TUGAS III

WAWASAN KEMARITIMAN

“AKTIVITAS ILLEGAL LOGGING , PERTAMBANGAN , PENGRUSAKAN
EKOSISTEM MANGROVE DAN PENDANGKALAN TELUK KENDARI”

OLEH :

NAMA : NUR ANNISA
NIM : J1A116 086
KELAS : KESLING

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama
nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah sehingga yang
berjudul “Aktivitas Ilegal Logging, Pertambangan , Pengrusakan Ekosistem Mangrove, dan
Pendangkalan Teluk Kendari” pada mata kuliah Wawasan Kemaritiman . Kemudian shalawat
beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan
pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang kepada Bapak Yusuf Sabilu
S.SI.,M.KES selaku dosen dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta
arahan selama penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan
makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya dalam memajukan pendidikan.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, amin.

Kendari, 3 Maret 2017

penulis

NUR ANNISA
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………..…………………………….............................. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …………………..…………………………............... 1
1.2 Rumusan Masalah ………..……………………………………............ 2
1.3 Tujuan masalah ….…………………………………..…......................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Aktivitas Ilegal Logging ................................................................................... 3
2.2 Pertambangan ……............................................................................................. 6
2.3 Pengrusakan Ekosistem Mangrove ..………………………………………...... 10
2.4 Pendangkalan Teluk Kendari ……………………………………………….. 13
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan............................................................................................. ............ 25
3.2. Saran................................................................................................................ ... 25.
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara maritim yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang
tersebar di kepulaun Nusantara. Pulau-pulau tersebut du kelilingi oleh perairan yang
sangat luas, yang merupakan bagian terbesar dari wilayah kepulauan Indonesia.
Wilayah perairan yang sangat luas ini mengandung sumberdaya ikan yang sangat
potensial untuk menunjang kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.
Berdasrakan hasil penelitian dan beberapa literatur diketahui tidak kurang dari 4.000
jenis ikan hidup di perairan Indonesia .

Dengan pertumbuhan penduduk yang cukup pesat. Sember Daya Alam
Kelauatan di Kendari telah menjadi salah satu sumber kekayaan yang sangat penting
bagi masyarakat Kendari itu sendiri. Karena laut merupakan sarana pengangkutan
yang penting diberbagai belahan dunia begitu juga didaerah ini dan menjadi salah
satu tempat yang cocok dan nyaman untuk berkreasi. Selain itu, hasil dari laut itu
sendiri merupakan salah satu hal yang cocok bagi konsumsi dan sanitasi umat
manusia serta untuk produksi berbagai barang industry dan produk makanan.

Semakin bertambahnya pembangunan industry di Indonesia tentu saja
membawa dampak negatif pada lingkungan hidup. Seperti Pembalakan Liar (Illegal
Logging) , pertambangan , pengrusakan ekosistem mangrove dan pendakalan teluk

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah penyebab dan siapakah serta apa dampak pelaku praktek illegal
logging dikota Kendari ?
2. Bagaimana keadaan pertambangan di Sulawesi Tenggara (Kota Kendari) ?
3. Apa saja penyebab pengrusakan ekosistem mangrove di Kota Kendari dan
bagaimana dampaknya ?
4. Bagaimana dan apa yang menyebabkan pendangkalan teluk di Kota Kendari ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui penyebab dan siapakah serta apa dampak pelaku praktek
illegal logging dikota Kendari
2. Untuk mengetahui Bagaimana keadaan pertambangan di Sulawesi Tenggara
(Kota Kendari)
3. Untuk mengetahui Apa saja penyebab pengrusakan ekosistem mangrove di
Kota Kendari dan bagaimana dampaknya
4. Untuk mengetahui Bagaimana dan apa yang menyebabkan pendangkalan
teluk di Kota Kendari
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 ILEGAL LOGGING( Pembalakan Liar)

Illegal logging merupakan salah satu kasus di sektor kehutanan Indonesia
yang tidak bisa diremehkan, mengingat dampak negatif yang ditimbulkannya baik
secara langsung maupun tidak langsung cukup bersifat signifikan di kehidupan
masyarakat sehari-hari. Penebangan kayu secara liar (illegal logging) merupakan
gejala yang muncul akibat berbagai permasalahan yang sangat kompleks melibatkan
banyak pihak dari berbagai lapisan. Ditambah lagi, bila praktek ini tetap dilakukan
dengan itensitas yang tinggi, akan mengancam kehidupan anak cucu kita di masa
mendatang. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian yang intensif dan kooperasi yang
solid antar pihak.

Illegal Logging meliputi serangkaian pelanggaran peraturan yang
mengakibatkan eksploitasi sumber daya hutan yang berlebihan. Pelanggaran ini
terjadi disemua lini tahapan produksi kayu, misalnya pada tahap penebangan, tahap
pengangkutan kayu gelonggongan, tahap pemprosesan, dan tahap pemasaran, serta
meliputi cara-caraa yang korup untuk mendapatkan akses ke hutan dan pelanggaran
keuangan seperti penghindaran pajak.

Pelaku Illegal Logging di Indonesia

1. Masyarakat biasa
Masyarakat biasa terkadang melakukan illegal logging untuk membuka lahan
sebagai tempat tinggal.
2. Kalangan Pejabat
Pejabat dapat menjadi salah satu pelaku utama dan terpenting dalam kasus
illegal logging. Karena mereka memiliki kekuasaan.
Penyebab yang Menstimulasi Praktek Illegal Logging di Indonesia

Pola kemitraan yang dibangun pemerintah dengan masyarakat, Perkembangan
Teknologi, Budaya, Penegakan Hukum, Penjagaan dan pengawasan aparatur masih
belum berjalan dengan baik, Kesenjangan ketersediaan , bahan baku Kelembagaan,
Masalah Ekonomi

Dampak Illegal Logging

Kepunahan berbagai varietas hayati, Menimbulkan Bencana Alam, Menipisnya
Cadangan Air, Merusak Lapisan Tanah Ketika eksistensi hutan menurun, Penyebab
Global Warming Global warming terjadi oleh efek rumah kaca dan kurangnya daerah
resapan CO2 seperi hutan, Berkurangnya Pendapatan Negara, Dilihat dari aspek
sosial, illegal logging menimbulkan berbagai konflik hak atas hutan, konflik
kewenangan mengelola hutan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah
serta masyarakat adat setempat, Dilihat dari aspek budaya seperti illegal logging
dapat memicu ketergantungan masyarakat terhadap hutan yang pada khirnya akan
dapat merubah perspektif dan perilaku masyarakat adat setempat terhadap hutan.

