AKHLAK KARIMAH

Oleh: Yahya Zakariya
I. PENDAHULUAN
Akhlak merupakan sifat yang tumbuh dan menyatu di dalam diri seseorang. Dari sifat
yang ada itulah terpancar sikap dan tingkah laku perbuatan seseorang, seperti sifat sabar,
kasih sayang, atau malah sebaliknya pemarah, benci karena dendam, iri dan dengki, sehingga
memutuskan hubungan silaturahmi.
Bagi seorang muslim, akhlak yang terbaik ialah seperti yang terdapat pada diri Nabi
Muhammad SAW. karena sifat-sifat dan perangai yang terdapat pada dirinya adalah sifat-
sifat yang terpuji dan merupakan uswatun hasanah (teladan) terbaik bagi seluruh kaum
Muslimin.
Suatu bangsa atau suatu Negara akan jaya bila warga negaranya terdiri dari orang-orang
yang berakhlak mulia/luhur. Sebaliknya, bila warganya berakhlak buruk maka rusak pulalah
bangsa dan Negara itu. Seorang penyair arab bernama Syauqi beliau pernah berkata: “Suatu
bangsa dikenal karena akhlaknya (budi pekertinya) jika budi pekertinya telah runtuh maka
runtuh pulalah bangsa itu”.
Sesungguhnya kemuliaan akhlak itu terwujud dengan memberikan apa yang dipunyai
kepada orang lain, menahan diri sehingga tidak menyakiti, dan menghadapi gangguan atau
tekanan dengan penuh kesabaran. Hal itu akan bisa digapai dengan membersihkan jiwa dari
sifat-sifat rendah lagi tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.
Akhlak ada dua macam yaitu akhlakul karim ah dan akhlakul mazmumah. Dalam
kesempatan kali ini pemakalah akan membahas tentang dua contoh dari akhlakul karimah
yaitu keutamaan perilaku jujur dan bersikap terhadap tamu dan tetangga berdasarkan
reportase hadist.

II. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan akhlakul karimah?
2. Apa keutamaan dari perilaku jujur?
3. Bagaimana cara bersikap terhadap tamu dan tetangga?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian akhlakul karimah
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Bahkan, tujuan utama
diutusnya nabi Muhammad Saw. Sebagai nabi adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia
sebagaimana dijelaskan dalam hadisnya, “sesungguhnya aku tidak diutus kecuali untuk
menyempurnakan akhlak mulia,” (HR Al-Bukhari).1[1]
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau
kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat, perangai,
kebiasaan, bahkan agama.
Akhlak karimah (mahmudah) adalah segala tingkah laku yang terpuji (yang baik) yang
biasa juga dinamakan “fadilah” (kelebihan). Imam al- Ghozali menggunakan juga perkataan
“mun’jiat” yang berarti segala sesuatu yang memberikan kemenangan atau kejayaan. 2[2]
Al-Ghazali menerangkan bentuk keutamaan akhlak mahmudah yang dimilki seseorang
misalnya jujur, bersikap baik terhadap tetangga dan tamu, itu dinyatakan sebagai gerak jiwa
dan gambaran batin seseorang yang secara tidak langsung menjadi akhlaknya. Al-ghazali
menerangkan adanya pokok keutamaan akhlak yang baik, antara lain mencari hikmah,
bersikap berani, bersuci diri, berlaku adil. 3[3]
B. Keutamaan perilaku jujur
Kejujuran adalah budi pekerti yang sangat kuat kaitannya dengan kemaslahatan
perorangan atau jama’ah. Kejujuran adalah modal besar membenahi dan membina
masyarakat dalam menerapkan serta menegakkan aturan-aturannya. Menghias diri dengan
kejujuran adalah keutamaan. Melepaskan kejujuran dari diri akan mendatangkan kehinaan.
Kejujuran adalah tanda keimanan dan kesucian jiwa. Kejujuran akan membawa kepada
keselamatan jiwa dan harta. Kejujuran menunjukkan keindahan sifat dan ketinggian moral
pemiliknya. Kejujuran juga membawa pelakunya kepada mencintai dan dicintai oleh Allah
serta disayangi oleh hamba-hamba-Nya. Seorang muslim tidak hanya melihat kejujuran
sebagai akhlak mulia saja melainkan memandangnya lebih dari pada itu.
Zuhair bin Harb, 'Utsman bin Abu Syaibah, dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan
kepada kami. (Ishaq berkata: Mengabarkan kepada kami. Dua orang yang lain mengatakan:

1[1] Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, (penyunting: Team darus sunnah), Subulus salam
syarah bulughul maram (jilid 3) –cet. 8. Jakarta: Darus sunnah, 2013. Hal. 952.

