BAB II

PEMBAHASAN

Manajemen Biaya adalah sistem yang di desain untuk menyediakan informasi bagi
manajemen untuk pengidentifikasian peluang-peluang penyempurnaan, perencanaan strategi,
dan pembuatan keputusan operasional mengenai pengadaan dan penggunaan sumber-sumber
yang diperlukan oleh organisasi.

Beberapa konsep yang sesuai untuk menunjang penerapan Sistem Manajemen Biaya untuk
Efisiensi :

A. Activity Based Management (ABM)

Aktivitas merupakan hal yang utama dalam pengendalian dan penilaian performance
lingkungan yang dinamis. Akuntansi aktivitas merupakan pendekatan yang paling tepat
dalam lingkungan yang dinamis dan perusahaan ditutut untuk melakukan continoues
improvement (perbaikan terus). Akuntansi aktivitas menekankan pada perbaikan proses.
Proses adalah sekumpulan aktivitas yang menentukan kinerja suatu pekerjaan tertentu.
Perbaikan proses berarti perbaikan bagaimana suatu aktivitas dilakukan. Oleh karena itu yang
diperlukan adalah pengelolaan aktivitas bukan biayanya. Untuk itulah muncul pendekatan
yang dikenal dengan Activity Based Management (ABM).

Menurut Mulyadi (2007; 731), Activity-Based Management (ABM) adalah pendekatan
manajemen yang memusatkan pengelolaan pada aktivitas dengan tujuan untuk melakukan
improvement berkelanjutan terhadap value yang dihasilkan bagi customer, dan laba yang
dihasilkan dari penyedia value tersebut.

Sedangkan menurut Blocher (2007; 239), Activity–Based Management (ABM) analisis
aktivitas yang digunakan untuk memperbaiki nilai produk atau jasa bagi pelanggan dan
meningkatkan keuntungan perusahaan.

Activity Based Management (ABM) adalah pengelolan aktivitas untuk meningkatkan nilai
(value) yang diterima oleh pelanggan dan untuk meningkatkan laba melalui peningkatan nilai
(value) tersebut. Dengan Activity Based Management (ABM), suatu perusahaan dapat
melakukan evaluasi biaya dan nilai (value) darn suatu aktivitas proses sehingga akan terjadi
perbaikan posisi kompetitif dan meningkatnya efisiensi proses.

dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk membagi sumber daya biaya terhadap aktivitas dan biaya aktivitas terhadap objek biaya seperti pelanggan dan produk agar dapat menganalisis keputusan critical. dimana biaya-biaya sumber daya dapat ditelusuri ke aktivitas-aktivitas dan kemudian di aktivitas tersebut dibebankan ke pelanggan. Adapun sebuah perusahaan menggunakan Activity Based Management (ABM) ini dengan maksud untuk: 1. 2. yaitu : 1.Activity–Based Management menekankan pada biaya berdasarkan aktivitas atau Activity- Based Costing (ABC) dan analisis nilai proses. 2. Dengan demikian. aktivitas. Meningkatkan nilai yang diterima oleh pelanggan dari setiap aktivitas yang dilakukan. 4. produk dan pelanggan (serta biaya-biaya lain yang diperlukan). terdapat 2 dimensi pada Activity Based Management (ABM). mengapa aktivitas tersebut dilaksanakan dan seberapa baik pelaksanaannya. Mengurangi harga produk dan mengoptimalkan desain produk. Memperbaiki laba dengan memberikan nilai pelanggan. Dengan demikian dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk suatu kategori informasi yang baru mengenai kinerja aktivitas. Activity Based Management (ABM) ini merupakan pendekatan manajemen yang berfokus untuk dapat : 1. Menentukan aktivitas perusahaan yang merupakan aktivitas value added dan aktivitas non-value added. Jadi. 3. Dimensi Proses (process dimension) Memberikan informasi mengenai aktivitas apa saja yang dilaksanakan. Meningkatkan value added activity dan mengurangi bahkan menghilangkan non- value added activity. . Keputusan tersebut termasuk penetapan harga. Dimensi ini menjelaskan mengenai akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas dan lebih memfokuskan pertanggungjawaban aktivitas bukan pada biaya serta menekankan pada maksimalisasi kinerja sistem secara menyeluruh bukan pada kinerja secara individu. pengadaan produk dan penetapan prioritas untuk usaha perbaikan. Dimensi biaya (cost dimension) Memberikan informasi biaya mengenai sumber daya. Informasi ini menunjukkan apa yang menyebabkan pemicu biaya dan bagaimana pengukuran kinerjanya.

