PENYAKIT HIV / AIDS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Khusus
Doden Pengampu: dr. Arulita Ika Febriana M.Kes (Epid)
Disusun oleh:

1. Anis Septiana Nataris 6411413007
2. Anni Nur Aini 6411413016
3. Erika Prihatiningsih 6411413041
4. Hunun Sri Pawenang 6411413052
5. Hana Nafisah 6411413063

Rombel 1
Peminatan Epidemiologi dan Biostatistika

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2016

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
HIV/AIDS telah menimbulkan kekhawatiran di berbagai belahan bumi.
HIV/AIDS adalah salah satu penyakit yang harus diwaspadai
karena Acquired Immunodeficiency Syndrome ( AIDS) sangat berakibat pada
penderitanya. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan sekumpulan
gejalapenyakit yang menyerang tubuh manusia setelah sistem kekebalannya dirusak
oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Cara penularan HIV dapat melalui hubungan seksual, penggunaan obat suntik,
ibu ke anak-anak dan lain-lain. Mengenai penyakit HIV/AIDS, penyakit ini telah
menjadi pandemi yang mengkhawatirkan masyarakat dunia, karena disamping belum
ditemukan obat dan vaksin pencegahan penyakit ini juga memiliki “window periode”
dan fase asimtomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan
penyakitnya. Hal tersebut menyebabkan pola perkembangannya seperti fenomena
gunung es (iceberg phenomena).
Jumlah kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun di seluruh bagian dunia terus
meningkat meskipun berbagai upaya preventif terus dilaksanakan. Dari beberapa cara
penularan tersebut, masing-masing penularan memiliki resiko penularan cukup besar.
Oleh karena itu, penularan HIV harus diberi pengobatan agar penyebaran mengalami
perlambatan.
HIV tidak dapat disembuhkan karena tidak ada obat yang dapat sepenuhnya
menyembuhkan HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak
dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan
antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem
kekebalan tubuh dan menunda awal terjadinya AIDS.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan penyakit HIV / AIDS?
2. Apakah penyebab dari penyakit HIV / AIDS?
3. Bagaimana epidemiologi dari penyakit HIV / AIDS?
4. Bagaimana diagnosis dari penyakit HIV / AIDS?
5. Bagaimana cara penularan dari penyakit HIV / AIDS?
6. Apa tahap-tahap penularan dari penyakit HIV / AIDS?
7. Bagaimana tanda dan gejala dari penyakit HIV / AIDS?
8. Bagaimana patofisiologis dari penyakit HIV / AIDS?
9. Apa faktor risiko dari penyakit HIV / AIDS?
10. Apa dampak dari penyakit HIV / AIDS?
11. Bagaimana upaya pencegahan dari penyakit HIV / AIDS?
12. Bagaimana cara penanggulangan dari penyakit HIV / AIDS?
13. Bagaimana pengobatan dari penyakit HIV / AIDS?

yang artinya sekali seseorang terkena HIV. . Pengertian Penyakit HIV/AIDS HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiency virus. Tidak seperti virus-virus yang lain. HIV dapat menghancurkan sebagian besar dari sel tersebut sehingga tubuh tidak bisa melawan infeksi dan penyakit. Dari waktu ke waktu. Saat hal ini terjadi infeksi HIV sudah disebut sebagai AIDS. Yaag selanjutnya menjadikan orang dengan AIDS akan mudah aterkena infeksi oportunistik hingga kanker. HIV merupakan virus yang dapat mengakibatkatkan penyakit acquired immunodeficiency syndrome. orang tersebut akan memilikinya seumur hidup. atau AIDS. HIV menyerang spesifik sell dari system imun. BAB II PEMBAHASAN A. yaitu CD4 atau t-cell. tubuh manusia tidak dapat mengilangkan HIV.

Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B. Diperkirakan sekitar 50% orang yang terinfeksi HIV akan menunjukan gejala AIDS dalam 5 tahun pertama. Penyebab HIV/AIDS Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus HIV.Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. orang dengan HIV dapat menuju keadaan AIDS . terutama sel-sel limfosit. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya. Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun. yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Meskipun tubuh berusaha melawan virus. makrofag dan limfosit T sitotoksik). Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4. virus harus masuk ke dalam sel. Belum ada pengobatan yang efektif untuk penyakit ini. jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Sebelum diperkenalkannya art pada pertengahan 1990- an. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia. dan mencapai 70% dalam sepuluh tahun akan mendapat AIDS. HIV dapat dikendalikan. Treatment untuk HIV sering disebut dengan terapi antiretroviral (art). Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. B. Masa inkubasi AIDS diperkirakan antara 10 minggu sampai 10 tahun. tetapi tubuh tidak .Supaya terjadi infeksi. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong. sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker. yang terdapat di selaput bagian luar. orang dengan HIV dapat menuju AIDS hanya dalam beberapa tahun. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV. virus HIVmenyerang sel target dalam jangka waktu lama. Terapi tersebut dapat secara dramattis memperpanjang hidup dari orang dengan HIV dan menurunkan kesempatan mereka unruk menginfeksi orang lain. Berbeda dengan virus lain yang menyerang sel target dalam waktu singkat. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. namun dengan pengobatan yang sesuai. Di dalam sel.

