TANIN

Sumber dan sifat-sifat fisikokimia Tanin
 Tanin ditemukan:
- di dalam bagian-bagian tanaman yang sedang aktif
mengalami pertumbuhan seperti pucuk, buah-buahan mentah,
tunas, akar, kulit kayu bagian dalam, dan kulit kayu bagian luar
 Tanin adalah senyawa organik yang terdiri dari campuran
senyawa polifenol kompleks dibangun dari unsur C, H, dan O
serta sering membentuk molekul besar dengan bobot
molekul lebih besar dari 2000
Hergert (1989) mengklasifikasi Tanin alam berdasarkan sifat
dan struktur kimia sebagai berikut:
1. Tanin terhidrolisiskan (Hydrolyzable Tannin). Penyebarannya
terbatas pada tumbuhan berkeping dua.
2. Tanin terkondensasi (Condensed Tannin). Hampir terdapat
pada semua paku-pakuan dan Gimnospermae,
Angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan berkayu.
1. Tanin Terhidrolisiskan
adalah senyawa ester dari gula sederhana (glukosa dan
ramnosa) dengan satu atau lebih asam karboksilat
polifenolik yang ikatan esternya mudah mengalami
hidrolisis dengan bantuan katalis asam, basa, atau enzim
Senyawa-senyawa asam karboksilat pofenolik:
OH OH
OH
HO OH HO OH
HO OH

pirogalol
COOH
O Asam galat C O OH
C O OH O OH

HO OH
COOH
HO O C
Asam elagat Asam m-digalat
O
Contoh Tanin terhidrolisis

HO

HO CO O C H COOH
HCl encer

HO C OH
HO + glukosa
HO C

Galotanin C OH HO OH
C O Asam galat
CH2OH
Contoh Tanin terhidrolisis

HO O
HO C O C H
COOH OH
HO HO O O
HC OH HO
HO O + Glukosa
HO C O C H HCl encer
HO OH
HO HC OH O OH
O
HO O HC O Asam galat OH
HO C O CH2 Asam elagat
HO

Elagitanin
2. Tanin Terkondensasi (Tanin Katekin)
adalah campuran polifenol kompleks dari unit flavonoid
dengan 15 atau lebih atom C dengan berbagai
derajat kondensasi

Sifatnya mirip dengan fenol, resorsinol atau pirogalol

OH
HO OH
R OH

R

R= H, resorsinol R= OH, pirogalol
R= OH, floroglusinol R= H, katekol
Klasifikasi kelas Tanin terkondensasi
 Berdasarkan pola hidroksilasi cincin A dan
cincin B 3'
2’ 4’
B
C
8 5’
O 6’
7 2
A
A C
B
6 3
5 4
1. Kelas yang membawa gugus floroglusinol cincin A
yaitu:
- Propelargonidin : 3,4’,5,7 = OH
H+
- Prosianidin : 3,3’,4’,5,7 = OH Antosianidin
- Prodelfinidin : 3,3’,4’,5,5’,7 = OH
2. Kelas yang membawa gugus resorsinol cincin A
yaitu: - Proguibourtinidin : 3,4’,7 = OH
- Prosianidin : 3,3’,4’,7= OH
- Prorobinetinidin : 3,3’,5’,7= OH
3. Kelas yang termasuk Tanin terkondensasi, tetapi tidak
termasuk kelas proantosianidin
yaitu: - Proterakasidin : 3,4’,7,8 = OH jarang dijumpai
- Promelakasidin : 3,3’,4’,7,8 = OH

4. Kelas proantosianidin yang tidak mempunyai gugus
OH pada C (3)
yaitu: - Propigenidin : 4’,5,7 = OH
- Proluteolinidin : 3’,4’,5,7 = OH jarang dijumpai
Struktur dalam unit monomer Tanin terkondensasi dibagi
menjadi dua cincin:
- Cincin A  berupa resorsinol atau floroglusinol
- Cincin B  katekol atau pirogalol

A = resorsinol OH A = resorsinol
OH
OH
B = pirogalol B = katekol
HO O HO O
OH OH

OH OH
R R
OH
A = Floroglusinol A = floroglusinol
OH OH
B = pirogalol B = katekol
HO O HO O
OH OH

