1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Artinya : “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-

tanaman: zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda

(kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An Nahl : 11).

Salah satu tanaman yang sudah dikenal dalam masyarakat dan

digunakan sebagai obat tradisional adalah nilam (Pogostemon cablin

Benth.) (Wijayakusuma dkk, 1992).

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman yang sudah

banyak dikenal oleh masyarakat luas. Tanaman nilam banyak ditanam

untuk diambil minyaknya. Minyak nilam banyak dibutuhkan untuk industri

kosmetik, parfum, antiseptik, dan lain-lain (Mangun, 2009).

Daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) memiliki kandungan minyak

atsiri, flavonoid, saponin, tanin, glikosida, terpenoid dan steroid.

Kandungan alkohol seperti patchouli alcohol beserta turunannya, fenol

dan golongan terpenoid pada minyak nilam memiliki aktivitas antibakteri

(Mangun, 2009).
2

Senyawa fenolik di alam terdapat sangat luas mempunyai variasi

struktur yang luas, mudah ditemukan di semua tanaman, daun, bunga dan

buah. Ribuan senyawa fenolik di alam telah diketahui strukturnya antara

lain flavonoid, fenol monosiklik sederhana, fenil propanoid, polifenol

(lignin, melanin, tanin), dan kuinon fenolik (Fauziah, 2008).

Tanaman nilam telah banyak dimanfaatkan sebagai obat

tradisional. Akar dari tanaman ini digunakan untuk pencahar, bagian

daun sebagai deodoran, obat luka, wasir, disentri, penyakit empedu,

gangguan haid dan obat peluruh haid. Semua bagian dari tumbuhan ini

juga dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit kepala, dan obat diare

(Halimah, 2010). Minyak nilam juga bermanfaat dalam pembuatan obat

antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, antiinflamasi, antidepresi

dan dekongestan (Mangun, 2009).

Secara umum senyawa fenol memiliki sifat bakteriosid, antimetik,

antihelmintik, antiasmatik, analgetik, antiinflamasi, meningkatkan mortilitas

usus, antimikroba, dan masih banyak lagi (Andarwulan, 2012).

Berdasarkan hal tersebut diatas maka dilakukan penelitian

penentuan kadar fenolik total yang terkandung pada daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.) dengan metode spektrofotometri UV-Vis.

B. Rumusan Masalah

Berapakah kandungan fenolik total ekstrak etanol daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.) dengan metode spektrofotometri UV-Vis.?
3

C. Maksud dan Tujuan Penelitian

1. Maksud Penelitian

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk menetapkan

kadar fenolik total ekstrak etanol daun nilam (Pogostemon cablin

Benth.) dengan metode spektrofotometri UV-Vis.

2. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar

fenolik dari ekstrak etanol daun nilam (Pogostemon cablin Benth.).

b. Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk menentukan kadar

fenolik ekstrak etanol daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)

dengan metode spektrofotometri UV-Vis.

D. Manfaat penelitian

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari hasil penelitian yang dilakukan, diharapkan

dapat digunakan sebagai sumber data ilmiah, dan sebagai rujukan bagi

peneliti dan informasi tentang pengembangan pemanfaatan tanaman

daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) dalam bidang farmasi.

2. Manfaat praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk memberikan

bukti ilmiah sekaligus informasi kepada masyarakat mengenai
4

kandungan fenolik ekstrak etanol daun nilam (Pogostemon cablin

Benth.)

E. Kerangka Pikir

Daun nilam Manfaat : Akar dari tanaman
(Pogostemon ini digunakan untuk pencahar,
cablin Benth.) bagian daun sebagai
deodoran, obat luka, wasir,
disentri, penyakit empedu,
Masyarakat gangguan haid, obat peluruh
haid, obat sakit kepala dan
obat diare. Minyak nilam juga
Data Ilmiah
bermanfaat dalam pembuatan
obat antiradang, antifungi,
Penentuan Kadar antiserangga, afrodisiak,
Fenolik Total antiinflamasi, antidepresi dan
dengan Metode dekongestan
Spektrofotometri
UV-Vis

F. Hipotesis

Daun nilam (Pogostemon cablin, Benth) berpotensi memiliki

kandungan senyawa fenolik dan kadar fenoliknya dapat ditentukan

dengan metode spektrofotometri UV-Vis.
5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Tanaman

1. Klasifikasi nilam (Pogostemon cablin Benth.) (Integrated

Taxonomic Information System, 2016)

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Viridiplantae

Devisi : Tracheophyta

Superdivisi : Embryophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Lamiales

Family : Lamiaceae

Genus : Pogostemon desf

Spesies : Pogostemon cablin Benth.

2. Nama daerah

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) disetiap daerah mempunyai

nama yang berbeda-beda seperti di Purwekerto disebut dengan dilem

wangi, di Tapanuli Selatan disebut singgolom, sedangkan untuk nilam

yang berbunga di Jawa sering disebut dilem kembang dan di Aceh

dikenal dengan nama nilam bukit (Pogostemon hevneanus Benth.)

(Rumondang, 2004).
6

3. Morfologi tumbuhan

Tanaman nilam adalah tanaman perdu wangi yang berakar

serabut, daunnya halus seperti beludru apabila diraba dengan tangan,

bentuk daunnya agak membulat lonjong seperti jantung dengan

warnannya agak pucat. Bagian bawah daun dan rantingnya berbulu

halus. Batangnya berkayu dengan diameter 10 – 20 mm relatif hampir

berbentuk segiempat. Sebagian besar daun yang melekat pada

ranting hampir selalu berpasangan satu sama lain. Jumlah cabang

yang banyak dan bertingkat mengelilingi batang sekitar 3 – 5 cabang

per tingkat. Tanaman ini memiliki umur tumbuh yang cukup panjang,

yaitu sekitar tiga tahun, panen perdana dapat dilakukan pada bulan ke

6 – 7 dan seterusnya setiap 2 – 3 bulan tergantung pemeliharaan dan

pola tanam, kemudian dapat diremajakan kembali dari hasil tanaman

melalui pesemaian atau pembibitan berupa setek (Mangun, 2009).

