Review Article

Operasi Katarak pada Uveitis
Rupesh Agrawal,1 SomashielaMurthy,2 Sudha K. Ganesh,3 Chee Soon Phaik,4
Virender Sangwan,2 and Jyotimai Biswas3

Operasi katarak pada mata uveitis sering kali menantang dan bisa menghasilkan komplikasi
intraoperative dan postoperatie. Kebanyakan pasien dengan uveitic menikmati pengelihatan
yang baik walaupun terdapat potensi komplikasi light threatening (perawatan pengelihatan),
termasuk berkembangnya katarak. Pada pasien yang terjangkit katarak, suksesnya proses
operasi bergantung pada seleksi pasien yang berpendidikan (memiliki pengetahuan tentang
operasi ini), tekhnik operasi yang hati-hati, kontrol peradangan preoperative dan
postoperative yang agresiv. Dengan proses pengertian dan pemahaman terhadap penyakit
yang telah berkembang, kontrol pre- dan postoperative, tekhnik operasi modern, ketersediaan
desain dan material lensa biocomatibel , pengalaman dalam kompleksitas operasi katarak,
dan manajemen yang efisien atas komplikasi postoperative te;ah merujuk dan mengarahkan
pada hasil yang lebih baik. Faktor preoperatif termasuk seleksi pasien secara tepat dan
konseling, juga control inflamasi preoperative. Operasi katarak yang teliti, cermat, dan hati-
hati pada katarak uveitis adalah intisarinya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Manajemen komplikasi postoperative, khususnya inlamasi dan glukoma, penanganan secara
segera dan penundaan, juga turut serta menjadi faktor yang dapat mempengaruhi hasil.
Manuskrip ini adalah review atas adanya literatur dan management pearls dalam menangani
kerumitan katarak berdasarkan pada MEDLINE search of Literature, dan juga pengalaman
penulis.

1. Pengenalan

Salah satu tugas yang cukup meragukan untuk opthalmic surgeon adalah manajemen katarak
yang rumit. Katarak pada uveitis memungkinkan untuk berkembang sebagai sebuah hasil dari
inflamasi intraocular, atas penggunaan chronic corticosteroid atau lebih sering dari keduanya.
Kejadian katarak pada uveitis bervariasi dari 57% pada pars planitis hingga 78% pada fuchs
heteochromic iridocylitis (FHL). Operasi katarak pada mata uveitis adalah suatu hal yang
menantang dan bisa menghadirkan banyak komplikasi intraoperative yang tidak diinginkan.
Dua dekade yang lalu hasil dari operasi pada mata tersebut dijaga dan sering tidak.
Dengan semakin berkembangnya pmahaman proses penyakit, optimlisasi

immunosuppression untuk kontrol periooperative atas inflamasi, tekhnik operasi yang
minimal invasive, ketersediaan desain, material untuk biocompatible dan intraocular
dan juga ahli bedah yang sudah terlatih dalam melakukan operasi katrak dan
manajemen anticipatory dari komplikasi postoperative, hasilnya telah dimaksimalkan.

Moriditas okular pada pasien yang mengalami kesulitan dalam menjalani operasi
katarak sekarang menjadi terbatasi hanya pada kasus-kasus yang memiliki perubahan
pre-existing pada saraf optik atau saraf retina seprerti misal irreversible macular
scarring athropy pada saraf optic. Yang penting dari operasi katarak pada pasien
dengan bentuk uveitis yang berbeda akhir-akhir ini sudah pernah dibahas dan sudah
di-review oleh beberapa penulis. Paper ini menyediakan dari beberapa hasil tulisan
tentang topik dan materi yang sama dan juga bermaksud untuk mengatur management
pearls dalam menangani kerumitan katarak berdasarkan hasil tulisan dan juga
beberapa kombinasi pendapat dan pengalaman dari penulis dalam menjalankan
operasi katarak. Pencarian extensiv tulisan menggunakan OVID medlina search engine
dan seluruh database yang terdapat di perpustakaan telah digunakan untuk cross
matching untuk mendapatkan artikel-artikel yang dibutuhkan tentang operasi katarak
pada uveitis.

2. Prespekitif Historis
perubahan operasi katarak pada uveitis. Hingga adanya corticosteroid pada awal 1960an,
sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk mengendalikan inflamasi ocular, artikel yang
membahas tentang ekstraksi katarak pada perdangan mata melaporkan bahwa komplikasi
berat banyak terjadi.

Dibanyak kasus, komplikasi yang terjadi pada penurunan daya lihat bahkan kehilnagn daya
lihat pada mata sudah di tandai. Publikasi yang lebih baru telah melaporkan bahwa terjadi
penurunan pada insiden komplikasi intraoperative dan postoperative selama ekstraksi katarak
pada uveitis. Alasan yang paling banyak atas perkembangan yang sangat luas ini akan
dimunculkan dan akan meningkatkan kemampuan utuk mengendalikan inflamasi secara
perioperative dan perubahan yang sangat cepat pada tekhnik microsurgical (bedah mikro)
yang terjadi akhir-akhir tahun ini.

tingkatan ini membuat banyak perbedaan yang ditandai diantara banyak syndrome yang ada.1. dengan maksud untuk melaporan frekuensi. Kejadian yang dilaporkan berkenan dengan pembentukan katarak pada syndrome FHI berkisar antara 15% sampai dengan 75% dan kebanyakan insiden yang dilaporkan sekitar 50% terjadi pada usia dewasa. opasifikasi viterous progressive.1. Sebagaian besar katarak bertipe posterior subcapsular. Apabila pasien symptomatic. Sejauh ini informasi yang paling sering muncul berkenaan dengan operasi katarak pada pasien mata dengan uveitis meliputi mereka yang juga memiliki FHI. Bedah Katarak pada Pasien dengan Fuchs Heterochromic operasi katarak pada pasien dengan fuchs heterochromic iridocylitis (FHI). Bagaimanapun juga. dan corneal edema dilaporkan oeh beberapa penulis. Banyak studi tentang ekstraksi katarak dengan FHI yang telah melaporkan komplikasi insignifikan pada intraoperative dan postoperative. Ekstraksi Katarak pada Uveitik yang Berbeda. Beberapa faktor yang pelu diingat saat memutuskan literatur mana yang akan digunakan berkenaan dengan ekstraksi katarak pada pasien dengan uveitis. Komplikasi lainnya seperti pelepasan retina. dan pasien sering tidak mengetahui tentang kondisinya hingga komplikasinya berkembang ata inflamasinya ditemukan selama pemeriksaan mata rutin. dua gejala yang paling umum pada saat presentasi adalah pandangan yang kabur sebagai hasil dari pembentukan katarakdan vitreous floaters. posterior synechiae jarang terbentuk. . dengan sisanya berbentuk cortical atau tercampur. pengobatan koplikasi kembali terlihat pada saat operasi katarak dengan FHI. formasi synechiae extensive. glukoma. 3. dan penyelesaian pendarahan vitrous spontan. 3. Untuk menyimpulkan. Infrormasi tentang inflammatory squelae memungkinkan untuk berkembang pada tingkatan yag relativ bisa diperkirakan pada mata dengan inflammatory syndrom. hyphema. Itulah betapa pentingnya untuk menentukan tiap-tiap syndrome secara terpisah saat memutuskan hasil dan komplikasi yang akan terjadi setelah ekstraksi katarak. Review of Current Literature 3.1. Uveitis cenderung terdapat pada tingkat-tingkat bawah dan kronis.

