Bigrafi Tirto Utomo – Pendiri Aqua

Orang Indonesia pasti mengenal merk Aqua, Merk ini sangat dikenal masyarakat di seluruh
daerah dari perkotaan sampai dengan pedesaan. Aqua menjadi pelopor air minum dalam kemasan di
Indonesia, yang merupakan ide dari Tirto Utomo yang tidak lain adalah Pendiri Aqua. Tirto
Utomo atau Kwa Sien Biauw dilahirkan di Wonosobo, Jawa Tengah 8 Maret 1930. Karena di
Wonosobo tidak ada SMP maka Tirto Utomo harus bersekolah di Magelang yang berjarak sekitar 60
kilometer, perjalanan itu ditempuh dengan sepeda. Kehidupannya tergolong lumayan karena
orangtuanya pengusaha susu sapi dan pedagang hewan ternak. Lulus SMP Tirto Utomo melanjutkan
sekolah ke HBS (sekolah setingkat SMA di zaman Hindia Belanda) di Semarang dan kemudian di
Malang. Masa remaja Tirto Utomo dihabiskan di Malang dan di situlah dia bertemu dengan Lisa /
Kienke (Kwee Gwat Kien). Seperti lazimnya sekolah Katholik pada waktu itu maka sekolah untuk
murid laki-laki dan murid perempuan dipisah. Mereka berdua hanya sempat bertemu di lapangan
sekolah.

Selama dua tahun kuliah di Universitas Gajah Mada yang ada di Surabaya, dia mengisi waktu
luang dengan menjadi wartawan Jawa Pos dengan tugas khusus meliput berita-berita pengadilan.
Namun, karena kuliah tidak menentu, akhirnya Tirto pindah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Di Jakarta sambil kuliah ia bekerja sebagai Pimpinan Redaksi harian Sin Po dan majalah Pantja Warna.
Pada tahun 1954 selepas SMA di Malang, Lisa masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sambil
kuliah, Lisa bekerja di British American Tobacco (BAT Indonesia). Maret 1955 Lisa gagal mengikuti
ujian kenaikan tingkat dan kemudian memutuskan berhenti kuliah. Saat Lisa mengajar bahasa Inggris di
Batu Ceper, menjadi guru SD Regina Pacis, dan menerima jasa penerjemahan dan pengetikan, Lisa
dilamar Tirto dan mereka menikah pada 21 Desember 1957 di Malang.

Musibah datang pada tahun 1959. Tirto diberhentikan sebagai pemimpin redaksi Sin Po.
Akibatnya sumber keuangan keluarga menjadi tidak jelas. Namun, akibat peristiwa itulah Tirto Utomo
memiliki kemauan yang bulat untuk menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum UI. Sementara Lisa
berperan sebagai pencari nafkah yaitu dengan mengajar dan membuka usaha catering, Tirto belajar dan
juga ikut membantu istrinya. Pada Oktober 1960 Tirto Utomo berhak menyandang gelar Sarjana
Hukum. Setelah lulus, Tirto Utomo melamar ke Permina (Perusahaan Minyak Nasional) yang
merupakan cikal bakal Pertamina. Setelah diterima, ia ditempatkan di Pangkalan Brandan. Di sana,
keperluan mandi masih menggunakan air sungai. Berkat ketekunannya, Tirto Utomo akhirnya menanjak
karirnya sehingga diberi kepercayaan sebagai ujung tombak pemasaran minyak.

Kedudukan Tirto Utomo sebagai Deputy Head Legal dan Foreign Marketing membuat sebagian
besar hidupnya berada di luar negeri. Pada usia 48 tahun, Tirto Utomo memilih pensiun dini untuk
menangani beberapa perusahaan pribadinya yakni AQUA, PT. Baja Putih, dan restoran Oasis. Aqua
didirikan dengan modal bersama adik iparnya Slamet Utomo sebesar Rp 150 juta. Mereka mendirikan
pabrik di Bekasi tahun 1973 dengan nama PT. Golden Mississippi dan merek produksi Aqua. Karyawan
mula-mula berjumlah 38 orang. Mereka menggali sumur di pabrik pertama yang dibangun di atas tanah
seluas 7.110 meter persegi di Bekasi. Setelah bekerja keras lebih dari setahun, produk pertama Aqua
diluncurkan pada 1 Oktober 1974.

Bagaimana nama Aqua ini terbentuk ? Desainer Singapura yang merancang logonya
mengusulkan nama Aqua. Kata Eulindra Lim, sang desainer tersebut, Aqua mudah diucapkan dan
mudah diingat selain bermakna ‘air’. Aqua sebenarnya bukan nama asing baginya. Dia sendiri sering
memakai nama samaran ‘A Kwa’ yang bunyinya mirip dengan ‘Aqua’ semasa masih menjadi pemimpin
redaksi harian Sin Po dan majalah Pantja Warna di akhir tahun 1950. Nama A Kwa sendiri diambil dari
nama aslinya yaitu Kwa Sien Biauw sedangkan nama Tirto Utomo mulai dipakainya pertengahan tahun
1960-an yang tidak sengaja diambil yang berarti ‘air yang utama’.

Hingga 1978 penjualan Aqua tersendat-sendat. Tidak heran bila Tirto Utomo sendiri mengakui
hampir menutup perusahaannya karena sekitar lima tahun berdiri tetapi titik impas belum juga dapat
diraih. Ia tidak tahan harus menombok terus menerus. Tetapi selalu ada rezeki bagi orang yang ulet dan
tabah. Tirto Utomo bersama manajemennya akhirnya mengeluarkan jurus pamungkas dengan
menaikkan harga jual hampir tiga kali lipat. Waktu itu ide ini bisa dibilang juga bisa dibilang ide gila.
Masa, ketika dalam kesulitan keuangan, bukannya menurunkan harga agar para pelanggan berminat tapi
malah menaikkan harga. Tirto sendiri sudah menyiapkan antisipasi sekiranya upaya itu bakal
menyebabkan penurunan omset. Namun, pasar bicara lain. Omset bukannya menurun malahan
terdongkrak naik. Agaknya orang menilai harga tinggi sama dengan mutu tinggi. Aqua pun mulai
melayani segmen yang tertarik untuk berlangganan.

Pada tahun 1982, Aqua mengganti bahan baku (air) yang semula berasal dari sumur bor ke mata
air pegunungan yang mengalir sendiri (self-flowing spring) karena dianggap mengandung komposisi
mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan sodium. Salah satu
pelanggannya yaitu kontraktor pembangunan jalan tol Jagorawi, Hyundai. Dari para insinyur Korea
Selatan itu, kebiasaan minum air mineral pun menular kepada rekan kerja pribumi mereka. Melalui
penularan semacam itulah akhirnya air minum dalam kemaasan diterima di masyarakat. Penampilan
Tirto sehari-hari sangat sederhana, ramah, murah senyum, namun cerdas berpikir. Dalam hubungannya
dengan bawahan, ia menganut gaya manajemen kekeluargaan dan mempercayai kemampuan
karyawannya melalui sejumlah pengembangan dan pelatihan manajemen. Pada waktu itu biaya
pengemasan dapat mencapai 65% dari biaya produksi. Melihat itu, Tirto Utomo kemudian menyetujui
ide Willy untuk menggabungkan pabrik botol dengan bisnis air mineralnya yang bernama PT. Tirta
Graha Parama.