Aktivitas yang tidak bernilai tambah adalah operasi yang (1) tidak perlu dan tidak penting (2) perlu tapi tidak efisien dan tidak dapat dikembangkan. Change Process Perubahan bisa terjadi apabila diterapkannya suatu proses yang sudah dirancang menghasilkan perubahan tersebut. 2. Budaya organisasi Mencerminkan kerangka berfikir dari karyawan termasuk perilaku. 4. Elemen-elemen dari proses diantaranya daftar dari aktivitas. Mengurangi biaya-biaya perusahaan. kerja sama. peran serta dan kerjasama dari karyawan suatu organisasi. sekumpulan tujuan. yaitu : 1. Keberhasilan penerapan dari program manajemen biaya yang baru membutuhkan keahlian. Berikut adalah lima langkah yang menyediakan strategi untuk menghilangkan biaya tak bernilai tambah pada perusahaan manufaktur dan jasa. keyakinan yang dianut karyawan. 2. Apakah aktivitas tersebut perlu? . daya guna. Budaya organisasi menunjukkan keterlibatan. Top Management Support and Commitment Penerapan suatu sistem manajemen biaya yang baru seperti ABM dan ABC membutuhkan waktu dan sumber daya. oleh karena itu dukungan dan peran serta top manajer sangatlah diperlukan untuk keberhasilan penerapannya 3. Continuing Education Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti pelatihan serta meningkatkan keahlian mereka terhadap lingkungan kerja yang cepat sangatlah penting. dan tingkatan lanjutan. dan nilai yang dirasakan. biaya dari beberapa aktivitas yang bisa dihilangkan tanpa mengurangi kualitas produk. Mengidentifikasi aktivitas. tiga kriteria untuk menentukan aktivitas yang bernilai tambah adalah: a. 2. Membantu perusahaan dalam mempertimbangkan peluang bisnis baru. Tujuan penting dari ABM adalah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan aktivitas dan biaya tak bernilai tambah. langkah pertama adalah analisis aktivitas. serta partisipasi yang tinggi dari seluruh karyawan. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Activity Based Management (ABM) antara lain : 1. yang mengidentifikasi semua aktivitas penting organisasi. 3. Biaya yang tidak bernilai tambah adalah hasil dari beberapa aktivitas. Mengidentifikasi aktivitas tak bernilai tambah. nilai. Perbaikan dari proses yang sudah ada sangatlah mendukung keberhasilan penerapannya. Budaya organisasi sangatlah mendukung keberhasilan dari penerapan ABM di suatu organisasi.

