METODE ANALISIS VITAMIN

DALAM BAHAN MAKANAN

DISUSUN OLEH:
PUTRI AVIDIANTO EXCELINDA (1605025117)
WILDA NASHIROH (1605025110)
YENI PUTRI HABIBI (1605025170)
YUNISA RAHMA SAFIRA (1605025109)

PROGRAM STUDI GIZI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA 2017

1
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi penulis dipanjatkan hanya kepada Allah swt. Yang
telah melimpahkan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini berjudul “Pengaruh Penggunaan Gadget pada Perkembangan
dan Pengetahuan Anak.”
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok
mata kuliah Analisa Zat Gizi pada Program Studi Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Baik dari segi bahasa yang digunakan maupun dari teknik
penyajiannya. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan dan
kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca demi perbaikan makalah ini kedepannya.
Ucapan terima kasih tidak lupa penulis haturkan kepada dosen
mata kuliah Analisa Zat Gizi yaitu Indah Kusumaningrum STP.,M.Si yang
telah membimbing mata kuliah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat, Khususnya bagi
penulis dan pembaca. Dalam rangka menambah wawasan, pengetahuan
dan pemikiran kita.

Jakarta, 08 Juni 2017

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu
pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia,
hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapatmelakukan
aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan
memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita.
Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula
memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak
mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya
memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini
diabaikan maka metabolism di dalam tubuh kita akan terganggu
karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain.
Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah avitaminosis. Di
samping itu, asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena
dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh.
Dalam penentuan apakah makanan itu mengandung vitamin
apa tidak, diperlukan suatu pengujian agar dapat mengetahui kadar
vitamin yang ada seperti vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, B8, B9,
B12, C, D, E, dan K. Dengan mengetahui kadar vitamin yang ada
dalam bahan pangan, maka kita dapat mengetahui kadar vitamin
yang diperlukan oleh tubuh kita agar tidak terjadi kekurangan
vitamin yang dapat mengganggu kesehatan tubuh kita. Oleh karena
itu dibuatlah makalah ini untuk mengetahui tentang metode analisis
vitamin.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana metode analisis pangan pada Vitamin?

3
1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud pembuatan makalah adalah untuk mengetahui apa saja
metode yang digunakan dalam menganalisis vitamin. Sedangkan
tujuannya yaitu agar pembaca dapat memperoleh informasi tentang
vitamin. Makalah ini digunakan untuk memenuhi tugas analisa zat
gizi agar memperoleh nilai yang baik.

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Vitamin

Istilah vitamin pertama kali digunakan pada tahun 1912 oleh
Cashimir Funk di Polandia. Dalam upaya menemukan zat di dalam
dedak beras yang mampu menyembuhkan penyakit beri-beri, ia
menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh kekurangan
suatu zat di dalam makanan sehari-hari. Zat ini sangat dibutuhkan
untuk hidup (vita) dan mengandung unsur nitrogen (amine), oleh
sebab itu diberi nama vitamine. Penelitian selanjutnya membuktikan
bahwa ada beberapa jenis vitamin yang ternyata tidak merupakan
amine. Oleh sebab itu, istilah “vitamine” kemudian diubah menjadi
vitamin (Almatsier, 2010).
Dalam bahasa Latin disebutkan bahwa vitamin berasal dari
gabungan kata “vital” artinya hidup, dan “amina” (amin) yang mengacu
pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N).
Pengertian ini didasarkan pada konsep awal penemuan vitamin, yaitu
semua vitamin dianggap mengandung atom N. Akan tetapi, pada
akhirnya diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak
memiliki atom N (Bender, 2003).
Berdasarkan kelarutannya, vitamin deibedakan menjadi vitamin
larut lemak dan vitamin larut air. Vitamin yang larut lemak meliputi
vitamin A,D, E, dan K. Sementara vitamin larut air adalah vitamin B
dan vitamin C.
a. Vitamin Larut Lemak
Vitamin larut lemaklebih dominan bersifataromatik dan alifatik serta
larut dalam pelarut non-polar. Vitamin larut lemak memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Penyimpanannya dalam tubuh disimpan di hati dan jaringan
lemak.

5
2. Dapat bertahan lama di dalam tubuh dalam bentuk cadangan
yang suatu saat dapat digunakan jika asupan vitamin kurang
atau tidak tersedia.
3. Vitamin larut lemak diserap melalui usus kecil bersama lemak-
lemak makanan dan diekstraksikan perlahan
4. Dapat menyebabkan toksisistas. Vitamin larut lemak disimpan
di dalam tubuh sehingga dapat terjadi kelebihan dan
menyebabkan keracunan. Umumnya gejala toksisitas terjadi
akibat penggunaan suplemen vitamin pada tingkat (dosis)
tinggi.

b. Vitamin Larut Air
Vitamin yang larut dalam air, meliputi vitamin B dan C. Menurut
Kodicek (1971), vitamin yang larut dalam air disebut prakoenzim
(procoenzym).Vitamin-vitamin ini dapat bergerak bebas dalam
badan, darah, dan limfa. Karena sifat kelarutannya, vitamin yang
larut dalamair mudah rusak dalam pengolahan dan mudah hilang
atau terlarut bersama air selama pencucian bahan. Di dalam tubuh,
vitamin ini disimpan dalam julah terbatas dan kelebihan vitamin
akan dikeluarkan atau diekskresikan melalui urin. Oleh karena itu,
untuk mempertahankan saturasi jaringan vitamin ini harus sering di
konsumsi.

2.2 Jenis metode analisis vitamin pada bahan pangan

1. Bioassay
Merupakan estimasi atau penentuan konsentrasi atau potensi
fisik, kimia atau zat biologi (agent) dengan cara mengukur dan
membandingkan besarnya respon dari tes dengan standar atas
sistem biologis yang sesuai di bawah standar set kondisi. Dalam
bionalsis respon yang dihasilkan oleh senyawa uji dibandingkan

6
dengan sampel standar cara yang mirip dengan metode analisis
lain tapi di sini sistem biologis yang terlibat dalam penentuan.

Prinsip Bioassay, Bioassay membandingkan sampel uji dengan
zat standar dengan perlakuan sama. Adalah alat penelitian saja
dan jarang digunakan secara klinis untuk analisis vitamin. Untuk
mengukur enzim dibawah pengaruh vitamin dan efek kekurangan
fenotipik. Ada dua jenis bio-tes:

a. In-vivo Bioassays
• Membutuhkan hewan hidup lebih kecil dalam ukuran seperti tikus
atau ayam
• sifat fisik hewan seperti berat, perilaku, laju respirasi, denyut nadi,
anggota tubuh dan gerakan mata dan pengamatan fisik lainnya
dicatat.
• Aktivitas enzim di bawah pengaruh langsung dari vitamin yang
akan dianalisis ditentukan dalam sampel darah spektrofotometri
(nilai puncak).
• hewan tersebut kemudian kekurangan diet yang mengandung
vitamin tertentu untuk jangka waktu tertentu.
• Saat hewan ini mulai mengembangkan penyakit yang terkait
dengan kekurangan vitamin, sampel darah yang lain diambil dan
aktivitas enzim diukur ulang. Ini adalah nilai dasar. Gejala fisik
lainnya yang direkam selama keadaan penyakit.
• Kemudian dosis dihitung dan secara bertahap meningkatkan
vitamin diumpankan ke hewan pada titik waktu tertentu.
• Aktivitas enzim yang kembali dan gejala fisik mulai membaik.
• Sampel darah diambil pada interval waktu tertentu dan aktivitas
enzim diukur sampai puncak (optimal) aktivitas kembali dan gejala
penting hewan ini telah sepenuhnya pulih.
• Uji ini memungkinkan konsentrasi vitamin vs aktivitas enzim kurva
standar.
• Kurva standar yang sama sekarang dapat digunakan untuk
menganalisis vitamin yang sama dalam berbagai model binatang
karena aktivitas enzim dapat diukur dan menggunakan kurva,

7
konsentrasi vitamin yang diharapkan dapat diperoleh. misalnya
tikus ketika kekurangan vit-D untuk beberapa waktu, akan
mengembangkan rakhitis. Vit-D aktivitas enzim 25-hidroksilase
dipengaruhi, yang memanfaatkan vit-D sebagai substrat. Hal ini
memicu kaskade kejadian yang menyebabkan cacat tulang pada
tikus ini. Namun ketika dosis dihitung tertentu vit-D diumpankan
gejala sembuh. Aktivitas enzim diukur pada setiap titik waktu dosis
dan kurva standar dirumuskan.
Keuntungan menggunakan metode ini adalah
- Dekat dengan realitas
- Bisa menyebabkan menerobos dalam penelitian
Kerugian
- Metode tidak langsung
- Membutuhkan pemantauan yang cermat
- Sulit untuk mempertahankan data yang konsisten karena
gangguan oleh faktor-faktor lain
- Tidak berlaku untuk semua vitamin
- Mahal karena manajemen hewan
- Memakan Waktu
- Tidak memiliki aplikasi klinis

b. In-vitro Bioassays

• Tes ini melibatkan menargetkan jalur sel tertentu atau jaringan
dalam media kultur.
• Mempengaruhi vitamin dipelajari pada pertumbuhan, proliferasi
dan diferensiasi sel.
• Faktor-faktor lain atau bahan kimia seperti: protein, imunoglobulin,
kalsium, fosfor yang diproduksi oleh sel-sel & jaringan setelah
terpapar vitamin juga diukur. Misalnya efek anti-oksidatif vit-C dan
E yang didirikan oleh tes ini
Keuntungan dalam menggunakan metode ini adalah
- Lebih mudah dari in-vivo
- Lebih baik monitoring & control kondisi
- Kurang memakan waktu & murah
- Dapat digunakan untuk menganalisis efek dari beberapa vitamin
Kerugian dalam menggunakan metode ini adalah
- Tidak Langsung
- Tidak dekat dengan realitas

8
- Jaringan dan sel kultur beresiko kontaminasi

2. Metode kolorimetri
Kolorimetri didefinisikan sebagai suatu metoda analisa
yang didasarkan pada kesamaan warna antara larutan
sampel dengan larutan standar menggunakan sumber
cahaya polikromatis dan mata sebagai detektor. M e t o d a
ini didasarkan pada penyerapan cahaya tampak dan
e n e r g i r a d i a s i lainnya oleh suatu larutan lainnya oleh suatu
larutan.
a) Metode Carr-Price
Metode Carr-Pierce mencakup perlakuan vitamin A dengan antimon
(III) klorida; warna biru yang timbul memberikan serapan
maksimum pada panjang gelombang 620 nm dan mematuhi hukum
Lambert-Beer. Antimon (III) klorida yang digunakan sebagai reagen
penghasil warna bersifat korosif, dan membutuhkan penanganan
secara khusus dan kadang-kadang menyebabkan kerusakan
terhadap peralatan spektrofotometer. Dilihat dari formasi antimon
(III) klorida, zat ini sulit untuk untuk dibersihkan dari kuvet dan juga
peralatan preparasi. Warna biru yang timbul sangat tidak stabil dan
pengukuran absorbansi harus dilakukan antara 5-10 detik dari
penambahan reagen (Rohman dan Sumantri, 2007.
b) Pengukuran secara spektrofotometri dengan menggunakan Asam
trifluoro asetat
Asam trifluoro asetat bereaksi dengan vitamin A dan
turunannya sehingga mengasilkan warna biru yang memberikan
serapan maksimum pada panjang gelombang 616 nm. Reaksi
warna yang terjadi mematuhi hukum Lambert-Beer pada kisaran
konsentrasi vitamin A sebesar 10-6 dan 10-5 M (Libman, 1966).
c) Pengukuran secara spektrofotometri dengan menggunakan gliserol
diklorohidrin aktif
Gliserol diklorohidrin aktif bereaksi dengan vitamin A dalam
kloroform untuk menghasilkan warna ungu yang stabil dan

9
mempunyai serapan maksimum pada panjang gelombang 555 nm.
Reaksi warna yang terjadi mematuhi hukum Lambert-Beer pada
kisaran yang lebar. Intensitas warna yang timbul 1/3 jika
dibandingkan dengan intensitas warna biru dari metode Carr-Pierce
yang menggunakan antimon (III) klorida. Reaksi bergantung pada
suhu pengujian dan disarankan pembuatan kurva kalibrasi dan
analisis sampel dilakukan pada suhu yang sama (Libman, 1966).
d) Pengukuran dengan menggunakan Asam fosfotungstat
Vitamin A dalam kloroform bereaksi dengan asam
fosfotungstat dalam etil asetat dengan adanya asetat anhidrat
maka menghasilkan warna biru dan memberikan serapan
maksimum pada panjang gelombang 620 nm. Reaksinya mematuhi
hukum Lambert-Beer. Pada pemanasan dengan suhu 50°C
menggunakan penangas air, warna biru yang ada akan berubah
menjadi biru keunguan, ungu, dan akhirnya menjadi merah dan
mempunyai serapan maksimum pada 530 nm. Warna merah yang
timbul juga mematuhi hukum Lambert-Beer dan cocok untuk
pengujian vitamin A, akan tetapi metode ini kurang sensitif untuk
bahan dengan kadar vitamin A rendah (Libman, 1966).

e) Pengukuran secara kolorimetri dengan aluminium klorida
Metode ini mencakup reaksi larutan jenuh aluminium klorida
dalam kloroform anhidrat dengan vitamin A. Warna yang timbul
mempunyai serapan maksimum pada panjang gelombang 618 nm
dan mematuhi hukum Lambert-Beer (Libman, 1966).
f) Pengukuran menggunakan asam fosfomolibdat
Metode ini melibatkan reaksi vitamin A dengan asam
fosfomolibdat; warna biru yang timbul memberikan serapan
maksimum pada panjang gelombang 700 serta mematuhi hukum
Lambert-Beer (Libman, 1966).
Keuntungan utama metode kolorimetri adalah bahwa
metoda ini memberikan cara sederhana untuk menetapkan
kuantitas zat yang sangat kecil.

10
Kendala-kendala yang dihadapi pada metoda ini :
1) Reagen pewarna sulit didapat dan harganya mahal.
2) Untuk mendapatkan warna spesifik dibutuhkan kondisi
tertentu.
3) Kepekaan detektor mata berbeda-beda. (Vogel: 1989).
3. Metode Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan metode analiss yang didasarkan pada
absorpsi radiasi electromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi terhadap
kepekaan mata manusia, gelombang dengan panjang berlainan akan
menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya
dengan panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya
putih meeliputi seluruh spectrum Nampak 400-760 mm (Anonim, 1979)

Secara umum spektrofotometri dibedakan menjadi empat macam,
yaitu :

a) Spektrofotometri ultraviolet (UV)

Pada spektrofometri UV berdasarkan interaksi sampel dengan
sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai
sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut
juga heavy hydrogen. Dia merupakan isotop hydrogen yang stabil
tang terdapat berlimpah dilaut dan didaratan. Karena sinar UV tidak
dapat dideteksi oleh mata manusia maka senyawa yang dapat
menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki
warna. Bening dan transparan

b) Spektrofotometri sinar tampak/ Vis (visible)

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber
sinar/energy dalah cahaya tampak (Visible). Cahaya visible termasuk
spectrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia.
Panjang gelombang sinar tampak adalah 380-750 nm. Sehingga

11
semua sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia, maka sinar
tersebut termasuk kedalam sinar tampak (Visible).

c) Spektrofotometri infra merah

Spektrofotometri ini berdasar kepada penyerapan panjang
gelombang Inframerah. Cahaya Inframerah, terbagi menjadi
inframerah dekat, pertengahan dan jauh. Inframerah pada
spektrofotometri adalah adalah inframerah jauh dan pertengahan
yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 mikrometer. Hasil
analisa biasanya berupa signalkromatogram hubungan intensitas IR
terhadap panjang gelombang. Untuk identifikasi, signal sampel akan
dibandingkan dengan signal standard
d) Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri
UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda,
sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat
yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber sinar
sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi
dengan monokromator.
Penyerapan sinar uv dan sinar tampak oleh molekul, melalui 3
proses yaitu :
a. Penyerapan oleh transisi electron ikatan dan electron anti ikatan.
b. Penyerapan oleh transisi electron d dan f dari molekul kompleks
c. Penyerapan oleh perpindahan muatan
Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu suatu alat yang
digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif
maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari
suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi.
Prinsip kerja spektrofotometri yaitu Spektrum elektromagnetik
dibagi dalam beberapa daerah cahaya. Suatu daerah akan diabsorbsi
oleh atom atau molekul dan panjang gelombang cahaya yang
diabsorbsi dapat menunjukan struktur senyawa yang diteliti. Spektrum
elektromagnetik meliputi suatu daerah panjang gelombang yang luas
dari sinar gamma gelombang pendek berenergi tinggi sampai pada

12
panjang gelombang mikro (Marzuki Asnah 2012) Spektrum absorbsi
dalam daerah-daerah ultra ungu dan sinar tampak umumnya terdiri
dari satu atau beberapa pita absorbsi yang lebar, semua molekul
dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak. Oleh karena itu
mereka mengandung electron, baik yang dipakai bersama atau tidak,
yang dapat dieksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. Panjang gelombang
pada waktu absorbsi terjadi tergantung pada bagaimana erat elektron
terikat di dalam molekul. Elektron dalam satu ikatan kovalen tunggal
erat ikatannya dan radiasi dengan energy tinggi, atau panjang
gelombang pendek, diperlukan eksitasinya (Wunas,2011)
Spektofotometri ini hanya terjadi bila terjadi perpindahan electron
dari tingkat energy yang rendah ke tingkat energy yang lebih tinggi.
Perpindahan electron tidak diikuti oleh perubahan arah spin, hal ini
dikenal dengan sebutan tereksitasi singlet (Khopkar, 2003)

Keuntungan utama metode spektrofotometri adalah bahwa metode
ini memberikan cara sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang
sangat kecil. Selain itu, hasil yang diperoleh cukup akurat, dimana
angka yang terbaca langsung dicatat oleh detector dan tercetak dalam
bentuk angka digital ataupun grafik yang sudah diregresikan (Yahya
S,2013).

Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari
Hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = – log T = – log It / I0 = ε . b . C
Dimana:
A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur
T = Transmitansi
I0 = Intensitas sinar masuk
It = Intensitas sinar yang diteruskan
ε = Serapan molar
b = Tebal kuvet yang digunakan
C = Konsentrasi dari sampel
(Tahir, 2009).
METODE SPEKTROFOTOMETRI PADA VITAMIN A
a) Pengukuran secara langsung

13
Spektrum absorbsi ultraviolet vitamin A dan vitamin A asetat
mempunyai absorbsi maksimal pada panjang gelombang antara
325 sampai 328 nm dalam berbagai pelarut. Larutan vitamin A
dalam isopropanol absorbansinya diukur pada panjang gelombang
maksimal (maks) dan pada dua titik, yaitu satu disebelah kanan
maks dan satunya pada sebelah kiri maks. Absorbansi pada maks
dikoreksi terhadap senyawa pengganggu dengan menggunakan
formula koreksi karena senyawa-senyawa ini akan ikut menyerap
pada daerah UV. Beberapa pengganggu terutama pada minyak
ikan adalah vitamin A2, kitol, anhidro vitamin A dan asam polien.
Pada vitamin A sintetik senyawa pengganggunya adalah senyawa-
senyawa antara (Rohman dan Sumantri, 2007).
b) Pengubahan retinol atau akseroftol menjadi anhidroakseroftol
Akseroftol mudah diubah menjadi anhidroakseroftol dengan
bantuan sejumlah kecil asam mineral atau asam organik kuat.
Metode Budowski dan Bondi, akseroftol diubah menjadi
anhidroakseroftol dalam pelarut benzen dengan katalisator asam
toluen-p-sulfonat pada temperatur kamar. Kenaikan absorbansi
pada 399 nm merupakan hasil dehidrasi yang berbanding langsung
dengan jumlah akseroftol yang terkandung. Reaksi ini dapat
dihentikan dengan penambahan alkali. Pengukuran absorbansi
pada 358 nm, 377 nm dan 399 nm dalam benzen merupakan cara
yang baik untuk mengetahui kemurnian akseroftol yakni dengan
melihat bahwa A399 nm/A377 nm sebesar 0,868 dan A358
nm/A377 nm sebesar 0,692 (Rohman dan Sumantri, 2007).
c) Metode Maleat anhidrat untuk isomer vitamin A
Maleat anhidrat bereaksi dengan all-trans dan 9-cis isomer
vitamin A menghasilkan senyawa yang tidak memberikan warna
biru ketika diuji dengan menggunakan antimon (III) klorida. Potensi
kehilangan terhadap all-trans dan 9-cis isomer dapat terjadi,
sehingga perlu dilakukan dua kali pengukuran nilai antimon (III)
klorida, pertama untuk isomer campuran dan setelah penghilangan

14
kedua isomer tersebut. Dari perbedaan nilai pengukuran ini, maka
komposisi isomer dalam campuran dan potensi biologisnya dapat
ditentukan
d) Penentuan secara simultan retinol (vitamin A1) dan dehidroretinol
(vitamin A2)
Prinsip dari metode ini adalah perbedaan panjang gelombang
maksimum dan nilai ekstinsi dari masing-masing vitamin A1 dan A2.
Vitamin A1 mempunyai panjang gelombang maksimum pada 326
nm sedangkan vitamin A2 mempunyai panjang gelombang
maksimum pada 351 nm.

4. Metode Spektrofluorometri
Spektrofluometri merupakan metode penentuan kualitatif dan
kuantitatif senyawa kimia berfluoresensi. Metode spektrofluometri
memiliki kepekaan yang lebih tinggi karena mengukur intensitas
emisi (Skoog, 1998). Penentuan kada fluorofor dengan metode
spektroflumetri memerlukan larutan jernih, konsentrasi fluorofor
yang relative rendah dan larutan tidak mengandung zat atau
komponen pelarut mengabsorbs pada panjang glombang radiasi
eksitasi maupun flioresensi (Satiadarma, 2004).
Kekuatan emisi radiasi fluoresensi sebuah dluorofor memiliki
parameter khas yaitu efesiensi kuantum( Ф F ). (Satiadarma,
2004). Kekuatan fluoresensi sebanding dengan kekuatan radiasi
yang diabsorpsi oleh molekul fluorofor.
PF =Ф F (Po-P)
PF adalah kekuatan radiasi fluoresensi, Ф F adalah
efesiensi fluoresensi, Po adalah kekuatan radiasi yang mengenai
fluorofor, dan P adalah ekuatan radiasi yang diemisikan oleh
fluorofor
Berdasarkan sifat vitamin A yang dapat memberikan
flourosensi, maka vitamin A dalam bahan pangan yang telah
diekstrasi dapat diukur menggunakan spektrofluorometer pada
panjang gelombang eksitasi 330 nm dan emisi 480 nm.
Pengukuran dengan metode spektrofluorometri lebih spesifik

15
dibandingkan cara spektrofotometri, karena banyak senyawa yang
memberikan serapan pada daerah UV, namun tidak memberikan
sifat flourosensi (Angustin dkk 1985).
5. Metode Kromatografi
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul
berdasarkan perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan
fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang
berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan
melewati kolom yang merupakan fase diam