2[2] Hamzah Ya’qub, Etika Islam, ( Bandung: CV. Diponegoro, 1983), Cet. II, Hal. 95

3[3] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Presfektif Al- Qur’an, ( Jakarta: Amzah, 2007), Cet. I, Hal.
40
Jarir menceritakan kepada kami), dari Manshur, dari Abu Wa`il, dari 'Abdullah, beliau
berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

َ َ‫ َوق‬.‫ أَ ۡخبَ َرنَا‬:‫ق‬
‫ال‬ ُ ‫ال إِ ۡس َحا‬ ُ ‫ان ۡب ُن أَبِي َش ۡيبَـــةَ َوإِ ۡس َحا‬
َ َ‫ ق‬،‫ق ۡب ُن إِ ۡب َرا ِهيــ َم‬ ٍ ‫َح َّدثَنَا ُزه َۡيــ ُر ۡب ُن َح ۡر‬
ُ ‫ب َو ُعثــ ۡـ َم‬
‫ إِ َّن‬:‫ال َرسُو ُل هللاِ ﷺ‬ َ َ‫ ق‬:‫ال‬ َ َ‫ ق‬،ِ‫ ع َۡن عَبـــ ۡـ ِد هللا‬،‫ ع َۡن أَبِي َوائِ ٍل‬،‫ُور‬ ٍ ‫ ع َۡن َم ۡنص‬،ٌ‫ َح َّدثَنَا َج ِرير‬:‫ۡاۡلخَ َرا ِن‬
َ ‫ َوإِ َّن ۡالكــ َ ِذ‬.‫صدِّيقًا‬
‫ب‬ ِ ‫َب‬ َ ‫ق َحتَّ ٰى ي ُۡكت‬ ۡ َ‫ َوإِ َّن ال َّرج َُل لَي‬،‫ َوإِ َّن ۡالبِ َّر يَ ۡه ِدي إِلَى ۡال َجنَّ ِة‬،ِّ‫ق يَ ۡه ِدي إِلَ ٰى ۡالبِر‬
ُ ‫ص ُد‬ ۡ
َ ‫الصِّد‬
)‫(متّفق عليه‬.‫َب َك َّذابًا‬ َ ‫ــى ي ُۡكت‬
ٰ ّ‫يـــك ِذبُ َحت‬ ۡ َ‫ َوإِ َّن ال َّرج َُل ل‬.‫ار‬ َ ‫ َوإِ َّن ۡالفــُج‬،‫ُور‬
ِ َّ‫ُور يَ ۡه ِدي إِلَى الن‬
ۡ
ِ ‫يَ ۡهــ ِدي إِلَ ٰى الفُــج‬
“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan, dan sesungguhnya
kebajikan itu akan membawa ke surga. Dan sesungguhnya seseorang akan senantiasa jujur,
hingga dia dicatat sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya kebohongan itu akan membawa
pada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan membawa ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang
akan swenantiasa berbohong, hingga dia dicatat sebagai pembohong.”(Muttafaq Alaih)4[4]

Para ulama mengatakan bahwa kejujuran itu membawa kepada amal shalih yang bebas
dari semua hal tercela. Lafazh ‫الب ّر‬adalah nama benda yang mencakup semua kebaikan. Tapi
menurut satu pendapat, ‫الب ّر‬adalah surga. Sedangkan kebohongan membawa kepada ‫الفجور‬,
yaitu menyimpang dari sikap istiqomah.
Para ulama mengatakan bahwa hadits tersebut mendorong untuk mengupayakan
kejujuran, yakni menjalankan dan memprioritaskannya.
Hadis tersebut juga memperingatkan dari kebohongan dan menyepelekannya. Sebab
apabila seseorang sudah menyepelekan kebohongan, maka ia akan banyak melakukan
kebohongan.
Ash-shidq (jujur) adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan. Al-kidz (dusta) adalah
sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan.5[5] Al-hidayah artinya petunjuk yang dapat
membawa hingga sampai kepada tujuan. Al-birr adalah keleluasaan dalam mengerjakan amal
kebaikan. Dan al-birr merupakan suat ungkapan yang mencakup segala jenis kebaikan dan
biasanya disebutkan untuk mengungkapkan sebuah amal shalih yang ikhlas.6[6]

4[4] Hadis ini shahih, Al-Bukhari dan Muslim.

5[5] Makna ash-shidq dan al-kidz menurut mayoritas madzhab Al-hadawiyah dan lain-lain.

6[6] Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, (penyunting: Team darus sunnah), Subulus salam
syarah bulughul maram (jilid 3) –cet. 8. Jakarta: Darus sunnah, 2013. Hal. 952.
Kejujuran adalah budi pekerti yang sangat kuat kaitannya dengan kemaslahatan
perorangan atau jama’ah. Kejujuran adalah modal besar membenahi dan membina
masyarakat dalam menerapkan serta menegakkan aturan-aturannya. Menghias diri dengan
kejujuran adalah keutamaan. Melepaskan kejujuran dari diri akan mendatangkan kehinaan.
Kejujuran adalah tanda keimanan dan kesucian jiwa. Kejujuran akan membawa kepada
keselamatan jiwa dan harta. Kejujuran menunjukkan keindahan sifat dan ketinggian moral
pemiliknya. Kejujuran juga membawa pelakunya kepada mencintai dan dicintai oleh Allah
serta disayangi oleh hamba-hamba-Nya. Seorang muslim tidak hanya melihat kejujuran
sebagai akhlak mulia saja melainkan memandangnya lebih dari pada itu.
Seorang muslim memandang kejujuran sebagai penyempurna iman dan keislaman.
Sesungguhnya Al Qur’an menegaskan bahwa Allah SWT akan melaknat orang pendusta.
Maka berusahalah menjadi orang yang selalu bersifat jujur dalam segala perbuatan maupun
pembicaraan dan janji agar menjadi disayang Allah dan dipercaya oleh masyarakat.
Berusahalah selalu memelihara kejujuran. Hindari perbuatan dusta agar diri selamat.
Kejujuran digolongkan dalam beberapa kategori. Jujur dalam setiap ucapan. Seorang muslim
selalu berkata benar dan jujur. Kedustaan dalam berbicara termasuk tanda-tanda
kemunafikan. Jujur dalam berkeinginan. Seorang muslim tidak ragu dalam melakukan
sesuatu. Tidak terganggu atau tergoda oleh sesuatu yang berakibat pekerjaan pertama tidak
sempurna. Jujur terhadap janji. Apabila seorang muslim berjanji selalu berupaya memenuhi
apa yang telah dijanjikan. Mengingkari janji termasuk tanda kemunafikan. Jujur dalam
berbagai hal.
Seorang muslim tidak boleh membebani diri dengan sesuatu yang tidak mampu untuk
dilakukan. Hadits Rasulullah SAW menyatakan, “Kejujuran adalah ketenangan.” (HR.
Tirmidzi). Kejujuran membawa berkah dalam rezki dan selamat dari kebencian. Kejujuran
dapat membangun saling percaya dan berkasih sayang diantara sesama. Manakala kejujuran
telah lenyap maka kehidupan akan diwarnai kedustaan yang akan melahirkan kemunafikan,
penipuan, pengkhianatan, riya dan menyalahi janji. Kejujuran adalah kunci segala kebaikan
dan jalan menuju keridhaan Allah SWT. Kejujuran adalah jalan menuju sorga.7[7]

C. Bersikap terhadap tetangga
Islam mengajarkan kepada kita untuk supaya kita hidup bertetangga dengan baik,
Rasulullah SAW, telah bersabda:

