ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA AN.

H DENGAN
FRAKTUR UNION HUMERUS SINISTRA POST ORIF
DILAKUKAN TINDAKAN ANESTESI UMUM
DI IBS RSUD AMBARAWA

Disusun Untuk memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Anestesi IV

Disusun Oleh:
Eka Sulistyowati (P07120213015)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
PRODI DIV KEPERAWATAN ANESTESI
YOGYAKARTA
2017

LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA AN.H DENGAN
FRAKTUR UNION HUMERUS SINISTRA POST ORIF
DILAKUKAN TINDAKAN ANESTESI UMUM
DI IBS RSUD AMBARAWA

Disusun oleh :
Eka Sulistyowati (P07120213015)

Telah diperiksa dan disetujui pada : Mei 2017

Mengetahui,

Pembimbing Lapangan Pembimbing Akademik

( ) ( )

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang baik karena trauma,
tekanan maupun kelainan patologis. Fraktur adalah patah tulang, biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price, 2005).
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih
dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 1.3
juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang
memiliki prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur ekstrimitas bawah
sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang terjadi. Menurut depkes RI (2011),
Penyebab terbanyaknya adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti
proses degeneratif dan osteoporosis juga dapat berpengaruh terhadap

terjadinya fraktur.
Pada usia pediatrik, fraktur bukan menjadi hal yang langka sehingga
dalam pembedahan memerlukan anestesi khusus. Penatalaksanaan anastesi
pada pediatrik sedikit berbeda bila dibandingkan dengan dewasa. Hal ini
disebabkan karena adanya perbedaan mendasar antara anak dan dewasa,
meliputi perbedaan anatomi, fisiologi, respon farmakologi dan psikologi pada
anak. Walaupun terdapat perbedaan yang mendasar, tetapi prinsip utama
anestesi yaitu kewaspadaan, keamanan, kenyamanan, dan perhatian pada anak
maupun dewasa adalah sama. Beberapa tahapan anastesi pediatrik seperti
tahapan evaluasi, persiapan pra bedah, dan tahapan premedikasi-induksi
merupakan tahapan yang paling menentukan keberhasilan dati tindakan
anastesia yang akan kita lakukan. Berjalannya setiap tahap dengan baik akan
menentukan untuk tahap selanjutnya.
Fenomena yang ada di rumah sakit menunjukan bahwa pasien
pediatrik di rumah sakit mengalami berbagai masalah keperawatan dalam
diantaranya nyeri, hambatan mobilitas, resiko infeksi, cemas dalam
perianestesi. Masalah tersebut harus di antisipasi dan di atasi agar tidak
terjadi komplikasi. Peran perawat sangat penting dalam perawatan pasien pre,
intra dan post anestesi terutama dalam pemberian asuhan keperawatan pada
pasien.
Berdasarkan uraian di atas, maka saya tertarik untuk memberikan
asuhan keperawatan anestesi pada pasien pediatrik dengan fraktur humerus
sinistra dengan pendekatan proses keperawatan di Ruang Instalasi Bedah
Sentral RSUD Ambarawa.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan keperawatan anestesi pasien pediatrik fraktur
humerus sinistra dengan teknik anestesi general.
2. Tujuan Khusus
a.Mampu menguasai konsep dasar anestesi general dan fraktur
humerus sinistra.
b. Mampu melakukan pengkajian, menganalisa,

menentukan diagnosa keperawatan, dan membuat intervensi
keperawatan anestesi.
c.Mampu memberikan tindakan keperawatan yang diharapkan
dapat mengatasi masalah keperawatan pada kasus perianestesi
pasien pediatrik dengan fraktur humerus sinistra.
d. Mampu mengungkapkan faktor-faktor yang
menghambat dan mendukung serta permasalahan yang muncul
dari asuhan keperawatan yang diberikan.

C. Waktu
Asuhan keperawatan anestesi dilakukan pada tanggal 5 Mei 2017.

D. Tempat Praktek
Asuhan keperawatan anestesi ini dilakukan pada tanggal 5 Mei 2017 di
Instalasi Bedah Sentral RSUD Ambarawa.

E. Strategi Pelaksanaan
1. Wawancara
2. Pemeriksaan Fisik
3. Observasi
4. Studi dokumentasi

kulit. Fraktur adalah patah tulang. 2011). 2005). Klasifikasi Fraktur Femur The Orthopedic Trauma Association (OTA). dapat berupa trauma langsung dan dapat berupa trauma tidak langsung (Hoppenfield. 2. Definisi Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang baik karena trauma. BAB II TINJAUAN TEORI A. yaitu berdasarkan nama tulang yang terkena. jaringan saraf. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rud paksa. Menurut Muttaqin. trauma yang menyebabkan tulang patah. biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price. Fraktur 1. pembuluh darah) sehingga memungkinkan terjadinya hubungan atara fragmen tulang yang patah dengan udara luar yang disebabkan oleh cedera dari trauma langsung yang mengenai lengan atas. tipe fraktur dan hubungan dengan dunia luar. lokasi fraktur. (2011) Fraktur humerus adalah terputusnya hubungan tulang humerus disertai kerusakan jaringan lunak (otot. secara umum fraktur diklasifikasi berdasarkan lima hal. . tekanan maupun kelainan patologis.

Adapun klasifikasi fraktur berdasarkan dengan nama tulang yang terkena contohnya adalah fraktur humerus. 2009) b. dan membutuhkan kulit untuk penutup (skin . tetapi terjadi pergeseran tulang didalamnya. kerusakan meliputi otot. III B : fraktur grade III. biasanya tipe fraktur simple transverse dan fraktur obliq pendek. a. 2010). 4) Grade III ini dibagi lagi kedalam : III A : fraktur grade III. hilangnya jaringan lunak. tanpa kerusaka jaringan lunak yang ekstensif. Fraktur Terbuka (complicated/open fracture) Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur Tertutup (simple/close fracture) Fraktur tertutup adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit. fraktur dapat dibagi atas fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustilo – Anderson (Smeltzer & Bare. Sedangkan berdasarkan hubungan dengan dunia luar. Pasien dengan fraktur tertutup harus diusahakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin. fraktur radius/ulnaris dan lain-lain. sehingga tampak jaringan tulang. 3) Grade III : yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. fraktur komunitif sedang dan ada kontaminasi. dan juga kerusakan lainnya seperti stabilitas (OTA. fraktur femur. kerusakan jaringan lunak minimal. 2009) adalah: 1) Grade I : dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya. tapi tidak membutuhkan kulit untuk penutup lukanya. kulit dan struktur neurovascular.bentuk atau pola patahan. Pasien diajarkan bagaimana cara mengontrol pembengkakan dan nyeri yaitu dengan meninggikan ekstremitas yang cedera. dan mulai melakukan latihan kekuatan otot yang dibutuhkan untuk pemindahan atau menggunakan alat bantu jalan (Smeltzer & Bare. 2) Grade II : luka lebih dari 1 cm panjangnya.