OH
OH R OH
Contoh Tanin Terkondensasi
OH

HO O
OH
2,3-cis (epi)
OH
OH 4-8 OH
Unit pemanjang dari
kebanyakan Tanin
HO O
OH
terkondensasi adalah
OH struktur epikatekin
OH 4-6
dengan stereokimia
OH
2,3-cis, sedang unit
ujung adalah turunan
O
HO
dari katekin dengan
2,3-trans (kat)
OH stereokimia 2,3-trans

OH
OH OH

HO O HO O
OH OH
H
HO OH HO OH
H
OH OH
H
HO O HO O
OH OH

OH OH
OH OH
H
OH OH

HO O HO O
OH [O] OH

HO OH HO OH

(+)-sianidin OH

HO O
OH
“Hidrolisis dan kondensasi Tanin
OH
terkondensasi dengan katalis asam
OH
kuat (Roux, 1975) (+)-katekin
7

6% HOAc
5
9 6
8
4
3
2
1

Butanol : HAct : Air (14 : 1 : 5 )
1 = Epigallokatekin 6 = Epikatekin-4-floroglusinol
2 = Epikatekin 7 = Katekin-4-floroglusinol
3 = Gallokatekin 8 = Epigallokatekin-4-floroglusinol
4 = Katekin 9 = Gallokatekin-4-floroglusinol
5 = Floroglusinol
ISOLASI TANIN
Sampel
CH3COCH3 : H2O (1:1)

Ekstrak Kasar
Hexana & EtAct

Eks Hexana Eks EtAct

Lipid

Eks EtAct Esk Air
Mr rendah Mr tinggi
Monomer & Oligomer Polimer

Kolom Kromatografi Kolom Kromatografi
LH-20 Sephadex LH-20 Sephadex
HORMON MUDA SERANGGA
PENDAHULUAN

O
RO2C O

Piretrin Rotenon O
OCH3
Monoterpen yang berasal dari isoflavonoid OCH3
chrysanthemum
Derris elliptisa

N
Nikotin Alkaloid utama
CH3
dari tembakau Nicotiana
N

“Beberapa bahan alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan 
Digunakan sebagai insektisida
Insektisida sintetik:

DDT; endrin; paration; Mengganggu kehidupan lain
malation, dan lain-lain  misal: mamalia

Pengganti insektisida sintetik yang selektif
(tidak berbahaya bagi manusia & hewan)
 feromon

Feromon: Senyawa kimia yang dikeluarkan
oleh serangga sebagai alat
komunikasi antara individu dari
species yang sama
- Feromon terbukti sebagai alat survei untuk
mengetahui penyebaran atau adanya serangga hama
di lapangan
- Feromon digunakan sebagai umpan, bersama-sama
dengan insektisida yang sesuai, untuk menggiring
serangga hama ke dalam perangkap

a. Struktur Hormon Muda
Hormon muda (Juvenile Hormon = JH)  ditemukan
oleh Wigglesworth 1934 adalah salah satu dari tiga
hormon yang mengendalikan pertumbuhan purna
embrio dari serangga, yang dihasilkan oleh kelenjar-
kelenjar endokrin yang terletak didekat otak.
* Tahun 1956, dapat dipisahkan dari ulat sutera
(Hyalophora cecropia)  hormon JH cecropia ini
dapat menghambat metamorfosa

Senyawa dari Hyalophora cecropia  disebut
neotenin adalah “metil 10,11-epoksi-7-etil-3,11-dimetil-
10,11-cis-2-trans-6-trans-tridekadienoat”

7 1
11 9 5 3
COOCH3
O 10 8 6 4 2
* Tahun 1968, JH kedua dari serangga yang sama

7 1
11 9 5 3 COOCH3
O 10 8 6 4 2

“Metil 10,11-epoksi-3,7,11-trimetil-10,11-cis-2-trans-6-
trans-trikadienoat”

7 1 Suatu
11 9 5 3
COOCH3
seskuterpen
O 10 8 6 4 2

“metil 10,11-epoksi-farnesoat”
b. Asal-usul Biogenetik JH pertama dari H. cecropia
O O O OH
O
SCoA SCoA NADH
CO2H
SCoA
CoAS O
propionil-koenzim A CoAS O

OH OPP

ATP -CO2 3 1
CO2H C 4 2 OPP OPP
OH H O O OPP
Asam homome- 3-etil but-3-enil pirofosfat
valonat
Isopentil pirofosfat
OPP OPP

OPP
Dihomogeranil pirofosfat

NAD+
COOH
OPP
dihomofarnesil pirofosfat

OH+
COOH
O
H
COOCH3
O
H Hormon muda (JH)
c. “Sintesa JH dengan reaksi Wittig”
O

(C6H5)3P CHCH2CH2 O

O Wittig O
Etil metil
keton
O

(C6H5)3P CHCH2CH2 O
Wittig O

(C6H5)3P=CHCO2CH3
CO2CH3
Wittig

Cl CO2OH

CO2CH3

O
JH
Sintesa JH menggunakan reaksi Wittig yang dimodifikasi
CH3O)2POCH2CO2CH3 LiAlH4

A CO2CH3 B
O OH
Etil metil keton
PBr3 CO2Et/NaOEt
O
C
Br D O
CO2Et
1. NaOH
2. H+ A, B, C
E O Br

CO2Et/NaOEt
O E
Jenis D O
CO2Et
A
CO2CH3
O

Cl CO2OH

CO2CH3 JH
O
d. Senyawa-senyawa yang menyerupai JH

Farnesan

CH2OH Farnesol

CHO Farnesal

CH2OCH3 Farnesil metil eter

C2H5 N,N-Dietilfarnesil
N
C2H5 amina

CO2CH3 Metil 10,11-epoksi-
O
farnesoat
➢ Farnesol dan farnesal  dipisahkan dari tinja
serangga (Tenebrio molitor)

Senyawa pertama yang diketahui mempunyai keaktivan dan
kerangka karbon mirip dengan JH alam

➢ Senyawa-senyawa yang mempunyai keaktivan JH
yang tinggi ialah farnesil metil eter, N,N-dietilfarnesil
aminda dan metil-10,11-epoksifarnesoat.

Senyawa terakhir ternyata 16 kali lebih aktif daripada
farnesil metil eter dan 1600 kali lebih aktif daripada
farnesol
R3 R2 R1
X
R4
Z11 Z7 Z3
Z10 Z6 Z2
Struktur umum JH Sintetik
Berbagai variasi dari JH sintetik
- R1 – R4 adalah hidrogen atau gugus alkil dengan
jumlah karbon C1 – C6
- Gugus X adalah - alkoksikarbonil (-COOR)
- alkoksimetilen (-CH2OR)
- aminokarbonil (-CONH2)
- gugus siano (-CN)
- Pasangan-pasangan Z2 – Z3, Z6 – Z7, dan Z10 – Z11 dapat
berupa: ikatan C – C; jembatan oksigen; belerang dan
metilen
Z2 : hidrogen atau hidroksi
Z6 dan Z10 : hidrogen, hidroksi, atau halogen
Z3, Z7, dan Z11 : hidrogen, hidroksi, atau halogen

e. Konfigurasi Molekul dan Keaktivan JH
❖ Keaktivan JH ditentukan oleh konfigurasi geometri
dan isomer JH
❖ Pengaruh geometri terhadap keaktivan
bergantung pada spesies serangga
- Isomer trans-trans-trans dan JH alam (isomer
trans-trans-cis) lebih aktif daripada isomer yang
lain, terhadap ngengat Tineola biselliella.
- Terhadap kepinding Rhodinius prollxus dan lipas
= Blattella germanica isomer-isomer trans-cis-
cis; trans-cis-trans; trans-trans-trans dan JH
alam lebih aktif daripada isomer-isomer dimana
konfigurasi dari atom C-2 adalah cis

❖ Secara keseluruhan, konfigurasi trans dari
ikatan rangkap pada C-2 dan C6 adalah
sangat penting untuk keaktivan JH, sedangkan
konfirmasi dari cincin epoksida pada C-10 tidak
begitu menentukan bagi keaktifan JH