Saat ini, keluarga Tirto Utomo bukan lagi pemegang saham mayoritas karena sejak tahun 1996
perusahaan makanan asal Prancis Danone menguasai saham mayoritas, sedangkan saham keluarga
‘tinggal’ 26 persen. Meskipun demikian, Willy Sidharta, yang merupakan anak kandung dari Tirto
Utomo sendiri, memegang jabatan direktur dalam perusahaan tersebut. Pilihan bergabung dengan
perusahaan multinasional diakui membuat langkah Aqua semakin lincah. Ketatnya persaingan industri
air mineral menuntut upaya-upaya agresif. Sejak itu, terjadi perubahan besar dalam manajemen Aqua.
Dalam produksi, Aqua juga melonjak tajam, dari 1 miliar liter sekarang mencapai 3.5 miliar liter. Aqua
menguasai 40% pangsa pasar air mineral di dalam negeri. Tirto Utomo memang sudah wafat pada tahun
1994 namun prestasi Aqua sebagai produsen air minum dengan merek tunggal terbesar di dunia tetap
dipertahankan sampai sekarang.

Banyak orang mengira bahwa memproduksi air kemasan adalah hal yang mudah. Mereka pikir yang
dilakukan hanyalah memasukkan air kran ke dalam botol. Sebetulnya, tantangannya adalah membuat
air yang terbaik, mengemasnya dalam botol yang baik dan menyampaikannya ke konsumen. - Tirto
Utomo.
Biografi William Tanuwijaya - Pendiri Tokopedia
William Tanuwijaya lahir di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tanggal 18 November
1981. Ia bersekolah hingga SMA di kampung halamannya tersebut, dan selama 18 tahun di kampung
halamannya, setelah lulus SMA ia kemudian memberanikan diri untuk berangkat ke ibukota yaitu
Jakarta untuk kuliah. Ia diterima di Universitas Bina Nusantara (BINUS) Jakarta. Selama kuliah, ia rajin
mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kuliahnya. Ketika masuk semester dua di kampusnya, ia
kemudian bekerja di Warnet dari jam 9 Malam hingga jam 9 pagi.

Setelah lulus dari kampusnya yaitu BINUS, ia kemudian bekerja di kantoran yang bergerak
dibidang pengembangan software komputer. Namun lama kelamaan mulai terbesit ide dipikiran William
Tauwijaya untuk mendirikan perusahaan sendiri. Dimana mimpinya adalah mempunyai perusahaan
Internet sendiri. Kemudian pada tahun 2007, dari idenya ia kemudian mulai membangun Tokopedia. Ide
William Tanuwijaya mengenai tokopedia datang ketika ia menjadi moderator dalam forum online
Kafegaul yang mempunyai fasilitas jual beli, hingga ia kemudian mulai terinpirasi dari hal tersebut
untuk menciptakan startup baru yang kemudian ia namakan dengan tokopedia.

Ia kemudian mengajak temannya yang bernama Leontinus Alpha Edison untuk mendirikan
Tokopedia sebuah startup jual beli online yang menghubungkan penjual dan pembeli diseluruh
Indonesia dengan biaya gratis. Untuk membangun tokopedia tersebut, William Tanuwijaya
membutuhkan modal besar untuk idenya tersebut, keadaan makin sulit ketika ayahnya divonis penyakit
kanker sehingga ia menjadi tulang punggung mencari nafkah untuk keluarga. Sadar bahwa idenya pasti
berhasil, ia kemudian berusaha untuk mencari pendanaan atau modal untuk mengembangkan usahanya
tersebut belajar dari Google dan Facebook didirikan melalui pendanaan untuk startup melalui
perusahaan ventura (pemodal).
William Tanuwijaya kemudian mendatangi satu persatu orang yang ia kenal untuk memodali idenya
tersebut. Dari bos di tempat kerjanya hingga kenalan teman-teman bosnya. Ia kemudian mulai
menceritakan mengenai Tokopedia, sebuah pasar online atau e-commerce tempat bertemunya penjual
dan pembeli dari seluruh Indonesia, dimana orang-orang dapat memasarkan produk-produk mereka
keseluruh Indonesia melalu Tokopedia. Tokopedia juga menjadi perantara jual beli online yang aman
bagi penggunanya. Sehingga idenya tersebut dapat memecahkan masalah marketplace yang dialami di
Indonesia.

Selama dua tahun, ia bekerja keras terus menerus mencari investor untuk membiayai ide
'Tokopedia' nya tersebut. Banyak investor yang menanyakan pengalaman William Tanuwijaya dalam
berbisnis. Banyak juga yang menganggap bahwa mimpinya terlalu tinggi. Disinilah modal mengenai
kepercayaan menurutnya itu sangat penting sebab sangat sulit menurutnya untuk mendapatkan
kepercayaan orang lain apalagi untuk memulai bisnisnya tersebut. Semua ia lakukan dari Nol untuk
membangun bisnisnya tersebut. Hingga kemudian usaha William Tanuwijaya selama dua tahun akhirnya
membuahkan hasil, tepatnya pada tahun 2009, pada tanggal 6 Februari 2009, Tokopedia milik William
Tanuwijaya resmi berdiri dan pada hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2009,
Tokopedia resmi diluncurkan ke publik setelah mendapatkan suntikan dana dari pada Investor dan juga
bos di tempat kerjanya. Tokopedia bahkan mendapatkan penghargaan sebagai e-commerce terbaik di
Indonesia dari Bubu Awards.

Tokopedia terus menerus mendapatkan pendanaan dari tahun ke tahun dari para investor mengingat
perkembangannya sangat baik, seperti , East Ventures tahun 2010, CyberAgent Venture di tahun 2011,
Beenos di tahun 2012 dan Softbank pada tahun 2013. Tokopedia buatan William Tanuwijaya dan
Leontinus Alpha Edison terus menerus berkembang, bahkan pada akhir tahun 2014, Tokopedia
mendapatkan kucuran dana untuk modal sebesar 100 Juta Dollar dari Softbank Internet yang juga
memodali Alibaba serta Sequoia Capital yang juga pernah memodali Google dan Apple dan Instagram.
William Tanuwijaya kemudian sekarang ini menjadi CEO perusahaan Tokopedia serta Leontinus Alpha
Edison menjadi COO Tokopedia. Hingga kini tokopedia terus menerus berkembang pesat berkat usaha
pantang menyerah William Tanuwijaya dan rekannya Leontinus Alpha Edison.

