REFERAT

STASE OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
“HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN ”

Disusun oleh:
Badai Ardyana Arimbi Putri
292612202013

Pembimbing :
dr. Baharuddin Hafied Sp.OG

STASE OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA SUKAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN & KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

DAFTAR ISI

Kata pengantar ............................................................................................... 2

Daftar isi.......................................................................................................... 3

BAB I Pendahuluan .................................................................................... 4

BAB II Pembahasan ....................................................................................... 6

BAB III Kesimpulan ....................................................................................... 24

Daftar Pustaka .................................................................................................. 26

Diagnosis diabetes sering dibuat untuk pertama kali dalam masa kehamilan karena penderita datang untuk pertama kalinya ke dokter atau diabetesnya menjadi tambah jelas oleh karena kehamilan. terjadi pada 10% kasus. akan tetapi kadar gula puasa tidak meningkat. tidak ada bayi dari ibu yang menderita DM dalam kehamilan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. ini terjadi pada 90% kasus. Human Placenta Lactogen (HPL) yang menyebabkan resistensi insulin dengan akibat gangguan toleransi glukosa. Pada kehamilan terjadi peningkatan produksi hormon- hormon antagonis insulin. sedangkan yang lain adalah Diabetes Pragestasi (DMpG) yang meliputi DM tipe 1 dan tipe 2. sejak ditemukan insulin oleh Banting dan Best tahun 1921. Diabetes melitus dalam kehamilan masih merupakan masalah yang memerlukan penanganan khusus karena angka kematian perinatal yang relative tinggi. Sudah jelas bahwa metabolisme glukosa akan meningkat dalam kehamilan. estrogen. DM dalam kehamilan terdiri dari diabetes gestasi (DMG) atau intoleransi karbohidrat yang ditemukan pertama kali saat hamil. antara lain: progesterone. Dalam dua dekade terakhir ini angka kematian perinatal pada DMG (Diabetes Mellitus Gestational) telah dapat ditekan. Diabetes melitus menyebabkan perubahan metabolik dan hormonal pada penderita dalam keadaan hamil serta persalinan. hal ini terbukti dengan meningkatnya laktat dan piruvat dalam darah. Kehamilan sendiri memberikan dampak yang kurang baik bagi ibu hamil. Angka kejadian 3-5% dari semua kehamilan. BAB I PENDAHULUAN Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyulit medik yang sering terjadi selama kehamilan. . Pada tahun terakhir ini terjadi peningkatan kejadian DM dengan sebab yang belum jelas. Peningkatan angka kematian dan angka kesakitan perinatal pada kehamilan dengan DM berkorelasi langsung dengan kondisi hiperglikemia pada ibu. Sebelum tahun 1922. tetapi faktor lingkungan dan faktor predisposisi genetik memegang pengaruh.

Sedangkan pada persalinan dapat terjadi: atonia uteri. makrosomia. hipoglikemia serta hipokalsemia. inersia uteri. hiperbilirubinemia. maka angka kematian perinatal juga akan menurun. adalah kelainan kongenital. Pengaruhnya terhadap anak.Dari laporan peneliti menyebutkan dengan penurunan kadar glukosa darah penderita DMG. distosia bahu serta kelahiran mati. Diabetes Mellitus pada kehamilan akan mengakibatkan pengaruh yang buruk terhadap ibu. kematian janin dalam kandungan. . infeksi serta ketoasidosis. antara lain berupa: kehamilan dengan poilihidramnion. pengakhiran persalinan dengan tindakan. toksemia gravidarum. sindroma kegagalan pernapasan.

Penelitian Prof. BAB II PEMBAHASAN I. Kariadi Semarang oleh Praptohardjo U dan Suparto P. INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI Insidens Diabetes Mellitus dalam kehamilan sekitar 2% . dengan demikian dapat disimpulkan sebagian besar yang terjadi pada kehamilan adalah diabetes mellitus gestational. Dari kepustakaan lain dikatakan bahwa diabetes mellitus terdapat pada 1-2% wanita hamil. DEFINISI DIABETES MELLITUS Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010. tahun 1975. John M. Sedangkan. Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin.3%. dan hanya 10% dari wanita tersebut yang diketahui menderita diabetes mellitus sebelum hamil. pada penelitian kedua beliau ditemukan 3% pada kelompok resiko tinggi dan 1. .67% dari seluruh populasi wanita hamil.2% dari seluruh wanita hamil. memperoleh insidens Diabetes Mellitus Gestational yang jauh lebih tinggi pada mereka dengan resiko tinggi (4.F Adam di Ujung Pandang dalam dua periode yang berbeda.35%) dan 1. meneliti diabetes meliitus dalam kehamilan didapatkan angka kejadian berkisar 2-3%. Beberapa kelompok wanita hamil telah diketahui mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya diabetes mellitus selama kehamilannya. Rumah Sakit DR. II. maka perlu sekiranya dibuat diagnosis sedini mungkin. kerja insulin atau kedua- duanya. Mengingat bahaya komplikasi kehamilan dengan Diabetes Mellitus. Dan faktor resiko merupakan kriteria yang berguna dalam penyaringan klinis selama pemeriksaan antenatal.

DM tipe 2 : terjadi resistensi insulin dengan defisiensi insulin yang relatif sampai dengan suatu gangguan pada sekresi insulin yang disertai resistensi insulin.DM tipe 1 : kerusakan sel β pancreas yang menjurus ke defisiensi insulin yang absolut. III. beratnya dan komplikasinya: . IV. Diabetes Gestational : untuk kepentingan diagnosis. terapi dan prognosis. diantaranya yang sering digunakan ialah klasifikasi menurut White (1965) yang berdasarkan umur waktu penyakitnya timbul. DM Tipe Lain 1)Kelainan genetik sel Beta 2)Kelainan genetik kerja insulin 3)Kelainan eksokrin pancreas 4) Endokrinopati 5) Drug/Chemical Induced 6) Infeksi 7) Bentuk lain dari Immune Mediated Diabetes Mellitus yang jarang 8)Kelainan-kelainan genetik yang menyertai DM. KLASIFIKASI American Diabetes Association (ADA) tahun 1997 secara garis besar membuat klasifikasi diabetes melitus pada umumnya berdasarkan etiologinya. baik bagi ibu maupun bagi anak. I. Mekanisme terjadinya melibatkan:  Immune-mediated  Idiopatik II. lamanya. berbagai klasifikasi diusulkan oleh beberapa penulis. III.

Diabetes pregestasional. Klasifikasi baru yang akhir-akhir ini banyak dipakai adalah Javanovic (1986): A. Kelas C. Kelas B.Diabetes gestasional. retinopati dan nefropati. memerlukan insulin.Kelas R.Kelas A diabetes gestasional ( tanpa vaskulopati) a. onset usia 20 tahun durasi penyakit kurang dari 10 tahun dan tidak ada komplikasi vaskuler 3. memerlukan insulin dengan nefropati 6. memerlukan insulin dengan penyakit jantung iskemik 7.Regulasi baik ( good diabetic control)  Glukosa darah puasa 55-65 mg/dL.Diabetes pregestasional yang disertai dengan komplikasi misalnya angiopati. memerlukan insulin.Klasifikasi menurut White (1965): 1. onset usia 10-19 tahun. .Kelas H. ada benigna diabetic retinopati 5. dimana DM sudah ada sebelum hamil dan berlanjut sesudah kehamilan 3. A1 maintenance hanya diet saja b. memerlukan insulin dengan proliferasi nefropati 8. dimana DM terjadi hanya pada waktu hamil 2. memerlukan insulin dengan tranplantasi ginjal Klasifikasi menurut Pyke untuk DMG : 1. 1 jam sesudah makan <140 mg/dL. memerlukan insulin. 4. durasi penyakit 10-19 tahun tidak ada komplikasi vaskuler. onset usia kurang dari 10 tahun.Kelas T. rata-rata 84 mg/dL. A2 yang tergantung insulin 2.Kelas F. durasi penyakit 20 tahun.Kelas D.

African. Native American.DM) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat kehamilan sedang berlangsung.GDPT. DIABETES MELLITUS GESTASIONAL Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat (TGT.  HbA1c normal dalam 30 minggu untuk diabetes gestasional dan dalam 12 minggu untuk diabetes pregestasional B. dan South East Asian . Faktor resiko terjadinya diabetes mellitus gestasional adalah sebagai berikut:  Resiko rendah: o Usia <25 tahun o Berat badan normal sebelum hamil o Tidak ada riwayat keluarga DM o Tidak ada riwayat kelainan toleransi glukosa o Tidak ada riwayat obstetri yang buruk o Bukan dari kelompok etnis dengan prevalesi tinggi untuk DM  Resiko tinggi: o Usia >30 tahun o Obesitas o Polycystic ovary sindrom o Kehamilan yang lalu ada intoleransi glukosa o Kehamilan yang lalu dengan bayi besar (>4000gr) o Riwayat kematian janin dalam rahim yang tidak dketahui sebabnya o Keluarga dengan DM tipe 2 o Dari kelompok etnis dengan prevalesi tinggi untuk DM. antara lain: Hispanic.Regulasi tak baik ( Less than optimal Diabetic Control)  Tidak kontrol selama hamil  Glukosa darah diatas normal  Tidak terkontrol baik selama 26 minggu untuk diabetes gestasional atau 12 minggu untuk diabetes pregestasional IV.

Kadar glukosa darah maternal dicerminkan dalam kadar glukosa janin. tetapi mempengaruhi peningkatan insulin (insulin binding). Terutama yang penting adalah peningkatan progresif dari sirkulasi estrogen yang pertama kali dihasilkan oleh ovarium hingga minggu ke-9 dari kehidupan intra uterine dan setelah itu oleh plasenta. yang mempunyai pengaruh terhadap metabolisme karbohidrat. Jika seorang wanita menjadi hamil maka ia membutuhkan lebih banyak insulin untuk mempertahankan metabolisme karbohidrat yang normal. Hormon-hormon ini mungkin yang bertanggung jawab secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian besar estrogen yang dibentuk oleh placenta adalah dalam bentuk estriol bebas. yang dieskresikan dalam urine. Progesteron yang dihasilkan korpus luteum sepanjang . ia dapat mengalami diabetes yang mengakibatkan perubahan pada metabolisme karbohidrat. Jika ia tidak mampu untuk menghasilkan lebih banyak insulin untuk memenuhi tuntutan itu. Ovarium. plasenta. Perubahan hormonal yang luas terjadi pada kehamilan dalam usaha mempertahankan keadaan metabolisme ibu yang sejalan dengan bertambahnya usia kehamilan. karena glukosa melintasi plasenta dengan mudah. Kadar glukosa dalam darah wanita hamil merupakan ukuran kemampuanya untuk memberikan respon terhadap tantangan kehamilan itu. sehingga kelebihan produksi insulin oleh ibu atau janin tetap tinggal bersama yang akhirnya menghasilkan keadaan glukosuria. Estrogen tidak mempunyai efek dalam transport glukosa. menginduksi resistensi insulin perifer dan mengkontribusi terhadap perubahan sel β pancreas. kortek adrenal ibu dan pancreas terlibat dalam timbulnya perubahan-perubahan hormonal ini. Pengaruh kehamilan terhadap diabetes Dari segi klinis. kortek adrenal janin. 1. yang terkonjugasi dalam hepar menjadi glukoronida dan sulfat yang lebih larut. gambaran sentral dari metabolisme karbohidrat dapat disimpulkan dalam istilah sederhana. Insulin tidak melintasi barier plasenta.

Kadarnya dalam darah ibu meningkat secara berlahan. Pada kehamilan lanjut. Peningkatan kadar plasma insulin pada kehamilan normal berhubungan dengan perubahan respon unik terhadap ingestion glukosa. Trofoblas mensintesis progesterone dan kolesterol ibu dan merupakan penyumbang utama terhadap kadar progesterone plasma yang meningkat secara menetap selama kehamilan. Setelah melahirkan dan pengeluaran plasenta. konsentrasi kortisol ibu diperkirakan 2. Dengan kata lain HPL merupakan antagonis terhadap insulin. hiperglikemia pos tprandial dan hiperinsulinemia.5 kali lebih tinggi dari keadaan tidak hamil. kadar HPL ibu cepat menghilang. Sebagai contoh. Progesterone juga mengurangi kemampuan dari insulin untuk menekan produksi glukosa endogen. mencapai puncaknya saat aterm. HPL adalah salah satu dari hormon-hormon utama yang bertanggung jawab menurunkan sensitivitas insulin sejalan dengan bertambahnya usia kehamilan. pengaturan hormonal kembali normal. Kortek adrenal terlibat dalam peningkatan kortisol bebas secara progresif selama kehamilan. Perubahan pada metabolisme karbohidrat selama kehamilan sebagai akibat dari perubahan hormonal diatas. HPL menekan transport glukosa maksimum tetapi tidak mengubah pengikatan insulin.lahan sepanjang kehamilan. Pada beberapa uji toleransi glukosa didapatkan keadaan antara lain. Kadar HPL meningkat pada keadaan hipoglikemia dan menurun pada keadaan hiperglikemia. hipoglikemia ringan pada saat puasa. setelah makan pada wanita hamil didapatkan . Lactogen plasenta manusia (HPL) merupakan hormon plasenta penting lain yang mempengaruhi metabolisme karbohidrat. Konsentrasi glukosa plasma selama puasa yang menurun mungkin terjadi akibat peningkatan dari kadar plasma insulin.kehamilan khususnya selama 6 minggu pertama. Beberapa peneliti melaporkan bahwa laju produksi glukosa hepar meningkat dan sensitivitas insulin menurun pada pemberian sejumlah besar kortisol. Tetapi hal ini tidak dapat dijelaskan dengan perubahan metabolisme insulin karena waktu paruh insulin selama hamil tidak berubah.

sehingga kadar glukosa ibulah yang mempengaruhi kadar glukosa fetus. Hiperinsulinemia yang bertanggungjawab terhadap terjadinya makrosomia oleh karena meningkatnya lemak tubuh. Mekanisme transport glukosa melindungi janin terhadap kadar maternal yang tinggi. Fetus normal adalah penerima pasif glukosa dari ibu. Hal ini akan menimbulkan fetal hiperinsulinemia yang sebanding dengan kadar glukosa darah ibu dan fetus. Bila kadar glukosa ibu tinggi melebihi batas normal atau tidak terkontrol akan menyebabkan dalam jumlah besar glukosa dari ibu menembus plasenta menuju fetus dan terjadi hiperglikemia pada fetus. Hal ini menjamin bahwa pada kehamilan normal pankreas janin tidak dirangsang secara berlebihan oleh puncak postprandial kadar glukosa darah ibu. Beberapa peneliti telah melaporkan sensitifitas insulin menurun secara signifikan (40-80 %) dengan bertambahnya usia kehamilan. mengalami kejenuhan oleh kadar glukosa maternal sebesar 10 mmol/l atau lebih sehingga kadar glukosa janin mencapai puncak pada 8-9 mmol/l. Glukosa melintasi barier plasenta melalui proses difusi.perpanjangan hiperglikemia. . Sel beta pankreas fetus kemudian akan menyesuaikan diri terhadap tingginya kadar glukosa darah. Peningkatan respon insulin terhadap glukosa 2. yang diperkuat dengan tiga hasil pengamatan: 1. Respon ini konsisten dengan pernyataan bahwa kehamilan menginduksi resistensi perifer terhadap insulin. Tetapi kadar insulin ibu tidak dapat mencapai fetus. Penekanan respon dari glikogen Mekanisme yang bertanggung jawab terhadap resistensi insulin belum lengkap dimengerti. Fetus normal mempunyai sistem yang belum matang dalam pengaturan kadar glukosa darah. dan kadar glukosa janin sangat mendekati kadar glukosa ibu. Mekanisme ini sepertinya bertujuan untuk mempertahankan suplai glukosa postprandial ke fetus. hiperinsulinemia. Pengurangan ambilan perifer terhadap glukosa 3. dan supresi glukagon.

Selama kehamilan : -Abortus. -Preeklampsia.2. Insidens meningkat bersamaan dengan meningkat disproporsi kepala panggul. Insidens meningkat pada diabetes tak terkontrol. Pengaruh diabetes terhadap kehamilan Pengaruh meternal bisa dibagi lagi selama kehamilan.Berkurang laktasi -Meningkatnya morbiditas maternal Pengaruh terhadap janin: . malpresentasi. Hal ini disebabkan plasenta yang besar. kontrol preeklampsia berhubungan dengan rendahnya mortalitas perinatal. Selama persalinan : -Persalinan memanjang akibat bayi yang besar -Distosia bahu -Meningkatnya tindakan operatif -Ruptura jalan lahir -Perdarahan postpartum Selama nifas : . Resiko meningkat pada diabetes tak terkontrol.Sepsis puerperalis . adanya malformasi kongenital dan poliuria janin akibat hiperglikemia -Persalinan prematur. selama persalinan dan selama nifas. -Hidramnion.

Malfromasi kongenital -Meningkatnya kematian neonatal V. atau dapat juga disebabkan karena gangguan toleransi glukosa yang terjadi pertama kali saat kehamilan disebut diabetes melitus gestational.Makrosomia .Janin mati dalam rahim . Bila skrining hanya dilakukan pada kelompok resiko tinggi saja maka 50% diabetes melitus gestational tidak terdiagnosis. Diabetes melitus yang telah diketahui sebelum kehamilan tidak ada masalah dalam diagnosis. Metode diagnostik harus cepat dan praktis.Maturasi paru terlambat . O’Sullivan dan Mahan malaporkan bahwa pemeriksaan yang sederhana pada semua wanita hamil lebih berguna dalam mengidentifikasi pasien-pasien yang beresiko terkena diabetes daripada indikator-indikator lain seperti riwayat penyakit dalam keluarga. maka perawatan antepartum yang optimum memerlukan uji diagnostik yang sensitif pada semua wanita hamil. walaupun hal ini sangat sulit dilaksanakan. dengan alasan orang Indonesia termasuk kelompok etnis Asia Tenggara (South East . Semua ahli sependapat bahwa skrining sebaiknya dilakukan pada semua wanita hamil. Skrining dilakukan hanya pada wanita hamil denga resiko tinggi untuk DM. Karena prevalensi dari diabetes dalam kehamilan tinggi. . banyak kriteria diagnostik yang dipakai dan belum ada kesepakatan dari semua ahli tentang kriteria diagnostik mana yang terbaik. Lain halnya pada diabetes mellitus gestational. DIAGNOSIS Hiperglikemia pada wanita hamil dapat disebabkan karena sebelumnya penderita sudah menderita diabetes mellitus atau disebut diabetes melitus pregestational. riwayat obstetrik sebelumnya atau obesitas.Retardasi pertumbuhan .Trauma kelahiran .

Wanita hamil Glukosa 50gram >140mg/dl <140mg/dl ≥ 200mg/dl Normal TTGO-3jam 100 gram glukosa Normal DMG Bagan 1: Cara skrining menurut Cara O’Sullivan Mahan Tes ini dilakukan pada saat wanita hamil tersebut berkunjung ke klinik tanpa harus berpuasa. bila negatif.Asian) maka kita menganut skrining universal yakni dilakukan setiap pada ibu hamil dimulai sejak kunjungan pertama (trimester 1) untuk menapis DM PraGestasi (DMpG). Dikatakan positif bila gula darah vena lebih besar 140 mg/dL. Kepada mereka diberikan beban dengan 50 gram glukosa dilarutkan dalam air segelas. Cara Skrining dan Kriteria Diagnostik 1. Tes toleransi glukosa hanya dilakukan pada mereka yang tes tantangan glukosa positif. setelah satu jam pemberian. Skrining dan criteria diagnosis DMG menurut O’Sullivan Mahan terdiri atas dua tahap. Cara O’Sullivan & Mahan. yaitu: tahap pertama: disebut tes tantangan glukosa yang merupakan tes skrining dan tahap kedua: tes toleransi glukosa oral. Tes toleransi glukosa dilakukan 3 jam. diulangi pada kehamilan 24-28 minggu untuk menapis DM gestasi (DMG). Bila didapatkan hasil .

1 jam . Khusus untuk wanita hamil dengan toleransi glukosa terganggu harus diobati sebagai penderita diabetes mellitus. Dinyatakan diabetes mellitus bila kadar glukosa darah puasa ≥126 mg/dL dan atau 2 jam setelah pembebanan >200 mg/dL. 3 jam postprandial. Dikatakan diabetes melitus gestational bila ditemukan sedikitnya 2 angka abnormal. Dengan beban 100 gram glukosa setelah berpuasa 12 jam. Bila hasil negatif diulangi dengan cara pemeriksaan yang sama pada usia hamil 24-28 minggu. dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral. . 3. 2 jam. Mereka yang mempunyai kadar glukosa darah diantara kadar normal dan diabetes mellitus disebut kelompok toleransi glukosa terganggu.2 jam dan 3 jam setelah pembebanan. pernah melahirkan bayi makrosomia. bayi dengan malformasi atau bayi lahir mati. 1 jam postprandial <190 mg/dL. Cara WHO Sejak tahun 1980 WHO telah membuat cara skrining untuk diabetes mellitus. Normal bila kadar glukosa darah puasa <105 mg/dL.yang positif. wanita hamil yang gemuk. hipertensi atau glukosuria. ada riwayat keluarga dengan diabetes. 2 jam postprandial <160 mg/dL. diambil glukosa darah puasa. Cara American Collage of Obstetricians and Gynecologists American Collage of Obstetricians And Gynecologists (1986) merekomendasikan bahwa penapisan hanya perlu untuk wanita-wanita resiko tinggi yaitu yang berumur lebih dari 30 tahun. Kemudian dilihat kadar glukosa puasa. Untuk mendeteksi diabetes mellitus dilakukan tes toleransi glukosa oral dengan beban 75 gram glukosa setelah berpuasa selama 8-14 jam. 3 jam postprandial <140 mg/dL. glukosa darah 1 jam. Diagnosis DMG berdasarkan hasil pemeriksaan toleransi glukosa oral dengan 100 g glukosa. 2.

\ 4. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia Pada pasien dengan resiko DMG yang jelas perlu segera dilakukan pemeriksaan glukosa darah. DMG ditegakkan apabila ditemukan hasil pemeriksaan glukosa darah puasa ≥95 mg/dL. Jika skrining positif dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral 75 gram. 1 jam setelah beban >180 mg/dL dan 2 jam setelah beban ≥155 mg/dl. 1 jam dan 2 jam setelah beban. Dinyatakan diabetes mellitus gestational apabila kadar glukosa vena plasma 2 jam setelah pembebanan >140 mg/dL. Cara ASEAN Study Group of Diabetes in Pregnancy (ASGOIP) Cara ini menggunakan tes tantangan glukosa 50 gram. Kadar glukosa darah hanya diambil 2 jam setelah pembebanan. skrining positif bila kadar glukosa vena setelah 1 jam pembebanan >130 mg/dL. Pasien hamil dengan TGT dan GDPT dikelola sebagai DMG. 5. Kemudian dilakukan pemeriksaan glukosa darah puasa. Apabila hanya dapat dilakukan 1 kali pemeriksaan glukosa darah maka lakukan . maka perlu dilakukan pemeriksaan pada waktu yang lain untuk konfirmasi. Bila didapat hasil glukosa darah sewaktu ≤200 mg/dL atau glukosa darah puasa ≥126 mg/dL yang sesuai dengan batas diagnosis untuk diabetes. Diagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan TTGO dilakukan dengan memberikan beban 75 gram glukosa setelah berpuasa 8-14 jam.

Perawatan Antenatal 1) Program perawatan kasus DMG dilaksanakan secara multidisiplin yang terdiri dari Bagian Kebidanan. Gizi. 5) Terapi insulin 1)Multiple insulin injection  Prandial insulin (regular/insulin lispro) diberikan bersama saat makan  Basal insulin (Neutral Protamine Hagedorn/NPH) diberikan sebelum makan pagi (2/3 dosis) dan sebelum tidur (1/3 dosis) 2) Continuous subcutaneous Insulin Infusion (Insulin pump) Insulin lispro diberikan secara continuous basal rate dan bolus pada pasien dengan kepatuhan tinggi 6) Diet yang dianjurkan . PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Gestasional A. bila didapatkan hasil glukosa darah ≥155 mg/dL sudah dapat didiagnosis sebagai DMG. kunjungan setiap 2 minggu sampai dengan usia kehamilan 36 minggu kemudian 1 minggu sekali sampai dengan aterm (bila kadar gula darah terkendali dengan baik) 3) Target glukosa darah senormal mungkin dengan kadar glukosa puasa=100 mg/dL dan 2 jam PP=140 mg/dL yang dicapai dengan diet. Internis.pemeriksaan glukosa darah 2 jam setelah pembebanan. Anak dan Anestesi 2) Perawatan antenatal. dikhawatirkan efek teratogenik dan lebih merangsang sel beta langerhans pada janin. olahraga dan insulin 4) Obat Anti Diabetik (OAD) tidak dianjurkan oleh karena dapat menembus barier plasenta. VI.

kompleks dan tinggi serat  Protein 20%.  Rencana: 3 kali makan dan 3 kali snack  Kalori : 30-35 kcal/kg normal body weight Total 2000-2400 kcal/hari  Komposisi: Karbohidrat 40-50%. 1)Profil biofisik janin  Pemantauan gerakan janin sejak usia kehamilan 28 minggu  Non Stress Test (NST) setiap minggu pada usia hamil 28-30 minggu  Non Stress Test (NST) dua kali seminggu pada usia hamil 32 minggu/lebih  Profil biofisik janin setiap saat bila diperlukan 2)USG untuk memantau pertumbuhan janin 3)Amniosentesis bila diperlukan. untuk memperkirakan maturasi paru janin bila direncanakan untuk seksio elektif sebelum 39 minggu B. Lemak 30-40% (asam lemak jenuh/saturated <10%)  Pertambahan berat badan ibu 22-25 lb (10-11 kg) 7) Pedoman penggunaan insulin dan asupan karbohidrat  1 unit rapid acting insulin akan menurunkan glukosa darah 30 mg/dL  10g karbohidrat akan meningkatkan glukosa darah 30 mg/dL (1 unit insulin rapid acting diberikan pada intake karbohidrat 10g) 8) Pemantauan Janin Pemantauan kesejahteraan janin antenatal untuk mencegah kematian janin. Perawatan Selama Persalinan .

4) Pasien dengan Diabetes Mellitus Gestational yang dalam terapi insulin disertai diet untuk mengendalikan kadar glukosa darah direncanakan program pemantauan/evaluasi janin antenatal (antepartum fetal surveillance) 5) Perawatan intensive untuk mendeteksi dan mengatasi kejadian hipoglikemia. Bila sampai dengan 40 minggu belum terjadi persalinan maka mulai dilakukan pemantauan kesejahteraan janin 2 kali seminggu. 6) Saat Persalinan: Pengelompokan resiko kehamilan dengan DM ini ditujukan ke arah resiko terjadinya kematian janin dalam rahim a.1) Pasien dengan kadar glukosa darah terkendali dengan diet saja diperbolehkan melahirkan sampai dengan aterm. hipokalsemia dan hiperbilirubinemia pada neonates. Resiko rendah  Regulasi baik  Tidak ada vaskulopati  Pertumbuhan janin normal  Pemantauan kesejahteraan janin antepartum baik  Tidak pernah melahirkan mati  Persalinan dibolehkan sampai usia kehamilan 40 minggu . 2) Pasien dengan hipertensi dalam kehamilan sebelumnya harus dilakukan pemantauan kesejahteraan janin 2 kali seminggu mulai usia hamil 32 minggu. Untuk mengurangi kelainan janin akibat trauma kelahiran dianjurkan untuk mempertimbangkan Seksio Cesar elektif. 3) Perkiraan berat lahir secara klinis dan pemeriksaan USG dilakukan untuk mendeteksi adanya tanda-tanda makrosomia.

