Gangguan Tidur Pada Lansia

Wahyu Hidayat
102015126
Kelompok F4
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi : Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Email : wahyu.2015fk126@civitas.ukrida
Abstrak

Hampir sepertiga umur kita dihabiskan untuk tidur. Tidur yang lelap dan nyenyak tanpa
gangguan menjadi kebutuhan manusia yang penting, sama pentingnya dengan kebutuhan
makan, minum, tempat tinggal, dan lain-lain. Gangguan terhadap tidur pada malam hari atau
yang bisa disebut dengan insomnia akan mengakibatkan kita merasa mengantuk sepanjang
hari serta berkurangnya produktivitas. Pada orang lanjut usia, insomnia sendiri bisa diakibat
dari berbagai macam faktor. Depresi, kecemasan, dan demensia merupakan beberapa contoh
faktor yang sering mengakibatkan terjadinya gangguan tidur pada lansia. Untuk mengatasi
gangguan tidur pada lansia, biasanya dokter akan memberikan edukasi kepada pasien,
menyarankan terapi non farmakologi serta bila sangat diperlukan dokter akan menyarankan
untuk melakukan terapi dengan obat-obatan.

Kata kunci: insomnia, depresi, kecemasan, demensia

Abstract

Nearly a third of our lifespan is spent sleeping. A deep and restful night's sleep without
interruption become important human needs, as important as the need to eat, drink, shelter,
and others. Disruption to sleep at night or who can be called with insomnia will cause us to
feel sleepy during the day and reduced productivity. In the elderly, insomnia itself could
diakibat of various factors. Depression, anxiety, and dementia are some examples of factors
that often result in sleep disorders in the elderly. To overcome sleep disorders in the elderly,
the doctor will usually provide education to patients, suggesting non-pharmacological
therapy and if need doctor may recommend treatment with medication.

Keywords: insomnias, deppresion. Anxiety, dementia

1

terutama terhadap keluarganya. DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) IV dan ICSD (International Classification of Sleep disorders). Insomnia disini adalah 2 . dan yang terpenting mengakibatkan penyakit-penyakit degeneratif yang sudah diderita mengalami eksaserbasi akut. dan bangun terlalu pagi (early morning awakening/EMA). Bila kejadian ini berlangsung secara terus-menerus.2 Gejala dan tanda yang muncul sering kombinasi dari ketiga gangguan tersebut dan dapat muncul sementara atau kronik. Tidur yang lelap dan nyenyak tanpa gangguan menjadi kebutuhan manusia yang penting. Mengantuk merupakan faktor resiko untuk terjadinya kecelakan. Dapat terjadi akibat seorang kakek atau nenek tidak dapat tidur. atau memilih tidak tinggal disana lagi (terutama terjadi pada cucu remaja). Secara international klasifikasi diagnostik gangguan tidur mengacu pada 3 sistem diagnostik yaitu: ICD (International Code of Diagnostic) 10. Dalam ICD 10 tidak dibedakan antara insomnia primer maupun sekunder akibat penyakit atau kondisi abnormal lain. sama pentingnya dengan kebutuhan makan. berjalan sambil tidur dll).2. dicekam kesepian. mereka akan tetap menerima beliau tinggal bersama. kesulitan mempertahankan tidur nyenyak (deep maintenance problem). pemburukan dan menjadi tidak terkontrol lagi. minum. dan lain-lain. kualitas dan waktu tidur) dan parasominas (ada episode abnormal yang muncul selama tidur seperti mimpi buruk. 1 Hal lain yang dapat terjadi adalah ketidak bahagiaan. setiap anggota keluarga dapat kehilangan produktivitasnya karena mengantuk.3 selain itu akan menimbulkan masalah sosial terhadap lingkungannya.2 Dalam ICD 10 insomnia dibagi menjadi 2 yaitu organik dan non organik. Jika dikarenakan rasa hormat atau budaya timur yang harus menghargai dan membalas jasa kakek atau nenek. dan ini menimbulkan masalah sosial baru bagi keluarga. terjatuh. Gangguan terhadap tidur pada malam hari atau yang bisa disebut dengan insomnia akan mengakibatkan kita merasa mengantuk sepanjang hari. tempat tinggal.Pendahuluan Hampir sepertiga umur kita dihabiskan untuk tidur. tetapi sikap mereka menjadi membenci atau marah. karena ulah atau prilaku sang kakek atau nenek membangunkan seluruh anggota keluarga. penurunan stamina dan secara ekonomi mengurangi produktivitas seseorang. Untuk non organik dibagi lagi menjadi 2 kategori yaitu dyssomnias (gangguan pada lama. seluruh keluarga pun tidak dapat tidur. hal lain dapat pula terjadi dimana setiap anggota keluarga menganggap sang kakek atau nenek sebagai pengganggu yang harus segera disingkirkan. Secara luas gangguan tidur pada lansia dapat dibagi menjadi kesulitan masuk tidur (sleep onset problems).