William Tanuwijaya Founder Tokopedia
Biografi Chairul Tanjung - Pendiri Para Group
Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 16 Juni 1962, ia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berada.
Ayahnya A.G. Tanjung adalah wartawan zaman orde lama yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil.
Ketika Tiba di zaman Orde Baru, usaha ayahnya dipaksa tutup karena berseberangan secara politik
dengan penguasa saat itu. Keadaan tersebut memaksa orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal
di kamar losmen yang sempit.
Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Boedi Oetomo pada 1981, Chairul masuk Jurusan
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (lulus 1987). Ketika kuliah inilah ia mulai masuk dunia bisnis.
Dan ketika kuliah juga, ia mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-
1985. Demi memenuhi kebutuhan kuliah, Ia mulai berbisnis dari awal yakni berjualan buku kuliah
stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Ia juga membuka usaha foto kopi di kampusnya. Chairul
juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya,
Jakarta Pusat, tetapi bangkrut.
Selepas kuliah, Chairul pernah mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya pada
1987. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk
ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaan tersebut langsung mendapat pesanan 160
ribu pasang sepatu dari Italia. Akan tetapi, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, Chairul
memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri.
Kepiawaiannya membangun jaringan dan sebagai pengusaha membuat bisnisnya semakin
berkembang. Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti:
keuangan, properti, dan multimedia. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini
bernama Bank Mega. Ia menamakan perusahaan tersebut dengan Para Group. Perusahaan Konglomerasi
ini mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa sub-
holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan
Para Inti Propertindo (properti).
Di bawah grup Para, Chairul Tanjung memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial antara
lain Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Tbk, Mega
Capital Indonesia, Bank Mega Syariah dan Mega Finance. Sementara di bidang properti dan investasi,
perusahaan tersebut membawahi Para Bandung propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah
Investindo, Mega Indah Propertindo. Dan di bidang penyiaran dan multimedia, Para Group memiliki
Trans TV, Trans 7, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio. Khusus di
bisnis properti, Para Group memiliki Bandung Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana
99 miliar rupiah. Para Group meluncurkan Bandung Supermall sebagai Central Business District pada
1999. Sementara di bidang investasi, Pada awal 2010, Para Group melalui anak perusahaannya, Trans
Corp. membeli sebagian besar saham Carefour, yakni sejumlah 40 persen. Mengenai proses pembelian
Carrefour, MoU (memorandum of understanding) pembelian saham Carrefour ditandatangani pada
tanggal 12 Maret 2010 di Perancis.
Chairul menyatakan bahwa dalam membangun bisnis, mengembangkan jaringan (network)
adalah penting. Memiliki rekanan (partner) yang baik sangat diperlukan. Membangun relasi pun bukan
hanya kepada perusahaan yang sudah ternama, tetapi juga pada yang belum terkenal sekalipun. Bagi
Chairul, pertemanan yang baik akan membantu proses berkembang bisnis yang dikerjakan. Ketika
bisnis pada kondisi tidak bagus (baca: sepi pelanggan) maka jejaring bisa diandalkan. Bagi Chairul,
bahkan berteman dengan petugas pengantar surat pun adalah penting. Dalam hal investasi, Chairul
memiliki idealisme bahwa perusahaan lokal pun bisa menjadi perusahaan yang bisa bersinergi dengan
perusahaan-perusahaan multinasional. Ia tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan perusahaan
multinasional dari luar negeri. Baginya, ini bukan upaya menjual negara. Akan tetapi, ini merupakan
upaya perusahaan nasional Indonesia bisa berdiri sendiri, dan jadi tuan rumah di negeri sendiri.
Menurut Chairul, modal memang penting dalam membangun dan mengembangkan bisnis.
Baginya, kemauan dan kerja keras harus dimiliki seseorang yang ingin sukses berbisnis. Namun
mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya. Baginya, membangun kepercayaan sama halnya
dengan membangun integritas. Di sinilah pentingnya berjejaring (networking) dalam menjalankan
bisnis.
Dalam bisnis, Chairul menyatakan bahwa generasi muda bisnis sudah seharusnya sabar, dan mau
menapaki tangga usaha satu persatu. Menurutnya, membangun sebuah bisnis tidak seperti membalikkan
telapak tangan. Dibutuhkan sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah. Jangan sampai banyak yang
mengambil jalan seketika (instant), karena dalam dunia usaha kesabaran adalah salah satu kunci utama
dalam mencuri hati pasar. Adalah manusiawi ketika berusaha, sesorang ingin segera mendapatkan
hasilnya. Tidak semua hasil bisa diterima secara langsung.
Biografi Robert Budi Hartono – Pemilik Grup Djarum
Menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia selama beberapa tahun berturut-turut itulah R.
Budi Hartono yang merupakan pemilik Grup Djarum, dilahirkan dengan nama lengkap Robert Budi
Hartono pada tanggal 28 April 1941 di Kota Semarang, Ayahnya bernama Oei Wie Gwan pemilik usaha
kecil Djarum Gramophon namanya diubah menjadi Djarum yang kelak menjadi sebuah perusahaan
rokok terbesar di dunia. Robert Budi Hartono yang memiliki nama Tionghoa Oei Hwie Tjhong oleh
Majalah Forbes dicaatat memiliki kekayaan sebesar 8,5 Milyar Dollar atau 82.50 Trilyun Rupiah dan
merupakan Orang terkaya nomor satu selama beberapa tahun di Indonesia dan urutan 131 terkaya
didunia. Semua berawal dari Mr. Oei Wie Gwan yang membeli usaha kecil dalam bidang kretek
bernama Djarum Gramophon pada tahun 1951 dann kemudian mengubah namanya menjadi Djarum.
Oei mulai memasarkan kretek dengan merek “Djarum” yang ternyata sukses di pasaran.
Setelah kebakaran hampir memusnahkan perusahaan pada tahun 1963, Djarum kembali bangkit
dan memodernisasikan peralatan di pabriknya. Robert dan kakaknya yaitu Michael Budi Hartono
menerima warisan ini setelah ayahnya meninggal. Pada saat itu pabrik perusahaan Djarum baru saja
