PEMERINTAH KOTA KEDIRI

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI
NOMOR ......... TAHUN 2011

TENTANG

RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA KEDIRI,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang luas, nyata dan
bertanggungjawab, Pemerintah Daerah harus memberikan pelayanan prima
kepada masyarakat;

b. bahwa sektor usaha di Kota Kediri tambah berkembang dan masyarakat
semakin aktif berperan serta dalam gerak perekonomian dan pembangunan,
sehingga perizinan dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan dan
masyarakat memperoleh akses informasi dan akses partisipasi;
c. bahwa dengan berlakunya Undang–Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka peraturan-peraturan daerah yang
mengatur tentang retribusi perizinan tertentu perlu diganti dengan peraturan
daerah yang baru berdasarkan undang-undang tersebut;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Perizinan
Tertentu.

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-
daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah,
Jawa Barat dan dalam Daerah Istimewa Yogyakarta (Berita Negara Tahun
1950 Nomor 45 );
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran
Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara
Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851);

1

5. Undang–Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara tahun 2008 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4844);
6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
(Lembaran Negara Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4724);
7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);
8. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 5025) ;
9. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 5038);
10. Undang–Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 5049);
11. Undang–Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059);
12. Undang–Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang–undangan (Lembaran Negara Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5234);
13. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1962
tentang Perdagangan Barang-barang dalam Pengawasan (Lembaran
Negara Tahun 1962 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2469);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1962 tentang Perdagangan Barang-
Barang dalam Pengawasan (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor 46,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 2473) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2004 (Lembaran Negara
Tahun 2004 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3638);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4578);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan
dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4593);
17.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik

2

Indonesia Tahun 2007 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3981);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian
dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 5161);
19. Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan
Pengendalian Minuman Beralkohol ;
20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011;
21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penetapan Izin Gangguan Di Daerah;
22. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2010 Tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43/M-
DAG/PER/9/2009 Tentang Ketentuan Pengadaan, Pengedaran, Penjualan,
Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol
23. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Kediri Nomor 1 Tahun 1988
tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kotamadya
Daerah Tingkat II Kediri;
24. Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Pokok-Pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2006 Seri A
Tanggal 19 Desember 2006 Nomor 3/A) sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 10 Tahun 2007 (Lembaran Daerah
Tahun 2007 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 10);
25. Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 5 Tahun 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan
Lembaga Teknis Daerah Kota Kediri (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor
5, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 5);
26. Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Dinas Daerah Kota Kediri (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor
6, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 6).

Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA KEDIRI
dan
WALIKOTA KEDIRI

MEMUTUSKAN :

3

pengendalian dan pengawasan atas kegiatan. Minuman Beralkohol adalah minuman yang mengandung ethanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi. pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang. dana pensiun. pengaturan. perseroan lainnya. Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek retribusi. atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa pun. 6. 8. serta penggunaan sumber daya alam. Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerahdalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pembinaan. atau organisasi lainnya. 3. perkumpulan. 2. Kepala Daerah adalah Walikota Kediri. prasarana. menambahkan bahan lain atau tidak maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan ethanol atau dengan cara pengenceran minuman mengandung ethanol yang berasal dari fermentasi. 7. koperasi. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. kongsi. pengaturan. persekutuan.Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU. 5. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Kediri. pemanfaatan ruang. penggunaan sumber daya alam. sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Daerah adalah Kota Kediri. Retribusi Perizinan Tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi aatau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan. firma. barang. 4 . BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak. 9. Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberiaan izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan. Perseroan Komanditer. barang. prasarana. organisasi massa. organisasi sosial politik. Badan Usaha Milik Negara (BUMN). baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas. 10. penentuan besarnya retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan retribusi kepada Wajib Retribusi serta pengawasan penyetorannya. sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. yayasan. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

