Makalah Leukimia

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini istilah leukimia sangat populer di bahas dalam dunia medis. Penyakit
kanker darah (leukimia) menduduki peringkat tertinggi kanker pada manusia. Namun,
penanganan kanker di Indonesia masih lambat. Itulah sebabnya lebih dari 60% anak penderita
kanker yang ditangani secara medis sudah memasuki stadium lanjut.
Leukemia adalah proliferasi 1 jenis atau lebih sel hematopoetik secara berlebihan,
ganas, sering disertai kelainan bentuk leukosit abnormal dan dapat disertai anemia,
trombositopenia dan berakhir dengan kematian.
Leukemia sebenarnya adalah sebuah istilah medis yang luas. Leukemia kanker
dipisahkan menjadi dua, bentuk yang lebih didefinisikan bernama Leukemia kronis dan
leukemia akut. Kanker leukemia akut cenderung menimpa anak-anak dan dewasa muda.
Proliferasi sel-sel tulang sumsum menghambat Sumsum tulang untuk membuat sel benar
sehat. Ini adalah bentuk yang sangat berbahaya dari kanker karena sel-sel ganas yang tersedia
untuk aliran darah untuk transportasi ke organ lain.
Istilah leukemia pertama kali dijelaskan oleh Virchow sebagai “darah putih” pada
tahun 1874, adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel
induk hematopoetik. Leukimia adalah suatu penyakit yang dikenal dengan adanya proliferasi
neoplasitik dari sel-sel organ hemopoietik, yang terjadi sebagai akibat mutasi somatik sel
bakal (stem cell) yang akan membentuk suatu klon sel leukimia.
Leukimia merupakan keganasan hemopoietik yang mengakibatkan proliferasi klon
yang abnormal dan sel bakal mengalami transformasi leukimia, terjadi kelainan pada
diferensiasi dan pertumbuhan dari sel limfoid dan mieloid. Diagnosa leukimia akut dapat
ditegakkan dari pemeriksaan hematologi Hb, leukosit, tulang, yaitu tipe leukemia akut
berdasarkan klasifikasi FAB.
Dari uraian diatas, makalah ini akan banyak mebahas mengenai leukemia untuk lebih
mengetahui factor-faktor pencetus penyakit leukemia serta bentuk patologi penyakit
leukemia.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1. Bagaimana patofisiologi leukemia?
2. Bagaimana gejala kliniknya?
3. Apa sasaran dan strategi pengobatannya?
4. Bagaimana penatalaksanaannya?

TUJUAN Tujuan makalah ini yaitu: 1. . 2. Untuk mengetahi patofisiologi leukemia. Bagaimana evaluasi obat yang beredar di Indonesia? C. Untuk mengetahi gejala kliniknya. Untuk mengetahi sasaran dan strategi pengobatannya. Untuk mengetahi penatalaksanaannya. 3. 5. Untuk mengetahi evaluasi obat yang beredar di Indonesia. 4.5.

limpa. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal. BAB II PEMBAHASAN A. kelenjar getah bening. Hapusan Sumsum Tulang LLA dengan Pewarnaan Giemsa Perbesaran 1000x b. LLA lebih sering ditemukan pada anak-anak (82%) daripada umur dewasa (18%). dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh. Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. dan otak. ginjal. Leukemia Mielositik Akut (LMA) LMA merupakan leukemia yang mengenai sel stem hematopoetik. Leukemia Limfositik Akut (LLA) LLA merupakan jenis leukemia dengan karakteristik adanya proliferasi dan akumulasi sel-sel patologis dari sistem limfopoetik yang mengakibatkan organomegali (pembesaran alat-alat dalam) dan kegagalan organ. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya termasuk hati. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi. merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Translokasi kromosom mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel. LMA atau Leukemia . Gambar 1. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah. Sedangkan pada leukemia terjadi peningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. Pada akhirnya sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel darah yang normal. Sel leukemi juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan. Tanpa pengobatan sebagian anak-anak akan hidup 2-3 bulan setelah terdiagnosis terutama diakibatkan oleh kegagalan dari sumsum tulang. 1. a. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Jenis ini ditandai dengan banyaknya leukosit yang berdiferensiasi ke sel mieloid. sehingga sel membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. PATOFISIOLOGI Pada keadaan normal. Leukemia Akut Leukemia akut adalah keganasan primer sumsum tulang yang berakibat terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal (blastosit) yang disertai dengan penyebaran ke organ-organ lain.