terbakar dan mengalami kondisi yang tidak stabil. Namun kemudian di tangan dua bersaudara Hartono,
Perusahaan Djarum bisa bertumbuh menjadi perusahaan raksasa. Pada tahun 1972 Djarum mulai
mengeskpor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter,
merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang
diperkenalkan pada tahun 1981. Saat ini, di Amerika Serikat pun perusahaan rokok ini memiliki pangsa
pasar yang besar. Dan di negeri asalnya sendiri, Indonesia, produksi Djarum mencapai 48 milyar batang
pertahun atau 20% dari total produksi nasional. Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok ini
menjelma dari perusahaan rokok menjadi Group Bisnis yang berinvestasi di berbagai sektor.
Robert Budi Hartono dengan Group Djarum yang dipimpinnya pun melebarkan sayap ke banyak
sektor antara lain perbankan, properti, agrobisnis, elektronik, dan multimedia. Diversifikasi bisnis dan
investasi yang dilakukan Group Djarum ini memperkokoh Imperium Bisnisnya yang berawal di tahun
1951. Di bidang Agribisnis, Robert bersama Michael memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektar
yang terletak di provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2008. Mereka bergerak di bawah payung Hartono
Plantations Indonesia, salah satu bagian dari Group Djarum. Di bidang properti, banyak proyek yang
dijalankan di bawah kendali CEO Djarum ini, R. Budi Hartono, dan yang paling besar adalah mega
proyek Grand Indonesia yang ditandatangani pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2008. Proyek ini
mencakup hotel (renovasi dari Hotel Indonesia), pusat belanja, gedung perkantoran 57 lantai dan
apartemen. Total nilai investasinya 1,3 Triliun Rupiah.
Majalah Globe Asia menyatakan Robert sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 4,2
miliar dolar AS atau sekitar 37,8 triliun rupiah. Pada tahun yang sama, R. Budi Hartono bersama
kakaknya, Michael Hartono di bawah bendera Group Djarum melebarkan investasi ke sektot perbankan.
Dan mereka menjadi pemegang saham utama, menguasai 51% saham, PT Bank Central Asia Tbk
(BCA) yang merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia saat ini. Berdasarkan data dari Bank
Indonesia akhir tahun 2011 nilai aset BCA sebesar Rp 380,927 Triliun (tiga ratus delapan puluh koma
sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah). BCA yang secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957
dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali
yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997. Dan bukti eksistensi grup
Djarum adalah gedung pencakar langit di kompleks mega proyek Grand Indonesia diberi nama Menara
BCA. Karena bank BCA menjadi penyewa utamanya dari tahun 2007 hingga 2035. Dengan demikian
tergabunglah lingkungan operasional dua raksasa bisnis Indonesia di tengah-tengah pusat ibukota yang
menjadi bukti keberkuasaan Djarum di kancah bisnis Indonesia.
Robert Budi Hartono menikah seorang wanita bernama Widowati Hartono atau lebih akrab
dengan nama Giok Hartono. Bersamanya Widowati Hartono, Pemilik PT Djarum ini memiliki tiga
orang putra yang kesemuanya telah menyelesaikan pendidikan. Mereka adalah Victor Hartono, Martin
Hartono, dan Armand Hartono. Disisi lain, Robert Budi Hartono Sangat menyukai olahraga bulutangkis
yang bermula dari sekedar hobi lalu mendirikan Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum pada tahun
1969. Dari lapangan bulutangkis di tempat melinting kretek, Robert Budi Hartono menemukan talenta
anak muda berbakat asli Kudus. Anak muda itu dimatanya, memiliki semangat juang yang tinggi,
mental yang hebat dan fisik yang prima. Tak salah intuisinya, karena dalam kurun waktu yang tidak
lama, anak itu mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Anak muda itu adalah Liem Swie King,
yang terkenal dengan julukan “King Smash”.
Disamping itu bersama kakaknya yaitu Michael Budi Hartono,mereka menjadi pemilik Grand
Indonesia dan perusahaan elektronik. Salah satu bisnis Group Djarum di sektor ini bergerak di bawah
bendera Polytron yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Perusahaan Polytron ini kini juga
memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan
dispenser. Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Prima Digital, mereka juga
membeli Kaskus, yang merupakan salah satu situs terbesar di Indonesia.
Biografi Purdi E Chandra – Pendiri Primagama
Purdi E. Chandra lahir di Lampung 9 September 1959, ia mulai berbisnis sejak ia masih duduk
di bangku SMP di Lampung, yaitu ketika dirinya mulai beternak ayam dan bebek, dan kemudian
menjual telurnya di pasar. Sosok Purdi E. Chandra kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Bisnis
“resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan
Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Lembaga Bimbingan
Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI)
lantaran memiliki 181 cabang di 96 kota besar di Indonesia dengan 100 ribu siswa tiap tahun.
Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2
Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad
meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis. Sejak awal Purdi muda sudah berani
meninggalkan kota kelahirannya dan mencoba mandiri dengan bersekolah di salah satu SMA di
Yogyakarta. Ibunya, Siti Wasingah dan ayahnya, Mujiyono, merestui keinginan kuat anaknya untuk
mandiri. Dengan merantau Purdi merasa tidak tergantung dan bisa melihat berbagai kelemahan yang dia
miliki. Pelan-pelan berbagai kelemahan itu diperbaiki oleh Purdi. Hasilnya, Ia mengaku semakin
percaya diri dan tahan banting dalam setiap langkah dalam bisnisnya. Bukan suatu kebetulan jika
pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah.
Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika
baru membangun usahanya. Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan
Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi.
Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan.
Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita-
cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis.
Sejak saat itu pria kelahiran Punggur, Lampung Tengah ini mulai menajamkan intuisi bisnisnya.
Dia melihat tingginya antusiasme siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri yang punya