26. transportasi petugas survey. Penjualan minuman beralkohol adalah kegiatan usaha menjual minuman beralkohol untuk dikonsumsi. tidak termasuk tempat usaha/kegiatan yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah. dan gangguan. 15. 23. Angkutan Tidak Dalam Trayek adalah kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dalam wilayah Kota Kediri dengan rute yang tidak ditentukan. Izin Insidentil adalah izin angkutan cadangan dari sebuah perusahaan angkutan yang sudah mempunyai trayek tetapi dipergunakan menyimpang dari izin trayek yang dimiliki hanya untuk waktu-waktu tertentu. Pengedaran minuman beralkohol adalah kegiatan usaha menyalurkan minuman beralkohol untuk diperdagangkan di dalam negeri. Izin Gangguan adalah pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau badan di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya. 18. 19. 22. Biaya Transportasi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk biaya pegawai dalam rangka pengendalian dan pengawasan angkutan penumpang umum di jalan. 20. Penjual Langsung minuman beralkohol yang selanjutnya disebut Penjual Langsung adalah perusahaan yang melakukan penjualan minuman beralkohol kepada konsumen akhir untuk diminum langsung di tempat yang telah ditentukan. Trayek adalah adalah lintasan Kendaraan Bermotor Umum untuk pelayanan jasa angkutan. baik berjadwal maupun tidak berjadwal. 17. 12. 14. Pengecer minuman beralkohol yang selanjutnya disebut Pengecer adalah perusahaan yang melakukan penjualan minuman beralkohol kepada konsumen akhir dalam bentuk kemasan di tempat yang telah ditentukan. Gangguan adalah segala perbuatan dan/atau kondisi yang tidak menyenangkan atau mengganggu kesehatan. serta perlengkapan survey. ketenteraman dan/atau kesejahteraan terhadap kepentingan umum secara terus-menerus. kerugian. 24. Izin tempat penjualan minuman beralkohol adalah izin yang diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk melakukan penjualan minuman beralkohol di suatu tempat tertentu. 21. keselamatan. 25.11. 5 . Izin trayek adalah izin yang diberikan untuk menyediakan pelayanan angkutan penumpang umum pada suatu atau beberapa trayek tertentu. Angkutan Insidentil adalah angkutan yang hanya diberikan kepada perusahaan angkutan yang telah memiliki izin trayek untuk menggunakan kendaraan bermotor cadangannya menyimpang dari izin trayek yang dimiliki. 13. Angkutan Dalam Trayek adalah angkutan orang dengan kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran baik langsung maupun tidak langsung dalam trayek yang ditentukan. Angkutan adalah perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ketempat lain dengan menggunakan Kendaraan di ruang lalu lintas jalan. serta lintasan tetap. yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap. Komponen Biaya Survey adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pelaksanaan survey yang meliputi biaya ATK. 16.

Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Berakohol. Retribusi Izin Gangguan. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan. c. Subjek. 30. Pasal 4 6 . 33. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. Surat Setoran Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SSRD adalah bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik adalah Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Kota Kediri yang diberi tugas dan wewenang khusus untuk melaksanakan penyidikan atas pelanggaran terhadap peraturan daerah. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang. Retribusi Izin Trayek.27. 29. 32. termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu. Objek. dan Wajib Retribusi Pasal 3 Dengan nama Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol dipungut retribusi atas pelayanan pemberian izin untuk melakukan penjualan minuman beralkohol di suatu tempat tertentu. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak terutang. 28. 31. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup Retribusi Perizinan Tertentu yang dimuat dalam Peraturan Daerah ini meliputi : a. b. BAB III RETRIBUSI IZIN TEMPAT PENJUALAN MINUMAN BERAKOHOL Bagian Kesatu Nama. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menurut peraturan perundang- undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi.

(2) Wajib Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol adalah orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi. pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha secara terus menerus di lapangan. Pasal 5 (1) Subjek Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh izin Tempat penjualan minuman beralkohol dari Pemerintah Daerah. pengawasan dan dampak negatif dari pemberian izin tersebut. penegakan hukum. (2) Biaya penyelenggaraan pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penerbitan dokumen izin. Bagian Ketiga Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Pasal 7 (1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin tempat penjualan minuman beralkohol.(1) Objek Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol adalah pemberian izin untuk melakukan penjualan minuman beralkohol di suatu tempat tertentu. Bagian Keempat Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 8 Struktur dan besarnya tarif retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Bagian Kedua Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 6 Tingkat penggunaan jasa izin tempat penjualan minuman beralkohol diukur dengan rumus yang didasarkan atas pengendalian. rumah sakit atau lokasi lainnya yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. sekolah. 7 . (2) Tempat untuk melakukan penjualan minuman beralkohol dilarang berdekatan dengan tempat peribadatan. termasuk pemungut atau pemotong Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol. dan penatausahaan dan biaya dampak negatif dari pemberian izin tersebut.

Ancaman akibat bahaya kebakaran. Pasal 10 Saat retribusi terutang terjadi dalam masa retribusi sejak diterbitkan SKRD. (4) Gangguan terhadap ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi ancaman terhadap: a. g. sosial kemasyarakatan. penurunan nilai ekonomi benda tetap dan benda bergerak yang berada di sekitar lokasi usaha. dan c. d. udara dan gangguan yang bersumber dari getaran dan/atau kebisingan. Gangguan Suara. meliputi : a. b. e. dan/atau b. Gangguan Air Buangan / Limbah. Bagian Kelima Masa Retribusi dan Saat Retribusi Terutang Pasal 9 Masa retribusi adalah jangka waktu untuk memanfaatkan izin minuman beralkohol yang lamanya 3 (tiga) tahun kalender. b. (3) Gangguan terhadap sosial kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi terjadinya ancaman kemerosotan moral dan/atau ketertiban umum. Gangguan Kotoran. f. Gangguan Bau. air tanah. Pasal 12 (1) Jenis dan macam gangguan berdasarkan kriteria gangguan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1). penurunan produksi usaha masyarakat sekitar. laut. sungai. ekonomi. Ancaman terhadap keresahan sosial. BAB IV RETRIBUSI IZIN GANGGUAN Bagian Kesatu Kriteria Gangguan Pasal 11 (1) Kriteria gangguan dalam penetapan izin gangguan terdiri dari: a. (2) Gangguan terhadap lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi gangguan terhadap fungsi tanah. lingkungan. 8 . Gangguan Asap. c.