3. komplikasi yang terjadi hanya PCO yang berkembang pada 6 mata (14. komplikasi pandangan yang paling signifikan dikarenakan ekstraksi katarak pada mata dengan FHI menunjukkan perkembangan menjadi glukoma. Pada periode lanjutan antara 17. extensive posterior synechiae.8 ± 8. 20/400 menghitung jari pada 30%. Javadi dan koleganya memiliki hasil yang “save” dengan phacoemulsification dan implantasi lensa intraokular dalam kantong (in-the bag intraocular lense implantation) dengan FHI. Bagaimanapun juga koplikasi yang berasal dari syndrom jauh lebih berbahaya.6% hingga 76%.7 bulan. dan hypothony atau glukoma. dan 101 menggunakan lensectomy dan limited anterior vitrectomy. dan lebih baik lagi pada 20/60 pada 56% . Lebih dari 162 mata.1. 61 diantaranya telah di atasi dengan needling dan aspiration. Ketajaman yang kabur adalah penyebab utama dari akuitas visual postoperative kurang dari 20/20. Peningkatan permanen IOP dilaporkan dan berkembang pada beberapa saat mengikuti prosses operasi pada mata dari 3% hingga 35%. Bedah Katarak pada Pasien dengan Juvenile Idiopathic Athritis (JIA).2. Banyak studi yang telah melaporkan hasil postoperative yang sangat buruk pada ekstraksi katarak secara konvensional bahkan tanpa implantasi lensa intraocular. inflamasi kronis jaringan nongranulomatous anterior diasosiasikan dengan kondisi sepert ini sering kali asymptomatis datang setelah komplikasi. Pasien JIA dengan seri terbesar yang mendapatkan ekstraksi katarak telah dilaporka oleh Kanski dan Shun-shin.6%). Pandangan mengikuti gerak tangan sebanyak 15% pada mata yang di beri penanganan lensectomy. Indikasi literatur yang secara umum menangguangi komplikasi termasuk perban keratopathy. artikel terbaru melaporkan bahwa insiden hyphema lebih rendah daripada yang telah dilaporkan sebelumnya. mungkin sebuah hasil dari penggunaan tekhnik bedah mikro yang telah dikembngkan. sebaga tambahan untuk katarak. Tidak seperti inflamasi yang diubungkan dengan FHI.Insiden yang dilaporkan berkenaan dengan pendarahan interoperative dan postoperative bervariasi dari 3. Rehabilitasi untuk 40-60% mata dengan JIA yang berkembang menjadi katarak sangat lebih sulit darpada penanganan pada mata dengan FHI. mendapatkan akuitas visual postoperative 20/40 atau lebih baik dari itu dari keseluruhan 41 mata pada seri mereka.

namun penelitian dibatasi oleh jumlah pasien yang sangat kecil [26]. Itu hasil visual yang baik (> 0. Penambahan vitrectomy terbatas dalam kombinasi dengan pengangkatan lensa mengakibatkan penurunan dalam kejadian phthisis dari 25% sampai 2% dalam serangkaian yang dijelaskan oleh Kanski [34]. Sebuah studi yang lebih baru oleh Kotaniemi dan Penttil pada tahun 2006 melaporkan hasil yang baik pasca operasi berikut implantasi lensa intraokular pada pasien dengan juvenil idiopatik arthritis terkait uveitis dimana operasi katarak dengan implantasi lensa intraokular dilakukan dalam 36 mata dan yang rata-rata masa tindak lanjutnya pasca operasi adalah 3.5) di 11%. Selanjutnya beberapa studi melaporkan sukses hasil pasca operasi dengan komplikasi terbatas dengan imunosupresi perioperatif dan pasca operasi. dan buruk(0. Operasi harus ditunda sampai ruang anterior bebas dari sel-sel inflamasi ("flare" akan bertahan). Dalam tulisan monumentalnya. Studi lain yang sama mengungkapkan hasil menguntungkan dengan vitrectomy pada pasien dengan JIA terkait uveitic katarak [35]. Kesuksesesan penggunaan implantasi lensa intraokular pada uveitis dilaporkan oleh Probst dan Holland pada tahun 1996 dimana visual akuitas 20/40 atau lebih baik dicapai pada delapan mata pada masa tindak lanjut rata-rata dari 17. sedang (0.3 tahun. Katarak sekunder telah berkembang dalam 16 mata namun tidak ada mata dengan capsulotomy posterior primer dan anterior vitrectomy.5 bulan.5) di 64%. . dan periokular steroid dianjurkan selama periode perioperatif untuk semua mata dengan uveitis yang berhubungan dengan JIA yang mengalami katarak Jurnal Peradangan 3 ekstraksi.3-0. Pasien dioperasi pada usia rata-rata sekitar dua belas tahun.3) di mata 25%. Foster menggambarkan bahwa penggunaan kortikosteroid pra operasi dan pasca operasi secara intensif dan dilaporkan mandapat akuitas visual dari 20/40 atau lebih baik pada 67% pasien dan tidak ada intraoperatif besar atau pasca operasi komplikasi [22].Konsep penting yang memadai imunosupresi tidak sampai menuju ke toleransi nol pada peradangan dan penghapusan setiap sel yang sangat dianjurkan dan didukung oleh studi klinis bahwa pasien dengan JIA yang menjalani operasi katarak mendapatkan hasil melihat visual yang lebih baik. Pengobatan dengan sistemik. topikal. yang hampir lima tahun setelah diagnosis JIA dalam studi ini sebagai perlawanan dengan kelompok anak muda usia pertngahan dalam penelitian lain.

Jika terjadi seklusi atasi oklusi pupil. Sejumlah faktor digabungkan untuk membuat operasi katarak lebih berbahaya pada pasien ini. Untuk alasan ini. traksi . operasi katarak tidak dapat ditahan atau ditunda terlalu lama sementar dia berjuang untuk menjaga mata diam dalam persiapan untuk operasi.Glaukoma sekunder sudah berkembang dalam 18 mata. dan keratopati band pada 12 mata [36]. 70% dari mata memiliki ketajaman visual dari 20/40 atau lebih baik dan 30% mengalami perbaikan visual yang ketajamannya mencapai 20/60. ablasi retina dalam 2 mata. Baru ini menerbitkan studi oleh Ganesh dan rekan yang telah menganalisa sepuluh mata dari 7 pasien yang memiliki phacoemulsification dengan implantasi IOL dilakukan oleh dokter ahli bedah tunggal. Mata ini telah ditandai kecenderungan untuk membentuk sinekia [22]. Selanjutnya capsulotomy. melihat ekstraksi katarak pada anak dengan uveitis kronis dengan 21 dari 34 anak yang mendapati JIA dilaporkan toleransi yang baik terhadap lensa intraokular pada pasien JIA dan hasil visual yang baik pasca operasi dengan kontrol yang inflamasi optimal dengan terapi imunomodulator. Studi lain yang diterbitkan tahun 2009 oleh Qui ~ nones et al. Hal ini mungkin menyebabkan glaukoma ganas jika iris menempel kembali ke kapsul anterior. primer dengan anterior vitrectomy terbatas dapat dipertimbangkan pada anak di bawah usia enam sampai delapan tahun sebagai melakukan capsulotomy YAG di periode pasca operasi untuk kekeruhan kapsul posterior mungkin sulit pada anak sangat muda. Itu tindak lanjut rata-rata dilaporkan dalam penelitian ini adalah lebih dari empat tahun [33]. Pupil sekunder menghalangi perkembangan glaukoma menjamin pheriperal operasi iridectomy [26] Dengan pembentukan membran cyclitic. Sebuah heparin surfacemodified IOL digunakan dalam 7 mata dan akrilik foldable IOL digunakan dalam 3 mata. Kekeruhan kapsuler Posterior ditemukan di 2 mata dan fibrosis kapsul anterior dalam 1 mata [37]. Kebanyakan pasien dengan JIA berada di usia amblyogenic ketika mereka mengembangkan katarak dan ahli bedah harus mengingat hal ini dalam pikiran ketika merencanakan operasi katarak. Pada akhir tindak lanjut. menghasilkan pembuntalan dari IOL [26]. makula edema cystoid dalam 16 mata. Implantasi IOL ke dalam kantong kapsuler pada saat penghapusan katarak sering menghasilkan pembentukan posterior synechiea dan pengembangan membran selama IOL.

