LABORATORIUM UJI BAHAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. GegerkalongHilir Ds. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Fax. (022) 2016150 Ext. 266 Bandung

Pokok : Pengujian Benda Uji No. Uji : 12
Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 1/20
I. REFERENSI
1. RSNI M-01-2003 : Metode Pengujian Campuran Beraspal Panas Dengan Alat
Marshall;
2. SNI 03-6893-2002 : Metoda Pengujian Berat Jenis Maksimum Campuran Beraspal;
3. Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 Divisi 6
4. Spesifikasi Umum Bina Marga April 2007, Divisi 6, Seksi 6.3

II. TUJUAN
Menghitung dan menentukan kadar aspal optimum hasil pengujian Marshall.

III. DASAR TEORI
Pembuatan benda uji marshall dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan yang
memenuhi syarat dan gradasi agregat sesuai dengan spesifikasi yang telah dipilih. Benda
uji Marshall mempunyai ukuran dengan standar tinggi 2,5“ dengan garis tengah 4“ dan
dibutuhkan ± 1200 gr campuran bahan untuk tiap benda uji. Benda uji ini dibuat melalui
proses pemanasan, pengadukan, dan pemadatan antara campuran agregat dan aspal.
Suhu pencampuran dan pemadatan ditentukan berdasarkan angka viskositas dari
aspal yang digunakan. Jika suhu pada saat pemadatan terlalu tinggi (tidak sesuai dengan
standar) akan sulit untuk mencapai kepadatan optimum. Namun apabila suhunya terlalu
rendah, maka hasil yang didapat akan memiliki rongga yang besar, dan menyebabkan
ikatan antar agregat mudah pecah/lepas.
Benda uji marshall dibuat pada perkiraan awal kadar aspal rancangan optimum (Pb).
Jumlah benda uji adalah satu pada kadar aspal Pb, 2 buah diatas Pb dan 3 buah dibawah
Pb dengan perbedaan kadar aspal 0,5%. Sehingga dari kurva hubungan antara kadar aspal
dan sifat-sifat campuran didapat kadar aspal pada VIM = 5% dengan sifat-sifat campuran
memenuhi persyaratan, dan jumlah tumbukan untuk 1 benda uji adalah 2 x 75 tumbukan.
Selain itu, setelah diperoleh kadar aspal pada VIM = 5%, maka dibuat benda uji untuk
menentukan VIMRD (rongga dalam campuran untuk Refusal Density) yang sesuai
persyaratan. Jumlah benda uji dibuat minimum 3 seri, yaitu 1 buah (1 seri) pada kadar
aspal VIMRD, dan masing-masing 1 buah untuk diatas dan dibawah kadar aspal VIM RD;
dengan interval kadar aspalnya = 0,5%, dan untuk satu seri. jumlah tumbukan untuk 1
benda uji adalah 2 x 400 tumbukan atau dengan pengujian PRD (Penetration Refusal
Density).
Kelompok 3 2A-KS

LABORATORIUM UJI BAHAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. GegerkalongHilir Ds. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Fax. (022) 2016150 Ext. 266 Bandung

Pokok : Pengujian Benda Uji No. Uji : 12
Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 2/20
Metode marshall dengan pendekatan kepadatan mutlak merupakan salah satu cara dalam
merencanakan campuran aspal beton panas. Pengujian Marshall meliputi pemeriksaan
volumetrik, stabilitas dan flow dari benda uji dengan tinggi 2,5”, diameter 4” sehingga
mendapatkan sifat-sifat campuran sesuai dengan spesifikasi yang dipilih dalam hal ini
laston. Adapun sifat campuran untuk Laston dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Sifat Campuran untuk Laston
Laston
Sifat-Sifat Campuran Lapis Aus Lapis Antara Pondasi
Halus Kasar Halus Kasar Halus Kasar
Kadar aspal efektif (%) Min 5,1 4,3 4,3 4 4 3,5
Penyerapan aspal (%) Maks 1,2
Jumlah tumbukan per bidang 75 112 ¹
Min 3
Rongga dalam campuran (%) ²
Maks 5
Rongga dalam agregat (VMA)
Min. 15 14 13
(%)
Rongga terisi aspal (%) Min. 65 63 60
Stabilitas Marshall (kg) Min. 800 1800 ¹
Pelelehan (mm) Min. 3 4,5 ¹
Marshall Quotient (kg/mm) Min. 250 300
Stabilitas Marshall sisa (%)
setelah perendaman selama 24 Min. 90
jam, 60°C ³
Rongga dalam campuran (%)
pada kepadatan membal (refusal) Min. 2

