1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional, telah

mewujudkan berbagai hasil yang positif diberbagai bidang, terutama dibidang

medis dan keperawatan sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan

penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya jumlah

penduduk yang berusia lanjut meningkat dan cenderung bertambah lebih cepat.

Dengan meningkatnya jumlah lansia akan menimbulkan berbagai masalah

diantaranya masalah medis akibat proses degeneratif yang terjadi. Selain itu

banyak kelainan atau penyakit yang prevalensinya meningkat dengan

bertambahnya usia, organ sistem yang akan mengalami proses penuaan akan

rentan terhadap penyakit. Yang lebih ironis adalah keadaan ini belum didukung

oleh adanya pelayanan kesehatan bagi lansia. (www.goegle.com).

Tenaga yang ada di sarana pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas di

Kabupaten atau Kota di Jawa Timur pada tahun 2006 seluruhnya 27.788 orang

yang tersebar pada 931 Puskesmas, yang meliputi Tenaga Medis 3.278 orang,

Perawat dan Bidan 15.617 orang, Farmasi 796 orang, Kesehatan Masyarakat 288

orang, Sanitasi 756 orang, Gizi 658 dan Teknis Medis 354 orang, lain-lain 6.041

orang. Sedangkan cakupan pelayanan kesehatan pra usila (45-59 tahun) dan usia

lanjut (> 60 tahun) pada tahun 2006 sebesar 4.783.664, yang mendapatkan

pelayanan kesehatan sebesar 1.428.788 (29,87 %), yang terbagi dalam pra usila

(45-59 tahun) yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebesar 700.955 (26,34 %)

1

2

dari 2.661.538 pra usila yang ada dan jumlah usila (>60 tahun) yang mendapatkan

pelayanan kesehatan sebesar 627.991 (29,05%) dari jumlah usila yang ada

2.161.513, jumlah tersebut lebih tinggi pada tahun 2006 dibandingkan pada tahun

2005, dimana cakupan pra usila dan usila yang dilayani 574.024 (20,03 %) dari

jumlah seluruhnya 2.865.142, namun demikian dari target SPM tahun 2006

sebesar 50%, masih jauh dibawah target (Dinas Kesehatan Jawa Timur, 2007). Di

Puskesmas Dander terdapat 21 tenaga kesehatan, dari studi pendahuluan sebanyak

5 petugas kesehatan didapatkan 3 (60%) tenaga kesehatan yang mengikuti

Posyandu Lansia. Dan untuk jumlah lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Dander

sebanyak 1007 jiwa sedangkan Lansia yang rutin berkunjung di Posyandu Lansia

sebanyak 133 (13%) orang.

Semakin bertambahnya jumlah lansia dan semakin minimnya tenaga

kesehatan yang mengerti akan posyandu lansia akan menambah beban tenaga

kesehatan. Dari faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa masih rendahnya

kuantitas dan kualitas tenaga profesional dalam pelayanan lanjut usia, sehingga

posyandu lansia kurang bisa berjalan secara maksimal. Akibat timbul masalah

pada lansia baik fisik, mental maupun sosial. Dengan adanya pengetahuan yang

cukup tentang posyandu lansia baik oleh tenaga kesehatan maupun lansia itu

sendiri, program posyandu lansia dapat berjalan secara maksimal dan angka

kesakitan pada lansia berkurang (Waqit Iqbal M. 2006 : 196).

Dengan adanya manajemen pelayanan kesehatan lansia dan untuk

memecahkan masalah di atas diharapkan tenaga kesehatan sangat berperan dalam

meningkatkan taraf hidup sehat lansia untuk membantu lansia menyadari akan

pentingnya gaya hidup sehat, pelayanan kesehatan bagi lansia dapat dilakuan

disemua fasilitas pelayanan baik swasta maupun pemerintah. Dengan demikian

2

3

peran serta tenaga kesehatan bagi lansia sangat diperlukan sehingga lansia tetap

produktif dan tidak tergantung pada orang lain. Peran pemerintah dalam

memperhatikan kesehatan lansia sudah mulai ada meskipun belum optimal

misalnya menyediakan fasilitas gratis bagi lanjut usia yang berobat di puskesmas

dan adanya posyandu lansia.

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang

posyandu lansia dengan pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja

Puskesmas Dander Tahun 2008.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai

berikut :

Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang

Posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program Posyandu lansia di

wilayah kerja Puskesmas Dander Tahun 2008 ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang

Posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program Posyandu lansia di

wilayah kerja Puskesmas Dander Tahun 2008.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang

Posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander tahun 2008.

3

4

1.3.2.2 Mengidentifikasi gambaran pelaksanaan program Posyandu lansia di

wilayah kerja Puskesmas Dander Tahun 2008.

1.3.2.3 Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang

Posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program Posyandu lansia

di wilayah kerja Puskesmas Dander Tahun 2008.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Dapat meningkatkan pengetahuan serta dapat menerapkan ilmu yang

didapat selama perkulihan.

1.4.2 Bagi Pelayanan Kesehatan

Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan mutu

pelayanan dan profesionalisme.

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan

Menambah kepustakaan ilmu administrasi kesehatan dan masukan untuk

penelitian selanjutnya.

4

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan disajikan Konsep pengetahuan, Konsep tenaga kesehatan,

Konsep lansia, Konsep Posyandu Lansia, Konsep upaya pemerintah dalam

pembinaan kesehatan usila, kerangka konseptual dan hipotesis.

2.1 Konsep Pengetahuan

2.1.1 Pengertian pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi

melalui panca indra manusia yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo S, 2003 : 127).

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar

menjawab pertanyaan ”what” misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan

sebagainya (Notoatmodjo S, 2005 : 3).

2.1.2 Proses adopsi perilaku

Menurut penelitian Rogers, 1974 dikutip (Notoatmodjo S, 2003 : 128)

mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri

orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :

2.1.2.1 Awarenes atau kesadaran

Pada tahap ini individu berkenalan dengan suatu inovasi, tetapi ia

belum memperoleh informasi yang cukup tentang informasi tersebut.

5

Pada tahap ini individu mulai menerapkan inovasi yang dikenalkan tadi sebagai suatu percobaan dulu.1. Apakah memang benar-benar cocok bagi dirinya.2.2. 2. Hasil trial inilah yang akan menentukan apakah yang bersangkutan akan menerima atau menolak inovasi tersebut.2 Interest atau merasa tertarik Dimana orang merasa tertarik terhadap stimulus. 6 Pada tahap ini yang bersangkutan mulai tahu tentang inovasi tersebut tetapi belum merasa tergugah atau belum tertarik untuk mencari informasi lebih lanjut tentang informasi tersebut.3 Evaluation atau menimbang-nimbang Disini individu yang sudah melewati tahap-tahap mengadakan penilaian terhadap inovasi tadi untuk mengetahui apakah inovasi ini cocok bagi situasi dirinya saat ini atau dimasa mendatang.2. 2. Pada tahap Interest ini. 2. Pada tahap ini bisaanya individu yang sedang dalam tahap penilaian memerlukan suatu dukungan atau reinforcement bahwa apa yang dilakukannya sudah benar. 6 .1. untuk ini biasanya yang bersangkutan minta pendapat teman-teman dekatnya. individu yang sudah berkenalan dengan inovasi tadi mulai tergugah dan tertarik untuk memperoleh informasi lebih banyak tentang inovasi tersebut.4 Trial (percobaan) Dimana obyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki stimulus.1.

menyatakan dan sebagainya. kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.1.3. 2.1. menyimpulkan. Oleh sebab itu “tahu” merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.3 Tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo S.5 Adaption (menerima) Dimana subyek telah mulai mencoba perilaku baru sesuai dengan pengetahuan. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. 7 2.2 Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.3.3 Aplikasi (Aplication) 7 .1. 2. yaitu : 2. 2.1 Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.1.2. menyebutkan contoh. mendefinisikan. meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. menguraikan. 2003 : 128-130). Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan.1. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan.3. Disini individu sudah memutuskan akan terus menerima inovasi yang sudah dicoba tadi.

dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan- rumusan yang telah ada. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 8 Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). memisahkan dan sebagainya. membedakan.5 Sintesis (Syntesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-baguian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.4 Analysis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Aplikasi dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum.1. kemampuan analisis dapat dilihat penggunaan kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan).3.1. dapat merencanakan.6 Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi penelitian terhadap suatu materi atau obyek. dapat meringkaskan. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. 2.3. metode. Misalnya : dapat menyusun. rumus. 2. Penilaian- 8 .1. tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.3. 2.