5 Kategori yang digunakan dalam ICSD 2 meliputi insomnia (Insomnias). mengembangkan rencana asuhan secara terkoordinir yang semua itu berorientasi kepada kepentingan pasien (dilihat tidak semata-mata dari sudut medik). klinik dan radiologi seperti CT scan. gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum. pengkajian status fungsional. isu yang tak terselesaikan (Isolated Symptoms. PET serta EEG. Apparently Normal Variants.4 CGA (Comperhensive Geriatric Assesment) Merupakan prosedur evaluasi multidimensi yang mengungkapkan dan menguraikan berbagai masalah pada pasien geriatri. dan pengkajian kondisi sosial.insomnia kronik yang sudah diderita paling sedikit 1 bulan dan sudah menyebabkan gangguan fungsi dan sosial. parasomnia (Parasomnias). gangguan tidur yang berkaitan dengan napas (Sleep-Related Breathing Disorders). ataupun obat-obatan). Dalam ICSD klasifikasi gangguan tidur lebih lengkap dan rinci. gangguan tidur (insomnia) dibagi menjadi 4 tipe yaitu gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain. gejala-gejala terisolasi. fisik atau penyakit. pengkajian status emosi. mengidentifikasi jenis pelayanan yang dibutuhkan.2 Pada tahun 2005 American Academy of Sleep mengenalkan klasifikasi ICSD versi 2 yang merupakan manual diagnostik dan koding. 3 . dan gangguan tidur primer (disini gangguan tidur tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi mental. Komponen CGA sendiri diantara meliputi pengkajian masalah medik. gangguan tidur berkaitan dengan gerak (Sleep-Related Movement Disorders). gangguan irama sirkadian tidur (Circadian Rhythm Sleep Disorders). tampak sebagai variasi normal. pengkajian status kognitif. hipersomnia bukan karena gangguan tidur berkaitan dengan napas (Hypersomnias Not Due to a Sleep-Related Breathing Disorders). gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu. dibagi dalam 12 sub tipe dan lebih dari 50 tipe sindrom insomnia dan untuk diagnosisnya sering memerlukan berbagai pemeriksaan penunjang laboratorium tidur. menemukenali semua aset pasien (berbagai sumber dan kekuatan yang dimiliki pasien).4 Gangguan tidur primer disini pengertiannya mirip dengan insomnia non organik pada ICD 10 yaitu gangguan tidur sudah menetap dan di derita minimal 1 bulan.4 Dalam DSM IV. dan gangguan tidur lainnya (Other Sleep Disorders). and Unresolved Issues).

