BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hospitalisasi merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada lingkungan
rumah sakit untukm mendapatkan pertolongan dalam peawatan atau pengobatan
dalam perawatan atau pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan
penyakitnya. Tetapi pada umumnya hospitalisasi dapat menimbulkan ketegangan
dan ketakutan serta dapat menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta dapat
menimbulkan gangguan emos atau tingkah laku yang mempengaruhi
kesembuhan dan perjalanan penyakit anak selama dirawat dirumah sakit.
Hospitalisasi pada anak akan memberikan dampak negatif seperti trauma, cemas
dan ketakutan.

Bermain adalah bagian integral dari masa kanak-kanak, media yang unik untuk
memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, ketrampilan komunikasi,
perkembangan emosi, ketrampilan sosial, ketrampilan pengambilan keputusan,
dan perkembangan kognitif pada anak-anak (Landreth, 2001). Bermain juga
dikatakan sebagai media untuk eksplorasi dan penemuan hubungan interpersonal,
eksperimen dalam peran orang dewasa, dan memahami perasaannya sendiri.
Bermain adalah bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah
dikembangkan manusia. Erikson (Landreth, 2001) mendefinisikan bermain
sebagai suatu situasi dimana ego dapat bertransaksi dengan pengalaman dengan
menciptakan situasi model dan juga dapat menguasai realitas melalui percobaan
dan perencanaan.

Sementara Landreth (2001) mendefinisikan terapi bermain sebagai hubungan
interpersonal yang dinamis antara anak dengan terapis yang terlatih dalam
prosedur terapi bermain yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan
memfasilitasi perkembangan suatu hubungan yang aman bagi anak untuk
sepenuhnya mengekspresikan dan eksplorasi dirinya (perasaan, pikiran,
pengalaman, dan perilakunya) melalui media bermain. International Association
for Play Therapy (APT), sebuah asosiasi terapi bermain yang berpusat di
Amerika, dalam situsnya di internet mendefinisikan terapi bermain sebagai
penggunaan secara sistematik dari model teoritis untuk memantapkan proses
interpersonal dimana terapis bermain menggunakan kekuatan terapiutik
permainan untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan-
kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang

org). Meja 3. (b) konteks permainan. Gunting 4. anak yang dirawat tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai tahap tumbuh kembangnya. B. maka kami akan mengadakan terapi bermain dengan sasaran usia sekolah (> 6 tahun sampai 12 tahun) yang berada di ruang rawat inap anak RSUD Dr Hi Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Tujuan Khusus: 1. Beberapa definisi terapi bermain tersebut mengarah pada beberapa hal penting. Melihat pentingnya bermain bagi seorang anak terutama anak yang mengalami hospitalisasi. Terapi bermain adalah pemanfaatan permainan sebagai media yang efektif oleh terapis. Mengembangkan kemampuan motorik halusnya 4. (e) ruang yang digunakan. Mengembangkan imajinasinya 3. Tujuan a. Metode Demonstrasi D. Mengungkapkan kegembiraan atau rasa senang 6. melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri. Lem 5. Terlihat lebih rileks 7. optimal (www. Pembiayaan Pemasukan : . (c) partisipan yang terlibat. Origami 2. (f) gaya bermain. Kami berharap dengan diadakannya terapi bermain ini. (d) urutan permainan. Fasilitas 1. Kooperatif terhadap perawatan dan pengobatan C. Berintekasi dengan sesama pasien dan perawat 2. b. yaitu: (a) tipe dan jumlah permainan yang digunakan.a4pt. Pena E. untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Tujuan Umum: Setelah mengikuti terapi bermain stress hospitalisasi pada anak berkurang sehingga dapat mempercepat proses kesembuhan anak selain itu juga untuk mempertahankan perkembangan anak. Meningkatkan kreativitasnya 5. (g) tingkat usaha yang dicurahkan dalam permainan.

100. Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu yang bersamaan c. Usia Pra-Sekolah (4-8 tahun) 2. Jadwal terapi bermain disesuaikan (tidak pada waktu jam untuk istirahat) d. Keadaan umum anak yang mulai membaik 4. Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga kesehatan lainnya. Lem : Rp. Melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mendampingi anak selama program terapi J. Anak tidak menyelesaikan permainan melipat kertas origami pop up card I. Prinsip Bermain di Rumah Sakit a. c. Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan b. Klien ( anak ) dapat duduk 5. 12 x 25. Anak malas dan mengantuk d.000 3. Peserta Kooperatif G. Permainan melibatkan orangtua untuk melancarkan proses kegiatan H. Hambatan yang mungkin muncul a. 300. Tidak mengganggu jadwal kegiatan keperawatan dan medis b. Jumlah peserta 10 anak dan di dampingi orangtua 3. Kriteria Peserta 1. Anak bermain tidak sesuai dengan perintah leader e. Waktu dan tempat . Print Proposal : Rp. Origami 10 x 5. Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan b. 5.000 : Rp.000 Pengeluaran : 1. 100.000 : Rp. Konsumsi : Rp. 1. Tidak ada kontra indikasi dengan kondisi penyakit pasien c.000 4.000 F. Jenis permainan disesuaikan dengan kesenangan anak e. Permainan harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang pasien d. 50.000 2. Antisipasi hambatan a.

a. Menjelaskan tujuan dari terapi bermain 4. 2. 5 Juni 2017 Waktu / Durasi : Pkl. 5. Membuka kegiatan dengan Leader mengucapkan salam. Kontrak waktu dengan anak dan orang tua 2.00 WIB – 08. Memotivasi anak untuk Fasilitator dapat memilih warna kertas yang disukainya 3. 10 menit Evaluasi : 1. Waktu permainan Hari / Tanggal : Senin . Menanyakan kepada anak tentang pemilihan bentuk . 08. Hj Abdul Moeloek 7. Strategi Pelaksanaan NO WAKTU KEGIATAN PENANGGUNG JAWAB 1. 25 menit Pelaksanaan : 1. Membagikan kertas Fasilitator 3. Ruang Alamanda Dr. Memulai melipat kertas didampingi oleh fasilitator. Tempat bermain. 5 menit Pembukaan : 1.45 / 45 menit b. Mengajak dan memotivasi klien (anak) untuk membuat pop up card dari kertas yang tersedia 4. Mengatur posisi anak Leader dan Fasilitator 2. Memperkenalkan diri 3. Memberi semangat pada Leader anak selama proses melipat kertas 6.

Peserta Untuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah pasien di Ruang perawatan Herbra yang memenuhi kriteria : 1. 2. Menanyakan tentang perasaan anak setelah diberi terapi bermain melipat kertas origami pop up card 4. Menutup acara permainan Leader dengan memberikan reward kepada seluruh peserta 2. sesuai pola dan warna kertas yang telah dilakukan 2. Membuka acara permainan 2. fasilitator 2 orang dan 1 orang observer dengan susunan sebagai berikut: Leader : Wira Handika P Co Leader : Irham Rajib Maulana Fasilitator : Intan Hartati Reni Anggraini Dela Mayang Selfa Marsiana N Ahmad Nur khafisan Observer : Nabila Syifa A Riki Safrizal Pembagian tugas sebagai berikut: a. Salam penutup K. Pasien kooperatif L. Pengorganisasian Jumlah leader 1 orang. Leader. 5 menit Terminasi : 1. Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga 4. . Usia pra sekolah (yang berusia 4-6 tahun) sebanyak 6-8 orang. tugasnya: 1. Tidak mempunyai keterbatasan fisik 3. Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan sampai selesai.

Membantu memimpin jalannya kegiatan 4. Observer. Membimbing anak bermain. Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang 3. Memberi motivasi dan semangat kepada anak dalam menyusun kertas 3. 5. 4. tugasnya: 1. Co Leader. 4. 4. Mengawasi jalannya permainan. Menggantikan leader jika terhalang tugas c. 3. Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan perawat dan keluarganya. d. 2. Memperhatikan respon anak saat bermain. Tugasnya: 1. Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan 2. 2. 3. tugasnya: 1. Memandu proses permainan. Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain. Mengarahkan permainan. dan mengarahkan proses bermain b. Menyusun laporan dan menilai hasil permainan  SETTING Keterangan: = Anak/ orang tua = Leader = Observer = fasilitator = tikar = Co leader . Fasilitator. Mencatat proses kegiatan dari awal hingga akhir permainan.

12. b) Evaluasi Proses  Leader memandu terapi bermain dari awal hingga akhir kegiatan  Respon anak baik selama proses bermain berlangsung  Anak tampak aktif selama proses bermain berlangsung  Anak mau dan dapat menyusun kertas dengan baik didampingi oleh fasilitator  Keluarga ikut membantu anak selama pelaksanaan proses bermain  Kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan mahasiwa tercapai dengan baik  Masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing- masing c) Evaluasi Hasil  Kegiatan bermain dimulai tepat pada waktu yang telah ditentukan  Anak dapat melakukan pemilihan warna sesuai dengan yang disukainya  Anak mengikuti proses bermain dari awal hingga akhir  Pasien / anak ikut berpartisipasi aktif dalam terapi bermain dan dapat menyelesaikan proses melipat kertas hingga selesai . Evaluasi a) Evaluasi Struktur  Sarana disiapkan pagi hari sebelum acara dimulai  Media dipersiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan kegiatan  Struktur peran telah ditentukan 1 hari sebelum pelaksanaan  Kontrak dengan keluarga pasien/anak yang akan diberi terapi bermain dilakukan 1 hari sebelum dan pagi hari sebelum kegiatan dilaksanakan.

Bahan yang digunakan adalah kertas yang berbentuk persegi. Anak belajar berpikir abstrak dapat meningkatkan kemampuan bahasa. bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban (Hurlock. C. . 3. Toddler dan prasekolah . 2. 1991). Fungsi Bermain Menurut Wong (1996). memeriksa objek di lingkungan. Anak mengekslorasi alam sekitarnya: a. b. Bayi : perhatian dan rasa senangnya akan kehadiran orang lain dimana kontak sosial pertama anak adalah figur ibu. B. Bayi melalui stimulasi taktil ( sentuhan ). audio. Pengertian Bermain Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. visual. Sekolah dan remaja : Memodifikasi gerakan tubuh lebih terkoordinasi dan rumit. Anak belajar yang benar dan salah serta bertanggung jawab atas kehendaknya. Contoh berlari dan bersepeda. Sosialisasi Dengan bermain akan mengembangkan dan memperluas sosialisasi anak sehingga anak cepat mengatasi persoalan yang akan timbul dalam hubungan sosial. Perkembangan sensori motorik Bermain penting untuk mengembangkan otot dan energi. a. Dengan sosialisasi akan berkembang nilai-nilai normal dan etik. Sebuah hasil origami merupakansuatu hasil kerja tangan yang teliti dan halus pandangan. Perkembangan Intelektual/ Kognitif Anak belajar berhubungan dengan lingkungannya. gerakan tubuh dan eksplorasi lingkungan c. fungsi bermain bagi anak meliputi : 1. belajar mengenal objek dan bagaimana menggunakannya. b. dapat mengatasi masalah dan menolong anak membandingkan antara fantasi dan realita. Komponen yang paling untuk semua umur terutama bayi. Sampai usia 1 tahun : bayi memeriksa bayi lain. Pengertian Origami Origami berasal dari berasal dari bahasa jepang yaitu kata (‘ori’ berarti lipat dan ‘kami’ yang berarti kertas) merupakan sebuah seni lipat yang berasal dari jepang. MATERI KONSEP BERMAIN A.