Cara kekuasaan atau otoritas Pengetahuan ini diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini meliputi : 1.1. otoritas pemimpin. baik tradisi. Cara coba-salah (trial and error) Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil. maupun 9 . 2. 2. Metode ini telah meletakkan dasar-dasar menemukan teori-teori dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dan juga merupakan pencerminan dari upaya memperoleh pengetahuan.4 Cara memperoleh pengetahuan Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah. 9 penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. dicoba kemungkinan yang lain. otoritas pemerintah. agama. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dan dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut.1 Cara tradisional atau non-ilmiah Cara ini dipakai untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. dapat dikelompokkan menjadi dua (Notoatmodjo S. yakni : 2.1. 2005 : 10-18). sebelum diketemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis.4.

3.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan 2. 2.pertanyaan yang dikemukakan. Cara ini disebut “Metode Penelitian Ilmiah” atau lebih populer disebut metodologi penelitian (Recearch Methodology).4. hal ini diperlukan berpikir kritis dan logis.1. Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pertanyaan. manusia telah menggunakan jalan pikirannya baik melalui induksi maupun deduksi.1 Umur 10 .1. Melalui jalan pikiran Manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan. kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan. Pendapat yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh ilmu pengetahun atau filsafat selalu digunakan sebagai referensi dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi.5. logis dan ilmiah. namun tidak semua pengalaman pribadi dapat menuntun seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar. Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman pribadi merupakan sumber pengetahuan atau merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.1. 2. 4.2 Cara modern Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis. 10 ahli ilmu pengetahuan.

seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup dewasa (Hucluk.2 Pendidikan Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki dan begitu juga sebaliknya (Nursalam dan Siti Pariani. 2. 2005 : 13). 11 Semakin cukup umur tingkat kematangan dan sikap seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja sehingga pengetahuanpun akan bertambah.5. seperti kebutuhan keluarga mereka terhadap gizi.2. 2003 : 100). oleh sebab itu pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lampau (Notoatmodjo S. pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. 2001 : 133). 2.2 Konsep Tenaga Kesehatan 2.1.1 Pengertian tenaga kesehatan 11 .4 Pengalaman Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.3 Penghasilan Penghasilan yang rendah akan mengurangi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan lainnya.5. 1998). perumahan dan lingkungan sehat.1. 2.1. 2.5. Dari segi kepercayaan masyarakat. Jelas semuanya itu akan dengan mudah dapat menimbulkan penyakit (Nursalam.

pertolongan persalinan yang normal. Memberikan penyuluhan keseahtan mengenai kebersihan perorangan. pencegahan kecelakaan. 2. 3. sebagai berikut : 1. 7. perawatan nifas. 1988 : 5). penyuluhan gizi. Melaksanakan tindakan darurat dan memberikan pertolongan pertama pada pasien yang gawat. gizi. Mengenal tanda dan gejala penyakit yang sering terjadi baik penyakit menular atau tidak. Menentukan kebutuhan kesehatan masyarakat dan mendorong masyakat untuk berperan serta dalam memenuhi kebutuhan kesehatan. 12 Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan atau keterampialan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan (Wijono. imunisasi. 12 . Memberikan pelayanan keperawatan pada ibu hamil dan ibu nifas yang meliputi pemeriksaan kehamilan. Memberikan pelayanan keluarga berencana dan motivasi kepada pasangan usia subur (PUS). kesehatan mental. kesehatan lingkungan. kesehatan ibu dan anak.2. 5. 6. 4. Memberikan pelayanan kesehatan pada bayi dan anak yang meliputi pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan. 2. perawatan anak sakit dan pelaksanaan tindakan pengobatan. kesehatan gigi dan mulut.2 Fungsi tenaga kesehatan Tenaga kesehatan diharapkan dapat melaksanakan fungsinya (Standart Praktek Keperawatan.1999 : 976). Djoko.

Melaksanakan tugas administrasi sederhana dalam program pelayanan kesehatan masyarakat. 9.2.2.2. puskesmas dan masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku sehat seeprti yang diharapkan dalam mencapai tingkat kesehatan optimal. sekolah. 2. 10. 13 8. 1988 : 4). kelompok dan masyarakat baik di rumah. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di rumah sakit dengan institusi pelayanan kesehatan lainnya. keluarga.1 Pelaksanaan pelayanan kesehatan (Provider) Peran yang utama dari perawat kesehatan adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan. 2. kelompok masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit atau yang mempunyai masalah kesehatan baik dirumah. 2.3 Peran tenaga kesehatan (Standart Praktek Keperawatan.4 Koordinator pelayanan kesehatan (Coordinator Of Servises) 13 . termasuk pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan. Memantau dan menilai hasil kegiatan pelayanan kesehatan. 2. puskesmas dan sebagainya. keluarga.3.3.3 Sebagai pengamatan kesehatan (Health Monitor) Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada individu. keluarga. 11.2 Sebagai pendidik (Health Educator) Memberikan pendidikan kesehatan pada individu. 2.3.3. kelompok dan masyarakat yang menyakut masalah-masalah kesehatan yang timbul serta berdampak terhadap status kesehatan.2.2. kepada individu. Melaksanakan tindakan keperawatan lanjutan pada kasus dari puskesmas atau rumah sakit.

2.7 Sebagai panutan (Role Model) Tenaga kesehatan dapat memberikan contoh yang baru dalam bidang kesehatan kepada masyarakat.6 Pengorganisasian pelayanan kesehatan (Organisator) Tenaga kesehatan dapat berperan serta dalam memberikan motivasi dalam rangka meningkatkan keikutsertaan dalam setiap upaya pelayanan kesehatan yang dilaksanakan.9 Sebagai pengelola 14 . dengan demikian pelayanan kesehatan yang diberikan merupakan suatu kegiatan yang menyeluruh dan terpisah-pisah antara satu dengan lainnya.2. keluarga klien tentang bagaimana tatacara sehat yang dapat ditiru dan dicontoh.2. sehingga terciptanya keterpaduan dalam sistem pelayanan kesehatan. 2. 2.3. 2. 2.2.5 Sebagai pembaharu (Inovator) Tenaga kesehatan dapat berperan sebagai agen pembaharu tenaga terhadap individu.8 Sebagai tempat bertanya (Fasilitator/Konsultan) Tenaga kesehatan dapat dijadikan tempat bertanya untuk memecahkan berbagai masalah dalam bidang kesehatan yang dihadapi sehari-hari dan diharapkan mampu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah kesehatan.2.3.3.3. 14 Mengkoordinasi seluruh kegiatan upaya kesehatan masyarakat dan Puskesmas dan rumah sakit dalam mencapai tujuan kesehatan melalui kerja sama dengan team kesehatan lainnya. keluarga dan masyarakat terutama dalam merubah perilaku dan pola hidup sehat yang erat kaitannya dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.3.2.