Abnormalitas genetik yang dinamakan kromosom philadelphia ditemukan pada 90-95% penderita LGK/LMK. neutropenia. infeksi. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik (LGK/LMK) LGK/LMK adalah gangguan mieloproliferatif yang ditandai dengan produksi berlebihan sel mieloid (seri granulosit) yang relatif matang. nyeri dada). a. Hapusan Sumsum Tulang LMA dengan Pewarnaan Giemsa Perbesaran 1000x 2. Umumnya menggambarkan kegagalan umsum tulang. LLK cenderung dikenal sebagai kelainan ringan yang menyerang individu yang berusia 50 sampai 70 tahun dengan perbandingan 2:1 untuk laki-laki. Selain itu juga ditemukan anoreksi. Nonlimfositik Akut (LNLA) lebih sering ditemukan pada orang dewasa (85%) dibandingkan anak-anak (15%). Hapusan Sumsum Tulang LGK/LMK dengan Pewarnaan Giemsa Perbesaran 1000x B. Gambar 4. tibia dan femur (Sylvia. Gambar 2. Gambar 3. Sebagian besar penderita LGK/LMK akan meninggal setelah memasuki fase akhir yang disebut fase krisis blastik yaitu produksi berlebihan sel muda leukosit. LNLA fatal dalam 3 sampai 6 bulan. GEJALA KLINIK Gejala klinis dari leukemia pada umumnya adalah anemia. Gejala klinis berhubungan dengan anemia (mudah lelah. letargi. nyeri tulang dan sendi. Hapusan Sumsum Tulang LLK dengan Pewarnaan Giemsa Perbesaran 1000x b. hipermetabolisme Nyeri tulang bisa dijumpai terutama pada sternum. Jika tidak diobati. kelainan organ yang terkena infiltrasi. hipermetabolisme (Guilhot dan Roy. Leukemia Limfositik Kronis (LLK) LLK ditandai dengan proliferasi dan keganasan klonal limfosit B (jarang pada limfosit T). disertai produksi neutrofil. Leukemia Kronik Leukemia kronik ditandai proliferasi neoplastik dari salah satu sel yang berlangsung atau terjadi karena keganasan hematologi.  Leukemia Limfositik Akut Gejala klinis LLA sangat bervariasi. trombositopenia. pusing. trombosit dan sel darah merah yang amat kurang. 2006)  Leukemia Mielositik Akut . biasanya berupa mieloblas/promielosit. infeksi dan perdarahan. 2005). LGK/LMK mencakup 20% leukemia dan paling sering dijumpai pada orang dewasa usia pertengahan (40-50 tahun). sesak.

merasa cepat kenyang akibat desakan limpa dan lambung. petekie. penurunan berat badan dan kelelahan. ada beberapa pilihan terapi untuk leukemia yaitu: kemoterapi. Gejala utama LMA adalah rasa lelah. Gejala lain yaitu hilangnya nafsu makan dan penurunan kemampuan latihan atau olahraga. . keringat malam dan infeksi semakin parah sejalan dengan perjalanan penyakitnya (Baldy CM. perdarahan dan infeksi yang disebabkan oleh sindrom kegagalan sumsum tulang. 1999). segera dilakukan terapi intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat. 1. ekimosis dan demam yang disertai infeksi (Baldy CM. salah satu diantaranya pengobatan leukemia berdasarkan jenis leukemianya. C. SASARAN DAN STRATEGI PENGOBATAN Pengobatan leukemia tergantung dari berbagai macam faktor. Selain itu juga menimbulkan ganggua n metabolisme yaitu hiperurisemia dan hipoglikemia (Robbins. radioterapi. Pemberian obat-obatan tablet dan suntik. 2005). 2005)  Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik. Pada fase kronik ditemukan hipermetabolisme. prednison dan asparaginase. Tahap 1 (terapi induksi) Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. dan Transfusi sel darah merah atau platelet. perdarahan biasanya terjadi dalam bentuk purpura atau petekia. fase akselerasi dan fase krisis blas. Terapi induksi kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses membunuh sel leukemia. Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi) Setelah mencapai remisi komplit. sesak napas. Penderita LLK yang mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenopati generalisata. Kemoterapi Pengobatan umumnya terjadi secara bertahap. Penurunan berat badan terjadi setelah penyakit berlangsung lama.  Leukemia Limfositik Kronik Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. vincristin. Pada fase akselerasi ditemukan keluhan anemia yang bertambah berat. meskipun tidak semua fase yang digunakan untuk semua orang. Terapi ini dilakukan setelah 6 bulan kemudian. Transplantasi sumsum tulang. a. nyeri dada dan priapismus. b. Penderita LMA dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih dari 3100 ribu/mm) biasanya mengalami gangguan kesadaran. Demam. Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi yaitu daunorubisin.