Walaupun demikian. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah. Usia sekolah : teman 1 atau 2 orang yang disukai. mulai memahami tanggung jawab dari tindakannya. Kemudian meluas teman sementara dan teman permainannya. e. adil. 4. nilai moral dan etik. 5. kendali diri dan mempertimbangkan kepentingan orang lain. anak mencoba ide-ide baru dalam bermain. 7. Kesadaran diri Anak akan sadar akan kemampuan dan kelemahannya serta tingkah lakunya. Usia 2–3 tahun : permainan pura-pura dengan ibu dan anak. 4. dokter dan pasien. Kalau anak merasa puas dari kreativitas baru. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. 2. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah sakit. Nilai Moral Belajar salah/benar dari kultur. mengidentifikasi ciri yang ada pada setiap bermainnya. pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan sebagai berikut : 1. jujur. Mengekspresikan perasaan. keinginan. D. Nilai terapeutik Untuk melepaskan stress dan ketegangan. kegiatan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya. belajar peran benar atau salah. Contoh bila ingin diterima sebagai anggota kelompok. anak harus mematuhi kode perilaku yang diterima secara kultur. 3. dan fantasi serta ide-idenya. selama anak dirawat di rumah sakit. . 6. belajar memberi dan menerima. rumah. Usia prasekolah : sadar akan keberadaan teman sebaya. Tujuan Bermain Melalui fungsi yang terurai diatas. maka anak akan mencoba pada situasi yang lain. d. Kreativitas Melalui bermain anak menjadi kreatif. penjual dan pembeli. sekolah dan interaksi. c.

rasa. komputer games dan video. Menurut isi permainan 1) Social Affektif Play. 5) Permainan game. mendengkur. contoh Puzzle. maksud muncul atas keinginan pribadi serta untuk kepentingan sendiri. anak bermain sendiri. Usia Toddler kegiatan berupa hal-hal yang lebih dikenalnya. Hanya terpusat pada aktivitas/ permainanya sendiri. Contoh : menonton televisi 2) Solitary/mandiri. beraktivitas. 4) Dramatik Role Play/bermain Dramatik/ Simbolik. memeluk. Menyukai kehadiran orang lain tapi tidak ada usaha untuk mendekat atau berbicara. Usia Prasekolah kegiatan sehari-hari tetapi lebih rumit. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Contoh : berpura-pura melakukan kegiatan keluarga seperti makan. Ciri Bermain Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith et al. bau. Menurut Karakteristik Sosial 1) Onlooker Play/mengamati. . Rubin. Klasifikasi Bermain 1. 3. Contoh : orang tua berbicara. 4. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik. dll. Contoh naik sepeda. bersenandung. anak melihat apa yang dilakukan anak lain tetapi tidak ada usaha untuk ikut bermain. 3) Skill Play. 1999) diungkapkan adanya beberapa ciri bermain yaitu : 1. Garvev.E. minum dan tidur. cahaya. contoh : Obyek. anak memberi respon dengan tersenyum. Bebas memilih. Fein dan Vandenberg (Johnson et al. bermain yang sifatnya membina keterampilan Misalnya berulangkali melakukan dan melatih kemampuan yang baru didapat. permainan yang membuat anak belajar berhubungan dengan orang lain. 2. 5. dimulai pada akhir masa bayi 11-13 bulan. tertawa. F. dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain pada anak-anak kecil. 2) Sense Pleasure Play (bermain untuk bersenang-senang). 2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi yang positif. benda alam dan gerakan tubuh. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir.

