BAB I

PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah
utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Menurut American Diabetes Association
(ADA) 2010, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh
ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan
yang tidak efektif dari produksi insulin. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula
dalam darah. Pada saat sekarang ini, penyakit DM mengalami peningkatan prevalensi di
seluruh dunia. DM terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunan
dan tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80%
prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2, ini berarti gaya hidup/life style yang tidak
sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM (Depkes,2009).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang
diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta
pada tahun 2030. Sedangkan Badan Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun
2009 memperkirakan kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus dari 7,0 juta tahun
2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia pada tahun 2013
menunjukkan bahwa penyakit DM terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 2,1%.
Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%),
DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%), dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi
diabetes mellitus berdasarkan diagnosis dokter dan gejala, meningkat sesuai dengan
bertambahnya umur, namun mulai umur ≥65 tahun cenderung menurun. Tetapi
cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat pendidikan tinggi.

Berdasarkan data dari laporan tahunan Puskesmas Kota Selatan tahun 2016,
angka kejadian diabetes mellitus masih termasuk 10 besar kasus terbesar penyakit tidak
menular, dengan jumlah 542 jiwa. Sedangkan tahun 2017, sejak bulan Januari hingga
bulan April, pasien diabetes mellitus yang berobat di Puskesmas Kota Selatan tercatat
sebanyak 329 jiwa. Pada data laporan bulanan Puskesmas Kota Selatan, dimana jumlah

1

pasien yang datang berobat tiap bulannya masih tidak stabil, hal ini menunjukkan bahwa
masih terdapat banyak pasien yang tidak rutin datang berobat.

I.II. Rumusan Masalah

I.II.1. Berdasarkan permasalahan pada latar belakang tersebut maka penulis merumuskan
masalah yaitu bagaimana gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku pasien yang
menderita diabetes melitus pada peserta prolanis Puskesmas Kota Selatan bulan Juni
2017.

I.III. Tujuan Penelitian

I.III.1.Tujuan Umum

I.III.1.1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan
perilaku pasien yang menderita diabetes melitus pada peserta prolanis
Puskesmas Kota Selatan bulan Mei 2017.

I.III.2.Tujuan Khusus

I.III.2.1. Diketahui pengetahuan, sikap dan perilaku pasien diabetes melitus prolanis
Puskesmas Kota Selatan bulan Mei 2017.

I.IV. Manfaat Penelitian

I.IV.1. Bagi Peneliti

I.IV.1.1. Sebagai pengalaman baru dalam melakukan penelitian terkait tentang
pengetahuan, sikap dan perilaku pada pasien yang menderita diabetes melitus.

I.IV.1.2. Diharapkan penelitian ini akan memberikan wawasan dan pengetahuan baru
tentang gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku pada pasien yang
menderita diabetes melitus di masyarakat.

I.IV.1.3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan
pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.

2

Bagi Puskesmas I.IV.6.3.1. I.1.IV. khususnya di Puskesmas Kota Selatan.4. Mengembangkan daya nalar. I. 3 .5. I. minat.IV.IV. Bagi Masyarakat I.2. Adanya dukungan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.2.1. sikap dan perilaku pada penderita diabetes melitus.IV.IV.3. I. Meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan sistematis dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan.1. I.3.2. Hasil penelitian ini merupakan dasar bagi penelitian selanjutnya di Puskesmas. Penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.IV. Sebagai salah satu masukan sebagai bahan informasi bagi petugas kesehatan khususnya dokter puskesmas. I. dan kemampuan dalam bidang penelitian. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.2.IV.IV.1.2. I.

Klasifikasi Diabetes Melitus Penyakit ini dibagi menjadi 4 tipe utama yaitu DM tipe 1. endokrinopati.11 DM dengan keadaan atau sindrom terjadi karena adanya kelainan-kelainan lain seperti defek genetik fungsi sel beta. Definisi Diabetes Melitus Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010. DM gestasional merupakan penyakit DM 4 . karena obat atau zat kimia.I.1. infeksi. DM tipe 2 terjadi karena tubuh tidak dapat memproduksi atau menggunakan insulin sebagaimana mestinya. atau kedua-duanya. DM yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lain. imunologi dan genetiki. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Tekanan darah berfluktuasi dalam batas-batas tertentu. DM tipe 2.2. penyakit eksokrin pankreas. kerja insulin. umur. Diabetes Melitus II. Hipertensi adalah peningkatan tekanan sistolik sekurang-kurangnya 30 mmHg atau peningkatan tekanan diastol sekurang-kurangnya 15 mmHg atau adanya tekanan sistolik sekurang-kurangnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sekurang-kurangnya 90 mmHg. dan tingkat stress yang dialami. dan DM gestasional. tergantung posisi tubuh. DM tipe 1 terjadi karena adanya proses autoimun yang menghancurkan sel-sel beta pankreas sehingga tidak mampu menghasilkan insulin dan idopatik. II. Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin.I. defek genetik kerja insulin.I.