Nilam termasuk tanaman yang mudah tumbuh seperti

herbalainnya. Tanaman ini memerlukan suhu yang panas dan lembab.

Tanaman nilam tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian

sampai 700 mdpl (Nuryani, 2006). Sedangkan Mauludi dan Asman

(2005) menyebutkan tanaman nilam dapat tumbuh pada ketinggian

10 –1200 mdpl. Lebih lanjut disebutkan nilam dapat tumbuh pada

segala jenis tanah, akan tetapi tumbuh lebih baik pada tanah yang

gembur dan banyak mengandung rumus, bertekstur lempung sampai

liat berpasir. Selain itu nilam juga memerlukan curah hujan yang
7

merata dalam jumlah cukup. Saat berumur lebih dari 6 bulan,

ketinggian tanaman nilam dapat mencapai 60-90 cm dengan radius

cabang sekitar 60 cm.

4. Kandungan kimia

Daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) memiliki kandungan

minyak atsiri, flavonoid, saponin, tanin, glikosida, terpenoid dan

steroid. Kandungan alkohol seperti patchouli alcohol beserta

turunannya, fenol dan golongan terpenoid pada minyak nilam memiliki

aktivitas antibakteri (Mangun, 2009).

5. Kegunaan tanaman

Tanaman nilam telah banyak dimanfaatkan sebagai obat

tradisional. Akar dari tanaman ini digunakan untuk pencahar, bagian

daun sebagai deodoran, obat luka, wasir, disentri, penyakit empedu,

gangguan haid dan obat peluruh haid. Semua bagian dari tumbuhan

ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit kepala, dan obat

diare (Halimah, 2010)

Minyak nilam bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang,

antifungi, antiserangga, afrodisiak, antiinflamasi, antidepresi,

antiflogistik dan dekongestan (Mangun, 2009). Minyak nilam juga

terbukti dapat mencerahkan kulit dan mengobati jerawat (Rusli,

2010).
8

Dilaporkan pula bahwa minyak nilam juga berfungsi sebagai

insektisida untuk larva Spodoptera littoralis dengan LC50 antara 10,1

dan 20,01 ml/m 3 (Pavela, 2005).

B. Uraian Fenolik

Senyawa fenolik meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari

tumbuhan yang mempunyai ciri sama, yaitu cincin aromatik yang

mengandung satu atau dua gugus OH. Senyawa fenolik di alam terdapat

sangat luas mempunyai variasi struktur yang luas, mudah ditemukan di

semua tanaman, daun, bunga dan buah. Ribuan senyawa fenolik di alam

telah diketahui strukturnya antara lain flavonoid, fenol monosiklik

sederhana, fenil propanoid, polifenol (lignin, melanin, tanin), dan kuinon

fenolik (Fauziah, 2008).

Senyawa fenolik sangat peka terhadap oksidasi enzim dan mungkin

hilang pada proses isolasi akibat kerja enzim fenolase yang terdapat

dalam tumbuhan. Ekstraksi senyawa fenol tumbuhan dengan etanol

mendidih biasanya mecegah terjadinya oksidasi enzim. Selain itu secara

khas senyawa fenol menunjukkan geseran batokrom pada spektrumnya

bila ditambahkan basa. Karena itu cara spektrofotometri penting terutama

untuk identifikasi dan analisa kuantitatif senyawa fenol (Harbone, 1987).

Secara umum senyawa fenol memiliki sifat bakteriosid, antimetik,

antihelmintik, antiasmatik, analgetik, antiinflamasi, meningkatkan mortilitas

usus, antimikroba, dan masih banyak lagi (Andarwulan, 2012).
9

Gambar 1. Senyawa Fenol

Metode Folin Ciocalteau telah ditetapkan sebagai prosedur resmi

penetapan kadar total fenol dalam anggur oleh OIV (Office Internacional

de la Vigne et du vin) dan ditetapkan sebagai prosedur standar analisis

total fenolik oleh OIV pada tahun 1990 (Putri, 2008).

Folin Ciocalteau berisi campuran natrium tungstate, natrium

molibdat, litium sulfat, asam klorida pekat, asam fosfat 85% bromin, dan

air suling. Reagen Folin Ciocalteau digunakan karena senyawa fenolik

dapat bereaksi dengan Folin membentuk larutan berwarna yang dapat

diukur absorbansinya. Prinsip dari metode Folin Ciocalteau adalah

terbentuknya warna kompleks berwarna biru yang dapat diukur pada

panjang gelombang 765 nm. Pereaksi ini mengoksidasi fenolat (garam

alkali) atau gugus fenolik-hidroksi mereduksi asam heteropoli

(fosfomolibdat-fosfotungstat) yang terdapat dalam pereaksi Folin

Ciocalteau menjadi suatu kompleks molibdenum-tungsten. Senyawa

fenolik bereaksi dengan reagen Folin Ciocalteau hanya dalam suasana

basa agar terjadi disosiasi proton pada senyawa fenolik menjadi ion

fenolat (Apsari, 2011).

Senyawa fenolik telah diketahui memiliki berbagai efek biologi seperti

aktivitas antioksidan melalui mekanisme sebagai pereduksi, penangkap
10

radikal bebas, pengkhelat logam, peredam terbentuknya oksigen singlet

serta pendonor elektron. Salah satu antioksidan alami yaitu asam galat (3,

4, 5-trihydroxybenzoic acid).