beberapa komplikasi lain terlihat. sinekia jarang berkembang dan kemungkinan terjadinya glaukoma rendah [2]. Bedah Katarak pada Pasien dengan Intermediate Uveitis. dengan kejadian yang dilaporkan sekitar 25% dalam kebanyakan studi. 3. hasil dari operasi katarak di pasien dengan JIA sering dibatasi oleh keadaan saraf optik dan makula dan dapat dikompromikan dengan kehadiran keratopati pita [21. Sebagai peradangan kronis tetap ada di dekat lensa. katarak akhirnya berkembang pada 40% pasien [2]. Umumnya. komplikasi masih sangat nyata meskipun telah dikembangkan bahan biokompatibel IOL. beberapa mata hypotonous pada saat ekstraksi katarak dikontemplasikan [22. dan peradangan tampaknya tetap berada di bawah kontrol setelah operasi.3. Selain itu untuk membuat operasi secara teknis lebih sulit. 35]. . hanya setengah dari katarak dalam satu seri besar akhirnya menjadi visual signifikan [2]. meskipun terdapat aktifitas ruang anterior ringan dalam beberapa kasus.1. Peradangan pada mata dengan pars planitis dibatasi terutama pada segmen posterior. dan penyakit paru-paru. Jadi. 22. Hal ini bertentangan dengan peradangan yang terlihat pada sindrom Fuchs atau JIA yang dihubungkan dengan uveitis. bahkan dengan operasi katarak yang sukses. Meskipun glaukoma adalah umum pada sindrom ini karena kronisitas peradangan. hypotony dikaitkan dengan peningkatan risiko efusi choroidal pasca operasi. Sebagai hasil dari komplikasi resiko tinggi yang bisa berkembang setelah operasi. 24]. edema makula. Telah terlihat beberapa derajat di hampir setengah dari mata yang menjalani ekstraksi katarak dan bertanggung jawab untuk 80% mata dengan pengelihatan kurang dari 20/40.proses ciliary dan tubuh ciliary memperngaruhi hypotony dan penyakit paru-paru bulbi jika operasi tidak dilakukan sejak dini. Edema makula adalah komplikasi utama yang dihadapi setelah operasi pada pasien pars planitis dan merupakan penyebab utama pandangan buruk. Kekeruhan lensa pertama berkembang sebagai kabut difus di wilayah subcapsular posterior. Dikarenakan ruang anterior sebagian besar bebas dari peradangan di uveitis intermediate. masih ada kontroversi seputar implantasi sebuah IOL pada saat operasi [29]. Sebagian besar katarak tetap pada tahap ini. yang terletak terutama pada anterior lensa.

4. reaktivasi intermediate uveitis antara 51%. yang menutup secara paralel dengan tingkat alamiah glaukoma dalam sindrom ini[7]. dan perawatan pasca operasi yang teliti. 4. IOL deposit di 29%.67 bulan.Insiden glaukoma setelah operasi katarak pada uveitis rata-rata sekitar 10%. Ada beberapa studi yang menunjukkan hasil pasca operasi yang baik dengan vitrectomy 4 Jurnal Peradangan Iternasional dengan ekstraksi katarak pada pasien dengan uveitis intermediate kronis[43-47]. Di penelitian ini. ketelitian pembedahan. CME di 50%. fibrosis submacular. terjadi sampai 36% dari kasus[1]. 20.1. dan membran epiretinal. dengan sekitar sepertiga dari semua pasien mengalami prognosis meskipun terapi. Dilaporkan bahwa ketajaman visual pasca operasi secara signifikan menjadi lebih rendah pada mata dengan BD daripada di mereka dengan uveitis idiopatik karena posterior parah segmen komplikasi. . Alasan yang mungkin untuk hasil yang bervariasi adalah bahwa uveitis intermediate dapat mengambil variable pembelajaran klinis. Bedah katarak pada Bachet's Desease. Tiga penyebab penyembuhan pandangan buruk yang paling sering adalah CME. implantasi in the bag IOL. Pembentukan katarak adalah komplikasi segmen aterior yang peling umum terjadi setelah peradangan berulang. Para penulis menyimpulkan bahwa phacoemulsification dengan implantasi IOL di mata dengan pars planitis aman dan menyebabkan hasil visual yang baik dalam banyak kasus. Mereka mengaitkan keberhasilan untuk mengendalikan peradangan. terutama atrofi optik [48]. decentration IOL di 1%. 3. Sejumlah penelitian telah melaporkan hasil yang bervariasi dalam ekstraksi katarak pada pasien dengan uveitis intermediate [2. dan fibrosis kapsul anterior di 14%. 91% dari mata menunjukkan hasil visual yang menguntungkan pada rata-rata tindak lanjut berkisar 19. 38-42]. Sebuah penelitian besar oleh Ganesh dan rekan pada tahun 2004 [38] menganalisa hasil phacoemulsification dengan implantasi lensa intraokular di 100 mata dengan uveitis intermediate. Komplikasi utama dilaporkan oleh penulis dalam penelitian ini adalah kekeruhan posterior kapsuler signifikan yang terjadi pada 10%.

[52] melakukan operasi katarak pada 19 mata VKH. Kelompok ini mencakup pasien dengan uveitis terkait dengan sarkoidosis. Vogt-Koyanagi.5% dari mata. dan prognosis untuk sukses. Komplikasi segmen posterior seperti pembentukan membran epiretinal. risiko. 3. penghapusan total bahan kortikal harus menggantikan. komplikasi lain adalah seynchiae posterior dan peradangan parah. selama peradangan telah absen setidaknya dua sampai tiga bulan sebelum operasi.. dan atrofi optik juga dilaporkan oleh penulis. Rekomendasi mereka untuk operasi katarak yang berhasil dan untuk meminimalisir uveitis pasca operasi adalah sebagai berikut. dan satu bagian PMMA posterior chamber intraocular lens harus digunakan jika pasien dan ahli bedah memahami sifat khusus dari operasi ini. Namun. Pada tahun 1983. Reynard dan Meckler [53] melaporkan hasil ekstraksi katarak di . Penulis melaporkan hasil phacoemulsification dan implantasi lensa intraokular pada pasien dengan penyakit Behcet ini [49]. makula edema cystoid. Komplikasi yang paling sering dilaporkan oleh mereka adalah kekeruhan posterior kapsuler di 37. mereka melaporkan 72. toksoplasmosis. Moorthy et al. obat imunosupresif harus dilanjutkan. dan jenis lain uveitis.5% dari mata mengalami perbaikan dalam pengelihatan setelah operasi. ophthalmia simpatik. Operasi Katarak Pada Pasien Dengan Idiopathic dan Other Bentuk Lain dari Uveitis. steroid sistemik dan topikal steroid harus digunakan secara profilaktik selama 1 minggu sebelum operasi dan dilanjutkan pasca operasi. Duke- Elder [50] dan Smith dan Nozik [51] keduanya dilaporkan berdasarkan bukti anekdotal bahwa pasien tersebut baik-baik saja setelah operasi konvensional. pengelihatan semakin memburuk di 17.5% dari mata. Di makalah lain oleh Berker et al. Alasan yang paling umum untuk BCVA <6/12 adalah gangguan pigmen di makula.5.1. Mengoperasi pada mata dengan katarak dan uveitis sebelumnya telah ditinjau oleh Foster dan rekan [8]. 68% dari mata memiliki koreksi akuitas pengelihatan terbaik (best corrected vision acuity)(BCVA) dari> 6/12.Pembedahan diindikasikan bila perbaikan visual dapat diharapkan dan mata telah bebas dari peradangan untuk minimal 3 bulan. Uveitis harus tidak aktif selama minimal 3 bulan sebelum operasi.Harada (VKH) sindrom.