nama, seperti UGM. Bagaimana jika mereka dibantu untuk memecahkan soal-soal ujian masuk
perguruan tinggi, pikirnya waktu itu. Purdi lalu mendapatkan ide untuk mendirikan bimbingan belajar
yang diberi nama, Primagama. Purdi memulai usaha sejak tahun 1982. Lalu, dengan modal hasil melego
motornya seharga 300 ribu rupiah, ia mendirikan Bimbel Primagama dengan menyewa tempat kecil dan
disekat menjadi dua. Muridnya hanya 2 orang. Itu pun tetangga. Biaya les cuma 50 ribu untuk dua
bulan. Kalau tidak ada les maka uangnya bisa dikembalikan.
Segala upaya dilakukan Purdi untuk membangun usahanya. Dua tahun setelah itu nama
Primagama mulai dikenal. Muridnya bertambah banyak. Setelah sukses, banyak yang meniru nama
Primagama. Purdi pun berinovasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikannya ini. Sebenarnya
yang bikin Primagama maju itu setelah ada program jaminan diri, ungkapnya soal rahasia sukses
mengembangkan Bimbel Primagama. Kalau ikut Primagama pasti diterima di Universitas Negeri. Kalau
nggak uang kembali. Supaya diterima murid-murid yang pintar diangkat jadi pengajar. Karena yang
membimbing pintar, maka 90% bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri, lanjutnya.
Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan
hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi
lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena
perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia
oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).
Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah
kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal
dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih
Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi
selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang
Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang.
Purdi yang lahir di Lampung ini memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la
tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu
ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis
potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70
milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota.
Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak
perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal,
Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf
dan lain sebagainya.
Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi
tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri
Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah
DIY.
Biografi Martha Tilaar – Pendiri Sariayu Martha Tilaar
Beliau lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937, ia merupakan seorang pengusaha
Kosmetik sukses Terkemuka dengan nama merek dagang Sariayu Martha Tilaar. Ia menikah dengan
H.A.R Tilaar dan memiliki empat anak, Bryan Emil Tilaar, Pinkan Tilaar, Wulan Tilaar, dan Kilala
Tilaar. Nenek dari beberapa orang cucu ini adalah sosok wanita yang tidak pantang menyerah. Ketika
orang lain mengatakan tidak mungkin, Ia tetap mencobanya. Yang penting adalah bukan melihat
besarnya hambatan di depan kita, tapi bagaimana kita memecahkan masalah yang ada. Kebetulan,
suaminya mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri. Ia pun mengambil kuliah kecantikan dan
lulus dari Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS.
Begitu lulus dari akademi kecantikan Martha segera membuka praktek salon kecantikan di
negeri Paman Sam itu. Ia membuat selebaran semacam brosur sederhana, mempromosikan jasa layanan
salonnya. Berbagai usaha promosi dilakukan seperti masuk ke kampus-kampus, mendatangi rumah-
rumah mantan dosen untuk mendandani para istrinya. Begitu pula kepada mahasiswa-mahasiswa
Indonesia, atau ibu-ibu yang mengikuti suaminya tugas di luar negeri. Sekembalinya ke tanah air, Ia
membuka salon kecil sederhana di garasi rumah milik ayahnya, dengan ukuran 6 x 4 meter pada tahun
1970, Ia terus berupaya mengembangkan salonnya itu, dengan membagikan selebaran-selebaran ke
lingkungan sekitar, memanjakan para pengunjung salon dan mengajak mereka bercakap-cakap, untuk
mendekatkan emosional. Dengan kedekatan itu, para pengunjung menjadi betah dan menjadi pelanggan
tetap salonnya. Tak lama, dua tahun kemudian 1972 ia membuka salon kedua di Jalan Anggur No. 3
Cipete, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sambil memulai penggunaan merek dagang baru Sariayu
Martha Tilaar.
Martha juga tak kenal lelah terus mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia untuk produk-produk
salonnya. Tujuannya, adalah agar perempuan Indonesia tetap terpelihara kecantikan dan keayuannya.
Marta Tilaar pernah bertemu dengan perempuan yang menggendong anak sambil menenteng dua
anaknya. Wajahnya terlihat tua, lusuh dan keriput. Saya pikir usianya sudah memasuki masa 40 tahun.
Ternyata, belum sampai dua puluh lima. Karena beban hidup yang berat dan tidak pernah menjaga
kecantikan, perempuan itu terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Menginjak tahun 1977 Martha
Tilaar menjajaki kerjasama dengan Theresia Harsini Setiady, dari PT Kalbe Farma. Mereka sepakat
membuat perusahaan kosmetika dan jamu, namanya PT Martina Berto, dan meluncurkan Sariayu
Martha Tilaar sebagai produk pertama. Dilanjutkan kemudian dengan membuka pabrik kosmetik
pertama di Jalan Pulo Ayang, kawasan Indsutri Pulogadung , Jakarta timur yang diresmikan oleh Ny
Nelly Adam Malik, saat itu istri Wakil Presiden Adam Malik.
Tahun 1983 Martha Tilaar mendirikan PT Sari Ayu Indonesia, khusus sebagai distributor produk
kosmetika Sariayu Martha Tilaar. Tahun 1986 Martha Tilaar membuka pabrik kedua, kali ini di Jalan
Pulokambing II/1, masih di areal sama Kawasan Industri Pulogadung yang kali ini diresmikan oleh Ny.
Karlinah Umar Wirahadikusumah, istri Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah. Bisnis Martha Tilaar
terus berkembang, dengan mengakuisisi sejumlah perusahaan sampai kemudian ia dan keluarganya
menguasai sepenuhnya saham PT Martina Berto. Bersamaan itu dilakukanlah konsolidasi perusahaan
digabungkan ke dalam Martha Tilaar Group. Anak perusahaan Martha Tilaar Group terdiri PT Martina
Berto dan PT Tiara Permata Sari (sebagai pemanufaktur dan pemasar produk Sariayu Martha Tilaar,
Biokos Martha Tilaar, Belia Martha Tilaar, Berto Martha Tilaar, Aromatic Oil Of Java Martha Tilaar,
Dewi Sri Spa Martha Tilaar, Jamu Garden Martha Tilaar).