Asam galat termasuk dalam senyawa fenolik dan memiliki aktivitas

antioksidan yang kuat (Ukieyanna, 2012). Asam galat merupakan

senyawa fenolik turunan asam hidroksibenzoat yang tergolong asam fenol

sederhana. Asam galat menjadi pilihan sebagai standar ketersediaan

substansi yang stabil dan murni (Viranda, 2009). Asam galat memiliki

rumus molekul C7H6O5. Nama IUPAC dari asam galat adalah 3,4,5-

trihidroksibenzoat. Rumus kimia dari asam galat adalah C 6H2(OH)3COOH.

Struktur dari asam galat, yaitu sebagai berikut (Belinda, 2011) :

Gambar 2. Struktur Asam Galat

Senyawa ini memiliki ciri-ciri fisik berupa Kristal berwarna putih-

kekuningan atau coklat-kekuningan. Asam galat memiliki berat molekul

sebesar 188,14 gram/mol serta memiliki titik leleh sebesar 250°C (Belinda,

2011).
11

C. Metode Ekstraksi

1. Definisi ekstraksi

Ekstraksi merupakan suatu proses penarikan komponen

senyawa yang diinginkan dari suatu bahan dengan cara pemisahan

satu atau lebih komponen dari suatu bahan yang merupakan sumber

komponennya. Pada umumnya ekstraksi akan semakin baik bila

permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan dengan pelarut

semakin luas. Dengan demikian, semakin halus serbuk simplisia

maka akan semakin baik ekstraksinya. Selain luas bidang, ekstraksi

juga dipengaruhi oleh sifat fisika dan kimia simplisia yang

bersangkutan (Achmad, 2004).

Proses ekstraksi merupakan penarikan zat pokok yang

diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut

yang dipilih dengan zat yang diinginkan larut (Voight, 1994).

Proses ekstraksi khususnya untuk bahan yang berasal dari

tumbuhan adalah sebagai berikut (Seidel V, 2006):

1. Pengelompokkan bagian tumbuhan (daun, bunga, akar, dan lain –

lain), pengeringan dan penggilingan bagian tumbuhan

2. Pemilihan pelarut

3. Pelarut polar : air, etanol, metanol, dan sebagainya

4. Pelarut semi polar : etil asetat, diklorometan, dan sebagainya

5. Pelarut nonpolar : n-heksan, petroleum eter, kloroform dan

sebagainya.
12

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang

dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan

pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia

dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid,

dan lain – lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung

simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi

yang cepat (Ditjen POM, 2000).

Prinsip dasar ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar

dalam pelarut polar dan senyawa non-polar dalam pelarut non-

polar.Serbuk simplisia diekstraksi berturut – turut dengan pelarut

yang berbeda polaritasnya (Harborne, 1987).

Menurut Voigt (1994) pada dasarnya terdapat dua prosedur

untuk membuat sediaan obat tumbuhan, salah satunya dengan cara

ekstraksi. Cara ekstraksi yaitu bahan segar yang telah dikeringkan

dan dihaluskan, diproses dengan suatu cairan pengekstraksi. Jenis

ekstraksi yang digunakan tergantung dari kelarutan bahan yang

terkandung dalam tanaman serta stabilitasnya.

Kandungan kimia dari suatu tanaman yang berkhasiat obat

umumnya mempunyai sifat kepolaran yang berbeda-beda, sehingga

perlu untuk memisahkan secara selektif menjadi kelompok-kelompok

tertentu.Serbuk simplisia diekstraksi berturut – turut dengan pelarut

yang berbeda polaritasnya (Harborne, 1987).
13

2. Jenis – jenis ekstraksi

Jenis ekstraksi bahan alam yang sering digunakan adalah

(Ditjen POM, 1986) :

a. Secara panas seperti refluks dan destilasi uap air karena sampel

langsung dipanaskan dengan pelarut, dimana umumnya digunakan

untuk sampel yang mempunyai bentuk dan dinding sel yang tebal.

Metode ekstraksi secara panas digunakan untuk sampel yang

tahan panas dan mempunyai tekstur yang keras seperti batang,

akar, dan biji.

b. Secara dingin misalnya maserasi, perkolasi, dan soxhletasi.

Ekstraksi secara dingin digunakan untuk sampel yang lunak, tidak

tahan panas, tidak mudah mengembang dalam cairan penyari.

3. Penyarian secara maserasi

Maserasi adalah proses penyarian simplisia dengan cara

perendaman menggunakan pelarut dengan sesekali pengadukan

pada temperatur kamar. Maserasi yang dilakukan pengadukan secara

terus menerus disebut maserasi kinetik sedangkan yang dilakukan

pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan

terhadap maserat pertama dan seterusnya disebut remaserasi

(DepKes RI, 1986).

Maserasi adalah salah satu cara ekstraksi bahan alam dengan

erendam 10 bagian simplisia atau campuran simplisia didalam bejana

tertutup, dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, kemudian ditutup
14

dan dibiarkan selama 5 hari terlindungi dari cahaya sambil sering

diaduk, diperas dan dicuci ampas dengan cairan penyari secukupnya.

Kemudian dipindahkan ke dalam bejana tertutup (Ditjen POM, 1986).

D. Uraian Spektrofotometri Ultraviolet – Visibel

Spektrofotometri UV-Vis adalah pengukuran panjang gelombang dan

intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh

sampel. Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup

untuk mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang

lebih tinggi. Spektrofotometri UV-Vis biasanya digunakan untuk molekul

dan ion anorganik atau kompleks di dalam larutan. Spektrofotometer UV-

Vis mempunyai bentuk yang lebar dan hanya sedikit informasi tentang

struktur yang bisa didapatkan dari spektrofotometri ini sangat berguna

untuk pengukuran secara kuantitatif. Sinar ultraviolet berada pada

panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan sinar tampak berada pada

panjang gelombang 400-800 nm. Panjang gelombang (λ) adalah jarak

antara satu lembah dan satu puncak, sedangkan frekuensi adalah

kecepatan cahaya dibagi dengan panjang gelombang (λ). Bilangan

gelombang adalah (v) adalah satu satuan per panjang gelombang

(Gandjar, 2007).

