Hutan Desa Realitas Tidak Terbantahkan Sebagai Alternatif
Model Pengelolaan Hutan di Indonesia. http://sanafriawang.staff.ugm.ac.id/hutan-
desa-realitas-tidak-terbantahkan-sebagai-alternatif-model-pengelolaan-hutan-di-
indonesia.html, akses 2 November 2011
Badan Pusat Statistik. 2003

Dassir. M. 2007. Dinamika Tenur Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya Pada
Sub Das Minraleng Hulu Kabupaten Maros. Jurnal Hutan dan Masyarakat Volume
II. No. 1 (Mei) 2007. Halaman 151-167
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 30

Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (2010). Buku Saku FKKM. Bogor
Hasanuddin, 2011. Model Pengelolaan Hutan Kemitraan pada Areal Taman Nasional
Bantimurung Bulusaraung (Studi Kasus di Desa Labuaja Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros). Thesis. Pascasarjana Universitas Hasanuddin
Mahbub. A.S., 2007. Penyuluhan Kehutanan Partisipatif. Jurnal Hutan dan Masyarakat,
Vol. II. No. 3 (Desember): Halaman 313-318

Mahkamah Konstitusi, 2012. MK Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Gugat UU
Kehutanan.http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=website.BeritaInt
ernalLengkap&id=6637. Diakses tangggal 20 Maret 2012

Sahide M. Alif K, 2009. Analisis Situasi dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat
Pada Level Komunitas di Sulawesi Selatan. Jurnal Hutan dan Masyarakat. Vol. IV.
No. Tahun 2009. Hal 62-68. Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan
Universitas Hasanuddin.
Sahide M. Alif K, 2011. Kehutanan Masyarakat Pengalaman dari Lapangan, Mengatasi
Masalah Global lewat Tradisi Masyarakat Lokal. Diterbitkan oleh FKKM (Forum
Komunikasi Kehutanan Masyarakat). ISBN 978-602-19799-0-7. Hal 155-163
Supratman dan Oka Ngakan Putu. 2009. Model Pengelolaan Zona Khusus Taman
Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan: Dengan Referensi
Khusus di Desa Labuaja. Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin Makassar
(Tidak dipublikasikan)
Stephen Peter dan Triraganon Ronnakorn (2006). Strengthening Voices for Better Choices:
Enhancing Forest Governance in Six Key Tropical Forest Countries in Asia,
Africa and South America. IUCN EU Funded Project. RECOFTC. Bangkok
Rakhmat Jalaluddin. 1999. Rekayasa Sosial - Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar?.
Rosdakarya
Rositah Erna. 2005. Kemiskinan Masyarakat Desa Sekitar Hutan dan
Penanggulangannya Studi Kasus di Kabupaten Malinau. Governance Brief.
Agustus 2005 No. 14. CIFOR, Bogor.
http://www.cifor.org/publications/pdf_files/govbrief/GovBrief0602.pdf akses
tanggal 5 Maret 2012
Yuliani LY , Tadjuddin D. 2006. Memfasilitasi sebuah Perubahan. dalam Kehutanan
Multipihak Langkah Menuju Perubahan. CIFOR.Hlm 1-8.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 31

BAB II. FILOSOFI, KONSEPSI DAN VARIAN KEHUTANAN MASYARAKAT

PENDAHULUAN

I. Tujuan Instruksional
1. Mampu menjelaskan filosofi, konsepsi dan varian kehutanan masyarakat
2. Memahami prinsip-prinsip kunci dalam sistem pengelolaan hutan berbasis masyarakat

II. Proses pembelajaran

Pada pembelajaran ini akan dipakai metode Small Group Discussion dengan fokus
pada kelompok-kelompok kecil mahasiswa yang akan fokus mendiskusikan realitas
pengelolaan hutan di Indonesia untuk diabstraksi pada konsep kehutanan masyarakat sebagai
salah satu pendekatan
Tahap pertama;
a. dosen mengulas ulang secara singkat materi sebelumnya terkait realitas pengelolaan
sumberdaya hutan di Indonesia dan di level provinsi dan lokal dengan melemparkan
beberapa pertanyaan kunci kepada mahasiswa
Tahap kedua;
a. dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan issu-issu
utama dalam analisis situasi persoalan kehutanan, antara lain (sebagai contoh) ;
perambahan liar, degradasi hutan dan lahan, kekosongan pelayanan publik kehutanan
(pengurusan dan pengelolaan hutan) di tingkat tapak, otonomi daerah di sektor kehutanan,
kemiskinan masyarakat didalam dan sekitar kawasan hutan, konflik antara masyarakat
dan pemangku kawasan hutan, dll (kegiatan ini dapat dilakukan selama 2 menit)
b. dosen mengarahkan kelompok-kelompok mahasiswa agar mampu ;
- mencari persoalan substantif dari rangkaian masalah tersebut (mengeksplorasi akar
permasalahan)
- mengeksplorasi posisi masyarakat dalam alternatif pengelolaan sumberdaya hutan
berdasarkan masalah-masalah tersebut
Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok dan dilakukan selama 40-60
menit dengan sebelumnya membagikan handout tentang filosofi, konsepsi dan varian
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 32

kehutanan masyarakat sebagai bahan diskusi. Dosen mencatat semua aktifitas diskusi dan
mengevaluasi kaktifan mahasiswa.
Tahap ketiga;
a. dosen memberikan evaluasi terhadap hasil diskusi kelompok dan menghubungkannya
dengan teori filosofi, konsepsi dan varian kehutanan masyarakat seperti yang termaktub
dalam hand out yang telah dibagikan,
b. dosen memberikan tes kuis

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Sejarah konsepsi KM

Fakta keras yang dapat dengan mudah kita temui bahwa, pengelolaan hutan oleh
masyarakat di beberapa tempat masih cukup eksis dan memberikan konstribusi bagi sosial-
budaya, ekonomi dan ekologi. Kisah sukses masyarakat mengelola hutan ini telah banyak
didokumentasikan oleh banyak pihak baik akademisi maupun LSM yang sangat peduli pada
bidang ini. Beberapa bentuk pengelolaan hutan berbasis pengelolaan dan pengetahuan
masyarakat seperti hutan kemiri rakyat, hutan adat kajang, rimbo puako, hompongan dan
lain-lain menunjukkan adanya konflik pengelolaan hutan dengan negara dan perusahaan-
perusahaan.
Dalam bab sebelumnya telah kita bahas adanya mitos atau kesalahan berpikir yang
tidak mempercayai hak kelola rakyat. Dan telah kita bahsa pula kontra argumentasi bahwa
jika ruang dan akses bagi masyarakat diberikan terhadap pengelolaan sumberdaya hutan
mereka, maka masyarakat dengan sistem alami dan kohesi sosialnya akan bergerak
mengelola dan mempertahankan hutan secara arif dan bijaksana.
Pada sekitar dasa warsa 70-an hingga 80-an gagasan-gagasan kehutanan yang lebih
menfokuskan diri pada aspek sosial. pertama sekali muncul pada kongres Kehutanan se-dunia
di Jakarta Tahun 1978 dengan thema” forest for people”. Kegiatan ini menjadi momentum
bagi para pihak yang hadir pada kongres itu, dan kemudian menyebar kemana-mana.
Selanjutnya kongres kehutanan masih mengangkat tema sosial: “Forest for Socio-Economic
Development” (Buenos Aires, 1972) dan “Forest for People” (Jakarta, 1978). Berdasarkan
catatan Westoby Sejak saat itu, berbagai fakultas kehutanan mulai menyelenggarakan kursus
dan pelatihan yang terkait dengan isu-isu sosial. Santoso (2011) lebih lanjut menambahkan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 33

bahwa ragam istilah bermunculan kemudian seperti community forestry, social forestry, farm
forestry, forestry for community development, village forestry, community based forest
management, dan lain sebaginya, yang semuanya menyampaikan satu pesan: bangkitnya
kesadaran dalam penyelenggaraan kehutanan (Santoso, 2011).
Tabel 5. Ragam Peristilahan KM

Peristilahan KM Pemerintah Masyarakat Bisnis/Industri
Pengelolaan Hutan Perhutani
Bersama
Masyarakat
Pembinaan Desa HPH
Hutan
Pengelolaan Balai Taman
Kolaboratif dan Nasional (Pengelola
Pengelolaan Kawasan Konservasi)
berbasis zonasi
Tembawang Kalimantan,
Mukim Aceh
Parak Sumbar
Repong Lampung
Tombak Sumut
Alas Jawa
Rimbo Puako Jambi, Riau
Hutan Kemenhut, Dirjen
Kemasyarakatan Perhutanan Sosial
Hutan Desa Kemenhut, Dirjen
Perhutanan Sosial
Hutan Kemitraan Kemenhut, Dirjen
Perhutanan Sosial
Hutan Tanaman Kemenhut, Dirjen
Rakyat Produksi Hutan
Perhutanan Sosial Kemenhut, Dirjen
Perhutanan Sosial

Konsepsi KM dalam aspek defenisi memiliki perbedaan, dan juga banyak kesamaan-
kesamaan. Keragaman tersebut bukan hanya diataran perbedaan posisi dan kepentingan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 34

seperti kalangan akademis, swasta dan masyarakat sipil, tetapi juga dikalangan sesama
akademisi, atau kalangan sesama penggiatpun memiliki perbedaan-perbedaan. Paling tidak
ada tiga peristilahan kategori berdasarkan sumbernya yakni istilah dari pemerintah, dari
masyarakat dan dari pengusaha.
Banyak hasil laporan penelitian mengungkapkan kisah sukses masyarakat lokal dalam
mengelola hutan, dan atau pengelolaan hutan yang lestari telah menjadi adat istiadat pada
suatu lokasi. Namun konsep pengelolaan tradisional tersebut tidak menjadi konsep utama
dalam pembangunan kehutanan dan cenderung terabaikan.
Sejak alur reformasi menguat pada tahun 1998, maka memperkenalkan gagasan
bahwa masyarakat lokal sebagai subjek utama dalam pengelolaan hutan mendapatkan
momentum yang cukup baik. Lembaga masyarakat sipil terutama LSM telah memulai
banyak beraktifitas di issu ini, kalangan akademisi juga telah banyak bertransformasi dalam
melakukan penelitian dan pendidikan terkait tema Kehutanan Masyarakat. Praktek KM di
kawasan hutan di pulau Jawa yang dikelola oleh Perum Perhutani dinamakan Pengelolaan
Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Program PHBM tersebut telah diterapkan di Perhutani
sejak tahun 2001.
Tergerus oleh zamankah kelembagaan lokal mengelola hutan sehingga mereka tak
berdaya? Sering sekali kearifan lokal masyarakat mengelola hutan dianggap sebagai mitos,
dalam sudut pandang agama-agama bahkan terkadang dianggap menyimpang atau dengan
penamaan “bid‟ah”. Kearifan lokal memang belum dapat disebit menjadi pengetahuan jika
belum dikaji dan didalam secara ilmu pengetahuan modern, namun beberapa kajian mutakhir,
kearifan lokal banyak memiliki relevansi pengetahuan yang sangat valid
Dikalangan akademisi sendiri juga terkadang memiliki perbedaan dalam
memunculkan peristilahan, namun pada dasarnya memiliki substansi yang sama. Pengelolaan
hutan berbasis masyarakat, social forestry, atau kehutanan masyarakat. Menurut Efendi
(2010) bahwa Social Forestry adalah sistem pengelolaan sumberdaya hutan pada kawasan
hutan negara dan atau hutan hak, yang memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat
sebagai pelaku dan atau mitra utama dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya dan
mewujudkan kelestarian hutan. Pemerintah memperkenalkan secara luas melalui kebijakan
Permenhut No. 37/2007 dengan mengambil defenisi HKm (Hutan Kemasyarakatan) adalah
hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat
setempat. Fakultas Kehutanan UNHAS yang waktu itu masih Jurusan Kehutanan juga
menamakan mata kuliahnya dengan Hutan Kemasayarakatan, setelah mengalami perubahan
kurikulum, mata kuliah tersebut diganti dengan Kehutanan Masyarakat, untuk memperluas
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 35

spektrum dan jangkauan sistem-sistem pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang
dikandung didalamnya.

II. Kehutanan Masyarakat : Proyek, Metode atau Paradigma

Kehutanan masyarakat memiliki ragam perspektif atau pemaknaan terhadap defenisi
dan konsep kehutanan masyarakat. Awang, 2002 mengungkapkan bahwa kehutanan
masyarakat atau community forestry (CF) pada praktek-praktek pengelolaan hutan atau
pohon-pohon, dimana perencanaan dan pelaksanaan dilakukan bekerjasama dengan anggota
masyarakat desa baik pada lahan komunal atau lahan negara yang dialokasikan untuk
kegiatan yang berkaitan dengan hutan dan kehutanan. Santoso (2011) mengemukakan bahwa
ada tiga perspektif dalam memandang kehutanan masyarakat

1. Kehutanan masyarakat sebagai proyek
Santoso (2011) mengungkapkan bahwa justru proses kelahiran gagasan kehutanan
masyarakat berorientasi pada proyek, sebagaimana yang kita ketahui bersama, umur
kehutanan masyarakat - sebenarnya ada banyak istilah untuk gagasan yang serupa, taruhlah
seperti people center forestry, social forestry, farm forestry, dan lain sebagainya - belumlah
terlalu matang. Gagasan ini baru muncul ke permukaan pada dasa warsa 70 an, bersamaan
dengan merebaknya krisis energi, termasuk di dalamnya krisis kayu bakar. Kalangan
pemerhati kehutanan, salah satunya Jack Westoby, kemudian mencoba mengembangkan
berbagai macam proyek, yang pada awalnya hanya sebatas menjawab kebutuhan kayu bakar
masyarakat di sekitar hutan. Dalam perkembangannya, gagasan ini memang meluas, paling
tidak isunya bukan sekedar kayu bakar, akan tetapi juga penghasilan dan kebutuhan kayu
pertukangan, disamping tentu saja kelestarian sumber daya hutan. Maka dikembangkanlah
berbagi proyek kehutanan masyarakat di berbagai tempat, dengan berbagai model, dan
berbagai motif dan tujuan - salah satunya adalah JFM (Joint Forest Management) di India
dan CF (Community Foretsry) di Nepal.
Pada tahun 1986 mulai dibangun pilot proyek Pembangunan Hutan Kemasyarakatan
yang melibatkan masyarakat sebagai tenaga kerja. Pelaksanaan pilot proyek ini didukung
oleh Keputusan Menteri Kehutanan nomor 1031/Menhut/1994 dan Keputusan Menteri
Kehutanan nomor 372/Kpts-II/1996 yang menempatkan Badan Usaha Milik Negara sebagai
pelaksana kegiatan rehabilitasi lahan, sedangkan masyarakat hanya sebagai tenaga kerja yang
diupah.. Partisipasi mereka dalam pilot proyek pembangunan hutan kemasyarakatan antara
tahun 1986 sampai dengan tahun 1997.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 36

Berdasarkan pengalaman ini Menteri Kehutanan menerbitkan Keputusan Menteri
Kehutanan nomor 622/Kpts-II/1995 tentang Pedoman Hutan Kemasyarakatan dimana
masyarakat diberi akses berupa izin untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu.
Operasionalisasi keputusan Menteri Kehutanan ini dilengkapi dengan: Keputusan Direktur
Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan nomor 95/Kpts/II/1997 tentang Tata Cara
Permohonan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu pada areal hutan kemasyarakatan,
Keputusan Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan nomor 96/Kpts-/V/1997
tentang tata cara penetapan kawasan hutan untuk areal hutan kemasyarakatan, Keputusan
Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Hutan nomor 97/Kpts/IV/1997 tentang
penunjukan peserta, pemberian izin dan pembuatan perjanjian pengusahaan hutan
kemasyarakatan, Keputusan Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan nomor
98/Kpts/V/1997 tentang petunjuk teknis pemilihan jenis tanaman serbaguna dan pola tanam
dalam hutan kemasyarakatan.
Awang (2002) mengungkapkan bahwa biasanya tujuan proyek KM adalah untuk
memberikan manfaat kepada anggota masyarakat yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi
lahan, konservasi lahan dan kegiatan yang berkaitan dengan hutan lainnya
Tapi bagaimanapun, bukan berarti kehutanan masyarakat tidak kita perlukan. Karena
memang tak selamanya proyek adalah kotor dan nista. Sejauh itu dikelola dengan baik dan
transparan, proyek juga bisa memiliki nilai guna yang tinggi. Kehutanan masyarakat tak akan
banyak memiliki arti kalau kinerja proyeknya amburadul

2. Kehutanan masyarakat sebagai metode
Sebagian penggiat kehutanan masyarakat memiliki pahaman bahwa salah tafsir baru
kehutanan masyarakat bahwa khutanan masyarakat hanyalah sekedar alat, atau paling jauh
metode. Kehutanan masyarakat adalah piranti yang kira-kira fungsinya tidak berbeda jauh
dengan pisau cukur. Sehingga dapat dikatakan bahwa kehutanan masyarakat adalah metode
yang bisa saja salah. Sebagai sebuah alat atau metode, kehutanan masyarakat tentu akan
mengalami tambal sulam, pembaruan, ketinggalan jaman, untuk tidak mengatakan usang, dan
berbagai sifat keterbatasan lainnya - sesuatu yang tidak pernah akan terjadi pada ideologi
(Santoso, 2011).

3. Kehutanan masyarakat sebagai paradigma pengelolaan
Kebijakan ini tidak begitu dianggap membawa perubahan karena posisi masyarakat
masih sebatas peserta program atau proyek. Pada era reformasi yang dimulai tahun 1997
kebijakan kehutanan diarahkan kepada pengembangan ekonomi rakyat. Tanggapan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 37

Pemerintah cq Departemen Kehutanan atas tuntutan reformasi ditandai dengan munculnya
sejumlah kebijakan dan pergeseran paradigma pengelolaan hutan yaitu : Dari timber
management menuju pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya
kehutanan dan berbasis masyarakat.
Beberapa penggiat kehutanan masyarakat mengatakan bahwa kehutanan masyarakat
adalah sebuah sistem kehutanan yang sama sekali berbeda dengan sistem kehutanan yang
selama ini dikenal: kehutanan industri. Kehutanan masyarakat sangat memperhatikan aspek-
aspek lokal daripada isu-isu industri.
Bukan hanya sekedar paradigma praktis tetapi beberapa penggiat kehutanan masyarakat
juga berpedapat bahwa KM adalah sebuah paradigm ideologis. KM harus dikerangkakan
pada tingkatan yang paling tinggi dalam urut-urutan sistem nilai kehutanan. Menurut
pendapat ini selayaknya kehutanan masyarakat adalah sebuah nilai yang akan membingkai
seluruh aturan-aturan yang ada di dalamnya. Dengan demikian kehutanan masyarakat tidak
hanya sekedar menyangkut rehabilitasi lahan dan sistem pembuatan tanaman. Kehutanan
masyarakat juga tidak sekedar menyangkut isu-isu konservasi lahan dan keanekaragaman
hayati. Kehutanan masyarakat juga tidak hanya menyangkut hal-hal yang terkait dengan
perencanaan, pengamanan, pemanenan, dan pemasaran. Kehutanan masyarakat akan
menyangkut seluruh aspek kehutanan yang ada. Kehutanan masyarakat adalah sebuah nilai
yang sudah dengan sendirinya melekat dengan sistem kehutanan.
KM sebagai gerakan paradigmatik telah melahirkan beberapa kekuatan masyarakat sipil
yang konsisten mengusung nilai ini. Seperti FKKM (forum komunikasi kehutanan
masyarakat) merupakan lembaga multipihak yang mendorong semua kalangan yang terkait
baik pengusaha, pemerintah, masyarakat lokal, akedemisi dan LSM mengakselerasi
pengembangan sistem hutan berbasis masyasrakat sesuai dengan kewenangan dan peran
merka masing-masing

III. Prinsip-prinsip kehutanan masyarakat dan ideologi Pancasila

Beberapa penggiat kehutanan masyarakat baik secara individual maupun
kelompok/lembaga paling tidak menempatkan beberapa prinsip dasar dalam dunia kehutanan
masyarakat antara lain;
a. Kesetaraan
b. Kebersamaan
c. Partispasi dan pemberdayaan masyarakat lokal
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 38

d. Transparansi/keterbukaan
e. Kepelbagaian/pluralisme
f. Membangun kepercayaan (trust-building)
g. Saling menghargai
h. Kesetaraan gender
Prinsip-prinsip diatas dibangun dari teori filsafat etika semata, tetapi berdasarkan
realitas, dan konsensus-konsensus para pihak praktisi dalam mendorong system pengelolaan
hutan berbasis masyarakat. Sehingga walaupun prinsip ini sangat universal namun dalam
perkembangannya masih terbuka akan banyak perubahan dan dinamika-dimanika di masa
yang akan datang. Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia sebenarnya
sangat mendukung prinsip-prinsip KM ini, sehingga ketika KM dihubungkan dengan
semangat nasionalisme secara hakikat sangat bisa dipertemukan karena bersesuaian.
Perjuangan hak masyarakat adat dalam menuntut hak pengelolaan sumberdaya dan
menegakkan aturan adat mereka seringkali disalah tafsirkan sebagai anti nasionalisme karena
ingin mengganti sistem legal hukum nasional.
Secara khusus penulis hanya akan mencoba mencermati dua prinsip yakni prinsip
kepelbagaian/pluralisme dan prinsip kesetaraan gender. Karena kedua prinsip ini tidak jarang
disalah pahami dan terkadang memandangnya dari sisi etis pengamat. Bukan berarti prinsip
yang lain tidak penting, namun prinsip lainnya telah banyak dikemukakan oleh beragam buku
teks terkait teta tersebut.
1. Prinsip Kepelbagaian/pluralisme
Berikut adalah, contoh desa hutan yang syarat mengandung nilai-nilai kepelbagaian
dalam hubungan mereka dengan sumberdaya alam dan interaksi sosial mereka.

Kotak 3. Prinsip Kepelbagaian dalam KM
Prisip kepelbagaian dapat dilihat pada sistem kelembagaan adat Pammona masih diakui
dan dipertahankan secara sosial dalam tata kehidupan masyarakat baik oleh masyarakat
Pammona maupun masyarakat pendatang. Kerukunan antar umat beragama adalah salah
satu contoh bagaimana kelembagaan adat berperan dalam mempertahankan hubungan
kekeluargaan baik sesama penduduk asli maupun pendatang. Ketika terjadi konflik
bernuansa SARA di Poso, masyarakat desa ini mampu menjadi benteng penyangga agar
eskalasi konflik tidak meluas ke Sulawesi Selatan. Masyarakat Desa Kasintuwu
menempatkan kelembagaan adat sebagai institusi uatama dalam mengatur kehidupan
sosial mereka, seperti pernikahan, perselishian dan lain-lain.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 39

Penduduk asli Desa Kasintuwu adalah suku Pammona. Mereka tersebar di seluruh
wilayah desa, tetapi paling banyak berdomisili di Dusun Sampuraga dan Dusun Tawi Baru.
Masyarakat suku Pammona terbuka menerima pendatangdi desa ini. Hal ini dapat dilihat dari
sebagian penduduk desa ini adalah masyarakat pendatang dari suku Toraja dan Bugis dan
Makassar. Hal ini menyebabkan penduduk desa ini sangat plural, bukan hanya dari segi suku
tetapi juga agama dan kepercayaan. Mayoritas suku Pamona dan masyarakat pendatang dari
suku Toraja beragama Kristen, sedangkan masyarakat suku Bugis dan Makassar mayoritas
beragama Islam.
Jumlah penduduk Desa Kasintuwu sebanyak 3.343 jiwa, terdiri atas sebanyak 1.748
jiwa penduduk laki-laki dan sebanyak 1.595 jiwa penduduk perempuan, serta terdiri atas
sebanyak 886 kepala keluarga. Jumlah penduduk usia kerja sebanyak 1.377 jiwa, maka
tibgkat ketergantung (dependency ratio) penduduk relatif rendah yakni sebesar 1,4. Hal ini
berarti bahwa setiap satu orang penduduk usia kerja menanggung sebanyak rata-rata 2 orang
penduduk di luar usia kerja.
Aktifitas masyarakat adat suku Pammona di dalam kawasan hutan pada mulanya lebih
banyak berupa aktifitas memungut hasil hutan kayu dan bukan kayu. Namun demikian,
kehadiran suku Toraja dan Bugis-Makassar di desa ini telah merubah aktivitas masyarakat
adat Pammona yaitu mereka mulai mempraktekkan sistem pertanian yang intensif seperti
berkebun kakao dan tidak lagi berladang berpindah-pindahdi dalam kawasan hutan.
Masyarakat pendatang yang akan memanfatkan lahan di dalam kawasan hutan menghubungi
tokoh adat untuk minta izin menggarap lahan. Tokoh adat menyampaikan aturan-aturan adat
dalam mengelola lahan dan meminta biaya pemanfaatan lahan kepada masyarakat pendatang.
Besarnya biaya pemanfaatan lahan bervariasi bergantung luas lahan dan posisi lokasi. Dari
hasil wawancara dengan responden belum terlihat adanya sitem bagi hasil dan sistem
pembagian pengelolaan lahan yang terbangun antara pemerintah setempat/pemangku adat
atau lembaga lokal yang terkait ketika mereka telah mengelola lahan. Hasil pertanian dan
perkebunan mereka sepenuhnya menjadi milik petani pengelola lahan.

2. Prinsip Kesetaraan Gender
Prinsip kesetaraan gender dalam KM ini sering disalah tafsirkan sebagai pemberian
peran perempuan semata. Ketika sebuah organisasi ditanyakan tentang prinsip ini, terkadang
jawaban secara langsung yang kita dapatkan adalah tentang komposisi jumlah perempuan
yang ada di lembaga mereka. Jawaban ini tidak salah, tetapi tidak hanya itu. Indriatmoko, dkk
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 40

(2007) mengemukakan bahwa gender adalah konsep tentang peran dan tanggung jawab
perempuan dan laki-laki yang kemudian terkonstruksi dan dikonstruksikan oleh masyarakat.
Hasil konstruksi Peran dan tanggung jawab tadi seringkali tidak adil. Fakta yang banyak
ditemukan bahwa seringkali posisi perempuan berada dalam posisi yang sulit. Perempuan
masih sering termaginalkan dalam pengelolaan kekayaan alam dan hutan, padahal kehidupan
perempuan terutama di pelosok-pelosok, sangat erat hubungannya dengan kehidupan alam.
Perempuan bahkan dapat berperan lebih efektif dalam tahapan reboisasi, diantaranya dalam
kegiatan persemaian bibit tanaman sebelum dipindah ke hutan. Oleh sebab itu, diperlukan
berbagai upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan.
Wiliam-de Vries, (2006) Dalam masyarakat tradisional-patriarkhi (yaitu masyarakat
yang selalu memposisikan laki-laki lebih tinggi kedudukan dan perannya dari perempuan)
kita dapat melihat dengan jelas adanya pemisahan yang tajam bukan hanya pada peran
Gender tetapi juga pada sifat Gender. Misalnya, laki-laki dituntut untuk bersifat pemberani
dan gagah perkasa sedangkan perempuan harus bersifat lemah lembut dan penurut. Padahal,
laki-laki maupun perempuan adalah manusia biasa, yang mempunyai sifat-sifat tertentu yang
dibawanya sejak lahir. Sifat lemah lembut, perasa, pemberani, penakut, tegas, pemalu dan
lain sebagainya, bisa ada pada diri siapapun, tidak peduli apakah dia perempuan atau laki-
laki. Sayangnya, konstruksi sosial di masyarakat merubah pandangan „netral‟ pada sifatsifat
Gender tersebut.
Lebih lanjut lagi Indriatmoko, dkk (2007) mengungkapkan pentingnya melaksanakan
analisis gender dalam pengelolaan hutan oleh masyarakat, sebagai contohnya kita dapat
mengetahui apakah perempuan dan laki-laki dapat memperoleh akses partisipasi,
pengambilan keputusan, kontrol dan manfaat pada sumberdaya alam serta pengelolaan
kekayaan alam yang sama atau tidak. Informasi ini penting baik bagi masyarakat lokal
maupun lembaga yang bekerja dalam masyarakat lokal dalam melakukan perencanaan,
penyusunan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pengelolaan kekayaan alam yang
responsif gender secara efektif.
Wiliam-de Vries, (2006) menegaskan habwa kelompok perempuan secara alami
mempunyai ikatan yang lebih kuat dibandingkan dengan kelompok laki-laki. Hal ini
disebabkan karena ketergantungan antar individu perempuan dengan perempuan lainnya
mempunyai ikatan emosional yang lebih kuat dibandingkan dengan lakilaki. Untuk itulah
kelompok perempuan biasanya lebih homogen dari kelompok laki-laki. Jumlah kelompok
perempuan yang terlibat dalam kegiatan sosial lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki,
dan karena kegiatan aksi kolektif mengelola sumberdaya alam termasuk kategori kegiatan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 41

sosial (tidak memberikan nilai ekonomi langsung secara material) maka lebih cenderung
dapat berjalan dalam kelompok perempuan. Oleh karena itu, Gender awareness merupakan
komponen yang sangat penting dalam memfasilitasi kelompok perempuan yang terlibat
dalam aksi kolektif, untuk lebih meningkatkan kapasitas kelompoknya dan kualitas individu-
individu yang tergabung di dalamnya.
Hal ini sejalan dengan yang dicontohkan oleh Professor Muhammad Yunus peraih
nobel perdamaian dari Bangladesh yang mendirikan Grameen Bank, Bank untuk kaum
miskin, dengan kelompok perempuan sebagai pelaku utama dengan pertimbangan kohesifitas
kelompok perempuan dalam menjalankan misi dan aksi bersama cebderung lebih setia dan
lebih aktif.

IV. Mengisi Kesenjangan Kebijakan
Junus, dkk (2010) mengungkapkan bahwa tidak dapat disangkal bahwa belum pernah
dalam sejarah Indonesia tersedia banyak peraturan perundang-undangan yang saling
mendukung untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat oleh
masyarakat setempat, seperti sekarang ini. Namun tidak dapat disangkal pula bahwa masih
terdapat gap atau kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai peraturan perundang-
undangan tersebut dengan kenyataan bahwa masyarakat setempat masih dinilai melakukan
aktivitas illegal dalam kawasan hutan. Peraturan perundang-undangan yang saling
mendukung untuk mewujudkan pengelolaan hutan berbasis masyarakat oleh masyarakat
setempat adalah antara lain :
 UU No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan
 PP No.44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan
 PP No.6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan
serta Pemanfaatan Hutan
 PP No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daeah Kabupaten/Kota
 Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No. P.23 / Menhut-II/2007 tentang Tata Cara
Permohonan Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Rakyat dalam
Hutan Tanaman
 Permenhut No. P.37/Menhut-II/2007 tentang Hutan Kemasyarakatan.
 Permenhut No. P.9/Menhut-II/2008 tentang Persyaratan Kelompok Tani Hutan untuk
Mendapatkan Pinjaman Dana Bergulir Pembangunan Hutan
 Permenhut No. P.49/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 42

 Permenhut No. P.6/Menhut-II/2009 tentang Pembentukan Wilayah Kesatuan Pengelolaan
Hutan.
Lebih lanjut Junus, dkk (2010) menambahkan bahwa peraturan perundang-undangan
pada tingkat Pemerintah (Pusat) sudah mulai bagus. Argumen-argumen yang dipakai
peraturan perundang-undangan tersebut kuat. Banyak yang mengkritik tentang prosedur
perizinan yang ketat dan rumit di dalam kebijakan-kebijakan pemerintah pusat tersebut.
Menurut Junus, dkk (2010) bahwa prosedur yang dipakai memang mesti ketat karena
persoalan yang ingin diselesaikan adalah persoalan hukum. Sebenarnya, prosedurnya tidak
rumit, sepanjang ada kemauan untuk mewujudkan pengelolaan hutan berbasis masyarakat
yang baik atau lestari dan sepanjang mengacu pada peraturan perundang-undangan.
Hasil Baseline Survay yang dilakukan oleh RECOFTC di Kabupaten Bantaeng dan
Kabupaten Maros dalam Junus, dkk (2010) ditemukan kesenjangan-kesenjangan (gap) di
dalam pelaksanaan kebijakan pengelolaan hutan berbasis masyarakat yaitu:
 Kesenjangan antara kebijakan pemerintah pusat (permenhut) dengan kebijakan daerah
tentang seikat hak-hak (a bundle of rights) masyarakat mengelola sumberdaya hutan.
Kebijakan pemerintah tidak didukung oleh kebijakan mikro Pemerintah Kabupaten
tentang hak-hak (a bundle of rights) masyarakat setempat untuk mengelola sumberdaya
hutan
 Kesenjangan antara pelayanan publik yang seharusnya disediakan oleh pemerintah
kabupaten dan pemerintah desa dengan pelayanan publik yang sedang berlangsung pada
saat ini. Pelayanan publik kehutanan pada saat ini belum merupakan pelayanan publik
pengelola hutan berbasis masyarakat
 Kesenjangan struktur pengurusan dan pengelolaan hutan pada tingkat tapak yang
seharusnya sudah ada dan beroperasi untuk memberi pelayanan publik agar hak-hak
masyarakat dapat diterima, namun saat ini struktur tersebut belum ada. Struktur
pengurusan dan struktur pengelolaalan hutan berbasis masyarakat belum terbangun saat
ini pada tingkat tapak.
 Unit pengelolaan hutan (KPH) yang sesuai dengan keadaan geografis, sosial, ekonomi,
dan lingkungan lokal belum terbangun. Wujud KPH yang dapat memberi pelayanan
publik dan pengelolaan pada tingkat tapak perlu dicari dan ditemukan agar wujud KPH
tersebut lebih sesuai dengan keadaan geografis, sosial, ekonomi dan lingkungan lokal.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 43

V. Ragam Konsepsi KM : Berbagi Tautan Konsepsi Pengelolaan Hutan Berbasis
Masyarakat

Kotak 4. Ragam Tautan Konsepsi dalam KM
Tautan konsep kehutanan masyarakat ada pada berbagai macam konsepsi pengelolaan.
Konsep pengelolaan agroforestry, pengelolaan DAS maupun manajemen kolaborasi
sesungguhnya memuat muatan pengelolaan Kehutanan Masyarakat. KM dapat berupa
aktifitas, metodologi, walau disetiap konsep pengelolaan memiliki modus tersendirngi.
Konsep tersebut tidak mesti harus dipertentangkan namun yang paling penting adalah
bagaimana para pihak memiliki kesamaan pandangan dalam mengimplementasi setiap
konsep tersebut

1. Konsep Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Modus pengelolaan DAS adalah dasar teori hidrologi yang berfokus pada manajemen
daerah aliran sungai. Sungai mempunyai alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa
jaringan pengaliran air mulai dari hulu baik yang ada mata air maupun tidak ada mata air
sampai muara di laut, dengan dibatasi kanan dan kiri di sepanjang pengalirannya oleh garis
sempadan.
Menurut Dunne dan Leopold (1978) dalam Soepijanto (2002), defenisi umum tentang
daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu hamparan wilayah yang dibatasi oleh pembatas
topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsure
hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada titik-titik outlet.
Soepijanto (2002) lebih lanjut mengungkapkan bahwa dengan defenisi ini berkonstribusi
pada makna bahwa manajemen DAS melibatkan suatu proses yang sangat kompleks dan
memakan waktu yang cukup lama.
Sehingga pengelolaan DAS memerlukan implementasi manajemen yang
membutuhkan bukan hanya sumberdaya fisik semata tetapi juga sumberdaya sosial, termasuk
ragam institusi yang berperan baik didarah hulu, bagian tengah, dan bagian hilir.Untuk
mengembanngkan keterpaduan lintas lembaga/instusi, dianjurkan untuk melakukan uapaya-
upaya sebagai berikut :
a. Menghindarkan langkah-langkah kerja yang berwawasan egosektoral
b. Mengembangkan koordinasi lintas lembaga/instansi melalui penjabaran apa, bagaimana,
kapan dan dengan siapa keterlibatan tersebut perlu ditangani
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 44

c. Menciptakan system perangsang yang menarik bagi berbagai lembaga/instansi sekaligus
memecahkan masalah dan kendala yang dihadapi guna mewujudkan timbulnya “built in
incentive” yang menggairahkan semua pihak. Sehingga dapat tercipta keseimbangan
antara beban-beban (cost) yang harus ditanggung oleh setiap lembaga/instansi dengan
manfaat (outcome) yang akan diperolehnya. Sebagai contoh penganggaran yang
memadai untuk pelaksanaan kegiatan yang bersifat terpadu, atau publikasi secara
transparan atas peranan suatu lembaga/instansi dan sebagainya.
Supratman (2009) meneliti di wilayah catchment area PLTA Karebbe melaporkan bahwa
kondisi lahan usahatani masyarakat umumnya marginal untuk mengembangkan komoditi
pertanian dan berada di dalam kawasan hutan lindung yang peka terhadap erosi. Hal ini
menyebabkan produktivitas usahatani masyarakat relatif rendah, cenderung bersifat ekstensif,
serta banyak mengalami kegagalan. Masyarakat tidak dapat melakukan pengelolaan usahatani
secara intensif karena pengetahuan teknik budidaya yang relatif rendah serta tidak tersedia
modal yang cukup. Usahatani kebun kakao masyarakat pada saat ini banyak mengalami
kegagalan karena rendahnya pengetahuan teknis budidaya. Pada saat ini masyarakat
mengelola lahan usahatani di dalam kawasan hutan rata-rata seluas 1,0 sampai 3,0 ha/KK.
Komoditi yang dikembangkan adalah kakao dan merica.
Supratman (2009) lebih lanjut menjelaskan bahwa kondisi usahatani masyarakat seperti
diuraikan di atas menyebabkan masyarakat cenderung melakukan ekstensifikasi lahan
usahatani ke dalam kawasan hutan. \Sehingga diperlukan upaya penanganan yang lebih
komprehensif dengan menempatkan masyrakat lokal sebagai subjek utama, atau melakukan
program-program KM

Atas dasar persoalan-persoalan yang terjadi baik di daerah hulu maupun jilir suatu
DAS, maka Balai pengelolaan DAS Kementerian Kehutanan juga menjadikan program KM
sebagai program utama UPT ini, terkhusus pada skema Hutan Desa dan Hutan
Kemasyarakatan, serta Hutan Kemitraan

2. Kehutanan Masyarakat dan DAS Mikro
Seingkali program pengembangan pembangunan pengelolaan hutan berbasis
masyarakat menjadi tonggak dalam pengelolaan daerah aliran sungai baik di wilayah hulu,
bagian tengah maupun diwilayah hilir. Wilayah DAS dalam alienasinya juga sering menjadi
tarik ulur dalam menetukan intervensi kegiatan, banyak pihak memiliki perbedaan pandangan
dalam menentukan wilayah DAS, terutama dalam skala. Sebagai contoh pada wilayah DAS
Jeneberang Walanae yang meliputi 8 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan. Untuk menntukan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 45

preskrpisi Kehutanan Masyarakat di wilayah kabupaten Bantaeng, apakah harus
mempertimbangkan wialyah DAS tersebut yang sangat besar?, sementara dalam kabupaten
Bantaeng sendiri terdapat dua DAS kecil (dapatr dilihat pada Gambar …).
Tim kajian Fakultas Kehutanan UNHAS melalui dukungan Pemerintah Kabupaten
Bantaeng akhirnya memutuskan bahwa dalam wilayah Kabupaten Bantaeng juga memiliki
DAS yang selanjutnya disebut DAS Mikro, yaitu DAS Lantebong dan DAS Biangloe. Dalam
wilayah DAS mikro inillah preskripis pengelolaan KM diletakkan. Sehingga secara detail
tidak akan terlalu sulit melihat keterhubungan ekologi dan sosial antara masyarakat hulu dan
masyarakat di hilir. Bahasan ini akan lebih dieksplorasi pada Bab Kesatuan Pengelolaan
Hutan dan Kehutanan Masyarakat

Gambar 7. Sketsa Aliran Hidrologi dua DAS Mikro di Kabupaten Bantaeng
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 46

3. Pengelolaan Agroforestry
Di dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.49/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa,
Pasal 23, 24, 25, dan Pasal 26 disebutkan sejumlah hak-hak yang dapat diperoleh oleh
pemegang Hak Pengelolaan Hutan Desa yang areal kerjanya berada di dalam kawasan hutan
lindung sebagai berikut:
 Pemanfaatan kawasan, dilakukan antara lain melalui kegiatan usaha: budidaya
tanaman obat, budidaya tanaman hias, budidaya jamur, budidaya lebah, penangkaran
satwa liar, atau budidaya hijauan makanan ternak.
 Pemanfaatan jasa lingkungan, dilakukan antara lain melalui kegiatan usaha:
pemanfaatan jasa aliran air, pemanfaatan air, wisata alam, perlindungan
keanekaragaman hayati, penyelamatan dan perlindungan lingkungan, atau penyerapan
dan/atau penyimpanan karbon.
 Pemungutan hasil hutan bukan kayu, dilakukan antara lain melalui kegiatan usaha:
rotan, madu, getah, buah, jamur, atau sarang walet.
Sejumlah hak-hak tersebut di atas tidak menyebutkan secara tersurat jenis kopi sebagai
salah satu jenis tanaman yang dapat dibudidayakan di dalam pemanfaatan kawasan hutan
lindung. Namun demikian, kata “antara lain” pada pasal-pasal tersebut mengisyaratkan
bahwa tidak menutup peluang pemanfaatan kawasan hutan lindung untuk kegiatan usaha
budidaya selain yang telah disebutkan pada pasal-pasal tersebut. Oleh karena itu, budidaya
kopi dengan pola-pola agroforestry tertentu berpotensi untuk dikembangkan di dalam
pengelolaan hutan lindung (termasuk pada pengelolaan hutan desa di Kabupaten Bantaeng)
sepanjang budidaya tersebut tidak mengganggu fungsi lindung kawasan hutan.
Umar, dkk (2010) mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah menunjukkan bahwa
pandangan yang menyudutkan kebun kopi sebagai pemicu terjadinya erosi dan fungsi-fungsi
DAS adalah pandangan yang tidak sepenuhnya memahami isu-isu mendasar tentang
kontribusi tanaman kopi dalam memulihkan kondisi lahan yang telah mengalami degradasi.
Hasil penelitian ICRAF (Suyanto, 2002) menunjukkan bahwa penanaman kopi multistrata di
kawasan hutan lindung tidak hanya merupakan sumber mata pencaharian penduduk tetapi
juga dapat mengendalikan erosi karena fungsi penutupan kanopinya yang menyerupai hutan
alam. Sistem penanaman kopi multi strata mempunyai kanopi yang kompleks sehingga
mampu melindungi permukaan tanah dan mengendalikan erosivitas air hujan. Kombinasi
berbagai jenis pohon dalam sistem agroforestry berbasis kopi dengan karakteristik sistem
perakaran yang berbeda antara satu dengan lainnya mampu memberikan kontribusi untuk
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 47

menstabikan tebing-tebing sungai (river banks). Mekanisme ini terjadi karena sistem kopi
multistrata mempunyai kanopi kompleks yang melindungi permukaan tanah dari pukulan
curah hujan yang tinggi dan juga mengembalikan serasah dalam jumlah besar di permukaan
tanah sehingga mengurangi pengaruh erosivitas air hujan. Selain itu, percampuran berbagai
jenis pohon dalam sistem agroforestry berbasis kopi dengan kedalaman perakaran yang
bervariasi memberikan sinergitas terhadap peningkatan agregasi tanah sehingga tidak mudah
terdispersi. Perpaduan antara jenis pohon berakar dalam yang perakarannya mampu
menjangkar (anchored) dengan tanaman bawah yang mempunyai kerapatan akar (root
density) yang tinggi sangat efektif memberikan perlindungan terhadap pergerakan massa
tanah (mass movement).
Kebijakan pembangunan kehutanan di Indonesia dewasa ini diarahkan kepada
peningkatan upaya pengelolaan hutan terpadu, pelestarian hutan, dan pembangunan hutan
tanaman penghasil kayu. Namun demikian, sampai sejauh ini,pelibatan masyarakat setempat
dalam proyek-proyek hutan tanaman penghasil kayu, program-program pelestarian hutan, dan
diversifikasi pola kehutanan untuk pengelolaan ekosistem hutan yang serba guna dan
berkesinambungan, ternyata belum menunjukkan keberhasilan. Agroforestry merupakan
suatu sistem pengelolaan hutan tepat guna, yang sesuai dengan kebutuhan petani dan yang
tumbuh di masyarakat setempat. Oleh karena itu, bagi kalangan kehutanan, agroforestry perlu
dijadikan bentuk pendekatan baru dalam kerangka pelestarian hutan dan pembangunan untuk
wilayah-wilayah di mana perlindungan hutan secara total tidak mungkin bisa dilakukan
(Mihon dan De Foresta).
Hasil penelitian terkini ICRAF/CIFOR di Trimulyo, Lampung Barat (Suyanto et al.,
2002) menunjukkan bahwa penguatan penguasaan lahan di hutan lindung oleh
masyarakat berdampak pada perubahan sistem pertanian yang lebih sehat. Lahan yang
sebelumnya tergolong kritis dan ditumbuhi alang-alang telah berhasil diatasi dengan
pembudidayaan kopi multisrata. Keberhasilan ini didukung oleh penguatan penguasaan
lahan yang diklaim oleh masyarakat. Selanjutnya dikemukakan bahwa pada saat penelitian
dilaksanakan, sekitar 88 % dari 96% areal yang tadinya kritis telah ditanami dengan kopi
multisrata.
Namun demikian konsep pengelolaan agroforestry memiliki modus yang spesifik yakni
pada modus penggunaan lahan terpadu atau bisa juga pada segmen landscape. Sehingga
aspek sosial ekonomi bahkan politik mesti menjadi bahan yang penting dalam
mendiskursuskan pengelolaan agroforestry sama halnya dengan konsep KM.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 48

Gambar 8. Contoh lahan dengan pola agroforestry, Hutan Kemiri yang Dikelola Secara
Tumpangsari (Foto: Supratman)

4. Perubahan Iklim, REDD+ dan Kehutanan Masyrakat
Perubahan iklim sesuatu yang nyata atau ilusi
Sahide (2011) menuliskan bahwa di Desa Labbo terdapat seorang tokoh bernama
Daeng Cimba dan di Desa Pattaneteang bernama puang Muhamma‟ memiliki kitab klasik
yakni kita‟ pitika atau sura‟ riolo dengan kitab itu mereka dapat meramalkan kejadian dan
juga terkait iklim, pantangan-pantangan, hari baik dalam bercocok tanam. Salah satu hal yang
menarik tokoh tersebut meramalkan iklim dengan sistem perbintangan, dan peredaran bulan.
Bapak Pudding salah seorang warga Desa Labbo begitu serius ketika menceritakan cara kerja
mereka dalam meramalkan iklim. Namun kegelisahan beliau adalah tokoh tersebut sudah tua
dan cenderung masyarakat sudah melupakan kearifan seperti itu. Kegelisahan Bapak Pudding
juga bahwa iklim di daerah mereka cenderung sudah tidak bisa diprediksi selama 2 – 3 tahun
terakhir ini. Jumlah hari hujan semakin bertambah dan hal itu membuat masyarakat
cenderung merubah pola jenis tanaman yang mereka usahakan. Tapi belum bisa dipastikan
apakah perubahan iklim sekarang dapat diprediksi oleh kearifan lokal seperti yang dimiliki
Daeng Cimba dan Puang Muhamma‟.
Lebih lanjut lagi Sahide (2011) menuliskan bahwa salah seorang penggiat KM di
Kabupaten Bantaeng mengungkapkan bahwa dahulu waktu dia masih kecil (sekitar 20 tahun
lalu), masih dengan sangat mudah dia menemukan sarang laba-laba putih (sarang laba-laba
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 49

ini terbuat dari embun pagi) pada rumput di kebun, bahkan di halaman rumah. Sarang laba-
laba embun ini diyakini sebagai “cenning rara” (pengasih), jika diusapkan kemuka dan
dibacakan shalawat diyakini wajah seseorang akan cerah sepanjang hari. Namun sekarang
ini, sudah sangat susah menemukannya, karena cuaca sudah mulai memanas. Mungkin inilah
salah satu pertanda adanya perubahan iklim versi masyarakat lokal

Kotak 5. Indikator Lokal dalam Perubahan Iklim
Sahide (2011) mengungkapkan bahwa sebenarnya masyarakat lokal memiliki indikator
tersendiri dalam merasakan bahwa perubahan iklim adalah sesuatau yang memang sedang
berlangsung. Yang perlu memiliki keterhubungan adalah bagaimana system lokal dapat
sinergis dengan antisipasi global dalam menghadapi perubahan iklim dan mewujud dengan
tindakan nyata dan berguna bagi masyarakat lokal itu sendiri.