4 Pelayanan kesehatan meliputi kegiatan 1. 2.1 Definisi Lansia Lanjut usia (Lansia) merupakan seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. 2.2 Batasan-batasan Lansia Dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur (Nugroho. Preventif 3.3. baik secara fisik masih berkemampuan (Lansia yang sehat dan produktif) maupun yang karena permasalahan tidak mampu lagi berperan dalam pembangunan (Lansia yang memiliki kerentangan tubuh dengan ditandai dengan kondisi fisik yang mulai melemah. 1988 : 4). 2000 : 18). sakit-sakitan dan daya pikir menurun) (BKKBN. 1996 : 6).2. Kuratif 4. 15 Tenaga kesehatan dapat mengelola sebagai pelayanan tenaga kesehatan sesuai dengan berbagai tugas dan tanggung jawab (Effendi Nasrul. 1998 : 22).3. Lansia merupakan tahap akhir dari siklus hidup manusia yang merupakan bagian dari proses alamiah kehidupan yang tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap manusia (Nugroho. 2000 : 20) : 15 . 2.3 Konsep Lansia 2. Promotif 2. Rehabilitatif (Standart Praktek Keperawatan.

c. Jos Masduni (Psikolog UI). d. 4. 1-6 tahun : masa pra sekolah. Lanjut usia (elderly) : antara 60 tahun sampai 70 tahun. 40-65 tahun : masa setengah umur (pra senium). Dr. b. Lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. 6-10 tahun : masa sekolah. Fase senium : 60 tahun hingga tutup usia. Sumiati Ahmad Muhammad Beliau merupakan guru besar Universitas Gajah Mada pada Fakultas Kedokteran. Fase prasenium : antara 55-65 tahun. Menurut Prof. 16 . d. Beliau membagi prioritas biologis perkembangan manusia sebagai berikut : a. Menurut Prof. c. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun. meliputi : a. e. c. Menurut Dra. Koesoemoto Setyonegoro a. Fase viventus : antara 25-40 tahun. Usia pertengahan (middle age) : kelompok usia umur antara 45-49 tahun. sedangkan masa dewasa sendiri dibagi menjadi 4 fase. b. yaitu : a. 16 1. Lanjut usia tua (old) : antara 75 tahun sampai 90 tahun. 10-20 tahun : masa pubertas. 0-1 tahun : masa bayi. Ny. Ny. 3. 65 tahun keatas : masa usia lanjut (senium). Usia dewasa muda (elderly adolhood) yaitu antara 18 atau 20-25 tahun. d. b. Menurut organisasi kesehatan dunia. f. 2. Fase verilitas : antara 40-50 tahun.

c. Lebih besar ukurannya. Terganggunya mekanisme perbaikan sel. b. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi. Mengecilkan syaraf panca indera. 2. Menurut DepKes RI a. Menurunkan proposi protein diotak. b. Lanjur usia (geriatri age) atau lebih dari 65 tahun atau 70 tahun atau umur 70-75 tahun (young old). b. yakni Lansia yang berusia lebih dari 70 tahun. c. Cepat menurunnya hubungan persyarafan. 17 b. Sel a. Lebih sedikit jumlahnya.3. d. Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan cairan intra seluler. ginjal darah dan hati. 17 .1 Perubahan fisik 1. Kelompok Lansia risiko tinggi. d. c.3 Perubahan yang terjadi pada lanjut usia (Nugroho. 5. Kelompok Lansia (65 tahun keatas). 2. c. 2. 2000 : 26).3. Sistem persyarafan a. e. Jumlah sel otak menurun. Berat otak menurun 10-20%. Kelompok Lansia dini (55-64 tahun) yakni kelompok yang baru memasuki Lansia. f. Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas yaitu antara 25-30 tahun atau 70 tahun.3.

f. Elastisitas dinding aorta menurun. 18 . 6. b. 4. Membran timpani menjadi otropi. Kekeruhan pada lensa. Hilang daya akomodasi. 3. Spenter pupil timbul sclerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. d. Menurunnya lapang pandang dan berkurangnya luas pandangan. Kornea lebih berbentuk sfesis (bola). Menurunkan kontruksi dan volume jantung. b. b. Hipotermi secara fisilogik  350C akibat metabolisme yang menurun. Sistem kardiovaskuler a. Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot. Sistem pendengaran a. Kehilang elastisitas pembuluh darah. Katub jantung menebal dan menjadi kaku. 7. c. c. 18 e. Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku. Sistem penglihatan a. c. e. Kurang sensitif terhadap sentuhan. d. Susah melihat dalam cahaya gelap. Presbiakulis (gangguan pada pendengaran). b. Sistem respirasi a. Pendengaran bertambah menurun pada Lansia yang stress. Sistem pengaturan temperatur tubuh a. 5.

2) Fungsi tubulus berkurang. Kemampuan batuk berkurang. asam lambung dan aktu mengosongkan menurun. Sistem gentaurinasia a. c. f. permukaan menjadi halus dan sekresi menjadi berkurang. Paru-paru kehilangan elastisitas. Sistem gastrointestinal a. Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang. Kehilangan gigi. O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg. e. b. d. Osefagus melebar. 19 b. 19 . Indera pengecap menurun. atrofi payudara dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun dan selaput lendir vagina menurun. g. 8. d. Vesika urinaria 1) Otot-otot menjadi. Lambung : rasa lapar. berkurangnya aliran darah. Liver makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan. c. b. 9. Fungsi absorbsi melemah. Ginjal 1) Nefron menjadi atropi. Sistem reproduksi : menciutnya ovari dan uterus. e.

j. Kenangan 20 . c. Vagina Fungsi seksual intercourse menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati terus berjalan sampai tua. 20 2) Vesika usia sulit dikosongkan pada pria Lansia.2 Perubahan mental 1. e. Sistem endokrin g. Permukaan kulit kasar / bersisik. i. 3) Kapasitas vesika urinaria menurun. f.3. Sistem kulit a. d. Kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya. Kulit keriput. Fungsi parahnoid dan sekresinya tidak berubah. Pertumbuhan kuku menjadi. c. 10. Menurunnya fungsi aldosteron. Atropi vulva e. Pemberian prostat d. Menurunya akivitas tiroid BMR (Basal Metabolik Rate) dan daya pertukaran zat. Menurunnya respon terhadap trauma. Produksi dari hampir semua hormon menurun.3. b. 2. h.

kenangan buruk. 2. Penyakit kronik dan ketidakmampuan. 5.3. 3. 3. 2004 : 27). 1.3 Perubahan psikososial 1. Kenangan jangka pendek 0-7 menit. Herediter. Berjam-jam sampai berhati-hati yang lalu mencakup berbagai perubahan. b. Tidak berubah dengan informasi matematika dan pendekatan verbal. 6. 2.3. Stress. 4.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan dan ketegangan fisik (Nugroho. Perubahan dalam cara hidup. c. Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan.4 Konsep Posyandu Lansia 2. persepsi dan ketrampilan. b. Nutrisi. Lingkungan. I Q (Intelegentia Question) a. 2. Berkurangnya penampilan. 2. Pengalaman hidup.1 Pengertian 21 . 21 a. 2. 2. Status kesehatan. 5.3. 4.4. Pensiun. Sadar akan kematian. Kenangan jangka panjang.