a) Pengukuran dengan kromatografi lapis tipis
Vitamin A dapat dipisahkan dengan komponen lainnya
secara kromatografi lapis tipis menggunakan fase diam silika gel
F254 dan fase gerak campuran siklo heksana dan eter dengan
perbandingan 4:1, noda yang telah terpisah dideteksi
menggunakan asam fosfomolibdat dan bercak biru hijau yang
terjadi menunjukkan adanya vitamin A. Perkiraan harga Rf vitamin
A dalam bentuk alkohol, asetat dan palmitat berturut-turut adalah
0,1; 0,45 dan 0,7 (Depkes 1995). Untuk mendeteksi noda vitamin A
dapat juga digunakan larutan antimon (III) klorida yang akan
memberikan warna biru (Depkes 1979) atau menggunakan UV
pada pada panjang gelombang 254 nm (CE 2007). Sebagai fase
gerak selain menggunakan campuran siklo heksana dan eter, juga
dapat digunakan campuran siklo heksana dan etil asetat dengan
perbandingan 9:1 (Libman 1966).
b) Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Vitamin A dapat ditetapkan kadarnya menggunakan KCKT
menggunakan kolom fase normal atau kolom fase terbalik. Dengan
menggunakan kolom fase normal, vitamin A ditetapkan kadarnya
menggunakan fase diam kolom silika, fase gerak n-heksana dan
dideteksi menggunakan UV 325-nm (USP Convention 2008).
Sebagai fase gerak dapat juga digunakan campuran heptana dan
diisopropil eter, 95:5; proses saponifikasi, ekstraksi, pemekatan dan

16
melarutkan kembali menggunakan pelarut yang sesuai. heksana
dan dietil eter 98:2; 1-5 % 2-propanol dalam heptana; heksana dan
metil etil keton, 90:10 (Nollet 2000).
Dengan kolom fase terbalk, vitamin A ditetapkan kadarnya
menggunakan fase diam kolom C18, fase gerak campuran metanol
dan air dengan perbandingan 860:140 dan dideteksi menggunakan
UV 328-nm atau 313-nm (AOAC International, 2005). Sebagai fase
gerak dapat juga digunakan campuran asetonitril dengan air 90:10
(Eitenmiller, 2008); campuran asetonitril dengan air, 90:10 atau
campuran metanol dengan air, 80:20 (Augustin dkk 1985).
Persiapan sampelnya terdiri atas proses saponifikasi, ekstraksi,
pemekatan dan melarutkan kembali menggunakan pelarut yang
sesuai.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan, bahwa vitamin
menurut kelarutannya dapat di klasifikasikan menjadi dua, yakni
vitamin larut air dan vitamin larut lemak. Yang menrupakan vitamin

17
larut air yakni vitamin B dan C, sedangkat vitamin larut lemak yakni
vitamin A, D, E, dan K.
Ada beberapa macam metode-metode penganalisis vitamin-
vitamin tersebut. Misalnya, metode Kromatografi yang merupakan
salah satu metode pemisahan komponen-komponen campuran
yang berdasarkan distribusi diferensial dari komponen-komponen
sampel diantara dua fasa, yaitu fasa gerak dan fasa diam. Dan
metode-metode yang lainnya.

B. Saran
Dalam menganalisis vitamin, sebaiknya kita harus tahu
langkah-langkah dari setiap metode.agar diperoleh hasil yang
maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirokusumo, Soeharto, Prof. Dr. M.Sc., 1991, Biokimia Nutrisi dan
Vitamin, BPFE, Yogyakarta.
Vogel. 1994. Kimia analisis kuantitatif anorganik. Edisi ke-4. Penerbit
EGC :Jakarta. Hal. 243 – 253.
Pakar Gizi Indonesia. 2016. Ilmu Gizi: Teori & Aplikasi. Penerbit
EGC: Jakarta. Hal. 59-60
Almatsier S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama

18
https://www.academia.edu/17005179/KOLORIMETRI/ di unduh pada 07
Juni 2017

http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/53123/4/BAB%20II
%20Tinjauan%20Pustaka.pdf/ di unduh pada 07 Juni 2017

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/51699/Chapter
%20II.pdf;jsessionid=AEB9969164D86B2BCA2E2A1892FA6AE6?
sequence=4/ di unduh pada 07 Juni 2017

http://eprints.undip.ac.id/47923/6/7.BAB_II_TA.pdf/ di unduh pada 07 Juni
2017

19