LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN

SHELF LIFE

Oleh :

Cecilia Josephine (00000005072)
Karen Lavenia (00000005761)
Magdalena Ruvina Chandra (00000005182)
Maya Anggraini (00000004904)
Prabowo Saputra (00000004823)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

KARAWACI

2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kerusakan oksidatif vitamin C selama penyimpanan dapat dipicu oleh oksigen, panas, suhu
penyimpanan dan lama penyimpanan. Salah satu vitamin yang banyak dikonsumsi dan yang berpotensi
sebagai antioksidan adalah vitamin C. Kinetika kerusakan vitamin C dapat ditentukan baik pada
pengolahan maupun penyimpanan. Degradasi vitamin C selama penyimpanan dapat diukur, dan dapat
dijadikan parameter terhadap perubahan mutu suatu produk pangan berupa aroma, rasa dan warna.

Banyak model matematis yang dapat digunakan untuk menunjukan laju reaksi dari suatu produk
yang disimpan pada suhu tertentu. Dalam praktikum kali ini, model Arrhenius dipakai untuk
mengetahui perubahan-perubahan mutu yang terjadi selama pengolahan maupun penyimpanan. Model
Arrhenius dapat diterapkan dalam metode yang dikenal dengan Accelerated Self Life Test (ASLT).
Metode ASLT dilakukan dengan mempercepat proses atau reaksi penurunan mutu dalam suatu
percobaan, dengan menaikkan suhu penyimpanan pada beberapa tingkatan. Penerapan model Arrhenius
dapat digunakan untuk menduga umur simpan produk pangan. Selain itu juga digunakan metode Q10
untuk menduga umur simpan pada berbagai suhu penyimpanan. Oleh karena itu penting dilakukan
pendugaan umur simpan dengan beberapa metode tersebut, dalam menentukan tingkat kualitas dari
vitamin C, dan mengetahui umur simpan dari produk pangan dengan beberapa tingkatan suhu yang
berbeda.

1.2 Tujuan
Melalui percobaan ini, mahasiswa akan mampu menganalisis mutu selama penyimpanan dan
menduga umur simpan suatu produk pangan berdasarkan laju penurunan vitamin C selama
penyimpanan dengan metode Arrhenius dan Q10

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umur Simpan
Menurut Institute of Food Science and Technology (1974), umur simpan
produk pangan adalah selang waktu antara saat produksi hingga konsumsi,
dimana produk berada dalam kondisi yang memuaskan berdasarkan karakteristik
penampakan, rasa, aroma, tekstur, dan nilai gizi. Umumnya bahan pangan akan
mengalami proses penurunan kualitas selama masa penyimpanan, transportasi,
pemasaran, maupun proses pascapanen lainnya. Sesuai dengan karakteristiknya
yang berbeda, maka antara satu jenis bahan pangan dengan bahan pangan yang
lain akan mempunyai karakteristik penurunan kualitas yang berbeda. Kurva
penurunan kualitas dapat dilihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Quality deterioration curves: a) linear; b) exponential; c) hyperbolic; d) quadratic; e)
complex.

Sumber: Labuza, dan Bin Fu (1993)

Floros dan Gnanasekharan (1993), menyatakan terdapat beberapa faktor
utama yang mengakibatkan terjadinya penurunan mutu atau kerusakan pada
produk pangan, yaitu massa oksigen, uap air, cahaya, mikroorganisme, dan bahan

kimia toksik atau off flavor.1. Distribution abuse test merupakan cara penentuan umur simpan produk berdasarkan hasil analisis produk selama penyimpanan dan distribusi di lapangan. Metode yang dapat digunakan adalah metode Arrhenius.2. kerusakan vitamin. kerusakan protein.2 Q10 2.1.1 Zero Order 2. reaksi pencoklatan. Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali. kulit. dan tulang. 2. dan perubahan unsur organoleptik. Vitamin C merupakan turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang memiliki kaitan erat dengan monosakarida. Di dalam tubuh.3 Vitamin C Vitamin C atau yang disebut juga sebagai asam askorbat merupakan kristal putih yang mudah larut dalam air. terkhusus dalam leukosit.1 Arrhenius 2.2.2 First Order 2. vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara atau terjadi oksidasi terutama apabila terkena panas. 2001). atau mempercepat proses penurunan mutu dengan penyimpanan pada kondisi ekstrim (abuse test) (Heny. vitamin C terdapat di dalam darah. Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan terjadinya penurunan mutu lebih lanjut. 2010).2 Metode Penentuan Umur Simpan 2. 2004). dimana penurunan kualitas dipantau berdasarkan pengaruh suhu penyimpanan terhadap kecepatan reaksi penurunan mutu (Winarno. Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil.2. Vitamin C akan diserap di saluran cerna melalui transpor aktif (Sherwood. korteks anak ginjal.2.2. Pendugaan umur simpan bahan pangan bermanfaat untuk penanganan pascapanennya. namun pada keadaan larut. 2008).3 Shelf Life Model 2. Selain itu metode Q10 juga digunakan untuk menduga umur simpan pada berbagai suhu penyimpanan. Vitamin C dapat . seperti oksidasi lipida. tetapi cukup stabil dalam larutan asam (Sunita.

Asam askorbat juga penting untuk mengaktifkan enzim prolil hidroksilase. oksidasi bolak-balik dari L-asam askorbat menjadi L-asam dehidroaskorbat terjadi apabila bersentuhan dengan tembaga. kulit dan tendon. Dengan demikian. Terdapat 2 bentuk vitamin c di alam yaitu L-asam askorbat dengan bentuk tereduksi dan L-asam dehidroaskorbat dengan bentuk teroksidasi. Gambar 2. gigi. suatu unsur integral kolagen. Vitamin C mereduksi besi menjadi feri dan menjadi fero dalam usus halus sehingga mudah untuk diabsorbsi. Struktur kimia Vitamin C Sumber: google. Fungsi Vitamin C yang pertama adalah sebagai sintesis kolagen karena Vitamin C mempunyai kaitan yang sangat penting dalam pembentukan kolagen dimana Vitamin C diperlukan untuk hidroksilasi prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin yang merupakan bahan penting dalam pembentukan kolagen. panas. Oleh sebab itu. Menurut Akhilender (2003). perdarahan di bawah kulit dan perdarahan pada gusi. fungsi Vitamin C pada kehidupan sehari-hari antara lain untuk penyembuhan luka. atau alkali. tulang. yang menunjang tahap hidroksilasi dalam pembentukan hidroksipolin. Serabut kolagen yang terbentuk di semua jaringan tubuh menjadi cacat dan lemah apabila tidak terdapat asam askorbat. Kolagen merupakan senyawa protein yang mempengaruhi integritas struktur sel di semua jaringan ikat. vitamin ini penting untuk pertumbuhan dan kekurangan serabut pada jaringan subkutan. Vitamin C menghambat pembentukan . 2007). kartilago.disintesis dari D-glukosa dan D-galaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan.com Vitamin C memiliki banyak fungsi bagi tubuh. seperti pada tulang rawan. membrane kapiler. patah tulang. dan gigi (Guyton. matriks tulang. Fungsi kedua dari Vitamin C adalah absorbsi dan metabolisme besi.

