BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tradisi Lisan (Oral tradition) adalah suatu kebiasaan mengabadikan
pengalaman pengalaman kelompok dimasa lampau melalui cerita yang diteruskan
secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Tradisi lisan Jan Vansina menyebutkan bahwa kesaksian lisan yang
disampaikan secara verbal dari satu generasi ke generasi berikutnya disebut
dengan istilah tradisi lisan (oral tradition) .
Tradisi lisan ditemukan di dalam kebudayaan lisan pada masyarakat yang
belum mengenal tulisan. Tradsi lisan merupakan sumber sejarah yang merekam
masa lampau.selain aspek kesejarahan, didalam tradisi lisan ditemukan nilai-nilai
moral, kepercayaan, adat-istiadat, Cerita-cerita khayali, peribahasa, nyanyian, dan
mantra.
Membahas tradisi Lisan suku Bajo sesungguhnya sangat menarik, karena
suku Bajo merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang menggantungkan
hidunya pada laut, dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia bahkan di Asia
Tenggara. Penyebaran suku Bajo Di Indonesia, dapat ditemkan disekitar pantai
Timur Sumatera, yang hidup berpindah-pindah di piggir Pantai sekitar Pantai Riau
Lingga sampai ke Tanjung Jabung dekat Jambi hingga kabupaten Indra Giri Hilir.
Suku Bajo merupakan salah satu kelompok Bangsa yang ada di Indonesia
yang hidupnya menggembara di Laut. Dengan sifat berpindah-pindah, serta
hidupnya yang tergantung pada alam dengan jalan mengumpulkan bahan
makanan dari Laut, maka Suku Bajo dikategorikan sebagai Masyarakat Nomaden.
Dari Pandangan Pemerintah, Suku Bajo di Golongkan ke Dalam kelompok
Masyarakat Terasing karena mereka Hidup Terisolasi, baik secara Fisik alamiah
maupun Sosial Budaya, terpencil, terpencar dan berpindah-pindah, sehingga
kehidupanya masi sangat terbelakang dibandingkan suku Bangsa lainya di
Indonesia (Bahtiar, 2011: iii).
Perubahan yang terjadi pada suku Bajo yang telah bertempat tinggal
didarat, akan menyebabkan perbedaan budaya dengan suku Bajo yang masih tetap
tinggal dilaut sebagai lingkungan hidup mereka yang Asli, sekalipun kebudayaan
suku Bajo pada prinsipnya memiliki persamaan-persamaan seperti antara lain
system Mata Pencahrian, system Kekerabatan, system Kepercayaan (Anwar,
2002).
Tradisi Lisan Iko-iko adalah cerita epik yang dinyanyikan secara
acappella, dari hafalan, oleh seorang penyanyi tunggal. Cerita iko-iko dilantunkan
pada malam hari pada acara yang beragam (saat memancing semalam suntuk),
peluncuran perahu baru, selamatan rumah baru, malam pernikahan, saat pergi
melaut, orangtua menidurkan anaknya, dll. Iko-iko berdurasi satu jam sampai
lebih dari 14 jam, (dua malam). Cerita iko-iko berbentuk prosa, ungkapan
berirama yang dikelompokkan dalam cerita yang dilantunkan dengan vokal
panjang yang dinyanyikan. Penggunaan prosa sastra juga berperan dan menjadi
bagian dari keindahan dari karya ini: metafora, perumpamaan, narasi serta ragam
komposisi paraler (parafrasa yang berpasangan), suatu keunikan dalam bahasa
Austronesia. Iko-iko bisa ditemukan di semua suku sama-bajo, dan satu-satunya
dengan sebutan kata-kata yang telah di dokumentasiakn dari kepulauan sulu, lihat
revel dkk. (2005).
Bagi masyarakat bajo telah dikenal "iko-iko" yang dijadikan media dalam
penuturan sejarah orang bajo dahulu. Iko-iko adalah suatu proses
pendokumentasian sejarah orang bajo secara lisan dalam bentuk cerita dengan
menggunakan bahasa rakyat yang menarik.
Perkembangan Iko-Iko dari tahun ke tahun mengalami kemunduran
(stagnan) bahkan terancam punah. Penutur "iko-iko' yang masih ada saat ini di
Sulawesi Tenggara sangat terbatas dan bahkan sangat langka. Dengan demikian
bilamana kondisi ini berlangsung seperti sekarang, maka iko-iko yang merupakan
kebanggaan masyarakat bajo akan punah.
Dengan demikian saya tertarik untuk mengangkat judul dalam karya tulis
ini yang berjudul Pelestarian Tradisi Lisan Iko-iko pada masyarakat Bajo sebagai
khasanah Nasional. Dimana studi ini di lakukan di Kecamatan Abeli, Kelurahan
Tipulu. Untuk menggairahkan kembali keberadaan "iko-iko" ditengah-tengah
masyarakat bajo dan mendorong upaya pelestarian budaya ini dimasa mendatang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarakan Latar Belakang diatas maka Rumusan Masalah dalam Karya
Tulis Ilmiah ini yaitu sebagai berikut:
a. Bagaimanakah sikap masyarakat Bajo terhadap tradisi Lisan Iko-Iko saat ini ?
b. Bagaimanakah Peranan Tradisi Lisan Iko-iko saat ini di tengah-tengah
kehidupan masyarakat Bajo?
c. Bagaimanakah upaya yang dilakukan oleh masyarakat Bajo dalam Melstarikan
tradisi lisan iko-iko saat ini?