Bentuk patahan dari fraktur spiral hampir sama dengan fraktur obilk. seperti ranting pohon yang lentur. Fraktur ini pada umumnya menjadi stabil kembali setelah direduksi. b. dengan kerusakan arteri yang harus diperbaiki. Fraktur ini berbentuk diagonal sepanjang tulang dan biasanya terjadi karena pemelintiran pada ekstremitas. III C : fraktur grade III. g. Fraktur juga dapat diklasifikasikan menurut bentuk dan pola patahannya (Smeltzer & Bare. contoh fraktur jenis ini adalah tumbukan antara tulang belakang dengan tulang belakang lainnya. akan tetapi pada fraktur spiral patahannya mengelilingi tulang sehingga seolah-olah terpilin seperti spiral. graft). Fraktur jenis ini hanya terjadi pada anak-anak. Fraktur spiral: Fraktur spiral terjadi ketika sebuah anggota gerak terpuntir dengan kuat dan biasanya disertai dengan kerusakan pada jaringan lunak. Fraktur komunitiva: Fraktur komunitiva merupakan kondisi di mana tulang yang patah pecah menjdai dua bagian atau lebih. c. Fraktur oblik: Fraktur ini terjadi karena benturan tak langsung ketika suatu kekuatan pada jarak tertentu menyebabkan tulang patah pada bagian yang paling lemah. d. Fraktur transversal: Fraktur yang terjadi karena benturan langsung pada titik fraktur dengan bentuk patahan fraktur adalah lurus melintang pada batang tulang. Fraktur greenstick: Fraktur di mana garis fraktur pada tulang tersebut hanya parsial (tidak lengkap) pada sisi konveks bagian tulang yang tertekuk. Fraktur patologik: Fraktur yang terjadi pada tulang yang sudah mengalami kelainan misalnya metastase tumor. yaitu: a. Fraktur kompresi: Fraktur yang terjadi ketika kedua tulang menumbuk (akibat tubrukan) tulang ketiga yang berada di antaranya. f. 2009). e. dan beresiko untuk dilakukannya amputasi. .

lalu terjadi pembengkakan dan nyeri. b. tanda gejala fraktur yaitu : a. Pembengkakan dan perubahan warna lokal kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. b. tahap inflamasi berlangsung beberapa hari.3. Fase Proliferasi. Kemudian . pada fase ini hematoma akan mengalami organisasi dengan membentuk benang-benang fibrin. Pemendekan tulang yang disebabkan karena kontraksi otot yang melekat diatas maupun dibawah tempat fraktur. d. Pergeseran fragmen tulang menyebabkan deformitas tulang yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan bagian yang normal. yaitu terjadi respons tubuh terhadap cedera yang ditandai oleh adanya perdarahan dan pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. c. 4. Fase Inflamasi. membentuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast. Proses Penyembuhan Fraktur Black & Hawks (2009) menyebutkan bahwa tulang yang fraktur akan melewati beberapa tahap penyembuhan diantaranya : a. Pada pemeriksaan palpasi ditemukan adanya krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya. Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi. Manifestasi Klinis Fraktur Menurut Smeltzer & Bare (2009). e.Ujung fragmen tulang mengalami divitalisasi karena terputusnya aliran darah.

dan usia 5. terjadi remodeling kalus oleh aktivitas osteoblas dan osteoklas. Jaringan tulang berlebih akan direabsorpsi dari kalus.Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus. Selama minggu ketiga sampai kesepuluh. merupakan tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Jumlah dan jangka waktu remodeling tulang tergantung pada tekanan yang dialami tulang. Waktu yang dibutuhkan agar fragmen tulang tergabung adalah 3-4 minggu. penting sekali dilakukannya pelurusan tulang secara tepat. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. adalah pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral.penulangan tersebut memerlukan waktu 3-4 bulan. kalus berubah menjadi tulang dan menyatukan patahan tulang dengan sempurna sehingga tahap ini sering disebut tahap penyatuan Pada patah tulang panjang orang dewasa normal. d. e. Fase Pembentukan Kalus. c. Bersamaan dengan terbentuknya tulang sejati melalui osifikasi. tulang rawan dan tulang serat imatur. beban tulang. Komplikasi fraktur Komplikasi fraktur menurut Brunner & Suddarth (2005) dibagi menjadi 2 yaitu: a. menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Fase penulangan kalus/Ossifikasi. Pada tahap ini osifikasi terus berlanjut dan jarak antara patahan tulang semakin hilang dan akhirnya menutup. terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid) berlangsung setelah hari ke lima. Fase Remodeling/konsolidasi. Komplikasi awal 1) Syok . Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu. Pada fase ini.

Sindrom kompartemen juga disebut dengan kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan interstisial di dalam ruangan yang terbatas. 3) Compartment Syndrome Compartment syndrome merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan. dan pireksia (Suratun. Sindrom kompartemen ditandai dengan nyeri yang hebat. paresis. ginjal dan organ lain.Syok hipovolemik akibat dari perdarahan karena tulang merupakan organ yang sangat vaskuler maka dapat terjadi perdarahan yang sangat besar sebagai akibat dari trauma khususnya pada fraktur femur dan fraktur pelvis. takikardia. Awitan dan gejalanya yang sangat cepat. disertai denyut nadi . pucat. takipnea. Hal ini disebabkan oleh karena penurunan ukuran fasia yang membungkus otot terlalu ketat. saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil yang memasok otak. 2008). paru. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli. Peningkatan tekanan intra kompartemen akan mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan. Ruangan tersebut terisi oleh otot. yaitu di dalam kompartemen osteofasial yang tertutup. balutan yang terlalu ketat dan peningkatan isi kompartemen karena perdarahan atau edema. 2) Emboli lemak Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat termasuk ke dalam darah karna tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karna katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadiya globula lemak dalam aliran darah. sehingga terjadi gangguan sirkulasi dan fungsi jaringan di dalam ruangan tersebut. dapat terjadi dari beberapa jam sampai satu minggu setelah cidera gambaran khasnya berupa hipoksia. parestesi.

b. respon alergi terhadap logam yang digunakan dan remodeling osteoporotik disekitar alat. Sinar-X menunjukkan kehilangan kalsium dan kolaps struktural. dan os. Scapphoid. 2) Nekrosis avaskular tulang Nekrosis avaskular terjadi bila tulang kekurangan asupan darah dan mati. Komplikasi lambat 1) Delayed union. 6. 4) Komplikasi awal lainnya seperti infeksi. Nyeri dan penurunan fungsi merupakan indikator terjadinya masalah. Talus (Suratum. bagian proksimal dari os. terutama mengenai daerah tungkai bawah dan tungkai atas. nonunion Penyatuan terlambat (delayed union) terjadi bila penyembuhan tidak terjadi dengan kecepatan normal berhubungan dengan infeksi dan distraksi (tarikan) dari fragmen tulang. 3) Reaksi terhadap alat fiksasi interna Alat fiksasi interna diangkat setelah terjadi penyatuan tulang namun pada kebanyakan pasien alat tersebut tidak diangkat sampai menimbulkan gejala. Tidak adanya penyatuan (nonunion) terjadi karena kegagalan penyatuan ujung. os. Masalah tersebut meliputi kegagalan mekanis dari pemasangan dan stabilisasi yang tidak memadai.ujung dari patahan tulang. tromboemboli dan koagulopati intravaskular. kegagalan material. Penatalaksanaan Fraktur . Secara anatomi sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak dan paling sering disebabkan oleh trauma. Nekrosis avaskuler ini sering dijumpai pada kaput femoris. Tarikan fragmen tulang juga dapat menyebabkan kesalahan bentuk dari penyatuan tulang (malunion). Lunatum. malunion. yang hilang. Tulang yang mati mengalami kolaps atau diabsorpsi dan diganti dengan tulang yang baru. 2008). berkaratnya alat.