Dalam situs web REDD-Indonesia (http://www.redd-indonesia.org) mengungkapkan
bahwa perubahan iklim dalam perpektif ilmu pengetahuan telah menunjukkan beberapa
validitas dari ratusan hasil studi dari seluruh dunia, para ahli yang tergabung dalam
Intergovernmental Panel on Climate Change pada tahun 2007 sepakat bahwa kegiatan
manusia merupakan penyebab utama pemanasan global. Faktor alam semata tidak cukup kuat
untuk menjelaskan pemanasan secepat ini. Kenaikan suhu bumi tidak boleh melampaui 2
derajat pada tahun 2025 untuk membatasi akibat buruknya bagi hidup manusia.
Lebih lanjut dalam situs web REDD-Indonesia mengungkapkan bahwa REDD+,
singkatan dari Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation, merupakan
suatu mekanisme global yang bertujuan untuk memperlambat perubahan iklim dengan
memberikan kompensasi kepada negara berkembang untuk melindungi hutannya. Skema ini
mulai menjadi perdebatan yang hangat sejak Papua Nugini dan Kosta Rika menjabarkan
proposal pengurangan emisi deforestasi pada diskusi perubahan iklim pada tahun 2005.
Indonesia maju untuk memperjuangkan REDD pada konvensi perubahan iklim di Bali tahun
2007, di mana ide tersebut telah berkembang dengan mengikutsertakan isu „degradasi hutan‟.
Berbagai usul penambahan isu tentang agroforestri dan pertanian juga muncul. REDD
berkembang lebih jauh lagi -- tanda „plus‟ di belakangnya menambahkan konservasi dan
pengelolaan hutan secara lestari, pemulihan hutan dan penghutanan kembali, serta
peningkatan cadangan karbon hutan.
Jika kita melihat prinsip distribusi pembayaran REDD, antara lain (a) Dana REDD
diterima oleh mereka yang berhak (efisiensi dan pro-poor), (b) Sederhana dan fleksibel, (c)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 50

Sejalan dengan desentralisasi, (c) transparan dan akuntabel, (d) meningkatkan ke-REDD-an
nasional dan lokal, dan (e) ada ruang untuk pembelajaran, maka kita akan melihat relevansi
yang kuat dengan KM terutama prinsip pro poor atau masyarakat lokal yang selama ini
termarjinalkan dan memberikan substansi dalam pengelolaan hutan yang lestari
Hasil diskusi dengan penggiat KM Andri Santosa (Sekertariat nasional Forum
Komunikasi Kehutanan Masyarakat/FKKM) bahwa dalam diskursus pada progam
Laboratorium Kehutanan Masyarakat & Perubahan Iklim bahwa perjuangan KM sangatlah
berat, walau demikian komunitas lokal yang mendapatkan izin areal HKm & HD (IUPHHKm
& HPHD) menjadi tonggak sendiri dalam pencapaian hak kelola KM dan dapat mecoba
skema REDD ini. Peluang dana melalui skema REDD ini akan tetap menjadi diskursus dalam
pengembangan isu KM, bahwa dana REDD dapat dipandang sebagai bonus dari upaya-upaya
yang para pihak lakukan dan lalui dalam memperjuangkan KM, bukan menjadi tumpuan
harapan satu-satunya. Tentu saja pemahaman yang baik akan REDD dan skema lainnya
sangat penting bagi komunitas lokal ketika akan memasuki skema ini. Pengusahaan hutan
olem masyarakat lokal adalah bagian dari isu global sehingga kita tadak dapat melepaskan
diri sepenuhunya terhadap upaya ini.
Mengutip FAO (2010) bahwa hutan tentunya tidak dikelola hanya untuk perubahan
iklim, tetapi untuk multiguna, biasanya complementary untuk ragam tujuan, konservasi
keanekaragaman hayati, memprodduksi barang, melindungi tanah, air dan jasa lingkungan
lainnya, provisi jasa-jasa sosial budaya, dukungan kehidupan dan penanggulangan
kemiskinan. Accordingly, usaha-usaha adaptasi dan mitigasi perubahan iklim seharusnya
menyediakan sinergisasi dan keseimbangan dengan level nasional dan lokal pengelolaan
hutan lainnya

5. Pembayaran Jasa Lingkungan dan Kehutanan Masyarakat
Perubahan paradigma dari pengelolaan berbasis kayu menjadi berbasis sumber daya
sehingga memberi peluang bagi pemanfaatan jasa lingkungan hutan. Agus (2004)
mengemukakan bahwa jasa lingkungan adalah sumbangan yang diberikan kepada masyarakat
luas secara cuma-cuma oleh petani yang pada umumnya merupakan lapisan masyarakat yang
termiskin dan terpinggirkan. Terdapat berbagai disinsentif dalam berusahatani seperti
kegagalan pasar (market failures), biasnya kebijaksanaan terhadap nonpertanian, tidak
tersedianya atau tidak sanggupnya petani memperoleh sarana pertanian oleh, serta berbagai
masalah prasarana dan pemasaran. Petani juga sering mengalami kesulitan disebabkan
keadaan cuaca yang sulit diprediksi serta masalah hama dan penyakit tanaman. Jasa
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 51

lingkungan hutan yang sudah dikenal : perlindungan dan pengaturan tata air, konservasi
keanekaragaman hayati, penyerapan dan penyimpanan karbon, dan penyediaan keindahan
bentang alam. Sedangkan bentuk pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung dan hutan
produksi : air, aliran air, wisata alam, perlindungan keanekaragaman hayati, penyelamatan
dan perlindungan lingkungan, serta penyerapan dan penyimpanan karbon Direktorat
Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Kementerian Kehutanan mengungkapkan
bahwa Pemanfaatan jasa lingkungan hutan bertujuan memperoleh manfaat optimal bagi
kesejahteraan seluruh masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya.
Kompensasi Jasa Lingkungan (KJL) dapat juga diistilahkan dengan Payment for
Environmental Service (PES) yang secara popular diterjemahkan dengan pembayaran jasa
lingkungan. PES dimaksud dengan pemberian pembayaran secara langsung dari penerima
manfaat jasa kepada penyedia jasa. Dalam pendekatan PES, penerima jasa lingkungan,
seperti air dan keindahan alam, memberikan kompensasi maupun produk non-finansial
(bukan uang) kepada penyedia jasa (KLA, 2009).
Menurut hasil penelitian Sahide, dkk (2010) dengan studi Hutan Tanaman Rakyat di
Sulawesi Selatan, mengungkapkan bahwa, dalam konteks pembangunan KM, Pembayaran
jasa lingkungan penting untuk dikaji karena dapat menjadi alternatif modus pengelolaan.
Dalam perspektif rasional ekonomi petani, jika mengandalkan produk langusng dari hutan
terkadang tidak menarik, karena secara finansial produk KM bersaing dengan komoditi sektor
pertanian dan perkebunan yang lebih menguntungkan dalam sistem pasar yang berlangsung
pada saat ini. Oleh karena itu, untuk menjadikan pembangunan KM menarik secara ekonomi
(economically atractive) bagi petani maka diperlukan valuasi ekonomi total dari produk KM.
Konsekwensinya adalah produk-produk KM yang tidak ternilai dalam mekanisme pasar pada
saat ini harus dikompensasikan kepada petani pengelola KM melalui mekanisme insentif dan
disinsentif. Insnetif tersebut dapat berupa skema PES
PES tidak dapat berdiri sendiri dan dilaksanakan secara ekslusif. Implementasi sebuah
program PES memerlukan dukungan regulasi dan pendekatan-pendekatan lain. Menurut KLA
(2009) bahwa persayaratan agar PES dapat berjalan:
a. Ada mekanisme yang jelas antara supply dan demand atas jasa lingkungan. persyaratan
ini meliputi:
b. Ada pasar yang jelas. pasar merupakan tempat bertemunya permintaan dan penawaran.
keberadaan pasar jasa lingkungan ini dapat dirunut dengan identifikasi ataupun study
keberadaan peminat dan penyedia. Keberadaan peminat jauh lebih penting dari pada
penyedia.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 52

c. Cakupan wilayah dan skala pelayanan. Hal krusial adalah isu seberapa luas sumberdaya
lingkungan yang ada dan seberapa luas jasa ataupun pelayanan lingkungan yang
diberikan. Bagaimana tata waktu pelayanan yang diberikan. Apakah sepanjang tahun?
Berdasarkan musim? Langsung saat sebuah proyek dilaksanakan atau 2-4 tahun
kemudian?
d. Dukungan Pengambil Keputusan Puncak.
e. Pengambil keputusan puncak (top decision maker) dapat berupa Bupati / walikota (untuk
kabupaten/kota, Gubernur untuk tingkat provinsi, maupun Menteri terkait. Dukungan
yang ada harus diwujudkan dengan sebuah regulasi kebijakan.
f. Dukungan Organisasi Perantara.Institusi tersebut dapat berupa NGO, lembaga
lingkungan di bawah PBB, maupun lembaga riset. Lembaga perantara memainkan peran
utama sebagai agen penelitian, monitoring, dan kampanye untuk mencari pembeli.
Dalam Gambar 9., Leimona (2008) mengemukakan bahwa terdapat 4 tahapan dalam
mekanisme pembayaran jasa lingkungan, tahapan tersebut memiliki prisip-prinsip reallistik,
kesukarelaan, keberpihakan terhadap masyarakat miskin, kejelasan kontrak, serta skema yang
berkelanjutan dan kesetaraan untuk seluruh para pihak.
Menurut Danny, 2008, bahwa kendala pemanfaatan jasa lingkungan hutan antara lain;
a. Belum tersedianya peraturan perundangan secara khusus mengatur pengendalian
pemanfaatan jasa lingkungan hutan.
b. Jasa lingkungan hutan masih dianggap sebagai komoditi hasil hutan yang relatif baru.
c. Data jenis, sebaran, dan potensi pemanfaatan yang ada belum tersedia secara
menyeluruh.
d. Metoda valuasi untuk menentukan besarnya potensi nilai ekonomi belum tersedia.

6. Varian Kehutanan Masyarakat dalam Perkembangan Kebijakan Terkini
Empat Tahap dalam Pengembangan Mekanisme Pembayaran Jassa Lingkungan
(Sumber: RUPES)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 53

Gambar 9. Empat Tahapan Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan (Sumber:
RUPES)

Titik awal pergeseran paradigma pengelolaan hutan yang berpihak kepada
kesejahteraan masyarakat lokal tercermin dalam Undang-Undang No. 41 tahun 1999 (UU
41/1999) tentang Kehutanan. Poin penting ini tercantum dalam penjelasan umum dari
undang-undang tersebut yang bunyinya ”Dilihat dari sisi fungsi produksinya, keberpihakan
kepada rakyat banyak merupakan kunci keberhasilan pengelolaan hutan. Oleh karena itu
praktek-praktek pengelolaan hutan yang hanya berorientasi pada kayu dan kurang
memperhatikan hak dan melibatkan masyarakat, perlu diubah menjadi pengelolaan yang
berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya kehutanan dan berbasis pada pemberdayaan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 54

masyarakat”. Junus, dkk (2010) mengungkapkan bahwa masyarakat setempat memiliki
sejumlah atau seikat hak-hak (a bundle of rights) untuk mengelola hutan produksi, hutan
lindung, dan hutan konservasi (kecuali pada cagar alam, zona rimba, zona inti dalam taman
nasional). Hak-hak ini telah dibuka melalui kran kebijakan nasional, namun kenyataannya di
lapangan masyarakat setempat belum atau tidak memiliki hak-hak tersebut di atas.
Tindaklanjut dari UU 41/1999 adalah dengan disahkannya Peraturan Pemerintah No. 6
Tahun 2007 (PP 6/2007) jo Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2008 (PP 3/2008) tentang Tata
Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan Hutan. Aturan
kebijakan yang lebih operasional juga telah dibuat dalam rangka implementasi Peraturan
Pemerintah tersebut yaitu dengan di sahkannya Peraturan Menteri Kehutanan No
P.37/Menhut-II/2007 tentang Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan dan Peraturan Menteri
Kehutanan P 49/Menhut-II/2009 tentang Hutan Desa.
Perkembangan terakhir kebijakan pengelolaan HKm telah disempurnakan dengan
disahkannya Permenhut No P 13/Menhut-II/2010, dan kebijakan pengelolaan Hutan Desa
dengan Permenhut No. P 14/Menhut-II/2010, perubahan kebijakan tersebut menitikberatkan
kepada proses penetapan areal kerja yang di lakukan melalui koordinasi awal dengan antara
pemerintah daerah melalui proses identifikasi dan inventarisasi potensi lokasi. Melalui proses
koordinasi ini diharapkan proses penetapan areal kerja dapat dilakukan dengan lebih cepat
dan tepat.
Tabel 6. Varian Kehutanan Masyarakat
No. Varian Kehutanan Masyarakat Landasan Operasional Keterangan
(Kebijakan)
1 Hutan Kemasyarakatan P.37/Menhut-II/2007
2 Hutan Desa P. 49/Menhut-II/2009
3 Hutan Kemitraan PP 6/2007 Belum ada aturan
teknis (masih uji
coba)
4 Hutan Tanaman Rakyat P. 23/ Menhut 2007
5 Hutan Adat RPP Hutan Adat Dalam proses
diskursus dan
pembahasan
6 Hutan Rakyat Ragam perda

a. Hutan Desa
Semenjak republik ini merdeka, maka konsep wilayah desa mengikuti konsep
kesatuan NKRI dengan nama Desa sebagai unit pemerintahan terkecil dan terdekat dengan
masyarakat, istilah ini berasal dari Jawa (dari kata deso), namun penerapan istilah desa tetap
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 55

mengacu pada wilayah yang sudah eksis pada masyarakat yang ada di nusantara. Walaupun
usaha mengembalikan istilah lokal mengalami momentumnya pada masa reformasi, seperti
kembalinya Lembang di Tana Toraja dan Nagari di Sumatera Barat. Penyeragaman bukan
hanya pada peristilahan, namun juga berubahnya struktur dan kewenangan. “Konfigurasi
penyeragaman seperti terlihat dalam UU No. 5 tahun 1974 yang disusul pelemahan desa
menjadi hanya sekedar wilayah administrasi terkecil dibawah Kecamatan yang tidak
mempunyai kekuasaan mengatur diri sendiri, mengakibatkan berubahnya struktur, posisi,
bahkan wilayah desa. Terjadi banyak pemekaran dan atau penggabungan desa-desa yang
sering kali tidak memandang faktor asal usul dan kesejarahan, sehingga praktis identitas desa
asal sebagai suatu wilayah otonom menjadi kabur dan bahkan hilang”. Desa, kampong,
nagari, lembang (di Tana Toraja) atau nama lainnya, merupakan suatu kesatuan wilayah yang
sangat erat kaitannya dengan sumberdaya hutan. Sumberdaya tersebut dikelola baik sebagai
sumber pendapatan ekonomi, perlindungan hutan, maupun sebagai penanda desa.
Menurut Awang (2011) bahwa terdapat beberapa pengertian hutan desa yang dapat
dikategorisasi menjadi tiga bagian antara lain ;
1. aspek teritorial, hutan desa adalah hutan yang masuk dalam wilayah administrasi sebuah
desa definitif, dan ditetapkan oleh kesepakatan masyarakat
2. aspek status, hutan desa adalah kawasan hutan negara yang terletak pada wilayah
administrasi desa tertentu, dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan desa.
3. aspek pengelolaan, hutan desa adalah kawasan hutan milik rakyat dan milik pemerintah
yang terdapat dalam satu wilayah adminstrasi desa tertentu, dan ditetapkan secara
bersama-sama antara pemerintah daerah dan pemerintah sebagai hutan desa yang dikelola
oleh organisasi masyarakat desa.
Lebih lanjut Awang (2011) menganalisis bahwa jika dilihat dari perspektif UU
No.41/99 tentang kehutanan, khususnya pada penjelasan pasal 5 ayat (1) hutan desa adalah
hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa. Pengertian
ini dekat dengan katagori pengertian butir (2) di atas. Pasal ini memang sangat “state based
perspective”, walaupun tidak realistik untuk menyelesaikan persoalan SDH di tingkat
lapangan. Tulisan ini selanjutnya memilih alternatif katagori ke (3) sebagai basis bergerak
mengembangkan konsep-konsep hutan desa.
Damar (1999) mengungkapkan bahwa pada awal menggulirkan konsep hutan desa
mendefinisikan hutan desa sebagai kawasan hutan negara yang masuk dalam wilayah desa
tertentu dan dikelola oleh masyarakat desa tertentu. Satu definisi yang masih umum dan
cenderung mengikuti bahasa undang-undang. Dalam perjalananannya ketika berinteraksi
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 56

langsung di lapangan, membicarakan pengelolaan hutan di desa memang harus holistik dan
integrasi dengan pembangunan pedesaan. Sebagai satu kesatuan wilayah maka dari aspek
status pengelolaan hutan desa harus mencakup status hutan negara dan hutan rakyat yang ada
di desa tersebut. Lembaga dan aktor pengelola akan tergantung pada kesiapan dan kondisi
masing-masing lokasi. Yang pasti masyarakat desalah sebagai aktor utama pengelola,
meskipun nantinya berbentuk kelompok tani, badan hukum perkumpulan, koperasi, dan lain
sebagainya.
Sementara itu Alam (2003) mendefinisikan hutan desa sebagai kawasan hutan negara,
hutan rakyat, dan tanah negara yang berada dalam wilayah administrasi desa yang dikelola
oleh lembaga ekonomi yang ada di desa, antara lain rumah tangga petani, usaha kelompok,
badan usaha milik swasta, atau badan usaha milik desa yang khusus dibentuk untuk itu,
dimana lembaga desa memberikan pelayanan publik terkait dengan pengurusan dan
pengelolaan hutan. Definisi dari Universitas Hasannudin ini bahkan sudah menyebutkan
kelembagaan dan aktor pengelolaannya, yang tentu saja akan tergantung pada kondisi lokal
tiap-tiap desa.
Hasil wawancara dengan beberapa masyarakat lokal di Sulawesi Selatan bahwa
sebenarnya hutan desa memiliki sejarah yang kuat di Sulawesi Selatan khususnya didaerah
suku bugis-makassar dengan penamaan dan konsepsi yang beragam anatara lain „tana
bengko‟. Tana bengko dan atau hutan desa dialokasikan kepada siapapun kepala desa atau
kepala kampung yang terpilih untuk dikelola dengan tujuan agar kehidupan kepala desa
terjamin sehingga dapat fokus dalam menjalankan kewajiban selaku kepala kampung. Tamu-
tamu desa atau kampung dapat dijamu dari sumberdaya hutan desa tersebut, sehingga tradisi
menghormati tamu melalui sajian terbaik desa dapat dilestarikan
Secara sosiologis hutan desa itu eksis secara sosiologis, baik itu berada dalam
kawasan hutan (atau hutan Negara) maupun berada di luar kawasan (atau hutan hak/rakyat).
Seperti halnya tanah bengkok, tanah kas desa, atau sebutan lainnya telah mengalami
penurunan fungsi semenjak tata ruang kawasan hutan oleh Negara. Praktek-praktek
tradisional masyarakat dalam membangun hutan di desa mereka mengalami evolusi dari desa
ke pemerintah.

b. Hutan Kemasyarakatan
Konsep hutan kemasyarakatan (forest community) atau disingkat HKm pertama kali
diperkenalkan oleh pemerintah pada tahun 1995 dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan
No. 622/Kpts-II/1995, kemudian direvisi dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 57

Perkebunan No. 677/Kpts-II/1998, kemudian direvisi lagi dengan Surat Keputusan Menteri
Kehutanan dan Perkebunan No. 865/Kpts-II/1999, dan revisi terakhir adalah Keputusan
Menteri Kehutanan No. 31/Kpts-II/2001. Intisari konsep kehutanan masyarakat dari beberapa
keputusan menteri tersebut adalah membangun sistem pengelolaan hutan negara yang
bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat tanpa mengganggu fungsi pokok
hutannya.
Tahap-tahap pelaksanaan hutan kemasyarakatan
1. Pencadangan areal hutan kemasyarakatan. Dapat dicadangkan pada kawasan hutan
produksi, kawasan lindung, dan pada pelestarian alam pada zona pemanfaatan
2. Penyiapan kondisi masyarakat. Merupakan kegiatan awal yang penting dilaksanakan
sebelum pemberian Hak Pengusahaan Hutan Kemasyarakatan
3. Terbentuknya kelembagaan masyarakat berdasarkan aspirasi dan inisiatif masyarakat itu
sendiri dalam mengelola hutan secara lestari. Penyiapan kondisi masyarakat dilakukan
melalui penyebarluasan informasi tentang kebijakan dan peraturan hutan kemasyarakatan
4. Perencanaan. Rencana pengembangan hutan kemasyarakatan diawali dengan diperolehnya
hak pengusahaan hutan kemasyarakatan, koperasi masyarakat lokal wajib menyusun
Rencana Induk Pengusahaan Hutan Kemasyarakatan(RPHKm), Rencana Lima Tahunan
Hutan Kemasyarakatan (RKLHKm)
5. Pelaksanaan. Hutan kemasyarakatan dikelola oleh koperasi masyarakat lokal sebagai
pemegang hak pengusahaan hutan kemasyarakatan
6. Pemantauan dan evaluasi di lapangan. Sebagai pemegang hak pengusahaan hutan
kemasyarakatan, koperasi memantau sendiri kegiatan pengelolaan hutan kemasyarakatan
c. Hutan Tanaman Rakyat (HTR)
HTR merupakan hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh perorangan
atau kelompok masyarakat dan koperasi untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan
produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya
hutan.
Pola HTR terdiri dari:
a. HTR Pola Mandiri adalah HTR yang dibangun oleh Kepala Keluarga pemegang
IUPHHK-HTR.
b. HTR Pola Kemitraan adalah HTR yang dibangun oleh Kepala Keluarga pemegang
IUPHHK-HTR bersama dengan mitranya berdasarkan kesepakatan bersama dengan
difasilitasi oleh pemerintah agar terselenggara kemitraan yang menguntungkan kedua
pihak.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 58

c. HTR Pola Developer adalah HTR yang dibangun oleh BUMN atau BUMS dan
selanjutnya diserahkan oleh Pemerintah kepada Kepala Keluarga pemohon IUPHHK-
HTR dan biaya pembangunannya menjadi tanggung jawab pemegang ijin dan
dikembalikan secara mengangsur sejak Surat Keputusan IUPHHK-HTR diterbitkan.
Menurut Emila dan Suwito (2007) bahwa konsep pemberian akses yang lebih luas
kepada masyarakat dalam pembangunan hutan tanaman, disusun dari proses pembelajaran
Departemen Kehutanan atas program maupun proyek Pemberdayaan Masyakat yang selama
ini ada, misalnya program Bina Desa, program kemitraan seperti Pengelolaan Hutan
Bersama Masyarakat (PHBM)/Mengelola Hutan Bersama Masyarakat (MHBM)/Hutan
Rakyat Pola Kemitraan (HRPK) oleh HPH/IUPHHK-HA/HT, proyek -proyek kerjasama
teknik luar negeri seperti Social Forestry Dephut-GTZ di Sanggau Kalimantan Barat,
Multistakeholders Forestry Programme Dephut-DFID dan beberapa proyek pemberdayaan
masyarakat yang ada di Departemen Kehutanan. Hasil pembelajaran tersebut memberikan
kerangka filosofis atas pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk mengatasi kemiskinan
melalui pemberian akses yang lebih luas ke hukum (legalitas), ke lembaga keuangan dan ke
pasar. Selain kerangka filosofisnya, diperoleh pula prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat
(the principles) yaitu :
a. Prinsip pertama adalah masyarakat mengorganisasikan dirinya berdasarkan kebutuhannya
(people organized themselves based on their necessity) yang berarti pemberdayaan hutan
beserta masyarakatnya ini bukan digerakkan oleh proyek ataupun bantuan luar negeri
karena kedua hal tersebut tidak akan membuat masyarakat mandiri dan hanya membuat
“kebergantungan” masyarakat.
b. Prinsip kedua adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat harus bersifat padat karya
(labor-intensive) sehingga kegiatan ini tidak mudah ditunggangi pemodal (cukong) yang
tidak bertanggung jawab.
c. Prinsip ketiga adalah Pemerintah memberikan pengakuan/rekognisi dengan memberikan
aspek legal sehingga kegiatan masyarakat yang tadinya informal di sektor kehutanan
dapat masuk ke sektor formal ekonomi kehutanan/ekonomi lokal, nasional dan global
sehingga bebas dari pemerasan oknum birokrasi dan premanisme pasar.
Menurut Supratman, dkk (2006) Tolak ukur untuk menilai keberhasilan program
pembangunan HTR terbagi ke dalam 6 sub elemen yaitu, (1) rehabilitasi hutan produksi pola
HTR, (2) adanya Peraturan Daerah HTR, (3) terbangunnya kelembagaan unit pengelolaan
HTR, (4) sektor kehutanan sebagai sektor basis di desa hutan, (5) menurunnya tingkat
pengangguran, (6) investasi masyarakat, pemerintah, swasta membangun HTR dan industri
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 59

hasil hutan kayu. Sub elemen yang menjadi kunci dari elemen tolak ukur untuk menilai
keberhasilan program pembangunan HTR adalah sub elemen (6) yaitu investasi masyarakat,
pemerintah, dan swasta membangun HTR dan industri hasil hutan kayu.

Tabel 1. Daftar Realisasi Pencadangan Areal HTR sampai dengan November 2010 di
Sulawesi Selatan
No. Kabupaten SK Menteri Tanggal Luas (Ha)

1 Sidrap SK 277/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 2.749

2 Palopo SK 274/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 80

3 Takalar SK 269/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 1.900

4 Pangkep SK 275/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 960

5 Maros SK 274/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 8.580

6 Barru SK 271/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 5.240

7 Enrekang SK 270/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 2.575

8 Tana Toraja SK 270/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 142

9 Soppeng SK 270/Menhut-VI/2008 8 Agustus 2008 3.736

10 Luwu Utara SK 392/Menhut-II/2008 10 November 2010 473

11 Pinrang SK 279/Menhut-II/2009 13 Mei 2009 8.100

Jumlah 34.535

d. Hutan Adat

Ragan perspektif terkait hutan adat ini, negara dalam hal ini UUK pada pasal 1 Huruf
(e) berbunyi “Hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum
adat.” Sehingga dari sini hutan adat adalah kawasan hutan negara, namun realitasnya bahwa
banyak komunitas adat tidak mengakui kawasan hutan negara, dan juga banyak kawasan
hutan adat berada di luar kawasan hutan negara. Dalam UUK juga mengamantkan agar salah
satu bentuk legalitas yang harus dimiliki oleh komunitas adat adalah adanya pengakuan
melalui Peraturan Daerah di Kabupaten.
Untuk itu Firdaus (2010) mengemukakan bahwa Situasi ini mendorong sejumlah
Pemerintahan Daerah melakukan terobosan hukum untuk mengakui keberadaan masyarakat
adat dan hutan adatnya melalui Peraturan Daerah (Perda) maupun Surat Keputusan (SK)
Kepala Daerah, misalnya Perda Baduy di Kabupaten Lebak Propinsi Banten, SK Bupati
Merangin dan SK Bupati Bungo di Propinsi Jambi. Sejumlah Perda dan SK tersebut secara
sosiologis dianggap sebagai tindakan responsif terhadap tuntutan masyarakat adat.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 60

e. Pengelolaan Kolaboratif dalam Kawasan Konservasi

Paradigma lama pengelolaan kawasan konservasi memang cenderung eksklusif
dengan penekanan pada perlindungan sistem penyangga kehidupan, tanpa menyentuh aspek
pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Praktek pemikiran inilah
menyebabkan rencana pengelolaan tidak mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat
yang hidup di sekitar taman nasionl sehingga sering memicu konflik dan tekanan terhadap
keberadaan taman nasional. Sedangkan paradigma baru pengelolaan kawasan konservasi
sangat berbeda, sistem pengelolaan harus terintegrasi dan mengakomodir berbagai
kepentingan yang terkait, khususnya menyangkut kesejahteraan masyarakat di sekitar
kawasan. Sumberdaya alam di taman nasional dipandang sebagai sebuah kekayaan
keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang dapat memberikan manfaat yang nyata baik
bagi masyarakat sekitar maupun pihak-pihak lain yang terkait. Dengan paradigma baru
pengelolaan kawasan konservasi maka akan melibatkan partisipasi aktif berbagai stakeholder.
Jusuf, dkk (2010) mengemukakan bahwa manajemen kolaboratif adalah suatu bentuk
manajemen yang mengakomodasikan kepentingan-kepentingan seluruh stakeholder secara
adil, dan memandang harkat setiap stakeholder sebagai entitas yang sederajat sesuai dengan
tata nilai yang berlaku dalam mencapai tujuan bersama. Kemitraan merupakan persetujuan
diantara para stakeholder yang memiliki kepentingan bersama untuk menjalin kerjasama
yang saling menguntungkan, saling memperkuat dan saling memerlukan. Kolaborasi sebagai
media untuk mewujudkan suatu tujuan yang sulit dilakukan sendiri sehingga memerlukan
komitmen tinggi dan tanggungjawab serta sikap saling menghormati antar pihak yang
terlibat.
Lebih lanjut Jusuf, dkk (2010) mengemukakan bahwa kolaborasi mensyaratkan
adanya pertukaran informasi, perubahan aktivitas, dan pengkontribusian sumberdaya, serta
mencakup peningkatan kapasitas pihak lainnya guna keuntungan bersama dan dalam rangka
mencapai tujuan bersama. Kontribusi sumberdaya mencakup SDM, finansial, teknis,
pengetahuan, tenaga kerja, benda/barang, dan akses ke masyarakat. Dalam pengelolaan
kolaborasi terdapat peran yang setara diantara para stakeholders sehingga masing-masing
stakeholders memberi kontribusi, memikul tanggungjawab dan menerima manfaat yang
proporsional. Masyarakat lokal mampu berkontribusi dalam hal kearifan lokal, norma,
kelembagaan lokal, penguasaan dan pengelolaan sumberdaya alam. Supaya masyarakat dapat
berperan setara dengan stakeholder lain dalam pengelolaan sumberdaya hutan, maka
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 61

pemberdayaan masyarakat desa sekitar taman nasional merupakan syarat perlu agar
pengelolaan kolaboratif dapat terselenggara dengan baik. Stakeholder tersebut memiliki
kepentingan yang beragam, ada yang sejalan dengan upaya konservasi namun ada pula yang
berseberangan. Oleh karena itu diperlukan komitmen bersama dan sikap saling menghormati
antar pihak yang terlibat. Agar kolaborasi bisa berjalan baik, maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Kolaborasi memerlukan kerjasama yang saling menguntungkan, saling memperkuat dan
saling memerlukan.Tanpa pemahaman yang sama diantara para stakeholder, maka
kolaborasi tidak akan bertahan. Komitmen bersama para pihak, yang dukung oleh
political will yang kuat dan konsisten dari pemerintah mutlak diperlukan.
2. Menfasilitasi terciptanya ruang kolaborasi bagi masyarakat lokal sekitar TN Babul
melalui eksprimen kerja kolaboratif secara berkelanjutan.
3. Kolaborasi harus dapat beradaptasi terhadap perubahan, baik perubahan, ekonomi,
maupun situasi politik. Kolaborasi harus memiliki suatu alat untuk mengadakan negosiasi
ulang di masa mendatang, agar dapat bertahan meski terjadi perubahan, seperti dalam
bentuk kesepakatan bagi hasil, komposisi pemanfaatan lahan, dan lain-lain yang telah
disepakati bersama.

f. Hutan Hak/Hutan Rakyat
Ragam perspektif terkait hutan rakyat, namun pada bahasan ini kita akan memakai
istilah hutan rakyat pada lahan-lahan hutan masyarakat yang berada di luar kawasan hutan
atau biasa disebut dengan hutan hak. Hal ini dipertegas dengan SK Menhut No. 49/Kpts-
II/1997 tentang pendanaan dan usaha hutan rakyat, pengertian hutan rakyat adalah hutan yang
dimiliki oleh rakyat dengan luas minimal 0,25 ha dengan penutupan tajuk tanaman kayu-
kayuan dan atau jenis lainnyalebih dari 50% dan atau tanaman sebanyak minimal 500
tanaman tiap hektar.
Hutan rakyat merupakan budidaya pertanian turun-temurun di desa-desa yang telah
berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Hutan rakyat dalam pemahaman mereka berarti
sebagai sumberdaya yang bisa bermanfaat bagi pertanian secara umum dan dalam praktek
kehidupan sehari-hari. Dengan pemilikan lahan yang sempit maka dalam konteks
pertanian/budidaya hutan rakyat tidak dikenal sistem monokultur tetapi berupa kebun
campuran. Komposisi seperti itu saling melengkapi baik dari segi ekologi maupun ekonomi.
Karena budidaya hutan rakyat merupakan kebiasaan turun-menurun maka para petani sudah
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 62

terbiasa melakukan rehabilitasi dalam arti setiap pemanenan komoditi yang ditanam di atas
lahan miliknya segera disusul dengan penanaman kembali. Hal ini sudah menjadi kebiasaan
masyarakat karena mereka telah merasakan hasil yang diperoleh dari budidaya hutan rakyat.
Pengelolaan hutan rakyat tersebut sampai saat ini praktis tidak ada perubahan baik ditinjau
dari segi manajemennya, teknik budidaya sampai pemasarannya, Trison S dan Hero Y
(2011).
Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1998 tentang
penyerahan sebagian urusan pemerintahan di bidang kehutanan kepada daerah, maka
pengurusan pengelolaan hutan rakyat telah diserahkan kepada DATI II yang mencakup
pembinaan kegiatan penanaman pohon-pohonan, pemeliharaan, pemanenan, pemanfaatan,
pemasaran dan pengembangan.

PENUTUP

I. Penugasan

Pertanyaan-pertanyaan kunci yang dikemas melalui diskusi maupun kuis kepada mahasiswa

a. Jelasakan secara ringkas analisis situasi pengelolaan hutan di Indonesia
b. Bagaimana konsepsi kehutanan masyarakat dapat berperan dalam pengelolaan hutan
berkelanjutan
c. Jelaskan beragam perspektif tentang konsepsi kehutanan masyarakat
d. Jelaskan prinsip-prinsip kunci kehutanan masyarakat berupa contoh-contoh kasus

DAFTAR PUSTAKA

Agus F. 2004. Jasa Lingkungan Pertanian dan Praktek Petani yang Layak Menerima
Imbalan. Hal 39-53. Prosideing Dampak Hidrologis Hutan, Agroforestri, dan
Pertanian Lahan Kering sebagai Dasar Pemberian Imbalan kepada Penghasil Jasa
Lingkungan di Indonesia. ICRAFT, RUPES
Awang, S.A. Perkembangan Kehutanan Sosial dan Kehutanan Masyarakat di
Indonesia: Kegagalan, Keberhasilan, atau Frustasi, Makalah disampaikan dalam
Seminar dan Lokakarya Nasional tentang Metodologi Penelitian Partisipasi dalam
PSDAM, Bandung, 2002

Danny Wilistra 2008. Kebijakan dan Strategi Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan.
Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Direktorat Jenderal
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 63

Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam. Departemen Kehutanan. Makalah Tidak
Dipublikasikan

Efendi R. 2010. Rantai Pasar Produk Social Forestry. Hal 109-119 dalam . Social
Forestry Menuju Restorasi Pembangunan Kehutanan Berkelanjutan. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Kementerian Kehutanan

Emila dan Suwito, 2007. Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Agenda baru untuk
pengentasan kemiskinan?. Warta Tenure Nomor 4 - Februari 2007

FAO, 2010. Managing forests for climate change. FAO, working with countries to tackle
climate change through sustainable forest management

Firdaus A. Y. HUTAN ADAT: Tersandera Politik Kehutanan. Jurnal Kehutanan
Masyarakat Vol. 3.No.1. Hal 53-78. Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat

Indriatmoko.Y. E., Yuliani L, Tarigan Y., Gaban F., Maulana F.,Munggoro D.W.,,
Lopulalan . D., Adnan H. 2007. Dari Desa ke Desa Dinamika Gender dan
Pengelolaan Kekayaan Alam. CIFOR

Junus M., Supratman. Sahide, M.A.K. 2009. Kesenjangan Hak-Hak Masyarakat Setempat
dengan Pelaksanaan Pembangunan Kehutanan Berbasis Masyarakat. OPINION
BERIEF No. ECICBFM II-2009.01. RECOFTC

Jusuf Y., Supratman., Sahide, M.A.K. 2010. Pendekatan Kolaborasi dalam Pengelolaan
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung : Strategi Menyatukan Kepentingan
Ekologi dan Sosial Ekonomi Masyarakat. OPINION BERIEF No. ECICBFM II-
2010.02. RECOFTC

KLA. 2009. Kompensasi Jasa Lingkungan (Artikel). Diposkan oleh KLA di
http://lingkunganaceh.blogspot.com/2009/09/kompensasi-jasa-lingkungan. html .
Diakses pada 13/12/2011

Leimona Beria. 2008. Imbal Jasa Lingkungan Prinsip, kriteria dan indicator. RUPES
Program – ICRAF SEA. Makalah Presentase pada Pelatihan Pembayaran Jasa
Lingkungan di Kawasan Konservasi Hotel Ria Diani (Puncak, Bogor) – 11/12 Juni
2008

REDD-Indonesia http://www.redd-indonesia.org diakses tanggal 18 Maret 2012

Sundawati L., Nurrochmat D. R., Setyaningsih L., Puspitawati H., Trison S. 2008.
Pemasaran Produk-Produk Agroforestry. Fakultas Kehutanan – Institut Pertanian
Bogor (IPB) dan World Agroforestry Centre (ICRAF)

Sahide, M. A. K., Supratman. , Dassir M., Junus M., Mahbub A.S., Makkarennu, 2010.
Studi Implementasi Program Hutan Tanaman Rakyat di Sulawesi Selatan. Balai
Penelitian dan Pengembangan propinsi Sulawesi Selatan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 64

Santoso H. 2011. Hutan Kemasayarakatan dan Hutan Desa: Tafsir Setengah Hati
Pengelolaan Human Berbasis Masyarakat Versi Kementrian Kehutanan RI.
Jurnal Kehutanan Masyarakat Vol. 3.No.1. Hal 53-78. Forum Komunikasi Kehutanan
Masyarakat

Santoso H, 2011. Kehutanan Masyarakat adalah Proyek: Sebuah Pemanasan untuk
Munas FKKM 2011. Blog FKKM. https://www.facebook.com/notes/hery-
santoso/kehutanan-masyarakatkm-adalah-proyek-sebuah-pemanasan-untuk-munas-
fkkm-2011/10150279050383512 akses tanggal 18 November 2011
Supratman. 2009. Model Pengelolaan Hutan Catchment Area PLTA Karebbe, di Luwu
Timur. Jurnal Hutan dan Masyarakat Vol. IV No. 3, Desember 2009 : 124-136
Suyanto, dkk. 2002. Pertanian Sehat: Pandangan Dari Aspek Ekonomi. http//www.
WorldAgroforestryCentre.org/Sea/Publication/files/Journal/JA0026-04.Pdf. Diakses
November 2010
Soepijanto, B. Pengembangan Community Forestry Berdasarkan Sistem Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai (DAS). Jurnal Hutan Rakyat. Volume IV No. 3 Tahun 2002.
Hlm 1-15. Pusat Kajian Hutan Rakyat, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah
Mada
Trison S dan Hero. 2011. Hutan Rakyat Di Indonesia, Tinjauan Aspek Sosial, Kebijakan
dan Tenurial. Jurnal Kehutanan Masyarakat Vol. 3.No.1. Hal 79-92. Forum
Komunikasi Kehutanan Masyarakat
Wiliam-de Vries, D. 2006. Gender bukan tabu: catatan perjalanan fasilitasi kelompok
perempuan di Jambi. Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research
(CIFOR)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 65

BAB IV. KONSEP DEVOLUSI, TENURIAL DAN KELEMBAGAAN KEHUTANAN
MASYARAKAT

PENDAHULUAN

I. Tujuan Instruksional

1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep devolusi pengelolaan hutan
2. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep tenurial
3. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep kelembagaan pengelolaan kehutanan masyarakat

II. Proses pembelajaran

Pada pembelajaran ini akan dipakai metode small group discussion dengan fokus pada
kelompok-kelompok kecil mahasiswa yang akan mendiskusikan konsep devolusi, tenurial
dan kelembagaan dalam kehutanan masyarakat.
Pada tahap pertama;
Dosen mengulas ulang secara singkat materi sebelumnya terkait filosofi, konsepsi dan
varian kehutanan masyarakat dengan melemparkan beberapa pertanyaan kunci kepada
mahasiswa antara lain seperti;
- Jelaskan sejarah ringkas tentang munculnya konsepsi kehutanan masyarakat ?
- Sebutkan tiga kategori dalam memaknai kehutanan masyarakat
- Jelaskan konsep dasar/filosopi kehutanan masyarakat
- Jelaskan uraian kehutanan masyarakat sebagai metodologi?
- Jelaskan uraian kehutanan masyarakat sebagai proyek?
Pada tahap kedua;
a. Dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan konsep
bahasan yang akan diulas yakni tenurial dalam kehutanan masyarakat, serta isu-isu lainnya
terkait tema tersebut seperti pemaharuan agrarian di sektor kehutanan.
b. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok dan dilakukan selama 40-60
menit dengan sebelumnya membagikan handout tentang konsep tenurial, dalam kehutanan
masyarakat sebagai bahan diskusi. Dosen mencatat semua aktifitas diskusi dan
mengevaluasi keaktifan mahasiswa.
Pada tahap ketiga;
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 66

a. Dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan konsep
bahasan yang akan diulas yakni konsep devolusi, serta isu-isu lainnya terkait tema tersebut
antara lain desentralisasi di sektor kehutanan
b. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok dan dilakukan selama 40-60
menit dengan sebelumnya membagikan handout tentang konsep devolusi, tenurial dan
kelembagaan dalam kehutanan masyarakat sebagai bahan diskusi. Dosen mencatat semua
aktifitas diskusi dan mengevaluasi keaktifan mahasiswa.
Pada tahap keempat;
a. Dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan konsep
bahasan yang akan diulas yakni konsep kelembagaan dalam kehutanan masyarakat, serta
isu-isu lainnya terkait tema tersebut antara lain transformasi kearifan lokal masyarakat
dalam membangun kelembagaan lokal
b. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok dan dilakukan selama 40-60
menit dengan sebelumnya membagikan handout tentang konsep kelembagaan dalam
kehutanan masyarakat sebagai bahan diskusi. Dosen mencatat semua aktifitas diskusi dan
mengevaluasi keaktifan mahasiswa.
Pada tahap kelima;
a. Dosen memberikan evaluasi terhadap hasil diskusi kelompok dan menghubungkannya
dengan konsep devolusi, tenurial dan kelembagaan dalam kehutanan masyarakat seperti
yang termaktub dalam hand out yang telah dibagikan dengan melemparkan pertanyaan-
pertanyaan kunci
b. Dosen memberikan tes kuis

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Konsep Devolusi Pengelolaan Hutan

Secara bahasa kata devolusi atau devolution dapat kita lihat terjemahan pada kamus
wordweb yang berarti proses menurun dari yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah
dari daya yang efektif atau vitalitas atau kualitas esensial, selanjutnya juga dapat diartikan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 67

sebagai delegasi otoritas (terutama dari pusat ke pemerintah daerah)." Kamus elektronik
wordweb.1
Jika kata devolusi tersebut kita kaitkan dengan kehutanan atau kehutanan masyarakat
maka dapat kita uraikan bahwa devolusi kehutanan adalah proses pemberian otoritas
kewenangan pengelolaan dari strata atau level pusat dalam hal ini Kementerian Kehutanan
kepada level dibawahnya seperti pmerintah lokal (kabupaten, desa) bahkan kepada tingkat
komunitas.Sehingga berdasarkan hal tersebut diatas, maka program pengelolaan hutan
berbasis masyarakat atau kehutanan masyarakat adalah bagaian dari konsepsi devolusi
kehutanan.
Fisher (1999, 2000) dalam Suharjito (2009) memberikan devolusi didefinisikan sebagai
pelimpahan kekuasaan (power) dari (pemerintah) pusat kepada unit kerja yang lebih rendah.
Ini berbeda dengan desentralisasi yang didefinisikan sebagai pelimpahan fungsi-fungsi
administrative dari pemerintah) pusat kepada unit kerja yang lebih rendah (pemerintah
provinsi dan atau kabupaten, bahkan desa), yang tidak perlu melibatkan perubahan lokus
pengambilan keputusan atau melimpahkan kekuasaan (Fisher 1999, 2000). Lebih lanjut
Fisher (1999, 2000) dalam Suharjito (2009) mengungkapkan perlunya membedakan tipe
pelimpahan fungsi dan atau kekuasaan, yaitu: (1) pelimpahan dari birokrasi pusat kepada
birokrasi provinsi atau kabupaten; (2) pelimpahan dari birokrasi pusat kepada struktur politik
lokal atau pemerintah lokal (pemerintah desa); (3) pelimpahan kepada masyarakat lokal atau
para pengguna sumber daya alam (hutan). Tipe pertama dinilainya hanya sebagai wujud
desentralisasi, sedangkan tipe kedua dan ketiga dinilainya sebagai wujud desentralisasi dan
devolusi. Devolusi memberikan kekuasaan kepada unit kerja yang lebih rendah untuk
merencanakan tujuan, mengambil keputusan secara independen, bahkan melakukan tindakan
di luar apa yang sudah dirancang oleh pemerintah pusat, bukan hanya melaksanakan kegiatan
untuk mencapai tujuan yang sudah dirancang oleh pusat.
Suhardjito (2009) dalam membandingkan devolusi Pengelolaan Hutan di Indonesia
dan Philipina bahwa devolusi pengelolaan sumberdaya hutan diharapkan dapat mewujudkan
pengelolaan hutan yang lestari, lebih memberikan keadilan (equity) kepada masyarakat, dan
lebih efisien. Implikasi dari program terhadap kelestarian sumberdaya hutan belum nyata,
bahkan terkesan sebaliknya bahwa HKm mendorong degradasi dan deforestasi. Hal itu terjadi
karena areal-areal hutan yang dijadikan HKm pada awalnya adalah areal hutan yang digarap

1
Kamus elektronik word web, devolution is: “1. the process of declining from a higher to a lower level of
effective power or vitality or essential quality. 2 The delegation of authority (especially from a central to a regional
government)”, http://wordweb.info/free/, diakses dan dioperasikan pada tanggal 3 November 2011
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 68

oleh masyarakat untuk pertanian atau kebun dalam situasi nasional mengalami krisis
moneter, ekonomi, dan politik.

1. Devolusi dan Otonomi Daerah
Tjong (2010) mengungkapkan bahwa bagi sebagian kelompok organisasi masyarakat
sipil dan masyarakat lokal (adat), revisi Undang-Undang Pokok Kehutanan No.5 tahun 1967
menjadi Undang-Undang Kehutanan No.41 tahun 1999 sebagai satu pereda ketegangan
antara negara-rakyat (devolusi) berkenaan dengan pelaksanaan kehutanan di masa lalu yang
banyak menuai kerusakan dan penyusutan hutan, konflik pengusaan dan pengelolaan hutan,
dan konflik sumberdaya alam. Lebih lanjut Tjong (2010) mengatakan bahwa walau sebagian
besar masyarakat adat menolak Undang-Undang Kehutanan karena tidak ada substansi yang
mengukuhkan „hak kepemilikan ulayat‟ dalam kehutanan di Indonesia, devolusi terjadi di
tingkat hak kelola masyarakat atas kawasan hutan.
Salah satu contoh bentuk dukungan kebijakan di level politik lokal Kabupaten adalah
Peraturan Daerah No 05 Tahun 2009 tentang Kehutanan Masyarakat di Kabupaten Maros.
Melalui proses yang cukup dinamis, FKKM Wilayah Sulsel beserta Fakultas Kehutanan
Universitas Hasanuddin berhasil mendorong perda ini. Perda ini memuat lengkap tentang
dukungan skema-skema kehutanan masyarakat yang ditawarkan oleh pemerintah (pusat).
Bahkan pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang berbasis masyarakat
juga diulas di Perda ini, namun implementasi terhadap Perda ini belum maksimal, bahkan
tahapan sosialisasi ke pengguna kebijakan belum seluruhnya tersampaikan.
Konflik pengelolaan hutan di Desa Samangki yang sebagian dusunnya berada dalam
kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung belum menggunakan Perda ini sebagai
salah satu basis pijakan pengelolaan konflik oleh para pihak. Pelajaran yang dapat dipetik
dari sini adalah bahwa bukan hanya isi dan kebutuhan akan Perda yang mesti diperhatikan
dalam inisisi kebijakan lokal, tetapi juga memperluas keterlibatan para pihak dan
mensosialisasikan kebijakan dalam momentum yang tepat mesti menjadi bahan pertimbangan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 69

Gambar 10. Sampul Buku Peraturan Daerah Kabupaten Maros No. 05 Tahun 2009 Tentang
Kehutanan Masyarakat

2. Devolusi Kehutanan dalam Kemasan Skema Kehutanan Masyarakat
Tjong (2010) mengungkapkan bahwa pilihan-pilihan masyarakat lokal mengajukan
hak kelola atas kawasan hutan melalui HKm, Hutan Desa, HTR dan Kemitraan (Peraturan
Pemerintah No.3/2008) adalah pelaksanaan devolusi kehutanan. Pemerintah menyediakan
kawasan hutan untuk masyarakat pinggir hutan berpartisipasi dalam pelaksanaan devolusi
kehutanan. Semangat devolusi yang dibawa dalam pelaksanaan Undang-Undang Kehutanan
tahun 1999, melihat tidak mulusnya dekonsentrasi penguasaan hutan dan kawasan hutan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 70

dalam proses otonomi daerah dan pemahaman para pemangku kebijakan di daerah,
dekonsentrasi berwajah devolusi. Termasuk gagasan memasukkan perkebunan sawit dalam
kehutanan.