Fungsi yang ketiga adalah mencegah infeksi. Oksigen dapat menyebabkan degradasi asam askorbat menjadi asam dehidroaskorbat. alkali. Peran Vitamin C dalam metabolism kolesterol adalah melalui beberapa cara: 1) Vitamin C meningkatkan laju kolesterol dibuang dalam bentuk asam empedu. 2. oksidator. serta katalis tembaga (Cu) dan besi (Fe) (Martin. et. 3) Vitamin C dapat berfungsi sebagai pencahar sehingga dapat meningkatkan pembuangan kotoran dan hal ini dapat menurunkan pengabsorbsian kembali asam empedu dan konversinya menjadi kolesterol (Khomsan. 2) Vitamin C meningkatkan kadar HDL. Vitamin C berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. di mana semakin tinggi suhu maka kandungan dari vitamin C akan menurun dan akan menyebabkan berkurangnya rasa asam (Rachmawati et al. vitamin C memegang peranan penting dalam mencegah terjadinya aterosklerosis yang merupakan kondisi di mana terjadi penyempitan dan pengerasan di dalam pembuluh darah arteri akibat pengendapan kolesterol dan zat-zat lemak lainnya. sinar. Ruang kosong yang terdapat dalam kemasan yang mengandung udara memungkinkan terjadinya pemecahan vitamin C secara aerob. 1971).W. Menurut sebuah penelitian. 2010).3. 1981). D.3-diketogulonat yang tidak menunjukkan aktivitas . kemudian gugus lakton dari asam dehidroaskorbat terhidrolisis menjadi asam 2. enzim. Absorbsi besi dalam bentuk nonhem meningkat empat kali lipat apabila terdapat vitamin C.al. Vitamin C memiliki hubungan dengan metabolisme kolesterol dimana kekurangan Vitamin C menyebabkan peningkatan sintesis kolesterol. Degradasi vitamin C secara aerob terjadi tergantung oleh kadar oksigen yang tersisa pada produk pangan. tingginya kadar HDL akan menurunkan resiko menderita penyakit aterosklerosis.1 Liquid / Concentrate Vitamin C mudah teroksidasi jika terkena udara dan proses ini dipercepat oleh panas. Temperatur akan mempengaruhi kandungan vitamin C.hemosiderin yang sulit dibebaskan oleh besi apabila diperlukan. 2009). Dosis tinggi vitamin C dapat mencegah dan menyembuhkan serangan flu (Pauling.

1986). Tablet effervescent memiliki kekurangan juga seperti menghasilkan produk yang tidak stabil secara kimia. Reaksi yang digunakan untuk pelarutan tablet effervescent adalah reaksi antara sumber asam dan sumber karbonat yang menghasilkan gas berupa karbondioksida dimana hal tersebut terjadi secara spontan ketika tablet masuk dalam air. Kemudian. Selain itu menurut Deman (1997). Selain menghasilkan larutan yang jernih. kadar vitamin C yang berkurang juga dapat mempengaruhi penurunan total padatan terlarut dalam produk. Selain itu.3 Effervescent Tablet effervescent merupakan salah satu bentuk tablet berisi bahan-bahan aktif dengan campuran asam-asam organik. degradasi lebih lanjut membentuk senyawa furfural dan redukton. vitamin C mudah rusak selama proses pemanasan yang terlalu lama karena adanya oksigen akan merusak kandungan vitamin C. Reaksinya cukup cepat dan biasanya berlangsung dalam waktu satu menit atau kurang. Kemudian gas inilah yang dapat mendesak tablet sehingga tablet menjadi hancur (Rohdiana. Menurut Mapson (2000) penyimpanan pada temperatur lebih dari 27oC dapat menyebabkan kehilangan vitamin C walaupun pada kondisi anaerob.2 Powder Sediaoetama (2004) menjelaskan bahwa larutan vitamin C mudah rusak karena oksidasi oleh oksigen dari udara. lalu terbentuk garam natrium dari asam dan menghasilkan gas karbondioksida serta air.3. tablet juga menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang dapat membantu memperbaiki rasa obat-obat tertentu (Banker dan Anderson.3.vitamin C. namun kerusakannya dapat dihambat dalam keadaan asam. Vitamin C mudah teroksidasi selama pengolahan dan penyimpanan. Indeks kelarutan air merupakan kemampuan bubuk untuk larut dalam air sehingga dapat . 2. terjadi proses dekarboksilasi pada asam 2.3-diketogulonat menghasilkan xylosone. tetapi stabil bila terdapat dalam bentuk kristal kering atau bubuk. 2. 2002). Terjadinya penurunan kadar vitamin C selama penyimpanan juga disebabkan oleh suhu penyimpanan dan sinar atau cahaya langsung. Reaksi kimia antara asam dan natrium bikarbonat terjadi setelah tablet dimasukkan ke dalam air. seperti asam sitrat atau asam tartrat dan natrium bikarbonat.

.larut dengan sempurna dalam air dimana semakin tinggi nilai kelarutan produk bubuk maka akan semakin baik karena kelarutan yang sempurna tidak terapung dipermukaan air.