berpakaian. 7. 4. Pemeriksaan status mental. 8. 2. naik turun tempat tidur. 3. Menganjurkan lansia untuk menyalurkan hobi secara teratur dan bergairah. 2004 : 13). alkohol. Mendeteksi secara dini penurunan kondisi kesehatan lansia secara teratur dan berkesinambungan.2 Tujuan Umum Diperoleh peningkatan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lanjut usia untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna bagi kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. 2. Memberikan latihan fisik (exercise) fisik dan mental secara teratur bagi lansia.3 Tujuan Khusus 1. kelelahan fisik dan mental. 22 . Pemeriksaan aktivitas fisik kegiatan sehari-hari yang meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan seperti makan atau minum.4 Jenis Kegiatan Pelayanan Kesehatan Di Posyandu Lansia 1.4.4. Melatih lansia untuk mandiri dalam penanggulangan masalah kesehatannya. berjalan. 6. 5. 2. mandi. Mengarahkan pada lansia untuk menghindari kebiasaan hidup yang tidak baik seperti merokok. 2.4. Pemeriksaan status gizi. 2. 22 Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu kepada usia lanjut meliputi aspek promotif. buang air dan sebagainya. Melatih kebersihan perorangan atau pribadi bagi lansia. 3. preventif dan rujukan yang dilaksanakan di tingkat desa (Depkes. Sebagai kelompok sosialisasi. Memberi informasi dan memotivasi lansia untuk melaksanakan diet seimbang. kopi.

3.1. Kegiatan olahraga antara lain senam lansia.2 Tujuan khusus 1.google. 9. Pelaksanaan rujukan di puskesmas bilamana ditemukan adanya kelainan atau keluhan-keluhan. 5. 4.com.5 Konsep upaya pemerintah dalam pembinaan kesehatan usila (www.1.1 Tujuan umum Meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupannya untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata masyarakat. 2.1 Tujuan Pembinaan 2. 2. Meningkatkan mutu kesehatan usila. Meningkatkan jenis danjangkauan pelayanan kesehatan usila. 7. Penyuluhan yang dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi individu atau kelompok lansia.id) 2. 23 4. Pemeriksaan laboratorium.5. 8. 23 .5. Pengukuran tekanan darah. gerak jalan santai dan lain-lain untuk meningkatkan kebugaran. 6. Kunjungan rumah oleh kader disertai tenaga bagi anggota kelompok lansia yang tidak datang dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat. 2.5. Meningkatkan kesadaran pada usila untuk membina sendiri kesehatannya. Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usila.

2. semua puksesmas dan rujukannya. Masyarakat luas. Organisasi sosial yang bergerak di dalam pembinaan kesehaan usila.3. Kelompok usila dalam masa senescens ( 65 tahun) dan usila dengan resiko tinggi (lebih dari 70 tahun) hidup sendiri. 2. 3. terpencil. 2. semua media masa baik swasta ataupun pemerintah.3 Program Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Bagi Usila 2.5. semua lembaga pendidikan dan semua posyandu lansia. Kelompok usia menjelang usila 45-54 tahun atau dalam masa vertilitas didalam keluarga maupun masyarakat luas.1 Komponen penyebarluasan informasi 1.5.2 Sasaran Pembinaan 2. 3.2 Sasaran tidak langsung 1. 2. organisasi masyarakat usila dan masyarakat pada umumnya. kesadaran dan minat individu dan masyarakat usila untuk melaksanakan hidup sehat. Keluarga dimana usila berada. 24 2. Saran Sebagian besar usila dalam keluarga memahami cara-cara hidup sehat. cacat dan lain-lain.5.2.2. hidup dalam panti.5. Kelompok usia lanjut dalam masa pensiun (55-64 tahun) dalam keluarga.5. 2. penderita penyakit berat.1 Sasaran langsung 1. Tujuan Meningkatkan pemahaman. 24 .

6) Melaksanakan pengkajian dan pengembangan serta pelaksanaan tehnologi tepat guna di bidang penyebarluasan informasi. 2. 8) Menyebarluaskan informasi secara khusus dalam keadaan darurat. 3) Melengkapi puskesmas dan rujukannya serta posyandu dengan sarana dan badan penyuluhan kesehatan masyarakat usila.2 Komponen pengembangan potensi swadaya masyarakat di bidang kesehatan 25 . kecelakaan masal dan lain-lain. 25 3. bencana alam.5. memproduksi dan menyebarluaskan bahan- bahan penyuluhan kesehatan masyarakat lansia. 4) Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak. 7) Melaksanakan evaluasi secara berkala untuk mengukur dampat serta meningkatkan daya guna dan hasil guna penyuluhan kesehatan masyarakat usila. 2) Meningkatkan sikap.3. kemampuan dan motivasi tenaga puskesmas dan rujukan serta masyarakat (termasuk posyandu) di bidang penyuluhan kesehatan masyarakat usila. Kegiatannya 1) Mengembangkan. 5) Meningkatkan penyuluhan kesehatan masyarakat usila kepada masyarakat umum dan kelompok-kelompok khusus seperti daerah terpencil.

Saran 1) Semua puskesmas telah melaksanakan pengembangan dan pembinaan potensi swadaya masyarakat dibidang kesehatan usila. 4) Di setiap desa telah terbentuk kelompok-kelompok keluarga yang memiliki usila yang mampu mengatasi masalah kesehatan usila mandiri sesuai dengan kemampuannya. 2) Sebagian besar lembaga swadaya masyarakat dan swasta yang bergerak dibidang kesehatan. 2. 2) Mengembangkan pembinaan kemampuan dan motivasi terhadap kelompok masyarakat termasuk juga swasta. 3. Tujuan Meningkatkan kemampuan masyarakat termasuk swasta untuk mengenal dan memecahkan masalah-masalah kesehatan usila dilingkungannya. 26 1. 26 . 3) Setiap desa telah mengembangkan posyandu bagi pelayanan usila berdasarkan kebutuhan dan jumlahnya disesuaikan dengan situasi setempat. 5) Semua LKMD telah memahami cara-cara pembinaan dan pengembangan potensi swadaya masyarakat dibidang kesehatan usila. Kegiatan 1) Mengembangkan sikap. kemampuan dan motivasi tenaga puskesmas dan pengurus LKMD dalam mengembangkan potensi swadaya masyarakat dibidang kesehatan usila.

2) Menyusun modul-modul pelatihan khusus lansia untuk aparat penyuluhan kesehatan diberbagai tingkat. Tujuan Meningkatkan pengetahuan. 27 3) Mengembangkan.3 Komponen pengembangan penyelenggaraan penyuluhan 1. 2. Kegiatan 1) Menyempurnakan kurikulum penyuluhan kesehatan lansia disekolah-sekolah kesehatan. 5) Melaksanakan penilaian secara berkala untuk mengukur dampak serta meningkatkan daya guna penyuluhan kesehatan masyarakat pada usila. 3) Melangkapi sektor-sektor lain dengan materi penyuluhan kesehatan lansia. sikap.5. 4) Memberi masukan penyuluhan kesehatan masyarakat pada lansia.3. 2. memproduksi dan menyebarluaskan pedoman penyuluhan kesehatan usila untuk para penyelenggara penyuluhan baik pemerintah maupun swasta. keterampilan dan motivasi penyelenggara penyuluhan agar dapat menyelenggarakan penyuluhan kesehatan masyarakat pada usila secaa berdaya guna dan berhasil guna. 4) Memberi dorongan kepada pihak yang telah melaksanakan pengembangan potensi swadaya masyarakat dibidang usila baik langsung atau tidak langsung. 27 .

