PAVING, COMPACTING, DAN QUALITY CONTROL

1. PEKERJAAN PAVING
a. Persiapan Alat
Berikut ini alat-alat yang dibutuhkan dalam pekerjaan paving Asphalt
sebagai berikut :
1) Asphalt Sprayer

2) Asphalt Finisher

3) Dump Truck Asphalt
b. Mobilisasi
Mobiilisasi meliputi peralatan yang di perlukan dan pekerja ke lapangan.

1) Persiapan Bahan
Pastikan aspalt emulsi yang akan di gunakan adalah jenis Laston
dalam jumlah yang cukup, kualitasnya memenuhi syarat sesuai
hasil pemeriksaan laboraturium. Pastikan aspalt yang akan di
hampar sesuai dengan spesifikasi yang telah di tentukan .

c. Pelaksanaan di Lapangan
1) Pemberian Emulsi
Bersihkan dan keringkan permukaan yang akan di beri Emulsi
dalam compressor. Power broom. Sikat kawat, sapu lidi dan alat
bantu lainnya.
2) Pelaksanaan
Tuangkan aspal emulsi jenis crs 1 dan crs 2. Perhatikan juga
pemberian perekat atau pengikat lebih luas dari rencana
penghamparan.
d. Penghamparan Campuran Aspal
1) Penghamparan
2) Truk penebar agregat harus dijalankan dengan kecepatan
sedemikians ehingga kuantitas agregat adalah seperti yang
disyaratkan dan diperoleh permukaan yang rata.
3) Pemadatan awal harus menggunakan alat pemadat6-8 ton yang
bergerak dengan kecepatan kurang dari 3 km/jam. Pemadatan
dilakukan dalam arah memanjang, dimulai dari tepi luar hamparan
dan dijalankan menuju ke sumbu jalan. Lintasan penggilasan harus
tumpang tindih(overlap) paling sedikit setengah lebar alat pemadat.
Pemadatan harus dilakukan sampai memperoleh permukaan yang
rata dan stabil (minimum 6 lintasan).
4) Penyemprotan Aspal

Temperatur aspal dalam distributor harus dijaga pada temperature
yang disyaratkan untuk jenis aspal yang disyaratkan.

Temperatur Penyemprotan Aspal

Jenis Aspal Temperatur Penyemprotan (oC)

60/70 Pen 165-175

80/100 Pen 155-165

Emulsi Kamar, atau sebagaimana petunjuk pabrik

Aspal cair RC/MC 250 80-90

Aspal cair RC/MC 800 105-115

5) Penebaran dan pemadatan agregat pengunci
6) Segera setelah penyemprotan aspal, agregat pengunci harus
ditebarkan pada takaran yang diisyaratkan dan dengan cara yang
sedemikian hingga tidak ada roda yang melintas lokasi yang belum
tertutup bahan aspal. Takaran penebaran harus sedemikian rupa
hingga setelah pemadatan, rongga-rongga permukaan dalam
agregat pokok terisi dan agregat pokok masih nampak.
7) Pemadatan agregat pengunci harus dimulai segera setelah
penebaran agregat pengunci. Dengan cara yang sama seperti yang
telah diuraikan diatas. Jika diperlukan, tambahan agregat pengunci
harus ditambahkan dalam jumlah kecil dan disapu perlahan-lahan
diatas permukaan selama pemadatan. Pemadatan harus dilanjutkan
sampai agregat pengunci tertanam dan terkunci penuh dalam
lapisan dibawahnya.

Gambar.

2. PEKERJAAN COMPACTING
Suhu aspal saat proses penghamparan yang harus diperhatikan, proses
pekerjaan pemadatan aspal merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap
kualitas jalan yang akan dihasilkan. Pemadatan aspal terdiri dari 3 tahap yaitu
pemadatan awal, pemadatan kedua, dan pemadatan akhir yang masing-masing
tahapan menggunakan alat yang berbeda-beda. Alat berat yang menunjang proses
pemadatan aspal antara lain asphalt spray, asphalt finisher, PTR (Pneumatic Tyre
Roller), dan tandem roller. Berikut tahapan dalam pemadatan aspal :

