BAB 3

KEBIJAKAN PUBLIK SEBAGAI KEPUTUSAN-KEPUTUSAN YANG MENGANDUNG
KONSEKUENSI MORAL
Bab ini membahas mengenai produk pemerintah berupa kebijakan-kebijakan publik yang
harus dilaksanakan sesuai dengan ukuran normatif yang didalamnya terdapat interaksi antara
penguasa, penyelenggara, atau administrator negara dengan rakyat.
1. Keadilan Sosial
Keadilan sosial menjadi tujuan negara yang nantinya dapat mencapai
kesejahteraan rakyat. Nilai keadilan berawal dari gagasan tentang negara
kesejahteraan (walfare state). Asas pokok negara kesejahteraan adalah (1) setiap
warga negara memiliki hak dari lahir mengenai kesejahteraan dasar atau taraf hidup
minimum; (2) negara memiliki tanggungjawab atas taraf hidup minimum setiap
warga; (3) pencapaian ketersediaan lapangan kerja untuk semua warga didukung oleh
kebijakan pemerintah dan menjadi tujuan sosial yang utama.
Sistem negara kesejahteraan menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai
prioritas utama dan menjalankan kewajiban bagi seluruh aparat negara di setiap
jenjang untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan yang menuju cita-cita
kesejahteraan atau keadilan sosial. Sesuai prinsip keadilan distributif, keadilan sosial
melakukan upaya pemerataan sumber daya di negaranya dan dapat berpihak pada
kelompok atau kelas bawah dalam melakukan pemerataan sumber daya. Pengambil
keputusan harus mencermati kelompok-kelompok yang berada di kelas bawah agar
tidak berkaitan dengan permasalahan kemiskinan. Menurut Hardiman dan Midgey
bahwa dalam mengukur kemiskinan di negara-negara berkembang dapat
menggunakan tiga tolak ukur yakni pertama, konsep garis-garis kemiskinan (poverty
lines) mengenai standar subsistensi diguankan sebagai patokan untuk menentukan
taraf hidup masyarakat. Kedua, ukuran yang berasal dari indikator taraf hidup
(indicators of level of living) yang lebih banyak menggunakan ukuran-ukuran
sekunder. Ketiga, kemiskinan dinilai dari ketimpangan sosial (measures of inequality).
Pengambil keputusan selaku eksekutif puncak menyadari pentingnya keadilan
sosial dalam pelaksanaan hukum mengenai kebijakan-kebijakan strategi. Terdapat
delapan jalur pemerataan ialah pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok, pemerayaan
kesempatan memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan, pemerataann distribusi
pendapatan, pemerataan kesempatan kerja, pemerataan pembangunan, pemerataan
partisipasi dalam pembangunan, pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh air,
dan pemerataan kesempatan memperoleh keadilan hukum. Permasalahan yang masih
muncul ialah kebijakan yang ada ditingkat menengah dijalankan tidak konsekuen. Hal
ini disebabkan budaya organisasi yang masih berorientasi ke atas. Salah satu upaya
yang dapat dilakukan dalam menciptakan pemerataan pembangunan pada masyarakat
khususnya masyarakat kelas bawah dengan adanya kebijakan yang sungguh-sungguh
mengangkat nasib masyarakat kelas bawah dengan memperhatikan ketimpangan
sosial yang terjadi antara masyarakat kelas atas dan bawah.