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini yaitu:
a. Agar kita dapat mengatahui mengenai sikap masyarakat Bajo terhadap tradisi
lisan iko-iko saat ini
b. Agar kita mengetahui mengenai peranan tradisi Lisan Iko-Iko di tengah
kehidupan masyarakat Bajo
c. Agar kita dapat mengetahui upaya masyarakat Bajo dalam melestarikan tradisi
lisan Iko-iko saat ini
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Tradisi Lisan
Tradisi Lisan (Oral tradition) adalah suatu kebiasaan mengabadikan
pengalaman pengalaman kelompok dimasa lampau melalui cerita yang diteruskan
secara turun temurun dari generasi ke generasi. Unsure unsure penting dalam
tradisi lisan, menurut Vanisa (1985) adalah “pesan-pesan verbal berupa
pernyataan- pernyataan yang pernah dibuat dimasa lampau oleh generasi yang
hidup sebelum generasi yang sekarang ini “. Oleh Sebab itu yang perlu
diperhatikan dalam hubungan tradisi lisan ini adalah
a. Petuah petuah yang sebenarnya Merupakan rumusan kalimat yang dianggap
punya arti khusus bagi kelompok, menegaskan satu pandangan kelompok yang
diharapkan jadi pegangan bagi generasi berikutnya.
b. Kisah tentang kejadian-kejadian disekitar kehidupan kelompok, baik sebagai
kisah perorangan maupun kelompok.
c. Cerita kepahlawanan yang berisi bermacam-macam tentang tindakan-tindakan
kepahlawanan yang menggunakan bagi kelompok pemiliknya yang biasanya
biasanya berpusat pada tokoh-tokoh tertentu dari suatu kelompok.
d. Cerita dngeng yang umumnya bersifat fiksi belaka yang terutama berfungsi
untuk menyenangkan (menghibur) bagi yang mendengarkan meskipun sering
didalamnya terkandung unsure-unsur petuah pula.
Tradisi lisan bisa dihubungkan dengan folklor, pewaris dan penyebarnya
juga melalui cara lisan atau tutur kata. Folklor disamping mencakup Tradisi Lisan,
juga melingkup apa yang disebut dengan “bahasa rakyat” , juga ungkapan
tradisional seperti teka teki, puisi rakyat, nyanyian, tarian serta arsitektur.
Keterbatasan dari Tradisi lisan aialah adanya unsure subjektivitas yang
lebih besar bila dibandingkan dengan sumber tertulis, seperti diketahui tradisi
lisan mengandung pesan-pesan lisan yang diwariskan turun temurun dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Makin banyak generasi yang dilaluinya, maka
makin banyak unsure subjektivitas yang masuk kedalamnya, ini tidak lain karena
sebagai suatu pesan maka tradisi itu hakekatnya adlaah suatu informasi yang asa
waktu penerimanya harus di interpretasikan oleh pihak penerimanya; proses yang
sama juga terjadi pada pewaris berikutnya. Dalam hal ini dikaitkan terjadi
subjektivitas ganda, karena subjektivitas itu datang dari pihak penyampai serta
penerimanya, subjektivitas tinggi, yaitu dari pihak penerima saja. Dengan
demikian bisa dibayangkan, makin jauh jarak antara pembuat tradisi dengan
penerima/pewaris tadisi maka fakta yang dikandungnya akan makin terselimuti
dengan pandangan-pandangan subjektif yang terutama berupa unsure-unsur
kepercayaan masyarakat.

B. Asal Usul Suku Bajo
Sejak Awal Sejarah Peradaban Asia mulai mengenal Perahu layar, amaka
Perairan Laut Cina Selatan berkembang menjadi alur Pelayaran laut Tradisional
yang memainkan peranan penting di kawasan Asia Tenggara. Para ahli Sejarah
memperkirakan bahwa hubungan Pelyaran antara India dan Indonesia dimulai
pada Abad kedua Masehi, melalui perairan Samudera Hindia menju antai barat
Sumatera atau Menyusur Teuk Benggala ke Selat malaka. Selat malaka sebagai
tempat pertemuan kapal di persimpangan alur Pelayaran dari Barat, Timur,
Sealatan dan Utara telah dikenal Berabad-Abad lamanya.
Dengan Posisi tersebut, menyebabkan Indonesia semakin mudah
melakukan Hubungan dagang dengan Bangsa-bangsa Asia lainya, termasuk
bangsa-bangsa Asia Daratan. Kedatangan mereka ini diperkirakan dengan
meenggunakan perahu Sederhana Mengarungi jalur-jalur Pelayaran yang telah
dikenal sejak lama dan mereka lagsung bermukm dengan membuat rumah
disekitar Pantai atau tetap tinggal di atas perahu dengan mengikuti arah angin.
Dengan demikian mereka hingga saat ini di kategorikan sebagai suku laut atau
orang laut. Sebelum Melanjutkan perjalanan ke berbagai pulau di Indonesia,
terlebih dahulu mereka menetap di Malaka. Akibat Eksistensi kehidupan mereka
terancam karena kedatangan Imperialisme Portugis yang merebut malaka pada
Tahun 1511, orang Laut yang merupakan salah satu kekuatan kerajaan malaka
bangkit melawan imperialism portugis.