Catatan :
1. Modifikasi Marshall
2. Rongga dalam campuran berdasarkan pengujian berat jenis maksimum agregat(GMM)
3. Direksi pekerjaan dapat atau menyetujui AASHTO T283-89 sebagai alternatif pengujian kepekaan
terhadap kadar air. Pengkondisian beku cair (freeze thaw conditioning) tidak diperlukan. Nilai indirect
tensile strength retained (ITSR) minimum 80% pada VIM 8%.
4. Untuk menentukan kepadatan membal (refusal), disarankan menggunakan penumbuk bergetar
(Vibratory hammer) agar pecahnya butiran agregat dalam campuran dapat dihindari. Jika digunakan
penumbukan manual jumlah tumbukan per bidang harus 600 untuk cetakan berdiameter 6” dan 400
untuk cetakan berdiameter 4”.

Pembuatan benda uji pada percobaan marshall dibedakan menjadi tiga macam percobaan,
begitu pula dengan pemeriksaannya, percobaan-percobaan tersebut meliputi:

1. Percobaan Marshall dengan benda uji 2 x 75 tumbukan,
2. Percobaan Marshall dengan kepadatan mutlak (PRD)dengan benda uji dipadatkan
Kelompok 3 2A-KS

2. lapidan tidak kedap air.  Ikatan aspal mudah lepas. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. dalam pengujian stabilitas benda dikondisikan dalam keadaan panas ± 60°C yang dinyatakan dalam (kg).  Stabilitas akan turun. VMA dihitung berdasarkan berat jenis bulk agregat yang dinyatakan sebagai % volume bulk suatu campuran perkerasan yang dipadatkan. termasuk rongga udara dan kadar aspal efektif yang dinyatakan dalam % terhadap volume campuran total. mudah terjadi oksidasi. (022) 2013789.  Aspal tipis. Flow Jumlah perubahan bentuk (deformasi) yang diukur dalam satuan milimeter yang ditunjukan pada saat pembebanan. 4. 3. Fax. Parameter-parameter yang diperlukan dan diperoleh dari pengujian Marshall. (022) 2016150 Ext. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 3/20 2 x 400 tumbukan. VMA yang rendah dapat mengakibatkan:  Kadar aspal rendah. Stabilitas Kemampuan lapis perkerasan menerima beban lalu lintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap. VMA ( Void in Minerals Agregat) Ruang diantara partikel agregat pada suatu perkerasan beraspal. 3. VIM ( Void In Mix) Ronggga udara dalam campuran perkerasan beraspal yang terdiri atas ruang udara Kelompok 3 2A-KS . 5. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. Percobaan Stabilitas Marshall setelah perendaman 24 jam (immertion) dengan pemadatan benda uji 2 x 75 tumbukan. GegerkalongHilir Ds. Stabilitas dibagi Flow ( Marshall Quotient) Perbandingan antara stabilitas (yang telah dikali koreksi benda uji) dengan kelelehan dalam satuan Kg/mm. Parameter-parameter sifat campuran yang disyaratkan adalah: 1. Kebutuhan atas stabilitas setingkat dengan jumlah beabn lalu lintas yang melalui jalan tersebut.

GegerkalongHilir Ds. (kg/mm) q = kadar aspal efektif = b x GMM = berat jenis maksimum A = berat agregat B = Berat air + tutup + botol C = berat air + tutup + botol + agregat Kelompok 3 2A-KS . Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 4/20 diantara partikel agregat yang terselimuti oleh aspal yang dinyatakan dalam %. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. (022) 2016150 Ext. Rumus-rumus dalam pengujian Marshall: h= a = % aspal terhadap agregat b = % aspal terhadap campuran c = berat contoh kering (gram) d = berat contoh dalam keadaan jenuh (gram) e = berat contoh dalam air (gram) f = isi contoh = d-e g = berat is contoh = c/f h = berat jenis maksimum campuran (teoritis) i = % rongga diantara agregat (VMA) = j = VIM = 100 – k = jumlah kandungan ronggga (%) = 100 (i – j) / i (VFB) l = pembacaan arloji stabilitas m = stabilitas (l x kalibrasi proving ring) . Fax. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. (kg) Tabel 2 o = kelelehan (mm) p = hasil bagi Marshall (MQ). (kg) n = stabilitas ( m x koreksi ketinggian benda uji). (022) 2013789. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl.