Martha Tilaar sangat jeli dalam melihat dan menangkap peluang pasar. Pada tahun 1987, ia
meluncurkan produk ”Senja di Sriwedari” sebagai trend tata rias baru, sebuah ide yang diilhami oleh
kekayaan alam dan budaya Indonesia. Dan produk itu meledak di pasaran. Para tata rias banyak
merekomendasikan produk ini ke Kliennya. Sejak itulah Martha Tilaar selalu mempersuntingkan nama
tempat dan unsur budaya suatu daerah, yang lalu dipadukan dengan trend busana daerah, ke setiap
produk Sariayu Martha Tilaar.
Sebut saja produk yang ia keluarkan pada tahun 1989 dinamakan Sumatera bergaya, Puri
Prameswari (1990) mengambil dari etnik Cirebon dan Bali, Senandung Nyiur (1991) dari Pantai
Indonesia, Riwayat Asmat (1992) dari Irian Jaya/Papua, Rama-Rama Toraja (1993). Dan, puncaknya
adalah trend warna Pusako Minang dari Minangkabau. Sariayu berhasil tampil sebagai trendsetter tata
rias wajah wanita Indonesia. Perjalanan bisnis Martha Tilaar tidak selamanya mulus. Ia pernah
mengalami jatuh-bangun atau pasang-surut usaha. Meskipun perusahaannya sudah besar dan maju,
orang masih saja memandangnya sebelah mata. Maklum, produk jamu kosmetika Sariayu Martha Tilaar
sangat identik sekali sebagai produk lokal. Orang tahunya demikian saja tanpa mau mengenal bahwa
produk Martha Tilaar sesungguhnya sudah mendunia, berkualitas, dan bergengsi.
Bahkan, Sariayu Martha Tilaar sudah menjadi sebuah ikon produk lokal yang mendunia. Sebagai
misal, Sariayu Martha Tilaar memiliki produk kosmetika berkelas Biokos, Belia, Caring Colours,
Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden dan lain-lain yang sudah terkenal sampai
ke mancanegara. Sebagai pengusaha, ternyata kepribadiannya yang tak pantang menyerah lah yang
mengantarkannya hingga menjadi sukses seperti sekarang. Martha juga selalu berpikir positif dan tidak
henti melakukan inovasi. Sejak remaja, Martha sudah terbiasa menjual makanan-makanan kecil untuk
menambah uang jajannya. Ia juga suka mengambil Sogok Telik dan Jali-jali Putih, yang tumbuh subur
di tanah milik eyangnya, untuk dirangkai menjadi kalung dan gelang. Perhiasan tersebut ia jual kepada
teman-temannya di sekolah. Martha kecil juga selalu memperhatikan hal-hal kecil dan detail di
sekelilingnya.
Mengandalkan kekuatan riset dan 37 peneliti di Martha Tilaar's Innovation Center (MTIC),
Martha sukses memproduksi merek kosmetika, perawatan tubuh, spa, dan jamu yang dikenal hingga
mancanegara. Sebut saja Sariayu, Caring, Belia, Rudy Hadisuwarno Cosmetics, Biokos, Professional
Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden, dan Dewi Sri Spa. Sebagai korporasi, Martha Tilaar
Group juga berhasil meraih ISO 9001, ISO 14000, dan Sertifikasi GMP di Asia pada 1996.
Prinsip berbagi yang melandasi bisnis kecantikan Martha Tilaar diwujudkan dalam bentuk
pemberdayaan, terutama bagi perempuan. Grup usaha Martha Tilaar ini memayungi 11 anak perusahaan
dan mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan, 70% diantaranya adalah perempuan. Tak sedikit di antara
kaum hawa ini yang mendapatkan kesempatan belajar dan sekolah cuma-cuma untuk mengembangkan
dirinya. Mulai pekerja di ranah rumah tangganya hingga ahli seperti peneliti di perusahaannya. Martha
tak sungkan mengirim peneliti belajaretnobotany ke Perancis dan medical antropology di Leiden,
Belanda. "Pendekatan sains dibutuhkan untuk mengembangkan produk lokal," katanya. Satu lagi kunci
sukses bisnis Martha Tilaar, fokus pada satu bidang, yakni kecantikan. "Saya mulai bisnis dari salon,
lalu sekolah, pabrik, distribusi yang semuanya bergerak di bidang kecantikan.
Biografi Bob Sadino – Pemilik Kem Chicks
Beliau bernama lengkap Bob Sadino. Lahir di Lampung, tanggal 9 Maret 1933, wafat pada
tanggal 19 Januari 2015. Beliau akrab dipanggil dengan sebutan 'om Bob'. Ia adalah seorang pengusaha
asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha
Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan
pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup
berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang
ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya
yang lain sudah dianggap hidup mapan.
Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya
itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta
Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu
dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed. Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia.
Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli
sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama
tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki
tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil
Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan
kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya,
Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami
depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara
ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi
berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa
berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam
tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena
mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat
banyak menetap orang asing. Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing
sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun
terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang
berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil
sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura,
mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga
menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah. Bob percaya bahwa setiap langkah sukses
selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan
istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen,
berani mencari dan menangkap peluang. Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang,
rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa
yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga
ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan.
Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan
kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan,
karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob selalu luwes terhadap
pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih
simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan
kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya. Bob
menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus
saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Setelah sempat dirawat selama dua bulan, pengusaha nyentrik Bob Sadino akhirnya
menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta pada hari Senin, tanggal 19
januari 2015 setelah berjuang dengan penyakitnya yaitu infeksi saluran pernafasan kronis. Bob Sadino
dikatakan sudah tak sadar dalam 2-3 minggu. Penyakitnya terkait dengan usianya yang sudah lanjut
serta kondisinya yang makin menurun setelah istrinya meninggal dunia pada Juli 2014.
Biografi Achmad Zaky – Pendiri bukalapak.com
Achmad Zaky lahir di Sragen pada tanggal 24 Agustus 1986. Masa kecil Zaky tak berbeda
dengan anak-anak kecil lainnya. Ia tumbuh dan besar di Sragen, TK-SMA di Sragen, Jawa Tengah.
Achmad Zaky mulai mengenal dunia komputer pada tahun 1997 yaitu usia 11tahun. Ketika itu
pamannya membelikan ia buku-buku tentang komputer. Sejak saat itu hobi seorang Achmad Zaky
adalah utak-atik komputer . Kecerdasan Achmad Zaky terlihat nyata ketika dibangku SMA ia ditunjuk
mewakili sekolahnya untuk berkompetisi di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang computer.
Lulus SMA, Achmad Zaky diterima sebagai mahasiswa Teknik Informatika ITB. Pada semester 4 ia
mencapai IPK 4.00 , yaitu nilai sempurna untuk semua mata kuliah di semester itu.
Tak hanya bidang akademis, bidang organisasipun Achmad Zaky menonjol. Terbukti atas buah
pemikirannya, di ITB sekarang ada jurusan/cabang Share Global Student Think-Tank. Kemudian
Ahmad Zaky juga mendirikan Entrepreneur Club ITB atau Technopreneur Club (TEC ITB).Achmad
Zaky juga sering menjadi pembicara di Amateur Radio Club (ARC) ITB. Prestasi Achmad Zaky yang
lain semasa kuliah yaitu ia sering menjadi pemenang dalam kejuaraan sains tingkat nasional. Seperti
menyabet Juara II di kompetisi Indosat Wireless Innovation Contest pada tahun 2007. Pada kompetisi
itu Achmad Zaky membuat MobiSurveyor yaitu software yang berfungsi untuk melakukan fast counting
dalam sebuah survey.
Kemenangan Achmad Zaky lainnya adalah pada ajang INAICTA (Indonesia ICT Awards) ia
berhasil mendapatkan Merit Award di tahun 2008. Berkat otaknya yang cemerlang juga, saat masih
mahasiswa tahun 2008 Achmad Zaky mendapat scholarship atau beasiswa dari pemerintah Amerika
Serikat untuk bersekolah di Oregon State University . Kemudian di tahun 2009 ditunjuk untuk mewakili
almamaternya dalam kompetisi Harvard National Model United Nations. Tak dipungkiri lagi bagaimana
cerdasnya Achmad Zaky. Selain prestasi yang telah dibahas diatas, Achmad Zaky pernah mendapat
projek dari stasiun TV swasta untuk membuat perangkat lunak guna menghitung cepat perolehan hasil
pemilu (software quickcount) .
Setelah Achmad Zaky lulus kuliah dari ITB, ia mendirikan Suitmedia yaitu semacam perusahaan
konsultasi dibidang teknologi terutama teknologi computer. Ia sering mendapat job untuk membangun
system IT berbagai perusahaan besar di tanah air. Disela kesibukannya tersebut, Achmad Zaky berfikir
ingin membangun sesuatu yang lebih berguna untuk orang banyak. Ia kemudian memutuskan untuk
mendirikan situs belanja online yang lebih simple dan bisa digunakan oleh banyak orang secara gratis.
Berdirilah BUKALAPAK.COM pada tahun 2010. Yang misi dan visinya adalah Memajukan para UKM
di Indonesia lewat internet.
Disaat bukalapak.com dibuat, tak banyak orang yang mau bergabung dan membuka lapak/toko
online di Bukalapak.com padahal menjadi merchant (membuka stand online) di bukalapak.com gratis
dan mudah. Hingga Achmad Zaky harus turun ke mall-mall untuk mengajak pedagang membuka stand
online di Bukalapak. Walaupun tak dipungut biaya sepeserpun alias gratis, tak serta-merta mereka para
pedagang di mall ini mau membuka stand online mereka di bukalapak.com karena mungkin mainstream
mereka adalah mereka gak mau belajar, gak mau ribet dengan berbagai hal online. Ya, pada tahun itu
(2010) tak banyak orang yang melek internet, paham tentang toko online, tahu tentang potensi e-
commerce bagi bisnis mereka.
Achmad Zaky tak berputus asa, ia terus mengedukasi para pedagang itu agar melek internet,
bahwa dengan dibantu internet dagangannya bakalan makin laris, karena makin luas jangkauan
pemasarannya. Hingga satu demi satu pedagang itu mau membuka stand onlinenya. Kebanyakan dari
mereka adalah pedagang kecil yang mengaku omsetnya dari offline kecil sekali hungga mereka berharap
dengan adanya stand online bisa menambah pemasukan. Tak pelak lagi dalam waktu yang relative
singkat para pedagang tersebut mengaku omsetnya naik. Dari sini Achmad Zaky menyimpulkan bahwa
ia akan focus untuk mengajak pengusaha/pedagang kecil dulu, karena ini calon merchant yang
potensial. Hingga terkumpullah sampai sekarang 10.000 merchant di bukalapak.com.
Tahun demi tahun, pertumbuhan bukalapak menunjukkan hasil yang signifikan. Dalam sehari
ada 4 - sampai 5 Milyar rupiah total transaksi yang terjadi di Bukalapak.com . Hal ini membuat Achmad
Zaky mulai dilirik investor asing seperti Softbank dan Sequoia Capital , dua investor yang juga menjadi
investor Tokopedia, Alibaba, Google, Facebook dan berbagai startup lainnya. Achmad Zaky juga
mendapat tawaran pendanaan dari 500 Startups, Batavia Incubator, IMJ Investment, dan Elang Mahkota
Teknologi Tbk (EMTEK Group).
Ada kisah menarik saat Achmad Zaky ditawari sejumlah pendanaan oleh Softbank. Achmad
Zaky sempat menolak karena ia mengira Softbank ingin mengakuisisi Bukalapak.com. Ternyata
Softbank hanyalah ingin membeli 15% saham Bukalapak.com dan pengurusan Bukalapak.com tetaplah
menjadi tanggung jawab Achmad Zaky. Bahkan akhirnya Achmad Zaky diajak oleh perwakilan
Softbank untuk melakukan study banding di Jepang terhadap startup-startup yang ada di sana dimana
tingkat pertumbuhannya pesat sekali dan pengelolaannya jauh lebih professional. Dari situ Achmad
Zaky terbuka fikirannya untuk lebih mengelola Bukalapak.com secara professional.
Achmad Zaky dianggap telah berhasil menjadikan Bukalapak.com sebagai situs e-commerce,
sebagai bisnis startup dan sebagai Marketplace yang cukup berhasil. Keberhasilannya ini membuat
Achmad Zaky pada tahun 2015 dinobatkan sebagai 10 Technopreneur under 30th yang berpengaruh di
Asia.