Pada penderita LMA transplantasi bisa dilakukan pada penderita yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan dan pada penderita usia muda yang pada awalnya memberikan respon terhadap pengobatan.c. Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang lebih rendah. Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang) Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi. transplantasi sumsum tulang juga berguna untuk mengganti sel-sel darah yang rusak karena kanker. yang dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP. x-ray dan sinar gamma. Tidak hanya 95% anak dapat mencapai remisi penuh. Radioterapi Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel seperti proton. elektron. Selain itu. untuk mencegah leukemia memasuki otak dan sistem saraf pusat d. hasil terbaik (70-80% angka keberhasilan) dicapai jika menjalani transplantasi dalam waktu 1 tahun setelah terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic Antigen (HLA) yang sesuai. Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun. transfusi . Pengobatan dengan cara ini dapat diberikan jika terdapat keluhan pendesakan karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat. Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis. 3. Misalnya transfusi darah untuk penderita leukemia dengan keluhan anemia. 4. tetapi 60% menjadi sembuh. Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda. kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi. Terapi Suportif Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yag ditimbulkan penyakit leukemia dan mengatasi efek samping obat. Sumsum tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis tinggi kemoterapi atau terapi radiasi. Sekitar 80% orang dewasa mencapai remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang. Sinar berenergi tinggi ini ditujukan terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel leukemia. Tahap 3 ( profilaksis SSP) Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP. Transplantasi Sumsum Tulang Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat. 2.49 Pada penderita LMK.

transplantasi sel induk dapat menjadi pilihan bagi beberapa orang dengan leukemia kronis untuk sembuh. Pilihannya adalah menanti sambil waspada (watchful waiting). . injeksi dengan G-CSF (granulocyte- colony stimulating factor). b) Pengobatan Leukemia Kronis Jika Anda memiliki leukemia kronis tanpa gejala. rifampisin). hasil yang diharapkan. Untuk mengurangi efek samping pengobatan diatas. Terkadang kombinasi perawatan ini digunakan. Orang mungkin menerima terapi pemeliharaan untuk membantu agar kankernya tetap dalam remisi. D. yaitu: jenis leukemia. Jika sel kanker resistan/kambuh lagi. Namun. tetapi jarang leukemia kronis dapat disembuhkan dengan kemoterapi. sitarabin (ara-C). Dokter Anda akan melihat kesehatan Anda dengan cermat sehingga perawatan dapat dijalankan saat Anda mulai mengalami gejala. Pilihan pengobatan tergantung terutama pada 3 aspek. Ketika pengobatan untuk leukemia kronis diperlukan. ofloxacin. a) Pengobatan Leukemia Akut Orang dengan leukemia akut perlu segera dirawat. Tujuan pengobatan adalah untuk menghancurkan tanda-tanda leukemia dalam tubuh dan menghilangkan gejalanya. terapi radiasi. PENATALAKSANAAN Penderita leukemia memiliki banyak pilihan pengobatan. Jika pankreas Anda membengkak. etoposide. ataupun transfusi sel darah merah dan trombosit/platelet. atau mitoxantrone. Ini disebut masa remisi. trombosit untuk mengatasi perdarahan dan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Hal ini disebut watchful waiting (menanti sambil waspada). Dokter Anda juga mempertimbangkan gejala dan kesehatan umum. Setelah orang mengalami remisi. dan serta kemungkinan efek samping bagi. dengan menggunakan kombinasi obat-obatan seperti daunorubisin (DNR). terapi lebih mungkin diberikan untuk mencegah kekambuhan. Minta Dokter untuk menjelaskan opsi pengobatan yang ada. terapi biologi. yang biasanya berbentuk penurunan jumlah sel darah tertentu. dengan/tanpa obat-obatan lain o Etoposide atau agen kemoterapi tunggal lainnya. maka biasanya diberikan antara lain: o Kemoterapi induksi konvensional o Ara-C(HDAC) dosis tinggi. thioguanine. dan transplantasi sel induk. dokter mungkin menyarankan operasi pengangkatan limpa/pankreas. kemoterapi. Pengobatan awal AML biasanya dimulai dengan kemoterapi induksi. idarubicin. Jenis terapi ini disebut terapi konsolidasi atau terapi pemeliharaan. Banyak orang dengan leukemia akut dapat disembuhkan. usia Anda dan apakah sel-sel leukemia ditemukan dalam cairan cerebrospinal Anda. targeted terapi. maka dokter dapat memberikan terapi-terapi lanjutan melalui antibiotic oral (misalnya. Anda mungkin tidak perlu segera dirawat. sering kali penyakit ini dan gejalanya dapat terkontrol.

