Tugas Teori Akuntansi

Bab 7 Aset

Nama Kelompok:

Kim Zsa Zsa Hutagalung 12014000654
Hendry 12014000673
Agnes Cindy Tania 12014000675
Jeremy Surya 12014000677
Monika 12014000679

Program Studi Ekonomi Akuntansi Unika Atma Jaya Jakarta 2017

Misalnya. dan keuntungan dari perwujutan itu Control by an entity Sesuatu dapat dikatakan sebagai aset bila unit usaha tertentu dapat menggunkan manfaat aset tersebut dapat menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses pihak lain terhadap aset tersebut. . paten dan hak cipta merupakan aset meskipun kedua elemen tersebut tidak memiliki bentuk fisik. Artinya sesuatu tersebut memiliki kemampuan baik secara individu atau bersama-sama dengan aset lain untuk menghasilkan aliran kas masuk di masa mendatang. Jadi penguasaan terhadap suatu manfaat merupakan faktor yang penting agar suatu unit usaha dapat menghalangi akses pihak lain terhadap pemakaian suatu aset. Hal ini disebabkan kedua elemen tersebut memiliki manfaat ekonomi di masa mendatang. Asets Pengertian Menurut IASB (International Accounting Standards Board) Aset adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa masa lalu. Bentuk fisik bukanlah faktor penentu dari aset. baik secara langsung maupun tidak langsung. Karakteristik Aset Tiga karakteristik aset:  future economic benefits  control by an entity  past events exchangeability recognition rules Future economic benefits Aset memiliki manfaat/potensi jasa yang cukup pasti di masa mendatang. Aset merupakan sesuatu yang ada sekarang dan memiliki kemampuan untuk membuat jasa atau keuntungan di masa depan. Aset juga membedakan antara benda seperti bangunan atau mesin. diakui oleh perusahaan dan berasal dari transaksi lalu.

atau keadaan tertentu. aset akan diakui tergantung dari keputusan atasan. FASB mengabaikan faktor exchangeability. Hal ini disebabkan dalam definisinya.Past events Suatu unit usaha dapat menguasai suatu aset apaila telah terjadi transaksi atau peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki pengendalian terhadap manfaat dari aset tersebut. yang artinya suatu aset dapat dipisahkan dari entitas dan memiliki nilai jual yang terpisah. Para akuntan berpendapat bahwa definisi aktiva perlu ditambah. Goodwill akan ikut bersamaan ketika perusahaan dijual dan nilainya juga tidak pasti. Dengan kata lain. Jadi aset tersebut muncul karena transaksi masa lalu. ASET RECOGNITION Pada umumnya pengakuan aset diakui pada saat terjadi transaksi. Exchangeability Banyak kritikan yang ditujukan ke FASB. Sebagai contoh. aset tersebut dapat diakui apabila terdapat transaksi yang benar-benar terjadi bukan berasal dari transaksi yang berupa hipotesis. Untuk mengakui suatu aset ada kriterianya. Aset yang dileasingkan akan berpindah kepemilikan sesuai dengan perjanjian yang terjadi. piutang usaha akan dicatat sebagai aset ketika terjadi penjualan secara kredit. Untuk pengakuan ini. Goodwill merupakansalahsatu aset perusahaan yang tidak berwujud. melainkan diakui sebagai beban. yaitu harus memiliki manfaat ekonomi masa depan dan aset harus dapat diukur secara moneter. peralatan akan dicatat sebagai aset pada saat peralatan tersebut dibeli. Jika suatu aset sudah tidak memiliki manfaat ekonomi masa depan masa tidak boleh diakui sebagai aset. Sebagai contoh. Contoh lainnya. Convention maksudnya adalah suatu aset sudah pasti diakui pada saat tertentu sebagai contoh. kejadian. Mac Neal (1939) mengatakan bahwa suatu barang yang kehilangan faktor exchangeability berarti kehilangan nilai ekonomi karena pembelian atau penjualannya tidak memungkinkan untuk dilakukan sehingga tidak ada nilai pasar yang melekatpadabarangtersebut. Waktu pengakuan aset penting karena berpengaruh terhadap penyusunan dan penggunaan laporan keuangan. Untuk mengakui suatu aset dalam neraca ada beberapa aturan pengakuan yaitu convention dan authoritative. . perpindahan kepemilikan aset pada saat melakukan leasing. Pengakuan aset berdasarkan authoritative berbeda dari convention. Selain kriteria di atas. ada juga terdapat kriteria untuk mengakui suatu aset dimasa lalu. yaitu bahwa yang dimaksud aktiva harus mempunyai kemampuan untuk ditukar dengan aktiva lainnya.