Kegiatan `illegal logging` atau pembalakan liar di sejumlah kawasan hutan di
wilayah Sulawesi Tenggara oleh sejumlah oknum pengusaha kayu masih terus
berlangsung. di perairan laut Kabupaten Buton Utara bersama empat buah kapal
pemuat kayu dan delapan orang pemilik. Sebelumnya, petugas polisi juga menyita
1.542 batang kayu ilegal di wilayah pesisir perairan laut Kabupaten Konawe Utara.
Tiga buah kapal yang memuat kayu-kayu tersebut ikut diamankan, sedangkan para
pemilik kayu sempat melarikan diri. Petugas polisi yang berhasil mengamankan kayu
dan menangkap para pemilik kayu, tentu patut diancungi jempol dan diapresiasi
karena berkat kerja keras mereka, para pelaku ilegal loging bisa
mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Namun, di satu sisi
penangkapan dan pengamanan barang bukti ribuan batang kayu itu ikut menimbulkan
keprihatinan banyak pihak. "Hal ini meninmbulkan keprihatinan, karena kayu-kayu
tersebut ditebang di dalam kawasan hutan lindung, di tengah pengawasan ketat
petugas pengamanan kawasan hutan," kata aktivis LSM lingkungan hidup, lolosnya
kayu-kayu tersebut keluar dari dalam kawasan hutan lindung, ada oknum petugas
kehutanan yang ikut terlibat. Petugas kehutanan seolah-olah tidak tahu menahu
dengan aksi pembalakan lair di wilayah tempat para petugas tersebut bertugas
menjaga kawasan hutan. "Bagaimana mungkin pelaku pembalakan liar bebas
menebang kayu di dalam hutan tanpa bisa diketahui petugas kehutanan. Jelas ada
oknum petugas yang ikut terlibat dalam aksi pencurian kayu-kayu itu,".
Diselundupkan ke LN Hasil pengembangan penyidikan dari anak buah kapal yang
tertangkap petugas oleh penyidik Polda Sultra, kayu-kayu hasil pembalakan liar asal
Sultra tersebut sebagian diselundupkan ke luar negeri (LN), Timor Leste. Selain itu,
kayu tersebut juga diantarpulaukan ke provinsi lain di Indonesia seperti Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tanggara Timur dan Sulawesi Selatan. Terkait dengan
penyelundupan ke Timor Leste tersebut, pihak Polda Sultra menduga kuat ada pihak
asing yang ikut terlibat. Namun untuk memastikan keterlibatan pihak asing tersebut,
petugas masih akan terus mengembangkan penyidikan kasus illegal logging yang
tengah ditangani itu. "Jika dalam pengembangan penyidikan ratusan kubik kayu itu
ditemukan bukti kuat keterlibatan warga negara asing, kita akan berkoordinasi dengan
kepolisian negara bersangkutan untuk melakukan penangkapan para pelaku," kata
Kapolda Arkian. Kapolda Arkian sendiri mengaku kaget dengan beberapa kali
penangkapan kayu hasil illegal logging oleh petugas polisi Polda Sultra itu. Menurut
dia, aksi pencurian kayu di Indonesia selama ini hanya di wilayah Kalimantan,
Sumatera, dan Papua. "Ternyata pembalakan liar di dalam kawasan hutan juga marak
di wilayah Sultra," ujar Kapolda Arkian. Merusak lingkungan Pembalakan liar yang
masih terus berlangsung itu telah menyebabkan sejumlah kawasan hutan lindung di
beberapa kabupaten di Sultra mengalami rusak parah. Data di Dinas Kehutanan
Sultra, dalam beberapa tahun terakhir kawasan hutan di daerah itu mengalami
kerusakan hingga 300 ribu hektare lebih. kerusakan sejumlah kawasan hutan itu telah
menyebabkan sejumlah air sungai mengalami kekeringan saat musim kemarau tiba.
Sebaliknya, ketika musim hujan, sejumlah kawasan permukiman penduduk dilanda
banjir bah yang tidak hanya menimbulkan kerugian harta benda bagi penduduk, tetapi
juga kerap kali menelan korban jiwa. "Kalau aksi pencurian kayu di dalam kawasan
hutan tidak segera dihentikan, kerusakan lingkungan di daerah akan terus meluas,"
masyarakat di sejumlah kabupaten di provinsi ini dalam ancaman bahaya bencana
alam berupa banjir dan tanahlongsor."Agar bahaya itu tidak mengancam keselamatan
warga, aksi pembalakan lair sudah harus dihentikan. Mereka yang tertangkap petugas
agar diberi hukuman berat, sehingga bisa menimbulkan efek jera bagi yang lain,

2.1 PERTAMBANGAN .
Pengertian Pertambangan Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam
rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan
penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, migas).Pertambangan pada
hekekatnya merupakan upaya pengembangan sumberdaya alam mineral dan energy
yang potensial untuk dimanfaatkan secara hemat dan optimal bagi kepentingan dan
kemakmuran rakyat, melalui serangkaian kegiatan eksplorasi, pengusahaan dan
pemanfaatan hasil tambang.Upaya tersebut bertumpu pada pendayagunaan berbagai
sumberdaya, terutama sumberdaya energy dan mineral, didukung sumberdaya
energy manusia yang berkualitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
kemampuan manajemen.
Pada umumnya hasil pertambangan Indonesia yang bersifat logam semata-
mata dihasilkan untuk keperluan pasar luar negeri. Sementara itu, bahan berupa non
logam sebagai bahan baku industri dalam negeri. Tapi dalam prospek dalam negeri
hasil yang dimanfaatkan lagi oleh pihak asing dan pihak pemerintah yang
mempunyai kuasa.Industri pertambangan di Sulawesi Tenggara menjadi primadona,
karena merupakan komoditas unggulan.Tersedianya Sumberdaya Alam menjadikan
peluang untuk memanfaatkannya agar mendapatkan hasil dan keuntungan.
Beberapa Sumber daya Alam yang sudah termanfaatkan atau dilakukan
kegiatan eksplorasi yaitu tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di
kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, tambang minyak di Kabupaten
Buton Utara dan Buton, Tambang Emasdi Bombana, dan potensi tambang marmer,
batu granit dan krom yang tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra Tahun 2010, produksi biji nikel
pada Perusahaan Pertambangan nikel di Sultra tahun 2008 sebesar 1.782.356 ton
atau turun sebesar 42,38 persen, bila dibandingkan dengan tahun 2009 menjadi
1.026.975 ton. Sedangkan produksi aspal maupun nilai produksinya