Radiasi elektromaknetik, yang mana sinar ultraviolet dan sinar

tampak merupakan salah satunya dapat dianggap sebagai energi yang

merambat dalam bentuk gelombang. Beberapa istilah dan hubungan

digunakan untuk menggambarkan gelombang ini . Panjang gelombang
15

merupakan jarak linear dari suatu titik pada satu gelombang ke titik yang

bersebelahan pada gelombang yang berdekatan. Sinar ultraviolet

mempunyai panjang gelombang antara 200 – 400 nm, sementara sinar

tampak mempuyai panjang gelombang 400 – 750 nm (Gandjar, 2007).

Suatu molekul hanya menyerap radiasi elektromagnetik dengan

panjang gelombang yang khusus (spesifik untuk molekul tersebut)

absorbs cahaya ultraviolet (radiasi berenergi tinggi) mengakibatkan

pindahnya sebuah elektron ke orbital dengan energi yang lebih tinggi

(Fessenden, 1986).

Molekul-molekul yang memerlukan banyak lebih banyak energi untuk

promosi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih

pendek. Molekul yang memerlukan energy yang lebih sedikit akan

menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang

menyerap cahaya dalam daerah visible (yakni senyawa berwarna)

mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan daripada senyawa

yang menyerap pada panjang gelombang UV (Gandjar, 2007).

Radiasi elektromaknetik dipancarkan dalam bentuk paket-paket

energi yang menyerupai partikel yang disebut foton atau kuantum. Energi

suatu foton berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya yang

secara matematis dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut

(Fessenden, 1986) : E = hv = hc / λ

Dimana : E = energi cahaya yang diserap
h = tetapan panck ; 6,6 x 10 – 27 erg.det
c = kecepatan cahaya ; 3,0 x 108 m/det
v = frekuensi ; dalam Hz
16

λ = panjang gelombang (nm)

Pada umumnya konfigurasi dasar setiap spektrofotometer berupa

susunan peralatan optik terkonstruksi sebagai berikut (Mulja, 1990).

SR M SK D A VD

Gambar 3. Prinsip Dasar Skema Rangkaian Alat Spektrofotometer UV-Vis
(Mulja, 1990)

Keterangan : SR = Sumber Radiasi
M = Monokromator
SK = Sampel Kompartemen
D = Detektor
A = Amplifier
VD = Visual Display

Dimana memiliki fungsi dan peranan tersendiri, yaitu (Mulja, 1990) :

a. Sumber radiasi

Beberapa macam sumber radiasi yang dipakai pada

spektrofotometer adalah lampu deuterium, lampu tungsten, dan lampu

merkuri. Lampu deutrium (D2) dipakai pada panjang gelombang 190 -

380 nm dengan umur lampu ± 500 jam pemakaian. Lampu tungsten

dipakai pada panjang gelombang 380-900 nm dengan umur lampu ±

1000 jam pemakaian. Lampu merkuru dipakai pada panjang

gelombang 365 nm berfungsi mengecek resolusi dari monokromator.

b. Monokromator

Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi

monokromatis dari sumber radiasi yang memancarkan radiasi

polikromatis. Monokromator terdiri dari susunan cekah (slit) masuk –

filter – prisma – kisi (grating) – celah keluar.
17

c. Sampel kompartemen (kuvet)

Kuvet atau sel merupakan wadah sampel yang akan dianalisis.

Ditinjau dari pemakaiannya, kuvet ada dua macam yaitu kuvet

disposibel untuk satu kali pemakaian terbuat dari Teflon atau plastic.

Ditinjau dari bahan yang dipakai membuat kuvet, ada dua macam

yaitu, kuvet dari silics (kuarsa) untuk daerah pengukuran 190-1100

nm, dan kuvet dari bahan gelas untuk daerah pengukuran 380-1100

nm karena bahan dari gelas mengabsorbsi radiasi UV.

d. Detektor

Fungsi detektor adalah mengubah sinyal radiasi yang diterima

menjadi sinyal elektronik. Beberapa macam detektor telah dipakai

dalam spektrofotometri UV-Visibel adalah detektor fotosel, detektor

tabung foton hampa, detektor tabung penggandaan, foto, dan detector

diode-array.

e. Amplifier atau penguat

Amplifier berfungsi untuk memperkuat arus yang timbul pada

detektor ke sistem pembacaan.

f. Visual display

Visual display berfungsi untuk menghasilkan data dalam bentuk

diagram. Radiasi dengan panjang gelombang lebih pendek

mempunyai energi yang lebih tinggi, oleh karena itu sebuah foton

cahaya UV berenergi lebih tinggi dari pada foton gelombang radio

(Fessenden,1986).
18

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan juli – september 2016.

Dilaksanakan di Laboratorium Kimia Farmasi dan Laboratorium Instrumen

Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia.

B. Populasi dan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman nilam

(Pogostemon cablin Benth.). Sampel yang digunakan adalah daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.) asal desa Lawewe Kota Palopo, Sulawesi

Selatan.

C. Metode Kerja

Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan metode Folin

Ciocalteau yang mengacu pada prosedur Chun, et al., (2003) untuk

menentukan kadar fenolik total menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

D. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat yang digunakan

Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah

batang pengaduk, cawan porselin, gelas arloji, gelas kimia (pyrex),

gelas ukur (pyrex), kuvet, labu ukur (pyrex), mikropipet 100-1000 µ?,

pipet tetes, pipet volume, rak tabung, sendok tanduk, spektrofotometer
19

UV-Vis tipe evolution 201, tabung reaksi (pyrex), timbangan analitik tipe

GR-200, dan toples.

2. Bahan yang digunakan

Adapun bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah

aquabidestillata, asam galat p.a, besi (III) klorida (FeCl3), ekstrak etanol

daun nilam (Pogostemon cablin Benth.), etanol p.a, etanol 96%,

natrium karbonat (Na2CO3 p.a), dan reagen Folin Ciocalteau.