II. dampak yang ditimbulkan oleh gangguan fase 1 sekresi insulin dapat terdeteksi pada tes toleransi glukosa oral (TTGO). metabolism glukosa semakin buruk karena peningkatan kadar 5 . Pada satu waktu akan muncul keadaan atau fase yang dinamakan toleransi glukosa terganggu (TGT). Dalam perjalanan penyakit. diusahakan mengatasinya oleh fase 2 sekresi insulin.yang dialami pertama kali selama masa kehamilan. menimbulkan dampak buruk terhadap homeostasis glukosa darah. Secara klinis. bahkan sering overkompensasi.3. Hal ini merupakan cerminan dari ketidakberhasilan sekresi insulin fase 1 dalam meredam HAP. pada tahap dini perjalanan penyakit. Dapat dipahami bahwa lambat laun usaha ini akan berakhir pada tahap kelelahan sel beta (exhaustion) yang disebut tahap dekompensasi sehingga terjadi defisiensi insulin secara absolut. Secara etiologis. insulin disekresi secara berlebihan untuk tujuan normalisasi kadar glukosa darah. Oleh karena itu perbaikan terhadap ganguan fase 1 secara dini. Namun demikian. Dalam hal ini TTGO mulai memperlihatkan kecenderungan peningkatan kadar glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Ada satu factor lainnya yang juga ikut berperan yakni jaringan tubuh subjek bersangkutan yang secara genetic kurang sensitive (resisten) terhadap insulin. tingginya kadar glukosa darah tersebut lebih dominan diakibatkan oleh gangguan fase 1 sekresi insulin. HAP pada gangguan metabolism glukosa sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh inadekuatnya sekresi insulin pase 1. Yang pertama terjadi adalah hiperglikemia akut pascaprandial (HAP) yakni peningkatan kadar glukosa darah segera (10-30 menit) setelah beban glukosa (makan atau minum). member dampak terhadap kinerja fase 2 seresi insulin. dampak peningkatan kadar glukosa darah yang diakibatkan gangguan fase 1. mungkin arus mendapat perhatian khusus dalam rangka menghambat progresifitas perjalanan penyakit. namun secara lambat laun keadaan normoglikemia tidak dapat dipertahankan. Pada mulanya. Meskipun pada mulanya ada upaya berupa peningkatan sekresi fase 2. Definisi insulin yang terjadi. Secara fisiologis. tahap ini sering disebut prediabetes (kadar glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa : 140- 200 mg/dl). melalui mekanisme kompensasi. HAP yang muncul akibat tidak normalnya fase 1.I. Pada tahap akhir ini. Kelainan tersebut berupa gangguan pada fase 1 sekresi insulin yang tidak sesuai dengan kebutuhan (inadekuat). Patofisiologi Diabetes Melitus(IPD) Gangguan metabolism glukosa terjadi pada mulanya disebabkan oleh kelainan pada dinamika sekresi insulin.

Polidipsia. tapi pada saat bersamaan juga oleh rendahnya respon jaringan tubuh terhadap insulin (resistensi insulin). Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. pada awalnya ditentukan oleh kinerja fase 1 yang kemudian memberi dampak negative terhadap kinerja fase 2. salah satunya adalah gangguan toleransi glukosa. dan disfungsi ereksi pada pria. dinamakan sindrom resistensi insulin atau sindrom metabolik. Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara: 6 . Hiperglikemia terjadi tidak hanya disebabkan oleh gangguan sekresi insulin (defisiensi insulin).4. kesemutan. semakin tinggi tingkat resistensi insulin. sering muncul secara berkelompok pada subjek tertentu. b. terutama mikrovaskular. tapi disertai pula oleh kadar insulin yang telah begitu rendahnya. Kerusakan jaringan yang terjadi. semakin rendah kemampuan inhibisinya terhadap proses glikogenolisis dan glukoneogenesis. Rangkaian kelainan yang dilatarbelakangi oleh resistensi insulin. Polifagia. gatal. Keluhan lain dapat berupa: lemah badan. Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah ini : a. Jadi. Hiperglikemia yang terjadi pada gangguan metabolism glukosa akibat gangguan kinerja insulin (defisiensi dan resistensi). glukosa darah tidak hanya karena resistensi insulin. Gangguan metabolism glukosa akan berlanjut pada gangguan metabolism lemak dan protein serta proses kerusakan berbagai jaringan tubuh. selanjutnya memberi berbagai dampak metabolism dan kerusakan jaringan jaringan lainnya secara langsung atau tidak langsung. perjalanan penyakit DM tipe 2. Tingginya tingkat resistensi insulin pada tahap ini dapat terlihat pula pada peningkatan kadar glukosa darah puasa. Keluhan klasik DM berupa : Poliuria. Hal tersebut sejalan dengan apa yang terjadi di jaringan hepar. dan berakibat langsung terhadap peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). dan semakin tinggi tingkat produksi glukosa dari hepar. dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. mata kabur. serta pruritus vulvae pada wanita.I. II. Diagnosis Diabetes Melitus Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. meningkat secara tajam pada tahap diabetes.

Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM. a. b. pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun. maupun GDPT. c. mempertahankan rasa nyaman. Kedua keadaan tersebut juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya DM dan penyakit kardiovaskular dikemudian hari. merupakan tahapan sementara menuju DM.6-6. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes. GDPT: Diagnosis GDPT ditegakkan bilasetelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didaptkan antara 100-125 mg/dL (5. Pasien dengan TGT dan GDPT juga disebut sebagai intoleransi glukosa. Bila Glukosa darah sewaktu adalah > 200 mg/dL dianggap menderita DM b. dan mencapai target pengendalian glukosa darah. II. Pemeriksaan penyaring dilakukan pada mereka yang mempunyai risiko DM. maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnoses DM. Jika keluhan klasik ditemukan. maka dapat digolongkan ke dalam kelompok Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) atau Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT). b.0 mmol/L). dilakukan ulangan tiap tahun.I. TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140-199 mg/dL (7. Tujuan penatalaksanaan : a. b. Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien dengan DM. Jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati. 7 . TGT. Jangka pendek: menghilangkan keluhan dan tanda DM. sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat. Bagi mereka yang berusia >45 tahun tanpa faktor risiko lain. a. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO).5. Bila Glukosa puasa adalah adalah > 126 mg/dL dianggap menderita DM Catatan :Untuk kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan kelainan hasil. Pemeriksaan glukosa plasma puasa > 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik. bergantung pada hasil yang diperoleh.9 mmol/L) dan pemeriksaan TTGO gula darah 2 jam < 140 mg/dL. namun tidak menunjukkan adanya gejala DM. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dL) adalah : a.8 – 11.

dan profil lipid. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat. dan jumlah makanan. setelah mendapat pelatihan khusus. latihan jasmani. sesuai indikasi. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM. intervensi dan farmakologis. terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. tekanan darah. berat badan. 3. Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri. stres berat. berat badan yang menurun dengan cepat. Edukasi Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan. dan adanya ketonuria. melalui pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah. Pada keadaan tertentu. misalnya ketoasidosis. 2. Terapi Nutrisi Medis Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. makroangiopati. dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi. dan neuropati. Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat. Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran. keluarga dan masyarakat. tanda dan gejala hipoglikemia serta cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Latihan jasmani Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. medis. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien. Pilar penatalaksanaan DM terdiri dari edukasi. 1. 8 . jenis. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku. dilakukan intervensi farmakologis dengan Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri. OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi. insulin dapat segera diberikan. terapi gizi.

2. serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro- vaskular. a. sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. b. di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. OHO dibagi menjadi 5 golongan1 : 1. Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Selain itu harus diperhatikan bahwa pemberian metformin secara 9 . Obat Hipoglikemik Oral Berdasarkan cara kerjanya. dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. sepsis. gagal jantung). Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin >1. Sulfonilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas.5 mg/dL) dan hati. 3. Penghambat Gluconeogenesis (metformin) Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis). suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Pemicu Sekresi Insulin a. Peningkatan sensitivitas terhadap insulin (Tiazolidindion) Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-g). Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea.Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa. renjatan. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat Asam Benzoat) dan Nateglinid (derivat Fenilalanin). Terapi Farmakologis Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati.4. Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan. dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang. Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

