MAKALAH K3

“DEFENISI , RUANG LINGKUP, DAN PERATURAN TENTANG PENYAKIT AKIBAT
KERJA”

KELOMPOK :
RAY VALDI DWI PUTRA J1A116
NUR ANNISA J1A116086
NUNUNG TRIWAHYUNI J1A116085
SITTI UMRAWANA J1A116
NOVI DAMAYANTI H J1A116
SITTI SUSANTI J1A116
SITTI WULAN PURNAMA WAHDA SYAM J1A116

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat
rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Penyakit Akibat Kerja. Makalah ini
diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah SIKK (Sanitasi Industri dan Keselamatan Kerja).

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya
makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Makassar,23 September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................... i
Daftar Isi ...................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Rumusan masalah ...................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................ 2
Bab II Pembahasan
A. Defenisi Penyakit Akibat Kerja ................................................. 3
B. Ruang Lingkup Penyakit Akibat Kerja ....................................... 3
C. Penyebab Penyakit Akibat Kerja................................................. 3
D. Faktor-Faktor Penyebab Penyakit akibat Kerja ......................... 6
E. Pencegahan Penyakit Akibat Kerja ........................................... 7
F. Peraturan tentang Penyakit Akibat Kerja...................................
Bab III Penutup
A. Kesimpulan ................................................................................ 9
B. Saran .......................................................................................... 9

baik itu petani. pekerja tambang. sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja. buruh pabrik. Ibarat pepatah bermain air basah. maupun pegawai kantoran sekalipun. sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia.398 kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya penerapan sebuah sistem manajemen keselamatan dan kesehatan Kerja (SMK3) di tempat kerja berbasis paradigma sehat. namun angka tersebut masih tergolong tinggi. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. bermain api hangus. pemerintah mencatat telah terjadi sebanyak 54. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Meski menunjukkan tren menurun.1 Latar Belakang Setiap pekerjaan di dunia ini hampir pasti tak ada yang tak berisiko. Sebagai faktor penyebab. namun juga bisa berdampak pada masyarakat sekitar. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada .BAB 1 PENDAHULUAN 1. Kecelakaan dan sakit akibat kerja sudah menjadi risiko setiap orang yang melakukan pekerjaan. Kerugian akibat kecelakaan kerja tidak hanya dirasakan oleh tenaga kerja itu sendiri. Kecelakaan kerja di sebuah pabrik gula di Jawa Tengah menyebabkan empat pekerjanya tewas dan di Tuban Jawa Timur seorang meninggal dan dua orang lainnya terluka akibat tersiram serbuk panas saat bekerja di salah satu pabrik semen adalah beberapa contoh kasus kecelakaan kerja yang mengakibatkan kerugian bahkan sampai menghilangkan nyawa. nelayan. Sepanjang tahun 2009.

2 Tujuan Khusus 1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Untuk mengetahui ruang lingkup Penyakit Akibat Kerja 3. tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca agar lebih mengerti tentang penyakit yang diakibatkan akibat kerja dan dapat mengurangi korban kecelakaan kerja guna meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja... Peraturan tentang penyakit akibat kerja ? 1.3. Ruang lingkup penyakit akibat kerja ? 3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui terjadinya Penyakit Akibat Kerja. Dan mencegah penyakit yang disebabkan saat kerja guna meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja 1. . Untuk mengetahui peraturan tentang penyakit akibat kerja . 1. Untuk mengetahui pengobatan dan perawatan Penyakit Akibat Kerja. Untuk mengetahui pencegahan dari Penyakit Akibat Kerja. Apa defenisi penyakit akibat kerja ? 2. maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana memahami penyakit akibat kerja. Untuk mengetahui defenisi Penyakit Akibat Kerja.3. 4. 6. keluarga dan lingkungannya. 5. 1. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.3 TUJUAN 1. Untuk mengetahui beberapa Penyakit Akibat Kerja.diri. 2.

3 Bagi Masyarakat Agar lebih mengerti dan memahami tentang penyakit akibat kerja serta pencegahanya. .4.... 1.4.2 Bagi institusi Agar dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang penyakit akibat kerja. penyebab penyakit akibat kerja serta pencegahannya.1 Bagi mahasiswa Agar mampu memahami tentang penyakit akibat serta perawatannya.1.4.4 Manfaat 1. 1.

yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui. Dalam melakukan pekerjaan apapun. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan. proses maupun lingkungan kerja Sebuah hal yang subtansi dari kehidupan kita adalah pentingnya pekerjaan. BAB II PEMBAHASAN 2 . alat kerja. dihasilkan definisi menyangkut PAK sebagai berikut: 1. a. b. untuk memahami lebih dalam kami akan mendefinisikan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan. alat kerja. Penyakit Akibat Kerja – Occupational Disease adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan. sebenarnya kita berisiko untuk mendapatkan gangguan Kesehatan atau penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut.alat kerja . Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan – Work Related Disease adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab. 1 Defenisi Penyakit Akibat Kerja Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan. proses maupun lingkungan kerja. bahan . bahan. 2. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease. proses maupun lingkungan kerja. bahan. namun kadang dengan pekerjaan membuat seluruh organ-organ tubuh jenuh dengan aktifitas yang sering kita lakukan.Oleh karena itu . Dengan demikian penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang artifisual atau man made disease Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (International Labour Organization) di Linz. karena dengan bekerja kita dapat menghidupi kehidupan kita secara jasmani. penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan. Sehingga organ tubuh mengalami sutu hal yang membuat kita merasa sakit. dimana faktor pekerjaan memegang . Austria.