E. Prosedur Penelitian

1. Penyiapan sampel penelitian

a. Pengambilan dan pengolahan sampel

Pengambilan sampel daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)

dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WITA di desa Lawewe

Kabupaten Palopo, dengan cara mengambil daun yang masih

segar secara manual. Kemudian dibersihkan dari kotoran-kotoran

yang menempel dengan menggunakan air yang mengalir dan

dikeringkan dengan cara diangin-anginkan tanpa sinar matahari ±

1 minggu. Setelah kering sampel dipotong-potong kecil dan

diserbukkan menggunakan blender .

b. Ekstraksi daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)

Sebanyak 300 gram serbuk daun nilam (Pogostemon cablin

Benth.) dimasukkan ke dalam wadah maserasi, ditambahkan

pelarut etanol 96% hingga serbuk simplisia terendam, dibiarkan

selama 3-4 hari. Setelah proses ekstraksi pertama selesai,
20

ampasnya dimaserasi kembali dengan cairan penyari yang baru.

Ekstrak kental yang telah dikumpulkan lalu diuapkan dengan

menggunakan alat Rotary Vacuum Evaporator hingga diperoleh

ekstrak etanol kering (Ahmad, et al., 2015).

2. Analisis kualitatif kandungan fenolik

Senyawa golongan fenolik dapat dideteksi dengan menggunakan

FeCl3 1%. Dimana pengujiannya yaitu sebanyak 1 gram sampel

dilarutkan dengan menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 2 ml.

Larutan yang dihasilkan diambil sebanyak 1 ml kemudian

ditambahkan 2 tetes larutan FeCl3. Terbentuknya warna hijau, merah,

ungu, biru, atau hitam yang kuat menunjukkan adanya senyawa fenol

dalam sampel (Harbone, 1987).

3. Analisis kuantitatif

a. Pembuatan larutan pereaksi

1. Pembuatan pereaksi Na2CO3

Ditimbang sebanyak 3,5 gram Na2CO3 kemudian

dilarutkan dengan aquabidestillata hingga 50 ml (Ahmad et al.,

2015).

2. Pembuatan reagen Folin-Ciocalteau (1:10)

Dipipet sebanyak 1 ml reagen Folin Ciocalteau kemudian

dilarutkan dalam aquabidestillata 10 ml.
21

3. Pembuatan larutan standar asam galat

Larutan standar asam galat 1000 ppm dibuat dengan

menimbang 10 mg asam galat dilarutkan dengan etanol p.a

hingga volume 10 ml. Kemudian dilakukan pengenceran

konsentrasi 100 ppm, dengan cara dipipet 2,5 mL dari larutan

standar asam galat konsentrasi 1000 ppm kemudian

dicukupkan dengan etanol p.a hingga 25 mL.

b. Tahapan penentuan kadar senyawa fenolik total

1. Penentuan panjang gelombang maksimal (maks)

Penentuan panjang gelombang maksimal asam galat

dilakukan dengan mengukur larutan asam galat konsentrasi 5

ppm pada range 400-800 nm dan diperoleh panjang gelombang

maksimal yaitu 662,85 nm.

2. Pengukuran larutan standar asam galat

Dibuat konsentrasi 3 ppm (0,3 ml), 13 ppm (1,3 ml), 23

ppm (2,3 ml), 33 ppm (3,3 ml), 43 ppm (4,3 ml) dan 53 ppm

(5,3 ml) yang dipipet dari larutan standar asam galat

konsentrasi 100 ppm ditambahkan 0,4 ml reagen Folin

Ciocalteau dikocok dan dibiarkan 4-8 menit ditambahkan 4,0 ml

larutan Na2CO3 dikocok hingga homogen. Kemudian

dicukupkan dengan aquabidestillata hingga 10 ml dan

didiamkan selama 2 jam pada suhu ruangan. Diukur absorbansi

pada panjang gelombang maksimal 662,85 nm, dibuat kurva
22

baku hubungan antara konsentrasi asam galat (µg/ml) dengan

absorbansi (Ahmad et al., 2015).

4. Penentuan kadar fenolik total ekstrak etanol daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.)

Penentuan kadar pada ekstrak etanol daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.) merujuk pada prosedur Chun et al.,

(2003) yaitu dibuat dengan cara menimbang 10 mg ekstrak

etanol daun nilam kemudian dilarutkan dengan 10 ml etanol p.a

dan dihomogenkan. Dipipet 1 ml dari larutan tersebut,

kemudian ditambahkan dengan 0,4 ml reagen Folin Ciocalteau

dikocok dan dibiarkan 4-8 menit, tambahkan 4,0 ml larutan

Na2CO3 kocok hingga homogen. Dicukupkan dengan

aquabidestillata hingga 10 ml dan diamkan selama 2 jam pada

suhu ruangan. Ukur serapan pada panjang gelombang 662,85

nm. Larutan dibuat 3 kali replikasi sehingga kadar fenolik yang

diperoleh hasilnya didapat sebagai mg ekuivalen asam galat/g

ekstrak.

F. Analisis Data

Analisis data terlebih dahulu dilakukan dengan metode kurva

standar, regresi linear y = bx + a dibuat berdasarkan data absorbansi dan

konsentrasi dari larutan standar. Kemudian dihitung total senyawa fenolik

dengan rumus :

?????? ??????? ? ??????????? ???? (x) ? ?????? ???????????
Total fenolik = .
????? ???????
23

G. Kesimpulan

Berdasarkan data yang diperoleh dari persamaan regresi linear,

maka dapat digunakan untuk penentuan kadar fenolik total daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.).
24

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Tabel 1. Hasil persen rendamen ekstrak etanol daun nilam (Pogostemon
cablin Benth.)

Jumlah Berat Hasil Rendamen
Jenis Pelarut Pelarut Sampel (g) Ekstrak Ekstrak (%)
(mL) (g)
Etanol 96%
2500 300 25,5312 8,5104%
(maserasi)

Tabel 2. Hasil uji kualitatif kadar fenolik total pada ekstrak etanol daun
nilam (Pogostemon cablin Benth.)

Sampel Pereaksi Warna Ket.
Ekstrak etanol daun nilam FeCl3 Hijau tua (+)
Ekstrak etanol daun nilam Folin Ciocalteau Kuning (+)
Ket : (+) mengandung senyawa fenol

Tabel 3. Hasil penentuan kadar fenolik pada ekstrak etanol daun nilam
(Pogostemon cablin Benth.)

Rata-rata
Kandungan
Kandungan Kandungan
Absorbansi Fenol (mg
Replikasi Fenolik Awal Fenolik
(Y) GAE/g
(mg/L) (mg GAE/g
ekstrak)
ekstrak)
R1 0,456 28,8 287,43
R2 0,406 18,8 187,62 327,84
R3 0,567 51 508,47
25

B. Pembahasan

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman yang sudah

banyak dikenal oleh masyarakat luas. Tanaman nilam banyak ditanam

untuk diambil minyaknya. Minyak nilam banyak dibutuhkan untuk industri

kosmetik, parfum, antiseptik, dan lain-lain.

Menurut Mangun (2009) daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)

memiliki kandungan minyak atsiri, flavonoid, saponin, tanin, glikosida,

terpenoid dan steroid. Kandungan alkohol seperti patchouli alcohol

beserta turunannya, fenol dan golongan terpenoid pada minyak nilam

memiliki aktivitas antibakteri.

Menurut Halimah (2010), tanaman nilam telah banyak

dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Akar dari tanaman ini digunakan

untuk pencahar, bagian daun sebagai deodoran, obat luka, wasir,

disentri, penyakit empedu, gangguan haid dan obat peluruh haid. Semua

bagian dari tumbuhan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit

kepala, dan obat diare. Dan menurut Mangun (2009) minyak nilam juga

bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang, antifungi, antiserangga,

afrodisiak, antiinflamasi, antidepresi dan dekongestan.

Daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) yang digunakan sebagai

sampel diperoleh dari desa Lawewe Kota Palopo, Sulawesi Selatan yang

kemudian dilakukan determinasi di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia

Fakultas Farmasi, Universitas Muslim Indonesia. Hasil determinasi
26

tumbuhan menyatakan bahwa sampel tersebut benar daun nilam

(Pogostemon cablin Benth).

Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

maserasi yang merupakan metode ekstraksi yang paling sederhana.

Pelarut yang digunakan untuk maserasi yaitu etanol 96%, setelah proses

ekstraksi ekstrak cair kemudian dikumpulkan lalu diuapkan dengan

menggunakan alat rotavapor (rotary vacum evaporator) dengan tujuan

untuk mendapatkan ekstrak etanol kental. Hasil ekstraksi daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.) diperoleh sebesar 25,5312 gram dari berat

serbuk kering sebanyak 300 gram. Hasil rendamen dari ekstrak etanol

daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) sebesar 8,5104%. Penentuan

rendamen berfungsi untuk mengetahui kadar metabolit sekunder yang

terbawa oleh pelarut tersebut namun tidak dapat menentukan jenis

senyawa yang terbawa (Ukieyanna, 2012).

Uji kualitatif dilakukan untuk mengetahui komponen kimia pada

tumbuhan, dengan menggunakan besi (III) klorida (FeCl 3). Diamati

perubahan warna yang terbentuk yaitu hijau tua yang menunjukkan

adanya senyawa fenolik dalam ekstrak etanol daun nilam (Pogostemon

cablin Benth.). Pada uji kuantitatif dilakukan penentuan kandungan

senyawa fenolik total berdasarkan metode Folin Ciocalteau. Metode ini

merupakan metode yang paling umum digunakan untuk menentukan

kandungan fenolik total dalam tanaman dengan pertimbangan bahwa

dengan teknik ini pengerjaannya lebih sederhana dan reagen Folin
27

Ciocalteau digunakan karena senyawa fenolik dapat bereaksi dengan

Folin membentuk larutan yang dapat diukur absorbansinya. Prinsip dari

metode Folin Ciocalteau adalah terbentuknya senyawa kompleks

berwarna biru yang dapat diukur pada panjang gelombang 765 nm.

Pereaksi ini mengoksidasi fenolat (garam alkali) atau gugus fenolik-

hidroksi mereduksi asam heteropoli (fosfomolibdat-fosfotungstat) yang

terdapat dalam pereaksi Folin Ciocalteau menjadi suatu kompleks

molibdenum-tungsten. Senyawa fenolik bereaksi dengan reagen Folin

Ciocalteau hanya dalam suasana basa agar terjadi disosiasi proton pada

senyawa fenolik menjadi ion fenolat.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar senyawa fenolik

total dengan menggunakan asam galat sebagai larutan standar atau

pembanding karena merupakan salah satu fenolik alami dan stabil.

Menurut Viranda (2009) asam galat termasuk dalam senyawa fenolik

turunan asam hidroksibenzoat yang tergolong asam fenolik sederhana.

Asam galat direaksikan dengan reagen Folin Ciocalteau menghasilkan

warna kuning yang menandakan bahwa mengandung fenolik, setelah itu

ditambahkan dengan larutan Na2CO3 sebagai pemberi suasana basa.

Selama reaksi berlangsung, gugus hidroksil pada senyawa fenolik

bereaksi dengan pereaksi Folin Ciocalteau, membentuk kompleks

molibdenum-tungsten berwarna biru dengan struktur yang belum diketahui

dan dapat dideteksi dengan spektrofotometer. Warna biru yang terbetuk

akan semakin pekat, setara dengan konsentrasi ion fenolak yang
28

terbentuk, artinya semakin besar konsentrasi senyawa fenolik maka

semakin banyak ion fenolak yang akan mereduksi asam heteropoli

(fosfomolibdat-fosfotungstat) menjadi kompleks molibdenum-tungsten

sehingga warna yang dihasilkan semakin pekat.