Membuat arus produk atau jasa lebih efisien 7. Menentukan keterkaitan antara aktivitas-aktivitas dengan fungsi-fungsi dan lintas fungsi 6. Dengan mengedintifikasi akktivitas tak bernilai tambah. Melaporkan biaya yang tidak berlilai tambah. 4. Menetapkan ukuran kinerja. perhatian manajemen mungkin terarah pada aktivitas yang tidak perlu dan tidak efisien. Satu set kegiatan yang saling berhubungan (seperti yang digambarkan di atas) disebut proses. dengan pengukuran kenerja secara terus-menerus dan membandingkan kinerja dengan tolak ukur. Atau kegiatan produksi yang harus disalahkan. Apakah aktivitas tersebut efisien? c. bisa berbaring di salah satu dari sejumlah kegiatan sebelumnya. Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas 2. Menganalisa dua atau lebih aktivitas yang saling berhubungan untuk menentukan trade off diantara aktivitas-aktivitas tersebut agar mengarah pada pengurangan biaya 9. Mungkin spesifikasi bagian adalah kesalahan. dan melaporkan biayanya. baik dalam rangka meningkatkan kualitas maupun biaya yang timbul akibat kualitas yang . Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk penerapan ABM adalah sebagai berikut : 1. Membedakan antara aktivitas bernilai tambah dan tidak bernilai tambah untuk produk atau jasa tertentu 3. Quality Cost Quality cost adalah biaya-biaya yang timbul dalam penanganan masalah kualitas (mutu). akar masalah. Membebankan nilai-nilai waktu dan biaya pada setiap aktivitas 5. manajemen dapat bekerja keras untuk mengembangkan proses dan menghilangkan biaya tak bernilai tambah. Pengerjaan ulang unit yang rusak adalah kegiatan non-nilai tambah. Penyempurnaan berkesinambungan B. Atau vendor diandalkan dipilih. sangat penting untuk memahami jalan dimana aktivitas terhubung bersama. dan pemicunya. b. Memahami rantai aktivitas. dalam mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah. biaya tak bernilai tambah harus disoroti pada laporan pusat biaya. kadang tidak ? 3. Mungkin bagian-bagian yang salah diterima. Apakah aktivitas tersebut kadang bernilai tambah. Akar penyebab ulang. Pengerjaan ulang ini dipicu oleh identifikasi produk cacat selama inspeksi. Menelusuri arus produk atau jasa melalui aktivitas 4. Mengurangi atau meniadakan aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah 8. bagaimanapun. Kadang-kadang analisis aktivitas ini disebut sebagai analisis nilai proses (PVA). 5.

Dalam Biaya Kegagalan ini. buruk (cost of poor quality). Biaya Peniliaian (Appraisal Cost) adalah biaya yang timbul saat melakukan penyaringan atau pendeteksian kegagalan produk seperti Biaya Pengujian. Biaya Perubahan Desain (Design Change) 3. Peninjauan Kualitas dan Audit (Quality Audit and Review) 4. Kategori Contoh Biaya yang perlu dikeluarkan Biaya 1. Quality Planning and Design Biaya 1. Biaya Pencegahan (Preventive Cost) adalah biaya yang dikeluarkan dalam mencegah terjadi kegagalan pada proses pertamanya seperti Biaya Pelatihan (Training Cost) dan Biaya Perencanaan Kualitas (Quality Planning). Biaya Kelebihan Persedian (Excess Inventory Cost) . Biaya Laboratorium Biaya Kegagalan(Failure 1. Biaya Scrap dan pengerjaan ulang (Rework) Cost)Internal 2. Feigenbaum (1991) dalam bukunya yang berjudul “Total Quality Control” menyebutkan bahwa Biaya Kualitas terdiri dari 3 kategori utama. Biaya Kegagalan kemudian dibagi lagi menjadi 2 jenis yaitu Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost) dan Biaya Kegagalan Eksternal (External Failure Cost). Vendor Survey 4. dengan kata lain. Sedangkan Biaya Kegagalan adalah Biaya yang timbul akibat buruknya kualitas ataupun kegagalan produk yang tidak memenuhi standar pelanggan (Customer). Pembelian Peralatan Pengujian dan Inspeksi Cost) 3. Biaya Pelatihan (Training Cost) Pencegahan (Preventive 2. Segala Jenis Pengujian (testing) dan Inspeksi Penilaian(Appraisal 2. Biaya Penilaian (Appraisal Cost) Biaya Kegagalan (Failure Cost). terdapat lagi biaya kegagalan Internal yang terjadi akibat buruknya kualitas selama proses produksi dan Biaya Kegagalan Eksternal yang terjadi akibat kegagalan produk yang telah dijual. Proses Capability Studies (Penelitian Kapabilitas Proses) Cost) 3. yaitu Biaya Pencegahan (Preventive Cost). biaya kualitas (quality cost) adalah semua biaya yang timbul dalam manajemen kualitas (quality management). Inspeksi dan Proses Audit.

