LAPORAN PRAKTIK ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA NY. M DENGAN
DI RUANG MAWAR PANTI WREDHA HARAPAN IBU
Disusun untuk Memenuhi tugas Praktik Profesi Keperawatan Gerontik
Pembimbing Akademik : Ns. Artika Nurrahima,M.Kep

Oleh :
Nurul Dini Hanifa

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XXIX
DEPARTEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa
Laporan Akhir Praktek Keperawatan Gerontik ini merupakan hasil karya sendiri
yang isinya sesuai dengan kondisi lansia, tanpa tindakan plagiarisme sesuai
dengan peraturan yang berlaku di Universitas Diponegoro.
Nama : Nurul Dini Hanifa
NIM :

Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan tindakan plagiarisme, saya bersedia
menerima sanksi sesuai dengan peraturan akademik Universitas Diponegoro.

Semarang, Februari 2017

Nurul Dini Hanifa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lanjut usia merupakan tahap lanjut dari proses kehidupan yang ditandai
dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Semua manusia akan mengalami tahapan tumbuh kembang mulai dari bayi,
anak-anak, dewasa dan pada akhirnya akan menjadi tua. Pada tahap ini, lansia
akan mengalami perubahan-perubahan kehidupan baik perubahan fisik,
perubahan sosial dan perubahan psikologis (Effendi, 2009). Memasuki masa
tua berarti mengalami kemunduran, seperti kemunduran fisik yang ditandai
dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong,
pendengaran mulai kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan
melambat serta figur tubuh yang tidak proporsional (Kushariyadi, 2008).
Semua sistem tubuh pada lansia mengalami kemunduran, salah satunya
kemunduran pada sistem muskoloskeletal yang dialami lansia misalnya
rematik, penyakit gout, lumbago dan nyeri sendi (Maryam, 2008).
Nyeri sendi merupakan suatu peradangan sendi yang ditandai dengan
pembengkakan sendi, warna kemerahan, panas, nyeri dan terjadinya gangguan
gerak, pada keadaan ini lansia sangat terganggu, apabila lebih dari satu sendi
yang terserang (Santoso, 2009). Bagian yang terserang nyeri biasanya adalah
persendian pada jari-jari, tulang punggung, sendi penahan berat tubuh (lutut
dan panggul). Penyakit pada sendi yang sering menyebabkan gejala nyeri
adalah akibat regenerasi atau kerusakan pada permukaan sendi tulang yang
banyak ditemukan pada lanjut usia. (Nugroho, 2008). Beberapa kelainan
akibat perubahan sendi yang banyak terjadi pada lansia antara lain;
osteoarthritis, arthritis rheumatoid dan Gout. Kelainan ini dapat menimbulkan
gangguan berupa rasa nyeri, bengkak, kekakuan sendi, keterbatasan luas gerak
sendi, gangguan berjalan dan aktivitas keseharian lainnya (Bangun, 2009).
Kemunduran fisik pada lansia ditandai dengan adanya gangguan fungsi
jalan, penurunan fungsi keseimbangan, penurunan kemampuan fungsional dan

B. Sehingga tidak jarang lansia dianggap sebagai kelompok masyarakat dengan tingkat ketergantungan yang tinggi. Tujuan Umum Melakukan asuhan keperawatan pada Ny. 2007). Dari hal tersebut berdampak pada meningkatnya ketergantungan lansia dalam memerlukan bantuan orang lain (Tamher dan Noorkasiani. M mengeluhkan nyeri ektremitas bawah pada saat berjalan terutama ekstremitas bawah sebelah kanan. fungsi pendengaran menurun hingga 67% dan fungsi daya ingat menurun hingga 61% (Zuhdi. M dengan Hambatan Mobilirtas Fisik untuk mengatasi masalah keperawatan yang dialami oleh klien. penurunan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (Brach dan Vanswearing. Dimana salah satu tugas perawat dalam keperawatan gerontik sendiri dalam meningkatkan kualitas hidup lansia adalah dengan mengatasi gangguan kesehatan yang umum terjadi pada lansia (Shofia Rosma. Oleh karena itu diperlukan suatu bentuk intervensi untuk membantu lansia dalam melakukan segala aktivitas sehari-harinya secara mandiri. 2012). dalam hal ini perawat memiliki peran dan fungsi yang penting misalnya sebagai pemberi asuhan keperawatan secara langsung.M untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan memperhatikan proses penuaan ditinjau dari segi bio-psiko- sosial-spiritual dan cultural. Ny. . serta sebagai konselor. fungsi penglihatan menurun hingga 72%. perawat sebagai motivator dan inovator bagi lansia dalam memberikan advokasi. Berdasarkan hal tersebut mahasiswa akan memberikan asuhan keperawatan pada Ny. Ketergantungan lansia terhadap orang lain menurut Sri dan Budi (2008) akan menyebabkan lansia semakin tidak aktif sehingga kualitas hidup lansia pada hari tuanya juga akan menurun. fungsi kelenturan tubuh menurun hingga 64%. Klien mengatakan keterbatasan gerak dialami sejak 2 hingga 3 tahun yang lalu. Klien melakukan aktifitas sehari-hari dengan menggunakan walker yang disediakan dari panti wredha Harapan Ibu dan dibantu oleh pengasuh panti. 2014).2012). pendidik bagi lansia. Penurunan fungsi tubuh lansia mengenai kekuatan otot menurun hingga 88%.

Mengatasi masalah keperawatan yang dialami Ny. 5. Tujuan Khusus 1. Menentukan dan merumuskan masalah keperawatan yang muncul pada Ny. Membuat rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan masalah keperawatan yang dialami oleh Ny.M untuk mengatasi masalah tersebut 6. Menentukan diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny. Melakukan pengkajian terhadap Ny.C. M .M dengan hambatan mobilitas fisik. 7.M 2.M dengan melakukan implementasi.M dengan hambatan mobilitas fisik. 4.M dengan hambatan mobilitas fisik. Menentukan prioritas masalah keperawatan pada Ny. 3. Melakukan evaluasi dan membuat rencana tindak lanjut dari tindakan keperawatan yang diberikan kepada Ny.

gangguan jalan dan aktifitas keseharian lainnya. Pola berkemih tidak normal. seperti banyak berkemih di malam hari. perubahan kognitif. Perubahan Fisik Perubahan fisik yang terjadi pada lansia. sehingga mengharuskan lansia pergi ke toilet sepanjang malam. Hal ini menunjukkan bahwa inkontinensia urin meningkat. Pencernaan dan metabolisme Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan seperti penurunan produksi dan kehilangan gigi yang terjadi pada lansia. jongkok dan berjalan serta hambatan dalam melakukan kegiatan sehari – hari. Sistem perkemihan Banyak fungsi yang mengalami kemunduran. kesulitan bergerak dari duduk ke berdiri. 1. kekakuan sendi. meliputi : a. terjadinya penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot. Sistem muskuloskeletal Perubahan pada sistem muskuloskeletal yang dialami lansia antara lain sebagai berikut. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. osteoporosis. contohnya laju filtrasi. penurunan kemampuan fungsional otot. c. Sistem pendengaran seperti presbiaskus (gangguan pada pendengaran) oleh karena hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam. ekskresi dan reabsorpsi oleh ginjal. d. perubahan spiritual. dan perubahan psikososial. . nyeri sendi. Sistem indera Perubahan pada sistem penglihatan yang dialami lansia erat kaitannya dengan presbiopi. b. Teori Penuaan Proses penuaan pada lansia terjadi secara degeneratif yang akan berdampak pada perubahan – perubahan pada diri manusia. Perubahan yang terjadi meliputi perubahan fisik.

Kemampuan belajar (Learning) Lansia yang sehat dan tidak mengalami demensia masih memiliki kemampuan belajar yang baik. Kecepatan proses di pusat saraf menurun sesuai pertambahan usia. Sistem reproduksi Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan mengecilnya ovarium dan uterus. Sistem saraf Penuaan menyebabkan penurunan presepsi sensori dan respon motorik pada susunan saraf pusat dan penurunan resptor proprioseptif. 2. e. Di atas usia 80 tahun didapati kemunduran kemampuan yang cukup banyak. perubahan tersebut mengakibatkan penurunan fungsi kognitif. . bahkan di beberapa negara maju didirikan University of third age. meskipun adanya penurunan. Ingatan jangka panjang (long term memory) kurang mengalami perubahan. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar seumur hidup (long-life learning). Pada laki – laki testis masih bisa memproduksi spermatosa. Perubahan kognitif a. ingatan) Pada lansia. Lansia akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kembali cerita atau kejadian yang tidak begitu menarik perhatiannya dan informasi baru seperti TV dan film. IQ (Intellegent Quicient) Kemampuan persepsi dan daya membayangkan (fantasi) pada lansia terjadi penurunan. hal ini terjadi karena susunan saraf pusat pada lansia mengalami perubahan morfologis dan biokimia. sedangkan ingatan jangka pendek (short term memory) atau seketika 0 – 10 menit memburuk. f. daya ingat (memory) merupakan salah satu fungsi kognitif yang seringkali paling awal mengalami penurunan. b. c. Memory (daya ingat. Pada usia 65 – 75 tahun didapati kemunduran pada beberapa kemampuan dengan variasi perbedaan individu yang luas. Terjadi atrofi payudara.