Untuk menentukan kadar fenolik totalnya, terlebih dahulu dilakukan

running larutan standar asam galat konsentrasi 5 ppm dari range 400-800

nm menggunakan spektrofotometri UV-Vis, dan panjang gelombang

maksimal yang diperoleh yaitu 662,85 nm. Kemudian dilakukan

pengukuran larutan standar asam galat konsentrasi 3, 13, 23, 33, 43 dan

53 ppm yang diukur pada panjang gelombang maksimal 662,85 nm.

Diperoleh nilai absorbansi larutan standar asam galat pada masing-

masing konsentrasi, kemudian dibuat kurva baku hubungan antara

konsentrasi (C) dengan absorbansi (A) dan diperoleh persamaan garis

linear. Adapun syarat kelayakan untuk metode analisis yang diterima

untuk koefisien korelasi (r) dari range 0,996–1 yang nantinya digunakan

untuk penentuan kadar fenolik total ekstrak etanol daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.). Berdasarkan hal tersebut diperoleh

persamaan regresi linear yaitu y = 0,005x + 0,300 dengan koefisien

korelasi (r) 0,995, karena hasil koefisien korelasi (r) kurva baku asam galat

tidak memenuhi syarat maka dilakukan eliminasi data pada konsentrasi

asam galat 3 ppm dan 13 ppm, kemudian didapatkan persamaan regresi

linear yaitu y = 0,005x + 0,312 dengan koefisien korelasi (r) 0,996 yang
29

dapat ditunjukkan pada gambar 5 sehingga nilai koefisien korelasi (r)

tersebut memenuhi syarat kelayakan metode analisis.

Pada pengukuran senyawa fenolik total dibuat sebanyak tiga

replikasi untuk keperluan akurasi data. Hasil penelitian ini diperoleh kadar

fenolik total pada ekstrak etanol daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)

sebesar 327,84 mgGAE/ gram ekstrak, artinya dalam setiap gram ekstrak

etanol daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) terdapat fenolik yang

setara dengan 327,84 mg asam galat.
30

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat

disimpulkan bahwa kadar fenolik total ekstrak etanol daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.) sebesar 327,84 mgGAE/gram ekstrak.

B. Saran

Sebaiknya dilakukan analisis kadar senyawa kimia lainnya yang

terdapat dalam tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.).
31

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, R., 2004, Andi Offset, Kimia Lingkungan. Edisi 1:15-16,
Yogyakarta.
Ahmad, A.R., Juwita., Ratulangi, S.A.D., dan Malik, A., 2015, Pharm Sci
Res, Penetapan Kadar Fenolik dan Flavanoid Total Ekstrak Metanol
Buah dan daun Patikala (Etlingera elatior (Jack) R.M.SM), 2(1) : 1-
10.
Andarwulan, N., dan Faradilla., Fitri, R.H., 2012, Senyawa Fenolik pada
Buah Manggis Dari Indonesia, Penerbit SEAFAST IPB, Bogor Jawa
Barat.

Apsari, D.P., dan Susanti, H., 2011, Perbandingan Kadar Fenolik Total
Ekstrak Metanol Kelopak Merah dan Ungu Bunga Rosella (Hibiscus
sabdariffa, Linn) Secara Spektrofotometri, ISBN : 978-979-18458-4-
7, Fakultas Farmasi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

Belinda, P., 2011, “Studi Reaksi Esterifikasi antara Asam Galat dan
Gliserol dengan Menggunakan Gelombang Mikro” Skripsi, FMIPA.
Universitas Indonesia, Depok.

Chun, O.K., Kim, D.O., dan Lee, C, Y., 2003, J Agric Food Chem,
Superoxide Radical Scavenging Activity of The Major Polyohenols in
Fresh Plums.

Departemen Kesehatan RI, 1986, Parameter Standar Umum Ekstrak
Tumbuhan Obat, Diktorat Jenderal POM-Depkes RI, Jakarta.

Ditjen POM., 1986, Sediaan Galenik, Depajjrtemen Kesehatan RI, Jakarta.
Ditjen POM, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat,
Cetakan Pertama, Departemen Kesehatan RI, Jakarta : 5-13, 34-35.

Fauziah, L., 2008, Studi Dimerisasi Asam, FMIPA, Universita Indonesia,
Depok.
Fessenden, J,R., dan Fessenden, J,S., (ed.2), 1986, Kimia Organik,
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
32

Halimah, P.P.D., dan Zetra, Y., 2010, Minyak Atsiri Dari Tanaman Nilam
(Pogostemon cablin Benth.) Melalui Metode Fermentasi Dan
Hidrodistilasi Serta Uji Bioaktivitasnya, Kimia FMIPA – ITS.

Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern
Menganalisa Tumbuhan, Terbitan Kedua, Terjemahan Kosasih
Padmawinata dan Iwang Soediro, Bandung, ITB.

Integrated Taxonomic Information System., 2016, Nilam (Pogostemon
cablin, Benth).(online), (Diakses tanggal 17 maret 2016).
Mangun, H. M. S., 2009, Nilam, Penebar Swadaya, Jakarta.

Mauludi, L. dan A. Asman, 2005, Profil Investasi Pengusahaan Nilam,
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Bogor.

Mulja, M., dan Suharman., 1990, Spektrofotometri UV-Vis. Analisis
Instrumental, Airlangga University Press, Surabaya.

Nuryani, Y., 2006, Budidaya Tanaman Nilam (Pogostemon cablin, Benth),
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Bogor.

Pavela, R., 2005, Insecticidal Activity of Some Essential Oils Against
Larvaeof Spodoptera littoralis, Fitoterapia, 76 : 691-696.