Kerangka IASB menjelaskan karakteristik kualitatif informasi keuangan dan memberikan panduan atribut yang lebih diutamakan dalam informasi keuangan.” SEC terus bertahan pada posisi ini sampai 1978. Aset baru akan diakui jika memiliki dokumen yang legal. Revaluasi harus selalu diperbarui pada setiap tanggal posisi keuangan. Praktik pengukuran aset saat ini bermacam-macam dan mencerminkan antara insetif manajer dan praktik akuntansi di masa lalu. hal tersebut disebutkan dalam IAS 16 meliputi bangunan. Pengukuran pada biaya akuisisi didebat lebih objektif dan menyediakan informasi yang andal dan dapat dibuktikan. Biaya historis telah dikukuhkan dengan kuat dalam GAAP melalui posisi SEC. Pengukuran tersebut dapat berdasarkan nilai pasar yang disediakan oleh penilai yang terkualifikasi secara professional atau mungkin diperkirakan oleh entitas berdasarkan pendekatan pendapatan atau biaya pengganti yang terdepresiasi. manajer mungkin memilih model revaluasi untuk pengukuran kemudian. mengantisipasi losses. dan peralatan dan IAS 40 kepemilikan investasi. Di lain hal. tidak untuk gain. Dalam IAS 16. contohnya GAAP nasional di Perancis dan Jerman. Misalnya. pengukuran nilai wajar menyediakan informasi yang relevan. Pengukuran aset Ada beberapa pengakuan aset yang dapat digunakan. Beberapa GAAP nasional lebih suka menggunakan biaya historis. SEC menolak penyimpangan apapun dari biaya historis akuntansi dalam tubuh laporan keuangan. manajer mungkin merevaluasi tanah setiap kenaikan harga untuk memastikan aset tersebut tidak terlalu rendah dalam posisi keuangan. dengan perubahan nilai yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Model biaya mencerminkan pendekatan konservatif kepada pengukuran aset. Penetap standar masih bertahan untuk menyetujui pedoman konseptual untuk pengukuran. pabrik. Nilai yang saat ini dalam posisi keuangan mungkin . o Menggunakan prinsip conservatism . “Dari pendiriannya. o Reliance on the law. Standar IASB memperbolehkan pengukuran kembali kemudian pada aset berwujud. o Menentukan substansi ekonomi dari transaksi atau peristiwa. Zeff menanggapi. Revaluasi dapat menyediakan informasi yang lebih baru dibandingkan biaya historis. ketika diusulkan cadangan minyak dan gas harus dinilai secara periodik. Standar-standar ini mengizinkan tapi tidak mengharuskan menggunakan model pengukuran nilai saat ini. Aset berwujud Pendekatan tradisional (bab 5) telah mengukur aset pada biaya historis.