0 1.5 69.2 0.5 27. Rata-rata Uji (mm) Koreksi 200 213 206.7 1.3 2.5 46. Maks. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp.57 277 289 283. Fax.25 457 470 463.0 61.9 0.04 509 522 515.5 3.5 41.39 432 443 437.0 73.19 471 482 476.5 28.81 599 610 604.5 57.0 1.55 238 250 244.5 74.32 444 456 450.0 49.79 380 392 386.50 329 340 334.4 5.0 68.0 38.8 3.78 317 328 322.1 0.6 1.9 1.2 1.9 3.2 1.56 214 225 219.2 4.17 251 264 257.0 66.1 2.5 39.78 611 625 618. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl.67 393 405 399.9 2. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 5/20 Tabel 2.96 536 546 541.14 483 495 489.76 Catatan: Untuk mendapatkan angka koreksi maka harus di interpolasi antar tebal benda uji Kelompok 3 2A-KS .3 0.5 58.5 54. Rasio Korelasi Stabilitas Isi Benda Uji (cm3) Tebal Benda Angka Min.6 4.3 1.0 5.7 2.7 0.56 406 420 413. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No.27 341 353 347.5 63.5 1.93 547 559 553.5 71.86 574 585 579.3 3. (022) 2013789.4 1.08 354 367 360. GegerkalongHilir Ds.0 52.4 1.0 60.00 523 535 529.6 1.85 265 276 270. (022) 2016150 Ext.0 34.5 44.47 421 431 426.5 31.6 0.5 33.09 496 508 502.5 25.89 560 573 566.0 76.0 42.33 290 301 295.8 1.4 0.83 586 598 592.0 50.00 226 237 231.92 368 379 373.0 55.03 302 316 309.5 35.0 0.0 65.0 47.0 30.

(022) 2013789. (022) 2016150 Ext. Cincin penguji (proving ring) kapasitas 25 kN dan atau 50 kN dilengkapi arloji (dial) tekan dengan ketelitian 0. Fax. GegerkalongHilir Ds. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. Kepala penekan (breaking head) berebentuk lengkung b. Alat Marshall lengkap dengan: a. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. PERALATAN DAN BAHAN Peralatan No Nama Alat Utama dan Spesifikasi Alat Gambar Peralatan 1. Arloji pengukur alir (flow) dengan ketelitian 0. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 6/20 IV. Oven dilengkapi dengan pengatur suhu yang 2. mampu memanasi sampai 200°C (±3°C) Kelompok 3 2A-KS .0025 mm c.01 mm beserta perlengkapannya.

Water bath tanpa pengatur suhu Timbangan dilengkapi penggantung benda uji 5. Bersihkan alas dan permukaan benda uji dari kertas-kertas yang menempel dengan menggunakan sikat kawat (jangan sampai merusak benda uji). Kelompok 3 2A-KS . kapasitas 30 cm 6.1 Alat ukur panjang (Sigmat). (022) 2016150 Ext. 6. (gambar 1) Gambar 1 V. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 7/20 Water bath dilengkapi dengan pengatur suhu 3. Fax.5. 5. GegerkalongHilir Ds. 7. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pengujian ini. PROSEDUR PENGUJIAN Langkah-langkah pengujian Marshall 2x75 tumbukan mengikuti prosedur sebagai berikut: 1. kapasitas minimum 2 kg ketelitian 0. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. 6.5. 5. 100°C dengan ketelitian 1% dari kapasitas Bahan  Pengujian Marshall setelah perendaan 30 menit dalam suhu 60°C dengan pemadatan benda uji 2 x 75 tumbukan. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl.0.5. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. Benda uji Marshall test dengan kadar persentase aspal (4. mulai ((20 – 60)±1)°C 4.01 mm Thermometer dari logam kapasitas 250°C dan 7. dengan ketelitian 0. 2.0)% dengan masing-masing 3 buah benda uji. (022) 2013789.0.