Tujuan Pertambangan Tujuan dari dilakukannya pertambangan yaitu sebagai
bentuk pemanfaatan kekayaan alam yang tersedia untuk mencapai salah satu tujuan
bangsa untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat. Kegiatan pertambangan
mempunyai banyak keunggulan diantaranya memberikan pemasukan devisa Negara,
meberikan pemasukan anggaran biaya daerah, dan menyediakan lapangan kerja.
Namun sebagian besar hasil dari kegiatan pertambangan berdampak negatif baik
terhadap lingkungan maupun masyarakat dampak Kegiatan pertambangan Kegiatan
pertambangan mempunyai banyak dampak, baik itu dampak positif maupun dampak
negatif. Adapun dampak positif yang ditimbulkan pada kegiatan pertambangan antara
lain, masyarakat setempat mempunyai kesempatan untuk bekerja di perusahaan
tersebut, mendapat ganti rugi tanah yang digunakan untuk kegiatan pertambangan,
dan Perusahaan pertambangan dapat merupakan potensial bagi hasil bumi maupun
jasa yang tersedia dari masyarakat setempat. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh
kegiatan pertambangan di Sulawesi Tengaara antara lain Timbul kecemburuan sosial,
karena kekayaan alamnya diambil oleh pihak lain, juga terdapat kesengajaan
pendapatan antara para pendatang dengan penduduk asli, timbul gangguan berupa
polusi udara, air tanah dan kebisingan, rusaknya jalan dan jembatan Karena dilewati
banyak kendaraan milik perusahaan pertambangan. Salah satu jenis tambang yang
ada di Sulawesi Tenggara adalah tambang nikel di Kabupaten Kolaka
(Pomalaa).Kegiatan pertambangan tersebut mempunyai tujuan untuk memanfaatkan
Sumberdaya Alam yang tersedia dengan memberikan kontribusi kepada pemerintah
sebagai anggaran Pemasukan Asli Daerah (PAD) dan menyediakan lapangan kerja
kepada masyarakat.Namun dari fakta yang terjadi sekarang banyak masalah yang
terjadi di lapangan mulai dari kerusakan hutan yang tingkatannya mengancam
kehidupan manusia dan mahluk yang hidup di wilayah tersebut sampai pencemaran
peraiaran.Aktivitas penambangan nikel yang tidak terkendali mengancam keberadaan
kawasan hutan konservasi suaka marga satwa.

Proses kegiatan pertambangan dilakukan dengan mengeruk atau mengambil
tanah dipegunungan yang mengandung nikel, namun wilayah pengambilan tanah itu
melalui proses penebangan pohon-pohon lindung di dalamya. Hal tersebut
mengancam keberadaan hutan lindung yang ada di daerah tersebut. Jika terjadi
pengundulan hutan yang berlebihan pastinya akan terjadi tanah longsor, banjir,
kekeringan, dan organisme yang hidup pada daerah tersebut berpindah tempat atau
bahkan mati. Sebelum dilakukan penambangan di daerah tersebut lahan-lahan milik
warga ditanami berbagai jenis tanaman pertanian seperti padi, jagung, ubi kayu, sagu
dan sebagainya maupun tanaman perkebunan seperti kakao, jambu, kelapa dan
cengkeh, menjadi penupang utama kehidupan keluarga mereka. Berbagai jenis
tanaman pertanian dan perkebunan tersebut menjadi mesin pengepul asap di rumah-
rumah warga. Namun kini, lahan-lahan subur tersebut rusak karena akibat dari
penggundulan hutan.Tanaman tumbuh yang ada di dalamnya tergilas oleh aktivitas
penambangan nikel yang mendapat izin resmi dari Pemerintah Kabupaten maupun
Pemerintah Provinsi.Dari fakta tersebut keuntungan dari kegiatan penambangan
sangat sedikit, keuntungan yang besar ada di pihak perusahaan sedangkan imbasnya
dikenakan kepada masyarakat dan lingkungan.Sebagai bentuk kepedulian perusahaan
tambang, perusahaan wajib memberikan kompensasi atas timbulnya dampak negatif
tersebut.
Kewajiban untuk melaksanakan program pengembangan masyarakat setempat
dimaksudkan untuk dapat meningkatkan dampak sosial ekonomi masyarakat di
lingkar pertimbangan yang merupakan wujud realisasi dari kewajiban untuk
memberikan manfaat langsung adalah kewajiban perusahaan berupa pembayaran
iuran tetap, pajak dan royalty.Peraturan Pemerintah Tentang Kegiatan Pertambangan
Pemerintah mengatur kegiatan pertambangan dalam undang-undang (UU).UU yang
berkaitan dengan kegiatan pertambangan, UU No. 11/1967 tentang Pokok-pokok
Pengusahaan Pertambangan.Dalam UU tersebut pemerintah memilih
mengembangkan pola Kontrak Karya (KK) untuk menarik investasi
asing.Berdasarkan ketentuan KK, investor bertindak sebagai kontraktor dan
pemerintah sebagai prinsipal.