dan dalam satu kasus katarak itu. Dua mata mencapai ketajaman visual yang lebih baik dari 20/40 selama periode tindak lanjut. Penglihatan meningkat dalam semua kasus. paling serius tampaknya pengembangan posterior sinekia dan 6/14 mata (43%). makula patologi terlihat pasca operasi. Katarak telah dihapus dengan teknik ekstrakapsular. Hasil dari pembedahan tergantung pada beberapa faktor. Beberapa komplikasi yang dicatat.. dengan mata yang mencapai paling baik 20/40 atau ketajaman visual yang lebih baik.79%) mata. penlayanan yang tepat pada saat pre operasi dan dan ketelitian pembedahan. semua mata memerlukan pengobatan steroid selama tindak lanjut untuk mengontrol terjadinya kembali peradangan. Pada tahun 2004 Ganesh et al. dan 14/16 mata telah mendapat implan lensa bilik intraokular posterior. Semua pasien memiliki kurang dari 0-2 sel ruang anterior untuk setidaknya tiga bulan sebelum operasi. [55] melaporkan hasil operasi katarak di 59 mata VKH dan menemukan peningkatan BCVA per satu atau lebih baris pada tabel Snellen dalam 40 (67. Evaluas Klinis Kerumitan Katarak dan Uveitis terasosiasi. Setelah operasi.enam mata pasien dengan Oftalmia simpatik. Fox dkk. Semua mata menunjukkan peradangan minimal pada saat operasi. [23] menjelaskan 16 pasien dengan berbagai jenis dari uveitis terkait dengan ankylosing spondylitis di 5 dan penyakit radang usus dua.. yang berkisar dari satu sampai 23 tahun. dengan peradangan kronis dan edema makula. 4.. seperti menentukan apakah lensa intraokular harus ditanamkan atau tidak.. Peradangan yang tidak terkendali menyebabkan pembentukan cyclitic membran atau phthisis di tiga mata meskipun terapi kortikosteroid. dua mata menjalani ekstraksi katarak intrakapsular. Tiga mata dengan peradangan pascaoperasi parah hanya bisa melihat dan merespon cahaya. Mata 61% mencapai ketajaman visual stabil> 6/12. satu mata. tiga ekstraksi katarak ekstrakapsular. PCO terlihat pada 38 (76%) mata. termasuk phacoemulsification. Mata yang kehilangan penglihatan biasanya disebabkan oleh pembentukan katarak biasanya mendapatkan keuntungan dari operasi katarak.1.. diikuti dengan atrofi optik dan subretinal gliosis. . mempertahankan pengelihatan 20/100. Diagnosis uveitic yang spesifik adalah sangat penting begitu pula ketika merencanakan strategi bedah [4]. Akova dan Foster [54] menganalisis hasil dalam 21 mata sarkoidosis. yaitu diagnosis uveitic.

Selain itu. dimana protein lensa bocor keluar dari tas kapsul yang melalui kapsul utuh. Dalam kehadiran keburaman lensa yang padat.2. .Penyakit yang menyerang segmen posterior umumnya memiliki prognosis yang lebih baik daripada mereka yang mempengaruhi makula dan / atau optik saraf. indikasi yang pasti untuk menghilangkan katarak di mata yang tidak buta. atau bekas luka. Di mata dengan komplikasi retina kronis. keadaan retina juga harus hati-hati diperiksa untuk bukti iskemia. adalah phacoantigenic uveitis. Ini mungkin hasil dari kadaan hypermature dari katarak. atau disebabkan oleh trauma. Terlepas dari prognosis yang terjaga. pasien JIA. Kondisi makula dan saraf optik harus dikaji dengan teliti selama penilaian pra operasi. seperti yang dihasilkan dari membran neovascular Choroidal. di mana kapsul lensa telah ditembus. Operasi katarak mungkin juga diindikasikan untuk memungkinkan visualisasi yang lebih baik dari posterior segmen untuk manajemen medis atau bedah yang sesuai mata [57]. yang menyebabkan peradangan intraokular tetap. Sindrom uveitic akut cenderung berhubungan dengan hasil yang lebih baik dari uveitis kronis. ditentukan oleh sebelum krusakan struktur secara permanen. makula edema kronis. Kurang menonaktifkan kelainan seperti sudah ada bekas luka kornea dan atrofi iris yang parah juga dapat menkompromikan hasil pengelihatan. 4. Kontrol Pre Operative Inflammation.kemungkinan operasi katarak tidak dapat menghasilkan hasil pengelihatan yang optimal dan yang diinginkan dan kasus tersebut diserahkan kepada kebjakan ahli bedah untuk beroperasi di bawah prognosis visual yang nihil atau untuk alasan kosmetik (Angka 1 (a) dan 1 (b)). terutama mereka dengan uveitis anterior di kelompok usia anak [56] memiliki hasil lebih buruk dibandingkan pasien dengan ankylosing spondylitis dan uveitis anterior. Demikian pula. atrofi. Dengan demikian. harus hati-hati ditentukan sebelum merencanakan operasi katarak karena hal ini akan memiliki dampak langsung pada hasil visual. B scan ultrasonografi harus dilakukan untuk melakukan pemindahan retina yang dapat mempersulit mata dengan uveitis. Potensi pengelihatan dari mata. atrofi optik dan parah cupping dari disk optik adalah tanda-tanda prognostik buruk. Macular iskemia. adalah faktor pognosis yang buruk.

Ini telah terbukti sama efektifnya dengan resep steroid sistemik perioperatif. kontrol optimal peradangan periokular sangat penting dalam kasus-kasus dengan sclerokeratouveitis untuk hasil bedah dan pengelihatan yang optimal (Angka 2 (a) dan 2 (b)). bersama dengan sebuah agen non-steroid oral dan topikal anti-inflamasi. menengah uveitis). penyakit Behcet ini dan birdshot choroidopathy. Demikian pula. misalnya pada penderita diabetes kurang terkontrol. Selain itu. sementara mempertahankan dosis lain terapi imunosupresif secara bersamaan. Pada mata yang berada pada risiko berkembangnya edema makula pasca operasi. Retinochoroiditis . seperti triamcinolone acetonide 40mg/1mL mungkin diberikan. misalnya. Atau. profilaksis pra operasi juga harus dianggap sebagai operasi yang dapat memicu pengaktifan kembali infeksi. seperti toksoplasmosis okular dan herpes simpleks uveitis.1ml pada kesimpulan dari operasi katarak [60-62]. seperti uveitis anterior kronis sekunder untuk sarkoidosis. Umumnya. orbital floor atau injeksi sub-tenon dari depot steroid. terutama pada pasien dimana yang memiliki kontraindikasi dosis tinggi oral steroid. Didukung oleh hasil yang menggembirakan dalam penulisan terakhir. Vogt-Koyanagi Harada. Demikian pula. lisan steroid yang diberikan atau dikurangi ke tingkat pra operasi selama bulan berikutnya. penulis mendukung suntikan intravitreal bebas pengawet triamcinolone acetonide 4 mg dalam 0.Resiko reaktivasi uveitis harus dinilai. profilaksis steroid harus diberikan pada mata yang beresiko untuk kembali kambuh dan uveitis setelah operasi katarak. dapat diberikan. seperti respon steroid yang sudah didokumentasikan atau uveitis menular. profilaksis steroid harus diberikan secara perioperatif untuk melindungi terhadap kambuhnya pembengkakan makula. Jancevski dan Foster merekomendasikan penggunaan perioperatif tambahan terapi antiinflamasi untuk mencegah kerusakan pada struktur mata penting untuk penglihatan yang baik [58]. pemberian dosis steroid sesuai dengan jumlah peradangan pasca operasi. Hal ini telah terbukti mengurangi risiko pasca operasi CME [59]. guttae prednisolon asetat 1% 2 per jam diberikan 2 hari sebelum operasi. Ini mungkin membutuhkan berupa steroid oral 1 mg per kg / hari dimulai 3 hari sebelum operasi. jika tidak ada kontraindikasi untuk suntikan steroid periokular. Di mata dengan jenis uveitis yang infeksius yang memiliki kecenderungan untuk kambuh. atau mata dengan episode sebelumnya CME (misalnya. menyebut.