Achmad Zaky Pendiri Bukalapak.Com
Biografi Ferry Unardi – Pendiri Traveloka
Ferry Unardi lahir di Padang, 16 Januari 1988 merupakan pendiri situs Traveloka. Padang
merupakan tanah kelahirannya. Dalam mengembangkan bisnisnya, ia memiliki pengalaman yang amat
menarik. Setelah kelulusan SMA, Ferry memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke Purdue
University. Karena minat dan bakatnya yang menonjol di bidang teknologi, Computer Science dan
Engineering adalah pilihan jurusannya. Beberapa tahun setelah lulus S1, Ferry sempat melanjutkan
pendidikannya ke Harvard University. Selama di Amerika, Ferry merasa kerepotan dalam memesan tiket
pesawat dari Amerika ke tempat kelahirannya.
Dari kesulitannya tadi, Ferry mendapatkan sebuah inspirasi bisnis. Ferry berencana memulai
bisnis dalam masalah pemesanan tiket pesawat dengan sistem yang lebih praktis serta memudahkan para
konsumen. Pada tahun 2012, Ferry memulai bisnisnya dengan menggunakan sistem ecommerce. Ia
mulai mengembangkan bisnis Travelokanya bersama dengan 2 orang temannya, yaitu Albert dan
Derianto Kusuma. Pada awalnya, karena masih baru, nyaris semua maskapai tidak menerima penawaran
kerjasama dengan Traveloka. Namun berkat kerja kerasnya, saat ini Traveloka sudah mampu
bekerjasama dengan beberapa maskapai Indonesia. Selain kerja keras dan kerjasama, pelayanan yang
baik pun menjadikan Ferry beserta rekan-rekannya sukses dalam bisnis Traveloka ini. Bahkan saat ini,
Traveloka juga bermain dalam penawaran tiket hotel dengan berbagai diskon.
Perusahaan yang dulunya hanya berbentuk sebagai kelompok kecil dengan anggota 8 orang,
sekarang ini sudah berkembang pesat menjadi perusahaan besar dengan jumlah karyawan sudah
mencapai lebih dari 100 orang.
Biografi Ronny Lukito – Pendiri Eiger
Bagi pecinta alam, tentu tak asing dengan nama Eiger. Sebuah produk peralatan outdor dan tas
yang banyak digemari pecinta alam maupun anak muda karena kualitas dan ketahanannya. Meski
namanya Eiger, merek ini merupakan merek asli Indonesia. Eiger didirikan oleh Ronny Lukito seorang
pengusaha tas yang lahir pada tanggal 15 Januari 1962 di Bandung, Ronny Lukito adalah anak ketiga
dari enam bersaudara. Ia satu-satunya anak laki-laki yang lainnya adalah perempuan dalam keluarga
pasangan Lukman Lukito – Kumiasih. Ronny berdarah campuran Buton, Sumatera dan Jakarta itu
mempunyai orang tua yang menyambung hidup dengan cara berjualan tas. Ronny Lukito adalah seorang
anak dari keluarga yang memprihatinkan. Orangtuanya bukanlah dari kaum berada. Di masa remajanya
Ronny tinggal di Bandung. Dia adalah sebuah sosok pemuda yang rajin dan tekun, dia bukan seorang
lulusan perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta favorit, dia hanyalah seorang lulusan
STM (Sekolah Teknologi Menengah).
Sebenarnya dia sangat ingin sekali melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi swasta
terfavorit di Bandung, namun keinginannya itu tidak menjadi kenyataan karena terbentur masalah
keuangan. Semenjak bersekolah di STM Ronny terbiasa berjualan susu yang dibungkus dengan plastik
kecil, diikat dengan karet dan kemudian dia jual ke rumah-rumah tetangga dengan sepeda motor
miliknya. Masa remaja Ronny di Bandung dilewati dengan penuh kesederhanaan dan kerja keras yang
jauh dari kehidupan serba ada. Hidup ditengah keluarga yang pas-pasan, tidak membuat Ronny
menyerah pada keadaan. Orang tuanya yang memiliki toko kecil khusus menjual tas, membuat Ronny
terbiasa melihat secara langsung proses produksi sebuah tas. Bahkan Ia beserta saudaranya sering terjun
langsung membantu orangtuanya dalam menjalankan bisnis tersebut. Dari mulai proses packing tas,
merapikan tas-tas yang di display, serta menjadi kasir ketika ada pembeli yang membayar. Pengalaman
itulah yang menjadi langkah awal Ronny untuk membuka Peluang bisnis tas, mengikuti jejak kedua
orang tuanya. Saat masih remaja sebenarnya Ronny tak berpikiran untuk menjadi pengusaha. Ayahnya
pun tak pernah mengarahkan Ronny agar menjadi pengusaha. Namun setamat STM, ia harus berpikir
realistis dalam melihat perekonomian keluarga. Ia kan memprioritaskan membantu orangtuanya jualan
di toko.
Sejak tahun 1976, ketika Ronny duduk di bangku STM, toko ayahnya tersebut mulai menjual tas
hasil karya sendiri. Saat itu merek tas produknya bernama Butterfly. Nama ini diambil dari merek mesin
jahit buatan China yang mereka pakai. Ronny sendiri membantu membeli bahan ke toko tertentu atau
mengantarkan barang dagangan ke pelanggan mereka. Malahan, sebelum berangkat sekolah, Ronny
jualan susu. Setelah pulang sekolah, Ronny kerja di bengkel motor sebagai montir. Jiwa entrepreneur
yang dimilikinya sejak duduk dibangku sekolah, membuat lelaki kelahiran Bandung ini mudah
menyerap ilmu dari ayahnya. Tak lama setelah bekerja di toko milik sang ayah, Ia pun memulai peluang
bisnis pembuatan tas sendiri.
Pada tahun 1984, akhirnya Ronny membeli rumah tambahan seluas 600m2 untuk menambah
ruang produksinya. 2 tahun kemudian tahun 1986 Ronny membeli tanah seluas 6000m2 untuk
menambah lagi ruang produksi. Setelah menikah tahun 1986, dia merekrut marketing professional.
Dengan perjuangan yang gigih dan tak mengenal lelah, dia mengetahui peluang pasar karena dia tahu
persis luar dalam bisnis tas ini termasuk hal-hal di lapangan, dia tahu kendala apa saja dan lika liku di
lapangan. Akhirnya cita-cita Ronny untuk menjadi pemain terbesar di dalam bisnis tas tercapai. Mulai
dari Matahari, Ramayana, Gunung Agung, Gramedia, dan dept. store besar lainnya menjual produk
Ronny seperti Eiger, Export atau Bodypack. Kalangan praktisi bisnis tas pasti tahu bahwa kini B&B Inc.
milik Ronny merupakan salah satu perusahaan nasional terbesar. Tak berhenti di situ, sekarang
perusahaan Ronny juga sudah memproduksi jenis lain seperti dompet, sarung handphone, dan berbagai
jenis produk lain. Salah satu kebiasaan Ronny yang baik adalah kemauannya untuk belajar dan
mengembangkan diri. Ia tak merasa malu atau gengsi untuk bertanya bila memang ia tidak tahu. Dengan
cara inilah dia bisa berkembang dan sukses sampai sekarang.
Eiger pertama kali diproduksi pada tahun 1993. Nama Eiger sendiri diambil dari nama Gunung
Eiger di Swiss dan dicetuskan oleh pemilik Eiger, Ronny Lukito. Eiger ditujukan untuk peralatan
kegiatan outdoor, seperti mendaki gunung, kemah, panjat tebing dan aktifitas lainnya yang masih
menyangkut masalah kegiatan luar. Ketekunan dan kerja kerasnya dalam menjalankan usaha,
mengantarkan lelaki lulusan STM ini menjadi pengusaha sukses yang luar biasa. Terbukti bukan hanya
berhasil membawa tas merek exsport hingga mancanegara, namun kini dibawah naungan B&B Inc.
Ronny berhasil membawahi empat anak perusahaan besar antara lain PT. Eksonindo Multi Product
Industry (EMPI), PT. Eigerindo MPI, PT. EMPI Senajaya dan CV Persada Abadi. Sederet merek tas
ternekal pun, menjadi bukti nyata keberhasilan Ronny Lukito dalam menguasai pasar tas baik lokal
maupun internasional. Membidik berbagai segmen pasar, Ronny pun mengembangkan sayapnya dengan
memasarkan merek Eiger, Exsport, Neosack, Bodypack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem,
Vertic, Domus Danica serta Broklyn. Tak berhenti di situ, sekarang perusahaan Ronny juga sudah
memproduksi jenis lain seperti dompet, sarung handphone, dan berbagai jenis produk lain. Salah satu
kebiasaan Ronny yang baik adalah kemauannya untuk belajar dan mengembangkan diri. Ia tak merasa
malu atau gengsi untuk bertanya bila memang ia tidak tahu. Dengan cara inilah dia bisa berkembang
dan sukses sampai sekarang.
Setiap tahun, perusahaan ini memproduksi 2.500.000 tas dengan 8.000 desain yang berbeda,
yang mereka harapkan akan merajai pasaran. Dengan dikeluarkannya bermacam-macam merk dengan
fungsi dan nama yang lebih spesifik, diharapkan produk mereka tidak saling memakan dipasaran antara
produk yang satu dengan yang lainnya. Maka tas yang dipakai untuk kegiatan naik gunung tentu akan
berbeda pula. Model-model yang sedang tren di blantika mode internasional menjadi acuan perusahaan
ini dalam mengeluarkan produk terbaru. Dengan dukungan para desainer jebolan dari berbagai macam
universitas seperti diantaranya, ITB maupun Universitas Trisakti. Perusahaan ini setiap bulan setidaknya
mampu mengeluarkan 40 model tas dan produk lainnya.