Perubahan performance yang membutuhkan kecepatan dan waktu mengalami penurunan. d. h. Pemecahan masalah Lansia mempunyai banyak permasalahan yang dahulunya dengan mudah dapat dipecahkan menjadi terhambat karena terjadi penurunan fungsi indra. Perubahan spiritual Agama atau kepercayaan lansia makin berintegrasi dalam kehidupannya. Kebijaksanaan (Wisdom) Lansia akan semakin bijaksana dalam menghadapi suatu permasalahan. e. g. Motivasi Lansia mempunyai motivasi baik kognitif maupun afektif untuk mencapai / memperoleh sesuatu yang cukup besar. Penurunan itu bersifat wajar sesuai perubahan organ – organ biologis ataupun perubahan yang sifatnya patologis. Kebijaksanaan sangat tergantung dari tingkat kematangan kepribadian seseorang dan pengalaman hidup yang dijalani. Kinerja (Performance) Lansia akan mengalami penurunan kinerja baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hambatan yang lain dapat berasal dari penurunan daya ingat. f. pemahaman dan lain – lain yang berakibat bahwa pemecahan masalah menjadi lebih lama. Lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiata agama dan makin teratur dalam kehidupan keagamaannya. Hal ini dapat . 3. Hal ini dipengaruhi oleh konsentrasi dan fungsi pendengarannya lansia yang mengalami penurunan. akan tetapi motivasi tersebut seringkali kurang memperoleh dukungan kekuatan fisik maupun psikologis. sehingga hal – hal diinginkan banyak berhenti di tengah jalan. Kemampuan pemahaman (Comprehension) Kemampuan pemahaman atau menangkap pengertian pada lansia mengalami penurunan.

Pensiun Pensiun adalah tahap kehidupan yang dicirikan oleh adanya transisi dan perubahan peran yang menyebabkan stres psikososial. mandiri. penurunan fungsi tubuh dan trauma dari kehidupan semasa muda. Perubahan psikososial a. Perbedaan yang dimiliki lansia jika dibandingkan dengan orang yang lebih muda yaitu sikap mereka terhadap kematian. b. lansia mengalami perubahan kepribadian. Hal ini menunjukkan bahwa lansia cenderung tidak terlalu takut terhadap konsep dan realitas kematian. Hilangnya kontak sosial dari area pekerjaan membuat seseorang lansia pensiunan merasakan kekosongan. . orang tersebut secara tiba – tiba dapat merasakan begitu banyak waktu luang yang ada di rumah disertai dengan sedikitnya hal – hal yang dapat dijalani. dilihat dalam berfikir dan bertindak sehari – hari. Pada tahap perkembangan usia lanjut merasakan atau sadar akan kematian. Spiritualitas berperan bagi lansia untuk menghadapi berbagai keadaan seperti kecemasan. Dengan adanya penurunan pada kedua fungsi tersbut. ketakutan akan mati. 4. Kepribadian lansia dibedakan menjadi 5 tipe yaitu tipe kepribadian konstruktif. depresi. intrinsik dan merupakan proses individual yang berkembang sepanjang rentang kehidupan. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa spiritual dan agama menjadi sumber kekuatan bagi kehidupan lansia. Lansia yang telah mempelajari cara menghadapi perubahan hidup melalui mekanisme keimanan akhirnya dihadapkan pada tantangan akhir yaitu kematian. Spiritualitas pada lansia bersifat universal. Keimanan spiritual atau religius mempengaruhi perilaku lansia untuk bersiap menghadapi krisis kehilangan dalam hidup sampai kematian. Perubahan aspek kepribadian Seorang lansia akan mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor.

kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. gangguan metabolisme (misalnya diabetes mellitus). yang berarti fungsi seksual mengalami penurunan karena sudah tidak produktif. tipe kepribadian tergantung. Nyeri Akut 1. B. . dan tipe kepribadian kritik diri. Definisi Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan (International Association for the Study of Pain) awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung < 6 bulan. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Seperti gangguan jantung. d. pendengaran sangat berkurang. vaginitis dan beru selesai operasi prostatektomi. terakhir kebutuhan terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung berkurang. tipe kepribadian defensive. gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia misalnya badan yang menjadi bungkuk. Pada wanita mungkin ada kaitannya dengan masa menopause. penglihatan. penglihatan kabur. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat. sehingga sering menimbulkan keterasingan. c. Perubahan minat Lansia juga mengalami perubahan dalam minat. e. bermusuhan. Lansia mengalami kemunduran fungsi indra pendengaran. Perubahan fugsi dan potensi seksual Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik.

Perubahan pada parameter fisiologis (mis tekanan darah. Laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas (mis anggota keluarga. tampak kacau. mendesah) n. skala penilaian numerik) k. menangis. aktivitas yang berulang) o. Batasan karakteristik a. Fokus pada diri sendiri j. Perubahan frekuensi pernafasan d. FACES. Brief Pain Inventory) l. dan end tidal karbondioksida CO2) p. frekuensi pernapasan. Perubahan tekanan darah c. Keluhan tentang karateristik nyeri dengan menggunakan standar instrumen nyeri (mis McGill Pain Questionnaire. Gangguan tidur . merengek. waspada. Sikap tubuh melindungi s. saturasi oksigen. skala analog visual. pemberi asuhan) m. meringis) h. gerakan mata berpencar atau tetap pada satu fokus. mencari orang lain dan atau aktivitas lain. proses berpikir. Perubahan posisi untuk menghindari nyeri q. Fokus menyempit (mis gangguan persepsi waktu. Melaporkan nyeri secara verbal e. Keluhan tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri (mis skala Wong-Baker.2. interaksi dengan orang dan lingkungan) i. Ekspresi wajah nyeri (mis mata kurang bercahaya. frekuensi jantung. Sikap melindungi area nyeri r. Mengekspresikan perilaku (mis gelisah. Diaforesis f. Perilaku distraksi (mis berjalan mondar mandir. Perubahan selera makan b. Dilatasi pupil g.

agens mustard) C. Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan bergerak secara fisik. prosedur bedah. metilen klorida. mengangkat berat. Gangguan perkembangan otot dan kerusakan sistem syaraf pusat juga dapat memicu timbulnya masalah hambatan Mobilitas Fisik (Setiati & Roosheroe. Hambatan mobilitas intelektual adalah keadaan individu yang mengalami keterbatasan berfikir. trauma. Definisi Hambatan mobilitas fisik merupakan keadaan dimana individu tidak mampu bergerak secara aktif akibat dari berbagai penyakit atau terjadinya gangguan pada organ tubuh yang bersifat fisik maupun mental (Bimoariotejo. 2. kelemahan. iskemia. Hambatan mobilitas emosional adalah keadaan individu yang mengalami keterbatasan secara emosional yang terjadi sebagai hasil perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri. olahraga berlebihan) c. 2009). kekakuan otot dan masalah psikologi. Penyebab Hambatan Mobilitas Fisik Penyebab dari hambatan mobilitas fisik antara lain yaitu dikarenakan adanya rasa nyeri. 2005). Agens cedera kimiawi (mis luka bakar. Jenis Hambatan Mobilitas Hambatan mobilitas terbagi menjadi 3 yaitu hambatan mobilitas fisikn. emosional dan sosial. Faktor yang berhubungan a. 3. Hambatan Mobilitas Fisik 1. Agens cedera fisik (mis abses. Hambatan mobilitas sosial adalah keadaan individu dimana mengalami keterbatasan dalam melakukan interaksi sosial dan mempengaruhi perannya dalam kehidupan bersosialisasi (Potter dan Perry. luka bakar. kapsaisin. terpotong. 2007). Keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah. amputasi. . Agens cedera biologis (mis infeksi. neoplasma) b. intelektual. 3.

Keterbatasan kemampuan melakukan ketrampilan motorik kasar i. Tremor yang diindikasi oleh pergerakan k. Intoleransi aktivitas danpenurunan kekuatan pertahanan j. Hilangnya integritas struktur tulang o.4. Perubahan metabolism sel b. Kepercayaan budaya terkait aktivitas sesuai usia e. Keadaan alam perasaan depresi atau ansietas g. Keterbatasan rentang pergerakan sendi j. Batasan karakteristik a. Faktor yang berhubungan a. Ketidaknyamanan i. Keterbatasan ketahanan kardiovaskular n. Perubahan cara berjalan f. Kaku sendi atau kontraktur k. Asik dengan aktivitas lain sebagai pengganti gerak d. Penurunan kekuatan kendali atau massa otot f. Keterlambatan perkembangan h. Melambatnya pergerakan m. Gerakan tidak teratur atau tidak terkoordinasi 5. Kesulitan membolak-balik posisi tubuh c. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan ketrampilan motorik halus h. Ketidak stabilan poetur tubuh l. Dispnea saat beraktivitas e. Kurang dukungan lingkungan fisik atau sosial m. Medikasi . Pergerakan menentak g. Indeks masa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia c. Penurunan waktu reaksi b. Gangguan kognitif d. Defisiensi pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik l.

Massa otot menurun akibat gangguan metabolisme dan otot tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama (Potter dan Perry. Pemecahan protein akan mengakibatkan hilangnya massa tubuh pasien. Gaya hidup yang kurang gerak atau disuse atau melemah v. Keengganan untuk memulai pergerakan u. Program pembatasan pergerakan t. atrofi. penurunan massa otot. Berikut beberapa komplikasi dari hambatan mobilitas fisik menurut (Kristanto & Arina. Gangguan metabolik yang dapat terjadi meliputi: 1) Defensi kalori dan protein Hambatan mobilitas fisik menyebabkan asama amino tidak digunakan dan akan dieskresikan. Gangguan neuromuscular r. Pengaruh laindari keterbatasan mobilitas yang memengaruhi sistem skeletal adalah gangguan metabolisme kalsium dan gangguan mobilitas sendi. 2011) a. ketidakseimbangan eletrolit. p. Oleh karena itu. Malnutrisi w. 2005). kalsium dan gangguan pencernaan. Nyeri s. yang membentuk sebagian otot. lemak. Pemecahan asam amino akan terus . dan penurunan stabilitas. penurunan massa otot tidak mampu mempertahankan aktifitas tanpa peningkatan kelelahan. Komplikasi Pengaruh hambatan mobilitas fisik pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan mobilitas permanen. Keterbatasan mobilitas memengaruhi otot pasien dengan menunjukkan tanda kehilangan daya tahan. Gangguan sensori perceptual 6. Perubahan Metabolik Hambatan mobilitas fisik menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme karbohidrat. protein dan keseimbangan cairan dan eletrolit. Gangguan musculoskeletal q.

2) Ekskresi kalsium meningkat Peningkatan ekskresi kalsium disebabkan oleh efek hambatan mobilitas fisik yang meningkatkan kerja ginjal. terjadi dan akan menghasilkan nitrogen negatif. c. Pemeriksaan Penunjang a. kifosis dan lordosis. Penatalaksanaan Berikut penatalaksanaan gangguan mobilitas yang dapat dilakukan di area komunitas menurut hidayat (2012): . stabilitas. penurunan masa otot. Mengkaji tulang belakang: skoliosis. Keadaan tidak beraktivitas dan imobilitas selama 7 hari akan meningkatkan ekskresinitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia. kelemahan akibat katabolisme jaringan. kekuatan otot dan koordinasi dan ukuran otot e. Kadar plasma kortisol lebih tinggi pada usia lanjut yang imobilisasi sehingga menyebabkan metabolisme manjadi katabolisme. 4) Gangguan gastrointestinal Obstruksi usus mekanik dapat dialami bila konstipasi tidak ditangani dengan baik karena adanya distensi dan peningkatan intraluminal yang akan semakin parah bila terjadi dehidras b. kehilangan berat badan. kekakuan d. Mengkaji skeletal tubuh : deformitas. ginjal mengeluarkan kalsium dan endapannya di dalam ginjal sehingga terjadi hiperkalsemia. Mengkaji sistem otot : kemampuan mengubah posisi. benjolan. pemendekan ekstremitas dan angulasi abnormal b. Mengkaji cara berjalan f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer 8. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit 7. Mengkaji sistem persendian : luas gerak. 3) Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia) Hambatan mobilitas fisik akan mempengaruhi sistem metabolik dan endokrin yang akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabolisme zat gizi.

Pencegahan Primer 1) Mengurangi hambatan pada latihan mobilisasi fisik 2) Pengembangan program latihan yang teratur 3) Tingkatkan keamanan lingkungan b. Pencegahan tersier Pencegahan tersier disesuaikan dengan komplikasi yang terjadi .a. Pencegahan sekunder 1) Memperbaiki status gizi 2) Memperbaiki kemampuan mobilisasi 3) Melaksanakan latihan pasif dan aktif 4) Mempertahankan posisi tubuh yang benar sesuai struktur tubuh 5) Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik c.

. Nama Lansia : Ny. Agama : Islam 4. Jenis Kelamin : Perempuan 6. “Kula niku mboten gadah sinten-sinten nok. mbak dados Pak RT niku sanjang kalih kula nek kula ajeng diparingne teng panti supados wonten ingkang ngrawat. Alasan Berada di Panti Ny. teng griyo niku nggih kula piyambakan. teng mriki niku sing mbeto Pak RT kaleh ustadz teng kampong kula. Riwayat Pekerjaan : Pedagang es dan pembantu rumah tangga 9. Baca tulis jadinya nggak bisa nok. Data Umum 1. Status Perkawinan : Kawin (Sudah Meninggal) 10. M 2. Tensi kadang-kadang tinggi nok. “Niki sakit mata nok. Trus nek diobahne kaki rasane luara. tapi aku itu lebih sehat nok disbanding mbah susi dan mbah (menunjuk kedua belah sisi tempat tidur)” . Pengasuh Wisma : Ibu Rokhani B. burem. M berkata. M berkata.” C. Suku : Jawa 5. PENGKAJIAN A. nggih kula purun mawon mbak. Dimensi Biofisik 1. Riwayat Penyakit (Dalam 6 Bulan Terakhir) Ny. Nama Wisma : Ruang Mawar 7. harus pelan-pelan. Nggak bisa melihat. Usia : 79 tahun 3. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA I. Pendidikan : Tidak lulus SD 8.

Aku ndak punya anak nok. Kamis. 21 Februari i 2017 mmHg 3. Selasa. Rabu. 20 Februari 2017 140/80 mmHg 2. 22 Februari 2017 mmHg 4. 23 Februari 2017 mmHg . Riwayat Penyakit Keluarga Ny.2. dan di keluarga ku juga banyak saudara yang nggak punya anak nok. aku 11 bersaudara dan yang masih ada Alhamdulillah hanya tinggal aku nok. Riwayat Monitoring Tekanan Darah Tekanan darah Ny. M selama praktek: No Hari/Tanggal TD 1. M berkata. Bapak ibu meninggal karena sudah sepuh nok” Keterangan: = Laki-laki = Menikah = Perempuan = Menikah dan memiliki anak = Meninggal = Klien 3. Riwayat Pencegahan Penyakit a. M berdasarkan data di Panti wredha menunjukkan selalu diatas batas normal/tekanan darah tinggi Berikut ini data tekanan darah Ny. Senin. “Aku iku anak ragil nok.

Kamis. sebulan sekali nok petugasnya dari puskesmas samping deket sini. Terus biasanya kalau mbah-mbah yang disini sakit. 9 Februari 2017 mmHg 8. Rabu. yang nensi ya mahasiswa mbak. ngecek gula darah juga mahasiswa. Senin. Rabu. Sabtu. kalau misal memang butuh ke rumah sakit. Status Gizi Berat badan : 60 kg Panjang lutut : 46 cm . M berkata. Jumat. 18 Januari 2017 mmHg b. Februari 2017 mmHg 6. 14 Januari 2017 mmHg 13. pemantauan nok” Pengasuh panti berkata “Ya kalau disini. 16 Januari 2017 mmHg 14. 13 Februari 2017 mmHg 12. 11 Februari 2017 mmHg 10. ya mereka datang terus nanti ngasih obat buat mbah kalo ada yang sakit. Sabtu. kadang sebulan sekali tergantung dari puskesmasnya mbak. 25 Februari 2017 mmHg 7. biasanya panti manggil petugas puskesmas kesini. 17 Januari 2017 mmHg 15. ada petugas dari puskesmas yang datang kesini meriksa mbah. 5. waktu ada mahasiswa. 10 Februari 2017 mmHg 9. Riwayat Vaksinasi Ny. M berkata. Selasa. Jumat. “Disini tidak pernah disuntik apa-apa nok” c. kita antar ke rumah sakit mbak. tapi kalau pas tidak ada mahasiswa. Selasa. “Kalau disini ada nok pemeriksaan buat mbah ini rutin. Senin. 12 Februari 2017 mmHg 11.” 4. Skrining Kesehatan yang Dilakukan Ny.

34 : 25.” Kebersihan gigi tidak baik dan tredapat plak berwarna kuning(kotor). mukosa bibir lembab.64 (Normal) 5. M adalah masalah penglihatan yang tidak jelas karena terdapat lapisan puih pada pupil.32 + 84. Ny M juga memiliki riwayat operasi katarak. M berkata. M saat dilakukan pengkajian yaitu 60 kg.532 : 60/2. disini berisik . nggak keliatan. M berkata.88 – (0. M juga mengeluhkan sakit pada kedua sendi lutut dan sulit untuk digerakkan. M berkata. M memakai popok. c. Ny M juga merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol BAK dan BAB nya.88 – (0. tetapi gejala katarak muncul kembali.24xusia dalam tahun) + (1. Masalah pada Mulut Ny. Masalah Kesehatan Terkait Status Gizi a.88 – 16. gosok gigi sekali mawon mbak pas mandi pagi. “Berat badan ya segini nok.83xtinggi lutut dalam cm) : 84.74 cm IMT : 60/1.24 x 68) + (1. kaku-kaku pada kaki. Perubahan Berat Badan Ny. M termasuk normal dikarenakan nilai IMT 25.64 (normal 18-25). “Ini nok matanya wes burem. Dulu pernah dioperasi katarak. M sering terlihat BAK saat berdiri dari tempat tidur. “Giginya tinggal sigini nok. Suka sok pusing nok. b. 6. Tinggi badan : 84. sampe kantil-kantil. Ny.83 x 46) : 84. nanmun terkadang masih sering bocor dan mengompol. nek obah paling sekilo. Masalah Kesehatan yang Dialami Saat Ini Masalah kesehatan yang dialami Ny. Ny.” Berat badan Ny. Ny. mulut bau. Masalah Nutrisi Status gizi berdasarkan IMT yang di dapat menunjukkan status gizi Ny. Ny.18 : 152.

Nek sekring-sekring. M terlihat aktif dalam mengikuti kegiatan dipanti seperti senam dan pengajian. M hanya duduk di tempat tidur dan tiduran. M mendapat skor 1 dalam indeks KATZ sehingga tergolong indeka KATZ F yaitu mandiri kecuali mandi. Ny. Terlihat di meja Ny. “Nek mata burem. Calcium Lactate. kalau tidur ada yang ngomong tetep masih kedengeran nok. M terdapat beberapa obat yang sudah berkurang seperti Propanolol (40mg). mobilisasi dan satu fungsi lain yaitu kontinensia. Status Fungsional (AKS) Aktivitas sehari-hari Mandiri/tergantung Skor Mandi Tergantung 0 Berpakaian Tergantung 0 Toileting Tergantung 0 Mobilisasi Tergantung 0 Kontinensia Tergantung 0 Makan Mandiri 1 Dilihat dari hasil pengkajian status fungsional. M berkata. Ny. Ny. biasane sok latihan senam sendi. “itu nok biasane bar maem siang dikasih vitamin sama Bu Kani. Ny.” 9. toleting. M adalah vitamin yang diberikan oleh pengasuh panti. M berkata. tak njarne nok. berpakaian. Ny. Kaki ini lho nok (menunjuk lutut) sok sekring-sekring” 7. Tindakan Spesifik yang Dilakukan Saat Ini Ny. obat mata Cendo Xitrol (Dexamethasone neomycin. M beberapa kali terlihat mengompol walaupun sudah menggunakan popok . Vitamin B Complex. Selain melakukan aktivitas sehari-hari tersebut. polymixin B sulfate). gak bisa tidur. Kalau obat itu kalau gak disuruh minum. nggak aku minum nok” 8. Obat-obatan yang Dikonsumsi Saat Ini Obat-obatan yang dikonsumsi Ny.

“Nek aku jalan sendiri nok.” Klien tidak mampu berdiri dan berjalan secara mandiri yaitu menggunakan alat bantu walker. Berdiri kaki rapat. Keseimbangan duduk Bersandar 2 2. kalau nggak pakai kruk duduk sama berdiri dari tempat tidur nggak bisa. Keseimbangan berdiri Stabil dengan 1 awal (5 detik pertama) bantuan 5.10. Keseimbangan berdiri Goyah 1 6. tapi pakai kruk. Berdiri ke duduk Menggunakan 1 tangan dengan duduk perlahan SKOR KESEIMBANGAN : 7 .Balance Test Instruksi Reaksi pasien Skor 1. Duduk ke berdiri Mampu dengan 1 bantuan tangan 3. Bereaksi akan jatuh 0 terapis memberikan dorongan 3 kali di dada 7.Morse Fall Scale (MFS)/ Skala Jatuh dari Morse No PENGKAJIAN SKALA NILAI 1. Upaya untuk bangkit Mampu dengan 1 lebih dari 1 kali (duduk ke berdiri) upaya 4. Berputar 360 derajat Goyah 0 9. Riwayat jatuh : apakah lansia pernah TIDAK 0 25 jatuh dalam tiga bulan terakhir? YA 25 . Mobilisasi Ny. Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari a. . Berdiri dengan kaki Goyah 0 rapat dan menutup mata 8. M berkata.

2. Diagnosa sekunder : apakah lansia TIDAK 0 15
memiliki lebih dari satu penyakit? YA 15
3. Alat bantu jalan: 0 15
- Bedrest/ dibantu perawat
- Kruk/tongkat/walker 15
- Berpegangan pada benda- 30
benda di sekitar (kursi,
lemari, meja)
4. Terapi intravena : apakah saat ini lansia TIDAK 0 0
terpasang infuse? YA 20
5. Gaya berjalan/ cara berpindah: 0 0
- Normal/bedrest/immobile
(tidak dapat bergerak sendiri)
- Lemah (tidak bertenaga) 15
- Gangguan/tidak normal 30
(pincang/diseret)
6. Status mental: 0 15
- Lansia menyadari kondisi
dirinya
- Lansia mengalami 15
keterbatasan daya ingat
TOTAL 70

Keterangan :
Tingkat risiko Nilai MFS Tindakan

Risiko rendah 0 - 24 Perawatan dasar

Risiko sedang 25 - 50 Pelaksanaan intervensi pencegahan
jatuh standar

Risiko tinggi ≥ 51 Pelaksaan intervensi pencegahan jatuh
risiko tinggi

b. Berpakaian
Ny. M berkata, “Ganti baju sendiri nok di kamar mandi, pelan-pelan
bisa. Ini nok susah pakai pempers, sok bocor. Eman-eman.”
c. Makan dan Minum
Ny. M berkata, “makan minum bisa sendiri nok.”
d. Toileting
Ny. M berkata, “Aku pakai pampers nok, nek nggak ada pampers
nganggo ember. Sok eman pempers e. Aku sok sebel, uyuh e ndak
ngomong-ngomong neh meh metu. Obah sitik metu. Berdiri bangun
dari tempat tidur keluar. Sok diseneni nok”
e. Personal Higiene
Ny. M berkata, “ Mandi dua kali nok. Tapi ya sok sekali, pagi- pagi
atau sore-sore. Gosok gigi terus nok pas mandi. Keramas seminggu
sekali nok. Kabeh dewe nok”
Tempat tidur Ny. M tercium bau yang khas (pesing) dikarenakan Ny.
M sering mengompol dan BAK pada ember yang terletak di samping
kasur. Pengasuh mengatakan “mbah e kadang suka BAB di lantai
mbak”
f. Mandi
Ny. M berkata, “Aku mandi dua kali nok. Kosokan dewe. Resik nok,
mung alon-alon” Ny. M baru terlihat selesai mandi sekitar jam 8 pagi

D. Dimensi Psikologi
1. Status kognitif ( short portable mental stase quesionare)

JAWABAN
PERTANYAAN
BETUL SALAH
1. Tanggal berapa hari ini? √
2. Hari apakah hari ini? √
3. Apa nama tempat ini? √
4. Dimanakah alamat rumah anda? √
5. Berapa usia anda? √
6. Kapan anda lahir? (Tgl/Bln/Thn) √
7. Siapakah nama presiden sekarang? √

8. Siapakah nama presiden sebelumnya? √
9. Siapakah nama ibu anda? √
10. 5+6, 2+3 adalah? √
Klien mengalami kerusakan intelektuaal sedang

2. Perubahan yang timbul terkait status kognitif
- Ny. M tidak mengetahui tanggal pada hari ini
- Ny. M salah dalam menyebutkan usianya
- Ny. M tidak ingat pada tanggal, bulan dan tahun lahirnya
- Ny M salah dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan
- Ny. M salah dalam menyebutkan nama panti
3. Dampak yang timbul terkait status kognitif
Status kognitif yang buruk dapat menyebabkan klien tidak dapat
mengingat kejadian jangka panjang maupun pendek. Misalnya saja klien
susah untuk menghafal nama padahal sudah 3 kali berkenalan pada setiap
mahasiswa.
4. Status depresi

No Pertanyaan Jawaban Hasil
1. Apakah pada dasarnya anda puas dengan TIDAK YA
kehidupan anda?
2. Sudahkan anda meninggalkan aktivitas YA YA
dan minat anda?
3. Apakah anda merasa bahwa hidup anda YA YA
kosong?
4. Apakah anda sering bosan? YA YA
5. Apakah anda mempunyai semangat setiap TIDAK YA
waktu?
6. Apakah anda takut sesuatu akan terjadi YA TIDAK
pada anda?
7. Apakah anda merasa bahagia disetiap TIDAK TIDAK
waktu?
8. Apakah anda merasa jenuh? YA YA
9. Apakah anda lebih suka tinggal di rumah YA TIDAK
pada malam hari, daripada pergi
melakukan sesuatu yang baru?
10. Apakah anda merasa bahwa anda lebih YA TIDAK
banyak mengalami masalah dengan

Apakah anda merasa tidak berguna saat YA YA ini? 13. Apakah anda merasa penuh berenergi saat TIDAK TIDAK ini? 14. Apakah anda saat ini sudah tidak ada YA YA harapan lagi? 15. setelah itu klien tinggal bersama dengan kakak perempuannya. raiso ngopo-ngopo” Klien lebih menyukai duduk terpisah saat ada kegiatan bersama seperti pengajian. Klien tampak cemas ketika menggerakkan tubuhnya. Keadaan emosi a. ingatan anda daripada yang lainnya? 11. Dampak yang timbul terkait status depresi Klien tampak sedih saat menceritakan bahwa dirinya tidak memiliki anak dan saudara2 nya meninggal lebih dulu darinya. kerjaane mangan turu tok. 7. Klien mengatakan”wes tuo nok. Apakah anda berpikir sangat TIDAK YA menyenangkan hidup sekarang ini? 12. dan setelah tinggal di panti wreda sejak Agustus 2016 terkadang klien melakukan . b. Apakah anda berpikir banyak orang YA TIDAK yang lebih baik dari anda? 5. Perubahan perilaku Klien berkata sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya sejak berusia 7 tahun. Perubahan yang timbul terkait status depresi Dalam pengkajian status depresi menggunakan The Geriatric Depresion Scale didapatkan hasil sebanyak 8 poin yang sesuai dengan jawaban sehingga dapat disimpulkan bahwa klien mengalami masalah depresi ringan 6. seperti bangun dari tidur dan berdiri. klien melakukan segala aktivitasnya secara mandiri. Anxietas Klien tampak pasrah dan menerima kondisinya saat ini. Beberapa kali klien tampak berkaca-kaca saat memulai pembicaraan.

kerjaan mung mangan turu” c. Kebersihan dan kerapian Pengurus panti berkata. Mas Wahyu membersihkan kamar mandi. sumur bor. Mood Klien tampak selalu bersemangat.303 m2. “Kalau penerangan di sini daya watt nya sekitar 6000 watt. Klien mengatakan “wes raiso opo-opo nok. kalau luas bangunannya sekitar 2.” 2. klien terlihat ramah saat bersama teman-temannya yaitu ditandai dari klien selalu memulai pembicaran dengan teman yang berada di sebelahnya. aktivitas dibantu oleh pengasuh maupun teman-temannya. ya satu ruangan itu bisa 5 sampe 6 lampu. “Sumber air minumnya menggunakan sumur artetis. Dimensi Fisik 1. klien juga merasa senang berkomunikasi dengan teman-temannya. setiap ruangan itu bisa di hitung untuk setiap lampu. Berdasarkan hasil observasi kondisi penerangan yang ada di dalam wisma cukup baik dan pencahayaan matahari dapat masuk ke dalam wisma. Keadaan lingkungan di dalam wisma a. E. Penerangan Pengurus panti berkata. Luas wisma Pengurus panti berkata. itu masing-masing lampu sekitar 20 watt”. “Luas tanah pantinya sekitar 3. Kalau pembersihan ruangan satu hari satu kali setiap pagi yang membersihkan Mas Wahyu. dapat dilihat dari klien selalu mengikuti kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa. Terdapat 6 kamar mandi yang ada didalam wisma cukup terang pada saat siang maupun malam hari. Jumlah jendela yang terdapat di sekitar wisma berjumlah kurang lebih 42 jendela kaca yang setiap harinya selalu dibuka. nyapu juga dan ngepel.876 m2. b. Klien tampak aktif saat pengajian. kalau jendela itu .

Sumber air minum 1) Sumber air yang digunakan Pengurus panti berkata. tanggung jawab dari mbahnya. Sirkulasi udara Berdasarkan hasil observasi pada panti di dalam panti kurang lebih terdapat jendela yang selalu terbuka siang hari. Pengurus panti berkata. dan hanya terdapat satu pasien pria di dalam panti. d. Pemisahan ruangan antara pria dan wanita Berdasarkan hasil observasi ruangan pria dan wanita terpisah. Barang-barang milik mbahnya juga ditata sendiri sama mbahnya. beberapa mbahnya memakai alat bantu jalan seperti tongkat. tapi hanya di sekitar kamar mandi saja. Pada tiap wisma terdapat 5 pintu yang berada di depan berjumlah 1. Kondisi pintu di wisma selalu dalam keadaan terbuka pada pagi dan siang hari sehingga udara bersirkulasi dengan baik. dimana lokasi ruangan berada di belakang ruangan wanita. M didapatkan data bahwa tempat tidur Ny.” Berdasarkan observasi pada tempat tidur Ny. dan selalu mengganggu klien saat tidur. c. dan pintu belakang berjumlah 2 pintu. pintu yang berada disamping kanan dan kiri berjumlah 2. e. “Sumber air yang digunakan di panti ini untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari para lansia menggunakan air dari sumur bor. Ny M mengeluhkan banyak tinggih di tempat tidurnya. untuk ruangan yang lain tidak disediakan pegangan. Sebagian besar lansia yang terdapat pada panti Harapan Ibu berjenis kelamin perempuan.” f. M terlihat kotor dan berantakan. Keamanan Berdasarkan hasil observasi kondisi lantai di panti wreda harapan Ibu berkondisikan licin sehingga membahayakan para lansia yang berjalan.” . “Di Panti Wredha Harapan Ibu terdapat pegangan di pinggir tembok. dan jarang dirapikan.

3. Ruang berkumpul bersama Pengurus panti berkata. Keadaan lingkungan di luar wisma a. “Tempat kumpul mbah-mbahnya ya disini mbak di aula. sebelahnya ada kantor juga. dan pengeras suara (sound) dan dua kipas angin. vcd. Depan dapur masih ada lahan sedikit digunain bercocok tanam mbahnya kayak kencur. Pembuangan air limbah Pengurus panti berkata. jahe semacam obat-obatan gitu. “Jarak sumber air dengan septic tank > 10 meter mbak. “Halaman biasanya digunakan untuk berjemur mbahnya. kumpul jika ada tamu juga. di samping kan ada pot bunga gitu. Aula juga dimanfaatkan untuk senam bersama. Terdapat pula kamar mandi di sisi bagian belakang aula. “Pembuangan air limbahnya dialirkan ke sungai karena ada sungai di belakang panti” . Pemanfaatan halaman Pengurus panti berkata.” Berdasarkan observasi terdapat beberapa fasilitas yang ada di aula berkumpul bersama seperti televisi. diambil mbah yang masih sehat. seperti melakukan kegiatan di pagi hari. radio. nanti mbahnya bisa bercocok tanam.” 4) Jarak sumber air dengan septic tank Pengurus panti berkata.” 3) Pengelolaan air minum Pengurus panti berkata. “Kalau di sini air minum yang dikonsumsi ya dari air minum artetis mbak. “Kualitas sumber air yang dihasilkan oleh sumber air dari sumur bor itu cukup bagus mbak ya karena langsung diambil dari tanah dan ditampung di tandon air yang diletakkan di atas bangunan. Halaman belakang juga sering dipakai untuk kegiatan kerja bakti mbahnya” b. 2) Kualitas sumber air Pengurus panti berkata.” g.

soalnya kan jauh dari perusahaan atau home industri. Tempat pembuangan sampah berada di samping panti. mobil. c. ngaji” . mbak rini sama bu kani nok. “Kalau sampahnya sudah terkumpul biasanya di sini langsung dibakar setiap harinya.” d. tapi kalau ada kegiatan mesti keluar nok. Hubungan Lansia dengan Lansia di Dalam Wisma Ny. motor. “Tempat pembuangan sampah kira-kira jaraknya 50 meter dari bangunan panti yang terletak di halaman samping panti itu mbak. Sing apal. tapi ya kalau polusi suara ya ada mbak. Hubungan Antar Lansia di luar Wisma Ny. e. Ndak pernah keluar. Dan ketambahan itu mbak ada proyek tol jadi ya agak bising mbak. Liane lali. “Kalau pencemaran yang kayak limbah pabrik gitu sih ndak ada mbak. tidak ada kegiatan mendaur ulang sampah mbak. tapi tetep tak sapa nok” 2. Sekarang juga jadi lebih banyak debunya karena proyrk tol itu” F. Sumber pencemaran Pengurus panti berkata. senam. Sanitasi Limbah kamar mandi mengalir dengan baik ke saluran yang berakhir di sungai belakang panti. jum. susi. siti. Dimensi Sosial 1. “Ndak apal nok kalau semuanya. itu imronah. “aku yo mung mangan turu tok ngene ki nok. Kondisi sanitasi panti cukup baik. M berkata. kan panti ini dekat dengan jalan raya yang selalu dilalui kendaraan seperti truk. Sok lali. “Pembuangan sampahnya dibedakan antara yang organik dan non organik mbak.” 3) Jarak tempat pembuangan sampah Pengurus panti berkata. Pembuangan sampah 1) Jenis pembuangan sampah Pengurus panti berkata.” 2) Pengelolaan sampah Pengurus panti berkata. M berkata.

“kalau ada kegiatan panti mesti ikut nok” 6.” 5. M berk"ata. Pengkajian Fokus Kesepian No Pertanyaan Tidak Jarang.3. Kadang. “aku ndak ndduwe dulur nok. Selalu Pernah Jarang Kadang 1 Apakah anda pernah merasa √ cocok dengan orang-orang 2 disekitar anda? 2 Apakah anda pernah merasa √ tidak / kurang memiliki 1 teman? 3 Apakah anda pernah merasa √ tidak ada seorang pun yang 3 dapat diandalkan / anda mintai tolong? 4 Apakah anda pernah merasa √ sendiri? 1 5 Apakah anda pernah merasa √ menjadi bagian dari 1 kelompok teman-teman anda? 6 Apakah anda merasa bahwa √ anda memiliki banyak 3 persamaan dengan orang- orang di sekitar anda? 7 Apakah anda pernah merasa √ bahwa anda tidak dekat 1 dengan siapapun? 8 Apakah anda pernah merasa √ bahwa minat dan ide anda 2 tidak dibagikan dengan orang-orang di sekitar anda? 9 Apakah anda pernah merasa √ ramah / mudah bergaul dan 2 . M berkata. Neng omah dewe. M berkata. Hubungan Lansia dengan Anggota Keluarga Ny. Hubungan Lansia dengan Pengasuh Wisma Ny. Anak juga ndak punya” 4. Kegiatan Organisasi Sosial Ny. “Pengasuh panti baik-baik nok. mbak rini yang bersih- bersih juga baik nok.

3 benar dapat mengerti anda? 17 Apakah anda pernah merasa √ malu? 1 18 Apakah anda pernah merasa √ bahwa orang-orang banyak 1 di sekitar anda. M tidak mengalami kesepian G. tetapi tidak bersama Anda? 19 Apakah anda merasa bahwa √ ada orang yang dapat anda 2 ajak bicara (ngobrol) ? 20 Apakah anda merasa bahwa √ ada orang yang dapat anda 3 andalkan / dimintai tolong? Total skor kesepian didapatkan 32 sehingga Ny. Pola Makan a. bersahabat? 10 Apakah anda pernah merasa √ dekat dengan orang lain? 1 11 Apakah anda pernah merasa √ ditinggalkan? 1 12 Apakah anda pernah merasa √ hubungan anda dengan 1 orang lain tidak berarti? 13 Apakah anda pernah merasa √ tak satupun orang mengerti 1 anda dengan baik? 14 Apakah anda pernah merasa √ terasing dari orang lain? 1 15 Apakah anda dapat √ menemukan teman / 2 persahabatan ketika anda menginginkannya? 16 Apakah anda merasa bahwa √ ada seseorang yang benar. Frekuensi Makan . Dimensi Tingkah Laku 1.

Tapi sok kebangun kebangun tengah malem. “nek turu gampang nok. Kesulitan dalam Tidur Ny. Jam Tidur Ny. sama jam 6 sore nok. nek bangun pagi nok jam 3 an. Kebangun beriksik. M berkata. M berkata. “ndak mesti nok. Disini makan seadanya” Kualitas dan Kuantitas Makanan yang disediakan Ny. ndak nyenyak nok. kebangun digigit tinggih. Porsi Makan Ny. M berkata. “Ndak diet nok. Semalem kebangun tiga kali nok” c. “aku nek makan banyak nok. turu tapi krungu wong ngomong. Itu sudah sama kebangun-bangun nok.” . Jam 7 pagi. “Nek malem jam 11 an mbak. Apalagi suka ada yang berisik nok. M berkata. sering kebangun-bangun nok. Lama Tidur Ny. M berkata. Sok pusing nok. M berkata. Kadang entek kadang mung setengah piring” 2. Ny. Kesulitan ketika Makan Ny. Nek wes kebangun susah turu meneh nok. Pola Tidur Ny. “aku nek turu mung 2-3 jam nok. “Ndak ada kesulitan nok. krungu tv. Telak telik dewe. Nek siang sok 4 jam an. M berkata. Pola Diet Ny. bengak bengik nddongeng terus. Aku nek makan yo dihabisin to nok” b. Paling mung lawuhe sok ndak cocok” d. Turu mung ketok merem tok. Nek turu sok digigiti tinggih nok” d. “makan tiga kali nok. M berkata. Nanti jam jam habis makan pagi sok turu meneh nok. M berkata “disini aku makan ya tiga kali nok. jam 11 siang.” b. nek ndak cocok lawuhe paling entek setengah piring tok” c. Pola Tidur a.

klien juga sering mengompol dan membuatnya harus ganti baju ke kamar mandi. Ny.” 4. M berkata.” 5. M berkata. ndak jemek. Pola Eliminasi a. “Nek eek sedino peng pisan. BAB Ny. M memiliki sedikit masalah dalam tidur yaitu sering terbangun di tengah malam dikarenakan hygiene tempat tidur yang banyak tinggih dan sering menggigiti klien. M berkata. nek pemeriksaan kesehatan yo jarang. Nek pemeriksaan biasane cuma tensi. Kadang sok kebangun basah nok.” b. M berkata. Tapi ya sambil duduk nok. M berkata “aku nek turu nok. BAK Ny. itu dipojok-pojok tempat tidur. “ ndak nok. Kebiasaan Buruk Lansia a. “aku sehat nok. lagi berdiri ngucur nok” 3. ndak kuat kalau bediri” 7. Rekreasi Ny. “Nek bosen aku ndongeng sama imronah nok. eneng ping 5 sedino nok” b. ngompol. M berkata. M berkata. kadang sok ngobrol sama susi juga” . Akeh nok. Obat-obatan Ny. “ Ndak ngrokok nok.” c. e. M berkata. vitamin. sok kebangun gatel digigiti tinggih. senam. Kualitas dan Kuantitas Tidur Ny. Kegiatan Olahraga Ny. biasa nok. Merokok Ny. “sering nok.. obat minum yang dibagi bu kani. “sering nok. Kebelet.” 6. M berkata. “aku sehat nok. Pelaksanaan Pengobatan Ny. Minum-minuman keras Ny.

Pengkajian Fisik Masalah Keperawatan Yang No. penghilang nyeri. Admin. Pengambilan Keputusan Ny. Bagian/Region Hasil Pemeriksaan Muncul 1. . Kepala Terlihat rambut mayoritas beruban. Perilaku mencari Pelayanan Kesehatan Biasanya satu bulan satu kali ada petugas dari puskesmas yang memeriksa para lansia serta memberikan obat-obatan yang dibutuhkan lansia berdasarkan masalah kesehatannya. Dimensi Sistem Kesehatan 1. 3. hanya petugas kesehatan dari Puskesmas sekitar panti mendatangi panti setiap satu bulan sekali. pendek (cepak). timbangan berat badan serta obat-obatan seperti obat maag. Frekuensi Kegiatan Pelayanan Kesehatan Kegiatan pelayanan kesehatan dari Puskesma mendatangi panti dengan frekuensi 1 bulan sekali. M berkata. 8. Jenis Pelayanan Kesehatan yang Tersedia Pelayanan Kesehatan yang tersedia adalah Puskesmas dimana setiap bulannya mendantangi panti satu kali. Ada yang sebagai Cleaning Service. Tindakan Pencegahan terhadap Penyakit Pengurus panti berkata “Disini mbah-mbahnya sehat semua mbak. 2. e. c. jadi tidak ada tindakan pencegahan penyakit. Fasilitas Kesehatan yang tersedia Terdapat alat tensimeter. Sistem Pelayanan Kesehatan a. Pengasuh. d. obat darah tinggi. fogging juga gak pernah soalnya disini nyamuknya gak banyak juga. Jumlah Tenaga Kesehatan Jumlah pengelola panti wredha ada 4 orang. “aku pasrah nok. dan tukang masak. Tidak ada tenaga kesehatan di panti.” H. dan lain-lain b.

7. 10. Terlihat selaput putih di kedua mata. Klien mampu menahan posisi tangan diatas. Bentuk telinga simetris antara kanan dan kiri. gigi yang masih ada yaitu 10 gigi. M berkata bahwa dirinya tidak memiliki masalah kesehatan di jantung. Jarak pandang ± 20 cm baru tampak jelas 4. M. Jantung Ny. Tidak ditemukan lesi. 2. M berkata dirinya tidak merasa memiliki masalah kesehatan di area abdomen. Tidak terdapat lesi. Rambut klien terlihat kotor dan lepek. M terlihat banyak kerutan. M normal tidak mengalami gangguan. Abdomen Ny. Gigi terlihat menguning dan terdapat banyak kotoran yang menempel. Tidak ditemukan lesi di bagian kepala dan Ny. M terlihat panjang dan kotor. Wajah/muka Wajah sudah terlihat banyak kerutan. Leher Leher Ny. Mata Ny. kekerasan suara normal dapat didengar oleh Ny. Ekstremitas atas Klien mampu mengangkat tangan ke depan dan ke atas. Telinga Pendengaran Ny. M menderita katarak pada kedua bola mata. . Terdapat tanda lahir di pipi kiri. 6. 9. 3. Bentuk mata normal/ tidak menjorok ke dalam Mata kanan dan kiri tidak dapat melihat dengan jelas. Membran mukosa klien terlihat lembab. M tidak memiliki keluhan saat ditanya. pandangan kabur. Terdapat kotoran pada telinga klien 5. 11. Kuku Kuku Ny. Mulut dan gigi Gigi klien sudah banyak yang ompong. 8. M berkata bahwa dirinya tidak memiliki keluhan di bagian pernafasan. Dada Ny.

Pengkajian Nyeri a. Pada ekstremitas bawah dekstra: .” . P: Klien berkata “Ya rasane nyeri teng samparan niku nek ngge ngadek kaliyan ngge mlampah mbak.” . R: Klien berkata “Sing dirasake nyeri nggih teng samparan mbak.” . Pada ekstremitas atas: Tidak ada nyeri pada ekstremitas atas klien. nek mlampah niku samparan kula seret.” .4/5 12. Q: Klien berkata “Sakite niku kados senut-senut ngoten mbak. kadang terasa baal/mati rasa. sebelah kanan kiri niki mbak. Klien berkata kaku-kaku pada kedua kaki dan kesemutan pada telapak kaki. Rentang gerak kedua lutut fleksi kurang dari 1200 Skala kekuatan otot 3/5. Ekstremitas Klien mampu berdiri dengan Hambatan mobilitas bawah kedua kaki dan berjalan tapi fisik dengan kruk. S: Klien berkata “Nek 1-10 sing kula rasake nggih teng angka 5 mbak. nek tileman nopo ngge lungguh niku mboten kraos sakit. mboten wonten selane. T: Klien berkata “Sing kula rasake pas ngadek kalih mlampah niku sakit terus mbak. Skala kekuatan otot 4/5. saka lutut nganti telapakan linu mbak.3/5 4. nggen bagian mriki lhe.” . b.

nek tileman nopo ngge lungguh niku mboten kraos sakit.R: Klien berkata “Sing dirasake nyeri nggih teng samparan mbak.Ny.d agens cidera Januari .” . “Nek kula saget mlampah piyambak mbak tapi yo ngagem kruk niki.P: Klien berkata “Ya rasane nyeri teng samparan niku nek ngge ngadek kaliyan fisik 2017 ngge mlampah mbak.” DO : .” DO: .Terlihat ada bengkak pada lutut sebelah kanan Senin. Kaleh biasanipun nek ajeng tangi saking tidur teng lenggah. 2 DS : Hambatan mobilitas fisik b. nggen bagian mriki lhe. ANALISA DATA Tanggal Data Fokus Diagnosa Keperawatan Senin. nek mlampah niku samparan kula seret. M berdiri menggunakan alat bantu walker .Klien tampak sangat hati-hati ketika akan duduk atau saat akan berpindah . 2 DS : Nyeri akut b.” .” . mboten wonten selane.Klien tampak kesulitan dan kesakitan saat mau bangun.S: Klien berkata “Nek 1-10 sing kula rasake nggih teng angka 5 mbak.Q: Klien berkata “Sakite niku kados senut-senut ngoten mbak.II.lenggah teng berdiri kedah dibantu mbak soale kasure niki mpun njeglong radi susah ngge ngadek nek saking lenggahan.T: Klien berkata “Sing kula rasake pas ngadek kalih mlampah niku sakit terus mbak.Ny.d Januari . penurunan kekuatan otot 2017 soale niku kaki kula mpun mboten kuat nek mboten ngangge kruk. sebelah kanan kiri niki mbak. M berkata. berdiri dan berjalan . saka lutut nganti telapakan linu mbak.” .

Ny. M hanya duduk pada bed dan berada di kamar. . M. Ny. Rentang gerak kedua lutut fleksi kurang dari 1200 . latihan ini bertujuan . M mengganggu aktivitas. Ny. M lebih banyak hanya duduk di tempat tidur dan tiduran . M mendapat skor 2 dalam indeks KATZ sehingga tergolong indeks KATZ E yaitu mandiri kecuali mandi. Hambatan mobilitas fisik MEDIUM Hambatan mobilitas fisik dapat menghambat Ny. klien agens cidera fisik seharusnya dapat melakukan aktivitas yang adekuat. M dalam melakukan berhubungan dengan penurunan aktivitas sehari-hari. kekuatan otot Jika sendi tidak digerakkan maka akan menjadi kaku. diharapkan dapat meningkatkan rasa nyaman dan toleransi terhadap nyeri. M. Intervensi yang dilakukan dengan memberikan kenyamanan dan relaksasi napas dalam serta latihan gerak kaki (stretching) pada Ny. M terlihat menggunakan alat bantu mobilisasi . berpakaian. toleting dan satu fungsi lain yaitu mobilisasi. Kekuatan otot ekstremitas bawah dekstra 3 . M dalam beraktivitas dan menurunkan semangat hidup Ny. terbatas dan memendek. PRIORITAS MASALAH Diagnosa Keperawatan Prioritas Pembenaran Nyeri akut berhubungan dengan HIGH Nyeri pada ekstremitas atas dan bawah Ny. Kekuatan otot ekstremitas atas sinistra 3 . Hasil pengkajian status fungsional. Intervensi yang dilakukan yaitu latihan ROM aktif. Hambatan mobilitas fisik yang tidak teratasi dapat muncul masalah depresi maupun kesepian karena Ny. Dampak yang terjadi bila nyeri tidak diatasi dapat menurunkan kemampuan Ny. III.

Kaji faktor-faktor yang dapat .Klien dapat berpindah ketidaknyamanan ekstremitas bawah posisi dari bangun ke . penyebab dan cara mengantisipasinya . cidera fisik diharapkan nyeri klien diharapkan nyeri klien kualitas. menjadi 2 berdiri tanpa pekerjaan. lokasi. meningkatkan kekuatan otot.Kaji nyeri secara komprehensif dengan agens selama 1 minggu selama 7 x 20 menit karakteristik.Skala nyeri . RENCANA KEPERAWATAN DIAGNOSA TUJUAN KODE NO INTERVENSI KEPERAWATAN UMUM KHUSUS NIC 1.Monitor reaksi nonverbal dari . intensitas / keparahan dan faktor dapat teratasi dengan dapat berkurang dengan presipitasi kriteria hasil : kriteria hasil : .Berikan informasi tentang nyeri yang dirasakan.Klien terlihat nyaman memperburuk / meningkatkan nyeri dan rileks .Evaluasi keefektifan cara yang telah pada lutut sebelah dilakukan pasien dalam mengatasi nyeri kanan . aktivitas. IV. hubungan dengan orang lain) merasakan sakit . duduk ke pasien (mengganggu tidur.Kaji dampak nyeri terhadap kualitas hidup berkurang dari 5 duduk. durasi. frekuensi.Tidak terlihat bengkak . mengatasi kaku sendi.Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk .Monitor tanda vital dan skala nyeri . Nyeri akut Setelah dilakukan Setelah dilakukan 1400 Pain Management berhubungan tindakan keperawatan tindakan keperawatan .

Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan . .Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan dengan penurunan terjadi peningkatan kekuatan otot meningkat ADLs secara mandiri kekuatan otot mobilitas dengan dengan kriteria hasil : .Monitor lokasi ketidaknyamanan bagian tubuh klien ketika melakukan latihan gerak .Sediakan alat bantu mobilisasi di samping latihan berjalan dari dekstra dan tempat tidur klien 1-2 meter menjadi ekstremitas atas .Kekuatan otot berikan bantuan jika diperlukan . Hambatan Setelah dilakukan Setelah dilakukan 0221 Exercise Therapy: Ambulation Mobilitas Fisik tindakan keperawatan tindakan keperawatan .Ajarkan pasien cara merubah posisi dan kriteria hasil : . duduk gerak sendi.Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi berhubungan selama 1 minggu.Klien mampu ekstremitas bawah .Peragakan ROM pasif pada anggota tubuh .Motivasi klien untuk melakukan latihan posisi tidur. dan berdiri tanpa . selama 7x20 menit. hambatan .Klien mampu dari 3 menjadi 4 0226 ExercisTherapy : Muscle Control berpindah dari . mengatasi nyeri yaitu dengan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki (mengurangi nyeri lutut) .Lakukan ROM aktif dan pasif untuk 2-4 meter sinistra meningkat meningkatkan kekuatan otot lansia .Jelaskan tujuan latihan gerak (ROM) pada mengalami klien.Tingkatkan istirahat 2.

“Ya sakite tadi . “Yo sakit nok.Skala nyeri .Klien berkata. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Diagnosa Tujuan Evaluasi Formatif No.” gerak kaki gerak kaki S : Klien berkata.Klien dapat . “Kakine nek cidera fisik selama 1 minggu 7 x 20 menit lokasi. Bantu klien dalam melakukan ROM dengan rythme gerak yang teratur V. senut-senut. intensitas / keparahan sakit banget rasane nok.Klien berkata.” ekstremitas mendemonstrasik skala nyeri Q : Klien berkata. Implementasi Keperawatan Umum Khusus 1 Nyeri akut Setelah dilakukan Setelah dilakukan Rabu.Memonitor reaksi nonverbal kelamaan jalan yo sakit mbak hasil : kriteria hasil : dari ketidaknyamanan sinine (lutut kanan kiri bagian .Klien berkata. frekuensi.” berkurang dari 5 nyeri yaitu nonfarmakologi untuk R: menjadi 2 relaksasi napas mengatasi nyeri yaitu dengan . . “Sebelah mriki nok dalam dan latihan tarik napas dalam dan latihan (lutut kanan kiri bagian depan).” klien dapat teratasi klien dapat dan faktor presipitasi . “Kaki e nek dengan kriteria berkurang dengan .Menganjurkan untuk misal 1-10 ya di angka 5 nok” .Mengkaji nyeri secara P: dengan agens keperawatan keperawatan selama komprehensif karakteristik. durasi. bawah an manajemen . yang sakit dan ROM aktif pada anggota tubuh yang sehat .Mengajarkan teknik kemeng.Memonitor tanda vital dan depan). linu. 4 Januari 2017 S: berhubungan tindakan tindakan .Klien terlihat . kanggo berdiri dari duduk kui diharapkan nyeri diharapkan nyeri kualitas.

Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk / meningkatkan nyeri . A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi .nyaman dan meningkatkan istirahat T : Klien berkata.Klien memperhatikan dan melakukan teknik relaksasi napas dalam. “Ya nyerine kadang rileks ngilang kadang muncul kalau buat jalan lama nok biasanya muncule. .Klien terlihat melaporkan nyeri secara verbal.” O: . pekerjaan. hubungan dengan orang lain) . aktivitas.Berikan informasi tentang nyeri . .Klien tampak gelisah. .Klien terlihat memegangi bagian yang nyeri yaitu daerah lutut kanan kiri bagian depan.Kaji dampak nyeri terhadap kualitas hidup pasien (mengganggu tidur.

cuma . linu gitu nok.Mengkaji dampak nyeri P: terhadap kualitas hidup pasien .” mengantisipasinya R: .Klien berkata. “Yo sakit kemeng.Mengkaji faktor-faktor yang mau bangun tidur itu kakine sakit dapat memperburuk / banget nok. sek biyen tibo ya masih sakit nok pekerjaan.Memberikan informasi tentang tiduran wae dikasur. “Mesti nek pas . yang dirasakan. 5 Januari 2017 S: . Tingkatkan istirahat .Klien berkata. hubungan dengan tapi udah lumayan ini. “Kadang tanganne (mengganggu tidur. Q : Klien berkata.” nyeri yang dirasakan. Jadi nek sakit aku meningkatkan nyeri ndak ngapa-ngapain. penyebab dan cara mengantisipasinya . Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu dengan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki . Motivasi untuk melakukan senam lansia Kamis. Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan . aktivitas.” orang lain) . penyebab dan cara senut-senut.