Di Inggris dan Australia. Hal ini menunjukkan tidak adanya pengaruh kenaikan nilai aset terhadap laba dan rugi. hal itu dihapuskan atas dasar bahwa hal tersebut tidak menghasilkan aset yang dapat dikenali secara terpisah. Praktik akuntansi dalam relasi kepada pengukuran aset tak berwujud telah konservatif. dan pengenalan standar akuntansi baru di akhir tahun 1990 yang memharuskan nilai dari aset yang direvaluasi tidak akan berbeda secara material kepada nilai yang terkandung didalamnya pada tanggal posisi keuangan. Salah satu perdebatan yang menentang model pengukuran saat ini adalah pengukuran tersebut tidak handal dan subjektif. dll. maka metode biaya dikurangi akumulasi amortisasi dan impairment lebih sering digunakan dalam pengukuran. Karena cenderung tidak memiliki pasar aktif. namun IAS 16 mengharuskan nilai wajar harus ditentukan dengan referensi pasar aktif. hak kekayaan intelektual. yang mengurangi permintaan informasi nilai terkini. contohnya nilai wajar opsi saham ditentukan menggunakan model dibandingkan menggunakan harga pasarnya. pengguna lebih menyukai nilai wajar yang diperkirakan daripada yang diamati. Awal adopsi IAS/IFRS tahun 2005. Meskipun pengeluaran mungkin memberikan peningkatan manfaat di masa depan. Secara tidak handal. Pengukuran tersebut subjektif karena masukan model penilaian diperoleh manajemen dengan kepentingannya sendiri dalam memilih masukan. Aset bertambah di sebelah debet dan bertambah di cadangan revaluasi dalam ekuitas di kredit. perusahaan telah beberapa tahun menggunakan nilai-nilai selain biaya historis pada aset berwujud. Sebagai tambahan. IAS 38 melarang pengakuan atas pemunculan secara internal aset tak berwujud. Kemungkinan alasan dari hal tersebut adalah lingkungan yang inflasinya relatif rendah. Penggunaan model nilai saat ini adalah langka/ jarang terjadi. IAS 38 memperbolehkan model revaluasi. Aset tak berwujud Aset tidak berwujud meliputi merek dagang. paten. Standar akuntansi mengharuskan mengukur aset tak berwujud awalnya dengan biaya pada saat akuisisi.relevan untuk membuat keputusan atau mungkin menguntungkan dalam perhitungan rasio keuangan. Keuntungan dari pengukuran aset yang dihasilkan dari penggunaan model revaluasi secara tradisional dimasukkan langsung ke dalam ekuitas. . perusahaan di Inggris dan Australia telah diamati lebih jarang menggunakan model revaluasi dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Seluruh instrumen finansial dikelompokan dalam empat jenis dengan metode pengukuran yang diharuskan oleh setiap jenis.Instrumen-instrumen Keuangan Aset keuangan merupakan jenis aset ketiga. Pernyataan-pernyataan FASB telah berpengaruh kuat dalam pengembangan standar-standar instrumen keuangan yang disebarkan oleh IASB. di antara pihak-pihak berpengetahuan luas yang bersedia dalam suatu transaksi sepanjang lengan. Kita telah mengetahui model pengukuran dominan menggunakan biaya historis. Hal ini dilampirkan dalam tabel di bawah ini: Klasifikasi dan Pengukuran Instrumen-Instrumen Keuangan Jenis aset Keuangan Metode Pengukuran Berasal dari pinjaman dan piutang Biaya yang diamortisasi. namun telah diperdebatkan bahwa dasar-dasar biaya historis tidak cocok untuk mengukur beberapa instrument keuangan. IASB telah mengikuti pengarahan FASB dalam penetapan standar untuk instrumen-instrumen keuangan. IAS 39 memisahkan aset dan liabilitas keuangan dan memperkenalkan peraturan pengukuran yang bersangkutan. namun dengan model biaya perubahan-perubahan dalam nilai tidak akan tercatat dalam laporan keuangan. Seiring waktu berjalan nilainya dapat berubah secara drastis. IASB telah berpegang teguh pada pengukuran nilai wajar untuk menyediakan informasi yang relevan kepada pengguna laporan keuangan. yang tidak memiliki biaya. Sebuah entitas dilarang menggunakan . Sebagai contoh adalah derivatif. IAS 39 yang asli instrument-instrumen keuangan: pengakuan dan pengukuran adalah berdasarkan pada SFAS 133. Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengukur. nilai wajar didefinisikan sebagai: jumlah untuk aset yang dapat ditukarkan atau sebuah liabilitas yang ditetapkan. Penetap-penetap standar berdebat bahwa dengan mengukur aset keuangan pada nilai wajar. Untuk menyediakan seperangkat standar-standar inti kepada International Organization of Securities Commissions (IOSCO) pada tahun 2000. Dalam IAS 39. FASB dan IASB telah menyimpulkan bahwa derivatif harus diukur dengan nilai wajar daripada biaya. tergabung pengukuran nilai wajar untuk instrument-instrumen keuangan dalam beberapa pernyataan. Seperti FASB dan IASB. subjek untuk pengulasan untuk penurunan dalam nilai. Kenyataannya. Aset tidak akan terpengaruh dengan tujuan untuk dijual atau ditahan sampai jatuh tempo Investasi ditahan sampai jatuh tempo Biaya yang diamortisasi. memikirkan tujuan pemanfaatan keputusan. pengguna-pengguna informasi disediakan dengan informasi yang relevan mengenai nilai-nilai mereka. Pengukuran instrumen-instrumen keuangan mencerminkan kerumitan dari instrumen-intrumen tersebut.