Repaglinid. Hiperglikemia dengan asidosis laktat. Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan suapan pertama. DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan atau sebelum makan. mampu menghambat kerja DPP-4 sehingga GLP-1 tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif dan mampu merangsang penglepasan insulin serta menghambat penglepasan glucagon. Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal. Suntikan 1. IMA. Peptida ini disekresi oleh sel mukosa usus bila ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Hiperglikemia berat yang disertai ketosis. f. operasi besar. 5. 10 . DPP-IV inhibitor Glucagon-Like Peptide-1 (GLP-1) merupakan suatu hormon peptida yang dihasilkan oleh sel L di mukosa usus. 4. Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik. g. Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan. e. dapat diberikan sampai dosis optimal. Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat. Ketoasidosis diabetic. b. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan. sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. b. Stres berat (infeksi sistemik. Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasionalyang tidak terkendali dengan perencanaan makan. titrasi pada awal penggunaan akan memudahkan dokter untuk memantau efek samping obat tersebut. Insulin Insulin diperlukan pada keadaan: Penurunan berat badan yang cepat. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose) Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus. stroke). GLP-1 merupakan perangsang kuat penglepasan insulin dan sekaligus sebagai penghambat sekresi glukagon. OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah. d. Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal makan. c. Cara Pemberian OHO. terdiri dari: a. Nateglinid: sesaat sebelum makan. Berbagai obat yang masuk golongan DPP-4 inhibitor.

plasma keton (+/-). Efek samping yang timbul pada pemberian obat ini antara lain rasa mual dan muntah. Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin). Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO. Agonis GLP-1 dapat bekerja sebagai perangsang penglepasan insulin yang tidak menimbulkan hipoglikemia ataupun peningkatan berat badan yang biasanya terjadi pada pengobatan dengan insulin ataupun sulfonilurea. anion gap normal atau sedikit meningkat (Perkeni. kerja pendek dan menengah (premixed insulin). Insulin kerja panjang (long acting insulin). Terapi insulin tunggal atau kombinasi disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan respons individu. b. Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia. 2. Komplikasi akut a.6. Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH) Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200 mg/dL). Insulin campuran tetap. Komplikasi 1. Osmolaritas plasma meningkat (300-320 mOs/ mL) dan terjadi peningkatan anion gap. yang dinilai dari hasil pemeriksaan kadar glukosa darah harian. c. disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton(+) kuat. tanpa tanda dan gejala asidosis. Berdasarkan lama kerja. Agonis GLP-1 Pengobatan dengan dasar peningkatan GLP-1 merupakan pendekatan baru untuk pengobatan DM. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh 11 . Catatan:kedua keadaan (KAD dan SHH) tersebut mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. 2011). Hipoglikemia Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah <60 mg/dL. Insulin kerja pendek (short acting insulin)..I. Ketoasidosis diabetik (KAD) Merupakan komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dL). insulin terbagi menjadi empat jenis. osmolaritas plasma sangat meningkat (330-380 mOs/mL). Memerlukan perawatan di rumah sakit guna mendapatkan penatalaksanaan yang memadai. yakni: Insulin kerja cepat (rapid acting insulin). II.

kesadaran menurun sampai koma).8 g/kgBB) juga akan mengurangi risiko terjadinya nefropati. Makroangiopati Pembuluh darah jantung. Setelah diagnosis DM ditegakkan pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal dengan pemeriksaan neurologi 12 . 2. penggunaan sulfonilurea dan insulin. banyak keringat. Hipoglikemia harus segera mendapatkan pengelolaan yang memadai. Glukagon diberikan pada pasien dengan hipoglikemia berat. Terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati. sementara dapat diberikan glukosa 40% intravena terlebih dahulu sebagai tindakan darurat. b. berupa hilangnya sensasi distal. dan rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing. gemetar. dan lebih terasa sakit di malam hari. Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri. Pembatasan asupan protein dalam diet (0. Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar-debar. Neuropati Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer. Nefropati diabetik Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko nefropati. Bagi pasien dengan kesadaran yang masih baik. sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran. Berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. Komplikasi menahun a. diberikan makanan yang mengandung karbohidrat atau minuman yang mengandung gula berkalori atau glukosa 15-20 gram melalui intra vena. Pembuluh darah otak dan Pembuluh darah tepi: penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang diabetes. Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa darah 15 menit setelah pemberian glukosa. Biasanya terjadi dengan gejala tipikal claudicatio intermittent. meskipun sering tanpa gejala. gelisah. Mikroangiopati: Retinopati diabetik Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko dan memberatnya retinopati. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang pertama muncul.