4 Diagnostic Aids. seseorang dapat menerapkan metode tambahan seperti pupil respon. Jika tubuh ciliary ditemukan terlepas dan proses yang muncul di bawah traksi dari membran (cyclitic) ciliary. Melakukan tes potensi makula menggunakan laser interferometri dapat membantu dalam menentukan potensial visual yang minimal [67]. Tanda-tanda peringatan lain seperti seclusio papila dengan membaca tekanan normal intraokular dan phacodonesis yang jelas tanpa zonulysis tanda-tanda penting untuk prognostik hypotony pasca operasi yang buruk. Komplikasi Uveitis Yang Mempengaruhi Hasil Operasi : Kasus Bedah Resiko Tinggi. Selain itu. adalah berisiko tinggi mengembangkan hypotony pasca operasi atau bahkan penyakit phthisis bulbi. Selain sarana standar tujuan makula. Sebuah angiogram fundus . Jika tubuh ciliary memiliki mengalami atrofi. respon proyeksi cahaya. atau lubang [66]. 4. atrofi formacular. Menentukan risiko bedah adalah aspek yang sangat penting dari penilaian pra operasi. 4. herpes simpleks juga berhubungan dengan aktivasi kembali karena stres operasi. NSAID topikal dan NSAID asetat 1% atau bahkan prednisolone oral dapat membantu mengendalikan peradangan pascaoperasi [64]. risiko hypotony tinggi. dan asiklovir 400 mg atau tawaran Valtrex 0. Kehadiran efusi Choroidal pada B scan ultrasonografi atau difusi koroid yang menebal adalah tanda prognosis yang buruk.5 g qd sebelum operasi dan selama 2 sampai 3 minggu pasca operasi mungkin membantu mencegah kekambuhan.3. saraf optik dan fungsi retina. terutama pembacaan 6mmHg atau kurang bahkan ketika diam. Mata yang memiliki tekanan intraokular umumnya rendah. operasi katarak harus dikombinasikan dengan vitrectomy dan pemangkasan dari membran ciliary dibantu oleh lekukan dari sklera untuk meringankan traksi ciliary body dan untuk mengembalikan IOP normal. atau mencoba OCT dalam mencari edema. Melakukan biomicroscopy ultrasonik adalah penting di mata dengan hypotony relatif [65] untuk menilai keadaan ciliary body dan prosesnya.toksoplasma dikaitkan dengan risiko 36% dari operasi reaktivasi berikut [63]. persepsi warna dan B scan ultrasonografi. Mata yang uveitis yang sulit dikendalikan juga berisiko tinggi parah pasca operasi peradangan dan penyakit phthisis bulbi atau hypotony.

Menekankan bahwa mata akan memerlukan jangka waktu ketenangan minimum sebelum operasi untuk meminimalkan kemungkinan kekambuhan dan meningkatkan hasil visual adalah penting. seperti adanya sinekia. terutama jika ada phacodonesis.6. Faktor lain yang membutuhkan diskusi dan . Waktu Optimal Untuk Cataract Surgery. atau glaukoma. Jurnal Peradangan 7 dan sebagainya. Mengingat risiko hypotony pasca operasi dan untuk mengesampingkan membran cyclitic sebelum operasi di kasus uveitic kronis dengan pupil terikat seperti dijelaskan di atas. dan bahwa faktor-faktor ini dapat menyebabkan peradangan pasca operasi. dokter mata harus berusaha untuk memastikan bahwa mata telah diam selama 3 bulan [11]. peradangan intraokular masih belum sepenuhnya hilang dan operasi sangat dibutuhkan. 4. Sebuah studi dari Jepang menunjukkan bahwa pada pasien dengan penyakit Behcet di mata harus tidak aktif selama minimal 6 bulan dan bahwa risiko lebih tinggi jika serangan telah terjadi dalam waktu 12 bulan operasi katarak [70]. Dalam kasus di mana.fluorescein juga dapat menunjukkan iskemia makula atau edema. Selain itu. termasuk kebocoran disc [68]. pasien dapat diberikan intravena metilprednisolon 1 g sehari sebelum operasi. hypotony. Akhirnya. 4. meskipun dalam imunosupresi berat. seperti infeksi dan komplikasi intraoperatif lain juga perlu dijelaskan secara menyeluruh. ini telah terbukti mengurangi risiko pasca operasi CME [59].5. seperti dalam katarak intumescent. Penting untuk menjelaskan operasi yang mungkin rumit dan mungkin memakan waktu lebih lama dari biasanya karena anatomi tidak normal. membran. Hal ini juga membantu panduan terapi karena dapat digunakan untuk memantau tingkat peradangan di bilik mata depan selama periode pasca operasi [69]. penyakit segmen posterior aktif. ultrasound biomicroscopy juga dapat membantu perencanaan bedah pra operasi [65]. Konseling pasien untuk Uveitic Cataract Surgery. iskemia retina. meteran suar laser adalah alat yang berguna untuk mengukur suar di ruang anterior dan dapat digunakan untuk menentukan jika mata dalam keadaan tenang. Sebelum menjadwalkan operasi. Resiko yang umum terjadi pada operasi. Aspek yang paling penting dari konseling ketika merencanakan untuk melakukan operasi katarak untuk mata uveitic adalah menjelaskan prognosis visual.