Di dalam bidang pertambangan tidak dikenal istilah konsesi, juga tidak ada
hak kepemilikan atas cadangan bahan galian yang ditemukan investor bila eksploitasi
berhasil. Berdasarkan KK, investor berfungsi sebagai kontraktor. Setiap
pembangunan suatu daerah yang dimulai dengan pertambangan pasti ada yang
dikorbankan dan dirugikan, tetapi alangkah indahnya jika sebelum melakukan
pertambangan dilakukan perenungan bagaimana baiknya jalan kegiatan
pertambangan agar tidak menimbulkan kerugian yang besar terhadap masyarakat dan
kerusakan terhadap lingkungan.

Walaupun ganti rugi sudah disetujui, tapi alam yang secara terus menerus
dieksploitasi dengan cara yang belum optimal itu akan rusak, dan akibatnya
dibeberapa tahun kedepan alam kita rusak, manusia banyak yang merugi, dan tak ada
lagi warisan kekayaan alam yang akan kita wariskan terhadap anak cucu kita. Alam
tidak bisa dibeli, jika alam yang sudah rusak tanpa dilakukan perbaikan, penataan
yang baik mungkin 5 tahun kedepan akan kita rasakan maraknya bencana yang
terjadi. Maka dari itu mari kita jaga Alam kita, Tuhan mengkaruniakan kekayaan
alam-Nya terhadap kita untuk dimanfaatkan namun terus kita jaga agar alam kita
tidak rusak dan habis. Kedepannya, kondisi pengelolaan produk tambang sebagai
salah satu komoditi unggulan perlu ditata dan dikelola secara terpadu dengan
memperhatikan berbagai aspek sehingga diharapkan dapat memberi kontribusi yang
signifikan.Diharapkan kegiatan pertambangan di Sulawesi Tenggara dilakukan
dengan optimal dengan memperhatikan berbagai aspek agar tidak menimbulkan
kerusakan lingkungan dan kerugian terhadap masyarakat. Kekayaan alam
(pertambangan) yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara bila dikelola dan dieksploitasi
secara professional serta baik, tidak menutup kemungkinan apa yang dicita-citakan
ataupun diharapkan akan dapat terwujud serta terlaksana.

2.3 PENGRUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE

Teluk kendari merupakan bentuk perairan estuari dan ditumbuhi taman
spesifik pantai yakni mangrove disepanjang pantainya. Sebaran mangrove yang
tersisa sekarang dikawasan teluk kendari berada pada kawasan sebelah barat dan
selatan teluk.Teluk kendari merupakan perairan semi tertutup yang didalamnya
terdapat muara sungai sehingga dan keadaan airnya relatif payau. Seiring dengan
perkembangan zaman dan perubahan tata ruang wilayah kota yang lebih
mengutamakan aktivitas pembangunan dan percepatan pertumbuhan ekonomi telah
menyebabkan ekosistem mangrove yang ada di Teluk Kendari kian terdegradasi
seiring waktu. Kawasan yang dulunya merupakan “Green Belt” kini telah berubah
menjadi lahan pertambakan, pemukiman, dan kawasan industri. Kondisi demikian
seharusnya telah menjadikan wilayah ini seharusnya ditetapkan sebagai daerah
konservasi ekosistem mangrove untuk mencegah hilangnya ekosistem ini .

Secara ekologis batasan Teluk Kendari tentu saja mengikuti pasang terjauh air
laut dan zonasi ekosistem mangrove. Namun karena aktivitas penebangan dan
reklamasi teluk yang terus terjadi menyebabkan luasan Teluk Kendari kian menyusut.
Secara administratif batasan-batasan Teluk Kendari yaitu :

-. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kendari Barat
-. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Poasia
-. Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda
-. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Mandonga
Penentuan Wilayak Konservasi Ekosistem Mangrove
Kesesuaian lahan merupakan salah satu komponen yang penting dalam
menentukan kawasan konservasi mangrove di suatu wilayah. Dalam penentuan
wilayah konservasi ekosistem mangrove pada praktek lapang yaitu terletak di Teluk
Kendari Sebelah Selatan di Muara Sungai kambu. Berdasarkan fakta yang ada
dilapangan bahwa hampir seluruh wilayah teluk kendari yang terdapat zonasi
mangrove telah mengalami kerusakan yang begitu besar.
Hal ini disebabkan oleh tekanan dan pertambahan penduduk yang demikian
cepat yang ada di kota kendari terutama di daerah pantai, sehingga mengakibatkan
adanya perubahan tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya alam secara
berlebihan, akibatnya hutan mangrove dengan cepat menipis dan rusak. Dan juga
disebabkan karena adanya pembangunan-pembagunan seperti reklamasi yang ada
disekitar pantai sehingga menyebabkan ekosistem mangrove hilang. Selain itu,
meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu sebagai bahan bangunan yang
menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap hutan mangrove. Kegiatan lain adalah
pembukaan tambak-tambak untuk budidaya perikanan yang memberikan kontribusi
terbesar bagi kerusakan hutan mangrove dalam situasi seperti ini, habitat dasar dan
fungsinya menjadi hilang dan kehilangan ini jauh lebih besar dari nilai penggantinya.
Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut maka perlu diadakan konservasi
mangrove dengan tujuan untuk melindungi sumberdaya hayati perairan agar dapat
dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kegiatan ini meliputi perlindungan habitat dan
organisme-organisme perairan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah rehabilitasi
yaitu penanaman kembali mangrove yang rusak. Kegiatan rehabilitasi ini bertujuan
untuk memulihkan kembali kondisi ekosistem mangrove yang telah rusak agar
ekosistem mangrove dapat menjalankan kembali fungsinya dengan baik, sebagai
penahan ombak, gelombang, melindungi garis pantai.
1. Jenis Mangrove yang di Rehabilitasi di Indonesia

Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya
kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya dan di antara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir,
terpengaruh pasang surut air laut dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang
khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau. Hutan mangrove meliputi
pohon-pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 (delapan) famili, dan terdiri atas
12 (dua belas) genera tumbuhan berbunga yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhyzophora,
bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera,Languncularia, Aegiceras, Aegiatilis,
Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2002). Jenis mangrove yang digunakan dalam
praktek lapang konservasi sumberdaya perairan adalah jenis Rhizophora sp. Jenis ini
dipilih karena jenis substrat yang dominan lumpur berpasir dan letak wilayah
penanaman yang berada di muara sungai dan lebih kearah darat penggenangan air
pasang surut atau salinitas sangat baik bagi pertumbuhan mangrove jenis ini.
Penanaman mangrove dilakukan lokasi pesisir pantai teluk kendari terutama di areal
tambak, bekas habitat mangrove yang telah rusak baik akibat aktivitas manusia
maupun yang diakibatkan ombak di sepanjang tepi sungai yang bermuara ke laut.
Rehabilitasi ini dilakukan untuk menghijaukan kembali kawasan mangrove yang
telah rusak dan memperkecil intrusi air laut kedaratan serta memperkecil terjadinya
abrasi pantai.