pendengaran. b. dan buku.I. Untuk penatalaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama dengan bidang/disiplin ilmu lain. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Keyakinan Biasanya keyakinan diperoleh secara turun menurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia. sederhana. yaitu: a. Pengetahuan 1. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. d. II. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. yakni indra penglihatan. pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. 2. perawatan kaki yang memadai akan menurunkan risiko amputasi. rasa dan raba. penciuman.7. c. baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif. Faktor. televisi.faktor yang mempengaruhi pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Apabila ditemukan adanya polineuropati distal. dengan monofilamen 10 gram sedikitnya setiap tahun. koran. Keyakinan ini bisa mempengaruhi pengetahuan seseorang. Pengalaman Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun oramg lain. Fasilitas Fasilitas – fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. misalnya radio. Menurut Arikunto (2010) tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi 3 yaitu: 13 . Secara umum. 2003). majalah. Semua penyandang diabetes yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko ulkus kaki.

misalnya: air bersih.75% c. Faktor penguat (reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma). serta lingkungan. yaitu: a. yaitu : 14 . rumah sakit. Faktor. a. baik dukungan suami maupun keluarga.I. tingkat pendidikan. dsb.100% b. tingkat sosial ekonomi. Dari batasan ini. posyandu. Faktor Predisposisi (predisposing factors) Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan.sistem nilai yang dianut masyarakat.faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003). Termasuk juga disini undang-undang peraturan-peraturan baik dari pusat maupun dari pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.hal yang berkaitan dengan kesehatan. dokter atau bidan praktek swasta. dan sebagainya. Sikap dan Perilaku 1. perilaku kesehatan adalah suatu respon (organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. Kategori baik : menjawab benar 76% . 2. polindes. Kategori Kurang: menjawab benar < 56% II. tokoh agama (toma). tempat pembuangan sampah. sikap dan perilaku pada petugas kesehatan. pos obat desa. sistem pelayanan kesehatan. makanan dan minuman. Tujuan Perilaku Kesehatan Pasien DM Menurut Notoatmodjo (2003). Faktor pendukung (enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. pekerjaan. tempat pembuangan tinja. Kategori Cukup : menjawab benar 56% . perilaku pemeliharaan kesehatan ini terjadi 3 aspek. c. tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal. poliklinik. b. Termasuk juga dukungan sosial.8. ketersediaan makanan bergizi. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas. perilaku diperilaku oleh 3 faktor utama. dsb.

Memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami keadaan sakit akut dengan tepat f. a. Pekerjaan 5. Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada II. apapbila seseorang dalam keadaan sehat. Kerangka Teori Diabetes Melitus Penatalaksanaan DM 1. Pemantauan Kadar Gula 2. b. Tradisi dan kepercayaan . Pendidikan Komplikasi 4. c. e. Mengikuti pola makan sehat. c. Menggunakan obat diabetes dan obat-obatan dalam keadaan khusus secara aman dan teratur. Diet 3. serta pemeliharaan kesehatan jika sudah sembuh dari sakit.II. Perilaku peningkatan kesehatan. d. Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Perilaku pencegahan penyakit.Pengetahuan 4. Edukasi DM Faktor Predisposisi 2. dan penyembuhan bila sakit. Terapi Obat 15 5. b. Menurut hasil Konsesus PERKENI tahun 2011 sikap dan perilaku pasien DM yang diharapkan meliputi a. Latihan Fisik 1. Sikap Darah dan mencegah 3. Meningkatkan kegiatan jasmani. Melakukan pemantauan gula darah mandiri dan memanfaatkan data yang ada.

Diet DM 3.Edukasi 16 2.Keyakinan 2. Fasilitas II.III.Tingkat Pendidikan 1. Lingkungan 4. Terapi Obat 5. Latihan Fisik 4.Kerangka Konsep 1. agama dan petugas kesehatan 1.Pengalaman Faktor Pendukung 2.Sarana Prasarana 3. Faktor Penguat Pengetahuan Sikap dan Perilaku Sikap dan perilaku tokoh masyarakat. Pemantauan Kadar .

II. BAB III METODE PENELITIAN III. Desain Desain penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional mengenai gambaran pengetahuan. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di acara Prolanis Puskesmas Kota Selatan bulan Juni 2017. 17 . sikap dan perilaku pasien yang menderita diabetes melitus pada peserta prolanis Puskesmas Kota Selatan bulan Juni 2017. III.I.