7[7] http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/1992664-keutamaan-berbuat-jujur/#ixzz2wfdy2Ell
‫ ومن‬،‫ فليكرم ضيفه‬،‫ ومن كان يؤمن باهلل واليوم اآلخر‬،ُ‫ فاليؤذجياره‬،‫من كان يؤمن باهلل واليوم اآلخ ِر‬

)‫هريرة‬ ‫ (رواه البخري عن أيب‬.‫فليقل خريا أوليسكت‬،‫كان يؤمن باهلل واليوم اآلخر‬
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka janganlah dia
menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka
hendaklah dia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari
kemudian, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (Riwayat Bukhari dari Abu
Hurairah8[8]
Manusia ditakdirkan oleh Allah SWT sebagai makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup
sendiri, tanpa kerjasama dengan orang lain atau bermasyarakat. Karena itu, dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita selalu hidup bertetangga, membutuhkan satu
sama lain.
Tetangga merupakan mitra sosial terdekat kita. Dengan tetangga, kita belajar hidup
bersama (learning to life together) secara simbiosis-mutualistik, saling berbagi dan saling
menguntungkan.
Bertetangga dengan baik (rukun dan harmoni) merupakan manifestasi keimanan yang
sempurna. Belum sempurna iman seseorang jika masih suka menyakiti tetangganya.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan muslim. Di dalam satu riwayat Muslim disebutkan,

.‫جاره‬ ‫ فليحسن اىل‬،‫ومن كان يؤمن باهلل واليوم اآلخر‬
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka hendaklah ia berbuat
baik kepada tetangganya”
Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah
ditekankan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda:

ِِ ِ
َ ْ‫َما َزالَج ْب ِريْـلُيُـ ْوص ْين ْيبِال‬
َ ‫ـجا ِر َحتَّىظَنَـ ْنتُأَنَّـ ُه‬
‫سيُـ َوِّرثُه‬

“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu
akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625).9[9]