bermain dalam kelompok. Jenis Kelamin Dalam melaksanakan aktivitas bermain tidak membedakan jenis kelamin laki- laki atau perempuan. Yang penting pada saat kondisi anak sedang menurun atau anak terkena sakit. Kebutuhan bermain pada anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang dewasa. ada pendapat lain yang meyakini bahwa permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri sehingga sebagian alat permainan anak perempuan tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki. Hal ini di latarbelakangi oleh alasan adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan. Ada tujuan yang ditetapkan dan ingin dicapai. Demikian juga sebaliknya karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. yaitu sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. ada perasaan kebersamaan/ sebaliknya. bermain sendiri di tengah anak lain. Akan tetapi. G. Anak interaksi dengan saling meminjam alat permainan. tetapi tidak ada pembagian kerja. kreativitas dan kemampuan sosial anak. Lingkungan yang mendukung Terselenggaranya aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan anak . 3. tidak ada asosiasi kelompok. 4) Asosiasi Play. Tahap perkembangan anak Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak. 2. walaupun demikian. bermain dan beraktifitas serupa bersama. 4. imajinasi. bahkan dirawat di rumah sakit. orang tua dan perawat harus mengetahui dan memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. pemimpin/ tujuan bersama. terbentuk hubungan pemimpin dan pengikut. Ciri bermain anak Toddler. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Bermain 1. Status kesehatan anak Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi. orang tua dan perawat harus jeli memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain pada anak yang sedang dirawat di rumah sakit. Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki- laki atau perempuan untuk mengembangkan daya pikir. bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat sedang sakit. Tentunya permainan anak usia bayi tidak lagi efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Ciri Anak Prasekolah 5) Cooperatif Play. 3) ParalelPlay. Dengan demikian.

Aktifitas fisik berkurang . bahkan sering kali mainan tradisional yang dibuat sendiri dari/atau berasal dari benda-benda di sekitar kehidupan anak akan lebih merangsang anak untuk kreatif. akan lebih merangsang anak untuk kreatif. Setiap generasi meniru permainan generasi sebelumnya b. Tergantung dari perubahan musim 2) Bermain mengikuti pola perkembangan yang dapat diramalkan. H. Fasilitas bermain tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi. penggunaan material lebih bermakna. Permainan membantu anak untuk meningkatkan kemampuan dalam mengenal norma dan aturan serta interaksi sosial dengan orang lain. akan manegajarkan anak untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi alat gerak. Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai bagi anak Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk anak. Label yang tertera pada mainan harus dibaca terlebih dahulu sebelum membelinya. tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak. Waktu berkurang sesuai usia c. misalnya balok. Alat permainan yang harus didorong. Sementara lingkungan fisik sekitar lebih banyak mempengaruhi ruang gerak anak untuk melakukan aktivitas fisik dan motorik. dan dimanipulasi. bahkan seringkali mainan tradisional yang dibuat sendiri dari atau berasal dari benda-benda di sekitar kehidupan anak. tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak. berlari. Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Perkembangan Anak 1) Tradisi a. Pilih yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. 5. Alat permainan tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi. mondar-mandir. ditarik. apakah mainan tersebut sesuai dengan usia anak. budaya dan lingkungan fisik rumah. berjalan. Bentuk permainan yang memuaskan akan dilanjutkan c. keyakinan keluarga tentang moral dan budaya juga mempengaruhi bagaimana anak di didik melalui permainan. Usia bertambah. salah satunya dipengaruhi oleh nilai moral. Lingkungan rumah yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup ruang gerak untuk bermain. melompat dan bermain dengan teman sekelompoknya. Ragam kegiatan bermain berkurang dengan tambahnya usia b. 3) Waktu dan usia a.

Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat 2. harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Waktu untuk aktifitas spesifik meningkat e. 3. sedih tegang dan nyeri. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak 4. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada anak. singkat dan sederhana 3. dan anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruangan rawat. Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama 5. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi. d. 2. Apabila anak harus tirah baring. Keuntungan Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit 1. Jumlah dan usia teman ( lebih sedikit dan spesifik ) I. Prinsip Permainan pada Anak di Rumah Sakit 1. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak. Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mempunyai tingkah laku yang positif . Perhatian menyempit tetapi lebih lama f. takut. Melibatkan orang tua J. tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas. 4. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak.

Jakarta : Erlangga Berhman et al.2.DAFTAR PUSTAKA Hurlock. Editor bahasa Indonesia: A. Samik Wahab-Ed. Perkembangan Anak Jilid I.15. Perawatan Anak Sakit. Edisi 4. Jakarta:EGC Soetjiningsih. Jakarta : EGC Wong. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. 2000. Ed. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.1991. Tumbuh Kembang Anak. Donna L. 2003. Jakarta : EG . 2005.Jakarta : EGC Ngastiyah. 1995. Vol 3.

Related Interests