pilihan dari pemisahan.penjelasan termasuk kemungkinan dan alasan untuk pemulihan penundaan visual. Pasien ini lebih baik dengan implan IOL monofocal. implan multifokal. kekeruhan yang diamati selama operasi. Pasien-pasien ini kebanyakan usia muda. atau proses lambat fibrosis kantong kapsuler. sebagaimana akan dibahas kemudian (lihat IOL implantasi-kontraindikasi dan jenis IOL). Kekeruhan kapsul posterior merupakan komplikasi yang sering ditemui pasca operasi karena pasien relatif dari anak-anak muda[75]. Pemilihan lensa intraokular dapat berdasarkan literatur yang luas tersedia [39. dan retina detasemen. . Pilihan IOL. terutama jika pasien mengalami kesulitan mengakses perawatan medis. dan teknik bedah adalah faktor penentu yang utama. 71-74]. Kemungkinan ini harus didiskusikan dengan pasien sebelum operasi. Terkadang. bertahap. bahan. Bahkan IOLs akomodatif mungkin tidak efektif dalam jangka panjang karena peradangan berulang dan melukai tubuh ciliary. mereka perlu memahami dan menerima fakta bahwa mereka sekarang akan memerlukan kacamata untuk membaca. Jenis IOL implan. dan sering tindak lanjut. terutama mengingat dari peningkatan risiko pasca operasi endophthalmitis. baik berdasarkan diffractive atau prinsip-prinsip bias dapat menghasilkan gangguan penglihatan karena adanya makula yang sudah ada sebelumnya atau kondisi saraf optik. dan beberapa ahli bedah lebih suka untuk melakukan primer posterior capsulorhexis pada saat operasi katarak sebelum menanamkan IOL [76]. dan desain adalah semua poin penting yang perlu didiskusikan. kebutuhan untuk keteraturan dengan pengobatan (imunosupresi sistemik mungkin perlu disesuaikan). Umumnya. atau operasi gabungan harus didiskusikan dengan pasien dan saran yang diberikan mengenai risiko dan manfaat [77]. Jika pasien memiliki komplikasi selain pembentukan katarak saja. Vitreous gel yang kabur atau terluka berkontribusi pada sensitivitas kontras yang buruk dan setiap episode sebelumnya berkenaan dengan peradangan dengan keterlibatan makula meningkatkan risiko dari kinerja visual yang buruk dengan implan multifokal. oleh karena itu kehilangan lensa masih mampu mengakomodasikan dalam pertukaran dengan implan lensa intraokular berarti hilangnya akomodasi. CME. Akibatnya.

keterampilan bedah dan pengalaman. Selama operasi. mata dapat dengan aman diberikan aphakic sampai masalah retina telah ditangani. Mengenai komplikasi retina. setelah dikeluarkan steroid responden dan mata dengan uveitis yang infeksius.5. Untuk mata dengan glaukoma uveitic bersamaan.1. operasi katarak dapat dikombinasikan dengan vitrectomy. tidak hanya mengalami kesulitan dalam menempatkan dagu mereka pada seluruh celah-lampu tetapi juga berbaring di operasi meja . operasi katarak dapat dikombinasikan dengan operasi vitreoretinal. sebuah intravitreal injeksi triamcinolone acetonide. seringkali cukup untuk mengontrol peradangan pasca operasi dan mencegah CME. terutama ketika tulang belakang leher yang terlibat. 5. sehingga mengurangi kekeruhan vitreous. anatomi segmen anterior harus dikembalikan ke kondisi sebisa mungkin mendekati normal. Beberapa mata katarak uveitic ini dipersulit oleh glaukoma atau masalah retina yang juga dapat mengambil manfaat dari operasi. Di uveitis intermediate. Pemilihan teknik operasi katarak sebaiknya diserahkan kepada dokter bedah dan tergantung pada individu ahli bedah. Pada mata dengan uveitis intermediate. seperti membran epiretinal atau coexisting ablasi retina. seringkali tidak hanya meningkatkan visi tetapi juga mengontrol inflamasi intraokular dan membantu menyelesaikan cystoid makula edema. dilakukan untuk membersihkan vitreous gel. Pada akhir operasi. Surgical Technique 5. atau FHI. Risiko dan manfaat menggabungkan atau memisahkan prosedur bedah harus benar-benar dijelaskan kepada pasien. operasi adalah sebaiknya tidak dikombinasikan dengan operasi katarak dengan risiko kegagalan bleb meningkat dengan drainase inflamasi cataract postoperasi eksudat melalui penyembuhan bleb.2. operasi katarak harus dilakukan terlebih dahulu. Intraoperative Surgical Techniques and Skills [78] (a) Postur. Bila memungkinkan. Dalam kasus dengan masalah retina utama. terutama dengan prosedur bedah gabungan. Choice of Surgery. Pasien dengan ankylosing spondylitis dengan fleksi tetap deformitas tulang belakang aksial. Penghapusan katarak oleh phacoemulsification lebih aman untuk uveitic katarak dikarenakan radang kurang diinduksi daripada dengan ekstrakapsular ekstraksi katarak manual.

(e) Pembesaran Pupil. Preservativefree intracameral lignocaine 1% juga dapat digunakan untuk membantu melebarkan pupil hanya jika tidak terikat. paling baik tali terpasang di sekitar batang tubuh untuk mencegah tubuh dari tergelincir. Pasien-pasien ini paling baik diposturkan dalam posisi Trendelenburg. sayatan harus dari cukup panjang untuk mencegah prolaps iris di mata dengan pupil kecil atau membentang. Entah suntikan bebas pengawet anestesi regional atau intracameral lignocaine1% dapat memberikan analgesia yang memadai. peningkatan risiko intraoperatif zonular dehiscence. Ini termasuk pupil yang kecil. sehingga untuk menjaga plane dari paralel wajah ke lantai. Untuk anak-anak dan pada pasien untuk yang memiliki waktu bedah yang diperpanjang dapat diantisipasi. Entah kornea scleral atau sayatan temporal yang jelas dapat digunakan.untuk operasi mata. anterior chamber dangkal . dan peningkatan peradangan pasca operasi. Abbott Kedokteran Optik) berguna . Sementara operasi phacoemulsification mungkin dilakukan dengan anestesi topikal. Namun. sinekia posterior. anestesia umum lebih disukai. Bantal dukungan mungkin harus ditumpuk tinggi-tinggi untuk mendukung kepala. iris prolaps. seperti dalam zonulolysis parah memerlukan modified capsular tension ring yang perlu penjahitan. Sebuah upaya pelebaran pupil dapat dibuat dengan menyuntikkan larutan garam seimbang dengan adrenalin (1: 1000 0. anterior perifer sinekia. (c) Anaesthesia. (b) Tantangan Bedah. Memilih viscoadaptive viskoelastik seperti Healon 5 (natrium hyaluronate 2. manipulasi iris mungkin menyebabkan ketidaknyamanan okular atau sakit. (d) Insisi.3%. Komplikasi yang mungkin timbul dari masalah termasuk sebuah capsulorhexis yang berukuran lebih kecil atau tidak lengkap. Melihat pasien cenderung bergeser ke bawah tempat tidur. dimana anggota badan mereka yang lebih rendah terangkat tinggi di atas tingkat kepala mereka. Mata uveitic menimbulkan banyak tantangan bedah. meningkatkan risiko kapsul posterior.5ml adrenalin dalam 500 mL) ke mata dengan murid yang tidak terikat oleh ormembranes sinekia. pupil membran dan bahkan zonulolysis.