muntah. dan diare. Jenis terapi ada yang berlangsung selama 5 hari/minggu selama beberapa minggu. Selain itu. kulit Anda di daerah yang sedang diobati bisa menjadi merah. Orang lain mungkin menerima radiasi yang diarahkan ke seluruh tubuh. Transplantasi sel induk memungkinkan Anda untuk mendapat kemoterapi. Radiasi biasanya diberikan sekali atau dua kali sehari selama beberapa hari. Transplantasi sel induk dilakukan di rumah sakit. Orang-orang mendapatkan radioterapi di rumah sakit ataupun klinik. Anda juga dapat kehilangan rambut di daerah yang terpapar. atau keduanya. otak. terapi radiasi. radiasi untuk perut Anda dapat menyebabkan mual. Sel-sel darah baru menggantikan yang dihancurkan oleh pengobatan. tetapi dokter biasanya menyarankan pasien untuk mencoba sedapat mungkin tetap aktif. Anda mungkin akan sangat lelah selama radioterapi. Efek samping yang ditimbulkan pasca kemoterapi malah menjadi beban penderitaan yang lain bagi si pasien. Sel darah baru berkembang dari sel induk yang ditransplantasikan. biasanya sebelum transplantasi sel induk. radiasi atau keduanya untuk menghancurkan sel-sel leukemianya. dari kembar identik Anda ataupun dari seseorang yang menyumbangkan sel induk mereka .  Transplantasi Sel Induk Beberapa orang dengan leukemia menerima transplantasi sel induk. kering. Sel induk dapat berasal dari Anda. Sebagai contoh. Beberapa orang menerima radiasi dari sebuah mesin besar yang ditujukan ke pankreas. Anda akan menerima sel-sel induk yang sehat melalui pembuluh darah besar. pengobatan leukemia dengan jalan kemoterapi seringkali menjadi pilihan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh kebanyakan pasien. Setelah Anda menerima kemoterapi dosis tinggi.  Radioterapi Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. dan lunak. Kemoterapi Kebanyakan orang dengan leukemia menjalani kemoterapi. atau bagian lain dari tubuh di mana sel-sel leukemia menumpuk. terutama beberapa minggu setelah pengobatan. Efek samping dari terapi radiasi tergantung terutama pada dosis radiasi dan bagian tubuh yang terpapar. untuk membunuh sel-sel leukemia. Kemoterapi dapat diberikan dalam beberapa cara berbeda. Tergantung pada jenis leukemianya. ia dapat menerima obat tunggal atau kombinasi dari dua atau lebih obat-obatan. Istirahat sangat penting. yang meliputi: o melalui mulut o melalui suntikan ke dalam pembuluh darah o melalui kateter o injeksi langsung ke cairan cerebrospinal o injeksi ke dalam tulang belakang atau reservoir Ommaya Akan tetapi seperti sudah diketahui secara umum.

yang bukan kandidat untuk transplantasi sel induk. bahkan bertahun-tahun kemudian. Zat ini berikatan dengan sel-sel leukemia. Jenis lain membantu sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel leukemia. Efek samping yang mungkin ditimbulkan antara lain: demam. nyeri otot dan tulang. GVHD bisa ringan atau sangat parah. Anda akan beresiko tinggi terkena infeksi dan perdarahan karena dosis besar kemoterapi ataupun radiasi yang Anda terima. hati. Salah satu jenis antibodi monoklonal membawa racun yang membunuh sel-sel leukemia. Interferon adalah sekumpulan protein yang dilepaskan oleh sel yang terinfeksi virus. Interferon juga membantu tubuh untuk mengurangi proliferasi (pertumbuhan dan reproduksi) sel leukemia. kelelahan. Untuk beberapa orang dengan CML diberikan terapi biologi dengan obat Interferon. dan keluhan seperti flu ketika memulai pengobatan. Saat ini kecuali Tasigna. Interferon-alfa (INFA) adalah jenis interferon yang sering digunakan untuk mengobati leukemia. terutama pada kasus CML stadium lanjut. Dalam kasus resistansi terhadap Imatinib. atau saluran pencernaan terpengaruh.  Terapi Biologi : Interferon Beberapa orang dengan leukemia disarankan untuk menjalani terapi biologi. mual. Gejala seperti itu biasanya berlangsung selama 1-2 minggu. sakit kepala. Masalah lain dengan transplantasi sel induk adalah terjadinya penyakit graft-versus- host (GVHD) dapat terjadi pada orang yang menerima menyumbangkan sel induk. Darah tali pusat diambil dari bayi yang baru lahir dan disimpan dalam freezer. muntah. obat-obatan ini masih dalam uji coba klinis.  Targeted Terapi Orang-orang dengan CML dan ALL mungkin menerima obat yang disebut Targeted Terapi. Paling sering. . Ini diberikan melalui infus intravena. AMN 107 ataupun BMS-354825 menjanjikan harapan. Dalam GVHD. menggigil. Mereka membantu sel-sel normal untuk membuat protein antivirus. Imatinib (Gleevec) adalah targeted terapi pertama yang disetujui untuk CML. sementara memperkuat respons kekebalan tubuh. untuk Anda Sel induk berasal dari beberapa sumber: dari darah ataupun dari sumsum tulang (transplantasi sumsum tulang). INFA biasanya ditawarkan kepada pasien yang baru terdiagnosa. sel-sel darah putih yang disumbangkan bereaksi terhadap jaringan normal pasien. Salah satu jenis terapi biologi adalah zat yang disebut antibodi monoklonal. Efek samping biasanya membaik setelah terapi dengan INFA selesai. Setelah transplantasi sel induk. Hal ini dapat terjadi setiap saat setelah transplantasi. Sumber lain sel induk adalah darah tali pusat. Anda mungkin tinggal di rumah sakit selama beberapa minggu atau bulan. obat-obatan seperti Tasigna (second generation Gleevec). Dibutuhkan waktu bagi sel-sel induk yang ditransplantasikan untuk mulai menghasilkan sel darah yang sehat. kulit. Terapi biologi untuk leukemia adalah terapi dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit. Steroid atau obat lain dapat membantu.

yang dikembangkan di Universitas Pennsylvania. membunuh sel-sel tadi. menurut Wagner. “Transplantasi sumsum tulang dianggap bisa mengatasi semua itu. mual. dari setiap pasien dan memasukkan gen yang telah diprogram untuk membunuh sel-sel B. “Ini adalah strategi baru sama sekali. direktur bagian pediatri dan transplantasi sumsum tulang di Universitas Minnesota. menyusul prosedur kemoterapi. Sel-sel yang telah diubah secara genetika tadi menyerang protein yang ada di permukaan sel-sel B.” papar Wagner. yang kambuh lagi setelah menjalani terapi. Walaupun pengobatan tadi amat efektif dalam melenyapkan penyakit pada empat pasien. Cara pengobatan yang konvensional adalah dengan pencangkokan sumsum tulang. muntah.5 kg BSA = = 1. terapi tadi hanya menarget bagian kecil saja dari sel-sel kanker darah. tipe sel yang dapat menjadi ganas dalam leukemia. sejenis sel darah putih. Diskusikan dengan dokter Anda bila menemukan gejala efek samping. EVALUASI OBAT YANG BEREDAR DI INDONESIA 1. Para peneliti menggunakan virus AIDS yang tidak menular. Efek samping dari Targeted terapi. targeted terapi dapat menghalangi mekanisme protein abnormal yang merangsang pertumbuhan sel-sel leukemia. untuk menciptakan sistem kekebalan baru yang sehat. yang kemudian disuntikkan kembali ke tubuh pasien kanker. BB = 55. kram otot. Pengobatan tersebut membuang jutaan sel T. pengobatan itu hanya sebagian saja efektif pada dua pasien lainnya. atau ruam. E.” kata John Wagner. Cara ini mujarab bagi sebagian pasien. Misalnya.61 m2 . diare. antara lain: pembengkakan. lebih baik dari kemoterapi atau radiasi dan menggunakan mekanisme yang rumit dalam membasmi leukemia yang sangat kebal obat. kembung.  Pengobatan Terbaru Leukemia Artikel terbaru dari VOA (Tim Peneliti As Kembangkan Terapi Pengobatan Leukemia Dengan Virus Aids Yang Dilumpuhkan) mengemukakan bahwa : “Puluhan pasien kini menjalani terapi percobaan. Kemoterapi  post remission  siklus 1 Diket  TB = 168 cm. memuji terapi baru mengobati kanker yang berbahaya ini. tetapi saya akan menerapkannya dengan menggabungkannya dengan terapi lain guna melihat apakah saya dapat memperbaiki keadaan setelah melakukan pencangkokan melebihi apa yang telah kita capai sampai saat ini. Walaupun terapi sel T yang baru dimodifikasi itu merupakan perkembangan yang menggembirakan. John Wagner. untuk memasukkan materi genetika ke dalam sel-sel T. dan kenaikan berat badan secara tiba-tiba. Dua pasien lainnya tidak menunjukkan perubahan sama sekali. dan merangsang pembuatan lebih banyak sel-sel T yang sudah diubah. Targeted terapi juga dapat menyebabkan anemia. Targeted terapi menggunakan obat-obatan yang menghambat pertumbuhan sel-sel leukemia.

a.000 an Pemilihan : Daunorubicin dan cytarabin merupakan 1st line therapy untuk leukemia yang baru dideteksi. profilaksis untuk pengobatan leukemia meningeal.6 mg lisis Biaya : sediaan = 20 mg x 1 (Rp 203.d. demam. Pemberian Nutrisi CLINIMIX® (asam amino.5 vial ~ 400 mg 5 hari  butuh 17. muntah. 5 =200 x 1. Daunorubicin HCl DBL® Tempo Scan Pacific/DBL mposisi : Daunorubicin HCl kasi : Treatment untuk leukemia ALL dan NALL k Samping :Mual. leukemia limfositis akut.gangguan fungsi hati.000) 1 hari  butuh 5 vial ~ 100 mg 2 hari  butuh 10 vial = 10 x Rp 203.000) 1 hari  butuh 3. gukosa.000 = Rp 2. Samping : Anoreksia. elektrolit) .512.030. inflamasi dan ulserasi pada mulut.000 = Rp 1. b. 2. gangguan GI.61 m2 = 322 mg sis Biaya : sediaan = 100 mg x 1 (Rp 84. imunosupresif.61 m2 = 96. Terapi suportif a.000 an Pemilihan : Daunorubicin dan cytarabin merupakan 1st line therapy untuk leukemia yang baru dideteksi. raksi Obat :- kuensi : 1 x sehari asi : 2 hari is : 60 mg/m2 IV pada hari 1 dan 2 = 60 mg x 1. depresi sum-sum tulang. supresi sum-sum tulang aksi Obat :- uensi : 1 x sehari si : 5 hari s : 200 mg/m2 IV pada hari 1 s.5 vial ~ 18 vial = 18 x Rp 84. Cytosar-U® Pfizer posisi : Cytarabine asi : Induksi dan pemeliharaan untuk leukemia non limfositik akut. leukemia mielositik kronik yang mengalami remisi.