Rendam benda uji selama ± 24 jam . (022) 2013789. lalu keringkan permukaan benda uji dengan lap lembab. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. (022) 2016150 Ext. Rendam benda uji dalam air ± 24 jam pada temperature ruang (namun pada pengujian yang kami lakukan direndam dengan paraffin yang dicairkan pada suhu 60˚) 7. kemudian lap benda uji dengan lap kering. kelompok dan kelas) dan diikat dengan tali agar memudahkan pada saat merendam di waterbath dengan suhu 60°C. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 8/20 3. 5. 6. Timbang berat benda kemudian beri tanda menggunakan kertas (% kadar aspal. dan timbang berat benda uji pada kondisi saturated surface dry Kelompok 3 2A-KS . 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. Fax. Angkat benda uji dari bak perendam. GegerkalongHilir Ds. Ukur dimensi benda uji (diameter dan tingginya) dengan menggunakan jangka sorong 4.

Rendam benda uji dalam water bath selama (30 – 40) menit dengan temperature (60±1)°C. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 9/20 (SSD) 8. (022) 2016150 Ext. Fax. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. atur jarum Kelompok 3 2A-KS . GegerkalongHilir Ds. Masukan benda uji ke dalam penjepit 13. 9. Panaskan kepala penekan Marshall dalam oven pada suhu 60°C selama ± 30 menit. (022) 2013789. Pasang bagian atas kepala penekan di atas benda uji dan letakkan seluruhna dalam mesin uji Marshall 11. 10. 12. Pasang arloji pengukur pelelehan (Flow) pada kedudukannya di atas salah satu batang penurun dan atur jarum arloji pada angka nol. Naikkan kepala penekan hingga menyentuh alas cincin penguji. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No.

7 47.5 19.5 gr f = berat contoh keadaan SSD = 1204. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 10/20 arloji tekan (proving ring) pada kedudukan angka nol.9 gr Tabel 3. GegerkalongHilir Ds. 15.0 250.5mm 2. Data Hasil Perhitungan Pengujian Marshall setelah Perendaman 30 Menit dengan Pemadatan Benda Uji 2 x 75 Tumbukan. (022) 2016150 Ext.47 57.55 22. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp.04 Suhu Pencampuran = 145°C Suhu Pemadatan = 140°C a = % aspal terhadap agregat = b = % aspal terhadap campuran = 4.5 56.8 mm (2 inchi) per menit sampai dicapai beban maksimum.91 1.5 – 7 % e = berat contoh kering = 1165.: C = Hasil uji Bj Kering Oven Agregat D = Prosentase Hasil Penggabungan Agregat Kelompok 3 2A-KS .9 3 Abu Batu <9.2 1. Masukkan data-data hasil pengujian di atas ke dalam Form 3.4 22.54 18. Diketahui : BJ aspal = 1.7 142. Fax. (022) 2013789.2. Berikan pembebanan pada benda uji dengan kecepatan ± 50.8 gr g = berat contoh dalam air = 640.9 4 PCC <0.15mm 2.5 57. Koreksi Proporsi Agregat karena penyesuaian terhadap perbedaan BJ Nomor Jenis Agregat BJ KO % gab % Gab. DATA DAN PERHITUNGAN A.6 100.3 100.0 2 Screen <19mm 2. catat bacaan beban maksimum dan pelelehan (Flow). VI. Koreksi A B C D E=CxD F=(E/G)x100% 1 Split <25mm 2.0 Ket.1 3. 14.

(022) 2016150 Ext.59 kg/mm GMM = 2.414 S = Absp aspal terhadap agregat total = 1.8-1165.6 t = Kadar aspal efektif = = 2.26 kg q = kelelehan (mm) = 5.5 % m = % rongga terisi aspal (VFA) = 100*(k-i’)/k = 100*(12.840 =554.448 k = % rongga diantara agregat (VMA) = 100 - = 100 .275) / 12.969 % Karena penyerapan air lebih dari 2% maka Kepadatan (density) harus di koreksi. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp.275 / 2.5876 = 659.1 % n = bacaan pada alat (divisi) = 255 o = l x kalibrasi proving ring = n * kalibrasi proving ring = 255 * 2.8-640.2 mm r = hasil bagi marshall = p/q = 554.615 h = isi benda uji = ( f – g ) = 1204.5)*100/(1204. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No.84 kg p = o x koreksi benda uji = 659. GegerkalongHilir Ds.91*2. = 12.8 % l = % rongga terhadap campuran (VIM) = 100 – (100 * i’ / j) = 100 – (100 * 2.8 = 49. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 11/20 E = Prosentase Hasil Penggabungan Agregat Setelah dikoreksi akibat perbedaan BJ Maka : BJ efektif agregat = 2.84 * 0. i = Berat isi contoh = ( e/h) = (1165. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl.91*i) + 0. Fax.9) = 2.233 = 2.244) + 0. (022) 2013789.448) = 6.9 = 515.5-640.97 % (selengkapnya data dan perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.26 / 5.233 = (0.8 – 640.2 = 106.9 cc Penyerapan Air = (f-e)*100/(f-g) = (1204.275 gr/cc j = BJ maks. (teoritis) = = = 2.8-2.244 gr/cc i’ = Berat isi koreksi = (0.9) = 6. resume hasil pengujian Kelompok 3 2A-KS .

Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. Fax. (022) 2016150 Ext. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 12/20 Marshall pada tabel 5 dan untuk grafiknya pada tabel 6). (022) 2013789. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. Kelompok 3 2A-KS . 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. GegerkalongHilir Ds.

Data hasil pengujian Marshall Kelompok 3 2A-KS . LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. (022) 2016150 Ext. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 11/20 Tabel 4. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. GegerkalongHilir Ds. Fax. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. (022) 2013789.

(022) 2016150 Ext. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 12/20 Tabel 5. GegerkalongHilir Ds. (022) 2013789. Fax. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. Resume hasil pengujian Marshall Kelompok 3 2A-KS . Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp.

campuran retak (crack). Penambahan agregat kasar atau halus dengan pengurangan bahan filler mengakibatkan volume rongga semakin besar. Berdasarkan hal tersebut. yaitu dengan mengatur gradasi agregat. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. dapat dinyatakan bahwa penambahan kadar aspal menyebabkan VMA semakin menurun. Rongga minimum dalam agregat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kekurangan aspal dalam campuran yang mengakibatkan butiran dalam campuran lepas. menyatakan bahwa penambahan kadar aspal justru menyebabkan VMA semakin tinggi. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. VMA juga dapat dijadikan indicator terhadap durabilitas campuran. (022) 2013789. Nilai VMA dapat ditambah dengan menyediakan rongga yang cukup untuk aspal dan VIM. sehingga umur layanan menjadi lebih pendek. Berdasarkan grafik c. berarti volume rongga semakin kecil. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 13/20 Kurva Analisa Kadar Aspal Optimum Campuran Beraspal Grafik c Grafik d Pembahasan : Grafik d merupakan grafik hubungan antara VMA dengan kadar aspal yang terjadi pada umumnya. GegerkalongHilir Ds. Berdasarkan grafik d. (022) 2016150 Ext. Grafik c merupakan grafik yang dihasilkan dari pengujian benda uji yang telah dirancang. Fax. Nilai VMA hasil pengujian hanya beberapa kadar aspal yang memenuhi Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 yaitu minimum 14% Kelompok 3 2A-KS .

(022) 2013789. menyatakan bahwa penambahan kadar aspal menyebabkan rongga dalam campuran mengecil. Kelompok 3 2A-KS . Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 14/20 Penyebab : Penyebab grafik c menghasilkan kurva seperti di atas yaitu bertambahnya kadar aspal bertambah pula rongga dalam campuran. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. Grafik e merupakan grafik hasil pengujian benda uji yang telah dibuat. Fax. Hal tersebut disebabkan aspal mengisi rongga yang ada sehingga campuran menjadi lebih rapat atau rongga menjadi makin kecil dan makin sedikit dan kadar aspal yang menyelimuti agregat optimum. (022) 2016150 Ext. Grafik e Grafik f Pembahasan : Grafik f merupakan grafik hubungan antara VIM dengan kadar aspal yang sering terjadi pada umumnya. Berdasarkan grafik f. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. Penyebab : Dikarenakan gradasi agregat yang terlalu kasar sehingga permukaan agregat yang harus diselimuti aspal lebih banyak dan kadar aspal yang seharusnya mengisi rongga menjadi berkurang sehingga campuran memiliki banyak rongga udara pada campuran semakin banyak. GegerkalongHilir Ds. Berdasarkan grafik di atas. grafik e melebihi batas maksimum nilai VIM menurut Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 yaitu 5%. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl.