Biaya Pengembalian Produk (Return and Recall) 3. Biaya Pembelian Bahan Biaya Kegagalan(Failure 1. PELAPORAN. Retiability menjelaskan kualitas dari profitabilitas kemampuan produk untuk memberikan fungsi selam jangka periode waktu tertentu f. Durability menunjukan jangka waktu suatu produk dapat berfungsi dengan baik g. Biaya Ganti Rugi PENGUKURAN. Biaya Penangan Keluhan Pelanggan 4. Quality of conformance menunjukan bagaimana suatu produk dapat memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan h. Performance Menunjukkan bagaimana suatu produk konsisten dalam melaksanakan fungsinya b. Features atau quality of design menunjukkan karakteristik produk yang membedakan produk dengan produk lain e. Pengukuran Biaya Kualitas Ada beberapa atribut atau dimensi yang dapat digunakan untuk menunjukkan harapan konsumen akan suatu produk yaitu: a. Serviceability berhubungan dengan kemudahan untuk perbaikan dan pemeliharaan produk d. Aesthetics berhubungan dengan penampilan atau keindahan suatu produk c. Biaya Purna Jual / Jaminan (Warranty) Cost)Eksternal 2. 4. Fitness of use menunjukan kemampuan produk untuk memberikan manfaat yang dijanjikan Produk dikatakan berkualitas apabila memenuhi 2 hal yaitu: . DAN PENGENDALIAN BIAYA KUALITAS 1.

Untuk menentukan jumlah hidden quality cost diperlukan estimasi. Mutu rancangan (quality of design) b. Jumlah biaya kualitas merupakan penjumlahan baik Observable quality cost maupun Hidden quality cost. Estimasi dapat dilakukan dengan cara berikut: i. a. Aktivitas karena kegagalan yang merupakan aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk merespon adanya produk yang kualitasnya rendah Biaya kualitas terdiri dari 4 jenis biaya yaitu: a. Multiplier method. penentuan hidden quality cost dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan mengamsumsikan bahwa total biaya . Apprisial cost atau biaya pengukuran adalah biaya yang terjadi untuk menentukan suatau produk memenuhi karakteristik yang ditetapkan atau sesuai dengan permintaan konsumen c. Prevention cost atau biaya pencegahan adalah biaya yang terjadi dalam upaya mencegah adanya produk dengan kualits tidak baik b. Hidden quality cost adalah merupakan biaya atau krugian yang muncul karena rendahnya kualitas tetapi jumlah biaya ini tidak dapat diketahui dari catatan akuntansi perusahaan. Aktivitas kualitas yang dilakukan perusahaan diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu: c. Internal failure cost atau biaya kegagalan internal adalah biaya atau kerugian ang terjadi karena produk tidak memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan dan produk belum sampai konsumen d. External failure cost atau biaya kegagalan eksternal adalah biaya atau kerugian yang terjadi karena produk tidak memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan dan produk sudah sampai konsumen Biaya kualitas dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis biaya yaitu: a. Mutu kesesuaian (quality of conformance) Biaya kualitas adalah biaya yang muncul karena adanya aktivitas kualitas yang muncul karena rendahnya kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan atau kemungkinan adanya kualitas produk yang rendah. Observable quality cost yaitu bioaya kualita yang dapat diketahui jumlahnya dari catatan yang terdapat dalam system akuntansi yang digunakan perusahaan b. Aktivitas pengendalian yang merupakan aktivitas untuk mencegah atau mendeteksi terjadinya produk yang kurang baik d.