14. hedonik.1 Penentuan Kadar Vit C 1. warna. timbangan meja atau timbangan analitik. dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer  Ditambah 5 ml asam borat 2%  Dititrasi dengan larutan dye sampai warna merah jambu 4. Kerusakkan masing-masing sampel ditentukan berdasarkan masing-masing parameter tersebut. 3. refrigerator.2. 55oC. BAB III METODE KERJA 3. buret. yakni labu takar. dan hari ke-28. 21.2 Prosedur Kerja 3. Masing-masing sample disimpan pada suhu disimpan pada suhu 5oC. bulb pump. gelas piala 250 ml. dan Hemaviton-C1000 3. 45oC.1 Alat dan Bahan Beberapa alat yang digunakan dalam percobaan kali ini. sedangkan bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah You-C1000. 2. Erlenmeyer 250 ml. 7. Umur simpan ditentukan dengan metode Accelerated Shelf Life (ASLT) dan metode Q10 . dan penetapan kadar vitamin C dilakukan pada hari ke-0. 5. Enervon-C. Pengamatan rasa asam. Penetapan kadar vitamin C juga dilakukan dengan:  Dipipet 2 ml sampel. dan 65oC selama 4 minggu. oven. pipet 5ml dan 10ml.

terlihat terdapat 3 garis yang merepresentasikan 3 suhu penyimpanan yang berbeda yakni 45°C. Ketiga suhu penyimpanan memberikan persamaan garis yang berbeda dimana untuk suhu 45°C didapati nilai persamaan Y = 1510.0219. Selain itu.5091 – 36. penurunan jumlah asam askorbat / vitamin C pada produk .3845 X dengan R 2 sebesar 0.1 Grafik Zero Order Arrhenius Curve Pada grafik 4. 55°C dan juga 65°C. maka didapati hasil yang dapat diinterpretasikan ke dalam data sebagai berikut : Zero Order Arrhenius Curve 2000 1800 1600 1400 1200 45 1000 55 vit C 800 65 600 400 200 0 0 5 10 15 20 25 30 days Gambar 4.1 Metode Arrhenius 4. BAB IV PEMBAHASAN 4. Pada setiap suhu penyimpanan.0173.1.5339 X dengan R2 sebesar 0.7258.6611 X dengan R2 sebesar 0.1 di atas. terdapat perbedaan hasil yang menonjol diantara ketiganya. Untuk suhu penyimpanan 55°C didapati nilai persamaan Y = 1442. Apabila dilihat dari ketiga garis yang terplotkan di dalam grafik di atas.1 Liquid / Concentrate Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan terhadap produk liquid / concentrated vitamin C dengan merek dagang You C1000 selama 28 hari.5878 – 3.1699 + 2. untuk suhu penyimpanan 65°C maka didapati nilai persamaan Y = 1588.

dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi suhu penyimpanan. terdapat perbedaan hasil yang menonjol diantara ketiganya. enzim. 55°C dan juga 65°C terlihat terdapat 3 garis yang merepresentasikan 3 suhu penyimpanan yang berbeda-beda. logam. Dengan demikian. maka kerusakan asam askorbat semakin mudah terjadi yang menyebabkan menurunnya jumlah / kandungan asam askorbat dalam suatu produk tertentu. First Order Arrhenius Curve 8 7 6 5 45 ln vit C 4 55 3 65 2 1 0 0 5 10 15 20 25 30 days Gambar 4.liquid/concentrated vitamin C yang paling besar selama 28 hari masa penyimpanan terjadi untuk produk yang disimpan dalam suhu 65°C. Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama 28 hari. Pada setiap suhu penyimpanan. 1989). dan senyawa lainnya (Andarwulan dan Koswara. Pada 3 suhu penyimpanan yang berbeda yakni 45°C.2 di atas. PH. terbukti bahwa asama skorbat mengalami kerusakan paling besar pada suhu 65°C dimana suhu tersebut merupakan suhu tertinggi dalam penyimpanan produk. Degradasi asam askorbat sendiri dikenal sebagai reaksi yang tidak bersifat bolak-balik sehingga kerusakan asam askorbat sangat mudah terjadi. Asam askorbat sendiri merupakan salah satu jenis komponen yang bersifat peka / sensitive terhadap rangsangan dan keadaan lingkungan dimana biasanyaa sam askorbat mudah sekali mengalami proses oksidasi yang menyebabkan kerusakan maupun penurunan mutu pada suatu produk yang diakibatkan oleh suhu.2 Grafik First Order Arrhenius Curve Hal yang serupa juga dapat terlihat berdasarkan hasil yang tertera pada grafik 4. Ketiga suhu penyimpanan memberikan persamaan .

Terlihat bahwa penurunan kadar asam askorbat dalam produk yang disimpan pada suhu 45°C dan juga 55°C tidak mengalami perbedaan penurunan yang signifikan.3845 0.0178.0025 2.2 secara garis besar serupa dengan grafik 4.0018 3. Untuk suhu penyimpanan 55°C didapati nilai persamaan Y = 7.2570 – 0.144 x 10-3 2.049 x 10-3 -3. Bahkan untuk kedua suhu penyimpanan.0383 X dengan R2 sebesar 0.1 dimana kerusakan produk yang diindikasikan dengan penurunan jumlah asam askorbat / vitamin C pada produk liquid/concentrated vitamin C yang paling besar selama 28 hari masa penyimpanan terjadi untuk produk yang disimpan dalam suhu 65°C. Selain itu.7072.4245 – 0.3109 + 0.1 Variabel Kerusakan Produk Liquid Vitamin C 1 / T (Kelvin) k Ln k 3. untuk suhu penyimpanan 65°C maka didapati nilai persamaan Y = 7. titik akhir pengukuran jumlah vitamin C berada pada titik yang saling beririsan sehingga dapat dikatakan bahwa laju penurunan kadar asam askorbat yang mampu mengindikasikan kerusakan produk pada suhu penyimpanan 45°C dan juga 55°C berjalan beriringan dan tidak memiliki perbedaan yang berarti dimana dapat disimpulkan bahwa produk liquid/concentrated vitamin C yang disimpan pada kedua suhu akan mengalami laju penurunan / kerusakan yang sama. maka nilai yang berada di depan variable X dapat dikatakan sebagai k untuk persamaan garis pada zero order dan dikatakan sebagai ln k untuk persamaan garis pada first order sehingga akan didapati 6 buah variable dari keenam persamaan garis yang telah dibuat dengan hasil seperti ini : Tabel 4.0025 X dengan R 2 sebesar 0.6611 -0.959 x 10-3 -36. hal lainnya justru terlihat apabila hasil pengukuran kadar asam askorbat diplotkan ke dalam grafik secara first order.garis yang berbeda dimana untuk suhu 45°C didapati nilai persamaan Y = 7. Hasil yang diindikasikan pada grafik 4.0292. Untuk mengukur masa simpan dengan menggunakan metode Arrhenius.0383 Keenam data yang tertera pada tabel di atas kemudian diplotkan ke dalam dua buah grafik yang berbeda dengan sumbu Y yang merupakan nilai variable yang ada baik k maupun ln k dan sumbu X yang merupakan nilai 1/T dimana T . Meski demikian.0018 X dengan R2 sebesar 0.5339 -0.