ini dapat dilakukan dengan menyapu pupil bebas dari kapsul lensa dengan kanul. Jika benar pelaksanaan manuver murid dilakukan. Dalam kasus di mana satu jalur sempit membran hadir pada tempat pembentukan PS. seperti Healon 5 (Viscoadaptive dari Abbott Kedokteran Optik. III. setelah membran pupil telah dihapus. PAS harus dilepaskan sebelum PS. Namun. Atau. untuk secara fisik memisahkan iris dari kornea. PS) (Angka 3 (a) dan 3 (b)) atau bisa terbentuk antara iris dan kornea perifer endotelium akibat Bombe iris sebelumnya (perifer sinekia anterior. Sinekia mungkin ada antara iris dan anterior lensa kapsul (sinekia posterior. Instrumen yang paling user-friendly untuk sinekia luas sekali keunggulan dari iris yang telah di-viscodissected dari kapsul anterior adalah hook Kuglen bengkok. yang memungkinkan viskoelastik untuk "melibas" iris jauh dari kapsul anterior. Ketika pupil tersebut telah dibebaskan. (f) Synechiolysis dan Penghapusan Membran pupil. karena memungkinkan ahli bedah untuk mendorong atau menarik iris. pasca operasi pupil terlihat relatif bulat dengan . sehingga peregangan pupil. Seringkali. sehingga melepaskan iris dari kapsul lensa anterior. (G) Ekspansi Pupil. Ketika kedua yang hadir. Dokter bedah harus berhenti sekaligus harus sphincter iris mengembangkan air mata. bahkan ketika membran pupil ada. AS). jarum 27-gauge dapat digunakan untuk secara bersamaan nick membran ke segmen dan melepaskannya dari kapsul anterior dan melepaskan PS. pupil mulai melebar dengan viskoelastik. PS mungkin segaris dengan hanya menyuntikkan viskoelastik terhadap pemeluk iris. digunakan dalam cara untuk latch sekitar tepi pupil. PAS). Ini harus dilakukan dengan sangat lembut dan hati-hati. Inc Abbott Park. Pelepasan PASmay dilakukan dengan menyuntikkan viskoelastik. pupil dapat diregangkan menggunakan sepasang siku Kait Kuglen diperkenalkan melalui sayatan utama. gagal yang ujung kanula viskoelastik dapat digunakan untuk menyapu iris jauh dari kornea perifer sebagai bahan viskoelastik sedang disuntikkan ke sudut bilik mata depan. iris menarik di berlawanan arah (Gambar 4 (a)). supaya tidak untuk melepaskan membran descemet dalam proses. Alat "tarik-ulur" Ini ini sangat baik untuk membebaskan dari PS. Hal ini kemudian diulang dalam arah tegak lurus terhadap regangan awal (Gambar 4 (b)). jika hal ini tidak memadai. membran dapat dihapus menggunakan sepasang Kelman- McPherson forsep. mulai dari yang kecil sampai yang yang cukup besar.karena hal ini tinggi akan molecularweight hyaluronate natrium yang secara fisik dapat menggulung terbuka pupil dan tetap melebar selama laju aliran aspirasi tetap rendah.

Capsulotomy dapat diawali oleh 26 . ini juga berkontribusi terhadap peningkatan peradangan pasca operasi. Redmond. Pada pupil kecil. cincin Malyugin (Mikro Technologies. tetapi tidak begitu kecil untuk mencegah phimosis kapsuler. Wash. (i) Manajemen Inti. Memotong fragmen dilakukan dalam bukaan pupil dengan ujung phaco dijaga dalam tampilan setiap waktu dengan risiko minimal untuk terlibat dan menimbulkan trauma yang iris (Angka 9 (a) dan 9 (b)).minimal distorsi margin pupil (Gambar 5). kebutuhan capsulorhexis pasti lebih besar dari pupil.atau 27-gauge bent cystitome dan modified vitreoretinal forsep (pediatrik rhexis forsep) dapat kemudian dimasukkan dari port sisi untuk menyelesaikan rhexis. Pupil retainer juga dapat dicoba. Menciptakan capsulorhexis yang ideal juga sangat penting dalam mencegah kekeruhan kapsul posterior. Hal ini umumnya disukai untuk menjaga ukuran capsulorhexis sedikit lebih kecil dari pupil sehingga iris chaffing tidak terjadi dan hasil di miosis intraoperatif progresif sebagai fragmen nuklir dipindahkan dari kantong kapsuler (Gambar 8). Ruang anterior harus dijaga dalam dan kapsul anterior diratakan menggunakan bahan viskoelastik yang memadai untuk mengontrol robek dari capsulorhexis. supaya tidak berkompromi kapsul anterior. Kait iris dikeluarkan pada akhir pembedahan (Angka 7 (a) - 7 (c))).2mm dan manuver untuk memperluas dan menjaga pupil terbuka pada diameter 6 atau 7mm. AS) memiliki telah digunakan. . teknik yang paling aman adalah memotong vertikal yang dikerjakan di dalam teknik pemotongan in situ. Sarana alternatif pembukaan pupil meliputi penggunaan dari dilator pupil Beehler (2 atau 3 cabang) untuk meregangkan pupil mekanis dalam sistem injektor tunggal. yang dapat disuntikkan ke dalam bilik mata depan melalui sayatan 2. Baru-baru perangkat pupil. pupil Itu kemudian dapat diperbesar lagi dengan menggunakan beberapa sphincterotomies dengan cara gunting intraokular. tumpang tindih tepi optik sepanjang waktu. (h) Continuous Capsulorhexis Circular. Ketika ukuran pupil kecil. capsulorhexis harus berada di tenga. Kait iris Disposable yang mudah untuk menempatkan melalui beberapa kornea paracentesis (Angka 6 (a) -6 (c)).

5. Secara umum. Intraoperative Complications Zonulolysis.3. dan membran pupil terbentuk hanya di mata dengan silikon IOLs. Tinjauan literatur menunjukkan bahwa sementara sebelumnya. IOL implan harus ditunda. tapi akrilik hidrofobik bahan memiliki biokompatibilitas kapsuler lebih rendah tapi lebih baik uveal [78]. sehingga mengurangi risiko PCO [79].(j) Irigasi dan Aspirasi. sehingga menyebabkan PCO. bahan acrylic hidrofilik memiliki uveal baik tapi memiiki biokompatibilitas kapsuler yang lebih buruk . [39.2%) pada mata dengan silikon IOLs. Selain itu. Penyisipan sebuah plain capsular tension ring (CTR) seringkali . Di mata dengan uveitis kronis yang tidak terkontrol. Langkah ini harus dilakukan secara menyeluruhagar tidak meninggalkan bahan kortikal. Sebuah komplikasi intraoperatif yang jarang adalah Zonulolysis. Complications and Postoperative Management 5. Mata harus diputar untuk mencari lensmatter residu dan guncangan dengan halus diberikan pada akhir penghapusan inti untuk memastikan bahwa tidak fragmen yang masih bersarang di dalam ruang posterior selama phaco (Gambar 10). implantasi IOLs di mata uveitic dengan JIA dan uveitis kronis dianggap kontraindikasi. Penghapusan viskoelastik dari bawah IOL adalah langkah penting dalam mengurangi ruang di belakang IOL ke lensa dimana sel epitel cenderung untuk bermigrasi. IOLs silikon memiliki insiden yang lebih tinggi edema makula cystoid pasca operasi dan pembentukan PS.3. (k) Kontraindikasi Implantasi Lensa intraokular dan Jenis dari IOL. sekarang dengan IOLs modern. Ali o et al.1. Mereka juga menemukan bahwa kekeruhan posterior kapsuler tingkat tertinggi (34. persegi bermata akrilik (baik hidrofilik atau hidrofobik) IOL. Menekan optik terhadap kapsul posterior bila menggunakan satu bagian hidrofobik IOL juga mendorong adhesi untuk kapsul posterior. Hal ini dapat terjadi pada mata dengan uveitis kronis. 79] menunjukkan bahwa sebagian besar IOL yang biokompatibel untuk ruang anterior dan kantong kapsuler adalah sepotong-tunggal. mungkin saja aman untuk implan IOLs dalam skenario kasus yang sulit selama uveitis di bawah kontrol yang baik .

