SYARH DAN KRITIK DENGAN METODE TAKHRÎJ

HADIS TIGA HAL YANG DENGAN SERIUS MAUPUN BERCANDA
TETAP MEMILIKI IMPLIKASI HUKUM

A. Pendahuluan
Perbuatan umumnya baru menimbulkan implikasi hukum jika perbuatan
tersebut dilakukan dengan disengaja. Dalam jenis-jenis jinayah, perbuatan yang
dapat dikenai sanksi hanyalah jinayah `amd (disengaja)1 dan syibh al-`amd (mirip
disengaja)2, sedangkan perbuatan yang terkategori khatha’ (kesalahan/tidak
disengaja) akan terlepas dari jerat sanksi.3 Demikian pula yang dikenal dalam
hukum pidana nasional, kesalahan yang dapat dikenai sanksi adalah kesalahan
(schuldvormen) yang telah memenuhi unsur kesengajaan (dolus) dan
4
kealpaan/kelalaian (culpa).
Ketentuan syariat pun secara umum demikian. Hadis innamâ al-a`mâl bi
al-niyât,5 mewakili hal tersebut, yang mana muatan maknanya menunjukkan
bahwasanya eksistensi perbuatan itu tergantung niat. Alhasil perbuatan tanpa niat
jelas tidak akan menimbulkan implikasi hukum apa pun.
Berbeda dalam perihal hukum perkawinan dan perceraian Islam, atau
familier dikenal dengan istilah fikih munakahat, di dalamnya terdapat ketentuan
yang berbeda dari keumuman. Jika umumnya perbuatan baru dapat menimbulkan
implikasi hukum jika dilakukan dengan disengaja, lain tidak, namun ternyata ada
perbuatan yang meski dilakukan dengan jauh dari keseriusan tetap dapat
menimbulkan implikasi hukum. Perbuatan tersebut dinas dalam sebuah hadis yang
redaksi matannya sebagai berikut:

1 Wizârah al`Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyah, Al-Mawsû`ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaytiyah,
(Kuwait: Dâr al-Salâsil, 1404), j. 16, h. 60.
2 Ibid, j. 16, h. 61.
3 Hanafiyah menambah kategori ke tiga, yaitu al-tasabbub, maksudnya perbuatan yang darinya
timbul sebuah kerugian bagi pihak lain tanpa dimaksudkan sebelumnya. Sebagai contoh, ketika
seseorang membuat galian di tanah bukan miliknya, kemudian ada orang yang menjadi korban
akibat galian tersebut, maka si pelaku penggalian akan dikenai sanksi, walau tidak seberat sanksi
pelaku jinayah `amd dan syibh `amd. Wizârah al`Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyah, Loc., Cit.
4 Moeljatno, Asas-asa Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), h. 54.
5 Hadis tersebut oleh Al-Nawawi (w. 676 H.) dimasukkan ke dalam kategori hadis syadz shahîh,
lihat: Abû Zakariyâ Muhyiddîn Yahyâ bin Syarf Al-Nawawi, Al-Taqrîb wa Al-Taysîr li Ma`rifah
Sunan Al-Basyîr Al-Nadzîr fiy Ushûl Al-Hadîts, (Beirut: Dâr al-Kitâb al-`Arabiy, 1985), h. 40.
Sedangkan oleh Ibn Shalâh (w. 643 H.) dan Al-Hakim dikategorikan sebagai hadis masyhûr. Lihat:
Abû `Amr `Utsmân bin `Abdurrahmân Ibn Shalâh, Ma`rifah Anwâ` `Ulûm al-Hadîts, (Beirut: Dâr
al-Fikr, 1986), h. 265.

1

2

‫ُ ٌلواَلرججلعةة‬،‫ُ ٌلواَلطرللةق‬،‫ح‬ ِ ِ
‫ٌّ ٌاَلنلكاَ ة‬:‫ُ ٌلولهجزلةةهرن ٌجدد‬،‫ث ٌجِددةهرن ٌجدد‬
‫ثللل ث‬

Tiga hal yang (dilakukan dengan) serius, (implikasinya) serius, dan
(dilakukan dengan) bercanda, (implikasinya) tetap serius, yaitu Nikah, Talak,
dan Rujuk.

Berdasarkan hadis tersebut, kata-kata nikah, talak dan rujuk, meski
diucapkan dalam kondisi tidak serius, namun ternyata tetap memiliki implikasi
hukum. Sehingga ketika seorang suami sambil bercanda mengucapkan ungkapan
talak terhadap istrinya, seketika ikatan perkawinan mereka menjadi putus tanpa
bisa dielakkan dengan alasan bahwa ia tidak bermaksud menjatuhkan talak.
Tentu saja hadis tersebut memiliki urgensitas tersendiri untuk ditelusuri
kesahihannya, baik dari aspek validitas matan maupun otentisitas sanadnya.
Demikian disebabkan dari hadis tersebut implikasi hukumnya terkait dengan
eksistensi sebuah lembaga perkawinan.
Tulisan ini dimaksudkan hendak menelusuri serta mengalisa hadis tersebut
melalui teknik takhrîj al-hadîts.

B. Teks Hadis
Langkah pertama yang penulis lakukan adalah dengan menelusuri hadis
tersebut melalui penjejakan manual terhadap kitab hadis Bulûgh al-Marâm karya
Ibn Hajar berikut: 6

‫ ٌثللل ث‬ٌ ‫لولعجن ٌألِبي ٌةهلريَجيلرلة ٌرضي ٌاَل ٌعنه ٌلقاَلل ٌلقاَلل ٌلرةسوُةل ٌلاَللرِه‬
‫ث ٌِجددهرن ٌِجدد ٌلولهجزلةةهرن ٌِجدد‬

‫صرحلحةه ٌاَللجلحاَكِةم‬ ِ
‫ح ٌلواَلطرللةق ٌلواَلرججلعةة ٌلرلواَةه ٌاَلجللجربليلعةة ٌإِرل ٌاَلنرلساَئري ٌلو ل‬
‫لاَلنلكاَ ة‬
Dan dari Abû Hurayrah Ra., ia berkata: Rasulullah Saw. Bersabda: Tiga hal
yang (dilakukan dengan) serius, (implikasinya) serius, dan (dilakukan dengan)

6 Ahmad bin ‘Ali Ibn Hajar Al-‘Asqalaniy, Bulûgh al-Marâm min Adillah al-Ahkâm, (Mesir: Al-
Mathba`ah Al-Salafiyah, 1347), h. 212.

3

bercanda, (implikasinya) tetap serius, yaitu Nikah, Talak, dan Rujuk. Imam Empat
meriwayatkan hadis tersebut kecuali Al-Nasa’i, dan dinilai sahih oleh Al-Hakim.
Berdasarkan kutipan hadis di atas menginformasikan bahwa mashâdir al-
ashliyyaḧ-nya adalah Kitab Sunan Empat (Al-Arba`ah),7 kecuali Sunan Al-Nasâ’I
(al-Mujtabâ’).
Sedangkan penjejakan menggunakan kitab al-Jâmi’ al-Shaghîr, yang
disusun oleh al-Suyûthiy, ditemukan petunjuk sebagai berikut:8

‫ح ٌواَلرطلةق ٌواَلرججلعةة ٌ)د ٌت ٌهي( ٌلعن ٌأبي ٌةهلريَجيلرة‬ ِ ِ ِ ‫ثللل ث‬
‫ٌّ ٌاَلننكاَ ة‬:‫ث ٌجددةهرن ٌجدد ٌلولهجزلةةهرن ٌجدد‬
.(‫)ح‬

Terdapat rumus khusus yang digunakan oleh Al-Suyûthi di dalam kitabnya
tersebut, yaitu huruf dal (‫)د‬, ta (‫)ت‬, ha (‫)هي‬, hal tersebut menandakan bahwa hadis
yang dimaksud diriwayatkan oleh Abû Dâwud, Al-Turmudzi, dan Ibn Majah.
Adapun huruf ha (‫ )ح‬di akhir menandakan kualitas dari hadis tersebut, yaitu
hasan.9
Adapun penjejakan dengan menggunakan al-Mu’jam al-Mufahras li
Alfâzh al-Hadîts, yang disusun oleh AJ. Weinsinck, dengan akar kata “ ‫”هه ههزل‬,
ditemukan petunjuk:10

7 Yang dimaksud dengan Al-Arba`ah adalah Ashhâb al-Sunan al-Arba`ah (penyusun kitab Sunan
yang empat), yaitu Abû Dâwud, Al-Turmudziy, Al-Nasâ’i, dan Ibn Mâjah. Lihat: Abû al-Fidâ’
Isma`îl bin `Umar Ibn Katsîr, al-Bâ`its al-Hatsîts ilâ Ikhtishâr `Ulûm al-Hadîts, (Beirut: Dâr al-
Kutub al-`Ilmiyah, T.th), h. 27.
8 Jalâluddîn `Abdurrahmân bin Abî Bakh Al-Suyûthi, Al-Jâmi` al-Shaghîr fiy Ahâdîts al-Basyîr
al-Nazhîr, (Indonesia: Maktabah Dâr Ihyâ’ al-Kutub al-`Arabiyah, T.th), j. 1, h. 137.
9 Rumus al-Suyuthiy: kha` (‫ )خ‬al-Bukhariy, mim (‫ )م‬Muslim, qaf (‫ )ق‬keduanya (Bukhariy-
Muslim), dal (‫ )د‬Abi Dawud, ta` (‫ )ت‬al-Tirmidziy, nun (‫ )ن‬al-Nasa`iy, ha (‫ )ه‬Ibn Majah, empat (٤)
mereka berempat (Abu Dawud, al-Tirmidziy, al-Nasa`iy dan Ibn Majah), tiga (٣) mereka kecuali
Ibn Majah, ha mim (‫ )حم‬Musnad Ahmad, ‘ayn mim (‫‘ )عم‬Abdullah bin Ahmad dalam Zawa`id, kaf
(‫ )ك‬al-Hakim dalam al-Mustadrak, kha dal (‫ )خه ههد‬al-Bukhariy dalam al-Adab, ta` kha` (‫ )ته ههخ‬al-
Bukhariy dalam Tarikh, ha` ba` (‫ )حب‬Ibn Hibban dalam Shahîh, tha` ba` (‫ )طهب‬al-Thabraniy dalam
al-Kabir, tha` sin (‫ )طه ههس‬al-Thabraniy dalam al-Awsath, tha` shad (‫ )طه ههص‬al-Thabraniy dalam al-
Shaghîr, shad (‫ )ص‬Sa’id bin Manshur dalam Sunan, syin (‫ )ش‬Ibn Abi Syaybah, ‘ayn ba` (‫‘ )عب‬Abd
al-Razzaq dalam al-Jâmi', ‘ayn (‫ )ع‬Abi Ya’la dalam Musnad, qaf tha` (‫ )قت‬al-Daruquthniy, fa` ra` (
‫ )فههر‬al-Daylamiy dalam Musnad al-Firdaws, ha` lam (‫ )حههل‬Abi Na’im dalam al-Hulyah, ha` ba (‫)هههب‬
al-Bayhaqiy dalam Syu’b al-Iman, ha` qaf (‫ )هه ههق‬al-Bayhaqiy dalam al-Sunan, ‘ayn dal (‫ )ع ههد‬Ibn
‘Adiy dalam al-Kamil, ‘ayn qaf (‫ )عه ههق‬al-‘Aqiliy dalam al-Dhu’afâ`, kha` tha (‫ )خه ههظ‬al-Khathib.
Muhammad ‘Abd al-Ra`uf al-Munawiy, Faydh al-Qadir Syarh al-Jâmi' al-Shaghîr, (Beirut: Dar
al-Ma’rifah, 1972), j. 1, h. 24-29
10 A.J. Weinsinck, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Hadîts, (Leiden: Briel, 1936), j. 7 , h. 87.