5.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program posyandu lansia 2. D.2 Kebijakan 28 . 2. 1999 : 976).4. 28 5) Memberi masukan kepada pengambil keputusan di bidang kesehatan tentang rencana dan keberhasilan penyuluhan kesehatan dalam menunjang program lansia.5.1 Ketenagaan Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan atau keterampialan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan (Wijono. Penyelanggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh. dimana merupakan upaya untuk memecahkan permasalahan kesehatan yang dihadapi.4. oleh karena itu pembinaan kesehatan bagi lanjut usia perlu mendapatkan perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan ditingkatkan secara berkesinambungan dengan dukungan dari semua pihak yang terkait. khususnya tenaga kesehatan ditempat pelayanan masyarakat dalam mewujudkan peningkatan derajat kesehatan pada umumnya dan peningkatan hidup produktif bagi lanjut usia pada khususnya sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat ikut serta berperan aktif dalam pembuangan. terpadu dan berkesinambungan yang dijabarkan kedalam kegiatan pokok.5. 2.

5. Kebijakan umum Upaya kesehatan lanjut usia terutama ditujukan untuk meningkakan kesehatan dan kemampuan lanjut usia agar dapat hidup mandiri selama mungkin. 2000 : 163). Kebijakan khusus Arah pembinaan lanjut usia ditujukan oleh pada keserasian. keselerasan upaya pembinaan yang dilaksanakan oleh sektor terkait dalam pembinaan lanjut usia yang berorientasi pada pemecahan oleh individu maupun kelompok lanjut usia. 2.4. tetapi produktif dan berperan aktif dalam masyarakat. 29 Kebijakan mempunyai nilai karena pengaruhnya dalam meningkatkan konsistensi tindakan dan stabilitas. Kebijakan dalam kegiatan pembinaan program kesehatan lanjut usia terdiri dari : 1. kadang-kadang dalam beberapa bagian pada waktu yang sama tanpa melihat posisi manajemen (Swanburg Russel C. Tidak adanya kebidakan dapat menimbulkan situasi dimana masalah yang sama terjadi berulang-ulang. kebijakan tersebut merupakan petunjuk dari manajemen puncak ke tingkat bawah dan juga berfungsi menyampaikan dan mempercepat pembuatan bebeapa keputusan.3 Kepemimpinan 29 . 2.

Semua manusia hidup mempunyai motivasi.4 Motivasi Motivasi merupakan konsep yang menggambarkan baik kondisi ekstrinsik yang merangsang perilaku tertentu. dan respons instrinsik yang menampakkan perilaku manusia.5.4. 2000 : 282). 30 Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi kelompok untuk menentukan dan mencapai tujuan. 30 . itulah sebabnya dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan gejala sosial yang selalu diperlukan dalam kehidupan kelompok (Swanburg Russel S. Respons intrinsik ditopang oleh sumber energi. Kepemimpinan mutlak diperlukan. motivasi diukur dengan perilaku yang dapa diobservasi dan dicatat. 2. keinginan atau dorongan. yang disebut motif sering dijelasan motivasi sebagai kebutuhan. 2000 : 277). kekurangan dalam kebutuhan merangsang manusia untuk mencari dan mencapai tujuan untuk memenuhi kebutuhan mereka (Swanburg Russel C. dimana terjadi interaksi kerja sama antara dua orang atau lebih dala mencapai tujuan organisasi.

Ketenagaan.Kepemimpinan.Motivasi Pengetahuan progam Pelaksanaan progam posyandu lansia posyandu lansia Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Keterangan : : Diteliti : Tidak diteliti 31 . Penghasilan kese 4. Aplikasi posyandu lansia : . 3. Tenaga 3.6 Kerangka Konsep Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian –penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojdo. Evaluasi . Pendidikan. Tahu Faktor-faktor yang 2. Umur 2. Sintesis . 5. Memahami mempengaruhi pelaksanaan 3.Kebijakan. Pengalaman hata Tingkat pengetahuan : 1. 4. Analisis . Faktor yang mempengaruhi : 1. 2005 : 69). 31 2.

H1 : Ada hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander.1 Kerangka konsep hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Tahun 2008.7 Hipotesa Hipotesa adalah jawaban sementara dari penelitian. 2. 32 Gambar 2. 2002 : 172). 32 . patokan atau dalil yang sementara dan kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut (Notoatmodjo S.

tehnik pengumpulan data dan tehnik analisa data. identifikasi variabel. 3. lokasi dan waktu penelitian. Pada bab ini akan diuraikan tentang : desain penelitian. 33 .1 Desain Penelitian Desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting yang memungkinkan pemaksimalan kontra beberapa faktor yang bisa mempengaruhi akurasi suatu hasil (Nursalam. kerangka kerja. 2002 : 3). definisi operasional. observasi atau pengumpulan data sekaligus suatu saat (point time approach) (Nursalam. sampling. sampel. 33 BAB III METODE PENELITIAN Metode adalah merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. misalnya untuk menguji serangkaian hipotesa dengan menggunakan tehnik serta alat-alat tertentu (Notoatmodjo S. 2003 : 85). 2003 : 77). dengan cara pendekatan. masalah setika serta keterbatasan penelitian. populasi. Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan observasi cross sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek.

lansia Pengumpulan data dengan Pengumpulan data dengan kuesioner kuesioner Pengumpulan data Pengolahan data dengan cara coding. 34 3. Sample : Seluruh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dander yang memenuhi kriteria inklusi. tabulating Analisa data dengan cross table Penyajian hasil Kesimpulan Gambar 3. skoring.1 Kerangka kerja hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Tahun 2008. Sampling : Seluruh subyek penelitian Identitas variabel Variabel independent : Variabel dependent : Tingkat pengetahuan tenaga Pelaksanaan program posyandu kesehatan tentang posyandu lansia. 34 .2 Kerangka Kerja Populasi : Seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro Tahun 2008 sebanyak 21 orang.

Tenaga kesehatan yang bersedia menandatangai informed consent.3.2 Sampel Sampel adalah bagian dari populasi (Nursalam. 3.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian atau obyek yang akan diteliti (Nursalam. 35 3.3 Sampling 35 . Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Dander Kabupaten Bojonegoro Tahun 2008. Kriteria inklusi adalah karakteristik smpel yang dapat dimasukkan atau yang layak untuk diteliti adalah : 1. 2. Tenaga kesehatan yang bersedia diteliti dan kooperatif. Menurut Arikunto (2002 : 112) apabila populasi kurang dari 100. maka sampel diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.3. 2003 : 95). Pada penelitian ini sampel adalah jumlah populasi yang memenuhi kriteria inklusi. 2003 : 93). 3. Tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah kerja Puskesmas dander. yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi yaitu karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Dander Kabupaten Bojonegoro Tahun 2008 sebanyak 21 orang.3.3 Populasi. 3. Sampel dan Sampling 3.