2.4 PENDANGKALAN TELUK KENDARI
Teluk sebagai sumber daya alam dunia yang memiliki banyak manfaat serta
dapat menjaga kelangsungan hidup manusia merupakan sumber daya alam dunia
yang memiliki banyak manfaat serta dapat menjaga kelangsungan hidup manusia
merupakn sumber daya hayati yang sangat penting. Selain itu, teluk juga berfungsi
sebagai tempat berbagai jenis tumbuhan dan hewan, sehingga kerusakan pada tluk
akan menimbulkan ketidakseimbaimbangan ekositem fatal seta bencana alam. Teluk
Kendari misalnya, teluk ini telah mengalami pendangkalan yang sangat pernah
sehingga bias dialihkan fungsikan oleh masyarakat pinggiran teluk sebagai lapangan
apabila terjadi pasang surut disore hari. Tentunya hal ini sangat tragis dan hal ini
tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja karena apabila hal ini terus berkelanjutan
maka akan sangat banyak dampak negative yang akan ditimbulkan.

Teluk Kendari tak dapat dipisahkan dengan awal keberadaan Kota Kendari
yang menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini. Di teluk inilah semuanya
berawal. Tradisi lisan menyebutkan, nama Kendari berasal dari bahasa Tolaki, yakni
kandai (tukong), artinya alat dari bambu atau kayu yang dipergunakan untuk
mendorong perahu di tempat yang airnya dangkal. Di teluk Kendari inilah aktivitas
transportasi laut penduduk menggunakan alat kandai, selain menggunakan dayung
dan layar. Kandai kemudian diabadikan menjadi nama kampung, kini sudah menjadi
Kelurahan Kandai yang berada di awal pusat Kota Kendari yang terletak di wilayah
Kecamatan Kendari (Kota Lama). Keberadaan Teluk Kendari ditinjau dari sisi sosial
sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya para nelayan yang bisa mencari
ikan di area ini. Dengan luas perairan sekitar hampir 18 km2 dan panjang garis pantai
hampir 86 km, Teluk Kendari memiliki berjuta potensi yang unik untuk dikelola.
Tapi itu dulu, waktu teluk belum lagi mengalami degradasi seperti sekarang. Dulu
waktu teluk masih terpelihara, jangankan ikan, warga bisa mengambil hasil laut apa
saja di sana lantaran kondisinya masih bagus. Banyak jenis kerang bakau dan
kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi.
Sekarang teluk Kendari telah berubah fungsi. Dari tempat mencari hasil laut
oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis.
Mungkin satu-satunya di Indonesia. Jika melihat kondisi teluk ini sekarang kita akan
prihatin karena telah mengalami pendangkalan yang parah. Permasalahan lingkungan
yang akan di bahas adalah seputr kerusakan teluk Kendari berupa pendangkalan dan
pencemaran sampah

KERUSAKAN TELUK KENDARI
Letak geografis Kota Kendari ibarat wajan - tempat penggorengan. Di tengah-
tengah terdapat teluk, sementara di sisi utara, barat, selatan terdapat ketinggian. Di
sisi utara ada pegunungan Nipanipa, sementara di sisi selatan ada pegunungan Nanga-
nanga. Demikian pula di sebelah barat, Mandonga dan Wua-wua adalah pemukiman
yang posisinya lebih tinggi.. Demikian pula dari sisi ketinggian di sebelah utara dan
selatan teluk tentunya. Karena posisi demikianlah sehingga erosi yang terjadi dari sisi
utara, barat dan selatan semuanya bermuara pada pusat teluk yang pada gilirannya
menyebabkan pendakangkalan Teluk Kendari. Laju pendakalan di Teluk Kendari
semakin memprihatinkan seiring pertambahan aktivitas manusia yang bermukim di
sekitarnya. waktu Teluk Kendari belum mengalami degradasi seperti sekarang,
keberadaan ditinjau dari sisi sosial ekonomi sangat bermanfaat bagi masyarakat
sekitar, khususnya para nelayan yang bisa mencari ikan dan biota laut lainnya.
Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk
dikonsumsi. Sayangnya, kondisi itu telah berubah fungsi, dari tempat mencari hasil
laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis,
selain erosi yang terjadi secara alamiah. Hal ini sebagai konsekensi perkembangan
penduduk dan kemajuan Kota Kendari.

Hasil penelitian Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sampara
menyebutkan, dalam kurun waktu 13 tahun terakhir terjadi pendangkalan di Teluk
Kendari seluas 101,8 hektar dan kedalaman laut berkisar 9 meter sampai 10 meter.
Luasan wilayah teluk ini menyusut dari semula 1.186,2 hektar menjadi 1.084,4
hektar pada tahun 2000. Sungai Wanggu yang menguasai Daerah Aliran Sungai
(DAS) seluas 152,08 hektar merupakan penyumbang sedimentasi terbesar mencapai
357.810,59 ton/ tahun. Selain itu, menurut dokumentasi institusi teknis Dinas
Kehutanan Provinsi Sultra, terdapat 10 hingga 18 sungai yang bermuara di Teluk
Kendari. Selain Sungai Wanggu, sungai lain juga ikut berkontribusi, misalnya
Sungai Benubenua (DAS) 21,00 Km2, Sungai Lahundape (DAS) 16,00 Km2, Sungai
Mandonga (DAS) 18,00 Km2 Sungai Sodoha (DAS) 20,00 Km2, Sungai Tipulu
(DAS) 12,00 Km2 serta Sungai Wua-wua, Kemaraya, Anggoeya, dan Sungai
Kampungsalo.