350.25g/hari Durasi : 20 jam/ hari Frekuensi : 1 x sehari Interaksi Obat : - Biaya : Rp 250. Manajemen nyeri  Morfin ( MST Continus) Alasan : Merupakan first line pada terapi paliatif.15mg/kg IV = 8.25 mg x 7 = 57.500. pasien mengalami kehilangan nutrisi dan kesulitan untuk mengkonsumsi makanan.25 mg/IV Durasi: Frekuensi: 1 x sehari IO: - Biaya : 8.35 g nitrogen/kgBB/hari = 19.00 c.- Alasan Pemilihan : .75 mg = 7 ampul (8mg) + 1 ampul (4 mg) = (7 x 125. Dosis : 0.000) = Rp 952. Dosis : 0.000  Deksametason (Dexa-M®) Dosis : 12 mg IV Frekuensi : 1x sehari Durasi : IO :- Analisis biaya : 1 ampul 4mg/ml = Rp 2.00. 1 bulan= Rp 218.000 / 1 L b. Dosis : 10 mg Frekuensi : 2 x sehari 1 tab Durasi : 1 bulan Interaksi Obat : - Biaya : 1 tab Rp 3. Pemberian anti mual-muntah (antiemetik)  Ondansetron (DANTROXAL®) Alasan : membutuhkan dosis yang lebih kecil dalam menghasilkan efek yang sama dibanding dengan Dolansetron. Karena pasien sudah berada dalam level intensely severe pain ( dilihat dari skala Mc Caffery M Pasero C). maka terapi yang dilakukan dengan pengobatan paliatif sudah pada step 3 yakni menggunakan opioid kuat yakni morfin.639. maka dibutuhkan asupan nutrisi tambahan. serta terdapat di Indonesia.000) + (1x 77. Alasan : selama siklus terapi.

Kortikosteroid biasanya dikombinasikan dengan SSRI karena dengan penambahan kortikosteroid akan meningkatkan efek antiemetik. Cytarabin menginduksi mual muntah dengan level emetogenesis 2 (ringan). . Morfin menjadi pilihan karena tersedia dalam berbagai sediaan. asam amino. dosis 96. (Leather and Poon. Sehingga dibutuhkan kombinasi antiemetik yang merupakan kombinasi SSRI dengan kortikosteroid (emetogenicity moderate—high). Pasien megalami efek samping kemoterapi ‘tertunda/delayed (seminggu setelah kemoterapi)’. Ondansetron. maka terapi yang dilakukan dengan pengobatan paliatif sudah pada step 3 yakni menggunakan opioid kuat yakni morfin. Nutrisi diberikan secara parenteral.granisetron  efikasi dan keamanannya >>> metoklopramid. Pada kasus ini pasien sudah terdiagnosa AML dan telah menjalani terapi kemoterapi induksi dengan cytarabine dan daunorubicin.6 mg) dan Cytarabine selama 5 hari (1x sehari. memiliki banyak rute pemberian seperti oral. epidural. sedangkan daunorubicin level emetogenesis kuat. Oleh karena itu pasien memerlukan pelayanan suportif yang intensif selama periode toksik kemoterapi induksi sebelum remisi diperoleh.. dan elektrolit. yaitu Clinimix yang berisi glukosa. sedangkan daunorubicin level emetogenesis kuat. Dengan diberikannya tambahan nutrisi. karena pasien mengalami kehilangan nutrisi dan kesulitan untuk mengkonsumsi makanan.dolasetron. dan granisetron efikasi dan keamanannya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan metoklopramid. Karena pasien sudah berada dalam level intensely severe pain ( dilihat dari skala Mc Caffery M Pasero C). Cytarabin menginduksi mual muntah dengan level emetogenesis 2 (ringan). Sehingga dibutuhkan kombinasi antiemetik yang merupakan kombinasi SSRI dengan kortikosteroid (emetogenicity moderate—high) . obat-obat ini dipilih karena merupakan first line terapi pada AML. diakibatkan oleh mual muntah karena kemoterapi yang diterima pasien. 2005) Selain itu. IM. Jika kondisi pasien sudah membaik. rectal. Terapi yang direkomendasikan untuk 1 siklus adalah Daunorubicin HCl selama 2 hari (1x sehari. Kortikosteroid dikombinasikan dengan SSRI karena dengan penambahan kortikosteroid akan meningkatkan efek antiemetik. SC. Morfin memiliki efek adiksi yang lebih tinggi dari yang lainnya. diperlukan juga penambahan nutrisi pada pasien. digunakan morfin. intratekal. Ondansetron. Terapi induksi menggunakan obat yang toksik untuk sel sumsum yang normal. diharapkan kondisi pasien dapat segera membaik. maka terapi kanker dapat dilanjutkan dengan fase konsolidasi (fase 2). . dolasetron. Biasanya kombinasi yg diberikan Ondansetron-dexametasone. Untuk mengatasi nyeri karena kanker. . Lagipula. IV. Kombinasi yang biasa diberikan adalah Ondansetron—dexametasone. sehingga kemoterapi dapat dilanjutkan ke fase berikutnya. dosis 322 mg). Morfin merupakan first line pada terapi paliatif.