Otoritas Jenis Otoritas Ecologi Biofisik Mitra Utama Skema KM
Pengelola dan
Pendukung

Kondisi
Penanaman Agroforestri Tanah Mandiri
(Kakao, Hutan
Kelompok Kopi)
Kemasyara
Tani Hutan
katan
Pemelihara Pemerintah
Hutan Alam Kondisi
an Kabupaten, Hutan
Lembaga Geologi Pemerintah
Adat Pusat Kemitraan

Pemanenan Hutan Hutan
Tanaman Desa
Kelompok Tutupan
binaan lahan Hutan
Teknologi LSM
Perusahaan Kebun Tanaman
intensif Rakyat
kelerengan
PHBM
Lembaga Industri
Kelembagaan
Desa dll
Curah
Hujan

Gambar 11. Ragam Faktor Terhadap Pilihan Skema KM

Kemasan Kehutanan Masyarakat adalah momentum yang cukup baik bagi para pihak
dalam memastikan hak kelola masyarakat. Untuk sampai pada tujuan kemandirian
masyarakat dalam otoritas mereka mengelola hutan, berbagai kasus pengelolaan hutan
berbasis masyarakat menunjukkan perbedaan-perbedaan faktor yang menentukan.
Faktor sosial seperti kelembagaan masyarakat, serta jenis otoritas baik yang terberi
maupun diberikan oleh pemerintah, serta faktor pisik serta kelembagaan mitra utama dan
pendukung adalah pertimbangan para pihak dalam menentapkan skema kehutanan
masyarakat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 71

Tetapi yang perlu juga dipertimbangkan tidak semua bentuk pengelolaan hutan atau
yang mengatasnamakan skema kehutanan masyarakat, apapun namanya, jika otoritas hak
kelola yang dimiliki oleh masyarakat terlalu kecil. Kasus seperti ini banyak dijumpai dijaman
hak penguasaan hutan (HPH) yang mengatasnamakan Bina Desa, namun hanya
menempatkan masyarakat sebagai buruh dan sangat kecil otoritas kelola hutan yang
diberikan. Perlu adanya kajian yang lebih lanjut tentang persentase otoritas ini.

3. Level Devolusi : Antara Provinsi dan Kabupaten
Menarik apa yang dibahas oleh Ekawati, dkk bahwa terdapat diskursus dimana level
devolusi itu semestinya diletakkan. Level
Tabel 7.Implikasi dari Masing-Masing Opsi Bentuk Desentralisasi dan Devolusi (Sumber:
Ekawati, dkk (2010))

Implikasi yang harus disiapkan
No. Bentuk Desentralisasi
1 Dekonsentrasi 1. Urusan kehutanan ditarik ke pemerintah pusat
2. Perlu dibentuk unit pelaksana teknis di seluruh
wilayah hutan
2 Delegasi 1. Urusan kehutanan ditarik kepemerintah puswat,
tanggung jawab dan pendanaan oleh pemerintah
pusat
2. Pelaksanan urusan diserahkan ke pemerintah daerag
3. Diperlukan bimbingan dan monev dari pemerintah
pusat yang lebih intensif
3 Devolusi di level provinsi 1. Urusan kehutanan ditarik ke pemerintah provinsi
2. Perlu pengaturan kembali dana bagi hasil dari
sumberdaya hutan
4 Devolusi di level Kabupaten 1. Penguatan peran pemerintah provinsi melalui dana
dekonsentrasi
2. Kewenangan mengatur (pemerintah provinsi) dan
kewenangan mengurus (pemerintah Kabupaten)
5 privatisasi Tidak direkomendasikan untuk desentralisasi
pengelolaan hutan lindung
4. Fasilitasi adalah bagian penting dari Devolusi
Menurut Devkota, Maryudi dan Krott (2010) bawa proses devolusi pembangunan
kehutanan masyar\akat ditentukan oleh kuatnya proses fasilitasi oleh pemerintah atau
lembaga fasilitasi lainnya. Hasil kajian Sahide, dkk (2010) dalam menilai proses
pembangunan Hutan Tanaman Rakyat di Provinsi Sulawesi Selatan adalah bahwa
stakeholder lebih didominansi dari outshpere stakeholders atau stakeholder luar. Stakeholder
luar yang sangat berperan dalam hal ini adalah Pemerintah Kabupaten dan BP2HP.
Sedangkan inside stakeholder adalah petani, Kelompok Tani Hutan, dan atau Koperasi
sebagai pihak pengguna yang siap diberdayakan baik dari sisi pengetahuan, keahlian dan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 72

sikapnya. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat/petani hutan sangat tergantung dengan
komitmen dan dukungan fasilitasi dari pihak luar.
Lebih lanjut lagi Devkota, Maryudi dan Krott (2010) membagi empat tahapan dalam
proses devolusi pembangunan kehutanan masyarakat. Tahapan tersebut antara lain, tahap
inisiasi, tahap pemicu, tahap adimistratif dan tahap pengelolaan. Hal ini dapat dilihat pada
Gambar 13.

Gambar 12. Tahap Devolusi Pembangunan Kehutanan Masyarakat (Diadopsi dari Model Devkota,
dkk, 2010)

Sahide, dkk (2010) mengemukakan bahwa model ini dapat kita jadikan dasar dalam
proses pembangunan Hutan Tanaman Rakyat di Sulawesi Selatan. Setiap tahapan tersebut
diperlukan kejelasan aktifitas, jenis fasilitasi, fasilitator dan ouput fasilitasi. Model Devkota
tadi juga dapat kita lihat dari peraturan yang ada, masyarakat berhak untuk mendapatkan
fasilitasi dari pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten, serta lembaga
pendukung lainnya seperti LSM, perguruan tinggi. Beberapa fasilitasi yang dibutuhkan
tersebut selama satu siklus pembangunan HTR disajikan pada Tabel 4.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 73

Tabel 8.Tahapan Fasilitasi dalam Devolusi Pembangunan HTR di Sulawesi Selatan

Tahapan Aktivitas Jenis Fasilitasi Fasilitator Output Fasilitasi

Inisiasi Sosialisasi Alokasi areal Kesepahaman Para Pihak
HTR Bupati, Lembaga Swadaya dapat berupa MOU, Surat
Masyarakat yang ada di Persetujuan untuk Fasilitasi
Pusat, Provinsi,
Kabupaten/Kota
Formal Pengusulan Sketsa areal penyuluh kehutanan, Surat Pengusulan dan
Handover IUPHHK-HTR penyuluh pertanian, atau Sketsa Peta
dan pejabat yang ditunjuk oleh
Administrasi Bupati/Walikota.

Verifikasi Verifikasi Kepala Desa, BP2HP, Peta
BPKH

Pengukuran dan Pengukuran dan BPKH, pihak Peta
perpetaan perpetaan ketiga/konsultan yang
bergerak di bidang
kehutanan, atas perintah
Kepala Badan Planologi
Kehutanan.

Kelembagaan Membentuk penyuluh kehutanan atau Terbentuknya Kelompok,
kelompok penyuluh pertanian di aturan kelompok
tingkat desa

Bupati, Camat, dan Kepala Kemampuan berwirausaha
penguatan Desa dapat bekerja sama secara bersama, penguatan
kelembagaan dan dengan Lembaga Swadaya pasar, serta berjejaring
peningkatan Masyarakat. (Pelatihan, Penyuluhan dan
kapasitas Jejaring )

Pengelolaan Pembiayaan Pembiayaan BLU, Dana Mitra Modal Usaha

Pembinaan teknis Direktur Jenderal RKU dan RKT
pelaksanaan
pembangunan
HTR

pengawasan dan pengawasan dan Kepala Dinas Provinsi dan Kontrol dan Saran terhadap
pengendalian pengendalian Kepala Dinas RKU dan RKT
pelaksanaan pelaksanaan Kabupaten/Kota
pembangunan pembangunan
HTR HTR

pengendalian dan pengendalian dan Kepala BP2HP Kesepahaman investasi dan
evaluasi evaluasi komitmen pengembalian
penggunaan dana penggunaan dana pinjaman
pinjaman pinjaman
pembangunan pembangunan
HTR HTR

pengawasan pengawasan Kepala Desa Kesepahaman investasi dan
pelaksanaan pelaksanaan komitmen pengembalian
kegiatan kegiatan pinjaman
pembangunan pembangunan
HTR HTR
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 74

Dalam kebijakan pengelolaan Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan Fasilitasi diartikan
sebagai upaya membuat sesuatu hal menjadi lebih mudah. Fasilitasi kepada kelompok
masyarakat dan atau lembaga pengelola (institusi lokal) dilakukan melalui proses
pendampingan artinya pemberi fasilitasi hidup bergaul erat dengan masyarakat yang
difasilitasinya. Dalam Hand Out Kebijakan Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan/Hutan
Desa (Kementerian Kehutanan, 2010) Fasilitasi tersebut bertujuan untuk:
a. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam mengelola organisasi kelompok,
b. Membimbing masyarakat mengajukan permohonan izin sesuai ketentuan yang berlaku,
c. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam menyusun rencana kerja
pemanfaatan hutan kemasyarakatan,
d. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam melaksanakan budidaya hutan
melalui pengembangan teknologi yang tepat guna dan peningkatan nilai tambah hasil
hutan,
e. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia masyarakat setempat melalui
pengembangan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan,
f. Memberikan informasi pasar dan modal dalam meningkatkan daya saing dan akses
masyarakat setempat terhadap pasar dan modal,
g. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam mengembangkan usaha
pemanfaatan hutan dan hasil hutan.
Jenis fasilitasi yang dilakukan minimal meliputi (1). pengembangan kelembagaan
kelompok masyarakat setempat/lembaga desa, (2) pengajuan permohonan izin, (3)
penyusunan rencana kerja hutan kemasyarakatan, (4) teknologi budidaya hutan dan
pengolahan hasil hutan, (5) pendidikan dan latihan, (6). akses terhadap pasar dan modal, dan
(7) pengembangan usaha. Fasilitasi tersebut wajib dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota yang dapat dibantu oleh Pemerintah dan Pemerintah Provinsi. Pelaksanaan
fasilitasi dapat dibantu oleh pihak lain, antara lain perguruan tinggi/lembaga penelitian dan
pengabdian masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, lembaga keuangan, Koperasi dan
BUMN/BUMD/BUMS.
Walaupun fasilitasi tersebut telah terjabarkan secara ringkas dalam beberapa kebijakan
(level kementerian kehutanan, permenhut dan perdirjen) namun multiinterpretasi terkait
fasilitasi masih tetap terjadi. Beberapa praktisi terutama pemerintah daerah mengartikan
fasilitasi dalam wujud yang sangat sektoral. Jika bukan berada dalam otoritas kewenangannya
secara normative, tidak akan menjadi fokus perhatian. Bahkan beberapa klausul fasilitasi
tidak memiliki output yang jelas dalam melaksanakaanya di lapangan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 75

II. Konsep Tenurial

Tenurial sumberdaya menurut Lorenzo dkk (2009) dalam Cotula dan Mayers (2009)
diterminologikan sebagai suatu sistem hak, aturan-aturan, institusi dan proses dalam
mengatur akses dan penggunaan sumberdaya sebagai kunci utama untuk mendistribusikan
resiko, biaya dan manfaat. Ketika tenurial bersifat tidak aman kondisi tersebut membuat
masyarakat setempat menjadi rentan sementara nilai lahan terus meningkat. Tenurial yang
aman akan memberi pengaruh bagi mereka dalam hubungannya dengan pemerintah dan
sektor swasta. Hak sumber daya yang terkontestasi dapat meningkatkan resiko investor,
resiko reputasional sebagai contoh hubungannya dengan kemungkinan ketegangan dengan
kelompok masyarakat setempat. Sistem tenurial menentukan siapa yang memiliki dan siapa
yang dapat menggunakan sumberdaya, berapa lama dan pada kondisi apa
Emila (2010) mengemukakan bahwa konflik pada sistem tenurial yang belum jelas
(konflik tenurial) dalam pengelolaan hutan masih terus berlangsung disebabkan pada
beberapa sebab utama antara lain adalah (a) batas‐batas kawasan hutan yang belum disepakati
bersama oleh Pemerintah dan masyarakat, (b) p enguasaan lahan dalam kawasan hutan (de
facto) oleh masyarakat, dan (c) belum diakomodir dengan baik keberadaan masyarakat dalam
kawasan hutan dalam perencanaan pembangunan kehutanan.

1. Sistem Penguasaan lahan (Tenur) : Studi Kasus Kabupaten Bantaeng
Menurut hasil kajian Fakultas Kehutanan UNHAS dan Pemerintah Kabupaten
Bantaeng pada Tahun 2009 bahwa sistem tenurial yang terdapat pada Wanatani di
Kabupaten Bantaeng yang masih berlangsung dan diakui oleh masyarakat pada daerah
tersebut, yaitu kelernbagaan kepemilikan dan penyakapan lahan, kelernbagaan pengelolaan
lahan, kelembagaan pasca panen, kelembagaan panen. Tenure tersebut secara garis besar
diuraikan sebagai berikut :
Sahide (2010) memberikan contoh di Desa Labbo, menurut rancangan aturan
BUMDES ada beberapa syarat utama yang akan mengelola hutan desa. (1) mereka yang
miskin (2) tidak diperkenankan mengelola lebih dari 0,5 ha. Dengan 2 (dua) aturan utama ini
maka akan terjadi reforma agrarian dikawasan hutan desa Labbo, aka ada diskursus antara
para petani yang sudah terlanjur mengeloa kawasan dan lebih dari 0,5 ha dengan para calon
petani baru. Yang menarik juga di Desa Pattaneteang adalah mereka ingin mengembangkan
mikrohydro yang sumber airnya berasal dari hutan desa, sehingga diperlukan kelembagaan
pembangunan dan pengaturan mikrohydro tersebut. Diperlukan kapasitas yang baik disemua
level baik masyarakat maupun pemerintah untuk tata kelola hutan desa tersebut.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 76

Kawasan hutan yang dijadikan Lahan usahatani ataupun lahan agroforestry kopi yang
terdapat di Kabupaten Bantaeng tidak terdapat kelembagaan pemilikan lahan yang dilakukan
penduduk. Sedang pada laha diluar kawasan hutan, terdapat kelembagaan pemelikan lahan.
Tenurial tradisional yang berlangsung dalam pemilik penggarap ini, yaitu petani mempunyai
hak untuk memperoleh hasil yang diproduksi dari areal agroforestry kopi yang dikelolanya,
termasuk dalam mengembangkannya, seperti penanamannya, pemeliharaan dan peremajaan
kopi.

Teseng
Sistem teseng adalah pemberian lahan hutan kepada orang lain untuk dikelola dengan
cara bagi hasil. Masyarakat yang mengelola lahan wanatani disebut Patteseng. Tenurial
teseng yang dilakukan penduduk, yaitu pada lahan usahatani semusim/hortikultura,
lahanagroforestry kopi, agroforestry cengkeh, coklat dan lahan sawah yang dilakukan oleh
penduduk desa bersangkutan yang mempunyai kelebihan tenaga kerja yang tersedia.
Tenurial teseng pada lahan agroforestry kopi, sistem bagi hasilnya berupa 1 : 1. Satu
bagian hasil dari pemanenan kopi diberikan kepada pemilik lahan, sedangkan satu bagian
sisanya diberikan kepada pa‟teseng. Hal demikian terjadi pula pada teseng agroforestry
cengkeh.
Teseng pada lahan agroforestry kopi, pa‟teseng mempunyai kewajiban/tanggung jawab
untuk memelihara kopi, seperti menyiangi dan memangkasnya. Apabila dilakukan
pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit maka saat pemanenan hasil, biaya-biaya
yang dikeluarkan tersebut dibebankan kepada hasil panen dan menjadi hak bagi pa‟teseng.
Panen kopi yang dibagi dua kepada pemilik dan pa‟teseng adalah setelah dikeluarkan biaya-
biaya budidaya dan pa‟teseng. Gambaran hak dan kewajiban pelaku tenurial Teseng,
diperlihatkan pada Tabel 8.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 77

Tabel 9. Hak dan Kewajiban Pelaku Kelembagaan Penguasaan Lahan Teseng

Uraian Hak dan Kewajiban Pelaku Kelembagaan Wanatani

1. pemilik lahan luas tidak didukung tenaga
kerja memadai menyerahkan lahan yang dimilikinya untuk
Teseng
dikelola oleh orang lain dengan sistem bagi hasil
2. Sistem bagi hasil Wanatani
Distribusi manfaat 1. distribusi pemanfaatan lahan terhadap orang yang tidak
sumberdaya hutan
punya lahan
2. peningkatan fungsi produksi lahah hutan
3. penyerapan tenaga kerja
4. sistem bagi hasil hasil wanatani

Sanra/Panna’gallang
Sistem tenurial sanra adalah kelembagaan yang berlaku pada petani dalam pengelolaan
lahan wanatani dimana pemilik lahan menyerahkan lahannya untuk diusahakan oleh orang
lain dengan ketentuan orang lain menyerahkan jaminan berupa uang kepada pemilik lahan.
Sedang lahan tersebut dikembalikan kepada pemiliknya selama beberapa waktu kemudian
yang telah disepakati bersama. Pada kelembagaan sanra/panna‟gallang ini ada yang
diistilahkan dengan Passanra, yaitu orang yang berhak, mengelola lahan berdasarkan
kesepakatan dengan pemilik lahan. Passanra berhak mengelola lahan tersebut dan seluruh
hasilnya menjadi miliknya. Hasil baru dapat diperoleh pamilik lahan setelah hak sanra telah
berakhir atau jaminan telah diikernbalikan dari pemilik kepada passanra. Nilai jaminan yang
akan dikembalikan ke panna‟gallang setelah hak sanra berakhir berpatokan pada harga kopi,
beras atau harga emas pada saat pengembalian uang, sehingga uang yang dikembalikan oleh
pemilik lahan tidak mutlak harus sama banyaknya dengan jumlah uang yang diambil dari
panna‟gala.
Besarnya nilai sanra pada lahan agroforestry cokelat, yaitu:
1 ha = 2.000.000 – 5.000.000, untuk 3 – 5 tahun. 1 ha = 25.000.000 untuk agroforestry
cengkeh, dimana produksi cengkeh pada lahan tersebut dapat mencapai Rp. 5.000.000,
Coklat Rp. 2.000.000/tahun. Pada lahan sawah yang disanra oleh penduduk desa, biasanya
sanra sawah yang dilakukan sebesar ± 50 juta untuk luasan 0,5 ha dengan produksi sawah
tadah hujan 5 – 6 pikul (1 pikul = 100 liter/tahun). Sanra ini biasanya terjadi pada saat
masyarakat membutuhkan uang secara mendadak sehingga lahan yang dimiliki dapat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 78

dimanfaatkan untuk mendapatkan uang secara cepat disamping tidak menjual lahannya.
Nilai sosial dan ekonomi yang terdapat pada kelembagaan penguasaan lahan sanra (Tabel 7)
adalah memberikan peluang kepada masyarakat yang tidak memiliki lahan atau punya lahan
sempit tetapi mempunyal modal dan kemampuan untuk mengelola lahan, dipihak lain
terdapat masyarakat yang memerlukan modal untuk memenuhi kebutuhan dalam
malaksanakan aktivitas ekonomi lain. Dengan demikian maka masyarakat dalam melakukan
aktivitasnya dapat saling menunjang dalam rangka pernenuhan kebutuban sementara aktivitas
lainnya masih dapat berjalan.
Tabel 10.Hak dan Kewajiban Sistem Tenurial Sanra

Uraian Hak dan Kewajiban Pelaku Kelembagaan Wanatani

1. Peyerahan hak atas lahan milik untuk dikelola orang lain dengan
jaminan berupa uang/emas
Sanra
2. Jaminan dikembalikan oleh Passanra pada batas waktu kesepakatan
3. passanra berhak memungut hasil wanatani pada lahan yang disanranya
tetapi tidak berhak untuk mengambil kebijaksanaan pengelolaan seperti
melakukan peremajaan tanpa sepengetahuan pemilik
Distribusi 1. memanfaatkan modal yang menganggur di masyarakat untuk kegiatan
manfaat produktif
2. memberikan peluang kepada orang-orang yang tidak memiliki lahan
atau lahannya masih sempit, tetapi memiliki modal.

Sanra dan Teseng
Sanra-teseng terjadi pada lahan usahatani hortikultura/semusim, lahan agroforestry kopi
dan/atau cokelat /cengkeh serta pada lahan sawah yang dikarenakan seorang penduduk dalam
desa tersebut mempunyai kemampuan modal untuk melakukan sanra tetapi tidak mempunyai
tenaga kerja dalam pengelolaan lahan sawah, lahan agroforestry kopi atau cengkeh. Sehingga
lahan yang disanra tersebut selanjutnya diberikan kepada anggota keluarga, orang lain yang
dipercaya atau kepada pemilik lahan kembali untuk diteseng. Besarnya bagi hasil dalam
teseng tersebut seperti yang berlaku pada uraian sub bab tenurial teseng dan sanra yang telah
di uraikan sebelumnya.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 79

Sistem tenurial pemanenan

Tenurial pemanenan hasil hutan yang terdapat pada desa-desa yang terdapat kawasan
hutannya di kabupatenBantaeng, meliputi :
1. Sistem upah pada pemanenan kopi dan cengkeh berupa uang atau berupa bagi hasil
panenan kopi. Masyarakat yang memiliki lahan luas sering memerlukan bantuan tenaga
kerja dalam pemanenan kopi dan cengkeh pada saat panen raya kopi dan panen raya
cengkeh. Tenaga kerja yang dipanggil biasanya sanak keluarga atau warga yang kurang
atau tidak memiliki lahan usahatani. Besarnya upah memanen pohon kopi sebesar Rp
5000 per satu karung pupuk urea yang dipanen, sedang untuk pohon cengkeh yang
dipanen sebesar Rp 500 per liter cengkeh yang dipanen. Rendahnya upah memanen kopi
dikarenakan harga kopi yang relatif rendah, juga kemudahan memanen kopi dibanding
memanen cengkeh yang lebih sulit karena harus dipanjat dan memerlukan waktu panen
yang lebih lama.
2. Sistem Massaro padi dilakukan penduduk Desa yang mempunyai waktu bero dari lahan
agroforestry kopi atau agroforestry cengkehnya. Sebagian besar penduduk yang menjadi
tenaga buruh pemanenan padi merupakan petani gurem yang terbatas ataupun tidak
mempunyai lahan, sehingga kecukupan (subsistensi) pangannya tidak mencukupi dari
lahan usahataninya, menyebabkan harus menjadi tenaga buruh pemanenan pada pada
desa-desa penghasil padi, seperti Desa-desa di Kecamatan Banyorang ataupun pada
Desa-desa di kabupaten Bulukumba. Besarnya sistem bagi hasil dalam pemanenan padi
adalah I : 20, yaitu 1 bagian diambil oleh buruh tani pemanen padi, sedang pemilik
sawah memperoleh bagian hasil panen sebesar 19 bagian dari hasil panenan.

2. Sistem Penguasaan lahan (Tenur) : Studi Kasus Pengelolaan Hutan Negeri Liang
Kabupaten Maluku Tengah
Menurut hasil penelitaian Maruapey (2010) memberikan contoh sistem tenurial
komunal bhawa hak kepemilikkan secara bersama pada masyarakat di Negeri Liang terhadap
sumberdaya hutan adalah meliputi sumberdaya lahan beserta segala hasil hutan kayu maupun
non kayu pada wilayah yang menjadi hak kelola/kekuasaan sesuai aturan adat yang
disepakati berdasarkan tiap-tiap kelompok soa dengan masing-masing mata rumah/rumah
tau. Di dalam wilayah hak kelola/kekuasaan seperti ini biasanya batas pemisah yang
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 80

mengatur kekuasaannya itu ditandai dengan batas-batas alam yang meliputi sungai, anak
sungai, dan bukit atau pegunungan sebagai penandanya.
Maruapey (2010) lebih lanjut mengeksplorasi bahwa sistem penguasaan atas
sumberdaya hutan secara bersama ini, semua keluarga atau individu yang termasuk dalam
rumpun atau kelompok soa tersebut memiliki hak mengelola dan menggarap lahan serta
sumberdaya hutan lainnya yang menjadi hak miliki bersama. Masyarakat yang bukan
termasuk dalam kelompok mata rumah/rumah tau yang mempunyai hak mengelola, boleh
masuk kedalam wilayah hutannya, namun hanya sebatas mengambil hasil hutan seperti, kayu
dan non kayu namun yang berkaitan dengan pembukaan lahan hutan untuk pengusahaan
dusung harus melalui ijin resmi dari mata rumah/rumah tau yang mempunyai kekuasaan
kelola. Lahan hak milik bersama tidak diperkenakan untuk diperjual belikan kepada
siapapun baik bagi masyarakat yang ada di dalam negeri maupun masyarakat luar negeri.
Lahan tersebut dapat diperjual belikan baik oleh masyarakat di dalam negeri maupun di luar
negeri (masyarakat pendatang) apabila kawasan hutan yang telah menjadi milik bersama
tersebut telah di dikelola untuk kepentingan pribadinya seperti pengusahaan hutan dusung.
Hak milik pribadi dalam konsepsi komunal
Hak milik pribadi adalah hak kepemilikkan secara utuh yang dimiliki oleh suatu
individu. Kepemilikkan seperti ini akan didapat secara utuh dan menjadi hak individu
masyarakat tertentu dalam kelompok soa apabila kawasan hutan yang menjadi hak milik
bersama tersebut telah dikelolanya untuk kebutuhan hidupnya seperti pembukaan
ladang/kebun dan telah diketahui bersama. Sepanjang belum ada yang mengelolanya, maka
kepemilikkan itu masih tetap menjadi milik bersama seluruh anggota mata rumah/rumah tau.
Dalam pengelolaan areal hutan, walaupun tidak ditanami dengan tanaman-tanaman
berupa buah-buahan dan lain sebagainya, namun status kepemilikkan lahan tetap menjadi
miliknya. Hal ini dikarenakan dia merupakan orang pertama dalam melakukan pengelolaan
pada kawasan hutan yang telah menjadi hak milik bersama. Begitupun apabila ditanami
dengan buah-buahan, maka kepemilikkan atas lahan dan tanaman akan menjadi hak miliknya
dengan sistem kepemilikkan dapat diwariskan kepada anak atau istrinya.
Batas yurisdiksi
Konsep batas yurisdikasi yang berarti batas wilayah kekuasaan atau batas otoritas,
dalam masyarakat di Negeri Liang ditandai dengan adanya wilayah adat. Wilayah adat
dikenal oleh masyarakat sebagai dati. Dati merupakan tanah atau wilayah adat yang
mengatur hak masyarakat baik dalam negeri maupun yang berada di luar negeri terhadap
wilayah kekuasaannya atas sumberdaya hutan. Dasar wilayah dati berdasarkan penuturan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 81

masyarakat dikarena sejak dulu wilayah-wilayah tersebut telah didiami oleh para leluhur
terdahulu mereka dengan sistem pembagian yang diatur secara adat berdasarkan tiap-tiap
mata rumah/rumah tau yang ada dalam negeri maupun diluar negeri dengan otoritas
pengelolaannya diatur berdarkan masing-masing mata rumah/rumah tau.
Dengan konsep otoritas ini, tiap-tiap soa dengan mata rumah atau rumah tau-nya
masing-masing mempunyai hak mengatur dan menjaga sumberdaya hutan yang dikuasainya
bersama dan mempunyai hak memberikan ijin kepada masyarakat yang ada di dalam negeri
maupun di luar negeri yang ingin melakukan pembukaan lahan pada wilayah yang
dikuasainya.
Aturan representatif
Aturan representatif mengatur permasalahan partisipasi masyarakat dalam
pengambilan keputusan terkait dengan apa yang boleh diakses dan siapa yang boleh
mengakses lahan hutan. Berkaitan dengan pengelolaan sumberdayaan hutan, terdapat dua
bentuk proses pengambilan keputusan yang biasa dilakukan oleh masyarakat, yaitu bentuk
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seluruh perwakilan mata rumah/rumah tau dan
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kepala mata rumah/ rumah tau.
Bentuk pengambilan keputusan yang dilakukan oleh perwakilan seluruh anggota mata
rumah/ rumah tau ini biasanya berkaitan dengan aktifitas pengelolaan yang dilakukan oleh
pihak-pihak luar. Sedangkan untuk pengambilan keputusan yang dilakukan hanya melalui
perwakilan kepala mata rumah/rumah tau ini dilakukan hanya sebatas kepada masyarakat
yang ingin melakukan aktifitas perladangan atau membuka hutan dusung pada wilayah yang
menjadi kekuasaan kelolaanya

III. Kelembagaan

1. Konsepsi Kelembagaan
Menurut Djogo, dkk (2003) bahwa ilmu atau teori terkait kelembagaan dibahas oleh
berbagai bidang antara lain sosiologi, antropologi, hukum dan politik, organisasi dan
manajemen, psikologi, ilmu lingkungan yang kemudian berkembang ke dalam ilmu ekonomi
karena kini mulai banyak ekonom berkesimpulan bahwa kegagalan pembangunan ekonomi
umumnya karena kegagalan kelembagaan. Stiglitz (1986) dalam Djogo, dkk (2003)
menjelaskan bahwa :
a. kelembagaan menurut bidang sosiologi dan antropologi kelembagaan banyak ditekankan
pada norma, tingkah laku dan adat istiadat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 82

b. kelembagaan menurut bidang bidang ilmu politik kelembagaan banyak ditekankan pada
aturan main (the rules) dan kegiatan kolektif (collective action) untuk kepentingan
bersama atau umum (public)
c. kelembagaan menurut bidang ilmu psikologi melihat kelembagaan dari sudut tingkah laku
manusia (behaviour)
d. kelembagaan menurut ilmu hukum menegaskan pentingnya kelembagaan dari sudut
hukum, aturan dan penegakan hukum serta instrumen dan proses litigasinya.
e. Pendekatan ilmu biologi, ekologi atau lingkungan melihat kelembagaan dari sudut analisis
system lingkungan (ecosystem) atau sistem produksi dengan menekankan struktur dan
fungsi system produksi atau system lingkungan kemudian dapat dianalisis keluaran serta
kinerja dari system tersebut dalam beberapa karakteristik atau kinerja (system performance
atau system properties) seperti produktivitas, stabilitas, sustainabilitas, penyebaran dan
kemerataanya.
f. Ilmu ekonomi yang berkembang dalam cabang barunya ilmu ekonomi institusi baru (neo
institutional economics) melihat kelembagaan dari sudut biaya transaksi (transaction
costs) dan tindakan kolektif (collective action), di dalam analisis biaya transaksi termasuk
analisis tentang kepemilikan dan penguasaan sumber daya alam atau faktor produksi
(property rights), ketidak-seimbangan akses dan penguasaan informasi (information
asymmetry) serta tingkah laku opportunistik (opportunistic behaviour). Ilmu ekonomi
institusi baru ini sering pula disebut sebagai ilmu ekonomi biaya transaksi (transaction
costs economics) sedangkan yang lain menyebutkannya sebagai paradigma informasi yang
tidak sempurna (imperfect information paradigm)

Kotak 6. Persoalan Kelembagaan KM
Banyak program pemerintah yang gagal karena persoalan kelembagaan yang sangat lemah,
orientasi pembangunan terkadang lebih cenderung berorientasi pada fisik namun
pembangunan kelembagaan terkadang tidak menjadi perhatian utama. Kehutanan
masyarakat memerlukan kelembagaan yang kuat karena kompleksitas hubungan antara
pihak, administrasi negara karena terkait kawasan hutan negara, dan kearifan masyarakat
lokal dan keberpihakan terhadap kaum miskin serta memperhatikan gender. Dengan
demikian persoalan kelembagaan mesti dilihat dari beragam perspektif dengan dukungan
dari bidang tingkah laku organisasi, psikologi, sosiologi, anthropologi, hukum dan ekonomi
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 83

Sebagian pakar spesialis kelembagaan hanya memusatkan perhatian pada kode etik,
aturan main, sedangkan sebagian hanya melihat pada organisasi dengan struktur, fungsi dan
manajemennya. Kebanyakan analisis kelembagaan saat ini memadukan organisasi dan aturan
main. Analisis mungkin akan menjadi lebih kompleks tetapi bisa dicari hal-hal pragmatis
yang bisa diterjemahkan ke dalam strategi pengembangan. Logika analisis institusi bisa
dipakai untuk menjelaskan kegagalan pemerintah dan negara atau kegagalan pasar atau

2. Memori Kolektif dan Kelembagaan
Menurut Putranto (2006) bahwa memori kolektif adalah istilah yang diciptakan oleh
filsuf dan sosiolog Maurice Halbwachs (1877 – 1945), dalam bukunya yang berjudul Les
cadres sociaux de la mémoire (1925), memisahkan pengertian dari memori
individual.Memori kolektif ini bersama, diteruskan dan juga dibangun oleh kelompok.
Memori kolektif dapat berperan sebagai memorikultural dan dapat juga sebagai memori
komunikatif,memori kultural merupakan memori dari kejadian yang telah lampau
membentuk sebuah kebiasaan baru pada masyarakat sekarang, sedangkan
memorikomunikatif merupakan memori tentang sesuatu yang lampau disampaikan melalui
sebuah simbol.
Memori kolektif inilah yang menjadi fondasi yang kokoh bagi suatu
kelembagaan.pengelolaan hutan di Indonesia. Maysrakat lokal sebagaimanapun mereka
dipisahkan keterhubungannya dengan hutan, mereka masih menyisakan tradisi lisan bahwa
nenek moyang mereka pernah mengelola hutan dengan arif. Memori kolektif dari suatu
komunitas ini yang terkadang ditransformsikan menjadi kelembagaan lokal dalam mengelola
sumberdaya hutan.
Terkadang seorang penilai kelembagaan hanya mempertanyakan syarat administrasi
suatu kelembagaan kelompok tani, seperti strukturnya, apakah ada aturannya seperti
AD/ART, apakah ada mekanisme laporan keuangan dan catatan pelaporan dokumennya. Hal
yang sering luput adalah menanyakan kohesifitas sosial kelembagaan lokal tersebut, dan
indicator yang substantial dapat kita lihat adalah seberapa dalam memori kolektif yang
terbangun dalam kelembagaan itu sendiri.
Teori kelembagaan disini sangat berguna untuk melihat bagaimana aturan main
Kehutanan Masyarakat telah dibuat, apakah dapat mendorong cita-cita Kehutanan
Masyarakat, bagaimana aturan tersebut dikaitkan dengan aturan yang ada secara informal,
infrastruktur kelembagaan yang ada, permasalahan kelembagaan, organisasi, dan bagaimana
kebijakan Kehutanan Masyarakat dapat didukung oleh kelembagaan yang memadai dan baik.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 84

Selain itu juga akan digunakan dalam melihat interaksi antar actor dalam pengembangan
Kehutanan Masyarakat, relasi kekuasaan, dan bagaimana aturan main/mekanisme
kelembagaan diinternalisasikan serta berjalan di tingkat lapangan.
Faktor pendorong berkembangnya kehutanan masyarakat di Sulawesi Selatan, yaitu
adanya potensi kelembagaan formal dan non formal dalam pengurusan hutan, pengelolaan
lahan, pemanenan, dan industri pengolahan kayu. Meskipun tidak dipungkiri kelembagaan
yang tersebut masih mempunyai kelemahan yang perlu penguatan kelembagaan secara terus
menerus, sesuai tuntutan perkembangan teknologi pengelolaan hutan, dan perkembangan
demografi.

Gambar 13. Potensi Hutan Jati Rakyat di Pegunungan Desa Batu Putih (Foto :
Supratman)
Hakim (2010) mengungkapkan bahwa setidaknya ada enam isu pokok dalam aspek
kelembagaan pemberdayaan masyarakat sektor kehutanan yakni: pertama, kurangnya peran
dan sinergitas diantara para pihak (stakeholder), baik sinergitas antar sektor maupun antar
tingkat pemerintahan; kedua, lemahnya akses masyarakat terhadap modal (finansial, lahan,
saprodi), pasar, iptek, informasi, dan dalam proses pengambilan kebijakan; ketiga,
melemahnya social capital (kepercayaan, kebersamaan, partisipasi, jejaring) masyarakat yang
diberdayakan; keempat, kesenjangan antara kebijakan dan pelaksanaan; kelima, lemahnya
posisi tawar masyarakat dalam kemitraan pengelolaan sumber daya hutan; dan keenam,
lemahnya data dan informasi tentang masyarakat di dalam dan sekitar hutan serta kurangnya
kepedulian terhadap data
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 85

Menurut Sahide, dkk (2011) mencotohkan sistem kelembagaan pembangunan HTR
yang diatur di dalam beberapa kebijakan yang ada pada saat ini belum berjalan secara efektif
oleh karena fasilitasi yang dilaksanakan tidak menghasilkan output sesuai dengan yang telah
digariskan oleh kebijakan yang ada. Artinya bahwa potensi kelembagaan lokal masyarakat
belum mampu dioptimalisasi, direvitalisasi untuk skema atau program kehutanan masyarakat
seperti HTR
Kelembagan formal yang mendukung berkembangnya hutan tanaman rakyat di
Sulawesi Selatan, yaitu adanya instansi kehutanan di Tingkat Provinsi dan Kabupaten
beserta perangkat peraturan pelayanan publik dan aturan pengelolaan hutan dan industri
pengolahan kayu. Aturan formal lainnya, yaitu hampir disemua kabupaten/kota telah
mempunyai perda tentang perizinan pemanfaatan kawasan, dan izin pemanfaatan kayu tanah
milik (IPKTM) . Namun dalam implementasinya tidak diimbangi pelayanan yang dapat
menciptakan harga yang dapat menguntungkan petani dan juga tidak mendorong masyarakat
mengelola hutannya secara lestari, bahkan dikonversi ke penggunaan lain. Menurut hasil
diskusi dengan petani pemilik hutan bahwa usaha ini kurang menguntungkan dibanding
dengan mengusahakan tanaman perkebunan atau tanaman semusim.
Program pemerintah di bidang kehutanan yang juga mendukung berkembangnya hutan
tanaman rakyat, yaitu adanya fasilitasi pembentukan kelompok-kelompok tani yang disertai
dengan pelatihan teknologi pengelolaan hutan, yang juga mendorong teradopsinya teknologi
budidaya dibidang kehutanan, seperti pengenalan jenis tanaman/pohon penghasil kayu dan
buah (jati, kemiri, sengon, jati putih, kopi, kemiri, jambu mete, dll). Program yang
memberikan efek tularan dampak tersebut, seperti program Kebun bibit Desa (KBD),
program penghijauan, dll.
Kelembagaan non formal yang juga mendorong berkembangnya hutan tanaman rakyat,
yaitu adanya kelompok-kelompok tani atas inisiatif dari pelaku wanatani sendiri, seperti
kelompok-kelompok peladang gilir balik di berbagai kabupaten, kelompok sistem tongkonan
di tanah toraja, kelompok patron-klien (Tuan tanah dengan kliennya), dan kelompok-
kelompok jaringan usaha petani/wanatani–pedagang–industri pengolahan kayu hulu–industri
pengolahan kayu hilir-industri pengolahan kayu finishing. Kelembagaan non formal tersebut
dsamping telah mempunyai aturan tidak tertulis, juga sering membutuhkan dan
menggunakan aturan-aturan formal dan pelayanan publik dalam melakukan kegiatannya,
seperti penggunaan perizinan IPKTM, perizinan dokumen peredaran kayu, dll.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 86

3. De-institusionalisasi di kalangan Masyarakat Lokal
Sardjono (2004) mengemukakan bahwa kebudayaan memang harus dipahami dan
tidak seharusnya bersifat static, melainkan senantiasa dinamis, akan tetapi disis lain
masyarakat lokal sendiri tiidak memiliki kesempatan yang cukup untuk menyaring dan
menyepakati nilai-nilai baru yang dikenalnya akibat gempuran budaya yang bertubi-tubi dari
luar.
Dapat dicontohkan misalnya migrasi yang besar dari masyarakat bugis dan Makassar
ke beberapa wilayah di Sulawesi Tenggara, telah mengakibatkan akulturasi kebudayaan,
walaupun sesungguhnya telah banyak hubungan kebudayaan yang telah ada sebelumnya.
Namun, yang menarik juga, bahwa kelembagaan lokal masyarakat asli mulai terjadi de-
institusionalisasi yang seakan mengubur nilai-nilai dan identitas kultural masyarakat.

4. Contoh Kelembagaan Lokal di Negeri Liang Kabupaten Maluku Tengah
Titahelu (2005) dalam Marapey (2010) mengungkapkan bahwa Saniri negeri adalah
lembaga adat ditingkat negeri yang terdiri dari raja, kepala-kepala soa, marinyo, dan kewang.
Lembaga saniri negeri bertugas sebagai lembaga legislatif negeri dalam mengambil
keputusan-keputusan yang dilaksanakan oleh raja dan masyarakat. Adapun hirarki dari
sistem pemerintahan adat Negeri Liang dan Negeri adat lain di Maluku disajikan pada
gambar 15.

Raja Saniri Negeri

Sekretaris/Juru Tulis

Kepala Soa Kepala Soa Kepala Soa

Kepala Kewang

Marinyo

Masyarakat

Gambar 14. Struktur Kelembagaan Adat Negeri Liang (Sumber: Muarapey, 2010)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 87

Marapey (2010) kemudian memberikan deskripsi tentang struktur tersebut dapat
dilihat pada Tabel 11
Tabel 11. Deskripsi Kelembagaan Adat Negeri Liang

No. Jabatan Deskripsi
1 Raja Pimpinan lembaga adat yang melaksanakan tugas memimpin negeri
setiap hari atau sebagai suatu lembaga eksekutif dengan dibantu oleh
lembaga-lembaga adat lainnya seperti kepala soa, marinyo, dan kewang.
Raja berfungsi sebagai kepala pemerintahan negeri sekaligus sebagai
kepala adat.

2 Kepala Pimpinan dari suatu Negeri yang di dalamnya terdiri atas perwakilan
soa
dari beberapa mata rumah/rumah tau. Kepala soa berfungsi sebagai
pembantu raja dalam melaksanakan pemerintahan negeri serta
berkedudukan sebagai pembantu raja dalam menyelenggarakan
permusyawaratan/pemufakatan masyarakat di Negeri. Selain itu kepala
soa berfungsi menampung dan menyalurkan aspirasi serta pendapat
masyarakat di dalam soa-nya.
3 Juru tulis Berkedudukan sebagai unsur staf pembantu raja dengan tugasnya
menjalankan administrasi pemerintahan Negeri untuk memberikan
pelayanan administari kepada masyarakat. Apabila raja berhalangan,
juru tulis wajib melaksanakan administrasi pemerintahan dan fungsi-
fungsi raja bersama-sama dengan kepala-kepala soa dan melaporkan
kepada raja apabila sudah dilaksanakan.
3 Kewang Menjaga dan mengawasi lingkungan negeri baik di darat maupun di laut
(polisi
serta memelihara perbatasan Negeri yang meliputi hutan dan kebun-
negeri)
kebun supaya terawat dengan baik. Kewang melakukan sasi terhadap
seluruh hasil-hasil hutan dan laut sesuai dengan kesepakatan warga
masyarakat untuk melindungi hasil-hasil tersebut sebelum waktu panen.
Kewang mempunyai tugas melakukan pengontrolan di hutan dan laut
agar jangan sampai warga masyarakat melakukan pengrusakan di laut
dan pencurian di hutan
4 Marinyo Bertugas menyampaikan berita dari raja kepada staf pemerintahan yang
lain dan kepada masyarakat secara umum. Tugas menyampaikan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 88

informasi dalam bentuk pengumuman resmi kepada masyarakat, baik
secara lisan maupun tulisan yang disepakati oleh raja, serta
mengantarkan surat-surat panggilan kepada warga masyarakat yang
membuat tindakan kejahatan berupa melanggar aturan di dalam negeri
untuk menghadap staf negeri.

PENUTUP

Penugasan

Soal latihan :

a. Jelaskan konsep kelembagaan, tenurial dan devolusi dalam kehutanan masyarakat?
b. Jelaskan hubungan memori kolektif dengan kelembagaan ?
c. Jelaskan hubungan devolusi, dekonsentrasi dan otonomi daerah?
d. Jelaskan hubungan konflik pengelolaan hutan dengan sistem tenurial?
e. Jelaskan masing-masing contoh kasus dari ketiga konsep diatas?

DAFTAR PUSTAKA

Cotula, L. dan Mayers, J. 2009. “Tenure in REDD – Start-point or afterthought?”
Natural Resource Issues No. 15. International Institute for Environment and
Development. London

Devkota R, Maryudi A, Krott M, 2010. Paradoxes of Community Forestry: Formal
Devolution Covering Informal Expansion of State Control – Cases from Nepal and
Indonesia. Community Forestry Working GroupInstitute for Forest and Nature
Conservation Policy, Georg August University Goettingen, Germany

Djogo Tony, Sunaryo, Suharjito Didik, Sirait Martua. 2003. Kelembagaan dan Kebijakan
dalam Pengembangan Agroforestri. Bahan Ajaran Agroforestry 8. ICRAFT.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 89

Ekawati S., Kartodihardjo H.,, Nurrochmat D. R., Dwiprabowo H., Hardjanto. 2011.
Analisis Proses Pembuatan dan Implementasi Kebijakan Desentralisasi Pengelolaan
Hutan Lindung (Studi Kasus di Tiga Kabupaten dalam DAS Batanghari). http://forda-
mof.org/files/makalah%20ibu%20eka%20diskusi%20ilmiah.pdf diakses tanggal 18
Maret 2012

Ekawati S., Kartodihardjo H.,, Hardjanto. , Dwiprabowo H., Nurrochmat D. R. 2011. Proses
Pembuatan Kebijakan Pembagian Kewenangan Antar Tingkat Pemerintahan
Dalam Pengelolaan Hutan Lindung Dan Implementasinya Di Tingkat Kabupaten.
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. Vol. 8 No. 2, Agustus 2011 : 132 – 15.
http://www.forda-mof.org/files/3.%20Sulistya%20Ekawati.pdf diakses tanggal 18
Maret 2012

Emila, 2010. Analisis Land Tenure dalam Pengelolaan KPH. Presentase disampaikan pada
Workshop Pembelajaran KPH Workshop Pembelajaran KPH IPB ICC, 31 Mei- 1 Juni
2010. http://www.wg-tenure.org/file/Makalah/presentasi-pembelajaran-KPH_materi-
website.pdf, akses tanggal 1 Desember 2011

Fakultas Kehutanan UNHAS , Pemkab Bantaeng, 2009. Laporan Rancang Bangun Kesatuan
Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Bantaeng.

Hakim I., 2010. Orientasi Makro Kebijakan Social Forestry di Indonesia. Halaman 1 –
28, dalam Tulisan Social Forestry Menuju Restorasi Pembangunan Kehutanan
Berkelanjutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan.
http://www.redd-indonesia.org/images/abook_file/Social-Forestry.pdf diakses tanggal
18 Maret 2012

Kementerian Kehutanan, 2010. Hand Out Kebijakan Penyelenggaraan Hutan
Kemasyarakatan/Hutan Desa. Direktorat Bina Perhutanan Sosial Direktorat
Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial

Muarapey A., 2010. Kelembagaan Lokal dalam Pengelolaan Hutan Di Negeri Liang
Kabupaten Maluku Tengah. Jurnal Hutan dan Masyarakat., Vol. 5, No.1, 2010: 29 -
37. Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan, Fakultas Kehutanan
UNHAS.

Putranto Hendar. 2006. Memori Sosial Pasca-Bencana: Mungkinkah?.
http://hendar2006.multiply.com/journal/item/24/esai_Memori_Sosial_pasca-
bencana. diakses tanggal 18 Maret 2012

Sahide, M. A. K., Supratman. , Dassir M., Junus M., Mahbub A.S., Makkarennu, 2010.
Studi Implementasi Program Hutan Tanaman Rakyat di Sulawesi Selatan. Balai
Penelitian dan Pengembangan propinsi Sulawesi Selatan

Sardjono M.A., 2004. Mosaik Sosiologis Kehutanan: Masyarakat lokal, politik dan
Kelestarian Sumberdaya. Debut Press. Samarinda
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 90

Suharjito Didik. 2009. Devolusi Pengelolaan Hutan di Indonesia: Perbandingan
Indonesia dan Philipina. JMHT Vol. XV, (3): 123–130, Desember 2009, Pemikiran
Konseptual, ISSN: 2087-0469

Tjong. 2010. Dekonsentrasi Berwajah Devolusi.
http://kpshk.org/index.php/artikel/read/2010/02/23/627/dekonsentrasi-berwajah-
devolusi.kpshk diakses tanggal 16 Maret 2012, KPSHK
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 91

BAB V. KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN DAN KEHUTANAN
MASYARAKAT

PENDAHULUAN

I. Tujuan Instruksional

1. Mahasiswa mampu menganalisis konsep Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)
2. Mahasiswa mampu mensintesa keterhubungan KPH dan KM

II. Proses pembelajaran

Pada pembelajaran ini akan dipakai metode brainstorming dengan fokus pada
kelompok-kelompok kecil mahasiswa yang akan mendiskusikan Kesatuan Pengelolaan Hutan
dan Kehutanan Masyarakat

Pada tahap pertama;

Dosen mengulas secara singkat ruang lingkup bahasan terkait analisis keterkaitan konsep
Kesatuan Pengelolaan Hutan dan konsep Kehutanan Masyarakat

Pada tahap kedua;

Dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan sub
bahasan. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok dan dilakukan selama 40
menit dengan sebelumnya membagikan handout tentang tema dan sub tema tersebut. Dosen
mencatat semua aktifitas diskusi dan mengevaluasi keaktifan mahasiswa.