atau diperlukannya akses berulang terhadap luka fraktur di sekitar sendi yang cocok untuk internal fiksasi namun jaringan lunak terlalu bengkak untuk operasi yang aman. pasien dengan cedera multiple yang berat. Reposisi Tindakan reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti seperti pada fraktur radius distal. Beberapa indikasi pemasangan fiksasi luar antara lain fraktur dengan rusaknya jaringan lunak yang berat (termasuk fraktur terbuka). Reposisi dilakukan secara non-operatif diikuti dengan pemasangan fiksator tulang secara operatif. 2010). setelah rereposisi. Fiksasi interna yang dipakai . misalnya beberapa minggu. fraktur dengan infeksi (Nayagam. Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar (OREF) dilakukan untuk fiksasi fragmen patahan tulang. misalnya fraktur femur (Nayagam. 2011). dimana digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang. humerus. atau yang terkait dengan cedera kepala. tibia. Reposisi secara operatif dikuti dengan fiksasi patahan tulang dengan pemasangan fiksasi interna (ORIF). fraktur tulang panggul dengan perdarahan hebat. a. misalnya reposisi patah tulang pada fraktur kolum femur. Tindakan ini dilakukan pada fraktur yang bila direposisi secara manipulasi akan terdislokasi kembali dalam gips. Prinsip penanganan fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi) (Sjamsuhidajat. misalnya pada fraktur femur. atau lengan bawah. Reposisi dengan traksi dilakukan terus-menerus selama masa tertentu. kemudian diikuti dengan imobilisasi. dilakukan pemasangan prosthesis secara operatif pada kolum femur (Nayagam. 2010). kemudian pin baja disatukan secara kokoh dengan batangan logam di kulit luar. Fragmen direposisi secara non- operatif dengan meja traksi. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. 2010). dimana pemasangan internal fiksasi terlalu berisiko untuk terjadi infeksi.

tetapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi fragmen. 2010). analgesia. b. Contoh cara ini adalah pengelolaan fraktur tungkai bawah tanpa dislokasi yang penting. fraktur multiple dimana dengan reduksi dini bisa meminimkan komplikasi. penghambatan refleks . bisa berupa pen di dalam sumsum tulang panjang. Rehabilitasi Rehabilitasi berarti upaya mengembalikan kemampuan anggota yang cedera atau alat gerak yang sakit agar dapat berfungsi kembali seperti sebelum mengalami gangguan atau cedera (Nayagam. 2011. Indikasi pemasangan fiksasi interna adalah fraktur tidak bisa di reduksi kecuali dengan operasi. Bucholz. c. sesudah operasi tidak diperlukan pemasangan gips lagi dan segera bisa dilakukan imobilisasi. bisa juga plat dengan skrup di permukaan tulang. 2010. Imobilisasi yang lama akan menyebabkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Oleh karena itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin (Nayagam. fraktur pada pasien dengan perawatan yang sulit (paraplegia. Sjamsuhidajat dkk. Heckman. Definisi Anestesi Umum Mangku (2010) menjelaskan bahwa anestesi umum adalah suatu keadaan tidak sadar yang berifat sementara yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri diseluruh tubuh akibat pemberian obat anestesi. 2006). fraktur yang tidak stabil dan cenderung terjadi displacement kembali setelah reduksi fraktur dengan penyatuan yang buruk dan perlahan (fraktur femoral neck). Keuntungan reposisi secara operatif adalah dapat dicapai reposisi sempurna. Court-Brown. Efek neurofisiologis yang dihasilkan oleh anestesi umum ditandai oleh lima efek utama: tidak sadarkan diri. dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh. pasien geriatri) (Nayagam. Anestesi Umum 1. amnesia. 2010) B. fraktur patologis. Imobilisasi Pada imobilisasi dengan fiksasi dilakukan imobilisasi luar tanpa reposisi.

enfluran. Karakteristik khusus dari anestesi volatil membuat diperlukannya alat penguap (vaporizer). Macam-macam anestesi umum Katzung (2015) membagi anestesi umum sesuai dengan penggunaan sediaan obat. xenon ) memiliki tekanan uap yang tinggi dan titik didih rendah sehingga mereka berada dalam bentuk gas pada suhu kamar. Selain itu. Mereka digunakan untuk memfasilitasi induksi cepat dan telah menggantikan inhalasi sebagai metode yang disukai kecuali untuk anestesi pediatrik. kehilangan kesadaran secara halus. sevofluran) memiliki tekanan uap yang rendah dan titik didih demikian tinggi sehingga mereka cairan pada suhu kamar (20°C). Anestesi Intravena Anestesi nonopioid intravena memainkan peran penting dalam praktek anestesi modern. dan memiliki batas keselamatan yang lebar (Katzung. Anestetik volatil (halotan. walaupun keduanya dikelola oleh inhalasi. sedangkan anestesi gas (nitrous oxide. desfluran. 2015) 2. yaitu agen volatil serta gas diambil melalui pertukaran gas di alveoli paru-paru. Tak satu pun dari agen anestesi yang saat ini tersedia ketika digunakan sendiri bisa mencapai semua lima efek yang diinginkan dengan baik. 2015). Anestesi inhalasi Sebuah perbedaan yang jelas harus dibuat antara anestesi volatil dan gas. cepat kembali setelah penghentian. terapi. yaitu: a. Untuk operasi kecil atau untuk prosedur diagnostik invasif. dan relaksasi otot rangka. atau intervensi bedah yang akan dilakukan. b. isofluran.otonom. anestesi yang ideal harus menginduksi cepat. Pemilihan teknik anestesi ditentukan oleh jenis diagnostik. obat oral atau parenteral dapat digunakan dalam kombinasi dengan anestesi lokal. Anestesi inhalasi. Praktek anestesi modern bergantung pada penggunaan kombinasi obat intravena dan inhalasi (balanced anesthesia) untuk mengambil keuntungan dari setiap agen dan meminimalkan efek samping mereka. yang disebut teknik monitored anesthesia (Katzung. Dengan diperkenalkannya .