sebelumnya pasien pernah menjalani kemoterapi dengan obat-obat ini. . sehingga diharapkan pasien sudah lebih dapat menoleransi efek samping yang diakibatkan oleh pemakaian obat- obat ini.

editor. Terjemahan oleh: Hartanto H. salah satu diantaranya berdasarkan jenis leukemianya. Patofisiologi : pada umumnya terjadi peningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal dimana sel leukemi ini memblok produksi sel darah normal dan merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. 3. Terjamahan oleh: Putra ST. Penatalaksanaan : Orang-orang dengan leukemia memiliki banyak pilihan pengobatan.1999. Kumar V. Hartanto H. Gangguan sel darah putih dan sel plasma. Evaluasi pemilihan obat untuk kanker leukemia dapat dilakukan dengan terapi suportif (berupa pemberian nutrisi. dan transplantasi sel induk. Dokter juga mempertimbangkan gejala dan kesehatan umum. Chronic myeloid leukemia. hipermetabolisme. Kemudian dapat meningkat ketingkat lebih tinggi sesuai dengan tingkat penyakitnya. neutropenia. Hal. Seti awan I. Komala S. 2005. Erlan. Cytosar-U®) B. Sistem hematopoiesis dan limfoma. trombositopenia. terapi radiasi. Pilihan pengobatan tergantung terutama pada 3 aspek. Buku ajar patologi II. 2. terapi biologi. BAB III PENUTUP A. Susi N. targeted terapi. Ed 6. yaitu: jenis leukemia.277-8 Guilhot F. Roy L. Dalam: Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Sasaran dan strategi pengobatan tergantung dari berbagai macam faktor. hematology. DAFTAR PUSTAKA Baldy CM. KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan: 1. Wulansari P.85 . SARAN Perlu dilakukan kajian lebih mendalam meneganai Leukemia terutama perihal pengobatanya mengingat angka kematian akibat penyakit ini dari tahun ke tahun semakin meningkat. 2005. kelainan organ yang terkena infiltrasi. 5. Pilihannya adalah menanti sambil waspada (watchful waiting). In: Textbook of malignant 5. 79. New York: Mcgraw Hill 2005: 696-725 Robbins RL. Jakarta: EGC. infeksi. kemoterapi. usia dan apakah sel-sel leukemia ditemukan dalam cairan cerebrospinal. manajemen nyeri dan pemberian antiemetik) dan kemoterapi (berupa penggunaan obat Daunorubicin HCl DBL®. Jakarta:EGC. Hal. Ed 4. Dalam: Oswari J. Gejala klinis dari leukemia pada umumnya adalah anemia. 4.

Sylvia A.com/content/tim-peneliti-as-kembangkan-terapi-pengobatan-leukemia- dengan-virus-aids-yang-dilumpuhkan/1573222.html http://www. Brahm UP. 2006.htm . Gangguan Sistem Hematologi.cancerhelps.voaindonesia. Jakarta: EGC:278-7 http://www.com/pengobatan-kanker-darah. Dalam: Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit.