Tugas Instrumentasi 1

:

THERMOCOUPEL

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
2C

SINTHIA LAURENZ 331 15 051
IRA SISWIKA 331 15 052
FADEL HUTOMO SAHID 331 15 054
NUR HIKMAH 331 15 055
HARDIYANTI HENDRIK 331 15 056

Dosen Pembimbing :
Hb. Slamet Yulistiono, Dipl.Ing., M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat serta salam penulis haturkan

kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya serta kepada para sahabat-

sahabatnya.

Penulis sangat bersyukur karena dengan rahmat dan hidayah-Nya serta

partisipasi dari berbagai pihak yang telah banyak membantu baik moril maupun

materil sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas makalah yang

berjudul “Thermocople”. Oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis

sampaikan ucapan terimakasih kepada semua anggota kelompok atas kinerja yang

telah diberikan untuk menyelesaikan makalah ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan.

Sehingga penulis memerlukan saran yang membangun sehingga dapat

memberikan dampak yang baik bagi perkembangan pengetahuan kita bersama

Hormat kami

Kelompok 1

.............. 17 3...............9 Kelebihan dan Kekurangan Thermocouple ...................................................................................................... 3 1..................... 4 1................. 21 ...............................................................................1 Pendahuluan ..............0 Aplikasi Thermocouple .......................2 Tujuan Penulisan ............................... 16 2............8 Contoh Penggunaan Thermocouple .................... 16 2.................. 11 2............................................. 17 2... 2 BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 1 DAFTAR ISI ...................................................4 Karakteristik Thermocouple ................................................... 18 BAB III PENUTUP ...........2 Prinsip Kerja Thermocouple ..........................................................7 Cara Penggunaan Thermocouple ..........................................................1 Kesimpulan .............................................................3 Rumusan Masalah ........ 8 2........................................... 5 2............................6 Ketelitian Thermocouple .............................................................................................................................1 Latar Belakang ............. 19 3.....................5 Kalibrasi Thermocouple .....3 Konstruksi Thermocouple ................................................................ 4 BAB II THERMOCOUPLE.................... 20 DAFTAR PUSTAKA ................................... 19 3.................................2 Saran .. 5 2............................................. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 12 2............................. 16 2................................ 3 1.........................................

Sensor ini sangat sering digunakan dalam proses manufaktur terutama yang berkaitan dengan proses pemanasan maupun pendinginan. Beberapa sensor suhu yang umum digunakan antara lain thermocouple. Untuk merubah ke dalam besaran listrik pada sistem. kemudian beralih menggunakan mesin. BAB I PENDAHULUAN 1. Perkembangan ini tampak jelas terutama di industri manufaktur. Salah satu sensor yang umum digunakan adalah sensor suhu. Sensor tersebut bertugas untuk mengetahui kondisi lingkungan atau sebuah sistem yang digunakan sebagai input agar dapat ditindaklanjuti dalam sebuah proses atau pengendalian sistem. berikutnya dengan electro-mechanic (semi otomatis) dan sekarang sudah menggunakan robotic (full automatic). Model apapun yang digunakan dalam sistem otomatisasi industri sangat tergantung kepada keandalan sistem kendali yang dipakai. mekanis dan sebagainya. . Bisanya besaran masukan pada kebanyakan sistem kendali bukan merupakan besaran listrik. Sensor dan transudser merupakan peralatan atau komponen yang mempunyai peranan penting dalam sebuah sistem pengaturan otomatis. biasanya besaran-besaran tersebut diubah terlebih dahulu menjadi suatu sinyal listrik melalui sebuah alat yang disebut sensor dan transduser.Umumnya besaran tersebut adalah besaran fisik. dimana sebelumnya banyak pekerjaan menggunakan tangan manusia. kimia.1 Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari masa ke masa berkembang pesat terutama dibidang otomtisasi. Hasil penelitian menunjukan secanggih apapun sistem kendali yang dipakai akan sangat tergantung kepada sensor dan transduser yang digunakan.

1. operasi sensor temokopel dan aplikasi dari sensor thermocouple 1. konstruksi sensor thermocouple.2 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk lebih memahami tentang sensor thermocouple.3 Batasan Masalah Pada Penulisan Makalah ini hanya akan membahas mengenai :  Apa pengertian Sensor Suhu thermocouple?  Bagaimana cara Kerja Sensor Suhu thermocouple?  Bagaimana aplikasi Sensor Suhu thermocoupledalam Kehidupan Sehari-Hari? .

Pengukuran EMF Jika cold junction open circuit dan dihubungkan dengan voltmeter dengan impedansi yang tak terhingga (besar sekali). maka akan terbaca tegangan pada voltmeter. tegangan tersebut dikenal sebagai tegangan Seebeck. BAB II TERMOCOUPLE 2. Jika thermocouple digunakan untuk mengukur temperatur hot junctionmaka tegangan Seebeck pada cold . Gambar2. Gambar2. thermocouple adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahantegangan listrik (voltase).1 Pendahuluan Pada dunia elektronika.1 Diagram skematikthermocouple Dua termoelemen A dan B dihubungkan dan jika temperatur antara junction pertama (cold junction) dan kedua (hot junction) berbeda maka akan timbul arus akibat gaya gerak listrik (EMF). Thermocouple yang sederhana dapat dipasang. serta dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan pengukurankurang dari 1 °C . dan memiliki jenis konektor standar yang sama.4. seperti yang terlihat pada gambar 2.

a. EMF. . Ada beberapa metode yang digunakan untuk membuat sensor ini. salah satunya dengan cara menggunakan material yang berubah hambatannya terhadap arus listrik sesuai dengan suhunya. Dengan mengasumsikan kawat thermocouple homogen maka EMF didapat akibat perbedaan temperatur hot junction dan cold junction. hot junction serta temperatur cold junction harus diketahui terlebih dahulu. sebenarnya timbul karena gradien temperatur sepanjang kawat yang menghubungkan hot junction dan cold junction. Menggunakan Bahan Logam Logam akan bertambah besar hambatannya terhadap arus listrik jika panasnya bertambah. elektron-elektron tersebut akan bergetar dan getarannya semakin besar seiring dengan naiknya suhu. Hal ini dapat dijelaskan dari sisi komponen penyusun logam. Dengan besarnya getaran tersebut. junction. Logam dapat dikatakan sebagai muatan positif yang berada di dalam elektron yang bergerak bebas. Jika suhu bertambah. ΔT adalah perbedaan temperatur antara hot junction dengan cold junction. maka gerakan elektron akan terhambat dan menyebabkan nilai hambatan dari logam tersebut bertambah. Hubungan tegangan antara termoelemen A dan B dengan perbedaan temperatur adalah: ???? = ???? Δ? Dimana : EAB(T) adalah tegangan Seebeck S(T) adalah koefisien Seebeck.

Seiring dengan kenaikan suhu. elektron dari semikonduktor akan berpindah ke tingkat yang paling atas dan dapat bergerak dengan bebas. nilai hambatan akan semakin turun. semakin banyak elektron dari semikonduktor tersebut yang bergerak bebas. semakin besar suhu. sehingga nilai hambatan tersebut berkurang . Menggunakan Bahan Semikonduktor Bahan semikonduktor mempunyai sifat terbalik dari logam.b. Hal ini dikarenakan pada suhu yang semakin tinggi.

ujung laun dari masing-masing kawat disebut dengan ‘tail end’ (ujung ekor) atau ‘reference end’ (T1). T1 dan T2 adalah suhu masing-masing pada posisi tail end dan junction end. Tail end mempunyai dua kutub untuk pengukuran. Selain itu nilai yang terbaca oleh voltmeter juga bukan merupakan ekspresi langsung dari temperaturedanmasih diperlukan konversi. Keduanya dibedakan menjadi kaki positif dan kaki negatif. Besarnya tegangan keluaran pada thermocouple ditentukan dengan rumus: Vout = Vh . katakanlah 28°C. Perbedaan suhu antara T1 dan T2 tersebut dapat diukur pada kedua kutup positif dan negatif. Dua kawat tersebut disebut thermoelement yang merupakan kaki-kaki dari thermocouple. Oleh karena itu thermocouple adalah termasuk temperature- voltage transducer. Junction end adalah ujung yang digunakan untuk mengukur panas dari media yang hendak diukur. misalkan ruangan tungku atau oven dengan suhu 200°C sedangkan tail end adalah ujung yang kita sambungkan dengan rangkaian elektronika dan berada pada suhu ruang.2 Prinsip Kerja Thermocouple Thermocouple adalah sebuah alat yang dibuat dari dua jenis kawat dari logam yang berbeda dan disatukan pada salah satu ujungnya.Vc Keterangan : Vnet = tegangan keluaran thermokopel Vh = tegangan yang diukur pada suhu tinggi Vc = tegangan referensi Tegangannya terlalu kecil sehingga harus diamplify terlebih dulu. Kemudian. Ujung ini disebut dengan istilah ‘junction end’ atau ujung sambungan dan dapat disebut juga ujung pengukuran (T2). . Thermocouple adalah penghasil tegangan yang dapat diukur pada kedua kutub tail end yang terjadi akibat perbedaan suhu pada T1 dan T2. Jadi tinggal diukurdengan voltmeter digital. yaitu positif dan negatif.2.

Oleh karena itu.Tabel referensi tegangan ke temperature Dalam pengukuran tegangan pada thermocouple ada beberapa syarat yang harus terpenuhi agar tegangan yang didapat tidak nol. Suhu T1 sama dengan T2sehingga menyebabkan thermocouple tidak dapat mengukur suhu ruang karena kedua ujungnya ada pada temperatur yang relatif sama. Sebuah IC seperti misalnya MAX667 bisa dipergunakan untuk kompensator. Jika kedua kawat atau thermoelement terbuat dari material yang sama sehingga menyebabkan tidak ada perbedaan suhu dianatara kedua ujung kawat. .Untuk mempermudah konversi maka dapat menggunakan table hubungan tegangan dengan teneprature. sebagai berikut : Gambar 2. kita tiba pada kondisi ‘tidak mudahnya’ karena pada dasarnya temperatur pada reference end atau tail end haruslah relatif tetap. 2. Hal yang tidak mungkin tentunya sehingga ada istilah cold junction compensation untuk menkompensasi kondisi ini. Adapun syarat-syaratnya sebagai berikut : 1. yaitu berada pada suhu ruang.

maka beda potensial atau tegangan listrik yang melalui dua persimpangan tersebut adalah “NOL” atau V1 = V2. mari kita melihat gambar dibawah ini : Berdasarkan Gambar diatas. Tegangan Listrik yang ditimbulkan ini pada umumnya sekitar 1 µV – 70µV pada tiap derajat Celcius. ketika persimpangan yang terhubung dalam rangkaian diberikan suhu panas atau dihubungkan ke obyek pengukuran. ketika kedua persimpangan atau Junction memiliki suhu yang sama. Akan tetapi.Untuk lebih jelas mengenai Prinsip Kerja Thermocouple. maka akan terjadi perbedaan suhu diantara dua persimpangan tersebut yang kemudian menghasilkan tegangan listrik yang nilainya sebanding dengan suhu panas yang diterimanya atau V1 – V2. Tegangan tersebut kemudian dikonversikan sesuai dengan Tabel referensi yang telah ditetapkan sehingga menghasilkan pengukuran yang dapat dimengerti oleh kita. .

salah satunya digunakan sebagai measuring junction (hot) dan reference junction (cold).3 Konstruksi Thermocouple Untuk skonstruksi sederhana thermocouple diperlihatkan oleh gamabar dibawah ini : . Pada kawat rerfernce junction tidak akan mengalami perubahan dan akan tetap pada suhu reference.Sirkuitsederhanathermocouple Gambar 2.11 kontruksi dalam Thermocouple Pada konstruksi thermocouple terdapt dua buah kawat yang terbuat dari amterail yang berbeda. Pada pengukuran perbedaan potensial dari kedua kawatakan menggunakan voltmeter dan . 2. Gambar 2.