51 X dengan R 2 sebesar 0.8585 untuk zero order dan nilai persamaan Y = -0.04 -0.5595 + 215442.04 -0.3 Grafik Zero Order Arrhenius Curve First Order Arrhenius Curve (ln k) 0. Zero Order Arrhenius Curve (k) 5 0 0 0 0 0 0 0 0 -5 -10 -15 k -20 -25 -30 -35 -40 1/T Gambar 4.03 -0.8270 untuk first .03 -0. 55°C dan juga 65°C.02 ln k -0. terdapat 3 nilai suhu penyimpanan yakni : 3.6876 + 221.049 x 10-3 dan juga 2.959 x 10-3 masing-masing untuk suhu penyimpanan 45°C.05 1/T Gambar 4. 3.adalah suhu penyimpanan yang telah dikonversikan ke dalam derajat Kelvin.3 dan juga 4.4 Grafik First Order Arrhenius Curve Berdasarkan grafik 4.01 -0.01 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -0.144 x 10 -3 .02 -0.4 maka didapati dua nilai persamaan yakni Y = -669.22 X dengan R 2 sebesar 0. Dengan demikian.

162-0.4606 x 1017 4. maka akan didapati nilai ln k untuk 45°C sebesar 7. Dengan keempat nilai k yang berbeda pada ketiga suhu penyimpanan. Persamaan Arrhenius Ln k = ln k0 – (Ea/R)(1/T) akan setara dengan persamaan Y = a + bX yang kali ini direpresentasikan dalam persamaan garis zero order sehingga apabila nilai 1/T yang telah dihitung sebelumnya dimasukkan ke dalam nilai X.6753 sehingga nilai k yang terhitung adalah 3.5533 = 0.002) / 2420.7918 sehingga nilai k yang terhitung adalah 2420.7160 q55 = (1733.8585 dan first order memiliki nilai sebesar 0.8270 maka digunakan persamaan yang didapat pada zero order untuk mengukur nilai k yang akan digunakan untuk mengukur nilai q45. maka didapati hasil yang dapat diinterpretasikan ke dalam data sebagai berikut : . q55 dan juga q65. maka dapat dilakukan perhitungan nilai q45.order. maka akan didapati nilai ln k untuk 55°C sebesar -12. Apabila suhu lainnya dimasukkan ke dalam persamaan.0651 sehingga nilai k yang terhitung adalah 1.1. q55 dan juga q65 dengan menggunakan persamaan di bawah ini : Q = (Ao-Ae) / kz (zero order) q45 = (1733.7 q65 = (1733. Dikarenakan nilai R2 pada zero order lebih besar dari pada first order dimana zero order memiliki nilai sebesar 0.1275 x 10 -6 dan juga akan didapti nilai ln k untuk 65°C sebesar -32.1275 x 10-6 = 554167865.1866 x 10- 14 .002) / 3.2 Effervescent Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan terhadap produk effervescent vitamin C dengan merek dagang Enervon C selama 28 hari.1866 x 10-14 = 1.5533.002) / 1.162-0.162-0.

terlihat terdapat 3 garis yang merepresentasikan 3 suhu penyimpanan yang berbeda yakni 45°C.5 di atas. kerusakan produk yang diindikasikan dengan penurunan jumlah asam askorbat dalam sampel yang paling besar justru terjdi pada suhu 55°C dan bukan pada suhu 65°C. Selain itu.338 – 8.2796 X dengan R2 sebesar 0.8734 – 24. Zero Order Arrhenius Curve 1800 1600 1400 1200 1000 45 vit C 55 800 65 600 400 200 0 0 5 10 15 20 25 30 days Gambar 4. terdapat perbedaan hasil yang menonjol diantara ketiganya.4409 X dengan R2 sebesar 0.9384.7262 X dengan R2 sebesar 0.912 – 18.4617. Pada setiap suhu penyimpanan. Apabila dilihat dari ketiga garis yang terplotkan di dalam grafik di atas. ketiga suhu penyimpanan mengalami penurunan yang berbeda-beda dimana penurunan jumlah asam askorbat dalam sampel mengalami penurunan paling kecil apabila dibandingkan dengan kedua suhu penyimpanan lainnya. Ketiga suhu penyimpanan memberikan persamaan garis yang berbeda dimana untuk suhu 45°C didapati nilai persamaan Y = 1467.5 Grafik Zero Order Arrhenius Curve Pada grafik 4. Untuk produk jenis ini. 55°C dan juga 65°C.9384. pada produk kali ini. penurunan jumlah asam askorbat / vitamin C pada produk jenis effervescent memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan produk liquid/concentrated vitamin C. . Untuk suhu penyimpanan 55°C didapati nilai persamaan Y = 1640. untuk suhu penyimpanan 65°C maka didapati nilai persamaan Y = 1528.

6 Grafik First Order Arrhenius Curve Hal yang serupa juga dapat terlihat berdasarkan hasil yang tertera pada grafik 4.6 6.2 7.8 6.1 45 ln Vit C 7 55 6.9279.6 di atas.0061 X dengan R2 sebesar 0. Hasil yang diindikasikan pada grafik 4. 55°C dan juga 65°C terlihat terdapat 3 garis yang merepresentasikan 3 suhu penyimpanan yang berbeda-beda. Untuk mengukur masa simpan dengan menggunakan metode Arrhenius.4491.6 dimana kerusakan produk yang diindikasikan dengan penurunan jumlah asam askorbat / vitamin C pada produk effervescent vitamin C yang paling besar selama 28 hari masa penyimpanan terjadi untuk produk yang disimpan dalam suhu 55°C. First Order Arrhenius Curve 7. terdapat perbedaan hasil yang menonjol diantara ketiganya. Untuk suhu penyimpanan 55°C didapati nilai persamaan Y = 7.5 7.3 7.4 7. untuk suhu penyimpanan 65°C maka didapati nilai persamaan Y = 7.7 6.3365 – 0. Pada setiap suhu penyimpanan. Ketiga suhu penyimpanan memberikan persamaan garis yang berbeda dimana untuk suhu 45°C didapati nilai persamaan Y = 7.9526.9 65 6. Selain itu. kedua grafik yang ada baik untuk zero order maupun first order keduanya sama-sama mengindikasikan bahwa penurunan jumlah kadar asama skorbat yang mengindikasikan kerusakan produk terjadi paling besar pada suhu penyimpanan 55°C.2880 – 0.4193 – 0.0141 X dengan R2 sebesar 0.5 0 5 10 15 20 25 30 days Gambar 4. maka nilai yang berada di depan variable X dapat dikatakan sebagai k untuk persamaan garis pada zero order dan dikatakan sebagai ln k untuk persamaan .0195 X dengan R 2 sebesar 0. Pada 3 suhu penyimpanan yang berbeda yakni 45°C.5 secara garis besar serupa dengan grafik 4.