Orang bajo sebagai Kelompok masyarakat yang bermukim di atas Perahu,
yang hidup terus Menerus bersama memerlkan gerakan Bebas di laut. Mereka
secara Alami telah menyatukan dirinya dengan kehidupan Laut selaras dengan
sumber daya alamnya dan menjadi bagian dari Laut dalam sgala Aspek, baik
dalam alam, social maupun Budaya yang tidak Mudah Di pisahkan dari
Kelangsungan Hidup Mereka (Lapian, 1996: 2).
Orang Bajo atau Orang Laut, selain menjadikan laut sebagai tempat untuk
memperoleh kehidupan, juga sebagai tempat pewarisan dan Transfer nilai-nilai
social budaya kepada anggota keluarganya. Hal ini sejalan dengan apa yang
dikemukakan oleh Zen bahwa orang Bajo menjadikan laut sebagai lingkungan
pendidikan yang dapat mereka amati, mereka rasakan melalui seluruh panca
Indera dan naluri sebagai manusia yang ingin mengetahui setiap gerak kehidupan
disekitarnya
Dalam kehidupanya sebagai pengembara laut, suku Bajo mempunyai
kebudayaan sendiri yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat lainya yang
disebut sebagai Suku Bajo. Kebudayaan Suku Bajo di pergunakan oleh
masyarakat Bajo untuk menghadapi lingkungan serta menjadi pola interaksi di
lingkungan bangsanya dan sebagai acuan Identitaas didalam Interaksi dengan
bangsa lainya.
Perubahan yang terjadi pada suku Bajo yang telah bertempat tinggal
didarat, akan menyebabkan perbedaan budaya dengan suku Bajo yang masih tetap
tinggal dilaut sebagai lingkungan hidup mereka yang Asli, sekalipun kebudayaan
suku Bajo pada prinsipnya memiliki persamaan-persamaan seperti antara lain
system Mata Pencahrian, system Kekerabatan, system Kepercayaan (Anwar,
2002).
Suku Bajo secara turun temurun hidup dan Menggembara di Laut,
menyebabkan ketergantungan mereka terhadap laut sangat Kuat. Karena laut
sebagai Tempat tinggal, juga sebagai tempat untuk memenuhi Kebutuhan Hidup.
Bahkan Luat sudah dianggap sebagai tempat untuk pewarisan dan Transfer nilai-
nilai Sosial Budaya kepada generasinya, demi mempertahankan kebudayaan
kelompoknya. Dengan demikian suku Bajo baik secara fisik maupun secara
mental tidak dapat dipisahkan dari Laut dan secara Alamiah mereka telah
menyatukan dirinya dengan Laut. Keadaan ini tidak lepas dari perjalanan panjang
Sejarah kehidupan Suku Bajo atau yang dikenal dengan Suku Laut atau orang
Laut.
Banyak versi tentang asal usul dan sejarah suku bajo tergantung dari latar
belakang kajian: Misalnya Linguistik, sejarah, antropologi dsb.

Selain itu ada juga Kajian lain mengenai Asal Usul Suku Bajo
sebagaimana ada dalam Kajian sejarah yaitu “lontrak asselanna bajo” yang
pernah ditulis oleh Prof. Anwar Hafid dalm Bukunya yang berjudul
“Asal Usul Persebaran Suku Bajo” yang terbit pada tahun 2008, yang diterbitkan
oleh Kendari Press dimana isi dari Lontarak Asalena Bajo yaitu sebagai berikut:

a. Keturunan Nabi Adam
b. Dari Ussu Luwu
c. Migrasi ke Gowa
d. Migrasi ke Bone
e. Migrasi ke Kawasan Timur Indonesia

Suku Bajo pernah menguasai perairan Nusantara di masa silam. Hampir
seluruh pulau berpenduduk di Nusantara pernah mereka rambah. Tak heran
mereka dianggap sebagai jembatan penghubung pulau-pulau Nusantara dan
cermin keunggulan bahari. Ketika menguasai Nusantara, penjajah menghalau
Suku Bajo dari berbagai tempat. Kini suku terkemuka ini tinggal tersudut di salah
satu kawasan di Sulawesi Utara.
Suku bajo merupakan suatu suku yang telah lama hidup dan menetap di
laut. Asal usul orang bajo yang berasal dari keturunan langsung Nabi Adam dan
hawa pertama kali mereka bermukim di ussu kerajaan Luwwu Sulawesi Selatan,
tetapi pada suatu ketika pohon besar yang disebut walenreng ditebang
mengakibatkan terjadinya banjir di kerajaan Luwwu akhirnya banyak orang luwy
mengungsi termasuk orang bajo yang yang dipimpin oleh Ipapu bersama
pengikutnya ke Gowa. Istilah Welenreng dalam naskah ini dapat diartikan sebagai
kerajaan yang runtuh. Dalam proses keruntuhanya terjadi pertumpahan darah yang
mengakibatkan banyaknya penduduk yang mengungsi ke daerah lain mencari
kehidupan yang lebh aman. Orang bajo termaksut dalam kelompok yang
mengungsi ke ekrajaan Gowa, di daerah ini sempat bermukim bahkan salah
seorang anak bangsawan Bajo dinyatakan berhasil diperistrikan ole raja Gowa. Ini
dapat diterima karna pada masa dahulu para raja cenderung kawin lebih dari satu
kali (Poligami lebih dari dua Istri).