g. bagi tetangga yang tidak bersedia memberikan persetujuan tanpa alasan yang jelas Kepala Daerah dapat mengambil kebijaksanaan tertentu. Melampirkan Dokumen Lingkungan. ketersediaan sarana dan prasarana teknis yang diperlukan dalam menjalankan usaha. (2) Formulir permohonan izin gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit memuat: a. c. Mengisi formulir permohonan izin gangguan. lokasi kegiatan. h. b. h. Bagian Kedua Persyaratan Izin Gangguan Pasal 13 (1) Persyaratan Izin Gangguan meliputi: a. Ancaman terhadap moral. nomor telepon perusahaan. 9 . i. nama perusahaan. nama penanggung jawab usaha/kegiatan. dan e. b. c. d. Pasal 14 (1) SKPD yang berwenang memproses izin gangguan wajib mencantumkan biaya secara jelas. dan i. (2) Ketentuan mengenai jenis dan macam gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Kepala Daerah. f. alamat perusahaan. Melampirkan Surat persetujuan tetangga dan atau masyarakat yang berdekatan atau foto copy hasil kesepakatan bersama antara pengusaha dengan masyarakat. Melampirkan fotokopi KTP ( Kartu Tanda Penduduk ) pemohon bagi usaha perorangan atau akta pendirian usaha bagi yang berbadan hukum. (2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dicantumkan dalam lampiran keputusan tentang pemberian izin gangguan. d. (3) Setiap penerimaan biaya izin gangguan yang dibayar oleh pemohon izin gangguan wajib disertai bukti pembayaran. e. bidang usaha/kegiatan. wakil perusahaan yang dapat dihubungi. pernyataan permohonan izin gangguan tentang kesanggupan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Melampirkan fotokopi status kepemilikan tanah. pasti dan terbuka. Ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia.

tidak termasuk tempat usaha yang lokasinya telah ditunjuk oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah. atau kesehatan umum. Pasal 18 (1) Objek Retribusi Izin Gangguan adalah pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau Badan yang dapat menimbulkan ancaman bahaya. termasuk pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha secara terus-menerus untuk mencegah terjadinya gangguan ketertiban. kerugian dan gangguan. Perubahan. dan/atau d. (2) Dalam rangka monitoring dan evaluasi. Bagian Keempat Nama. Pemerintah Daerah dapat mencabut Izin Usaha. yaitu: 10 . penambahan kapasitas usaha. kerugian dan/atau gangguan. perubahan sarana usaha. (2) Tidak termasuk objek Retribusi Izin Gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dipenuhi oleh SKPD. perubahan waktu atau durasi operasi usaha. perluasan lahan dan bangunan usaha. dan Pencabutan Izin Pasal 15 (1) Izin Gangguan berlaku selama perusahaan melakukan usahanya. setiap pelaku usaha yang telah memiliki izin. Objek. Pasal 16 (1) Setiap pelaku usaha wajib mengajukan permohonan perubahan izin dalam hal melakukan perubahan yang berdampak pada peningkatan gangguan dari sebelumnya sebagai akibat dari: a. keselamatan. Bagian Ketiga Masa Berlaku. dan memenuhi norma keselamatan dan kesehatan kerja. memelihara ketertiban lingkungan. b. Subjek dan Wajib Retribusi Izin Gangguan Pasal 17 Dengan nama Retribusi Izin Gangguan dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pemberian izin gangguan tempat usaha kepada orang pribadi atau badan di lokasi tertentu yang menimbulkan bahaya. wajib melakukan her-registrasi setiap 3 ( tiga ) tahun sekali.(4) Jangka waktu penyelesaian pelayanan izin gangguan ditetapkan paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya berkas permohonan dengan lengkap dan benar. (2) Dalam hal kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dipenuhi oleh pelaku usaha. c. permohonan izin gangguan dianggap disetujui.

Kawasan Berikat. b. b. dan Kawasan Ekonomi Khusus. dan biaya dampak negatif dari pemberian izin gangguan gangguan. (2) Luas ruang tempat usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah luas bangunan yang dihitung sebagai jumlah luas setiap lantai dan luas sarana pendukung. Gangguan sangat tinggi dengan Indeks 5. Gangguan sangat rendah Indeks 1. luas ruang tempat usaha dan indeks lokasi/indeks gangguan. Bagian Kelima Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 20 (1) Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan perkalian antara jenis usaha. (2) Wajib Retribusi Izin Gangguan adalah orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi. Bagian Keenam Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Pasal 21 (1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi Izin Gangguan didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin gangguan. pengawasan dilapangan. penatausahaan. usaha mikro dan kecil yang kegiatan usahanya di dalam bangunan atau persil yang dampak kegiatan usahanya tidak keluar dari bangunan atau persil. Pasal 19 (1) Subjek Retribusi Izin Gangguan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh izin gangguan dari Pemerintah Daerah. (3) Penentuan Indeks gangguan didasarkan pada besar kecilnya gangguan dengan klasifikasi sebagai berikut: a. kegiatan yang berada di dalam bangunan atau lingkungan yang telah memiliki izin gangguan. penegakan hukum. Gangguan tinggi dengan Indeks 4. Bagian Ketujuh 11 . c. Gangguan sedang dengan Indeks 3. kegiatan yang berlokasi di dalam Kawasan Industri. (4) Indeks lokasi/indeks gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Lampiran II yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. d. termasuk pemungut atau pemotong Retribusi Izin Gangguan. (2) Biaya penyelenggaraan pemberian izin gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penerbitan dokumen izin gangguan. e. a. dan c. Gangguan rendah dengan Indeks 2.