8[8] Al-Albani, Shahih Attarghib wa attarhib (Jakarta:Pustaka sahifa), hal 52

9[9]http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-islami-dalam-bertetangga.html
Namun, terkadang kita menjumpai tetangga yang tidak tahu diri. Ibnu Mas'ud pernah
didatangi oleh seorang sahabat yang mengadukan perlakuan tetangganya terhadap
dirinya."Saya mempunyai seorang tetangga yang selalu menyakitiku, mencacimaki diriku,
dan mempersempit gerak langkahku."
Ibnu Mas'ud menasehatinya, "Pergilah..! Jika tetangga itu maksiat kepada Allah, maka
engkau harus tetap taat kepada-Nya dalam memperlakukannya!". Hidup bertetangga secara
baik merupakan miniatur moral hidup bernegara. Kita harus saling memahami hak dan
kewajiban masing-masing. Interaksi antar tetangga dapat berjalan dengan baik jika semuanya
mau hidup berbagi suka dan duka, tidak mengedepankan individualitas.
Suatu ketika Rasul SAW bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian, apasaja yang
menjadi hak-hak tetangga itu?" "Hanya Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu," jawab
mereka.
Rasul lalu menjelaskan, "Hak-hak tetangga itu adalah: jika ia meminta pertolongan
kepadamu, tolonglah dia; jika meminta pinjaman kepadamu, pinjamilah dia; jika meminta
bantuan kepadamu, bantulah dia; jika ia sakit, jenguklah dia; jika ia memperoleh kebaikan
atau kesuksesan, berilah ia ucapan selamat; jika ia mengalami musibah, berikanlah ta'ziyah
(doa dan penghiburan); jika ia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya.”
“Janganlah engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi ventilasi
udara tetanggamu tanpa seizinnya; janganlah pula engkau menyakitinya karena engkau
memasak suatu makanan yang baunya dapat dirasakan oleh tetanggamu tanpa engkau
memberi sebagiannya.”
“Jika engkau membeli buah-buahan, berikanlah sebagian untuknya. Jika engkau tidak
memberinya, maka bawalah masuk buah-buahan itu ke dalam rumahmu secara sembunyi-
sembunyi. Dan janganlah anak-anakmu sampai membawa keluar rumah buah-buah itu,
sehingga anak-anak tetanggamu menjadi tahu dan memicu kemarahan mereka." (HR
Tabrani).
Sungguh indah adab bertetangga yang diteladankan Rasul SAW. Jika hak-hak tetangga
tersebut dapat dilaksanakan dalam kehidupan, niscaya konflik, kelaparan, kemalangan, dan
penderitaan yang dialami tetangga tidak perlu terjadi.
Sebaliknya, dengan memenuhi hak-hak tetangga, semua warga masyarakat akan saling
memiliki kesetiakawanan dan solidaritas sosial yang tinggi.
Adab bertetangga tidak hanya penting dipahami oleh warga bangsa, melainkan juga
penting diteladankan oleh para pemimpin. Keteladanan dari pemimpin menjadi salah satu
barometer terwujudnya keharmonisan sosial.10[10]
Adapun Etika terhadap tetangga seperti yang di paparkan dalam kitab minhajul muslim
adalah sebagai berikut:
a. Tidak menyakitinya dengan ucapan, atau perbuatan.
b. Berbuat baik kepadanya dengan menolongnya jika ia meminta pertolongan,
membantunya jika ia meminta bantuan, menjenguknya jika ia sakit, mengucapkan selamat
kepadanya jika bahagia, menghiburnya jika ia mendapatkan musibah, memulai ucapan salam
untuknya, berkata kepadanya dengan lemah-lembut, santun ketika berbicara,
membimbingnya kepada apa yang di dalamnya terdapat kebaikan agama dan dunianya,
melindungi area tanahnya, memaafkan kesalahannya, tidak mengintip auratnya, tidak
menyusahkannya dengan bangunan rumah atau jalannya, tidak menyakiti dengan air yang
mengenainya, atau kotoran yang dibuang di depan rumahnya. Itu semua perbuatan baik yang
diperintahkan dalam firman Allah Ta’ala, “Tetangga dekat dan tetangga yang jauh.“ (An-
Nisa’: 36).
c. Bersikap dermawan dengan memberikan kebaikan kepadanya.
d. Menghormati dan menghargainya.11[11]
D. Hak tamu dan tuan rumah.
Keramahan merupakan sebuah kebajikan yang telah ada sejak zaman kegelapan bangsa
Arab dan mereka memang terkenal dengan keramahannya. Sikap yang muncul sebelum
hadirnya islam ini dikagumi oleh Rasulullah, dan beliau merumuskan sejumlah peraturan
yang harus dijalankan oleh tamu dan tuan rumah.
Orang yang baik selalu mengekspresikan kebahagiaan dan kesenangan atas kedatangan
seorang tamu. Ia menyalaminya dengan hangat dan menahan diri supaya tidak menunjukkan
sikap dingin. Ia harus bersikap ramah, luhur, dan murah hati kepada tamunya. Ia sebaiknya
bersedia memeluknya dan menanyakan bagaimana keadaan keluarganya.
Sesaat setelah tamunya masuk, sebagai orang muslim yang baik, ia harus menawarkan
minuman atau makanan yang diinginkan sang tamu dengan hati-hati, sehingga ia menerima

10[10]http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/11/23/mwp196-adab-bertetangga

11[11]Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhajul Muslim (DarulFalah, 2002)
tawaran tersebut. Tuan rumah kemudian menyiapkan makan dan juga tempat istirahat untuk
tamunya. Tuan rumah sebaiknya tidak memasrahkan kepada anak atau pembantu untuk
menemui tamunya. Ia sendiri yang harus menemui tamunya sebagaimana dipraktekkan oleh
Rasulullah ketika ia kedatangan tamu. Ia sebaiknya menyuguhi tamunya dengan hidangan
yang enak dan lezat. Ia sebaiknya ikut makan bersama dengan tamunya dalam satu meja,
sebab rahmat allah terhampar dalam makan bersama tersebut. Umar bin khattab
meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

