ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

HIV/AIDS

Kelompok 11 :
SITI ANNISA Z.N. (220110080145)
SALAS AULADI (220110080138)

SRI HANDINI PERTIWI (220110080105)
SILVIA JUNIANTY
(220110080097)
SRI MELFA DAMANIK
(220110080079)
SELLA GITA A SUSI
(220110080052)
HANIFAH
(220110080035)
SARAH RIDASHA F
(220110080013)
TIARA RACHMAWATI
(220110080118)
TIARA TRI P
(220110080108)
TRIANDINI
(220110080095)
TAMMY
(220110080053)

TIARA ARUM KESUMA (220110080050)

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
JATINANGOR
2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat-Nya kepada kelompok penyusun sehingga dapat menyelesaikan makalah mengenai HIV
AIDS.

Makalah ini disusun dalam rangka pendokumentasian dari aplikasi pembelajaran mata
kuliah Sistem Imun dan Hematologi. Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya terutama kepada tutor kelompok 11 dalam mata kuliah ini.

Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.

Pada akhirnya, penyusun mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun
khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Jatinagor, Oktober 2009

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Sindrom immunnodefisiensi didapat (Acquired Immunodeficiency Syndrome,
AIDS), Sindrome ini pertama kali ditemukan oleh Michael Gottlieb pertengahan tahun 1981
pada penderita pria homoseksual dan pecandu narkotik suntik di Los Angles, Amerika
Serikat. Sejak penemuan ini, dalam beberapa tahun dilaporkan lagi sejumlah penderita
dengan syndrom yang sama dari 46 negara bagian Amerika Serikat lainnya.

Penyebaran AIDS terjadi secara cepat ke berbagai benua. Dampak yang terlihat
pada penderita beserta keluarganya, serta belum diketahuinya cara penanganan dan
pengobatannya menyebabkan keresahan psikosial yang sangat besar di kalangan
masyarakat.

Pada awalnya penyebab AIDS belum diketahui secara pasti. Namun, banyak
pihak yang menduga bahwa strain virus yang asli berasal dari monyet dan simpanse di
Afrika. Para ahli telah menemukan sejenis virus yang mirip pada seekor monyet Afrika
Barat. Menurut hipotesa yang menarik tetapi belum dapat dibuktikan, para ahli menduga
bahwa virus itu mulanya masuk ke dalam tubuh manusia sebagai akibat sampingan dari
percobaan-percobaan malaria mulai tahun-tahun 1920-an hingga 1950-an. Pada
percobaanpercobaan tersebut, manusia disutik dengan darah dari monyet dan simpanse yang
kemungkinan mengandung virus yang ternyata kelak menjadi HIV. Tujuan dari eksperimen
ini sebenarnya adalah untuk melihat apakah parasit malaria di dalam tubuh binatangbinatang
tersebut akan dapt juga menulari tubuh manusia.

Dokter-dokter 1980-an juga mulai mengamati adanya penderiat di kalangan pria
muda dengan jenis kanker sel darah yang langka yaitu sarcoma, demikian pula PCP.
Pasienpasien ini dan mereka yang pernah ditangani oleh Gottlieb memiliki satu persamaan
yaitu semuanya gay. Oleh karena itulah syndrome tanpa nama itu diberi julukan ”gay
plague” atau “gay cancer”. Penyakit yang tadinya dianggap sebagai sampar gay atau gay
plague ternyata dapat menyerang heteroseksual, terutama orang-orang yang menggunakan
jarum suntik, mitra seksnya, bayi dari ibu terinfeksi dan penderita hemofilia(yang mendapat
transfusi darah tercemar HIV). Jelas bahwa virus ini tidak mengenal apakah tubuh yang

diserangnya milik seorang gay, heteroseks atau bayi baru lahir (AIDS & PMS dan
Perkosaan hlm 28-30). Pada akhir tahun 1983 para peneliti menemukan suatu jenis
retrovirus yang mulanya diberi nama Lympadenopati associated virus. Kemudian pada
bulan Mei tahun 1986 disepakati menggunakan satu nama yaitu Human Immunodeficiency.

I. 2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan membahas lebih dalam
tentang AIDS (Aqcuired Immune Deficiency Syndrome). Selain itu, makalah ini juga
ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok Mata Kuliah Sistem Immunologi dan
Hematologi.

I.3. Rumusan Masalah
Kasus pemicu
AIDS
Tn. A usia 35 tahun, TB 170 cm, BB saat ini 50 kg, mengeluh lemah. Lems tidak bergairah,
diare dalam 40 hari, sering mendadak mengidap flue yang terasa seperti flu berat sampai
suatu ketika hanya karena flue tersebut tuan A nyaris pingsan, hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan nilai ELISA western blot (+), neutropenia, anemia normositik
normokrom, limfosit CD4 + 200 sel/µl.

Pertanyaan :
1. Jelaskan tentang konsep penyakit pada kasus di atas!
2. Jelaskan klasifikasi klinis pasien untuk kondisi penyakit tersebut!
3. Jelaskan aspek pengkajian Keperawatan yang diperlukan untuk menghadapi pasien
diatas!
4. Sebutkan diagnose Keperawatan (sesuai dengan taxonomy NANDA) untuk kondisi
pasien dengan penyakit tersebut!

5. Universal Precaution
6. Sebutkan prinsip etik dan legal untuk mengatasi pasien SLE!

I.4. Tinjauan Teori
AIDS merupakan salah satu kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia
pada awal abad ke 21. Hal ini disebabkan karena penyakit ini, menyebabkan angka
kematian yang sangat tinggi, jumlah penderita yang semakin meningkat dalam waktu
singkat dan sampai sekarang belum dapat ditanggulangi dengan tuntas.

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala
penyakit yang menunjukkan kelemahan dan kerusakan system pertahanan tubuh seseorang
yang disebabkan oleh HIV(Human Immunodeficiency Virus). HIV menyebabkan
menurunnya kemampuan tubuh untuk melawan virus, bakteri, dan jamur secara efektif yang
menyebabkan timbulnya penyakit. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap berbagai
jensi tumor dan infeksi opurtunistik yang secara normal dapat dilawan oleh tubuh.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. CARA KERJA VIRUS HIV AIDS
Virus HIV-1 berbentuk bulat, berdiameter 80-100 nm dan berisi electron yang
padat, inti berbentuk kerucut yang dikelilingi oleh suatu selaput lipid yang berasal dari
membrane sel inang. Dinding HIV merupakan membrane yang terdiri dari dua lapis lipid
(lipid bilayer). Pada membrane bagian luar atau dinding HIV terdapat glikoprotein(gp)
yaitu gp120 dan gp41. Gp120 terdapat pada permukaan HIV yang dapat berikatan dengan
sel yang memiliki reseptor permukaan CD4, sedangkan gp41 adalah glikoprotein
transmembrane yang mengikat gp120. Pada membrane bagian dalam terdapat protein (p)
yaitu p17 yang merupakan kerangka atau matriks HIV.

Inti virus berisi:

integrase dan protease. Virus yang masuk ke dalam limfosit T4 selanjutnya mengadakan replikasi sehingga menjadi banyak dan akhirnya . Kapsin protein p24 yang terbesar 2. gag mengode sintesis protein pada inti HIV yaitu p24. gen rev mengode protein rev yang mengubah siklus replikasi untuk memperoduksi seluruh partikel virus. 1. Long terminal repeat (LTR) merupakan promoter bagi gen HIV yang berinteraksi dengan protein pengatur replikasi virus. vpu. Struktur Genom HIV Genom HIV terdiri dari RNA rantai tunggal berukuran 9. dan pol mengode pembentukan enzim reverse transcriptase. vpr. Ketiga enzim virus(protease . tat adalah gen yang mempercepat replikasi virus. rev. gen vpu mempengaruhi pelepasan virus.8 kb dengan region yang identik pada kedua ujungnya (long terminal repeat) yang mengandung gen regulasi. Dua salinan genom RNA 4. Selain sel limfosit T4. dan beberap sel homopoesis di dalam sum-sum tulang. yaitu monosit/makrofag. dan vif . Patogenesis HIV secara selektif akan menginfeksi sel yang berperan membentuk antibody pada system imunitas seluler yaitu limfosit T4 yang mempunyai reseptor permukaan CD4 yang dapat berperan sebagai reseptor untuk virus tersebut. ada sel lain yang juga mempunyai CD4 antigen pada membrannya. dan gen vif menentukan infektifitas virus di luar sel inang. yakni gen tat. Bagian lain genom terdiri dari tiga gen yang mengode protein structural virus env mengkode pembentukan glikoprotein selubung gp120 dan gp41. gen vpr memfasilitasi transport DNA HIV ke dalam sel inang. reverse transcriptase dan integrase) Protein p24 paling cepat mendeteksi antigen virus dan karena itu digunakan untuk diagnosis infeksi HIV pada tes ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). gen nef berperan dalam virulensi HIV. Enam gen tambahan pengatur ekspresi virus yang penting dalam patogenitas penyakit secara in vivo. nef. Nukleokapsid protein p7/p9 3.

Sejak 1 januari 1993. dan merupakan penyebab sebagian besar infeksi HIV secara global. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik. Kategori Klinis A Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C 1. orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.Hal ini lebih mematikan. HIV sebagai virus RNA mempunyai enzim transcriptase yang membentuk virus DNA pada kejadian infeksi. enzim reverse transcriptase dan protein virus. HIV-2. Setiap hasil replikasi DNA ini selanjutnya akan menghasilkan virus RNA. KLASIFIKASI Ada dua jenis HIV yang diketahui ada: a. HIV-1 HIV-1 adalah virus yang pada awalnya ditemukan dan disebut LAV. Virus DNA yang terbentuk ini masuk ke dalam inti sel target dan berintegrasi dengan DNA dan menjadi provirus. B. a. 2. relatif mudah menular. DNA provirus yang telah berintegrasi dengan sel DNA host (sel limfosit T4) akan ikut mengalami poliferasi sel. menghancurkan sel limfosit itu sendiri yang menyebabkan system kekebalan tubuh menjadi lumpuh. b. HIV-2 kurang ditularkan dan terbatas pada sebagian besar di Afrika barat. Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty ) .

lien. khusus dengan abses Tubo Varii c. 3. Kategori Klinis B Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup : 1. Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner ) 11. Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ ) 4. Gejala konstitusional seperti panas ( 38. Kanker serviks inpasif 3. Cytomegalovirus ( bukan hati. Kandidiasis bronkus. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.trakea / paru-paru. b. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf.bronchitis. Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan ) 8. Herpes simpleks (ulkus kronis. Sarkoma Kaposi . Kriptokokosis ekstrapulmoner 5. Angiomatosis Baksilaris 2. Kategori Klinis C Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup : 1.frekuen / responnya jelek terhadap terapi 3. 5. atau kelenjar limfe ) 7.pneumonitis / esofagitis ) 10. Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata 4. Kriptosporidosis internal kronis 6. Idiopatik Trombositopenik Purpura 8. Isoproasis intestinal yang kronis 12. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) 9. Penyakit inflamasi pelvis. esophagus 2. 7. Leukoplakial yang berambut 6.5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan. Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen.

Limpoma Burkit . Sindrom immunnodefisiensi didapat (Acquired Immunodeficiency Syndrome. Orang tersebut bisa bertahan hidup hingga 9 bulan. Masa bertahan hidup Seseorang yang terserang virus AIDS menjadi membawa virus tersebut selama hidupnya. 2. Mycobacterium. Menurut Smeltzer3 AIDS adalah gejala dari penyakit yang mungkin terjadi saat sistem imun dilemahkan oleh virus HIV.2 AIDS menyebabkan infeksi oportunistik dan/atau neoplasma yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang sebelumnya dalam keadaan sehat. yang pada penderitanya tidak dapat ditemukan penyebab defisiensi tersebut.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner ) 16. Imunoblastik. LATAR BELAKANG VIRUS HIV AIDS 1. Kompleks mycobacterium avium ( M. Leukoenselophaty multifokal progresiva 20. Pneumonia Rekuren 19. menyebabkan AIDS dapat . Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV) C. AIDS) pertama-tama menarik perhatian bidang kesehatan masyarakat pada tahun 1981. Pneumonia Pneumocystic Cranii 18. Toksoplamosis otak 22. Septikemia salmonella yang rekuren 21. Human Immunedeficiency Virus (HIV) tergolong ke dalam kelompok retrovirus dengan materi genetik dalam asam ribonukleat (RNA) .1 AIDS adalah penyakit defisiensi imunitas seluler. M. spesies lain.diseminata / ekstrapulmoner 17. dan limfoma primer otak 14. Masa inkubasi virus Masa inkubasi penyakit ini yaitu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala penyakit sangat lama (5 tahunsampai 10 tahun) dan karena infeksi HIV dianggap seumur hidup maka resiko terjadinya penyakit akan berlanjut selama hidup pengidap virus HIV. 13.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner 15.

membinasakan sel T-penolong (T4). Smetzler dan Brenda G. mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention ). Acquired : Didapat. maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal. Sebagai akibatnya. AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir ) AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). Jadi bukan . yang memegang peranan utama dalam sistem imun. ( Suzane C. AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV. hidup penderita AIDS terancam infeksi yang tak terkira banyaknya yang sebenarnya tidak berbahaya. Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan. yang untuk orang normal tidak berarti. dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T.Bare ) AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV.4 AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang disebut HIV. jika tidak terinfeksi HIV. Bukan penyakit keturunan Immune : Sistem kekebalan tubuh Deficiency : Kekurangan Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit.

gels bekas dipakai penderita. HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. semakin rusak sistem kekebalan tubuh. Tidak ada bukti penularan melalui kontak seharihari seperti berjabat tangan. namun juga vaginal dan oral. VAKSIN HIV AIDS vaksin Penyakit HIV/AIDS ditemukan dibangkok -Thailand. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala. Dalam percobaan sebelumnya. Penelitian vaksin ini menggabungkan canary pox vaccine ALVAC produksi SanofiAventis Perancis dengan AIDSVAX yang aslinya dibuat VaxGen Inc (lisensinya dipegang oleh organisasi nonprofit Global Solutions for Infectious Diseases). D. melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.000 warga thailand. seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan). Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi. Semakin rendah jumlah sel T4. Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah. . Dari ujijoba tersebut Vaksin HIV itu ternyata terbukti mengurangi resiko terinfeksinya seseorang terhadap HIV. transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Hasil studi terakhir menunjukkan vaksin itu 31. mencium. handuk atau melalui closet umum. karena virus ini sangat rapuh. rata-rata 5-10 tahun. seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS. walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Penemuan Vaksin Ini dihasilkan oleh Hasil studi Vaksin Ekperimental yang diujicobalkan kepada 16. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet.2 persen efektif mengurangi risiko tertular HIV. kedua vaksin itu kurang efektif jika sendiri-sendiri. Vaksin itu berbasis HIV strain B dan E yang dominan di Thailand. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita.

Sebanyak 51 orang dari total 8. Setengah dari sukarelawan mendapatkan vaksin itu dan sebagian lagi memakai plasebo (tidak mengandung vaksin). BAB III PEMBAHASAN A. Adapun kelompok plasebo. Menurut olonel Jerome Kim. hal ini merupakan kemajuan sains sangat penting. dari total 8. Studi ini memberikan harapan kemungkinan pembuatan vaksin yang efektif secara global.Stage of Exhaustion (reaksi kelelahan). agar dapat mendapatkan izin licensi obat E. sebanyak 74 orang terinfeksi.197 orang yang mendapat vaksin terinfeksi HIV. . Pada keadaan ini sudah dapat timbul gejala psikis dan somatic. pada fase ini tubuh dapat mengatasi stressor (perubahan) dengan baik. kepada sukarelawan yang terdiri dari perempuan dan laki-laki berusia 18-30 tahun dan tidak terinfeksi HIV. hal ini merupakan demonstrasi pertama vaksin HIV yang mampu memberikan perlindungan terhadap infeksi HIVt. Mereka berlokasi di dua provinsi di Thailand. ISTILAH-ISTILAH KHUSUS . Pada fase ini gejala-psikosomatik tampak jelas.The Stage of resisten (reaksi pertahanan). US Military HIV Research Program.(3). Jadi ada selisih 23 orang atau sekitar 15 %.198. reaksi terhadap stresor sudah melampaui tahap kemampuan tubuh. HOMEOSTATIS TUBUH Respon tubuh terhadap perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 3 fase (1)Alarm reaction (reaksi peringatan). Penemuan Vaksin ini dinilai beberapa pihak belum sempurna. masih perlu tahap-tahap selanjutnya untuk meneympurnakan formulasi dari vaksin ini. Vaksin itu diujicobakan Sejak awal 2003. di dekat Bangkok yang mempunyai tingkat risiko tinggi terinfeksi HIV .(2).

1. • AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh faktor luar (bukan dibawa sejak lahir). (Suzane C. 4. Smetzler dan Brenda G. makrofag). B. reseptor pembentuk antibody (T helper.Bare) . bisa juga terjadi karena terapi zidofudin (untuk menahan replitasi virus). paling banyak diantara monosit dan makrofag. Neutropenia adalah 3. Dalam bahasa Indonesia dapat dialihkatakan sebagai Sindrom Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan • Kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh menyebabkan ODHA (orang dengan HIV /AIDS) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Anemia normositik normokrom adalah hemolisis. 2. monosit. • AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). gangguan pada sumsum tulang belakang. Elisa Western Blot (Enzym Linked Immunosorbent ASSAY) adalah Tes mendeteksi antibody yang dibuat tubuh terhadap virus HIV . Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal. KONSEP PENYAKIT • AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Menunjukan virus terdapat pada darah. • Penentu klasifikasi AIDS paling parah. Limfosit CD4+ adalah • sel yang mencakup monosit.

Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang berupa agen . • AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV. ETIOLOGI AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II. (Center for Disease Control and Prevention) Gejala AIDS Gejala Mayor : • BB menurun atau gagal tubuh • Diare > 1 bulan (kronis/berulang) • Demam > 1bulan (kronis/berulang) • Infeksi saluran nafas bawah yang parah atau menetap Gejala Minor : • Lymfadenopati generalisata atau hepatosplenomegali • Kandidiasis oral • Infeksi THT yang berulang • Batuk kronis • Dermatitis generalisata • Encefalit C. LAV. RAV. mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi.

nyeri dada. termasuk darah. Faktor Resiko • Pria dengan homoseksual • Pria dengan biseksual • Pengguna IV drug • Transfuse darah • Pasangan heteroseksual dengan pasien infeksi HIV • Anak yang lahir dengan ibu yang terinfeksi → Diketahui bahwa virus dibawa dalam limfosit yang terdapat pada sperma memasuki tubuh melalui mucosa yang rusak. demam – tdk teratasi dapat gagal nafas (hipoksemia berat. takipnea dan perubahan status mental) • Gagal nafas dapat terjadi 2 – 3 hari • TBC • Nafsu makan menurun. → Ditularkan dari orang ke orang melalui pertukaran cairan tubuh. mual. kerusakan permukaan kulit. Gejala: sesak nafas. cairan vagina dan air susu ibu. MANIFESTASI KLINIS • Manifestasi klinis AIDS menyebar luas dan pada dasarnya mengenai setiap sistem organ • Pneumonia disebabkan oleh protozoa pneumocystis carini (paling sering ditemukan pada AIDS) sangat jarang mempengaruhi orang sehat. semen. viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T. batukbatuk. muntah . sianosis. melalui ASI. D.

• Herpes zoster → pembentukan vesikel yang nyeri pada kulit. bersisik yang mengenai kulit kepala dan wajah. E. diare. limfedema serta rasa nyeri. degenerasi dan nekrosis. amlabsorbsi gastrointestinal) • Kanker: klien AIDS insiden lebih tinggi → mungkin adanya stimulasi HIV terhadap sel kanker yang sedang tumbuh atau berkaitan dangan defesiensi kekebalan → mengubah sel yang rentang menjadi sel maligna • Sarcoma kaposis → kelainan maligna berhubungan dengan HIV (paling sering ditemukan) → penyakit yang melibatkan endotel pembuluh darah dan limfe. KOMPLIKASI . Lokasi dan ukuran lesi dapat menyebabkan statis aliran vena. • Diperkirakan 80 % klien AIDS mengalami kalianan neurologis → gangguan pada saraf pusat. perifer dan otonom. Lesi ulserasi akan merusak intergritas kulit dan meningkatkan ketidak nyamanan serta kerentanan terhadap infeksi. Ini berjalan lambat dan sudah diobati. • Diare merupakan masalah pada klien AIDS → 50% – 90% • Kandidiasis oral – infeksi jamur • Bercak putih dalam rongga mulut → tidak diobati dapat ke esophagus dan lambung • Wasthing syndrome → penurunan BB/ kaheksia (malnutrisi akibat penyakit kronis. anoreksia. • Pada wanita: kandidiasis vagina → dapat merupakan tanda pertama yang menunjukkan HIV pada wanita. Secara khas ditemukan sebagai lesi pada kulit sebagian tungkai terutama pada pria. • Dermatitis seboroik→ruam yang difus. demielinisasi. atropi. Respon umum pada sistem saraf pusat mencakup inflamasi.

malaise.sarcoma Kaposi. Dengan anoreksia. virus influenza. dengan efek inflamasi sulit dan sakit.keletihan.dehidrasi. mual muntah. nyeri abdomen. nyeri rectal. limpoma.Diare karena bakteri dan virus. alkoholik. dan sarcoma Kaposi. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler. obat illegal. ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi. . herpes simplek. Oral Lesi Karena kandidia. peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV). . sarcoma Kaposi. paralise.penurunan berat badan. Dengan efek : sakit kepala. karena reaksi terapeutik. Dengan efek. ketidakseimbangan elektrolit. cytomegalovirus. pneumococcus. demam. ikterik. Neurologik . kerusakan kemampuan motorik. dan strongyloides dengan efek nafas pendek. limpoma. d.Penyakit Anorektal karena abses dan fistula. penurunan berat badan.nyeri. . Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii. berefek perubahan kepribadian. gingivitis. . disfasia.batuk. kelemahan. Gastrointestinal . -.Hepatitis karena bakteri dan virus.nutrisi. HPV oral.a.anoreksia. total / parsial. . dan dehidrasi.Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV) c.demam atritis. pertumbuhan cepat flora normal. hipoglikemia. hipoksia.hipotensi sistemik.gagal nafas.demam. dan maranik endokarditis. leukoplakia oral. meningitis / ensefalitis.malabsorbsi.Enselophaty akut. dan isolasi social. b.kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf. gatal-gatal dan siare. keletihan dan cacat.hipoksia.

kehilangan pendengaran dengan efek nyeri. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster. lesi scabies/tuma.infeksi skunder dan sepsis. dan dekobitus dengan efek nyeri.e. dermatitis karena xerosis. reaksi otot. Sensorik .Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan .Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media.gatal. . f.rasa terbakar.

.

Metabolisme protein BB < dari normal peristaltik absorpsi air absorpsi nutrisi RESIKO GANGGUAN diare KEBUTUHAN NUTRISI GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN & ELEKTROLIT G. ASUHAN KEPERAWATAN Rencana asuhan keperawatan a. diare selama 40 hari Riwayat kesehatan : sering mendadak mengidap flu yang terasa seperti flu berat sampai suatu ketika nyaris pingsan hanya karena flu. Pemeriksaan lab : ELISA Western Blot (+) Neutropenia Anemia normositik normokrom Limfosit CD4+ 180 sel/µL Analisa data Data menyimpang Etiologi Masalah keperawatan DO: . Pengkajian Nama : Tn. diare Infeksi bakter Tidak Defisit volume cairan ada pertahanan tubuh berhubungan dengan diare. lemas tidak bergairah. A Usia : 35 tahun Jenis kelamin :Laki-laki Berat badan : 50 kg Tinggi badan : 170 cm Diagnosa medis : Acquired imuno deficiency sindrome (AIDS) Keluhan utama : lemah. DS: klien mengaku selama 40 hari peristaltic absorpsi air Diare .

Isolasi sosial merasa Gangguan harga diri diasingkan DS: - b. HIV dinyatakan + Isolasi sosial diketahui publik DS: - DO: . Diagnosa keperawatan Resiko Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan peningkatan secret paru Defisit volume cairan berhubungan dengan diare berhubungan dengan diare berat yang ditandai klien mengaku diare selama 40 hari Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hipermetabolisme protein Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolisme Resiko infeksi Resiko Isolasi social berhubungan dengan perubahan status kesehatan . Virus menempel pada CD4 Resiko Bersihan jalan nafas tak efektif DS: . Infeksi bakter Tidak ada Resiko infeksi pertahanan tubuh DS: - DO: . CD4 kekebalan Virus menginfeksi paru eksudat DO: . Mukosa teriritasi Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan DS: . Suplai oksigen metabolisme Kelelahan sel ATP DS: klien mengeluh lemah. DO: . lemas tidak bergairah DO: . Pelepasan asam amino Hipermetabolisme protein DO: .

Berikan oksigen . jalan nafas bersih . Berikan kesempatan istirahat yang cukup. setiap dua jam sekali Memudahkan .Kaji status respiratorius. Terapi pulmoner sekresi dan dilakukan sedikitnya meningkatkan bersihan jalan napas. Resiko Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan status keshatan c. untuk mempertahankan ventilasi yang memadai. untuk mencegah stasis . Lakukan Memudahkan pengambilan pemeriksaan pasien specimen sutum untuk dianalisis. Intervensi Rencana tindakan Diagnosa tujuan Intervensi rasional 1. Resiko Bersihan 1. Memudahkan jalan nafas tak mencakup frekuensi. Berikan bantuan pengeluaran sekret dalam merubah posisi. Meningkatkan pertahanan tubuh . intervensi efektif irama. penggunaan otototot aksesorius dan suara pernapasan. . .

nutrisi. . yang sudah dilembabkan untuk tindakan pengisapan lender (suctioning) 2. mempertahankan cairan intake dan output yang adekuat. Mengganti . Berikan cairan IV. Monitor status dengan diare. Memudahkan intervensi cairan volume cairan berhubungan yang hilang . 2. Defisit volume 1. Menghentikan diare . Monitor vital sign.

dan vitamin C. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mengawasi masukkan menentukan jumlah kalori atau kualitas kalori dan nutrisi yang kekurangan konsumsi dibutuhkan. efektivitas intervensi nutrisi mengawasi efektivitas . . Mempertahank . makanan . 3. protein.Monitor pemasukan Mengontrol status cairan dan makanan dan nutrisi hitung intake kalori cairan. Resiko 1. defisiensi. Anjurkan pasien nutrisi unutk meningkatkan Fe. Kaji adanya mengidentifikasi Ketidakseimbang an berat badan alergi makanan. mempertahankan posisi . an nutrisi kurang memudahkan dari kebutuhan intervensi. membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual . Monitor jumlah mengawasi penurunan nutrisi dan kandungan berat badan atau kalori.