Sekuritas tersedia untuk dijual Nilai wajar. dan derivatif ke laba dan rugi. walaupun klaim ini dibantah oleh Cairns. Direksi akan mempertimbangkan konsep. mempertimbangkan beberapa model pengukuran. dengan keuntungan atau kerugian dalam pengukuran kembali yang diakui dalam ekuitas. klasifikasi ditahan sampai jatuh tempo jika ia menjual atau memindahkan lebih dari bagian kecil dari investasi ditahan sampai jatuh temponya sebelum waktu tempo. seluruh instrumen keuangan diukur pada biaya akuisisi (sama dengan nilai wajar saat itu). Nantinya mereka akan mengevaluasi dan member peringkat kepada metode pengukuran untuk melihat metode mana yang memenuhi karakteristik kualitatif informasi keuangan yang dibutuhkan. dengan perubahan-perubahan dalam nilai wajar diakui dalam pendapatan. dengan keuntungan dan kerugian atau diklasifikasikan sebagai nilai wajar yang muncul dari pengukuran kembali dibawa melalui laba dan rugi. Standar IASB diklaim memperkenalkan penggunaan pengukuran fair value (nilaiwajar) secara luas. Di pengakuan kemudian. sebuah entitas mungkin terpilih untuk menilai seluruh atau sebagian dari instrumen-instrumen keuangannya pada nilai wajar. Dalam pengakuan awal. Nilai wajar. dan persyaratan pengukuran. prinsip. Penyusun-penyusun standar disarankan untuk secara terbuka. Seluruh aset keuangan dijual pada biaya yang diamortisasi dan sekuritas tersedia untuk dijual diharuskan dinilai untuk penurunan pada setiap tanggal laporan. TANTANGAN BAGI PENYUSUN STANDAR Model Pengukuran yang Mana? FASB dan IASB harus mempertimbangkan dasar pengukuran yang potensial (contohnya harga jual atau harga ekuilibrium) untuk menyelesaikan isu mengenai pengukuran.. Cairns menyatakan bahwa IFRS telah memperkenalkan pengukuran nilai wajar untuk derivative dan beberapa aset dan liabilitas keuangan lainnya (dibawah IAS 39) serta sebagai syarat untuk mengukur pembayaran berdasar-saham (share-based payment) bagi karyawan dengan menggunakan nilai wajar. selama saat ini atau mendahului dua tahun buku. . dengan mengangkat mereka sebagai ‘nilai wajar melalui laba dan rugi’. Aset keuangan ditahan untuk diperdagankan.

