HAKIKAT ZAKAT DALAM AL-QUR’A<N AL-KARI<M

(TELAAH TERHADAP PENAFSIRAN SURAH AT-TAUBAH AYAT 60 DAN
103 PERSPEKTIF AL-QASIMI DAN AL-QURTHUBI)

Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir Ayat Ibadah

Dosen Pengampu : Dr. Afdawaiza. M.Ag.

Ditulis Oleh:

Mayola Andika : 16531004

Andy Rosyidin : 16531006

Muhammad Khoirul Hakim : 16531010

Muhammad Rafi : 16531011

Rachma Vina Tsurayya : 16531014

PROGRAM STUDI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA
2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang ketiga, zakat merupakan suatu
ibadah yang paling penting kerap kali dalam Al-Qur’an, Allah menerangkan zakat
beriringan dengan menerangkan sholat. Pada delapan puluh dua tempat Allah
menyebut zakat beriringan dengan urusan shalat ini menunjukan bahwa zakat dan
shalat mempunyai hubungan yang rapat sekali dalam hal keutamaannya shalat
dipandang seutama-utama ibadah badaniyah zakat dipandang seutama-utama ibadah
maliyah. Zakat juga salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab
itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi
syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan
puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah,
sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat
berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia.

Zakat memiliki ukuran dan beberapa syarat-syarat tertentu, dalam
penyerahannya zakat dikhusukan kepada delapan golongan yang wajib untuk
menerima zakat (mustahiq zakat) dan orang yang memberi zakat disebut
(mutasaddiq). Sehingga dalam pelaksanaannya bahwa zakat merupakan ekspresi dari
soleh ritual kita kepada Allah dan soleh sosial dalam lingkungan masyarakat.

Seluruh ulama Salaf dan Khalaf menetapkan bahwa mengingkari hukum zakat
yakni mengingkari wajibnya menyebabkan di hukum kufur. Karena itu kita harus
mengetahui definisi dari zakat, harta-harta yang harus dizakatkan, nishab- nishab
zakat, tata cara pelaksanan zakat dan berbagai macam zakat akan dibahas dalam bab
selanjutnya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Penafsiran Surah At-Taubah Ayat 60 menurut al-Qasimi ?
2. Bagaimana Penafsiran Surah At-Taubah Ayat 60 menurut al-Qurthubi ?

1
3. Bagaimana Penafsiran Surah At-Taubah Ayat 103 menurut al-Qasimi ?

4. Bagaimana Penafsiran Surah At-Taubah Ayat 103 menurut Al-Qurthubi ?
5. Bagaimana penjelasan Fiqih Zakat ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Penafsiran Surah At-Taubah Ayat 60

‫ب وواَبلوغاَنرنميِون وونفيِ وسنبيِنل ا‬
‫ان وواَببنن‬ ‫ت لنبلفهقووراَنء وواَبلوموساَنكيِنن وواَبلوعاَنمنليِون وعلوبيِوهاَ وواَبلهموؤلافونة قههلوُبهههبم وونفيِ اَلرروقاَ ن‬ ‫إناوماَ اَل ا‬
‫صودوقاَ ه‬
(60) ‫اه وعنليِمم وحنكيِمم‬ ‫ان ِهَّلل وو ا‬
‫ضةة رمون ا‬ ‫اَلاسنبيِنل ِ فونريِ و‬

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (At-Taubah: 60)1

1. Penafsiran Al-Qasimi

Dalam kitabnya al-Qasimi tidak menyebutkan asbabun nuzul dari ayat diatas, ia
hanya menjelaskan bahwasanya ayat ini berkenanan dengan orang-orang yang berhak
mendapatkan zakat. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan
Abu Daud mengenai orang yang berhak mendapatkan zakat.

‫ فأتى‬،‫ أتيِت رسوُل ا صلى ا عليِه و سلم فباَيِعته‬:‫وروى أبوُ داَود عن زيِاَد بن اَلحاَرث رضيِ ا عنه قاَل‬
َ‫ حتى حكم فيِها‬،‫ إن ا تعاَلى لم يِرض بحكم نبيِ ول غيِره فى اَلصدقاَت‬:‫ فقاَل له‬.‫ أعطنيِ من اَلصدقة‬:‫رجل فقاَل‬
2
.‫ فإن كنت من تلك اَلجزاَء أعطيِتك حقك‬،‫ فجزأهاَ ثماَنة أجزاَء‬،ُ‫هو‬

“Dari Ziyad bin al-Harits al-Shada`iy, ia berkata: “Seseorang datang menemui
Rasulullah SAW dan berkata: “Beri saya bagian dari zakat”. Rasulullah SAW
berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak ridha dengan ketetapan Nabi
dan orang lain dalam persoalan zakat, karennya hanya Dia yang menetapkan aturan
padanya. Dia membaginya menjadi delapan bagian, jika engkau termasuk di
dalamnya, maka saya akan memberikan hakmu”. (HR. Abu Daud)

1 Kementrian agama, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2013). hlm.
197.
2 Dikeluarkan oleh Abu Daud pada kitab Zakat (9), bab orang yang diberikan zakat dan
batasan orang kaya (24). Hadis nomor 1630.