Grafik g menyatakan bahwa hasil pengujian benda uji memiliki nilai VFB yang rendah karena grafik cenderung berada di bawah batas minimum menurut Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 yaitu minimum 65% Penyebab : VFB merupakan rongga yang terisi aspal. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. Dari grafik menunjukkan bahwa VFB rendah karena gradasi agregat hasil analisa ayak menunjukkan agregat kasar (mendekati grafik bawah) maka kadar aspal yang seharusnya mengisi rongga akan berkurang dikarenakan permukaan agregat yang harus diselimuti oleh aspal lebih banyak dari yang seharusnya dan juga tidak konstannya pemadatan dapat menyebabkan campuran memiliki lebih banyak rongga. Grafik g merupakan hasil pengujian benda uji yang telah dibuat. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 15/20 Grafik g Grafik h Pembahasan : Grafik h merupakan grafik hubungan antara kadar aspal dengan VFB. Berdasarkan grafik h. Kelompok 3 2A-KS . VFB juga membatasi rongga udara untuk campuran yang mendekati kriteria VMA. (022) 2013789. Kriteria dari VFB membantu agar campuran tidak mudah rutting terhadap beban lalu lintas berat. VFB membatasi level maksimum VMA sekaligus membatasi level maksimum penambahan kadar aspal. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. (022) 2016150 Ext. Fax. menyatakan bahwa peningkatan kadar aspal pada campuran menyebabkan rongga-rongga dalam campuran semakin banyak terisi aspal. Hal tersebut menunjukkan tidak adanya halangan bagi aspal dalam mengisi rongga-rongga yang ada. GegerkalongHilir Ds. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp.

penambahan kadar aspal dimana akan memiliki nilai kadar aspal efektif tinggi dapat meningkatkan nilai ratio fines. (022) 2013789. Nilai ratio fines didapatkan dari perbandingan kadar aspal efektif dengan persen kadar lolos no. Maka pada grafik m. hal itu disebabkan karena material agregat halus yang digunakan memiliki nilai penyerapan air lebih dari 3% (tidak memenuhi persyaratan agregat pada Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3). Fax. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No.200. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 16/20 grafik m Barchart KOA Pembahasan : Grafik m merupakan grafik hubungan antara ratio fines dengan kadar aspal. (022) 2016150 Ext. GegerkalongHilir Ds. Namun pada grafik m tidak memenuhi syarat Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3. Kelompok 3 2A-KS .

5%. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. GegerkalongHilir Ds. -Nilai stabilitas marshal sisa hasil dari pengujian index perendaman (IP) = 86% Hasil pengujian IP tidak memenuhi batas minimum menurut Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 yaitu 90% -Nilai VIM dari hasil pengujian PRD = 8. VFA dan ratio fines terpenuhi. Fax. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No.84% Hasil pengujian PRD memenuhi nilai minimum menurut Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 yaitu 2% Kelompok 3 2A-KS . LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. sehingga diambil kadar aspal yang memenuhi persyaratan terbanyak yaitu pada kadar aspal 6. (022) 2013789. VMA. (022) 2016150 Ext. Pada kadar aspal tersebut syarat VIM. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 17/20 Barchart KOA (Kadar Optimum Aspal) menunjukan bahwa benda uji dengan variasi kadar aspal yang dibuat tidak memenuhi semua persyaratan .

ST. (022) 2013789.SP-1 Ryno Octy Praditya NIP. 151121025 Kelompok 3 2A-KS .. Pembacaan dial yang kurang teliti pada saat pengujian Marshal 2x75 tumbukan. Pemadatan (tumbukan) pada saat pembuatan benda uji Marshal 2x75 tumbukan tidak konstan sehingga mengakibatkan banyaknya rongga pada campuran . Dosen Pembimbing. 195911281985031002 NIM. Nursyafril. LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jl. Penanggung Jawab . hal tersebut dikarenakan oleh: . (022) 2016150 Ext. Gradasi agregat hasil dari pengujian analisa ayak yang terlalu kasar (mendekati kurva bawah) sehingga rongga pada campuran besar dan mengakibatkan rendahnya stabilitas . GegerkalongHilir Ds. KESIMPULAN Dari hasil pengujian dan perhitungan Marshall setelah perendaman 30 menit dengan pemadatan benda uji 2x75 tumbukan dilihat dari grafik hasil pengujian didapatkan hasil bahwa tidak semua sifat campuran memenuhi spesifikasi yang disyaratkan oleh Spek Umum Bina Marga 2010 Revisi 3. Uji : 12 Materi : Pemeriksaan Benda Uji Campuran Beraspal Halaman : 20/20 VII. Ciwaruga KotakPos 6468 BDCD Tlp. 266 Bandung Pokok : Pengujian Benda Uji No. Fax.