Kehadiran Orang Bajo di Kerajaan Gowa tidak berlangsung lama, karena
pada saat pecah perang antara Gowa dengan Belanda bersama Bone pada taun
1666-1667 yang mengakibatkan kerajaan Gowa takluk kepada Belanda dan Bone,
sehingga kehidupan orang bajo kembali terganggu yang kebetulan pemukiman
mereka di perairan kerajaan Gowa menjadi medan peperangan. Dalam suasana
peperangan tersebut akhirnya orang bajo kembali mengungsi, periode ini mereka
memilih mengikuti raja Bone ke Wilayah perairan kerajaan Bone tepatnya di
pesisir pantai timur Kerajaan Bone dearah yang sekarang di sebut Bajoe, suatu
pelabuhan yang tidak jauh (sekitar 6 kilo meter0 dari ibu kota Kerajaan Bone
Laleng Bata ( Sekarang Watampone yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Bone).
Keberadaan orang Bajo di wilayah Kerajaan Bone sekali lagi banyak
terlibat dalam kancah peperangan karena wilayah pemukiman mereka selalu
menjadi arena Peperangan yang umumnya dimulai dari arah laut. Keberadaan
orang Bajo di kerajaan Bone (Bajoe) ini berbeda dengan pada masa dikerajaan
Luwu dan dikerajaan Gowa, karena di Bone mereka mendapat kedudukan
Istimewa yang dapat membina kehidupan sosialnya secara Otonom. Dalam
naskah ini disebutkan bahwa mereka membina struktur Sosial Politik dengan
jabatan-jabatan seperti: Lolo (sebagai Kepala Wilayah Otonom), didampingi oleh
Sabennara (yang mirip dengan Jabatan Syahbandar, sekaligus sebagai juru bicara
lolo yang merupakan wakil dari Raja Bone yang khusus di tempatkan di Bajoe
untuk membantu Lolo, Gellareng (mirip dengan Jabatan Sekretaris) yang
membantu lolo dalam menjalankan roda pemerintahan Sehari-hari, dan Ponggawa
(mirip dengan jabatan Panglima Perang).
Jabatan Lolo merupakan Struktur tertinggi dalam Birokrasi Pemerintahan
masyarakat Bajo di dalam wilayah Kerajaan Bone, pejabat Lolo dipilih dari
kalangan mereka sendiri oleh took-toko masyarakat Bajo. Tetapi suatu keunikan
dari system pemilihan jabatan ini karena para calon dan tokoh yang terlibat dalam
pemilihan tidak terikat bagi mereka yang bermukim di Bajoe, tetapi juga
melibatkan masyarakat Bajo yang bermukim didaerah lain di daerah Sulawesi
Selatan (di Selayar dan Bonerate), di Sulawesi Tengara ( Kolaka, Kendari,
langgara), Sulawesi Tengah ( Salabangka, Banggai, Togiang). Bahkan ada
beberapa yang terpilih menjabat sebagai Lolo dan jabatan Lainya berasala dari
mereka yang bermukim di luar Wilayah Bajoe seperti dari Kendari dan Bonerate.
Dengan demikian unsure Demokrasi telah tumbuh dan berkembang dalam
kehidupan masyarakat Bajo jauh sebelum Indonesia Merdeka.
Dalam Bidang Pertahanan dan Keamanan orang Bajo banyak aktif di
Wilayah Kerajaan Bone. Dalam Naskah… ini secara jelas dikemukakan bahwa
orang bajo terlibat secara aktif dalm seetiap kali peperangan yang dihadapai oleh
kerajaan Bone baik terhadap penjajah Belanda , maupun terhadap Inggris, dan
Kerajaan lian yang berusaha menyerang kerajaan Bone dari arah Timur melalui
laut.
Dapat dikatakan bahwa persebaran Orang Bajo ke Daerah Sulawesi
Tenggara dan Sulawesi Tengah bahkan dengan Nusa Tenggara Barat dan Nusa
Tenggara Timur berasal dari Bajoe. Fenomena ini secara tersurat dinyatakan
dalam naskah ini dan mendapat pengakuan dari orang bajo yang bermukim di
bebeapa daerah tersebut diatas. Dewasa ini banyak Orang Bajo yang bermukim di
wilayah Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Tenggara.
C. Konsep tradisi Lisan Iko-Iko
Iko-iko adalah cerita epik yang dinyanyikan secara acappella, dari
hafalan, oleh seorang penyanyi tunggal. Cerita iko-iko dilantunkan pada malam
hari pada acara yang beragam (saat memancing semalam suntuk), peluncuran
perahu baru, selamatan rumah baru, malam pernikahan, saat pergi melaut,
orangtua menidurkan anaknya, dll. Iko-iko berdurasi satu jam sampai lebih dari
14 jam, (dua malam). Cerita iko-iko berbentuk prosa, ungkapan berirama yang
dikelompokkan dalam cerita yang dilantunkan dengan vokal panjang yang
dinyanyikan. Penggunaan prosa sastra juga berperan dan menjadi bagian dari
keindahan dari karya ini: metafora, perumpamaan, narasi serta ragam komposisi
paraler (parafrasa yang berpasangan), suatu keunikan dalam bahasa Austronesia.