. Monitor adanya yang cukup penurunan berat badan. .

Susun rencana antara aktivitas dan rutinitas harian. menentukan strategi menghadapinya. . 4. dan ADL pasien. mampu melakukan . . Intoleransi 1. . menjaga keseimbangan . Pantau Mengawasi identifikasi aktivitas aktivitas sesuai yang kemampuan pasien dan mempermudah diinginkan untuk bergerak intervensi (ambulasi). istirahat yang mungkin diperlukan. . Kolaborasi untuk pengungkapan penyebab mudah lelah. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan. Monitor mual dan muntah.

mual. seperti gejala demam/panas. mencegah . Kepada pasien dan Mengidentifikasi resiko terjadinya infeksi orang yang merawatnya infeksi diminta untuk memantau tandatanda infeksi . bercak-bercak putih pada rongga mulut. muntah. diare persisten. menggigil. sering berkemih. pembngkakan atau pengeluaran secret pada kulit. . lesi vaskuler pada wajah. perubahan visual dan penurunan daya ingat. sakit kepala. penurunan berat badan.5. bibir atau daerah perianal. Resiko infeksi 1. pembengkakan kelenjar limfe. batuk dengan atau tanpa produksi sputum. rasa sakit pada mulut atau kesulitan menelan. keringat malam. napas yang pendek. sulit untuk mulai dan nyeri saat berkemih. kemerahan. kesulitan bernapas.

. 6. Pantau hasil Memudahkan intervensi laboratorium yang menunjukkan infeksi. Penyuluhan pasien mencakup Mencegah infeksi strategi secara mandiri pencegahan infeksi. . peningkatan rasa . . Lakukan penilaian Mengurangi perasaan percaya diri tingkat interaksi negative pasien sosial social pasien. Resiko Isolasi 1.

Perawat harus megurangi faktor- memahami dan faktor yang turut menerima penderita membuat pasien meras AIDS dan keluarga serta terisolasi. Berikan informasi membantu pasien agar tentang cara melindungi tidak menghindar diri kontak social. . sendiri dan orang lain . pasangan seksualnya. Lakukan tindakan pengendalian infeksi memantapkan dirumah sakit atau partisipasi pada dirumah untuk hubungan sosial memberikan kontribusi atas emosi pasien. . Membantu .

maka seseorang tersebut adalah terinfeksi. Gangguan harga 1. Kebanyakan orang membentuk antibody HIV antara 6-2 minggu dari waktu infeksi. H. maka tubuh akan membentuk antibody sebagai respon tubuh terhadap infeksi. Tetapi pada window period dapat . melindungi pasien dari . Ketika HIV memasuki tubuh seseorang. Periksa keadaan Mengidentifikasi dan diri diri klien status mental pasien. Bantu pasien dan Mengurangi perasaan keluarga untuk negative pasien memahami dan mengatasi semua perubahan yang terjadi dalam proses berpikir. Waktu antara seseorang terinfeksi dan pembentukan antibody HIV disebut window period. Sehingga apabila pada darah seseorang terdapat antibody HIV. penempatan cedera. meningkatkan harga . Pada masa ini tidak ditemukan antibody HIV pada tubuh mereka.7. lonceng dan tombol pemanggil yang mudah dijangkau. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium digunakan untuk menegakkan diagnosa infeksi HIV/AIDS berdasarkan tes yang dapat mendeteksi adanya antigen dan antibody HIV. memudahkan intervensi . Dan pada kasusu yang jarang dapat mencapai waktu 6 bulan. Melakukan tes HIV dalam waktu kurang dari 3 bulan sejak terinfeksi dapat menghasilkan hasil yang meragukan karena pada waktu tersebut kemungkinan orang yang terinfeksi belum membentuk antibody terhadap HIV.

Oleh karena itu. Jika digunakan dengan baik. Tes ini menggunakan kombinasi dari elektroforesis dan tes ELISA sehingga dapat menentukan respon terhadap berbagi protein spesifik. Apabila antibody HIV dideteksi pada tes awal (ELISA). Terjadi ikatan antigen-antibody dengan anti IgG peroksidase. hasil yang positif dalam sampel serum harus dikonfirmasi dengan tes ulang. Dasar pemeriksaan ini adalah mereaksikan antigen HIV dengan serum. Serum ditambahkan anti IgG yang bertanda peroksidase. dan jika menunjukkan hasil positif. • Tes Western Blot Tes Western Blot merupakan cara pemeriksaan yang lebih spesifik.menularkan virus HIV pada orang lain walaupun hasil tes HIV negative karena orang tersebut memiliki HIV dengan level yang tinggi pada darah. Hal ini untuk mencegah hasil pemeriksaan yang positif palsu atau negative palsu. Peroksidase yang terikat akan memecah substrat yang ditambah sehingga menghasilkan perubahan warna yang akan dibaca dengan spektrofotometer. pemeriksaan ELISA diulang dua kali. dimana antibody terhadap protein HIV dari berat molekul tertentu dapat terdeteksi. akan terjadi ikatan antigen-antibody. Di Amerika Serikat dilakukan kombinasi dua tes antibody HIV. tes ini mempunyai sensitifitas > 98%. Tingkat sensitifitas yang tinggi dan minimnya pengunaan radioisotop menyebabkan tes ini luas digunakan untuk mendeteksi antigen dan antibody secara kualitatif dan kuantitatif. Apabila di dalam serum terdapat antibody HIV. Njika terdeteksi antibody virus di dalam jumlah besar akan memperlihatkan warna yang lebih tua. • Test ELISA ( Enzyme Linked Immunosorbent Assay) ELISA merupakan komponen integral dari laboratorium klinik. lalu dilakukan tes kedua yaitu Western Blot untuk mengukur antigen yang berikatan dengan antibody. dilakukan pemeriksaan yang lebih spesifik untuk konfirmasi. . Bila tes anibody berdasrkan ELISA digunakan untuk skrining populasi dengan prevalensi infeksi HIV yang rendah(misalnya donor darah). cairan-cairan seksual ataupun ASI.

Tes ini dianggap positif untuk HIV-1 bila mengandung pada pita-pita pada berta molekul yang sesuai untuk protein inti virus (p24) atau glikoprotein selubung gp41. Cara pemeriksaan. Pengujian PCR ini menggunakan metode enzimatik untuk mengaplifikasi RNA HIV sehingga dengan cara hibridisasi dapat dideteksi. Uji ini mempunyai sensitifitas 93. gp120 atau gp160. Pada dasarnya target DNA diekstraksi dari spesimen dan secara spesifik membelah dalam tabung sampai diperoleh jumlah yang cukup yang akan digunakan untuk deteksi hibridisasi. • PCR (Polymerase Chain Reaction) Tes ini digunakan untuk mendeteksi materi genetic virus pada darah. Pengujian PCR DNA dikerjakan dengan mengadakan campuran reaksi dalam tabung mikro yang kemudian diletakkan pada blok pemanas yang telah deprogram pada seri temperature yang diinginkan. Adanya antigen HIV akan menghasilkan pita-pita pada berat molekul yang sesuai. terutama untuk memantau perubahan kadar genom HIV yang terdapat dalam plasma. Pemeriksaan ini sangat akurat dan dapat mendeteksi infeksi virus HIV secara dini. Pengujian PCR dapat memperkuat adanya genom HIV dalam serum atau sel sehingga bermanfaat dalam diagnosis.9%. Tes berbasis molekuler ini merupakan cara yang sangat sensitif. . Tes Western Blot paling sering digunakan untuk konfirmasi dari tes skrining serologic reaktif untuk antibody HIV. PCR RNA telah digunakan. Diagnosis awal infeksi HIV pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV sulit dilakukan karena adanya antibody maternal membuat tes-tes serologik tidak bersifat informatif. Dalam penelitian infeksi HIV digunakan 2 bentuk PCR. yaitu PCR DNA dan PCR RNA. Tes PCR dapat mendeteksi virus 14 hari setelah infeksi. kemampuan untuk mengenali reaktifitas spesifik terhadap protein tertentu menyebabkan tes ini mempunyai tingkat spesifitas yang tinggi.2% dan spesifitas 94. HIV yang telah dimurnikan kemudian dielektroforesis dam gel poliakrilamid. Hasil pemisahan berabagi antigen HIV dipindahkan ke kertas nitoroselulosa yang kemudian dipotong menjadi potongan-potongan kecil dan diinkubasi dengan serum yang diperiksa.