Secara umum. 5. jika kekuatan zonular keseluruhan lemah. Lensa Retain dan Fragmen intisel. Setiap lensa yang dipasang bahan berbahan lembut atau fragmen intisel harus dipindahkan dengan pembedahan sesegera mungkin [80]. Sebuah cara alternatif adalah dengan memberikan suntikan intravitreal triamcinolone acetonide [81] jika ini tidak diberi secara intraoperative. Salah satu komplikasi yang paling umum pasca operasi adalah peradangan berlebihan pasca operasi(Angka 11 (a) -11 (g)).mungkin saja bervariasi dalam hal keparahan atau durasi peradangan. Karena pupil berukuran kecil. dimana berbagai komplikasi yang ditujukan pada letak berbeda [79]. kecil fragmen intisel keras dapat diajukan di ruang posterior selama phacoemulsification. Setelah phacoemulsification. sebuah operasi tahap ganda menjadi pendekatan yang lebih aman. Jika tidak ada profilaksis steroid oral yang telah diberikan pasien harus diberi oral pulse steroid atau injeksi steroid periokular. karena terlindung capsular bag fibrosis dan penyusutan. yang mungkin diperlakukan dengan cara mengendalikan peradangan. mata harus diberikan guncangan lembut ketika aspirating untuk memastikan tidak ada fragmen intisel secara tidak sengaja tertinggal. Early Postoperative Complications Excessive Postoperative Inflamasi. jika pra operasi steroid oral profilaksis telah diberikan dan maksimal steroid topikal dan cycloplegics telah terbukti efektif dalam mengendalikan uveitis. Namun.diperlukan untuk mencegah decentration IOL. kejadian yang telah dilaporkan berkisar dari 12% menjadi 59% [38]. Kejadian operasi katarak CME berikut ekstrakapsular di uveitic mata telah sering dan telah dilaporkan berkisar dari 33% menjadi 56% [10. Strategi ini dapat menghindari komplikasi pasca operasi . pada akhir phaco. Fragmen kecil dapat menyebabkan uveitis anterior berulang ketika mereka posisi di ruang anterior berubah dan juga dapat menyebabkan edema kornea lokal dan dekompensasi kornea lokal bahkan dalam jangka panjang. hanya untuk dmasukkan ke dalam ruang anterior beberapa bulan kemudian. Terkait dengan ini adalah berkembangnya edema makula cystoid. dosis steroid oral mungkin meningkat tajam. fiksasi CTR untuk sclera dengan cara modifikasi Cionni CTR memastikan bahwa IOL tetap terpusat. sehingga menghindari kebutuhan untuk menyesuaikan imunosupresi sistemik . Oleh karena itu. 14]. Kegagalan untuk menggunakan CTR pada kondisi adanya zonules lemah dapat mengakibatkan phimosis kapsuler.3.2. Pada mata anak dengan uveitis kronis menjalani operasi katarak.

3% dan 3. Intraocular Pressure (IOP) Abnormalitas. kontroluveitis dan menjaga pupil seluler selama ini adalah penting. periode akhir pasca operasi Pada periode akhir pasca operasi. Sekali kebocoran luka telah dikesampingkan. Oleh karena itu.6%. Peningkatan frekuensi kekambuhan setelah operasi katarak dapat terjadi. Hal ini sering efektif dalam meningkatkan IOP. 5. Namun. Hal ini diduga dipicu oleh prosedur intraokular. Mereka sesuai Nd: YAG tingkat capsulotomy adalah 32. ketakutan terbesar dokter bedah adalah hypotony. tetapi topikal steroid mungkin sulit untuk meningkatkan atau menarik dan pasien mungkin memerlukan steroid topikal jangka panjang untuk menjaga IOP. langkah berikutnya adalah untuk meningkatkan terapi anti-inflamasi topikal dan sistemik. Hal ini sering dapat dikelola dengan topikal dan pengobatan antiglaucoma sistemik. tingkat kekambuhan telah dilaporkan setinggi 51% [15].7% dan K ¨ uc ¸ ¨ ukerd ¨ onmez dkk. 8.dan meningkatkan hasil bedah. Rauz dkk.2%. Tindakan .3. Okhravi dkk. [82] 34. Kambuhnya Uveitis. pembentukan membran pupil atau ciliary mungkin terjadi selama periode pasca operasi karena peradangan berlebihan (Angka 12 (a) dan 12 (b)).3. IOP mungkin mengangkat secara transient selama periode pascaoperasi awal mata dengan trabecular meshwork. dalam kasus parah. vitrectomy dan pemangkasan traksi badan membran ciliary dan pengisian minyak silikon mungkin diperlukan jika UBM menunjukkan adanya pelepasan badan ciliary sekunder untuk membran tractional tidak dibahas selama operasi katarak [83].0%. kekeruhan kapsul posterior mungkin adalah komplikasi yang paling umum berikut semua jenis operasi katarak. [9] melaporkan kejadian 48. meningkatkan imunosupresi untuk jangka panjang dapat diperlukan untuk mencegah kekambuhan lebih lanjut. [84] 81. Stabilisasi dari IOP dan pandangan telah berhasil diobati dengan suntikan pada mata dengan hyaluronate natrium melalui paracentesis limbal di mata non uveitic [82].2% pada 1 tahun. Sinekia posterior.

Conclusion and Summary Hal ini dimungkinkan untuk mencapai hasil visual yang sukses mengikuti pembedahan katarak pada uveitis dengan operasi katarak modern. Sekarang dikenal dengan baik bahwa peradangan kronis. mereka percaya bahwa peradangan subklinis kronis tidak terdeteksi setelah operasi adalah bertanggung jawab untuk pasca operasi 14 Jurnal Peradangan komplikasi yang mengarah ke penghapusan IOL meskipun diperlukan tindakan pencegahan yang telah diambil selama perioperatif periode. di mata dengan mayoritas menengah atau panuveitis. 6. Prediktabilitas telah meningkat terutama karena tingkat pemahaman yang lebih tinggi tentang penyakit uveitic di kalangan dokter. Kesimpulannya. Penghapusan IOL. Foster et al. Namun beberapa pertanyaan tetap belum terjawab. kesegeraan penanganan dan penundaan. Faktor pra operasi termasuk seleksi pasien yang tepat dan konseling pra operasi dan kontrol peradangan. Penghapusan lensa intraokular pada mata uveitic jarang diperlukan. teliti dan pemantauan ketat dengan penanganan tepat untuk . pengelolaan uveitic katarak memerlukan kasus seleksi yang seksama.pencegahan termasuk menciptakan capsulorhexis memusat melingkar yang lebih kecil dari ukuran optik. sangat penting. terutama di bidang anak dengan katarak uveitis. Pengelolaan komplikasi pasca operasi. dengan peradangan berpusat pada daerah Plana Pars. 86]. 57]. JIA. menggunakan IOL akrilik dengan desain persegi bermata optik. Penggunaan imunosupresif agen selain steroid juga membantu mengendalikan peradangan dan telah memungkinkan penggunaan jangka panjang dari agen-agen khususnya sebagai steroid sparing. juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan hasil. yang terus menantang dokter mata untuk lebih menyempurnakan teknik bedah dan mencari modalitas pengobatan baru [56. dan karena itu kontrol peradangan. Kontrol peradangan pasca operasi juga memainkan peran penting dalam mencegah PCO. peradangan kronis tingkat rendah tidak menanggapi pengobatan antiinflamasi dan membran cyclitic mengakibatkan hypotony dan maculopathy [85. Diagnosis yang mendasari untuk uveitis termasuk sarkoidosis. bahkan kelas rendah. waktu yang tepat operasi pembedahan. baik pre dan pasca operasi. dan Pars planitis. pemindahan viskoelastik dengan teliti dari dalam tas kapsul tersebut dan memastikan optik menempel ke posterior kapsul pada akhir operasi. ireversibel dapat merusak retina dan optik saraf [6]. melaporkan bahwa indikasi mereka termasuk pembentukan membran perilental. terutama peradangan dan glaukoma.

.komplikasi pasca operasi yang mungkin terjadi. ini dapat mencapai hasil mata yang baik dengan pengelolaan yang baik.