Iko-iko bisa ditemukan di semua suku sama-bajo, dan satu-satunya dengan
sebutan kata-kata yang telah di dokumentasiakn dari kepulauan sulu, lihat revel
dkk. (2005).
Iko-iko menceritakan perjalanan inisiasi kepahlawanan dengan
menghadapi bajak laut dan/atau musuh, para pesaing untuk mendapatkan hati
seorang gadis yang menjadi buah hatinya. Secara tersirat, kita dapat merasakan
cerita itu hidup: rasa takut terhadap bajak laut, terhadap musuh-musuh yang
ditampilkan dalam iko-iko dan bahkan cerita cinta lari yang terselubung dibalik
perjalanan dengan si gadis. Sebuah iko-iko yang indah ini bisa menjadi pelipurlara
bagi para pendengar, (meredakan ketegangan dalam komunitas, meringankan
kelelahan nelayan sepanjang siang dan malam berlayar). Ketika menyimaknya,
berbagai perasaan bisa timbul seperti misalnya rasa sedih. Selain emosi,
petualangan para pahlawan cerita ini juga menjadi inpirasi bagi suku bajo.
Pahlawan dalam kisah ini mereka anggap sebagai tokoh sejarah yang nyata dan
dapat mengembalikan rasa kebanggaan sebagai suku bajo serta menegaskan
kembali identitas mereka.
Struktur Narasi yang Khas Iko-Iko
Tokoh pahlawan dalam cerita iko-iko biasanya adalah seorang pria muda
yang baik dan sederhana, dan pada umumnya miskin. Setelah keluar dari
lingkungan kelurganya, ia acapkali dipermalukan oleh orang kaya atau para
kapten dengan panggilan sesemme same (si compang-camping), tetapi berkat
nasehat dari ibu dan ayahnya, maka pad akhirnya dia dapat membuat perhitungan
dengan mereka.
Tokoh perempuannya adalah seorang gadis dari keluarga kaya, memiliki
sifat yang keras, dan benar-benar seorang pahlawan perempuan. Hal ini sesuai
dengan hubungan sosial suku bajo : peran kedua jenis kelamin relatif sejajar.
System monogamy berlaku dalam masyarakat ini dan masalah keuangan dipegang
oleh perempuan bajo. Si tokoh perempuan yang membuat penasaran si pemuda
meminta kepada si pemuda untuk diantarkan ke sumur bajak laut untuk dapat
mendapat kesembuhan. Perjalanan inisiasi ini dilakukan berdua, penuh dengan
parabol keumpamaan dari kawin lari. Berkat bantuan nenek moyangnnya, sang
tokoh pahlawan pria mendapatkan kekuatan supranatural untuk menaklukkan
bajak laut yang menjaga sumur atau yang berkeliaran di laut. Akhirnya, dalam
sebuah duel, sang pahlawan membunuh sang kapiten yang kaya yang juga
berencana untuk menikahi si gadis. Kita bisa menemukan bentuk narasi inni
dalam banyak iko-iko.
Para pahlawan dari iko-iko bukanlah contoh yang member perjalanan
tentang moralitas. Mereka memang pemberani, namun kekuatan supranatural dan
tipu daya yang mereka miliki dipergunakan untuk membantai musuh-musuhnya
tanpa ampun. Perjalanan inisiasi dimulai dengan keluguan, tidak gesit sampai
pada kekerasan dan kadang-kadang serakah, yang penting adalah kemenangan.
Cara itu membawa keberhasilan yang nyata : mendapatkan cinta seorang wanita
muda yang menarik, kaya, dan kadang pula mendapat kekuasaan (berhasil
mendapat warisan dari sang mertua yaitu ayah adari istrinya Lollo, kepala
desa/armada. Secara umum tidak ada upaya yang ditampilkan oleh sang pahlawan
unntuk mengubah kondisi suku orang bajo ataupun mempergunakan
kekuatannaya untuk menekan bangsa lain. Dengan prestasi perorangan ini, sang
pahlawan lebih menunjukkan sikap pragmatik dan bertindak untuk kepentingan
pribadi, daripada sikap dan semangat ksatria dan bertindak kepentingan kolektif.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Abeli, Kelurahan Lapulu Kota
Kendari pada tanggal 8 Juni 2014.
B. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat Kualitatif yaitu
proses pengumpulan data secara sistematis dan intensif untuk memperoleh
Informasi mengenai Pelestarian Tradisi Lisan Iko-iko pada masyarakat Bajo
sebagai khasanah Nasional, Terkhusus di kec Abeli, Kelurahan Tipulu.
C. Subjek Penelitian
Yang menjadi Subjek dalam Penelitian Ini yaitu adalah sebagian dari
Mayarakat Bajo yang tinggal di kecamatan Abeli karena populasi dalam penelitian
ini hanya sebagian dari Masyarakat Bajo yang tinggal di kec Abeli kelurahan
tipulu, maka dalam penelitian ini menggunakan tekhnik total sampling yaitu yang
menjadi Populasi juga menjadi sampel Penelitian.
D. Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang di peroleh secara langsung dari sebagian
Masyarakat Bajo yang tinggal di kec Abeli.
Sedangkan untuk data sekunder di peroleh dari beberapa dokumen seperti
Pengambilan Gambar Informan yang ada pada sebagian masyarakat bajo yang
tinggal di kec. Abeli Kelurahan Lapulu.
E. Tekhnik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan
cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan
membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang
lain. (Sugiyono, 2007:89).
F. Tekhnik Pengumpulan Data
Adapun Tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah mengacu pada pendapat Prof.Dr.Sugiyono (2013: 137) yaitu sebagai
berikut:
a. Pengumpulan data yaitu dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai
sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari settingnya, data dapat dikumpulkan
pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode
eksperimen, dirumah dengan berbagai responden, pada suatu seminar, diskusi, di
jalan dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data
dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder. Sumber primer adalah
sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber
sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen.
b. Interview ( Wawancara )
Wawancara digunakan sebagai tekhnik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasaalahan yang harus
diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang
lebih mendalam dan jumlah respondenya sedikit/kecil. Tekhnik pengumpulan data
ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri, atau setidak-tidaknya pada
pengetahuan dan atau keyakinan pribadi.
c. Dokumen Adalah setiap bahan tertulis atau film, yang dipersiapkan karena
adanya permintaan seorang penyidik . Dokumen yang dimaksud disini yaitu
dokumen berupa gambar Informan pada masyarakat.
Studi Dokumen Penelitian, dalam tekhnik pengumpulan data (Iskandar, 2013: )
yaitu penelahan terhadap referensi-referensi yang berhubungan dengan focus
permasaalahan peneltian. Peneliti dapat mengumpulkan dokumen yang berkaitan
dengan penelitian seperti
Foto atau Gambar dari keadaan Masyarakat Bajo.

G. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui trianggulasi, dalam
penelitian ini digunakan tekhnik pemeriksaan yang memanfaatkan trianggulasi
sumber dan trianggulasi metode (Safari, 2003: 178).
Dalam tekhnik pengumpulan data, trianggulasi diartikan sebagai takhnik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai tekhnik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.(Sugiyono, 2013: 241)
Trianggulasi dengan menggunakan sumber dalah peneliti mengambil
beberapa orang Informan dari sebagin masyarakat bajo yang tinggal di kec. Abeli
Sebagi informan mengenai pelestarian tradisi lisan iko-iko dalam masyarakat bajo
di kec. Abeli kelurahan Lapulu.
Trianggulasi dengan menggunakan metode yakni peneliti mengecek
kebenaran data yang diperoleh melalui pengamatan/wawancara mengenai
pelestarian tradisi lisan “iko-iko” pada masyarakat bajo di kcamatan Abeli, Kel.
Lapulu.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Persebaran Suku Bajo di Sulawesi Tenggara / Kendari
Menurut Alimaturahim (1991: 5) pada tahun 1990 populasi suku Bajo di
Sulawesi Tenggara diperkirakan sebanyak 350.000 orang yang tersebar di
kabupaten Kendari, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna.
Nenek Moyang Bangsa Indonesia dikenal sebagai Pelaut ulung. Julukan
itu agknya mash melekat pada keseharian masyarakat Suku Bajo di Sulawesi
Tenggara. Sejak ratusan tahun lampau,warga Bajo memang hidup diatas laut.
Dengan Hanya Menggunakan Perahu, mereka Piawai Mengarungi gelombang
demi gelombang tanpa mengenal lelah. Hingga akhirnya, para pendahulu SUku
Bajo membangun Pemukiman di Permukaan Samudera. Di mata Masyarakat Suku
bajo, laut adalah segalanya. Merek memandang laut sebagai satu-satunya sumber
pengidupan(Uniawati, 2012: 17).
Orang Bajo mendiami teluk Kendari yang Indah, sejak Lama telah
berbakti dengan munculnya suatu kampong di teluk Kendri yang bernama
Kampung Bajo. Setelah Ekspedisi Bone 1824/25 dimana Belanda menyerang
pelabuhan Bajoe yang merupakan usat permukiman orang bajo, banyak diantara
mereka terpencar dan dalam Keterpencaranya mereka tinggal dan bermukimn
antara lain di Kendri. Pada awal abad ke-19 menjelang datangnya Vosmaer,
Kendari merupakan Pusat permukiman orang Bajo yang terbesar di Sulawesi.
Pada saat itu pula dengan kedatangan Arung Baku di Kendari pada tahun 1824
yaitu setelah gagal melawanButon, maka dari Tiworo orang Bugis dan Orang
tiworo banyak datang menjadi penduduk Kendari ( Husen A, Chalik, 1984: 20).
Masyarakat kota Kendari sebagian di Huni oleh Etnis Bugis dan bajo.
Orang Bugis mendiami daerah Pantai, sedang Orang Bajo bermukim diatas
permukaan air di Teluk Kendari. Masing masing Suku Ini bertempat Tinggal
dalam suatu perkampungan. Perkampungan Orang Bajo terletak disebelah Barat
bukit Tanjung dan Muara Sungai Kendari. Pada Perkembangan Kemudia
Kampung Bajo dan tempat pendirian Pertama loji oleh Vosmaer menjadi Pusat
Kota Kendari. Pemukiman Penduduk disebelah Timur teluk, kemudian menjadi
kendari caddi sebagai tempat pendirian Asrama Militer Belanda sejak 1906 (La
Ode Rabani, 2010: 61).