Reaksi merugikan yang biasanya timbul akibat penggunaan foskarnet adalah agagl ginjal. maka obat ini harus diberikan sepanjang sisa usia pasien. c. Tapi karena gansiklofir tidak mematikan virus hanya mengendalikan pertumbuhannya. e. d. Ini digunakan dengan cara disuntikkan intravena setiap 8 jam sekali selama 2 hingga 3 minggu. Kombinasi trimetoprin oral dan dapson terbukti juga sangat afektif untuk PCP yang ringan hingga sedang. Penanganan infeksi yang berhubungan dengan HIV sertamalignasi.I. f. Penggunaan pentamidin suatu obat anti protozoa untuk melawan PCP. Misalnya : a. Untuk diare digunakan terapi oktreotid asetat yaitu analog sintetik somastostatin. g. h. penghentian replikasi virus lewat preparat antivirus dan penguatan serta pemulihansystem immune melalui penggunaan preparat immunomodulator. sebuah preparat yang bisa digunakan untuk mengobat CMV. Penggunaan gansiklovir untuk mengobati retinitis CMV (cytomegalovirus). . PENATALAKSANAAN MEDIS 1. dan gangguan keseimbangan elektrolit. Terapi primer yang mutakhir untuk meningitis triptokokus adalam amfoterisin B IV dengan atau tanpa flusitosin . Asiklofir dan foskarnat kini juga digunakan untuk mengobati ensefalitis yang disebabkan oleh herpes simplek atau herpes zoster. Refabutin ternyata efektif untuk mencegah MAC(mycobacterium Avium Complex) pada penderita infeksi HIV dengan jumlah sel CD4+ sebesar 200 sel/mL atau kurang. Pirimetamin dan sulfadiazine atau klindamisin digunakan untuk pengobatan maupun terapi supresif seumur hidup bagi infeksi toxoplasmosis gondii. Selain itu ada juga yang menggunakan foskarnet. Untuk infeksi umum biasanya digunakan trimetopirin-sulfametoksasol (preparat antibakteri) untuk mengatasi berbagai organism yang menyebabkan infeksi b.

mencegah salinan RNA virus ke dalam . Konsentrasi receptor somastostatin yang tinggi ditemukan dalam trakstus gastrointestinal maupun jaringan lainnya. Megastrol asetat (Megace) yaitu suatu preparat sintetik progesterone oral yang digunakan untuk pengobatan payudara akan menggalakkan kenaikan berat badan yang signifikan dan mnghambat sintesis sitokin IL-1. Obat ini adalah obat baru yang sedang diteliti pada manusia. Terapi nutrisi harus disatukan dalam keseluruhan rencana penatalaksanaan dan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien. Jumlah kalori yang butuhkan harus dihitung bagi semua penderita AIDS yang mengalami penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya. 2. J. • Reverse transcriptase inhibitors atau RTI. Penatalaksanaan diare kronik Terapi dengan oktreotid asetat (sandostatin) yaitu suatu analog sintetik somastostatin ternyata efektif untuk mengatasi diare yang berat dan kronik. Pnghitungan ini dilakukan untuk mengevaluasi status nutrisi pasien dan memulai terapi nutrisi yang tepat. Penatalaksanaan syndrome Pelisutan Mencakup penanganan penyebab yang mendasari infeksi opurtunis sistemik maupun gastrointestinal. Malnutrisi sendiri akan memperbesar risiko infesi dan dapat pula meningkatkan insiden infeksi opurtunis. 3. OBAT-OBATAN Pengobatan HIV/ AIDS yang sudah ada kini adalah dengan pengobatan ARV (antiretroviral) dan obat-obat baru lainnya masih dalam tahap penelitian. Somastatin akan menghambat banyak fungsi fisiologi yang mencakup motilitas gastrointestinal dan sekresi intestinal air serta elektrolit. Jenis obat-obat antiretroviral : • Attachment inhibitors (mencegah perlekatan virus pada sel host) dan fusion inhibitors (mencegah fusi membran luar virus dengan membran sel hos). Terapi utrisi bisa dilakukan mulai dari diet oral dan pemberian makanan lewat sonde hingga dukungan nutrisi parental ila diperlukan. Advera merupakan suplemen nutrisi yang dibuat khusus untuk penderita infeksi HIV dan penyakit AIDS.

DNA sel hos. • Integrase inhibitors. informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. • Obat antisense. merupakan “bayangan cermin” kode genetik HIV yang mengikat pada virus untuk mencegah fungsinya (HGTV43). Penelitian obat ini pada manusia dimulai tahun 2001 (S-1360). Untuk dapat membentuk protein yang aktif. Lopinavir. Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Ritonavir. Obat ini masih dalam penelitian tahap lanjut pada manusia. dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total. Oleh karena itu. • Protease inhibitors (PIs). sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease. Reticulose. Golongan obat ini sekarang telah beredar di pasaran (Saquinavir. Obat ini masih dalam percobaan. Beberapa obat-obatan yang dipergunakan saat ini adalah golongan Nukes dan Non-Nukes. Jika proses pembentukan DNA dihambat.). Dari DNA yang berasal dari RNA virus. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. menghalangi kerja enzim integrase yang berfungsi menyambung potongan-potongan DNA untuk membentuk virus. penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. termasuk interleukin-2 (IL-2). pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase. • Immune stimulators (perangsang imunitas) tubuh melalui kurir (messenger) kimia. HRG214. Jadi. Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. dll. menghalangi enzim protease yang berfungsi memotong DNA menjadi potongan-potongan yang tepat. akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus . Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru.

K. mengobrol. Penderita HIV/AIDS bersin. asal tidak berhubungan seksual 2. maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. 2. Tranfusi darah yang mengandung HIV/AIDS 3. alat tusuk lainnya (akupunktur. nyamuk dan binatang peliharaan 5. memeluk. . Makan dan minum bersama L. bersonggolan badan dengan penderita HIV/AIDS 3. PENULARAN HIV dapat menular melalui : 1. Di sinilah peranan protease. batuk. berkeringat. Pemindahan virus dari ibu hamil pengidap HIV/AIDS kepada janin dan ASI HIV tidak menular dengan : 1. berciuman pipi. Hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS. Menggunakan toilet bersama-sama 7. mengeluarkan air mata 4. anal maupun oral dengan pasangan yang mengidap HIV/AIDS. Untuk mengaktifkannya. Berenang bersama-sama di kolam renang 6. protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. tindik. Jarum suntik. Pada mulanya. dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim. yang baru. PENCEGAHAN Tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS jika anda belum terinfeksi HIV AIDS. Jabat tangan. Digigit serangga. sikat gigi bekas dipakai orang yang mengidap HIV/AIDS 4. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA. pisau cukur. tatto). Hubungan seks yang tidak terlindung baik melalui vagina.

Berhubungan seks dengan sembarang orang menjadikan pelaku seks bebas ini sangat riskan terinfeksi HIV. sebarkan pengetahuan in ke orang lain seperti keluarga. • Gunakan jarum suntik yang baru dan steril. minimal 1 tahun sekali. oleh karena itu mengetahui status HIV AIDS patner seks sangatlah penting. • Jika anda hamil. meskipun kemungkinan tertular melalui barang-barang pribadi ini sangat kecil.• Pahami HIV AIDS dan ajarkan pada orang lain. Selain membuat ejakulasi lebih lambat. • Lakukan tes HIV secara berkala. Jika anda tergolong orang dengan resiko tinggi. sebaiknya melakukan tes HIV secara teratur. • Gunakan Kondom Berkualitas. Penyebaran paling cepat HIV AIDS adalah melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang yang memiliki status HIV positif. • Lakukan sirkumsisi / khitan. Banyak penelitian pada tahun 2006 oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa pria yang melakukan khitan memiliki resiko 53 % lebih kecil daripada mereka yang tidak melakukan sirkumsisi. Memahami HIV AIDS dan bagaimana virus ini ditularkan merupakan dasar untuk melakukan tindakan pencegahan. Pemahaman patner seks terhadap status HIV sangatlah penting untuk antisipasi paska seks agar tidak menular ke yang lain. sahabat dan kerabat. penggunaan kondom saat berhubungan seks *ya iyalah. . segera konsultasikan dengan tim medis terdekat agar mendapat penanganan khusus. tapi tetap saja masih ada kemungkinan. masak pas makan pake kondom?* cukup efektif mencegah penularan HIV AIDS melalui seks. • Hindari donor darah dan donor organ. penularan melalui jarum suntik sering terjadi pada IDU ( injection drug user). • Ketahui status HIV AIDS patner seks anda. Pencegahan bagi penderita yang sudah terkena infeksi : • Beritahu partner seks bahwa anda telah positif HIV AIDS. • Jangan biarkan orang lain memakai sikat gigi dan barang-barang pribadi lainnya.