a. Pemadatan Pertama
Pemadatan awal merupakan pemadatan dengan menggunakan alat berat
Tandem Roller sebagai alat bantunya. Pemadatan ini dilakukan ketika dump
truck menuangkan hotmix kedalam asphal finisher kemudian
menghamparkan ke badan jalan. Alat pemadat Tandem Roller harus
dioperasikan mengikuti gerak asphalt finisher. Titik perkerasan harus
menerima minimum dua lintasan penggilasan awal dengan kecepatan
maksimal 4 km/jam. Titik pemadatan awal dimulai dari tempat sambungan
memanjang kemudian diteruskan ke tepi luar.
Gambar 2. Tandem Roller

b. Pemadatan Kedua
Pemadatan kedua dilaksanakan dengan menggunakan alat pemadat beroda
karet atau PTR. Posisi PTR harus berada sedekat mungkin dibelakang
penggilasan awal dengan kecepatan maksimal rata-rata 10 km/jam.
Pemadatan ini dimulai dari tempat sambungan memanjang kemudian menuju
ke area tepi luar.
Gambar 3. PTR (Pneumatic Tyre Roller)

c. Pemadatan Terakhir
Pemadatan akhir atau penyelesaian dilaksanakan dengan menggunakan alat
berat beroda baja tanpa penggetar (vibrasi). Dalam pemadatan ketiga bisa
tidak dikerjakan/dilakukan asalkan pada pemadatan kedua cukup memadai
dengan ciri tidak ada bekas jejak roda saat prose pemadatan berlangsung.

Gambar 4. Proses pemadatan terakhir

3. QUALITY CONTROL

Dalam pekerjaan Paving dan compacting perlu dilakukan pekerjaan quality
control berupa pengecakan temperatur aspal dan pengawasan pekerjaan.

a. Temperatur aspal
Temperatur atau suhu aspal harus tetap terjaga oleh karena itu posisi AMP
(Asphalt Mixing Plant) harus disesuaikan dengan lokasi proyek. Posisi AMP
yang baik adalah sebisa mungkin dekat dengan lokasi sehingga bisa
menjangkau titik terjauh tanpa mengurangi kualitas. Tahapan pekerjaan aspal
antara lain pencampuran, Menuangkan Aspal ke dump truck, Pemasokan ke
alat penghampar (Asphalt finisher), Pemadatan awal, pemadatan kedua, dan
pemadatan akhir. Semua tahapan tersebut mempunyai ketentuan
temperatur/suhu yang berbeda-beda. Berikut suhu aspal saat pencampuran
dan pemadatan dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel Temperatur asphalt dan compacting

No Prosedur Pelaksanaan Rentang Temperatur (derajat celcius)

1 Pencampuran Benda Uji Marshall 155 + 1

2 Pemadatan Benda Uji Marshall 145 + 1

3 Pencampuran 145 - 155

4 Menuangkan Aspal Ke truk 135 - 150

5 Pemasokan ke Alat Penghampar 130 - 150

6 Pemadatan Awal (Roda Baja) 125 - 145

7 Pemadatan Antara (Roda Karet) 100 - 125

8 Pemadatan Akhir (Roda Baja) Ø97

b. Pengawasan Pekerjaan
Pengawasan pekerjaan dilaksanakan olek konsultan pengawas. Hal ini
dilakukan untuk menjamin pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor
sebagai pelaksana proyek, apakah sesuai dengan ketentuan yang terdapat
dalam spesifikasi. Ketentuan ketentuan pelaksanaan pekerjaan yang sesuai
dengan spesifikasi adalah sebagai berikut :
• Penghamparan lapis pondasi agregat, baik kelas A maupun kelas B tidak
boleh mempunyai ketebalan kurang dari dua kali ukuran maksimum
bahan.
• Penghamparan lapis pondasi kelas A maupun kelas B tidak boleh lebih
dari 20 cm dalam keadaan loose, hal ini dapat mempengaruhi proses
pemadatan sehingga pemadatan yang dilakukan tidak mencapai
keadaan optimal.
• Permukaan lapis pondasi agregat harus rata sehingga air tidak dapat
menggenang akibat permukaan yang tidak rata. Deviasi maksimum
untuk kerataan permukaan adalah 1 cm.
• Toleransi terhadap tebal total lapis pondasi agregat adalah 1 cm dari tebal
rencana.
• Lapis pondasi yang terlalu kering atau terlalu basah untuk pemadatan yaitu
kurang dari 1% atau lebih dari 3% pada kadar air optimum, diperbaiki
dengan cara menggali dan mengganti dengan bahan yang memenuhi
syarat kadar air tersebut.