1.III.III.2. Besar Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang ingin diteliti. Kriteria Inklusi III. Responden yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap III.2.III.IV.1.1. Populasi Terjangkau Semua pasien Prolanis Puskesmas Kota Selatan bulan Juni 2017 yang menderita diabetes melitus yang berusia 30-60 tahun yang telah didiagnosis menderita diabetes melitus dan rutin datang berobat.V.2.2. Sampel yang diambil pada penelitian ini semua pasien Prolanis Puskesmas Kota Selatan bulan Juni 2017 yang berusia 30 tahun yang telah didiagnosis diabetes melitus yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengisi kuesioner.2.IV. Pasien Prolanis Puskesmas Kota Selatan yang bersedia menjadi responden dan setuju untuk mengisi kuesioner III. III. Populasi Target Semua pasien yang menderita diabetes melitus yang berusia 30-60 tahun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kota Selatan.V. Populasi III.1.IV. Pasien Prolanis Puskesmas Kota Selatan pada bulan Juni 2017 yang menderita diabetes melitus yang berusia 30-60 tahun yang telah didiagnosis menderita diabetes melitus.IV.III. . III. Alasan teknik pengambilan sampel ini adalah jumlah populasi (sample frame) yang digunakan dalam penelitian ini tidak diketahui secara pasti.IV. III. Kriteria Eksklusi III.1. III.1.V. Teknik Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik non probability sampling yaitu purposive sampling. Kriteria Inklusi dan Eksklusi III. Sampel III. Pengambilan sampel dilakukan kepada pasien Prolanis yang datang berobat ke 18 .1.IV.

III. Melakukan editing. 7. Manajemen dan Analisis Data III. 4.1. orang penderita diabetes melitus 3. Menghubungi Kepala Puskesmas Kota Selatan untuk meminta izin dilakukannya penelitian di acara Prolanis Puskesmas Kota Selatan bulan Juni 2017. Cara Kerja 1.VI.. Metode Pengumpulan Data III. Menentukan jumlah sampel yaitu ….1.IX.. 5.2. Pelaporan penelitian. III. Variabel bebas berupa pengetahuan. Sumber Data Sumber data ini diambil dari data primer yang diperoleh peneliti dengan menggunakan kuesioner terhadap pasien Prolanis dengan usia 30 – 60 tahun yang telah didiagnosis diabetes melitus yang ada di Puskesmas Kota Selatan bulan Mei 2017 . 8. dan tabulasi terhadap data primer milik responden yang sudah dikumpulkan. Puskesmas Kota Selatan dan bersedia menjadi responden dengan mengisi lembar kuesioner dengan jumlah sampel …. Pengumpulan Data 19 .VI.VIII. Identifikasi Variabel Dalam penelitian ini digunakan variabel bebas (independent). Penulisan laporan penelitian. Instrumen Penelitian Alat dan bahan yang diperlukan: kuesioner. III. Melakukan pengumpulan data primer yang didapatkan melalui pengisian kuesioner. Menentukan cara pengambilan sampel dengan metode non probability sampling dengan cara melakukan purposive sampling di acara Prolanis Puskesmas Kota Selatan. Mengumpulkan bahan ilmiah dan merencanakan desain penelitian 2. 6.IX. koding. orang. verifikasi.VII. III.VI. III. sikap dan perilaku pasien diabetes melitus Prolanis di Puskesmas Kota Selatan pada bulan Mei 2017.

6. dan pengesahan (verification). Pengelompokan Data Setelah dilakukan pengolahan data. Interpretasi Data Data diintepretasi secara analitik asosiatif antar variabel-variabel yang telah ditentukan. pemberian kode (coding). Pengolahan Data Terdapat beberapa langkah pengolahan data berupa pemeriksaan data (editing). III. III.4.IX.5. dan grafikal. Pelaporan Data Data disusun dalam bentuk laporan penelitian dan selanjutnya dipresentasikan di Puskemas Kota Selatan 20 .IX. III.IX.IX. hasil data tersebut dikelompokkan berdasarkan kelompok-kelompok data. III. penyusunan data (entry).IX.7.3. III.IX. Penyajian Data Data yang didapat disajikan secara tekstular. III. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan pada pasien dengan usia 30-60 tahun penderita diabetes melitus yang datang ke acara Prolanis Puskesmas Kota Selatan bulan Mei 2017 . tabular. Analisis Data Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dengan distribusi frekuensi dari variabel tergantung dan setiap variabel bebas.2.

