Planaria dapat beregenerasi akibat dari adanya beberapa faktor yang

mendukung. Faktor lingkungan yang pertama adalah intesitas cahaya.
Berdasarkan hasil penelitian Lisdalia (2006) bahwa semakin tinggi intensitas
cahaya, regenerasi planaria semakin lambat, dan dalam penelitian ini diperoleh
data hasil pengukuran intensitas cahaya yaitu 500 dan 1000 lux. Data 500 lux
diukur dalam cuaca mendung dan data 1000 lux diukur dalam cuaca cerah,
sehingga dari hasil pengukuran dapat dinyatakan bahwa pada intensitas cahaya
500 dan 1000 lux planaria masih mampu beregenerasi dengan baik karena
intensitas cahaya antara 500 dan 1000 lux saja. Jadi, untuk mengontrol
petumbuhan planaria yang maximal sebaiknya tidak diletekan di tempat yang
memiliki intesitas cahaya yang begitu kuat. Yang selanjutnya ada faktor pH dan
suhu.
pH air merupakan suatu ukuran keasaman air yang dapat mempengaruhi
kehidupan tumbuhan dan hewan perairan, sehingga dapat digunakan untuk
menyatakan baik buruknya kondisi suatu perairan sebagai lingkungan hidup. Air
sangat asam atau basa tidak akan mendukung banyak kehidupan didalamnya, pH
yang baik adalah normal (Dirdjosoemarto, 1993). Planaria bisa menjadi indikator
perairan yang masih baik. Artinya perairan (sungai) yang memiliki indikator
belum tercemar atau belum sepenuhnya tercemar akan ditemukan planaria disana.
Dari indikator tersebut dapat dibutikan bahwa planaria dapat hidup dengan
kondisi pH air yang sesuai.
Fanny & Veyl (2006) menyatakan, proses regenerasi planaria maksimal
terjadi pada rentang pH 3,5 - 5,0 dan enzim yang mengatur regenerasi menjadi
inaktif pada pH diatas 7,2. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan, walaupun
pH air sungai masih dalam rentang maksimal, tetapi kondisi sungai yang keruh,
tetap saja planaria tidak akan dapat tumbuh karena kondisi air yang keruh mendaji
indikasi adanya sisa-sisa makanan yang hal itu membuat planaria menjadi tidak
bisa beregenarasi (mati).
pH air dalam praktikum ini memang tidak di ukur, tetapi kondisi air cukup
jernih, sehingga hal tersebut mampu membuat planaria beregenerasi terhadap air
sungai tersebut.

Planaria melengkapi bagian tubuhnya yang hilang menjadi individu yang lengkap. 2006). Menurut Brotowidjoyo (1994) bahwa metabolisme tubuh bagian anterior lebih tinggi dari metabolisme tubuh bagian posterior. Setiap organisme pasti membutuhkan makanan untuk hidupnaya. bukan air suling ataupun air ledeng. Faktor lainya adalah sumber makanan. Semakin berkurang suhunya lama waktu regenerasi semakin lambat. Untuk itu pada praktikum ini. Demikian juga dengan bertambahnya suhu. sedangkan pada bagian posterior akan melingkar dan tidak bergerak. pada kisaran suhu tersebut planaria beregenerasi dengan maksimal. . Planaria hanya bisa ditempatkan pada mata air atau kolam. yaitu pada suhu 140-18 ℃ . dalam waktu 10 hari setelah pemotongan (Suciati. regenerasi planaria paling cepat pada suhu 15 ℃ dengan lama waktu 1.21 detik. Karena waktu pengamatan yang dilakukan pada praktikum ini hanya 7 hari saja. lama waktu regenerasi semakin lambat dan pada suhu lebih dari 36 ℃ planaria mengalami kematian. setelah beberapa saat barulah bergerak normal kembali. Karena air suling dan air ledeng tidak mengandung mineral dan nutrisi untuk planaria melainkan mengandung klorin dan florida yang bisa menyebabkan kematian. Suhu optimal untuk regenerasi. Dinyatakan juga. maka untuk terlihat bagian yang lengkap tidak mungkin dapat terlihat. Hanya sampai pada pembentukan organ-organ sederhana saja. Planaria yang tubuhnya dibagi atau dipotong bagian anterior lebih banyak dan lebih cepat bergerak normal kembali. air sungai tempat hidup planaria dipilih menjadi medium untuk pertumbuhannya. dari hasil pengukuran suhu selama penelitian diperoleh data suhu pada rentang 23-29 ℃ yang berarti masih dalam kisaran toleransi planaria untuk beregenerasi.

pdf. Com / SC / 57C / S57C054 / . Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Kecepatan Regenerasi Non Alami Cacing Planaria. Jakarta: Depdikbud Direktoral Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. http: // www.Suciati. S. 1994. Pengaruh Suhu Air Terhadap Kecepatan Regenerasi Planaria di Semirang Kabupaten Semarang. Znatur Forsch. B & Z. Zoologi Dasar. 2006. . Lisdalia. D. Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara DIII. M. Ekologi. Jakarta: Erlangga. Aspartic Proteinase in Dugesia trigina (Girard) Planaria. 19 Januari 2006. Skripsi. 2006. Skripsi. Brotowidjoyo. 1993. Semarang: FMIPA UNNES. Semarang: FMIPA UNNES. Veyl. 2006. Fanny. Semarang. Dirdjosoemarto. S.