Tipe pemafasan. methohexital). c. etomidat. Agen anestesi intravena antara lain: dexmedetomidine. Sehingga. Anestesi Pada Pediatrik a. Anestesi seimbang Mirip dengan agen inhalasi. lorazepam. digunakan anestesi seimbang dengan beberapa obat (anestesi inhalasi. Paru-paru lebih mudah rusak karena tekanan ventilasi yang berlebihan. sehingga gangguan pada kedua bagian ini memudahkan timbulnya kegawatan pernafasan. benzodiazepam (diazepam. midazolam). sehingga menyebabkan pneumotoraks. . Perbedaan Anatomi Anak dan Dewasa 1) Pernafasan Frekuensi pernafasan pada bayi dan anak lebih cepat dibanding orang dewasa. sehingga kurangnya kadar oksigen yang tersedia pada udara inspirasi. yang mampu menyumbang onset yang cepat. lewat hidung. dapat menyebabkan terjadinya bahaya hipoksia yang lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa. dan bayi ialah abdominal. Anestesi intravena yang digunakan untuk induksi anestesi umum bersifat lipofilik (otak. opioid. dan agen neuromuscular blocking) untuk meminimalkan efek yang tidak diinginkan. atau pneumomediastinum.40 x semenit. 3. Pada orok dan bayi antara 30 . propofol. Neonatus tampaknya lebih dapat bertahan terbadap gangguan hipoksia daripada anak yang besar dan orang dewasa. propofol. orok. Laju metabolisme yang tinggi menyebabkan cadangan oksigen yang jauh lebih kecil. sumsum tulang belakang). tetapi hal ini . dan barbitural (thiopental. anestesi intravena yang tersedia saat ini bukan obat anestesi yang ideal untuk menimbulkan lima efek yang diinginkan. sedatif-hipnotik. ketamin. anestesi intravena juga menjadi pilihan yang baik untuk pemeliharaan anestesi.

Jumlah darah bayi secara absoluts sedikit.120 x permenit. kepala lebih besar. dan lidah jug alebih besar b) Laring yang letaknya lebih anteriorepiglottis yang lebih panjang c) Leher dan trache yang lebih pendek daripada dewasa d) Cartilago tiroid yang terletak berdekatan dengan airway 2) Kardio-Sirkulasi Frekuensi jantung/nadi bayi dan anak berkisar antara 100 . 1994). Ada 5 perbedaan mendasar anatomi dari airway pada anak-anak dan dewasa a) Pada anak-anak. karena parasimpatis yang lebih dominan. walaupun untuk perhitungan mengandung 90 miligram berat badan Karena itu perdarahan dapat menimbulkan gangguan sistem kardiosirkulasi. tetapi kemtidian menurun sampai usia 6 bulan (10-12 gr%).bukan alasan untuk mengabaikan hipoksia pada neonatus (Boulton. Hipoksia menimbulkan bradikardia. Kadar hemoglobin orok tinggi (16-20 gr%). Tekanan Heart Tekanan Umur Diastoli Rate Sistolik k 130- Preterm 1000g 45 25 150 110- Baru lahir 60-75 27 150 6 bulan 80. 95 45 . 1994). karena pergantian dari HbF (fetal) menjadi HbA (adult). Dan juga duktus arteriosus dan foramina pada septa interatrium dan interventrikel belum menutup selama beberapa hari setelah lahir (Boulton.

1994) Bayi bersifat poikilotennik. Umur EBV Premature 90- 100cc/kg Baru lahit 80-90 cc/kg 3 bulan-1 tahun 70-80 cc/kg >1tahun 70 cc/kg Dewasa 55. 150 85- 2 tahun 95 50 125 75- 4 tahun 98 57 115 60- 8 tahun 112 60 110 Sumber ( Boulton. 1989) 3) Cairan tubuh Bayi lahir cukup bulan mengandung relatif banyak air yaitu dari berat badan 75%. karena luas permukaan tubuhnya relative lebih luas dibanding orang dewasa. 60 cc/ kg . Disamping itu pusat pengaturan suhu di hipotalamus belum berkembang dengan baik (Said. dan hipertermia pada lingkungan yang panas. setelah berusia 1 tahun turun menjadi 65% clan setelah dewasa menjadi 55-60 %. Hal ini dapat menimbulkan bahaya hipotermia pada lingkungan yang dingin. sedangkan pada dewasa ialah 20%. Cairan ekstrasel orok ialah 40% dari berat badan.

memudahkan saat induksi. tentang apa yang akan dilakukan sebelum dan sesudah operasi beserta yang akan terjadi kemudian. Penerapan Anestesi Pada Pediatri 1) Tahap Pra Bedah Kunjungan pra-anestesia dilakukan sekurang-kurangnya dalam waktu 24 jam sebelum tindakan anestesia. tak mau bicara. agitasi. pernafasan dalam. Bagi tenaga medis. bentuk- bentuk kecemasan ini dapat berupa verbal atau tingkah laku. Kecemasan ini dapat mencapai puncaknya saat induksi anestesi. Ada berbagai cara untuk menekan kecemasan pre-operatif ini. dan hal-hal lain yang tak diinginkan. Sesuai dengan umurnya. Tujuan lainnnya dapat berupa menekan biaya obat yang akan digunakan. Nama Obat Agen Cara Dosis Onset Efek . retensi urine. b. Perkenalan dengan orang tua penderita . Menangis. 2) Premedikasi pada anak Anak-anak dan orang tuanya sering merasa cemas saat- saat pre operatif. premedikasi berfungsi untuk pendekatan psikologis memberikan penjelasan pada pasien dan keluarganya. dan juga penggunaan obat- obatan analgesi dan hipnotik yang bertujuan untuk membuat amnesia ataupun mengurangi nyeri post operasi. nafas dalam. keadaan fisik dan mental penderita. merupakan bentuk dari anak yang cemas. anti emesis. Dan juga untuk memisahkan sang pasien dari orang tuanya dengan tenang pada saat akan dilakukan operasi. umum. Pada kunjungan tersebut kita mengadakan penilaian tentang keadaan. Kecemasan saat pre-operasi dapat bervariasi dengan berbagai macam cara.sangat penting untuk memberi penjelasan mengenai masalah pembedahan dan anestesia yang akan dilakukan.

5mg/kgBB 60 Ranitidine Oral 2 mg/kgBB 60 .2 15-30 Depresi Meperidin IM mg/kgBB 15-30 system Fentanil oral 0. eksitasi postoperative eksitasi Dissosiatif Ketamin Oral 3-8mg/kgBB 10-15 Eksitasi IM 2-5mg/kgBB 2-5 Meningkatkan TD.3-0.1-0.2mg/kgBB 5-10 system pernafasan.5-1 mg/kgBB 5-15 pernafasan 10-15 µg/kgBB Depresi system pernafasan Depresi sitem pernafasan Barbiturat Pentobarbital Oral 3mg/kgBB 60 Eksitasi Tiopental Rectal 30mg/kgBB 5-10 postoperative yang memanjang Depresi system pernafasan Antikolinergik Atropin Oral 20µg/kgBB 15-30 Flushing Scopolamin IM 20µg/kgBB 5-15 Mulut kering IV 10-20µg/kgBB 30 Rasa gembira IM 20µg/kgBB 15-30 Halusinasi H2 Antagonis Cimetidine Oral 7. Pemberian (menit) Benzodiazepin Midazolam Oral 0. tekanan intra cranial meningkat Opioids Morfin IM 0.1-0.7mg/kgBB 15-30 Depresi Diazepam Nasal 0.