Sumbangsi sedimentasi juga datang dari aktivitas di dermaga yang ada dalam
kawasan teluk. Sedikitnya terdapat empat dermaga pelabuhan serta satu galangan
kapal pada teluk Kendari. yaitu, Pelabuhan Nusantara yang dikunjungi kapal-kapal
berskala besar setiap saat, termasuk persinggahan kapal Pelni, KM Tilongkabila yang
melayanai kawasan timur Pulau Sulawesi. Ada pula Pelabuhan Ferry penyeberangan
dari Kota Kendari-Pulau Wawonii, pelabuhan Perikanan Samudera dan Pelabuhan
Pendaratan kapal penangkap ikan serta pangkalan kapal-kapal perikanan laut swasta.
Dengan potensi sebanyak itu, perekonomian seyogyanya bisa membaik, namun Teluk
Kendari tak lepas dari masalah.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Haluoleo telah memprediksi
sedimentasi itu sejak tahun 2003. Mereka menyebutkan Sungai Wanggu, Kambu, dan
Mandonga adalah tiga sungai menyumbang sedimentasi sekitar 1.330.281 m3/ tahun
dengan laju pendangkalan 0,207 m/ tahun. Hal itu yang membuat kondisi Teluk
Kendari semakin memprihatinkan. Lembaga ini juga memperkirakan dalam sepuluh
tahun mendatang, kontur kedalaman 1,2 sampai 3 meter berubah menjadi daratan
seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh
lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang kontur kedalaman 1, 2, 3, 4, sampai 10
meter berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa
seluas 18,8 hektar.

Aktivitas di sekitar DAS yang bermuara ke Teluk Kendari secara langsung
maupun tidak langsung menjadi kontributor terbesar pendangkalan teluk. Terutama
aktivitas yang tidak ramah lingkungan seperti penebangan kayu maupun anakan kayu
di hutan, pertambangan pasir, serta konversi kawasan mangrove menjadi tambak
maupun industri dan pertokoan. Secara kasat mata dapat disaksikan bagaimana areal
mangrove yang dulu masih luas kini semakin sempit oleh berbagai jenis usaha antara
lain pembukaan tambak, pembangunan galangan kapal, pembangunan SPBU dan
pembangunan kawasan pertokoan. Setiap tahun terjadi pengurangan vegetasi
mangrove secara drastis. Pada tahun 1960-an luas vegetasi mangrove di sekitar Teluk
Kendari mencapai 543,58 ha, tahun 1995 menurun hingga tersisa 69,8 ha, dan tahun
2005 menurun lagi hingga tersisa tinggal 40%.

Teluk Kendari dan Sampah
Perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari membawa konsekwensi
lain yakni kesemrawutan kota yang kian tak terkendali. Sampah berserakan di mana-
mana, drainase tak berfungsi, tata kota yang semrawut dan pemerintah kelihatannya
putus asa mengatasi hal ini. Sementara itu, ada pemeo di masyarakat buat apa buang
sampah jauh-jauh kalau yang dekat juga ada. Yang dekat tentu saja adalah Teluk
Kendari. Pemeo yang sangat menyesatkan.

Memang bukannya tak ada upaya perbaikan sama sekali. Sejumlah Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) telah berupaya menyelamatkan teluk ini dari
kehancuran. Namun hasilnya : nol.

Ada sinyalemen beberapa kalangan bahwa percepatan pendangkalan teluk
merupakan akibat dari penggundulan hutan yang ada dalam kota. Akibat
penggundulan tersebut terjadilah erosi kala hujan turun dan membawa gumpalan
tanah dan pasir menuju teluk. Selain itu, sampah yang bertumpuk dalam teluk juga
kian memperburuk keadaan. Akibatnya bisa di duga, selain cepat mengalami
pendangkalan, teluk juga menjadi pembuangan sampah oleh warga setempat yang tak
mau ambil pusing dengan keadaan sekitar.

Melihat krisis Teluk ini sekarang, Pemerintah Kota Kendari mencoba satu
solusi yang disarankan banyak pihak yakni pengerukan. Perencanaan sudah dibikin.
Anggaran sudah disediakan. Pengerukan telah dilakukan. Tapi lagi lagi terbentur
pada ketidak seriusan untuk mengembalikan Teluk Kendari ke zaman Vosmaer.
Mesin pengeruk tampak menganggur seperti besi tua yang siap dikilo. Padahal mesin
penghisap lumpur itu telah menelan biaya yang tidak sedikit. Dengan kata lain,
Pemerintah Kota memang tampaknya tak serius melihat kerusakan teluk ini.
Perhatian Pemerintah Kota Kendari Terhadap Kerusakan Teluk
Pemerintah Provinsi Sultra tengah merancang sebuah program untuk
menjadikan Teluk Kendari sebagai tempat olah raga air kelas dunia. Dinas Pekerjaan
Umum (PU) Sultra ditunjuk untuk merancang program ini. Kepala Dinas PU Sultra
Dody Djalante menjelaskan program ini dilakukan bersamaan dengan dibangunnya
dua mega proyek pada Teluk Kendari, yakni jembatan penghubung (Kota Lama
dengan Lapulu) dan masjid terapung di atas permukaan laut.

Di luar itu Pemerintah Kota Kendari mempunyai kebijakan sendiri berupa
pengerukan endapan teluk dengan menyediakan anggaran sebesar Rp. 5 miliar lebih.
Sayangnya hingga kini belum ada aksi memadai, padahal sudah dianggarkan sejak
setahun lalu. Hal ini menambah kecurigaan pihak-pihak yang meragukan sejak awal
akan program tersebut. Pemicu bertambahnya pendangkalan karena konversi
kawasan hutan mangrove menjadi lahan tambak. Selain itu, perkembangan
pemukiman di sekitar teluk tidak terkontrol, serta belum adanya kejelasan tata ruang
dan rencana pengembangan wilayah pesisir Teluk Kendari. Akibatnya, terjadinya
tumpang tindih pemanfaatan kawasan pesisir untuk berbagai kegiatan pembangunan.
Masalah lain, adanya temuan pencemaran logam berat seperti Merkuri (Hg) dan
Cadmium (Cd) di sekitar Teluk Kendari dengan kadar tinggi sehingga mengganggu
kelangsungan biota laut, seperti ikan dan kerang-kerangan.