100%) melakukan penginderaan Guttman dengan 20 tentang tingkat Cukup = skor 11 – 14 (56% . pertanyaan pengetahuan. Kurang = skor < 11 (< 56%) (Notoatmodjo. Definisi Operasional Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Pengetahuan Hasil “tahu” setelah orang Menggunakan skala Kuesioner B Baik = skor 15 – 20 Ordinal (76% .III. 2003) Perilaku Suatu kegiatan atau aktivitas Menggunakan Kuisioner C organisme yang bersangkutan kuisioner tentang Sikap dan Perilaku Pasien Sikap Merupakan reaksi atau proses Menggunakan Kuisioner C seseorang terhadap suatu kuisioner tentang Sikap dan stimulus atau obyek Perilaku Pasien 21 .X.75%) terhadap suatu obyek tertentu.

Tidak Edukasi penyuluhan berkaitan dengan kuesioner dengan 2 Sikap dan penyakit DM untuk pertanyaan Perilaku Edukasi meningkatkan pengetahuan menggunakan skala guttman Sikap dan Suatu kegiatan untuk memenuhi Menggunakan Kuisioner C.dll dengan tujuan untuk Perilaku Latihan membakar lemak Fisik 22 . lari pagi. 1. 1.Sikap dan Kegiatan Mencari dan mengikuti Menggunakan Kuisioner C.Tidak Latihan Fisik seperti jalan kaki. kuisioner Sikap dan senam.Tidak Baik kebutuhan untuk aktifitas guna Kuisioner Sikap dan mempertahankan berat badan Perilaku diet mendekati normal Sikap dan Suatu kegiatan sehari-hari Menggunakan Kuisioner C.Ya Nominal Perilaku 2. 1.Ya Nominal Perilaku 2.Baik Nominal Perilaku Diet 2.

Ya Nominal Perilaku 2. 1. 1.Tidak Pemantauan gula darah dalam keadaan normal kuisioner Sikap dan Kadar Gula darah Perilaku Pemantauan kadar gula darah 23 .Tidak Kepatuhan keadaan sakit kuisioner Sikap dan Obat Perilaku kepatuhan obat Sikap dan Suatu kegiatan untuk mengontrol Menggunakan Kuisioner C.Sikap dan Suatu kegiatan yang berujuan Menggunakan Kuisioner C.Ya Nominal Perilaku untuk mengobati sesuatu dalam 2.

Peneliti akan 24 . Sikap dan Perilaku Pasien Diabetes Mellitus di Puskesmas Kota Selatan Periode Juni 2017 Anda diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang hubungan peran keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada pasien diabetes mellitus di Puskesmas Kota Selatan.III.XI. Etika Penelitian Pada penelitian subjek pasien dengan usia 30-60 tahun yang telah didiagnosis menderita diabetes melitus yang ada di acara Prolanis Puskemas Kota Selatan diberikan jaminan bahwa data-data yang diberikan dijamin kerahasiaannya dan subjek berhak menolak untuk menjadi sampel. Kota Gorontalo. INFORMED CONSENT Puskesmas Kota Selatan Persetujuan Tertulis untuk Partisipasi dalam Penelitian Gambaran Pengetahuan.

.. anda berhak untuk tidak menjawabnya. Namun............... Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peran yang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini......... Semua kuesioner yang terlah terisi hanya akan diberikan kode yang tidak bisa digunakan untuk mengindentifikasi identitas anda...... 2... Keterlibatan anda dalam penelitian ini............................... 3.....memberikan lembar persetujuan ini dan menjelaskan bahwa keterlibatan anda di dalam penelitian ini atas dasar sukarela..... Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 5.... tidak menyebabkan gangguan pada aktivitas anda sehari-hari........ Umur : . 25 ... 1.. nama anda tidak akan dicatat dimanapun......... Apabila hasil penelitian ini dipublikasikan.... Gorontalo. Peneliti akan menjaga kerahasiaan anda dan keterlibatan anda dalam penelitian ini............. Pendidikan Terakhir : Tidak tamat SD / sederajat Tamat SMA / sederajat Tamat SD / sederajat Tamat Sarjana / sederajat Tamat SMP / sederajat 6..... Juni 2017 (………………………………………) Bagian A : Data Demografi Jawablah daftar pertanyaan berikut ini dengan menuliskan tanda checklist (√) pada kotak dan mengisi pada isian titik-titik yang telah tersedia... Pekerjaan : PNS Pensiun Pegawai Swasta Tidak Bekerja Wiraswasta lainnya (tuliskan) ....... saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini......................... sejauh yang peneliti ketahui........ 4................................ jika diperlukan catatan penelitian ini dapar dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya...... Lama Menderita DM :... Nama : ............. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa yang anda jawab di penelitian ini......... tidak satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan ditampilkan dalam publikasi tersebut..

