Bed Site Teaching

Miopia

Oleh :

Feby Rahma Astri 1210313105
Rayhan Abi Mayzan 1210313063
Yolanda Juni Ardi 1310311150
Ihsanul Fikri 1310312084

Preseptor:

dr. Getry Sukmawati, Sp.M (K)

BAGIAN OFTALMOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017

0
BAB 1
ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. R
Umur : 22 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Padang
Tanggal pemeriksaan : 30 Mei 2017

Anamnesa
Telah diperiksa dipoli RSUP M Djamil Padang pada tanggal 30 Mei 2017 seorang
pasien dengan keluhan utama:
 Penglihatan kedua mata dirasakan kabur setiap melihat jauh sejak 11 tahun
yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
 Penglihatan kabur pada kedua mata telah dirasakan sejak 11 tahun yang
lalu.
 Mata merah tidak ada, mata berair tidak ada, kotoran mata berlebih tidak
ada, nyeri tidak ada, gatal tidak ada.
 Keluhan silau dan kilatan cahaya tidak ada
 Riwayat trauma pada mata tidak ada.
 Riwayat operasi pada mata tidak ada.
 Riwayat memakai kacamata ada, sejak 11 tahun lalu kacamata ukuran -1
kanan dan -1 kiri, sejak ± 5 tahun yang lalu ada riwayat mengganti
kacamata ukuran -9 kanan dan -9 kiri.
Riwayat Penyakit Dahulu
 Tidak ada riwayat gangguan penglihatan sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat penyakit keluarga ada, pada Ibu menderita miopi OD S -14, OS S
-16. Adik menderita miopi OD S -3, OS S -2.
Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : sakit ringan
 Kesadaran : kompos mentis kooperatif
 Tekanandarah : 110/70 mmHg
 Nadi : 82x/menit
 Nafas : 19x/menit
 Suhu : 36,70C

1
Status Oftalmikus

Status Opthalmikus OD OS

Visus Tanpa Koreksi 1/60 1/60

Visus dengan koreksi Cc S -9,25 D5/5 Cc S -9,25 D5/5

Refleks Fundus + +
Silia / Supersilia Madarosis (-), Madarosis (-)
Trikiasis (-) Trikiasis (-)

Palpebra Superior Edema (-) Edema (-)
Palpebra Inferior Edema (-) Edema (-)

Margo Palpebra Ektropion (-), Ektropion (-),
entropion (-) entropion (-)
Aparatus Lakrimalis Hiperlakrimasi (-) Hiperlakrimasi (-)

Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konjugtiva Bulbi Injeksi Konjungtiva (-) Injeksi Konjungtiva (-) Injeksi
injeksi siliar (-) siliar (-)
Sklera Putih Putih

Kornea Bening Bening

Kamera Okuli Cukup dalam Cukup dalam
Anterior
Iris Coklat Coklat
Rugae (+) Rugae (+)

Pupil Bulat, Refleks pupil (+/+), Bulat, Refleks pupil (+/+),
Diameter 3-4mm Diameter 3-4mm
Lensa Bening Bening

Tekanan Intraokular Normal (P) Normal (P)

Korpus Vitreum Jernih Jernih

2
Fundus :
Media Bening Bening
Papil Optik Bulat, batas tegas, c/d 0,3
Bulat, batas tegas, c/d 0,3
Retina Perdarahan (-), Perdarahan (-), eksudat (-)
eksudat (-) Aa/vv 2:3
Aa/vv 2:3
Makula Reflek Fovea (+) Reflek Fovea (+)
Posisi Bola Mata Ortho Ortho

Gerakan Bulbus Bebas kesegala arah Bebaskesegalaarah
Okuli

Diagnosis Kerja
- Miopia Tinggi OD S -9.25 OS S -9.25
Terapi
- Kacamata single focus

OD OS
Vitru Vitrum Axis Prisma Vitru Vitrum Axis Prisma Forma Colr
m Cylndr axis m Cylndr axis vitror vitror
Spher Spher
Pro -9.25 -9.25
login
quitat
Pro
domo
Pro
propin
quitat
Pro : Nn. R / 22 tahun
Padang , 30 Mei 2017