misalnya Bronkhitis khronis. 2005 ). Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan. Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis yang banyak dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi. Atau . penyakit akibat kerja adalah suatu masalah Kesehatan yang disebabkan oleh pajanan berbahaya di tempat kerja. 2. Sedangkan dari definisi kedua tersebut. 2. misalnya asma. 3.. Penyakit yang Mengenai Populasi Kerja – Disease of Fecting Working Populations adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab ditempat kerja.2 Ruang Lingkup penyakit akibat kerja Dalam melakukan tugasnya di perusahaan seseorang atau sekelompok pekerja berisiko mendapatkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja. WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja. peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi kompleks. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan. 3. namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan Menurut Cherry. “ An occupational disease is health problem caused by exposure to a workplace hazard ” ( Workplace Safety and Insurance Board. Di sini menggambarkan bahwa secara sederhana sesuatu yang disebabkan . or made worse . misalnya Karsinoma Bronkhogenik. atau diperburuk . 4. yaitu: a. oleh pajanan di tempat kerja . Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktor-faktor penyebab lainnya. yaitu: 1. by exposure at work. c. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya. Penyakit Silikosis . misalnya Pneumoconiosis. 1999 “ An occupational disease may be defined simply as one that is caused .

Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit- penyakit akibat kerja. Pada saat dibakar. timah putih dan tambang batubara. keramik. Masa inkubasi ini akan lebih pendek. Batuk ini seringkali tidak disertai dengan dahak. menggerinda. pengecoran beton. bengkel yang mengerjakan besi (mengikir. Debu silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja. Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas. seperti debu alumina. astma broonchiale dan penyakit saluran pernapasan lainnya. pabrik beratap asbes dan lain sebagainya. dll). Ujung-ujung jari penderitanya akan . debu silika akan keluar dan terdispersi ke udara bersama – sama dengan partikel lainnya. Selain dari itu. Penyakit Asbestosis Penyakit Asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. atau gejala penyakit silicosis akan segera tampak. Tindakan preventif lebih penting dan berarti dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. gejala sesak nafas yang disertai terlihat dan pada pemeriksaan fototoraks kelainan paru- parunya mudah sekali diamati. selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu – waktu diperlukan.Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2 sampai 4 tahun. Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan mengakibatkan gejala sesak napas dan batuk-batuk yang disertai dengan dahak. Pada silicosis tingkah sedang. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkan debu silika bebas SiO2. pabrik pemintalan serat asbes. debu silika juka banyak terdapat di tempat di tempat penampang bijih besi. Debu asbes banyak dijumpai pada pabrik dan industri yang menggunakan asbes. Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja. b. apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap ke paru-paru dalam jumlah banyak.Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ketat sebab penyakit silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Penyakit silicosis akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah menderita penyakit TBC paru-paru. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk-batuk. namun yang paling utama adalah Magnesium silikat. Asbes adalah campuran dari berbagai macam silikat. berupa SiO2 yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. oksida besi dan karbon dalam bentuk abu. bronchitis.

Masa inkubasi penyakit ini antara 2 – 4 tahun. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara. Bila hal ini terjadi maka penyakitnya disebut silikoantrakosis. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala awal bisinosis. penyakit silikoantraksosis dan . penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema. Penyakit Antrakosis Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu batubara. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat. seperti pengumpa batubara pada tanur besi. pabrik tekstil. Tanda-tanda awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas. Penyakit Bisinosis Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. c. yaitu sekitar 5 tahun. Seperti halnya penyakit silicosis dan juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya.tampak membesar / melebar. Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. terutama pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). lokomotif (stoker) dan juga pada kapal laut bertenaga batubara. Pemakaian asbes untuk berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan kesadaran akan keselamatan dan kesehatan lingkungan agar jangan sampai mengakibatkan asbestosis ini. d. Karena pada debu batubara terkadang juga terdapat debu silikat maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan penyakit silicosis. Apabila dilakukan pemeriksaan pada dahak maka akan tampak adanya debu asbes dalam dahak tersebut. terasa berat pada dada. Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama. pembuatan jok kursi dan lain sebagainya. Penyakit antrakosis ada tiga macam. seperti tempat pembuatan kasur. penyakit antrakosis juga ditandai dengan adanya rasa sesak napas. perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang menggunakan kapas atau tekstil. serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara. yaitu penyakit antrakosis murni.