3
a. Penafsiran ayat ke-60 surah at-Taubah:

Fuqara> : merupakan bentuk jamak dari faqi@@r, bermakna
isim fa’ail, yaitu orang yang sedikit hartanya.
Masa>ki>n : merupakan jamak dari kata miski>n, Ibnu Sakki>t
berkata: orang miskin adalah orang yang tidak
mempunyai harta sedkitpun, dengan kata lain
kedudukan orang miskin lebih rendah dari orang faqir.
Hal ini senada dengan apa yang dikatakan A’samiy dan
Yunus. berbeda dengan Ibnu Arabi yang menyamakan
kedudukan keduanya.
Al-A<mili>na Alaiha : yakni orang yang berusaha mendapatkan zakat.
Al-Muallafati Kulubuhum : Mereka adalah orang-orang yang lemah niatnya dalam
beragama Islam, maka perlu adanya pemberian agar hati
mereka terikat dengan Islam dan supaya memperkuat
keislaman mereka.
Fi< Ar-Riqa>b : yakni menolong dalam membebaskan budak dengan
memberi mereka zakat sekalipun mereka bekerja, ini
merupakan pendapat Syafi’I dan Laits.
Al-Ga>rimi>na : orang yang berhutang untuk dirinya yang bukan untuk
maksiat, atau untuk orang disekitarnya sekalipun ia
kaya.
Fi@ Sabi@lillah : tidak terbatas hanya kepada orang yang sedang
berjihada tetapi juga kepada setiap orang yang berjuang
dalam kebaikan. Ar-Razi mengatkan kata ini bermakna
umum, jadi bisa ditujukan terhadap segala bentuk
kebaikan, baik mengkafani orang mati, membut
benteng. membangun masjid dan lain-lain.
Ibnu Sabi@l : orang yang sedang berada dalam perjalanan atau
musafir.
Fari@datan Min Allah : yakni Allah mewajibkannya sebagai sebuah
kewajiban.

4
Allah ‘Ali@m3 : yakni Allah mengetahui dengan segala keadaan
manusia dan tingkatan-tingkatan hak mereka

b. Kandungan Ayat ke-60 Surah At-Taubah menurut Al-Qasimi

Secara tekstual ayat ini menunjukkan atas adanya pemabagian zakat terhadap
beberapa kategori. Hal ini dikuatkan dengan adanya hadis yang diriwayatkan oleh
Abu Daud mengenai pembagian penerima zakat. Mengenai orang yang berhak
mendapatkan zakat imam Syafi’i berpendapat apabila salah satu orang yang berhak
mendapatkan zakat itu kaya, maka akan dialihkan kepada yang lainnya. hal ini senada
dengan pendapat Ikrimah dan Az-Zuhri. masalah pengalokasikan zakat banyak
kelompok yang berpendapat bahwa zakat boleh dialokasikan hanya pada satu kategori
saja, diantara mereka yang berpendapat seperti ini adalah Umar Ra dan Ibnu Abbas
Ra.4

An-Nasir berpendapat mengenai kategori orang yang berhak mendapatkan zakat,
bahwasanya wajib mengalokasikan zakat keseluruh kategori yang telah disebutkan,
sehingga tidak boleh meninggalkan satu kelompokpun sebab disana ada ‫ ل‬yang
menunjukkan kepemilikan hak bagi setiap kategori. Ia menegaskan juga menegaskan
bahwa tidak boleh mengalokasikan zakat kepada selain mereka yang telah ditentukan.
Seakan akan ayat itu mengatkan bahwasanya zakat itu terbatas pada mereka dan tidak
yntuk orang lain.5

Sebagian ulama berpendapat bahwasanya lafadz (‫ ) اَلصصصدقاَت‬itu bersifat umum,
sehingga terkumpul didalamnya segala jenis sedekah, baik yang wajib ataupun yang
sunnah. Kemudian ulama membagi sedekah wajib kepada beberapa macam,
penjelasannya akan kami datangkan pada bab selanjutnya. Imam al-Jamakhsyari
berkata: apabila kalian bertanya, kenapa ‫ ل‬diganti dengan ‫ فى‬pada 4 kategori yang
terakhir?, maka jawabannya adalah hal itu Allah lakukan sebagai pernyataan bahwa
empat golongan yang terakhir hak mereka untuk mendapatkan zakat lebih
ringan/kurang dari pada golongan sebelumnya.6

3 Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil, (Kairo: Jami’ al-Huquq al-
Mahfudzah, 1957). hlm. 3.179-3.182.
4 Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil. hlm. 3.182.
5 Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil. hlm. 3.183.
6 Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil. hlm. 3.184.

5
Demikian pembahasan kandungan ayat ini, adapun pembahasan yang lebih rinci
lagi akan kami datangkan beserta pembahasan hukum zakat dalam ilmu fiqh,
berdasarkan pendapat-pendapat para imam mazhab dan disertai dengan dalil-dalil
mereka.