a) Induksi inhalasi. Induksi dapat dikerjakan secara inhalasi atau seintravena. perala tan atau uap. Dikerjakan pada bayi dan anak yang sulit dicari venanya atau pada yang takut disuntik. Kadang-kadang ketalar diberikan secara intra muskular. Sungkup muka mula-mula jaraknya beberapa sentimeter dari mulut dan hidung. Induksi intravena biasanya dengan tiopenton (pentotal) 2~4 mg/kg pada neonatus dan 4-7 mg/kg pada anak .Risiko stridor meningkat karena pembengkakan mukosa pada saluran pernapasan kecil akibat ititasi laring oleh pipa. Konsentrasi halotan mula-mula rendah 1 vol% kemudian dinaikkan setiap beberapa kali bernafas 0. Pipa tak bertutup yang cukup kecil untuk pengeluaran gas dapat dipakai. Induksi diusahakan agar berjalan mulus dengan trauma yang sekecil mungkin.Sumber : Bissonette (2002) 3) Induksi pada Anak Induksi anestesia pada bayi dan anak sebaiknya ada yang membantu. Diberikan halotan dengan oksigen atau campuran N20 dalam oksigen 50%. dan dapat berbahaya. Induksi dapat juga dengan ketamin (ketalar) 1-2mg/kg IV. Bayi kecil yang berat badannya kurang . Dikerjakan pada anak yang tidak takut pada suntikan atau pada mereka yang sudah terpasang infus. b) Induksi intravena. Suatu bungkus tenggorokan akan menghentikan cairan melalui pipa yang masuk ke paru-paru. kalau sudah tidur barn dirapatkan ke muka penderita.5 vol % sampai tidur. 4) Intubasi Anestesi sebelum intubasi tidak penting bagi anakanak dengan berat badan kurang dari 5 kg.

Hati-hati terhadap hipertensi dan meningginya . atau jika terdapat kelainan sa luran pemapasan. Pipa trakea dipilih berdasarkan prinsip babwa pipa yang dapat dibengkokkan tidak digunakan di bawab nomor 7. Penggunaan intubasi dapat dicapai dengan atau tanpa bantuan relaksan otot. Pada anak yang kecil. Para ahli anestesi harus memutuskan antara penggunaan masker anestesi dan intubasi. Kepala bayi terutama neonatus oksiputnya menonjol. seorang ahli anestesi barus memperlibatkan babwa ia dapat memberikan ventilasi pada paru menggunakan kantong. sehingga hams diberikan ventilasi (Boulton.dari 5 kg tidak dapat mempertahankan pemapasan spontan dengan pipa trakea yang sempit. jenisnya tergantung pada piliban ahli anestesi dan adanya gangguan saluran pernapasan. dan dua nomor lebih rendah harus disiapkan bila diperlukan. Jika terdapat keraguan tentang kemampuan saluran pernapasan untuk dilalui pipa. Dengan adanya perbedaan anatomis padajalan nafas bagian atas. Blade laringkoskop yang lebib kecil'digunakan untuk anak. dan masker sebelum membuat penderita menjadi lumpuh dengan relaksan otot Laringoskopi pada bayi dan anak tidak membutuhkan bantal kepala. paling aman untuk memperdalam anestesi sampai pipa dapat disisipkan sementara pernapasan spontan berlangsung. Beberapa penulis menganjurkan intubasi sadar pada neonatus usia kurang dari 10-14 hari . Daerah aliran udara paling sempit pada anak kecil adalah di bawah pita suara Intubasi dalam keadaan sadar dikerjakan pada keadaan gawat atau diperkirakan akan menjumpai kesulitan. lebih mudah menggunakan laringoskop dengan bilah lurus pada bayi. 1994).

2-0. Jika menggunakan pelumpuh otot. Bersihkan rongga hidung dan mulut dari lendir kalau perlu. Secara kasar ukuran besarnya pipa trakea . bayi atau anak ditidurkan sampai dalam lalu diberikan analgesia topikal barn dikerjakan intubasi.tekanan intrakranial yang mungkin dapat menyebabkan perdarahan dalam otak akibat laringoskopi dan intubasi. Depresi nafas oleh narkotika-analgetika netralkan dengan naloksin 0. Pasien boleh dipindah apabila score steward mencapai 6. Setelah pasien dipindah di Ruang Recovery. . Dengan pelumpuh otot digunakan suksinil-kolin dosis 2 mg/kgBB secara intravena setelah bayi/anak tidur.04 mg/kg) dan atropin (0. pasien diobservasi secara berkala. obat anestetika dihentikan pemberiannya.02 mg/kg).sama dengan besarnya jari kelingking atau besarnya lubang hidung. Pipa trakea pada bayi dan anak dipakai yang tembus pandang tanpa cuff. Lebih digemari intubasi sesudah tidur dengan atau tanpa pelumpuh otot. netralkan dengan prostigmin (0. 5) Pengakhiran Anestesi Setelah pembedahan selesai. Berikan zat asam murni 5-15 menit. Kalau tidak menggunakan pelumpuh otot. Untuk usia diatas 5-6 tahun boleh dengan cuff pada kasus-kasus laparotomi atau jika ditakutkan akan terjadi aspirasi.4mg secara titrasi.

BAB III PROSES KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI A. Keluhan Utama Ibu pasien mengatakan ingin kawat pada lengan atas kiri pasien diambil.An 17) Rencana Anestesi : Anestesi General b. Pre Anestesi a.H 2) Jenis Kelamin : Laki-laki 3) Umur : 6 tahun 4) BB/TB : 25 kg / 115 cm 5) Status Pernikahan : Belum Menikah 6) Pekerjaan : Tidak ada 7) Agama : Islam 8) Pendidikan : Tidak Sekolah 9) Alamat : Pandusari. Semarang 10) Tanggal MRS : 4 Mei 2017 11) Tanggal Pengkajian : 4 Mei 2017 12) Diagnosa Medis : Fraktur humerus sinistra 13) Rencana Operasi : Pro Aff wire 14) Nomer Medis : 1118xx 15) Dokter Bedah : dr Pipit Pujo. Riwayat Kesehatan 1) Riwayat Kesehatan Sekarang . Identitas Pasien 1) Nama : An. Sp OT 16) Dokter Anestesi : dr Heru Sp. Banyubiru. PENGKAJIAN 1. c.

asma. perbandingan anterior-posterior dan transversal 1:2. Kelengkapan Rekam Medis Persetujuan bedah. 3) Riwayat Penyakit Keluarga : Ibu pasien mengatakan anggota keluarganya ada yang memiliki riwayat hipertensi tetapi penyakit jantung. pasien tidak menggunakan gigi palsu. Kemudian setelah 6 bulan dianjurkan untuk diangkat kawat di tangannya.5 oC BB = 25 kg Nadi = 102 x / menit TB = 115 cm RR = 28 x / menit IMT = 19. 2) Riwayat Penyakit Dahulu Ibu pasien menyangkal pasien menderita penyakit jantung. tidak ada perdarahan yang keluar pada mata. b) Palpasi . maupun diabetes mellitus tidak ada. hasil laboratorium. hipertensi. tidak ada lesi. gigi pasien tidak ada yang goyah maupun tanggal. penarikan nafas seimbang antara dada kiri dan kanan. gangguan ginjal. kemudian diperiksa di RSUD Ambarawa dan dilakukan operasi oleh dokter. Suhu = 36. klavikula simetris. 3) Pemeriksaan dada (paru dan jantung) Pemeriksaan paru a) Inspeksi Dada simetris. hasil rontgen e. persetujuan anestesi. d. mulut maupun hidung. maupun alergi obat dan asma bronkial. sehingga tanggal 4 Mei 2017 pasien periksa ke poli Ortopedhi RSUD Ambarawa dan direncanakan untuk pengangkatan kawat tanggal 5 Mei 2017. Ibu pasien mengatakan 1 tahun yang lalu sekitar bulan November anaknya terjatuh dari tangga. lensa kontak.3 kg/m2 2) Pemeriksaan Kepala Tidak ada jejas pada kepala maupun wajah. Pemeriksaan Fisik 1) Kesadaran Umum Keadaan pasien lemah dengan kesadaran compos mentis. diabetes melitus.