Pada kasus resiko rendah diperbolehkan melahirkan ekspektatif spontan pervaginum sampai dengan usia kehamilan aterm b. Pada kasus resiko tinggi dianjurkan terminasi pada usia kehamilan 38 minggu dengan pemberian kortikosteroid untuk pematangan paru janin. Periksa kadar glukosa darah (kapiler) setiap jam dan pertahankan selalu dibawah 110 mg/dL b. Cara persalinan tergantung indikasi obstetrik c. b. Perawatan Pasca Persalinan 1. Kontrol glukosa selama proses persalinan C. Pada kasus makrosomia dengan perkiraan berat janin 4500 gram diperkirakan untuk Seksio Cesar elektif 8) R egulasi Glukosa Intrapartum: a. dilakukan TTGO dengan loading 75 gram glukosa kemudian diukur kadar glukosa plasma saat puasa dan 2 jam . Resiko tinggi  Regulasi jelek  Ada komplikasi vaskulopati  Pertumbuhan janin abnormal (makrosomia)  Polihidramnion  Pernah lahir mati  Pertimbangkan untuk persalinan pada usia hamil sejak 38 minggu (bila tes maturasi paru janin positif) 7) C ara Persalinan: a. Evaluasi untuk mengantisipasi intoleransi karbohidrat yang menetap terdiri dari: 1) Self monitoring untuk mengevaluasi profil glukosa darah 2) Pada 6 minggu pasca persalinan.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi.Komplikasi Akut 1) Ketoasidosis diabetik (KAD) 2)Hiperosmolar non ketotik (HONK) . evaluasi lagi setelah 3 tahun dengan kadar glukosa puasa. olahraga teratur dan menurunkan berat badan pada yang obesitas 1.Komplikasi Pada Ibu A. Recurrence risk untuk DMG sekitar 60% Puasa (mg/dL) 2 jam (mg/dL) Normal <100 <140 Glucose 100-125 140-199 Intolerance DM ≥125 ≥200 Tabel 2. Kadar glukosa plasma 6 minggu pasca persalinan pada DMG VII. diantaranya: I. Kontrasepsi oral dosis rendah dikatakan tidak pernah dilaporkan berpengaruh terhadap kejadian intoleransi karbohidrat 2. 3) Bila TTGO diatas menunjukkan kadar yang normal. KOMPLIKASI Komplikasi penderita Diabetes Mellitus dalam kehamilan hampir sama dengan komplikasi diabetes mellitus tanpa kehamilan. namun dapat terjadi lebih berat keadaannya bagi penderita yang sedang hamil.

terjadi pada 10% kasus. ini terjadi pada 90% kasus. misalnya TB Paru. DM dalam kehamilan terdiri dari diabetes gestasi (DMG) atau intoleransi karbohidrat yang ditemukan pertama kali saat hamil.Komplikasi Kronik 1) Makroangiopati:  Penyakit Jantung Koroner  Stroke  Penyakit pembuluh darah tepi 2) Mikroangiopati  Retinopati diabetic  Nefropati diabetic 3) Neuropati 4)Rentan infeksi. sedangkan yang lain adalah Diabetes Pragestasi (DMpG) yang meliputi DM tipe 1 dan tipe 2.Komplikasi Pada Janin 1) Respiratory Distress Syndrome 2) Neonatal Hypoglycemia 3) Neonatal hypocalcemia 4) Neonatal hypomagnesia 5) Polycitemia 6) Neonatal hyperbilirubinemia 7) Kelainan kongenital BAB III KESIMPULAN Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyulit medik yang sering terjadi selama kehamilan.GDPT. Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat (TGT.DM) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat . Angka kejadian 3-5% dari semua kehamilan. 3) Hipoglikemia B. Ginggivitis dan ISK 5) Kaki diabetik II.

Prawirohardjo S. Lobner. Diabetes 2006. 260 -264. 1997. VA. 3. Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus di Indonesia. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Himpunan Kedokteran Feto Maternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. PERKENI. 55:792. PB. DAFTAR PUSTAKA 1. Diabetes and Pregnancy: What to Expect. 2. A. Knopff. L (Ed). et al. American Diabetes Association. K. revised 2007. Wiknjosastro H. Predictors of postpartum diabetes in women with gestational diabetes mellitus. Jovanovic. A. 2007 . Gestasional DM. Alexandria. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 4. Penatalaksanaan Kehamilan dengan Diabetes Mellitus. Edisi kedua. Jakarta 2011 5. Baumgarten.