INFEKSI VARICELLA DALAM KEHAMILAN

A. PENDAHULUAN
Virus varicella zoster merupakan virus DNA dari famili herpes yang
memiliki kemampuan menular yang tinggi. Virus ini ditransmisikan melalui
droplet pernapasan dan melalui kontak langsung cairan vesikuler dari orang
ke orang. Infeksi primer ditandai dengan demam, malaise dan lesi pruritik
yang berubah menjadi makulopapul, lalu menjadi vesikuler dan berkrusta
sebelum menyembuh. Periode inkubasinya berkisar 10 – 21 hari dan penyakit
ini infeksius 48 jam sebelum lesi muncul hingga vesikel berkrusta
menghilang.(1, 2)
Chickenpox atau infeksi Varicella Zoster Virus (VZV) primer merupakan
penyakit yang umumnya ditemukan pada anak-anak. Diestimasikan bahwa
>90% populasi antenatal memiliki antibodi VZV IgG seropositif dan oleh
sebab itu menyebabkan beragam respon imun terhadap infeksi VZV. Populasi
ini yang kelak nantinya beresiko untuk mengalami infeksi VZV maternal
primer yang diestimasikan 2-3 per 1000 kehamilan.(1)
Setelah infeksi primer, virus dapat dorman di ganglion radiks dorsalis
yang dapat mengalami reaktivasi yang menyebabkan lesi vesikuler
eritematous sesuai dengan distribusi dermatom yang dikenal sebagai herpes
zoster atau shingles. Herpes zoster dalam kehamilan tidak berubungan dengan
viremia dan tidak memberikan sekuele pada fetus.(1)

B. EPIDEMIOLOGI
Varicella terdapat di seluruh dunia dan tidak terdapat perbedaan antar ras
maupun jenis kelamin tertentu. Varicella terutama mengenai anak-anak yang
berusia dibawah 20 tahun terutama usia 3-6 tahun dan hanya sekitar 2%
terjadi pada orang dewasa. (3)
Varicella diestimasikan dapat ditemukan pada 1-5 per 10.000
kehamilan. Jalur transmisi mayor adalah melalui udara, selain itu infeksi ini
dapat menular melalui kontak langsung dengan lesi vesikuler atau pustular.

1

yang mengakibatkan terjadinya viremia primer (biasanya terjadi pada hari ke 4-6 setelah infeksi pertama). ETIOLOGI Varicella zoster virus (VZV) merupakan famili human (alpha) herpes virus. Pada sebagian besar 2 . 90% diantaranya sebelum berusia 14 tahun. (3) VZV masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran pernafasan bagian atas. Virus terdiri atas genome DNA double-stranded. kurang dari 10% mengenai usia dibawah 20 tahun dan 5% mengenai usia kurang 15 tahun. Kebanyakan orang terinfeksi sebelum dewasa. Puncak infektivitasnya 24-48 jam sebelum onset bercak kemerahan timbul dan paling lambat 3-4 hari. tertutup inti yang mengandung protein dan dibungkus oleh glikoprotein. 4) Insiden terjadinya herpes zoster meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan biasanya jarang mengenak anak-anak. Periode inkubasinya 10-21 hari. namun herpes zoster dapat juga terjadi pada bayi yang baru lahir apabila ibunya menderita herpes zoster pada masa kehamilan. Siklus replikasi virus pertama terjadi pada hari ke 2-4 yang berlokasi pada kelenjar limfe regional kemudian diikuti penyebaran virus dalam jumlah sedikit melalui darah dan kelenjar limfe. orofaring ataupun konjungtiva. Virus ini jarang terisolasi dari lesi yang berkrusta. lebih dari 66% mengenai usia lebih dari 50 tahun. (2. Di Amerika. Walaupun herpes zoster merupakan penyakit yang sering dijumpai pada orang dewasa.(2. 3) D. PATOGENESIS VZV masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara inhalasi dari sekresi pernafasan (droplet infection) ataupun kontak langsung dengan lesi kulit. (3) C. Infeksi droplet dapat terjadi 2 hari sebelum hingga 5 hari setelah timbul lesi di kulit. Virus ini dapat menyebabkan dua jenis penyakit yaitu varicella (chickenpox) dan herpes zoster (shingles). Varicella biasanya meningkat kejadiannya saat musim dingin dan musim semi.

yang mengakibatkan terjadinya viremia sekunder. yang mengakibatkan timbulnya lesi di kulit yang khas. Pada fase ini. Periode inkubasi(5) Gambar 2. Gambaran penyakit varicella pada fase akut(5) 3 . replikasi virus tersebut dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh yang belum matang sehingga akan berlanjut dengan siklus replikasi kedua yang terjadi di hepar dan limpa.(3) Gambar 1 . partikel virus akan menyebar ke seluruh tubuh dan mencapai epidermis pada hari ke 14-16.penderita yang terinfeksi.

Namun. Bayi akan terpapar dengan viremia sekunder dari ibunya yang didapat dengan cara transplasental. sementara yang dapat disimpulkan bahwa patogen/virus masuk ke darah ibu dan selanjutnya melalui plasenta masuk ke peredaran darah bayi. Varicella pada ibu hamil pada masa kehamilan dapat menyebabkan adanya transfer VZV transplasenta yang selanjutnya bermanifestasi sebagai congenital varicella syndrome (CVS) ataupun varicella neonatal. yang dapat menimbulkan kelainan kongenital (CVS). skar sikatrik pada kulit.(3. Penjelasan mengenai patogenesis penyebab infeksi kongenital masih belum sepenuhnya dipahami. 5) E. hipopigmentasi dan gangguan sistem saraf otonom. hal ini disebabkan terjadinya pneumonia yang berat dan hepatitis fulminan. Varicella intrauterine.(5. akan tetapi bayi tersebut belum mendapat perlindungan antibodi disebabkan tidak cukupnya waktu untuk terbentuknya antibodi pada tubuh ibu yang disebut antibodi transplasental. VZV menyebabkan anomali kongenital melalui kematian sel. angka kematian varicella neonatal sekitar 30%. terjadi pada 20 minggu pertama kehamilan. inhibisi pertumbuhan sel atau kerusakan kromosom. 6) Sedangkan varicella neonatal terjadi apabila seorang ibu mendapat varicella kurang dari 5 hari sebelum atau 2 hari setelah melahirkan. CVS bermanifestasi sebagai varicella embriopati ditandai dengan mikrosefali dengan atrofi kortikal dan kalsifikasi yang disebabkan oleh ensefalitis intrauterin. Sebelum penggunaan varicella zoster immunoglobulin (VZIG). hipoplasia ekstremitas. MANIFESTASI KLINIK a. Infeksi maternal 4 . Tetapi jika ibu mendapat varicella dalam waktu 5 hari atau lebih sebelum melahirkan maka si ibu mempunyai waktu yang cukup untuk membentuk dan mengedarkan antibodi transplasental sehingga neonatus jarang menderita varicella yang berat .

dan malaise mulai dikeluhkan setelah hari ke 10-21 setelah masa inkubasi. Batuk dan sesak biasanya terjadi 3 hari setelah tampaknya lesi dikulit. Awalnya lesi muncul sebagai papul kemerahan yang progresif berkembang menjadi vesikel yang jernih.7)  Lesi klasik Satu hingga dua hari kemudian infeksi pada pasien biasanya tampak sebagai lesi sentripetal yang berupa makula eritema.(2) 5 . hemoptisis. Lesi awalnya muncul di wajah dan badan lalu menyebar ke ekstremitas. demam.(2. Gejala Prodromal Nyeri kepala. dan nyeri pleuritik biasa didapatkan pada pasien. Ensefalitis merupakan komplikasi yang jarang didapatkan pada orang dewasa. Sianosis.7)  Varicella pneumonia Pasien sebaiknya diobservasi dengan baik untuk mewaspadai terjadinya varicella pneumonia yang merupakan komplikasi tersering yang dapat mencapai 20%. (2. papul dan vesikel yang gatal dan berkelompok. Lesi menyebar ke ekstremitas dan tidak jarang disertai dengan eksoriasi. Vesikel ini kemudian berkembang menjadi pustul lalu mengering dan mementuk lesi berkrusta.