Pengukuran panas saluran Thermokopel menghasilkan tegangan yang lebih besar dari tegangan saluran referensi. 2.Perbedaan antara dua tegangan itu sebanding dengan perbedaan suhu. Pada dasarnya.4. 2.1 Beberapa jenis thermocouple berdasarkan aplikasi penggunaannya : 1.Lebihmurah. gabungan jenis-jenis logam konduktor yang berbeda akan menghasilkan rentang suhu operasional yang berbeda pula. Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy) Thermocoupleuntuktujuanumum.4 Karakteristik Thermocouple Thermocouple tersedia dalam berbagai ragam rentang suhu dan jenis bahan.sebelumnyaakan di amplify dahulu agar dapat terbaca oleh voltmeter karena tegangan yang dihasilkan terlalu kecil.2NiCr-NiSi (Tipe K) . Gambar 2.Tersediauntukrentan gsuhu −200 °C hingga +1200 °C. Berikut ini adalah Jenis-jenis atau tipe Thermocouple yang umum digunakan berdasarkan Standar Internasional.

3NiCr – CuNi (Tipe E) 3. Sensitifitasnyasekitar 39 µV/°C pada 900 °C. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik. Tipe N merupakanperbaikantipe K . Gambar2. Dapat mengukur suhu di atas 1200 °C. sedikit di bawahtipe K. Gambar 2. Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy)) Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk pengukuran suhu yang tinggi tanpa platinum. Tipe J (Iron / Constantan) Rentangnya terbatas (−40 hingga +750 °C) membuatnya kurang populer dibanding tipe K. Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy)) Tipe E memiliki output yang besar (68 µV/°C) membuatnya cocok digunakan pada temperatur rendah.2. Tipe J memiliki sensitivitas sekitar ~52 µV/°C.4 Fe-CuNi (Tipe J) 4.

sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipaka iuntuk tujuan umum. Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh) Cocok mengukur suhu di atas 1800 °C. Gambar2.sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk . Tipe B memberi output yang sama pada suhu 0 °C hingga 42 °C sehingga tidak dapatdipakai di bawah suhu 50 °C. Gambar2. Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium) Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium) Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C.6 Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh) 6.7 Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium) 7.5 Nicrosil-Nisil (Tipe N) 5. Gambar2.

10 karakteristik bahan thermocouple yang digunakan bersama platinum . Konduktor positif terbuat dari tembaga. Gambar2.8 Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium) 8. Sering dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Gambar2.9 Type T (Copper / Constantan) Gambar 2. Karena stabilitasnya yang tinggi Tipe S digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas (1064.43 °C). dan yang negatif terbuat dari constantan. Type T (Copper / Constantan) Cocok untuk pengukuran antara −200 to 350 °C. Type T memiliki sensitifitas ~43 µV/°C. tujuan umum.

angka hasil pengukuran langsung terlihat. 2. kromium sebagai kaki dingin. layar berkedip nilai skala penuh terdekat. layar menampilkan berkedip strip.kemudian menghubungkan probe dengan konektor pada bagian atas.2. Lalu putar posisi ke ⁰C atau ⁰F (tergantung tipe). jika tidak ada probe terpasang.6 Ketelitian Thermocouple Ketelitian dari Thermocouple bergantung pada tipe thermocouple yang digunakan dan biasanya terdapat petunjuk penggunaan. atau jika membaca over-range. Pembacaan Hasil Pengukuran : • Pada Thermocouple digital. sedangkan aluminium sebagai kaki panas. namun sebelum penggunaan pastikan kedua kaki pada alat ini berbeda jenisnya (misalnya kromium dengan aluminium). • Pada Thermocouple analog. 2. untuk mematikan termometer.5 Kalibrasi Thermocouple Tidak ada kalibrasi pada alat ini. jika pengukuran adalah sedikit di atas rentang spesifikasi meter. menggunakan rumus: V = perubahan tegangan (Volt) S = koefisien seebeck (40 mV/ ) T = perubahan suhu ( ) . putar kenop ke OFF.7 Cara Penggunaan Thermocouple Memasang baterai 9 volt.

Sebaliknya. . karena memiliki layar yang tidak mudah keruh dan skala yang jelas b. contohnya rentang suhu 0–100 °C dengan keakuratan 0. salah satu keuntungannya yaitu mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah.1 °C. Untuk aplikasi ini. Mudah dibaca. Termistor dan RTD lebih cocok. Contoh Penggunaan Thermocouple yang umum antara lain: • Industri besi dan baja • Pengaman pada alat-alat pemanas • Untuk termopile sensor radiasi • Pembangkit listrik tenaga panas radioisotope Thermocouple banyak digunakan sebagai alat ukur suhu di dunia industri. hingga 1800 K. Thermocouple tidak mudah rusak dan tahan lama f. Baik digunakan untuk pengukuran variasi suhu dengan jarak kurang dari 1 cm e. Thermocouple paling cocok digunakan untuk mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah dari -200 hingga 1800⁰C. Akurasi yang tepat dalam pengukuran suhu d. 2.8 Contoh Penggunaan Thermocouple Thermocouple paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan suhu yang luas. kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil harus diukur dengan akurasi tingkat tinggi.9 Kelebihan dan Kelemahan Thermocouple  Kelebihan dari thermocouple adalah : a.2. Respon cepat untuk setiap adanya perubahan suhu c.

langsungmuncul suhu ruangan. 3. b. Thermocouple membutuhkan perlengkapan tambahan yang harganya biasanya cukup mahal.1°C akurasi.  Kelemahan dari thermocouple : a. saat thermocouple dinyalakan. sampai 2300°C. Thermocouple tidak dapat mengukur suhu awal dari suatu termometer pada suhu awal dari suatu termometer pada umumnya karena alat ini tidak dapat dikalibrasi. Kalibrasi yang sulit. c. suhu yang tertera adalah suhu ruangan tersebut. Mereka kurangcocok untuk aplikasi di mana perbedaan suhu lebih kecil harus diukur dengan akurasi yang tinggi. Sehinnga ketika thermocouple pada posisi ON. Hanya dapat digunakan untuk mengukur perbedaan suhu. Contoh Penggunaan Thermocouple yang umum yaiutu pada industri besi dan baja yang dalam pengoperasiannya menggunakan suhu yang sangat tsinggi. misalnya rentang 0-100°C dengan 0. . d.0 Aplikasi Thermocouple Thermocouple cocok untuk mengukur rentang suhu yang besar.

Tipe K (kromel-alumel) d. Hubungan tegangan antara termoelemen A dan B dengan perbedaan temperatur adalah: ???? = ???? Δ? 7. misalnya rentang 0- 100°C dengan 0. Terdapat beberapa jenis thermocouple diantara a. BAB III SIMPULAN DAN SARAN 3. Mereka kurang cocok untuk aplikasi di mana perbedaan suhu lebih kecil harus diukur dengan akurasi yang tinggi. 3. . 5. Tipe R-S (platinum-platinum rhodium) e. Tipe T (tembaga-konstantan) 6. Sensor thermocouple bekerja dengan membandingkan perbedaan potensial yang terjadi di kedua ujung termoelemen akibat perbedaan panas dikedua ujungnya. Tipe E (kromel-konstantan) b. Thermocouple cocok untuk mengukur rentang suhu yang besar.1 KESIMPULAN 1.1°C akurasi. 2. Sensor thermocouple dapat digunakan sebagai pengukur suhu 4. Thermocouple adalah suatu rangkaian yang tersusun dari dua buah logam yang masing-masing mempunyai koefisien muai panjang berbeda yang dihubungkan satu denngan yang lain pada ujung-ujungnya. Tipe J (besi-konstantan) c. Thermocouple banyak digunakan untuk mengubah perbedaan panas dalam benda yang diukur temperaturnya menjadi perubahan potensial/tegangan listrik (voltase). sampai 2300°C.

3.2 SARAN Penggunaan thermocouple dalam pengukuran suhu yang tinggi sudah sangat mumpuni dalam hal instreumentasi terlihat dari banyaknya kelebihan dari sensor tersebut. . Namun ada pula kekurangan dari thermocouple yaittu kalibrasi yang sulit dan perlengkapan tambahan yang harganya cukup mahal.

web.net/MelandaKucing/makalahthermocouple [3] www.com/prinsip-kerja-thermocouple/ .slideshare.academia.edu/9539299/Makalah_alat_temperatur [5] www.academia. DAFTAR REFERENSI [1] http://elektronika-dasar.slideshare.net/MelandaKucing/makalahthermocouple [4] www.id/komponen/sensor-tranducer/sensor-suhu-rtd- [2] https://www.edu/12694548/MAKALAH_SENSOR_SUHU [6] artikel-teknologi.