2. Penafsiran Al-Qurthubi
Menurut al-Qurthubi ayat ini mengandung 30 permasalahan, diantaranya:

a. ‫ت لنبلفهقووراَنء‬ ‫ )) إناوماَ اَل ا‬Allah mengkhusus atas sebagian manusia dengan harta dan
‫صودوقاَ ه‬
yang lainnya tidak, hal ini sebagai nikmat dariNya. Dia mewajibkan mensyukuri
hal itu dengan mengeluarkan bagian hartanya dan menyerahkan kepada orang
yang tidak memiliki harta.
b. ‫ ) )لنبلفهقووراَنء‬Penjelasan terhadap orang-orang yang berhak mendapatkan zakat,
sehingga tidak akan keluar dari mereka. kemudian memilih kepada siapa zakat itu
akan dibagi. Hal ini merupakan pendapat imam Malik dan Abu Hanifah. Berbeda
dengan pendapat imam Syafi’i yang mengatakan bahwasanya ‫ ل‬disini bermakna
kepemilikan, sehingga harus disama ratakan antara orang-orang yang berhak
mendaptkannya. Mereka berhujjah dengan kata innama,karena bahwasanya ia
menuntuk terhadap pembatasan zakat terhadap 8 golongan ini, dan hal ini
disokong dengan hadis Ziyad bin Harits.
c. Ulama bahasa dan ahli Fiqh berbeda pendapat mengenai perbedaan antara miskin
dan faqir. Perbedaan itu ada beberapa pendapat:
1) Ya’kud bin Sikkit berpendapat bahwasanya keadaan faqir lebih baik daripada
miskin
2) Sebagian lain berpendapat bahwasanya faqir adalah orang yang hanya bisa
memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Sedangkan miskin adalah orang yang
sama sekali tidak memiliki sesuatu.
3) sebagian yang lain berpendapat sebaliknya, mereka beranggapan bahwasanya
miskin itu kedudukannya lebih baik daripada orang faqir.
d. Ulama berbeda pendapat mengenai batasan seorang faqir yang boleh mengambil
zakat, dikatakan batasannya adalah apabila seorang memiliki rumah dan
pembantu. Abu hanifah berpendapat bahwasanya batasaany adalah seseorang
memilki 30 dinar atau 100 dirham. Darakutni menyebutkan batasannya adalah 50
dirham. dan yang paling masyhur adalah menurut al-Qurthubi adalah pendapat

6
‫‪malik yang diriwayatkan dari Ibnu Qasim bahwasanya batasannya adalah 40‬‬
‫‪dirham.7‬‬

‫‪Demikian beberapa paparan masalah ayat ini diantara banyak permasalahan.‬‬

‫‪C.‬‬ ‫‪Penafsiran Al-Qa>simi dan Al-Qurthubi Terhadap Surah At-Taubah Ayat‬‬
‫‪103‬‬

‫ك وسوكمن لاههبم ِهَّلل وو ا‬
‫اه وسنميِمع وعنليِمم )‪(103‬‬ ‫صرل وعلوبيِنهبم ِ إنان و‬
‫صولتو و‬ ‫طهرهرههبم ووتهوزركيِنهم بنوهاَ وو و‬ ‫هخبذ نمبن أوبمووُاَلننهبم و‬
‫صودقوةة ته و‬

‫‪“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan8‬‬
‫‪dan mensucikan[659] 9mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa‬‬
‫‪kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi‬‬
‫)‪Maha Mengetahui”.10 (At-Taubah: 103‬‬

‫‪1. Asbabun Nuzul‬‬

‫‪Dalam kitabnya At-Thabary menjelaskan asbabun nuzul ayat ini yang kami‬‬
‫‪paparkan dalam beberpa riwayat, yaitu:‬‬

‫‪ -17152‬حدثنيِ اَلمثنى قاَل‪ ،‬حدثناَ أبوُ صاَلح قاَل‪ ،‬حدثنيِ معاَويِة‪ ,‬عن عليِ‪ ,‬عن اَبن عباَس قاَل‪ :‬جاَءواَ بأموُاَلهم‬
‫= يِعنيِ أباَ لباَبة وأصحاَبه = حيِن أطلقوُاَ‪ ،‬فقاَلوُاَ‪ :‬يِاَ رسوُل ا هذه أموُاَلناَ فتصددقّ بهاَ عناَ‪ ،‬واَستغفر لناَ ! قاَل‪ :‬ماَ‬
‫أمرت أن آخذ من أموُاَلكم شيِةئاَ! فأنصزل ا‪) :‬خذ من أموُاَلهم صدقة تطهرهم وتزكيِهم بهاَ(‪ ،‬يِعنيِ باَلزكاَة‪ :‬طاَعة‬
‫ا واَلخلصا =)وصل عليِهم(‪ ،‬يِقوُل‪ :‬اَستغفر لهم‪.‬‬

‫‪ -17153‬حدثنيِ محمد بن سعد قاَل‪ ،‬حدثنيِ أبيِ قاَل‪ ،‬حدثنيِ عميِ قاَل‪ ،‬حدثنيِ أبيِ‪ ,‬عن أبيِه‪ ,‬عن اَبن عباَس‪ ,‬قاَل‪:‬‬
‫لماَ أطلق رسوُل ا صلى ا عليِه وسلم أباَ لباَبة وصاَحبيِه‪ ،‬اَنطلق أبوُ لباَبة وصاَحباَه بأموُاَلهم‪ ,‬فأتوُاَ بهاَ رسوُل‬
‫ا صلى ا عليِه وسلم‪ ,‬فقاَلوُاَ‪ :‬خذ من أموُاَلناَ فتصادقّ بهاَ عناَ‪ ,‬وصرل عليِناَ = يِقوُلوُن‪ :‬اَستغفر لناَ = وطهرناَ‪.‬‬
‫فقاَل رسوُل ا صلى ا عليِه وسلم‪ :‬ل آخذ منهاَ شيِةئاَ حتى أومر‪ .‬فأنصزل ا‪) :‬خذ من أموُاَلهم صدقة تطهرهم‬
‫وتزكيِهم بهاَ وصل عليِهم إن صلتك سكن لهم(‪ ،‬يِقوُل‪ :‬اَستغفر لهم من ذنوُبهم اَلتيِ كاَنوُاَ أصاَبوُاَ‪ .‬فلماَ نصزلت هذه‬
‫اَليِة أخذ رسوُل ا صلى ا عليِه وسلم جزةءاَ من أموُاَلهم‪ ,‬فتصادقّ بهاَ عنهم‪.‬‬

‫‪7 Al-Qurthubi, al-Jami al-Ahkam al-Qur’an, Juz 10 ( al-Muassah al-Risalah: Beirut, 2006).‬‬
‫‪hlm. 244-252.‬‬
‫‪8 Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan‬‬
‫‪kepada harta benda‬‬
‫‪9 Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan‬‬
‫‪memperkembangkan harta benda mereka.‬‬
‫‪10 Kementrian agama, Al-Qur’an dan terjemahnya. hlm. 203.‬‬

‫‪7‬‬
‫‪ -17154‬حدثناَ اَبن حميِد قاَل‪ ،‬حدثناَ يِعقوُب‪ ,‬عن زيِد بن أسلم قاَل‪ :‬لماَ أطلق اَلنبيِ صلى ا عليِه وسلم أباَ لباَبة‬
‫واَلذيِن ربطوُاَ أنفسهم باَلاسوُاَري‪ ,‬قاَلوُاَ‪ :‬يِاَ رسوُل ا‪ ،‬خذ من أموُاَلناَ صدقة تطهرناَ بهاَ ! فأنصزل ا‪) :‬خذ من‬
‫أموُاَلهم صدقة تطهرهم(‪ ،‬اَليِة‪.‬‬

‫‪ -17155‬حدثناَ اَبن وكيِع قاَل‪ ،‬حدثناَ جريِر‪ ,‬عن يِعقوُب‪ ,‬عن جعفر‪ ,‬عن سعيِد بن جبيِر قاَل‪ :‬قاَل اَلذيِن ربطوُاَ‬
‫أنفسهم باَلسوُاَري حيِن عفاَ عنهم‪ :‬يِاَ نبديِ ا؛هلل طرهر أموُاَلناَ ! فأنصزل ا‪) :‬خذ من أموُاَلهم صدقة تطهرهم وتزكيِهم‬
‫بهاَ(‪ ،‬وكاَن اَلثلثة إذاَ اَشتكى أحدهم اَشتكى اَلخراَن مثله‪ ,‬وكاَن وعميِ منهم اَثناَن‪ ,‬فلم يِزل اَلخر يِدعوُ حتى‬
‫وعنميِ‪.‬‬

‫‪ -17156‬حدثناَ بشر قاَل‪ ،‬حدثناَ يِزيِد قاَل‪ ،‬حدثناَ سعيِد‪ ,‬عن قتاَدة قاَل‪ :‬اَلربعة‪ :‬جدد بن قيِس‪ ,‬وأبوُ لباَبة‪ ,‬وحراَم‪,‬‬
‫وأوس‪ ,‬هم اَلذيِن قيِل فيِهم‪) :‬خذ من أموُاَلهم صدقة تطهرهم وتزكيِهم بهاَ وصل عليِهم إن صلتك سكن لهم(‪ ،‬أي‬
‫وقاَمر لهم‪ ،‬وكاَنوُاَ وعدواَ من أنفسهم أن يِنفقوُاَ ويِجاَهدواَ ويِتصادقوُاَ‪.‬‬

‫‪ -17157‬حدثت عن اَلحسيِن بن اَلفرج قاَل‪ ،‬سمعت أباَ معاَذ قاَل‪ ،‬أخبرناَ عبيِد بن سليِماَن قاَل‪ ،‬سمعت اَلضحاَك‪,‬‬
‫قاَل‪ :‬لماَ أطلق نبديِ ا صلى ا عليِه وسلم أباَ لباَبة وأصحاَبه‪ ,‬أتوُاَ نبديِ ا بأموُاَلهم فقاَلوُاَ‪ :‬يِاَ نبيِ ا‪ ،‬خذ من‬
‫أموُاَلناَ فتصادقّ به عناَ‪ ,‬وطاهرناَ‪ ،‬وصرل عليِناَ ! يِقوُلوُن‪ :‬اَستغفر لناَ = فقاَل نبيِ ا‪ :‬ل آخذ من أموُاَلكم شيِةئاَ حتى‬
‫أومر فيِهاَ = فأنصزل ا عز وجل‪) :‬خذ من أموُاَلهم صدقة تطهرهم(‪ ،‬من ذنوُبهم اَلتيِ أصاَبوُاَ =)وصل عليِهم(‪،‬‬
‫يِقوُل‪ :‬اَستغفر لهم‪ .‬ففعل نبيِ ا عليِه اَلسلم ماَ أمره ا به‪.‬‬