pekerja-pekerja yang banyak menggunakan seng (dalam bentuk silikat) dan juga mangan. Penyakit Saluran Pernafasan PAK pada saluran pernafasan dapat bersifat akut maupun kronis. baik yang berupa logam murni. e. Penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi berat. oksida. Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. batuk kering dan sesak napas. Dapat disebabkan oleh bahan kimia seperti nitrogen oksida.penyakit tuberkolosilikoantrakosis. pabrik pembuatan tabung radio dan juga pada pekerja pengolahan bahan penunjang industri nuklir. Penyakit antrakosis menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau emphysema yang memungkinkan terjadinya kematian. Sedangkan paenyakit tuberkolosilikoantrakosis lebih mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis lainnya. sulfat. Kalau terjadi emphysema maka antrakosis murni lebih berat daripada silikoantraksosis yang relatif jarang diikuti oleh emphysema. Debu logam tersebut dapat menyebabkan nasoparingtis. Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantraksosi sulit dibedakan. Sering didiagnosis sebagai tracheobronchitis akut atau karena virus. missal: asbestosis. Penyakit Beriliosis Udara yang tercemar oleh debu logam berilium. kecuali dari sumber penyebabnya. bronchitis dan pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam. maupun dalam bentuk halogenida. Penyakit Kulit . Selain dari itu. tembaga. dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang disebut beriliosis. Seperti gejala Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). pekerja pada pabrik fluoresen. Kronis. dapat juga menyebabkan penyakit beriliosis yang tertunda atau delayed berryliosis yang disebut juga dengan beriliosis kronis. Edema paru akut. Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja industri yang menggunakan logam campuran berilium. antara lain: a. Akut misalnya asma akibat kerja. serta juga adanya baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru. Perbedaan ini mudah dilihat dari fototorak yang menunjukkan kelainan pada paru-paru akibat adanya debu batubara dan debu silikat. Efek tertunda ini bisa berselang 5 tahun setelah Adapun beberapa penyakit akibat kerja. b. dan relatif tidak begitu berbahaya.

Penyakit Liver Sering di diagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis virus atau sirosis karena alkohol. Coronary Artery Disease Oleh karena stres atau Carbon Monoksida dan bahan kimia lain di tempat kerja. Pada umumnya tidak spesifik. ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan. kadang sembuh sendiri. g. tidak mengancam kehidupan. Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan yang merupakan penyebab. 90% merupakan penyakit kulit yang berhubungan dengan pekerjaan. Kanker Adanya presentase yang signifikan menunjukan kasus Kanker yang disebabkan oleh pajanan di tempat kerja. membuat peka atau karena faktor lain. . Dibuat rekomendasi tentang pencegahan terjadinya hilangnya pendengaran. Artritis dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang yang tidak wajar. Penting riwayat tentang pekerjaan. Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan. d. Dermatitis kontak yang dilaporkan. menyusahkan. Bukti bahwa bahan di tempat kerja. Kerusakan Pendengaran Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan akibat pajanan kebisingan yang lama. Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang dengan gangguan pendengaran. f. karsinogen sering kali didapat dari laporan klinis individu dari pada studi epidemiologi. c. serta bahan toksik yang ada. Gejala pada Punggung dan Sendi Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan penyakit pada punggung yang berhubungan dengan pekerjaan daripada yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. e. Pada Kanker pajanan untuk terjadinya karsinogen mulai > 20 tahun sebelum diagnosis.

derivate petroleum. Neuro pati perifer. Carbon disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis. radiasi. Penyakit yang Tidak Diketahui Sebabnya Alergi dan gangguan kecemasan mungkin berhubungan dengan bahan kimia atau lingkungan. butyl ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer. virus. methyl. Beberapa neurotoksin (termasuk arsen. Golongan biologik: bakteri. Heat Exhaustion. Golongan fisiologik/ergonomik: desain tempat kerja. suhu ekstrim. 5. Golongan fisik: bising. monotomi kerja. Sick building syndrome. Lebih dari 100 bahan kimia (a. Faktor Fisik  Suara tinggi atau bising dapat menyebabkan ketulian  Temperature atau suhu tinggi dapat menyebabkan Hyperpireksi. 2. tekanan udara. Golongan psikososial: stres psikis. Heat Stroke . beban kerja. berikut beberapa jenisnya yang digolongkan berdasarkan penyebab dari penyakit yang ada di tempat kerja 1. tuntutan pekerjaan. vibrasi. i.h. rokok. Masalah Neuropsikiatrik Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja sering diabaikan. Multiple Chemical Sensitivities (MCS). Dll 4. Faktor . gas. larutan. jamur. uap. timah. depresi SSP oleh karena penyalahgunaan zat-zat atau masalah psikiatri. Dll D. penerangan 2. Golongan kimiawi: semua bahan kimia dalam bentuk debu. pemakaian alkohol atau tidak diketahui penyebabnya. merkuri. sering dikaitkan dengan diabet. Heat Cramp. Miliaria.2 PENYEBAB PENYAKIT AKIBAT KERJA Tedapat beberapa penyebab PAK yang umu terjadi di tempat kerja.Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja 1. Kelakuan yang tidak baik mungkin merupakan gejala awal dari stres yang berhubungan dengan pekerjaan.I solven) dapat menyebabkan depresi SSP. kabut 3. mis: parfum.

dan terpencil)  Manifestasinya berupa stress E. keqmanan). type kwerja (monoton. kerja berlebihan. kerusakan kelainan janin. Tetanus  Parasitic Desiases: Ancylostomiasis. deformirtas tulang. alat kerja. kulit dan mukosa  Masuknya dapat secara akut dan sevara kronis  Efek terhadap tubuh: iritasi. dislokasi. kanker. ganguan metabolisme. cair. dan kontruksi yang salah  Efek terhadap tubuh: kelelahan fisik. hepatitis  Fungal Desiases: Anthrax. hubungan kerja komunikasi. Faktor Psikologi  Akibat organisasi kerja (type kepemimpinan. hasil sementara. lingkungan kerja yang salah. hasil samping(produk). Leptospirosis. keracunan sistematik. berulang-ulang. nyeri otot. asphyxia. TBC. Faktor Ergonomi/Fisiologi  Akibat cara kerja . Brucellosis. perubahan bentuk. kerja kurang. bahan tambahan. Faktor Biologi  Viral Desiases: rabies. sisa produksi atau bahan buangan  Bentuk: zat padat. kerja shif. korosif. Pencegahan Penyakit Akibat Kerja . dan kecelakaan 5. Radiasi sinar elektromagnetik infra merah dapat menyebabkan katarak  Ultraviolet dapat menyebabkan konjungtivitis  Radio aktif/alfa/beta/gama/X dapat menyebabkan gangguan terhadat sel tubuh manusia  Tekanan udara tinggi menyebabkan Coison Disease  Getaran menyebabkan Reynaud’s Desiase. Schistosomiasis 4. uap maupun partikel  Cara masuk tubuh dapat melalui saluran pernafasan. Polineurutis 2. posisi kerja. saluran pencerrnaan. 3. alergi. Faktor Kimia  Asal: bahan baku. gas.