2. Keadaan Sarana Dan Prasarana
Tempat tinggal Masyarakat Bajo di kec. Abeli, kel. Lapulu, masi banyak
terdapat rumah Penduduk yang bahan dasar rumahnya dari papan. Kemudian di
perkampungan Bajo ini juga tersedia Air Bersih dan WC untuk Masyarakat bajo,
dimana kesemuanya ini merupakan bantuan dari pemerintah setempat. Selain itu
juga di sepanjang kampung Bajo ini juga terdapat warung warung Kecil dengan
barang barang yang dijual seadanya guna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Bajo, selain itu juga terdapat conter Penjual pulsa di sepanjang jalan Setapak
perkampungan Bajo di Keluraahan Abeli ini. Tidak hanya itu sebagaian
masyarakat Bajo juga memiliki Kendaraan Sendiri seperti Motor dan ada juga
Beberapa buah Mobil yang dimiliki oleh masyarakat bajo. Sarana dan prasarana
yang ada bertujuan untuk membantu masyarakat Bajo didalam pemenuhan
kebutuhan sehari-hari.
3. Keadaan Fasilitas kec. Abeli Khususnya Pada Masyarakat Bajo
Fasilitas yang dimiliki oleh Masyarakat Bajo di Kecamatan Abeli ini yaitu
kurang Lebih ada sekitar 12 buah Kapal sebagai sarana untuk menangkap Ikan.
Dimana kapal kapal yang berjumlah 12 buah tersebut merupakan bantuan dari
Dinas Perikanan untuk masyarakat bajo guna memudahkan mereka didalam
menangkap Ikan yang notabene merupakan mata Pencaharian Masyarakat Bajo.
Selain kapal kapal tersebut ada juga Perahu Kecil yang semua penduduk
masyarakat bajo memiliki Perahu tersebut sebagai sarana ketika memancing atau
berpergian ke pulau-pulau lain. Ada beberapa Penduduk yang juga mendapatkan
Bantuan berupa Penjemuran Ikan, sebagai alat untuk memudahkan mereka
menjemur Ikan ikan hasil tangkapanya untuk kemudian dijual.
4. Keadaan Masyarakt Bajo di Kec. Abeli
Keadaan masyarakat Bajo di Kecamtan Abeli ini sangat Rukun, mereka
saling membantu dalam pekerjaan seperti misalnya menjemur ikan, menurunkan
perahu baru dan lain sebagainya. Kehidupan mereka sangat sederhana. Banyak
diantara mereka ketika waktu siang pergi ke laut dan ada juga yang ke Pasar untuk
menjual ikan ikan hasil tangkapan mereka.
B. Hasil Dan Pembahasan
1. Sikap masyarakat Bajo terhadap tradisi Lisan Iko-Iko saat ini
Menurut Informasi yang didapat dari beberapa Informan mengenai Tradisi
Lisan Iko iko saat ini khususnya Di kecamaatan Abeli seperti yang di kemukakan
oleh salah seorang Penduduk masyarakat bajo yang bernama Wa Ode Suna 72
tahun, beliau mengatakan bahwa tradisi Lisan Iko iko saat ini sudah hampir
Punah ini dikarenakan banyak pelantun – pelantunya yang sudah Meninggal dunia
sehingga sudah sangat sulit untuk tradisi ini diwariskan ke Generasi berikutnya .
untuk saat ini Iko-iko masih sering dilantunkan pada Acara pernikahan, ketika
memancing pada malam Hari, dan juga sampai saat ini diperca bahwa ketika
orang tua melantunkan iko iko ini pada orang Sakit maka orang tersebut akan
sembuh, menurut kepercayaan Mereka bawa Iko iko ini merupakan sesuatu yang
Keramat sehingga apabila tidak di lantunkan pada acar acara tertentu maka
akibatnya akan fatal terhadap orang yang mengadakan acara tersebut.
2. Peranan Tradisi Lisan Iko – Iko saat Ini pada Msyarakat Bajo
Berbicara mengenai Peranan Tradisi Lisan Iko-iko ini di tengah-tengah
kehidupan Masyarakat Bajo saat ini sudah hampir punah ini dikarenakan banyak
generasi selanjutnya banyak yang bahkan tidak mengetahui bagaimana lantunan
Iko iko itu Sendiri. Menurut Juhang 50 tahun megatakan bahwa untuk saat ini
Iko iko masi sering di lantunkan oleh orang orang tua pada masyarakat bajo.
Peranan tradisi Lisan Iko iko dalam masyarakat Bajo pada acara acara tertentu
memiliki makna yang mendalam bagi yang mengadakan acara maupun yang
Melantunkan iko-iko itu sendiri seperti misalnya:
a. Peranan Iko iko pada Acara Pernikahan
Menurut salah satu informan yang ditemui mengatakan bahwa pentingnya
iko-iko ini dilantunkan pada saat acara pernikahan dipercaya agar kedua
mempelai tersebut didalam berumah tangga di jauhkan dari segala pertengkaan,
diberikan Anak anak yang baik yang bisa berbakti kepada kedua Orang Tuanya.