N. • Beritahukan status HIV AIDS anda kepada orang yang terpercaya. Fase ini juga menular walau penderita tampak sehat-sehat saja. 4. Pada stadium ini sudah dapat menularkan bahkan sangat menular. penyakit syaraf dan penyakit infeksi sekunder. hal ini juga untuk memastikan bahwa anda mendapat perawatan dari orang tersebut. STADIUM AIDS 1. Keadaan ini dapat berlangsung rata-rata 5 ? 10 tahun. 2. Stadium Pertama : HIV Infeksi dimulai dengan masuknya HIV kedalam tubuh dan diikuti terjadinya perubahan serologik ketika antibodi terhadap virus berubah dari negatif menjadi positif. Stadium Dua : Asimptomatik (tanpa gejala) Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala sakit. Cuci tangan selama 10 menit dengan sabun dengan air yang mengalir dan menggosokkannya sebelum menyentuh pasien serta saat kedua tangan kotor 2. Rentang waktu dari masuknya HIV hingga tes antibodi positif disebut Window Period. 3. UNIVERSAL PRECAUTION 1. Mengenakan sarung tangan berseih sebelum menyentuh membrane mukosa atau kulit yang tidak utuh. Kenekan gaun atau apron plastic ketika terdapat kemungkinan pakaian atau kulit menjadi kotor . tidak hanya muncul pada satu tempat dan berlangsung lebih dari satu bulan. Selain untuk melindungi orang lain. lamanya 1 ? 6 bulan. 3. Stadium Empat : AIDS Keadaan ini disertai dengan adanya bermacam-macam penyakit antara lain penyakit konstitusional. Stadium Tiga : Pembesaran kelenjar limfe Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata. M.

jangan memasang kembali tutup jarum bekas dengan tangan. ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial. yaitu manusia. keterbatasan pengetahuan. Paradigma Keperawatan Komunitas Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok. Tempatkan semua sampah dan kain kotor dalam kantong yang tertutup ketat. Peran perawat pada individu sebagai klien. 6. perbaikan lingkungan fisik. sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu. social dan spiritual. 4. Buang jarum suntik bekas pakai. psikologi. O. kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien. ditujukan kepada individu. berhati-hati ketika memanipulasi alat-alat kecil seperti heparin lock. meningkatkan kesehatan. Individu Sebagai Klien Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi. penyempumaan kondisi sosial. kenakan sarung tangan dan pakaian pelindung ketika menangani sampah . pence-gahan penyakit dan bahaya yang lebih besar. Keluarga Sebagai Klien Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara . Kenakan masker ketika bekerja langsung pada kulit dengan bagian terbuka yang luas atau ketika terdapat kemungkinan terkenanya membrane mukosa nasal dengan substansi tubuh yang basah. yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. sosial. KOMUNITAS dan PSIKOSOSIAL Menurut WHO (1959). pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi. psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental. 1. keluarga dan masyarakat. keperawatan. 2. 1987). kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins. keluarga. 5. keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan. rehabilitasi.

Menurut Hendrik L. Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri manusia yang dibawanya sejak lahir. diatur oleh adat istiadat. bersama-sama. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Masyarakat Sebagai Klien Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga. konstruktif dan produktif. dicintai dan mencintai. b. Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif. Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus pelayanan keperawatan yaitu : a. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang berkaitan dengan fisik seperti air. 3. harga diri dan aktualisasi diri. perilaku. Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit kulit akibat kesulitan air bersih. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis. Keempat faktor tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang lainnya dalam menentukan derajat kesehatan individu. hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat semua warga. c. mencegah. Bulum ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan. yaitu lingkungan. dan perumahan. iklim. rasa aman dan nyaman. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan. jangan . misalnya penyakit asma. Pada kasus ini contohnya. dimana keluarga pasien harus memberi perhatian yang lebih untuk si pasien. keluarga. udara. memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Fokus Keperawatan Komunitas 1. norma. kelompok dan masyarakat. di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. pelayanan kesehatan dan keturunan. Penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga tersebut. tanah. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat. sampah. Kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas. Aspek interpersonal: hubungan didalam keluarga.

Teman-temannya jangan menjauhi. Sukarela. Aspek social: hubungan keluarga dengan masyarakat sekitarnya. 4. artinya bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri. tapi harus menjaga sikapnya. Dalam segi aspek komunitas. Perawat menjelaskan pada keluarga. Aspek procedural: melatih keterampilan dasar keluarga sehingga mampu mengatasi perubahan yang terjadi. dan masyarakat. Ini juga berarti bahwa dirina setuju untuk di tes setelah mengetahui hal-hal apa saja yang tercakup dalam tes itu. Pemberian obat yang teratur. 2. pencegahan bisa dimulai dengan memberikan Pendidikan Kesehatan dimulai sejak dini. apa keuntungan dan kerugian dari tes itu. Sekunder: early diagnosis trethment dan disability Early diagnosis trethment: diagnosis lebih awal dan penangan yang tepat. Konsep pencegahan penyakit pada keperawatan komunitas : 1. menjauhinya. . Tersier: rehabilitasi pasien yang sudah sembuh. 3. jangan sampai lupa. Primer: healthy promotion dan spesifik protection Healthy promotion: promosi kesehatan dengan melakukan penyuluhan Spesfik protection: melakukan Vaksin 2. Aspek teknis: melatih keluarga teknik teknik dasar yang mampu dilakukan keluarga dirumah Mengajarkan batuk efektif. Disability: mengurangi ketidakmampuan pasien. serta apa saja implikasi dari hasil positif ataupun negatif. Sedangkan dalam aspek psikososial. 3. dalam melakukan tes HIV harus bersifat: 1. Jangan membatasi pergaulan. meskipun penyakit ini menular. Menyediakan kamar yg dapat dimasuki cahaya. lembaga formal seperti sekolah. bukan atas paksaan/tekanan orang lain. pengompresan saat panas. Misalnya menjaga asupan gizinya. memberikan pemahaman kepada keluarga tentang flu babi dengan tapat. bisa melalui keluarga. tapi si pasien harus diberikan perhatian.

artinya apapun hasil tes ini nantinya (baik positif ataupun negatif) hasilnya hanya boleh diberitahu langsung kepada orang yang bersangkutan. Konseling pre-test juga bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak. Bagi mereka yang hasilnya HIV negative. 2. testing dan hasil tes harus dirahasiakan. dan bagaimana nantinya bersikap setelah mengetahui hasil tes. Perlu diperhatikan bahwa proses konseling. Empati . Konseling ini sangat membantu seseorang untuk mengetahui rsiko dari perilakunya selama ini. masyarakat. nasional. Rahasia. maka untuk orang yang akan melakukan tes harus disediakan jasa konseling. dan internasional dalam menghadapi HIV/AIDS 1. Konseling Pre-test: Yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani tes itu diambil. P. 2. Konseling ini sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara menghindari penularan pada orang lain. baik hasilnya positif ataupun negatif. baik orang tua. Mengingat begitu pentingnya untuk memperhatikan Hak Asasi Manusiadi dalam masalah tes HIV ini. konseling post-test bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa datang. serta untuk bisa mengatasi dan menjalani hidup secara positif. tidak boleh diwakilkan kepada siapapun. atasan atau siapapun. serta mempersiapkan dirinya bila nanti hasilnya positif. Konseling Post-test: Yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes diketahui. pasangan. yaitu: 1. ASPEK LEGAL ETIS Konsep legal dan Hukum dalam Asuhan Keperawatan Pasien HIV/AIDS Prinsip etik yang harus dipegang oleh seseorang.

yang dilakukan sebelum atau sesudah tes darah di laboratorium. mengenali. Pelayanan VCT harus dilakukan oleh petugas yang sangat terlatih dan memiliki keterampilan konseling dan pemahaman akan HIV/AIDS. kasih sayang dan keadilan saling menolong 2. 2003) Isu Etik dan Hukum pada Konseling Pre-Post Tes HIV Konseling Pre-Post Tes HIV Konseling adalah proses pertolongan di mana seseorang dengan tulus ikhlas dan tujuan yang jelas memberikan waktu. Tanggung jawab Bertanggung jawab mencegah penyebaran dan memberikan perawatan pada ODHA (Depkes RI. Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih dahulu memahami dan menandatangani informed consent yaitu surat persetujuan setelah mendapatkan penjelasan yang lengkap dan benar. Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau konseling dan tes sukarela merupakan kegiatan konseling yang bersifat sukarela dan rahasia. psikolog. pekerja sosial. Solidaritas Secara bersama-sama membantu meringankan dan melawan ketidakadilan yang diakibatkan oleh HIV/AIDS 3. Informed consent untuk Tes HIV/AIDS . perhatian dan keahliannya untuk membantu klien mempelajari dirinya. Mereka dapat berprofesi perawat. atau profesi lain. dan melakukan pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan. Konseling dilakukan oleh konselor terlatih dengan modul VCT. dokter. Ikut merasakan penderitaan sesama termasuk ODHA dengan penuh simpati. psikiater.

Tes HIV adalah tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak. Kepmenkes 1239/Menkes/SK/XI/2001 pasal 16 : Dalam melaksanakan kewenangannya perawat wajib menyampaikan informasi dan meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan c. terutama menyangkut risiko dari perilakunya selama ini Tes HIV harus bersifat : 1. Sukarela : Bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri. Hal ini perlu dilakukan setidaknya agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status kesehatan dirinya. 1989) Dasar dari informed consent yaitu : a.32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 22 ayat 1 : Bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas wajib memberikan informasi dan meminta persetujuan . yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibodi HIV di dalam sampel darahnya. PP No. Tidak boleh diwakilkan kepada siapapun. 2. Asas menghormati otonomi pasien setelah mendapatkan informasi yang memadai pasien bebas dan berhak memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya b. bukan atas paksaan/tekanan orang lain ini juga berarti bahwa dirinya setuju untuk di tes setelah mengetahui hal-hal apa saja yang mencakup dalam tes itu. atasan atau siapapun Aspek Etik dan Legal Tes HIV Informed consent adalah peresetujuan yang diberikan pasien atau keluarga atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut (Permenkes. serta apa saja implikasi dari hasil positif ataupun negatif tersebut. Rahasia : Apapun hasil Tes ini (baik positif maupun negatif ) hasilnya hanya boleh diberitahu langsung kepada orang yang bersangkutan 3. baik orang tua/pasangan. apa keuntungan dan kerugian dari tes HIV.