Putri, N.A., 2008, “Optimasi Pembuatan Ekstrak Daun Dewandaru
(Eugenia uniflora L.) Menggunakan Metode Soxhletasi dengan
Parameter Kadar Total Senyawa Fenolik dan Flavanoid” Skripsi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Rumondang, B., 2004, Esterifikasi Patchouli Alkohol Hasil Isolasi Dari
Minyak Daun Nilam (Pachouli Oil), Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatra
Utara.

Rusli, M.S., 2010, Sukses Memproduksi Minyak Atsiri, PT Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Seidel, V., 2006, Initial and Bulk Extraction.In : Sarker SD, Latif z, and
Gray Al, editors. Natural Products Isolation 2nded. Totowa (New
Jersey), Humana Press Inc : 31-5.
Ukieyana, E., 2012, Aktivitas Antioksidan, Kadar Fenolik Dan Flavanoid
Total Tumbuhan Suruhan (Peperomia pellucid L. Kunth). Fakultas
Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
33

Viranda P.M, 2009, Pengujian kandungan Senyawa yang terdapat dalam
Tomat, Jurnal P. Universitas Indonesia.

Voigt, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, 5thed, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta : 170.

Wijayakusuma, K.M.H., Dalimanta S., Yaputra T., dan Wibawa B., 1992,
Tanaman Berkhasiat Obat Indonesia. Jilid I., Pustaka Kartini , Jakarta
: 1-5.
34

LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema kerja penentuan kadar fenolik total ekstrak etanol
daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)

Daun nilam (Pogostemon
cablin Benth.)

Ekstraksi Etanol 96%
Ekstrak etanol daun nilam
(Pogostemon cablin Benth.)

Uji kualitatif Uji kuantitatif

FeCl3 1%
Pembuatan dan Penentuan kadar
Terbentuk warna fenolik total
pengukuran
hijau tua larutan standar
asam galat Ekstrak etanol daun
nilam
+ Reagen Folin
ciocalteau
+ Na2CO3
+ Aquabidestillata

Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3

Spektrofotometri UV-Vis

Analisis data

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 4. Skema kerja penetuan kadar fenolik total ekstrak etanol daun
nilam (Pogostemon cablin Benth.) dengan metode
spektrofotometri UV-Vis
35

Lampiran 2. Hasil running larutan standar asam galat

Gambar 5. Hasil running larutan standar asam galat konsentrasi 5 ppm,
dan panjang gelombang maksimal yang diperoleh yaitu
662,85 nm.
36

Lampiran 3. Hasil pengukuran absorbansi dan kurva baku larutan
standar asam galat

Tabel 4. Hasil pengukuran absorbansi larutan standar asam galat pada
panjang gelombang 662,85 nm

Konsentrasi (ppm) Absorbansi
23 0,424
33 0,483
43 0,521
53 0,577

Kurba Baku Asam Galat
0.7 y = 0.005x + 0.312
R² = 0.993
0.6 r = 0.996

0.5
Absorban

0.4

0.3 Series1

0.2 Linear (Series1)

0.1

0
0 10 20 30 40 50 60
Konsentrasi

Gambar 6. Hasil kurva baku asam galat pada panjang gelombang 662,85
nm
37

Lampiran 4. Perhitungan kadar fenolik total ekstrak etanol daun
nilam (Pogostemon cablin Benth.)
1. Perhitungan rendamen

Perhitungan Rendamen Ekstrak Daun nilam

Bobot Ekstrak
(%) RendamenEkstrak = ? 100 %
Bobot daun nilam

25,5312 g
(%) RendamenEkstrak = ? 100 % = 8,5104 %
300 g

2. Perhitungan kadar fenolik ekstrak etanol daun nilam

(Pogostemon cablin Benth.)

Replikasi Absorbansi sampel
1 0,456
2 0,406
3 0,567

Keterangan :
Berat ekstrak = 0,01002 g ; 0.01002 g ; 0,01003 g
Faktor Pengenceran = 10
Volume Sampel = 0,01 L

a. Kandungan fenolik awal (x)

Persamaan linier : y = 0,005x + 0.312

a. Replikasi 1

y = 0,005x + 0,312

0,456 = 0,005x + 0,312

0, 005x = 0,456 - 0,312

x = 28,8 mg/L
38

b. Replikasi 2

y = 0,005x + 0,312

0,406 = 0,005x + 0,312

0, 005x = 0,406 - 0,312

x = 18,8 mg/L

c. Replikasi 3

y = 0,005x + 0,312

0,567 = 0,005x + 0,312

0, 005x = 0,567 - 0,312

x = 51 mg/L

b. Total fenolik

Volume larutan ? Konsentrasi Awal (x) ? ?????? ???????????
Total fenolik =
Berat Ekstrak

 Replikasi 1
mg
0,01 L ? 28,8 L ? 10
Total fenolik = = 287,43 mgGAE/g ekstrak
0,01002 g

 Replikasi 2
mg
0.01 L ? 18,8 L ? 10
Total fenolik = = 187,62 mgGAE/g ekstrak
0,01002 g

 Replikasi 3
mg
0,01 L ? 51 L ? 10
Total fenolik = = 508,47 mgGAE/g ekstrak
0,01003 g
287,43+187,62+508,47
Jadi, Total fenolik rata-rata =
3
= 327,84 mgGAE/g Ekstrak
39

Lampiran 5. Foto sampel daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)

Gambar 7. Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.)

Gambar 8. Daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)
40

Lampiran 6. Foto alat penelitian

Gambar 9. Spektrofotometer UV-Vis tipe Evolution 201

Gambar 10. Timbangan analitik tipe GR-200 (tingkat ketelitian 10 mg)
41

Lampiran 7. Determinasi tanaman

Gambar 11. Hasil determinasi daun nilam (Pogostemon cablin Benth.)