Pada tahap ketiga;

Dosen memberikan evaluasi terhadap hasil diskusi kelompok dan menghubungkannya
dengan tema bahasan analisis potensi usaha masyarakat dalam kawasan hutan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 92

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Konsep dan Diskursus Kesatuan Pengelolaan Hutan

Kesatuan pengelolaan hutan (KPH) adalah suatu intitusi pengelola hutan yang mengelola
ditingkat tapak. Tapak adalah unit kelola terkecil dalam wilayah pengelolaan hutan. KPH ini
kemudian menjadi menarik ketika terjadi kekosongan pengelolaan hutan kecuali di Pulau
Jawan dan kawasan Konservasi. Kalau di kawasan konservasi telah memiliki unit yeng
berfungsi sebagai KPH seprti Balai Taman Nasional, Balai Konservasi Sumber Daya Alam,
namun di wilayah kawasan hutan lindung dan hutan produksi terjadi kekosongan. Dipulau
Jawa dengan sangat mudah kita dapat melihat peran Perum Perhutani sebagai BUMN telah
berfungsi sebagai KPH pengelola hutan ditingkat tapak, namun diluar pulau Jawa juga ada
PT. INHUTANI, namun tidak semua wilayah hutan terkelola oleh perusahaan ini dan juga
perusahaan tersebut mengalami beberapa kemunduran baik secara finansial maupun
pengurangan wilayah otoritas. Sehingga banyak sekali wilayah hutan belum memiliki
institusi pengelola hutan. KPH diharapkan oleh para pihak bukan hanya sekedar untuk
mengisi kekosongan tersebut, tetapi juga menjalankan mandat pengelolaan hutan yang bukan
hanya bervisi bisnis tetapi juga bervisi ekologis dan sosial.

Kotak 7. Ilustrasi Struktur KPH
Kalau di sektor kesehatan ada Dinas Kesehatan yang menangani pengurusan sektor
kesehatan dan ada juga Rumah Sakit yang menangani pengelolaan pasien. Disektor
pendidikan terdapat Dinas Kesehatan untuk mengurusi kebijakan pendidikan dan juga
terdapat Institusi Sekolah yang mengelola aktifitas pembelajaran guru dan siswa. Maka,
disektor kehutanan selayaknya juga terdapat pengurusan dan juga pengelolaan. Ilustrasi
diatas juga memungkinkan adanya Dinas Kehutanan dan juga terdapat KPH yang
mengelola tapak

Kebijakan yang sedang dikembangkan saat ini telah sampai pada tahap ujicoba dan atau
pembanguna model KPH yang difasilitasi oleh Kementerian Kehutanan (pemerintah pusat)
melalui landasan hukum PP No 6/20071 serta dukungan kebijakan dari Kementerian Dalam
Negri. Ngakan, dkk (2008) dalam hasil kajiannya mengungkapkan berbagai diskursus yang
menarik antara lain dengan semakin banyaknya lembaga yang mengurusi obyek yang sama,
“koordinasi” menjadi sangat penting., namun dalam prakteknya, koordinasi hanyalah sebuah
kata yang mudah diucapkan namun tidak mudah diimplementasikan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 93

Lebih lanjut lagi Ngakan, dkk (2008) membicangkan tema perwilayahan KPH yang
akan sangat erat kaitannya dengan kelembagaan dan pembiayaan operasional dalam
menjalankan institusinya.
Kuantitas KPH perlu dipertimbangkan karena terkait dana yang sangat besar dan jika
tidak terkelola dengan baik maka akan membebani APBN dan APBD. Tetapi
menggabungkan KPH secara sembarangan juga akan menghilangkan filosopi utama KPH
yakin pengelolaan di unit terkecil atau tingkat tapak. Saat ini pemerintah cenderung hanya
menetapkan wilayah KPH yang luas dengan melihat mayoritas fungsi kawasan, misalnya jika
di wilayah KPH tersebut adalah kawasan hutan lindung waka ditetapkan sebagai KPH
Lindung, walaupun didalamnya ada kawasan hutan produksi dan kawasan konservasi,
sehingga diharapkan penggabungan pengelolaan kawasan hutan tersebut dalam bentuk satu
KPH memungkinkan terjadinya efisiensi pengelolaan.
Untuk lebih memudahkan pembaca, penulis mengeksplorasi beberapa pertanyaan-
pertanyaan kunci seputar KPH, antara lainb :
a. Jika pemerintah yang mengurusi pengelolaan hutan dalam bentuk KPH, apakah hal
tersebut dapat menimbylkan konflik pengurusan dan pengelolaan?
b. Jika Swasta yang mengurusi pengelolaan hutan dalam wujud KPH, bagaimana
memastikan hutan sebagai hajat hidup orang banyak dapat melestarikan fungsi sosial dan
ekologisnya?, bagaimana mengelola eksternalitas pengelolaan?, bagaimana mengelola
konflik masyarakat lokal dan perusahaan swasta?
c. Jika pemerintah yang mengurusi pengelolaan hutan dalam bentuk KPH, dilevel mana
semestinya harus diletakkan?
d. Apakah hubungan Perum Perhutani (lembaga BUMN) sebagai KPH dipulau Jawa, dapat
direplikasi diluar pulau Jawa? Bagaimana analisis konteksnya?
e. Bagaimana sistem pendanaan KPH? Apakah akan membebani APBN ?

II. Ambiguitas Pendekatan : Antara Pendekatan DAS, Wilayah Admistratif
Kabupaten, dan Entitas Lokalitas Tapak

Tema pewilayahan KPH tidak semudah yang dibayangkan, berbagai kepentingan juga
mesti turut dipertimbangkan. Jika kita kembalikan semata kepada filosopi KPH yang
bermuatan pengelolaan tapak, maka semestinya pewilayahan KPH harus mempertimbangkan
entitas lokalitas tapak. Namun, aspek sosio-politik lainnya mesti juga dipertimbangkan.
Contoh kasus ketika KPH di sulawesi Selatan hendak ingin diusulkan untuk menjadi model.
Terjadi perbincangan yang cukup serius apakah KPH tersebut mengacu pada pendekatan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 94

DAS?, kemudian DAS yang seperti apa? Apakah DAS dengan skala yang besar? Ataukah
DAS dengan skala yang kecil?.

Gambar 15. Pewilayahan Lembaga KPH Lindung (Sumber : Ekawati, dkk, (2011))

Ketika model KPH yang berorientasi DAS besar tersebut diusulkan ke Kemnetrian
Kehutanan, pihak Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan banyak yang melakukan
protes, bahwa kewenangan mereka dalam mengelola hutan seakan dipangkas, karena model
KPH yang diusulkan sebagain besar lintas Kabupaten. Pendekatan DAS sebagai basis
argumentasi pengusulan juga dijadikan argumentasi oleh Dinas Kehutanan Kabupaten, bahwa
mereka juga memiliki banyak DAS dengan skala yang kecil.
Gambar ... dari hasil kajian Ekawati, dkk, (2011)) yang menganalisis penentuan lembaga
pengelola KPH di kawasan hutan linndung. Dari gambar tersebut, menarik untuk dicermati
bahwa dalam menentukan KPH mesti memperhatikan karakteristik pemanfaatan hutan, dan
ruang lainnya sehingga penentuan organisasi induk sebagai payung KPH mesti mampu
menganalisis beragam konteks lokalitas yang bekerja dalam suatu wilayah.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 95

III. Partisipasi publik dalam inisiasi, pewilayahan dan pengendalian ruang KPH

Kementerian Kehutanan telah merespon ide pembentukan seluruh KPH di Indonesia.
Kementerian Kehutanan saat in juga menyiapkan kebijakan untuk mengakselerasi
pembentukan KPH tersebut. Pembangunan KPH dijadikan sebagai salah satu indikator
kinerja utama sukses atau tidaknya Kementerian Kehutanan tahun 2010-2014.Terkhusus
kepada KPH Produksi dan KPH Lindung, telah terbit peraturan perundangan pedoman
kelembagaan KPH yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 tahun 2010 tanggal 23
Desember 2010 tentang Pedoman organisasi dan tata kerja kesatuan pengelolaan hutan
lindung dan kesatuan pengelolaan hutan produksi di daerah. Kementerian kehutanan akan
menginisiasi pembentuksn KPH Model dengan memfasilitasi pembiayaan pembangunannya,
termasuk adalah penyediaan sarana dan prasarana KPH seperti kantor, kendaraan operasional
dan peralatan pendukung lainnya.
Berbagai aktifitas sosialisasi dan konsultasi publik pembentukan KPH di berbagai
daerah dilakukan. Namun, yang mesti diperhatikan adalah seberapa besar partisipasi publik
dalam sosialisasi maupun konsultasi publik tersebut. Indikatornya bukan seberapa besar
partisipasi para pihak, namun juga konsistensi dan pemahaman tentang KPH mesti menjadi
indicator. Tenggang waktu yang diberikan kepada publik untuk menyerap makna KPH mesti
diberikan ruang yang lebih luas, agar nantinya publik mengerti akan tujuan KPH dan yang
lebih penting publik memiliki hak dalam perencanaan tersebut. Dalam PP 69/1996
masyarakat berhak untuk (a) berperan serta dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan dan
pengendalian; (b) mengetahui secara terbuka semua rencana tata ruang (melalui Lembaran
Negara atau Daerah yang perlu disebarluaskan); (c) menikmati manfaat ruang; dan (d)
memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pelaksanaan
kegiatan pembangunan yang sesuai dengan tata ruang (melalui musyawarah antara pihak
yang berkepentingan). Pasal 30 dalam PP yang sama menyebutkan bahwa Lembaga
Pemerintah berkewajiban untuk membina peran serta masyarakat tersebut dengan
menyebarluaskan informasi kepada masyarakat secara terbuka, menghormati hak masyarakat,
memberikan penggantian yang layak, dan menindaklanjuti saran, usul dan keberatan
masyarakat.
Yang sering mengemuka bahwa konsultan pewilayahan KPH bukan semata-mata
suatu kegiatan yang rasionalistik, teknis dan estetis tetapi merupakan pula proses sosial
politis yang dinamis, hal ini juga sesuai dengan teori yang diungkapkan Forester (1989).
Tidak jarang hasil pewilayahan ruang dalam pembangunan menghasiulkan konflik yang
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 96

berkepanjangan. Runag publik tidak boleh hanya diselesaikan lewat peta, namun mesti
dikonsultasikan dan mendapat mandate sosial yang kuat dari masyarakat termasuk
pewilayahan ruang KPH
Contoh kasus, ketika Lima Bupati dari Kalimantan Tengah menggugat Menteri
Kehutanan terkait pengukuhan kawasan hutan di wilayah mereka, akhirnya Keputusan MK
yang memenangkan gugatan 5 Bupati di Kalimantan Tengah terhadap Pasal 1, Ayat 3 UU
Kehutanan no 41, Tahun 1999, dan SE Menteri Kehutanan no 1 pertanggal 29 Februari 2012
(situs Mahkamah Konstitusi, 2012)
Hal ini merupakan pertanda bahwa partisiapsi publik dalam penataan ruang
dilindungi dengan hak konstitusional di negara Republik Indonesia. Hal ini berimplikasi juga
pada pewilayahan KPH, bahwa partisipasi publik atau partisipasi masyarakat dalam
penyusunan dokumen resmi KPH, pewilayahan KPH, pembangunan KPH dan pengendalian
ruang KPH merupakan hak masyarakat, yang dapat dilakukan baik dalam tahap penyiapan,
tahap pembahasan, sampai tahap monitoring dan evaluasi.

IV. Relasi KPH dan KM

Pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab adalah bagaimana keterhunungan
skema kehutanan masyarakat dan atau bentuk kelola hutan berbasis masyarakat dengan
KPH?. Dalam diskursus KPH berbasis masyarakat yang diselenggarakan oleh RECOFTC dan
Fakultas Kehutanan UNHAS pada tahun 2010, mengemuka bahwa KPH seharusnya mampu
memfasilitasi unit-unit kelola kehutanan masyarakat, apakah dengan fasilitasi pembangunan
skema KM tersebut atau KM itulah yang akan membentuk KPH
Pasal 17 UU 41 menyebutkan bahwa : (1) Pembentukan wilayah pengelolaan hutan
dilaksanakan untuk tingkat: (a) Propinsi, (b) Kabupaten/kota,dan (c) unit pengelolaan.
(2) Pembentukan wilayah penglolaan hutan tingkat unit pengelolaan dilaksanakan dengan
mempertimbangkan karakteristik lahan, tipe hutan, fungsi hutan, kondisi daerah aliran sungai,
sosial budaya, ekonomi, kelembagaan masyarakat setempat termasuk masyarakat hukum adat
dan batas administrasi pemerintahan. (3) Pembentukan unit pengelolaan hutan yang
melampaui batas administrasi pemerintahan karena kondisi dan karakteristik serta tipe hutan,
penetapannya diatur secara khusus oleh Menteri.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan unit pengelolaan adalah kesatuan pengelolaan
hutan terkecil sesuai fungsi pokok dan peruntukannya, yang dapat dikelola secara efesien dan
lestari, antara lain kesatuan pengelolaan hutan lindung (KPHL), kesatuan pengelolaan hutan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 97

produksi (KPHP), kesatuan pengelolaan hutan konservasi (KPHK), kesatuan pengelolaan
hutan kemasyarakatan (KPHKM), kesatuan pengelolaan hutan adat (KPHA), dan kesatuan
pengelolaan daerah aliran sungai (KPDAS)
Dalam aturan terkait KPH sebenarnya terdapat KPH ”masyarakat” antara lain KPHKm
(Km = Kemasyarakatan) atau KPHA (A = Adat) di dalam unit KPH. KPHKm dan KPHA
merupakan kawasan hutan yang pemanfaatannya diberikan kepada sekelompok masyarakat
di sekitar hutan. Oleh karena berada dalam kawasan hutan, pengelolaan dan pemanfaatan
hutan di wilayah KPHKm dan KPHA tidak boleh dilakukan menyimpang dari fungsi pokok
dan peruntukan kawasan hutan dimana KPH tersebut berada. Demikian juga organisasinya
tidak berdiri sendiri melainkan berada di bawah organisasi KPH yang mewilayahinya.
Beberapa pertanyaan kunci untuk relasi KPH dan KM antara lain
a. Bagaimana dengan hak kelola masyarakat yang telah diberikan oleh pemerintah seperti
Hak Pengelolaan Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat yang
sebenarnya secara filosofis juga telah mengelola tapak?, apakah tidak akan tumpang
tindih dengan KPH?
b. Bagaimana aspek pengurusan dan fasilitasi kehutanan masyarakat jika masyarakat masih
lemah dalam urusan administrasi?
Dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar hutan, pemerintah dapat
membentuk KPHKm (Km = Kemasyarakatan) atau KPHA (A = Adat) di dalam unit KPH.
KPHKm dan KPHA merupakan kawasan hutan yang pemanfaatannya diberikan kepada
sekelompok masyarakat di sekitar hutan. Oleh karena berada dalam kawasan hutan,
pengelolaan dan pemanfaatan hutan di wilayah KPHKm dan KPHA tidak boleh dilakukan
menyimpang dari fungsi pokok dan peruntukan kawasan hutan dimana KPH tersebut berada.
Demikian juga organisasinya tidak berdiri sendiri melainkan berada di bawah organisasi KPH
yang mewilayahinya.
Supratman dan Sahide (2011) mengungkapkan bahwa konsep KM yang diatur di dalam
beberapa kebijakan Kementerian Kehutanan telah membuka akses kepada masyarakat untuk
mengelola kembali hutan mereka yang setelah berlaku Tata Guna Hutan Kesepakatan
(TGHK) aksesnya tertutup. Kebijakan KM juga memberi peluang kepada masyarakat di
sekitar hutan mendapatkan hak pengelolaan hutan sesuai skim KM yang mereka akan pilih.
Hak pengelolaan kawasan hutan berupa hak mengambil keputusan bentuk pengelolaan yang
diinginkan sesuai potensi hutan dan sosial ekonomi serta budaya setempat; dan hak
menentukan bentuk kelembagaan. Kebijakan-kebijakan KM tersebut juga membuka peluang
masyarakat untuk mengeratkan ikatan komunitas masyarakat pengelola melalui proses
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 98

penyiapan masyarakat; mengembangkan keragaman hasil hutan yang menjamin kelestarian
fungsi dan manfaat hutan; meningkatkan mutu, produktivitas, dan keamanan hutan;
menciptakan lapangan kerja; meningkatkan kesempatan berusaha; meningkatkan pendapatan
masyarakat dan pendapatan daerah. Masyarakat berkesampatan mendorong serta
mempercepat pengembangan daerah melalui proses akumulasi modal dari hasil keuntungan
di tingkat dusun dan desa sehingga bisa menghindari proses pelarian modal dari tempat-
tempat terjadinya proses poduksi, baik benda maupun jasa.
Supratman dan Sahide (2011) lebih lanjut mengungkapkan bahwa Meraih peluang-
peluang tersebut di atas, tidaklah mudah, dibutuhkan leadership yang kuat, komitmen, dan
fasilitasi dari semua unsur yang terkait. Leadersehip yang kuat tersebut tidak hanya pada
level pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah tetapi juga pada level desa dan
level komunitas.
Pembangunan KPH sebagai organisasi pengelola hutan pada tingkat tapak diharapkan
dapat menjadi fasilitator utama bagi masyarakat untuk meraih peluang kebijakan PHBM.
Oleh karena itu, implementasi kebijakan pembangunan KM yang terintegrasi dengan
pembangunan KPH merupakan peluang untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari
berbasis masyarakat.

c. Studi Kasus Pembangunan KPH berbasis Hutan Desa di Kabupaten bantaeng
Terlepas dari penetapan KPHP Model Jeneberang dimana Kabupaten Bantaeng salah
satu bagian dari KPH tersebut, penulis akan mengeksplorasi kajian pembangunan KPH di
Kabupaten Bantaeng untuk melengkapi dikursus KPH dan KM ini. Kajian tersebut dilakukan
oleh Fakultas Kehutanan UNHAS yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng pada
tahun 2010. KPH Bantaeng dinisiasi setelah Skema Hutan Desa ddan atau Skema Kehutanan
Masyarakat lainnya dibangun terlebih dahulu. Skema inilah yang akan menjadi cikal bakal
pembangbunan KPH. Jadi, buka KPH dulu yang dibanbgun tetapi penguatan entitas KM yang
mesti didahulukan
Sebagai informasi awal bahwa luas kawasan hutan di Kabupaten Bantaeng, yaitu seluas
6.222 ha, yang terdiri atas 3.449 ha hutan produksi dan 2.773 ha hutan lindung. Dengan
menggunakan pendekatan wilayah DAS mikro yang dioverlapping dengan pendekatan
wilayah administrasi pemerintahan serta pendekatan wilayah fungsional (yaitu keterkaitan
sosial-ekonomi antar wilayah desa, antara lain ketersediaan sistem jaringan jalan yang
terdapat di dalam dan sekitar areal kawasan hutan, nodal-nodal ekonomi pedesaan), maka
wilayah pengelolaan hutan Kabupaten Bantaeng dibagi menjadi dua wilayah KPH yaitu,
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 99

KPH Lantebong mencakup tiga wilayah administrasi kecamatan dan 8 desa dan KPH
Biyangloe mencakup 2 wilayah administrasi kecamatan dan 7 desa.
KPH Lantebong
Wilayah KPH Lantebong, meliputi Kecamatan Uluere, Kecamatan Sinoa, dan
Kecamatan Bantaeng. Gambaran desa-desa dan sub DAS yang terdapat dalam KPH
lantebong diperlihatkan pada Tabel 12.
Tabel 12. Desa-Desa pada Wilayah BKPH Lantebong Kabupaten bantaeng

No Kecamatan Desa Aliran Sungai

1. Uluere Bontolojong Lantebong
Bonto Marannu Biyangloe
Bonto Tangnga Bajang Bialo
Bonto Daeng
panaikang
Panaikang
panaikang
2. Sinoa Bonto Bulaeng lantebong
Bonto Karaeng lantebong

3. Bantaeng Kayu loe lantebong
Kelurahan Onto lantebong

Tabel 13. Wilayah BKPH Biyangloe Kabupaten Bantaeng

No Kecamatan Desa Aliran Sungai

1. Eremerasa Pa‟bumbungan Biyangloe lantebong
Kampala Biyangloe
2. Tompobulu Labbo Biyangloe
Pattaneteang Bajang Bialo
Bonto Tappalang Biyangloe
Kelurahan Campaga Biyangloe

KPH Biyangloe
Wilayah KPH Biyangloe, meliputi Kecamatan Eremerasa dan Kecamtan Tompobulu.
Gambaran desa-desa dan sub DAS yang terdapat dalam KPH Biyangloe pada Tabel 13.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 100

Struktur Organisasi KPH Kabupaten Bantaeng

Bupati

Kepala Dinas Kabupaten yang
Mengurusi Kehutanan

Kepala KPH Lantebong
(Eselon IV a)

Ka.Sub Bagian
Tata Usaha
(Eselon IV)

Staf administari dan
Keuangan

Kepala Seksi Kepala Seksi Industri pengolahan dan
Perencanaan dan produksi pemasaran hasil hutan

KBKPH KBKPH KBKPH KBKPH KBKPH
Bontolojog I Bontolojong 2 Loka
Sinoa Kayuloe

Gambar 16. Struktur Organisasi KPH lantebong Kabupaten Bantaeng

Mengacu pada struktur organisasi dinas kehutanan dan Perkebunan Kabupaten
Bantaeng yang ada sekarang, Struktur organisasi Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Kabupaten Bantaeng telah memiliki slot yang dapat menjadi cantolan untuk membangun
stuktur KPH, yaitu adanya Struktur UPTD yang dapat menjadi cantolan untuk membangun
stuktur KPH pada struktur Dinas yang mengurusi kehutanan yang ada pada saat ini. Mengacu
kepada PP No. 41/2007 dirumuskan struktur organisasi KPH Kabupaten Bantaeng seperti
disajikan pada Gambar 17
Struktur KPH pada Gambar 1 dan 2 tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Kepala KPH, selevel dengan Kepala UPT Dinas sesuai PP No. 41/2007
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 101

b. Sub Bagian Tata Usaha, selevel dengan Sub Bagian Tata Usaha sesuai PP No. 41/2007.
Pada struktur ini, bagian tata usaha membawahi staf-staf: administrasi, keuangan,
perencanaan, monitoring dan evaluasi, dan staf pemasaran
c. Kepala Bagian KPH (KBKPH), selevel dengan Kepala Seksi sesuai PP No. 41/2007,
akan tetapi KBKPH memangku wilayah
d. Staf BKPH selevel dengan staf sesuai PP No. 41/2007.
Pada struktur ini terdapat staf-staf: produksi, rehabilitasi hutan dan lahan, serta staf
perlindungan dan konservasi alam areal-areal yang tidak diokupasi dikelola langsung oleh
BKPH, areal-areal rehabilitasi langsung oleh BKPH dan dapat dibantu oleh Pemegang hak
teseng pada hutan desa. Perencanaan, produksi dan pemasaran berhubungan dengan huta
desa. Pada staf pemasaran ada staf yang mengurusi pengadaan saprodi dan pemasaran hasil.
BUMDES memasok saprodi dan pemasaran hasil, atau tergantung kesepakatan antara
lembaga BUMDES dengan KPH.

Tugas dan Fungsi setiap komponen dalam struktur KPH Bantaeng

Pokok-pokok tugas dan fungsi masing-masing komponen dalam struktur KPH yang
dilukiskan pada Gambar 5 adalah sebagai berikut:
a) Kepala KPH
KPH dikepalai oleh seorang Kepala KPH. Fungsi Kepala KPH secara umum adalah
memimpin kegiatan pengelolaan KPH, dan secara khusus adalah:
a. Memimpin, mengurus dan mengelola KPH
b. Melaksanakan kebijakan pengembangan usaha dalam mengurus KPH sesuai yang telah
digariskan oleh Kepala Dinas yang mengurusi kehutanan di kabupaten
c. Menetapkan kebijakan sesuai pedoman kegiatan strategis yang ditetapkan oleh Kepala
Dinas yang mengurusi kehutanan di kabupaten
d. Menyusun rencana jangka panjang, jangka menengah dan rencana kerja KPH dengan
persetujuan dari Kepala Dinas yang mengurusi kehutanan di kabupaten
e. Melakukan kerjasama usaha dengan badan usaha lain yang saling menguntungkan untuk
berkembangnya KPH dengan persetujuan Kepala Dinas yang mengurusi kehutanan di
kabupaten.
f. Menilai rencana kerja yang disusun oleh unit-unit usaha pemanfaatan dan atau
penggunaan kawasan hutan yang ada di wilayahnya.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 102

b) Kepala Sub Bagian Tata Usaha

Kepala Sub Bagian Tata Usaha membantu Kepala KPH dalam bidang administrasi,
keuangan, perencanaan, monitoring dan evaluasi, dan pemasaran.

c) Kepala Bagian KPH (KBKPH)

KBKPH merupakan bidang yang memfasilitasi kegiatan administratif dan
operasional kegiatan KPH pada tingkat Bagian KPH (BKPH) sesuai kebijakan pengelolaan
yang digariskan oleh Kepala KPH.
KPH dapat dibagi menjadi beberapa BKPH berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
homogenitas wilayah Administrasi Pemerintah, dan pertimbangan keterkaitan ekonomi
(aglomerasi ).
Tugas pokok KBKPH adalah membangun proses pengelolaan hutan sesuai
karakteristik lokal (sosial, ekonomi, budaya dan potensi biofisik). Untuk membangun
proses tersebut, maka KBKPH melakukan tugas sebagai berikut:
a. Memfasilitasi perencanaan lokasi BKPH dan penataan unit-unit usaha kehutanan di
wilayah BKPH secara partisipatif.
b. Memfasilitasi pembentukan dan operasionalisasi kelompok usahatani hutan di BKPH
tempat tugasnya.
c. Memfasilitasi pengembangan bisnis berbasis kehutanan, menyangkut sub sistem
pengadaan dan distribusi input (sarana-produksi), pengembangan kegiatan produksi
(budidaya tanaman), pengolahan hasil, pemasaran hasil, serta kegiatan-kegiatan
pendukung (penelitian, pelatihan, penyuluhan, konstruksi, transportasi, dll).
d. Menfasilitasi kegiatan perlindungan hutan dan konservasi alam

d) Staf
Dalam menjalankan tugasnya, KBKPH dapat dibantu oleh beberapa staf, antara lain:
a. Staf Produksi membantu KBKPH untuk mengembangkan unit-unit usaha KPH, serta
mengembangkan kegiatan pengolahan dan pemasaran produksi KPH.
b. Staf Rehabilitasi, Perlindungan, dan Konservasi Alam, membantu KBKPH dalam bidang
rehabilitasi, perlindungan, dan konservasi alam di dalam dan di luar kawasan hutan

Hubungan antara KPH dengan BUMDes (sebagai lembaga pengelola Hutan Desa)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 103

BPD membentuk lembaga pengelolaan Hutan Desa melalui peraturan desa. Kepala Desa
sebagai pengawas dan fasilitator terselenggaranya pengelolaan hutan desa.Lembaga
pengelola hutan desa sebagai pemegang hak pengelolaan hutan desa. LPHD dapat
membentuk struktur organisasi sesuai kebutuhannya. Masyarakat sebagai pemegang hak
teseng yang dikontrol/diawasi oleh pemegang hak (LPHD)
Hubungan kelembagaan antara Organisasi KPH dengan Organisasi hutan desa
sebagai berikut :
e. KPH Memberi fasilitasi terhadap perizinan dan pengelolaan hutan desa
f. KPH dan BUMDes membangun kerjasama pemasaran hasil hutan (termasuk jasa
lingkungan).
g. KPH jika diperlukan akan memfasilitasi pembangunan industri pengolahan kayu
h. BUMDes melaksanakan kegiatan siklus budidaya dan pemasaran dapat bekerjasama
dengan KPH
i. Diharapkan ada areal inti Pengelolaan KPH ataupun areal percontohan untuk aktifitas
BUMDes
j. KPH Memfasilitasi berkembangnya hutan rakyat
Masyarakat yang telah masuk dalam areal Kawasan hutan maka areal tersebut yang
diprioritaskan dijadikan Areal Hutan Desa. Sedang yang belum dirambah/dikelola menjadi
areal inti KPH yang dikelola langsung oleh KPH

Hubungan Organisasi KPH, Pemerintah kabupaten (Dinas), pemerintah Desa dan
BUMDes

Berdasarkan struktur orgaisasi Dinas kehutanan da Perkebunan kabupaten Bantaeng,
Struktur organisasi KPH yang diusulkan dan Struktur organisasi Hutan Desa yang diusulkan,
maka hubungan kelembagaan antara Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bantaeng
dengan hutan desa dan pengelola KPH, Diperlihatkan pada Tabel 3.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 104

Tabel 14.Hubungan kelembagaan antara Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Institusi
No Kewenangan Dinas KPH Pemerintah BUMDes
Desa
1. Pengurusan Merumuskan Mengusulka
peraturan n lokasi
kehutanan areal hutan
desa
Membuat Melaksanakan Membentuk
/menyiapkan Regulasi lembaga
regulasi tentang desa
hubungan sebagai
kerjasama antara pengelola
KPH dengan hutan desa
seluruh (BUMdes)
BUMDes
Bantaeng
Monev KPH Monev Hutan Desa Monev
BUMDes
Memfasilitasi
berkembangnya
hutan rakyat
Penegakan
hukum
Perizinan Mengusulkan
izin usaha
pemanfaatan
hutan
2. Pengelolaan Rencana Makro RKPH KPH Rencana karya
kehutanan Pengelolaan
Hutan Desa
(RKHD)
Membangun Membangun
kemitraan dengan Hak teseng
BUMDes dalam dengan
pemasaran dan individu
industri petani hutan
desa
Memfasilitasi Melakukan
berkembagnya pengelolaan
hutan rakyat hutan desa
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 105

Road Map Pembangunan KPH Bantaeng

Sesuai dengan konsep pembangunan KPH Kabupaten Bantaeng yaitu pembangunan
Hutan Desa sebagai cikal bakal membangun KPH, maka road map pembangunan KPH
disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15.Road Map Pembangunan KPH Kabupaten Bantaeng

Kondisi Saat Ini
Tahun Jenis Program
(baseline condition)

2009 Peraturan Bupati tentang Pengelolaan hutan Desa
Lembaga BUMDEs sudah
dibangun di setiap desa
Perdes tentang Pengelolaan Hutan Desa Belum ada lembaga
pengelola hutan desa
Lembaga Pengelola Hutan Desa menyusun Rencana Belum ada Rencana
Karya Hutan Desa Pengelolaan Hutan Desa

Lembaga Pengelola Hutan Desa menyusun Rencana
Tahunan Hutan Desa Tahun 2010
Merumuskan kontrak pemanfaatan hutan antara Terdapat sistem kontrak
setiap petani dengan lembaga pengelola hutan desa penggunan lahan lokal
”teseng” antara pemilik lahan
dengan petani penggarap
yang dapat dicontoh dalam
merumsukan kontrak
pemanfaatan hutan desa
2010 Mengembangkan unit-unit usaha non kehutanan Masyarakat sudah mengelola
manjaadi unit-unit usaha kehutanan pada setiap desa unit-unit usaha non
kehutanan di dalam kawasan
hutan

Menata Areal Hutan Desa ke dalam blok, petak, dan Unit-unit usaha masyarakat
unit-unit usaha rumah tangga petani pemanfaat di dalam kawasan hutan
belum tertata sesuai sistem
penataan pengelolaan hutan
lestri
Merekrut Sarjana Kehutanan untuk mengisi personil Belum ada tenaga profesional
dalam organisasi BKPH kehutanan yang
mendampingi masyarakat
mengelola hutan di desa
Peraturan Bupati tentang Pembentukan UPTD KPH Terdapat Lembaga UPTD
Lantebong dan KPH Biangloe dalam strutur organisasi
Dinas Kehutanan dan
Perkebunan Kab. Bantaeng,
sesuai Perda Organiasi Dinas
Kehutanan dan Perkebunan
Merumuskan hubungan antara lembaga pengelola Akan dibangun KPH dan
hutan desa dengan lembaga KPH lembaga pengelola hutan
desa
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 106

2011 Operasionalisasi KPH Lantebong Belum ada KPH yang
Operasionalisasi KPH Biyangloe beroperasi

Berdasarkan karakteristik wilayah desa dan karakteristik pengelolaan hutan oleh
masyarakat, dirumuskan program pengelolaan hutan oleh KPH pada setiap wilayah desa
seperti disajikan pada Tabel berikut:

Tabel 16. Pengelolaan Unit Usaha Kehutanan pada Setiap Wilayah KPH

Aktivitas Pengelolaan
No Desa Unit Usaha Potensial Tahun
Unit Usaha Potensial

1. Perbaikan pola-pola Bontolojong, k. Agroforestry 2009/
tanam Bontodaeng, Labbo, Kopi
Patteneteang, l. Produksi kayu 2010
m. Pengembangan
Bontobulaeng,
MPTS (sukun,
Kayuloe, Pa‟bumbngan nangka,
alpukat,
sengon, dan
petai)
2. Pemanfaatan jasa Campaga, Bontodaeng, n. Wisata hutan 2010
lingkungan Labbo, Pattaneteang, o. Pemanfaatan
Bontolojong air
p. Pemanfatan
aliran air
3. Pemungutan hasil hutan Bontolojong, Bonto q. Penyadapan 2010
bukan kayu Daeng, Pa‟bumbungan, getah pinus
Bontomarannu r. Pengembangan
lebah madu
4 Pemungutan hasil hutan Bontomarannu,Labbo, s. Pengembangan 2010
kayu pada hutan rakyat Pattaneteang, hutan rakyat
Bontomarannu,
Bontodaeng,
Pa‟bumbungan

65 Pemanfaatan kawasan Bontodaeng, Bonto t. Pengelolaan 2010
hutan Bulaeng, hijauan
Pa‟bumbungan, makanan
ternak
Pattaneteang, Labbo
u. Penanaman
dan Kayuloe, Campaga markisa

Untuk mendukung operasionalisasi KPH pada tahun 2011, maka pada tahun 2010
akan dibangun prasarana berupa kantor masing-masing, Kantor UPTD KPH Lantebong yang
berkedudukan di Desa Bontomarannu, Kecamatan Uluere dan Kantor UPTD KPH Biyangloe
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 107

yang berkedudukan di Desa Banyorang, Kecamatan Tompobulu. Selain itu, dibutuhkan pula
pembangunan prasarana jalan hutan pada setiap desa untuk memudahkan akses pengelolaan
hutan oleh KPH.

PENUTUP

I. Penugasan

Pertanyaan-pertanyaan kunci yang dikemas melalui diskusi maupun kuis kepada mahasiswa

a. Jelasakan secara ringkas esensi dan substansi KPH?

b. Jelaskan secara ringkas keterhubungan KPH dan KM?

c. Jelaskan secara ringkas ragam pendekatan dalam pewilayahan KM?

d. Jelaskan beragam perspektif tentang otoritas KPH?

II. Strategi merespon penugasan

Mahasiswa sebaiknya tidak menggunakan bahan ajar ini sebagai satu-satunya sumber.
Mahasiswa dapat mengecek secara langsung daftar pustaka yang ada di buku ini, dan
meengeksplorasi lebih jauh dari sumber utamanya.

DAFTAR PUSTAKA

Ekawati S., Kartodihardjo H.,, Nurrochmat D. R., Dwiprabowo H., Hardjanto. 2011.
Analisis Proses Pembuatan dan Implementasi Kebijakan Desentralisasi
Pengelolaan Hutan Lindung (Studi Kasus di Tiga Kabupaten dalam DAS
Batanghari). http://forda-
mof.org/files/makalah%20ibu%20eka%20diskusi%20ilmiah.pdf diakses tanggal 18
Maret 2012

Ekawati S., Kartodihardjo H.,, Hardjanto. , Dwiprabowo H., Nurrochmat D. R. 2011. Proses
Pembuatan Kebijakan Pembagian Kewenangan Antar Tingkat Pemerintahan
Dalam Pengelolaan Hutan Lindung Dan Implementasinya Di Tingkat Kabupaten.
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. Vol. 8 No. 2, Agustus 2011 : 132 – 15.
http://www.forda-mof.org/files/3.%20Sulistya%20Ekawati.pdf diakses tanggal 18
Maret 2012

Fakultas Kehutanan UNHAS , Pemkab Bantaeng, 2009. Laporan Rancang Bangun
Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Bantaeng.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 108

Forester, John. 1989. Planning in the Face of Power. California: University of California
Press.

Mahkamah Konstitusi, 2012. Lima Bupati Desak Menhut Taati Putusan MK
http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=website.Berita.Berita&id=661
5. Diakses tangggal 20 Maret 2012

Ngakan P.U., Komarudin H., Moeliono M. 2008. Menerawang Kesatuan Pengelolaan
Hutan di Era Otonomi Daerah. Governance Brief. Januari 2008. Nomor 38.
CIFOR

Supratman., Sahide M.A.K., 2011. The Development of Community Based Forest
Management Unit (CBFMU) To Empower Forest Community page 57-68.
Proceeding on International Symposium Challenges to Global Issues: Environmental
Pollution and Degradation in Indonesia. Palu, Central Sulawesi, Indonesia.
International Board of Affair Tadulako University
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 109

BAB V. ANALISIS USAHA KEHUTANAN MASYARAKAT

PENDAHULUAN

I. Tujuan Instruksional

1. Mahasiswa mampu menganalisis konsep kebijakan (peraturan) yang mendukung
berkembangnya usaha kehutanan masyarakat
2. Mahasiswa mampu menganalisis potensi lahan usaha masyarakat dalam kawasan hutan
3. Mahasiswa mampu menganalisis faktor pendukung yang mendorong berkembangnya
usaha KM (usaha masyarakat dalam kawasan hutan, sosial budidaya masyarakat dan
pasar hasil hutan.

II. Proses pembelajaran

Pada pembelajaran ini akan dipakai metode Case Study dengan fokus pada kelompok-
kelompok kecil mahasiswa yang akan mendiskusikan analisis peluang usaha kehutanan

masyarakat
Pada tahap pertama;
Dosen mengulas secara singkat ruang lingkup bahasan terkait analisis peluang usaha
kehutanan masyarakat serta memperkenalkan lebih awal tentang Analisis dan Pengembangan
Pasar (APP)
Pada tahap kedua;
Dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan sub
bahasan. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok dan dilakukan selama 40
menit dengan sebelumnya membagikan handout tentang tema dan sub tema tersebut. Dosen
mencatat semua aktifitas diskusi dan mengevaluasi keaktifan mahasiswa. Bahasan kunci pada
diskusi tersebut antara lain;
- Analisis kebijakan yang terkait pengembangan kehutanan masyarakat
- Potensi areal hutan produksi dalam usaha kehutanan masyarakat
- Potensi sosial budaya masyarakat yang mendukung usaha kehutanan
- Ketersediaan industri dan pasar hasil hutan
- Analisis potensi kelembagaan masyarakat
- Konsep pengembangan usaha kehutanan masyarakat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 110

- Konsep pengembangan bisnis berbasis kehutanan
- Akumulasi dan akses modal masyarakat lokal
Pada tahap ketiga;
Dosen memberikan evaluasi terhadap hasil diskusi kelompok dan menghubungkannya
dengan tema bahasan analisis potensi usaha masyarakat dalam kawasan hutan.
Dosen meminta kepada mahasiswa secara individual menganalisis faktor pendukung
yang mendorong berkembangnya usaha KM (usaha masyarakat dalam kawasan hutan, sosial
budidaya masyarakat dan pasar hasil hutan, dengan meminta membuat makalah

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Pendahuluan

Degradasi sumberdaya hutan juga terjadi, antara lain disebabkan oleh pengelolaan
hutan yang tidak tepat, pembukaan kawasan hutan dalam skala besar untuk berbagai
keperluan pembangunan, over cutting, dan illegal logging, perambahan, okupasi lahan dan
kebakaran hutan. Sementara itu terjadi pula ekses kapasitas industri pengolahan kayu atas
kemampuan suplai bahan baku industri. Keadaan ini mengharuskan adanya perubahan dari
pengusahaan hutan hanya kepada perusahaan swasta kepada pengusahaan hutan berbasis
masyarakat lokal (local community) untuk memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan
hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan, dan
meningkatkan produktifitas serta melestarikan fungsi kawasan hutan.
Berdasarkan kondisi tersebut diatas, Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan
menetapkan agenda baru terkait dengan kebijakan revitalisasi sektor kehutanan yaitu
meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui :
(1) pemberian akses yang lebih luas terhadap pemamfaatan hutan
(2) akses ke lembaga pembiayaan pembangunan kehutanan dan
(3) dan akses ke pemasaran hasil hutan (industri hasil hutan)
Dengan demikian selain dapat diwujudkannya agenda pengurangan kemiskinan, pada
saat yang bersamaan juga akan terwujud pengurangan pengangguran dan peningkatan
kontribusi kehutanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta memenuhi permintaan
bahan baku industri perkayuan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 111

Dalam rangka mensukseskan agenda baru tersebut, diperlukan penguatan kapasitas
usaha kehutanan masyarakatal, yang diharapkan akan membentuk struktur baru
perekonomian nasional berdaya saing tinggi yang berbasiskan sumberdaya alam terbaharui,
keunggulan lokal dan tahan terhadap perubahan eksternal seperti krisis moneter/ekonomi.
Tabel 17. Rangkuman Panduan Analisis dan Pengembangan Pasar (APP)

Tujuan Langkah-langkah: Hasil/keluaran Tahap I adalah:

Tujuannya 1. Menentukan kelompok sasaran 1. Sebuah daftar komoditas
Tahap I: adalah untuk 2. Menentapkan tujuan keuangan dari yang akan dinilai pada tahap
Pengkajian memahami kelompok sasaran berikutnya
Situasi pokok 3. Membuat daftar sumberdaya dan 2. Pemahaman tentang kendala
persoalan, komoditas sosial, lingkungan dan teknis
penegasan 4. Memahami hambatan utama dari dari suatu rangkaian
perumusan sistem pasar yang ada komoditas
masalah dan 5. Membuat daftar cakupan komoditas 3. Pembentukan sebuah tim dari
peluangnya, yang terpilih anggota kelompok sasaran
serta membuat 6. Meningkatkan kesadaran tentang untuk menjalankan Tahap II
daftar manfaat kerja kelompok
komoditas.
Tahap II: Tujuannya 1. Analisis empat bidang 1. Penetapan komoditas
Identifikasi adalah pengembangan usaha unggulan dan pengumpulan
Komoditas, menentukan 2. Pemilihan produk unggulan informasi guna merancang
Pasar, dan komoditas 3. Membentuk kelompok-kelompok rencana pengembangan
Cara unggulan dan peminat untuk produk tertentu selanjutnya
Pemasarannya mengumpulka 2. Pembentukan kelompok kerja
n informasi untuk komoditas tertentu
mengenai 3. Pembentukan tim untuk
pengembanga pelaksanaan Tahap III
n selanjutnya

Tahap III: Tujuannya 4. Mengkaji kondisi perdagangan
Perencanaan adalah dari komoditas unggulan atau
Usaha untuk merumuskan kegiatan usaha
Pembangunan rencana 5. Menentukan misi, tujuan, dan
Berkelanjutan pengembanga sasaran kegiatan usaha
n usaha serta 6. Mengembangkan strategi untuk
persiapan setiap bidang dari keempat bidang
pelaksanaanny pengembangan usaha
a. 7. Merumuskan rencana kegiatan
untuk melaksanakan penerapan
strategi
8. Menghitung proyeksi keuangan
dari kegiatan usaha
9. Mendapatkan pembiayaan seperti
yang ditetapkan di dalam
pernyataan kebutuhan modal
dalam rencana keuangan
10. Memprakarsai tahapan uji coba
dan pelatihan
11. Memantau setiap perkembangan
yang terjadi dan menangani
perubahan- perubahannya
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 112

Salah satu alat analisis dalam tema ini adalah Analisis dan Pengembangan Pasar
yang disusun oleh Isabella Lecup dan Ken Nicholson yang telah diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia oleh Alexander Eri Wahyuadi dan diterbitkan oleh RECOFT bekerjasama
dengan FAO (2008). Analisis ini bertujuan untuk mendayagunakan masyarakat lokal dalam
melakukan identifikasi komoditas potensial dan mengembang. Analisis ini didesain dengan
pendekatan partisipatif. Tahapan pelaksanaan kegiatan akan mengikuti Buku Panduan
Analisis dan Pengembangan Pasar (APP) tersebut.
Melalui APP, kita dapat melakukan perumusan strategi usaha bagi komoditas
unggulan antara lain; (1) Pengembangan sebuah rencana kegiatan atau rencana aksi, (2)
pembiayaan sebagaimana dinyatakan dalam perencanaan kebutuhan modal, dan (3)
penerapan sistem pengawasan dan perencanaan. Adapun prosesnya yaitu dengan melakukan
antara lain; (1) pengkajian Situasi, (2) identifikasi Komoditas, Pasar, dan Cara Pemsarannya,
(3) perencanaan Usaha untuk Pembangunan Berkelanjutan. Adapun tahapan, langkah-
langkah, dan hasil/keluaran secara lebih detail disajikan pada Tabel 9.