23 Tahun 1992 tentang tenaga kesehatan pasal 15 ayat 2 : Tindakan medis tertentu hanya bisa dilakukan dengan persetujuan yang bersangkutan atau keluarga Semua tes HIV harus mendapat informed consent dari klien setelah klien diberikan informasi yang cukup tentang tes. Persetujuan harus diebrikan oleh individu yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk memahami c. Persetujuan harus diberikan secara sukarela b. sedangkan tugas perawat dalam in formed consent telah meliputi tiga aspek penting yaitu : a. sementara klien menolak dilakukan tes HIV dan terdapat sampel darah. Persetujuan juga sebaiknya dalam bentuk tertulis. yaitu untuk skrining HIV pada darah pendonor dimana darah ini tanpa nama. karena persetujuan secara verbal memungkinkan pasien untuk menyangkal persetujuan yang telah diberikannya di kemudian hari.d. implikasi hasil tes positif atau negatif yang berupa konseling prates. Persetujuan harus diberikan setelah diberikan informasi yang cukup sebagai pertimbangan untuk membuat keputusan Persetujuan pada tes HIV harus bersifat jelas dan khusus. persetujuan diberikan terpisah dari persetujuan tindakan medis atau tindakan perawatan lain (Kelly 1997 dalam Chitty 1993). Selain itu informed consent juga tidak diperlukan pada pemeriksaan tes inisial (Rapid Test) pada kasus bila ada tenaga kesehatan yang terpapar darah klien yang di curigai terinfeksi HIV. UU No. Dalam menjalankan fungsi perawat sebagai advokat bagi klien. maksudnya. Depkes Afrika pada Bulan Desember 1999 mengeluarkan kebijakan tentang perkecualian di mana informed consent untuk tes HIV tidak diperlukan. tujuan tes. .

bakteri. HIV menyebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk melawan virus. Sejak penemuan ini. Sindrome ini pertama kali ditemukan oleh Michael Gottlieb pertengahan tahun 1981 pada penderita pria homoseksual dan pecandu narkotik suntik di Los Angles. dan jamur secara efektif yang menyebabkan timbulnya penyakit.2 SARAN Karena HIV merupakan penyakit yang tejadi secara cepat dalam penularannya. maka harus dilakukan berbagai macam pencegahan. diantaranya : • Tidak berganti-ganti pasangan seksual . Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap berbagai jensi tumor dan infeksi opurtunistik yang secara normal dapat dilawan oleh tubuh. Penyebaran AIDS terjadi secara cepat ke berbagai benua. Dampak yang terlihat pada penderita beserta keluarganya. Amerika Serikat. serta belum diketahuinya cara penanganan dan pengobatannya menyebabkan keresahan psikosial yang sangat besar di kalangan masyarakat 4.1 KESIMPULAN AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan dan kerusakan system pertahanan tubuh seseorang yang disebabkan oleh HIV(Human Immunodeficiency Virus). BAB IV PENUTUP 4. dalam beberapa tahun dilaporkan lagi sejumlah penderita dengan syndrom yang sama dari 46 negara bagian Amerika Serikat lainnya.

dan lain-lain. Identitas klien Meliputi nama. S.Nurs (Hons) dan Ninuk Dian kurniawati.Jakarta. suku bangsa.Jakarta.Ns. Keluhan Utama / alasan masuk RS Klien sering mengalami diare. 2008.2001.blogspot.8.Kep.id/penyakit-imunologi-hiv-aids/ A. umur jenis kelamin. pekerjaan.EGC http://pemudaindonesiabaru.web.chem-istry.Suzanne C.EGC Nursalam.Keperawatan Medikal Bedah Ed. Jakarta : Salemba medika Smeltzer.2005.com http://www. alat / jarum suntik yang terinfeksi darah seorang pengidap hiv) . alamat.dinkes-diy.lusa.org http://www. misalnya pencegahan terhadap penggunaan jarum suntik yang diulang • Dengan formula A-B-C : o ABSTINENSIA artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah o BE FAITHFUL artinya jika sudah menikah hanya berhubungan seks dengan pasangannya saja o CONDOM artinya pencegahan dengan menggunakan kondom. M. Riwayat Kesehatan/ Keperawatan 1).org/artikel_kimia/berita/adakah_obat_untuk_hivaids_saat_ini/ http://www. agama.Keperawatan Medikal Bedah. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. B. • Pencegahan kontak darah. demam berkepanjangan dan nafsu makan berkurang 2) Riwayat kesehatan sekarang Faktor pencetus HIV/ AIDS adalah sex bebas (seseorang yang terinfeksi hiv/aids). DAFTAR PUSTAKA Brunner&suddart.

diare kronik. dan depresi  Mengingkari. menangis. menurunnya massa otot. dan sariawan semakin bertambah. menarik diri. cemas. rasa terbakar saat berkemih  Faeces encer disertai mucus atau darah  Nyerio tekan abdominal.Sirkulasi  Proses penyembuhan luka yang lambat. kelelahan yang progresif  Kelemahan otot. pengahsilan dan gaya hidup tertentu  Menguatirkan penampilan: alopesia. berkurangnya tolerangsi terhdp aktifitas. perubahan dlm jumlah warna urin. kehilangan control diri. respon fisiologi terhdp aktifitas 2. klien suka merokok dan klien sering melakukan free sex. perubahan tekanan darah postural. perdarahan lama bila cedera  takikardia.Eliminasi. hubungan dgn org lain. Riwayat Kesehatan Dahulu Penyakit yang pernah dialami ( jenis penyakit. yaitu demam berkepanjangan. kontak mata kurang 4. riwayat masuk RS) : klien merupakan pecandu narkoba ( pengguna jarum suntik bebas). Lamanya keluhan : demam berkepanjangan. berat badan jadi semakin berkurang. depresi. 5. putus asa.Makanan/cairan :  Tidak ada nafsu makan.Sifat Keluhan ( Mendadak /perlahan-lahan/terus menerus/hilang timbul atau berhubungan dengan waktu) : Terus-menerus. marah. mual. Data dasar pengkajian 1. muntah  Penurunan BB yang cepat  Bising usus yang hiperaktif . pengisian kapiler memanjang 3. volume nadi periver menurun.Aktifitas /istirahat :  Mudah lelah. batuk menetap dan berate badan menurun terjadi selama lebih dari 1 bulan. 4) Riwayat Kesehatan Keluarga Penyakit menular atau keturunan dalam keluarga :Keluarga klien tidak ada penyakit keturunan maupun penyakit menular F. lesi pada rectal. Berat ringannya keluhan (menetap/cenderung bertambah/berkurang) : keluhan cenderung bertambah yaitu demam semakin sering. nyeri pinggul. Upaya yang telah dilakukan : hanya menggunakan obat generic sesuai penyakit yang dialami Diagnose Medik : HIV//AIDS 3). diare kronik selama 1 bulan terus-menerus. lama dan upaya untuk mengatasi.Integritas ego  Faktor stress yang berhubungan dgn kehilangan: dukungan keluarga. Lokalisasi dan sifatnya ( menjalar/ menyebar/ berpindah-pindah/ menetap) : berpindah-pindah tergantung daerah yang terinfeksi.  Diare. cacat. sariawan tak kunjung sembuh- sembuh. takut. lesi . rsa bersalah. menurunnya berat badan  Merasa tdk berdaya.

pincang. 6.kesemutan pada ekstrimitas.  Turgor kulit jelek. napas pendek yang progresif. Resiko gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan status kesehatan.sesak pada dada. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolisme. terbakar. lesi pada rongga mulut. sputum kuning. 12. aktifitas yang tdk terorganisir 2. perubahan interaksi keluarga. status hipermetabolik. keputihan.  Sakit kepala. penurunan ROM. Resiko isolasi social berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Neurosensorik  Pusing. 7. kerusakan mental.sakit kepala. nyeri dada pleuritis. 2. 7. 9. lauka lambat proses penyembuhan  Demam berulang 11. takipnea Menurunnya ekspansiPola nafas tidak efektif . 3. nyeri kelenjar. adanya selaput putih/perubahan warna mucosa mulut  Adanya gigi yang tanggal.  Bebal. batuk produktif/non. nyeri tekan. penurunan visus. memeperlihatkan penampilan yang tidak rapi. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret paru.Periode apnea paru dan melemahnya . tremor.3 Analisa Data NO DATA ETIOLOGI MASALAH 1 DO : .Interaksi social Isolasi. bunyi napas tambahan. sakit.2.2.Nyeri/kenyamanan  Nyeri umum/local. penggunaan kondom yang tidak konsisten.Dispnea.  Perubahan status mental. 5.  Pembengkakan pada sendi. pingsan. gangguan intestinal. rasaterbakar pada kaki. Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan diare berat.Hygiene Tidak dapat menyelesaikan ADL.Seksualitas Riwayat perilaku seksual resiko tinggi.Pernapasan Terjadi ISPA.. takipnou. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. 8. melemahnya otot pernafasan 2.Keamanan  Riwayat jatuh. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan depresi system imun. kesepian. kerusakan sensasi  Kelemahanotot. lesi pd genitalia. penurunan libido. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hambatan asupan makanan (muntah/mual). 10.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. 8. aktifitas yang tidak terorganisir 6. hipermetabolik. 4.  Gayaberjalan ataksia.