Objek. izin angkutan tidak dalam trayek (operasi). Luas Ruang Tempat Usaha b. Bagian Kedelapan Masa Retribusi Pasal 24 Masa retribusi adalah selama perusahaan melakukan usahanya Pasal. Jenis Usaha c. Pasal 23 Perhitungan besaran Retribusi yang terutang adalah dengan mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dengan tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. Subjek dan Wajib Retribusi Pasal 26 Dengan nama Retribusi Izin Trayek dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pemberian izin trayek kepada orang pribadi atau badan untuk menyediakan pelayanan angkutan baik angkutan dalam trayek maupun angkutan tidak dalam trayek serta angkutan insidentil dalam wilayah daerah. Angkutan dalam trayek meliputi angkutan kota. (2) Angkutan dalam trayek. Indeks Lingkungan / Indeks Gangguan. (3) Tarif atas her regristasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) adalah sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Struktur dan besarnya tarif retribusi izin gangguan ditetapkan dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pasal 27 (1) Objek retribusi adalah pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan untuk menyediakan pelayanan penumpang umum pada suatu atau beberapa trayek tertentu. BAB V RETRIBUSI IZIN TRAYEK Bagian Kesatu Nama. 25 Saat Retribusi terutang terjadi pada saat diterbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. 12 . dan izin insidentil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu : a. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 22 (1) Struktur dan besarnya tarif retribusi izin gangguan ditentukan oleh : a.

Angkutan tidak dalam trayek terdiri dari: angkutan taksi. Bagian Keempat Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 31 Struktur dan besarnya tarif retribusi Izin Trayek sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. penegakan hukum. termasuk pemungut atau pemotong retribusi pengujian kendaraan bermotor. (2) Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang- undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi.dan biaya dampak negatif dari pemberian izin. penatausahaan. Bagian Ketiga Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Pasal 30 (1) Prinsip dalam penerapan tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin trayek. (2) Biaya penyelenggaraan pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penerbitan dokumen izin. Angkutan insidentil terdiri dari angkutan cadangan yang menyimpang dari izin trayek yang dimiliki. angkutan pariwisata dan angkutan lingkungan. Pasal 28 (1) Subjek Retribusi adalah orang atau badan yang mendapatkan izin trayek dari pemerintah daerah. Bagian Kelima Masa Retribusi dan Saat Retribusi Terutang Pasal 32 Masa retribusi izin trayek adalah jangka waktu yang lamanya 5 (lima) tahun. Bagian Kedua Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 29 Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jumlah tempat duduk dan jenis angkutan dalam trayek. pengawasan di lapangan. angkutan tidak dalam trayek dan angkutan insidentil yang digunakan. b. c. BAB VI 13 . angkutan sewa.

14 . dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD. Bagian Kedua Saat Retribusi Terutang Pasal 34 Retribusi terutang terjadi pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. (2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa karcis. (5) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan pemungutan Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. (2) Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Daerah. (4) Penagihan Retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didahului dengan Surat Teguran. Bagian Kelima Keberatan Pasal 37 (1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas penerbitan SKRD atau dokumen yang dipersamakan. Bagian Ketiga Tata Cara Pemungutan Pasal 35 (1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. (2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. (3) Dalam hal Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar. Bagian Keempat Pemanfaatan Pasal 36 (1) Pemanfaatan dari penerimaan masing-masing jenis Retribusi diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan yang bersangkutan. kupon. dan kartu langganan. PEMUNGUTAN RETRIBUSI Bagian Kesatu Wilayah Pemungutan Pasal 33 Wilayah pemungutan Retribusi Perizinan Tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 di wilayah Kota Kediri.

maka kelebihan pembayaran retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan untuk paling lama 12 (dua belas) bulan. (4) Keadaan diluar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah suatu keadaan yang terjadi diluar kehendak atau kekuasaan Wajib Retribusi. menolak. Pasal 39 (1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Pasal 38 (1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan. (5) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan penagihan retribusi. (2) Dalam hal pembayaran dilakukan ditempat lain yang ditunjuk. (4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberi suatu keputusan. (3) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian.(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Retribusi. atau menambah besarnya retribusi yang terutang. maka keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. 15 . Pasal 41 (1) Pembayaran retribusi harus dilakukan secara tunai / lunas. BAB VII PEMBAYARAN RETRIBUSI Pasal 40 (1) Pembayaran retribusi dilakukan di kas umum daerah atau ditempat lain yang ditunjuk sesuai waktu yang ditentukan dengan menggunakan SKRD. (2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKRDLB. kecuali jika Wajib Retribusi dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya. maka hasil penerimaan retribusi harus disetor secara bruto ke kas umum daerah selambat-lambatnya 1 X 24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Kepala Daerah. bahwa keberatan yang diajukan harus diberi keputusan oleh Kepala Daerah.