0141 Keenam data yang tertera pada tabel di atas kemudian diplotkan ke dalam dua buah grafik yang berbeda dengan sumbu Y yang merupakan nilai variable yang ada baik k maupun ln k dan sumbu X yang merupakan nilai 1/T dimana T adalah suhu penyimpanan yang telah dikonversikan ke dalam derajat Kelvin.2796 -0. terdapat 3 nilai suhu penyimpanan yakni : 3. 55°C dan juga 65°C.0061 0.7 Grafik Zero Order Arrhenius Curve .7262 -0.4409 -0.003049 -24.2 Variabel Kerusakan Produk Effervescent Vitamin C 1/T k Ln k 0.002959 -18.049 x 10-3 dan juga 2.garis pada first order sehingga akan didapati 6 buah variable dari keenam persamaan garis yang telah dibuat dengan hasil seperti ini : Tabel 4.144 x 10 -3 . Dengan demikian. Zero Order Arrhenius Curve (k) 0 0 0 0 0 0 0 0 -5 -10 -15 k -20 -25 -30 1/T Gambar 4.0195 0.959 x 10-3 masing-masing untuk suhu penyimpanan 45°C.003144 -8. 3.

03 1/T Gambar 4.7606 sehingga nilai k yang terhitung adalah 9. Persamaan Arrhenius Ln k = ln k0 – (Ea/R)(1/T) akan setara dengan persamaan Y = a + bX yang kali ini direpresentasikan dalam persamaan garis zero order sehingga apabila nilai 1/T yang telah dihitung sebelumnya dimasukkan ke dalam nilai X. maka akan didapati nilai ln k untuk 55°C sebesar 36. maka dapat dilakukan perhitungan nilai q45. q55 dan juga q65. Apabila suhu lainnya dimasukkan ke dalam persamaan.02 -0.1242 sehingga nilai k yang terhitung adalah 2.3670 untuk first order. First Order Arrhenius Curve (ln k) 0 0 0 0 0 0 0 0 -0.3748 untuk zero order dan nilai persamaan Y = -0.02 -0. Dengan keempat nilai k yang berbeda pada ketiga suhu penyimpanan.3748 dan first order memiliki nilai sebesar 0.6538 x 10-6.01 ln k -0.8 Grafik First Order Arrhenius Curve Berdasarkan grafik 4.7267 + 54275.1480 X dengan R2 sebesar 0. Dikarenakan nilai R2 pada zero order lebih besar dibanding first order dimana zero order memiliki nilai sebesar 0.01 -0.2242 x 10 15 dan juga akan didapti nilai ln k untuk 65°C sebesar -22.9299 X dengan R 2 sebesar 0.8 maka didapati dua nilai persamaan yakni Y = -182. maka akan didapati nilai ln k untuk 45°C sebesar -12.3670 maka digunakan persamaan yang didapat pada zero order untuk mengukur nilai k yang akan digunakan untuk mengukur nilai q45.7 dan juga 4.4636 x 10-10. q55 dan juga q65 dengan menggunakan persamaan di bawah ini : .0832 sehingga nilai k yang terhitung adalah 5.1479 + 44.

maka didapati hasil yang dapat diinterpretasikan ke dalam data sebagai berikut : Zero Order Arrhenius Curve 1600 1400 1200 1000 45 800 Vit C 55 600 65 400 200 0 0 5 10 15 20 25 30 days Gambar 4. 55°C dan juga 65°C.9 di atas. Pada setiap suhu penyimpanan.09) / 2.8141.9 Grafik Zero Order Arrhenius Curve Pada grafik 4.6478 X dengan R2 sebesar 0.0318 – 21.3 Powder Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan terhadap produk powder vitamin C dengan merek dagang Hemaviton C1000 selama 28 hari.4636 x 10-10 = 6.94-0.07) / 9.59-0.9290.1.2 q55 = (1676.8666 – 37.47-0.8174 x 10-13 q65 = (1570.2242 x 1015 = 1.2748 – 19. Apabila dilihat dari ketiga garis yang terplotkan di dalam grafik di atas.7828. terdapat perbedaan hasil yang menonjol diantara ketiganya. Untuk suhu penyimpanan 55°C didapati nilai persamaan Y = 1399.6538 x 10-6= 274664827.04) / 5. terlihat terdapat 3 garis yang merepresentasikan 3 suhu penyimpanan yang berbeda yakni 45°C. penurunan jumlah asam askorbat / vitamin C pada produk jenis powder memiliki kesamaan apabila dibandingkan dengan produk . Ketiga suhu penyimpanan memberikan persamaan garis yang berbeda dimana untuk suhu 45°C didapati nilai persamaan Y = 1585. Q = (Ao-Ae) / kz (zero order) q45 = (1552. Selain itu.3391 X dengan R 2 sebesar 0.1206 X dengan R2 sebesar 0. untuk suhu penyimpanan 65°C maka didapati nilai persamaan Y = 1321.3748 x 1012 4.

10 secara garis besar serupa dengan grafik 4.9 dimana kerusakan produk yang diindikasikan dengan penurunan jumlah asam askorbat / vitamin C pada produk powder vitamin C yang paling besar selama 28 hari masa penyimpanan terjadi untuk produk yang disimpan dalam suhu 65°C. Pada setiap suhu penyimpanan. Ketiga suhu penyimpanan memberikan persamaan garis yang berbeda dimana untuk suhu 45°C didapati nilai persamaan Y = 7. terlihat bahwa penurunan kadar .0533 X dengan R2 sebesar 0. Meskipun kerusakan terbesar sama-sama terjadi pada suhu penyimpanan 65°C.2968 – 0.0212 X dengan R 2 sebesar 0.3827 – 0.liquid/concentrated vitamin C. Kerusakan produk dengan indikasi penurunan kadar asam askorbat terbesar terjadi pada suhu penyimpanan 65°C. Untuk suhu penyimpanan 55°C didapati nilai persamaan Y = 7. First Order Arrhenius Curve 8 7 6 5 45 ln Vit C 4 55 3 65 2 1 0 0 5 10 15 20 25 30 days Gambar 4.10 Grafik First Order Arrhenius Curve Hal yang serupa juga dapat terlihat berdasarkan hasil yang tertera pada grafik 4.2683 – 0.10 di atas. terdapat perbedaan hasil yang menonjol diantara ketiganya.9182. 55°C dan juga 65°C terlihat terdapat 3 garis yang merepresentasikan 3 suhu penyimpanan yang berbeda-beda. Hasil yang diindikasikan pada grafik 4. Selain itu.8133. Baik untuk produk liquid/concentrated vitamin C maupun powder vitamin C keduanya mengalami kerusakan terbesar pada suhu penyimpanan 65°C dan kerusakan terkecil pada suhu penyimpanan 45°C. Pada 3 suhu penyimpanan yang berbeda yakni 45°C. untuk suhu penyimpanan 65°C maka didapati nilai persamaan Y = 7.0154 X dengan R2 sebesar 0.7529.

.6478 -0. 3.0154 3.959 x 10-3 masing-masing untuk suhu penyimpanan 45°C. terdapat 3 nilai suhu penyimpanan yakni : 3. ketika liquid/concentrated vitamin C yang disimpan pada suhu 45°C dan 55°C memiliki laju kerusakan yang sama.0212 2.3 Variabel Kerusakan Produk Powder Vitamin C 1 / T (Kelvin) k Ln k 3. maka nilai yang berada di depan variable X dapat dikatakan sebagai k untuk persamaan garis pada zero order dan dikatakan sebagai ln k untuk persamaan garis pada first order sehingga akan didapati 6 buah variable dari keenam persamaan garis yang telah dibuat dengan hasil seperti ini : Tabel 4.asam askorbat dalam produk yang disimpan pada suhu 45°C dan juga 55°C memiliki perbedaan penurunan yang signifikan. Dengan demikian.049 x 10-3 dan juga 2.1206 -0.144 x 10 -3 . 55°C dan juga 65°C. Untuk mengukur masa simpan dengan menggunakan metode Arrhenius.3391 -0. untuk powder vitamin C tidaklah demikian dimana kerusakan pada suhu 55°C untuk powder vitamin C lebih besar dibandingkan dengan suhu penyimpanan 45°C.144 x 10-3 -19.049 x 10-3 -21.959 x 10-3 -37.0533 Keenam data yang tertera pada tabel di atas kemudian diplotkan ke dalam dua buah grafik yang berbeda dengan sumbu Y yang merupakan nilai variable yang ada baik k maupun ln k dan sumbu X yang merupakan nilai 1/T dimana T adalah suhu penyimpanan yang telah dikonversikan ke dalam derajat Kelvin.

11 Grafik Zero Order Arrhenius Curve First Order Arrhenius Curve (ln k) 0 0 0 0 0 0 0 0 -0.8341 dan first order memiliki nilai sebesar 0.2278 + 95451.6509 + 203.8507 untuk first order.05 -0.11 dan juga 4.02 ln k -0.12 maka didapati dua nilai persamaan yakni Y = -317.535 X dengan R 2 sebesar 0.01 -0. Zero Order Arrhenius Curve (k) 0 0 0 0 0 0 0 0 -5 -10 -15 -20 k -25 -30 -35 -40 1/T Gambar 4.06 1/T Gambar 4.03 -0.12 Grafik First Order Arrhenius Curve Berdasarkan grafik 4.92 X dengan R2 sebesar 0. Dikarenakan nilai R2 pada first order lebih besar dibanding zero order dimana zero order memiliki nilai sebesar 0. . q55 dan juga q65.04 -0.8341 untuk zero order dan nilai persamaan Y = -0.8507 maka digunakan persamaan yang didapat pada first order untuk mengukur nilai k yang akan digunakan untuk mengukur nilai q45.

Persamaan Arrhenius Ln k = ln k0 – (Ea/R)(1/T) akan setara dengan persamaan Y = a + bX yang kali ini direpresentasikan dalam persamaan garis first order sehingga apabila nilai 1/T yang telah dihitung sebelumnya dimasukkan ke dalam nilai X.3968 q65 = ln (7. kedua jenis produk ini memiliki perbedaan dimana untuk produk liquid/concentrated vitamin C. keduanya memiliki kesamaan dimana kerusakan dengan indikasi penurunan jumlah asam askorbat dalam sampel terbesar terjadi pada suhu penyimpanan 65°C dan penurunan jumlah asam askorbat terkecil terjadi pada suhu 45°C.03032 sehingga nilai k yang terhitung adalah 0. kerusakan pada suhu 45°C maupun 55°C adalah sama sedangkan untuk powder vitamin C.3108/0.9891.0008) / 0.8650 4.2207 q55 = ln (7. q55 dan juga q65 dengan menggunakan persamaan di bawah ini : Q = ln (Ao/Ae) / kf (first order) q45 = ln (7.9701 dan juga akan didapti nilai ln k untuk 65°C sebesar -0. Untuk produk vitamin C bentuk liquid/concentrated dan juga bentuk powder. Apabila suhu lainnya dimasukkan ke dalam persamaan.9701 = 9. maka dapat dilakukan perhitungan nilai q45.9891 = 9. produk ini memiliki kesamaan dengan dua jenis produk lainnya dimana kerusakan dengan indikasi penurunan jumlah asam askorbat dalam sampel terjadi paling minim pada suhu penyimpanan 45°C sedangkan berbeda dari dua jenis lainnya .0006) / 0. maka akan didapati nilai ln k untuk 45°C sebesar -0.0008) / 0.1.9525 = 9. maka akan didapati nilai ln k untuk 55°C sebesar -0.2276/0.04864 sehingga nilai k yang terhitung adalah 0. Untuk vitamn C dengan bentuk effervescent.4 Perbandingan Terdapat beberapa persamaan maupun perbedaan dari setiap jenis produk vitamin C terhadap ketiga suhu penyimpanan.9525.2788/0. kerusakan pada suhu penyimpanan 55°C lebih besar dibandingkan dengan suhu penyimpanan 45°C.01099 sehingga nilai k yang terhitung adalah 0. Meski demikian. Dengan keempat nilai k yang berbeda pada ketiga suhu penyimpanan.