Itulah sebabnya sehingga Iko iko ini selalu wajib di Lantunkan ketika ada acara
Pernikahan, menurutnya apabila iko iko ini tidak dilantunkan maka akan
mendapat masalah malah petaka karna tradisi ini dianggap sebagai tradisi yang
dikeramatkan.
b. Peranan Iko-iko pada saat memancing
Menurut masyarakat bajo di kec. Abeli bahwa Peranan iko iko dilantunkan
pada saat Memancing bertujuan agar orang tersebut mendapatkan Ikan yang
banyak.
c. Peranan Iko iko Bagi Orang yang sakit
Masyarakat mempercayai bahwa ketika Iko iko ini dilantunkan di hadapan
orang sakit maka orang yang sakit tersebut akan merasa tenang setelah
mendengarkan lantunan iko iko tersebut dan rasa sakit yang dideritanya akan
berangsur angsur membaik. Hal ini di ungkapkan oleh salah seorang Penutur iko
iko yang ditemui oleh peneliti dirumahnya.

3. upaya yang dilakukan oleh masyarakat Bajo dalam Melstarikan tradisi
lisan iko-iko saat ini
Seperti yang kita ketahui bahwa tradisi lisan iko iko ini sendiri sudah
hamir punah dikarenakan Penutur penturnya yg sudah tidak ada lagi dan anak
cucu mereka yang tidak mengetahui lantunan dari Iko-iko ini sehingga salah satu
cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat Bajo khususnya yang masi menghafal
dengan jelas lantunan dari Iko iko itu sendiri yaitu seperti yang diungkapkan
beberapa orang dari Masyarakat bajo yaitu untuk saat ini ada beberapa orang dari
anak mereka menyuruh orang tua pelantun Iko iko untuk melantunkan iko iko ini
yang kemudia merekam lantunan tersebut. Dengan demikian ketika mereka ingin
mendengarkan lantunan tersebut mereka cukup memutar Rekaman tersebut dan
kemudian mendengarkan sekaligus menghafal lantuan Iko iko tersebut. Selain itu
saat ini ada buku yang didalam buku tersebut membahas dengan jelas mengenai
Iko iko hanya saja untuk mendapatkan buku tersebut sangat susah karna buku
tersebut disimpan oleh orang tua yang di percaya pada masyarakat bajo.

BAB V
PENUTUP
A. Keimpulan
Berdasarkan Pembahasan diatas mengenai peranan tradisi lisan iko iko
pada masyarakat bajo maka kesimpulanya yaitu sebagai berikut:
1. Iko-iko adalah cerita epik yang dinyanyikan secara acappella, dari hafalan, oleh
seorang penyanyi tunggal. Cerita iko-iko dilantunkan pada malam hari pada acara
yang beragam (saat memancing semalam suntuk), peluncuran perahu baru,
selamatan rumah baru, malam pernikahan, saat pergi melaut, orangtua
menidurkan anaknya, dll
2. Saat Ini iko iko sudah hampir Punah dikalangan masyarakat bajo ini
dikarenakan pelantun pelantun iko iko yang sudah tidak ada, dan generasi seperti
anak cucu mereka yang juga tidak mengetahui mengenai iko iko ini sehingga
banyak diantara orang Bajo yang bahkan sudah tidak mengetahui arti
sesungguhnya dari Tradisi Iko Iko saat ini.
3. Tradisi Iko iko ini merupakan tradisi yang di percayai sangat Keramat bagi
masyarakat Bajo sehingga tidak semabrang orang yang bisa melantunkan iko iko
ini.
4. Sala satu Upaya yang dapat dilakukan dalam Pelestarian Iko iko ini yaitu
dengan meminta kepada orang tua untuk melantunkan kembali iko iko ini dan
kemudian merekamnya sehingga dengan mudah untuk mendengar kembali dan
sekaligus menghafal lantunan Iko iko ini.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Perlunya Dukungan Masyarakat Bajo didalam melestarikan Tradisi Lisan Iko
Iko ini sehingga tradisi ini tidak dilupakan oleh masyarakat.
2. Perlunya kerja sama antara orang tua bajo dalm hal ini pelantun Iko iko dengan
anak cucu mereka/generasi penerus pelantun iko iko.
DAFTAR PUSTAKA
Bahtiar. 2011. Transisi Kebudayaan Suku Bajo. Kendari: Himpunan Sarjana Pendidikan
Ilmu-Ilmu Sosial (HISPISI) Cabang Sultra.
Chalik, Husen A. 1984. Sejarah Sosial daerah Sulawesi Tenggara. Kendari: Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah
Dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi Dan DOkumentasi Sejarah Nasional.
Hafid, Anwar. 2008. Asal Usul Persebaran Suku Bajo. Kendri: Unhalu Press.
Rabani. 2010. Kota Kota Pantai Di Sulawesi Tenggara.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D. Bandung: Alfabeta
Bandung.
Uniawati. 2012. Mantra Melaut Suku Bajo Interpretasi Semiotik Riffatere. Kendari:
Kantor Bahsa Provinsi Sulawesi tenggara Kementrian Pendidikan Dan
Kebudayaan.