(2) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterima permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan.(2) Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk dapat memberi izin kepada Wajib Retribusi untuk mengangsur retribusi terutang dalam jangka waktu tertentu dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. (5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB. (4) Apabila Wajib Retribusi mempunyai utang retribusi lainnya. (2) Pemberian keringanan atau pengurangan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi. PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI DAN PEMBATALAN KETETAPAN RETRIBUSI Pasal 44 16 . permohonan pengembalian kelebihan retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. (6) Jika pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan. pengurangan dan/atau pembebasan retribusi. PENGURANGAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 43 (1) Kepala Daerah dapat memberikan keringanan. (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Kepala Daerah tidak memberikan suatu keputusan. (3) Ketentuan mengenai tata cara pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. BAB X PEMBETULAN. BAB VIII PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 42 (1) Atas kelebihan pembayaran retribusi. (7) Ketentuan mengenai tata cara pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. maka kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut. BAB IX KERINGANAN. Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi kepada Kepala Daerah. maka Kepala Daerah memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran retribusi.

atau b. (4) Pengakuan utang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah Wajib Retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang retribusi dan belum melunasinya kepada pemerintah daerah. BAB XI KEDALUARSA PENAGIHAN RETRIBUSI Pasal 45 (1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi menjadi kedaluwarsa setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi. (5) Pengakuan utang retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh Wajib Retribusi. Pengurangan. ada pengakuan utang retribusi dari Wajib retribusi. kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya surat teguran tersebut. diterbitkan surat teguran .(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pembetulan SKRD dan STRD yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis. (4) Permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kesalahan hitung dan/atau kekeliruan dalam penerapan peraturan perundang-undangan retribusi daerah. (5) Keputusan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik langsung maupun tidak langsung. maka permohonan pembetulan. pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dan pembatalan ketetapan retribusi dianggap dikabulkan. ayat (2). atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan pembatalan ketetapan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan ayat (3). dikeluarkan oleh Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan diterima. harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Retribusi kepada Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk paling lama 30 ( tiga puluh ) hari sejak tanggal diterima SKRD dan STRD dengan memberikan alasan yang jelas dan meyakinkan untuk mendukung permohonannya. Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk tidak memberikan Keputusan. (2) Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga dan kenaikan retribusi yang terutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Retribusi atau bukan karena kesalahannya. (6) Apabila setelah lewat 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). (2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh jika : a. kecuali jika Wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi. (3) Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan retribusi yang tidak benar. (3) Dalam hal diterbitkan surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. Pasal 46 17 .

(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan. (2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. memberikan keterangan yang diperlukan. dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek retribusi yang terutang. BAB XIII INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 48 (1) Instansi yang melaksanakan pemungutan Retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. (2) Wajib retribusi yang diperiksa wajib : a. b. (3) Ketentuan mengenai tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. masyarakat berhak mendapatkan akses informasi dan akses partisipasi. (2) Akses informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 18 . dan/atau c. BAB XII PEMERIKSAAN Pasal 47 (1) Kepala Daerah berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan retribusi. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan. BAB XIV PERAN MASYARAKAT Pasal 49 (1) Dalam setiap tahapan dan waktu penyelenggaraan perizinan dalam ruang lingkup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (3) Ketentuan mengenai tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. (2) Kepala Daerah menetapkan keputusan penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kebutuhan daerah yang melalui: a. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 51 (1) Pengawasan dilaksanakan terhadap proses pemberian izin dan pelaksanaan izin. pendidikan. penelitian. (3) Pengawasan terhadap pelaksanaan izin dilakukan oleh SKPD yang berwenang memproses izin. b. pegembangan. konsultasi. BAB XV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu Pembinaan Pasal 50 (1) Pemerintah Daerah berkewajiban melakukan pembinaan termasuk meliputi pengembangan sistem. koordinasi secara berkala. a. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pelayanan izin. dan b. (3) Akses partisipasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengajuan pengaduan atas keberatan atau pelanggaran izin dan/atau kerugian akibat kegiatan dan/atau usaha. dan d. c. pelatihan. supervisi. sumber daya manusia. (5) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya diterima jika berdasarkan pada fakta atas ada atau tidaknya gangguan yang ditimbulkan kegiatan usaha. BAB XVI PENYIDIKAN Pasal 52 19 . rencana kegiatan dan/atau usaha dan perkiraan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. pemberian bimbingan. pemagangan. teknologi. (6) Ketentuan pengajuan atas keberatan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. tahapan dan waktu dalam proses pengambilan keputusan pemberian izin. (4) Pemberian akses partisipasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan mulai dari proses pemberian perizinan atau setelah izin dikeluarkan. perencanaan. (2) Pengawasan terhadap proses pemberian izin secara fungsional dilakukan oleh SKPD yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengawasan. dan jaringan kerja.

mencari. dan dokumen lain. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. dan/atau dokumen yang dibawa. h. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan. pencatatan. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang. BAB XVII KETENTUAN PIDANA Pasal 53 (1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga mengakibatkan kerugian keuangan daerah dapat diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar. meneliti. (3) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. 20 .(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi. menerima. i. g. dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi. serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut. mencari. sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. benda. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. menghentikan penyidikan. f. catatan. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. dan/atau k. e. memeriksa buku. dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi. c. j. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. d. mengumpulkan. b.

Pasal 57 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2012. retribusi atas jenis-jenis Retribusi Perizinan Tertentu yang masih terutang sepanjang tidak diatur dalam Peraturan Daerah ini masih dapat ditagih selama jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutang. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 8 Tahun 2000 tentang Retribusi Izin Gangguan (Lembaran Daerah Kota Kediri Tahun 2000 Seri B pada tanggal 18 November 2000 Nomor 3/B). memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Kediri. Pasal 56 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku.(2) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan daerah yang harus disetor ke kas umum daerah. . maka semua peraturan pelaksanaan dari Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55. 21 . Agar setiap orang mengetahuinya. b. dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. BAB XIX KETENTUAN PENUTUP Pasal 55 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku. maka : a. Ditetapkan di Kediri pada tanggal WALIKOTA KEDIRI. BAB XVIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 54 Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku. Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 13 Tahun 2009 tentang Retribusi Izin Trayek (Lembaran Daerah Kota Kediri Tahun 2009 Nomor 13. Tambahan Lembaran Nomor 13) .

SAMSUL ASHAR 22 .H.

penerimaan retribusi diharapkan mampu meningkatkan peranannya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk menuju kemandirian finansial dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah. PENJELASAN ATAS RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU I. Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan umum. Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. pemanfaatan ruang. dan 3. Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut. Kriteria Retribusi Perizinan tertentu adalah : 1. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah. pengendalian dan pengawasan atas kegiatan. tiap-tiap daerah mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. pengaturan. Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka asas desentralisasi. sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pembinaan. UMUM Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan. sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. 23 . Dengan pengaturan Retribusi Daerah yang baru sesuai dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 diharapkan ada peningkatan penerimaan hasil retribusi yang diikuti dengan peningkatan pelayanan yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Biaya yang menjadi beban Daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari Retribusi perizinan. daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat berupa Pajak dan Retribusi. Sehingga dalam menetapkan tarif Retribusi Perizinan Tertentu. Oleh karena itu. prasarana. serta penggunaan sumber daya alam. yaitu Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Berakohol. Khusus untuk Retribusi Perizinan Tertentu di wilayah Kota Kediri ada penambahan satu obyek retribusi baru. daerah dilarang memungut Retribusi selain yang tercantum dalam Undang–Undang tersebut. Sehingga pada akhirnya. barang. 2. Bahwa dengan diberlakukannya Undang–Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dengan tetap memperhatikan kemampuan masyarakat. dengan maksud untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

24 . Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas.II. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas.

Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. 25 . Pasal 41 Cukup jelas.Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas.

Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 54 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. 26 .Pasal 42 Cukup jelas.

.- 4 Swalayan dan Toko Modern 20.000. Bar.000.000.000.000.000.- 4 Swalayan dan Toko Modern 10...000.. 15.- III Minuman Beralkohol Golongan C Hotel Berbintang 3.000. 20.000.000.000. Karaoke dan Kafe yang menyatu dengan Kawasan Hotel tersebut. LAMPIRAN I PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR : TAHUN 2011 TANGGAL : ------------------------------------------------- STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI IZIN TEMPAT PENJUALAN MINUMAN BERAKOHOL NO JENIS PELAYANAN TARIF IZIN BARU TARIF IZIN HER (Rp) (Rp) I.- Kencana dan Talam Selaka 3 Bar termasuk Pub dan Klab Malam 20. 10.000.. 25. 20.000.000.- serta Diskotik.000.000.000. 4 dan 5 50.000.000.000. 5. 2 Restoran dengan Tanda Talam 25.- 5 Toko dan Penjual Jamu 500.000.000.000.000.. Karaoke dan Kafe yang menyatu dengan Kawasan Hotel tersebut.. Minuman Beralkohol Golongan A 1 Hotel Melati dan Hotel Berbintang 30. 20.000.- serta Diskotik.000.000. 200.- II Minuman Beralkohol Golongan B 1 Hotel Melati dan Hotel Berbintang 40.000.000.- Catatan: tarif ini berasal dari Perda Kota Blitar yang sudah dievaluasi Gubernur WALIKOTA KEDIRI.000. SAMSUL ASHAR 27 .000.000..000. Bar.000. 2 Restoran dengan Tanda Talam 35.000.000..000. 15.000. 30. H..- Kencana dan Talam Selaka 3 Bar termasuk Pub dan Klab Malam 25.