2003 : 97). Variabel dependent pada penelitian ini adalah pelaksanaan program posyandu lansia.2 Variabel dependent Variabel dependent adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam. 3. 36 Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili suatu populasi (Nursalam. situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok orang tersebut (Nursalam.4 Identifikasi variabel Variabel adalah suatu ukuran atau ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota atau suatu kelompok (orang. 3. 2001 : 41). 2003 : 102).4. benda.4. 2001 : 66). 3. Variabel independent pada penelitian ini adalah tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia.5 Definisi Operasional 36 . Tehnik pengambilan data atau tehnik sampling dalam penelitian ini menggunakan seluruh subyek penelitian yaitu peneliti mengambil seluruh populasi untuk dijadikan sampel sesuai dengan kriteria inklusi. 3.1 Variabel independent Variabel independent adalah stimulasi aktivitas yang menipulasi oleh peneliti untuk menciptakan suatu dampak pada variabel dependent (Nursalam.

pelaksanaan program posyandu lansia. Definisi Variabel Parameter Alat ukur Skala Skor operasional Independent : Segala sesuatu Pengetahuan tenaga Kuesioner Ordinal Skor : Tingkat yang diketahui kesehatan tentang : Benar : 1 pengetahuan oleh tenaga 1. bila responden 5. Pengetahuan cukup. bila responden benar 8. Dependent : Melaksanakan 1. dengan nilai (56- 7. Dengan kriteria : kesehatan pelayan terpadu 2. posyandu lansia. lansia. dilaksanakan di pelayanan di 15 pertanyaan tingkat desa. 37 Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati (diukur) itulah yang merupakan kunci definisi operasional dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena yang kemudian dapat diulangi lagi leh orang lain (Nursalam. tentang kepada lansia posyandu lansia. Pengetahuan baik.1 Definisi operasional hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Tahun 2008. lansia. Pengetahuan kurang. dalam pembinaan 2. Tabel 3. Sasaran pembinaan. Faktor-faktor yang  7 pertanyaan mempengaruhi dengan nilai (55%). 2003 : 106). Tujuan pembinaan menjawab benar 8- lansia. Jenis kegiatan menjawab benar 11- lansia. kesehatan bagi 3. Mendeteksi secara Kuesioner Ordinal Skor : Pelaksanaan pelayanan dini penurunan Ya : 1 program terpadu kepada kondisi kesehatan Tidak : 0 37 . Pengertian posyandu Salah : 0 tenaga kesehatan tentang lansia. 10 pertanyaan 6. Upaya pemerintah 100%). Tujuan umum 1. Program penyuluhan 75%). bila responden posyandu yang 3. dengan nilai (76- 4.

Pelaksanaan cukup. meliputi aspek dan 1. 3. 3. 3. 6. seimbang.1 Pengumpulan data Pengumpulan data adalah proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam.6 Pengumpulan data dan Tehnik Analisa Data 3.1 Proses pengumpulan data 38 . Pelaksanaan kurang. Melatih kebersihan bila responden perorangan atau menjawab “ya”  4 pribadi bagi lansia. Memberi informasi bila responden dan memotivasi menjawab “ya” 5 lansia untuk pertanyaan dengan melaksanakan diet nilai (56-75%). 8. Melatih lansia untuk mandiri dalam penanggulangan masalah kesehatan. promotif. ditingkat desa. 3. Pelaksanaan baik.6. berkesinambungan. pertanyaan dengan 5. Menganjurkan lansia untuk menyalurkan hobi secara teratur dan bergairah. 4. 7. Menganjurkan pada lansia untuk menghindari kebiasaan hidup yang tidak baik. 2. sosialisasi.1. 2003 : 115). bila responden preventif dan 2. Memberikan latihan menjawab “ya” 6-8 rujukan yang fisik dan mental pertanyaan dengan dilaksanakan secara teratur bagi nilai (76-100%). lansia. 38 Definisi Variabel Parameter Alat ukur Skala Skor operasional posyandu usia lanjut lansia secara teratur Dengan kriteria : lansia.6. Sebagai kelompok nilai ( 55%).

Dinas kesehatan Bojonegoro dan Kepala Puskesmas Dander.6. 3.6. diajukan secara tertulis kepada sejumlah objek untuk mendapatkan tanggapan informasi dan sebaliknya (Notoatmodjo. Penelitian dilakukan di Puskesmas Dander Kecamatan dander Kabupaten Bojonegoro.2 Instrument penelitian Instrumen adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo. Setelah mendapat ijin. 3. Lembar kuesioner disebarkan oleh peneliti dalam bentuk lembar pertanyaan yang mana responden menjawab pertanyaan dengan memberi tanda () pada kolom yang telah disediakan. Cara pengumpulan data dengan memberikan lembar kuisioner. 2002 : 112). 39 Dalam proses pengumpulan data peneliti mendapatkan ijin dari Direktur Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro.1. Instrument yang digunakan variabel independent dan variabel dependent adalah kuesioner.3 Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2008. Kepala Dinas Kesbanglinmas Bojonegoro.2 Tehnik analisa data 39 . 2005 : 48).6. 3. peneliti mengadakan pendekatan kepada perawat untuk mendapatkan persetujuan dari perawat sebagai responden penelitian. Kuesioner yang digunakan bersifat closed ended question (pertanyaan tertutup).1. yaitu suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir.

40 3.2. bila responden menjawab “ya” 6-8 pertanyaan dengan nilai (76-100%). Dan untuk variabel dependent pelaksanaan “baik” diberi kode 3. Dan penelitian tersebut hasilnya akan 40 . 3. Kemudian untuk variabel dependent jika pelaksanaan baik. bila responden menjawab “ya” 5 pertanyaan dengan nilai (56-75%) dan pelaksanaan kurang. jika tingkat pengetahuan responden “kurang” diberi kode 1. 3.6. pengetahuan kurang. Juga memonitor jangan sampai terjadi kekosongan data yang dibutuhkan. jika tingkat pengetahuan responden “cukup” diberi kode 2. 2003 : 124). bila responden bisa menjawab “benar” 11-15 pertanyaan dengan nilai (76-100%).2. bila responden bisa menjawab “benar”  7 pertanyaan dengan nilai ( 55%) (Nursalam.6. pengetahuan cukup. pelaksanaan “cukup” diberi kode 2 dan pelaksanaan “kurang” diberi kode 1. bila responden bisa menjawab “benar” 8-9 pertanyaan dengan nilai (56-75%).6.2 Coding Setiap responden diberi kode sesuai dengan nomor urut.3 Skoring Pada variabel independent jika pengetahuan baik.2. pelaksanaan cukup. bila responden menjawab “ya”  4 pertanyaan dengan nilai ( 55%). Pada variabel independent jika tingkat pengetahuan responden “baik” diberi kode 3.1 Editing Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kesalahan-kesalahan data yang telah dikumpulkan.

Dalam menganalisa data. 2) Cukup : jika menjawab “benar” 8-10 kuesioner (56-75%). Tabel frekuensi terdiri dari kolom-kolom yang memuat frekuensi dan prosentase untuk setiap kategori. Salah satu pengamatan yang dilakukan pada tahap analisis deskriptif adalah pengamatan terhadap tabel frekuensi. peneliti menggunakan statistika diskriptif karena sampel tidak digeneralisasi. Variabel dependent : pelaksanaan program posyandu lansia 1) Baik : jika menjawab “ya” 7-8 kuesioner (76-100%).4 Tabulating 1.2. Untuk mengetahui asosiasi atau hubungan 41 . Setelah data terkumpul pada lembar kuesioner kemudian dilakukan analisis deskriptif yaitu dengan meringkas dan mengorganisasikan data secara ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik. 3) Kurang : jika menjawab “ya”  4 kuesioner ( 55%). 41 dijelaskan dalam bentuk tabel dan diagram setelah dilakukan penilaian Sp dengan menggunakan rumus : N  x100% Sm Keterangan : N : Nilai yang didapat Sp : Skor yang didapat. 2. Variabel independent : tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia 1) Baik : jika menjawab “benar” 11-15 kuesioner (76-100%). 2) Cukup : jika menjawab “ya” 5-6 kuesioner (56-75%). 3. Sm : Skor tertinggi/skor maksimal.6. 3) Kurang : jika menjawab “benar”  7 kuesioner ( 55%).