Pada saat yang bersamaan. C. Fase ini disebut “periode jendela” (window period). Virus akan mati bila dipanaskan sampai temperatur 60° selama 30 menit. Setelah virus HIVmasuk ke dalam tubuh dibutuhkan waktu selama 3-6 bulan sebelum titer antibodi terhadap HIVpositif. Perjalanan penyakit infeksi HIVsampai menjadi AIDS membutuhkan waktu sedikitnya 26 bulan. Agent Virus HIV termasuk Netrovirus yang sangat mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk menemukan obat yang dapat membunuh. Setelah itu penyakit seakan berhenti berkembang selama lebih kurang 1-20 bulan. Virus HIV atau virus AIDS. maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi. Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan.Host dan environment 1. Setelah sekitar 6 bulan. jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita. jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil. semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin tinggi daya penularannya sehingga penyakitnya juga semakin parah. sebagaimana Virus lainnya sebenarnya sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah. penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang. Daya penularan pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada didalam darahnya. Epidemiologi HIV/AIDS Epidemiologi meliputi Agent . dan lebih cepat dengan . virus tersebut. yang berlainan pada setiap penderita. bahkan ada yang lebih dari 10 tahun setelah diketahui HIV positif. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS. tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. namun apabila diperiksa titer antibodinya terhadap HIVtetap positif (fase ini disebut fase laten) Beberapa tahun kemudian baru timbul gambaran klinik AIDS yang lengkap (merupakan sindrom/kumpulan gejala). 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS. mampu meredakan infeksi. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut.

Diseluruh dunia pada tahun 2013 ada 35 juta orang hidup dengan HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan3. HIV AIDS pertama kali ditemukan di provinsibali pada tahun 1987.000 anak erusia kurang dari 15 tahun. Seperti kebanyakan virus lain. Jumlah infeksi baru HIV pada tahun 2013 adalah 2.000 anak berusia kurang dari 15 tahun.1 juta yang terdiri dari 1. Mengingat masa inkubasi AIDS yang berkisar dari 5 tahun ke atas maka infeksi terbesar terjadi pada kelompok umur muda/seksual paling aktif yaitu 20- 30 tahun. virus AIDS ini dapat dihancurkan dengan detergen yang dikonsentrasikan dan dapat dinonaktifkan dengan radiasi yang digunakan untuk mensterilkan peralatan medis atau peralatan lain.5 juta yang terdiri dari 1. Di indonesia. Host Distribusi penderita AIDS di Amerika Serikat Eropa dan Afrika tidak jauh berbeda kelompok terbesar berada pada umur 30 -39 tahun. . Informasi yang diperoleh dari Pusat AIDS International fakultas Kesehatan Masyarakatat Universitas Harvard. Hampir 50% dari 110 juta orang itu adalah remaja dan dewasa muda usia 13 -25 tahun.9 juta dewasa dan 240. Pada tahun 2000 diperkirakan Virus AIDS menular pada 110 juta orang dewasa dan 110 juta anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa transmisi seksual baik homoseksual mapupun heteroseksual merupakan pola transmisi utama.2 juta anak berusia kurang dari 15 tahun.3 juta dewasa dan 190.mendidihkan air. Hingga saat ini HIV AIDS sudah menyebar di 386 kabupaten/kota diseluruh provinsi di indonesia. Amerika Serikat sejumlah orang yang terinfeksi virus AIDS yang telah berkembang secara penuh akan meningkat 10 kali lipat. Jumlah kematian anak akibat AIDS sebanyak 1. 2.