Nilai Wajar biasa digunakan untuk mengukur pengakuan atas aset. IAS 39 (Financial Instruments: Recognition and Measurement). . setelah dicari ternyata di pasar. seperti contoh di dalam IAS 16 (Property. Selain 3 teknik dalam pengukuran fair value. SEAS 157 milik FASB tentang Fair Value Measurement (efektifsejak 2007) menyediakan contoh teknik penghitungan untuk mengestimasi nilai wajar. FASB mengindikasikan bahwa. Tetapi hal ini diwajibkan bagi beberapa aset keuangan dibawah IAS 39 (seperti derivatif. melainkan merupakan pilihan. dan IAS 41 (Agriculture). serupa. FASB juga menetapkan adanya “fair value hierarchy” dimana hirarki ini menunjukkan input apa yang dapat digunakan untuk menentukan nilai wajar dari asets dan liabilities:  Level 1 : Quoted price di pasar aktif untuk asets dan liabilities yang identik dapat diketahui secara pasti. Plant and Equipment). yaitu asumsi-asumsi dan data yang digunakan partisipan pasar untuk mengestimasi nilai wajar. aset dan liabilitas keuangan held- for-trading. tanpa melihat pendekatan apa yang digunakan. Cara Menghitung Pengukuran Nilai Wajar Penyusun standar telah mempersiapkan bantuan mengenai cara mengukur nilai wajar.00. IAS 17(Leases). harga produk yang identik dengan A adalah Rp50. Dukungan IASB dan FASB terhadap penggunaan nilai wajar sebagai dasar pengukuran secara luas. penghitungan harus menekankan pada input pasar. dan yang diklasifikasikan sebagai nilai wajar melalui laba dan rugi) dan liabilitas dan aset pension dibawah IAS 19. merupakan fokus yang dipertimbangkan di beberapa sektor di komunitas keuangan.000. Di beberapa standar pengukuran dengan menggunakan nilai wajar tidak diharuskan.  Pendekatan Biaya.Penghitungan berkelanjutan (subsequent measurement) dengan nilai wajar. yaitu data dan asumsi yang akan digunakan peserta pasar untuk mengestimasi nilai wajar. antara lain:  Pendekatan Pasar-Penggunaan harga dan informasi yang ada dari transaksi sebenarnya untuk aset dan liabilitas yang identik. FASB mengindikasikan bahwa valuasi harus menekankan pada input pasar. contohnya bagi semua instrument keuangan. Terlepas dari ke-3 pendekatan tersebut.  Pendekatan Pendapatan-Konversi diskonto nilai yang akan diterima di masadepan.Jumlah yang akan diperlukan untuk mendapatkan kapasitas yang sama (replacement cost). lebih jarang dilakukan. atau dapatdibandingkan. Misalkan kita ingin mengetahui berapa fair value dari produk A.

Untuk itu. Auditor juga perlu memberikan penilaian (judgement) mengenai apakah kliennya telah menggunakan metode pengukuran dan asumsi- asumsi nilai wajar yang tepat dalam rangka mengetahui sudah layakkah penetapan nilai wajar klien tersebut. Kendala berikutnya. metode. karena dibutuhkan adanya penerapan dari model penilaian dan tidak jarang. Dalam melakukan audit atas nilai wajar. perlu menggunakan multiple valuation techniques yang konsisten dengan market. and cost approaches. auditor dalam mengaudit nilai wajar haruslah mencapai tingkat keyakinan bahwa segala pengukuran yang disediakan oleh klien telah menggunakan teknik. Maka ia masuk dalam level 1. maka kita cari harga produk yang mirip dengan A. Karena dapat diketahui harga untuk produk identik. terdapat aksi legal yang dilakukan oleh perusahaan untuk melawan auditor yang gagal dalam melakukan audit nilai wajar. dan data yang pantas dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi manajemen klien.  Level 3 : Input yang tidak dapat diobservasi quoted price-nya. Dengan kata lain. Selain itu. . maka kita cari adakah produk yang sejenis dengan A di Bogor. maka digunakanlah quoted price untuk asets dan liabilities yang mirip (similar). masuk dalam level ini. misalnya di Jakarta tidak ada. Karena tidak diketahui harga untuk produk identik tetapi diketahui harga produk yang mirip.  Level 2 : Quoted price di pasar aktif untuk asets dan liabilities yang identik tidak dapat diketahui secara pasti. income. penggunaan tenaga ahli dalam melakukan penilaian nilai wajar. maka tidak ada penyesuaian (quoted price tidak boleh disesuaikan). Misalkan di pasar tidak ada harga untuk produk yang identik dengan A. dapat juga ditentukan dengan mencari tahu harga di pasar aktif wilayah lain. auditor perlu memahami proses usaha dari klien tersebut serta pengendalian yang relevan dalam menentukan nilai wajar. maka perlu diadakan penyesuaian. Namun pada intinya. ISSUES FOR AUDITORS Audit nilai wajar dapat menimbulkan kesulitan bagi para auditor. Di mana dalam menentukan harga. auditor perlu mengembangkan pendekatan audit yang efektif. apabila harga untuk produk identik atau produk yang mirip tidak ditemukan di pasar aktif maka perlu diadakan penghitungan sendiri dengan mengacu pada tiga pendekatan tersebut.