Segara akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yng berkelanjutan Selain itu terdapat pula beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh agar bkerja bukan menjadi lahan untuk menuai penyakit. isolasi.6 PENCEGAHAN PENYAKIT AKIBAT KERJA Inilah beberapa tips dalam mencegah penyakit kerja. diantaranya: 1 Pakailah alat pelindung diri secara benar dan teratur 2 Kenali resiko pekerjaan dan cegah supayah tidak terjadi lebih lanjut . Inilah beberapa tips dalam mencegah penyakit kerja. a) Pencegahan Pimer – Healt Promotion  Perilaku kesehatan  Faktor bahaya di tempat kerja  Perilaku kerja yang baik  Olahraga  Gizi b) Pencegahan Skunder – Specifict Protection  Pengendalian melalui perundang-undangan  Pengendalian administrative/organisasi: rotasi/pembatasn jam kerja  Pengendalian teknis: subtitusi. diantaranya: 1. Pakailah alat pelindung diri secara benar dan teratur 2. alat pelindung diri (APD)  Pengendalian jalur kesehatan imunisasi c) Pencegahan Tersier  Pemeriksaan kesehatan pra-kerja  Pemeriksaan kesehatan berkala  Pemeriksaan lingkungan secara berkala  Surveilans  Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada kerja  Pengendalian segera ditempat kerja 2. Kenali resiko pekerjaan dan cegah supayah tidak terjadi lebih lanjut 3.

Pencegahan Tersier 1 Pemeriksaan kesehatan pra-kerja 2 Pemeriksaan kesehatan berkala 3 Pemeriksaan lingkungan secara berkala 4 Surveilans 5 Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada kerja 6 Pengendalian segera ditempat kerja 2.3 Segara akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yng berkelanjutan Selain itu terdapat pula beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh agar bkerja bukan menjadi lahan untuk menuai penyakit. . Pencegahan Skunder – Specifict Protection 1 Pengendalian melalui perundang-undangan 2 Pengendalian administrative/organisasi: rotasi/pembatasn jam kerja 3 Pengendalian teknis: subtitusi.7 PENELITAN OLEH WHO Dalam pengendalian penyakit akibat kerja. salah satu upaya yang wajib dilakukan adalah deteksi dini. Pencegahan Pimer – Healt Promotio 1 Perilaku kesehatan 2 Faktor bahaya di tempat kerja 3 Perilaku kerja yang baik 4 Olahraga 5 Gizi B. Dengan demikian. seningga pengobatan bisa dilakukan secepat mungkin. isolasi. alat pelindung diri (APD) 4 Pengendalian jalur kesehatan imunisasi C. A.

Pada medical check-up rutin tidak selalu diperlukan pemeriksaan medis lengkap. Perubahan kondisi fisik dan sistem tubuh yang dapat dinilai melalui pemeriksaan fisik laboraturium. uji kapsitas kerja fisik. tidak menimbulkan kecacatan lebih lanjut. Perubahan kesehatan umum yang dapat dinilai dari riwayat medis. Pada banyak kasus. Misalnya rasa kantuk dan iritasi mukosa setelah paparan terhadap pelarut-pelarut organik. Sekurang-kurangnya. penyakit bisa pulih tanpa menimbulka kecacatan. Pemeriksaan sebelum penempatan Pemeriksaan ini dilakukan sebelum seorang dipekerjakan atau ditempatkan pada pos pekerjaan tertentu dengan ancaman terhadap kesehatan yang mungkin terjadi. Misalnya elektrokardiogram. terutama bila tidak ada indkasi yang jelas. diukur dan dikontrol . Disamping itu perubahan awal seringkali bisa pulih dengan penanganan yang tepat. Kedua: populasi yang berisiko biasanya mudah didatangi Dn dapat diawasi secara teratur serta dilakukan pengobatan. Namun demikian ada dua faktor yang membuat penyakit ini mudah dicegah. penyakit akibat kerja bersifat berat dan mengakibatkan cact. radiologis. penurunan kada hemoglobin (HB). seperti mata dan telinga. urine. Pemeriksaan fisik yang di tunjang dengan pemeriksaan lain seperti darah. merupakan data dasar yang sangat berguna apabila terjadi gangguan kesehatan tenaga kerja setelah sekian lama bekerja. Sekurang-kurangnya ada tiga hal menurut WHO yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam deteksi dini yaitu: . 2. . Perubahan biokimiawi fan morfologis yang dapat di ukur melalui analisis laboraturium. uji saraf dan sebagainya. Pertama: bahan penyebab penyakit mudah diidentifikasi. serta organ tertentu. Karena itulah deteksi dini penyakit akibat kerja sangat lah penting. sitologi sputum yang abnormal dan sebagainya. Pemeriksaan kesehatan berkala Pemeriksaan kesehatan berkala sebenarnya dilaksanakan dengan selang waktu teratur setelah pemeriksaan awal sebelum penempatan. . Pemeriksaan ini juga harus difokuskan pada organ dan sistem tubuh yang memungkinkan terpengaruh bahan- . . Pemeriksaan Kesehatan 1. Misalnya hambatan aktifitas kolinesterase pada paparan terhadap pestisida organofosfat.

F. 1. Berkaitan dengan hal tersebut di atas perlu dibuat Pedoman Penyelesaian Kasus Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja yang dapat digunakan sebagai acuan bagi pihak-pihak terkait dalam menyelesaikan kasus. guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pasal 16 ayat (3) dan Pasal 17 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedelapan atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. dan 3. 2. maka pihak yang tidak menerima penetapan tersebut dapat meminta penetapan kepada Menteri. baik milik swasta maupun milik negara . sebagai contoh. setiap tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja berhak untuk memperoleh jaminan kecelakaan kerja. Berdasarkan ketentuan Pasal 24 ayat (4) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja jo. 2. sehingga penanganan kasus dapat berjalan secara cepat dan tepat sesuai mekanisme peraturan perundang-undangan dan perlindungan terhadap tenaga kerja dapat berjalan sesuai yang diharapkan. karena lingkungan kerja tercemar debu. Penjelasan Tentang Pengertian Teknis 1. Perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang mempekerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untung atau tidak. Termasuk tenaga kerja dalam jaminan kecelakaan kerja adalah: 1. apabila penetapan Pengawas Ketenagakerjaan tidak diterima oleh salah satu pihak. bahan berbahaya di tempat kerja. Peraturan tentang penyakit akibat kerja Berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja beserta peraturan pelaksanaannya. Sedang pemerikaan radiologis dada (foto thorax) pentinguntu mendeteksi tenaga kerja yang berisiko menderita pneumokonosis. audiometri adalah uji yang sangat penting bagi tenaga kerja yang bekerja pada lingkungan kerja yang bising. narapidana yang dipekerjakan di perusahaan. mereka yang memborong pekerjaan kecuali jika yang memborong adalah perusahaan. magang dan murid yang bekerja pada perusahaan baik yang menerima upah maupun tidak. Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.

6. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja. Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada tenaga kerja untuk sesuatu pekerjaan yang telah atau akan dilakukan yang dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang. Bahwa suatu kasus dinyatakan kasus kecelakaan kerja apabila terdapat unsur ruda paksa yaitu cedera pada tubuh manusia akibat suatu peristiwa atau kejadian (seperti terjatuh. Namun dalam menghitung santunan STMB upah yang digunakan adalah upah sebagai dasar dalam menghitung jaminan kecelakaan kerja karena STMB merupakan bagian dari jaminan kecelakaan kerja sehingga sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2012 tentang perubahan Kedelapan atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Upah yang dijadikan dasar pembayaran iuran program jaminan sosial tenaga kerja setiap bulan adalah didasarkan pada upah bulan yang bersangkutan yang diterima oleh tenaga kerja. terpukul. demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. 1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menganalisis dan menetapkan apakah PAK (Occupational Disease) atau penyakit akibat hubungan kerja (Work Related Disease) diperlukan data pendukung antara lain: . tertabrak dan lain-lain) dengan kriteria sebagai berikut: 1. 5. kecelakaan terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya melalui jalan yang biasa dilalui atau wajar dilalui. 4. Upah yang dijadikan dasar dalam menghitung jaminan kecelakaan kerja adalah upah yang sebenarnya diterima oleh tenaga kerja selama satu bulan terakhir sebelum terjadinya kecelakaan. ditetapkan menurut suatu perjanjian atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan tenaga kerja termasuk tunjangan baik untuk tenaga kerja sendiri maupun keluarganya. hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa tenaga kerja yang sementara tidak mampu bekerja akibat kecelakaan kerja. Penyakit Akibat Kerja yang selanjutnya disingkat PAK (Occupational Disease) yaitu penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja yang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 disebut Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja. tetap dapat memperoleh penghasilan yang sama besarnya dengan upah yang diterima sebelum terjadi kecelakaan. 7. termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja.3. Santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja yang selanjutnya disingkat STMB pada hakekatnya merupakan pengganti upah bagi tenaga kerja yang sementara tidak mampu bekerja akibat kecelakaan kerja.

6) Riwayat pekerjaan tenaga kerja. 4) Data hasil pengujian lingkungan kerja oleh Pusat Keselamatan dan Kesehatan Kerja beserta balai-balainya. dan/atau 10) Pertimbangan medis dokter penasehat.1) Data hasil pemeriksaan kesehatan awal (sebelum tenaga kerja di pekerjakan di perusahaan yang bersangkutan). 2) Kecelakaan yang terjadi pada waktu melakukan kerja lembur yang harus dibuktikan dengan surat perintah lembur. . huruf b. 3) Data hasil pemeriksaan khusus (pemeriksaan dokter yang merawat tenaga kerja tentang riwayat penyakit yang di deritanya). 8) Data medis/rekam medis tenaga kerja. Kondisi lain yang dapat dikategorikan sebagai kecelakaan kerja diluar ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a. 2) Data hasil pemeriksaan kesehatan berkala (pemeriksaan yang di lakukan secara periodik selama tenaga kerja bekerja di perusahaan yang bersangkutan). 9) Analisis hasil pemeriksaan lapangan oleh Pengawas Ketenagakerjaan. 7) Riwayat kesehatan tenaga kerja. dan huruf c yaitu: a) Pada hari kerja: 1) Kecelakaan yang terjadi pada waktu melakukan perjalanan dinas sepanjang kegiatan yang dilakukan ada kaitannya dengan pekerjaan dan/atau dinas untuk kepentingan perusahaan yang dibuktikan dengan surat perintah tugas. atau lembaga-lembaga lain yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 5) Data hasil pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara umum di bagian tersebut.

Contoh: melaksanakan kegiatan olahraga untuk menghadapi pertandingan 17 Agustus. halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. lapangan. dimana tenaga kerja bekerja. 9. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka. Contoh: penyakit asma yang diakibatkan keturunan. darmawisata dan outbond yang dilaksanakan perusahaan sebagai kegiatan yang telah diagendakan oleh perusahaan. namun yang bersangkutan memperoleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). pelatihan/diklat. maka perlindungannya adalah dalam perjalanan pergi dan pulang untuk memenuhi panggilan tersebut. penyakit hernia yang ada faktor bawaan. Tempat kerja harus memenuhi 3 (tiga) unsur yang merupakan satu kesatuan: . atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya sebagaimana dirinci dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. bergerak atau tetap. Termasuk tempat kerja adalah semua ruangan.b) Di luar waktu/jam kerja: 1) Kecelakaan yang terjadi pada waktu melaksanakan aktivitas lain yang berkaitan dengan kepentingan perusahaan dan harus dibuktikan dengan surat tugas dari perusahaan. Penyakit Akibat Hubungan Kerja/Penyakit Terkait Kerja (work related disease) adalah penyakit yang dicetuskan atau diperberat oleh pekerjaan atau lingkungan kerja tidak termasuk PAK. 8. c) Kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan pergi dan pulang dari Base Camp atau anjungan yang berada di tempat kerja menuju ke tempat tinggalnya untuk menjalani istirahat (dibuktikan dengan keterangan perusahaan dan jadwal kerja). 2) Kecelakaan yang terjadi pada waktu yang bersangkutan sedang menjalankan cuti mendapat panggilan atau tugas dari perusahaan. d) Kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan pergi dan pulang melalui jalan yang biasa dilalui atau wajar bagi tenaga kerja yang setiap akhir pekan kembali ke rumah tempat tinggal yang sebenarnya (untuk tenaga kerja yang sehari-hari bertempat tinggal di rumah kost/mess/asrama dll).

1. Kepada yang bersangkutan diberikan jaminan kecelakaan kerja sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2012 tentang perubahan Kedelapan atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. 4. Tugas Dokter Penasehat Adapun tugas dokter penasehat antara lain: 1. 2. cacat anatomis dan PAK. 2. dan 3. tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha. adanya tenaga kerja yang bekerja disana. Meninggal mendadak di tempat kerja pada hakekatnya bukan kecelakaan kerja. . maka pemerintah memberikan suatu kebijakan perluasan perlindungan sehingga meninggal mendadak di tempat kerja dianggap sebagai kecelakaan kerja. menyatakan berapa besar prosentase cacat fungsi. tenaga kerja pada saat bekerja di tempat kerja tiba-tiba meninggal dunia tanpa melihat penyebab dari penyakit yang dideritanya. Hal tersebut dilakukan apabila terjadi perbedaan pendapat antara Badan Penyelenggara dengan pengusaha dan/atau tenaga kerja atau ahli warisnya berkenaan dengan penyelesaian kasus jaminan kecelakaan kerja. mengadakan konsultasi dengan dokter pemeriksa dan/atau dokter spesialis apabila terdapat keraguan dalam menetapkan PAK atau prosentase cacat. memberikan pertimbangan medis kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk menetapkan besarnya prosentase cacat dan PAK yang belum diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. tenaga kerja pada saat bekerja di tempat kerja mendapat serangan penyakit kemudian langsung dibawa ke dokter/unit pelayanan kesehatan/rumah sakit dan tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam kemudian meninggal dunia. Untuk memperoleh jaminan kecelakaan kerja akibat meninggal mendadak di tempat kerja harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. 1. namun karena kejadiannya sedang bekerja di tempat kerja. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan akurat berkenaan dengan penyelesaian kasus jaminan kecelakaan kerja. 2. 1. Tugas Dan Fungsi Dokter Penasehat Dalam Menyelesaikan Kasus Kecelakaan Kerja Dan Penyakit Akibat Kerja. adanya bahaya kerja di tempat itu. melakukan pemeriksaan rekam medis dan bila dipandang perlu melakukan pemeriksaan ulang kepada tenaga kerja. 1. 3.

meminta pertimbangan medis kepada dokter penasehat. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penyelesaian Kasus Kecelakaan Kerja Dan Penyakit Akibat Kerja . b. melakukan penelitian dan pemeriksaan ke lapangan berdasarkan laporan kecelakaan tahap I. d. 1. 1. Tugas Dan Fungsi Pengawas Ketenagakerjaan Dalam Menyelesaikan Kasus Kecelakaan Kerja Dan Penyakit Akibat Kerja Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. 1. Pemberhentian dan Tata Kerja Dokter Penasehat. Fungsi Dokter Penasehat Dokter penasehat mempunyai fungsi memberikan pertimbangan medis kepada Pengawas Ketenagakerjaan dan/atau Badan Penyelenggara dalam menyelesaikan kasus jaminan kecelakaan kerja. menganalisis hasil temuan yang didapat dilapangan. 1. 1. antara lain: 1. dokter penasehat melaksanakan tugas sesuai dengan mekanisme yang terdapat dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER-17/MEN/XI/2008 tentang Pengangkatan. 1. Tugas dari Pengawas Ketenagakerjaan. 21 tahun 2010 tentang Pengawasan Ketenagakerjaan. menegakkan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. Dalam mengemban fungsi tersebut di atas. yang dimaksud dengan Pengawas Ketenagakerjaan adalah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ditunjuk oleh Menteri dan Peraturan Presiden No. berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dalam menyelesaikan kasus kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja.

2. 1. pemborong pekerjaan.(satu juta rupiah) wajib mengikut sertakan Tenaga Kerja dalam Program Jamsostek. Apabila tenaga kerja mendapat kecelakaan kerja.000. 1. terhadap perusahaan yang menunggak iuran agar dilakukan penegakan hukum. murid. Pasal 2 ayat (3) : Pengusaha yang mempekerjakan Tenaga Kerja 10 orang atau lebih atau membayar upah paling sedikit Rp.1.1. terhadap tenaga kerja yang mendapat kecelakaan kerja tetap memperoleh hak- haknya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. 1. pengusaha wajib memberikan Jaminan Kecelakaan Kerja kepada Tenaga Kerjanya. tetapi perusahaan menunggak iuran maka langkah yang dapat dilakukan adalah: 1. maka kecacatan yang ditetapkan maksimal 70% (tujuh puluh perseratus) cacat total. magang atau murid atau narapidana dianggap menerima upah sebesar upah sebulan tenaga kerja yang melakukan pekerjaan yang sama pada perusahaan yang bersangkutan. Dalam hal kecelakaan kerja. 1. kemudian akibat dari kecelakaan tersebut tenaga kerja menderita cacat di beberapa bagian tubuh yang apabila kecacatan tersebut dijumlah melebihi 70 % (tujuh puluh perseratus). maka upah sebagai dasar penetapan jaminan kecelakaan kerja bagi magang. 2. perorangan yang memborong pekerjaan dianggap menerima upah sebesar upah tertinggi dari tenaga kerja pelaksana yang bekerja pada perusahaan yang memborong pekerjaan. Dikenakan sanksi administratifberupa pencabutan izin usahaapabila melanggar ketentuan Pasal sebagai berikut: 1. Apabila di suatu instansi yang membidangi ketenagakerjaan pada pemerintah kabupaten/kota tidak terdapat Pengawas Ketenagakerjaan.000. Pasal 4 : Dalam hal perusahaan belum ikut Program Jamsostek. Pasal 5 ayat (1) : Pengusaha wajib mendaftarkan perusahaan dan Tenaga Kerja kepada Badan Penyelenggara dalam . Bila terjadi kecelakaan kerja. maka penetapan jaminan kecelakaan kerja dilakukan oleh Pengawas Ketenagakerjaan di dinas yang membidangi ketenagakerjaan provinsi setempat. 1.. dan narapidana yang dipekerjakan di perusahaan adalah sebagai berikut: 1. 1.

cacat total. meninggal dunia. kepemilikan. 1. jenis/badan usaha. dan Badan Penyelenggara tidak lebih dari 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat)jam setelah ada surat yang menyatakan STMB. jumlah Tenaga Kerja dan keluarga. Pasal 19 : Pengusaha wajib lapor Penyakit Akibat Kerja tidak boleh lebih dari 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam setelah ada hasil diagnosis Dokter Pemeriksa. cacat sebagian. 1. 1. kartu peserta dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari sejak diterima dari Badan Penyelenggara. 1. 1. 1. Pasal 18 ayat (3) : Pengusaha wajib lapor akibat kecelakaan kerja kepada Dinas yang membidangi ketenagakerjaan. Program Jamsostek. 1. 1. pengusaha tetap membayar upah Tenaga Kerja yang bersangkutan sampai penetapan akibat kecelakaan kerja yang dialami diterima semua pihak atau dilakukan oleh Menteri. Pasal 18 ayat (1) : Pengusaha wajib memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan bagi Tenaga Kerja. Dikenakan sanksi denda apabila perusahaan melanggar ketentuan Pasal sebagai berikut: Pasal 10 ayat (3) : Keterlambatan pembayaran iuran dikenakan denda yang ditanggung sepenuhnya oleh pengusaha. Pasal 6 ayat (2) : Pengusaha menyampaikan kepada masing-masing Tenaga Kerja. Denda keterlambatan sebesar 2 % (dua perseratus) untuk setiap bulan keterlambatan yang di hitung dari iuran yang harus di bayar. Pasal 18 ayat (2) : Pengusaha wajib lapor kecelakaan kerja tahap I tidak boleh lebih dari 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam sejak kecelakaan terjadi kepada Dinas yang membidangi ketenagakerjaan dan Badan Penyelenggara. Pasal 20 ayat (1) : Selama Tenaga Kerja yang tertimpa kecelakaan kerja masih belum mampu bekerja. Pasal 8 ayat (2) : Laporan perubahan mengenai (alamat perusahaan. besarnya upah setiap Tenaga Kerja) disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari sejak terjadi perubahan. .