Pola penularan HIV berdasarkan kelompok umue dalam 5 tahun terakhr tidak banyak berubah. . diikuti kelompok usia 20-24 tahun. Infeksi HIV paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif (25- 49 tahun).

pengguna napa suntik (penasun). Pada para WTS di Nairobi terbukti bahwa kelompok yang menggunakan obat KB mempunyai prevalensi HIV lebih tinggi. Faktor sosial. ekonomi. Environment Lingkungan biologis sosial. maka mereka sudah ke dalam keadaan promiskuitas. dan kelompok “lekaki berhubungan seks dengan lelaki (lsl)” 3. Berdasarkan faktor risiko. ekonomi. infeksi HIV dominan terjadi pada heteroseksual. . Herpes Simpleks dan STS (Serum Test for Sypphilis) yang positip akan meningkatkan prevalensi HIV karena luka-luka ini menjadi tempat masuknya HIV. budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Faktor biologis lainnya adalah penggunaan obat KB. Pola penularan HIV berdasarkan jenis kelamin memiliki pola yang hampir sama dalam 7 tahun terakhir yaitu lebih banyak terjadi pada kelompok laki-laki dibandingkan kelompok perempuan Demikian pula pola penularan HIV berdasarkan faktor risiko tidak mengalami perubahan dalam 5 tahun terakhir. Bila semua faktor ini menimbulkan permissiveness di kalangan kelompok seksual aktif. budaya dan agama secara bersama-sama atau sendiri-sendiri sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual masyarakat. diikuti kelompok “lain-lain”. Lingkungan biologis adanya riwata ulkus genitalis.

tatto) yang telah terkontaminasi. mengandung resiko yang sangat tinggi  Transmisi Transplasental Transmisi ini adalah penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak. D. Antibodi terhadap HIV butuh waktu sekitar dua minggu hingga enam bulan. mempunyai resiko sebesar 50%. resiko penularannya. Tapi tes darah ini baru bisa dipercaya jika dilakukan setidaknya sebulan setelah terinfeksi HIV karena antibodi terhadap HIV tidak terbentuk langsung setelah infeksi awal. Tes ini berfungsi untuk menemukan antibodi terhadap HIV di dalam darah. khususnya bagi kaum mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari pengidap HIV  Ora-Genital Cara hubungan ini merupakan tingkat resiko kedua. Transmisi Penyakit AIDS Penularan AIDS dapat dibagi dalam 2 jenis : Secara Kontak Seksual  Ano-Genital Cara hubungan seksual ini merupakan perilaku seksual dengan resiko tertinggi bagi penularan HIV. sebelum akhirnya muncul di dalam darah. terutama pada penyalahgunaan narkotik dengan mempergunakan jarum suntik yang telah tercemar secara bersama-sama. . Darah akan diperiksa di laboratorium. termasuk menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV. hubungan suami istri yang mengidap HIV. Penularan parental lainnya. Masa antara infeksi HIV dan terbentuknya antibodi yang cukup untuk menunjukkan hasil tes positif disebut sebagai “masa jendela”. Secara Non Seksual Penularan secara non seksual ini dapat terjadi melalui :  Transmisi Parental Penggunaan jarum dan alat tusuk lain (alat tindik. melalui transfusi darah atau pemakai produk dari donor dengan HIV positif. satu tes yang paling umum adalah tes darah. berbeda-beda antara satu peneliti dengan penjeliti lainnya. Diagnosis HIV/AIDS 1) Melakukan Tes HIV/AIDS Untuk menguji apakah kita terinfeksi HIV.  Genito-Genital / Heteroseksual Penularan secara heteroseksual ini merupakan tingkat penularan ketiga.

Jadi hasil tes pertama yang dilakukan belum tentu bisa dipercaya. meski dalam tes darah tidak terlihat adanya antibodi terhadap HIV dalam darah. beberapa puskesmas juga sudah menyediakan layanan untuk tes HIV. Lakukan tes beberapa kali jika Anda merasa berisiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan masa jendela HIV cukup lama. ODHA Indonesia . Pada masa ini. perlu dilakukan beberapa kali tes untuk memastikan. Sebelum seseorang diberikan diagnosis yang pasti. 2) Tempat Melakukan Tes HIV/AIDS Ada beberapa tempat untuk melakukan tes darah HIV. Bahkan. Setelah itu barulah bisa diketahui kapan harus memulai pengobatan terhadap HIV. Jika dinyatakan positif HIV. di antaranya: a. terdapat beberapa yayasan dan organisasi yang fokus untuk urusan HIV/AIDS. Terdapat beberapa instansi di jawa tengah yang menanggulangi masalah HIV/AIDS antaralain : Di Indonesia. beberapa tes harus dilakukan untuk memerhatikan perkembangan infeksi. seseorang yang terinfeksi HIV sudah bisa menularkan virus ini. Komunitas AIDS Indonesia b.