Resiko malformasi kongenital pada infeksi varicella maternal sebelum usia kehamilan 20 minggu adalah kurang dari 2%. dan shingles yang bermanifestasi setelah beberapa bulan atau tahun setelah lahir. Gambar 3. Gambaran lesi pada kulit pada pasien yang terinfeksi varicella Infeksi primer yang terjadi pada saat dewasa akan lebih berat dibandingan pada masa kanak-kanak dan lebih berat lagi jika terjadi dalam kehamilan. mortalitas maternal dapat mencapai 40% jika tidak diberikan terapi antiviral spesifik. Ketika pneumonia varicella ditemukan dalam kehamilan. Infeksi kongenital Infeksi virus varicella zoster pada fetus dapat bermanifestasi dalam tiga bentuk mayor: infeksi intrauterine. (4) b. penyakit postnatal. Kelainan yang dapat terjadi 6 . dimulai setelah beberapa hari sejak munculnya lesi pada kulit. Resiko pneumonia varicella meningkat dalam kehamilan. yang dapat menyebabkan abnormalitas kongenital.

chorioretinitis. transfer virus secara hematogen transplasenta dapat menyebabk morbiditas pada janin. Herpes zoster tidak berhubungan dengan sekuele pada fetus. mikrosefali. dan retardasi psikomotor. limb reduction. Pemeriksaan Klinik Diagnosis varicella zoster akut pada ibu dapat ditegakkan dari manifestasi kelainan pada kulit yang tampak sebagai cacar. diantaranya skar kutaneus. atrofi kortikal.(4) Gambar 4. Transfer antibodi dari ibu ke janin dapat terjadi paling lambat 5 hari setelah onset bercak kemerahan pada kulit. Jika infeksi maternal terjadi selama 5 hari sebelum persalinan. Atrofi ekstremitas bawah disertai defek pada tulang dan skar pada bayi yang terinfeksi saat trimester pertama(8) Infeksi setelah usia gestasi lebih dari 20 minggu menyebabkan penyakit postnatal.(4) F. DIAGNOSIS 1. katarak. Pemberian imunoglobulin pada neonatus juga penting ketika ibu menunjukkan gejala infeksi varicella kurang dari 3 hari postpartum. mikroftalmia. restriksi pertumbuhan. malformasi digiti. dan mortalitas dapat mencapai 25%. muscle atrophy. Lesi vesikuler 7 .

Tes Tzank: tampak multinucleated giant cell. yang ketika menyembuh dapat menjadi skar. Pemeriksaan ini sensitivitasnya sekitar 84%.(9) 8 . Lesi-lesi pada area yang berbeda dapa menunjukkan tingkat evolusi yang berbeda-beda. telinga hingga menyebar ke wajah. Vesikel dan pustule dapat menjadi lesi berkrusta. yang menyeluruh diawali dari kepala.(4) 2. toluidine blue ataupun Papanicolau. badan. Pada pemeriksaan menggunakan mikroskop cahaya akan didapatkan multinucleated giant cells. dan ekstermitas. kemudian diwarnai dengan pewarnaa yaitu hematoxylin- eosi. Wright. Giemsa. Pemeriksaan Laboratorium a. (2-4) Gambar 5. Herpes zoster atau shingles menunjukkan erupsi vesikuler unilateral yang mengikuti area dermatom. Tes Tzank Konfirmasi diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan kerokan kulit. tes ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan virus herpes simpleks. Manifestasi pada membran mukosa juga sering didapatkan. Namun.