Sesungguhnya perairan teluk memiliki luas sekitar 17,75 km2 dengan total
panjang garis pantai kurang lebih 85,85 km, berbentuk hampir seperti segitiga. Alur
sempitnya tadi berada di bagian timur, dan makin ke barat alurnya makin melebar.
Pantai utara Teluk Kendari merupakan kaki Gunung Nipanipa sehingga agak terjal.
Sebaliknya di bagian barat dan selatan teluk merupakan dataran rendah yang garis
pantainya ditutup hutan bakau (mangrove), sehingga, kondisi perairan Teluk Kendari
yang terlindung oleh penyempitan alur masuk itu, relatif tenang. Pergerakan arus
bersifat lokal dan hanya sedikit dipengaruhi arus luar teluk. Arus yang bergerak dari
mulut dan ke dalam teluk dan sebaliknya pada saat terjadi pasang dan surut
berkecepatan sekitar 13 km/ jam.

Gelombang laut yang terjadi di kawasan Teluk Kendari umumnya bersumber
dari tiupan angin di kawasan perairan teluk itu. Gelombang besar terjadi di sekitar
Pulau Bungkutoko dengan ketinggian antara 1-1,5 meter pada bulan Juni-Agustus
(musim timur) dan 0,5-1 meter pada periode Desember-Januari (musim barat).
Gelombang besar itu berasal dari Laut Banda dan Samudra Pasifik. Sedangkan
ketinggian gelombang di dalam teluk sendiri hanya berkisar rata-rata 0,3 meter di
segala cuaca.

Secara geologi, pada musim hujan warna air teluk agak keruh, terutama di
muara-muara sungai. Paling sedikit ada 12 sungai dan anak sungai yang bermuara di
teluk, antara lain yang agak besar adalah Sungai Sadohoa, Wanggu, Kambu, dan
Sungai Anggoeya. Jaringan sungai dan anak sungai tersebut puluhan tahun silam
masih berfungsi sebagai sarana transportasi hingga ke pedalaman (pinggiran) kota.

Kebijakan pemerintah dan perilaku warga kota cenderung tidak memihak
pada upaya pelestarian Teluk Kendari. Penggunaan lahan yang tak terkendali, baik
untuk permukiman dan pertokoan maupun untuk pertanian menjadi sumber
pendangkalan dan pencemaran teluk.

Warga Kota dengan Teluknya
Warga kota yang berdiam di lereng gunung, baik penduduk lama maupun
pendatang baru dibiarkan merambah hutan untuk lokasi perumahan dan kebutuhan
hidup lainnya. Secara semena-mena juga para pemilik modal menggusur perbukitan
di beberapa ruas jalan utama, masih di kaki pegunungan Nipanipa, untuk kepentingan
investasi di bidang properti yaitu bisnis rumah toko (Ruko).

Tindakan tersebut merupakan salah satu penyebab pendangkalan teluk.
Kerusakan hutan di pegunungan Nipanipa sehingga menyebabkan terjadinya erosi
yang membawa lumpur, pasir, sampah dan limbah rumah tangga, serta berbagai
material lainnya ke Teluk Kendari. Sisa-sisa lumpur dan pasir dari kegiatan
penggusuran bukit juga segera dihanyutkan banjir ke teluk pada musim hujan. Selain
itu kegiatan pemerintah sendiri yang mempercepat lajunya sedimentasi adalah
pembangunan jaringan jalan, terutama ruas-ruas jalan yang berlokasi di bibir pantai
teluk. Pembangunan jalan tersebut di awal dengan pengerukan rawa-rawa dan
empang milik penduduk. Lahan tersebut sebelumnya merupakan hutan bakau.

Sedangkan ekosistem mangrove untuk kepentingan permukiman,
pertambakan, dan pembangunan prasarana jalan lebih mempercepat proses
pendangkalan Teluk Kendari. Luas hutan bakau di pantai teluk pada tahun 1995
tercatat tinggal sekitar 69,85 hektar. Ini menunjukkan, kesewenang-wenangan
manusia terhadap alam memang tak terbendung, sebab berdasarkan hasil penelitian
tahun 1960 luas hutan bakau di teluk ini masih sekitar 543,58 hektar.

Sisa hutan bakau tersebut makin habis pula, akibat perluasan lahan tambak
oleh warga kota. Kawasan sabuk hijau (green belt) pun yang berfungsi sebagai
penyangga telah berangsur lenyap dan menjadi lahan tambak. Padahal sabuk hijau
mutlak disediakan sebagai kawasan lindung dalam rangka mempertahankan hutan
mangrove.

Jalur lain yang menjadi kontributor penyusutan Teluk Kendari menjadi
daratan adalah jaringan sungai dan anak sungai yang bermuara di teluk itu. Jaringan
sungai tersebut membawa lumpur, pasir, dan material lainnya ke teluk pada saat
banjir di musim hujan.

Sebagian sungai di Kota Kendari telah menjadi sungai mati, dan baru berair
serta banjir bila musim hujan datang. Hal itu membuktikan parahnya kerusakan hutan
di daerah tangkapan hujan (catchment area) dalam ekosistem DAS (daerah aliran
sungai). DAS terbesar di kawasan teluk adalah DAS Wanggu dengan luas wilayah
32.389 hektar. Wilayah DAS ini membentang dari pegunungan Boroboro, Wolasi
hingga Teluk Kendari yang mencakup tiga kecamatan dalam wilayah Kabupaten
Konawe serta dua kecamatan di Kota Kendari sendiri. Karena itu dibutuhkan
kebijakan terpadu pemerintah kabupaten dan kota untuk memulihkan kerusakan DAS
tersebut.

Langkah Penyelamatan Teluk
Melihat krisis Teluk Kendari yang memprihatinkan sekarang sudah saatnya
pemerintah daerah, baik Pemkot maupun Pemprov, mengambil langkah ekstrim demi
penyelamatan ikon kota tersebut. Selain melakukan pengerukan, tak kalah penting
adalah penanaman kembali pohon bakau dan mangrove di sekitar teluk serta
sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat tentang larangan membuang
sampah di teluk ini. Jika tidak, maka jangan heran jika nama Teluk Kendari kelak
tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita.