Hasil tes ini seharusnya disampaikan oleh penyuluh (konselor) atau pun dokter. Tujuan pengobatan adalah untuk menurunkan tingkat virus HIV dalam darah. sebelumnya akan diberikan penyuluhan atau konseling. Himpunan Abiasa d. atau melalui daring internet. Anda bisa berkonsultasi kepada mereka tentang segala hal yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Tes HIV tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan orang yang bersangkutan. Jika berminat melakukan tes HIV. Tes darah akan dilakukan secara teratur untuk mengawasi perkembangan virus sebelum memulai pengobatan. Mereka akan memberi tahu dampaknya pada kehidupan sehari-hari dan bagaimana menghadapi situasi yang terjadi saat itu. entah terjadi gejala atau tidak. Yayasan Orbit Sedangkan lembaga pemerintah yang dibentuk khusus untuk menangani HIV/AIDS adalah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Ini juga untuk mencegah atau menunda penyakit yang terkait dengan HIV. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan infeksi Pengobatan biasanya disarankan setelah CD4 di bawah 350. disarankan untuk melakukan pengobatan secepatnya. Kemungkinan untuk menyebarkannya juga menjadi lebih kecil. klinik kesehatan. Sekarang alat tes HIV untuk di rumahan juga tersedia bebas untuk dibeli di apotik. Jika CD4 sudah mendekati 350. Yayasan Spiritia e. Pengobatan dilakukan setelah virus mulai melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. 4) Memastikan Adanya HIV pada Bayi dan Anak . Ini bisa ditentukan dengan mengukur tingkat sel CD4 dalam darah. disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter. c. Tapi untuk lebih jelas dalam memahami virus ini. 3) Hasil Tes Positif HIV Hasil tes positif atau reaktif berarti kita terinfeksi HIV.

te antibodi adalah definitif. walau masih berisko tertular bila tetap disusui. c. karena mereka yang HIV Ab negatif tidak terinfeksi HIV. Pada anak di atas usia 18 bulan. Bayi di atas usia 9 bulan dapat dites pada awal dengan tes antibodi HIV.a. Risiko penularan HIV tetap ada bila penyusuan diteruskan setelah usia 18 bulan. b. .

pinjam-meminjam alat bantu seks. 2) Melalui cairan semen/ air mani (sperma atau peju pria). Misalnya: transfusi darah. E. 4) Melalui Air Susu Ibu (ASI). AIDS diidentifikasi berdasarkan beberapa infeksi tertentu. Penularan HIV/AIDS Menurut Tim Field Lab FK UNS (2013: 5) cara penularan HIV/AIDS adalah sebagai berikut: 1) Melalui darah. 3) Melalui cairan vagina pada wanita. air keringat. Umumnya tes antibodi HIV dari usia 9-18 bulan. feses (kotoran atau tinja). Tahap-tahap Penularan HIV/AIDS Menurut Tim Field Lab FK UNS (2013: 4) istilah AIDS dipergunakan untuk tahap-tahap infeksi HIV yang paling lanjut. dsb. Harus diupayakan untuk memastikan diagnosis secepat mungkin. Misalnya: wanita yang berhubungan badan tanpa pengaman. oral sex. Misalnya: Bayi meminum ASI dari wanita yang positif HIV. Misalnya: seorang pria berhubungan badan dengan pasangannya tanpa menggunakan kondom atau pengaman lainnya. 5) Adapun cairan tubuh yang tidak mengandung virus HIV pada penderita HIV positif antara lain saliva (air liur atau air ludah). d. Bila tes virologis tidak terjangkau. tes antibodi HIV sebaiknya dilakukan. dsb. mungkin dibutuhkan untuk ambil diagnosis klinis presumptif penyakit HIV parah pada anak dengan hasil tes antibodi positif. dsb. bila tidak mendapat pengobatan akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun. yang dikelompokkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai berikut: . oral sex. Sebagian besar orang terkena HIV. e. jarum suntik. dan urin (air seni atau air kencing) F. air mata. terkena darah HIV pada kulit yang terluka.

kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus). Satu cara untuk mendapatkan kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV (Tim Field Lab FK UNS. penyakit HIV tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak dikategorikan sebagai AIDS 2) Tahap II. infeksi bakteri yang parah. meliputi manifestasi mucocutaneous minor dan infeksi-infeksi saluran pernafasan bagian atas yang tak sembuh-sembuh 3) Tahap III. 1) Tahap I. Ketahanan tubuh akan menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. saluran pernapasan (trachea). dan TBC paruparu 4) Tahap IV. Tanda dan Gejala AIDS Seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas. G. meliputi diare kronis yang tidak jelas penyebabnya yang berlangsung lebih dari satu bulan. batang saluran paru- paru (bronchi) atau paru-paru dan sarkoma kaposi. 2008: 87): 1) Kehilangan berat badan (BB) lebih dari 10% 2) Diare kronik lebih dari 1 bulan 3) Demam lebih dari 1 bulan Sedangkan tanda minornya: 1) Batuk menetap lebih dari 1 bulan 2) Dermatitis pruritis (gatal) . meliputi toksoplasmosis pada otak. Ada beberapa tanda gejala mayor menurut WHO antara lain (Widoyono. 2013).