Tidak ada krepitasi.00 WIB. . tidak terdapat massa dan tidak acites. c) Perkusi Interkosta 1-3 paru kiri terdengar suara resonan. tidak terdapat bekas luka dan tidak ada benjolan. 5) Abdomen Lama puasa : pasien mulai puasa pukul 03.00 WIB sehingga pasien puasa pre operasi selama 6 jam a) Inspeksi Bentuk simetris. ekspansi dada kedepan dan kesamping seimbang. interkosta 1-6 paru kanan terdengar suararesonan. tidak ada suara tambahan. intercosta 2 kiri (area katup pulmonalis) maupun intercosta 5 (ictus cordis). d) Auskultasi Suara nafas vesikuler. d) Auskultasi Bunyi jantung reguler (BJ 1 dan BJ 2 tunggal). intercosta 2 kiri (area katup pulmonalis) tetapi teraba denyut pada intercosta 5 (ictus cordis). interkosta 6 paru kanan terdengar suara redup. 4) Pemeriksaan jantung a) Inspeksi Tidak terlihat denyut pada intercosta 2 kanan (area katup aorta). c) Perkusi Suara redup dibagian intercosta kiri 2-5. Denyut jantung 102 x/ menit. interkosta 4-6 paru kiri terdengar suara redup. b) Palpasi Tidak teraba denyut pada intercosta 2 kanan (area katup aorta). b) Auskultasi Terdengar bunyi peristaltic lemah ± 12 kali/ menit c) Perkusi Terdengar suara timpani pada kuadran kiri atas d) Palpasi Tidak terdapat nyeri tekan pada abdomen kanan. operasi direncanakan pukul 09.

tapi jatuh dengan sentuhan 3 : Tidak mampu melawan tekan/ dorongan dari pemeriksa 4 : Kekuatan kurang dibandingkan sisi lain. kapillary refill < 3 detik. 2 : Mampu menahan tegak/ gaya gravitasi (saja). pada tangan sebelah kanan terdapat luka bekas operasi ± 20 cm. akan tetapi IMT pasien mencapai 19. b) Kekuatan otot kanan 5 5 kiri 5 5 Keterangan: 0 : Otot sama sekali tidak mampu bergerak. f. nadi radialis teraba kuat. 6) Ekstremitas a) Atas Tangan simetris. kapillary refill < 3 detik. 7) Neurologis a) Status mental dan emosi : Ekspresi wajah pasien tampak cemas. tidak didapati adanya komplikasi pada keluhan yang dirasakan sehingga dapat dikategorikan pasien memiliki status fisik ASA I. 5 : Kekuatan utuh 8) Status ASA Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik ataupun gangguan organik lainnya. turgor kulit elastis. Pemeriksaan Penunjang 1) Hasil Hematologi 4 April 2017 Nama Hasil Normal . turgor kulit elastis. tampak berkontraksi 1 : Tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh. tidak tenang. tidak ada odem. b) Bawah Kaki simetris. tidak ada lesi kaki.3 kg/m2. terpasang infus RL pada tangan sebelah kanan dengan kecepatan 20 tpm. teratur.

5 % 50 – 80 Limfosit 4. Evaluasi Pra Anestesi .000 – 14.2 10ᴧ6/µL Granulosit 3.0 Pg/cell 27 – 32 Pg/cell MCHC 36.6 g/dl Hematokrit 33.8 % 20-40 Monosit% 6.500 mm3 Hemoglobin 11.1 mm3 5.000 mm3 RDW 14.8 % 40 – 52 % MCV 74 fL 82 – 98 MCH 26.8 g/dl 10.7 % 2-8 Granulosit% 30. Cor : bentuk dan letak jantung normal b.57 10ᴧ6/µL 3.7 0.9 – 15.000/ µL 150.9 0.2 g/dL 32 – 37 g/dL Trombosit 315.7 % 10 – 18 % Hitung Jenis Limfosit% 53.000 – 400.6 2 – 4 10ᴧ6/µL Golongan Darah O Rhesus (+) PTT 2’30’’ < 6 menit APTT 7’00’’ < 12 menit IMUNO SEROLOGI HbsAg Non reaktif Non reaktif 2) Pemeriksaan Rontgent Tanggal 24 November 2016 Hasil:  Kedudukan ORIF pada 1/3 distal os humerus sinistra baik  Garis Fraktur tak jelas  Tampak kalus 3) Rontgen Thoraks Tanggal 4 Mei 2017 Hasil : a. Pulmo: corakan vaskuler tampak meningkat dan kasar. Hematologi Eritrosit 4.8 – 5. tak tampak bercak pada kepua lapang paru Kesan: Pulmo dan besar Cor normal g.12-1.8-4 10ᴧ6/µL Monosit 6.8 10ᴧ6/µL Leukosit 9.

tekanan darah pasien terakhir dibangsal 102/74 mmHg e) Pasien diberikan midazolam 1. mengalir lancar. tube (LMA) ukuran 2. pasien telah terpasang IV line dengan infus RL 20 tpm di tangan kanan. stilet. spuit 10cc) dan obat emergency 2) Kesiapan Pasien a) Pasien telah melakukan puasa mulai pukul 03.2. Intra Anestesi a. pasien tidak memiliki riwayat alergi pada obat maupun makanan. stetoscope. pasien tidak memiliki penyakit jantung maupun asma. plester. ketorolak 30 mg telah disiapkan c) N20 2 lpm. ranitidine 50 mg. analgetik narkotik (fentanyl 50 mcg). Airway (Mayo) no.5. conector. 1) Kesiapan Perawat a) Perawat sudah menyiapkan alat anestesi umum (mesin anestesi.25 mg b) Obat anestesi ketamin 25 mg rute IV.00 WIB b) Pasien telah mengosongkan kandung kemih. sevofluran 2 vol% dan 02 2 lpm 2. BAK terakhir pukul ± 06. suction.00 WIB c) Pasien telah memakai baju dan topi operasi d) Sign in dilakukan untuk mempersiapkan dan memastikan kondisi pasien. gel.25 mg sebagai premedikasi f) Ibu pasien diberitahu mengenai rencana tindakan anestesi (GA) selama proses pembedahan dilakukan 3) Kesiapan Obat a) Obat premedikasi midazolam 1. data yang didapat diantaranya: status pasien ASA I. antimual ondansetron 4 mg. Prosedur Intra anestesi 1) Pasien dipindahkan ke meja operasi dengan posisi supinasi 2) Pasien dipasang pulse oksimetry 3) Hidupkan bed side monitor 4) Cek jalur IV untuk memastikan kelancaran obat . anestesi sedasi (propofol 75 mg).