Secara Kasat Mata, selama ini upaya yang dilakukan Pemerintah Kota
Kendari untuk meraih Adipura, pembersihan hanya saja dilakukan di darat. Tapi
kawasan perairan seolah-olah diabaikan. Akibatnya pendangkalan teluk kendari tidak
bisa teratasi lagi. Hal ini diungkapkan KEtua Walhi Sultra Suhartono, ketika di temui
di Swiss Bell Hotel Kendari. Saat ini berdasarkan pantauanya, disepanjang Teluk
Kendari tumpukan sampah sudah semakin mengunung karena dijadikan tempat
pembuanagn sampah terbesar oleh masyarakat baik itu disengaja maupun tidak.
Untuk bisa meminimilasi kerusakan pendangkalan teluk, perlu adanya
pertemuan antara pemerintah Provinsi, Kota, LSM DPRD, dan masyarakat,
pertemuan itu diadakan duduk bersama guna membicarakan penyelesaian sampah
yang siudah sangat memperihatinkan. Kenapa harus melibatkan Pemerinta Provinsi,
karena pendangkalan juga diakibatkan sampah atau lumpur kiriman dari dua
kabupaten, yakni Konsel dan Konawe. Karena ini sudah mencakup dua Kabupaten,
maka akan menjadi kewenangan Provinsi, "katanya. Dikatakanya, kedua Kabupaten
itu memiliki subangsih dalam proses terjadinya pendangkalan. Malkanya, itu perlu
adanya pertemuan apakah itu sekali dalam sebulan atau dua bulan sekali.
Sebagai pemerhati lingkungan, lembaga ini sangat mendukung upaya pemerintah
dalam hal penenganan teluk. Hanya, pemerintah sendiri tidak ada keterbukaan dengan
lembaga ini, sehingga upaya itu tidak bisa berjalan dengan baik karena adanya
keterbatsan akses. Namun, hal itu tersu disuarakan lembaga tersebut.
Jika tidak ada kesadaran dari masyarakat, yang menjadi penyuplai limbah
sampah rumah tangganya ke hulu. Sekarang sudah saatnya kita semua mengambil
langkah ekstrim demi penyelamatan ikon kota tersebut. Selain melanjutkan
pengerukan secepatnya, kita juga melakukan penanaman kembali pohon bakau dan
mangrove di sekitar teluk serta sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat
tentang larangan membuang sampah di teluk ini. Jika tidak maka jangan heran jika
nama Teluk Kendari kelak tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu.
Laut dan segala isinya merupakan nikmat yang sangat besar yang diberikan
oleh Allah Swt kepada umat manusia. Oleh karena itu, kita sebagai umat manusia
harus dapat menjaga dan melestarikannya sebagai salah satu kekayaan kita yang tak
ternilai harganya. Kita juga tidak boleh mencemari apalagi sampai merusak ekosistem
yang ada di laut karena hal ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi
diri kita semua. Begitu banyak bencana alam yang terjadi baik itu di darat maupun di
laut yang telah menimpa kita hari ini, seolah-olah alam marah kepada kita semua. Itu
semua disebabkan karena perbuatan kita sendiri yang telah merusak lingkungan alam
sehingga keseimbangan ekosistem yang ada didalamnya menjadi terganggu. Padahal
apabila kita berbuat baik kepada alam, alam juga senantiasa memberikan yang terbaik
untuk kita semua.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Illegal logging merupakan salah satu kasus di sektor kehutanan Indonesia.
Penebangan kayu secara liar (illegal logging) merupakan gejala yang muncul akibat
berbagai permasalahan yang sangat kompleks melibatkan banyak pihak dari berbagai
lapisan. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian yang intensif dan kooperasi yang
solid antar pihak.Beberapa Sumber daya Alam yang sudah termanfaatkan atau
dilakukan kegiatan eksplorasi yaitu tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang
nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, tambang minyak di
Kabupaten Buton Utara dan Buton, Tambang Emasdi Bombana, dan potensi tambang
marmer, batu granit dan krom yang tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi
Tenggara. Teluk kendari merupakan bentuk perairan estuari dan ditumbuhi taman
spesifik pantai yakni mangrove disepanjang pantainya. Sebaran mangrove yang
tersisa sekarang dikawasan teluk kendari berada pada kawasan sebelah barat dan
selatan teluk. Teluk Kendari teluk ini telah mengalami pendangkalan yang sangat
pernah sehingga bias dialihkan fungsikan oleh masyarakat pinggiran teluk sebagai
lapangan apabila terjadi pasang surut disore hari.

3.2 SARAN

Dari makalah ini semoga dapat diambil manfaat untuk penulisan dan pembaca.
Adapun saran yang dapat saya kemukakan adalah : Masyarakat agar lebih sadar lagi
sehingga tidak terjadi illegal logging, Melakukan penyuluhan-penyuluhan tentang
pengrusakan ekosistem mangrove yang ada di Teluk Kendari, Melindungi dan
melestarikan hutan bakau yang ada di sekitar kawasan Teluk Kendari dengan cara
menanam lebih banyak lagi pohon bakau, karena semakin banyak pohon bakau yang
ada, maka kemungkinan terjadinya erosi dan kerusakan ekosistem yang ada di laut
akan semakin lebih kecil.
DAFTAR PUSTAKA

www.pewarta_kabarindonesia.blogspot.com.Krisis Teluk Kendari.Diakses Maret
2008

www.kendaripos.co.id. Menjaga Teluk Kendari agar Tetap Lestari. Diakses Maret
2008

www.id.wikipedia.org./wiki/berkas/kerusakan_hutan.Kerusakan
HutanMempengaruhi Lingkungan.Diakses Maret 2008

Diessel 1981 Pembentukan batubara Erlangga , Jakarta.

http://www.bangauzul.com/masalah-pengelolaan-tambang.
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/04/23/problematika-penanganan-
illegal-logging-di-indonesia/

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.