Patofisiologi HIV /AIDS Peran penting sel t dalam “menyalakan” semua kekuatan limfosit dan makrofag. dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS. atau batuk. ruam. Virus AIDS secara selektif menginvasi sel t penolong. Setelah infeksi akut. membuat sel t penolong dapat dianggap sebagai “tombol utama” sistem imun. sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV. klinis tidak menunjukkan gejala. 50% berkembang menjadi AIDS sesudah 10 tahun. dan kadang- kadang juga masuk ke sel-sel otak. partikel virus bergabung dengan dna sel pasien. sehingga timbul demensia (gangguan kapasitas intelektual yang parah) yang dijumpai pada sebagian pasien AIDS. H. menghancurkan atau melumpuhkan sel-sel yang biasanya megatur sebagian besar respon imun. Bersamaan dengan replikasi HIV. dan kemudian meninggal. untungnya tubuh masih bisa mengkompensasi dengan memproduksi limfosit cd4 sekitar 109 setiap hari. seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama. Dari semua orang yang terinfeksi HIV. Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat. nyeri menelan. Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8- 10 tahun. terjadi kehancuran limfosit cd4 yang tinggi. Virus ini juga menyerang makrofag. 10 partikel setiap hari. ASI / cairan tubuh ibu yg infeksius . Pathway Patofisiologi HIV/AIDS Transmisi HIV ke dalam tubuh melalui darah. 3) Herpes zooster berulang 4) Kandidiasis orofaring 5) Herpes simpleks yang meluas dan berat 6) Limfadenopati yang meluas. Gejala yang terjadi adalah demam. Dalam tubuh odha. yang semakin melumpuhkan sistem imun. pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi. diare. pembengkakan kelenjar getah bening. dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala).

Faktor Risiko HIV/AIDS Faktor risiko epidemiologis infeksi HIV adalah sebagai berikut : 1. Hubungan seksual dengan pasangan berisiko tinggi tanpa menggunakan kondom . Terbentuk virus . Pengikatan gp120 HIV dengan reseptor membran T Helper + CD4 Fusi / peleburan membran virus dengan membran sel T Helper + CD4 Enzim reverse transcriptase RNA HIV  cDNA Enzim integrase cDNA masuk ke inti sel T Helper Transkripsi mRNA dan translasi menghasilkan protein struktural virus Enzim protease Merangkai RNA virus dengan protein-protein yang baru dibentuk. Perilaku berisiko tinggi : a.virus HIV yang baru dalam tubuh I.

Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah. karena akan meningkatkan pula tingkat hunian rumah-rumah sakit. Pengguna narkotika intravena. K. penyuluhan kesehatan. air liur. 2. kontaks seks per anal. b. Akibatnya. pasangan seks individu yang diketahui terinfeksi HIV. gizi anak. tato. sehingga berdampak terhadap program lain dalam hal berkurang penyediaan anggarannya. 3. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat. Virus HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Hubungan seksual yang tidak aman : multi partner. terutama bila pemakaian jarum secara bersama tanpa sterilisasi yang memadai. Perawatan ODHA di rumah sakit akan menambah beban biaya pelayanan kesehatan. Mempunyai riwayat infeksi menular seksual. air mata dan lain-lain J. Upaya Pencegahan AIDS Mengingat sampai saat ini obat untuk mengobati dan vaksin untuk mencegah AIDS belum ditemukan. imunisasi. biaya operasional untuk merawat para penderita AIDS akan bertambah. pemberantasan penyakit menular. Sedangkan program-program di atas sangat penting dan berperan besar dalam peningkatan SDM untuk masa yang akan datang. Dampak HIV / AIDS AIDS merupakan penyakit yang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya dan belum ada vaksin untuk mencegahnya. 4. tindik. c. dan lain-lain. sanitasi lingkungan. maka alternatif untuk menanggulangi masalah AIDS yang . cairan vagina dan air susu ibu. atau sirkumsisi dengan alat yang tidak disterilisasi. cairan sperma. misalnya untuk program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Riwayat menerima transfusi darah berulang tanpa penapisan. Riwayat perlukaan kulit.