2.Catat dan peningkatan napas kecepatan/kedalama menunjukan kesulitan . . Retraksi dinding dada . perianal 3. . keperawatan Tujuan Interverensi Rasional O 1 Pola nafas tidak Mempertahankan. tandai daerah adanya perkembangan efektif. sesak napas / mengalamai melemahnya sianosis. Disfagia dan nyeri restrosternal saatmuntah) serta gangguan menelan intestinal Lesi pada rongga mulut.sering dengan atau tanpa disertai kram abdominalis bakteri di usus yang -nyeri panggul rasa tebakar saatdisebabkan oleh miksi.terusInfeksi pathogen danDefisit volume cairan menerus. sianosis . penurunan/kehilana otot pernafasan gn ventilasi .Mempertahankan .3 DO : mual dengan atau disertaiHambatan dalam asupanPerubahan nutrisi kurang dari kebutuhan muntah nutrisi ( mual dantubuh.3 NCP N Dx. komplikasi /infeksi penurunan efektif . dan munculnya bunyi adventisius. Kelelahan 2 -Diare yang intermitten. adanya selaput putih Kesehatan gigi buruk dengan atau tanpa gigi yang tanggal Turgor kulit yang buruk 2. menurunnya imun tubuh -diare pekat yang sering -nyeri tekan abdominalis -lesi atau abses rectal.Takipnea.Tidak mengalami paru yang pernapasan ekspansi paru.Auskultasi bunyi . Sianosis .Memperkirakan efektif b/d pola nafas yang pla napas yang nafas. Pernapasan cuping hidung otot pernafasan .

Catat peningkatan hipermetabolik. n pernapsan. . Hipoksemia dapat tindakan terjadi akibat adanya pencegahan.Intruksikan untuk menggunakan spirometer insentif. ditimbulkan karena usahakan pasien atelektasis. Kolaborasi . 2. untuk berbalik.Tinggikan kepala optimal dan mengurangi infeksi yg tempat tidur. berikan kebutuhan adekuat secara kompres hangat mmetabilisme dan pribadi. Indicator dari cairan tubuh b/d mempertahankan hidrasi dibuktikan vital. bila terpasang. Meningkatkan haluaran urine demam. status yang adekuat tugor kulit baik. suhu dan durasi . mencegah/memperbai ki krisis pernapasan.Menunjukan status Kolaborasi pernapasan. .Hisap jalan napas terjadinya pertukaran sesuai kebutuhan. aksesoris dan munculnya dispnea. pernapasan yang .Kaji perubahan tingkat kesadaran. batuk. diaphoresis yang sesuai indikasi. memungkinkan . tingkat hidrasi mukosa lembab. steril dan lakukan . Membantu napas sesuai membersihkan jalan napas. O2yang dilembabkan . sirkulasi. . kebutuhan untuk meningkatkan penggunaan otot intervensi medis. TTV stabil.. gas dan mencegah gunakan tehnik terjadinya komplikasi. sehingga kebutuhan. perubahan tingkat kesadaran. bernapas dan adanya sianosis.Mempertahankan melalui cara yang ventilasi efektif untuk sesuai. Pantau tanda-tanda . Meningkatkan fungsi ansietas. . Defisit volume Klien akan. termasuk CVP volume cairan oleh membrane diare berat.Mempertahankan . menarik . Pantau/buat kurva kebutuhan perawatan hasil pemeriksaan /keefektifan GDA/nadi oksimetri pengobatan.Mendorong teknik pernapasan yang tepat dan meningkatkan . .Berikan tambahan pengembangan paru. .

Lesi mulut.Kaji turgor kulit. . status cairan. badan yang merasakan dan disfagia.Hilangkan rangsang . volume cairan tubuh. dari kebutuhan menunjukkan berat badan atau untuk mengunyah. diinginkan. dihubunngkan dengan tanda malnutrisi . dan menyebabkan asupan makanan ideal. dan menunjukan badan sesuai . keseimbangan intestinal umum nitrogen positif.Hipermotilitas saluran hipermetabolik. .Timbang BB setiap langsung dari hari. mengurangi rasa hausdan melembabkan membrane mucosa.Catat pemasukan . mengacu pada menelan. . . .Mempertahankan keseimbangan. yang adekuat. Nutrisi kurang klien akan . kehilangan cairan membrane mukosa takkasatmata. . pertahankan pakaian berlebihan yang tetap kering. .penurunan BB cairan melalui oral menunjukkan sedikitnya 2500 pengurangan ml/hr. Timbang berat mutah dan diare.d hambatan peningkatan BB peningkatan berat merasakan. 3. dalam meningkatkan . auskultasi bising makanan.Mendemostrasikan usus.Indicator kebutuhan perbaikan tingkat kebutuhan. Kaji kemampuan . nutrisi/pemasukan energy. penurunan (muntah/mual). kemampuan pasien gangguan tujuan yg untuk mengolah intestinal. . dan rasa haus.Mempertahankan .Mengurangi stimulus pusat muntah di lingkungan yang medulla. dihubungkan kenyamanan suhu dengan demam lingkungan. tenggorokan dan memperlihatkan esophagus dapat b.Indicator tidak . terjadi dan bebas dari tanda.

Berikan lingkungan tidak bebas dari yang bersih dan terorganisir pengeluaran berventilasi baik. Hindari obat kumur lesi oral. Melibatkan pasien diet bersama dalam rencana memberikan perasaan pasien/orang control lingkungan. pengeringan yang mengandung mukosa.Diskusikan tingkat dan nosokomial.Tidak demam dan.Mengurangi pathogen dan tanda-tanda terhadap tanda infeksi pada system imun dan lain dari kondisi dan pertahankan mengurangi infeksi. infeksi mengurangi resiko. mengurangi kontak perawatan berhubungan resiko. yang berhubungan dengan mual/muntah. penyembuhan terdekat untuk mencuci aktifitas yang luka/lesi tangan sesuai indikasi . . mis. alcohol. . Kolaborasi .Berikan antibiotic hidup dan berusaha antijamur/agen mengurangi rasa antimikroba.Meningkatkan kerja Kolaborasi sama dengan cara . 4 Resiko Mengidentifikasi . terisolasi. dilakukan. terdekat. kewaspadaan sesuai kemungkinan pasien indikasi. .Mengidentifikasi Mandiri Mandiri terjadinya /ikut serta dalam /ikut serta dalam . rasional isolasi pencegahan dan mempertahankan kesehatan pribadi. awasi .Menghambat proses infeksi.Cuci tangan sebelum .Mencapai masa kepada pasien/orang system imun. Intruksikan dengan depresi .Mengurangi resiko prilaku yang prilaku yang dan sesudah seluruh kontaminasi silang. mengalami infeksi . dan halitosis. . trimetropim.berikan perawatan mulut. Mengurangi tindakan ketidaknyamanan pencegahan sekresi. berbahaya/kondisi yang memperburuk reflek gag. Rencanakan makan. /sekresi purulen Periksa pengunjung/staf.

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. 2001. disebabkan oleh infeksi human immune deficiency virus (HIV). Marilynn E. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. http://prasetya92metro.html . Untuk itu. Volume 3.2002. AIDS ini bukan satu penyakit saja . virus. BAB III PENUTUP 3. Virus ini menyerang dan merusak sel-sel limposit T CD 4 sehingga kekebalan tubuh penderita rusak dan rentan terhadap bebrbagai infeksi. penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca semua.com/2012/04/askep-hiv-aids. Jakarta . 3. jamur. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.2 SARAN Dalam pembuatan makalah ini penyusun menyadari tentu banyak kekurangan dan kejanggalan baik dalam penulisan maupun penjabaran materi serta penyusunan atau sistematik penyusunan. Doenges. Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. tetapi merupakan gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi berbagai jenis mikroorganisme seperti infeksi bakteri. EGC.1 KESIMPULAN Acguired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala yang timbul akibat menurunnya system kekebalan tubuh yang didapat .blogspot. Jakarta : EGC. DAFTAR PUSTAKA Arief Mansjoer. 2000. bahkan timbul keganasan akibat menurunnya daya tahan tubuh penderita. Bruner & Suddarth. Dan penyusun juga berharap semoga makalah ini dapat member manfaat bagi kita semua.