Warga Fisika mana yang tak kenal Prof. Dr. Rer. Nat. Eko Minarto?.

Dosen muda bergelar
professor ini telah menyelesaikan pendidikannya di Jerman. Negara yang terkenal dengan
teknologinya yang sangat maju dan juga memiliki perusahaan-perusahaan yang sangat terkenal di
kelas dunia seperti Mercedes-Benz, BMW, dan juga Addidas ini menjadi salah satu pilihan dosen
muda ini dalam melanjutkan pendidikan S3 nya, daripada melanjutkan di negara tetangga, Australia.
Melalui beasiswa DIKTI-lah beliau mampu menyelesaikan pendidikan doktornya di Institute of
Geophysics University of Hamburg. Sosok yang dilahirkan di kota Jombang ini merupakan tokoh
yang cerdas. Sejak kecil beliau memang telah sering mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya.
Tak heran jika beliau mampu menyelesaikan pendidikan S1 sekaligus gelar masternya di ITB, hingga
kemudian mendapat gelar doktornya di Jerman.
Beliau menuturkan, berbagai pengalaman beliau dapatkan selama menyelesaikan studinya di
Jerman. Banyak sekali hal-hal dan juga kebiasaan-kebiasaan berbeda yang beliau temui, mulai dari hal
kecil seperti makanan, budayanya, hingga kegiatan perkulihannya. Beliau mengaku membutuhkan
waktu kurang lebih 3 bulan agar mampu menyesuaikan dengan lingkungan dan juga cuaca Jerman
hingga akhirnya mampu menyelesaikan waktu 4.5 tahun dalam menempuh gelar doktornya. Dosen
muda ini mengatakan sempat tinggal di guest house selama beberapa bulan, yang dinilai berkisar
kurang lebih 1000 Euro (15 juta) setiap bulan, hingga akhirnya memutuskan untuk berpindah di
appartemen. Selain itu, untuk transportasinya, beliau hanya menggunakan semester tiket. Dimana
semester tiket itu dapat digunakan pada berbagai jenis transportasi, seperti kereta, baik kereta
bawah tanah maupun kereta biasa, bus, dan transportasi umum lainnya. Dilihat dari segi
makanannya, dosen yang doyan sekali dengan rendang ini mengaku sangat merindukan makanan
Indonesia saat berada di Jerman. Tak heran beliau kerap membawa rendang, abon, sambel teri dan
makanan Indonesia yang lain sekembalinya dari Indonesia. Namun, beliau juga mengatakan bahwa
telah terdapat took yang menjual makanan Indonesia, yang dikenal dengan “Toko Indonesia”. Tak
hanya itu, 4.5 tahun tinggal di Jerman, beliau juga telah merasakan bagaimana berpuasa di Jerman.
“Selain makanannya, salah satu yang jadi problemnya waktu di sana adalah saat bulan Romadhon.
Kebetulan romadhon 3,4 tahun terakhir pas summer, jadi waktu shubuh di sana sekitar jam 2 malam
dan magrib sekitar jam setengah 11 malem, jadi puasanya sekitar 20 jam dan itu sangat terasa”,
tuturnya. Tetapi, hal itu tidak menjadi penghalang untuk dosen muda ini melakukan ibadahnya.
Tak hanya itu, Beliau yang tinggal di Hamburg ini mengatakan, bahwa lebih banyak warga
pendatang dibandingkan dengan warga asli daerah tersebut. Sehingga, beliau banyak sekali bertemu
dengan orang-orang dari berbagai negara, seperti Arab, China, Afrika, Turki. Yang mana memiliki
kepercayaan maupun agama yang berbeda-beda. Namun, sikap toleransi yang dimiliki cukup tinggi
terhadap adanya perbedaan agama tersebut. Beliau juga menuturkan bahwa terdapat pula
Perkumpulan Pelajar Indonesia (PPI), serta komunitas yang dikenal dengan sebutan Likof. Yang
melakukan berbagai kegiatan, seperti pengajian, dsb, yang dilakukan setiap satu bulan sekali, yakni
pada minggu ketiga. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang beliau dapatkan saat

karena segala sesuatu serba mungkin terjadi dalam hidup ini”. Rasa putus asa yang mendera kita harus kita singkirkan jauh-jauh. . Hingga beliau berpesan “Hidup adalah Impian.menyelesaikan pendidikan doktornya di Jerman. karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi.