SINDROMA KOMPARTEMEN

Definisi :

Sindroma kompartemen adalah suatu keadaan dimana terjadi akumulasi
cairan yang bertekanan tinggi pada ruangan fascia yang tertutup ( kompartemen )
sehingga mengurang perfusi kapiler dibawah batas kebutuhan untuk viabilitas
jaringan.

Klasifikasi :

1. Sindroma Kompartemen Akut.
Sindroma kompartemen akut merupakan suatu tanda kegawatan medis.
Ditandai dengan pembengkakan dan nyeri yang terjadi dengan cepat. Tekanan
dalam kompartemen yang meningkat dengan cepat dapat menyebabkan
tekanan pada saraf, arteri dan vena sehingga tanpa penanganan yang tepat
akan terjadi paralisis, iskemik jaringan bahkan kematian. Penyebab umum
terjadinya sindroma kompartemen akut adalah fraktur, trauma jaringan lunak,
kerusakan pada arteri dan luka bakar .
2. Sindroma Kompartemen Kronik.
Sindroma kompartemen kronik bukan merupakan suatu kegawatan
medis dan seringkali dikaitkan dengan nyeri ketika aktivitas olahraga.
Ditandai dengan meningkatnya tekanan kompartemen ketika melakukan
aktivitas olahraga saja. Gejala ini dapat hilang dengan hanya menghentikan
aktivitas olahraga tersebut . Penyebab umum sindroma kompartemen kronik
biasa terjadi akibat melakukan aktivitas berulang – ulang, misalnya pelari
jarak jauh, pemain basket, sepak bola dan militer .

Etiologi :

Ada banyak penyebab yang dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal
yang kemudian menyebabkan sindroma kompartemen, akan tetapi ada tiga
mekanisme yang seringkali mendasari terjadinya sindroma kompartemen yaitu
adanya peningkatan akumulasi cairan dalam ruang kompartemen, menyempitnya
ruang kompartemen dan tekanan dari luar yang menghambat pengembangan
volume kompartemen .

1. Peningkatan akumulasi cairan dalam ruangan kompartemen.

Merupakan mekanisme yang paling sering menyebabkan sindroma kompartemen.
Hal ini dapat disebabkan oleh hal – hal dibawah ini :

 Fraktur, terutama fraktur tibia merupakan penyebab yang paling sering
menyababkan peningkatan akumulasi cairan dalam ruangan kompartemen.
 Cedera pada pembuluh darah besar, dapat menyebabkan sindroma
kompartemen melalui tiga mekanisme yaitu :
I. Perdarahan yang masuk ke dalam ruang kompartmen.
II. Sumbatan partial pada pembuluh darah sedang tanpa disertai adanya sirkulasi
kolateral yang adekuat.
III. Pembengkakan post iskemia dan sindroma kompartemen terjadi bila
perbaikan arteri dan sirkulasi tertunda terlebih dari enam jam.
 Olahraga berat, dapat menyebabkan sindroma kompartemen akut dan kronik.
Seringkali dihubungkan nyeri pada kompartemen anterior pada tungkai. Bila
gejala ini timbul maka olahraga tersebut harus segera dihentikan.
 Luka bakar, selain dapat menyebabkan penyempitan ruang kompartemen.
Luka bakar juga dapat meningkatkan akumulasi cairn dalam ruang
kompartemen dengan timbulnya edema yang massif. Maka dekompresi
melalaui escharotomy harus segera dilakukan untuk menghindari tamponade
kompartemen.

Penyebab lain akumulasi cairan adalah perdarahan akibat pemeberian
antikoagulan, infiltrasi cairan dalam ruang kompartemen, gigitan ular dan lain –
lain .

2. Menyempitnya ruang kompartemen.
 Jahitan tertutup pada fascia, seringkali terjadi pada atlit marathon yang
memiliki otot hernia serta kerusakan fascia. Hernia biasanya bilateral dan
berkembang pada sepertiga tungkai bawah pada kompartemen anterior dan
lateral. Selama ini seringkali dilakukan jahitan ketat pada hernia otot yang
mengalami kerusakan fascia. Hal ini mengakibatkan terjadinya pengurangan
volume kompartemen dan meningkatkan tekanan intra kompartemen sehingga
menimbulkan sindroma kompartemen akut. Oleh karena itu terapi utama pada
pelari dengan nyeri pada tungkai dan hernia otot adalah fascial release bukan
fascial closure.
 Luka bakar derajat tiga, luka bakar ini mengurangai ukuran kompartemen dan
menimbulkan jaringan parut pada kulit, jaringan subkutan dan fascia menjadi
satu. Hal ini membutuhkan dekompresi escharotomy segera ( 2 ).

3. Tekanan dari luar.
 Intoksikasi obat, ketidaksadaran akibat penggunaan obat yang overdosis dapat
memicu tidak hanya multiple sindroma kompartemen akan tetapi sindroma
crush bila orang tersebut berbaring dengan tungkai terjepit. Tertekannya
lengan serta tungkai menghasilkan peningkatan tekanan intra kompartemen
lebih dari 50 mmHg.
 Penggunaan gips yang terlalu ketat, hal ini dapat menimbulkan tekanan
eksternal dikarenakan membatasi perkembangan dari kompartemen .

Patofiologi

Ekstremitas atas dan bawah memiliki beberapa kompartemen yang
didalamnya terdapat otot, pembuluh darah dan saraf. Mesing – masing
kompartemen dibungkus oleh jaringan lunak dan tipis yang disebut dengan fascia.
Fascia inilah yang melindungi dan menjaga kompartemen tetap pada tempatnya.
Fascia ini tidak elastis sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk meregang

Sindroma kompartemen diawali dengan beberapa kondisi berupa fraktur,
cedera pembuluh darah, olahraga berlebih, penekanan tungkai dalam waktu yang
lama atau benturan. Keadaan traumatik diatas menyebabkan perdarahan dan
edema pada sebuah kompartemen otot yang tertutupi oleh fascia yang tidak
mampu meregang. Tekanan yang meningkat pada kompartemen menghasilkan
kompartemen tamponade
Jika tekanan tersebut meningkat terus menerus dalam beberapa jam maka
akan terjadi kerusakan fungsi dari jaringan otot dan saraf. Hal ini mengakibatkan
terjadinya keadaan iskemia yang juga menghasikan edema sehingga terjadinya
sebuah lingkaran setan. Selain itu keadaan infark jaringan otot dan cedera saraf
mengakibatkan terjadinya kontraktur Volkmann

Maka dari itu diagnosis yang tepat dan dekompresi melalui fasciotomi
yang menyebabkan peregangan otot dapat berkembangan merupakan hal yang
penting guna mengembalikan sirkulasi dan mencegah keadaan menjadi lebih
parah hingga akhirnya reversible.

Gejala Klinis

Sindroma kompartemen memiliki gejala klinis yang khas yang dikenal
dengan “ 6P’s “ yaitu :

1. Pain.
2. Pallor.
3. Parasthesia.
4. Paresis.
5. Pulse present .
6. Pink color

Meskipun gejala diatas merupakan gejala klinis dari sindroma
kompartemen akan tetapi gejala diatas tidak selalu timbul pada setiap kejadian.
Nyeri dan parasthesia merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada
sindroma kompartemen.

Diagnosis

Diagnosis klinik pada sindroma kompartemen didasarkan pada anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

ANAMNESIS

 Nyeri
Nyeri merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada sindroma
kompartemen. Nyeri yang bertambah dan khususnya meningkat dengan
gerakan pasif yang meregangkan otot yang bersngkutan merupakan salah satu
tanda khas dari “ 6P’s “. Akan tetapi nyeri ini merupakan gejala yang sangat
subjektif karena kemampuan seseorang menahan rasa sakit berbeda – beda.
Selain itu pengurangan fungsi sensoris seringkali mengaburkan rasa nyeri
yang terjadi.
 Perestesi
Parestesi merupakan gejala yang sering ditemukan pada penderita
sindroma kompartemen yang dalam keadaan sadar dan kooperatif. Hal ini
merupakan manifestasi klinis akibat defisit sensorik. Pada awalnya defisit
sensorik mengakibatkan paresthesia akan tetapi lama kelamaan jika
penanganannya tertunda, keadaan ini dapat memicu terjadinya hipesthesia dan
anesthesia .
 Riwayat trauma
Semua trauma ekstremitas potensial untuk menimbulkan terjadinya
sindroma kompartemen. Sejumlah cedera yang mempunyai resiko tinggi yaitu
fraktur tibia dan antebrakhi, balutan kasa atau immobilisasi dengan gips yang
ketat, crush injury pada massa otot yang luas, tekanan setempat yang cukup
lama, peningkatan permeabilitas kapiler dalam kompartemen akibat perfusi
otot yang mengalami iskemia, luka bakar atau latihan berat. Kewaspadaan
yang tinggi sangat penting pada penderita dengan penurunan kesadaran atau
keadaan lain yang tidak dapat merasakan nyeri .

PEMERIKSAAN FISIK

 Inspeksi
Pada inspeksi dapat ditemukan di daerah yang sakit terlihat bengkak, kulit
tampak berwarna pink dan pasien tampak kesakitan.

 Palpasi
Pada palpasi didapatkan beberapa tanda khas dari sindroma kompartemen,
yakitu : pain, pulse present dimana perabaan pulsasi pada daerah distal
biasanya masih bisa teraba, parestesi pada daerah distribusi saraf perifer dan
menurunnya sensasi pada kulit daerah yang terkena, serta tegang dan
bengkak pada daerah yang terkena .

PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Foto Rontgen
Untuk mengetahui apakah terdapat fraktur pada tulang atau tidak yang
berguna untuk mengetahui asal dari rasa nyeri tersebut .

 Arteriografi
Untuk mengetahui ada atau tidak cedera pada arterinya .

 Pengukuran Tekanan Kompartemen
Pengukuran tekanan secara langsung merupakan gold standard untuk
menegakkan diagnosa sindroma kompartemen. Pengukuran tekanan
kompartemen ini dapat dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan setelah latihan
dan tidak semua kompartemen biasanya diuji, tetapi tergantung pada berapa
banyak tempat yang dirasakan sakit oleh pasien.
Normalnya tekanan kompartemen adalah nol. Perfusi yang tidak adekuat
dan iskemia relatif terjadi ketika tekanan meningkat antara 10 – 30 mmHg
dari tekanan diastolik. Tidak ada perfusi yang efektif ketika tekanannya sama
dengan tekanan diastolik. Selama tekanan pada salah satu kompartemen
kurang dari 30 mmHg ( tekanan pengisian kapiler diastolik ), maka tidak perlu
khawatir tentang terjadinya sindroma kompartemen. Tes dianggap positif jika
memiliki tekanan ≥ 15 mmHg sebelum latihan atau ≥ 30 mmHg setelah
latihan selama satu menit atau ≥ 20 mmHg setelah latihan selama 5 menit .

Terapi

Tujuan dari terapi sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi
neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal yang biasanya
dilakukan dengan tindakan bedah dekompresi .
Terapi dari sindrom kompartemen yang sederhana yaitu fasciotomi
kompartemen yang terlibat. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang
terbaik, namun beberapa hal seperti timing masih diperdebatkan. Semua ahli
bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk
melakukan fasciotomi. Waktu adalah inti dari diagnosis dan terapi sindrom
kompartemen. Kerusakan nervus permanen akan mulai terjadi setelah 6 jam
terjadinya hipertensi intrakompartemen. Jika dicurigai adanya sindrom
kompartemen maka pengukuran tekanan dan konsultasi yang diperlukan harus
segera dilakukan secepatnya .

Penanganan Sindrom Kompartemen, meliputi :

 Terapi Medikal / Non Operatif
Terapi ini dipilih apabila masih curiga terhadap adanya sindrom kompartemen
yaitu dengan cara :
 Menempatkan kaki setinggi jantung dengan tujuan untuk mempertahankan
ketinggian kompartemen yang minimal, elevasi dihindari karena dapat
menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia.
 Pada khasus penurunan ukuran kompartemen gips harus di buka dan pembalut
konstriksi dilepas.
 Pada khasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat
perkembangan sindrom kompartemen.
 Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah.
 Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakaian manitol dapat
mengurangi tekanan kompartemen. Manitol mereduksi edema seluler dengan
memproduksi kembali energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang
nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas.
 Menggunakan aspirin atau ibuprofen untuk mengurangi inflamasi .
 Terapi Pembedahan / Operatif
Indikasi untuk dilakukan terapi operatif untuk sindrom kompartemen yaitu
apabila tekanan intrakompartemen > 30 mmHg dan memerlukan tindakan yang
cepat dan segera untuk dilakukan fasciotomi. Tujuan dari melakukan fasciotomi
ini adalah untuk menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot .
Apabila tekanannya < 30 mmHg dapat dilakukan observasi terlebih dahulu
dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam – jam berikutnya, kalau keadaan
tungkai itu membaik evaluasi klinik yang berulang – ulang dilanjutkan hingga
bahaya telah terlewati. Kalau tidak ada perbaikan atau kalau tekanan
kompartemen meningkat maka harus segera dilakukan fasciotomi. Keberhasilan
dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam .
Ada dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal atau insisi
ganda. Tidak ada keuntunganyang utama dari kedua teknik ini. Insisi ganda pada
tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif,
sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko
kerusakan arteri dan vena peroneal. Pada tungkai bawah fasciotomi dapat berarti
membuka keempat kompartemen, kalau perlu dengan mengeksisi satu segmen
fibula. Luka harus dibiarkan terbuka, kalau terdapat nekrosis otot dapat dilakukan
debridemen jika jaringan sehat luka dapat dijahit ( tanpa regangan ) atau
dilakukan pencangkokan kulit .

Komplikasi sindroma kompartemen :

 Kontraktur Volkmann
Merupakan deformitas pada tangan, jari dan pergelangan tangan karena
adanya trauma pada lengan bawah. Kira – kira 1 - 10% dari semua khasus
sindrom kompartemen berkembang menjadi kontraktur volkmann.
Disebabkan oleh iskemia yang biasanya disebabkan oleh peningkatan tekanan
( sindrom kompartemen ). Iskemia berat yang berlangsung selama 6 – 8 jam
dapat menyebabkan kematian otot dan nervus yang kemudian menyebabkan
infark otot dan kematian serat otot, kemudian otot digantikan oleh jaringan
ikat .
 Sindroma Crush
Merupakan suatu keadaan klinis yang disebabkan kerusakan otot yang jika
tidak ditangani akan terjadi kegagalan ginjal dan jantung ( 2 ). Hal ini dapat
terjadi dikarenakan adanya infark otot pada massa di sejumlah kompartemen
akibat gangguan perfusi otot, iskemia dan pelepasan mioglobulin ( 7 ).

Diagnosis banding :
Diagnosis yang paling sering membingungkan dan sangat sulit dibedakan
dengan sindrom kompartemen adalah oklusi arteri dan kerusakan saraf primer
dengan beberapa ciri yang sama ditemukan pada masing – masingnya.

 Claudikasio Intermitten
Merupakan nyeri otot atau kelemahan otot pada tungkai bawah karena
latihan dan berkurang dengan istirahat, biasanya nyeri berhenti 2 – 5 menit
setelah beraktivitas. Hal ini disebabkan oleh adanya oklusi atau obstruksi pada
arteri bagian proksimal yang tidak disertai peningkatan tekanan
intrakompartemen .
 Trombosis Vena Dalam
Merupakan kelainan pembuluh darah vena akibat tersumbatnya vena yang
letaknya dalam sehingga terjadi bendungan. Nyeri lokal secara tiba – tiba
disertai edema, eritem dan homan’s sign merupakan gejala khas penyakit ini.
 Fraktur Stress
Merupakan kelainan tulang yang diakibatkan adanya stress yang kecil dan
berulang – ulang pada daerah tulang yang menopang berat badan. Ditandai
dengan gejala klinis nyeri lokal pada waktu pergerakan serta nyeri tekan
setempat bila beraktivitas, kadang terjadi pembengkakan .
 Sindroma Jepitan Saraf ( Entrapment Neuropathies )
Merupakan gangguan saraf perifer oleh karena keadaan / posisi yang
abnormal atau gangguan vaskularisasi yang menyebabkan iskemia pada saraf

Prognosis :

Sindroma kompartemen akut cenderung memiliki hasil akhir yang jelek,
toleransi otot untuk terjadinya iskemia adalah 4 jam. Kerusakan irreversible
terjadi bila lebih dari 8 jam. Jika diagnosa terlambat dapat menyebabkan trauma
syaraf dan hilangnya fungsi otot. Walaupun fasciotomi dilakukan dengan cepat
dan awal, hampir 20% pasien mengalami defisit motorik dan sensorik yang
persisten.