10. mim (‫ )م‬Shahîh Muslim. jim ha` (‫ )جههه‬Sunan Ibn Majah. tha` (‫ )ط‬Muwatha` Malik. 425. 11 untuk hadis tersebut adalah huruf da ( ‫)د‬. dal (‫ )د‬Sunan Abu Dawud.J. h. 7. Tuhfah al-Asyrâf bi Ma`rifah al-Athrâf. j. Al-Mizziy memberi informasi sebagai berikut:13 (‫ ٌ)د‬. al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Hadîts. 2 dari Tanbîhât wa Irsyâdât 12 Majduddîn Abû al-Sa`âdât al-Mubârak bin Muhammad Ibn Atsîr. . A. (Beirut: Maktabah al-Hulwâni. ha` mim (‫ )ح ههم‬Musnad Ahmad.‫ٌّ ٌاَلنكاَح ٌواَلطلق ٌواَلرجعة‬:‫]د ٌت ٌق[ ٌحديَث ٌثلث ٌجدهن ٌجد ٌوهزلهن ٌجد‬ ‫ُ ٌعن‬،‫ُ ٌعن ٌعبد ٌاَلرحمن ٌبن ٌحبيب ٌبن ٌأردك‬،‫ُ ٌعن ٌاَلدراَوردي‬،‫في ٌاَلطلق ٌعن ٌاَلقعنبي‬ (‫ُ ٌبل ٌفي ٌاَلطلق‬،‫ ٌت ٌفي ٌاَلنكاَح ٌ)ل‬. hadis tersebut dikeluarkan oleh Al-Turmudzi dan Abu Dawud. 1983).‫ُ ٌعن ٌيَوُسف ٌبن ٌماَهك ٌبه‬،‫عطاَء ٌبن ٌأبي ٌرباَح‬ 11 Rumus Mu’jam: ta` (‫ )ت‬al-Tirmidziy. dan Sunan Ibn Majah. (Leiden: Briel. ta (‫)ت‬. (Beirut: al-Maktabah al-Islâmiy. h. Weinsinck. dal ya` (‫ )دي‬Sunan al-Darimiy. 4 ‫ ٌت ٌطلق‬900ٌ ‫ح ٌواَلرطلةق ٌواَلرججلعةة ٌ)د ٌطلق‬ ِ ِ ِ ‫ثللل ث‬ ‫ٌّ ٌاَلننكاَ ة‬:‫ث ٌجددةهرن ٌجدد ٌلولهجزلةةهرن ٌجدد‬ ٌ (13ٌ ‫ ٌجه ٌطلق‬900 Petunjuk yang digunakan oleh Weinsick dari sekian banyak rumus. Sunan al- Turmudziy. h. Jâmi` al-Ushûl fiy Ahâdîts al- Rasûl. dan jim ha (‫)جه‬. 13 Jamâluddîn Abû al-Hajjâj Yûsuf bin `Abdurrahmân Al-Mizziy. Sedangkan dari kitab Tuhfah al-Asyrâf bi Ma`rifah al-Athrâf. kha` (‫ )خ‬Shahîh al-Bukhariy. dan nun (‫ )ن‬Sunan al-Nasa`iy. 1936). 627. Juz 7. Dengan menggunakan Jâmi` al-Ushûl ditemukan informasi sebagai berikut:12 ٌّ:‫ُ ٌلولهجزلةةهرن ٌجدد‬،‫ٌّ ٌ»ثلثة ٌِجددةهرن ٌِجدد‬:‫ ٌقاَل‬ٌ ‫ ٌأن ٌرسوُل ٌاَل‬ٌ ‫)د ٌت( ٌأبوُ ٌهريَرة‬ ‫ُ ٌواَلرججلعةة«ُ ٌأخرجه ٌاَلترمذي ٌوأبوُ ٌداَود‬،‫ُ ٌواَلرطلةق‬،‫ح‬ ‫اَلننكاَ ة‬ Menurut Ibn Atsir. 1971). j. Hal itu menunjukkan bahwa mashâdir al-ashliyyaḧ-nya adalah: Sunan Abi Dâwud.

Setelah program Maktabah al-Syâmilah-nya dibuka. (‫ )ته هه‬Al-Turmudzi dalam kitab Al-Syamâ’il. (‫ )ق‬Ibn Majah. Sunan Abiy Dâwud (w. (‫ )خ‬Al-Bukhariy. 321 H). Selanjutnya pilih ‫ متون الديثح‬dan centang/klik pilihan ‫المجموعة كلها‬ 4. dari Abdurrahmân bin Habib bin Ardak. Ahâdîts Ismâ`îl bin Ja`far (w. 14 Rumus yang digunakan oleh Al-Mizziy adalah: (‫ )ع‬disepakati Imam enam. Langkah selanjutnya adalah klik tab ‫تنفيمذ البحثح‬. Al-Mustadrak liy al- Shahîhayn (w. 275 H. 307 H. Al-Muntaqâ li Ibn al-Jârûd (w. Dan dikeluarkan oleh Ibn Mâjah dari Hisyâm bin `Imar dari Hâtim bin Ismâ`îl. (‫ )ت‬Al-Turmudzi dalam kitab Al- Jâmi`. 405 H.64. yaitu dengan menggunakan aplikasi al-Maktabah al- Syâmilah versi 3. Selanjutnya pilih ‫ بثح فه النصههوص‬dan memasukan kata ‫ ثلثا جهدهن جهد‬pada kolom ‫ابثح عن حيمع هذه العبارة‬ 3. 180 H. (‫ )س‬Al-Nasâ’I dalam kitab Sunan. h. 312 H. Sunan Al-Turmudziy (w. kemudian muncul jendela ‫البحثح‬ ‫شاشة‬ 2. Al-Sunan al- Shaghîr al-Bayhaqiy (w. dari Hâtim bin Ismâ`îl. 458). dari Yûsuf bin Abiy Mâhik. 5 ‫ٌّ ٌحسن‬:‫ُ ٌوقاَل‬،‫ُ ٌعن ٌعبد ٌاَلرحمن ٌبن ٌأردك ٌبه‬،‫ُ ٌعن ٌحاَتم ٌبن ٌإسماَعيل‬،‫عن ٌقتيبة‬ . Sunan Sa`îd bin Manshûr (w.). . dari al-Darâwardiy. klik tab search (‫)بههثح‬.‫ُ ٌعن ٌحاَتم ٌبن ٌإسماَعيل ٌبه‬،‫ ٌق ٌفي ٌاَلطلق ٌعن ٌهشاَم ٌبن ٌعماَر‬. Syarh Ma’aniy al-Atsar al- Thahawiy (w. (‫ )م‬Muslim. ( ‫ )خه ههت‬Al-Bukhariy komentarnya.). Syarh al-Sunnah li al-Baghawiy (w. Ibid. Untuk langkah selanjutnya penjejakan dilanjutkan dengan memanfaatkan teknologi komputerisasi. Al-Sunan al-Kubrâ al-Bayhaqiy (w.).). dari Abdurrahmân bin Ardak. j. 458). Dikeluarkan pula oleh Al-Turmudziy dari Qutaybah.‫غريَب‬ Sedikit berbeda dengan rumus yang dipakai oleh ulama lain. Mukhtashar Ahkâm li al-Thawûs (w. 1. dari `Athâ’ bin Abiy Ribâh.). 14 Al-Mizziy memberi informasi bahwa hadis tersebut dikeluarkan oleh Abu Dawud dari al- Qa`nabiy. 385 H.). 516 H). (‫ )سه ههي‬Al- Nasâ’iy dalam kitab `Amal Yawm wa Laylah.).). dengan proses sebagai berikut: 1. 273 H. Sunan Ibn Mâjah (w. Dari proses tersebut diketahui bahwa hadis dimaksud terdapat dalam mashâdir al-ashliyah sebagai berikut disusun menurut urutan tahun wafat: Musnad Abî Hanifah (80-150 H). 227 H. 279 H. (‫ )د‬Abu Dawud.). Sunan al-Dâruquthniy (w. 6.

). Sunan Sa`îd bin Manshûr (w.). Ahâdîts Ismâ`îl bin Ja`far (w. 516 H). Syarh Ma’aniy al- Syâmilah Atsar al-Thahawiy (w. 273 H.).). Sunan Ibn Mâjah (w. 227 H. 273 H.). Sunan Abiy Dâwud (w. 273 H. 180 H. 6 Berikut adalah tabelisasi mashâdir al-ashliyyaḧ hadis dimaksud: No Dilâlaḧ Mashâdir al-Ashliyyaḧ Sunan Abiy Dâwud (w. 275 H.).).). Sunan al-Dâruquthniy (w. 275 H. Syarh al- Sunnah li al-Baghawiy (w.). Al- Sunan al-Shaghîr al-Bayhaqiy (w.). Sunan Abiy Dâwud (w. 275 H.). 279 H.). 312 H.).). 273 H.). . Sunan Al-Turmudziy 1 Bulûgh al-Marâm (w. Al- Muntaqâ li Ibn al-Jârûd (w. 5 Tuhfah al-Asyrâf bi Sunan Abiy Dâwud (w. Sunan Ibn Mâjah (w. Al-Mustadrak liy al-Shahîhayn (w.). 275 H. 279 H. 279 H. Sunan Al-Turmudziy Ma`rifah al-Athrâf (w.).).).). Sunan Al-Turmudziy 4 Jâmi` al-Ushûl (w. 458). 307 H. 279 H. Sunan Abiy Dâwud (w. 279 H. 385 H. 405 H. Al-Sunan al-Kubrâ al-Bayhaqiy (w. 275 H. 321 H). Sunan Ibn Mâjah (w. Al-Mu’jam al-Mufahras li Sunan Abiy Dâwud (w.). 275 H. 279 H. Musnad Abî Hanifah (80-150 H). Sunan Al-Turmudziy 3 Alfâzh al-Hadîts (w. Sunan Al-Turmudziy 2 Al-Jâmi’ al-Shaghîr (w.).). 458). Mukhtashar Aplikasi al-Maktabah al- 6 Ahkâm li al-Thûsiy (w. 273 H. Sunan Ibn Mâjah (w. Sunan Al-Turmudziy (w. Sunan Ibn Mâjah (w.

Sunan Abiy Dâwud (w. Syarh al-Sunnah li al-Baghawiy (w. 279 H. (4) Abû Hanîfah.). 385 H. Ahâdîts Ismâ`îl bin Ja`far (w. 8. Musnad Abî Hanifah (w. 227 H. 275 H. 273 H. Syarh Ma’aniy al-Atsar al-Thahawiy (w. Sunan Al-Turmudziy (w. 307 H. 13. Mukhtashar Ahkâm li al-Thûsiy (w.). (Libanon: Dâr al-Kutub al- `Ilmiyah. Anasir Hadis a. Sunan Ibn Mâjah (w. Musnad Abiy Hanifah.). 12. Rawi dan Sanad Rawi dan sanad hadis dari mashâdir al-ashliyyaḧ di atas adalah: 1) Musnad Abî Hanifah:15 (1) Abû Hurayrah. Anasir Hadis. 14. C. 458 H. 5. . 7 Jadi.).). Sunan Sa`îd bin Manshûr (w. 150 H. 405 H. 9.). 2008). 11. mashâdir al-ashliyyaḧ secara keseluruhan adalah: 1.).). 458 H. 321 H. Al-Muntaqâ li Ibn al-Jârûd (w. Al-Sunan al-Shaghîr al-Bayhaqiy (w. Al-Sunan al-Kubrâ al-Bayhaqiy (w. 516 H). 4.). 3. Al-Mustadrak liy al-Shahîhayn (w. 2. 7.). Sunan al-Dâruquthniy (w.). (3) `Athâ’. Daftar Rawi Sanad dan Diagram/Silsilah Sanad 1. 312 H. 15 Al-Imâm Abû Hanîfah al-Nu’mân bin Tsâbit.). (2) Yûsuf bin Mâhak.). 180 H. 6. h. 10. 21.

h. j. j. Al-Muntaqâ min al-Sunan al-Musannadah. 18 Ibn Mâjah Abû `Abdullâh Muhammad bin Yazîd Al-Qazwayniy. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. . h. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 336-337. (3) `Athâ’. 1988). 6) Sunan Al-Turmudziy:20 (1) Abû Hurayrah. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (6) Qutaybah. Al-Jâmi` al-Kabîr (Sunan al-Turmudziy). Hadîts `Aliy bin Hajar al-Sa`diy `an Ismâ`îl bin Ja`far. h. Sunan Ibn Mâjah. (2) Ibn Mâhak. (2) Yûsuf bin Mâhak. (2) Ibn Mâhak. (Beirut: Mu’assasah al-Kitâb al-Tsaqâfiyah. Mukhtashar al-Ahkâm. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (5) Hâtim bin Ismâ`îl. (5) Hâtim bin Ismâ`îl. 8) Mukhtashar Ahkâm li al-Thûsiy:22 a) (1) Abû Hurayrah. 1982). (2) Yûsuf bin Mâhak. 17 Abû `Utsmân Sa`îd bin Manshûr bin Syu`bah al-Kharâsâniy. h. T. 197.). 19 Abû Dâwud Sulaymân bin al-Asy`ats bin ishâq bin Basyîr bin Syaddâd bin `Amr al-Sijistân. 5) Sunan Abiy Dâwud:19 (1) Abû Hurayrah. Sunan Sa`îd bin Manshûr. (Beirut: al-Maktabah al-`Ashriyah. Sunan Abiy Dâwud. 8 2) Ahâdîts Ismâ`îl bin Ja`far:16 (1) Abû Hurayrah. (6) Al-Qa`nabiy. 3) Sunan Sa`îd bin Manshûr:17 (1) Abû Hurayrah. (5) Sulaymân bin Bilâl. 22 Abû `Aliy al-Hasan bin `Aliy bin Nashr Al-Thûsiy. 178. j. h. (6) Hisyâm bin `Ammâr. (6) `Abdullâh bin Wahb bin Muslim. (4) `Abdurrahmân bin Habîb bin Ardak. (2) Yûsuf bin Mâhak. j. 259. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (5) `Abdul `Azîz bin 16 Ismâ`îl bin Ja`far bin Abiy Katsîr al-Anshâriy. 2. 415. h. 2009). 7) Al-Muntaqâ li Ibn al-Jârûd:21 (1) Abû Hurayrah. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 2003). (3) `Athâ’. (7) al-Rabî` bin Sulaymân. (4) `Abdurrahmân bin Ardak. (Beirut: Dâr al-Gharb al-Islâmiy. 476. 5. (Beirut: Dâr al-Risâlah al-`Âlamiyah. j. 21 Abû Muhammad `Abdullâh bin `Aliy bin Al-Jârûd. 20 Abû `Îsâ Muhammad bin `Îsâ bin Sawrahbin al-Dlahâk Al-Turmudziy. (5) `Abdul `Azîz bin Muhammad. 4) Sunan Ibn Mâjah:18 (1) Abû Hurayrah. (India: al-Dâr al-Salafiyah. 2. 1998).th. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (5) Ismâ`îl. (Riyad: Maktabah al-Rasyd li al-Nasyr wa al-Tawzî`. (5) `Abdul`azîz bin Muhammad al-Darâwardiy. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. 1998). (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (Beirut: Dâr al- Mu’ayyad. (6) `Aliy. (2) Ibn Mâhak. 1. (2) Abû Yûsuf bin Mâhak. 3. h. 502-503.

(3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (5) `Abdul `Azîz bin Muhammad Al-Darâwardiy. (2) Yûsuf bin Mâhak. (6) Sa`îd bin Abiy Maryam. 3. (6) Sa`îd bin Abiy Maryam. (5) Sulaymân bin Bilâl. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 98. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (5) Sulaymân bin Bilâl. (2) Yûsuf bin Mâhak. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. c) Abû Hurayrah. (5) Sulaymân bin Bilâl. (5) `Abdul `Azîz bin Muhammad Al-Darâwardiy. d) (1) Abû Hurayrah. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (2) Yûsuf bin Mâhak. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. Syarh Ma`âniy al-Âtsâr. (6) Asad bin Mûsâ bin Ibrâhîm. 9) Syarh Ma’aniy al-Atsar al-Thahawiy:23 a) Abû Hurayrah. (5) `Abdul`azîz bin Muhammad bin 23 Abû Ja`far Ahmad bin Muhammad bin Salâmah bin `Abdulmalik bin Salmah Al-Thahâwiy. (2) Yûsuf bin Mâhak. (2) Yûsuf bin Mâhak. b) Abû Hurayrah. (7) Nashr bin Marzûq Abû al-Fath. (7) Muhammad bin Yahyâ. e) (1) Abû Hurayrah. (7) Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhâri. (6) Ismâ`îl bin Abiy Uways. b) (1) Abû Hurayrah. (2) Yûsuf bin Mâhak. 1399). . (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. c) (1) Abû Hurayrah. (6) `Abdullah bin Maslamah Al- Qa`nabiy. j. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 9 Muhammad Al-Darâwardiy. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (6) `Abdullah bin Maslamah Al- Qa`nabiy. (2) Yûsuf bin Mâhak. (7) Muhammad bin Yahyâ. (6) Al- Wuhâzhiy. (7) Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhâri. (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah. h. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (5) `Abdul`azîz bin Muhammad bin `Ubayd al-Darâwardiy. (7) Muhammad bin Yahyâ. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (7) Ibrâhîm bin Abiy Dâwud.

b) Abû Hurayrah. (5) Al-Darâwardiy. (2) Yûsuf bin Mâhak. (6) `Amr bin Abiy Salmah. (7) Ahmad bin al-Walîd. (4) `Abdurrahmân bin Habîb Ibn Ardak. (5) Sulaymân bin Bilâl. (2) Yûsuf bin Mâhak. (6) Ismâ`îl bin `Abdillâh bin `Abdillâh al-Ashbahiy. (7) Ahmad bin al-Walîd. 11) Sunan al-Dâruquthniy:25 a) Abû Hurayrah. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. 10 `Ubayd al-Darâwardiy. 380. (8) Muhammad bin Ismâ`îl. (5) Ismâ`îl bin Ja`far. 4. 380 & j. Sunan al-Dâruquthniy. 25 Ibid. (7) Yahyâ bin Muhammad bin Shâ`id/Muhammad bin Yahyâ al-Baghdâdi. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 4. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. 10) Sunan al-Dâruquthniy (3176):24 a) Abû Hurayrah. 4. j. j. (6) `Ali bin Ma`bad bin Syaddâd al-`Abdiy. h. (8) Al-Husayn bin Ismâ`îl bin Muhammad al-Dlabiy. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (6) Yahyâ bin Shâlih al-Wuhâzhiy. 2004). (5) Sulaymân bin Bilâl. . (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (8) Al-Husayn bin Ismâ`îl bin Muhammad al-Dlabiy. (2) Yûsuf bin Mâhak. (7) Fahd bin Sulaymân al-Nuhâs. (4) `Abdurrahmân bin Habîb Ibn Ardak. j. (5) Sulaymân bin Bilâl. h. (6) Ismâ`îl bin Ja`far. h. 26 Ibid. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 5. (6) Al-Khathîb bin Nâshih al-Hâritsiy (7) Nashr bin Marzûq Abû al-Fath. (6) Muhammad bin Zunbûr. (5) Ismâ`îl bin Abî Katsîr al- Anshâriy . d) Abû Hurayrah. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. h. (Beirut: Mu’assasah al-Risâlah. (2) Yûsuf bin Mâhak. (7) Abû Zur`ah al- Dimasyqiy/`Abdurrahmân bin `Amr bin `Abdillâh. (2) Yûsuf bin Mâhak. b) Abû Hurayrah. (2) Yûsuf bin Mâhak. 379. 12) Sunan al-Dâruquthniy (3176):26 (1) Abû Hurayrah. 35. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (7) `Abdullah bin Ahmad 24 Abû al-Hasan `Aliy bin `Umar bin Ahmad bin Mahdiy bin Mas`ûd bin al-Nu`mân bin Dînâr Al- Dâruquthniy.

2. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 557. (8) `Aliy bin Muhammad bin Ahmad al-Mishriy. (7) al-Rabî` bin Sulaymân. (7) al-Rabî` bin Sulaymân. (2) Yûsuf bin Mâhak. Al-Sunan al-Kubrâ. (8) Muhammad bin Ya`qûb. b) (1) Abû Hurayrah. (7) al-Rabî` bin Sulaymân. 216. (9) Muhammad bin `Abdillâh al-Dlabiy. (6) `Abdullâh bin Wahb. (7) al-Rabî` bin Sulaymân. h. (5) Sulaymân bin Bilâl. 14) Al-Sunan al-Kubrâ al-Bayhaqiy:28 a) (1) Abû Hurayrah. (5) Sulaymân bin Bilâl. (2) Yûsuf bin Mâhak. al-Mustadrak `Alâ al-Shahîhayn. 3. j. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (8) Abû al-`Abbâs Muhammad bin Ya`qûb. 11 bin Muhammad bin Abiy Maryam. 118. (6) `Abdullâh bin Wahb. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 1990). (5) Sulaymân bin Bilâl. 13) Al-Mustadrak liy al-Shahîhayn:27 (1) Abû Hurayrah. 28 Abû Bakr Ahmad bin al-Husayn bin `Aliy Al-Bayhaqiy. (6) Ismâ`îl bin Abiy Uways. c) (1) Abû Hurayrah. h. (2) Yûsuf bin Mâhak. j. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (5) Sulaymân bin Bilâl. 1989). 7. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. h. 27 Abû `Abdullah al-Hâkim Muhammad bin `Abdillâh bin Muhammad bin Hamdawiyah bin Nu`aym bin Al-Hâkim. (5) Sulaymân bin Bilâl. (8) Muhammad bin Ya`qûb. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. 2003). (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah. (9) al-Hasan bin Muhammad bin Habîb. (8) Muhammad bin Ya`qûb. (9) Muhammad bin `Abdillâh al-Dlabiy. Al-Sunan al-Shaghîr li al-Bayhaqiy. (7) `Aliy bin al-Mubârak al-Shan`âniy. (9) Muhammad bin Mûsâ bin al-Fadl/Abû Sa`îd bin Abiy `Amr. (Karachi: Jâmi`ah al-Dirâsât al-Islâmiyah. 29 Abû Bakr Ahmad bin al-Husayn bin `Aliy Al-Bayhaqiy. (Beirut: Dâr al- Kutub al-`Alamiyah. (2) Yûsuf bin Mâhak. j. (6) `Abdullâh bin Wahb. 15) Sunan al-Shaghîr al-Bayhaqiy:29 (1) Abû Hurayrah. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. (3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. . (2) Yûsuf bin Mâhak. (4) `Abdurrahmân bin Habîb. (6) `Abdullâh bin Wahb. (8) Abû `Abdillâh Muhammad bin `Abdillâh.

(Beirut: al-Maktabah al-Islâmiy. rawi dan sanad hadis berjumlah 46 orang‬‬ ‫‪sebagaimana terlampir. 219. (2) Ibn Mâhak. (9) Abû al-Hasan al-Thaysafûniy. (10) Abû‬‬ ‫‪`Abdillâh Muhammad bin Fadl.‬‬ ‫‪(3) `Athâ’ bin Abiy Rabâh. j. (8‬‬ ‫‪`Abdullâh bin `Umar. Matan‬‬ ‫‪Berikut adalah variasi redaksi matan hadis yang terlacak dari‬‬ ‫‪Mashâdir al-Ashliyyaḧ berdasarkan hasil penjejakan:‬‬ ‫‪Matan‬‬ ‫‪Mashâdir al-Ashliyaḧ‬‬ ‫‪No‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬الطرعلةق عوالنعكاةح عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫مسند أب حنيمفة‬ ‫‪1‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬الطرعلةق عوالنعكاةح عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫أحاديثح إساعيمل بن جعفر‬ ‫‪2‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬الطرعلةق عوالنعكاةح عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫سنن سعيمد بن منصور‬ ‫‪3‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫سنن ابن ماجه‬ ‫‪4‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرلعةق عوالرججععةة‬ ‫ثعلع ث‬ ‫سنن أب داود‬ ‫‪5‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرلعةق عوالرججععةة‬ ‫ثعلع ث‬ ‫سنن التمذي‬ ‫‪6‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫النتقى لبن الارود‬ ‫‪7‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫متصر الحكام‬ ‫‪8‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫شرح معان الثار للطحاوي‬ ‫‪9‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫سنن الدارقطن )‪(45‬‬ ‫‪10‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬الطرعلةق عوالنعكاةح عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫سنن الدارقطن )‪(47‬‬ ‫‪11‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬الطرعلةق عوالنعكاةح عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫سنن الدارقطن )‪(48‬‬ ‫‪12‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫الستدرك على الصحيمحي‬ ‫‪13‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫السنن الكبىر للبيمهقي‬ ‫‪14‬‬ ‫‪30 Abû Muhammad al-Husayn bin Mas`ûd bin Muhammad bin al-Farâ’ Al-Baghawiy.‬‬ . (6) `Aliy bin Hujr. 1983). ‫‪12‬‬ ‫‪16) Syarh al-Sunnah li al-Baghawiy:30 (1) Abû Hurayrah. (7) Ahmad bin `Aliy al-Kusymîhaniy. (4) Ibn Habîb bin Ardak. h. Syarh al-‬‬ ‫‪Sunnah.‬‬ ‫‪Secara keseluruhan. 9. (5) Ismâ`îl bin‬‬ ‫)‪Ja`far.‬‬ ‫‪b.

‬‬ ‫السنن الكبىر للبيمهقي‪ . teridentifikasi ada dua macam‬‬ ‫‪redaksi matan yang sedikit berbeda.‬سنن سعيمد‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬الطرعلةق عوالنعكاةح عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫بن منصور‪ .‬سنن التمذي‪ .‬سنن أب‬ ‫داود‪ . yaitu:‬‬ ‫‪Matan‬‬ ‫‪Mashâdir al-Ashliyaḧ‬‬ ‫‪N‬‬ ‫‪o‬‬ ‫مسند أب حنيمفة‪ .(47‬سنن الدارقطن )‪.‬متصر الحكام‪.‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫شرح معان الثار للطحاوي‪. rutbah jarh wa ta’dîl dan thabaqaḧ‬‬ ‫‪rawi sanad dibuat daftar dengan menggunakan kitab Tahdzîb al-Kamal (al-‬‬ .‬أحاديثح‬ ‫إساعيمل بن جعفر‪ .‬سنن الدارقطن )‬ ‫‪1‬‬ ‫‪ .‬النتقى‬ ‫لبن الارود‪ .(48‬‬ ‫شرح السنة‬ ‫سنن ابن ماجه‪ .‬السنن‬ ‫الصغي للبيمهقي‬ ‫‪2. ‫‪13‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬النعكاةح عوالطرعلةق عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫السنن الصغي للبيمهقي‬ ‫‪15‬‬ ‫ثا ججددةهرن ججدد عوعهجزةلةرن ججدد‪ ٌّ:‬الطرعلةق عوالنعكاةح عوالرججععةة‬ ‫ثععل ث‬ ‫شرح السنة‬ ‫‪16‬‬ ‫‪Dari enam belas hadis di atas.‬‬ ‫‪2‬‬ ‫سنن الدارقطن )‪. Daftar Rawi Sanad‬‬ ‫‪Untuk mengetahui lahir-wafat.(45‬‬ ‫الستدرك على الصحيمحي‪.

h. 17. Tahdzîb al-Kamâl fiy Asmâ’ al-Rijâl. Daftar rawi sanad hadis di atas adalah: L/W (H) RJT Thabaqât No Rawi Sanad L W J T Thdzb ST 1 Abû Hurayrah 31 57 ‫صحاب‬ 1 S 2 Yûsuf bin Mâhak 113 ‫ثقة‬ 3 T . 70. j. 18.. 34. Op. 33 Abû al-Hajjâj Yûsuf bin `Abdirrahmân bin Yûsuf Jamâluddîn Al-Mizziy. 187-194. j. ‫صدوق‬ 8 TTT 7 Darâwardiy35 186/18 9 Hâtim bin Ismâ`îl36 ‫ثقة‬ 8 TTT 7 12 10 Al-Walîd bin Muslim 194 ‫ثقة‬ 8 TTT 1 `Abdullâh bin Wahb bin 12 11 197 ‫ثقة حافظ عابد‬ 9 TTT Muslim37 5 31 Abû al-Hajjâj Yûsuf bin `Abdirrahmân bin Yûsuf Jamâluddîn Al-Mizziy. Cit. Mizan al-I’tidal (al- Dzahabiy). 187-191. dan kitab lain yang dibutuhkan ketika tidak terdapat di dalam kitab yang telah disebutkan. 5.. 180 ‫ثقة‬ 8 TT Anshâriy `Abdul`azîz bin 186/18 8 Muhammad al. Tahdzîb al-Tahdzîb (Ibn Hajar al-‘Asqalaniy). 52. 3. j. h. (Beirut: Dâr al-Ma`rifah. 16. h. h. j. 32 Syamsuddîn Abû `Abdullâh Muhammad bin Ahmad bin `Utsmân Al-Dzahabiy. 472-473. . h. 34 Ibid. 14 Miziy). 3. 36 Ibid. (Beirut: Mu’assasah al-Risâlah. Menurut Muhammad bin Sa`d: Tsiqah. 277-287. h. 1980). 35 Ibid. j. j. h. Al-Bukhâriy menggunakan riwayat al-Darâwardiy meskipun disertai rawi lain. 1963).‫ثقة فقيمه فاضل‬ `Athâ’ bin Abiy 3 26 114 ‫حجة إماما كبي‬ 3 T Rabâh32 ‫الشأن‬ 4 Abû Hanîfah 80 150 ‫فقيمه مشهور‬ 6 TT `Abdurrahmân bin ‫لي‬ ‫ثقة عند أبو حات و‬ 5 6 Habîb33 ‫الديثح‬ ‫الاكم‬ Abû Ayûb Sulaymân 6 177 ‫ثقة‬ 8 TT bin Bilâl34 Ismâ`îl bin Ja`far bin 7 Abî Katsîr al. 366-379. Mîzân al-I`tidâl fiy Naqd al-Rijâl. 37 Ibid. j.

41 Ibid. . j. 15 Al-Khathîb bin ‫صدوق حسن‬ 12 208 9 TTT Nâshih al-Hâritsiy ‫الديثح‬ Asad bin Mûsâ bin 13 13 212 ‫ثقة‬ 9 TTT Ibrâhîm 2 `Amr bin Abiy 14 212 ‫صدوق له أوهام‬ 10 TTT Salmah `Ali bin Ma`bad bin 15 218 ‫ثقة‬ 9 TTT Syaddâd al-`Abdiy `Abdullâh bin 16 Maslamah bin Qa`nab 221 ‫ثقة عابد‬ 9 TTT Al-Qa`nabiy38 Yahyâ bin Shâlih Al. 40 Ibid. h. ‫صدوق حسن‬ 23 248 10 TTTT Azhariy/Muhammad ‫الديثح‬ bin Zunbûr 38 Ibid. 23. 16. h. 242-255. 30. j. 39 Tidak ditemukan keterangan tentang rawi dimaksud. 13 17 222 ‫ثقة‬ 9 TTT Wuhâzhiy 7 `Aliy bin Hujr bin 14 18 224 ‫ثقة حافظ‬ 9 TTT Iyâs 5 Ibn Abiy Maryam (Sa`îd bin al-Hakam 14 19 bin Muhammad bin 224 ‫ثقة ثبت‬ 10 TTT 4 Sâlim bin Abiy Maryam)39 Ismâ`îl bin `Abdillâh bin `Abdillâh al- 20 226 ‫صدوق يطئ‬ 10 TTT Ashbahiy/ Ismâ`îl bin Abiy Uways Qutaybah bin Sa`îd 15 21 240 ‫ثقة ثبت‬ 10 TTTT bin Jamîl bin Tharîf40 0 15 22 Hisyâm bin `Ammâr41 245 ‫صدوق‬ 10 TTTT 3 Muhammad bin Ja`far bin Abiy al. j. 523-537. h. 136-143.

86-87. h. . 16 Muhammad bin 24 Muhammad bin ‫مهول الال‬ 10 Marzûq Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm ‫جبل الفظ وإمام‬ 19 25 bin al-Mughîrah/ 256 ‫الدنيما ف فقه‬ 10 TTTT 4 Muhammad bin ‫الديثح‬ Ismâ`îl al-Bukhâri Al-Rabî` bin 26 Sulaymân bin 256 ‫ثقة‬ 11 TTTT Dâwud42 Muhammad bin Yahyâ 17 27 bin `Abdillâh bin 258 ‫ثقة حافظ جليمل‬ 11 TTTT 2 Khâlid ‫صدوق حسن‬ 28 Ahmad bin al-Walîd 259 10 TTTT ‫الديثح‬ Nashr bin Marzûq ‫صدوق حسن‬ 29 262 11 TTTT Abû al-Fath ‫الديثح‬ Ibrâhîm bin Sulaymân 30 bin Dâwud/Ibn Abiy 270 ‫ثقة ثبت‬ 11 TTTT Dâwud Al-Fadll bin al-`Abbâs 31 270 ‫ثقة ثبت‬ 11 TTTT al-Râziy Fahd bin Sulaymân al- 32 275 ‫ثقة ثبت‬ 11 TTTT Nuhâs Abû Zur`ah al- 33 281 ‫ثقة حافظ مصنف‬ 11 TTTT Dimasyqiy Ahmad bin `Aliy al. j. 9. ‫صدوق حسن‬ 34 11 Kusymîhaniy ‫الديثح‬ `Abdullâh bin Muhammad bin Sa`îd ‫متوك‬ 35 281 12 TTTT bin al-Hakam (ibn ‫الديثح‬ Abiy Maryam) 36 `Aliy bin al-Mubârak 288 ‫مهول الال‬ 12 TTTT 42 Ibid.

17 al-Shan`âniy Shâlih bin 37 Muhammad bin ‫ضعيمف الديثح‬ 12 Ramîh Yahyâ bin Muhammad bin 22 ‫ثقة ثبت حافظ فقيمه‬ 38 Shâ`id bin Kâtib/Abû 318 13 TTTTT 8 ‫واسع الرحلة‬ Muhammad bin Shâ`id Al-Husayn bin Ismâ`îl 23 39 bin Muhammad al. 338 ‫ثقة‬ 14 TTTTT Hasan al-Mishriy Abû `Abdillâh 42 Muhammad bin 339 ‫ثقة‬ 14 TTTTT `Abdillâh bin Ahmad Abû al-`Abbâs 24 43 Muhammad bin 346 ‫ثقة حافظ‬ 14 TTTTT 7 Ya`qûb bin Yûsuf `Abdullâh bin `Umar 44 360 ‫حافظ متفق عليمه‬ 15 TTTTT bin Ahmad bin `Aliy Muhammad bin `Abdillâh bin 32 TTTTT 45 405 ‫ثقة حافظ‬ 17 Hamdawiyah bin 1 T Nu`aym al-Dlabiy al-Hasan bin TTTTT 46 406 ‫مقبول‬ 17 Muhammad bin Habîb T Abû al-Hasan al- Thaysafûniy/`Aliy bin ‫صدوق حسن‬ TTTTT 47 410 16 `Abdillâh al. 330 ‫ثقة‬ 13 TTTTT 5 Dlabiy Muhammad bin 24 40 335 ‫ثقة ثبت فاضل‬ 14 TTTTT Ismâ`îl al-Fârisiy 8 `Aliy bin Muhammad 41 bin Ahmad bin al. ‫الديثح‬ T Thaysafûniy .

(Abû al-Fadl Ahmad bin `Aliy bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar Al-`Asqlâniy. T. yaitu:46 1. hadis ini termasuk kategori hadis ahad43 garib (gharîb). 1998). dari aspek jumlah periwayatnya. Adapun syarat untuk kategori mutawatir adalah jumlah periwayatnya banyak yang secara adat tidak mungkin mereka sepakat berbohong. 2000). (Damaskus: Mathba`ah al-Shabâh. Muhammad `Ajjâj al-Khathîb. rawi sanad hadis di atas dapat dilihat pada gambar diagram atau silsilah sanad sebagaimana terlampir. Cit. Taysîr Musthalah al-Hadîts. h. yaitu hadis yang kegaribannya muncul dari tingkatan sahabat (asl al-sanad). D. 302-303. (T. sedangkan penyebutan hadis Fard. 18 Muhammad bin Mûsâ TTTTT 48 bin al-Fadl/Abû Sa`îd 421 ‫ثقة‬ 17 TT Abiy `Amr Abû `Abdillâh ‫صدوق حسن‬ TTTTT 49 480 19 Muhammad bin Fadl ‫الديثح‬ TT 3. Garib Nisbi (Gharîb/Fard al-Nisbiy). 48 45 Menurut Ibn Hajar Al-`Asqlâniy. Syamsuddîn Abû al-Khayr Muhammad bin ‘Abd al-Rahman bin Muhammad bin Abi Bakar bin ‘Utsman bin Muhammad al-Sakhâwiy. Ushûl al-Hadîts `Ulûmuh wa Mushthalahuh. 28. Garib Mutlak (Gharîb/Fard al-Muthlâq). 42 & 51. 29-30. h. Nuzhah al-Nazhar fiy Tawdîh Nukhbah al-Fikr fiy Mushthalah Ahl al-Atsar. (Beirut: Dâr al-Fikr.. . penyebutan hadis Gharîb seringnya digunakan untuk mengidentifikasi hadis Fard al-Nisbiy. 2. yaitu hadis yang kegaribannya muncul di tengah rangkaian sanad..th).44 Hadis garib terkadang disebut pula dengan istilah hadis Fard (tunggal). h. Mahmûd Thahhân.45 Kualifikasi hadis garib terdiri dari dua jenis. seringnya digunakan untuk mengidentifikasi hadis Fard al-Muthlâq. 43 Hadis Ahad adalah hadis yang tidak memenuhi syarat mutawatir. Op. 46 Mahmûd Thahhân. Diagram atau Silsilah Sanad Dalam bentuk diagram. Maktabah Adhwa` al-Salaf. 1989). Taqsîm atau Kualifikasi Hadis Berdasarkan hasil penjejakkan di atas. (Surabaya: Toko Kitab Hidayah. Jumlah detilnya minimal 4 orang pertingkatan. Al-Tawdhîh al-Abhar li Tadzkirah Ibn al-Mulaqqin fi ‘Ilm al-Atsar.Tp.) 44 Hadis gharîb adalah hadis yang diriwayatkan oleh 1 (satu) periwayat pada salah satu tingkatannya. apakah seterusnya garib atau pun tidak. meskipun di tingkatan sahabat diriwayatkan oleh lebih dari seorang sahabat.

tiga sanad. 14. Dari kitab Al-Muntaqâ li Ibn al-Jârûd. satu sanad. 5. satu sanad. satu sanad. lima sanad. Dari kitab Ahâdîts Ismâ`îl bin Ja`far. maupun pembiaran. perbuatan. 8. secara khusus. 7. 12. meskipun selanjutnya nampak diriwayatkan oleh lebih dari 3 orang. Dari kitab Al-Mustadrak liy al-Shahîhayn. empat sanad. satu sanad Dari 27 rangkaian sanad yang terjejak. Dari kitab Syarh al-Sunnah li al-Baghawiy. satu sanad. baik marfû` maupun mawqûf.. Dengan penjelasan sebagai berikut: 1. maka dimasukkan ke dalam kategori hadis garib mutlak. Dari kitab Syarh Ma’aniy al-Atsar al-Thahawiy. satu sanad.48 sehingga dikategorikan sebagai hadis musnad.. satu sanad. h. Sedangkan dari aspek penyandaran kepada Nabi Saw. Dari kitab Sunan al-Shaghîr al-Bayhaqiy. Dari kitab Sunan Al-Turmudziy. 3. Dari kitab Sunan Ibn Mâjah. serta rangkaian sanadnya tidak ada yang terputus dari awal sampai akhir. 19 Khusus untuk hadis ini. Dari kitab Al-Sunan al-Kubrâ al-Bayhaqiy. 2. meskipun tidak bersambungan.. 355. .. 10. hadis ini termasuk hadis marfû`47 dan muttashil. Cit. Muhammad `Ajjâj al-Khathîb. Dari kitab Sunan Abiy Dâwud. seluruhnya berawal dari Abû Hurayrah kemudian kepada Yûsuf bin Mahâk. 13. Op. dari 14 sumber asli hadis tersebut. Dari kitab Sunan Sa`îd bin Manshûr. 49 Hadis Musnad adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi Saw. satu sanad. lima sanad 9. Dari kitab Mukhtashar Ahkâm li al-Thûsiy. diketahui terdapat 27 rangkaian sanad. dikarenakan kegaribannya dimulai dari tingkatan sahabat. 11.. selanjutnya kepada `Athâ’ bin Abiy Rabâh. 4. Dari kitab Sunan al-Dâruquthniy. Tashhîh & I`tibar Berdasarkan deskripsi diagramisasi pohon sanad. 48 Hadis Muttashil adalah hadis yang rangkaian sanadnya bersambungan.49 E. 6. satu sanad. baik berupa ucapan. Mulai dari `Athâ’ bin Abiy Rabâh selanjutnya bercabang dua kepada Abû 47 Hadis Marfû` adalah hadis yang materinya disandarkan kepada Nabi Saw. Dari kitab Musnad Abî Hanifah. satu sanad.

Cit. Sehingga dapat dikatakan bahwasanya yang menjadi midâr al-sanad-nya hadis ini adalah `Abdurrahmân bin Habîb Ibn Ardak. (India: Dâ’irah al-Ma`ârif al-`Utsmâniyah. 283-284. Sunan al-Dâruquthniy. Al-Hâkim : Shahîh al-Isnâd. 17. Dari Hâtim bin Ismâ`îl setelah melalui beberapa rangkaian sanad. Al-Muntaqâ. yaitu: Syarh Ma`âniy al-Âtsâr. Op. Syarh Ma`âniy al-Âtsâr. (Beirut: Dâr Adlwâ’ al-Salaf. Dari Sulaymân bin Bilâl setelah melalui beberapa rangkaian sanad. j. 2. Mukhtashar al-Ahkâm. h. berujung di 2 (dua) kitab. Mukhtashar al-Ahkâm. h. dengan rincian sebagai berikut:51 1. Sunan al- Bayhaqiy al-Shaghîr. j. Dari `Abdul`azîz bin Muhammad al-Darâwardiy setelah melalui beberapa rangkaian sanad. sedangkan kualitas jarh wa ta`dîl-nya mukhtalaf fîh (diperdebatkan). 77. Penerimaan Abû Hanîfah hanya berujung di dirinya. berujung di 4 (empat) kitab. sedangkan penerimaan `Abdurrahmân bin Habîb Ibn Ardak selanjutnya bercabang diterima oleh empat orang muridnya. h. dan Sunan Sa`îd bin Manshûr.. 2445. 7. dan Sunan al-Dâruquthniy. yaitu: Sunan Abiy Dâwud. yaitu: Sunan Ibn Mâjah dan Sunan al-Turmudziy. berujung di 7 (tujuh) kitab. 51 Abû al-Hajjâj Yûsuf bin `Abdirrahmân bin Yûsuf Jamâluddîn Al-Mizziy. Cit. Sunan al-Dâruquthniy. Al-Talkhîsh al-Habîr. j. Dari Ismâ`îl bin Ja`far setelah melalui beberapa rangkaian sanad. dan Hâtim bin Ismâ`îl. h. 52 Muhammad bin Hibbân bin Ahmad bin Hibbânbin Mu`âdz bin Ma`bad Abû Hâtim. yaitu Sulaymân bin Bilâl. berujung di 5 (lima) kitab. 20 Hanîfah dan `Abdurrahmân bin Habîb Ibn Ardak. Loc. Natsl al-Nibâl bi Mu`jam al-Rijâl Alladzîna Tarjam Lahum Fadlîlah al-Syaykh al-Muhaddits Abû Ishâq al- Huwayniy. 2012). . 2007). Abû `Amr Ahmad bin `Athiyyah al-Wakîl. `Abdul`azîz bin Muhammad al-Darâwardiy. 1973). yaitu: Ahâdîts Ismâ`îl bin Ja`far. Min Tsiqât al-Madaniyîn. dan Al-Mustadrak.53 50 Abû al-Fadl Ahmad bin `Aliy bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar Al-`Asqlâniy. 52- 53. j. Ibn Hibbân : Dimasukkan ke dalam kitab al-Tsiqât-nya52 2. Al-Tsiqât. Syarh Ma`âniy al-Âtsâr. Ismâ`îl bin Ja`far. 5. 53 Abû `Abdullah al-Hâkim Muhammad bin `Abdillâh bin Muhammad bin Hamdawiyah bin Nu`aym bin Al-Hâkim. Syarh al-Sunnah.50 jika dikompromikan hanya sampai pada derajat maqbûl. Sunan al-Bayhaqiy al-Kubrâ. (Kairo: Dâr ibn `Abbâs..

Cit. 1999). 534. Al-Dzahabiy : Fîh Layyin. Berikut beberapa redaksinya: 1.58 Riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Thûsiy (w. (Qatar: Idârah Ihyâ’ al-Turâts al-Islâmiy. h. dan Abû Dzar al-Ghifâriy. Bughyah al-Bâhits `an Zawâ’ide Musnad al-Hâritz bin Abiy Usâmah. (Madinah: Markaz Khidmah al-Sunnah wa al-Sîrah al-Nabawiyah. Al-Mughniy fiy al-Dlu`afâ’. 625. 58 Abû `Abdullah al-Hâkim Muhammad bin `Abdillâh bin Muhammad bin Hamdawiyah bin Nu`aym bin Al-Hâkim. `Ubâdah bin al-Shâmit. 57 Abû al-Fadl Ahmad bin `Aliy bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar Al-`Asqlâniy. Cit. Ibn Hajar : Layyin al-Hadîts (dalam al-Taqrîb). 45. Ittihâf al-Khayrah al-Mahrah bi Zawâ’id al-Masânîd al-`Asyrah. 1. 312 H. Fudlâlah bin `Ubayd. `Uwaymar bin Mâlik. 21 3. 56 Syamsuddîn Abû `Abdullâh Muhammad bin Ahmad bin `Utsmân Al-Dzahabiy. 154). sebagaimana disimpulkan oleh Ibn Hajar. 59 Abû al-`Abbâs Syihâbuddîn Ahmad bin Abiy Bakr bin Ismâ`îl bin Salîm Al-Bushayriy. . j. 4. 55 Syamsuddîn Abû `Abdullâh Muhammad bin Ahmad bin `Utsmân Al-Dzahabiy. 1992). h. 4. akhirnya dapat disimpulkan bahwa kualitas sanad hadis ini adalah hasan.54 5.59 ُ،‫ُ ٌثناَ ٌلعجبةد ٌاَللرِه ٌبجةن ٌلِهيلعلة‬،‫ُ ٌثناَ ٌبِجشةر ٌبجةن ٌعةلملر‬،‫ث ٌبجةن ٌةملحرمِد ٌبجِن ٌألِبي ٌأةلساَلملة‬ ‫لرلواَهة ٌاَلجلحاَِر ة‬ 54 Abû al-Fadl Ahmad bin `Aliy bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar Al-`Asqlâniy. memiliki keunggulan (Jalâlah Isnâd) karena salah satunya diterima dari Al-Bukhâriy (Muhammad bin Ismâ`îl Al-Bukhâriy).. Al-Kâsyif fiy Ma`rifah Man Lahu Riwâyah fiy al-Kutub al-Sittah. dalam Tahdzîb mengutip pernyataan Al-Hâkim (Min Tsiqât al-Madaniyîn). Loc. 555. 159. j. h. (Jedah: Mu’assasah `Ulûm al-Qur’ân. h.56 Dari informasi tersebut. Nûruddîn al-Haytsamiy. 1. Tahdzîb al- Tahdzîb. baik dalam kitab Shahîh-nya maupun dalan al-Adab al-Mufrad. (India: Mathba`ah Dâ’irah al-Ma`ârif al-Nizhâmiyah. Sedangkan Al-Hâkim menilai dengan tegas bahwasanya hadis tersebut termasuk kategori sahih sanad. 1. sebagai mustakhraj dari riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Turmudziy (bertemu di `Abdurrahmân bin Habîb Ibn Ardak). 1326). h. Al-Nasâ’iy : Munkar al-Hadîts.). Loc. j. (Riyad: Dâr al-Wathan.57 Sebab dari sekian rangkaian sanad. j. 1987) j. 1992).. hanya saja Al- Bukhâriy tidak mengeluarkan hadis tersebut. 6. Sementara itu dari aspek i`tibâr syâhid ditemukan hadis yang semakna dari sahabat `Ubâdah bin al-Shâmit.55 Dalam kitab lain beliau menilainya Shadûq. Al-Talkhîsh al-Habîr. midâr al-sanad-nya tidak sampai pada derajat adil dan tamm al- dlabth (sempurna hapalannya).

beliau disifati dla`îf al-hadîts. yaitu dari Hasan al- Bashriy (22-110 H. 1409). Cit. j.) yang dikenal dengan nama Ibrâhîm bin Abiy Yahyâ al-Aslamiy. dan Ibn Hajar menilainya shadûq kemudian mengalami kepikunan setelah rumah beserta buku-bukunya terbakar.60 ‫ُ ٌلعجن ٌألِبي‬،‫سِن‬ ‫ُ ٌلعجن ٌةيَوُنة ل‬،َ‫ٌّ ٌلناَ ٌلعجبةد ٌاَجللجعللى‬:‫ُ ٌلقاَلل‬،‫لحردثليلناَ ٌألةبوُ ٌبلجكرر‬ ‫ُ ٌلعِن ٌاَلجلح ل‬،‫س‬ "‫ح ٌلواَلجلعلتاَةق ٌلواَلطرللةق‬ ِ ‫ث ٌلل ٌيَةيجللع‬ ‫ٌّ ٌاَلنلكاَ ة‬:‫ب ٌبِهرن‬ ‫ة‬ ‫ٌّ ٌ"ثللل ث‬:‫ُ ٌقلاَلل‬،‫اَلردجرلداَِء‬ Dalam rangkaian sanadnya terdapat keterputusan sanad. h.). Sehingga Imam Muslim juga meriwayatkan hadis Ibn Lahî`ah di dalam kitab Shahîh-nya.. sehingga hadis tersebut dinilai lemah. namun Ibn Syâhin menilainya tsiqah. Th. ‫ُ ٌلعجن ٌألِبي‬،‫ُ ٌلعجن ٌألِبي ٌِهلريَجيلرلة‬،‫ُ ٌلعجن ٌلعجبِد ٌاَلرجحلمِن ٌاَجللجعلرِج‬،‫ض‬ ‫ألجخبليلرِني ٌيَلِزيَةد ٌبجةن ٌِعلياَ ر‬ ُ،‫ث ٌِخللرل‬ ِ ‫غيير ٌثللل‬ ‫ر‬ ِ ‫ٌّ ٌ"يَجوُةز ٌاَللرِع‬:‫ ٌلقاَلل‬ٌ ‫ُ ٌألنن ٌرسوُلل ٌاَللرِه‬،‫اَلردرلداَِء‬ ‫ب ٌفي ٌةكنل ٌلشجيء ٌ لج ل‬ ‫ة‬ ‫لة‬ ‫لة‬ ‫ج‬ ‫ُ ٌإِجن ٌنللكلح ٌفليلقجد ٌلجاَلز ٌلوإِجن ٌطللرلق ٌفليلقجد ٌلجاَلز‬،‫شجيرء ٌِم جنيةهرن ٌلجاَلز ٌلوإِجن ٌلكِرله‬‫ب ٌبِ ل‬ ِ ‫فللمجن ٌلع ل‬ "‫ُ ٌلوإِجن ٌألجعتللق ٌفليلقجد ٌلجاَلز ٌِعلتاَقةةه‬،‫طلللقةةه‬ Dalam rangkaian sanadnya terdapat Yazîd bin `Iyâdl yang disifati mukar al- hadîts.). (Damam: Dâr Ibn al- Jawziy. Selain daripada itu. Op. semua periwayatnya tsiqat. T. 415 61 `Abdullâh bin Wahhab bin Muslim. `Uwaymar bin Mâlik. Oleh karenanya Yahyâ bin Ma`în menilai hadis-hadis Ibn Lahî`ah sangat layak untuk dijadikan hujah sebelum terjadinya musibah kebakaran. 114. . h. 2. 4. 92.) ke `Uwaymar/Abû al-Darda’ (w. beliau tercacat matrûk al- hadîts dan sering men-tadlîs. 22 ِ ‫صاَِم‬ ‫ٌّ ٌ"لل‬:‫ ٌلقاَلل‬ٌ ‫ُ ٌألنن ٌلرةسوُلل ٌاَللرِه‬،‫ت‬ ‫ُ ٌلعجن ٌعةلباَلدلة ٌبجِن ٌاَل ر‬،‫ثناَ ٌةعبليجيةد ٌاَللرِه ٌبجةن ٌألِبي ٌلججعلفرر‬ "‫ُ ٌفللمجن ٌلقاَلةهرن ٌفليلقجد ٌلولججبلن‬،‫ُ ٌلواَلجِعلتاَةق‬،‫ح‬ ِ ‫يَجوُةز ٌاَللرِع‬ ‫ُ ٌلواَلنلكاَ ة‬،‫ٌّ ٌاَلطرللةق‬:‫ب ٌفي ٌثلللث‬ ‫ة‬ ‫لة‬ Dalam rangkaian sanadnya terdapat `Abdullâh bin Lahî`ah bin `Uqbah al- Hadlramiy (97-174 H. h. 32 H.61 60 `Abdullâh bin Muhammad bin Ibrâhîm bin `Utsmân Abû Bakr ibn Abiy Syaybah. (Riyad: Maktabah al-Rasyd. Abû `Utsmân Sa`îd bin Manshûr bin Syu`bah al-Kharâsâniy. j.. 1. Muwaththa’ `Abdillâh bin Wahhab. Al-Kitâb al- Mushannaf fiy al-Ahâdîts wa al-Âtsâr.

Mushannaf `Abdirrazâq al-Shan`âniy. . beliau tercacat matrûk al-hadîts dan sering men-tadlîs. 304. sedangkan periwayat lainnya disifati tsiqah. 1994). h. F. Abû Dzar al-Ghifâriy:63 ‫ٌّ ٌلقاَلل ٌلرةسوُةل ٌاَللرِه‬:‫ُ ٌلقاَلل‬،‫ُ ٌألرن ٌأللباَ ٌلذرر‬،‫صجفلوُاَلن ٌبجِن ٌةسلجيرم‬ ‫ر‬ ِ ‫ُ ٌلعجن ٌ ل‬،‫لعجن ٌِإبجيلراَهيلم ٌبجِن ٌةملحرمد‬ ُ،‫ب ٌفليلعلتاَقةةه ٌلجاَئِثز‬ ِ ِ ِ ‫ُ ٌولمجن ٌألجعتللق ٌوةهلوُ ٌلع ث‬،‫ب ٌفللطلقةةه ٌلجاَئثز‬ ‫ُ ٌوةهلوُ ٌلع ث‬،‫ٌّ ٌ"لمجن ٌطللرلق‬: "‫ب ٌفلنِلكاَةحةه ٌلجاَئِثز‬ ِ ‫ولمجن ٌألنجلكلح ٌوةهلوُ ٌلع ث‬ Dalam rangkaian sanadnya terdapat Ibrâhîm bin Muhammad bin Sam`ân (w. h. (Kairo: Maktabah ibn Taymiyah.62 ‫ُ ٌلحردثلِني ٌلعجبةد‬،‫ُ ٌثناَ ٌاَبجةن ٌلِهيلعلة‬،‫ُ ٌلحردثلِني ٌألِبي‬،‫صاَلِرح‬ ‫لحردثليلناَ ٌيَلجحليىَ ٌبجةن ٌعةثجلماَلن ٌبجِن ٌ ل‬ ‫ضاَللة ٌبجِن ٌةعبليجيرد‬ ‫ُ ٌلعجن ٌفل ل‬،‫ي‬‫سبلِأ ن‬ ِ َ‫ش ٌبجِن ٌلعجبِد ٌا‬ ‫ل ٌاَل ر‬ ِ ‫ُ ٌلعجن ٌلحنل‬،‫ل ٌبجةن ٌألِبي ٌلججعلفرر‬ ِ َ‫ا‬ ُ،‫ُ ٌاَلطرللةق‬،‫ب ٌِفيِهرن‬ ِ ‫ث ٌلل ٌيَلةجوُةز ٌاَللرع ة‬‫ٌّ ٌ»ثللل ث‬:‫ ٌلقاَلل‬ٌ ‫ل‬ ِ َ‫ُ ٌلعن ٌرسوُِل ٌا‬،‫ي‬ ‫صاَِر ن ج ل ة‬ ‫اَجللنج ل‬ ُ«‫ُ ٌلواَلجِعجتةق‬،‫ح‬ ‫لواَلنلكاَ ة‬ Sama halnya dengan hadis dari `Ubadahbin al-Shâmit di atas. 134. Op. Meskipun terdapat beberapa hadis lain sebagai syawâhid. 63 Abû Bakr `Abdurrazâq bin Hammâm bin Nâfi` al-Humayriy Al-Shan`âniy.. serta tidak ada hadis lain yang menyelisihi dan menasakhkan (muhkam). j. Cit. 64 Mahmûd al-Thahhân. Al-Mu`jam al-Kabîr. 56. Sehingga dengan demikian kualitas hadis tersebut tidak beranjak dari derajat hasan. 184 H. 4. 18. (Beirut: al-Maktab al-Islâmiy. 6. Tathbîq atau Aplikasi Hadis Dalam tataran tathbîq al-hadîts. 23 3..) yang dikenal dengan nama Ibrâhîm bin Abiy Yahyâ al-Aslamiy. Fudlâlah bin `Ubayd. j. dalam hadis ini pun terdapat Ibn Lahî`ah. Al-Turmudziy menyatakan: ‫صرلىَ ٌاَللرةه ٌلع لجيِه ٌلولسلرلم ٌلوغلجيِرِهجم‬ ِ ِ ‫ب ٌاَلنربِني ٌ ل‬ ‫لواَللعلمةل ٌلعللىَ ٌلهلذاَ ٌعجنلد ٌألجهِل ٌاَلِعجلِم ٌمجن ٌأل ج‬ ِ َ‫صلحا‬ 62 Abû al-Qâsim Sulaymân bin Ahmad bin Ayyûb bin Muthîr Al-Thabrâniy. h.64 maka termasuk ke dalam kategori maqbul ma’mul bih (diterima dan wajib diamalkan). namun semuanya memiliki kualitas sanad lebih rendah dari pada hadis pokok yang diriwayatkan oleh Abû Hurayrah. 1403). dikarenakan hadis tersebut dikualifikasikan hadis hasan garib.

meskipun diucapkan dengan bercanda.. j. dan yang lainnya. berdasarkan berita dari Al-Turmudziy: 65 `Alâ’uddîn Abû Bakr bin Mas`ûd bin Ahmad Al-Kâsâniy. (Beirut: Dâr al-Fikr.65 ِ ِ ‫شررط ٌفليييلقع ٌطلللةق ٌاَلجهاَِزِل ٌِباَلطرللِق ٌواَلرلِع‬ ‫ي ٌلعجن‬ ‫ب ٌللماَ ٌةرِو ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫س ٌبِ ل ج ل ة‬ ‫لولكلذاَ ٌلكجوُنة ةِه ٌلجاَدداَ ٌلجي ل‬ ُ،‫ح ٌلواَلطرللةق ٌلواَلجلعلتاَةق‬ ‫ث ٌلجددةهرن ٌلجدد ٌلولهجزلةةهرن ٌلجدد ٌاَلنلكاَ ة‬ ‫ ٌألنرةه ٌقلاَلل ٌ»ثللل ث‬ٌ ‫لرةسوُِل ٌاَللره‬ ُ«‫ح ٌلواَلطرللةق ٌلواَلرججلعةة‬ ‫ي ٌاَلنلكاَ ة‬ ‫لوةرِو ل‬ Dan demikian pula adanya kesungguhan bukanlah menjadi syarat. talak. 100. yaitu nikah. j. dan membebaskan budak. Sehingga ketika seseorang mengucapkan salah satu dari tiga kalimat tersebut. Pernyataan Al-Turmudziy tersebut menegaskan bahwasanya semenjak zaman sahabat Nabi Saw. Syarh Mukhtashar Khalîl li al- Kharsyiy. sehingga talak jatuh dari orang yang bercanda dengan kata-kata talak. dengan bercanda memutlakkan kalimatnya pun tetap jatuh talak. 66 Abû `Abdullâh Muhammad bin `Abdillâh Al-Kharsyiy. 4. dan dilakukan dengan bercanda hasilnya tetap serius. 2. h. 1986). berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw. dan rujuk. ketika sudah memenuhi ketentuannya.. talak.66 َ‫لولِزلم ٌاَلطرللةق ٌإجن ٌلهلزلل ٌبِِإيَلقاَِعِه ٌاَتنيلفاَققاَ ٌبلجل ٌلولجوُ ٌلهلزلل ٌبِِإطجللِق ٌلجفِظِه ٌلع لجيِه ٌلعللى‬ ُ«‫ح ٌلواَلطرللةق ٌلواَلرججلعةة‬ ِ ‫ث ٌلهجزلةةهرن ٌجدد ٌاَلنلكاَ ة‬ ‫ي ٌ»ثللل ث‬ ‫ف ٌلِلخبلِر ٌاَلتنيجرِمِذ ن‬ ِ ‫اَلجمعرو‬ ‫ل جة‬ Disepakati bahwasanya talak menjadi luzum meskipun dijatuhkan dengan bercanda. T. tetap dinilai dapat menimbulkan efek hukum.. Talak dan Rujuk. 3. yaitu Nikah.th). dan diriwayatkan pula dengan redaksi: nikah. bahwasanya beliau bersabda: Tiga hal yang dilakukan dengan serius hasilnya serius. hadis di atas dijadikan landasan hukum oleh ulama fikih. bahkan diketahui umum. Badâ’i` al-Shanâ’i` fiy Tartîb al- Syarâ’i`. h. Hanafiyah. . Berikut pandangan para ahli fikih dari emapat madzhab: 1. Malikiyah. 32. 24 Pengamalan hadis tersebut dilakukan oleh para ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Saw. (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah.

Abû Dâwud dan Al-Turmudziy meriwayatkan hadis tersebut. berdasarkan apa yang diriwayatkan Abû Hurayrah. serius dan bercanda.68 ‫ُ ٌألجو ٌلجم ٌيَليجنِوُِه( ٌقلجد ٌذللكجرلناَ ٌألرن‬،‫ُ ٌنليلوُاَةه‬،‫صِريَِح ٌاَلطرللِق ٌلِزلمةه‬ ‫ٌّ ٌ)لوإِلذاَ ٌأللتىَ ٌبِ ل‬:‫لمجسأللثة؛ ٌلقاَلل‬ . 4. dan rujuk. h. Al- Mughniy li Ibn Qudâmah. (Kairo: Maktabah al-Qâhirah. Hanabilah.‫ك‬ ‫ف ٌِفي ٌلذلِ ل‬ ‫ُ ٌلولل ٌِخلل ل‬،‫صرد‬ ِ ‫ُ ٌبلجل ٌيَليلقةع ٌمجن ٌغلجيِر ٌقل ج‬،‫ج ٌإللىَ ٌنِيررة‬ ِ ‫صِريَلح ٌاَلطرللق ٌلل ٌيَلجحلتاَ ة‬ ‫ل‬ ُِ،‫ُ ٌإلذاَ ٌلكاَلن ٌصِريَحاَ ٌِفيه‬،‫ُ ٌِمن ٌغليِر ٌنِيررة‬،‫وِللرن ٌماَ ٌيَيعلتبير ٌلهة ٌاَلجلقوُةل ٌيَجكتلِفي ٌِفيِه ٌبِِه‬ ‫ل ق‬ ‫ج ج‬ ‫ج ل‬ ‫ل ل ةج لة‬ ِ ‫ث ٌجددةهرن ٌجدد‬ ِ ِ ِ ‫ٌّ ٌ»ثللل ث‬:ٌ ‫صلد ٌاَلجلمجزلح ٌألجو ٌاَلججرد؛ ٌللقجوُِل ٌاَلنربِني‬ ‫ ٌلولسلوُاَثء ٌقل ل‬. dan dilakukan dengan bercanda hasilnya tetap serius. yaitu nikah. bahkan talak jatuh meskipun tanpa disertai maksud. j. AL-Bayân fiy Madzhab al- Imâm al-Syâfi`iy. dan dilakukan dengan bercanda hasilnya tetap serius. 2000). yaitu nikah. dan rujuk. Karena sesungguhnya yang diiktibar dari talak itu adalah ucapan. dan rujuk. berdasarkan sabda Nabi Saw. .‫ُ ٌلوألةبوُ ٌةعبليجيرد‬،‫شاَفِِعدي‬ ‫ ٌلوبِِه ٌلقاَلل ٌاَل ر‬. talak.: Tiga hal yang dilakukan dengan serius hasilnya serius. tidak ada perbedaan pendapat tentang hal tersebut. talak. seperti dalam jual beli.‫لكاَجلبليجيِع‬ ٌّ:‫ُ ٌلولقاَلل‬،‫ي‬ ‫ُ ٌلواَلتنيجرِمِذ د‬،‫ُ ٌلواَلرججلعةة«ُ ٌلرلواَةه ٌألةبوُ ٌلداَةود‬،‫ُ ٌلواَلطرللةق‬،‫ح‬ ِ ‫لولهجزلةةهرن ٌجدد ٌاَلنلكاَ ة‬ َ‫ُ ٌلعللى‬،‫ظ ٌلعجنةه ٌِمجن ٌألجهِل ٌاَلجِعجلِم‬ ‫ٌّ ٌألججلملع ٌةكدل ٌلمجن ٌألجحلف ة‬:‫ ٌلقاَلل ٌاَبجةن ٌاَلجةمجنِذِر‬. 73. dan dilakukan dengan bercanda hasilnya tetap serius. h.‫ألرن ٌجرد ٌاَلطرللق ٌلولهجزلةه ٌلسلوُاَثء‬ ِ ُ‫ٌّ ٌلوةهلو‬:‫ ٌقلاَلل ٌألةبوُ ٌةعبليجيرد‬. Syafi`iyah. (Jedah: Dâr al-Minhâj..67 ‫ٌّ ٌأن‬:‫ُ ٌواَلجد ٌواَلهزل؛ ٌلماَ ٌروى ٌأبوُ ٌهريَرة‬،‫ويَقع ٌاَلطلق ٌفي ٌحاَل ٌاَلرضاَ ٌواَلغضب‬ ُ«‫ٌّ ٌاَلنكاَح ٌواَلطلق ٌواَلرجعة‬:‫ٌّ ٌ»ثلث ٌجدهن ٌجد ٌوهزلهن ٌجد‬:‫ ٌقاَل‬ٌ ‫اَلنبي‬ Talak jatuh dalam kondisi sukarela dan marah. baik dengan maksud berkelakar maupun serius. 68 Abû Muhammad Muwaffiquddîn `Abdullâh bin Ahmad bin Muhammad Ibn Qudâmah. cukuplah untuk jatuhnya talak itu sebuah ucapan talak yang tidak disertai niat jika kalimatnya jelas. 10.‫سثن‬ ‫ث ٌلح ل‬ ‫لحِديَ ث‬ . 25 Tiga hal yang dilakukan dengan serius hasilnya serius. dan berkata: Hadis 67 Abû al-Husayn Yahyâ bin Abiy al-Khayr bin Sâlim Al-`Umrâniy.‫ُ ٌلواَبجِن ٌلمجسةعوُرد‬،‫ب‬ ِ َ‫ي ٌلهلذاَ ٌلعجن ٌعةلمر ٌبجِن ٌاَلجلخرطا‬ ‫ل‬ ِ ‫ ٌةرِو ل‬. yaitu nikah. disertai niat maupun tidak) Telah kita paparkan bahwasanya talak yang jelas tidak membutuhkan niat. 1968). j.‫ُ ٌلوةعبليجيلدلة‬،‫لونلجحةوُةه ٌلعجن ٌلعلطاَرء‬ . 7. Ibn Qudâmah berkata: (Talak menjadi luzum jika didatangkan dengan kalimat yang jelas. 397. bersabda: Tiga hal yang dilakukan dengan serius hasilnya serius.‫ُ ٌلوألجهِل ٌاَلجِعلراَِق‬،‫قليجوُةل ٌةسجفلياَلن‬ Sebuah masalah. 3. bahwasanya Nabi Saw. talak.

70 Hadis tersebut adalah Sunan Ibn Mâjah. Dustûr al-`Ulamâ’. Syarh al-Sunnah li al-Baghawiy. Mufradât dan Maksud Lafal Dari 14 mashâdir ashliyah. yaitu didahului dengan nikah. 47 dan 48). kemudian cerai. Ahâdîts Ismâ`îl bin Ja`far. Al-Muntaqâ li Ibn al-Jârûd. 69 dan 10 hadis mendahulukan kalimat nikah dari pada talak dan rujuk. disebabkan pada umumnya masyarakat lebih banyak yang melakukan kecerobohan dalam hal penjatuhan talak dibandingkan melakukan akad nikah. Sementara yang mendahulukan kalimat nikah tampaknya lebih kepada pertimbangan urutan saja. Sunan al- Dâruquthniy (No. h. kemungkinan besar redaksi yang mendahulukan kalimat talak. 45). Namun jika mencermati realita di masyarakat. 1. Dan terhadap pendapat tersebut Al-Syâfi`iy dan Abû `Ubayd berpendapat. ibn Mas`ûd dan semacamnya dari `Athû’ dan `Ubaydah. Sunan Abiy Dâwud.70 Tidak diketahua apa yang menjadi penyebab terjadinya perbedaan redaksi tersebut. dengan total 27 rangkaian sanad. Syarh Ma’aniy al-Atsar al-Thahawiy. G. Abû `Ubayd berkata: Dan itu adalah pendapatnya Sufyân al-Tsawriy dan penduduk Irak. Al-Mustadrak liy al-Shahîhayn. Ibn Mundzir berkata: Para ahli ilmu yang menerima hadis tersebut bersepakat bahwasanya talak serius dan bercanda nilainya sama saja. namun terdapat perbedaan pada saat memaparkan tiga hal tersebut. yang terdiri dari 16 hadis. 26 tersebut hasan. sehingga talak menempati prioritas untuk diberi perhatian dengan cara mendahulukannya pada saat pemaparan redaksi hadis tersebut. . 6 hadis lebih mendahulukan kalimat talak daripada nikah dan rujuk. Sunan Al-Turmudziy. 2000). Sunan al-Dâruquthniy (No. Dan itu merupakan lawan dari Al-Hazl (‫)الهزل‬.71 69 Hadis tersebut adalah Musnad Abî Hanifah. Sunan Sa`îd bin Manshûr. jika dikelompokkan berdasarkan kemiripan redaksi. Meski dalam redaksi awal sama. dan terakhir rujuk. Diriwayatkan dari `Umar bin Khaththab. antara yang mendahulukan kalimat talak dan yang mendahulukan kalimat nikah. 71 Al-Qâdhiy `Abdunnabiy bin `Abdirrasûl al-Ahmad Nakriy. 264. maka didapatkan 2 kelompok hadis sebagaimana dijelaskan sebelumnya. (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah. Al-Sunan al-Kubrâ al-Bayhaqiy. Al-Sunan al-Shaghîr al-Bayhaqiy. Mukhtashar Ahkâm li al-Thûsiy. j. Jâmi` al-`Ulûm fiy Ishthilâhât al-Funûn. Al-Jiddu (‫ )الجد‬mengandung arti bermaksud terhadap makna hakiki maupun majazi dalam pengucapannya.

khususnya kalimat talak. 328. seandainya telah memenuhi ketentuan syarat dan rukun masing-masing dari ketiga hal tersebut. yang sering bertindak ceroboh dalam pengucapan kata-kata talak. contohnya 72 Ibid. Sehingga untuk meluruskan hal tersebut lahirlah hadis yang isinya memberikan peringatan bahwasanya tiga kalimat tersebut tidak bisa dilakukan dengan seenaknya. maka jika telah memenuhi ketentuan. maka dapat dinyatakan sah meski tidak ada niat atau maksud dari pengucapannya. I. . j.72 Nikah berasal dari kata nakaha (‫ )نكككح‬yang mengandung arti akad yang membolehkan hubungan intim antar laki-laki dan perempuan. tidak ditemukan informasi tentang penyebab lahirnya hadis tersebut. talak dan rujuk. Adapun rujuk berasal dari kata raja`a (‫ )رجع‬adalah kalimat yang dipakai untuk menghalalkan kembali hubunagn perkawinan yang sudah putus yang diakibatkan oleh talak raj`iy. Asbâb al-Wurûd Dalam penelusuran penulis. Hanya saja dimungkinkan ini terkait dengan kebiasaan masyarakat pada waktu itu. H. Istinbath Ahkam dan Hikmah Sebagaimana yang telah disinggung dalam poin tathbîq atau aplikasi hadis. Sedangkan hikmah dari adanya hadis tersebut adalah penekanan terhadap harus adanya kehati-hatian terhadap tiga kalimat dimaksud yang tidak dapat begitu saja dijadikan bahan lelucon. h. Sedangkan talak ( ‫ )طلق‬adalah salah satu penyebab putusnya perkawinan yang merupakan bagian dari jenis perceraian selain dari fasakh (pembatalan perkawinan). 27 Sedangkan al-Hazl adalah ucapan yang tidak dimaksudkan terhadap makna hakikinya dan juga makna majazinya. Karena jika saja kalimat tersebut dilontarkan. 3. selanjutnya dari hadis tersebut ditarik sebuah hukum bahwasanya melontarkan kata-kata nikah.

188. j. maka pada saat itu pula mereka sudah putus hubungan perkawinannya. sehingga oleh penyarah Sunan Abiy Dâwud dikutip pernyataan Al- Khaththâbiy sebagai berikut:73 َ‫صِريَلح ٌلجفِظ ٌاَلطلق ٌإذاَ ٌجرى ٌعلى‬ ِ ‫لقاَلل ٌاَلجلخرطاَبِدي ٌاَتريلفلق ٌلعاَرمةة ٌألجهِل ٌاَلجعجلِم ٌلعللىَ ٌألرن ٌ ل‬ ‫ت ٌللِعقباَ ٌألجو ٌلهاَِزقل ٌألجو‬ ‫لساَن ٌاَنساَن ٌاَلجلباَلِِغ ٌاَلجلعاَقِِل ٌفلِإنرةه ٌةملؤاَلخثذ ٌبِِه ٌلولل ٌيَلي جنيلفعةةه ٌألجن ٌيَليةقوُلل ٌةكجن ة‬ . j. Bandingkan dengan Abû Sulaymân Hamd bin Muhammad bin Ibrâhîm bin al-Khththâb al- Khaththâbiy. 6. Ma`âlim al-Sunan Syarh Sunan Abiy Dâwud. J.‫ك ٌِملن ٌاَجلةةموُِر‬ ‫لجم ٌألنجِوُِه ٌطلللققاَ ٌألجو ٌلماَ ٌألجشبلله ٌلذلِ ل‬ Al-Khaththâbiy berkata: Keseluruhan ahli ilmu sepakat bahwasanya kalimat talak yang jelas jika keluar dari lisan seseorang yang balig. 3. h. dan tidak bermanfaat klaim bahwa ia hanya bercanda atau tidak berniat menalak. 28 dilakukan oleh seorang suami sah kepada istri sahnya. h. maka dapat menimbulkan implikasi hukum. 243. Musykilat fi Tafhim dan Tathbiq Secara umum tidak ditemukan kemuskilan dalam memahami hadis tersebut. (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah. . (Halabi: al-Mathba`ah al-`Ilmiyah. Selanjutnya Al-Khaththabiy menambahkan: ِ َ‫ك ٌبِلقوُِل ٌاَللرِه ٌسجبحاَنلةه ٌوتليعاَللىَ ٌولل ٌتليترِخةذواَ ٌآيَا‬ َ‫ت ٌاَل ٌهزوا‬ ِ ِِ ‫ل‬ ‫ة ل لل ل‬ ‫ض ٌاَلجعةللماَء ٌفي ٌلذل ل ج‬ ‫لواَجحتلرج ٌبليجع ة‬ ‫ت ٌاَجللجحلكاَةم ٌلولجم ٌيَةيجؤلمجن ٌةمطللنثق ٌألجو ٌلناَكِثح ٌألجو ٌةمجعتِثق ٌألجن‬ ِ ‫ك ٌللتليعطرل‬ِ ِ َ‫ولقاَلل ٌلوُ ٌأةطجلِلق ٌِللرنا‬ ‫س ٌلذل ل ل‬ ‫ج‬ ‫ل‬ ‫غييةر‬ ‫ت ٌِفي ٌقليجوُِلي ٌلهاَِزقل ٌفلييلةكوُةن ٌفي ٌذلك ٌإِبجلطاَةل ٌةحجكِم ٌاَللرِه ٌتليلعاَللىَ ٌلولذلِ ل‬ ‫ك ٌ لج‬ ‫يَليةقوُةل ٌةكجن ة‬ ِ َ‫شيرء ٌِمرماَ ٌجاَء ٌِذجكرةه ٌِفي ٌلهلذاَ ٌاَلجحِدي‬ ‫ث ٌلِزلمةه ٌةحجكةمةه ٌلولجم ٌيَةيجقبلجل‬ ِ ‫ر‬ ِ ‫ل‬ ‫لل ة‬ ‫لجاَئرز ٌفلةكدل ٌلمجن ٌتللكللم ٌب ل ج‬ ‫ِمجنةه ٌألرن ٌاَلجةمردلعىَ ٌِخللفةةه ٌلولذلِ ل‬ ‫ك ٌتلأجِكيثد ٌِللجمِر ٌاَلجةفةروِج ٌلواَجحتِلياَ ث‬ . 1415). 1932).‫ط ٌلةه ٌلواَللرةه ٌألجع لةم‬ 73 Abû `Abdurrahmân Muhammad Asyraf bin Amîr bin `Aliy bin Haydar al-`Azhîm Âbâdiy. `Awn al-Ma`bûd Syarh Sunan Abiy Dâwud. atau klaim semacamnya. berakal.

hadis tersebut termasuk kategori hadis ahad garib mutlak. 2. dan Rujuk. . Sedangkan untuk kualitasnya masuk kategori hasan. Khulâshaḧ wa Natîjaḧ Dari paparan sebelumnya dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari aspek kuantitas rawi. yaitu Nikah. Talak.. Sedang dari dari aspek penyandaran kepada Nabi Saw. hadis ini termasuk hadis marfû` dan muttashil. Terdapat 16 hadis yang memaparkan bahwasanya terdapat tiga hal yang serius dan bercandanya tetap dinilai serius. karena midâr al- sanad-nya hanya mencapai kualifikasi shudûq. sehingga dikategorikan sebagai hadis musnad. 29 K..

S.-F. Sunan Sa`îd bin Manshûr.-H. A. Al-Kharsyiy. (2000). S. Mîzân al-I`tidâl fiy Naqd al-Rijâl. Al-Kâsâniy. Jedah: Mu’assasah `Ulûm al-Qur’ân. Al-`Umrâniy. a. Al-Jârûd. Al-Baghawiy. Riyad: Maktabah al-Rasyd li al-Nasyr wa al-Tawzî`. Beirut: Dâr al- Kutub al-`Ilmiyah.-H. Al-Mughniy fiy al-Dlu`afâ’.-H. `. M.-S. Al-Islâmiyah. A. al-Mustadrak `Alâ al-Shahîhayn.-F. Al-`Asqalâniy. A. `. AL-Bayân fiy Madzhab al-Imâm al-Syâfi`iy. (1992). (2003). A. (1989). `Awn al-Ma`bûd Syarh Sunan Abiy Dâwud. a.-F. S. Al-Haytsamiy. `. b.-F. Al-Bushayriy. Beirut: Dâr al-Kutub al- `Alamiyah. Damaskus: Mathba`ah al-Shabâh.-N. Al-Anshâriy. Al-Kâsyif fiy Ma`rifah Man Lahu Riwâyah fiy al- Kutub al-Sittah. (1347). (1999). Jedah: Dâr al-Minhâj. (1404). (2004). B. Beirut: al-Maktabah al- Islâmiy. Beirut: Dâr al- Fikr.-H. a. Kuwait: Dâr al-Salâsil. (n.-H.d. Madinah: Markaz Khidmah al-Sunnah wa al-Sîrah al- Nabawiyah. (2000). Mesir: Al-Mathba`ah Al-Salafiyah. Al-Bayhaqiy. M. A. I. A. Nuzhah al-Nazhar fiy Tawdîh Nukhbah al-Fikr fiy Mushthalah Ahl al-Atsar. Riyad: Dâr al-Wathan. Al-Hâkim. 30 Daftar Pustaka Âbâdiy. A. A. Bughyah al-Bâhits `an Zawâ’ide Musnad al-Hâritz bin Abiy Usâmah. A. A. . A. A. (1992). Ittihâf al-Khayrah al-Mahrah bi Zawâ’id al- Masânîd al-`Asyrah. Syarh al-Sunnah. Karachi: Jâmi`ah al-Dirâsât al-Islâmiyah. W. Hadîts `Aliy bin Hajar al-Sa`diy `an Ismâ`îl bin Ja`far.-H. Beirut: Dâr al- Ma`rifah. Badâ’i` al-Shanâ’i` fiy Tartîb al-Syarâ’i`. (1990). (1998). Al-Dzahabiy. A. Qatar: Idârah Ihyâ’ al- Turâts al-Islâmiy. Al-Dâruquthniy. N. Al-Dzahabiy. (1986). (1983). Syarh Mukhtashar Khalîl li al-Kharsyiy. a. Beirut: Muassasah al- Risalah. B. a. A. a. A. Al-Mawsû`ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaytiyah. (2007). Beirut: Dâr Adlwâ’ al-Salaf. Al-Muntaqâ min al-Sunan al-Musannadah. Al-Dzahabiy. Al-Bayhaqiy. `. A.-K.-`. A. (1982). A. Bulûgh al-Marâm min Adillah al-Ahkâm.). (1988). Sunan al-Dâruquthniy. Al-Kharâsâniy. (1415). India: al-Dâr al-Salafiyah. Al-Talkhîsh al-Habîr. Al-Sunan al-Kubrâ. Beirut: Dâr al- Kutub al-`Ilmiyah. Al-‘Asqalâniy. Al-Sunan al-Shaghîr li al-Bayhaqiy.-`. `. Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah. Beirut: Mu’assasah al-Kitâb al-Tsaqâfiyah. Al-`Asqalâniy. A. (1987). (1963).

Shalâh. Mukhtashar al-Ahkâm. Kairo: Maktabah ibn Taymiyah. Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah. (2003). Tuhfah al-Asyrâf bi Ma`rifah al-Athrâf. a. 31 Al-Khathîb. Al-Thûsiy. `. `. Mengkaji Paradigma Periwayatan. (1989). Syarh Ma`âniy alÂtsâr. Beirut: Dâr al-Risâlah al- `Âlamiyah.-K. Al-Taqrîb wa Al-Taysîr li Ma`rifah Sunan Al-Basyîr Al- Nadzîr fiy Ushûl Al-Hadîts.-H. I. (1986). J. J. M. A. Ma`rifah Anwâ` `Ulûm al-Hadîts. Faydh al-Qadir Syarh al-Jâmi' al-Shaghîr. A. A. Al-Thabrâniy. M. (n. `. Al-Mizziy. `.d. (2012). (1985). (2009). Soetari. Sunan Ibn Mâjah. (n. Beirut: Dâr al-Kutub al- `Ilmiyah. (1998). `. Beirut: Dâr al-Kitâb al-`Arabiy.-K. Al-Turmudziy.-S. (1399). Nakriy. Al-Sakhâwiy. Tahdzîb al-Kamâl fiy Asmâ’ al-Rijâl. M. b. al-Bâ`its al-Hatsîts ilâ Ikhtishâr `Ulûm al-Hadîts.-A.-A. Al-Thahâwiy. (1932). Beirut: al-Maktabah al- `Asyriyah. Al-Mughniy li Ibn Qudâmah. A. Atsîr. Beirut: al- Maktabah al-Islâmiy. Z. Beirut: Maktabah al-Hulwâni. Beirut: Dar al-Ma’rifah. Problematika Hadits. A. (2000). A. M. India: Dâ’irah al-Ma`ârif al-`Utsmâniyah. Qudâmah.). A. Ma`âlim al-Sunan Syarh Sunan Abiy Dâwud. Sunan Abiy Dâwud. A. Asas-asa Hukum Pidana. A.-R. Mushannaf `Abdirrazâq al-Shan`âniy. Jâmi` al-Ushûl fiy Ahâdîts al-Rasûl. Halabi: al-Mathba`ah al-`Ilmiyah. A. (1997).). Beirut: Dâr al-Gharb al- Islâmiy. Ushûl al-Hadîts `Ulûmuh wa Mushthalahuh. A. D.-D. Al-Tsiqât. Hâtim. J. Maktabah Adhwa` al-Salaf.-H.d. Al-Shan`âniy. Kairo: Maktabah al- Qâhirah. Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah. Beirut: al- Maktab al-Islâmiy. Al-Suyûthi. (1972). Jakarta: Rineka Cipta. A. Moeljatno. Katsîr. Beirut: Dâr al-Fikr. Sunan al-Turmudziy. (1971). Dustûr al-`Ulamâ’. Natsl al-Nibâl bi Mu`jam al-Rijâl Alladzîna Tarjam Lahum Fadlîlah al-Syaykh al-Muhaddits Abû Ishâq al-Huwayniy. `. A. Kairo: Dâr ibn `Abbâs. Al-Munawiy. S. . Al-Mizziy.-R. Beirut: Dâr al-Fikr. Bandung: Gunung Djati Press. (1973). Al-Tawdhîh al-Abhar li Tadzkirah Ibn al- Mulaqqin fi ‘Ilm al-Atsar.). M.d. A. (1993). `. ‘. E. a.-H.-Q. Al-Khaththâbiy. (1994). a.-Q. Al-Sijistân. M.-F. Al-Mu`jam al-Kabîr.-H. (1983). Al-Wakîl. Al-Qazwayniy. S. Jâmi` al-`Ulûm fiy Ishthilâhât al- Funûn. (1998). (1968).-M.-A. (1403). A. Indonesia: Maktabah Dâr Ihyâ’ al-Kutub al-`Arabiyah. A. (1980). Riyad: Dâr al-Mu’ayyad. Al-Nawawi. A. Beirut: Mu’assasah al-Risâlah. (n. Al-Jâmi` al-Shaghîr fiy Ahâdîts al-Basyîr al-Nazhîr. B.

A.d. b. Surabaya: Toko Kitab Hidayah. (n. Taysîr Musthalah al-Hadîts. `. Musnad Abiy Hanifah. A. . Riyad: Maktabah al-Rasyd. Leiden: Briel. al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Hadîts. A.-N. (1936). 32 Syaybah. Al-Kitâb al-Mushannaf fiy al-Ahâdîts wa al-Âtsâr. Tsâbit. (2008).-I.). M. (1409). Libanon: Dâr al-Kutub al- `Ilmiyah. Thahhân. Weinsinck.

Related Interests