Pada dermis bagian atas dijumpai adanya infitrat limfosit. berarti sudah terbentuk sistem imun dalam tubuhnya. Sensitivitasnya berkisar 97-100%. Tes ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster. Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti kerokan dasar vesikel dan apabila sudah berbentuk krusta juga masih bisa tetap dapat digunakan. Direct Flourescent Assay (DFA) Preparat diambil dari kerokan dasar vesikel tetapi apabila sudah berbetuk krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif. (10) 9 . (3) 3.(2-4) d. b. oleh karena itu penting untuk menanyakan riwayat penyakit cacar sebelumnya. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara VZV dengan herpes simpleks virus. dan defek genitourinaria. Wanita sehat yang datang untuk konseling prekonsepsi atau kunjungan prenatal pertama (10) a. (4) G. hipoplasia ekstremitas. PENATALAKSANAAN 1. (3. Abnormalitas lain yang dapat ditemukan diantaranya mikrosefali. 4) c. ventrikulomegali. atrofi kortikal. Biopsi kulit Hasil pemeriksaan histopatologi tampak vesikel intraepidermal dengan degenerasi sel epidermal dan akantolisis. Hasil pemeriksaan cepat dengan meggunakan mikroskop fluoresens. Jika seorang wanita pernah terkena chickenpox. Polymerase Chain Reaction (PCR) Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sangat sensitif. Tes PCR pada cairan amnion efektif untuk mendiagnosis infeksi pada fetus. Ultrasonografi Pemeriksaan ultrasonografi merupakan pemeriksaan terbaik yang dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan.

VZIG sebaiknya diberikan dalam 96 jam sejak paparan dan dikatakan tidak bermanfaat jika diberikan setelah gejala muncul. b.(10) e. 10) 2. (10) d. Serum pasien harus diambil dalam 10 hari dari paparan awal karena dalam rentang waktu tersebut respon antibodi yang telah terbentuk sebelumnya dapat dinilai terhadap paparan virus yang baru. wanita non imun yang tidak hamil dapat mendapatkan vaksin tapi sebaiknya tidak hamil satu bulan setelahnya. Wanita dengan riwayat negatif atau tidak mengingat dengan baik harus diperiksa titer varicella dalam serumnya untuk menentukan status imunitas mereka (varicella IgG). Wanita hamil non imun sebaiknya mendapatkan vaksin post partum. namun penelitian menunjukkan tidak mencegah efek paparan terhadap fetus. (10) c. VZIG menurunkan manifestasi klinis varicella pada orang yang terekspos. penting untuk menentukan titer varicella dalam serumnya sebelum memberikan varicella zoster immunoglobulin (VZIG) karena VZIG relatif mahal (sekitar $400 untuk dosis dewasa) dan tidak ditemukan di apotek biasa. Wanita hamil non imun yang terpapar chickenpox(10) a. 4. Seseorang dengan chickenpox infeksius sejak 2 hari sebelum munculnya lesi pada kulit hingga 5 hari setelah hilangnya vesikel yang berkrusta. Dosis yang diberikan 125U/10 kg hingga maksimal 625 U secara intramuskular (IM). (10) b. (2. Wanita hamil dengan chickenpox 10 . 10) 3. Pada pasien yang berpotensi terpapar virus varicella. (2. Pasien yang telah mendapat vaksin harus tetap diperiksa varicella titernya karena vaksin tidak seimunogenik infeksi alamiah. untuk itu VZIG bermanfaat hanya untuk mencegah atau mengurangi parahnya penyakit pada ibu. pemberian vaksin ini tidak kontraindikasi dengan pemberian ASI. (10) c. Karena vaksin mengandung virus hidup yang telah dimodifikasi.

famcyclovir. ibu dapat menginfeksi bayinya sebelum si ibu dapat membentuk antibodi dan mentransfernya melalui plasenta. akan terjadi peningkatan morbiditas dan mortalitas oleh sebab itu pada kondisi ini pasien harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan terapi acyclovir intravena. pemberian acyclovir dapat dipertimbangkan dan sebaiknya dikonsultasikan dengan ahli anak. Acyclovir aman diberikan pada dua trimester akhir dengan dosis 10-15 mg/kg intravena (IV) setiap 8 jam selama 7 hari. Neonatus tersebut nantinya akan mengalami angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pada umumnya varicella pada ibu hamil serupa dengan varicella pada pasien yang tidak hamil.(4. Karena VZIG tidak selalu dapat mencegah chickenpox.(10) b. Chickenpox pada periode peripartum.(10) c. Komplikasi maternal yang paling berat adalah varicella pneumonia. Sebagian besar pasien hanya membutuhkan terapi suportif dengan cairan dan analgetik.(10) e. Diagnosis umumnya dapat ditegakkan secara klinis.(10) 11 . Ketika hal ini terjadi pada wanita hamil. Antiviral terapi terdiri dari inhibitors of herpes DNA polymerase (acyclovir. a. Demam.. atau 800 mg per oral lima kali sehari. Jika ibu mengidap chickenpox diantara 5 hari seelum dan 2 hari setelah persalinan. dan valacyclovir). 10) 4. malaise. Ketika maternal chickenpox terjadi menjelang persalinan.(4) d. Semua pasien yang disuspek terinfeksi varicella harus diisolasi dan dievaluasi hanya oleh tim medis yang telah memiliki imunitas terhadap varicella. dan lesi kulit khas yang tampak 10-21 hari setelah paparan. Oksigen dan terapi ventilator sebaiknya diberikan jika ada indikasi.(10) b. neonates sebaiknya diberikan VZIG. a.