Melaui darah . f) Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV. sehingga dapat diketahui langkah-langkah pencegahannya. b) Melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang mitra seksual yang setia dan tidak terinfeksi HIV (homogami) c) Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin d) Hindari hubungan seksual dengan kelompok rediko tinggi tertular AIDS. Walaupun cara ini sangat efektif. Setelah mengetahui cara penyebaran HIV melaui hubungan seksual maka upaya pencegahan adalah dengan cara : a) Tidak melakukan hubungan seksual. cairan vagina dan darah. namun tidak mungkin dilaksanakan sebab seks merupakan kebutuhan biologis. Pada dasarnya upaya pencegahan AIDS dapat dilakukan oleh semua pihak asal mengetahui cara-cara penyebaran AIDS. b. memberikan informasi kepada kelompok resiko tinggi bagaimana pola penyebaran virus AIDS (HIV). terus meningkat ini adalah dengan upaya pencegahan oleh semua pihak untuk tidak terlibat dalam lingkaran transmisi yang memungkinkan dapat terserang HIV. Ada 2 cara pencegahan AIDS yaitu jangka pendek dan jangka panjang : 1) Upaya Pencegahan AIDS Jangka Pendek Upaya pencegahan AIDS jangka pendek adalah dengan KIE. HIV dapat menyebar melalui hubungan seksual pria ke wanita. Melalui hubungan seksual HIV terdapat pada semua cairan tubuh penderita tetapi yang terbukti berperan dalam penularan AIDS adalah mani. e) Tidak melakukan hubungan anogenital. dari wanita ke pria dan dari pria ke pria. Ada 3 macam pencegahan berdasarkan penyebaran virus HIV : a.

c) Jarum suntik dan alat tusuk yang lain harus disterilisasikan secara baku setiap kali habis dipakai. pada waktu . menjadi donor menyalahi kode etik. maka darah yang dicurigai harus di buang. Darah merupakan media yang cocok untuk hidup virus AIDS. Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan : a) Transfusi darah yang mengandung HIV. tindik) bekas pakai orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik. d) Semua alat yang tercemar dengan cairan tubuh penderita AIDS harus disterillisasikan secara baku. f) Gunakan jarum suntik sekali pakai (disposable) g) Membakar semua alat bekas pakai pengidap HIV. maka pemeriksaan donor darah hanya dengan uji petik. tato. e) Kelompok penyalahgunaan narkotik harus menghentikan kebiasaan penyuntikan obat ke dalam badannya serta menghentikan kebiasaan mengunakan jarum suntik bersama. b) Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya Ibu hamil yang mengidap HIV dapat memindahkan virus tersebut kepada janinnya. c) Pisau cukur. Hal ini masih belum dapat dilaksanakan sebab memerlukan biaya yang tingi serta peralatan canggih karena prevalensi HIV di Indonesia masih rendah. Apabila terpaksa karena menolak. c. b) Menghimbau kelompok resiko tinggi tertular AIDS untuk tidak menjadi donor darah. Penularan dapat terjadi pada waktu bayi di dalam kandungan. gunting kuku atau sikat gigi bekas pakai orang yang mengidap virus HIV. Langkah-langkah untuk mencegah terjadinya penularan melalui darah adalah: a) Darah yang digunakan untuk transfusi diusahakan bebas HIV dengan jalan memeriksa darah donor.

2) Upaya Pencegahan AIDS Jangka Panjang Penyebaran AIDS di Indonesia (Asia Pasifik) sebagian besar adalah karena hubungan seksual. Yang dimaksud dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab adalah : a. Upaya jangka panjang yang harus kita lakukan untuk mencegah merajalelanya AIDS adalah mengubah sikap dan perilaku masyarakat dengan kegiatan yang meningkatkan norma-norma agama maupun sosial sehingga masyarakat dapat berperilaku seksual yang bertanggung jawab. Hanya melakukan hubungan seksual dengan mitra seksual yang setia dan tidak terinfeksi HIV (monogamy). sebetulnya masyarakat kita tidak perlu risau terhadap penyebaran virus AIDS. Mengingat masalah seksual masih merupakan barang tabu di Indonesia. Namun ada penelitian lain yang berpendapat bahwa resiko penularan suami ke istri atau istri ke suami dianggap sama. karena norma-norma budaya dan agama yang masih kuat. Kasus AIDS yang menimpa orang Indonesia adalah mereka yang pernah ke luar negeri dan mengadakan hubungan seksual dengan orang asing. Upaya untuk mencegah agar tidak terjadi penularan hanya dengan himbauan agar ibu yang terinfeksi HIV tidak hamil. terutama dengan orang asing. c. Menghindari hubungan seksual dengan wanita-wanita tuna susila. d. e. Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin. b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiko penularan dari suami pengidap HIV ke istrinya adalah 22% dan istri pengidap HIV ke suaminya adalah 8%. Namun demikian kita tidak boleh lengah sebab negara kita merupakan Negara terbuka dan tahun 1991 adalah tahun melewati Indonesia. . Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali. Menghindari hubungan seksual dengan orang yang mempunyai lebih dari satu mitra seksual. Kemungkinan penularan tidak terganggu pada frekuensi hubungan seksual yang dilakukan suami istri. persalinan dan sesudah bayi di lahirkan.

Dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab diharapkan mampu mencegah penyebaran penyakit AIDS di Indonesia. . Setiap upaya penanggulangan harus mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia. 6. 3. Setiap orang berhak untuk mendapat informasi yang benar untuk melindung diri dan orang lain terhadap infeksi HIV/AIDS. Setiap kebijakan. Pencegahan HIV/AIDS diarahkan pada upaya pendidikan dan penyuluhan untuk memantapkan perilaku yang tidak memberikan kesempatan penularan dan merubah perilaku yang beresiko tinggi. Upaya penanggulangan HIV/AIDS dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah. Tidak melakukan hubungan anogenital. Setiap kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan meniperkukuh ketahanan dan kesejahteraan keluarga. serta menciptakan suasana yang menunjang. Masyarakat adalah pelaku utama dan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan membimbing. melalui penataran P4 dan lain-lain yang bertujuan untuk mempertebal iman serta norma-norma agama menuju perilaku seksual yang bertanggung jawab. program. 4. 1. Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS. Kegiatan tersebut dapat berupa dialog antara tokoh-tokoh agama. Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin g. penyebarluasan informasi tentang AIDS dengan bahasa agama. Penanggulangan HIV/AIDS Prinsip-prinsip Dasar Penanggulangan HIV/AIDS.f. 5. 2. i. serta sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat. h. pelayanan dan kegiatan harus tetap menghormati harkat dan martabat dari para pengidap HIV/penderita AIDS dan keluarganya. L. Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual.

Strategi Yang Dapat Dilakukan Untuk Menanggulangi Penyebaran Penyakit Hiv/Aids Antara Lain : 1. 2. 4. Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV/AIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent). 9. Sebelum dan sesudahnya harus diberikan konseling yang memadai dan hasil pemeriksaan wajib dirahasiakan. Setiap pemberi layanan berkewajiban memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada pengidap HIV/penderita AIDS. Melakukan promosi kondom bagi WTS atau pekerja sex lainnya dengan cara memberikan penjelasan tentang fungsi dan cara pemakaiannya. kerja sama dinas kesehatan dengan para pembimbing sekolah. mengurangi sebanyak mungkin penderitaan perorangan. 8. 3. menghimpun dan menyatijkan upaya-upaya nasional untuk penanggulangan HIV/AIDS. serta dampak sosial dan ekonomis dari HIV/AIDS diseluruh Indonesia 3. Gencar melakukan pentuluhan di berbagai tempat yang ditujukan kepada masyarakat umum tentang bahaya HIV/AIDS baik itu di sekolah-sekolah (SMU). Diusahakan agar peraturan perundang-undangan mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di semua tingkat. mencegah penularan virus HIV/AIDS 2. Ibu dan anak memahami bahaya dari penularan HIV/AIDS.7. . Perguruan Tinggi jika perlu sampai ke Pondok Pesantren. Tujuan penanggulangan HIV/AIDS adalah untuk : 1. Pemerintah dan LSM yang ada banyak melakukan penyuluhan ketahanan keluarga karena dengan ketahanan keluarga diharapkan Ayah. Membangun tempat-tempat rehabilitasi khusus untuk orang-orang yang menderita penyakit AIDS.

8. Pengobatan HIV harus dilakukan bersamaan dengan penapisan dan terapi infeksi oportunistik. Obat-obatan diberikan dalam bentuk tablet yang dikonsumsi tiap hari. Terapeutik Pengobatan terapeutik meliputi pengobatan ARV (Antiretroviral). 6. 7. Pengobatan ARV diberikan setelah mendapatkan konseling. Pengobatan HIV dan AIDS dilakukan dengan cara pengobatan: a. Pengobatan ARV dimulai di rumah sakit dan dapat dilanjutkan di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. mempunyai pengingat minum obat (PMO) dan pasien setuju patuh terhadap pengobatan seumur hidup. dan pengobatan infeksi oportunitis. informasi. Pengobatan ARV harus diindikasikan bagi: . Pengobatan HIV/AIDS Pengobatan HIV bertujuan untuk mengurangi risiko penularan HIV. Meningkatkan pengetahuan petugas dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan. pemberian kondom dan konseling. 5. Pengobatan AIDS bertujuan untuk menurunkan sampai tidak terdeteksi jumlah virus (viral load) HIV dalam darah dengan menggunakan kombinasi obat ARV. Membentuk kelompok kerja teknis komunikasi. menghambat perburukan infeksi oportunistik dan meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV. Merubah sikap dan perilaku masyarakat kearah positif dalam rangka pencegahan dan penyebarluasan AIDS. Rumah sakit sekurang-kurangnya merupakan rumah sakit kelas C. dan idukasi khusus untuk menagani HIV/AIDS. M. Berusaha agar pengidap HIV dan golongan resiko tinggi (WTS) dibekali keterampilan tertentu agar mampu bekerja di bidang lain dalam kehidupnnya. Pengobatan ARV yang berfungsi menghambat virus dalam merusak sistem kekebalan tubuh. pengobatan IMS.