N2O 2 lpm. reflek bulu mata tidak ada c) Lakukan manajemen airway melalui face mask.5 + 65 + 100 : 262. kunci menggunakan spuit hingga balon mengembang dan keras.5) Prosedur anestesi umum dilakukan dokter spesialis anestesi meliputi: a) Ketamin 25 mg dimasukkan Fentanyl 50 mcg dimasukkan IV secara pelan. ventilasi dilakukan sesuai volume tidal (25 x 8 = 200 ml). e) Fiksasi LMA menggunakan plester f) Sambungkan LMA dengan mesin anestesi 6) Posisikan kepala pasien ekstensi menggunakan bantalan kepala 7) Monitor tanda-tanda vital serta saturasi oksigen 8) Monitor kebutuhan cairan selama intra operatif: a) Kebutuhan cairan pasien selama operasi:  Rumus Maintenance : 10 kg pertama x 4+10 kg kedua x 2 + 10 kg ketiga x 1 : 10x4+10x2+5x1: 65 cc  Rumus Pengganti Puasa : lama puasa x maintenance : 6 x 65 = 390 cc  Rumus Stress operasi : jenis operasi x BB : 4 x 25 = 100 cc b) Pemberian cairan intra operasi  Jam I : ½ PP + M + SO : 195 + 65 + 100 : 360 cc  Jam II : ¼ PP + M + SO : 97.5 cc : 263 cc  Jam III : ¼ PP + M + SO : 97.5 cc : 263 cc  Jam IV: M + SO : 65 + 100 : 165 cc .5 + 65 + 100 : 262. O2 2 lpm dan sevofluran 2 vol % hingga airway pasien terkuasai atau adekuat d) Kemudian masukkan LMA yang telah diberikan gel tadi. dilanjutkan propofol 75 mg dimasukkan b) Setelah pasien tertidur.

55  Pasien masuk 10 99 ke kamar operasi. Rekam Monitor Pasien Intra Anestesi Jam Tindakan Na Sa di O2 08. perdarahan 15% (cairan 281. perdarahan 30% (cairan 562.5). 2 dan dipindahkan ke meja operasi  Pemasangan monitoring saturasi oksigen  Loading cairan infus RL sudah terpasang pada tangan kanan.H 30 cc ( perdarahan 1.25- 562.5)  Perdarahan > 20% dari EBV maka cairan digantikan dengan tranfusi darah  Perdarahan intra operatif An.5-937. perdarahan > 50% (>937.6 %) 9) Setelah operasi selesai.5). aliran lancar 09.00 Pemberian obat IV 10 100  Ketamin 25 6 mg  Fentanil 50 . a) Pengganti perdarahan  Estimasi Blood Volume (EBV) : 75 cc/kgBB EBV An. perawat anestesi mengobservasi keadaan pasien dan terus memastikan apakah nafas pasien sudah adekuat atau belum b.H: 25 x 75 : 1875 cc  Estimasi Blood Loss (EBL) : % EBV normovolemi < 15%.

10 Fiksasi LMA 98 100 09. reflek 10 100 bulu mata tidak ada 1 09. sevoflurant 2 vol % melalui face mask mengikuti nafas pasien.04 Berikan ventilasi 99 100 dengan N2O 2 lpm.03 Pasien tertidur.15 Operasi dimulai 10 100 5 09.20 Diberikan 10 100 Ondansentron 4 mg 7 rute IV dan ranitidine 50 mg rute IV 09.08 Menyambungkan 10 100 LMA dan mesin 2 anestesi 09.21 Cairan RL diganti 10 100 dengan loading HES 6 .05 Pemasangan intubasi 10 98 LMA dan kunci LMA 6 dengan udara sampai balon mengembang dan keras 09. hingga 3-5 menit atau saturasi pasien 100 % 09. mcg  Propofol 75 mg 09. O2 2lpm.

40 Nadi pasien turun 90 100 09.5 vol % 09. 10 100 face mask dilepas 6  Alat monitoring dilepas  Pasien dipindahkan ke ruang PACU 2. Post Anestesi a.56 Dilakukan ekstubasi 11 98 dengan 1 mengempiskan balon pada LMA 10. saturasi oksigen c. Pasien terpasang HES diganti dengan asering + drip ketorolak 30 mg dengan kecepatan 20 tpm .10  O2 dimatikan.45 Pemberian sevofluran 10 100 dinaikkan menjadi 2 1 vol % 09.41 Pemberian sevofluran 90 100 diturunkan menjadi 1. Di ruang PACU pasien dipasang monitor oksigen nasal kanul 2 lpm. 09.00 O2 100 % diberikan 10 98 dengan kecepatan 4 9 lpm hingga nafas pasien adekuat 10. Pasien dipindahkan ke ruang PACU b.55 Operasi selesai 99 100 Sevofluran dimatikan Gas N2O dimatikan 09.

Pasien tampak lemas .Selama tindakan intubasi saturasi antara 97-100% . Ibu pasien mengatakan sudah cairan dan puasa sejak pukul 03. Pasien mengatakan sudah merasa haus DO: . Melakukan observasi setiap 5 menit selama 15 menit keadaan pasien hingga steward score mencapai 6 ANALISA DATA NO DATA ETIOLOGI MASALAH .00 elektrolit WIB. Pasien takut sakit saat di pembiusan / operasi operasi . 1. Pre Anestesi Persiapan anestesi Risiko gangguan DS: dan operasi (puasa) keseimbangan .DO: .Data TTV: N : 102 x/menit 2.Bibir kering . ± 6 jam . Intra Anestesi Lidah jatuh Bersihan jalan nafas tidak efektif DS: - DO: .Nadi 102 x/menit DS: Kurang Cemas pengetahuan .Suara nafas tambahan (stridor) .Wajah tampak gelisah .Lidah menutupi jalan nafas DS: . d. Disfungsi Pola nafas tidak . Pasien mengatakan cemas masalah dan takut dengan operasinya .

Pasien terpasang LMA . DO: neuromuscular efektif dampak anestesi .Selama tindakan operasi. Pasien belum sadar B. Nadi pasien turun setelah puasa elektrolit intubasi . pernafasan pasien dibantu menggunakan mesin anestesi (assist) DS:. Post Anestesi Sekresi tertahan Bersihan jalan DS: - efek dari general nafas tidak efektif DO: anestesi .Agen sedatif: propofol 70 umum mg . Pre Anestesi . DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH 1. Penurunan tingkat Resiko aspirasi kesadaran DO: . Pasien tidak sadar . Efek anestesi umum Resiko cidera DO: . keseimbangan DO: dehidrasi akibat cairan dan .Pasien belum sadar DS: . Secret tertahan di jalan nafas pasien DS: .N: 95 x/mnt 3.Selama tindakan intubasi saturasi antara 97-100% . Vasodilatasi Risiko gangguan pembuluh darah. Pasien tampak mengeluarkan saliva .

Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d persiapan anestesi dan operasi (puasa) 3. Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d persiapan anestesi dan operasi (puasa) b. Penggunaan LMA dibandingkan ETT dalam kasus ini dikarenakan tidak dibutuhkan kondisi pasien yang terlalu relaks dan LMA merupakan anestesi general yang dilakukan tanpa menggunakan muscle relaxan. Pre Anestesi . Resiko cidera b/d efek anestesi umum BAB IV PENUTUP Kesimpulan Pada kasus pasien An. Resiko aspirasi b/d penurunan tingkat kesadaran d.H dengan diagnosa fraktur humerus sinistra menggunakan anestesi general (LMA). Intra Anestesi a. Cemas b/d kurang pengetahuan masalah pembiusan/operasi 2. Alasan pemakaian anestesi general menjadi teknik terbaik yang digunakan karena bagian yang dilakukan operasi adalah ekstremitas atas yang tidak dapat dilakukan dengan cara regional anestesi. Pola nafas tidak efektif b/d disfungsi neuromuscular dampak anestesu umum c. Pasien An. a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d sekresi tertahan efek dari general anestesi b. Post Anestesi a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d lidah jatuh b.H pada asuhan keperawatan perianestesi ini mendapatkan diagnosa keperawatan: 1.

turgor kulit baik. ditandai dengan infus asering terpasang lancar. O2 3lpm diberikan bersama agen volatil dan N2O 3 lpm. ibu pasien mengatakan sudah BAK tadi pagi ± 6 pagi. wajah pasien sedikit tenang setelah diberi midazolam 1.00 WIB. Resiko aspirasi b/d Penurunan tingkat kesadaran Diagnosa ini tidak terjadi. ditandai dengan tidak terdengar suara nafas tambahan. pernafasan abdominal torakal. Cemas b/d kurang pengetahuan masalah pembiusan/operasi Diagnosa ini teratasi. bibir kering. RR: 24 x/menit 2. Saturasi: 100% c. Pola nafas tidak efektif b/d Disfungsi neuromuscular dampak anestesu umum Diagnosa ini teratasi. namun telah dilakukan tindakan ditandai dengan ibu pasien mengatakan puasa dari malam. Intra Anestesi a. RR 24 x/menit. Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d persiapan anestesi dan operasi (puasa) Diagnosa ini teratasi. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d penumpukan secret pada jalan nafas pengaruh sekunder obat anestesi Diagnosa ini teratasi. tidak tampak refleks batuk/ muntah. LMA ukuran 2. ditandai dengan tidak terdengar suara nafas tambahan. cairan infus RL diberikan 20 tpm.25 mg dan ketamin 25 mg rute IV. . Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d persiapan anestesi dan operasi (puasa) Diagnosa ini belum teratasi. TD terakhir di bangsal 102/74 mmHg. triple manufer dilakukan bersama dengan pemberian ventilasi. pukul 03. O2 3 lpm diberikan bersama agen volatil dan N2O 3 lpm. a. pasien tidak sadar. posisi kepala lateral d.5 telah terpasang. RR 24 x/menit. N: 102 x/menit dan RR: 28 x/menit b. ditandai dengan ventilasi dibantu/ assist (1 ventilasi per-5 inspirasi). crt < 2 detik. ditandai dengan ibu pasien mengatakan cemas sedikit berkurang setelah diberitahu prosedur. N: 88 x/menit. Saturasi: 100% b. Infus RL masuk saat pre anestesi ± 200 cc.

selanjutnya dipantau setiap 15 menit sampai mencapai steward score 6. Post Anestesi a. ditandai dengan suara nafas gurgling. Saturasi: 99%. pasien tidak sadar. Penilaian pasien pediatrik dilakukan dengan menggunakan steward score yang dipantau setiap 5 menit dalam 15 menit pertama. brankar telah terkunci Pasien yang dilakukan tindakan anestesi umum. restrain telah terpasang. Resiko cidera b/d efek anestesi umum Diagnosa ini tidak terjadi. O2 3lpm . pernafasan torakal abdominal. infus HES 500 cc saat intra anestesi. IV line dan pasien dalam keadaan aman. ditandai dengan pasien dipindahkan dengan 4 penolong. suction dilakukan pada area hidung dan mulut b. RR 24 x/menit. posisi kepala lateral kanan. setelah selesai operasi akan dipantau di ruang RR untuk dipantau kesadaran dan kemampuan pasien dalam bernafas. perdarahan 30 cc 3. Orang tua diperbolehkan masuk untuk menemani pasien. . Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d sekresi tertahan efek dari general anestesi Diagnosa ini teratasi. pasien tidak tampak cidera selama pemindahan/ perubahan posisi.

McGraw-Hill Medical Publishing Division : New York. Editor: Wulandari WD. Dalens BJ. & Hawks. (2009). Pediatric Anesthesia: Principles And Practice. Rockwood & Green's Fractures in Adults. Jakarta: Salemba Medika. USA: Maryland Composition. Alih Bahasa : Oswari J. 6th Edition.J. Saunders Company. Black.. Medical Surgical Nursing: Clinical Management For Continuity Of Care. M. Jakarta: EGC. Court-Brown CM. . (2012). Jakarta : EGC. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. DAFTAR PUSTAKA Bissonette B.Treatment and Rehabilitation of Fractures. Heckman JD. (1994). J.B. H. Anestesiologi. (2002). Stanley. (2011). Hoppenfield. Boulton TB. Bucholz RW. Philadephia: W. Helmi ZN. (2006).

Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. Dalam: Solomon L. Philadelphia: Lippincot. Susan B. (2011).. B.B. Salinas. Spinal Anesthesia In A Practical Approach To Regional Anesthesia 4th Edition. S. dan De Jong W.. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal.M. A. R. Anestesi Pediatrik. Ketut. (Eds). A. Jakarta :EGC. F. Patofisiologi Konsep Proses-Proses Penyakit.M.. S. Gde. Principles of Fractures. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures Ninth Edition. al. (1989). (Eds). SKM. NY: Mc Graw Hill Kementerian Kesehatan RI (2011).Katzung. Profil Kesehatan Indonesia Mangku. 2015. F. & Anthony.. G. Buku Ajar Ilmu Anestesia Dan Reanimasi.. Price. Anestesiologi. Wilson. et. Arif. S. G. J. (2009). Christhoper M. I Gede. (2008). ..G (2009).B. Suratun. S. B. G. W. (2005). New York: lippincontt Wiliams & Wilkins Sjamsuhidajat. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskulukeletal. (2011).Buku Ajar Ilmu Bedah. London: Hodder Education. (2010). Suntoro A. I Made. Jakarta : EGC. Jakarta: EGC Said A L. Warwick D. Textbook Of Medical Surgical Nursing.V. Basic & Clinical Pharmacology (13th ed). Michael. Nayagam S. & Bare. & Tjokorda. I. Jakarta: EGC Smeltzer. Jakarta: Indeks Muttaqin. T. B. Nayagam S. (2010)..

WHO. 2011.int/nmh/publications/ncd_report_chapter1.pdf . http://www.who. Global Status Report on Noncommunicable Diseases 2010.