Kawasan Ekonomi Asean selain mengatur ketahanan pangan, juga mendorong

upaya stabilisasi pangan dengan meningkatkan produksi dan meningkatkan
perdagangan di kawasan ini.
Dalam rangka itu, Indonesia mengusulkan konsepIndonesia’s Non Paper on ASEAN
Integrated Food Security Policy Framework. Usulan Indonesia itu disetujui pada
pertemuan ke-30 ASEAN Ministerial Meeting on Agriculture and Forestry (AMAF)
yang diselenggarakan di Hanoi, pada tanggal 20-25 Oktober 2008. Selanjutnya pada
KTT ke-14 ASEAN di Thailand bulan Maret 2009, pemimpin negara ASEAN
menyepakatiASEAN Integrated Food Security (AIFS) Framework dan Strategic Plan
of Action on Food Security in the ASEAN Region (SPA – FS).
AIFS Framework menyepakati untuk memastikan ketahanan pangan ASEAN dalam
jangka panjang, dan secara khusus dirancang sebagai payung kerjasama dan
pendekatan pragmatis di sektor pangan. AIFS Framework terdiri dari empat
komponen dengan masing-masing strategi utama yang saling terkait untuk
menjamin ketahanan pangan di kawasan.
Keempat komponen tersebut adalah (1) Darurat pangan/tanggap terhadap
kekurangan dengan strategi utama penguatan pengaturan ketahanan pangan, (2)
Pertumbuhan perdagangan pangan yang berkelanjutan dengan strategi utama
meningkatkan perdagangan dan pasar pangan yang kondusif, (3) Sistem informasi
ketahanan pangan yang terintegrasi dengan strategi utama memperkuat sistem
informasi yang terintegrasi untuk dapat memprediksi, merencanakan dan memonitor
pasokan pemanfaatan komoditas pangan utama secara efektif, (4) Inovasi pertanian
dengan strategi utama meningkatkan produksi pangan berkelanjutan, mendorong
investasi di sektor industri berbasis pangan dan pertanian untuk meningkatkan
ketahanan pangan, identifikasi dan membahas isu terkait ketahanan pangan.

Tujuan pembentukan SPA–FS adalah untuk mengamankan pasokan pangan di ka-
wasan melalui upaya peningkatan produksi pangan, mengurangi kegagalan panen,
meningkatkan perdagangan serta menciptakan pasar yang kondusif, untuk
menjamin stabilitas pangan di kawasan serta untuk mengoperasionalkan pengaturan
mengenai darurat pangan kawasan. Cakupan komoditi pangan dalam SPA–FS ini
adalah beras, jagung, kedelai, gula dan singkong.
Ketahanan pangan merupakan isu penting yang menjadi perhatian para pemimpin
ASEAN sejak lebih dari 30 tahun lalu. Untuk menjaga ketahanan pangan di negara
anggota ASEAN, para pemimpin ASEAN menyepakatiAgreement on the ASEAN
Food Security Reserve yang ditandatangani di New York pada tanggal 4 Oktober
1979. Persetujuan tersebut mengatur skema kerjasama pangan melalui pem-
bentukan ASEAN Food Security Reserve, yaitu penetapan jumlah total bahan

Namun demikian. Persetujuan pembentukan APTERR ditandatangani pada Pertemuan ke-11 AMAF+3 pada tanggal 7 Oktober 2011. APTERR merupakan sarana untuk mengatasi kelebihan pangan. krisis pangan internasional pada tahun 2007-2008 yang ditandai dengan meningkat- nya harga bahan pangan dianggap sebagai ancaman serius bagi kawasan Asia Tenggara. khususnya beras. Pada tahun 2008 proyek EAERR telah membantu penyaluran beras sebanyak 185 metrik ton (mt) kepada keluarga korban banjir di Jawa Tengah dan Jawa Timur. dan sumber pemasaran pangan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan domestik. sesuai dengan hasil pertemuan ke-6 AMAF+3 di Singapura pada 16 November 2006 per- temuan merekomendasikan transformasi EAERR menjadi “ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve” (APTERR).pangan dasar. sumber ketersediaan pangan. APTERR mulai berlaku pada 12 Juli 2012 menyusul diterimanya Piagam Ratifikasi dari enam negara ASEAN (Kamboja. Indonesia telah meratifikasi persetujuan APTERR melalui Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2012 tanggal 13 Juni 2012. Pelaksanaan program yang sama juga dilakukan pada tahun 2009 untuk membantu korban badai Nargis di Myanmar. Menikmati Manfaat Pada pertemuan ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry bersama negara ASEAN+3 (Jepang. Bagi Indonesia. KTT ke-18 ASEAN bulan Mei tahun 2011 memberikan amanat kepada Sekretariat ASEAN untuk mengkaji kemungkinan APTERR untuk mencakup komoditas selain . fluktuasi produksi akibat berbagai hal (iklim dan hama). Kerjasama AERR pada prinsipnya hanya untuk menghadapi situasi darurat dan tidak disiapkan untuk menghadapi masalah kelangkaan beras. Beras yang disalurkan adalah impor dari Jepang (180 mt) dan beras lokal (5 mt). Masa kerja EAERR berakhir pada 28 Februari 2010. Terkait hal itu. Indonesia telah menerima manfaat dari proyek ini. RRT dan Korea Selatan) di Laos bulan Oktober 2002. dengan biaya total sekitar USD 200 ribu. termasuk jumlah komitmen beras yang dicadangkan masing-masing negara anggota ASEAN untuk digunakan dalam situasi krisis (ASEAN Emergency Rice Reserve/AERR). Filipina. disepakati sebuah pilot project East Asia Emergency Rice Reserve(EAERR) berjangka waktu tiga tahun guna memastikan ketersediaan pangan dalam situasi bencana di kawasan. Thailand dan Vietnam) dan Jepang. Singapura. yang dimiliki masing-masing negara ASEAN sebagai bagian kebijakan nasionalnya. Malaysia. Dalam perkembangannya.

Mengingat cadangan beras dalam jumlah besar sangat diperlukan dalam intervensi pasar. terdiri dari AERR (87 ribu mt). ASEAN juga sepakat menjajaki peningkatan cadangan beras APTERR yang saat ini berjumlah 787 ribu ton. Jepang (250 ribu mt). Setiap perubahan cadangan beras harus mendapat persetujuan AMAF+3. Komitmen cadangan beras ini akan ditinjau secara berkala dengan mempertim- bangkan kondisi pangan di kawasan dan ketersediaan beras setiap negara. dan Korea Selatan (150 ribu mt). Sementara itu. Indonesia berkomitmen 12.beras di samping mendayagunakan APTERR dalam menghadapi fluktuasi harga.000 ton dan dapat dinaikkan menjadi 25. Buletin Komunitas Asean/Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian . di mana setiap negara diharapkan menghor- mati komitmennya dalam penyediaan beras dalam keadaan darurat. RRT (300 ribu mt). Komitmen beras ini tidak berupa fisik melainkan virtual.000 ton.