Apabila dilihat berdasarkan luas permukaan kedua produk. Hal ini disebabkan karena transparansi akan memperbesar peluang terekspos cahaya dan udara panas dimana asam askorbat merupakan suatu subtansi yang sangat peka dan mudah sekali teroksidasi apabila terdapat panas. alkali. . kerusakan terbesar terjadi untuk produk jenis liquid dimana variable kerusakannya sebesar 215442. kedua jenis vitamin C lainnya disimpan dalam kemasan yang tidak transparan sehingga kontak dengan cahaya dapat diminimalisir.yakni liquid/concentrated dan juga powder vitamin C.535.9299 dan pada posisi terakhir terdapat jenis powder dengan kerusakan sebesar 203. enzim. terdapat sedikit ketidak sesuaian yang terjadi dimana produk powder mengalami penurunan mutu yang lebih lambat dibandingkan dengan produk effervescent. Meski demikian. dll (Winarno. Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi adalah kemasan pembungkus kedua jenis produk dimana untuk produk effervescent disimpan dalam kemasan berbahan dasar logam yang lebih tebal dari pada kemasan powder sehingga penetrasi panas bertahan lebih lama pada jenis vitamin C effervescent yang menyebabkan produk mengalami penurunan jumlah asam askorbat yang lebih cepat. oksidator. 1992). asam askorbat berada pada keadaan terlarut dimana disimpan dengan kemasan dari bahan kaca yang transparan. Apabila dilihat berdasarkan ketiga nilai variable yang menggambarkan besarnya kerusakan pada ketiga jenis produk vitamin C. Hal ini terjadi tak lepas dari faktor yang mempengaruhi produk tersebut disimpan seperti jenis kemasan dan juga jenis produk. Transparansi kemasan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa produk liquid/concentrated vitamin C mengalami kerusakan yang paling parah dibandingkan dengan jenis lainnya. terdapat beberapa perbedaan lain. Di lain sisi. Untuk produk jenis liquid/concentrated. kerusakan paling besar terjadi pada suhu penyimpanan 55°C. Selain beberapa persamaan dan perbedaan yang telah diutarakan sebelumnya.51 diikuti dengan produk jenis effervescent dengan variable penurunan mutu sebesar 54275. cahaya. maka untuk produk vitamin C powder akan memiliki luas permukaan yang lebih besar dari pada jenis effervescent yang berarti luasan yang akan kontak dengan udara juga semakin besar yang seharusnya akan meningkatkan peluang terjadinya kerusakan pada produk tersebut.

1 Liquid / Concentrate 4. Untuk suhu penyimpanan 45oC. pada suhu 5 oC sebagai kontrol yang diletakkan dalam refrigerator. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Rachmawati et al (2009) bahwa suhu dan lama waktu penyimpanan yang meningkat akan mengurangi kandungan dan rasa asam dari vitamin c. Parameter kedua yang diuji adalah warna sampel. dan powder menggunakan sampel Hemaviton C1000.2.4. dihasilkan angka 5 yang konsisten dari hari ke-7 hingga hari ke-28 dimana warna yang dihasilkan adalah kuning.1 Liquid / Concentrate Sampel liquid yang digunakan pada percobaan ini adalah You C1000 rasa jeruk.3. Uji sensori yang dilakukan adalah sensori terhadap rasa asam.2 Q10 4. Semua warna sampel dari penyimpanan hari ke-0 dari semua suhu sama yaitu 6 dimana warna sampel masih sangat kuning.2.2. 45. Untuk suhu penyimpanan 5oC.3 Powder 4. ditemukan bahwa rasa asam pada sampel tetap konsisten di angka 5 yaitu asam. Suhu yang digunakan pada penyimpanan sampel adalah 5. dihasilkan angka 6 yang konsisten hingga hari ke-21 namun pada hari ke-28 menurun menjadi 5 yaitu berwarna kuning. di hari ke-0 dan hari ke-7 masih menghasilkan rasa yang sangat asam namun pada hari ke-14 dan ke-21 mulai menurun ke angka 5 yaitu asam dan pada hari ke-28 semakin menurun lagi ke angka 4 yaitu agak asam. warna dan hedonic dari overall sampel.2. effervescent menggunakan sampel Enervon C. 4. Pada suhu 45oC.3 Uji Sensori Uji sensori dilakukan dengan menggunakan 3 jenis sampel vitamin C yaitu liquid/concentrate menggunakan sampel merek You C1000. Menurut parameter pertama yang diuji yaitu rasa asam. 55 dan 65 oC. .4 Perbandingan 4.2 Effervescent 4.

Pada hari ke-7. . Pada hari ke-7 hingga hari ke-21 menghasilkan angka 6 dimana panelis menyukai sampel tersebut. 14. pada hari ke-0 panelis sangat menyukai sampel tersebut namun pada hari ke-7. 21 dan 28 terus menurun menjadi 6. 4 secara berurutan yaitu suka. Suhu memang mempengaruhi hedonic overall dan kesegaran dari rasa produk dimana produk seharusnya memang disimpan pada suhu refrigerator. Untuk suhu penyimpanan 65oC. Namun pada hari ke-21 dihasilkan warna yang berbeda jauh dengan yang sebelumnya yaitu 2 yaitu tidak kuning atau coklat dan pada hari ke-28 kembali pada angka 6 yaitu sangat kuning. dihasilkan angka 6 yang konsisten hingga hari ke- 14.Untuk suhu penyimpanan 55oC. terjadi penurunan hingga angka 4 pada hari ke-7 dan ke- 14 yaitu menghasilkan warna agak kuning. pada hari ke-0 dan ke-14 menghasilkan angka 6 dimana panelis sangat menyukai sampel tersebut. Namun pada hari ke-28. Pada hari ke-21 dan ke-28 terjadi peningkatan dan penurunan yaitu di angka 5 dan 2 secara berturut-turut dimana angka 5 menunjukkan warna kuning dan angka 2 menunjukkan warna tidak kuning atau coklat. panelis memberikan angka 5 dimana panelis agak menyukai sampel tersebut. Untuk suhu penyimpanan 5oC pada hari ke-0 menghasilkan angka 7 dimana panelis sangat menyukai sampel tersebut. Parameter terakhir yang diuji dalam uji sensori ini adalah hedonic overall. Untuk suhu penyimpanan 65oC. 5. Terdapat kesalahan yang mungkin terjadi karena kesalahan dalam mengolah data atau saat praktikum berlangsung. 21 dan 28. Untuk suhu penyimpanan 45oC. Untuk suhu penyimpanan 55oC. agak suka dan pada hari ke-21 dan ke-28 panelis menjawab netral. panelis memilih angka 4 atau netral untuk kesukaannya terhadap sampel tersebut. panelis hanya menyukai sampel pada hari ke-0 sedangkan terus menurun untuk hari berikutnya yaitu agak tidak suka pada hari ke-7 hingga hari ke-21 dan tidak suka pada hari ke-28. 4.