II. Analisis Kebijakan yang Terkait Pengembangan Kehutanan Masyarakat

Peluang usaha bagi masyarakat didalam dan disekitar hutan telah diatur dalam PP No.6
Tahun 2007. Peluang yang diberikan tersebut melalui pemanfaatan hutan Desa (HD), Hutan
Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan Hutan Tanaman Hasil
Rehabilitasi (HTHR). Peluang usaha pemanfaatan hutan untuk pemberdayaan masyarakat
lokal yang telah diatur dalam PP No. 6/2007 dan pada saat ini pemerintah melalui
Departemen Kehutanamnhgg bn telah menetapkan 3 Peraturan Menteri (Permenhut)
Kehutanan untuk menjabarkan lebih terperinci peluang usaha pemanfaatan hutan oleh
masyarakat yaitu Permenhut No. P23 tahun 2007 tentang Hutan Tanaman Rakyat (HTR),
Permenhut No. P37 tahun 2007 tentang Hutan Kemasyarakatan (HKM) dan Permenhut No.
P.49/Menhut-II/2008 Tentang Hutan Desa. Sedangkan pemanfaatan Hutan Tanaman Hasil
Reboasasi (HTHR) belum diatur secara lebih rinci melalui peraturan menteri. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Ditinjau dari segi banyaknya jenis izin usaha pemanfaatan hutan dan jenis fasilitasi
pemerintah dan jenis badan usaha, maka dapat dibayangkan bahwa peluang usaha bagi
masyarakat di sektor kehutanan sangat besar. Tetapi jika ditinjau dari kemampuan
masyarakat untuk dapat berusaha di sektor kehutanan masih mengalami kendala, terutama
untuk memperoleh izin dan kemampuan permodalan petani dan keberanian petani
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 113

mengambil resiko untuk usaha kehutanan. Terdapat 3 faktor yang dapat mempengaruhi
masyarakat lokal untuk berusaha pada sektor kehutanan yaitu: ketersediaan lahan,
modal dan keberanian petani menambil resiko. Kekurangan lahan dan modal usaha
masyarakat lokal dapat diatasi melalui fasilitasi pemerintah perolehan izin pemanfaatan
hutan dan pinjaman lunak untuk modal usaha sektor kehutanan. Sedangkan keberanian
pelaku usaha mengambil resiko, hal inilah yang menjadi kendala di dalam mendorong
pengembangan usaha sektor kehutanan oleh masyarakat lokal, karena usaha kehutanan yang
dimulai dari kegiatan penanaman mempunyai resiko yang tinggi. Hal ini berbeda dengan
usaha sektor kehutanan masa lalu (seperti HPH) yang dimulai dari kegiatan pemanenan kayu
dengan pengembalian modal yang cepat.
Tabel 18. Matriks Peluang Usaha Pemanfaatan Hutan untuk Pemberdayaan Masyarakat
Lokal

Program Sektor Kehutanan
Uraian
Hutan Desa HKm HTR HTHR
HL, HP HP, HL, HK HP tidak HP
Status Kawasan
produktif
HP: IUPK, IUPJL, HP: IUPK, IUPJL, IUPHHK-HTR IUPHHK-HTHR
IUPHHK, IUPHHBK, IUPHHK,
IPHHK, IPHHBK IUPHHBK, IPHHK,
Jenis izin HL: IUPK, IUPJL, IPHHBK
IUPHHBK, IPHHBK HL: IUPK, IUPJL,
IUPHHBK,
IPHHBK
Tata Areal, Pemanfaatan Penyiapan Pembelian
Penyusunan rencana kawasan, lahan, tegakan,
pengelolaan, penanaman tanaman pembibiatan, meliputi:
Pemanfaatan hutan, hutan berkayu, penanaman, pemanenan,
Jenis Kegiatan
Rehabilitasi dan pemanfaatan jasa pemanenan, pengamanan,
Pemegang Izin
perlindungan hutan lingkungan, pemasaran pemasaran
pemanfaatan hasil
hutan kayu dan
bukan kayu
Pengembangan Pengembangan Lembaga
kelembagaan., usaha, kelembagaa, usaha, keuangan,
bimbingan teknologi, bimbingan pasar.
Bentuk Fasilitasi pendidikan dan latihan, teknologi,
Pemerintah serta akses terhadap pendidikan dan
pasar latihan, serta
pembinaan dan
pengendalian
Lembaga Desa Kelompok Perorangan, Perorangan,
Badan Usaha masyarakat, dan koperasi, Koperasi,
koperasi BUMN, BUMS BUMN, BUMS
Keterangan : HK = hutan konservasi, HL= hutan lindung, HP=hutan produksi, HKm=hutan kemasyarakatan, HTR= hutan
Rakyat, HTHR=hutan tanaman hasil rehabilitasi, IUPK = Izin usaha pemanfaatan Kawasan, IUPJL=izin usaha pemanfaatan
jasa lingkungan, IUPHHK=izin usaha pemanfaatan hasil hutan hayu, IUPHHBK= izin usaha pemanfatan hasil hutan bukan
kayu, IPHHK= izin usaha pemungutan hasil hutan kayu, IPHHBK=Izin pemungutan hasil hutan bukan kayu.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 114

III. Analisis potensi lahan usaha Kehutanan Masyarakat

Junus, dkk (2010) mengunkapkan bahwa di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 6
tahun 2007 disebutkan sejumlah hak-hak yang dapat diperoleh oleh masyarakat setempat
melalui mekanisme izin pada masing – masing hutan produksi, hutan lindung, dan hutan
konservasi sebagai berikut :
Hutan Produksi
Pasal 31 PP No. 6 tahun 2007, yang dirangkaikan dengan Pasal 48 menyatakan
bahwa pemanfaatan hutan pada hutan produksi dilakukan melalui izin – izin :
 Izin Usaha Pemanfaatan Kawasan (IUPK)
 Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan
 Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA)
 Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HT)
 Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHBK-HA)
 Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam Hutan Tanaman (IUPHHBK-
HT)
 Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam (IPHHK-HA)
 Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Hutan Tanaman (IPHHBK-HT)
Hutan Lindung
Pasal 23 dan Pasal 27 PP No.6 Tahun 2007 menyatakan bahwa pemanfaatan hutan
pada hutan lindung dilakukan melalui izin – izin :
 Izin Usaha Pemanfaatan Kawasan (IUPK)
 Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL)
 Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (IPHHBK)
Hutan Konservasi
Pasal 18 PP No.6 Tahun 2007 menyebutkan bahwa pemanfaatan hutan dapat
dilakukan pada kawasan hutan konservasi, kecuali pada cagar alam, zona rimba, dan zona inti
dalam taman nasional.
Pasal 22 PP No.6 Tahun 2007 menyebutkan bahwa pemberian izin pada hutan
konservasi harus sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan. Namun PP ini
tidak menyebutkan jenis-jenis izin pada hutan konservasi seperti yang disebutkan pada hutan
lindung dan hutan produksi. Pertanyaannya sekarang, adalah izin-izin apa yang dapat
diberikan pada zona pemanfaatan, zona tradisional, dan zona khusus dalam Taman Nasional?
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 115

a. Areal Hutan Produksi

Mengacu pada pada PP No.6 tahun 2007, yang terkait Izin Usaha Pemanfaatan hutan
yang berpotensi untuk dikelola untuk semua jenis izin adalah kawasan hutan produksi yag
tidak produktif dan tidak dibebani izin/hak lain dan letaknya diutamakan dekat dengan
industri hasil hutan. Untuk potensi lahan pada hutan lindung tidak digunakan untuk
produksi kayu.
Luas Hutan Produksi di Sulawesi Selatan adalah 619.592 ha terdiri atas hutan produksi
seluas 131.041 ha dan hutan produksi terbatas seluas 488.551 ha. Kondisi penutupan lahan
kawasan hutan produksi berdasarkan hasil interpretasi citra landsat tahun 2002 oleh Balai
Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah Sulawesi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 19. Kondisi Penutupan Hutan Produksi Sulawesi Selatan

Luas Penutupan Hutan Produksi (ha) Luas HP
Luas yg tidak
No. Kabupaten HP (ha) H.Prmr/ Produktif
PLK Semak TT PLKCS (ha)
Sknd
1. Makassar 0 0 0 0 0 0 0
2. Gowa 35.564 8.820 1.071 5.844 581 21.660 29.156
3. Maros 26.169 11.770 867 19.887 561 834 22.149
4. Pangkep 6.232 3.390 4.854 1.345 0 0 6.199
5. Takalar 3.482 0 0 2.760 0 201 2.961
6. Jeneponto 257 99 35 338 0 76 449
7. Bantaeng 3.449 0 0 2.344 123 480 2.947
8. Bulukumba 1440 0 878 0 0 0 878
9. Selayar 10.164 10.164 0 0 0 0 0
10. Sinjai 7.100 4.538 56 2.369 0 0 2.425
11. Bone 110.766 55.361 6.332 13.471 0 10.921 30.724
12. Soppeng 11.465 7.145 0 3.578 0 126 3.704
13. Barru 15.384 10.257 0 6.395 127 117 6.639
14. Pare-pare 339 0 0 277 0 62 339
15. Sidrap 26.948 14.163 672 8.074 316 0 9.062
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 116

16. Wajo 17.150 908 1.933 8.355 1.538 279 12.105
17. Pinrang 26.049 13.277 1.300 8.410 128 2.934 12.772
18. Enrekang 14.597 5.090 1.276 998 1.480 790 4.544
19. Tator 18.805 6.633 128 4.555 4.682 3.323 12.688
20. Luwu
147.199 138.037 145 6.588 355 1.732 8.820
Utara
21. Luwu 30.593 5.728 0 2.879 0 775 3.654
22. Luwu
105.836 64.809 908 0 1.094 5.334 7.336
Timur
23. Palopo 604 0 32 32 0 0 64
Jumlah 619.592 360.189 20.487 98.499 10.985 49.982 179.615
Keterangan:
 HPrmr = hutan primer
 PLK = pertanian lahan kering
 TT = tanah terbuka
 PLKCS = pertanian lahan kering campur semak
Sumber : Laporan Redesain Areal HTUL Menjadi Areal HTR di Provinsi Sulawesi Selatan,
2007
Data pada Tabel 2 menunjukkan kondisi penutupan lahan kawasan hutan yang terdiri
atas berpenutupan vegetasi hutan seluas 360.189 ha dan sisanya seluas 179.615 ha atau
sebesar 33,3% dalam kondisi yang tidak produktif dengan penutupan lahan berupa pertanian
lahan kering, semak belukar, tanah terbuka, dan pertanian lahan kering campur semak. Dapat
pula dikatakan bahwa terdapat areal hutan produksi seluas 179.615 ha yang berpotensi untuk
dikelola sebagai areal HTR berdasarkan kriteria areal HTR yang telah diatur di dalam
Keputusan Menteri Kehutanan No. P.23/Menhut-II/2007.
b. Areal Hutan Produksi Sasaran Rehabilitasi

Berdasarkan data pada Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Provinsi Sulawesi
Selatan (2003), luas kawasan hutan produksi Sulawesi Selatan yang menjadi sasaran
rehabilitasi hutan adalah 154.267 ha, terdiri atas kawasan hutan produksi seluas 56.500 ha
dan kawasan hutan produksi terbatas seluas 97.756 ha. Sebaran luas areal hutan produksi
sasaran rehabilitasi disajikan pada Tabel 3.
Data pada Tabel 3 menunjukkan Kabupaten-Kabupaten Gowa, Maros, Bone, Pinrang,
dan Tator memiliki luas kawasan hutan produksi yang cukup luas untuk direhabilitasi dan
berpotensi untuk dikelola sebagai areal HTR. Sedangkan kabupaten-kabupaten lainnya relatif
kecil, bahkan di Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Selayar tidak terdapat areal hutan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 117

produksi dalam kondisi kritis (berdasarkan pertimbangan konservasi tanah dan air) yang
perlu direhabilitasi.
Tabel 20. Luas Indikatif Kawasan Hutan Produksi Sasaran Rehabilitasi

Luas Indikatif Kawasan Hutan Produksi
Luas Kawasan Hutan
No. Kabupaten/Kota Sasaran RHL (ha)
Produksi (ha)
HP HPT Jumlah
1. Makassar 0 0 0 0

2. Gowa 35.564 17.972 7.702 25.674

3. Maros 26.169 9.919 3.182 13.101

4. Pangkep 6.232 3.930 1.984 5.914

5. Takalar 3.482 2.774 0 2.774

6. Jenneponto 257 95 281 376

7. Bantaeng 3.449 1.817 1.011 2.839

8. Bulukumba 1440 0 0 0

9. Selayar 10.164 0 0 0

10. Sinjai 7.100 0 2.369 2.369

11. Bone 110.766 5.367 28.017 33.384

12. Soppeng 11.465 0 3.680 3.680

13. Barru 15.384 0 4.605 4.605

14. Pare-pare 339 355 0 355

15. Sidrap 26.948 66 7.977 8.043

16. Wajo 17.150 8.260 0 8.260

17. Pinrang 26.049 0 10.032 10.032

18. Enrekang 14.597 0 3.247 3.247

19. Tator 18.805 0 13.306 13.306

20. Luwu Utara 147.199 1.356 4.683 6.039
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 118

21. Luwu 30.593 2.787 1.050 3.837

22. Luwu Timur 105.836 1.802 4.390 6.192

23. Palopo 604 0 240 240

Jumlah 619.592 56.500 97.756 154.267

Sumber: Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Provinsi Sulawesi Selatan, 2003.

IV. Analisis Faktor Pendukung Lain Berkembangnya Kehutanan Masyarakat

a. Usaha Masyarakat Dalam Kawasan Hutan
Jenis tanaman yang diusahakan penduduk cenderung lebih dominan banyak
mengusahakan komoditas perkebunan seperti coklat, sedang jenis pohon penghasil kayu,
seperti gemelina, sengon dan jabon hanya dalam skala kecil pada pinggir kebun penduduk.
Pada wilayah dengan kondisi iklim yang lebih kering ( iklim C – D), maka hutan
tanaman rakyat yang diusahakan masyarakat adalah jenis-jenis kayu jati, kemiri, sengon,
gmelina, mahoni dan atau campuran diantara jenis tersebut. Sistem wanatani yang diterapkan
adalah sistem perladangan menentap secara gilir – balik.

b. Potensi Sosial Budaya Masyarakat yang Mendukung Usaha Kehutanan
Penduduk sekitar hutan yang mempunyai budaya religi terkait dengan pemanfaatan
hasil hutan kayu dan non kayu, maka hutan rakyatnya terbangun atas inisiatif dari masyarakat
sendiri, seperti masyarakat Kabupaten Tana Toraja dan masyarakat Kajang di Kabupaten
Bulukumba.
Budaya pembangunan hutan tanaman oleh masyarakat lainnya, yaitu siklus wanatani
dari ladang, kebun campuran, talun (hutan tanaman rakyat) dan pada beberapa tahun
kemudian ( 8 – 15 tahun ). Pola wanatani ini dapat dijumpai pada sistem wanatani kemiri,
wanatani jati, wanatani tegakan gemelina, wanatani hutan pinus, dan wanatani kebun
campuran pepohonan dengan tanaman perkebunan.
Penanaman pepohonan berkayu pada sistem wanatani demikian, merupakan pranata
sosial sebagai “property right” terhadap lahan yang merupakan aturan tidak tertulis.
Tegakan pohon berbentuk talun yang ditinggalkan tersebut, terutama dilakukan pada
wilayah-wilayah yang awal pembukaan lahan untuk perladangan dilakukan pada daerah
padang perumputan, yang merupakan bukti tanda kepemilikan sekaligus tanda bahwa lahan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 119

tersebut pernah diolah, yang selanjutnya pada saat kembali meladangi wilayah tersebut, maka
areal bersangkutan tidak ada yang memprotesnya dari sesama petani.
c. Ketersediaan Industri dan Pasar Hasil Hutan
Pada daerah-daerah yang mempunyai keterkaitan industri pengolahan kayu, maka
hutan tanaman rakyat pada lahan milik dan pada kawasan hutan berkembang dengan baik,
seperti pada daerah Luwu Raya yang didukung dengan keberadaan Panply dan beberapa
anak perusahaannya, maka berkembang penanaman secara spot-spot pohon gemelina. Pohon
jati berkembang pada beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, di dorong oleh adanya
permintaan kebutuhan komsumsi sendiri untuk kayu bangunan dan meubel, disamping
adanya kebutuhan industri meubel lokal dan kebutuhan bahan baku industri hulu-hilir di
Ibukota kabupaten/kota, yang indsutri finishingnya untuk tujuan ekspor dan regional/nasional
pada Kota makassar.
Produk kayu dari hutan tanaman rakyat yang sekarang ini telah dijual oleh masyarakat
hanya pada daerah–daerah dekat dengan jalan raya dengan menggunakan alat angkut mobil
ke industri pengolahan kayu terdekat. Sedangkan yang jauh dari jalan angkutan aspal atau
pengerasan jalan cenderung belum bisa dilayani oleh industri pengolahan kayu. Cara yang
dilakukan penduduk yang lokasi hutan tanaman rakyatnya jauh dari infrastruktur jalan adalah
dengan membuat bantalan atau sortimen papan dan gergajian untuk memudahkan penyaradan
dan pengangkutannya, meskipun cara demikian limbah eksploitasinya juga sangat besar
dibanding dengan kayu bulat dengan jenis yang sama yang diangkut dan diolah pada industri
pengolahan kayu.

Kotak 8. Perlunya Insentif buat Pengelola KM
”Masyarakat pada saat ini tidak tertarik melakukan investasi membangun hutan karena
harga kayu yang relatif murah. Investasi pemerintah dan swasta membangun industri hasil
hutan kayu di wilayah pedesaan hutan akan menciptakan kepastian harga kayu yang relatif
tinggi sehingga akan memicu masyarakat untuk melakukan investasi membangun hutan.
Aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan pengembangan usaha masyarakat
adalah perumusan Peraturan Daerah tentang pengelolaan usaha kehutanan bagi masyarakat
lokal dan membangun struktur pelayanan kehutanan di desa”

Sahide, dkk (2010) mengungkapkan bahwa di Sulawesi Selatan terdapat 2 (dua) buah
industri kayu lapis, yaitu PT. Katingan Timber Celebes yang berlokasi di Makassar dan PT.
Panca Usaha Palopo Plywood yang berlokasi di Desa Bua Kabupaten Luwu. Kedua industri
kayu lapis tersebut mengalami permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu,
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 120

sebagai akibat menurunnya produksi kayu bulat di Sulawesi Selatan dan tingginya biaya
transport bahan baku, karena bahan baku kayu diperoleh dari lokasi yang jauh (propinsi lain).
Hal ini menyebabkan terjadi deglomerasi yaitu kenaikan biaya rata-rata pada usaha industri
kayu lapis. Kalau kenaikan biaya ini tidak diimbangi dengan kenaikan harga kayu lapis,
maka lambat laun usaha kayu lapis mengalami kerugian. Syarat utama kesinambungan
produksi industri kayu lapis adalah tersedianya bahan baku kayu secara kontinyu sesuai
kebutuhan dan biaya perolehan bahan baku yang relatif murah. Beberapa hasil penelitian
menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku kayu lapis di Sulawesi Selatan selama kurun
waktu 1996-2005 rata-rata sebesar 256.779,66 m3/ tahun. Sedangkan rata-rata peroduksi
kayu bulat per tahun di Sulawesi Selatan dari hutan alam sebesar 116.779,82 m3 atau hanya
mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri industri kayu lapis di Sulawesi Selatan
hanya sebesar 55%.
Lebih lanjuit Sahide, dkk (2010) mengemukakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan
baku kayu lapis tersebut di Sulawesi Selatan, PT. Katingan Timber Celebes memperoleh
bahan baku dari propinsi lain, yaitu dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi
Tengah dan Maluku. Sementara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu pada industri
kayu lapis PT. Panca Usaha Palopo Plywood sejak 3 tahun terakhir mereka memperolehnya
dari Propinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Maluku Utara dan Sulawesi
Tenggara. Mencermati lokasi perolehan baku kayu industri kayu lapis dapat dikemukakan
bahwa terjadi biaya perolehan bahan baku yang tinggi (terjadi deglomersi industri kayu
lapis).
PT. Panca Usaha Palopo Plywood dalam mengatasi kelangkaan bahan baku dan biaya
perolehan bahan baku, mereka melakukan pembelian kayu rakyat seperti jenis mangga,
kemiri, durian, gemelina, kapok, sengon dan lain-lain melalui anak perusahaannya, yaitu PT.
PAL (Palopo Alam Lestari) telah mendirikan industri veneer di Kabupaten Bulukumba
dengan kapasitas produksi terpasang tahap awal 6.000 m3 dan telah ditingkatkan menjadi
30.000 m3. Bahan baku industri veneer tersebut disuplai dari produksi kayu rakyat
Kabupaten Sinjai, Bulukumba, Bantaeng dan Kabupaten Jenneponto. PT. PAL itu juga telah
membangun industri veneer di Kabupaten Sidrap yang diharapkan dapat menampung
produksi kayu rakyat dari kabupaten Sidrap, Pinrang, Enrekang bagian Selatan, Barru dan
Soppeng bagian Barat dengan kapasitas produksi pada tahap awal 6.000 m3/tahun. PT. PAL
juga merencanakan membangun industri veneer di Kabupaten Bone untuk menampung
produksi kayu dari Kabupaten Bone, Kabupaten Soppeng bagian Timur dan Kabupaten
Maros bagian Timur. PT. Panca Usaha Palopo plywood juga telah mendirikan industri veneer
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 121

di Kabupaten Tana Toraja melalui anak perusahaan PT. NJP (Nely Jeni Pratama) untuk
menampung produksi kayu pinus dari hutan rakyat dari Kabupaten Tator. Tambahan suplai
bahan baku kayu dari hutan rakyat saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan bahan baku
industri kayu lapis di Sulawesi Selatan.
Sahide, dkk (2010) mengungkapkan bahwa kabupaten/kota yang merupakan pusat-
pusat industri pengolahan hasil hutan kayu Sulawesi Selatan yang ditunjukkan oleh kapasitas
industri kabupaten/kota yang relatif besar terhadap total kapasitas industri pengolahan hasil
hutan kayu Sulawesi Selatan yaitu:
a. Kota Makassar dengan kapasitas industri pengolahan kayu hulu sebesar 226.690 m3/tahun
(42,6%) dan kapasitas industri pengolahan kayu hilir sebesar 153.567 m3/tahun (64,0%).
Kapasitas total industri pengolahan hasil hutan kayu Kota Makassar adalah sebesar
380.257 atau sebesar 49,2% dari total kapasitas industri pengolahan hasil hutan kayu
Sulawesi Selatan.
b. Kabupaten Luwu dengan kapasitas industri pengolahan kayu hulu sebesar 72.420 m3/tahun
(25,6%) dan kapasitas industri pengolahan kayu hilir sebesar 76.354 m3/tahun (31,8%).
Kapasitas total industri pengolahan hasil hutan kayu Kabupaten Luwu adalah sebesar
148.774 atau sebesar 19,2% dari total kapasitas industri pengolahan hasil hutan kayu
Sulawesi Selatan.
c. Kabupaten Luwu Utara dengan kapasitas industri pengolahan kayu hulu sebesar 136.310
m3/tahun (13,6%) dan kapasitas industri pengolahan kayu hilir sebesar 5.000 m3/tahun
(2,1%). Kapasitas total industri pengolahan hasil hutan kayu Kabupaten Luwu Utara
adalah sebesar 141.310 atau sebesar 18,3% dari total kapasitas industri pengolahan hasil
hutan kayu Sulawesi Selatan.
d. Kabupaten Tator dengan kapasitas industri pengolahan kayu hilir sebesar 40.000 m3/tahun
(16,6%). Kapasitas total industri pengolahan hasil hutan kayu Kabupaten Tator adalah
sebesar 5,2% dari total kapasitas industri pengolahan hasil hutan kayu Sulawesi Selatan.
e. Kabupaten Bulukumba dengan kapasitas industri pengolahan kayu hilir sebesar 30.000
m3/tahun (12,5%). Kapasitas total industri pengolahan hasil hutan kayu Kabupaten
Bulukumba adalah sebesar 3,9% dari total kapasitas industri pengolahan hasil hutan kayu
Sulawesi Selatan.

V. Analisis Potensi Kelembagaan Masyarakat

Bagian ini telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 122

VI. Saluran Pemasaran

Pemasaran merupakan proses pertukaran yang mencakup serangkaian kegiatan yang
tertuju untuk memindahkan barang-barang atau jasa- jasa dari produsen ke konsumen.
Kegiatan- kegiatan inilah yang sering disebut fungsi- fungsi pemasaran
Limbong dan Sitorus (1985) dalam Efendi (2010) menyatakan bahwa rantai pemasaran
dapat dicirikan dengan memperhatikan banyaknya tingkat saluran. Panjangnya suatu saluran
tataniaga/pemasaran akan ditentukan oleh banyaknya tingkat perantara yang dilalui oleh
suatu barang dan jasa. Saluran pemasaran tersebut meliputi :
1. Saluran non tingkat (zero level channel) atau dinamakan sebagai saluran
pemasaranlangsung, adalah saluran dimana produsen atau pabrikan langsung menjual
produknya ke konsumen.
2. Saluran satu tingkat (one level channel) adalah saluran yang menggunakan satu
perantara.
3. Saluran dua tingkat (two level channel), mencakup dua perantara.
4. Saluran tiga tingkat (three level channel), didapati tiga perantara
Alam (2009) mencontohkan kayu jati yang dibeli oleh pedagang lokal di Kabupaten
Bone biasanya digunakan untuk indutri yang dibuat dalam bentuk barang jadi yang langsung
dipakai oleh konsumen lokal. Kayu pertukangan yang dibeli oleh pedagang lokal dipasarkan
ke industri meubel. Skema saluran pemasaran kayu jati Kabupaten Bone digambarkan
sebagai berikut

Agen Industri
Meubel

Petani
Pedagang Pedagang Industri
Pengumpul Besar Setengah Jadi

Gambar 17. Skema Saluran Pemasaran Kayu Jati (Sumber: Alam, 2009)

Contoh yang lebih kompleks di laporkan oleh (Sugih 2009) dalam Efendi (2010)
Skema saluran pemasaran produk dan bentuk kayu pertukangan yang berhasil teridentifikasi
di wilayah Kabupaten Sukabumi yang dominan dijual diantara masingmasing pelaku
pemasaran, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 123

Gambar 18. Skema Saluran Pemasaran Produk kayu Pertukangan (Sumber: Sugih
(2009) dalam Efendi (2010))
VII. Konsep Pengembangan Usaha Kehutanan Masyarakat

a. Ragam Hasil Hutan
Ragam hasil hutan yang bernilai ekonomi baik langsung maupun tidak langsung, baik
masyarakat yang bermukim di dalam maupun di luar kawasan hutan. Nilai ekonomi langsung
hasil hutan bagi masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan hutan bersumber
dari: (1) pemungutan hasil hutan bukan kayu seperti rotan, madu rimba, aren, dan beberapa
jenis buah, (2) pemungutan hasil hutan kayu bakar dan kayu pertukangan, (3) pemanfaatan
kawasan hutan sebagai areal perladangan tanaman semusim seperti jagung, padi, kacang
tanah (4) pemanfaatan kawasan hutan untuk menanam tanaman kopi di bawah tegakan, dan
(5) pemanfaatan kawasan hutan sebagai areal penggembalaan ternak sapi secara liar.
Sedangkan nilai ekonomi tidak langsung terdiri atas (1) nilai perlindungan dan pengaturan
tata air wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) dan (2) potensi wisata, meskipun potensi
tersebut belum dikelola sebagai suatu unit bisnis berbasis kehutanan.
Ragam hasil hutan yang potensial diusahakan masyarakat seperti diuraikan di atas,
harus dikelola sebagai suatu unit bisnis berbasis kehutanan. Pengembangan bisnis berbasis
kehutanan diarahkan pada aglomerasi usahatani masyarakat yang: (1) memadukan aktivitas
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 124

usaha masyarakat di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan, (2) memadukan
usahatani ladang dengan usahatani kebun, ternak, dan industri gula merah sebagai suatu unit
bisnis yang terintegrasi, (3) mengintegrasikan sub sistem-sub sistem yang terkait dengan
pengembangan bisnis berbasis kehutanan baik sub system yang sifatnya hulu maupun hilir.
Karaktersitik usahatani yang tidak teraglomerasi dan tidak terintegrasi seperti yang
berlangsung saat ini menyebabkan nilai manfaat ekonomi usahatani masyarakat relatif
rendah, berpotensi berdampak ekonomi negatif kepada sumberdaya hutan dan sumberdaya
lainnya, yang pada akhirnya bermuara kepada pengelolaan unit bisnis yang tidak
berkelanjutan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan usaha masyarakat adalah
memperkuat kelembagaan usaha, yang mencakup aspek legalitas usaha dan aspek
kelembagaan unit usaha.
Legalitas usahatani masyarakat di dalam kawasan hutan saat ini sangat lemah karena
belum melalui prosedur standar perizinan usaha kehutanan sesuai peraturan yang ada.
Sementara itu, kelembagaan usaha masyarakat juga lemah karena unit usahanya (unit operasi)
adalah individu petani yang posisi tawarnya tidak kuat untuk mengakses faktor-faktor
produksi dan sub system lain yang terkait dengan usaha tani. Dengan demikian, program
kehutanan masyarakat harus memfasilitasi penguatan legalitas usaha masyarakat sesuai
prosedure standar perizinan usaha kehutanan dan menfasilitasi penguatan unit operasi dengan
mempersatukan kekuatan unit operasi individu petani menjadi unit usaha berkelompok.
Lembaga usaha yang perlu untuk segera dibentuk adalah "Kelompok Usaha Bersama"
(KUB). KUB merupakan sebuah lembaga yang dibentuk melalui kesepakatan masyarakat
multi pihak dan merupakan sarana bagi masyarakat untuk melakukan simpan pinjam, menjadi
penjamin untuk memperoleh kredit, menjadi pusat informasi perdagangan komoditi dan
sarana bagi mereka untuk belajar mandiri membangun lembaga usaha yang tangguh misalnya
koperasi. KUB diharapkan dapat menjadi "Bank Mini" yang menerapkan bagi hasil kepada
semua anggotanya bila mendapatkan Sisa Hasil Usaha pada setiap periode.
Pada saat kelembagaan usaha KUB sudah kuat, jaringan mitra dengan lembaga-
lembaga di luar kehutanan masyarakat dapat dibangun. Pengembangan jaringan dimaksudkan
untuk meningkatkan kapasitas masyarakat mengenai aspek-aspek tertentu yang
membutuhkan fasilitasi dari pihak luar seperti pasar, peningkatan mutu, daya saing,
permodalan, pengembangan industri pengolahan, dan lain-lain. Kemitraan antara KUB
dengan lembaga swasta ini harus diikat dalam sebuah perjanjian kerjasama sehingga lembaga
swasta memperoleh kepastian berusaha dan petani mendapatkan kepastian keberlanjutan
usaha.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 125

Penguatan kelembagaan usaha harus pula diikuti dengan pembangunan infrastruktur
fisik jalan untuk membuka akses keluar wilayah areal hutan yang dikelola oleh masyarakat.
Prasarana jalan yang ada saat ini sebagian besar hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua
sehingga tidak efisien untuk mengangkut hasil usaha masyarakat ke luar wilayah usaha
kehutanan. Hal ini menyebabkan harga komoditi menjadi rendah karena tingginya biaya
angkut.

b. Konsep Pengembangan Bisnis Berbasis Kehutanan
Bisnis berbasis kehutanan masyarakat yang potensial dikembangkan terdiri atas: (1)
usaha-usaha pemungutan hasil hutan, (2) usaha pemanfaatan kawasan hutan, (3) usaha
pemanfaatan jasa lingkungan, dan (4) usaha agroforestry. Konsep pengembangan usaha
tersebut mencakup, (1) pengembangan system produksi, (2) pengembangan system
kelembagaan usaha dan (3) pengembangan system pendukung.

c. Konsep Pengembangan Sistem Produksi
Pengembangan sistem produksi bertujuan untuk meningkatkan produktifitas, nilai
produktifitas, serta nilai lingkungan dari usaha-usaha masyarakat yang ada saat ini. Prinsip
dasar dari konsep pengembangan system produksi adalah aglomerasi, integrasi, dan
keberlanjutan usaha. Sistem produksi usaha kehutanan masyaraakat diarahkan kepada
pengembangan beragam usaha (aglomerasi) sesuai kondisi penutupan lahan, status lahan
(kawasan hutan dan bukan kawasan hutan) dan fungsi areal (hutan lindung, hutan produksi,
kawasan lindung/penyangga). Ragam usaha tersebut dikelola secara terintegrasi (hulu – hilir)
sebagai suatu unit bisnis kehutanan yang berkelanjutan.
Wilayah usaha kehutanan dengan penutupan vegetasi hutan primer akan
dikembangkan unit usaha pemungutan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu rotan, madu,
dan jasa lingkungan (pengaturan tata air dan wisata) . Sedangkan wilayah dengan penutupan
vegetasi hutan sekunder (baik hutan lindung maupun hutan produksi), akan dikembangkan
unit usaha pengayaan dengan jenis Tanaman Unggulan Lokal (TUL) dan jenis Aneka Usaha
Kehutanan (AUK).
Kawasan hutan dengan penutupan vegetasi kebun dan atau ladang masyarakat baik
yang berada di dalam maupun di luar kawasan hutan akan dikembangkan pola-pola
agroforestry, dan pada wilayah dengan penutupan vegetasi semak belukar dan atau padang
rumput akan dikembangkan unit usaha rehabilitasi.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 126

Pemungutan hasil hutan bukan kayu diarahkan pada pemungutan hasil hutan rotan,
aren, dan madu di dalam kawasan hutan lindung, sedangkan pemanfaatan hasil hutan kayu
dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu rotan diarahkan di dalam kawasan hutan produksi.
Pengayaan pada kegiatan usaha kehutanan selain dimaksudkan untuk meningkatkan
fungsi produksi kawasan juga diharapkan akan dikelola sebagai suatu unit usaha masyarakat
dengan memanfaatkan hasil TUL dan AUK hasil pengayaan tersebut. Dalam hal ini sistem
produksi harus dikelola secara berotasi.
Pengembangan pola-pola Agroforestry diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi
usaha masyarakat serta nilai lingkungan sehingga unit usaha masyarakat tersebut dapat
dikelola sebagai unit bisnis yang berkelanjutan.

d. Konsep Pengembangan Sistem Kelembagaan Usaha
Terdapat beberapa macam usaha masyarakat kehutanan masyarakat antara plain:
a. Pemungutan nira aren di dalam kawasan hutan sebagai bahan baku industri gula merah
b. Pemungutan hasil hutan kayu bakar dan kayu bangunan
c. Pemungutan hasil hutan rotan dan madu
d. Perladangan di dalam kawasan hutan
e. Usahatani kebun campuran di dalam kawasan hutan
f. Pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan untuk menanam tanaman kopi
g. Pemanfaatan kawasan hutan untuk areal penggembalaan liar
h. Usaha gula merah pada lahan di luar kawasan hutan
i. Usahatani tanaman semusim pada lahan milik
j. Usahatani kebun campuran pada lahan milik
Usaha masyarakat tersebut di atas dilakukan secara individu-individu oleh rumah
tangga petani sebagai unit operasi. Hal ini menyebabkan posisi tawar unit operasi (petani)
untuk mengakses faktor-faktor produksi dan mengakses pasar sangat lemah yang berdampak
kepada rendahnya nilai usaha masyarakat. Masalah-masalah teknis produksi, pengolahan dan
pemasaran hasil usaha tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh unit operasi.
Tipologi usaha masyarakat seperti diuraikan di atas disebabkan oleh lemahnya system
kelembagaan usaha masyarakat. Oleh karena itu, pemberdayaan kelembagaan usaha adalah
solusi yang tepat untuk mengembangkan bisnis berbasis kehutanan. Pemberdayaan
kelembagaan usaha ini mencakup pemberdayaan kelembagaan unit operasi (petani) dan
pemberdayaan sub system yang terkait dengan unit operasi seperti, pedagang lokal, lembaga
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 127

pemerintah desa, serta lembaga-lembaga penyangga seperti perguruan tinggi, LSM, dan
pihak swasta.
Pemberdayaan kelembagaan unit operasi, pada tahap awal, dilakukan dengan
memperkuat unit operasi (petani) dan usaha yang ada. Potensi yang dimiliki oleh unit operasi
(petani) diperkuat, sampai unit operasi tersebut mempunyai kemampuan kelembagaan untuk
dapat bersaing dengan kelembagaan lain yang terkait. Kelembagaan kehutanan masyarakat
pada level desa, lembaga pemerintahan desa, LSM, dan perguruan tinggi diharapkan menjadi
fasilitator inti pada tahap awal proses penguatan kelembagaan unit operasi.
Pemberdayaan kelembagaan unit operasi disesuaikan dengan ragam usaha
masyarakat. Kelembagaan usaha masyarakat yang berada di dalam kawasan hutan lindung
sedapat mungkin berbentuk kelompok usaha bersama, sedangkan kelembagaan usaha
masyarakat yang berada di luar kawasan hutan, dapat berbentuk unit operasi individu, atau
kelompok.
Indikator kuatnya kelembagaan unit operasi dapat dilihat dari kemampuan negosiasi,
kemampuan teknik budidaya, kemampuan modal, dan kemampuan pasar. Apabila
kelembagaan unit operasi sudah kuat, maka tahap selanjutnya adalah membangun kemitraan
dengan kelembagaan lain yang lebih besar, terutama kelembagaan yang berasal dari luar
AKSF seperti pedagang, pemodal besar, dan lain-lain. Hal ini dimakusdkan untuk
memperkuat kelembagaan kelompok usaha bersama yang diharapkan menjadi cikal bakal
koperasi usaha berbasis kehutanan.
e. Konsep Pengembangan Sistem Pendukung
Dalam pengembangan bisnis berbasis kehutanan di desa terdapat suatu hal yang
sangat penting dan perlu diperhatikan sejak awal, yaitu keseimbangan kekuatan negosiasi
(negotiating fower) antar stakeholders. Tanpa keseimbangan ini maka perjalanan
pengembangan bisnis berbasis kehutanan akan pincang dan pada akhirnya akan terhenti dan
bubar. Para peneliti dan tim pakar perlu terus menerus memonitor dan menganalisis dan
mengevaluasi perjalanan keseimbangan ini.
Hal yang perlu dimonitor sejak awal adalah munculnya stakeholder yang terlalu kuat
seperti kejadian dalam banyak kasus Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang mempunyai
kemampuan negosiasi yang sangat kuat dengan masyarakat lokal yang tidak memiliki
kekuatan negosiasi sama sekali. Oleh karena itu, Kepala Desa Lonjoboko mengambil
kebijakan untuk mencegah terjadinya pengalihan penguasaan lahan masyarakat lokal kepada
pihak luar untuk menguasai lahan. Hal yang perlu dihindari adalah terjadinya
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 128

ketidakseimbangan antar stakeholder terkait di desa, karena hal tersebut akan memicu
masyarakat local menjual hak penguasaan lahannya dan selanjutnya masuk lagi ke dalam
kawasan hutan yang lebih jauh untuk merambah hutan dan menguasai lahan.
Sebelum jejaring (network) kemitraan dibangun, masyarakat lokal memerlukan
pendampingan untuk membentuk “Kelompok Usaha Bersama” yang terus menerus harus
dibina agar kelak usaha bersama tersebut dapat menjadi badan usaha koperasi yang kuat, dan
memiliki kemampuan negosiasi yang kuat untuk dapat ikut dalam jejaring kemitraan.
Kalau badan usaha koperasi sudah terbentuk dan menjadi kuat, barulah dapat
dibangun jejaring yang anggota-anggota stakeholdernya relatif seimbang. Kalau tidak, maka
masyarakat tidak akan memiliki negotiating power yang cukup untuk dapat mengambil
peranan dalam system jejaring. Kalau demikian, masyarakat lokal akan menjual hak
penguasaan lahannya dan masuk lagi mencari lahan di kawasan hutan untuk mereka jadikan
ladang.

VIII. Pengembangan Jejaring dan Kemitraan Bisnis

a. Peningkatan Kapasitas Bisnis Masyarakat Lokal
Hal pertama yang perlu dikerjakan adalah pembuatan konsep pendampingan terhadap
masyarakat lokal agar mereka dapat mengorganisir diri dalam kelompok usaha bersama pada
setiap nodal-nodal pemukiman, yang kemudian masing-masing kelompok usaha bersama
dapat dikembangkan menjadi koperasi. Pembentukan kelompok usaha bersama ini sejalan
dengan pemikiran agar masyarakat lokal dapat membangun aglomerasi pemukiman yang kuat
dan dapat menarik mereka yang tinggal tersebar di dalam hutan ke nodal-nodal pemukiman
yang memiliki kelompok usaha bersama (koperasi) yang kuat. Nodal-nodal pemukiman yang
kuat akan menjadikan kegiatan-kegiatan pelayanan, baik pelayanan publik, maupun
pelayanan (transaksi) bisnis, menjadi lebih efisien.
Jika hal tersebut di atas tidak dilakukan, maka masyarakat lokal tidak mempunyai
kapasitas yang memadai atau bahkan tidak mempunyai kapasitas sama sekali untuk menjadi
pelaku agrosilvopasture bisnis. Kalau mereka tidak tidak dapat menjadi pelaku bisnis yang
seimbang, mereka akan masuk hutan dan membuka lahan hutan untuk berladang, yang akan
sangat membahayakan fungsi lindung dan konervasi sumberdaya hutan. Hal ini akan
meningkatkan resiko akan terjadinya bencana alam, seperti banjir bandang dan tanah longsor.
Pembukaan lahan hutan untuk perladangan ini terjadi karena masyarakat lokal hanya
memiliki kemampuan teknik budidaya perladangan di hutan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 129

Pedoman ini perlu menyoroti dan mempertimbangkan tahap kemampuan budidaya,
kapasitas bisnis, dan kemampuan negosiasi masyarakat lokal sekarang ini. Hal ini diperlukan
dalam penyusunan rencana pendampingan guna meningkatkan kapasitas bisnis
agrosilvopasture masyarakat lokal. Peningkatan kapasitas bisnis agrosilvopasture masyarakat
lokal mutlak dilakukan (diprogramkan dan direncanakan) melalui proses pendampingan
partisipatif yang sesuai.
Peningkatan kapasitas bisnis masyarakat lokal menjadi sangat penting kalau kita
hubungkan konsep peningkatan kapasitas masyarakat lokal ini dengan konsep akumulasi dan
akses modal masyarakat lokal serta konsep kelestarian hutan yang sangat memerlukan
peningkatan kapasitas, akumulasi dan akses modal bagi masyarakat lokal. Hubungan tersebut
akan dibahas pada topik “Akumulasi dan Akses Modal Masyarakat Lokal” berikut ini.

b. Akumulasi dan Akses Modal Masyarakat Lokal
Usaha pendampingan untuk meningkatkan kapasitas bisnis agrosilvopasture
masyarakat lokal seyogianya ditujukan agar lembaga usaha masyarakat lokal dapat dari
waktu ke waktu meningkatkan laba bersih (profit margin) lembaga-lembaga usaha
masyarakat lokal. Disini dipakai istilah “laba bersih” (profit margin). Sengaja tidak dipakai
istilah “penghasilan” seperti yang dipakai Pedoman Umum Pembuatan RTSF (SK Dirjen
RLPS No. 146/Kpts/V/2003 tertanggal 30-12-2003). Istilah pendapatan, penghasilan, laba,
dan laba bersih adalah istilah teknis yang berbeda dalam diskusi atau pemaparan akumulasi
modal, neraca, dan kelayakan usaha suatu bisnis, apalagi bisnis agrosilvopasture. Kenapa
profit margin (laba bersih) usaha bisnis masyarakat lokal menjadi sangat penting, jawabannya
adalah bahwa profit margin masyarakat lokal akan terakumulasi menjadi modal lokal (modal
internal wilayah pedesaan hutan) yang mudah diakses oleh pelaku bisnis masyarakat lokal
sendiri. Halnya akan berlainan jika profit margin itu dihasilkan oleh pelaku bisnis non-lokal
(berasal dari eksternal wilayah pedesaan hutan). Jika profit margin dihasilkan oleh pelaku
bisnis non-lokal maka profit margin tersebut tidak akan terakumulasi sebagai modal internal
wilayah pedesaan hutan, karena modal ini akan lari keluar wilayah pedesaan hutan, sehingga
tidak dapat diakses oleh p\elaku bisnis masyarakat lokal. Selanjutnya, kenapa akses terhadap
modal lokal menjadi sangat penting? Jawabannya dijelaskan dengan sangat baik oleh konsep
pengganda pendapatan dan pengganda kesempatan kerja masyarakat lokal. Para peneliti akan
dengan sangat menjelaskan, baik dengan model economic base maupun dengan model input-
output. Suatu wilayah, bahwa akumulasi modal lokal akan sangat berpengaruh positif
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 130

terhadap kedua pengganda tersebut. Selanjutnya pengaruh hambatan (negatif) akan timbul
jika profit margin tidak terakumulasi sebagai modal dalam wilayah internal, malah modal
tersebut lari keluar dari wilayah pedesaan hutan dan menjadi tidak dapat diakses oleh pelaku
bisnis masyarakat lokal.
Memang akumulasi dan akses modal masyarakat lokal perlu mendapat sorotan tajam
dalam upaya pengembangan bisnis berbasis kehutanan karena akumulasi dan akses modal
merupakan suatu hal yang menentukan berhasil tidaknya suatu usaha. Modal diperlukan
dalam segala aspek kegiatan usaha atau bisnis, apalagi bisnis berbasis kehutanan.
Pengaruhnya akan berdampak jauh karena akumulasi dan akses modal akan menentukan
apakah masyarakat lokal akan bertahan dalam usaha atau bisnis yang berbasis kehutanan
lestari atau sebaliknya masyarakat tidak mampu bertahan dan lari ke kawasan hutan mencari
lahan untuk mereka jadikan areal perladangan yang tidak dikendalikan.

PENUTUP

I. Penugasan

Membuat makalah terkait strategi pengelolaan usaha kehutanan masyarakat di
a. Kawasan hutan lindung
b. Kawasan hutan produksi
c. Kawasan hutan konservasi
d. Kawasan hutan rakyat

II. Strategi merespon penugasan

Mahasiswa dapat membuat kategorisasi apa yang boleh dilakukan masyarakat dalam
setiap areal fungsi kawasan hutan, kemudian mencari peluang kebijakan skema kehutanan
masyarakat yang didukung oleh kebijakan yang tepat. Mahasiswa dapat mencari contoh
kasus yang tepat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 131

DAFTAR PUSTAKA

Alam Syamsu, 2009. Studi Pemasaran Kayu Jati Rakyat di Kabupaten Bone. Jurnal
Hutan dan Masyarakat Vol. IV No. 3 ,Desember 2009, Halaman 151-162.
Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan. UNHAS

Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, 2007. Laporan Redesain Areal HTUL
Menjadi Areal HTR di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2007. Makassar. Tidak
dipublikasikan
Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, 2003. Master Plan Rehabilitasi Hutan dan
Lahan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2003. Makassar. Tidak dipublikasikan

Efendi R. 2010. Rantai Pasar Produk Social Forestry. Hal 109-119 dalam . Social
Forestry Menuju Restorasi Pembangunan Kehutanan Berkelanjutan. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Kementerian Kehutanan

Sahide, M. A. K., Supratman. , Dassir M., Junus M., Mahbub A.S., Makkarennu, 2010.
Studi Implementasi Program Hutan Tanaman Rakyat di Sulawesi Selatan. Balai
Penelitian dan Pengembangan propinsi Sulawesi Selatan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 132

BAB VI. MANAJEMEN KONFLIK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN

PENDAHULUAN

I. Tujuan Instruksional

1. Mahasiswa mampu menjelaskan tata kelola konflik pengelolaan sumberdaya hutan
2. Mahasiswa mampu menganalisis konflik pengelolaan hutan
3. Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip mediasi konflik pengelolaan hutan

II. Proses pembelajaran

Pada pembelajaran ini akan dipakai metode small group discussion dengan fokus pada
kelompok-kelompok kecil mahasiswa yang akan mendiskusikan manajemen konflik
pengelolaan sumberdaya hutan. Juga akan dipakai metode role play dalam praktek mediasi
konflik sumberdaya hutan
Pada tahap pertama;
a. dosen mengulas ulang secara singkat materi sebelumnya terkait kompleksitas persoalan
kehutanan dan hubungannya dengan konflik sumberdaya hutan, dosen meminta seluruh
mahasiswa memberikan defenisi tersendiri tentang konflik.
b. dosen menjelaskan kategorisas konflik, psikologi konflik, segitiga konflik serta beberapa
akar konflik pengelolaan hutan di Indonesia
Pada tahap kedua
a. dosen memfasilitasi mahasiswa untuk membuat beberapa kelompok berdasarkan issu-issu
utama dalam analisis situasi persoalan kehutanan, antara lain (sebagai contoh) ;
perambahan liar, degradasi hutan dan lahan, kekosongan pelayanan publik kehutanan
(pengurusan dan pengelolaan hutan) di tingkat tapak, otonomi daerah di sektor kehutanan,
kemiskinan masyarakat didalam dan sekitar kawasan hutan, konflik antara masyarakat
dan pemangku kawasan hutan, dll (kegiatan ini dapat dilakukan selama 2 menit)
b. dosen mengarahkan kelompok-kelompok mahasiswa agar mampu;
o mencari persoalan substantif dari rangkaian masalah tersebut (mencari akar
permasalahan)
o mencari alternatif pengelolaan sumberdaya hutan berdasarkan masalah-masalah
tersebut
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 133

Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok dan dilakukan selama 40-60
menit dengan sebelumnya membagikan handout tentang filosofi, konsepsi dan varian
kehutanan masyarakat sebagai bahan diskusi. Dosen mencatat semua aktifitas diskusi dan
mengevaluasi kaktifan mahasiswa.
Pada tahap ketiga
a. dosen memberikan penugasan kepada setiap individu untuk memberikan uraian tentang
analisis konflik dan mediasi sumberdaya alam
b. dosen meminta memaparkan sub tema setiap mahasiswa dalam bentuk poster (jika peserta
terlalu banyak dapat dikerja secara berkelompok)
c. dosen memberikan evaluasi terhadap hasil diskusi kelompok serta presentase poster
Pada tahap keempat
a. dosen memfasilitasi praktek mediasi konflik sumberdaya hutan dengan menggunakan
met role play, yakni mahasiswa memerankan peran-peran tertentu dari skenario konflik
pengelolaan hutan
b. dosen memberikan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan
Pada tahap kelima
Dosen menyampaikan tugas untuk pertemuan (dengan tema bahasan yang berbeda)
yakni penugasan kepada setiap individu untuk mencari contoh lain tentang praktek
pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Indonesia dan di luar negeri. Kegiatan tersebut
akan dirangkum melalui poster yang menarik dan akan dipresentasikan dalam bentuk poster
dosen memberikan evaluasi terhadap hasil diskusi kelompok serta presentase poster

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Konflik (Pengantar)

Mugasejati (2009) mengungkapkan bahwa konflik berasal dari perubahan yang
menimbulkan rasa tidak puas (discontent) dan penderitaan (grievances), dan kemudian
menyebabkan munculnya pihak-pihak yang berkonflik (conflicting parties). Berdasarkan
hasil penelitian Centre International Forestry Research (CIFOR) menyatakan bahwa dari 359
kasus sebagian besar konflik kehutanan terjadi di areal HTI (39%), di kawasan konservasi
(34%), dan di kawasan hutan produksi HPH (27%). Dalam penelitian tersebut juga
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 134

menunjukkan peningkatan jumlah konflik kehutanan dan cenderung disertai dengan
kekerasan, yang diduga karena dampak reformasi yang kebablasan (euforia). Reformasi
mendorong masyarakat lebih sadar akan haknya dan berani menuntut untuk memperoleh
porsi manfaat yang lebih wajar atas keberadaan hutan di sekitar mereka. Akibat lambatnya
penyelesaian konflik kehutanan (karena rumit dan melibatkan banyak pihak) seringkali
konflik tersebut diekspresikan dalam bentuk perlawanan terbuka dengan kekerasan. Berbagai
informasi tentang konflik kehutanan seringkali didramatisir, bahkan ada yang sampai ke
agenda Internasional Labor Organization (ILO), yaitu kasus konflik di HPH PT. Timber Dana
tahun 1990-an dengan tuduhan perbudakan, walaupun pada akhirnya tuduhan tersebut tidak
terbukti.
Memperhatikan kondisi konflik yang sering terjadi di bidang kehutanan, maka jelas
sekali para Rimbawan termasuk sarjana kehutanan perlu memiliki kemampuan untuk
menghadapi dan ”mengelola konflik” kehutanan agar pengelolaan hutan secara lestari dapat
terwujud. Menurut Wulan, dkk, (2004), Peristiwa konflik yaitu kejadian suatu konflik yang
telah muncul ke permukaan. Sebagaimana diketahui konflik di sektor kehutanan bervariasi
mulai dari konflik dengan intensitas yang rendah, seperti keluhan-keluhan, sampai kepada
konflik dengan tekanan yang tinggi seperti aksi-aksi destruktif. Penyebab konflik kehutanan
Indonesia pada kurun waktu 1997 - 2003 dapat dibagi dalam lima kategori sebagai berikut:
1. Perambahan hutan, Yakni kegiatan pembukaan lahan pada kawasan hutan yang
bermasalah karena adanya perbedaan penafsiran mengenai kewenangan dalam
pengelolaannya.
2. Pencurian kayu, adalah penebangan kayu secara ilegal yang dilakukan oleh
mayarakat/perusahaan di lokasi yang bukan miliknya, sehingga menimbulkan konflik
dengan pihak lain yang merasa dirugikan.
3. Batas, adalah perbedaan penafsiran mengenai batas-batas pengelolaan/kepemilikan lahan
antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik;
4. Perusakan lingkungan, adalah kegiatan eksploitasi yang menyebabkan terjadinya
degradasi manaat suatu SDA dan kerusakan mutu lingkungan disuatu daerah;
5. Alih fungsi, yaitu perubahan status kawasan hutan (misalnya dari hutan lindung menjadi
hutan produksi) yang menimbulkan berbagai permasalahan antara pihak-pihak yang
berkepentingan.
Hasil penelitian Wulan, dkk, (2004), merekomendasikan agar (i) pengelolaan konflik
dipertimbangkan sebagai elemen dalam pengelolaan hutan, (ii) pemantauan konflik
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 135

kehutanan terus dilakukan agar kejadian, penyebab dan cara untuk mengelolanya dapat
dipelajari lebih jauh, dan (iii) pilihan-pilihan metode untuk pengelolaan konflik harus digali.
Menurut pandangan kelompok masyarakat sipil Indonesia (17 organisasi non
pemerintah), Syafitrri, dkk (2011) bahwa tipologi konflik tenurial kehutanan di Indonesia
antara lain adalah;
1. Konflik antara masyarakat adat dengan Kemenhut
2. Konflik antara masyarakat vs Kemenhut vs BPN
3. Konflik antara masyarakat transmigran vs masyarakat adat/lokal vs Kemenhut vs
pemerintah daerah vs BPN
4. Konflik antara masyarakat petani pendatang vs Kemenhut vs pemerintah daerah
5. Konflik antara masyarakt desa vs Kemenhut
6. Konflik antara calo tanah vs elite politik vs masyarakat petani vs Kemenhut vs BPN
7. Konflik antara masyarakat lokal (adat) vs pemegang izin
8. Konflik antara pemegang izin kehutanan dan sektor lain-lain (pertambangan dan
perkebunan)
9. Konflik karena gabungan berbagai aktor 1 -8
Konflik mesti terkelola
Konflik jika tidak terkelola maka dapat menimbulkan konflik kekerasan dan
menghasilkan banyak bencana materil dan non materil, dampak secara ekonomi, sosial,
budaya dan bahkan politik bisa menjadi ongkas sosial yang sangat besar, dan pihak yang
biasanya sering menangung secara langsung adalah pihak yang termarjinalkan seperti kaum
miskin, perempuan, orang tua dan anak-anak.
II. Kenapa Konflik terjadi ?