Ukur parsial = Output / Masukan Mengukur Produktivitas Operasional: mengukur Partial mana kedua input dan output yang dinyatakan dalam istilah fisik. Pengukuran Produktivitas Parsial: Mengukur produktivitas untuk satu input pada suatu waktu. Efisiensi produktif total adalah titik di mana dua kondisi terpenuhi:  untuk setiap campuran input yang akan menghasilkan output yang diberikan. Mengukur Produktivitas keuangan: ukuran Partial mana kedua input dan output yang dinyatakan dalam dolar. Market Researsh method. tidak lebih dari setiap masukan yang digunakan daripada yang diperlukan untuk menghasilkan output  mengingat campuran yang memenuhi kondisi pertama. 3. dan secara khusus membahas hubungan output dan input yang digunakan untuk menghasilkan output. Taguchi Quality loss Function. Pelaporan dan Penggunaan Biaya Kualitas Biaya kualitas perlu dilaporkan agar dapat membantu manajemen dalam meningkatkan perencanaan. kegagalan eksternal adalah biaya eksternal yang dapat diukur dikalikan dengan multiplier tertentu ii. . penentuan hidden quality cost dengan mengasumsikan bahwa fungsi biaya kualitas adalah merupakan fungsi kuadrat. Produktivitas: Pengukuran dan Kontrol Produktivitas adalah berkaitan dengan menghasilkan output secara efisien. Terdapat 2 cara pelaporan biaya kualitas yaitu dengan Quality cost report serta Analisis. campuran paling mahal yang dipilih. pengendalian serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kualitas. 2. penentuan hidden quality cost dengan melakukan penelitian pasar iii.

Adapun tujuan tersebut diantaranya: . menghitung biaya input yang akan digunakan dalam tidak adanya perubahan produktivitas. penyimpanan barang dan stocking cost. Just in time Persediaan merupakan salah satu aset paling mahal. yaitu : 1. Perbedaan biaya adalah jumlah di mana keuntungan berubah karena perubahan produktivitas. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah Tujuan dari adanya manajemen menggunakan dan mengembangkan konsep manajemen Just In Time dalam perusahaan dapat dirangkum atas beberapa aspek. Untuk menghitung masukan yang akan digunakan (PQ). Karena itu timbul konsep yang disebut Just In Time atau disebut juga Sistem produksi tepat waktu. sehingga akan sangat menghemat bahkan meniadakan biaya persediaan barang. Just In Time (JIT) adalah suatu konsep dimana bahan baku yang digunakan untuk aktifitas produksi didatangkan dari pemasok (suplier) tepat pada waktu bahan itu dibutuhkan oleh proses produksi. menekan biaya. Harus ada keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan konsumen. dan membandingkan biaya ini dengan biaya dari input benar-benar digunakan. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi 3. gunakan rumus berikut: PQ = Output Periode Berjalan / Rasio Produktivitas Periode dasar C. Just In Time mempunyai empat aspek pokok. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa harus dieliminas 2. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan dalam meningkatkan efisiensi kegiatan 4. Prinsip dasar Just In Time adalah peningkatan kemampuan perusahaan secara terus menerus untuk merespon perubahan dengan minimisasi pemborosan. dan mencapai waktu penyerahan seefisien mungkin dengan menghapus seluruh jenis pemborosan yang terdapat dalam proses produksi sehingga perusahaan mampu menyerahkan produknya (baik barang maupun jasa) sesuai kehendak konsumen tepat waktu. Sistem produksi tepat waktu/Just In Time (JIT) adalah suatu sistem produksi yang dirancang untuk mendapatkan kualitas. Pengukuran Produktivitas yang Berkaitan dengan Laba Untuk periode berjalan.

Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan. Meningkatkan daya kompetisi Hal ini dianggap salah satu tujuan yang paling penting. 2. Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya. 4. Penerapan Just In Time dalam berbagai bidang fungsional perusahaan : 1. b. Meningkatkan mutu barang Mutu tinggi dari suku cadang atau komponen yang dipasok oleh pemasok pada gilirannya akan meningkatkan mutu barang yang diproduksi oleh perusahaan. e. 3. Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah. Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang mapan. Efisiensi didapat juga dengan cara mendesain pabrik sedemikian rupa sehingga proses produksi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan aman.1. Mengurangi pemborosan Pengurangan pemborosan terutama dalam bentuk barang yang terbuang. karena pada hakekatnya pemborosan adalah biaya. Penerapan pembelian Just In Time dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut: a. Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya. . Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok. Kemitraan penjual pembeli memungkinkan melakukan pengendalian mutu suku cadang atau komponen dengan lebih murah dan lebih handal. d. berkisar antara 20 persen–40 persen dari harga barang pertahun. Pembelian Just In Time dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara: a. b. karena peningkatan efisiensi berarti penurunan biaya dan ini memungkinkan perusahaan untuk tetap bertahan dalam persaingan pasar. yaitu suatu tujuan strategis. Meningkatkan efisiensi proses produksi Biaya persediaan ini sangat tinggi. c. Pembelian Just In Time Pembelian Just In Time adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan. Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.

Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi. d. c. Produksi Just In Time Produksi Just In Time adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu. Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan b. dan produk selesai c. dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan. dengan mengadakan promosi tambahan . Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang: a. disimpan atau diretur kembali  Kertas kerja dapat lebih simple  Penghematan yang telah di lakukan dapat digunakan untuk mendapat profit yang lebih tinggi misalnya. d. mutu. Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih harga beli secara individual. Pembelian bahan Keuntungan dan kelemahan Just In Time Keuntungan Just In Time :  Seluruh system yang ada dalam perusahaan dapat berjalan lebih efisien  Pabrik mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk memperkerjakan para staffnya  Barang produksi tidak harus selalu di cek. Waktu perpindahan d. barang dalam proses. Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation). e. c. Tenaga kerja langsung dan tidak langsung e. Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi. 2. Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol). Biaya mutu g. b. Ruangan pabrik f. Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol). Persediaan bahan. Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya langsung. Produksi Just In Time dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara: a.

Memproduksi produk sesuai pesanan dari konsumen. Kegiatan produksi akan terhenti dan tenggang waktu pengiriman tidak terpenuhi apabila salah satu komponen bahan penting hilang atau ditemukan cacat. Beberapa prinsip yang mendasari pandangan unutk penerapan sistem lean production yaitu : 1. 2002 :35) : 1. dimana nilai sebuah produk didefinisikan sebagai sesuatu yang mau dibayar oleh pelanggan. . Mengeliminasi pemborosan yang terjadi dalam bentuk waktu. 3. Mengurangi biaya seiring dengan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. di mana pelanggan menginginkan produk (barang atau jasa) dengan kualitas yang superior. Pengimplementasian konsep Just In Time dalam perusahaan juga tidak mudah. 3. Jika permintaan naik melebihi dari rata-rata perencanaan historis maka inventori akan habis dan akan mempengaruhi tingkat pelayanan konsumen. Menghilangkan pemborosan yang tidak berniali tambah dari semua aktivitas yang terdapat dalam proses value stream tersebut dengan menganalisa value stream yang telah dibuat. Lean Production Lean Production (produksi ramping) adalah praktik produksi yang mempertimbangkan segala pengeluaran sumber daya yang ada untuk mendapatkan nilai ekonomis terhadap pelanggan tanpa adanya pemborosan. Kelemahan Just In Time : Satu kelemahan sistem Just In Time adalah. tingkatan order ditentukan oleh data permintaan historis. dan pemborosan inilah yang menjadi target untuk dikurangi. Beberapa tujuan lean production menurut Geogre. 2. Lean selalu melihat nilai produk dari sudut pandang pelanggan. proses produksinya serta pemasarannya. Membuat dan melakukan identifikasi terhadap aliran proses produk sehingga kegiatan yang dilakukan dalam memproses produk dapat diamati secara detail. 2. D. Sedangkan pemasok harus mampu menyerahkan bhan baku yang bebas dari cacat pada waktu dan jumlah yang tepat. usaha dan material pada saat melakukan proses produksi. harga kompetitif dan pengiriman yang tepat waktu. Mengidentifikasi nilai produk berdasarkan pada pandangan dari para pelanggan. Umumnya banyak perusahaan tidak melakukan pembuatan aliran prses produk melainkan aliran proses pertimbangan apakah memberikan nilai tambah kepada produk yang dibuat. Perusahan harus berpikir melalui sudut pandang pelanggan dalam melakukan desain produk.

.4. 5. informasi dan produk mengalir dengan lancar dan efisien sepanjang proses value stream dengan menggunakan sistem tarik (full system). Mengorganisasikan agar material. Secara terus-menerus dan berkesinambungan melakukan peningkatan dan perbaikan dengan cara mencari teknik-teknik dan alat peningkatan agar mencapai keunggulan dan peningkatan terus-menerus.