)‫اع ِة (رواه ابن ماجه‬ ِ‫ُكلُوا م‬
ْ ‫َجْي ًعا موآل تم مفَّرقُ ْوا فمِإ َّن الْبم مرمكةم مم مع‬
‫اْلم مم م‬ ْ
Makanlah bersama-sama dan jangan terpisah, sebab rahmat allah ada dalam kebersamaan.
Tuan rumah jangan sampai menunjukkan sikap pelit ketika menjamu tamunya. Tamu
itu harus dianggap sebagai sumber rahmat, bukan sebagai beban. Kunjungannya menambah
bekal, kemuliaan, dan kehormatan bagi tuan rumah. Tuan rumah juga harus melayaninya
dengan antusias, sebab ia memiliki hak untuk dijamu dengan baik hingga tiga hari. Ia
sebaiknya menyusun rencana yang menarik untuk melayani tamunya, terutama pada hari
pertama kedatangannya. Abu Syuraih al Ka’bi meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
ِ ِ ِ
‫ فما‬،‫ والضباف ة ثالث ة أبام‬، ُ‫يوم وليلة‬ ْ ‫مم ْن مكا من يُ ْؤم ُن بِللَّه موالْيم ْوم اآلخ ِر فم ْليُ ْك ِرْم‬
ٌ ‫ مجائزته‬،ُ‫ضي مفه‬
)‫ (رواه البخارى عن اىب شري خ الكعىب‬.‫بعد ذالك فهو صدقة و والحيل له ان يثوى عنده حىت خيرجه‬
Siapa pun yang meyakini Allah dan hari akhir akan memuliakan dan melayani tamunya.
Kesulitannya hanya sehari semalam, dan jamuannya adalah selama tiga hari. Sesuatu yang
ada di balik itu adalah amal perbuatan. Ia tidak diperkenankan untuk duduk terlalu dekat
dengan tamunya sehingga membuat merasa tidak nyaman. (Riwayat al-Bukhari dari Abu
syuraih al-ka’bi).12[12]
Tuan rumah yang baik memperlihatkan dirinya sendiri dengan sikap yang tidak kikir,
namun tidak foya-foya pada saat menjamu tamunya, sebab sikap itu bertentangan dengan
ajaran islam. Tuan rumah tidak boleh menjamu tamunya dengan makanan atau minuman
yang dilarang agama. Ketika sedang makan tuan rumah tidak diperkenankan berhenti terlebih
dahulu sebelum tamunya merasa kenyang dan tidak mampu untuk makan lagi.
Ibnu umar menuturkan bahwa Rasulullah bersabda:

12[12] Dirjen bimas islam kemenag, Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Tafsir
tematik). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2009. Hal.313-314.
ِ ِ ِ ِ
‫غ الْ مق ْوُم‬ ‫يرفع يم مدهُ موإِ ْن مشبم مع ى‬
‫حىت يم ْف ُر م‬ ُ ‫حىت تُ ْرفم مع املائدةُ وال‬
‫رج ٌل ى‬ ُ ‫إِ مذا ُوض معت الْ ممائ مدة فمالم يم ُق‬
ُ ‫وم‬
ِ ِ ِ َّ ‫مولْيُ ْع ِذ ْر‬
‫عس أ ْن ي ُكو من لهُ ىف الطَّ معام م‬
ٌ‫حاجة‬ ُ ِ‫الر ُج مل ْحيج ُل مجلْي مسهُ فميم ْقب‬
‫ض يدهُ مو م‬ َّ ‫فإن‬