Sepanjang pengetahuan penulis serta didukung oleh metode Rata yang dikembangkan
oleh ICRAF dan mitra, menemukan bahwa Sepuluh sumber konflik tenurial yang ada di
Indonesia pada umumnya antara lain;
1. Perubahan pemerintahan (adat, kolonial, kemerdekaan)
2. Status ganda (hukum pemerintah dan adat)
3. Batas lahan
4. Tumpang tindih penguasaan lahan
5. Kurangnya pengakuan terhadap hukum adat
6. Tidak adanya catatan status kepemilikan
7. Perluasan lahan pertanian
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 136

8. Ketimpangan ekonomi
9. Pengungsian
10.Adanya migrasi masuk

Gambar 19.Praktek Penggalian Informasi dan Mediasi di Level Komunitas
Praktek/kunjungan lapangan membantu mereka mengaktualisasikan
kemampuan memediasi kepentingan masyarakat dan kepentingan
stakeholder

Menurut Mugasejati (2009) bahwa konflik muncul apabila:
1. satu atau lebih pihak berhasil membangun identitas bersama
2. berhasil menciptakan perasaan penderitaan yang sama
3. berhasil membangun tujuan bersama dan melihat pihak lain yang menghalangi
pencapaian tujuan itu dan harus diubah
4. berhasil meyakinkan bahwa mereka bisa berhasil mencapai tujuannya
Ragam Kebijakan dan Program Manajemen Sumberdaya Hutan sebagai Sumber dan
Arena Konflik

a) Kebijakan yang dipaksakan tanpa partisipasi lokal
b) Kurangnya keselarasan dan koordinasi antara batang tubuh peraturan dan prosedur
normatif
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 137

c) Identifikasi yang lemah dan konsultasi yang tidak cukup dengan para pihak
d) Perencanaan yang tidak terkoordinasi
e) Ketidaksempurnaan dan kurangya pembagian informasi
f) Kapasitas kelembagaan yang kurang
g) Ketidaksempurnaan monitoring dan evaluasi program
h) Kurangnya mekanisme yang efektif dari pengelolaan konflik
i) Ragam sistem adat/informal dalam pengelolaan konflik
j) Sistem kebijakan nasional
k) Manajemen konflik alternatif
l) Pendekatan manajemen konflik alternatif untuk menujukkan konflik sumberdaya hutan

Posisi

Kepentingan
Kebutuhan

Gambar 20. Bawang Konflik (Sumber : Engel
dan Korf (2005))

Engel dan Korf (2005) memperkenalkan istilah bawang konflik dimana sustansi
dasar dari konflik adalah kebutuhan, kemudian ditengahnya adalah kepentingan barulah
kemudian yang berada di permukaan adalah posisi
- Posisi: Pernyataan dan perilaku yang ditampilkan
- Kepentingan: Apa yang dia capai
- Kebutuhan: Apa yang ingin dia penuhi
Dalam suatu situasi fasilitasi konflik pengelolaan hutan, para pihak pada fase awal
cenderung bertahan pada posisi-posisi mereka, dan sangat sulit untuk menggeser posisi
tersebut. Pada tahapan ini kecurigaan diantara para pihak sangat besar. Ketika proses mediasi
berlanjut, pada phase selanjutnya para pihak mencoba melihat sisi-sisi kepentingan-
kepentingan yang mereka wakili dan atau perjuangkan. Pada fase ini para pihak difasilitasi
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 138

untuk saling memahami kepentingan-kepentingan yang tidak hanya berbeda tetapi juga
berlawanan. Proses mediasi konflik selanjutnya adalah pada fase rekonsiliasi, ketika para
pihak mulai mengidentifikasi kebutuhan mereka sesungguhnya sehingga para pihak mulai
dapat melihat alternatif-alternatif penyelesaian masalah.

PROSEDURAL PSIKOLOGIS

SUBSTANTIF

Gambar 21. kategorisasi/segitiga konflik (Sumber : Engel dan
Korf (2005))

III. Pilihan-pilihan dasar dalam Manajemen Konflik

Menurut Engel dan Korf (2005) bahwa ada 4 teknik dasar dalam pengelolaan konflik
antara lain, (1) Negotiation- Mediation, (2) Arbitration (3) Adjudication (4) Force
a. Negosiasi , prinsipnya antara lain; bersifat kerelaan (Voluntary), bertemu secara
langsung ( Face-to-face), tidak ada intervensi dari luar ( No external intervention),
membuat point-point issue konflik yang jelas, menemukan pilihan-pilihan kesepahaman,
mencegah eskalasi
b. Mediasi pada prinsipnya antara lain; ada intervensii pihak ketiga, mediator adalah
sesoreang yang disetuji atau dipilih oleh pihak yang berkonflik, mediator haruslah netral,
mediator harus menciptakan suasana yang nyaman, mediator tidak punya otoritas dalam
menyediakan solusi
c. Arbitase pada prinsipnya antara lain; serupa dengan mediasi, arbitrator dapat membuat
keputusan, keputusannya mengkikat
d. Adjudikasi pada prinsipnya; proses hokum, mengikuti kebijakan (hokum) formal,
mengikat, prinsip menang kalah
e. Paksaan pada prinsipnya; mengancam atau menggunakan kekerasan untuk memaksakan
suatu posisi.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 139

IV. Siapa aktor-aktor kunci ?

Secara sederhana kita dapat mebagi dua aktor kunci yaknia pihak-pihak yang
mempengaruhi konflik dan pihak-pihak yang terpengaruh oleh konflik (korban, pelaku,
provokator, dll). Sedangkan Mugasejati (2009) mengemukakan bahwa actor kunci adalah (1)
mereka yang memiliki motivasi dan kemampuan (motivation and ability) untuk mendorong
perdamaian, (2) mereka yang memiliki motivasi dan kemampuan mendorong konflik , dan
(3) mereka yang bisa, mau, dan mampu diajak bekerjasama untuk mendorong perdamaian
Manajemen Konflik yang tepat dan strategi resolusi yang dibutuhkan untuk disatukan
dalam kebijakan, program dan proyek sumberdaya hutan. Membedah masing-masing kasus
dari Maros dan Bantaeng:
a) Posisi: Pernyataan dan perilaku yang ditampilkan
b) Kepentingan: Apa yang dia capai
c) Kebutuhan: Apa yang ingin dia penuhi

V. Eskalasi-deskalasi konflik : Analisis Trend

Sangat penting untuk mengetahui eskalasai dan deskalasi konflik pengelolaan hutan untuk
mengeksplorasi suasana konflik serta konteks konflik yang ada, eskalas-deskalasi konflik
juga dapat memberikan input terhadap prediksi konflik dimasa yang akan datang.

Ada Protes Intimidasi
K
e
j Konflik Terbuka
a
d Ada
i konsensus
Ada perdebatan Ada Lobi Ada Harapan
a awal
n
- Waktu/Periodik
k
e
j
Konflik Laten
a
d Ada perasaan Ada
i was-was perasaan
a ketakutan
n

Gambar 22. Contoh kondisi psikologis dan situasi masyarakat dalam eskalasi
konflik (dari konflik laten, konfllik di permukaan, dan konflik
terbuka)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 140

Sedangkan Hardi (20090 mengungkapkan bahwa analisis trend (kecenderungan) atau
yang sering juga disebut dengan analisis deret waktu/time series adalah salah satu cara
menganalis dalam penelitian sosial yang bertujuan untuk memprediksi sesuatu yang potensial
di masa yang akan datang berdasarkan data waktu lampau.
Minimum ada 4 kategori eskalasi-deskalasi konflik antara lain
a) Tanpa konflik:
b) Konflik tersembunyi (konflik laten)
c) Konflik permukaan (tidak memiliki akar yang dalam )
d) Konflik terbuka (berakar sangat kuat dan dalam)
Gambar 23 diolah oleh para pihak pada saat pelatihan manajemen konflik pengelolaan
sumberdaya hutan (Konflik pengelolaan TN Bantimurung Bulusaraung di Dusun Tallsa,
Desa Samangki, Kab. Maros).
Mugasejati (2009) mengemukakan bahwa Eskalasi konflik terjadi, apabila pihak yang
berkonflik berhasil melakukan mobilisasi massa dan setiap pihak menggunakan strategi
tindakan bersama (collective action) untuk mencapai tujuannya.

VI. Transformasi Konflik dan KM

Tujuan pengelolaan konflik antara lain adalah (1) melakukan identifkasi konflik laten
dan menaganinya secara konstruktif (konflik laten akan didikusikan lebih lanjut dalam
panduan ini , (2) mencegah eskalasi konflik yang ada dan (3) memanfaatkan konflik untuk
mempromosikan perubahan sosial yang positif. Sehingga konflik sumberdaya alam saat ini
cenderung mengarah bukan pada pencapaian resolusi tapi pada bagaimana mengelola konflik
atau mentrasnformasi konflik kea rah perubahan sosial yang lebih baik. Kehutanan
masyarakat jika dipandang dari segi program dapat menjadi salah satu wahana dalam
mentransformasi konflik pengelolaan hutan di Indonesia. Menurut Engel dan Korf (2005)
bahwa transformasi konflik hendaknya difokuskan pada usaha-usaha jangka panjang yang
berorientasi untuk mendapatkan hasil, proses, dan perubahan struktural. Hal tersebut
bertujuan untuk menanggulangi bentuk-bentuk kekerasan langsung, budaya, struktural yang
muncul melalui transformasi hubungan sosial dan promosi yang dapat membantu
menciptakan hubungan-hubungan kerjasama
Sementara itu, menurut Susan (2009), salah satu idealisme pengelolaan konflik adalah
mereduksi konflik kekerasan dan mentransformasi konflik yang bersifat destruktif menjadi
konstruktif. Maksud dari sifat konstruktif adalah setiap kepentingan mampu mengubah
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 141

karakter contentious dan pola konflik zero-sum game menjadi kompromi atau problem
solving.Mekanisme politik yang mentransformasi konflik yang tidak produktif, atau konflik
kekerasan, menjadi konflik yang produktifKonflik produktif mengartikan dirinya sebagai
praktek negosiassi terus-menerus dalam ruang politik yang mendasarkan pada prinsip-prinsip
demokrasi. Negosiasi yang berdiri diatas akal sehat, imparsialisme, mendengarkan,
kesetaraan, nir-kekerasan, dan aturan main legal.
Lebih lanjut menurut Susan (2009), terdapat dua aras dalam transformasi politik
negosiasi, aras pertama adalah menciptakan institusi yang konsern dengan pendidikan
keterampilan bernegosiasi bagi masyarakat secara luas. Tugas ini lebih tepat diambil oleh
negara dengan kekuatan organisasinya. Aras kedua adalah mengkonstruksi wacana
keterbukaan dan kesetaraan antarkomunitas dalam masyarakat majemeuk. Selain itu politik
negosiasi adalah model gerakan menciptakan perdamaian menyeluruh bagi masyarakat
majemuk Indonesia.
Berdasarkan hal diatas maka reformasi birokrasi pemerintahan sebagai tata kelola
konflik sebagai sentrum politik negosiasi mendaji sebuah keniscayaan. Untuk peningkatan
sumberdaya birokrasi serta perubahan kebijakan tata kelola konflik juga menjadi keharusan
untuk memenuhi cepatnya dinamika konflik yang saat ini berjalan baik yang terbuka maupun
tertutup. Dalam konteks pengelolaan kawasan konservasi, pemerintah bersama para pihak
lainnya harus terus belajar dalam mengelola konflik untuk memastikan bahwa konflik tidak
boleh hanya dilihat di permukaan saja, namun mesti dianalisis dan dikelola dengan baik.
Salah satu akar permasalahan dalam pengelolaan sumberdaya hutan adalah hak akses
masyarakat sangat penting untuk dikuatkan, karena mereka adalah dalah satu aktor kunci
keberhasilan dalam pengelolaan hutan yang lestari pada umumnya.

VII. Beberapa Kasus Konflik

a. Konflik Pengelolaan Hutan Kemiri Rakyat di Kabupaten Maros
Supratman dan Oka (2009) menyatakan bahwa semangat masyarakat di kawasan
pegunungan bantimurung dan bulusaraung Kabupaten Maros dan sekitarnya dalam
membangun hutan kemiri didorong oleh beberapa faktor. Dari sisi ekonomi, didorong oleh
faktor-faktor harga buah kemiri yang tinggi, harapan untuk memungut hasil, dan keinginan
memiliki tabungan di hari tua. Sedangkan dari sisi sosial didorong oleh faktor-faktor
keinginan menguasai lahan yang luas, penguasaan teknik budi daya, harapan untuk
mewariskan lahan dan hasil hutan kepada turunannya, lahan sebagai simbol kelas sosial
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 142

dalam masyarakat (yakni status seseorang diukur dari luas kepemilikan lahan, semakin luas
lahan semakin tinggi status sosial), dan lahan tersedia serta mudah diakses oleh masyarakat.
.

Gambar 23. Hutan Kemiri Rakyat di Salah satu sudut Taman Nasional Bantimurung
Bulusaraung di Kecamantan Mallawa Kabupaten Maros (Foto : Supratman)

Masalah mulai muncul pada saat pemerintah menetapkan Tata Guna Hutan
Kesepakatan (TGHK) pada tahun 1984. Berdasarkan kriteria hutan TGHK banyak areal hutan
kemiri yang telah dibangun oleh masyarakat Kompleks Hutan Camba masuk dalam kawasan
hutan milik negara. Sejak saat itu, konflik antara pemerintah dengan masyarakat mulai
muncul. Pemerintah menutup akses masyarakat mengelola hutan kemiri dalam kawasan
hutan sehingga semangat masyarakat membangun hutan kemiri merosot
Status lahan kemiri ini merupakan salah satu permasalahan yang sangat penting untuk
segera di selesaikan secara partisipatif antara pemerintah dan masyarakat. Hal ini menjadi
permasalahan karena sebagian lahan kemiri yang di klaim milik oleh masyarakat berada
dalam kawasan hutan negara. Di sisi lain masyarakat mempunyai keyakinan bahwa lahan
tersebut adalah miliknya yang telah di kelola secara turun temurun. Konflik lahan ini
menyebabkan proses regenerasi (peremajan) kemiri yang seharusnya telah dilakukan menjadi
terhambat, akibatnya komposisi tegakan didominasi tegakan tua yang berimplikasi kepada
penurunan produksi.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 143

TGHK membuat masyarakat trauma. Masyarakat tidak tertarik lagi membangun hutan
kemiri karena areal hutan kemiri masyarakat yang berada di dalam kawasan hutan TGHK
tidak bisa dikelola, menyebabkan terjadinya konflik antara masyarakat dengan pemerintah.
Akibatnya, masyarakat mengonversi hutan kemiri menjadi kebun (khususnya hutan kemiri
yang berada di luar kawasan hutan negara berdasarkan TGHK), dan mengabaikan hutan
masyarakat yang berada di dalam kawasan TGHK.
b. Konflik (Horizontal-Vertikal) Desa Kasintuwu
Selain lembaga adat, terdapat pula dua unit koperasi sebagai lembaga ekonomi yang telah
dibangun oleh kelompok masyarakat di Desa Kasintuwu, yaitu Koperasi Manceka Jaya dan
Koperasi Tawitowasioko. Pada tahun 2010, pengurus dan anggota Koperasi Manceka Jaya
mengusulkan kepada Dinas Kehutanan Kabupaten Luwu Timur areal kawasan hutan di desa
ini seluas 500 ha untuk dikelola sebagai areal kerja HKm. Usulan tersebut telah direspon oleh
Dinas Kehutanan dengan melakukan verifikasi terhadap areal yang diusulkan tersebut pada
bulan Mei 2010, namun demikian, tindak lanjut pengusulan tersebut belum ada sampai saat
ini. Pengusulan areal HKm oleh Koperasi Manceka Jaya justru menimbulkan konflik internal
masyarakat, karena sebagian masyarakat merasa tidak terwakili kepentingannya oleh
koperasi Manceka Jaya dan mereka belum memahami kebijakan HKm. Eskalasi konflik
internal tersebut cenderung meningkat karena klaim ketokohan secara adat serta klaim
dukungan diantara masyarakat yang terwakili kepentingannya oleh Koperasi Manceka Jaya
denan masyarakat yan tidak terwakili kepentinannya. Oleh karena itu, masyarakat yang
merasa tidak terwakili kepentingannya membentuk koperasi yaitu Koperasi Tawitowasioko.
Konflik warga tersebut menyebabkan ketidakpasitian pengelolaan kawasan hutan oleh
masyarakat di Desa Kasintuwu.

c. Konflik Pengelolaan Taman Nasional bantimurung Bulusaraung
TN Babul seluas 43.750 ha yang terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten
Pangkep, ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor: SK.398/Menhut-II/2004, tanggal 18 Oktober 2004. Areal ini dikelilingi oleh 40 desa
yang sebagian besar penduduknya tergantung pada kawasan tersebut. Hasil penelitian
Supratman dan Oka (2009), menemukan bahwa proporsi pendapatan rata-rata masyarakat
Desa Labuaja sebesar 78,7% berasal dari dalam kawasan TN Babul dan sebesar sebesar
21,3% dari luar kawasan taman nasional. Proporsi ini menunjukkan tingkat ketergantungan
masyarakat yang relatif sangat tinggi terhadap kawasan TN Babul, sehingga kalau hak akses
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 144

mereka terhadap kawasan terganggu akibat konflik, maka mereka akan terjebak pada
kemisikinan.
Sebelum ditetapkan, sebagian areal yang saat ini menjadi kawasan taman nasional
tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai areal usahatani semusim, ladang
berpindah, kebun kemiri, dan hutan rakyat pola agroforestry. Selain itu, pada bagian kawasan
taman nasional terdapat pula areal Pilot Project Pembangunan Hutan Kemasyarakatan seluas
500 ha yang dibangun pada tahun 1999 atas bantuan OECF. Pemkab Maros juga telah
menjadikan permandian alam Bantimurung sebagai aset wisata dengan PAD sekitar
Rp.3.000.000.000/tahun. Sehingga pada intinya penetapan areal-areal seperti tersebut di atas
sebagai areal TN Babul memunculkan konflik pemanfatan kawasan konservasi.
Eskalasi konflik yang tinggi, seperti yang ditemukan di Dusun Tallasa, Desa
Samangki, Kabupaten Maros. Masyarakat di dusun ini menuntut enklave atau pelepasan
kawasan kebun dan pemukiman mereka yang berada didalam areal TN Babul. Berbagai
mediasi telah dilakukan baik dalam pertemuan formal maupun informal yang difasilitasi oleh
ragam lembaga seperti Universitas Hasanuddin, LSM International (RECOFTC) dan
Pemerintah Kabupaten Maros dan Pangkep. Dirasakan belum ada profil konflik yang utuh
pada setiap unit-unit pemanfaatan kawasan konservasi. Hal ini menyebabkan berbagai
tawaran resolusi konflik mengalami kebuntuan. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan
penelitian analisis konflik dalam kerangka mencari model pengelolaan konflik pemanfaatan
kawasan konservasi TN Babul di Sulawesi Selatan
Ada dua hal yang mendukung Peluang Penyelesaian Konflik di kawasan konservasi
TN Babul
1. Adanya kebijakan Zonasi Pengelolaan TN Babul, yang memungkinkan zona-zona yang
dapat memungkinkan masyarakat dalam mengakses areal dalam TN Babul. Menurut UU
No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya,
kawasan konservasi dibedakan menjadi dua yaitu: (a) kawasan suaka alam dan (b)
kawasan pelestarian alam. Taman nasional merupakan salah satu bentuk dari kawasan
pelestarian alam. Menurut UU No. 5 Tahun 1990 tersebut, kawasan pelestarian alam
mempunyai fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya
alam hayati dan ekosistemnya. Di dalam UU No. 5 Tahun 1990 juga dinyatakan bahwa,
kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi. Selanjutnya secara lebih rinci
pedoman zonasi taman nasional diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan No.
P.56/Menhut-II/2006. Menurut peraturan Menteri kehutanan tersebut, zon adalam
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 145

kawasan taman nasional terdiri dari: (1) zona inti, (2) zona rimba atau zona perlindungan
bahari untuk wilayah perairan, (3) zona pemanfaatan, dan (4), zona lain. Lebih jauh
dijelaskan bahwa, zona lain dimasud dapat berupa: (a) zona tradisonal, (b) zona
rehabilitasi, (c) zona religi, budaya dan sejarah, dan (d) zona khusus. Hasil penelitian
Achmad, dkk (2007), merekomendasikan areal seluas 3.724 ha untuk dikelola sebagai
zona khusus di dalam wilayah TN Babul. Zona tersebut merupakan lahan-lahan di dalam
taman nasional yang selama ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai areal
pertanian dan perkebunan. Semua habitat dalam taman nasional terwakili di dalam zona
khusus tersebut, kecuali habitat menara karst yang terjal. Untuk tujuan mengoptimalkan
fungsi ekologis dan meminimalkan dampak negatif, maka zona khusus di dalam taman
nasional harus dikelola dengan suatu sistem pengelolaan yang dapat mendukung fungsi
ekologi di satu fihak dan funsi sosial ekonomi bagi masyarakat di pihak lainnya.
Penelitian ini, mengkaji model pengelolaan zona khusus untuk direkomendasikan kepada
pihak manajemen TN Babul dalam upaya mencapai integrasi fungsi konservasi dan
sosial ekonomi yang optimal.
2. Implementasi Klausul Pengelolaan TN Babul berbasis Masyarakat dalam Perda No 5
Tahun 2009 tentang Kehutanan Masyarakat di Kab. Maros. Menurut Jusuf dan Alif
(2010), peran pemerintah kabupaten dalam mendorong pengelolaan konflik sangat
penting. Saat ini terdapat Peraturan Daerah No 5 Tahun 2009 tentang Kehutanan
Masyarakat di Kab. Maros. Terdapat klausul dalam Peraturan Daerah ini yang mengatur
wilayah Pengelolaan Taman Nasional yang berbasis masyarakat yang ditemukan dalam
pasal 10. Peraturan Daerah ini penting untuk diimplementasikan sebagai payung hukum
di daerah untuk pengelolaan konflik pemanfaatan kawasan konservasi di Kabupaten
Maros. Implementasi Peraturan Daerah tersebut dapat kita lihat dari upaya Pemerintah
Kabupaten Maros telah terlibat dalam pengelolaan konflik pemanfatan kawasan
konservasi TN Babul di Dusun Tallasa Desa Samangki. Pemerintah Kabupaten Maros
telah mebentuk Tim Terpadu untuk mencari penyelesaian konflik di daerah tersebut
Hasil penelitian Supratman, dkk (2009), masyarakat telah melaksanakan aktivitas-
aktivitas pemanfaatan kawasan hutan, pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu di dalam
kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Masyarakat menyadari dampak-
dampak yang terjadi dan berpotensi terjadi sebagai akibat aktivitas-aktivitas yang mereka
lakukan di dalam kawasan hutan, namun demikian, tingkat ketergantungan masyarakat yang
relatif tinggi menyebabkan aktivitas tersebut tidak dapat dihindari.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 146

Menurut Jusuf dan Sahide, (2010), meskipun secara keseluruhan kawasan TN Babul
berasal dari areal hutan negara, namun kawasan ini tidak clear and clean dari permasalahan
klaim penggunaan dan kepemilikan lahan oleh masyarakat. Klaim masyarakat terhadap
kawasan hutan sebagai lahan warisan turun-temurun banyak terjadi dilapangan. Areal-areal
hutan negara tersebut pada beberapa lokasi telah menjadi lahan garapan atau pemukiman
penduduk yang telah lama ada secara turun temurun. Lahan kemiri dan kebun masyarakat
banyak ditemukan dalam kawasan hutan yang telah dikelola secara turun temurun dan
merupakan bagian dari system social ekonomi masyarakat.. Selain itu terdapat pula lahan
garapan yang merupakan perambahan baru atau pembukaan lahan baru pasca reformasi. Hal
ini disebabkan antara lain belum tuntasnya tata batas kawasan hutan dan Implementasi tata
guna hutan kesepakatan (TGHK) belum optimal. Akibat TGHK tidak diakui atau tidak
dipahami masyarakat menyebabkan tingginya kasus konflik tata batas hutan dilapangan.
Menurut Yarlin (2007), mengemukakan bahwa di Kelurahan Leang-Leang bahwa sekitar 55
% warga memiliki lahan persawahan mereka berada dalam kawasan TN Babul dengan luasan
1 – 2 ha. Keberadaan sawah tersebut berpotensial menjadi konflik yang terbuka dengan pihak
Balai TN Babul
Hasil Laporan Baseline Survey RECOFTC yang dilaksanakan oleh Dassir (2008),
masyarakat perlu diberikan penguatan kapasitas baik dalam persoalan kemanan hak mereka
dalam mengakses sumberdaya hutan maupun penguatan usaha/bisnis mereka. Hal ini
diperlukan agar mereka mampu berdaya secara politik, sosial dan ekonomi. Dengan
keberdayaan masyarakat, mereka mampu memasuki arena konflik yang memiliki logika
tersendiri mencapai penyelesaiannya. Hasil studi ditemukan contoh misalnya di Desa
Samangki, masyarakat mampu memberikan rekomendasi yang kuat agar pemerintah
kabupaten Maros agar membentuk Tim Terpadu dalam menyelesaikan kasus klaim lahan
mereka di areal TN Babul.
Parabang, (2007), menemukan bahwa di Desa Tompobulu Pangkep terdapat jalur
aktifitas pendakian menuju Gunung Bulusaraung, terdapat juga aktifitas pemanfaatan jasa
lingkungan lainnya seperti pemanfaatan sumberdaya air. Hal ini juga mempunyai potensi
konflik yang terbuka karena masyarakat mengklaim areal mereka yang saat ini menjadi
wilayah TN Babul. Selanjutnya Dewi (2006) mengemukakan bahwa persepsi masyarakat di
Desa Bentenge terhadap kawasan konservasi TN Babul kurang baik (47.826% memiliki
persepsi yang rendah). Begitupun juga yang ditemukan Salle, (2006), masyarakat kelurahan
Balleangin, Kabupaten Pangkep terdapat 48.9% masyarakat berpersepsi rendah terhadap
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 147

keberadaan kawasan konservasi TN Babul. Hal ini disebabkan karena terdapat potensi
konflik pemanfaatan yang belum terkelola dengan baik
d. Konflik Pengelolaan Hutan Lindung Kontu
Sujarwo (2010) mengadakan penelitian terkait konflik pengelolaan hutan lidnung
pada Kawasan hutan Patu-Patu, Kontu dan sekitarnya. Kawasan ini merupakan wilayah
adat Watoputih yang telah dihuni oleh masyarakat jauh sebelum tahun 1945. Masyarakat
melakukan pemanfaatan dan pengolahan wilayah tersebut sesuai dengan nilai-nilai adat
masyarakat, jenis tanaman yang ditanam masyarakat disesuaikan dengan kondisi topografi
maupun tingkat kesuburan lahan meliputi pohon mangga, nangka, kopi, kelapa dan juga
pohon jati yang hingga saat ini masih ada. Raja Watoputih (Kino Watoputih) beserta
keluarga tinggal mengelola kawasan di Kontu, Patu-Patu, Lasukara dan Wawesa lebih
3.000 hektar jauh sebelum Belanda masuk di Muna. Kawasan masyarakat adat Watoputih
meliputi Kelurahan Wali sampai di Wakadia sebelah barat, Labunti sebelah utara dan
sebelah timur pesisir pantai Laino (sekarang Kota Raha Kecamatan Katobu). Namun kini,
seiring perkembangan daerah, Wilayah tersebut dibagi dalam beberapa wilayah
pemerintahan daerah, sehingga Kontu hingga kini hanya memiliki luas kawasan 600 Ha
lebih, yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung. Penetapan ini berdasarkan pada SK
Menhutbun nomor 454 tahun 1999 yang menyebutkan bahwa kawasan Jompi dan
sekitarnya termaksud kawasan Kontu merupakan kawasan Hutan lindung (Dinas Kehutanan
Kab. Muna). Namun, dari jumlah luas kawasan tersebut, 200 ha dimanfaatkan oleh
masyarakat dan diklaim sebagai kawasan hutan adat.

Gambar 24. Grafik Eskalasi Konflik Pengelolaan Hutan Kontu

Keterangan :
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 148

Untuk Tingkat Eskalasi Konflik :
1 = Tidak ada (Masyarakat yang bermukim dalam kawasan Kontu tidak merasakan ada
masalah sedikitpun)
2 = Rendah (Konflik hanya sebatas kekhawatiran-kekhawatiran masyarakat saja dan dapat
diselesaikan dengan cara-cara persuasif.
3 = Sedang (Konflik telah melahirkan hantaman ketakutan psikologis masyarakat yang
bermukim dalam kawasan lindung Kontu.
4 = Tinggi (benturan fisik terjadi antara masyarakat yag bermukim dalam kawasan lindung
Kontu dengan pemerintah Kabupaten Muna)

Berdasarkan Gambar 17. Ditemukan eskalasi konflik sangat fluktuatif aksi
kekerasan seperti penangkapan warga dapat memicu naiknya eskalasi konflik, dialog-dialog
konstruktif dapat meredakan eskalasi konflik
Sujarwo (2010) lebih lanjut mengemukakan bahwa masyarakat adat Kontu telah
lama menetap sebelum Belanda masuk ke Muna. Masyarakat telah memanfaatkan dan
mengelola kawasan Kontu secara arif sesuai dengan nilai adat masyarakat selama beberapa
dekade. Namun pada tanggal 21-22 November 2003, pemerintah melakukan operasi
penangkapan terhadap warga yang tinggal dalam kawasan hutan lindung Jompi dengan
tuduhan telah menduduki lahan yang tidak sah. Penetapan status kawasan Kontu sebagai
bagian dari kawasan hutan lindung Jompi diatur dalam SK Menhutbun nomor 454 tahun
1999. Maysarakat memperlihatkan respons perlawanan terhadap penangkapan tersebut.
Tabel 21. Transek Sejarah Pemanfaatan Hutan Lindung Kontu Kontu (sumber : Sujarwo,
2010)

Tahun Kebijakan Pemerintah Pemanfaatan Kawasan

Jauh Indonesia dibawah pemerintahan Kawasan Kontu Sudah dihuni oleh
sebelum Hindia Belanda. masyarakat adat Watoputih dan
tahun dimanfaatkan secara arif sesuai dengan
1942 nilai adat masyarakat. Misalnya
masyarakat memanfaatkan hutan untuk
bersemedi mencari hakikat sesuatu, dll.
Jenis tanaman yang ditanam masyarakat
meliputi pohon mangga, nangka, kopi,
kelapa dan pohon jati yang sampai kini
masih ada. Pada saat itu, luas wilayah
adat lebih dari 3000 Ha

1942 Jepang Mengambil alih pemerintahan Kawasan Kontu masih dihuni oleh
dari tangan Belanda. Ordonansi Hutan masyarakat, seperti tahun – tahun
Jawa dan Madura 1927 (Staatsblad sebelumnya. Digunakan sesuai dengan
1927 No. 221 serta Verordening nilai adat masyarakat
Kehutanan tahun 1932 (Staatsblad
1932 No. 446) dinyatakan tetap berlaku
oleh pemerintah Dai Nippon.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 149

Sedangkan Pengelolaan Hutan diluar
Jawa dan Madura, ditangani oleh
pemerintah Swapraja termaksud distrik
pemerintahan Belanda di Muna

1945 Masa transisi pemerintahan RI dari Masyarakat adat Watoputih merasakan
tangan penjajahan Jepang. Dengan Kekhawatiran atas klaim dari
mengacu pada Pasal 33 ayat (3) UUD pemerintahan swapraja atas kawasan
1945 pemerintah mulai menata yang mereka duduki berdasarkan klaim
pengaturan hukum pengelolaan hutan kawasan adat
yang sesuai dengan kondisi Indonesia,
namun peralihan kekuasaan atas
Jawatan Kehutanan dari pemerintah
Jepang kepada pemerintah Republik
Indonesia baru diselenggarakan pada
tanggal 1 September 1945 berdasarkan
Surat Ketetapan Gunseikanbu
Keizaibutyo Nomor 1686/G.K.T.
tanggal 1 September 1945. Muna masih
dibawa Pemerintahan Swapraja karena
belum ada pergantian nama dari
Pemerintah RI. Jawatan Kehutanan
Muna melakukan klaim – klaim
kawasan termaksud Kawasan Kontu.

1946 Masih berlaku aturan sebelumnya. Para kepala kampung bersama dengan
tokoh-tokoh masyarakat bermohon
kepada pemerintah Swapraja, agar tanah
nenek moyang mereka kembali menjadi
kebun. Masyarakat meminta
perundingan dan memenangkan perkara
tersebut

1952 Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Masyarakat mengalami kekhawatiran
26 Tahun 1952 Jawatan Kehutanan lagi karena kawasan adat yang mereka
diberikan wewenang untuk menguasai huni bisa saja menjadi tanah negara
dan mengelola tanah-tanah Negara yang yang nantinya akan ditetapkan sebagai
ditetapkan sebagai kawasan hutan. kawasan hutan lindung. Hal ini bukan
Kemudian, wewenang penguasaan tanpa alasan, karena masyarakat tau
tanah-tanah hutan oleh Jawatan bahwa lahan mereka sama sekali tidak
Kehutanan, dipertegas dan diperkuat punya surat–surat kepemilikan yang sah
dengan Peraturan Pemerintah No. 8 dari pemerintah
Tahun 1953 tentang Penguasaan Tanah-
tanah Negara (Lembaran Negara No. 14
Tahun 1953),

1956 Kepala Kehutanan Daerah (La Ode Akhirnya masyarakat menanam dilokasi
Enda), memerintahkan masyarakat perkebunan mereka namun sebagian
untuk menanam jati dengan istilah dari mereka menyingkir dari Kawasan
kultir (kultur). Kontu yang mereka tinggali kewilayah
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 150

sekitarnya dengan alasan karena takut
Setelah tanaman jati tumbuh besar,
mereka dipaksa untuk keluar dari
wilayah tersebut.

1957 Tahun 1957 dikeluarkan Peraturan Sebagian masyarakat tetap bertahan
Pemerintah No. 64 Tahun 1957 (LN. dikawasan Kontu, dan sebagian
No. 169 Tahun 1957) mengenai masyarakat lagi keluar dari kawasan
Penyerahan Sebagian Urusan karena kekhawatiran terhadap perintah
Pemerintah Pusat di bidang Perikanan Kepala Kehutanan Daerah (La Ode
Laut, Kehutanan dan Karet Rakyat Enda) sebelumnya.
kepada Pemerintah Swatantra Tingkat I.
Termaksud Kehutanan distrik Muna
dibawahi oleh Pemerintah Swantantra
Tingkat 1.

1963 Masyarakat meminta kembali Masyarakat lagi – lagi memanfaatkan
perundingan melalui kepala Agraria (La lahan mereka untuk usaha tani dan ini
Ode Hibi). Permohonan masyarakat berlangsung sampai tahun 1970. diatas
diterima pemerintah, dan dalam tahun 70-an, sebagian masyarak keluar
perundingan tersebut, masyarakat dari kawasan kontu karena ada wabah
menjadi pemenang. penyakit malaria. Namun sebagian lagi
masih bertahan. Hal ini brlangsung
sampai akhir tahun 70-an.

1980-an Pemerintah Daerah Kabupaten Muna Mendengan kabar tersebut, masyarakat
memindahkan 150 KK warga dari adat Watoputih yang sebelumnya
sekitar Kota Raha masuk mengelola meninggalkan tanah leluhurnya dan
kawasan Kontu, Patu – Patu, Lasukara masyarakat kota Raha, kembali masuk
dan Wawesa dan mengelola kawasan Kontu tersebut
(Dinas Kehutanan Kab. Muna)
1981 Tata Guna Hutan Kesepakatan Seluruh kawasan hutan yang masuk
merupakan rencana pengukuhan dan sebagai tanah negara diatur dengan
penatagunaan hutan yang dilakukan konsep TGHK untuk pengukuhan dan
melalui kesepakatan antara Pemerintah penatagunaan hutan.
Daerah dengan Pemerintah Pusat yang
petunjuk pelaksanaannya ditetapkan
melalui SK Menteri Pertanian No.
680/1981.

1999 SK Menhutbun Nomor 454 Tahun 1999 Sejak SK tersebut dikeluarkan,
yang berisi tentang Kawasan Hutan Pemerintah tidak pernah
Jompi dan Sebagian Kawasan Kontu mensosialisasikannya kepada
Desa Wawesa adalah Kawasan hutan masyarakat yang bermukim di dalam
Lindung. kawasan Kontu sehingga masyarakat
tidak tahu menahu tentang aturan itu
dan masyarakat tetap melanjutkan usaha
tani mereka seperti biasa (La Ndoha).

2002 Warga yang telah berkebun mencapai
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 151

1.200 KK dan untuk kawasan Kontu
sejumlah 167 orang. Masyarakat
memanfaatkan kawasan untuk berkebun
dan pemukiman (Data Sekunder Desa)
2003 Pemerintah melakukan operasi Masyarakat dituduh telah menduduki
s/d2004 penangkapan terhadap masyarakat yang lahan yang tidak sah, yang ditetapkan
bermukim di kawasan Kontu. puluhan pemerintah sebagai hutan lindung.
orang ditangkap dengan cara represif Padahal masyarakat telah menetap di
dan pondok – pondok masyarakat kawasan tersebut lama sebelum
dibakar serta tanaman perkebunan kawasan tersebut ditetapkan sebagai
masyarakat dibabat habis oleh aparat hutan lindung.
kepolisian.

2005 s/d Belum memberikan solusi alternatif dan Dengan bantuan LSM, masyarakat tetap
Sekarang bijak. bermukim dalam kawasan dan
memanfaatkannya seperti biasa yaitu
pemukiman dan perkebunan, namun
masyarakat hidup dalam ketakutan
psikologis bahwa benturan dengan
pemerintah bisa terjadi kapan saja.

PENUTUP

I. Penugasan

Setiap mahasiswa membuat presentase singkat dengan sebelumnya membuat poster
sesuai dengan tema analisis dan mediasi konflik sumberdaya hutan yang diberkan oleh dosen
dengan sub tema antara lain;
1. Tahapan Pengelolaan Konflik
2. Analisis Kronologis/Tahapan Konflik
3. Eskalasi dan deskalasi konflik
4. Analisis Pohon Konflik
5. Analisis Isu
6. Analisis Stakeholder
7. Analisis 3 R (Right, Responsibility, Role)
8. Analisis 4 R (Right, Responsibility, Role, Relationship)
9. Segitika PSK (Sikap-Prilaku-Konteks)
10. Pemetaan Konflik
11. Merencanakan Perundingan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 152

12. Perbedaan Bentuk Proses Penyelesaian Konflik sepert Adjudikasi, Arbitrase, Negosiasi,
dan Mediasi
13. Kriteria Calon Mediator (apa yang harus dimiliki oleh seorang mediator)

DAFTAR PUSTAKA

Dassir, M. 2008. Baseline Survai Pemahaman Masyarakat tentang Hak-Hak Mengelola
Sumberdaya Hutan. Laporan Hasil Survai. RECOFTC. Makassar. (Tidak
dipublikasikan)

Engel Antonia, Korf Benedikt. 2005. Teknik-Teknik Perundingan dan Mediasi untuk
Pengelolaan Sumberdaya Alam. FAO

Hardi. S. 2009. Analisis Trend Sederhana. Makalah tidak dipublikasikan pada Training
Early Warning System (EWS) Konflik

ICRAFT. 2011. Memetakan Konflik dengan RaTA.
http://www.worldagroforestrycentre.org/Sea/Publications/files/magazine/MA0030-
10.PDF, akses tanggal 1 Desember 2011

Jusuf. Y, Sahide M.A.K., 2010,. Pendekatan Kolaborasi dalam Pengelolaan Taman
Nasional Bantimurung Bulusaraung : Strategi Menyiapkan Kepentingan
Ekologi dan Sosial Ekonomi .OPINION BRIEF, No. ECICBFM II-2010.02.
Makassar

Mugasejati. N.P., 2009. Pemetaan Simptom Konflik:
dalam Perspektif Gerakan Sosial. Modul Bahan Bacaan V. Makalah tidak
dipublikasikan pada Training Early Warning System (EWS) Konflik

Parabang.F. 2007. Studi Potensi Konflik Aktifitas Masyarakat di Dalam dan Sekitar TN
Babul (Studi Kasus di Dusun Bulu-Bulu, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci,
Kabupaten Pangkep), Skripsi pada Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.
Makassar

Sujarwo. 2010. Analisis Konflik Pemanfaatan Kawasan Hutan Lindung di Kompleks
Hutan Jompi Desa Wawesa Kabupaten Muna. Jurnal Hutan dan Masyarakat., Vol.
5, No.1, 2010: 53-66. Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan,
Fakultas Kehutanan UNHAS.

Supratman, N.P. Oka, 2009. Model Pengelolaan Zona Khusus Taman Nasional
Bantimurung Bulusaraung Di Sulawesi Selatan: dengan Referensi Khusus di
Desa Labuaja. Laporan Hasil Penelitian, Lembaga Penelitian UNHAS. Makassar.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 153

Susan. N, 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-isu konflik Kontemporer. Kencana, Jakarta

Syafitri M.A., Muhshi. M. A., Muhajir M., Shohibuddin M., Arizona Y., Sirait M., Nagara
G., Andikjo., Moniaga., B erliani H., Widawatu E., Mary S.R., Galudra G., Suwito.
Santosa A., Santoso., 2011. Menuju Kepastian dan Keadilan Tenurial.
Pandangan Kelompok Masyarakat Sipil Indonesia tentang Prinsip, Prasayrat
dan Langkah Mereformasi Kebijakan Penguasaaan Tanah dan Kawasan
Hutan di Indonesia. Jakarta

Wulan. YC, Yasmi. J, Purba.C, Wollenberg.E, 2004. Analisis Konflik Sektor Kehutanan di
Indonesia 1997 – 2003. Center For International Forestry Research, Jakarta.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 154

BAB VII. PRAKTEK-PRAKTEK KEHUTANAN MASYARAKAT

PENDAHULUAN
I. Tujuan Instruksional

1. Menjelaskan dan menganalisis program-program kehutanan di negara lain
2. Menjelaskan dan menganalisis praktek-praktek kehutanan masyarakat.

II. Proses pembelajaran

Pada pembelajaran ini juga akan dipakai metode Guided Discovery Learning yaitu
mencari dan merangkum sumber bacaan serta jurnal terkait praktek-praktek kehutanan
masyarakat di Indonesia
Pada tahap pertama;
a. dosen mempersilahkan kepada mahasiswa untuk mepresetasekan poster tentang praktek
pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Indonesia dan di luar negeri. (tugas ini telah
dijelaskan pada pertemuan sebelumnya)
b. dosen memberikan evaluasi terhaddap hasil presentase
Pada tahap kedua
Dosen memberikan contoh yang detail tentang praktek pengelolaan hutan berbasis
masyarakat di Indonesia

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Pengelolaan hasil hutan kemiri rakyat di Maros

Kabupaten Maros sejak dahulu dikenal sebagai daerah penghasil kemiri. Luas hutan
kemiri yang dikelola intensif dan tercatat pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten
Maros saat ini seluas 9.299 ha, tersebar terutama di tiga kecamatan yaitu, Kecamatan Camba
seluas 2.086 ha, Kecamatan Mallawa seluas 4.956 ha, dan Kecamatan Cenrana seluas 2.064
ha. Sisanya seluas 193 ha berada di Kecamatan Simbang, Kecamatan Bantimurung, dan
Kecamatan Tompobulu. Hutan kemiri ini berada dalam dua wilayah DAS, yaitu wilayah
DAS Walanae, Sub DAS Minraleng dan wilayah DAS Maros-Pangkep. Luas wilayah
ekosistem ke dua DAS tersebut adalah seluas 59.273 ha, terdiri atas wilayah DAS Walanae
seluas 55.339 ha dan wilayah DAS Maros-Pangkep seluas 3.934 ha (Supratman, 2006)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 155

Sub DAS Minraleng Bagian Hulu wilayahnya berada di Kecamatan Mallawa, tersebar
di empat desa yaitu Desa Samaenre, Desa Tellumpanuae, Desa Uludaya dan Desa Bentenge.
Keberadaan Hutan Kemiri di wilayah ini mempunyai peranan penting bagi masyarakat di
sekitarnya dalam hal penyediaan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta berperan dalam hal
pengaturan tata air dan jasa lingkungan bagi masyarakat dalam wilayah DAS Bila Walannae.
Produksi buah kemiri Sulawesi Selatan rata-rata sebesar 24.266 ton per tahun,
sebanyak 23,1% diproduksi di wilayah Sub DAS Minraleng. Produksi rata-rata buah kemiri
pada tahun 2004 di wilayah ini sebesar 112,6 kg/ha. Selain buah, kayu dari batang kemiri
juga mempunyai potensi ekonomi yaitu rata-rata sebesar 147,84 -169,63 m3/ha.
Jumlah petani kemiri di wilayah Sub DAS Minraleng sebanyak 9.404 KK, mengelola
hutan kemiri rata-rata seluas 1,87 ha/KK. Pendapatan petani dari hutan kemiri rata-rata
sebesar Rp. 1.683.507,-/KK/tahun, dengan kontribusi terhadap pendapatan total keluarga
rata-rata sebesar 7,61%. Kontribusi tersebut relatif rendah, tetapi mempunyai peran yang
strategis sebagai tabungan dalam ekonomi rumah tangga petani serta dalam perekonomian
wilayah.
Tabel 4. Penutupan Lahan di Pengunungan Bulusaraung
Luas Menurut Penutupan Lahan (ha)
Lahan Semak
Kecamatan Hutan Kemiri Masyarakat yg
Pinus Dalam KPHP Potensial Dalam Luar
di Luar KPHP KPHP KPHP

Mallawa 17 3.360 9.745 183 1.896
Cenrana 652 338 6.842 1.297 2.991
Camba 122 1.907 6.170 206 2.041
Jumlah 791 5.605 22.759 1.686 6.928
Sumber: Hasil Interpretasi Citra Landsat 7 Etm +, BPKH VII, 2004 dalam Supratman (2009)

Kontribusi hutan kemiri yang rendah menyebabkan mayarakat cenderung
mengkonversinya ke penggunaan non kehutanan. Hal ini menyebabkan adanya kebutuhan
untuk mencari alternatif pengelolaan kawasan hutan kemiri rakyat yang paling
menguntungkan untuk jangka waktu yang panjang. Persoalan sosial dan lingkungan belum
dihitung sebagai suatu nilai dalam analisis biaya mamfaat selama ini. Hal ini menyebabkan
dampak-dampak tersebut menjadi beban publik (social cost) yang tidak sedikit. Masalah ini
menjadi kompleks lagi pada era otonomi daerah, mengingat nilai sumberdaya alam tidak bisa
dihitung dilokasi saja (in site), tetapi juga dihitung nilai sosial dan nilai lingkungan diluar
(out site) lokasi sumberdaya. Sehingga persoalan pengelolaan sumberdaya alam tidak hanya
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 156

didasarkan oleh yurisdiksi administratif tetapi juga didasarkan yurisdiksi ekologi dan
kompleksitas persoalan sosial.