1. 3 (1) setiap perusahaan bagi Tenaga Kerjanya Tahun 1992 diancam dengan yang melakukan pekerjaan di dalam kurungan selama-lamanya 6 bulan hubungan kerja. Dalam hal pengulangan tindak pidana sebagaimana tersebut di atas untuk kedua kalinya atau lebih. . Dikenakan sanksi ganti rugi apabila Badan Penyelenggara melanggar ketentuan Pasal sebagai berikut: Pasal 26 : Badan Penyelenggara wajib membayar jaminan dalam waktu tidak lebih dari 1 (satu) bulan. Ganti rugi sebesar 1 % (satu perseratus) dari jumlah jaminan. Dikenakan sanksi pidana apabila melanggar ketentuan Pasal sebagai berikut: Pasal yang No. 50. maka dipidana kurungan selama-lamanya 8 (delapan) bulan.000.-(lima puluh juta rupiah).000. 1. setelah putusan akhir memperoleh kekuatan hukum tetap. untuk setiap kali keterlambatan dan dibayarkan kepada tenaga kerja yang bersangkutan. Bunyi Pasal/Ayat Sanksi dilanggar a. atau denda setinggi-tingginya Rp. Pasal 4 ayat Program Jamsostek wajib dilakukan oleh Pasal 29 Undang-Undang No. Tindak pidana tersebut adalah pelanggaran.

d. Pasal 22 ayat Pengusaha wajib membayar iuran dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 3 (1) melakukan iuran yang menjadi kewajiban Tahun 1992 diancam dengan Tenaga Kerja melalui pemotongan upah kurungan selama-lamanya 6 (enam) Tenaga Kerja serta membayarkan kepada bulan atau denda setinggi-tingginya Badan Penyelenggara dalam waktu yang Rp. Pasal 10 ayat Pengusaha wajib melaporkan kepada (2) Kantor Depnaker dan Badan Penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 (duapuluh empat) jam setelah Sda Tenaga Kerja yang tertimpa kecelakaan oleh dokter yang merawatnya dinyatakan sembuh. Dalam hal pengulangan tindak pidana sebagaimana tersebut di atas untuk kedua kalinya atau lebih. Pasal 10 ayat Pengusaha wajib melaporkan kecelakaan (1) kerja yang menimpa Tenaga Kerja kepada Kantor Depnaker dan Badan Sda Penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 (duapuluh empat) jam c.000. cacat atau meninggal dunia. . Pasal 19 ayat Dalam hal perusahaan belum ikut serta (2) dalam Program Jamsostek disebabkan adanya pentahapan kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) maka pengusaha wajib Sda memberikan Jaminan Kecelakaan Kerja kepada Tenaga Kerjanya sesuai undang- undang ini.-(lima puluh juta ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah rupiah). Tindak pidana tersebut adalah pelanggaran. maka dipidana kurungan selama-lamanya 8 (delapan) bulan. setelah putusan akhir memperoleh kekuatan hukum tetap.b. 50.000. e.

baik itu petani. Kecelakaan dan sakit akibat kerja sudah menjadi risiko setiap orang yang melakukan pekerjaan. buruh pabrik. bermain api hangus. namun angka tersebut masih tergolong tinggi. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja. Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha. Sepanjang tahun 2009. kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja. . Kecelakaan kerja di sebuah pabrik gula di Jawa Tengah menyebabkan empat pekerjanya tewas dan di Tuban Jawa Timur seorang meninggal dan dua orang lainnya terluka akibat tersiram serbuk panas saat bekerja di salah satu pabrik semen adalah beberapa contoh kasus kecelakaan kerja yang mengakibatkan kerugian bahkan sampai menghilangkan nyawa. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja. nelayan. Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja adalah menjadi melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi pemeriksaan awal. dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. BAB III PENUTUP 3. Meski menunjukkan tren menurun. Ibarat pepatah bermain air basah. pemerintah mencatat telah terjadi sebanyak 54.1 KESIMPULAN Setiap pekerjaan di dunia ini hampir pasti tak ada yang tak berisiko. maupun pegawai kantoran sekalipun. pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit pada tempat kerja dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan kerja. pekerja tambang.398 kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya penerapan sebuah sistem manajemen keselamatan dan kesehatan Kerja (SMK3) di tempat kerja berbasis paradigma sehat.

2 SARAN Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.2 Bagi Institusi Diharapkan untuk memberikan penanganan dan pengetahuan tentang penyakit akibat kecelakaan kerja. .1 Bagi Mahasiswa Diharapkan untuk memahami tentang penyakit akibat kerja dan penatalaksanaan pada pasien akibat kecelakaa kerja agar nantinya dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat.2. Serta terus meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien.3.2. 3. 3.2.3 Bagi Masyarakat Diharapkan masyarakat dapat mengetahui tentang penyakit akibat kecelakaan kerja agar lebih waspada. 3.

DAFTAR PUSTAKA Indonesia. Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. 2005.]:Direktorat Bina Peran Masyarakat Depkes RT. Silalahi. Upaya kesehatan kerja sektor informal di Indonesia. Bennett N. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. 1985 -------------------. Helena dan Syaifullah. Jakarta :Haji Masagung Suma'mur . [s.1985. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Suma'mur . Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.1991.1990.Rumondang. [dan] Silalahi. Jakarta :Gunung Agung. Higene perusahaan dan kesehatan kerja. .B. Poerwanto.1991.l]:Pustaka Binaman Pressindo. Indonesia.[s.