1 Lembar persetujuan atau Informed Consent Lembar persetujuan akan diberikan sebelum penelitian dilaksanakan kepada perawat yang akan diteliti dengan tujuan agar responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang terjadi selama dalam pengumpulan data. kemudian kuesioner diberikan kepada subyek yang diteliti dengan menekan kepada masalah etika yang meliputi : 3. Bila nilai x berubah (berbeda) “tidak diikuti” dengan perubahan (perbedaan) yang terpola dari nilai y atau sebaliknya. Jika 42 . 42 antara dua variabel dengan menggunakan tabulasi silang (Cross table) antara variabel independent (Variabel x) dan variabel dependent (variabel y). Keputusan analisa : 1. maka tidak ada hubungan antara x dan y. maka ada hubungan antara x dan y. Kemudian dimasukkan ke dalam grafik x dan y (Purnomo W. 2. 3.7. 2007 : 37).7 Masalah Etika Dalam melakukan penelitian. peneliti mendapatkan rekomendasi dari Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro dan mengajukan ijin kepada bagian pendidikan Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro dan lahan yang diteliti untuk mendapatkan persetujuan. Bila nilai x berubah (berbeda) “diikuti” dengan perubahan (perbedaan) yang terpola dari nilai y atau sebaliknya.

3.2 Tanpa nama atau Anonimity Dalam pengisian kuesioner responden tidak perlu mencantumkan nama.7. 3. maka hasilnya kurang mewakili hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia dengan pelaksanaan program posyandu lansia. Keterbatasan yang menyebabkan validitas dan keabsahan dari penelitian kurang represntatif untuk dijadikan bahan rujukan seperti : Instrumen dengan kuesioner memiliki kelemahan untuk tidak diisi secara faktual. peneliti menyadari masih banyak keterbatasan. 43 subyek bersedia diteliti.7. 2001 : 93). 43 . maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan jika subyek menolak diteliti maka peneliti menghargai hak-hak tersebut. disamping itu dengan pengolahan data secara kuantitatif. 3. Dalam penelitian ini. Penyajian atau pelaporan hasil riset hanya terbatas pada kelompok data tertentu yang terkait dengan masalah penelitian.8 Keterbatasan Limitasi adalah keterbatasan dalam suatu penelitian dan mungkin mengurangi kesimpulan secara umum (Nursalam. umur dan jenis kelamin untuk menjaga identitas responden.3 Kerahasiaan atau Confidentiality Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari responden dijaga kerahasiaannya oleh peneliti.

Desa Mojoranu dan Desa Karang Sono dengan batasan wilayah. umur. 4. Desa Kunci.1 Hasil Penelitian 4. 1 dokter gigi dan yang lainnya staf serta perawat. Sedangkan data khusus disajikan berupa distribusi berdasarkan variabel yang diteliti yaitu pengetahuan responden tentang posyandu lansia dan distribusi pelaksanaan program posyandu lansia.1 Gambaran Lokasi Penelitian Puskesmas Dander Kabupaten Bojonegoro terletak di Jalan Kartini No. sebelah utara berbatasan dengan Puskesmas Ngumpak Dalem. Hasil penelitian ini disajikan dalam betuk diagram dan tabel serta keterangan singkat. pendidikan dan responden berdasarkan lamanya tugas (bertugas sejak tahun). Desa Ngraseh.1. yang membawahi 9 desa yaitu Desa Sumber Arum. Data umum berisi distribusi responden berdasarkan status kepegawaian. 44 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan menguraikan hasil dan pembahasan dari penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008 di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Puskesmas Dander Mempunyai 21 tenaga kesehatan yaitu 3 orang dokter yang terdiri dari 2 dokter umum. Penyajian data dimulai dari data umum dan data khusus. Dengan luas kurang lebih 3150 m2. 44 . sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kapas dan sebelah Barat Berbatasan dengan Kecamatan Ngasem. sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bubulan. 08 Dander. Desa Jati Blimbing. jenis kelamin.

5%).2 Data umum 1. Gambar 4. 2. Gambar 4. Status Kepegawaian 9.5% PNS Honorer 90.5% Status Kepegawaian Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008.1 Diagram pie distribusi responden berdasarkan status kepegawaian di Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2008. Dari gambar 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berstatus pegawai negeri sipil yaitu sebanyak 19 orang (90.1. Dari gambar 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 17 orang (81%).2 Diagram pie distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2008. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin 19% Laki-laki Perempuan 81% Jenis kelamin Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. 45 4. 45 .

3%).4 Diagram pie distribusi responden berdasarkan pendidikan di Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2008. Dari gambar 4.3% S1 Kedokteran DIII Kebidanan DIII Keperawatan D1 Kebidanan 33.3 Diagram pie distribusi responden berdasarkan umur di Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2008. 4.9% Umur Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008.8% 4. Gambar 4.8% 20-30 tahun 31-40 tahun > 40 tahun 61. 46 . Distribusi responden berdasarkan umur 33. Dari gambar 4.3% SPK 23. Distribusi responden berdasarkan pendidikan 19% 14.8% 4.3 menunjukkan bahwa lebih dari sebagian responden berusia 31-40 tahun yaitu sebanyak 13 orang (61. 46 3.9%).8% P2B Pendidikan Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008.3% 4. Gambar 4.4 menunjukkan bahwa kurang dari sebagian responden berpendidikan SPK yaitu sebanyak 7 orang (33.

1% 11-20 tahun > 20 tahun Pendidikan Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. 2.1.3 Data khusus 1.5 menunjukkan bahwa kurang dari sebagian responden bertugas selama > 20 tahun yaitu sebanyak 9 orang (42. Pelaksanaan program Posyandu lansia 47 . Distribusi responden berdasarkan lama tugas (bertugas sejak tahun) 42. Tingkat Pengetahuan Tentang Frekuensi Prosentase Posyandu lansia Baik 18 85. 47 5.1 Distribusi tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008.1 menunjukkan bahwa dari 21 responden yang diteliti sebanyak 18 orang (85.7% Cukup 3 14.5 Diagram pie distribusi responden berdasarkan lama tugas (bertugas sejak tahun) di Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2008.9% 19% 1-10 tahun 38. Tingkat pengetahuan tentang Posyansu lansia Tabel 4.9%).7%) memiliki pengetahuan baik tentang Posyandu Lansia. 4. Dari tabel 4. Gambar 4.3% Kurang 0 0 Jumlah 21 100% Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. Dari gambar 4.

9% Cukup 8 38.3 3.7 2.2 diatas menunjukkan bahwa dari 21 responden yang diteliti sebanyak 13 orang (62%) melaksanakan program Posyandu lansia dengan baik. Cukup 0 0 3 14.3 Tabulasi silang tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program Posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. Baik 13 61. Pelaksanaan program Baik Cukup Kurang Total Posyandu lansia No. 48 Tabel 4. Tabel 4. Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 13 61. Pelaksanaan Program Frekuensi Prosentase Posyandu lansia Baik 13 61.9%) yang melaksanakan program Posyandu lansia dengan baik sebanyak 48 .2 Distribusi pelaksanaan program Posyandu lansia di Wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. Hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu lansia dengan pelaksanaan program posyandu lansia. Berdasarkan tabel 4.1% Kurang 0 0 Jumlah 21 100% Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008.9 5 23.3 dari 21 responden dapat dijelaskan bahwa hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu dengan pelaksanaan program Posyandu lansia pada bulan Juli 2008 didapatkan petugas kesehatan dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 18 orang (85. Tingkat pengetahuan  %  %  %  % tentang Posyandu lansia 1.3 0 0 3 14.8 0 0 18 85. Dari tabel 4.1 0 0 21 100 Sumber data primer kuesioner bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. 3.9 8 38.