1. Sejarah pengelolaan hutan kemiri rakyat Maros
Menurut Muspida (2003) pada awalnya masyarakat yang bermukim di kompleks hutan
Camba pada awalnya adalah masyarakat yang bermigrasi dari kerajaan Bone yang dipimpin
oleh Isossong putra raja Bone ke 27 sekitar tahun 1826. Dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya Isossong memerintahkan kepada pengikutnya untuk bertebaran membuka lahan dan
menanam tanaman semusim, sampai lahan tersebut berkurang kesuburannya dan sebelum
meninggalkan lahan yang telah dibuka terlebih dahulu ditanami tanaman keras dan yang
dipilih oleh masyarakat adalah kemiri dan menjadi tanaman indikator penguasaan lahan.
Berawal dari tanaman indikator berkembang menjadi kebun kemiri dan terakhir menjadi
hamparan hutan kemiri dan menjadi spsipik wilayah hutan rakyat di Kabupaten Maros.
Penerapan kebijakan TGHK sejak tahun 1984 menyebabkan hutan kemiri yang dibangun
masyarakat berubah status penguasaanya karena berdasarkan kriteria TGHK lahan kemiri
masyarakat masuk dalam kawasan hutan, yang berdampak pada menurunnya semangat
masyarakat mengelola hutan kemiri.
Menurut Muspida (2007) bahwa pembangunan hutan kemiri di Kabupaten Maros
diawali oleh terbangunnya lahan-lahan kemiri secara berkelompok oleh masyarakat, baik itu
kelompok dalam batas lingkungan keluarga (appang) maupun kelompok yang lebih luas
berdasarkan kedekatan lahan sehingga membentuk hamparan hutan kemiri yang lebih luas.
Terbangunnya hutan kemiri secara berkelompok menunjukkan bahwa peran modal sosial
sangat kuat yang ditunjukkan dengan adanya rasa saling percaya (trust) diantara masyarakat
baik secara individu maupun secara berkelompok (kelompok keluarga atau appang)
membuka lahan kemiri yang kemudian dikelola secara bersama-sama.

2. Aspek ekonomi hutan kemiri rakyat
Menurut Alam (2007) Hutan kemiri rakyat (HKR) di Kabupaten Maros telah
dikembangkan oleh masyarakat sejak tahun 1826 yang telah memberikan manfaat ekologi
dan ekonomi bagi masyarakat setempat serta memberikan kontribusi bagi pengembangan
ekonomi wilayah Kabupaten Maros. Kondisi HKR saat ini sedang mengalami proses
konversi menjadi penggunaan lahan non kehutanan. Dampak dari kegiatan konversi tersebut
telah dirasakan oleh masyarakat berupa kekekurangan air dimusim kemarau, baik untuk
keperluan rumah tangga maupun untuk air irigasi. Lebih lanjut Alam memaparkan hasil
penelitiannya bahwa ada 3 (tiga) pola konversi HKR ke penggunaan lahan non kehutanan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 157

yaitu pola penggunaan ladang berpindah, pola penggunaan ladang menetap dan pola
penggunaan perkebunan (kebun kakao). Masing-masing pola konversi HKR tersebut
mempunyai karakteristik tersendiri tentang luas dan persentase HKR yang terkonversi sejak
tahun 1996 (sepuluh tahun terakhir).
Menurut Sahide (2003) Nilai Ekonomi total dari hutan kemiri di Sub DAS Minraleng
Bagian Hulu Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros adalah sebesar Rp
13.164.180.431,82/tahun atau Rp 11.785.502,88/ha/tahun yang terdiri dari nilai penggunaan
langsung berupa, nilai kayu kemiri Rp. 726.985,72, nilai buah kemiri Rp. 943.200/ha/tahun,
serta nilai pemanfaatan jasa lingkungan ekowisata 18.233,78/ha/tahun. Nilai penggunaan tak
langsung yang berupa penggunaan air domestik Rp. 40.456,57/ha/tahun, penggunaan air
pertanian Rp 632.166,46/ha/tahun, nilai fungsi pengendali erosi Rp. 139.076,62/ha/tahun,
nilai penyerapan karbon Rp. 8.730.000,00/ha/tahun dan nilai non penggunaan berupa nilai
pelestarian Rp. 555.383,73/ha/tahun. Lebih lanjut Sahide (2003) merekomendasikan bahwa
pengelolaan hutan kemiri rakyat perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak agar mampu
mengoptimalkan nilai hutan, karena dengan produktifitas yang rendah, buah kemiri di
kawasan Sub DAS Minraleng Bagian Hulu Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros masih
memberikan sumbangsih 8,01 % atau urutan ke 2 terbesar dari semua nilai.

3. Modal Sosial Mikro Dalam Pengelolaan Hutan Kemiri
Menurut Muspida (2007) bahwa modal sosial lain dalam, pembangunan hutan kemiri
adalah jaringan (networking) di antara masyarakat, yang membuat kebersamaan masyarakat
secara berkelompok membuka lahan secara efisien dan efektif pada wilayah tertentu sehingga
dalam pengelolaan hutan kemiri tidak hanya dikenal kelompok appang tetapi juga dikenal
kelompok lahan .
Modal sosial mikro dalam pembangunan hutan kemiri di ketiga desa kasus dibahas
dalam dimensi kognitif dan dimensi struktural. Dimensi kognitif bersumber dari norma-
norma dan nilai-nilai serta keyakinan yang hidup di dalam masyarakat sipil oleh dorongan
saling percaya (trust), meliputi unsur prmbukaan lahan, peralihan hak kelola lahan (teseng,
Sanra, jual beli dan pewarisan), dan dimensi struktural bersumber dari peranan dan aturan
dalam jaringan (networking) meliputi jaringan pembukaan lahan, pemungutan dan
pengolahan hasil serta pemasaran. Kedua dimensi tersebut memiliki elemen-elemen umum
yang mendorong tingkah laku bekerjasama secara menguntungkan melalui tindakan
terkordinasi.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 158

Hutan kemiri di Kabupaten Maros terbangun sebagai wujud dari keterkaitan modal
sosial mikro dan modal sosial makro dalam bentuk saling percaya (mutual trust) dan jaringan
(networking) secara bersama-sama melahirkan tindakan terkoordinasi membangun hutan
kemiri. Dominasi modal sosial mikro (pengakuan masyarakat terhadap hak penguasaan
lahan) dalam pengelolaan hutan kemiri sangat kuat menyebabkan masyarakat secara
berkelompok membangun hutan kemiri. (2) Interaksi modal sosial mikro dan modal sosial
makro dalam pengelolaan hutan kemiri di kabupaten Maros sebelum adanya kebijakan
TGHK menunjukkan interaksi positif dimana modal sosial moakro memmberi ruang yang
normatif berkembangynya modal sosial mikro, namun setelah penerapan kebijakan TGHK
interaksi berubah menjadi negatif karena kebijakan TGHK membatassi akses masyarakat
dalam mengelola hutan kemiri dalam kawasan hutan.

II. Pengelolaan hutan desa di Bantaeng

1. Kondisi Hutan desa bantaeng
Bantaeng adalah sebuah kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten
Bantaeng memiliki kekayaan sumberdaya hutan yang relatif kecil dibanding kabupaten lain
di Sulawesi Selatan, yakni hanya 0,2% dari total kawasan hutan Sulawesi Selatan. Namun
demikian, kawasan hutan tersebut mempunyai arti penting bagi masyarakat Kabupaten
Bantaeng dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Karena dari sekitar 6.222 ha luas kawasan hutan
Kabupaten Bantaeng, terdapat kawasan hutan lindung yang mempunyai fungsi hidroorologis
penting seluas 2.773 ha atau sekitar 44,6%.
Sebagian besar (54,4%) kawasan hutan Kabupaten Bantaeng saat ini dalam kondisi
kritis yang perlu direhabilitasi dan ditingkatkan kualitasnya. Di luar kawasan hutan terdapat
pula lahan kritis seluas 5.423 ha. Laju pertumbuhan luas lahan kritis di Kabupaten Bantaeng
selama lima tahun terakhir rata-rata sebesar -0,84%/tahun di dalam kawasan hutan dan
sebesar 12,2 %/tahun di luar kawasan hutan. Penurunan luas lahan kritis di dalam kawasan
hutan rata-rata sebesar 0,84%/tahun merupakan suatu indikasi laju pertumbuhan lahan kritis
yang lebih kecil dibanding keberhasilan kegiatan reboisasi yang dilakukan dengan luas rata-
rata seluas 100 ha/tahun selama lima tahun terakhir, sedangkan peningkatan luas lahan kritis
di luar kawasan hutan rata-rata sebesar 12,2%/tahun menunjukkan hal yang sebaliknya.
Konversi kawasan hutan menjadi lahan budidaya pertanian dan perkebunan rakyat
merupakan pemicu utama terjadinya degradasi hutan. Sedangkan faktor pemicu laju
degradasi lahan di luar kawasan hutan adalah meningkatnya aktivitas penebangan hutan
rakyat baik untuk tujuan produksi kayu maupun untuk tujuan konversi lahan hutan rakyat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 159

menjadi areal tanaman semusim. Aktivitas-aktivitas tersebut didukung dengan sistem tenure
tradisional yang sangat kuat sehingga akan berpotensi menjadi sumber-sumber konflik
apabila sistem tenure tradisional tersebut tidak diadaptasi dan disinergikan dengan sistem
tenure formal pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Tabel 6. Daftar Desa, Luasan dan Gambaran Aktfitas Masyarakat Setalah Mendapatkan Izin
Areal dan Izin Pengelolaan Hutan Desa di Bantaeng

Total
No. Nama Desa Keterangan Aktifitas Masyarakat
Areal

BUMDES Ganting membuat aturan bahwa
yang mengelola Hutan Desa diprioritaskan
Hutan bagi mereka yang terlanjur memiliki lahan
1 Labbo 342 ha
Lindung garapan di areal kerja hutan desa, hanya
dibatasi 0,5 ha, dan mereka yang tergolong
kategori miskin.

BUMDES Sipakainga tidak akan
mempersoalkan SPPT yang terlanjur ada,
akan tetapi akan mengarahkan pajak yang
Hutan
2 Pattaneteang 339 ha dibayarkan untuk pembangunan Hutan Desa
Lindung
Pattaneteang. Usaha mikrohydro juga akan
dikembangkan dengan potensi yang dimiliki
Hutan Desa ini.

BUMMAS Babang Tanggayya akan
Hutan mengoptimalkan jasa lingkungan dari Hutan
3 Campaga 23 ha
Lindung Desa ini : landscape beauty dan sumber air
bersih utk PDAM Bantaeng.

Total 704 ha
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 160

Tabel 7. Daftar Desa, Luasan dan Gambaran Aktfitas Masyarakat Pengusul Hutan Desa
Bantaeng, Sumber : Diolah Dari Dokumen Surat Pengusulan Hutan Desa ke
Menteri Kehutanan RI oleh Bupati Bantaeng

No. Nama Desa Keterangan Total Aktifitas Masyarakat
Areal

Sebagian areal dijadikan kawasan
Hutan pertanian, pengambilan kayu bakar,
1 Bonto Marannu 43 ha
Produksi pemungutan hasil hutan non kayu
seperti madu, aren, dan rotan
Dijadikan lokasi pendukung wisata loca
Hutan
2 Bonto Daeng 189 ha camp, tanaman hortikultura,
Produksi
pemungutan madu
Sebagian areal dijadikan kawasan
Hutan
3 Bonto Karaeng 200 ha pertanian, pemungutan hasil hutan non
Produksi
kayu seperti madu, aren, dan rotan
Hutan
1,959 ha
Lindung
Aktifitas perkebunan rakyat, kawasan
Hutan
622 ha pertanian, kayu bakar, dan pemungutan
4 Bonto Lojong Produksi
hasil hutan non kayu seperti madu, aren,
Hutan
dan rotan
Produksi 660 ha
Terbatas
Sebagian areal dijadikan kawasan
Hutan
5 Bonto Tangnga 115 ha pertanian, pem pemungutan hasil hutan
Produksi
non kayu seperti madu, aren, dan rotan
Hutan
64 ha
Lindung
Hutan Sebagian areal dijadikan kawasan
93 ha
6 Pa'bumbungan Produksi pertanian, pemungutan hasil hutan non
Hutan kayu
Produksi 374 ha
Terbatas
Total 4.319 ha

Program hutan desa yang ada di Kabupaten Bantaen melalui penetapan Menteri
Kehutanan dan Ijin pengelolaan hutan desa dari Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan tentunya
hutan desa versi skema yang ditawarkan oleh pemerintah. Walaupun ini adalah program
pemeberian akses oleh negara, namun paling tidak program ini memberikan harapan ditengah
pembuktian niat baik pemerintah dalam hak kelola hutan kepada rakyat.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 161

III. Pengelolaan Hutan Pinus

Di Kabupaten Maros terdapat hutan tanaman jenis Pinus merkusii eks reboisasi tahun
tanam 1974 – 1980, seluas 14.600 ha. Berdasarkan data tahun tanam, diketahui umur tegakan
pinus tersebut saat ini adalah 26 – 32 tahun, sehingga secara teknis, tegakan pinus tersebut
sudah dapat dieksploitasi, baik getah maupun kayunya.
Gambar : Potensi Hutan Pinus di Kabupaten Maros
Potensi getah dari tegakan pinus tersebut adalah rata-rata sebesar 1,2 ton/ha dan potensi
kayunya rata-rata sebesar 224 m3/ha. Pemanfaatan tegakan pinus berupa penyadapan getah
dan penjarangan tegakan telah dilakukan oleh PT Inutani I dan PT Irma Sulindo, namun
pemanfaatan tersebut belum optimal.

Gambar 25. Kondisi Hutan Pinus di Sulawesi Selatan

IV. Pengelolaan Hutan di Negeri Liang Kabupaten Maluku Tengah

Muarapey (2010) mengeksplorasi bentuk pengelolaan hutan di Negeri Liang
(Kabupaten Maluku Tengah) yang memiliki sistem pemerintahan adat tersendiri. Lembaga-
lembaga adat tersebut dipimpin oleh seorang pimpinan adat yang disebut Raja. Didalam
menjalankan fungsinya sebagai pimpinan adat, Raja dibantu langsung oleh Saniri Negeri,
Kepala soa, Juru Tulis, Kewang, dan Marinyo. Secara hirarki kelembagaan sistem
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 162

kekerabatan masyarakat ini memiliki bentuk sistem kelembagaan dengan perangkat/aparatur
Negeri yang terdiri atas Raja/Pati, Saniri Negeri, Kepala Soa, Kewang, Marinyo, dan
Masyarakat. Kelembagaan hak penguasaan lahan dan sumberdaya hutan secara tradisional
merupakan perwujudan dari hubungan yang mendalam antara masyarakat dan
lingkungannya. Hal ini pula yang menentukan bentuk penguasaan atau pemilikan atas lahan
secara perorangan maupun kelompok. Seperti halnya di Liang, Hak dan kepemilikan
masyarakat terhadap sumberdaya hutan dan lahan diatur secara Kelembagaan Adat. Dalam
pengelolaan sumberdaya hutan di negeri Liang, sistem penguasaan/kepemilikkan diatur
berdasarkan masing-masing kelompok soa dengan tiap-tiap mata rumah/rumah tau-nya
terhadap dusungg (kawasan Hutan) yang di milikinya, yang terdiri dari dusungg dati,
dusungg negeri, dusungg pusaka dan dusungg parusahaan.
Bentuk serta peran kelembagaan adat masyarakat di Negeri Liang dalam mengatur
dan mengelola sumberdaya hutannya menyangkut aturan-aturan adat yang sangat baik dan
telah menyatu sejak dulu oleh masyarakat dalam menata hubungan diantara sesama
masyarakat berkaitan dengan sistem penguasaan /kepemilikkannya dalam berinteraksi dengan
sumberdaya hutan. Dalam pengelolaan sumberdaya hutan sistem penguasaan/kepemilikkan
diatur berdasarkan masing-masing kelompok soa dengan tiap-tiap mata rumah/rumah tau-
nya.
Bentuk Penguasaan Hutan
Hak penguasaan atau kepemilikkan merupakan insentif bagi masyarakat dalam suatu
pengelolaan sumberdaya hutan yang didasarkan pada pertimbangan latar belakang budaya,
kesejarahan, maupun bukti nyata kinerja yang telah ditunjukkan oleh masyarakat setempat
(Kartodihardjo, 1999). Penguasaan/kepemilikkan masyarakat terhadap sumberdaya di Negeri
Liang adalah hak kepemilikkan secara bersama/kolektif yang memiliki pengertian bahwa
lahan dan segala sumberdaya alam yang ada di wilayah adat masing-masing soa adalah milik
bersama seluruh anggota mata rumah/rumah tau yang ada dalam kelompok soa tersebut.
Milik bersama ini mencakup wilayah kawasan hutan baik terdiri dari sumberdaya lahannya,
hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu. Bentuk hak kolektif ini bagi masyarakat
tidak dapat diperkenankan untuk diperjualbelikan, disewakan (dikontrak) kepada siapapun
juga, terutama pihak-pihak luar yang bukan masyarakat adat tanpa melalui persetujuan
bersama dari kelompok mata rumah/rumah tau yang mempunyai hak penguasaan. Hak
kepemilikkan pribadi/individu memiliki pengertian bahwa untuk dan segala sumberdaya alam
dalam wilayah adat masing-masing soa tersebut dapat dikatagorikan menjadi hak milik
pribadi/individu anggota masyarakat dalam suatu mata rumah/rumah tau tertentu apabila
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 163

kawasan yang dimilikinya bersama sudah dikelola baik untuk lahan pertanian, perkebunan
dan lain sebagainya untuk kebutuhan kesehariaanya.
Muarapey (2010 lebih lanjut mengemukakan bahwa sistem penyelenggaraan
adat sasi sudah ada sejak lama di negeri-negeri di Maluku termasuk di Negeri Liang sendiri,
dimana lembaga adapt yang terlibat dalam penyelenggara sasi meliputi Raja, saniri negeri,
imam, kepala soa dan kewang. Raja sebagai pemimpin adat memiliki peran sebagai
inspirator dalam pelaksanaan sasi. Dalam proses pengambilan keputusan untuk pelaksanaan
sasi, raja melakukan pertemuan terbatas dengan para saniri negeri dan kepala soa-kepala soa
untuk membicarakan pelaksanaan sasi. Di dalam pertemuan tersebut dibuat kesepakatan
untuk diadakan sasi. Selanjutnya raja dan para saniri negeri melakukan pertemuan dengan
seluruh masyarakat guna menyampaikan hasil kesepakatan diantara para saniri negeri dan
sekaligus diadakan penawaran lelang kepada masyarakat terkait dengan hasil hutan dusung
yang akan di sasi. Sistem lelang dilakukan dengan bentuk penawaran harga lelang kepada
seluruh masyarakt berkaitan dengan jenis hasil hutan dusung yang di sasi. Di dalam sistem
pelelangan ini, bagi masyarakat yang mempunyai nilai penawaran tertinggi baik secara
individu maupun secara berkelompok, maka dialah yang memperoleh hak sebagai pemenang
dalam penyelenggaraan sasi tersebut dan disebut sebagai pengontrak.
Pengontrak bisa terdiri dari satu atau beberapa orang dan terdiri dari satu ketua,
bendahara dan anggota. Besarnya uang yang diberikan oleh tiap-tiap anggota pengontrak
menentukan jabatan di dalam organisasi pengontrak. Selanjutnya dalam mengamankan hasil
hutan dusung yang di sasi, pengontrak bersama-sama saniri Negeri membentuk keanggotaan
kewang sebagai lembaga yang berkewajiban untuk melakukan pengawasan dalam
mengamankan hasil hutan dusung masyarakat yang di sasi.
Pembagian hasil dalam penyelenggaraan sasi artinya membagikan sebagian hasil yang
didapatkannya saat kegiatan buka sasi kepada lembaga yang bertugas mengawasi jalannya
kegiatan tutup sasi. Di negeri Liang masing-masing kepala keluarga diwajibkan untuk
memberikan 10% dari hasil pendapatannya kepada pemenang lelang (pengontrak). Hal ini
dilakukan sebagai bentuk ganti rugi atas penawaran lelang yang dimenangkan oleh
pengontrak saat penawaran lelang untuk kegiatan sasi.
Bentuk Larangan dan Sangsi

Muarapey (2010 mengemukakan bahwa untuk pencapaian tujuan sasi, maka oleh
lembaga adat (kewang) di Negeri Liang merumuskan beberapa aturan/larangan terkait dengan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 164

sistem kepemilikan /penguasaan dan pengelolaan sumberdaya hutan yang antara lain sebagai
berikut:

Tabel 22. Bentuk Larangan Negeri Liang

No Larangan/Pantangan Deskripsi

1 Mencuri hasil hutan Masyarakat negeri Liang memiliki aturan yang
melarang warganya untuk mencuri hasil hutan
maupun hasil dusungg yang ada disekitar
lingkungannya. Yang menjadi dasar atas
diterbitkan larangan mencuri hasil hutan ini
adalah masyarakat negeri Liang secara sadar dan
percaya bahwa manusia tidak akan pernah puas
dengan apa yang dimiliki dan akan mencoba
mengusik apa yang menjadi milik orang. Artinya
bahwa ketika seseorang tidak puas dengan hasil
dusunggnya maka akan timbul rasa tertarik untuk
mencuri hasil dusungg orang lain yang secara
kebetulan berbatasan. Larangan seperti ini sangat
diharapkan oleh masyarakat atau warga yang
bermata pencaharian sebagai petani dusungg agar
dusunggnya bisa aman dari tindakan pencuri
2 Menebang pohon Masyarakat Liang melarang warganya untuk
menebang pohon yang ada didalam hutan baik
yang berada didalam dusunggnya atau yang
berada didalam dusungg/kawasan hutan milik
orang lain tanpa meminta ijin dari sipemilik atau
raja selaku pemimpin negeri. Hal ini dilakukan
sebagai bukti nyata sikap kecintaan terhadap
sumberdaya hutan yang dipercaya telah
memberikan kehidupan bagi mereka. Warga
masyarakat Liang yakin dan percaya bahwa
hutan adalah rumah mereka dan didalam hutan
tersedia sumber daya dan bahan pangan bagi
kehidupan mereka sehingga larangan seperti
menebang pohon sangat pantas untuk
dilaksanakan untuk menunjang kelangsungan
hidup mereka.

3 Membuka ewang (Hutan Larangan membuka ewang bagi masyarakat
Primer) Liang adalah untuk menjamin
kepemilikan/penguasaan sesorang terhadap hak
yang dimilikinya. Artinya bagi warga masyarakat
Liang jika ada yang ingin mengusahakan atau
memanfaatkan sumberdaya hutan pada lahan
yang menjadi miliknya atau milik orang lain,
maka perlu bagi si parusah untuk meminta ijin
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 165

dari sipemilik dusungg/kawasan hutan bagi yang
bukan miliknya, kemudian jika akan dilakukan
pada lahan miliknya maka harus meminta ijin
kepada raja. Jika si parusah telah mendapat
persetujuan maka raja akan memanggil kepala
kewang untuk memberitahukan hal ini, dan
selanjutnya melalui petugas kewang
diberitahukan secara umum (tabaos) kepada
masyarakat agar diketahui. Jika tidak, maka akan
terjadi konflik.
Mengambil dan menjual Mengingat begitu tinggi tingkat kebutuhan
hasil hutan sebelum waktu masyarakat akan hasil hutan, maka masyarakat
panen Liang mempunyai aturan yang melarang warga
mengambil dan menjual hasil hutan sebelum
waktu panen. Hal ini dilakukan untuk
menghindari tindakan pencurian warga terhadap
hasil hutan/dusungg milik orang lain yang biasa
terjadi dalam lingkungan mereka.

4 Menebang pohon damar. Bagi masyarakat negeri Liang pohon damar
merupakan jenis pohon yang dianggap sebagai
pohon keramat/pohon yang dikeramatkan oleh
masyarakat setempat. Mereka menganggap
pohon damar sebagai manusia yang setiap saat
merelakan darahnya guna menjamin kebutuhan
hidup masyarakat. Sehingga merusak pohon
damar dengan cara menebang dapat membawa
malapetaka berupa banjir, erosi, kekeringan yang
berkepanjangan, kebakaran hutan dan
kemiskinan

5 Memasuki hutan pada hari Masyarakat negeri Liang melarang warganya
jumat beraktivitas didalam hutan pada hari jumat, bagi
mereka hari jumat merupakan hari keramat/hari
ibadah sehingga dilarang bagi siapapun berada
didalam hutan. Mereka percaya bahwa pada hari
jumat hutan lebih tenang atau sepi, kondisi ini
memungkinkan untuk berbagai jenis biota dapat
berkembangbiak dengan baik, Sehingga
memungkinkan terlaksananya pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa
beserta ekosistemnya untuk mencapai stabilitas
ekologi yang maksimal.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 166

V. Pengellolaan Hutan untuk Tujuan Konsumsi Kayu Bakar Domestik di
Pujanannting Kabupaten Barru

Hasil penelitian Bachtiar (2001) menunjukkan bahwa tingkat konsumsi kayu bakar
rumah tangga per kapita di Kecamatan Pujananting bervariasi antara 0,2 m3 – 2,4 m3.
Sebanyak 87,51 % dari responden menggunakan kayu bakar antara 0,5 m3 – 1,5 m3, dengan
rata-rata 1,1 m3 perkapita, angka ini sedikit lebih rendah dari rata-rata konsumsi kayu bakar
rumah tangga oleh masyarakat di Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar,
yaitu sebesar 1,3 m3 perkapita
Bachtiar (2010) mengungkapkan bahwa tingkat konsumsi kayu bakar rumah tangga di
Kecamatan Pujananting dapat dilihat pada Tabel 18
Tabel 23. Tingkat Konsumsi Kayu Bakar Rumah Tangga per Kapita di Kecamatan
Pujananting (Sumber: Bachtiar, 2010)

No. Tingkat Konsumsi (m3/orang/tahun Responden Pemakai (%)
1. < 0,5 26,13
2. 0,5 – 1,0 31,25
3. 1,1 – 1,5 30,13
4. 1.6 – 2,0 3,13
5. > 2,0 9,36
Jumlah 100,00
Jenis-jenis Kayu yang Dikonsumsi untuk Kayu Bakar Rumah Tangga
Lebih lanjut Bachtiar (2010 mengemukakan bahwa hasil penelitian menunjukkan
bahwa terdapat empat jenis pohon yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar
dalam rumah tangga di Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru yaitu bitti (24,32 %),
simputanan (23,42 %), jambu biji (20,72 %), dan lamtoro (11,71 %). Secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 2
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 167

Tabel 24. Jenis-jenis Kayu yang Dipakai sebagai Bahan Bakar Kayu Bakar dalam Rumah
Tangga di Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru (Sumber: Bachtiar, 2010)

No Nama Lokal/Indonesia Nama Ilmiah Persentase KK Pemakai
(%)
1. Bitti Vitex cofassus 24,32
2. Simputan - 23,42
3. Jambu Biji Psidium guajava 20,72
4. Lamtoro Leucaena glauca 11,71
5. Akasia Acacia auriculiformis 9,13
6. Jenis-jenis lain - 10,70
Jumlah 100,00

Hasil penelitian Bachtiar (2010) tersebut menggambarkan bahwa pada Tabel 19
memperlihatkan bahwa ada tiga jenis kayu yang dominan dipakai sebagai bahan bakar dalam
rumah tangga yaitu kayu bitti, simputan dan jambu biji. Hal ini dimungkinkan karena jenis
kayu bitti banyak ditanam oleh masyarakat pada lahan-lahan mereka sebagai pembatas kebun
atau sebagai tanda kepemilikan lahan ketika kebun mereka akan ditinggalkan atau diberakan.
Adapun tujuan utama masyarakat menanam bitti ini adalah sebagai bahan baku pembuatan
rumah terutama sebagai tiang dan sebagai salah satu bentuk tabungan dalam rumah tangga
petani, karena kayu bitti ini mudah dijual dan laku di pasaran sehingga sewaktu-waktu dapat
dijual untuk suatu kebutuhan yang mendesak. Bentuk pemeliharaan yang selama ini
dilakukan oleh masyarakat terhadap pohon bitti ini, terutama untuk membentuk batang yang
lurus dan silindris adalah pemangkasan, dan hasil pangkasan inilah yang mereka manfaatkan
sebagai kayu bakar. Sedangkan jenis simputan dan jambu biji banyak dipilih masyarakat
sebagai bahan bakar karena jenis-jenis tersebut memiliki energi yang tinggi serta mudah
ditemukan karena merupakan jenis-jenis pionir yang banyak tumbuh di tempat-tempat
terbuka setelah hutan dieksploitasi. Dari Tabel 19 juga terlihat bahwa jenis pohon
penghijauan khususnya akasia telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai kayu
bakar. Kenyataan ini mengingatkan kita semua bahwa ternyata di dalam menentukan jenis-
jenis pohon untuk tujuan rehabilitasi hutan dan lahan maupun pada kegiatan penghijauan,
maka aspek yang paling penting dipertimbangkan adalah manfaat yang langsung dapat
dirasakan oleh masyarakat, misalnya memilih jenis-jenis kayu yang memiliki nilai kalori
tinggi yang dapat dijadikan sebagai kayu bakar. Selain itu jenis-jenis MPTS (Multi Purpose
Tree Species) seperti mangga dan mente dapat dikembangkan pada kegiatan penghijauan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 168

karena buahnya dapat dimakan dan dijual sehingga dapat menambah pendapatan rumah
tangga, serta secara periodik dapat dipangkas dan hasil pangkasannya dapat dijadikan sebagai
kayu bakar
Tabel 25. Sumber Asal Kayu Bakar Rumah Tangga di Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru (Sumber:
Bachtiar, 2010)

No. Sumber Asal Tingkat Penggunaan (%)
1. Hutan 53,33
2. Kebun/tegalan 41,67
3. Pekarangan 5,00
Jumlah 100,00

Lebih lanjut hasil penelitian Bachtiar (2010) tersebut menggambarkan bahwa pada
pada Tabel 20 terlihat bahwa ternyata hutan memegang peranan penting di dalam
menyediakan kayu bakar rumah tangga masyarakat di Desa Bacu-Bacu. Dari total
penggunaan kayu bakar rumah tangga oleh masyarakat sekitar 53,33 % atau lebih dari
separuh dari total kayu yang meraka gunakan sebagai kayu bakar berasal dari hutan. Sumber
kayu bakar yang lain berasal dari kebun yaitu sebesar 41,67 %, dan sisanya sebanyak 5,00 %
berasal dari pekarangan rumah mereka.Fakta ini menyadarkan kita semua bahwa peranan
hutan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di pedesaan.

PENUTUP

Penugasan

Mencari contoh kasus pengelolaan hutan berbasis masyarakat (diluar buku teks ini)
baik didalam negri maupun luar negri. Deskripsikan terkait, sejarah, sistem kelembagaan
lokal, peluang dan tantangan yang mereka hadapi

DAFTAR PUSTAKA

Alam S. 2007. Analisis Deskriptif Pola Konversi Hutan Kemiri Rakyat (HKR) di
Kabupaten Maros. Jurnal Hutan dan Masyarakat Vol. II. No. 1 Tahun 2007 Hal 136-
144
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 169

Awang S. Afri, 2011. Hutan Desa Realitas Tidak Terbantahkan Sebagai Alternatif
Model Pengelolaan Hutan di Indonesia. http://sanafriawang.staff.ugm.ac.id/hutan-
desa-realitas-tidak-terbantahkan-sebagai-alternatif-model-pengelolaan-hutan-di-
indonesia.html, akses 2 November 2011

Bachtiar, B . 2010. Inventarisasi Jenis Kayu yang Dimanfaatkan Sebagai Kayu Bakar
Dalam Rumah Tangga Petani di Desa Bacu-Bacu Kabupaten Barru. Jurnal
Hutan dan Masyarakat., Vol. 5, No.1, 2010 Halaman: 1 – 6. Laboratorium Kebijakan
dan Kewirausahaan Kehutanan UNHAS. Makassar

Bachtiar, B. dan M. Agung. 2001. Pola Konsumsi Kayu Bakar Rumah Tangga di
Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar. Majalah Ilmiah Flora
dan Fauna Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin, Ujung
Pandang.

Muspida. 2007. Keterkaitan Modal Sosial dalam Pengelolaan Hutan Kemiri Rakyat Di
Kabupaten Maros Sualwesi Selatan. Jurnal Hutan dan Masyarakat. Vol. II, No. 3,
Desember 2007. Laboratorim Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan fakultas
Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar

Supratman. 2009. Laporan Penyiapan dan Pembentukan Unit Pengelolaan Hutan
Produksi Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak dipublikasikan

Muarapey A., 2010. Kelembagaan Lokal dalam Pengelolaan Hutan Di Negeri Liang
Kabupaten Maluku Tengah. Jurnal Hutan dan Masyarakat., Vol. 5, No.1, 2010: 29 -
37. Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan, Fakultas Kehutanan
UNHAS.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 170

BAB VIII. INTERVENSI SOSIAL DALAM PRAKTEK DAN DISAIN PROGRAM
KEHUTANAN MASYARAKAT

PENDAHULUAN

I. Tujuan Instruksional

1. Mahasiswa mampu mengenali intervensi sosial, fasilitasi dan riset aksi Kehutanan
Masyarakat
2. Mahasiswa mampu mengenali alat-alat dan metode dalam fasilitasi dan penelitian aksi
Kehutanan Masyarakat
3. Mahasiswa mampu mendisain program kehutanan masyarakat
II. Proses Pembelajaran

Pada pembelajaran ini akan dipakai Contextual Learning (Kunjungan Lapangan)
dengan membahas konsep (teori) kaitannya dengan situasi nyata atau melakukan studi lapang
di lokasi/ desa-desa lokasi praktek pengelolaan hutan berbasis masyarakat untuk mempelajari
kesesuaian teori dengan kenyataan
Pada tahap pertama
Dosen membahas tentang ragam metode partisipatif yang digunakan dalam
kehuatanan masyarakat seperti perbedaan konsep RRA dan PRA. Dosen memastikan apakah
telah membaca hand out atau buku ajar terkait metode partisipatif dalam kehutanan
masyarakat.
Dosen meminta mahasiswa berpikir tentang, apa kata-kata muncul di pikiran ketika
pembelajar/mahasiswa mendengar kata 'partisipasi'? Silakan menulis di kertas, dan membuat
definisi., jawaban dapat berupa berkontribusi, mengambil bagian,. peran serta, mengambil
bagian, saham,. bergabung, melibatkan diri, bottom-up, pengikutsertaan
Dosen meminta memilih salah satu alat PRA dan RRA untuk dijelaskan pada
pertemuan selanjutnya, setiap mahasiswa wajib menggunakan alat bantu seperti kertas plano
untuk mendeskripsikan alat PRA dan PRA yang dipilih, tujuannya dan cara
menggunakannya. Dosen meminta mengeksplorasi antara lain;
1. Apa kekuatan dan kelemahan dari metode pendekatan itu?
2. Apa yang berhasil? Apa yang tidak berhasil?
3. Bagaimana permasalahan tersebut bisa ditangani lebih baik?
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 171

4. Apakah ada masalah yang Anda telah mampu menyelesaikan dengan pendekatan
partisipatif?
Pada tahap kedua
Dosen membagi mahasiswa berdasarkan beberapa alat /pendekatan partisipatif,
mahasiswa diminta untuk mereview alat yang berbeda, kemudian diminta untuk
presentasekan
Dosen mengevaluasi dan mempertajam temuan-temuan mahasiswa yang dipaparkan
depan kelas
Pada tahap ketiga (praktek/kunjungan lapangan)
Pada tahap ini dosen akan meminta kelompok-kelompok mahasiswa mebuat desain
pengelolaan kehutanan masyarakat di lokasi tertentu, desain tersebut dapat dilihat dari segi
aspek tenurial, aspek kelembagaan, aspek usaha, dll.
Dosen meminta mahasiswa mengelola kelompok praktek, adapun prosedurnya
disesuaikan dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh Fakultas Kehutanan Unhas

BAHAN PEMBELAJARAN

I. Intervensi Sosial

Dalam sebuah diskusi dengan beberapa fasilitator sebuah program nasional pemerintah,
ketika saya mengeksplorasi kira-kira penilaian situasi yang tepat dan bentuk intervensi apa
yang dapat fasilitator lakukan, tiba-tiba beberapa kawan fasilitator enggan menggunakan kata
intervensi, menurutnya kata intervensi itu seakan memiliki makna “pemaksaan”.
Ketika pihak luar baik secara individu maupun institusi telah bekerja dalam sebuah
komunitas lokal, maka disaat itu sedang berjalan intervensi sosial. Sehingga dengan ini kita
tidak bisa pungkiri bahwa kita tidak bisa melepaskan diri dari intervensi sosial. Yang penting
adalah bagaimana proses intervensi sosial tersebut bekerja untuk kepentingan orang dalam
(masyarakat lokal). Bagaimana intervensi sosial tersebut bekerja sesuai dengan ide-ide murni
masyarakat lokal tersebut. Bagaimana intervensi sosial tersebut berperan sebagai fasilitator
yang mendorong kemandirian masyarakat lokal.
Salah satu bentuk intervensi sosial adalah kegiatan dan atau program pemberdayaan
masyarakat yang diinisiasi oleh pihak luar. Jika kita melihat prinsip dasar pemberdayaan
masyarakat yang ditulis oleh Hakim, dkk (2010) antara lain; (1) penciptaan suasana atau
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 172

iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi dan daya yang dimiliki oleh masyarakat,
(2) memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat, dan (3) melindungi
masyarakat melalui keberpihakan kepada masyarakat untuk mencegah dampak persaingan
yang tidak sehat. Maka, kegiatan intervensi sosial ini memiliki relasi pada penciptaan
kemandirian lokal menuju kehidupan yang berkualitas

II. Riset Aksi Partisipatif

Secara sederhana ada tiga unsur dalam terma “Riset Aksi Partisipatif” yakni unsur
penelitian, unsur aksi dan unsur partispatif
Perdebatan secara meta wacana (ontologis dan epistemologis) dalam ilmu
pengetahuan sangat berkembang terkait dasar pijakan riset aksi partisipatif ini. Agusta
(2006) secara apik memberikan kompilasi atas metodologi yang ada sampai saat ini terkait
pnelitian yang mentasnamakan partisipatif, antara lain;
1. Realisme-korespondensi; metodologi positivisme
2. Realisme-koherensi; metodologi pascapositivisme
3. Idealisme-korespondensi: metodologi konstruksivisme
4. Idealism koherensi;metodlogi hermeneutika
5. paragmatisme-koherensi:metodologi pascamodernisme
6. Paragmatisme-paragmatisme (dobel paragmatisme) : metodologu partisipatif (kaji
tindak)
Dalam ruang perdebatan tersebut, pada dasarnya terjadi diskursus yang menarik
hubungan antara subjek pengetahuan, objek pengetahuan dan tindak pengetahuan. Peneliti
ditempatkan pada posisi sebagai apa?, realitas sosial dipandang sebagai objek pengetahuan
semata saja? Ataukah objek pengetahuan itu lebur dalam subjek pengetahuan?. Bagaimana
tindak pengetahuan berupa teori-teori diletakkan?
Hutabarat (2010) mengemukakan bahwa prinsip-prinsip riset yang berbasis paradigma
positifistik memberi ruang dominan terhadap penggunaan metode dan pendekatan
pendekatan yang dapat mengukur fakta sosial. Kemam puan pengukuran adalah yang utama,
sehingga keberadaan parameter menjadi penting. Sedangkan parameter biasanya diperoleh
dari pendekatan deduktif yang menempatkan teori, konsep dan indicator-indikator terdahulu
sebagai kewajiban yang harus dirujuk oleh peneliti atau mahasiswa.
Seringkali dalam sebuah penelitian sosial, seorang peneliti telah merancang desain
penelitiannya berdasarkan teori-teori yang mapan sebelumnya. Akhir dari sebuah penelitian
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 173

juga terkadang hanya menjadi dokumen dan kesenjangan anatara kemungkinan
diimplementasikan dan idealisme desain yang dihasilkan cukup besar. Fakta-fakta sosial yang
terkadang berjalan sangat dinamis membutuhkan analisa yang komprehensif, bukan hanya
pandangan para pihak tetapi juga keterlabatan aktif para pihak atau dapat disebut dengan
pendekatan pragmatism-pragmatisme (dobel pragmatis baik pada subjek peneliti maupun
objek kajian). Riset Aksi Partisipatif dapat dikategorekan sebagai salah satu metode yang
dapat dipakai pada suasana seperti yang diulas sebelumnya.

III. Fasilitasi dan Partisipatif

1. Defenisi Fasilitasi
Ilmu fasilitasi secara teoritik tidak akan dibahas secara mendalam dalam tulisan ini
karena lembar yang terbatas. Ilmu fasilitasi sendiri telah berkembang dengan sangat cepat,
bahkan beberapa pendidikan tinggi dengan jenjang S2 (magister sains) menawarkan ilmu ini
secara lebih detail.
Pengertian fasilitasi berasal dari kata facil yang artinnya mempermudah. Fasilitasi
dibutuhkan ketika berada pada suasana kemacetan saluran-saluran komunikasi, proses
perubahan sosial yang mandek, dll. Dalam konteks Kehutanan Masyarakat, ada banyak
kebutuhan akan fasilitasi.
2. Etis dan Emik
Dalam ilmu sosiologi terdapat dua kategori dalam memandang komunitas lokal yakni
dalam sudut panang orang dalam (emik) dan dalam sudut pandang orang luar (emik). Penulis
sering sekali mendengar perspektif yang begitu kuat dari sisi etis orang luar terhadap
komunitas lokal, tidak jarang perspektif itu mengandung unsur penuh kecurigaan,
menyalahkan bahkan unsur kampanye negatif terhadap sebuah komunitas.
Wiliam-de Vries de Vries (2006) memberikan contoh bahwa seringkali terjadi karena
program dan kegiatan yang ditawarkan (atau dipaksakan) pada kelompok dampingan tersebut
lebih banyak diinisiasi oleh pihak luar (bukan berdasarkan ide yang digali dari komunitas itu
sendiri). Dengan demikian, kelompok lokal hanya mengikuti agenda si pemberi ide, tanpa
mempunyai peluang untuk berpikir apakah kegiatan tersebut sesuai atau bertentangan dengan
kepentingan mereka atau malah membuat maskalah dengan kondisi lokal yang ada di sekitar
mereka. Sayangnya, jika program kegiatan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita
serta merta „menghakimi‟ bahwa program tersebut gagal, komunitas lokal tidak co-operative
dalam berproses, kondisi lokal tidak mendukung atau bahkan menyalahkan fasilitator yang
tidak bisa „mendorong‟ kelompok dampingannya untuk berkembang sesuai dengan tujuan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 174

program. Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin „kegagalan‟ dalam berproses tersebut
kemungkinan adalah bentuk keberhasilan sistem lokal? Atau bahkan kegagalan tersebut
memunculkan ide-ide brilian di dalam komunitas yang luput dari perhatian kita?
Dalam melakukan proses fasilitasi, mengedepankan sisi emik sangat diperlukan.
Sehingga tujuan utama proses pemberdayaan masyarakat dapat dicapai. Pendekatan sisi etik
biasanya dipakai dalam kerangka pembangunan (development) dengan modus pelayanan
publik pemerintah yang menganggap masyarakat hanyalah sebagai objek pembangunan.
Sedangkan sisi emik berorientasi pada pemberdayaan (empowerment) yang melihat
masyarakat lokal beserta entitasnya sebagai kesatuan yang memiliki kesadaran kolektif yang
esesnsial untuk difasilitasi menuju kemandirian lokal.
3. Contoh proses fasilitasi pembangunan hutan desa Kab. Bantaeng

Jaringan
Strategis

Dokumentasi

Penguatan Aktor Penguatan LSM
dan Kelembagaan /Pendamping
Lokal Lokal

Dukungan Politik Implementasi Evaluasi
Lokal Program Adaptif Program

Kesepahaman Analisis Situasi Asesment Kapasitas
Para Pihak Para Pihak

Gambar 26. Bangunan Fasilitasi Pembangunan Hutan Desa, Hasil Pembelajaran di Kabupaten
Bantaeng. (Sumber : Sahide, 2011)

Contoh proeses fasilitasi pembangunan hutan desa Kab. Bantaeng disadur dari buku
penulis (Sahide, 2011). Dikemas dengan merangkum 10 point pokok selama proses
pendampingan pembangunan hutan desa Kab. Bantaeng. Selayaknya membangun rumah, kita
harus memulai dengan pondasi yang kuat, kemudian membangun kamar dan atapnya. Hasil
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 175

pembelajaran pembangunan Hutan Desa di Kabupaten Bantaeng bahwa pondasi awal
program ini adalah mesti mempersyaratkan kesepahaman para pihak, analisis situasi dan
assessment kapasitas para pihak.
Tip 1 : Fasilitator Mesti Membangun Kesepahaman Awal Para Pihak
Membangun kesepahaman adalah milestone (tonggak pencapaian) awal yang harus
dicapai oleh semua program kehutanan masyarakat, tidak terkecuali Hutan Desa.
Kesepahaman awal ini bukanlah berarti kesepakatan-kesepakatan normatif tetapi hubungan
psikologis dan penetrasi program mulai dibangun dan dipahami oleh para pihak.
Kesepahaman ini penting untuk direncanakan dan diupayakan agar para pihak mengerti
maksud dan alur jenis intervensi sosial dan sekaligus momentum untuk menganalisis situasi
ditahap awal.
Tip 2 : Fasilitator Mesti Sadar Konteks untuk Analisis Situasi
Konteks menjadi penting untuk menempatkan suatu progam (Hutan Desa) dalam situasi
kemasyarakatan. Sudut pandang sosiologis, poltik dan ekonomi perlu dilihat dalam analisa
situasi penempatan Hutan Desa dalam program pembangunan di desa dan wilayah yang
bersangkutan. Fasilitator mesti sadar bagaimana menempatkan posisinya dalam berbagai
kepentingan yang ada dalam konteks tersebut.
Tip 3 : Fasilitator dan Assessment Kapasitas
Kapasitas menjadi penting dalam pengembangan program kehutanan masyarakat, tidak
terkecuali Hutan Desa. Kapasitas yang memadai sebaiknya tidak hanya dimiliki oleh
fasilitator, akan tetapi aktor-aktor pelaku dan pendukung lain dalam proses fasilitasi yang
dilakukan. Karena fasilitator tidak bekerja sendiri, akan tetapi dia akan memainkan sebuah
tim yang mana sebuah standar kapasitas harus dipunyai. Tim yang merupakan mitra kerja
fasilitator dalam mengembangkan program Hutan Desa.
Tip 4 : Fasilitator dan Dukungan Politik Lokal
Beberapa tahapan administrasi pengusulan dan pengelolaan Hutan Desa memerlukan
dukungan politik yang kuat dan strategis. Politik yang dimaksud bukan politik praktis, akan
tetapi bagaimana mendinamisir kekuatan politikdalam ranah pemberdayaan masyarakat lokal.
Beberapa momentum politik juga perlu dibangun dan dimanfaatkan untuk menginisiasi dan
mengembangkan kehutanan masyarakat, dalam hal ini Hutan Desa.
Tip 5 : Fasilitator Mesti Melakukan Evaluasi Secara Periodik
Periodesasi evalasi menjadi penting untuk menjaga konsistensi dalam melakukan
proses ini secara teratur dan terencana, walaupun upaya reflektif sebenarnya bisa dilakukan
kapan saja. Dalam pengembangan Hutan Desa, evaluasi menjadi penting mengingat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 176

perkembangan sosial masyarakat selalu bergerak dinamis. Walau demikian, evaluasi akan
menjadi sia-sia jika tidak diikuti dengan tindak lanjut atas apa yang direfleksikan.
Karenanya, agenda yang jelas dan terukur seyogyanya menjadi tindak lanjut setelah evaluasi
dilakukan.
Tip 6 : Fasilitator Mesti Mengimplementasikan Program Secara Adaptif
Implementasi program secara adaptif tentunya disesuaikan dengan hasil evaluasi yang
ada. Pada tingkat komunitas pun situasi akan berubah, bahkan kadang lebih sering dari yang
dibayangkan. Fasilitator mesti responsif dengan situasi tersebut seperti mengadaptasikan
metodologi ataupun anggaran
Tip 7 : Fasilitator dan Penguatan Aktor/Kelembagaan Lokal
Fasilitasi harus mampu memainkan seni fasilitasinya dalam mengelola dinamika sosial
kelembagaan dan aktor-aktor lokal yang ada untuk mendukung program Hutan Desa yang
dilakukan. Biasanya kelembagaan dan para aktor lokal mempunyai mekanisme tersendiri
dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada, dimana kadang fasilitator harus menyerahkan
proses ini melalui mekanisme lokal yang ada. Kelembagaan lokal juga perlu didukung oleh
aktor lokal yang kuat dengan kapasitas yang memadai. Karenanya selain peningkatan
kapasitas aktor-aktor lokal, perlu juga diberikan kesempatan kepada mereka untuk
mengembangkan diri melalui berbagai kesempatan pertemuan di luar wilayah. Aktor-aktor
lokal ini juga dapat didorong untuk mengembangkan kerjasama antar lembaga yang ada pada
lintas desa, seperti membentuk Forum Rembug Hutan Desa.
Tip 8 : Fasilitator dan Penguatan LSM Lokal
Keberadaan LSM Lokal menjadi mitra strategis dalam pengembangan dan percepatan
program kehutanan masyarakat, tidak terkecuali Hutan Desa. LSM Lokal tentu berbeda
dengan kelembagaan lokal yang ada, dimana maksud dan komitmen para anggotanya tentu
juga berbeda. Penguatan kapasitas LSM Lokal menjadi penting dilakukan agar kerja-kerja
fasilitator dapat lebih cepat tertranformasi kepada mereka. Selain pelatihan khusus,
mengikutsertakan mereka sebagai peserta, panitia, bahkan kesempatan sebagai fasilitator
akan mempercepat proses tranformasi tersebut.
Tip 9 : Fasilitator Mesti Mendokumentasikan Proses Pendampingan
Catatan harian, mingguan atau bulanan maupun catatan hasil-hasil diskusi adalah
dokumentasi periodik yang sebaiknya dilakukan oleh fasilitator. Lintasan pemikiran,
perdebatan dan dinamika yang dialami fasilitator selama proses pengembangan program
sangat penting juga dicatat sebagai proses dokumentasi yang lebih mendalam. Ketika
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 177

seorang fasilitator mendokumentasikan proses-proses pendampingan programnya (tidak
terkecuali Hutan Desa) maka ia akan menjadi pelaku dari sejarah Hutan Desa yang ada.

Tip 10 : Fasilitator dan Jaringan Strategis

Jaringan strategis perlu dibangun dan dikembangkan agar dukungan dapat diperluas,
tidak terkecuali jaringan strategis Hutan Desa. Jaringan strategis dibangun dengan tokoh-
tokoh penting dan kunci dalam pengembangan Hutan Desa, seperti kepala desa, tokoh adat,
tokoh masyarakat, tokoh pemuda, LSM Lokal, dan pemerintahan, serta universitas. Jejaring
ini sangat dibutuhkan dalam proses belajar, evaluasi dan manajemen informasi dalam
mengawal keberlanjutan program Hutan Desa dan menyebarkannya ketempat lain.
Kesinambungan program juga sangat ditentukan oleh jejaring strategis yang mesti
diupayakan. Dalam pengembangan Hutan Desa di Bantaeng, fasilitator mendorong
masuknya tokoh-tokoh kunci masyarakat lokal
4. Pendekatan Partisipatif
Pengertian partisipatif menurut Robert Chambers adalah pertisipasi dalam ati bahwa
masyarakat terlibat langsung dalam setiap tahapan proses. Menurut Pretty, dkk. (1995)
partisipasi adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mampu menyelesaikan sendiri
masalah yang dihadapinya.

Gambar 27. Suasana Pelatihan Partisipatif difasiltasi oleh RECOFTC kerjasama
Fakultas Kehutanan UNHAS

Defenisi Pendekatan Partisipatif (Participatory Approaches) sering juga mengalami
varian nama seperti Proses Multi-pihak (Multi-Stakeholder Proces). Dalam situs Wikipedia
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 178

2012 digambarkan bahwa Pendekatan partisipatif merupakan pendekatan yang digunakan
oleh organisasi-organisasi non-pemerintah (LSM) dan badan-badan lain yang terlibat dalam
pembangunan internasional. Pendekatan ini bertujuan untuk menggabungkan pengetahuan
dan pendapat dari pedesaan / masyarakat setempat dalam perencanaan dan pengelolaan
proyek dan program pembangunan. Daniel (2005) juga mendefenisikannya sebagai Metode
yang ditempuh dengan memobilisasi sumber daya manusia dan alam setempat, serta lembage
lokal guna mempercepat peningkatan produktivitas, menstabilkan, dan meningkatkan
pendapatan masyarakat serta mampu pula melestarikan sumber daya setempat atau
Pendekatan partisipatif adalah pendekatan yang dapat digunakan untuk memfasilitasi
pembangunan oleh dan untuk masyarakat lokal.
Sejarah pengenalan pendekatan partisipatif
Paulo Freire adalah orang Brazil, seorang sosialis, seorang filsuf tetapi terutama
sebagai seorang pendidik kaum miskin, bersikeras bahwa "pendidik dan mahasiswa,
meskipun berbagi hubungan sosial demokratis pendidikan, tidak pada pijakan atau tingkat
yang sama, tapi pendidik harus cukup rendah hati dan bersedia untuk mempelajari kembali
apa yang dia pikir dia sudah tahu, melalui interaksi dengan pelajar ".Jadi dalam arti tertentu,
Freire mempromosikan cara yang lebih demokratis untuk mendidik, dan lebih
memperhatikan peran mahasiswa atau pelajar dalam proses belajar bersama.
Pada Tahun 80-an ada ketidakpuasan akan
tumbuh metode survei formal dan bias mereka
(bias gender, bias pinggir jalan (roadside bias),
bias waktu, bias orang, dan bias proyek) dan
kekakuan dalam berusaha untuk mencapai
pembangunan yang berkelanjutan dan bermakna.
Dan Robert Chambers, seorang eksponen utama
dari PRA, menekankan dan mendukung salah satu
argumen utama Freire, yaitu bahwa "orang-orang
miskin dan dieksploitasi dapat dan harus

Gambar 28. Foto Ilustrasi Robert diaktifkan untuk menganalisis realitas mereka
Chambers sendiri". Ia kemudian meluncurkan istilah baru
„Rapid Rural Appraisail‟ (RRA) sebagai istilah untuk teknik dan alat bantu untuk
memfasilitasi ide ini. Metode-metode tersebut namun terutama difokuskan pada sektor
pertanian pedesaan dan lebih ke penelitian dan di tahun 90-an karena itu, istilah seperti
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 179

'Participatory Rural Appraisal (PRA)' dan 'Partisipatif Learning and Action (PLA) muncul
yang juga berlaku sebagai alat untuk belajar di bidang lain serta di wilayah perkotaan.
Tabel 26. Perbedaan antara RRA dan PRA (dari ragam sumber)

RRA PRA

Periode pengembangan : akhir 70-an dan 80- Periode pengembangan: akhir 80-an dan
an. 90-an

Pengguna utama : lembaga donor, universitas, Pengguna utama: LSM dan pemerintah
dan lembaga penelitian lokal yang bergerak di lapang

Tujuan ideal: belajar dari luar Tujuan ideal: kekuatan masyarakat

Sumber yang sering terlupakan: pengetahuan Sumber yang sering terlupakan:
masyarakat setempat pemberdayaan masyarakat.

Fokus utama: penggalian (extractive) Fokus utama: peran serta (participatory)

Hasil akhir jangka panjang: perencanaan, Hasil akhir jangka panjang: aksi
proyek, dan publikasi masyarakat yang berlanjut, termasuk
kelembagaan

Tipologi Tangga Partisipasi Arnstein (1969).

Pendekatan partisipatif berdasarkan pada sama-sama memiliki hak untuk mengambil
keputusan (decision making). Pendekatan ini merupakan respon terhadap 'pendekatan top-
down‟ untuk pembangunan, di mana kekuasaan dan pengambilan keputusan sebagian besar di
tangan profesional pembangunan eksternal.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 180

Sherry Arnstein adalah salah satu tokoh yang pertama kali (1969) mendefinisikan
strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas)
dengan institusi pemerintah). Seperti yang dikutip pada blog BebasBanjir 2015 bahwa
dengan partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat (citizen partisipation is
citizen power), Arnstein menggunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga
mewakili strategi partisipasi yang berbeda yang didasarkan pada distribusi kekuasaan.
Berikut tangga partisipasi (ladder of citizen participation) Arnstein, 1969, yang
diterjemahkan oleh blog BebasBanjir 2015.

Gambar 29. Tangga Partisipasi Arnstein (1969)

Tangga terbawah merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation),
meliputi: (1) manipulasi (manipulation) dan (2) terapi (therapy). Kemudian diikuti dengan
tangga (3) menginformasikan (informing), (4) konsultasi (consultation), dan (5) penentraman
(placation), dimana ketiga tangga itu digambarkan sebagai tingkatan tokenisme (degree of
tokenism). Tokenisme dapat diartikan sebagai kebijakan sekadarnya, berupa upaya superfisial
(dangkal, pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. Jadi
sekadar menggugurkan kewajiban belaka dan bukannya usaha sungguh-sungguh untuk
melibatkan masyarakat secara bermakna. Tangga selanjutnya adalah (6) kemitraan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 181

(partnership), (7) pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power), dan (8)
pengendalian masyarakat (citizen control). Tiga tangga terakhir ini menggambarkan
perubahan dalam keseimbangan kekuasaan yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk
sesungguhnya dari partisipasi masyarakat.
1. Manipulasi (manipulation). Pada tangga partisipasi ini bisa diartikan relatif tidak ada
komunikasi apalagi dialog; tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam
perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk mendidik atau ”menyembuhkan” partisipan
(masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan, tapi hadir dalam forum).
2. Terapi (therapy). Pada level ini telah ada komunikasi namun bersifat terbatas. Inisiatif
datang dari pemerintah dan hanya satu arah.
Tangga ketiga, keempat dan kelima dikategorikan sebagai derajat tokenisme dimana peran
serta masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya, tapi
mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka
akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. Peran serta pada jenjang ini memiliki
kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat.
3. Informasi (information). Pada jenjang ini komunikasi sudah mulai banyak terjadi tapi
masih bersifat satu arah dan tidak ada sarana timbal balik. Informasi telah diberikan kepada
masyarakat tetapi masyarakat tidak diberikan kesempatan melakukan tangapan balik (feed
back).
4. Konsultasi (consultation). Pada tangga partisipasi ini komunikasi telah bersifat dua arah,
tapi masih bersifat partisipasi yang ritual. Sudah ada penjaringan aspirasi, telah ada aturan
pengajuan usulan, telah ada harapan bahwa aspirasi masyarakat akan didengarkan, tapi belum
ada jaminan apakah aspirasi tersebut akan dilaksanakan ataupun perubahan akan terjadi.
5. Penentraman (placation). Pada level ini komunikasi telah berjalan baik dan sudah ada
negosiasi antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat dipersilahkan untuk memberikan
saran atau merencanakan usulan kegiatan. Namun pemerintah tetap menahan kewenangan
untuk menilai kelayakan dan keberadaan usulan tersebut.
Tiga tangga teratas dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi dimana
masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan.
6. Kemitraan (partnership). Pada tangga partisipasi ini, pemerintah dan masyarakat
merupakan mitra sejajar. Kekuasaan telah diberikan dan telah ada negosiasi antara
masyarakat dan pemegang kekuasaan, baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, maupun
monitoring dan evaluasi. Kepada masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses untuk
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 182

proses pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk bernegosiasiai dan melakukan
kesepakatan.
7. Pendelegasian kekuasaan (delegated power). Ini berarti bahwa pemerintah memberikan
kewenangan kepada masyarakat untuk mengurus sendiri beberapa kepentingannya, mulai dari
proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, sehingga masyarakat memiliki
kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program.
8. Pengendalian warga (citizen control). Dalam tangga partisipasi ini, masyarakat
sepenuhnya mengelola berbagai kegiatan untuk kepentingannya sendiri, yang disepakati
bersama, dan tanpa campur tangan pemerintah.
IV. Alat-Alat Analisis

Alat itu antara lain adalah :
1. Dinamika kelompok, misalnya kontrak belajar, pembalikan peran (role reversals), sesi
umpan balik
2. Sampling, misalnya berjalan transek (transect walk), peringkat kekayaan (wealth
ranking), pemetaan sosial (social mapping)
3. Wawancara, misalnya diskusi fokus kelompok (FGD), wawancara semi-terstruktur,
triangulasi
4. Visualisasi, misalnya Bagan Hubungan Kelembagaan (Venn Diagram) , bagan peringkat
(matrix ranking), alur sejarah (timeline)
Pendekatan Partisipatif diterapkan dan membantu pada berbagai isu KM antara lain;
a. mata pencaharian dan pengelolaan sumber daya alam
b. isu-isu kesehatan dan kecacatan;
c. pendidikan dan pembelajaran;
d. gender dan pembangunan;
e. mobilisasi masyarakat;
f. keterlibatan dalam pemerintahan.

Ada yang kita lupakan? Pendekatan partisipatif dapat menjadi alat yang penting
dalam membangun kapasitas organisasi. Jadi, semua siswa kehutanan pasti dapat
menggunakan Pendekatan Partisipatif dalam pekerjaan untuk menangani: konflik,
perencanaan dan pelaksanaan proyek, penilaian desa, sebagai alat penelitian, bahkan umpan
balik atau alat evaluasi, dll.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 183

Contoh Alat-Alat PRA

a. Dinamika kelompok, misalnya kontrak belajar, pembalikan peran (role reversals), sesi
umpan balik
b. Sampling, misalnya berjalan transek (transect walk), peringkat kekayaan (wealth
ranking), pemetaan sosial (social mapping)
c. Wawancara, misalnya diskusi fokus kelompok (FGD), wawancara semi-terstruktur,
triangulasi
d. Visualisasi, misalnya Bagan Hubungan Kelembagaan (Venn Diagram) , bagan peringkat
(matrix ranking), alur sejarah (timeline)
1. Pohon Masalah dan Pohon Potensi/ Tujuan
Menemukan akar masalah terkadang menjadi alat yang pertama dan utama dalam
sebuah penilaian situasi sebuah komunitas di awal intervensi program KM. Disebut teknik
analisa masalah karena melalui teknik ini, dapat dilihat „akar‟ dari suatu masalah, dan kalau
sudah dilaksanakan, hasil dari teknik ini kadang-kadang mirip pohon dengan akar yang
banyak.. Analisa Pohon Masalah sering dipakai dalam masyarakat sebab sangat visual dan
dapat melibatkan banyak orang dengan waktu yang sama.

Teknik ini dapat dipakai dalam situasi yang berbeda, tapi yang lebih penting dari itu,
teknik ini dapat digunakan terutama untuk menelusuri penyebab suatu masalah. Teknik ini
adalah teknik yang cukup fleksibel. Melalui teknik ini, orang yang terlibat dalam
memecahkan satu masalah dapat melihat penyebab yang sebenarnya, yang mungkin belum
bisa dilihat kalau masalah hanya dilihat secara sepintas. Teknik Analisa Pohon Masalah harus
melibatkan orang setempat yang tahu secara mendalam masalah yang ada.
Jika persoalan sedemikian sitemik terkadang akar masalah mejadi akibat dari suatu
masalah, sehingga membuat pohon masalah dapat ditambahkan dengan panah sebab akibat.

Langkah-langkah membuat pohon masalah

1. Diskusikan bersama masyarakat, masalah apa yang ingin diselesaikan. (Brainstorm
masalah yang tepat, spesifik, tanpa pendapat/ interpretasi) Tentutakan masalah utama,
yang menurut masyarakat perlu diselesaikan.
2. Tulisan masalah utama yang mau diatasi ditulis di kartu metaplan, lalu di tempel di
lantai atau dinding sebagai „batang‟ pohon.
3. Mulai dari batang, diskusikan mengenai penyebab-penyebab.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 184

4. Dari setiap penyebab yang muncul, tanyakan lagi „kenapa begitu?, „apa penyebabnya?‟
Untuk mempermudah cara pikir, dan mencek bahwa tidak ada yang dilupa,
menganggap bahwa setiap masalah adalah akibat
5. Dari kondisi lain – Tanyalah „Kondisi ini adalah akibat dari apa?‟ Akhirnya akan
muncul gambar yang lengkap mengenai penyebab-penyebab dan akibatnya – hasilnya
akan sangat terinci. Komentar apa saja yang dikeluarkan sebagai penyebab dapat ditulis
supaya makin komplit. Setelah selesai, semua komentar bisa dikaji kembali.
6. Akar dibahas sampai mendalam sehingga akhirnya masalah terakhir dalam satu akar
akan dibalik dan menjadi kegiatan atau rencana tindak lanjut
7. Langkah-langkah ini pada akhirnya memunculkan satu gambar yang lengkap dan
terinci - dengan akar yang diwakili oleh penyebab masalah, dan akibat dari masalah
tersebut.
8. Setelah gambar selesai, tanyakan cara yang terbaik untuk mengatasi masalah-masalah
yang muncul.
9. Kalau sudah lengkap, ajaklah masyarakat (tanpa terkecuali) untuk melihat secara
keseluruhan masalah-masalah akar dari masalah utama.
10. Juga mintalah komentar, apakah ada penyebab yang muncul beberapa kali walaupun
dalam „akar‟ lain? Dari semua informasi yang muncul, diperlihatkan apa yang harus
dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah akar sehingga akibat diatas tidak terjadi.
Jika akibat diatas masih terjadi, berarti masih ada masalah yang perlu diatasi.
Titik kritis dalam teknis analisis pohon masalah dan pohon tujuan antara lain;
a. Identifikasi masalah utama (yang perlu dipecahkan)
b. Identifikasi penyebab masalah tersebut (curah pendapat)
c. Mengelompokkan sebab-sebab tersebut
d. Mengidentifikasi tingkatan penyebab
e. Menentukan tujuan dan harapan (keluaran)
f. Memprioritaskan penyebab yang paling mendesak
g. Memprioritaskan harapan yang paling efektif, mudah dan realistis untuk dicapai
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 185

Berikut ini disajikan gambar contoh hasil Analisis Pohon Masalah berdasarkan hasil
penelitian Sahide, dkk (2010) dalam merumuskan struktur masalah pembangunan HTR di
Sulawesi Selatan

Sistem Kelembagaan
Pengelolaan HTR berjalan
lamban dan tidak sinergis

Peraturan yang Kurangnya Usulan program & Pengurusan HTR
belum cukup kepercayaan perizinan pemanfaatan tidak menjadi
dimengerti oleh Dinas dari bawah berjalan prioritas
semua pihak terhadap pemerintah lokal
lamban
terutama kemampuan tetapi berjalan
pengambil masyarakat dengan inisiasi
keputusan (Bupati) mengelola individual
hutan

Sosialisasi
tidak efektif Alokasi LSM Mekanisme Komunikasi antara
Belum pendanaan lokal dan Pengusulan Kemenhut dan
menyeluruhnya untuk Penyulu HTR terlalu
Pemda untuk
memperkuat birokratis,
pemahaman h mewujudkan
terkendala di
tentang paradigma Pelayanan Kehutan perizinan masih
persoalan
pemberdayaan kepada an belum kurang
sketsa peta
masyaralat dalam masyarakat dioptima
sekitar hutan dalam lkan
memperoleh dalam
izin tidak proses
dianggarkan pengusul
dan an HTR
diprioritaskan

Gambar 30. Analisis Masalah Pembangunan HTR di Sulawesi Selatan (Sumber : Sahide, dkk
(2010)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 186

2. Bagan Hubungan Kelembagaan (Diagram Venn)

Diagram Venn merupakan teknik yang bermanfaat untuk melihat hubungan
masyarakat dengan berbagai lembaga yang terdapat di desa (dan lingkungannya). Diagram
Venn memfasilitasi diskusi masyarakat untuk mengidentifikasi pihak-pihak apa berada di
desa, serta menganalisa dan mengkaji perannya, kepentingannya untuk masyarakat dan
manfaat untuk masyarakat. Lembaga yang dikaji meliputi lembaga-lembaga lokal, lembaga-
lembaga pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga swasta (termasuk Lembaga
Swadaya Masyarakat). Diagram Venn bisa sangat umum atau topikal; mengenai lembaga-
lembaga tertentu saja, misalnya yang kegiatannya berhubungan dengan penyuluhan pertanian
saja, kesehatan saja atau pengairan saja.

Teknik ini bertujuan memperoleh data tentang:

1. Pengaruh lembaga/ tokoh masyarakat yang ada di wilayah terhadap kehidupan dan
persoalan warga masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.

2. Tingkat kepedulian dan frekwensi lembaga/tokoh masyarakat dalam membantu
memecahkan persoalan yang dihadapi oleh warga masyarakat

Bagaimana membuat Diagram Venn?

Diagram Venn dapat dibuat di atas kertas atau di tanah. Sering kali dipakai kertas (yang
digunting dalam bentuk lingkaran) dan spidol.

Langkah-langkah dalam pelaksanaan Diagram Venn meliputi:

1. Mintalah kepada peserta pertemuan baik laki-laki dan perempuan untuk membentuk
beberapa kelompok dengan anggota 5-10 orang. Jika perlu minta kelompok yang
dibentuk menurut jenis kelamin.

2. Bahaslah dengan masyarakat lembaga-lembaga yang terdapat di desa (lembaga-
lembaga yang terkait dengan topik yang akan dibahas)

3. Catatlah daftar lembaga-lembaga pada flipchart (kertas potongan)

4. Guntinglah sebuah lingkaran kertas yang menunjukkan masyarakat

5. Sepakatilah mengenai simbol-simbol yang dipergunakan, misalnya:

 besarnya lingkaran: menunjukkan pentingnya lembaga-lembaga tersebut menurut
pemahaman masyarakat. Semakin penting suatu lembaga maka semakin besar
lingkaran
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 187

 jarak dari tingkatan masyarakat: menunjukkan pengaruh lembaga tersebut
menurut pemahaman masyarakat. Semakin dekat dengan lingkaran masyarakat
maka lembaga tersebut semakin berpengaruh.

6. Tulislah kesepakatan simbol-simbol tersebut pada flipchart agar mudah diingat oleh
masyarakat

7. Bahaslah apakah lembaga-lembaga tersebut „penting‟ menurut pemahaman
masyarakat dan menyepakati besarnya lingkaran yang mewakili lembaga tersebut

8. Guntinglah kertas-kertas yang berbentuk lingkaran yang besarnya sesuai dengan
kesepakatan, tulislah nama lembaga tersebut pada lingkaran itu

9. Letakkanlah lingkaran masyarakat di atas lantai

10. Bahaslah bagaimana manfaat lembaga tersebut terhadap masyarakat yang ditunjukkan
oleh jaraknya dari lingkaran masyarakat

11. Kalau semua lembaga telah ditempatkan, periksalah kembali dan diskusikan
kebenaran informasi tersebut

12. Buatlah perubahan kalau memang diperlukan.

13. Diskusikan bersama masayarakat permasalahan dan potensi masing-masing lembaga.

14. Simpulkan bersama masyarakat apa yang dibahas dalam diskusi.

15. Tim yang bertugas sebagai pencatat proses, bertugas mendokumentasi semua hasil
diskusi dan kalau pembuatan diagram dan diskusi sudah selesai, diagram digambar
kembali atas kertas (secara lengkap dan sesuai gambar masyarakat).

Kita mau bahas masalah”ilegal logging”.

Yang perlu diperhatikan pentingnya suatu lembaga terhadap masyarakat (yang ditunjukkan
oleh besarnya lingkaran) belum tentu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat (yang
ditunjukkan oleh jarak dari lingkaran masyarakat)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 188

Adat
Lembaga
Adat Karang
Masyarakat dusun Taruna
sendie
Dishut
Dishut

LKMD

Kelompok
Koperasi
Tani
Desa
tetangga
Klpk Bungae
Tani

Gambar 31. Contoh Bagan Hubungan Kelembagaan/Diagram Venn

Kendala utama dalam Pendekatan Partisipatif antara lain

a. Memakan waktu
b. Non spesifik / non fokus
c. Bahasa hambatan sebagai fasilitator asing maupun dari luar Desa
d. Ketidakpekaan budaya (cultural insensitivity) dari fasilitator
e. Kegagalan untuk mengenali dinamika kelompok.
f. Dianggap kekanak-kanakan dan tidak menghormati kepada mereka yang memiliki
pendidikan tinggi (dapat dipecahkan)
Beberapa tips dan pengingat dari pengalaman beberapa fasilitator lapangan
a. Keterlibatan heterogen sangat penting (elit, miskin, perempuan, laki-laki, lansia, remaja,
cacat, dll)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 189

b. Mengetahui benar peserta (tingkat pendidikan, melek huruf (literacy), latar belakang
budaya)
c. Cukup tahu, jangan tahu terlalu banyak (ini adalah nilai tambah fasilitator dari luar) Tapi
buatlah juga tim fasilitator yang multidisiplin.
d. Sikap adalah kunci: fleksibel, rendah hati dan mendengarkan;
e. Perilaku: mencoba untuk berperilaku sesuai dengan aturan dan peraturan, sejauh
mungkin, dan menghormati kebudayaan mereka dan keyakinan: kita semua adalah
'benar' dalam keyakinan kita sendiri;
f. Pemberdayaan (empowerment): Penggunaan PA adalah seharusnya untuk
memberdayakan masyarakat, bukan untuk kita untuk hanya mengekstrak informasi dari
mereka dan menulis tentang hal ini dan untuk kemudian tidak memberikan kembali
kepada mereka;
g. Ketekunan (perseverence): jangan biarkan 'elit' atau orang yang kuat di masyarakat
memberitahu Anda apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Ini membutuhkan
pengalaman dan mungkin sedikit keras kepala;
h. Menjalankan prinsip triangulasi, data hendaknya di check dan recheck dengan alat-alat
lainnya baik primer maupun sekunder. Jangan hanya mengandalkan kepada hasil dari
wawancara seorang tokoh masyarakat saja misalnya, data sekunder kuantitatif atau data
statistik masih sangat relevan dalam memberikan kita jawaban yang benar atau definitif,
dua-duanya hasil seharusnya saling melengkapi;
i. Jangan memberi harapan, tetapi selalu menekankan bahwa pembangunan adalah sebuah
proses yang mereka dapat memfasilitasi mereka sendiri dari dalam dan tidak selalu
bergantung pada pihak luar;
j. Tanyakan pertanyaan terbuka, dan bersabarlah untuk semua jawaban tersebut;
k. Fasilitator bukan malaikat atau tukang sulap, tetapi fasilitator datang ke desa dapat
menyebabkan perubahan yang mempercepat proses pembangunan atau sebagai
katalisator.

3. Analisis Stakeholder

Berikut ini disajikan gambar contoh hasil Analisis Stakeholder dengan menggunakan
analisis stakeholder berdasarkan hasil penelitian Sahide, dkk (2010) dalam merumuskan
struktur masalah pembangunan HTR di Sulawesi Selatan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 190

Alat ini menganalisis individu dan kelompok baik yang mempengaruhi maupun yang
dipengaruhi oleh implementasi program. Eksplorasi tentang bagaimana masing-masing
stakeholder dapat didukung dan kapasitas masing-masing lembaga stakeholder dalam rengka
implementasi program

Tabel 27. Hasil Analisis 3 R dalam Pembangunan HTR di Sulawesi Selatan (Sumber : Sahide,
dkk (2010))

Pemangku Hak Rangking Tanggung Rangking Manfaat Rangking
Kepentingan jawab /

Biaya

Masyarakat Mengelola hutan 5 Menjaga hak 4 Mendapat 5
Petani Hutan sesuai skema kelola kan
HTR (kayu, penghasila
tanaman n, biaya
semusim) pengurusa
n

Pemdes/ - Fasilitasi 1 Menjelaskan 4 Biaya 1
Kades Masyarakat peluang pengurusa
Desa dalam kebijakan n
mengajukan HTR bagi
arealdan
perizinan masyarakat
dan
pelestarian
- Memberikan hutan
keterangan
bahwa calon
pengelola
(individual dan
koperasi)
adalah warga
desa atau
berasal dari
desa
Pemkab Mengusulkan 4 Memberikan 5 Retribusi 5
areal Fasilitasi,
Pencadangan, Pengwasan,
memberikan ijin dan Evaluasi
IUPHHK HTR

DPRD Kab. 3 Memperjuang 1 Bertambah 1
kan aspirasi konstituen
dan
kepentingan
masyarakat
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 191

Gubernur Akselerasi, 3 Mengamanka 1 Pertumbuh 1
Monitoring dan n kebijakan an
Evaluasi Ekonomi

BP2 HP Memberikan 4 Akselerasi 5 Performan 5
Pertimbangan Program si baik
Teknis, HTR
Fasilitasi

BPKH Fasilitasi Peta, 3 Memperjelas 3 Performan 3
tata batas si baik

LSM Lokal Fasiliasi dan 2 Mengawal 4 Performan 2
Advokasi pembangunan si baik,
HTR Biaya
Mendapatkan terutama Pendampi
Anggaran fasilitasi ngan
Pendampingan kelompok
dan
pengusulan

Penyuluh Fasiliasi dan 2 Mengawal 4 Popular 2
Kehutanan Advokasi pembangunan
HTR Performan
Mendapatkan terutama si baik,
Anggaran fasilitasi Biaya
Pendampingan kelompok Pendampi
dan ngan
pengusulan

Industri Mendapatkan 3 Membina dan 3 Biaya 4
Bahan Baku Koordinasi kemitraan,
dengan manfaat
Pemegang kepastian
Ijin IUPHHK bahan
HTR baku

Rangking (tertinggi) :
Hak : Masyarakat Petani Hutan
Tanggung Jawab : Pemerintah Kabupaten dan BP2HP
Manfaat/Biaya : Pemerintah Kabupaten, Masyarakat Petani Hutan,
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 192

4. Analisis SWOT

Untuk lebih memudahkan, penulis akan memberikan contoh analisis SWOT
pengembangan usaha kehutanan masyarakat di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan
yang pernah dicontohkan oleh Syamsu Alam. Analisis SWOT ini akan melahirkan strategi,
kebijakan dan program peningkatan kehutanan masyarakat

A. Strategi

Unsur-unsur kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities)
dan ancaman (threats) dianalisis untuk mengidentifikasi secara sistematis berbagai faktor
yang terkait dan untuk merumuskan strategi peningkatan usaha masyarakat. Dengan
demikian lingkungan internal berupa Strenght (S) dan Weaknesses (W) serta lingkungan
eksternal Oportunities (O) dan Threats (T) yang dihadapi dibatasi dalam sistem “ usahatani”
sebagai suatu unit manajemen. Berdasarkan hasil kajian diperoleh unsur-unsur kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman sebagai berikut :

1. Analisis Kondisi Lingkungan Internal

a. Kekuatan (Strenght = S)

Beberapa faktor yang dapat dipandang sebagai kekuatan untuk peningkatan usaha
masyarakat di sekitar hutan produksi adalah sebagai berikut:

1) Terdapat potensi lahan ( baik dalam kawasan hutan produksi maupun di luar kawasan
hutan yang telah diusahakan masyarakat dengan tanaman utama adalah kakao dan
sebagian kecil tanaman kemiri dan durian. Rata- rata luas lahan yang dikuasai petani
adalah 3 ha.
2) Tenaga kerja cukup tersedia, baik dari penduduk lokal maupun penduduk pendatang.
3) Sistem kelembagaan terutama lembaga informal (kelompok tani dan kepala dusun) sangat
mendukung
4) Masyarakat telah melakukan usahatani di dalam kawasan hutan dalam bentuk usahatani
semusim, kebun, dan usaha pemungutan hasil hutan.
5) Motivasi petani untuk mengembangkan usaahatani tinggi, sepanjang menguntungkan dari
segi finansial.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 193

b. Kelemahan (Weaknesses = W)

Beberapa hal yang menjadi kelemahan dalam peningkatan usaha masyarakat di sekitar
hutan produksi adalah sebagai berikut:
1) Petani tidak mempunyai banyak modal untuk berusahatani, terutama untuk sarana
produksi pertanian.
2) Tidak tersedia sumber pendanaan usahatani yang mudah dan murah diakses oleh
3) Usahatani di dalam kawasan hutan produksi belum dikelola optimal,Kelembagaan usaha
belum tertata dengan baik dan belum legal daalam memanfaatkan kawasan hutan.
4) Lembaga ekonomi pedesaan belum dapat mendorong petani untuk meningkatkan
pendapatan petani dari uasaha kehutanan.
5) Masyarakat belum melakukan upaya budidaya hasil hutan yang dipungut
6) Pengetahuan budidaya dan pemasaran hasil hutan terutama tanaman kayu-kayuan belum
banyak diketahui petani
7). Petani belum termotivasi untuk mengembangkan tanaman kayu-kayuan, karena jangka
waktu produksi relatif panjang dan penjualannya relatif sukar.

2. Analisis Kondisi Lingkungan Eksternal

a. Peluang (Oportunities = O)

Beberapa hal yang dikategorikan sebagai peluang dalam peningkatan usaha
masyarakat di sekitar hutan produksi adalah sebagai berikut:

1) Permintaan komoditi hasil hutan, terutama kayu mengalami peningkatan
2) Sarana dan prasarana wilayah mendukung (dekat jalan dan pelabuhan pengangkut kayu).
3) Lembaga keuangan untuk penyediaan modal usaha tersedia
4) Kebijakan pemerintah tentang pengelolaan hutan oleh masyarakat, melalui
5) program pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan pemanfaatan hutan lainnya,
sangat mendukung pengembangan usaha masyarakat sekitar hutan produksi.
6) Terdapat pemegang izin pemanfaatan hasil hutan di sekitar areal hutan produksi yang
dapat bersinergi dengan petani untuk pengembangan usaha masyarakat.

b. Ancaman (Threats =T)

Beberapa faktor yang dianggap sebagai ancaman dalam peningkatan usaha
masyarakat di sekitar hutan produksi adalah sebagai berikut:
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 194

1) Tata batas kawasan hutan yang tidak mantap dan kemapuan pemegang izin HPH/
IUPHHK untuk mengamankan wilayah kerjanya dari petani perambah kawasan hutan
sangat rendah.
2) Penataan kawasan hutan yang tidak akomodatif bagi masyarakat
3) Keuntungan usaha hasil hutan (terutama kayu) relatif lebih rendah dibanding dengan
usaha tanaman kakao dan kelapa sawit.
4) Kepastian hukum berusaha di dalam kawasan hutan produksi bagi petani belum ada,
sehingga petani merasa belum aman berusahatani dalam jangka panjang.
5) Tenaga teknis dan tenaga professional belum tersedia untuk mendampingi petani dalam
mengembangkan usahanya.
6) Industri hasil hutan, terutama industri yang dapat mengolah kayu yang cepat tumbuh (fast
growing) belum ada.
7) Permintaan lahan bagi pengembangan kelapa sawit untuk skala besar meningkat.

3. Strategi Peningkatan Usaha Masyarakat .

Berdasarkan hasil analisis kondisi lingkungan internal dan lingkungan eksternal
dirumuskan strategi peningkatan usaha masyarakat sekitar hutan produksi. Perumusan
strategi didasarkan pada kondisi yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Dengan
mempertimbangkan karakteristik usaha masyarakat yang ada saat ini, maka strategi
peningkatan usaha masyarakat sekitar kawasan hutan produksi dapat dibagi menjadi tiga
strategi pokok, yaitu: strategi kelola kawasan, strategi kelola kelembagaan, dan strategi kelola
usaha.

a. Strategi Kelola Kawasan

1) Memantapkan kawasan hutan
2) Penataan landuse mikro kawasan hutan produksi
3) Mengembangkan system perlindangan dan penjagaan kawasan hutan secara swakarsa
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 195

b. Strategi Kelola Kelembagaan

1) Penguatan hak-hak dan kewajiban masyarakat terhadap kawasan hutan produksi yang
dikelola
2) Mengembangkan interkoneksitas kelembagaan usaha masyarakat
3) Memberdayakan masyarakat mengelola usahataninya di dalam kawasan hutan produksi
4) Mengembangkan kelembagaan lokal yang berorientasi pada pemberdayaan lembaga
formal desa dan lembaga non formal petani/kelompok tani, pedagang lokal dan KUD, dan
lembaga ekonomi lain yang terkait.
5) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia institusi kehutanan

c. Strategi Kelola Usaha

1) Penguatan status hukum kawasan hutan yang dikelola masyarakat
2) Mengembangkan kelompok-kelompok usaha yang berbasis kehutanan
3) Mengembangkan sistem peremajaan jenis-jenis hasil hutan yang dipungut
4) Mengembangkan pola-pola agroforestry yang konservatif dan ekonomis
5) Memanfaatkan sumber-sumber pendanaan alternatif dan meningkatkan kemampuan
swadana masyarakat mengelola usaha kehutanan.
6) Mengembangkan sistem pasar komoditi usaha masyarakat, yang kopetitif dan
mengungtungkan semua pelaku usaha
Strategi-strategi tersebut di atas dirumuskan dengan suatu tujuan yaitu optimalisasi
pemanfaatan hutan produksi untuk kesejahteraan masyarakat.

B. Kebijakan

Strategi yang telah dirumuskan di atas perlu didukung dengan beberapa kebijakan
dasar, antara lain:

1. Penataan tata batas luar kawasan hutan yang belum ditata batas, pemeliharaan tata batas
pada kawasan hutan yang sudah ditata batas, dan penataan ruang mikro (landuse
mikro) kawasan hutan sesuai kondisi lokal.
2. Pencadangan kawasan hutan yang berpotensi untuk diusahakan oleh masyarakat.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 196

3. Pemberian kewenangan kepada lembaga formal desa melakukan pengurusan terhadap
sumberdaya hutan di desanya.
4. Sistem perizinan pengusahaan hutan produksi oleh masyarakat
5. Sistem kelembagaan usaha yang terinterkoneksitas antara birokrasi pemerintah
(termasuk level birokrasi pemerintah desa), kelembagaan swasta, dan kelembagaan
lokal masyarakat.
6. Mengembangkan sumber-sumber pendanaan alternative yang mudah dan murah untuk
diakses oleh masyarakat sekitar hutan produksi.
7. Merumuskan Perda mengenai sistem pengelolaan usaha masyarakat di dalam kawasan
hutan produksi.

C. Program

Beberapa program yang direkomendasikan untuk mendukung strategi dan kebijakan
di atas adalah sebagai berikut:

1) Pemetaan kawasan hutan produksi yang mempunyai potensi untuk dikelola oleh
masyarakat
2) Penataan Kawasan hutan produksi melalui pembagian zonasi usaha masyarakat yang
disepakati pihak-pihak yang terkait.
3) Pencadangan kawasan hutan produksi untuk tujuan usaha masyarakat
4) Pengembangan kelompok-kelompok usaha masyarakat berbasis kehutanan
5) Mengembangkan jaringan kemitraan usaha antara hulu dan hilir
6) Mengembangkan sistem pasar yang kompetitif terhadap komoditi hasil hutan usaha
masyarakat
7) Memperkuat kapsitas modal, pengetahuan teknis, dan kemapuan manajemen usaha
masyarakat untuk mengelola usahanya secara mandiri
8) Membangun unit-unit percontohan model usaha masyarakat berbasis kehutanan.
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 197

Tabel 28. Contoh Tabel SWOT Peningkatan Usaha Masyarakat Sekitar Hutan Produksi

PELUANG
ANCAMAN (THREATS)
(OPPRORTUNITIES)

1) Pasar komoditi tersedia 1. Tata batas kawasan hutan
2) Sarana dan prasarana yang tidak mantap
wilayah mendukung 2. Penataan kawasan hutan
3) Lembaga keuangan untuk yang tidak akomodatif bagi
ANALISA
penyediaan modal usaha masyarakat

SWOT tersedia 3. Harga komoditi tidak stabil
4. Kepastian hukum berusaha
di dalam kawasan hutan
produksi belum ada
5. Tenaga teknis dan tenaga
professional belum tersedia
untuk mendampingi
masyarakat
STRATEGI PENGEMBANGAN
KEKUATAN (STRENGTHS)
(S-O) (S-I)

1. Terdapat potensi kawasan 1.Penguatan hak-hak dan 1) Memantapkan kawasan
hutan (lahan dan hasil kewajiban masyarakat hutan (KKw)
hutan) yang dapat terhadap kawasan hutan 2) Penataan landuse mikro
diusahakan masyarakat. produksi yang dikelola (KK) kawasan hutan produksi
2. Tenaga kerja tersedia 2.Mengembangkan (KKw)
3. Sistem kelembagaan interkoneksitas kelembagaan 3) Mengembangkan system
terutama lembaga informal usaha masyarakat (KK) perlindungan dan
sangat mendukung 3.Mengembangkan penjagaan kawasan hutan
4. Masyarakat telah kelembagaan lokal yang secara swakarsa (KKw)
melakukan usahatani di berorientasi pada 4) Memberdayakan
dalam kawasan hutan pemberdayaan lembaga masyarakat mengelola
dalam bentuk usahatani formal desa dan lembaga non usaha taninya di dalam
semusim, kebun, dan usaha formal petani/kelompok tani, kawasan hutan produksi
pemungutan hasil hutan pedagang lokal dan KUD, (KK)
dan lembaga ekonomi lain
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 198

yang terkait. (KK)

KELEMAHAN STRATEGI PENGEMBANGAN

(WEAKNESS) (W-O) (W-T)

1) Modal usahatani 1. Mengembangkan 1) Penguatan status hukum
umumnya kurang kelompok-kelompok usaha kawasan hutan yang
2) Tidak tersedia sumber yang berbasis kehutanan dikelola masyarakat (KU)
pendanaan usahatani yang (KU) 2) Mengembangkan sistem
mudah dan murah diakses 2. Mengembangkan sistem pasar komoditi usaha
oleh petani peremajaan jenis-jenis hasil masyarakat, yang kopetitif
3) Usahatani di dalam hutan yang dipungut (KU) dan mengtunungkan semua
kawasan hutan produksi 3. Mengembangkan pola-pola pelaku usaha (KU)
belum dikelola optimal agroforestry yang 3) Meningkatkan kualitas dan
4) Kelembagaan usaha belum konservatif dan ekonomis kuantitas sumberdaya
tertata dengan baik (KU) manusia institusi kehutanan
5) Lembaga ekonomi desa 4. Memanfaatkan sumber- (KU)
tidak kuat sumber pendanaan
6) Masyarakat belum alternatif dan
melakukan upaya meningkatkan kemampuan
budidaya hasil hutan yang swadana masyarakat
dipungut mengelola usaha
kehutanan. (KU)

Keterangan : KK : Strategi Kelembagaan, KKw : Strategi Kelola Kawasan, KU: Strategi
Kelola Usaha

PENUTUP

Penugasan

Menanyakan beberapa pertanyaan kunci kepada mahasiswa untuk dieksplorasi
1. .Deskripsikan makna intervensi sosial dalam KM?
2. Apa perbedaan riset aksi dan riset (penelitian) secara umum
3. Jelaskan berikut point-point penting tentang partisipasi dan PRA?
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 199

a. Pendekatan Partisipatif (Participatory Approaches) atau Proses Multi-pihak(Multi-
Stakeholder Proces) Apa artinya?
b. Di bidang apa saja dapat Pendekatan Partisipatif diterapkan dan membantu?
c. Apakah ada yang tahu siapa Paulo Freire? Dan apa kaitan dengan pendekatan
partisipatif?
d. Siapa Robert Chambers?
e. Apa perbedaan antara RRA dan PRA?
f. Kenapa aras pendekatan partisipatif dimunculkan?
g. Bagaimana tiap tingkatan partisipasi?
h. Mahasiswa diminta mengulas tingkatan partisipatif (sesuai yang diulas dosen) dari
yang kurang partisipatif ke yang paling partisipatif.

DAFTAR PUSTAKA

Agusta Ivanovich. 2006. Penerapan Riset Aksi dalam Pemberdayaan dan Pelaksanaan
Pengabdian kepada masyarakat, Metodologi Partisipatif Manakah?. Makalah
disampaikan dalam Workshop Tenaga Penyuluh Pengabdian kepada Masyarakat di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 29 – 31 Mei 2006.
http://ivanagusta.files.wordpress.com/2009/04/ivan-riset-aksi-pemberdayaan-
masyarakat-indonesia.pdf diakses tanggal 24 Maret 2012

Blog BebasBanjir 2015. Konsep konsep Dasar Partisipasi.
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/partisipasi/. diakses
tanggal 22 Maret 2012

Lithgow Schmidt. 2004. A Ladder of Citizen Participation - Sherry R Arnstein.
http://lithgow-schmidt.dk/sherry-arnstein/ladder-of-citizen-participation.html.
Originally published as Arnstein, Sherry R. "A Ladder of Citizen Participation," JAIP,
Vol. 35, No. 4, July 1969, pp. 216-224

Hakim I, Irawant S, Murniati, Sumarhani, Widiarti A, Effendi R., Muslich., M, Rulliaty
S., 2010. Social Forestry Menuju Restorasi Pembangunan Kehutanan
Berkelanjutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan
Kementerian Kehutanan
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 200

Hutabarat, T. M., 2010. Menerapkan Riset Aksi di Perguruan Tinggi (Mungkinkah?).
http://www.scribd.com/doc/32673274/Peluang-Riset-Aksi-Di-Perguruan-Tinggi.
diakses tanggal 24 Maret 2012

Wiliam-de Vries, D. 2006. Gender bukan tabu: catatan perjalanan fasilitasi kelompok
perempuan di Jambi. Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research
(CIFOR
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 201

GLOSARIUM

Bawang Konflik Analogi mengulas bawang dalam ilustrasi
mengeksplorasi lebih dalam posisi-posisi dan
kepentingan-kepentingan para pihak sampai menemukan
kebutuhan mereka, sehingga akan mengantarkan para
pihak pada konteks konflik yang lebih detail

Eskalasi-deskalasi konflik Situasi sosial dalam konflik dimana tensi ketegangan
antara para pihak mengalami perubahan yakni
peningkatan dan penurunan

De-institusionalisasi Proses sistemik yang melemahkan sistem kelembagaan
lokal karena berbagai sebab antara lain akulturasi
kebijakan formal, dll

Masyarakat adat Komunitas yan memiliki asal usul leluhur secara turun
menurun yang hidup dalam wilayah geografis tertentu,
serta memiliki sistem nilai, ideology, ekonomi, sosial,
budaya dan politik yang khas (menurut AMAN)

Kehutanan Masyarakat Sistem pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat,
dimana modusnya adalah tingkatan yang lebih pada
hak, akses serta peran masyarakat lokal dalam
pengelolaan hutan yang berkelanjutan

REDD+ REDD plus the role of conservation, sustainable
management of forests and enhancement of forest
carbon stocks
REDD ditambah peran konservasi, pengelolaan hutan
berkelanjutan, dan peningkatan cadangan karbon hutan

Sanra kelembagaan yang berlaku pada petani dalam
pengelolaan lahan wanatani dimana pemilik lahan
menyerahkan lahannya untuk diusahakan oleh orang lain
dengan ketentuan orang lain menyerahkan jaminan
berupa uang kepada pemilik lahan

Teseng Pemberian lahan hutan kepada orang lain untuk dikelola
dengan cara bagi hasil

Varian Kehutanan Masyarakat Ragam bentuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat
baik skema pengelolaan hutan yang ditawarkan oleh
pemerintah seperti HKm, Hutan Desa dan Hutan
Tanaman Rakyat maupun bentuk pengelolaan hutan
yang tumbuh dari masyarakat, maupun gabungan
keduanya (pemerintah dan masyarakat)
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 202

INDEKS

Agroforestry, vii, xi, 47, 48, 65, 91, 108, 128 kolaborasi, 20, 62
devolusi, xv, xvi, 67, 68, 69, 70, 72, 73, 74, 91, Kompensasi, 52, 65
92 konflik pengelolaan hutan, 33
fasilitasi, x, 23, 24, 66, 74, 76, 86, 87, 98, 99, Masyarakat Adat, 27, 30
100, 105, 114, 126, 140, 172, 175, 176, 177, Masyarakat lokal, 29, 62, 92
193, 202 Memori kolektif, 85
gender, 39, 41, 180, 184 Partisipasi, 26, 36, 64, 97, 181, 201
hutan adat, 27, 28, 33, 61, 99, 150 pemasaran, 12, 38, 52, 63, 103, 104, 105, 106,
hutan desa, x, xi, 5, 7, 20, 21, 48, 56, 57, 58, 112, 115, 124, 128, 159, 195
77, 103, 105, 106, 107, 160, 161, 163, 176 pemberdayaan masyarakat, 23, 38, 55, 59, 60,
Hutan Kemasyarakatan, vii, xiii, 34, 35, 36, 37, 62, 74, 86, 114, 173, 176, 177, 179, 181
43, 46, 55, 56, 58, 76, 92, 99, 114, 146 pengelolaan DAS, xiii, 44, 45, 46
Hutan rakyat, 63 pengelolaan hutan, ii, x, xii, xiii, xv, xvi, xvii, 1,
Hutan Tanaman Rakyat, vii, xiii, 34, 43, 52, 2, 3, 4, 6, 7, 18, 21, 25, 26, 28, 29, 32, 33,
56, 59, 64, 65, 74, 92, 99, 114, 133, 195 35, 36, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 46, 48, 51, 52,
kawasan konservasi, 14, 27, 61, 94, 95, 136, 55, 57, 58, 59, 63, 64, 67, 69, 70, 73, 77, 85,
143, 146, 147, 148, 149 86, 87, 91, 94, 95, 97, 98, 99, 100, 104, 105,
keadilan, 41, 69 106, 107, 108, 112, 134, 135, 136, 137, 140,
kebijakan, iii, xiv, xv, xvi, 4, 6, 18, 21, 24, 26, 141, 143, 144, 149, 151, 156, 158, 159, 160,
27, 28, 35, 37, 43, 53, 55, 58, 70, 72, 76, 85, 161, 163, 164, 170, 172, 195
86, 94, 97, 99, 100, 103, 104, 111, 112, 129, Proses pembelajaran, v, vii, viii, ix, x, 1, 32, 67,
132, 139, 141, 143, 145, 147, 158, 160, 182, 93, 111, 134, 156
192, 193, 194, 197, 198 REDD, vii, xii, 50, 51, 65, 91
Kehutanan masyarakat, vi, xv, xvi, 5, 6, 36, 37, Riset Aksi Partisipatif, x, 174, 175
38, 143 situasi, ii, xvi, xvii, 1, 4, 6, 32, 63, 64, 70, 134,
kelembagaan, ii, v, xv, xvi, 18, 20, 23, 24, 35, 140, 172, 173, 177, 178, 185
57, 58, 60, 62, 67, 68, 73, 75, 76, 77, 78, 79, social forestry, 34, 35, 36
80, 83, 84, 85, 86, 88, 91, 95, 97, 98, 99, tenurial, ii, xv, xvi, 5, 7, 67, 68, 77, 78, 79, 80,
105, 106, 111, 115, 126, 127, 128, 129, 139, 81, 91, 137, 138, 173
164, 170, 173, 178, 181, 194, 196, 197, 198, Transformasi Konflik, 142
199 Tujuan Instruksional, vii, viii, ix, x, 1, 32, 67,
kemiskinan, v, 1, 2, 7, 9, 11, 13, 14, 17, 18, 21, 93, 111, 134, 156, 172
29, 32, 52, 59, 64, 112, 134, 167 usaha kehutanan masyarakat, xvi, 111, 132,
kesalahan berpikir, 1, 19, 26, 28, 29, 33 194
Kesatuan Pengelolaan Hutan, 43, 46, 92, 93,
94, 109, 110
Buku Ajar Kehutanan Masyarakat: dari tradisi, diskursus hingga praktek | 203