seperti perubahan detak jantung. cortisol. Pada tidur yang normal mempunyai kecenderungan perpindahan stadium dari tidur yang dalam menuju yang ringan.6 Siklus tidur dan bangun (irama sirkadian). dibedakan dengan stadium satu dengan adanya gelombang high voltage yang disebut “sleep spindles” dan K complexes. Stimulasi cahaya terang akan masuk melalui mata dan mempengaruhi suatu bagian di hipotalamus yang disebut nukleus supra-chiasmatic (NSC). Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh glandula pineal (suatu bagian kecil otak tengah). sedangkan 4 jam kedua lebih banyak terjadi pengulangan pada stadium 1 dan 2 dan status REM. Jika pagi hari cahaya terang masuk. polanya adalah bangun sepanjang hari saat cahaya terang dan tidur sepanjang malam saat gelap.Siklus Tidur Normal Siklus tidur normal manusia (tabel 1) terdiri dari 2 status primer siklus tidur yaitu REM (rapid eye movement) dan non REM.2. laju pernapasan dan berkeringat. ditandai gelombang otak low-voltage pada EEG. Saat hari mulai gelap. Kadar melatonin dalam 4 . Jika malam tiba NSC merangsang pengeluaran hormon melatonin sehingga orang mengantuk dan tidur. NSC bekerja seperti jam. Status non REM (sekitar 75-80% dari waktu tidur) dibagi menjadi 4 stadium. dan GH sehingga orang terbangun.4 Pada orang muda yang sehat waktu yang dibutuhkan dari stadium 1 sampai dengan 3 hanya 45 menit.7 Stadium 1. Jadi faktor kunci adalah adanya perubahan gelap dan terang. sering disebut tidur yang dalam atau “delta sleep”. meregulasi segala kegiatan bangun dan tidur. Pada stadium inilah mimpi saat tidur terjadi. NSC segera mengeluarkan hormon yang menstimulasi peningkatan temperatur badan. Status tidur REM (20-25% dari waktu tidur) dibagi menjadi phasic dan tonic. cortisol. merupakan saat transisi antara bangun penuh dan tidur. NSC akan mengeluarkan neurotransimter yang mempengaruhi pengeluaran berbagai hormon pengatur temperatur badan. Pengulangan status tidur non REM terjadi pada 4 jam pertama tidur dan kebanyakan berada pada stadium 3 dan 4. tekanan darah. Stadium 4 membutuhkan waktu sekitar 70-120 menit dan berulang sampai 6 kali sebelum terbangun. melatonin dikeluarkan dalam darah dan akan mempengaruhi terjadinya relaksasi dan penurunan temperatur badan serta cortisol. Stadium 2. ditandai dengan periode otonom yang bervariasi.6. EEG menunjukkan gelombang yang lambat dengan amplitudo yang tinggi. sekitar 30 detik sampai 7 menit dan karakteristik ditandai oleh gelombang otak yang low-voltage pada pemeriksaan electro encephalografi (EEG). Stadium 3 dan 4. GH (growth hormone) dan lain-lain yang memegang peran untuk bangun dan tidur.

selain faktor biologik seperti nyeri kronis. seperti perlakuan yang tidak sama lagi seperti dulu (waktu bekerja atau punya jabatan) dan perbedaan keadaan di keluarga hal tersebut dapat menyebabkan gangguan psikis pada lansia. kejang mioklonus. Ada juga faktor gangguan kesehatan mental pada lansia didominasi yang dapat menyebabkan insomnisa seperti demensia. sesak nafas pada penyakit paru obstruktif kronis. kortikosteroid dan diuretik). gangguan psikiatri (gangguan cemas dan depresi).darah mulai meningkat pada jam 9 malam. Insomnia pada usia lanjut bersifat multifaktorial. Karakteristik fisiologi tidur manusia dewasa7  Siklus non REM – REM (lama 90 menit)  Tidur non REM Stadium 1 : berkurangnya gelombang alfa oleh gelombang teta. aktivitas saraf otonum.8 Tabel 1. dan obat-obatan (beta-bloker. gerakan berputar bola mata Stadium 2 : spindles. suhu tubuh. atonia otot. penyakit neurologi (Parkinson’s disease. K-complexes Stadium 3 / 4 : gelombang delta  Tidur REM Tonic : desinkronisasi EEG (pola cepat voltase rendah bercampur dengan sejumlah irama teta dan sering dengan gelombang gergaji). 5 . depresi reflek monosynaptic dan polysinaptic Phasic : gerakan cepat mata hilang. delirium dan depresi. terus meningkat sepanjang malam dan menghilang pada jam 9 pagi. detak jantung dan respirasi ireguler (dengan tekanan darah bervariasi). aktifitas spontan dari otot telinga tengah  Berasal dari endogen  Diatur oleh homeostatik dan faktor sirkadian  Dipengaruhi faktor lingkungan  Tidur berulang diikuti hilang tidur  Gangguan fungsi karena hilang tidur Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gangguan Tidur Ritme sirkadian fungsi dari sistem organ makhluk hidup diatur oleh ritme sirkadian selama 24 jam. Alzheimer disease). bronkodilator. Lalu yang terakhir ada faktor sosial yang dapat mempengaruhi pikiran pada lansia. aktivitas kardiovaskuler dan sekresi hormon. Ritme sirkadian mengatur siklus tidur.

Di Indonesia sering menganggap bahwa demensia ini merupakan gejala yang normal pada setiap orang tua.hal yang baru dikenal. Tahapan-tahapan yang dialami pada penderita demensia adalah sebagai berikut. berlangsung 2-4 tahun dan di sebut stadium amnestik dengangejala gangguan memori. Namun kenyataan bahwa suatu anggapan atau persepsi yang salah bahwa setiap orang tua mengalami gangguan atau penurunan daya ingat adalah suatu proses yang normal saja. Stadium II/Pertengahan berlangsung 2-10 tahun dan di sebut pase demensia. Afasia atau mengalami gangguan fungsi berbicara sehingga penderita terkesan berbicara samar – samar ataupun dalam tahap yang lebih lanjut bisa menjadi bisu. gangguan ini mempunyai kaitan dengan gangguan di lobus frontalis atau jaras-jaras subkortikal yang menghubungkan dengan lobus frontalis. Biasanya ini sering terjadi pada orang yang berusia > 65 tahun.10 Demensia mempunyai gambaran klinis seperti Gangguan memori sehingga Ketidakmampuan untuk belajar hal – hal yang baru atau lupa dengan hal . Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang di alami dan tidak menggangu aktivitas rutin dalam keluarga. Anggapan ini harus dihilangkan dari pandangan masyarakat kita yang salah. yang merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada penderita demensia. selanjutnya Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengenali ataupun mengidentifikasi benda meskipun fungsi sensorik utuh. Penderita mudah bingung. Serta suatu gangguan intelektual ataudaya ingat yang umumnya progresif dan ireversibel. Lalu.9.Demensia Demensia adalah gangguan fungsi kognisi secara multidimensional dan terus menerus. Terakhir Gangguan fungsi eksekutif. hal ini sulit dilakukan oleh penderita karena penderita harus memiliki ide baru. disorientasi. Gangguan kemampuan merawat diri yang sangat besar. Stadium I/Awal. contohnya mengambil inisiatif. berhitung dan aktifitas spontan menurun. Gejalanya antara lain. Ia akan merasa sulit untuk menggunakannya. Gangguan siklus 6 . fungsi ini melibatkan kemampuan berpikir abstrak dan merencanakan. penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai. gangguan bahasa (afasia). disebabkan oleh kerusakan organik sistem saraf pusat tetapi tidak disertai penurunan kesadaran seperti yang terjadi pada delirium. lalu Apraksia yaitu ketidakmampuan untuk melakukan gerakan meskipun fungsi motorik dan sensoriknya masih sangat baik contohnya ketika penderita ingin menggunakan sebuah alat tertentu. membuat urutan dan menghentikan kegiatan kompleks.

kaku otot. kekurangan energi. bukan berarti demensia tidak bisa dicegah. menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungan. 10 Gangguan depresi terdiri dari berbagai jenis. tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi. dengan peningkatan waktu tidur. Gejala. Mulai terjadi inkontensia. tidak bisa mengendalikan buang air besar/kecil. tetapi individu dengan gangguan ini masi dapat berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya Gangguan depresi minor 7 . dan pikiran untuk bunuh diri yang berlangsung setidaknya ± 2 minggu Gangguan dysthmic Dysthmia bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama). Stadium III/Akhir berlangsung 6-12 tahun. Dan ada gangguan visuospasial. tidak bergerak dan gangguan komunikasi yang parah (membisu). yaitu: Gangguan depresi mayor Gejala-gejala dari gangguan depresi mayor berupa perubahan dari nafsu makan dan berat badan. gangguan mobilisasi dengan hilangnya kemampuan untuk berjalan. Gejala depresi pada lansia dengan orang dewasa muda berbeda dimana pada lansia terdapat keluhan somatik.Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. ketidakmampuan untuk mengenali keluarga dan teman- teman. gangguan siklus tidur-bangun. Dysthmia bersifat lebih berat dibandingkan dengan gangguan depresi mayor. perasaan bersalah. Depresi Gangguan depresi merupakan hal yang terpenting dalam problem lansia.tidur. Terakhir. Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi tetapi suatu keadaan penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang dihadapi lansia yang membuat mereka depresi. Walaupun demensia merupakan hal yang sering terjadi. membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari dan melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif. tidak mengenal anggota keluarganya. yaitu penderita menjadi vegetatif. perubahan pola tidur dan aktivitas.gejala dysthmia berlangsung lama dari gangguan depresi mayor yaitu selama 2 tahun atau lebih. Demensia dapat dicegah dengan cara mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.

Menurut para ahli psikofarmaka Gangguan Kecemasan Menyeluruh bersumber pada neurosis.Gejala-gejala dari depresi minor mirip dengan gangguan depresi mayor dan dysthmia. gangguan pendengaran / penglihatan. gaul. kesedihan. Biologik : sel saraf yang rusak. faktor genetik. gangguan kecemasan umum. tetapi efeknya sama. konflik yang tidak terselesai. Onset awal gangguan panik pada lansia adalah jarang. akrab. DM.11 Hal yang terjadi pada hal ini dapat berupa gangguan panik. kesepian. stroke. tetapi gangguan ini bersifat lebih ringan dan atau berlangsung lebih singkat. kemiskinan. gangguan obsesif konfulsif. isolasi sosial. keterbatasan gerak. Berikut ini adalah tabel penggolongan depresi Tabel 1. penyakit kronis seperti hipertensi. bukan dipengaruhi oleh ancaman eksternal tetapi lebih dipengaruhi oleh keadaan internal individu. gangguan stres akut. jika tidak lebih. menimbulkan debilitasi pada pasien lanjut usia. gangguan stres pasca traumatik. Psikologis : kurang percaya diri. Sosial : kurang interaksi sosial. Tanda dan gejala fobia pada lansia kurang serius dibandingkan dewasa muda. Penggolongan Depresi9 Gangguan Kecemasan Gangguan kecemasan adalah Merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang tidak rasional bahkan terkadang tidak realistis terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. sosial dan biologik. tetapi dapat terjadi. Teori eksistensial menjelaskan kecemasan 8 . seperti: halusinasi dan delusi Gangguan depresi musiman Gangguan depresi yang muncul pada saat musim dingin dan menghilang pada musi semi dan musim panas. fobia. Gangguan depresi psikotik Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala-gejala. Penyebab terjadinya depresi merupakan gabungan antara faktor-faktor psikologik. adanya hormon serotonin dan norephineprin yang menurun.

