Nama : F.

Robertus

No. Reg : 7616167569

Mata Kuliah : Pembiayaan Pendidikan

Program Studi : Manajemen Pendidikan S2

Dosen : Dr Abdul Kahar, M. Pd dan Dr Francis Tantri, M.Pd

1. Pembiayaan pendidikan dikenal istilah biaya rutin, biaya pembangunan,
biaya satuan, biaya langsung, biaya tak langsung dan biaya kesempatan.
Jelaskan peristilahan tersebut agar dapat dipahami perbedaannya!

Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun seperti
gaji pegawai (guru dan nonguru).
Biaya pembangunan adalah biaya yang meliputi pembelian dan
pengembangan tanah, pembangunan gedung, perbaikan atau rehab gedung,
penambahan furnitur serta biaya pengeluaran lain utnuk barang-barang yang tidak
habis dipakai.
Biaya satuan adalah biaya pendidikan tingkat sekolah baik yang bersumber
dari pemerintah, orang tua dan masyarakat yang dikeluarkan untuk
penyelenggaraan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan per murid
merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan
ke sekolah-sekolah.
Biaya langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan
pengajaran dan kegiatan belajar siswa berupa pembelian alat-alat pelajaran, sarana
belajar dan biaya transportasi
Biaya tak langsung adalah biaya yang tidak dapat ditelusuri dengan mudah ke
objek biaya yang bersangkutan.
Biaya kesempatan biaya yang dikorbankan oleh siswa selama belajar.
Dengan kata lain dapat diartikan sebagai nilai alternatif terbaik yang hilang.

1
2. Pendidikan merupakan hak warga negara, yang sekaligus menjadi tanggung
jawab pemerintah. Untuk pembiayaan pendidikan dimaksud dari mana saja
asal sumber keuangan pendidikan? Jelaskan dan beri contoh penerapannya di
era otonomi daerah saat ini!
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menyatakan bahwa tujuan nasional adalah untuk melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selanjutnya
pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengamanatkan bahwa (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2)
setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya; (3) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-
undang; (4) negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20%
dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan
belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaran pendidikan nasional; (5)
pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi
nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta
kesejahteraan umat manusia. Jadi berdasarkan penjelasan atas Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dapat
disimpulkan bahwa sumber pembiayaan pendidikan berasal dari APBN dan APBD.
Pada era otonomi daerah kewenangan terpusat sebagian telah diserahkan pada
pemerintah daerah(kabupaten/kota) melalui UU No. 22 Tahun 1999 (Sekarang UU
No. 32 Tahun 2004) tentang Pemerintahan Daerah. Hal ini dilakukan sebagai upaya
menerapkan sistem desentralisasi pemerintahan yang sebelumnya menganut sistem
sentralistik.
Pembenahan manajemen pendidikan nasional dalam setiap level mutlak
diperlukan untuk memberdayakan seluruh potensi pendidikan sejak dari pusat
hingga pada satuan-satuan pendidikan. Salah satu solusi yang paling mendasar
adalah melalui otonomi daerah. Sistem otonomi daerah ini akan membuka peluang
lebih baik meskipun dipihak lain juga akan membuka persoalan baru. Secara teknis
sebagaimana dijelaskan pada PP Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan
2
Pendidikan pada pasal 2 bahwa (1) Pendanaan Pendidikan menjadi tanggungjawab
bersama antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. (2) Masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi (a) penyelenggara atau satuan
pendidikan yang didirikan masyarakat; (b) peserta didik, orang tua atau wali peserta
didik; dan (c) pihak lain selain yang dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang
mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. Sebagai contoh
penerapan pembiayaan pendidikan di era otonomi daerah, dapat dilihat dari hasil
penelitian Nanang Fattah untuk disertasinya pada tahun 1999 dengan judul “Studi
Tentang Pembiayaan Pendidikan Sekolah Dasar: Analisis Hubungan Pembiayaan
Pendidikan Dengan Mutu Proses dan Hasil Belajar Siswa SDN Se-Kabupaten
Bandung”. Gambaran yang diperoleh dari hasil studi tersebut menunjukkan bahwa
sumber terbesar yang digunakan untuk penyelenggaran pendidikan SDN adalah
yang berasal dari pemerintah pusat sebesar 90,55%, orang tua sebesar 6,88%,
pemerintah daerah sebesar 2,17% dan masyarakat 0,40%.1
3. Bagaimana pola penganggaran pendidikan dasar dibeberapa negara? Coba
jelaskan dari masing-masing pola tersebut dan mana yang paling cocok
diterapkan di Indonesia!
Merujuk dari beberapa sumber pakar di bidang pembiayaan pendidikan, ada
sebelas model pembiayaan pendidikan secara umum terjadi dinegara-negara maju
dan berkembang yaitu:
1. Model Flat Grant
Model Flat Grant adalah dana bantuan dari negara dialokasikan ke sekolah di
daerah-daerah tanpa memperhitungkan berbagai pertimbangan kemampuan
membayar pajak antara daerah itu untuk keperluan pendidikan di sekolah-sekolah.
Menurut Lunenberg dan Ornstein, model ini merupakan model pembiayaan
pendidikan paling kuno, sederhana dan keuangan sekolah paling tidak memadai.
2. Model Landasan Perencanaan
Model ini menurut Lunenberg dan Ornstein merupakan pendekatan yang
paling umum dan tujuannnya untuk menjamin pengeluaran tahunan per siswa
seluruh sekolah di daerah terlepas dari kekayaan yang dapat dikenakan pajak lokal.
Kekuatan model ini mendapat sokongan dan menyeluruh dari pemerintah.

1Bahan Bacaan dari Mulyono MA. 2010. Konsep Pembiayaan Pendidikan. Yogyakarta: AR-RUZZ
MEDIA.

3
3. Model Perencanaan Pokok Jaminan Pajak
Model perencanaan pokok jaminan pajak yang mana anggaran pendidikan
ditentukan oleh seberapa besar pajak yang akan digunakan untuk pendidikan.
4. Model Persamaan
Model persamaan ditentukan dalam menghitung program yang sama suatu
keseragaman jumlah disetujui setiap siswa, tiap guru atau bagian lain yang
dibutuhkan tanpa memberi pertimbangan pada perbedaan-perbedaan dari tiap-tiap
pembayaran dan pelayanan pendidikan.
5. Model Persamaan Persentase
Di bawah model persamaan ini sumbangan-sumbangan negara dibagikan
kepada sekolah daerah-daerah setempat dalam proporsi yang terbalik sesuai
dengan kemampuan pembayaran pajak setempat. Sumbangan lebih banyak
disediakan untuk tiap murid, guru dan kebutuhan lain yang dibagikan ke daerah
yang lebih memerlukan.
6. Model Perencanaan Persamaan Kemampuan
Model perencanaan persamaan kemampuan merupakan rencana negara
dengan membayar sebagian kecil pengeluaran sekolah setempat dalam
perbandingan untuk daerah makmur.
7. Model Pendanaan Negara Sepenuhnya
Model pendanaan negara sepenuhnya adalah semuan pendanaan sekolah
akan dikumpulkan ditingkat negara dan didistribusikan ke sekolah-sekolah dengan
dasar yang sama. Kekuatan model pembiayaan pendidikan pendanaan sepenuhnya
oleh negara, yaitu dengan cara mengumpulkan pendanaan semua sekolah dan
mendistribusikannya secara merata
8. Model Sumber Pembiayaan
Model ini menyediakan suatu proses penentuan bagaimanakah pembiayaan
pendidikan yang memadai agar didapatkan bantuan finansial yang mencerminkan
kebutuhan mana yang kondisi ekonomi masyarakatnya berbeda setiap daerah.
9. Model Surat Bukti/Penerimaan
Melalui model ini pemerintah dalam merencanakan dana akan menetapkan
tanda bukti penerimaan menentukan sejumlah biaya pembelanjaan kebutuhan
sekolah yang dimungkinkan bagi para orang tua untuk menutupi ongkos
keseluruhan pendidikan anak mereka. Pembayaran negara akan bergantung pada
usaha dan level pendapatan negara.
4
10. Model Rencana Bobot Siswa
Melalui model ini siswa-siswa dipertimbangkan dalam proporsi sifat-sifat yang
khusus atau siswa program khusus untuk menentukan biaya pengajaran per siswa.
Model ini sangat mempertimbangkan kondisi siswa dalam proporsi sifat-sifat yang
khusus seperti siswa-siswa yang cacat.
11. Model Pendanaan Berbasis Anak.
Perencanaan pendanaan berbasis anak dapat berupa bantuan nyata berupa
tanggungan secara menyeluruh untuk membantu anak-anak sekolah.

Di Indonesia tidak ada aturan baku model pembiayaan pendidikan yang
digunakan. Akan tetapi pembiayaan yang ada lebih menunjukkan pembauran
pembiayaan pendidikan meliputi pembiayaan oleh negara, masyarakat dan investor.
Dari beberapa beberapa model yang ditampilkan, ada lima model yang sekiranya
saling dintegrasikan antara satu dengan yang lain untuk diterapkan baik tingkat
pusat maupun daerah yaitu: (1) model flat grant, (2) model landasan perencanaan,
(3) model pendanaan negara sepenuhnya, (4) model rencana bobot siswa, dan (5)
Pendanaan berbasis anak. Mengapa ini dipilih, agar terjadi efektivitas dan efisiensi
pendistribusian anggaran.
4. Jelaskan penerapan pendekatan sistem dalam pembiayaan pendidikan dan
mungkinkah Indonesia menerapkan pembiayaan pendidikan dalam bentuk
Cost Sharing? Jelaskan kenapa!
Pendidikan dalam operasionalnya tidak dapat dilepaskan dari masalah biaya.
Biaya pendidikan yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pendidikan tidak akan
tampak hasilnya secara nyata dalam waktu relatif singkat. Tingkat pengeluaran
biaya pendidikan merupakan indikator upaya keuangan negara untuk investasi
terhadap sumber daya manusia dan menunjukkan skala prioritas dia antara sektor-
sektor dalam pengalokasian keuangan negara. Pemerintah Indonesia sejak tahun
2009 telah memenuhi biaya pendidikan 20% dari APBN dan APBD menunjukkan
keseriusan pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber dya masyarakat melalui
jalur pendidikan. Dengan melihat kemampuan pemerintah dan masyarakatnya,
Indonesia dimungkinkan untuk menerapkan pembiayaan pendidikan dalam bentuk
Cost Sharing. Mengapa? Karena merupakan tanggung jawab kita semua untuk
meningkatkan mutu proses pembelajaran dan mutu lulusan. Sehingga dengan
demikian akan diperoleh hasil pendidikan yang lebih baik lagi.
5
6

Related Interests