‫‪ -17158‬حدثناَ اَلقاَسم قاَل‪ ،‬حدثناَ اَلحسيِن قاَل‪ ،‬حدثنيِ حجاَج‪ ,‬عن اَبن جريِج قاَل‪ ،‬قاَل اَبن عباَس قوُله‪) :‬خذ من‬
‫أموُاَلهم صدقة(‪ ،‬أبوُ لباَبة وأصحاَبه =)وصل عليِهم(‪ ،‬يِقوُل‪ :‬اَستغفر لهم‪ ،‬لذنوُبهم اَلتيِ كاَنوُاَ أصاَبوُاَ‪.‬‬

‫‪ -17159‬حدثنيِ يِوُنس قاَل‪ ،‬أخبرناَ اَبن وهب قاَل‪ ،‬قاَل اَبن زيِد فيِ قوُله‪) :‬خذ من أموُاَلهم صدقة تطهرهم‬
‫س من اَلمناَفقيِن ممن كاَن تخلف عن اَلنبيِ صلى‬
‫وتزكيِهم بهاَ وصل عليِهم إن صلتك سكن لهم(‪ ،‬قاَل‪ :‬هؤلء ناَ م‬
‫ا عليِه وسلم فيِ غزوة تبوُك‪ ,‬اَعترفوُاَ باَلنفاَقّ‪ ،‬وقاَلوُاَ‪ :‬يِاَ رسوُل ا‪ ،‬قد اَرتبناَ وناَفقناَ وشككناَ‪ ,‬ولكن توُبةم جديِدة‪،‬‬
‫وصدق مة نخرجهاَ من أموُاَلناَ ! فقاَل ا لنبيِه عليِه اَلصلة واَلسلم‪) :‬خذ من أموُاَلهم صدقة تطهرهم وتزكيِهم بهاَ(‪،‬‬
‫‪11‬‬
‫ت أوبوةداَ وول توقهبم وعولى قوببنرنه ‪] ،‬سوُرة اَلتوُبة‪.[84 :‬‬
‫صرل وعولى أووحدد نمبنههبم وماَ و‬
‫بعد ماَ قاَل‪ :‬وول ته و‬

‫‪Dari beberapa hadis diatas, dapat kita lihat bahwasanya sebagian besar dari‬‬
‫‪hadis menyatakan bahwa asbabun nuzul ayat ini tertuju untuk Abu Lubabah dan‬‬
‫‪kawan-kawannya, yang mana mereka ingin supaya Rasulullah mengambil sebagian‬‬
‫‪dari harta mereka untuk dijadikan sebagai sedekah bagi mereka dan diharapkan juga‬‬
‫‪sedekah itu dapat menjadi penebus dosa-dosa yang telah mereka perbuat. lalu Allah‬‬
‫‪mewahyukan firman-Nya kepada Muhammad saw agar mengambil sebagian harta‬‬
‫‪mereka sebagai sedekah.‬‬

‫‪11 At-Thabary, Jami’ al-Bayan ‘an takwil ayi al-Qur’an,jilid 4 (Beirut: Muassasah al-‬‬
‫‪Risalah,1994). hlm. 156.‬‬

‫‪8‬‬
2. Penafsiran al-Qasimi
Yang dimaksudkan disini ialah sebagian dari harta mereka disisihkan untuk
menyucikan harta itu sendiri dari hal-hal buruk yang ada di dalamnya ( berasal dari
pekerjaan tidak halal atau sebagainya),. Sedangkan kata ‫ و تزكيِهصصم‬disini ditafsirkan
untuk menyucikan diri dari cinta harta dunia, atau akhlak-akhlak buruk yang
dihasilkan dari harta itu sendiri. Menurut Az-Zamakhsyari, tazkiyah atau menyucikan
adalah bermakna mubalaghah, atau bisa juga dikatakan supaya harta tersebut bisa
bertambah, (barakah), sedangkan kata ‫ و صصصصل عليِهصصصم‬berarti memberikan mereka
( fakir/mustahiq zakat) doa atau kasih sayang. Lafadz ‫صلتك سكن لهم‬, memilik makna
shalat mereka sebagai penenang hati, sebelum beribadah kepada Allah. Sedangkan
menurut Qatadah, kata ‫ سكن‬disini, berarti ketenangan, sedangkan menurut Ibnu Abbas,
berarti kasih saying. Terdapat Hadis Nabi yang menyinggung mengenai hal ini, yaitu
ketika…. Dan jumlah ta’liliyah . ‫ و اصصص سصصصميِع عليِصصصم‬ini berarti Allah mendengar
permohonan ampun dari hamba-Nya ( taubat) dan doa-doanya, Allah juga mengetahui
apa yang ada pada hati manusia, baik itu penyesalan ataupun aduannya.