dan berat badan/kegemukan adalah merupakan faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes mellitus. 5 Penyakit diabetes mellitus ditandai dengan sering buang air kecil (kencing) 6 Tidak enak makan. dengan memberi tanda () pada kolom yang telah disediakan dan semua pertanyaan harus dijawab dengan satu pilihan. 10 Pengaturan makan (diet) sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darah. keturunan dari keluarga. 13 Olah raga yang baik untuk penderita diabetes mellitus dilakukan selama kurang lebih 30 menit. 11 Merokok dan alkohol harus dihindari oleh penderita diabetes mellitus 12 Olah raga rutin sangat bagus untuk membantu mengontrol kadar gula darah dan kolesterol dalam darah. lemas. merupakan gejala diabetes mellitus 7 Diabetes melitus dapat mengakibatkan gangguan pendengaran 8 Kerusakan organ ginjal dan infeksi pada kaki hingga membusuk (luka tidak cepat sembuh) merupakan akibat penyakit diabetes. 4 Umur. 26 . 2 Penyakit diabetes mellitus disebut juga dengan penyakit kencing manis. 9 Direbus. dibakar. dan dikukus merupakan cara memasak makanan yang dapat meningkatkan kadar gula darah.Kuesioner B : Tingkat Pengetahuan tentang DM Petunjuk Pengisian : Pilihlah jawaban sesuai dengan yang bapak/ibu ketahui. 3 Penyakit diabetes mellitus salah satunya juga disebabkan karena kurang atau tidak adanya hormon insulin. 14 Meminum obat diabetes secara teratur sangat diharuskan untuk mencegah terjadinya komplikasi diabetes. No Pertanyaan Benar Salah 1 Penyakit diabetes mellitus adalah penyakit kelebihan gula dalam darah. berat badan menurun.

dipanggang atau dikukus 2. Saya makan makanan yang digoreng / bersantan 3. Apakah anda mengikuti kegiatan penyuluhan yang berkaitan dengan diabetes melitus (penyakit gula)? 2. Latihan Fisik 27 . 17 Kadar gula darah 250 berarti nilainya normal 18 Untuk mencegah keparahan penyakit diabetes mellitus diperlukan pemeriksaan kadar gula darah berkala atau teratur. kue manis) 3. teh manis. Edukasi DM No Pernyataan Dilakukan Ya Tidak 1. coklat. nasi merah. 16 Terapi insulin diberikan apabila terapi jenis lain tidak dapat mengontrol kadar gula darah. kentang. 1. 15 Untuk mengendalikan gula darah. oatmeal) 5. Saya mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gula (permen. Mengganti nasi dengan (ubi jagung. 19 Penggunaan kaos kaki yang ketat diperbolehkan untuk penderita diabetes mellitus 20 Menggunakan lotion dan menggunting kuku dengan tidak terlalu dalam secara teratur sangat dianjurkan untuk menghindari infeksi. Saya mengkonsumsi sayur atau makanan yang di rebus. Saya makan nasi sebanyak seperempat porsi piring untuk tiap makan besar 4. obat lebih penting dari pada diet dan olah raga. Jumlah Kuesioner C : Sikap dan Perilaku Penderita DM Petunjuk Pengisian : Isilah dengan tanda () pada kolom yang tersedia dari pernyataan yang sesuai dengan kebiasaan bapak/ibu lakukan sehari-hari. Diet DM No Pernyataan Dilakukan Ya Tidak 1.

Apakah anda memeriksakan kadar gula darah secara teratur? Terima Kasih 28 . Pemantauan kadar gula darah No Pernyataan Dilakukan Ya Tidak 1. sepeda. No Pernyataan Dilakukan Ya Tidak 1. senam) 4. Saya minum obat atau suntuk insulin mandiri secara teratur sesuai jadwal dan dosis yang telah ditentukan oleh dokter 5. lari pagi. badminton. Saya melakukan olahraga (jalan kaki. Terapi obat No Pernyataan Dilakukan Ya Tidak 1.