)‫(رواه ابن جمه‬
Ketika meja dihamparkan, tidak ad seorangpun yang boleh berdiri hingga tutup makanannya
dibuka, dan juga tidak boleh ada yang angkat tangan (berhenti makan) sekalipun ia sudah
merasa sangat kenyang hingga orang lain selesai; dan jika ia terpaksa melakukannya, maka
ia harus minta izin, sebab hal itu akan memalukan teman-temannya yang lain. Mereka bisa
jadi berhenti makan, padahal ia sebetulnya masih ingin makan. (Riwayat Ibnu Majah).
Sehabis makan, tuan rumah harus mempersilakan dan mengantarkan tamunya untuk
cuci tangan, sedangkan ia sendiri baru boleh cuci tangan setelah yang lainnya selesai, tuan
rumah juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberi kenyamanan pada tamunya. Ia
harus berusaha keras untuk menyenangkan tamunya. Di pihak lain, tamu seharusnya jangan
terlambat bangun tidur akibat ngobrol sesuatu yang tidak penting. Sebelum pulang, ia harus
mohon pamit kepada tuan rumah, dan tuan rumah seharusnya mengantar tamunya hingga ke
pintu gerbang. Tuan sepatutnya mengucapkan salam perpisahan di pintu gerbang itu dengan
senyuman. Abu hurairah menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda:
ِ ‫الرجل مع‬
ِ ‫فه إىل ب‬
)‫ (رواه ابن ماجه عن أيب هريرة‬.‫اب الدَّا ِر‬ ِ ُّ ‫إِ َّن ِمن‬
‫ضْي م م‬ ‫السنَّة أم ْن مْحي ُر مج َّ ُ ُ م م م‬ ‫م‬
Termasuk perbuatan sunnah bagi tuan rumah untuk menemani tamunya hingga gerbang
rumahnya. (Riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah)13[13]
Ketika seseorang berkesempatan untuk bertandang ke rumah seseorang, ia sebaiknya
membawa sesuatu sebagai oleh-oleh untuk anak-anak tuan rumah. Hal itu akan menambah
rasa sayang antara tamu dan tuan rumahnya.
Penting juga diperhatikan bahwa tuan rumah tidak diperkenankan menjamu tamunya
lebih dari tiga hari, sebab akan berdampak pada perekonomian rumah tangga. Pihak tamu
bisa tinggal dalam waktu yang relatif lama hanya dalam situasi dan kondisi terpaksa, atau
pihak tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih lama. Dalam konteks semacam itu, tamu
harus merasa senang dengan permintaan tuan rumah dalam rangka menyenangkannya. Jika
tamu tersebut tidak kenal dengan keluarga perempuan tuan rumah, ia tidak diperkenankan

13[13] Ibid. Hal. 315.
menyinggung privasinya. Ia juga harus mendoakan tuan rumah agar Allah memberkatinya
dengan ampunan, rezeki yang berlimpah, dan derajat yang tinggi.

IV. KESIMPULAN
Akhlak karimah (mahmudah) adalah segala tingkah laku yang terpuji (yang baik) yang
biasa juga dinamakan “fadilah” (kelebihan). akhlak mahmudah yang dimilki seseorang
misalnya jujur, bersikap baik terhadap tetangga dan tamu, itu dinyatakan sebagai gerak jiwa
dan gambaran batin seseorang yang secara tidak langsung menjadi akhlaknya.
Kejujuran adalah tanda keimanan dan kesucian jiwa. Kejujuran akan membawa kepada
keselamatan jiwa dan harta. Kejujuran menunjukkan keindahan sifat dan ketinggian moral
pemiliknya. Seorang muslim tidak hanya melihat kejujuran sebagai akhlak mulia saja
melainkan memandangnya lebih dari pada itu.
Tuan rumah yang baik harus melayani tamu dengan antusias, sebab ia memiliki hak
untuk dijamu dengan baik hingga tiga hari, Orang yang baik selalu mengekspresikan
kebahagiaan dan kesenangan atas kedatangan seorang tamu. Karena hadirnya seorang tamu
adalah hadirnya sebuah rahmat dari Allah SWT

PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat. Kami menyadari sebagai manusia biasa masih
terdapat kesalahan baik dalam tulisan maupun materi. Untuk itu kami mohon maaf sebesar-
besarnya. Dan atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yatimin, Studi Akhlak dalam Presfektif Al- Qur’an, Jakarta: Amzah, 2007.
Al-Albani, Shahih Attarghib wa attarhib (Jakarta:Pustaka sahifa), hal 52
Al-Jazairi, Abu Bakr Jabir, Minhajul Muslim. DarulFalah, 2002.
Ash-Shan’ani, Muhammad bin Ismail Al-Amir, (Terj: Team darus sunnah), Subulus
salam syarah bulughul maram (jilid 3) –cet. 8. Jakarta: Darus sunnah, 2013.
Dirjen bimas islam kemenag, Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik
(Tafsir tematik). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2009.
Ya’qub, Hamzah, Etika Islam,Bandung: CV. Diponegoro, 1983.
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/1992664-keutamaan-berbuat-
jujur/#ixzz2wfdy2Ell
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-islami-dalam-bertetangga.html
.