Tanpa pengobatan. Penunjang Pengobatan penunjang meliputi pengobatan suportif. . Setiap bayi baru lahir dari ibu HIV dan AIDS harus segera mendapatkan profilaksis ARV dan kotrimoksazol. Dan mereka cenderung menderita penyakit yang membahayakan nyawa seperti kanker. orang dengan sistem kekebalan yang terserang HIV akan menurun drastis. Pelayanan persalinan memperhatikan prosedur kewaspadaan standar dan tidak memerlukan alat pelindung diri khusus bagi tenaga kesehatan penolong persalinan. b. dan Setiap ibu hamil dengan HIV berhak mendapatkan pelayanan persalinan di semua fasilitas pelayanan kesehatan. 3) Penderita HIV dengan tuberkulosis. adjuvant dan perbaikan gizi. Profilaksis Pengobatan profilaksis meliputi pemberian ARV pasca pajanan dan kotrimoksasol untuk terapi dan profilaksis. Hal ini dikenal sebagai HIV stadium akhir atau AIDS. pemberian nutrisi sebagai pengobatan penunjang bagi bayi baru lahir. Dalam hal status HIV belum diketahui. 1) Penderita HIV yang telah menunjukkan stadium klinis 3 atau 4 atau jumlah sel Limfosit T CD4 kurang dari atau sama dengan 350 sel/mm3 2) Ibu hamil dengan HIV. c.

cairan semen/ air mani (sperma atau peju pria). Melalui darah. HIV merupakan virus yang dapat mengakibatkatkan penyakit acquired immunodeficiency syndrome. atau AIDS. adapun cairan tubuh yang tidak mengandung virus HIV pada penderita HIV positif. melalui cairan vagina pada wanita. Masa inkubasi AIDS diperkirakan antara 10 minggu sampai 10 tahun. penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. BAB III PENUTUP A. Seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas. dan melalui Air Susu Ibu (ASI. Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus HIV. Kesimpulan HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiency virus. .

Asni. Dkk. 2015. B. Penyuluhan Kesehatan: Penyakit Menular Seksual.alodokter. Afifah.com/hiv-aids/ .K.go. Jakarta.php/uptd/8-umum/127- strategi-penanggulangan-hiv-aids Hanim. Situasi Dan Analisis HIV AIDS. Pusat Data Dan Informasi. Solo Kandal. Fakultas Kedokteran UNS. http://dinkes. Skri Dinkes Bengkulu.bengkuluprov. Erlangga.id/ver1/index.html. Keefektifan Permainan “Shart Journey” (Inovasi Permainan Monopoli) Dalam Meningkatkan Pengetahuan Tentang Hiv/Aids Pada Remaja Yang Tinggal Di Kompleks Resosialisasi Argorejo. Http://www. dkk. 2004. Diffah. Jakarta http://www.cdc. Diakses pada tanggal 26 april 2016. 2013. Penyakit Infeksi Edisi Ke-6. 2014.. DAFTAR PUSTAKA About HIV/AIDS.gov/HIV/basics/whatisHIV. Kementrian Kesehatan Ri.

2015.blogspot. Pencegahan.pdf http://spiritia.id/art/bacaart.co. Penyakit Tropis Epidemiologi.Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia 1994 Wahyono Agus.blogspot. 2008.id/2012/12/definisi-dan-patofisiologi-penyakit- hiv.depkes. & Pemberantasan.id/_asset/_regulasi/100_Permenkes%20No %2021%20Tahun%202013%20Penanggulangan%20HIVAIDS. Makalah HIV AIDS.or. Diakses pada tanggal 28 April 2016 Pukul 19:09 WIB . http://zonainfo45.co.go. http://aguswahyupriutomo. Diakses pada tanggal 28 April 2016 Pukul 19:12 WIB Widoyono.id/2015/07/contoh-makalah-tentang-hiv- aids. Jakarta Zona Info 45. Erlangga.html. http://pppl.php?artno=1060. Penularan. Definisi dan Patofisiologi HIV AIDS.html.Permenkes Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV dan AIDS. 2012.