demam dan dapat juga disertai nyeri pleuritik dan hemoptisis. yang mengandung inklusi eosinofilik intranuklear. Pintu masuk virus varicella adalah melalui konjungtiva. Replikasi sekunder terjadi kelenjar limfe. tak jarang pula gejala ini muncul sebelum lesi kemerahan pada kulit.(11) Varicella pneumonia biasanya muncul 1-6 hari setelah onset pada kulit muncul dan biasanya ditandai dengan takipnea. Insidensi pada perempuan hamil adalah sekitar 9%.(11) 12 . nyeri dada. dispnea. Lesi pulmoner disebabkan oleh adanya kerusakan endotel di pembuluh darah kecil dengan fokal hemoragik nekrosis. Lesi ini biasanya timbul lebih diperkirakan melalui peredaran darah dibandingkan melalui ekstensi lokal melalui saluran pernapasan dengan ditemukan adanya antibodi monoklonal. batuk. pankreas dan kelenjar adrenal dan utamanya terjadi di dalam makrofag. Varicella zoster immunoglobulin (VZIG) biasanya bermanfaat bila diberikan sebelum masa tersebut. paru-paru.3 dalam 400 kasus infeksi varicella. (11) Data mengenai patogenesis varicella masih terbatas. Pada pemeriksaan radiologi biasanya didapatkan nodular atau infiltrate pneumonitis. hati. sumsum tulang.H. KOMPLIKASI  Varicella pneumonia Insidensi varicella pneumonia pada orang dewasa di Amerika adalah 2. infiltrasi mononuklear pada dinding alveolar dan eksudat fibrinosa dengan makrofag di dalam alveoli. Viremia primer mulai 96 jam pascainfeksi dan diikuti dengan replikasi di kelenjar limfe regional. Namun. Pasien dengan gangguan imunitas dan pasien dengan penyakit paru kronik yang terinfeksi varicella-zoster primer memiliki resiko tinggi untuk mengalami pneumonia. faring atau paru.

paresis. Gambar 3. retardasi mental). korioretinitis. anisokoria. Sebelum usia gestasi minggu ke-5 dan setelah minggu ke-24 probabilitas CVS menurun. Studi prospektif di Eropa dan Amerika Utara melaporkan insidens anomali kongenital setelah varicella maternal dalam 20 minggu pertama kehamilan adalah sekitar 1-2%. ensefalitis. defek neurologis sekunder (atrofi kortikal. mikrosefali. enoftalmia. Hasil penelitian kohort yang dilakukan oleh Tan dan Koren di tahun 2006 menunjukkan insidensi CVS di trimester pertama 0.55%. penyakit mata (mikroftalmia.4% dan 0 % pada trimester ketiga. katarak. Infiltrat intersisiel bilateral pada pasien dengan varicella pneumonia(11)  Congenital Varicella Syndrome CVS data terjadi pada sekitar 12% fetus yang terinfeksi. trimester kedua 1. (12) CVS biasanya ditandai dengan defek kutaneus yang skar pada kulit yang membentuk sikatrik sesuai dengan distribusi dermatom. 13 . sindrom Horner. hipoplasia ekstremitas. nistagmus. dan berbagai anomali skeletal lainya. atrofi optik). atrofi spinal cord. kejang.

Sekitar 23% dari bayi yang terinfeksi mendapatkan antibodi maternal.(12) Neonatal varicella menjadi fatal jika ibu mengalami lesi varicella 4-5 hari sebelum dan 2 hari setelah persalinan karena neonatus ini belum terlindungi oleh antibodi maternal. karena transmisi antibodi transplasenta menurunkan derajat keparahan gejala pada neonatus. tapi dapat disertai pneumonia. atau kontak langsung dengan lesi infeksius selama dan setelah persalinan. ensefalitis. fetus dan neonatus(12) 14 . (12)  Neonatal Varicella Jika varicella maternal terjadi 1-4 minggu sebelum persalinan. persentasi janin yang mendapatkan antibodi dari ibu menurun. lebih dari 50% bayi beresiko untuk terinfeksi.(12) Keparahan dari infeksi varicella yang didapat intrauterin berhubungan dengan onset infeksi maternal. Jika infeksi pada neonatus yang berusia lebih dari 12 hari. infeksi ascendens dari jalan lahir. (12) Tabel 1. Diagnosis prenatal CVS dapat dilakukan melalui pemeriksaan USG atau MRI. dan koagulopati berat akibat dari kegagalan fungsi hati dan trombositopenia. VZV kemungkinan besar didapatkan postnatal. Varicella pada neonatus tampak sebagai lesi kulit klasik.(12) Infeksi terjadi melalui vremia transplasental. Ketika ditemukan lesi pada kulit ibu 7-3 hari sebelum persalinan.(12) Varicella yang terjadi pada nenonatus selama 12 hari setelah persalinan disebut sebagai intrauterine acquired neonatal varicella infection. Komplikasi pada ibu. hepatitis.

atau segera setelah lahir. Jika riwayat varicella maternal didapatkan beberapa minggu sebelum persalinan. 15 . biasanya infeksi varicella pada janin bersifat asimptomatik atau memiliki lesi kutaneus pada saat lahir atau segera setelah lahir. dengan riwayat varicella maternal 12 hari sebelum persalinan(12) Diagnosis varicella neonatus biasanya ditegakkan berdasarkan tampilan klinis yang dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan serologis. Neonatus dengan infeksi varicella intrauterine.(12) Gambar 4.

deteksi VZV DNA dari apusan kulit atau biopsy. bilasan (12) bronkus-alveolar harus dilakukan untuk deteksi VZV DNA. cairan atau jaringan menggunakan PCR. Ketika pasien disuspek varicella pneumonia. 16 .

12. Maternal and Perinatal Infection--Viral. 2007. 7.com. Philadelphia: Elsevier. 2. 2012.21:886-91. McKendrick M.intechopen. Varicella Zoster Virus. Fox HE. editor.inkling. Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics The 3rd Edition. Texas: McGraw Hill. 9. In: Evans AT. Koren G. Infectious Disease 3rd edition. In: Gabbe S. 2008 Contract No. Farine D. Mosby. Cunningham F. Brown ZA.com/read/cohen-infectious-disease-3rd/chapter- 52/chapter052-reader-2. Narkeviciute I. 2010 [cited. 17 . Wallach EE. Szymanski LM. 2007. 8. Johnson A. Lubis RD. 11. Mohsen A. 6. 2011 Date: Available from: www. Bernatoniene J. Bernstein H. 1996:361-81. Varicella dan Herpes Zoster: Departemen Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 4. Images in Clinical Medicine. 2007. J Obstet Gynaecol Can. Infectious Complications. Shrim A. Cohen LM. Williams Obstetrics 22nd Edition. Dattel BJ. 2007. Gardella C. Herpes Zoster Virus Infection in Preganancy. Ross B. Clinical Microbiology Review. 2007. Niebyl J. Texas: Lippincott Williams & Wilkins. Arvin AM. Cleveland Clinic Journal of Medicine. Cohen J. 3. Simpson J. Journal [serial on the Internet]. editors. Varicella pneumonia in adults. NEJM. Available from: https://www. Manual of Obstetric 7th Edition. 5. In: Fortner KB. Bloom S. Leveno K. Eur Respir J. Obstetrics Normal and Problem Pregnancies. Yudin M. 2003. DAFTAR PUSTAKA 1. Management of Varicella Infection (Chickenpox) in Pregnancy.337:535.: Document Number|. 10.34(3):287-92. 1997. editors. Perinatal Infections.74(4):290-6. Managing varicella zoster infection in pregnancy.