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Miopia berasal dari bahasa Yunani yaitu “muopia” yang berarti menutup mata.
Miopia merupakan kelainan refraksi, dimana sinar sejajar yang datang dari jarak
tak terhingga difokuskan di depan retina pada saat mata tidak berakomodasi/
relaksasi.1

A B
(Gambar 1. Ilustrasi Miopia: (A) sinar sejajar yang datang dari jauh pada mata
normal tanpa berakomodasi difokuskan tepat di retina, (B) sinar sejajar yang
datang dari jauh pada mata miopia tanpa berakomodasi difokuskan di depan
retina) 2
2. Klasifikasi Miopia
Miopia dapat diklasifikasikan berdasarkan klinis, derajat tinggi dioptri,
berdasarkan onset munculnya miopi dan berdasarkan perjalanan penyakitnya.
2.1 Klasifikasi Miopia Berdasarkan Klinis 1
Berdasarkan klinisnya, miopia terbagi menjadi lima jenis:
1) Miopia Sederhana
Status refraksi mata dengan miopia sederhana bersandar kepada
kekuatan optik kornea dan lensa kristalina serta panjang aksial. Miopia
sederhana merupakan tipe yang tersering dari seluruh tipe miopia, dan
biasanya kurang dari 6 dioptri 1.
2) Miopia Nokturnal
Miopia nokturnal terjadi hanya dalam pencahayaan yang redup,
disebabkan oleh peningkatan respon akomodasi yang berkaitan dengan
rendahnya level cahaya.
3) Pseudomiopia

4
Pseudomiopia adalah hasil dari peningkatan kekuatan refraksi mata
akibat stimulasi yang berlebihan pada mekanisme akomodasi mata
atau spasme muskulus siliaris. Pasien hanya akan mengalami miopi
akibat respon akomodasi yang tidak seharusnya (inappropriate).
4) Miopia Degeneratif
Miopia degeneratif atau patologis adalah miopi yang disebabkan akibat
perubahan degeneratif pada segmen posterior mata.
5) Induced Myopia
Induced atau Acquired myopia adalah miopia yang disebabkan oleh
paparan agen-agen farmakologi, variasi level gula darah, nuclear
sclerosis pada lensa kristalina, atau kondisi-kondisi tidak normal
lainnya. Miopia ini biasanya bersifat sementara dan reversibel.

2.2 Klasifikasi Miopia Berdasarkan Derajatnya 1
Berdasarkan derajat dioptrinya, miopi terbagi menjadi 3 tingkatan:
1) Miopia Ringan (<3,00 D)
2) Miopia Sedang (3,00 – 6,00 D)
3) Miopia Tinggi (>6,00 D)

2.3 Klasifikasi Miopia Berdasarkan Onsetnya 1
Berdasarkan onset usianya, miopia terbagi menjadi 4:
1) Congenital Myopia: muncul saat lahir dan bertahan selama masa bayi
2) Youth-onset myopia: muncul pada usia <20 tahun
3) Early adult-onset myopia: muncul saat usia 20 - 40 tahun
4) Late adult-onset myopia: muncul saat usia >40 tahun

2.4 Klasifikasi Miopia Berdasarkan Perjalanan Penyakit 1
2.4.1 Miopia stasioner: miopia yang menetap setelah dewasa
2.4.2 Miopia progresif: miopia yang bertambah terus pada usia
dewasa akibat bertambahnya panjang bola mata

5
2.4.3 Miopia maligna: miopia yang berjalan progresif, yang dapat
mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan, biasanya lebih
dari 6 dioptri diserta kelainan pada fundus okuli.

3. Gejala dan Tanda Klinis Miopia
Gejala myopia antara lain :
a. Penglihatan kabur untuk melihat jauh ( short-sightedness)
b. Gejalaa stenofik (mata lelah, rasa sakit disekitar mata, pusing)
mungikin ditemukan pada pasien yang memiliki myopia ringan.
c. Mata memicing biasanya dikeluhkan oleh orang tua yang memiliki
anak dengan miopia.3
Tanda pada pasien dengan myopia antara lain :
a. Bola mata menonjol. Bola mata myopia biasanya lebih besar dan lebih
menonjol dibandingkan bola mata normal.
b. Bilik mata depan biasanya lebih dalam.
c. Pupil yang relative lebih lebar.
d. Fundus biasanya normal.

4. Pemeriksaan Refraksi
Pemeriksaan refraksi dapat dilakukan dengan metode objektif maupun subjektif.
Kombinasi kedua metode adalah pilihan terbaik bila memungkinkan.4,5
4.1. Refraksi objektif
Refraksi objektif dilakukan dengan menggunakan retinoskopi. Dengan
adanya cahaya atau “streak of light/intercept” dari retinoskopi yang
diproyeksikan ke mata pasien untuk menghasilkan suatu reflek retinoskopik pada
pupil. Bila refleks retinoskopi dan interceps sejajar menandakan hanya gangguan
sferis sedangkan bila tidak sejajar menandakan adanya astigmatisme. Kemudian
intercept digoyang dari satu sisi pupil ke sisi lainnya. Bila gerakan searah maka
ditambahkan sferis positif dan bila berlawanan arah sferis negatif hingga
diperoleh point of neutralization atau tidak adanya pergerakan lagi. 4,5

6
Reflek retinoskopi

Pergerakan reflek retinoskopi

4.2. Refraksi Subjektif
Pada pasien yang kooperatif, metode subjektif memberikan hasil yang
lebih akurat bila dibandingkan dengan metode objektif. Pemeriksaan ini dilakukan
dengan trial lens. Selain itu terdapat pula test duokrom, uji silinder silang,uji
pengkabutan pada hiperopia,uji celah stenopik pada astigmatisme, uji
crowdingphenomena pada ambliopia. 4,5

5. Pemeriksaan tajam penglihatan
Pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan fungsi mata.
Gangguan penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab
kelainan mata yang mengakibatkan turunnya tajam penglihatan. Biasanya
pemeriksaan tajam penglihatan ditentukan dengan melihat kemampuan mata
membaca huruf -huruf berbagai ukuran pada jarak baku untuk kartu. Hasilnya
dinyatakan dalam pecahan seperti 20/20 untuk penglihatan normal. Padakeadaan
ini mata dapat melihat huruf jarak 20 kaki yang seharusnya dapat dilhat pada jarak
tersebut.5
Dikenal tajam penglihatan tepi yang dilaksanakan terutama oleh sel batang
yang menempati retina bagian perifer. Tajam penglihatan perifer merupakan

7
kemampuan menangkap adanya benda, gerakan, atau warna obejk di luar garis
langsung penglihatan.5
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan pada mata tanpa atau dengan kaca
mata. Setiap mata diperiksa terpisah dan dimulai dengan memeriksa tajam
penglihatan mata kanan terlebih dahulu. Pemeriksaan tajam penglihatan
menggunakan kartu baku atau standar, contohnya kartu baca Snellen. Pemeriksaan
sebaiknya dilakukan pada jarak 5 atau 6 meter, karena pada jarak ini mata akan
melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi. 5
Dengan karu baca Snellen dapat ditentukan tajam penglihatan atau
kemampuan melihat sesorang seperti; 5
a. Bila tajam penglihatan6/6 maka ia berarti dapat melihat huruf pada jarak 6
meter, yang pada orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.
b. Bila pasien hanya dapat membaca huruf pada baris yang menunjukkan
angka 30 berarti tajam penglihatan pasien tersebut adalah 6/30
c. Bila pasien tidak dapat mengenal huruf pada kartu snellen maka dilakukan
uji hitung jari. Jari dapat dilihat oleh seseorang dengan mata normal pada jarak 60
meter.
d. Dengan pengujian ini tajam penglihatan hanya dapat dinilai hingga 1/60,
yang berarti hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter.
e. Dengan uji lambaian tangan dapat dinyatakan tajam penglihatan yang
lebih buruk dari pada1/60. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada
jarak 1 meter, berarti tajam penglihatannya adalah 1 meter.
f. Terkadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja. Keadaan ini
disebut sebagai tajam penglihatan 1/~. orang normal dapat melihat adanya sinar
pada jarak tak berhingga.
g. Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar maka
dinyatakan penglihatannya dalah 0 (nol) atau buta total.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada orang yang dapat berkomunikasi.Pada
bayi yang belum memiliki penglihatan seperti orang dewasa secara normal dapat
dinilai apakah penglihatannya dapat berkembang seperti normalnya dengan
menilai refleks fiksasi. Bayi normal akan dapat berfiksasi pada usia 6 minggu dan
memiliki kemampuan untuk mengikuti sinar pada usia 2 bulan. Refleks pupil

8
sudah mulai terbentuk sehingga dengan cara ini dapat dinilai keadaan fungsi
penglihatan bayi pada masa perkembangaannya. Untuk mengetahui sama atau
tidaknya ketajaman penglihatan kedua mata dapat dinilai dengan menutup salah
satu mata.5
Bila sesorang diragukan apakah penglihatannya berkurang akibat kelainan
refraksi, maka dilakukan uji pinhole. Bila dengan pinhole penglihatan lebih baik,
maka terdapat kelainan refraksi yang masih dapat diperbaiki dengan kacamata.
Bila penglihatan berkurang dengan menggunakan pinhole berarti terdapat
kelainan organik atau kekeruhan media penglihatan yang mengakibatkan
penglihatan menurun.5

6. Terapi
Koreksi terhadap miopia dapat dilakukan diantaranya dengan :
 Kacamata
Kaca mata masih merupakan metode paling aman untuk memperbaiki
refraksi. Seorang dengan miopia, diberi lensa (S-) yang terkecil, agar tanpa
akomodasi, penderita myopia dapat melihat dengan baik. Hal ini juga
ditujukan terhadap kelainan refraksinya dengan lensa sferis negatif yang
sesuai.4
 Lensa kontak
Lensa kontak yang biasanya digunakan ada 2 jenis yaitu, lensa kontak
keras yang terbuat dari bahan plastic polimetilmetacrilat (PMMA) dan
lensa kontak lunak terbuat dari bermacam-macam plastic hidrogen. Lensa
kontak keras secara spesifik diindikasikan untuk koreksi astigmatisma
ireguler, sedangkan lensa kontak lunak digunakan untuk mengobati
gangguan permukaan kornea.6
Salah satu indikasi penggunaan lensa kontak adalah untuk koreksi myopia
tinggi, dimana lensa ini menghasilkan kualitas bayangan lebih baik dari kaca
mata. Namun komplikasi dari penggunaan lensa kontak dapat mengakibatkan
iritasi kornea, pembentukan pembuluh darah kornea atau melengkungkan
permukaan kornea. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeriksaan berkala pada
pemakai lensa kontak.6
 Bedah keratoretraktif

9
Bedah keratoretraktif mencakup serangkaian metode untuk mengubah
kelengkungan permukaan anterior bola mata diantaranya adalah
keratotomy radial, keratomileusis, keratofakia, epikeratofakia.6
 Lensa intraoculer
Penanaman lensa intraokuler merupakan metode pilihan untk koreksi
kesalahan refraksi pada afakia.6
 Ekstraksi lensa jernih
Ekstraksi lensa bening telah banyak dicobakan oleh ahli bedah di dunia
pada pasien dengan miopia berat karena resiko tindakan yang minimal.6

10
DAFTAR PUSTAKA
1. American Ophtical Association. 2006. Care of the patient with Myopia.
2. American Academy of Ophtalmology, 2011. Clinical Optics. Section 3. San
Francisco: American Academy of Ophtalmology. PP: 103 – 120.
3. Khurana, AK. Comprehensive Ophthalmology, 4th Edition. Chap 3: Optics
and Refraction. India : New Age International. 2009. Hal 19-35
4. Ilyas, HS. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Cetakan I. Balai Penerbit FKUI,
Jakarta. 2005.
5. Ilyas, HS. Dasar-Dasar Pemeriksaan Mata dan Penyakit Mata, Cetakan I.
Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 2003.
6. Riordan-Eva P, Whicher JP. Vaughan & Asbury’s Oftalmologi Umum.Editor :
Susanto D. Ed.17. Jakarta : EGC. 2009.

11