Baik.6 a a npos y a nd . Dari tabulasi silang dan grafik dapat kita lihat bahwa nilai x berubah (berbeda) diikuti dengan perubahan (perbedaan) yang terpola dari nilai y 49 . 2 .6 2 . Gambar 4. sedangkan petugas kesehatan dengan tingkat pengetahuan kurang dengan pelaksanaan program Posyandu lansia kurang tidak ada (0%). tenaga kesehatan dengan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 3 orang (14. 49 13 orang (61. Keterangan pelaksanaan program Posyandu lansia : 2. Cukup 3.9%).1 Grafik hubungan antara tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu dengan pelaksanaan program Posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008.1.1%).3%) yang melaksanakan program Posyandu lansia dengan cukup sebanyak 8 orang (38.8 u 2 3 Hubungan antara tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu (x) dengan pelaksanaan program Posyandu lansia (y) di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro disajikan dalam bentuk grafik 4. Cukup 3.4 l a t a k s hu a n a n 2 . Keterangan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu : 2. Baik.4 3 2 . 2 . 2 e n P pe ge 2 .8 2 2 .

2 Pembahasan 4. sedangkan hasil terendah pada pertanyaan No.3 menunjukkan bahwa lebih dari sebagian responden berusia 31-40 tahun yaitu sebanyak 13 orang (61. Dari segi kepercayaan masyarakat. Sedangkan dari hasil kuesioner tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia tertinggi pada pertanyaan No. 2 tentang tujuan utama dari Posyandu lansia. 50 begitu juga sebaliknya semakin baik tingkat pengetahuan tentang Posyandu seseorang maka program Posyandu lansia juga semakin baik.1 Tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia Dari hasil penelitian pada tabel 4. seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup dewasa (Hurlock. maka dapat diambil kesimpulan analisa yaitu ada hubungan antara tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu dengan pelaksanaan program Posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. 4.2. 14 tentang pengembangan penyelenggaraan penyuluhan. No. 8 tentang sasaran pembinaan lansia. 3 tentang tujuan khusus Lansia. 1998).9%). 50 .1 menunjukkan bahwa dari 21 responden yang diteliti sebanyak 18 orang (85. 10 tentang penyebar luasan informasi dalam penyuluhan kesehatan bagi lansia. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan sikap seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja sehingga pengetahuanpun akan bertambah. No.7%) memiliki pengetahuan baik tentang Posyandu Lansia dan dari gambar 4. No.

Hal ini disebabkan oleh faktor umur responden karena semakin tua umur seseorang maka pengalaman semakin banyak sehingga pengetahuan yang dimiliki tentang Posyandu Lansia semakin baik. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Hurlock. 2 tentang pemberian latihan fisik dan mental secara teratur bagi Lansia.2 menunjukkan bahwa dari 21 responden yang diteliti sebanyak 13 orang (62%) melaksanakan program Posyandu lansia dengan baik dan dari gambar 4. 4 tentang kebersihan perorangan atau pribadi bagi lansia. No. 5 tentang Posyandu Lansia sebagai kelompok sosialisasi kemudian hasil terendah pada No. 51 Hasil penelitian pada tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa mayoritas pengetahuan responden baik. 1 sampai 8 tentang pelaksanaan program posyandu lansia tertinggi pada pertanyaan No. sebaliknya umur yang lebih muda pengalaman yang dimiliki sedikit. 4. hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang 51 .2. karena semakin tua umur seseorang maka wawasan yang dimiliki lebih banyak sehingga tenaga kesehatan lebih mengerti tentang Posyandu Lansia serta perawatan langsung pada lansia.9%) sedangkan dari hasil kuesioner pelaksanaan program posyandu lansia tertinggi pada pertanyaan No.5 menunjukkan bahwa kurang dari sebagian responden bertugas selama > 20 tahun yaitu sebanyak 9 orang (42.2 Pelaksanaan program posyandu lansia Dari hasil penelitian pada tabel 4. oleh sebab itu pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan.

9%). Sedangkan dari tabulasi silang dan grafik dapat kita lihat bahwa nilai x berubah (berbeda) diikuti dengan perubahan (perbedaan) yang terpola dari nilai y begitu juga sebaliknya semakin baik tingkat pengetahuan tentang Posyandu seseorang maka program Posyandu lansia juga semakin baik.9%) yang melaksanakan program Posyandu lansia dengan baik sebanyak 13 orang (61. 52 . 2005 : 13).3 Hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia dengan pelaksanaan program posyandu lansia. maka dapat diambil kesimpulan analisa yaitu ada hubungan antara tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu dengan pelaksanaan program Posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2008. semakin sering seseorang melaksanakan maka semakin banyak orang tersebut mendapatkan pengalaman dalam melaksanakan program posyandu lansia. Dari hasil penelitian pada tabel 4.2. 4.3 dari 21 responden dapat dijelaskan bahwa hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Posyandu dengan pelaksanaan program Posyandu lansia pada bulan Juli 2008 didapatkan petugas kesehatan dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 18 orang (85. Hasil penelitian pada tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa pelaksanaan posyandu lansia dilaksanakan dengan baik. 52 diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lampau (Notoatmodjo S. Hal ini disebabkan karena faktor pengalaman tenaga kesehatan.

Hasil peneilitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan responden tentang posyandu lansia dengan pelaksanaan program posyandu lansia dimana hal ini disebabkan karena faktor umur dan pengalaman. begitu pula sebaliknya seseorang dapat melaksanakan suatu tugas atau melaksanakan tindakan dengan baik apabila seseorang tersebut memiliki pengetahuan yang baik pula. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup dewasa (Hurlock.9%) bertugas selama > 20 tahun. hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lampau (Notoatmodjo S.9%) dan sebanyak 9 orang (42. Sehingga dapat disimpulkan bahwa umur dan pengalaman dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dari segi kepercayaan masyarakat. Dengan adanya pengetahuan yang cukup tentang Posyandu lansia oleh tenaga kesehatan program Posyandu lansia dapat berjalan secara maksimal dan angka kesakitan pada lansia berkurang. 1998). 2005 : 13). Dari data umum didapatkan lebih dari sebagian responden berusia 31-40 tahun yaitu sebanyak 13 orang (61. oleh sebab itu pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. 53 . 53 Semakin cukup umur tingkat kematangan dan sikap seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja sehingga pengetahuanpun akan bertambah.

1. Lebih dari sebagian tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro adalah baik. 5. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan responden tentang posyandu lansia dengan pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.1 Simpulan 1. 2. 3.2 Bagi Peneliti 54 .2 Saran Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka saran yang perlu disampaikan adalah : 5. 5. Lebih dari sebagian pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro adalah baik.1.1 Bagi Responden (Tenaga kesehatan) Diharapkan responden selalu melaksanakan program pelaksanaan posyndu lansia. 5. 54 BAB V SIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan dibahas tentang simpulan dan saran peneilitian hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dander Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2008.

55 Diharapkanu peneliti selanjutnya agar dapat menyempurnakan penelitian ini. 55 . yang berjudul “ Hubungan Tingkat Pegetahuan Tenaga Kesehatan tentang posyandu lansia dengan gambaran pelaksanaan program posyandu Lansia” 5.1.3 Bagi instansi kesehatan Diharapkan bagi instansi kesehatan untuk meningkatkan pelaksanaan program posyandu lansia untuk meningkatkan derajat kesehatan lansia.