‫ تطهرهصصم‬, dibaca jazm karena menjadi jawab bagi amr nya, yaitu kata ‫ خصصذ‬,
apabila dibaca rafa’, maka menjadi mukhotob dari ‫ خذ‬atau meyifati kata ‫ صدقة‬, karena
ta’ nya bisa menjadi ta’atauapun penguatan. Menurut al-Qasimi, kata ‫ تطهرهم‬disini
berarti menyucikan, dan ‫ تزكيِهصصصم‬disini sebagai athofnya, yang juga bermakna
menyucikan. Sedangkan kata ‫ صلتك‬bisa dibaca mufrad dan jama’ ‫ صلوُاَتك‬. dan kata
‫ سصصكن‬disini bermakna ketenangan, dan kata ‫ مصصن أمصصوُاَلهم‬, disini dimaknai sebagai
menzakati sebagian dari hartanya, bukan semuanya. Penggunaan harta untuk zakat
disini sebagai bentuk taubat dari dosa-dosa mereka, dan ayat ini disepakati oleh para
Ulama Fiqih untuk mewajibkan zakat sepertiga dari hartanya. Dan tidak ada
keraguan terhadap susunan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya ( tentang kewajiban
zakat dan penerimanya) . Maka dari itu, Abu Bakar as-Shiddiq menolak pendapat
yang mengatakan bahwa zakat itu hanya pada masa Rasulullah SAW, karena beliau
yang memerintahkan. Hal ini menjadikan Abu Bakar memerangi sahabat yang tidak
mau membayar zakat. Para ulama Fiqih menjadikan ayat ini sebagai dasar untuk
wajib memberikan zakat kepada imam, orang yang baru masuk islam, sebagai bentuk
keringanan dan hiburan untuk mereka, dan membantu orang-orang yang memiliki
hutang, kepada budak sebagai bentuk merdekanya budak, kemudahan bagi ibnu sabil
( orang yang bepergian). Selain itu , adanya zakat juga dimaksudkan untuk ikut

9
merasakan kesedihan para penerima zakat ( yang lebih berhak untuk mendapatkan
rezeki), dan merangkulnya dengan kasih sayang. Dalam hal ini tidak terdapat
kekhususan imam yang dapat diberi harta zakat. 12

Kata ‫ وصل عليِهم‬, Allah menunjukkan kesunnahan berdoa bagi penerima zakat.
Imam Syafi’i berkata: sunnah apabila mengambil sedekah kemudian si penerima
tersebut mendoakan: ‫ و باَرك لك فيِمصصاَ أبقيِصصت‬،َ‫آجر ك ا فيِماَ أعطيِت و جعله طهوُرا‬. . Kemudian
sebagian lainnya bependapat dengan mengucapkan lafadz: ‫اَللهصصم صصصل علصصى فلن‬. Ibnu
Katsir meriwayatkan dalam hadis lain bahwasanya seorang perempuan berkata:
“Wahai Rasulullah! Berdoalah terhadapku dan juga ruhku, kemudian Rasulullah saw
bersabda: “Aku berdoa kepada Allah atas kamu dan atas suamimu. Dua peristiwa
diatas menjelaskan bahwa hendaknya orang yang diberikan zakat tersebut mendoakan
si pemberi zakat.

3. Penafsiran Al-Qurthubi
Al-Qurthubi menjelaskan pada ayat ini ada 8 permasalahan:

a. Ulama berbeda pendapat mengenai sedekah yang dimaksud ayat ini, dikatakan
sedekah yang wajib. inin pendapat Ibnu Abbas dan Ikrimah. dikatakan juga
ini hanya khusus terhadap orang yang terun ayat padanya, yakni Abu Lubabah,
dikatakan sedekah disini bukanlah sedekah yang wajib.
b. Sebagian orang Arab berpendapat bahwasanya pakaian, properti dan barang
dagangan tidaklah dinamakan sebagai harta. Sebagikan lainnya bependapt
bahwasanya harta hanya emas dan perak, dan dikatakan unta adalah harta.
‫ )هخبذ نمبن أوبمووُاَلننهبم و‬secara mutlak tidak dikaitkan dengan syarat
c. firman Allah (‫صودقوةة‬
apapun baik dari sisi makhudzun atau makhuzun minhu. Penjelasan itu sendiri
hanya terdapat pada hadis dan ijma’. Zakat itu diambil dari segala jenis harta,
dan sungguh Nabi saw telah mewajibkan zakat pada binatang ternak, biji-bjian
dan harta benda itu sendiri tidak ada khilaf padanya.
d. Diantara harta benda itu adalah emas dan nisabnya menurut jumhur ulama
adalah 20 dinar atau setara dengan 100 dirham.
e. Harta benda lainnya adalah unta, ulama sepakat nisab unta adalah 5 ekor.
f. Mengenai zakat sapi, Bukhari dan Muslim tidak menyebutkannya dalam kitab
mereka, tetapi dikeluarkan oleh Abu daud dan Tirmidzi akan tetapi hadis ini
ini mursal dan maqthu’.

12 Muhammad Jamaluddin al-Qasimi. Mahasin at-Ta’wil. (Jami’i al-Huquqi al-
Mahfudzoh.1958).hlm.3243.

10
g. Firman Allah ‫صودقوةة‬
‫ و‬dimabil dari kata shidq, artinya sedekah itu merupakan dalil
atas sehatnya keimanan seseorang luar dan dalamnya.
h. Firman Allah ‫صرل وعلوبيِنهبم‬
‫ وو و‬Pada dasarnya menunujukkan bahwa imam seharusnya
mengambil sedekah dan mendoakan bagi orang yang ingin besedekah akan
keberkahan.13

D. Fikih Zakat
1. Pengertian Zakat

Zakat secara bahasa berarti suci. sedangkan menurut istilah ialah barang yang
dikeluarkan secara khusus untuk orang tertentu.

Zakat mal mulai disyariatkan pada tahun kedua hijriah yaitu setelah
diwajibkannya zakat fitri.14 Yang menjadi perdebatan para ulama ialah pada bulan apa
penetapan kewajiban tersebut. Namun pendapat paling kuat ialah pada bulan Syawal
setelah diwajibkan zakat fitri yang diwajibkan pada bulan Ramadhan, dua hari
sebelum hari raya idul fitri.15

2. Syarat Wajib Zakat

Pada dasarnya orang yang wajib mengelurkan zakat ialah orang yang islam
yang merdeka. Namun syarat ini akan bertambah sesuai dengan objek yang akan
dizakati. Dan setiap objek zakat memiliki syarat tersendiri yang berbeda dengan objek
zakat lainya.

3. Barang yang wajib dizakati

Zakat terbagi menjadi dua macam, zakat ftrah dan zakat mal. Zakat fitrah ialah
zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang bataas pengeluarannya ialah
selama bulan ramadhan dan berakhir sebelum shalat ‘id dilaksanakan. Syarat
seseorang mengeluarkan zakat fitrah ada 3, yaitu islam, masih hidup sampai akhir
bulan ramadhan, dan mempunyai makanan pokok yang lebih untuk dirinya dan
keluarganya pada hari itu.16 Seorang kepala keluarga atau yang bertanggung jawab

13 Al-Qurthubi, al-Jami al-Ahkam al-Qur’an, Juz 10. 354-364.
14 Abu Bakar ad-Dimyathi, I'anah ath-Thalibin 'ala Alfadh Fath al-Mu'in, (Beirut: Dar al-
Fikr, 1997 M/1418 H), hlm. 168.
15 Abu Bakar ad-Dimyathi, I'anah ath-Thalibin 'ala Alfadh… hlm. 168.
16 Ibrahim al-Baijuri, Hasyiah as-Syaikh Ibrahim al-Bayjuri ‘ala Syarh Ibnu Qasim al-Ghazi
‘ala Matan Abi Suja’, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2015 M/1436 H), juz I, hlm. 533-535.

11
terhadap kehidupan keluarga dapat menzakati dirinya sendiri dan anggota keluarga
yang wajib ia nafkahi dari golongan muslim. Barang untuk berzakat berupa makanan
pokok yang banyak digunakan pada daerah itu dengan ukuran satu Sho’ (sekitar 2.7
kg) atau lebih.

Dalam banyak kitab fikih disebutkan bahwa barang wajib dizakati ada 5
macam, yaitu binatang ternak, perhiasan, hasil pertanian, hasil perkebunan, dan hasil
perdagangan. Zakat memiliki dua syarat agar dapat dikeluarkan, syarat umum dan
syarat khusus. Syarat umumnya yaitu: (1) Islam; (2) Merdeka; (3) Milik Sendiri yang
sah dan sempurna; dan (4) mencapai Nishab. Sedangkan syarat khusus akan
dijelaskan sesuai objek zakat dibawah ini.

Pada zakat binatang ternak ada tiga binatang yang wajib dizakati, yaitu unta,
sapi atau kerbau, dan kambing atau domba.syarat khusus seseorang dapat
mengeluarkan zakat ini ialah mencapai satu tahun (haul) dan digembalakan. Untuk
nishab tiap binatang akan dijelaskan pada tabel berikut ini:

Jenis binatang Nishab Wajib zakat Keterangan
Unta 5 ekor 1 ekor kambing Jadza’ah: umur 1 tahun
jadza’ah atau tsaniah memasuki 2 tahun;
Tsaniah: umur 2 tahun
memasuki umur 3 tahun.
10 ekor 2 ekor kambing
15 ekor 3 ekor kambing
20 ekor 4 ekor kambing
25 ekor 1 ekor unta bint Unta betina umur 1 tahun
makhodh masuk 2 tahun.
36 ekor 1 ekor unta bint Unta betina umur 2 tahun
labun masuk 3 tahun.
46 ekor 1 ekor unta hiqqah Unta umur 3 tahun
masuk 4 tahun.
61 ekor 1 ekor unta jadza’ah Unta umur 4 tahun
masuk umur 5 tahun.
76 ekor 2 ekor unta bint
labun
91 ekor 2 ekor unta hiqqah
121 ekor 3 ekor unta bint
labun
140 ekor 2 ekor unta hiqqah

12
dan 1 ekor unta bint
labun
150 ekor 3 ekor unta hiqqah
Sapi atau 30 ekor 1 sapi tabi’ Umur 1 tahun masuk 2
Kerbau tahun.
40 ekor 1 sapi musinnah atau Umur 2 tahun masuk 2
2 sapi tabi’ tahun.
Setiap Bertambah 1 sapi
bertambah 10 musinnah atau 1 sapi
ekor tabi’
Kambing atau 40 ekor 1 kambing jadza’ah
Domba atau tsaniah
121 ekor 2 kambing
201 ekor 3 kambing
400 ekor 4 kambing
Setiap Bertambah 1
bertambah 100 kambing
ekor

Untuk zakat perhiasan ada dua macam yang wajib dizakati, yaitu emas dan
perak. Syarat khusus zakat perhiasan ialah mencapai satu tahun. Sedangkan nishabnya
ialah:

Perhiasan Nishab Wajib zakat
Emas 20 mitsqal (dinar) atau sekitar 90 2.5 %
gram
Perak 200 dirham atau sekitar 600 gram 2.5 %

Pada hasil pertanian yang wajib dizakati berupa bahan makanan pokok di
daerah tertentu. Syarat khusus zakat ini ialah: ditanam oleh manusia (petani) dan
berupa bahan makanan pokok. Sedangkan pada hasil perkebunan yang wajib dizakati
ialah buah anggur dan kurma. Tidak ada syarat khusus untuk mengeluarkan zakat ini.
Maka wajib mengeluarkan zakat perkebunan jika telah memenuhi syarat umum.
Untuk nishab zakat pertanian dan perkebunan ialah 5 wasaq atau mencapai 650 kg.
Dan yang wajib dikeluarkan ialah 5 % jika pengairannya memerlukan tenaga baik
tenaga manusia atau binatang dan 10 % jika pengairannya secara alami tanpa
memerlukan tenaga, bisa berupa air hujan atau mata air.

13
Pada barang dagangan syaratnya sama dengan syarat pada zakat perhiasan.
Nishabnya juga sama dengan nishab perhiasan (seharga 90 gram emas). Nishab harta
perdagangan dihitung pada akhir haul. Jika setelah satu tahun telah mencapai nishob
maka wajib mengeluarkan zakat, jika tidak mencapai maka tidak wajib mengeluarkan.
Jika sudah mencapai nishab maka wajib mengeluarkan 2.5 % dari hasil perdagangan.
Pada zakat perdagangan ini juga masuk di dalamnya harta galian (tambang) dan
barang temuan (harta karun). Namun pada kedua jenis harta ini pengeluarannya saat
itu juga satelah menjumlah hasil dari temuannya tersebut.

4. Golongan yang Berhak Menerima Zakat

Golongan yang berhak menerima zakat ada 8 golongan (ashnaf). Hal ini
didasarkan pada QS. at-Taubah: 60 yang berbunyi:
‫ب وواَبلوغصصاَنرنميِون ووفنصصيِ وسصصنبيِنل ا‬
‫انصص‬ ‫ت لنبلفهقووراَنء وواَبلوموساَنكيِنن وواَبلوعاَنمنليِون وعلوبيِوهاَ وواَبلهموؤلافونة قههلوُبهههبم وونفيِ اَلرروقاَ ن‬ ‫إناوماَ اَل ا‬
‫صودوقاَ ه‬
‫ان ِهَّلل وو ا‬
‫اه وعنليِمم وحنكيِمم‬ ‫ضةة رمون ا‬
‫وواَببنن اَلاسنبيِنل ِ فونريِ و‬
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. at-Taubah: 60)

Berdasarkan ayat tersebut golongan yang berhak menerima zakat ialah:

a. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan
tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
b. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan
kekurangan.
c. Pengurus zakat (‘amil): orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan
membagikan zakat.
d. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru
masuk Islam yang imannya masih lemah.
e. Budak mukattab (riqab): budak yang dijanjikan kemerdekaan oleh tuannya.
f. Orang berhutang (gharim): orang yang berhutang karena untuk kepentingan
yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. adapun orang yang
berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu
dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
g. Orang yang berjuang pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan
pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang

14
berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan
umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
h. orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) yang bukan maksiat mengalami
kesengsaraan dalam perjalanannya.

15
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Zakat secara bahasa berarti suci. sedangkan menurut istilah ialah barang yang
dikeluarkan secara khusus untuk orang tertentu. Zakat juga salah satu unsur pokok
bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas
setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat diberikan kepada
orang yang berhak menerimanya yaitu mustahik yang delapan seperti yang telah
dijelaskan diatas.

Dalam al-Qur’an kata-kata zakat pun beriringan dengan kata shalat. Hal ini
menandakan bahwasanya zakat merupakan hal penting yang berhubungan rapat
dengan shalat. Untuk itu apabila harta telah mencapai nisab maka tunaikanlah zakat
sebagai wujud dari amalan untuk menyucikan harta ataupun jiwa bagi setiap individu.
Sebagai hikmahnya zakat dapat membantu fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari.

16
DAFTAR PUSTAKA

al-Baijuri, Ibrahim. 2015. Hasyiah as-Syaikh Ibrahim al-Bayjuri ‘ala Syarh Ibnu
Qasim al-Ghazi ‘ala Matan Abi Suja’. Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah

ad-Dimyathi, Abu Bakar. 1997. I'anah ath-Thalibin 'ala Alfadh Fath al-Mu'in. Beirut:
Dar al-Fikr

Kementrian agama, 2013. Al-Qur’an dan terjemahnya. Bekasi: Cipta Bagus Segara

Kementerian Agama Republik Indonesia. 2010. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta :
Mizan

al-Qasimi, Muhammad Jamaluddin. 1957. Mahasin at-Ta’wil. Kairo: Jami’ al-Huquq
al-Mahfudzah

al-Qurthubi. 2006. al-Jami al-Ahkam al-Qur’an. al-Muassah al-Risalah: Beirut

at-Thabary. 1994. Jami’ al-Bayan ‘an takwil ayi al-Qur’an Beirut: Muassasah al-
Risalah

17