5 4 3.5 3 2.5 5 4.5 0 1 7 14 21 28 Gambar 4. Grafik Uji Hedonik Overall Penyimpanan pada Suhu 5oC 7.5 6 5.5 2 1.5 2 1.5 4 3.5 1 0.5 0 1 7 14 21 28 Gambar 4. 7.5 6 5.5 7 6.5 3 2.5 7 6.5 5 4. Grafik Uji Hedonik Overall Penyimpanan pada Suhu 45oC .5 1 0.

45. Grafik Uji Hedonik Overall Penyimpanan pada Suhu 55oC 7.5 2 1.5 7 6. 7.5 1 0. batas PSL terletak diantara .5 0 1 7 14 21 28 Gambar 4.5 2 1. Grafik Uji Hedonik Overall Penyimpanan pada Suhu 65oC Menurut hasil percobaan yang dilakukan. 55. dapat dilihat bahwa HQL sampel pada penyimpanan pada 4 suhu yang berbeda yaitu 5.5 3 2.5 5 4.5 5 4. Sedangkan PSL merupakan batas toleransi maksimal yang diberikan konsumen terhadap adanya barang cacat.5 7 6.5 6 5.5 0 1 7 14 21 28 Gambar 4. Saat sampel di simpan pada suhu 5 oC.5 4 3.5 6 5.5 4 3.5 3 2.5 1 0. dan 65oC berada pada range penyimpanan hari ke-1 sampai dengan hari ke-7 yang berarti penyimpanan hari ke-1 hingga dengan hari ke-7 merupakan standar terendah dari kualitas sampel yang masih dapat diterima oleh konsumen.

Untuk penyimpanan suhu 65oC batas dari PSL menurun yaitu diantara hari ke-1 hingga hari ke-14. batas PSL terletak diantara hari ke-7 sampai dengan hari ke-14. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin meningkatnya suhu penyimpanan maka batas dari PSL atau batas dari penerimaan konsumen akan semakin menurun . Pada penyimpanan sampel di suhu 55oC.hari ke-21 dan ke-28. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyimapanan pada suhu rendah (pada percobaan ini adalah 5oC) dapat memperpanjang batas penerimaan konsumen hingga penyimpanan pada hari ke-28.

1 Kesimpulan Pada uji sensori yang dilakukan dalam percobaan kali ini. warna dan hedonik secara keseluruhan maka sampel dengan suhu penyimpanan 5oC merupakan sampel yang rasa asam dan warna yang konsisten serta memiliki rasa yang masih disukai hingga pengamatan pada hari ke-28. Selain itu. menurut parameter rasa asam. penyimpanan sampel pada suhu 5oC juga menghasilkan batas PSL atau batas penerimaan konsumen yang paling baik yaitu hingga pada hari ke-28 dimana semakin meningkatknya suhu penyimpanan maka batas penerimaan konsumen akan semakin menurun. BAB V PENUTUP 5. sehingga suhu terendahlah yang menunjukkan hasil terbaik. . Suhu 5oC merupakan hasil yang terbaik karena memang suhu refrigerator juga merupakan suhu penyimpanan yang baik bagi sampel tersebut.

“Shelf Life of Food”. No. 2678-2681. 1993. Edisi 9. 2015 Banker. Jakarta:Raja Grafindo Persada. 39: 861 – 865. and nutritional aspects.) Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv- Vis. Lange Medsical Publicatins. T. Lailatul dan A.). L.pmed. Dan Anderson.00 20168 [Diakses pada 13 Maret 2017] . B. Bandung : Penerbit ITB. 1986.DAFTAR PUSTAKA Almatsier. Vol.E. Lieberman. Shelf life prediction of packaged foods: chemichal.P. RM.org/article/info:doi %2F10. H.pdf (accessed 13 March 2017) Institute of Food Science and Technology. 27. G. Kanig. Jurnal Wiyata. Guyton A. Manggara.al.636. R.id/wp- content/uploads/2013/11/p3274082_penentuan_umur_simpan-libre.plosmedicine. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Dewi. Jakarta: Halaman 645-646. 248. J. Floros. Food Control. Harper’s Review of Biochemistry. Teori dan Praktek Farmasi Industri. 1 P-ISSN 2355-6498. A.unimus. 653. 2 No. 1993. “Penentuan Umur Simpan Pada Produk Pangan. Journal Food Sci. 244. 697-699. (Eds). 1997.4 (2008) [e-journal] http://tekpan. 1974.M. N.ac. Sunita. UI-Press.w.Los Altos. J. and Labuza. Vol. S..et. 80-81. 1971. The Significance of the Evidence about Ascorbic Acid and the Common Cold. Jakarta: Gramedia. Chlaralambous (Ed. Jakarta: EGC. J. Institut Pertanian Bogor. 132-150. Tablet Dalam Lachman. Kajian Kandungan Senyawa Karotenoid. 674-679. 125-133.... Pauling L. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. “Shelf life prediction: theory and application”.C. Fu. Skripsi. Available from: http://www. G.dalam: Douglas. L.1340 Heny Herawati. Penetapan Kadar Vitamin C pada Cabai Merah (Capsicum Annum L. 18th ed. Kurniasih. Badriyah.D. Kimia Makanan.76.” Jurnal Litbang Pertanian. 4. London: Elsevier Publ. 2010.. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gnanasekharan. 2004. Deman. 651.1070. 2001. and V. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 655. Hall 2007.1371%2Fjournal. A. Martin. 2010. physical. Stanford: Stanford University.d. biological. Vitamin C for Preventing and Treating the Common Cold. California 94022. Khomsan. 74. B. and J. 1981. 606. Antosianin dan Asam Askorbat pada Sayuran Indigenous Jawa Barat. 140-143.. 701-703.

Jilid 1. Vol. “Mengenali Teknologi Tablet Effervescent”. Cetakan 1. [e-journal] http://jpa.htm/ [Diakses pada 20 maret 2017] Sediaoetama. Jurnal Pangan dan Agroindustri. F. Sherwood.. 2004. G. 2002. http://www. 2010 .ac.pikiranrakyat. 2.id/index. Abisatya Widya.D. Jakarta: Dian Rakyat. A. D.ub.com/cetak/0403/10/cakrawala/lainnya2. Edisi 2. No 3 (2014): 203-213. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. 2001.Rohdiana.php/jpa/article/viewFile/69/86 (accessed 12 March 2017) Winarno. Keamanan Pangan. L. “Shelf Life Determination of Apple Flavored Drink Using Accelerated Shelf LifeTesting (ASLT) Method by Arrhenius Equation Approach”. Bogor: M-Brio Press. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta: EGC Swadana. dan Sudarminto Setyo Yuwono.