Bilyard 3 3 1 5 * 3 3 .Toko Elektronik 1 3 2 2 2 2 2 . Mobil Pengangkut Barang 1 3 4 * * 3 5 . Rumah makan 2 2 1 2 4 3 2 .Wartel/Warnet.lain usaha sejenis √ √ √ √ √ √ √ III PARIWISATA .Industri Rumah Tangga 1 2 2 2 3 4 2 II PERDAGANGAN . SPBE. Loundry dan sejenisnya . MPU.lain – lain usaha sejenis √ √ √ √ √ √ √ 28 . Rumah Bersalin .Toko Makanan Ternak 1 2 2 4 5 5 2 .Karaoke 3 3 1 5 * 3 2 . Poliklinik.Garasi.Hotel.Bengkel Kendaraan Bermotor. Penjualan Elpiji dan sejenisnya 2 2 2 3 4 * 2 . LAMPIRAN II PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR : TAHUN 2011 TANGGAL : ---------------------------------------------------- INDEKS GANGGUAN BERDASARKAN JENIS USAHA DAN LOKASI KEGIATAN LOKASI KEGIATAN P P I E P P P P E P N R A E E E R E D D R R M N K R No.Toko Tekstil dan Sandang 1 2 2 2 2 1 2 .Tempat Pertunjukan dan Mainan Anak.Toko Bahan Bangunan 2 2 3 3 4 5 2 . BKIA.Motel. Apotik 1 3 2 2 1 1 2 .Toko Bahan Kimia 1 3 4 5 2 4 2 .Laboratorium Medis.Toko Swalayan/ Toko Modern/ Pusat 2 3 3 4 2 2 2 Perbelanjaan . VCD 2 1 1 3 4 4 2 .Diskotek 3 5 4 * * * 4 .Gudang 1 3 4 5 5 5 2 . Cuci 1 3 2 3 4 3 2 kendaraan.Toko dan Persewaan Kaset Video.SPBU.Toko Onderdil Kendaraan Bermotor 1 2 2 3 3 3 2 .Industri Besar 1 2 * * * * 5 .Per-Bank-an .Toko Buku dan Alat Tulis 1 2 2 2 2 1 3 .Losmen.Industri Sedang 1 2 3 3 * * 4 . JENIS USAHA U A I U U D A T S G W M K I N A T A I A I D T N R N S H M I O I I G A A A K R A A T N N A A N N A / N N (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) I.Toko Kelontong 1 1 1 1 1 3 2 .Menara Bergenset Telekomunikasi 2 3 4 5 5 5 5 .Toko Serba Ada 2 1 1 1 2 3 2 .Las.Panti Pijat.anak 2 3 1 2 3 5 1 . Biro Perjalanan 1 1 1 1 1 1 2 .Toko Obat. Spa dan sejenisnya 3 3 1 5 * 3 2 .Kolam renang 2 5 1 1 2 5 1 . INDUSTRI .Industri Kecil 1 2 2 3 3 3 3 . Rumah 2 3 2 2 2 2 2 Sakit.Restoran. Perkantoran 2 2 2 3 2 2 2 .lain .kos-kosan dan sejenisnya 2 3 1 3 2 3 2 .lain – lain usaha sejenis √ √ √ √ √ √ √ IV JASA .

SAMSUL ASHAR 1 . V. Jenis usaha yang belum tercantum dalam lampiran ini akan ditentukan oleh Tim Pertimbangan Perizinan Izin Gangguan dan seterusnya akan diatur lebih lanjut oleh Peraturan Walikota. PETERNAKAN . WALIKOTA KEDIRI. H. Lokasi Kegiatan didasarkan pada pengaturan peruntukan lokasi dalam RTRW Kota Kediri dan pertimbangan Tim Pertimbangan Perizinan Izin Gangguan .Rumah Pemotongan Hewan 1 * 5 5 * * 2 .lain – lain usaha sejenis √ √ √ √ √ √ √ * = Tidak Diizinkan √ = Ditetapkan kemudian/ditetapkan Tim Pertimbangan Perizinan Izin Gangguan .Ternak Babi * * * * * * 5 .Ternak Ayam 1 * 5 5 * * 2 .Ternak Sapi Perah 1 * 3 5 * * 2 .

00 ≤ 500 m 2 2 Rp. Bilyard. Panti Pijat. Diskotek. Penjualan 2 Rp. Hotel.800. dan lain-lain 101 m s/d 500 m 2 Rp.00 ≤ 50 m 2 2 Rp. 2. 2 Rp.400.00 101 m s/d 500 m 2 Rp.100. 1.000 m V.00 1001 m s/d 2. INDUSTRI RUMAH TANGGA (HOME INDUSTRY) 2 Rp. Toko Bahan Kimia.000.00 Ada dan Usaha lain sejenisnya 51 m s/d 100 m 2 2 Rp.00 > 2.800. 900. 2. 2.000 m 2 2 Rp. Toko Kelontong. 1. 1.200.600. 1.500.500. 1. Toko dan Persewaan 2 Rp.100.000. 900. Rumah makan. SPBU. INDUSTRI BESAR 2 Rp. 800.500. 1. 1.00 > 500 m IX.00 usaha sejenisnya > 500 m VII.00 ≤ 50 m 2 2 Rp.00 > 1.00 501 m s/d 1. Toko Buku dan Alat Tulis. 1.00 ≤ 100 m 2 2 Rp.200.00 > 500 m VIII. 1.200.00 Permainan dan Usaha lain sejenisnya 51 m s/d 100 m 2 2 Rp. INDUSTRI KECIL 2 Rp.00 > 500 m VI.000 m 2 Rp.000 m 2 Rp.00 Kaset dan Video dan Usaha lain sejenisnya 51 m s/d 100 m 2 2 Rp. Apotik dan Toko Obat. 1.00 ≤ 50 m 2 2 Rp. Toko Onderdil Kendaraan Bermotor. 2.00 > 2. 400. 1.00 ≤ 50 m 2 2 Rp.00 > 500 m X.000.00 501 m s/d 1.500.000 m 2 2 Rp.100.000 m 2 Rp. 600. 900.000. 2.000 m 2 2 Rp.500.200.00 ≤ 50 m 2 2 Rp. LAMPIRAN III PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR : TAHUN 2011 TANGGAL : ------------------------------------------------- STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI IZIN GANGGUAN No. 1. 1.300. 700. Toko Makanan Ternak. 800.00 1001 m s/d 2.000 m III. 2.900.000 m II.00 > 2. Kolam Renang. 1. INDUSTRI SEDANG 2 Rp. Toko Elektronik. Pusat Perbelanjaan.500. dan lain-lain 51 m s/d 100 m 2 2 Rp. Tempat Pertunjukan dan 2 Rp.000.300.00 Elpiji. Toko Bahan Bangunan.000. Karaoke. SPPBE. 1.00 501 m s/d 1. Toko Serba 2 Rp. 1. 900. 1.00 ≤ 500 m 2 2 Rp.00 usaha sejenisnya 101 m s/d 500 m 2 Rp.00 ≤ 50 m 2 2 Rp. 1.00 101 m s/d 500 m 2 2 Rp. Toko 51 m s/d 100 m 2 2 Rp.000 m 2 Rp.300.000 m IV.00 101 m s/d 500 m 2 Rp. 1. 1.400. 3.300.000.100.00 ≤ 500 m 2 2 Rp. JENIS USAHA LUAS TARIF PER M 2 (1) (2) (3) (4 I.00 501 m s/d 1.00 Supermarket/Toko Modern. 1. 1.00 101 m s/d 500 m 2 Rp.00 Tekstil dan Sandang.00 usaha Sejenisnya 51 m s/d 100 m 2 2 Rp.00 > 500 m 2 .00 101 m s/d 500 m 2 Rp. lesehan. Spa dan lain-lain 2 Rp.00 1001 m s/d 2. 1. 1. restoran.

00 > 500 m 2. 51 m s/d 100 m 2 2 101 m s/d 500 m 3. Loundry .00 ≤ 100 m 2 2 Rp.000 m 2 Rp. Ternak Babi. usaha lain sejenisnya 101 m s/d 500 m 2 2 Rp.00 ≤ 50 m 2 2 Rp. 1. 2 Rp.00 Gudang.00 ≤ 500 m 2 2 Rp.00 XV.600.00 > 100 m 1. Bengkel Kendaraan Bermotor.100. 1.dan Usaha lain sejenisnya 1001 m s/d 2.000 m 600.000.00 400.500. 1. BP.000 m 2 Rp.00 2 Rp.500. Mobil Pengangkat 501 m s/d 1.00 ≤ 25 m 2 2 Rp.600.000 m XII. 2 Rp. 2.Garasi MPU.000. 2 XI. 1.600.00 lain sejenisnya 1001 m s/d 2. Perbankan.00 Barang. Rumah Sakit.00 XIV. 1.000 m 800. 2. sejenisnya 26 m s/d 50 m 2 2 Rp.400. 1. 51 m s/d 100 m 1. 700.000 m 2 2 Rp. Biro Perjalanan dan Usaha lain 2 Rp.00 WALIKOTA KEDIRI.000.800. Poliklinik dan Usaha 501 m s/d 1. Ternak Sapi Perah dan 2 Rp.00 > 2. 1.00 kendaraan.00 2 Rp.000 m XIII. SAMSUL ASHAR 3 . 1. Rumah 2 Rp. Laboratorium Medis.100.00 Rp. 900. Ternak Ayam.00 > 2. travel. > 1. Bengkel las.000. Perkantoran .00 Bersalin. Cuci ≤ 500 m 2 2 Rp. 3. Warnet/wartel. Menara Telekomunikasi Bergenzet 2 Rp.000 m 2 2 Rp.400. BKIA. H. 501 m s/d 1.000.

.. Trayek 9 s/d 15 orang Rp. LAMPIRAN IV PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR : TAHUN 2011 TANGGAL : ------------------------------------------------- STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI IZIN TRAYEK Kapasitas Tempat No.- satu kali PP WALIKOTA KEDIRI. 240.000. s/d 8 orang Rp. 300.- Dalam Trayek 5 Tahun (operasi) 3. 5 Tahun 1. Izin Insidentil 9 s/d 50 orang Rp. H.000.15. 240. SAMSUL ASHAR 4 . 5 Tahun Izin Angkutan Tidak 2. Jenis Angkutan Tarif Retribusi Keterangan Duduk Izin Angkutan Dalam s/d 8 orang Rp.000.000.