11 Gangguan stres lebih sering pada lansia terutama jenis stres pasca traumatik karena pada lansia akan mudah terbentuk suatu cacat fisik. kurangi tidur siang. lakukan olahraga ringan setiap pagi setelah bangun tidur. psikoterapi dan medikamentosa. bangun tidur pagi hari pada jam yang sama. hindarkan minum kopi atau merokok. Terapi dapat disesuaikan secara individu tergantung beratnya dan dapat diberikan obat anti anxietas seperti : hydroxyzine. merubah gaya hidup. Edukasi yang dapat diberikan meliputi: tunggu sampai terasa sangat mengantuk sebelum naik ke tempat tidur. Gejala – gejala Gangguan Cemas Menyeluruh 10 Tata Laksana Karena banyaknya penyebab gangguan tidur pada usia lanjut. tidak perduli sudah berapa lama ia tidur. kurangi jumlah 9 . membaca atau menonton televisi. Diantaranya adalah edukasi tidur.tidak terdapat stimulus yang dapat diidentifikasi secara spesifik bagi perasaan yang cemas secara kronis. Buspirone. lakukan kegiatan atau hobi yang menyenangkan. Tabel 2. maka penatalaksanaan gangguan tidur pada usia lanjut harus dilakukan secara individual. Tetapi beberapa hal dapat diterapkan secara umum pada semua jenis gangguan tidur pada usia lanjut. dengan meneliti dan mengamati gejala dan tanda yang ada pada tiap penderita.12 Edukasi tidur diberikan baik kepada penderita maupun keluarga atau care giver. hidari penggunaan kamar tidur untuk bekerja.

hindari minum alkohol. Metode ini juga harus didukung oleh suasana kamar yang tenang sehingga mempercepat pasien untuk tertidur. jika memungkinkan buatlah suasana lingkungan rumah bersih dan menyenangkan. diperlukan untuk memperbaiki faktor fisik dan psikis yang mendasari terjadinya gangguan tidur pada usia lanjut.pecah.12 Psikoterapi perlu diberikan pada penderita gangguan tidur yang disebabkan oleh ansietas dan depresi. perbaiki hubungan antara anggota keluarga. dan lakukan aktivitas fisik.20 menit berada disana pasien tidak bisa tidur maka pasien harus bangun dan melakukan aktivitas lain sampai merasa mengantuk baru kembali ke tempat tidur. Pada usia lanjut yang sudah tidak beraktivitas lebih senang menghabiskan waktunya di tempat 10 . jangan duduk diam sepanjang hari. pasien mengalami peningkatan durasi tidur sekitar 30-40 menit.12 Merubah gaya hidup (life style). tumbuhkan suasana aman dan penuh kasih antara sesama penghuni rumah.12 Sleep Restriction Tujuan dari terapi ini adalah mengurangi frekuensi tidur dan meningkatkan sleep efficiency. Perubahan tersebut meliputi: usaha menurunkan berat badan dengan memperbaiki pola makan pada penderita GTGP. Dengan metode terapi ini.12 Terapi Non farmakologi Stimulus Control Melalui metode ini pasien diedukasi untuk mengunakan tempat tidur hanya untuk tidur dan menghindari aktivitas lain seperti membaca dan menonton tv di tempat tidur. Terlalu lama di tempat tidur akan menyebabkan pola tidur jadi terpecah. Disamping psikoterapi dari seorang psikolog. Terapi ini tidak hanya bermanfaat untuk insomnia primer tapi juga untuk insomnia sekunder jika dikombinasi dengan sleep hygiene dan terapi relaksasi. hindari gerakan berlebihan saat ditempat tidur. dan lakukan doa sebelum tidur. akan tetapi jika selama 15.tidur setelah makan malam. pelajari teknik relaksasi atau lakukan meditasi. psikoterapi yang berupa dorongan dan penghiburan sebaiknya dilakukan oleh anak atau cucu penderita. Pasien diedukasi agar tidak tidur terlalu lama dengan mengurangi frekuensi berada di tempat tidur. hindari membaca atau menonton atau mendengarkan cerita-cerita yang menakutkan atau sangat menyedihkan. Ketika mengantuk pasien datang ke tempat tidur. menghindari perjalanan jauh atau bekerja sampai malam hari (sift malam). agar tidak terjadi jet lag.

antidepresan. bahkan menjadi kekhawatiran terjadinya resiko yang lebih tinggi dibanding manfaat terkait penggunaan obat-obat tersebut. mengatur waktu bangun pagi. Evaluasi keluhan tidur lansia hendaklah selalu dilakukan.tidur namun. menghindari merokok dan minum alkohol 2 jam sebelum tidur dan tidak makan daging terlalu banyak sekitar 2 jam sebelum tidur. tidur secara teratur. Keluhan tidur hendaknya jangan diabaikan meskipun mereka sudah tua. Biofeedback yaitu memberikan umpan-balik perubahan fisiologik yang terjadi setelah relaksasi.12 Pengobatan Medikamentosa Selama bertahun-tahun berbagai obat telah digunakan dalam pengobatan insomnia pada populasi lanjut usia termasuk antihistamin. berdampak buruk karena pola tidur menjadi tidak teratur. Umpan balik ini dapat meningkatkan kesadaran diri pasien tentang perbaikan yang didapat. antikonvulsan dan antipsikotik. Melalui Sleep Restriction ini diharapkan dapat menentukan waktu dan lamanya tidur yang disesuaikan dengan kebutuhan. relaksasi progresif. Teknik ini dapat dikombinasi dengan hygene tidur dan terapi pengontrolan diri. Hal-hal yang dapat dilakukan pasien untuk meningkatkan Sleep Higiene yaitu: olahraga secara teratur pada pagi hari. Akibatnya. mengurangi konsumsi kafein. melakukan aktivitas yang merupakan hobi dari usia lanjut. lansia sering menghabiskan waktunya di tempat tidur atau sebentar-sebantar tertidur disiang hari.12 Sleep Higiene Sleep Higiene bertujuan untuk mengubah pola hidup pasien dan lingkungannya sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur. dan latihan napas dalam sehingga terjadi keadaan relaks cukup efektif untuk memperbaiki tidur. Menghipnosis diri sendiri.4 11 . tetapi tidak ada bukti sistematis untuk efektivitas obat-obat ini dalam pengobatan insomnia.12 Gangguan tidur dapat berbentuk buruknya higiene tidur dan gangguan tidur spesifik.12 Terapi Relaksasi dan Biofeedback Terapi ini harus dilakukan dan dipelajari dengan baik. Buruknya higiene tidur dapat disebabkan oleh harapan yang berlebihan terhadap tidur atau jadwal tidur. Pasien membutuhkan latihan yang cukup dan serius.

8 insomnia 6.25 Zaleplon Pengobatan jangka pendek pada onset 5. Terapi terhadap penyakit ko-morbid yang diderita usia lanjut harus dilakukan dengan menghindarkan sebisa mungkin obat-obat yang menyebabkan gangguan tidur. 3 Ramelteon Pengobatan jangka panjang atau 1-2.4 Tabel 2. 10.5 0.5-18. 15. diberikan dosis kecil dan dalam waktu yang tidak lama. 10 2.5. 3. Eszopiclone Pengobatan jangka panjang atau 12. 2 10-24 Temazepam Pengobatan jangka pendek 7. 1.4 Pengobatan yang dianjurkan terhadap gangguan tidur adalah dengan menggabungkan terapi farmakologis dan prilaku.5 Zolpidem MR Pengobatan jangka pendek pada onset 5.56:181-9 Terapi medikamentosa diberikan sesuai dengan penyebab yang mendasari terjadinya gangguan tidur dan jenis gangguan tidur yang terjadi.5-5. Sepuluh obat-obatan yang disetujui FDA untuk insomnia 4 Nama obat Indikasi Dosis Waktu (mg) Paruh (jam) Flurazepam HCL Pengobatan jangka pendek 15. 15 39-73 Estazolam Pengobatan jangka pendek 0. Gerontology. (Tabel 2) Meskipun begitu obat-obatan tersebut tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang.5. Pasien insomnia dapat memperoleh bantuan jangka pendek dari obat-obatan saat masih belajar teknik CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang lebih memberikan solusi jangka panjang untuk insomnia.6 pemeliharaan pada insomnia 8 Pengobatan jangka pendek pada onset insomnia Ancoli-Israel ABNS. Sleep Disorder in the Older Adult – A Mini-Review.5. Obat-obatan golongan benzodisepin dapat diberikan pada penderita insomnia akut. 1 Zolpidem insomnia 20 2. 2010.25. 1.5 6 pemeliharaan pada insomnia 1. 12 . 2. 30 47-100 Quazepam Pengobatan jangka pendek 7.Saat ini FDA (Food Drug Administration) telah menyetujui 10 obat baru untuk pengobatan insomnia yang lebih aman dan lebih efektif daripada obat-obatan sebelumnya.125.4 30 Triazolam Pengobatan jangka pendek 0.

Common problems in geriatrics. sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan dalam mengatasi gangguan tidur pada usia lanjut. Weiss BD.4 Kesimpulan Gangguan tidur dapat disebabkan berbagai faktor.187-203.Melatonin yang sedang marak digunakan untuk obat tidur. 20 Ed. In: Adelman AM. Coll P. Insomnia yang sering dialami oleh kelompok usia lanjut dapat ditangani dengan memberikan edukasi serta menyarankan mereka untuk melakukan terapi nonfarmakologi dan farmakologi. Boston: Me Graw-Hill Companies. pertambahan usia. 13 . penggunaan obat dan zat lainnya.p. Daftar Pustaka 1. 2001. Inc. Sleep disorders. Daly MP. depresi. serta ritme sirkadian.

Redayani P. Feldman S. Melatonin the basic facts. Principles of geriatric medicine and gerontology. 2006. In: Lee-Chiong T. National Sleep Fondation.15(supplement 2):1-13. Pikun (demensia).p.h. Inc. 14 . 3.p. 7.157:196- 206. New Jersey: Jhon Wiley & Sons. Cohen-Zion M.1531-41. 2015. 2010. The American Society of Consultant Pharmacists. 8. Darmojo RB. New York: Me Graw- Hill Companies.3-9. Andrew L CJ. Sleep: a comprehensive handbook. 12.p. 2014. Jakarta: buku obor. In: Lee-Chiong T. Halter JB. Inc. Cho SC. buku ajar keperawatan gerontik. Yatim F. A comprehensive handbook. Gangguan tidur pada lanjut usia. Normal sleep. Ancoli-Israel S. 2006. 2007. Inc. 11. 5 Ed. Juni 2004. editor. In: Lee-Chiong T. 2003. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.p. bagaimana cara menghindarinya. 2000. Sleep disorders. New Jersey: Jhon Wiley & Sons. In: Hazzard WR. penyakit alzhaimer. editor. Sleep: a comprehensive handbook. Martono HH.319-37. Inc. Buku ajar boedhi-darmojo: geriatri. Edisi ke-5. 6. Jakarta: FKUI. 4. et al. Amir N. 5. Dewi SR. Rama An. Kushida SC.83-9. Classification of sleep disorders. 9. 10. Gangguan cemas menyeluruh. Rosental L. Washington DC. Management of sleep disorders in the ederly. Cermin Dunia Kedokteran. Dalam: Buku ajar psikiatri. Yogyakarta: deepublish. Abemity J. dan sejenisnya. New Jersey: Jhon Wiley & Sons. 2006. Physiologic processes during sleep.2. 2006. editor.19-23. Blass JP.