LAPORAN KASUS

KATARAK

Pembimbing :
dr. Hj. Masitah Wilya, Sp.M

Disusun Oleh :
Zia’ul Fatwa AY
2012730113

KEPANITERAAN KLINIK STASE MATA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

RSIJ PONDOK KOPI

201

BAB I

LAPORAN KASUS

II.1. Identifikasi

• Nama : Tn. S
• Umur : 70 tahun
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Agama : Islam
• Bangsa : Indonesia
• Pekerjaan : Pensiunan
• Alamat : Bunga Rampai 8 Gg 1 No 43

II.2. Anamnesis

• Keluhan Utama:

Penglihatan kedua mata buram

• Riwayat Perjalanan Penyakit:

Pasien datang ke Poli Mata RSIJ Pondok Kopi dengan keluhan penglihatan kedua mata
buram sejak 1,5 tahun yang lalu. Awal mula keluhan mata kanan dirasakan lebih buram
dibanding kiri. Pasien merasakan mata buram seperti terhalang kabut. melihat seperti ada
awan dan masih bisa membaca tulisan walau buram namun keluhan semakin lama semakin
memberat dan sampai mengganggu aktifitas pasien. Pasien mengeluhkan penglihatan
menjadi berbayang dan merasa jika melihat cahaya menjadi lebih silau. Keluhan tidak
disertai dengan mata merah, nyeri, gatal, dan berair.

• Riwayat Penyakit Dahulu:

• Pasien baru pertama mengalami keluhan seperti ini

• Riwayat memakai kacamata (-)

• Riwayat hipertensi (+)

• Riwayat diabetes (-) • Riwayat Pengobatan • Belum pernah diobati dan berobat kedokter • Riwayat Penyakit Dalam Keluarga • Riwayat DM dan HT disangkal pada keluarga • Riwayat Alergi • Tidak mempunyai alergi terhadap cuaca. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Composmentis Tanda-tanda Vital Suhu : Tidak diukur Nadi : 86 x / menit Tekanan darah : Tidak diukur Respirasi : Tidak diukur Status Generalisata Kepala : Mata : Pada status ophthalmicus Hidung : Tidak dijumpai kelainan Leher : Tidak dijumpai kelainan Thorax : Tidak dijumpai kelainan Abdomen : Tidak dijumpai kelainan Ekstremitas Superior/ Inferior : Tidak dijumpai kelainan .3. makanan dan obat • Riwayat Trauma • Trauma pada bagian wajah terutama mata pada pasien disangkal II.

Hipopion (-) .Hifema (-) CoA .Injeksi siliar (-) Conjungtiva .Hipopion (-) .Bulat .Ulkus (-) .Injeksi konjungtiva (-) .Bulat .Hifema (-) . Hiperemis (-) Palpebra Superior Edema (-). Hiperemis (-) Palpebral Inferior Edema (-).Refleks cahaya (+) Keruh Keruh Pseudofakia (-) Lensa Pseudofakia (-) Afakia (-) Afakia (-) Positif Shadow test Positif .Infiltrate (-) .Injeksi siliar (-) .Hipopion (-) .Edema (-) Kornea .Jernih (+) . Hiperemis (-) .Jernih (+) . Status Ophthalmologis Oculi Dextra PEMERIKSAAN Oculi Sinistra 6/20 Visus 6/15 Ortoforia Kedudukan Bola Mata Ortoforia Baik ke segala arah Baik ke segala arah Gerakan Bola Mata Edema (-).Infiltrate (-) .Ulkus (-) .Isokor Pupil . Hiperemis (-) Edema (-).Dangkal Sinekia (-) Iris Sinekia (-) .Hipopion (-) .Injeksi konjungtiva (-) Anikterik Sclera Anikterik .Refleks cahaya (+) .Dangkal (Camera Oculi Anterior) .Isokor .Edema (-) .

Visus OD: 6/20 OS: 6/15 Pada pemeriksaan. lensa keruh dan pemeriksaan shadow test positif diregio okuli dextra sinistra II. Awal mula keluhan mata kanan dirasakan lebih buram dibanding kiri.5 Diagnosis Katarak senil imatur okuli dextra sinistra II. Pasien merasakan mata buram seperti terhalang kabut.5 tahun yang lalu.7 Prognosis Quo ad vitam : bonam Quo ad functionam : bonam . melihat seperti ada awan dan masih bisa membaca tulisan walau buram namun keluhan semakin lama semakin memberat dan sampai mengganggu aktifitas pasien.6 Penatalaksanaan Fakoemulsifikasi dan implantasi IOL II.4 Resume Pasien datang ke Poli Mata RSIJ Pondok Kopi dengan keluhan penglihatan kedua mata buram sejak 1.II. Pasien mengeluhkan penglihatan menjadi berbayang dan merasa jika melihat cahaya menjadi lebih silau.

dan bagian paling tipis berada di bagian tengah kutub posterior. ANATOMI LENSA American Academy of Ophtalmology menerangkan bahwa lensa adalah suatu struktur bikonveks. lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari badan siliar. Bagian paling tebal kapsul berada di bagian anterior dan posterior zona preekuator. dan sedikit mineral. Gambar 1. Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari kapsul lensa. Kapsul Kapsul lensa merupakan membran dasar yang elastis dan transparan tersusun dari kolagen tipe IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. . korteks. Kapsul ini mengandung isi lensa serta mempertahankan bentuk lensa pada saat akomodasi. tak berwarna. avaskular. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Kapsul ini merupakan membran dasar yang melindungi nukleus. 65% lensa terdiri atas air. sekitar 35% protein (kandungan protein tertinggi diantara jaringan-jaringan tubuh). dan hampir transparan semua. Anatomi Lensa 1. Di belakang iris. BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI LENSA A. dan epitel lensa. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain.

FISIOLOGI LENSA Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Sel-sel tersebut juga dapat membentuk ATP untuk memenuhi kebutuhan energi lensa. Gambar 2. dalam posisi ini. Akomodasi lensa: (kiri) saat melihat jauh. 2. menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil. protein dan lipid. lalu serat baru akan terbentuk dan akan menekan serat-serat lama untuk berkumpul di bagian tengah lensa. Hal ini dapat dicapai dengan mengubah lengkungnya lensa terutama kurvatura anterior. otot-otot siliaris relaksasi. maka daya refraksinya harus diubah-ubah sesuai dengan sinar yang datang sejajar atau divergen. Supaya hal ini dapat dicapai. Kapsul lensa . Nukleus dan korteks Sel-sel berubah menjadi serat. Perubahan daya refraksi lensa disebut akomodasi. B. Epitel Lensa Tepat dibelakang kapsul anterior lensa terdapat satu lapis sel-sel epitel. Sel-sel epitel ini dapat melakukan aktivitas seperti yang dilakukan sel-sel lainnya. RNA. otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. 3. seperti sintesis DNA. daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya pararel akan terfokus ke retina. Serat-serat yang baru akan membentuk korteks dari lensa. Sel-sel epitel yang baru terbentuk akan menuju equator lalu berdiferensiasi menjadi serat lensa. Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari kapsul lensa. (kanan) saat melihat dekat Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh. 4. Serat Zonula Lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari badan siliar. Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat.

Perubahan saat akomodasi lensa Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu. jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan. Sisanya. Seiring dengan pertambahan usia.36 pada bagian perifer yang berbeda dari aqueous dan vitreous humor yang mengelilinginya.4 pada bagian tengah dan 1. lensa memberikan kontribusi 15-20 D dari sekitar 60 D seluruh kekuatan refraksi bola mata manusia. Tabel 1. secara normal sekitar 1. terletak di tempatnya. yaitu: kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung. Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi Akomodasi Tanpa akomodasi M. Silliaris Kontraksi Relaksasi Ketegangan serat zonular Menurun Meningkat Bentuk lensa Lebih cembung Lebih pipih Tebal axial lensa Meningkat Menurun Dioptri lensa Meningkat Menurun Gambar 3. . zonula dan lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi. sekitar 40 D kekuatan refraksi diberikan oleh udara dan kornea. Kerjasama fisiologik antara korpus siliaris. Pada keadaan tidak berakomodasi. Lensa dapat merefraksikan cahaya karena indeks refraksinya. kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan akan berkurang.yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh daya biasnya.

Jelas dapat disimpulkan insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi yang lebih tua. EPIDEMIOLOGI Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50% dan meningkat hingga 70% pada individu di atas 75 tahun. inflamasi. operasi mata. B. diabetes. gangguan metabolisme. merokok.13 %  Penyakit glaukoma 0. trauma parah pada mata. Diketahui kebutaan di Indonesia berkisar 1. atau penggunaan obat-obatan tertentu. ETIOLOGI Tak jarang katarak timbul pada saat lahir atau pada anak usia dini sebagai akibat dari cacat keturunan. yang menghalangi sinar masuk ke dalam mata. topikal. Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut.03 %  Kelainan nutrisi 0. Etiologi katarak kongenital yang paling umum termasuk infeksi intrauterin. yaitu usia diatas 50 tahun. atau peradangan intraokular.02 % C. seperti steroid oral. Faktor lain yang dapat menyebabkan perkembangan katarak pada usia lebih dini meliputi paparan berlebihan cahaya ultraviolet. Katarak juga dapat terjadi setelah trauma. namun dapat juga terjadi pada anak-anak yang lahir dalam kondisi tersebut. Sepertiga dari katarak .20 %  Kelainan refraksi 0. Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata. Dari angka tersebut presentasi angka kebutaan utama ialah :  Katarak 0. atau inhalasi. DEFINISI Katarak termasuk golongan kebutaan yang tidak dapat dicegah tetapi dapat disembuhkan.5 % dari jumlah penduduk Indonesia.78 %  Kelainan kornea 0. dan sindrom genetik ditransmisikan. atau penyakit lainnya. BAB III KATARAK A. Katarak terjadi karena faktor usia.14 %  Kelainan retina 0.

Patofisiologi di balik terjadinya katarak senilis amat kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti. Cara transmisi yang paling sering adalah autosomal dominan dengan penetrasi yang lengkap. D. cacar air. herpes zoster. katarak polar. Menurut lokasi kekeruhan lensa : 1) Nuklear 2) Kortikal 3) Subkapsular (posterior/anterior)  jarang iii. Namun. Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Menurut usia : 1) Katarak kongenital ( terlihat pada usia dibawah 1 tahun ) 2) Katarak juvenil ( terlihat sesudah usia 1 tahun ) 3) Katarak senile ( setelah usia 50 tahun ) ii. rubeola. Namun ada beberapa kemungkinan di antaranya terkait usia lensa mata yang membuat berat dan ketebalannya bertambah. dan toksoplasmosis. pediatrik sporadis. influenza. mereka mungkin mutasi spontan dan dapat menyebabkan pembentukan katarak pada keturunannya pasien. sifilis. cytomegalovirus. yaitu : i. Menurut etiologi : 1) Katarak primer 2) Katarak sekunder . sementara kekuatannya menurun. mereka tidak berhubungan dengan penyakit sistemik atau mata. atau opasitas nuklear. Infeksi penyebab katarak termasuk rubella (yang paling umum). KLASIFIKASI Katarak dapat diklasifikasikan menurut beberapa aspek. poliomyelitis. herpes simplex. Sebanyak 23% dari katarak kongenital adalah familial. virus EpsteinBarr. Semua anggota keluarga dekat harus diperiksa. Jenis katarak mungkin muncul sebagai katarak total. Menurut derajat kekeruhan lensa : 1) Insipien 2) Imatur 3) Matur 4) Hipermatur iv. katarak lamelar.

Katarak kongenital digolongkan dalam katarak : 1 Kapsulolentikular dimana pada golongan ini termasuk katarak kapsular dan katarak Polaris 2 Katarak lenticular termasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai korteks atau nucleus saja Bentuk bentuk katarak kongenital 1 Katarak piramidalis atau Polaris anterior 2 Katarak piramidalis atau Polaris posterior 3 Katarak zonularis atau lamelaris 4 Katarak pungtata dan lainlain Penanganan tergantung pada unilateral dan bilateral. yang mulai terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun. Katarak Juvenil Katarak juvenil adalah katarak yang lunak dan terdapat pada orang muda. Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan seduah mengganggu pekerjaan sehari-hari. Tindakan untuk memperbaiki tajam penglihatan ialah pembedahan.a. Biasanya katarak juvenil merupakan bagian dari suatu gejala penyakit keturunan lain. Pembedahan dilakukan bila kataraknya diperkirakan akan menimbulkan ambliopia. Katarak Menurut Usia i. Katarak kongenital prognosisnya kurang memuaskan karena bergantung pada bentuk katarak dan mungkin sekali pada mata tersebut telah terjadi amblyopia. Bila terdapat nistagmus maka keadaan ini menunjukan hal yang buruk pada katarak kongenital ii. Letak kekeruhan tergantung pada saat mana terjadi gangguan pada kehidupan janin. Hasil tindakan pembedahan sangat bergantung pada usia . adanya kelainan mata lain dan saat terjadinya katarak. Merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir yaitu kekeruhan lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract. Katarak Kongenital Katarak Kongenital katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun.

bentuk katarak apakah mengenai seluruh lensa atau sebagian lensa apakah disertai kelainan lain pada saat timbulnya katarak. Pada keadaan ini penderita seakan-akan mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang bertambah. makin lama lensa menutupi media penglihatan menambah kemungkinan ambliopia. kortikal. Katarak ini terletak di lapisan . ii. Katarak Menurut Lokasi Kekeruhan Dikenal 3 bentuk katarak senil. dan subkapsular posterior. Katarak Subkapsular Posterior Katarak subkapsular posterior ini sering terjadi pada usia yang lebih muda dibandingkan tipe nuklear dan kortikal. Katarak Kortikal Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. iii. penderita. Katarak Senil Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut. i. b. iii. Perubahan yang tampak ialah bertambah tebalnya nukleus dengan berkembangnya lapisan korteks lensa. Secara klinis. Lama kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih kekuningan menjadi cokelat dan kemudian menjadi kehitaman. Keadaan ini disebut katarak brunesen atau nigra. yaitu usia di atas 50 tahun kadang-kadang pada usia 40 tahun. Katarak Nuklear Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik. proses ketuaan lensa sudah tampak sejak terjadi pengurangan kekuatan akomodasi lensa akibat mulai terjadinya sklerosis lensa yang timbul pada usia dekade 4 dalam bentuk keluhan presbiopia. yaitu katarak nuklear.

Pada stadium lanjut terlihat granul dan plak pada korteks subkapsul posterior ini. terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian- bagian yang jernih pada lensa. Dapat juga terjadi penurunan penglihatan pada jarak dekat dan terkadang beberapa pasien juga mengalami diplopia monokular. Katarak Imatur Pada stadium yang lebih lanjut. c. Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan negatif. Uji bayangan iris pada keadaan ini positif. Gejala yang dikeluhkan penderita adalah penglihatan yang silau dan penurunan penglihatan di bawah sinar terang. Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa menjadi bertambah cembung. ii. Pada stadium intumensen ini akan mudah terjadi penyulit glaukoma. posterior kortikal dan biasanya axial. iii. Kekeruhan ini pada umumnya hanya tampak bila pupil dilebarkan. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris ke depan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit. Katarak Insipien Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk gerigi dasar di perifer dan daerah jernih di antaranya. Indikasi awal adalah terlihatnya gambaran halus seperti pelangi dibawah slit lamp pada lapisan posterior kortikal. Katarak Matur . Kekeruhan biasanya teletak di korteks anterior atau posterior. yaitu: i. Katarak Menurut Derajat Kekeruhan Katarak berdasarkan kekeruhan yang sudah terjadi dapat dibedakan menjadi 4 macam. Pencembungan lensa ini akan memberikan perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi miopik.

Katarak Hipermatur Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks mengkerut dan berwarna kuning. toksik. Akibat masa lensa yang keluar melalui kapsul lensa dapat menimbulkan penyulit berupa uveitis fakotoksik atau glaukom fakolitik. Perbedaan derajat kekeruhan katarak d. Di dalam stadium ini lensa akan berukuran normal. radiasi dan kelainan kongenital. Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium. Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif. Insipien Imatur Matur Hipermatur Visus 6/6 ↓ (6/6 – 1/60) ↓↓ (1/300-1/~) ↓↓ (1/300-1/~) Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif Cairan Lensa Normal Bertambah Normal Berkurang Iris Normal Terdorong Normal Tremulans Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam Depan Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka Mata Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif Penyulit . bukan karena penyebab yang lain. seperti penyakit sistemik atau metabolik. Uji bayangan iris memberikan gambaran pseudopositif. Katarak Primer Katarak primer merupakan katarak yang terjadi karena proses penuaan atau degenerasi. Lensa yang mengecil akan mengakibatkan bilik mata menjadi dalam. Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks. nukleus lensa tenggelam ke arah bawah (katarak morgagni). traumatik. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Katarak Menurut Etiologi a. b. iv. Katarak Sekunder . Uveitis + Glaukoma Tabel 2. Glaukoma . Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama-sama hasil disintegrasi melalui kapsul.

Di dunia industri. Sebagai contoh. katarak timbul pada subkapsul posterior akibat gangguan metabolisme lensa bagian belakang. Penyakit intraokular yang sering menyebabkan kekeruhan pada lensa ialah iridosiklitis. batu. Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang dapat berkembang mengenai seluruh lensa. potongan kecil palu baja dapat menembus kornea dan lensa dengan kecepatan yang sangat tinggi lalu tersangkut di vitreus atau retina. tindakan pengamanan terbaik adalah sepasang kacamata pelindung yang bermutu baik. glukoma. 3) Katarak Komplikata Penyakit intraokular atau penyakit di bagian tubuh yang lain dapat menimbulkan katarak komplikata.1) Katarak Metabolik Katarak metabolik atau disebut juga katarak akibat penyakit sistemik. pajanan berlebih terhadap panas (glassblower’s cataract). dermatitis atopik. Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueous dan kadang- kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa. 2) Katarak Traumatik Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Werner. terjadi bilateral karena berbagai gangguan sistemik berikut ini : diabetes melitus. defisiensi gizi. Katarak-katarak ini biasanya unilateral. kontusio. ablasi retina. Pada uveitis. distrofi miotonik. Pasien sering kali adalah pekerja industri yang pekerjaannya memukulkan baja ke baja lain. miopia tinggi dan lain-lain. galaktosemia. dan sindrom Lowe. hipokalsemia (oleh sebab apapun). Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab yang sering. dan radiasi pengion. serta Down. Bentuk kekeruhan ini berupa titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata subkapsular diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya . penyebab lain yang lebih jarang adalah anak panah.

Epitel lensa subkapsular yang tersisa mungkin menginduksi regenerasi serat-serat lensa. miotik. Lapisan epitel berproliferasi tersebut dapat membentuk banyak lapisan dan . Katarak ini bersifat reversibel dan dapat hilang bila tekanan bola mata sudah terkontrol. Pada katarak komplikata yang mengenai satu mata dilakukan tindakan bedah bila kekeruhannya sudah mengenai seluruh bagian lensa atau bila penderita memerlukan penglihatan binokular atau kosmetik. memberikan gambaran telur ikan pada kapsul posterior (mutiara Elschnig). Iridektomi total lebih baik dilakukan dari pada iridektomi perifer. Jenis tindakan yang dilakukan ekstraksi linear atau ekstraksi lensa ekstrakapsular. Katrak ini biasanya btimbul pada usia yang lebih muda. seperti obat kortikosteroid sistemik ataupun topikal yang diberikan dalam waktu lama. busulfan. antikolinesterase. triparanol. paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari pasca ekstraksi ektrakapsular. miotonia distrofia. Ablasio dan miopia tinggi juga dapat menimbulkan katarak komplikata. Diabetes melitus menimbulkan katarak yang memberikan gambaran khas yaitu kekeruhan yang tersebar halus seperti tebaran kapas di dalam masa lensa. ergot. naftalein. Kelainan umum yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes melitus. sedang pada penyakit umum lain akan terlihat tanda degenerasi pada lensa yang mengenai seluruh lapis lensa. katarak Vogt. Pada hipoparatiroid akan terlihat kekeruhan yang mulai pada dataran belakang lensa. dinitrofenol. 4) Katarak Toksik Katarak toksik atau disebut juga katarak terinduksi obat. walaupun kadang-kadang tidak bersamaan. hipoparatiroid. Katarak yang berhubungan dengan penyakit umum mengenai kedua mata. klorpromazin. tetani infantil dan lain-lain. Obat-obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya kekeruhan lensa. 5) Katarak Ikutan (membran sekunder) Katarak ikutan merupakan kekeruhan kapsul posterior yang terjadi setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular akibat terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal.

kecuali bila kapsul posterior dan vitreus anterior diangkat pada saat operasi. hingga setengah dari semua pasien dewasa mengalami kekeruhan kapsul posterior setelah mengalami ekstraksi katarak ekstrakapsular. maka akan semakin tebal dan berat sementara daya akomodasinya semakin melemah. Walaupun epitel lensa yang mengalami katarak menunjukkan angka kematian apoptotik yang rendah. Dulu. Lebih jauh lagi. Kontraksi serat-serat tersebut menimbulkan banyak kerutan kecil di kapsulposterior. nukleus sentral tertekan dan mengeras. menimbulkan kekeruhan yang jelas. akumulasi dari serpihan-serpihan kecil epitelial dapat menyebabkan gangguan pembentukan serat lensa dan homeostasis dan akhirnya mengakibatkan hilangnya kejernihan lensa. Sel-sel ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik. Epitel lensa berubah seiring bertambahnya usia. kabur atau berkabut  Lebih nyaman saat melihat jarak dekat  Perubahan persepsi warna  Fotosensitif baik pada malam hari maupun siang hari  Penglihatan ganda (double vision)  Perubahan ukuran kacamata yang signifikan F. Ketika lapisan kortikal bertambah dalam pola yang konsentris. penurunan rasio air dan mungkin metabolit larut air dengan berat molekul . Ada banyak mekanisme yang memberi kontribusi dalam progresifitas kekeruhan lensa. PATOFISIOLOGI Semakin bertambah usia lensa. yang menimbulkan distorsi penglihatan. tehnik bedah yang semakin berkembang dan materi lensa intraokular yang baru mampu mengurangi insiden kekeruhan kapsul posterior secara nyata. GEJALA KLINIS  Penglihatan berawan. Katarak ikutan merupakan suatu masalah besar pada hampir semua pasien pediatrik. disebut nuklear sklerosis. Namun. dengan bertambahnya usia lensa. E. terutama dalam hal penurunan densitas (kepadatan) sel epitelial dan penyimpangan diferensiasi sel serat lensa (lens fiber cells). Semua faktor ini dapat menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular.

Area lain yang sedang diteliti meliputi peran dari nutrisi pada perkembangan katarak secara khusus keterlibatan dari glukosa dan mineral serta vitamin. fase tak larut air dan matriks protein membran tak larut air. Faktor resiko katarak: . dimana free radical terbentuk jika terjadi reaksi intermediate reaktif kuat. nutrien dan antioksidan. Free radical mengakibatkan degenerasi molekul normal. Trauma . Hasil perubahan protein menyebabkan fluktuasi yang tiba-tiba pada indeks refraksi lensa. Infeksi intrauterine korteks . Selain dari itu. Mekanisme lainnya yang terlibat adalah konversi sitoplasmik lensa dengan berat molekul rendah yang larut air menjadi agregat berat molekul tinggi larut air. Kemudian. dan dapat dinetralisir oleh vitamin E dan antioksidan. Paparan sinar UV Perubahan struktur . Teori Across- Link dari para ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan asam nukleat dan molekul protein sehingga terjadi gangguan fungsi. Metabolik (DM) Kerusakan sel-sel korteks Hidrasi sel-sel lensa Kepadatan lensa berkurang Sinar sejajar masuk Lensa menjadi keruh Tidak bisa difokuskan Penurunan visus penglihatan .rendah dapat memasuki sel pada nukleus lensa melalui epitelium dan korteks yang terjadi dengan penurunan transport air. kerusakan oksidatif pada lensa akibat pertambahan usia mengarahkan pada terjadinya katarak senilis. Usia (penuaan) . terdapat juga teori free radical. menyebarkan jaras- jaras cahaya dan menurunkan kejernihan.

Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi opasitas lensa tetapi dapat juga struktur okuler lain. tujuan terapeutik dan diagnostik. iris. kelainan metabolik. . atau katarak hipermatur. Selain itu. sehingga pasien pun harus mendapatkan jahitan yang cukup banyak pada matanya yang mengakibatkan proses pemulihan matanya menjadi lama. mencegah dan mengatasi komplikasi.G. Pemeriksaan adneksa okuler dan struktur intraokuler dapat memberikan petunjuk terhadap penyakit pasien dan prognosis penglihatannya. Dahulu bedah katarak dilakukan dengan teknologi yang disebut ECCE dan ICCE masih memerlukan sayatan lebar untuk mengeluarkan lensa secara utuh. posisi lensa dan intergritas dari serat zonular juga dapat diperiksa sebab subluksasi lensa dapat mengidentifikasi adanya trauma mata sebelumnya. misalnya konjungtiva. Masalah pada saraf optik dan retina dapat menilai gangguan penglihatan. Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui kemampuan melihat pasien. Penyakit seperti Diabetes Mellitus dapat menyebabkan perdarahan perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini dan bisa dikontrol sebelum operasi. Indikasi operasi katarak secara umum adalah untuk rehabilitasi visus. DIAGNOSIS Diagnosa katarak dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. bilik mata depan. Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit- penyakit yang menyertai. pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek dalam evaluasi dari integritas bagian belakang harus dinilai. kornea. mencegah ambliopia dan tujuan kosmetik. Kemudian lakukan pemeriksaan shadow test untuk menentukan stadium pada katarak senilis. gambaran lensa harus dicatat dengan teliti sebelum dan sesudah pemberian dilator pupil. Saat ini terapi bedah katarak sudah mengalami banyak perkembangan. Sekarang dengan teknologi fakoemulsifikasi sayatan pada mata menjadi sangat kecil dan seringkali tidak memerlukan jahitan. H. Ketebalan kornea harus diperiksa dengan hati-hati. PENATALAKSANAAN Satu-satunya terapi katarak adalah tindakan bedah.

nukleus diekstraksi dan korteks lensa dinuang dari mata dengan irigasi dengan atau tanpa aspirasi. Fakofragmentasi atau fakoemulsi dengan irigasi atau aspirasi atau keduanya adalah teknik ekstrakapsuler yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui incisi limbus yang kecil (2- . ECCE diindikasikan untuk operasi katarak yang diiringi dengan pemasangan IOL atau penambahan kacamata baca. yang jarang lagi dilakukan sekarang adalah mengangkat lensa in toto yakni didalam kapsulnya melalui limbus superior 140-160 derajat. Ada berbagai keuntungan dari metode tersebut. Metode ”Ekstraksi ekstra kapsuler (ECCE)”. dan katarak luksasi. Ini karena sayatannya kecil. I. Kontraindikasi absolut ICCE adalah katarak pada anak dan dewasa muda serta katarak traumatik dengan ruptur kapsul. ablasi atau prolaps badan kaca. Metode “Ekstraksi intrakapsuler (ICCE)”. intumesen. hipermatur. terjadinya perlengketan luas antara iris dan lensa. antara lain tanpa dijahit. sehingga meninggalkan kapsul posterior. yang saat ini masih sering dipakai juga memerlukan insisi limbus superior. II. Gambar 5. ICCE dilakukan pada negara-negara dimana terdapat keterbatasan mikroskop untuk melakukan operasi katarak. Kontraidikasi ECCE adalah pada keadaan dimana terjadi insufisiensi zonula zinni. Teknik ECCE III. ICCE diindikasikan pada kasus-kasus katarak tidak stabil. sindrom Marfan. Kontraindikasi relatif ICCE adalah miopi tinggi. Bagian anterior kapsul dipotong atau diangkat. katarak Morgagni. Metode fakoemulsifikasi yaitu dengan sayatan kecil dan tidak memerlukan benang. Kalaupun perlu jahitan hanya satu jahitan.

Keuntungan dan Kerugian Operasi Katarak . Kekuatan yang hilang pada sistem optik mata tersebut harus digantikan oleh kacamata afakia yang tebal. keras. sehingga mempermudah penyembuhan luka operasi dan keluhan mata merah tidak lama. dibutuhkan paling  Rehabilitasi visual terhambat. trauma. Tabel 3. kurang bagus. katarak kecuali  Pelatihan lama. lensa kontak yang tipis atau implantasi lensa plastik (IOL) di dalam bola mata.  Peralatan / instrumen mahal. Gambar 6. 5mm). Phaco Sebagian besar Rehabilitasi visual cepat. Metode Indikasi Keuntungan Kerugian ICCE Zonula lemah  Tidak ada resiko  Resiko tinggi kebocoran vitreous katarak sekunder. katarak  Ultrasound dapat mempengaruhi Morgagni dan endotel kornea. (20%). Teknik Fakoemulsifikasi Setelah operasi semua pasien membutuhkan koreksi kekuatan tambahan untuk memfokuskan benda dekat dibandingkan untuk melihat jauh.  IOL di COP. dibutuhkan sedikit. ECCE  Lensa sangat  Peralatan yang  Astigmatisme.  Baik untuk endotel kornea.  IOL di COA atau dijahit di posterior. Akomodasi hilang dengan diangkatnya lensa.  Endotel kornea sedikit.  Peralatan yang  Astigmatisme.  Rehabilitasi visual terhambat.

sehingga diperlukan kontrol post operasi yang teratur. IOL bersifat permanen. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat. Sedangkan pada katarak senilis jika katarak dapat dengan cepat terdeteksi serta mendapatkan pengobatan dan pembedahan katarak yang tepat maka 95 % penderita dapat melihat kembali dengan normal. tidak membutuhkan perawatan dan penanganan khusus dan tidak dirasakan pasien atau diperhatikan orang lain. Setelah dilakukan operasi masih mungkin muncul masalah pada mata. . PROGNOSIS Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak dewasa. IOL adalah sebuah lensa jernih berupa plastik fleksibel yang difiksasi ke dalam mata atau dekat dengan posisi lensa alami yang mengiringi ECCE. Adanya ambliopia dan kadang- kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian penglihatan pada kelompok pasien ini. rubeosis iridis dan glaukoma neovaskuler Tentunya setiap tindakan operasi memiliki resiko. yang paling buruk adalah hilangnya penglihatan secara permanen. retinopati diabetik progresif. Jangka Pendek Jangka Panjang  Infeksi pada mata  Fotosensitif  Perdarahan pada kornea (hifema)  Dislokasi IOL  Edema papil  Kekeruhan pada kapsul lensa  Edema kornea  Ablasio retina  Rupture kapsul lensa  Astigmatisma  Ablasio retina  Glaukoma  Ptosis Tabel 4. Kontraindikasi implantasi IOL antara lain adalah uveitis berulang. Efek Operasi Katarak I. Dengan sebuah IOL kacamata baca dan kacamata untuk melihat dekat biasanya tetap dibutuhkan dan umumnya dibutuhkan kacamata tipis untuk penglihatan jauh. Sebuah IOL dapat menghasilkan pembesaran dan distorsi minimal dengan sedikit kehilangan persepsi dalam atau tajam penglihatan perifer.

Katarak masih merupakan penyebab kebutaan paling banyak di Indonesia. dan fakoemulsifikasi. Terjadinya kekeruhan pada lensa ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain usia. Saat ini dikenal 3 model operasi. yaitu ICCE. ECCE. trauma. Satu-satunya terapi untuk katarak adalah dengan jalan operasi. Patofisiologi terjadinya kekeruhan lensa pada katarak. BAB IV KESIMPULAN Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata. Biasanya para penderita katarak kerap kali mengeluhkan pandangan berkabut seperti tertutup asap atau pandangannya mulai kabur. dan infeksi. yang menghalangi sinar masuk ke dalam mata. obat-obatan. secara garis besar disebabkan oleh perubahan struktur korteks lensa yang mengakibatkan perubahan komponen lensa dan pada akhirnya terjadi kekeruhan lensa. . lingkungan. Katarak yang didiagnosis dan ditangani dengan tepat dan segera akan memberikan prognosis yang lebih baik bagi fungsi penglihatan penderitanya.

dkk. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. DAFTAR PUSTAKA 1. Ocampo VVD. 5.com/eye-health/cataracts/extracapsular- surgery-for-cataracts. Berson.webmd. Cataract Surgery. Epidemiologi Katarak. Ilmu Penyakit Mata. Frank G. Available at: http://www. Daniel G. Jakarta: EGC.. edisi 17. 2007.medscape. American Academy of Ophtalmology. 2006. 2. Vaughan. Available at: http://www. Roy H. 6. Ilyas Sidarta. Sixth Edition. 2014. Oftalmologi Umum. Ilham. Available at: http://emedicine.scribd.com/article/1210914- overview 4. 1993. . edisi ke-5. Basic Ophtalmology for medical students and Primary Care Residents.com/doc/20283414/EPIDEMIOLOGI-KATARAK 3. Senile Cataract.