. “Pokoke sakit mbak . “Sebelah mriki . “Nyerine ilang- ilangan. meningkatkan istirahat tetep nok.Klien terlihat melakukan teknik relaksasi napas dalam dan latihan gerak kaki .Mengevaluasi kepuasan pasien mbak (lutut kanan kiri bagian terhadap intervesi yang telah depan belakang).Klien berkata. kadang ndak sih nok.” diberikan S : Klien berkata.Klien berkata.Kaji dampak nyeri terhadap kualitas hidup pasien (mengganggu tidur.” T : Klien berkata. kadang nyeri.” O: . aktivitas. tapi nek mengatasi nyeri yaitu dengan lagi ndak kumat ya ndak terlalu tarik napas dalam dan latihan sakit nok” gerak kaki .Menganjurkan untuk tangane udah gak tapi kaki e masih.. Kaki e 5 sakit e.Pagi harinya klien mengikuti kegiatan di aula A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi . “Ya ini bahu kiri nonfarmakologi untuk kadang susah diangkat.Mengajarkan teknik .

hubungan dengan orang lain) . Tingkatkan istirahat . penyebab dan cara mengantisipasinya . Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu dengan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki . 7 Desember 2016 S: . Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan . frekuensi. pekerjaan.Mengkaji nyeri secara P : komprehensif karakteristik. intensitas / keparahan kakine. Motivasi untuk melakukan senam lansia Sabtu.Klien berkata. durasi.” dan faktor presipitasi . “Haduh duh ngene lokasi.Memonitor reaksi nonverbal jalan.Klien berkata. “Kakine nek buat . Berikan informasi tentang nyeri yang dirasakan. terus meh berdiri dari . iki nok nek diangkat sedikit sakit kualitas. . Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk / meningkatkan nyeri .

Mengevaluasi kepuasan pasien R: terhadap intervesi yang telah .Menganjurkan untuk depan dan belakang). durasi.Klien berkata.” O: .” .Kaji nyeri secara komprehensif karakteristik. lokasi. A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi . “Le sakit kadang ilang kadang muncul nok.Klien terlihat memperagakan teknik relaksasi napas dalam dan latihan gerak kaki.” .Memonitor tanda vital dan Q : Klien berkata. skala nyeri senut-senut nok. kualitas. frekuensi.” meningkatkan istirahat S : Klien berkata. “Rasane kemeng.Monitor reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan . dari ketidaknyamanan tempat tidur sakit. “Alhamdulillah agak mending nok.” T : Klien berkata. nek angka 1-10 nyerine wis berkurang nok di 4 ya. “Sebelah mriki diberikan mbak (lutut kanan kiri bagian . intensitas / keparahan dan faktor presipitasi .

cuma skala nyeri tiduran wae dikasur.Mengevaluasi kepuasan pasien Q : Klien berkata.Mengkaji nyeri secara P: komprehensif karakteristik. “Sebelah mriki mbak (lutut kanan kiri bagian depan belakang). durasi. “Tanganne sek lokasi.Klien berkata. Jadi nek sakit aku .Menganjurkan untuk .” .Klien berkata.Klien berkata. “Ya ini bahu kiri meningkatkan istirahat kadang susah diangkat. biyen tibo ya masih sakit nok tapi kualitas.” dan faktor presipitasi . tapi nek lagi ndak kumat ya ndak terlalu sakit nok” . frekuensi. terhadap intervesi yang telah senut-senut.Tingkatkan istirahat Senin.” diberikan R: .Monitor tanda vital dan skala nyeri . .Memonitor reaksi nonverbal mau bangun tidur itu kakine sakit dari ketidaknyamanan banget nok. “Yo sakit kemeng.Memonitor tanda vital dan ndak ngapa-ngapain. 9 Januari 2017 S: .Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan .” . . intensitas / keparahan udah ndak terlalu sakit ini. “Mesti nek pas . linu gitu nok.Klien berkata.

S : Klien berkata.Berikan informasi tentang nyeri .Klien terlihat melakukan teknik relaksasi napas dalam dan latihan gerak kaki . hubungan dengan orang lain) . kadang nyeri. “Nyerine ilang- ilangan. Kaki e 4 sakit e. aktivitas. tetep nok. pekerjaan.” T : Klien berkata. kadang ndak sih nok. tapi ini udah ndak terlalu sakit.” O: .Kaji dampak nyeri terhadap kualitas hidup pasien (mengganggu tidur.Pagi harinya klien mengikuti kegiatan di aula A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi . “Pokoke sakit mbak tangane udah gak tapi kaki e masih.Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk / meningkatkan nyeri .

Mengkaji faktor-faktor yang pas mau kencing itu saya mesti dapat memperburuk / hati-hati jalannya. tapi tetep (mengganggu tidur. takut jatuh meningkatkan nyeri nok.Klien berkata.Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan . “Ya Alhamdulillah nyeri yang dirasakan.” .” . kalau buat jalan itu masih sakit pekerjaan.Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu dengan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki .Mengkaji dampak nyeri . “Ya Alhamdulillah terhadap kualitas hidup pasien bisa tidur nyenyak nok. sekarang udah berkurang linunya penyebab dan cara nok. “Ya kalau ini nok.Memberikan informasi tentang .Klien berkata. . aktivitas.” orang lain) .Klien berkata. penyebab dan cara mengantisipasinya . Ya yang kemarin diajarkan mengantisipasinya tak lakukan terus pas pagi nok.Mengajarkan teknik O: nonfarmakologi untuk .Tingkatkan istirahat Selasa. hubungan dengan kakinya. yang dirasakan. 10 Januari 2017 S: .Klien terlihat melakukan teknik .

Berikan informasi tentang nyeri yang dirasakan.Klien terlihat memegangi kaki . penyebab dan cara mengantisipasinya . mengatasi nyeri yaitu dengan relaksasi napas dalam dan latihan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki gerak kaki .Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan . aktivitas.Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu dengan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki . hubungan dengan orang lain) .Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk / meningkatkan nyeri .Mengevaluasi kepuasan pasien yang nyeri terhadap intervesi yang telah A : Masalah belum teratasi diberikan P : Lanjutkan intervensi . pekerjaan.Tingkatkan istirahat .Kaji dampak nyeri terhadap meningkatkan istirahat kualitas hidup pasien (mengganggu tidur.Menganjurkan untuk .

Klien terlihat memegangi kaki . . aktivitas. tapi tetep (mengganggu tidur. kalau buat jalan itu masih sakit pekerjaan.Mengevaluasi kepuasan pasien yang nyeri terhadap intervesi yang telah A : Masalah belum teratasi diberikan P : Lanjutkan intervensi . kakinya jadi agak meningkatkan nyeri mendingan nok.” .” orang lain) .” . Ya kalau diukur sakitnya 1- mengantisipasinya 10 ya 4 nok.Rabu.Kaji dampak nyeri terhadap meningkatkan istirahat kualitas hidup pasien (mengganggu tidur. “Ya makasih ya . aktivitas.Klien berkata.Menganjurkan untuk .Klien berkata.Mengajarkan teknik O: nonfarmakologi untuk . “Ya Alhamdulillah terhadap kualitas hidup pasien bisa tidur nyenyak nok.Klien terlihat melakukan teknik mengatasi nyeri yaitu dengan relaksasi napas dalam dan latihan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki gerak kaki . hubungan dengan kakinya.Klien berkata. “Ya Alhamdulillah nyeri yang dirasakan. udah diajarin senam yang dapat memperburuk / buat kaki itu.Mengkaji dampak nyeri . sekarang udah berkurang linunya penyebab dan cara nok.Mengkaji faktor-faktor yang nok. 11 Januari 2017 S: .Memberikan informasi tentang .

Berikan informasi tentang nyeri yang dirasakan. Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu dengan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki . Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk / meningkatkan nyeri . “Ya kalau ini nok. hubungan dengan orang lain) . Tingkatkan istirahat Senin. . Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan . hubungan dengan kamu ngajarin gerak kaki ini lho. “Ya Alhamdulillah terhadap kualitas hidup pasien bisa tidur nyenyak nok. orang lain) mudah diingat gerakannya nok.Mengkaji faktor-faktor yang . aktivitas. takut jatuh . 16 Januari 2017 S: .Klien berkata.Klien berkata.Klien berkata.” .” (mengganggu tidur. penyebab dan cara mengantisipasinya . pekerjaan. “Seneng nok nek pekerjaan. dapat memperburuk / pas mau kencing itu saya mesti meningkatkan nyeri hati-hati jalannya.Mengkaji dampak nyeri .

“Ya Alhamdulillah penyebab dan cara sekarang udah berkurang linunya mengantisipasinya nok.Memberikan informasi tentang nok. pekerjaan.Mengevaluasi kepuasan pasien relaksasi napas dalam dan latihan terhadap intervesi yang telah gerak kaki diberikan .Kaji dampak nyeri terhadap kualitas hidup pasien (mengganggu tidur. Klien terlihat memegangi kaki .Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk / meningkatkan . Bengkak pada lutut Ny. Klien terlihat melakukan teknik .Menganjurkan untuk yang nyeri meningkatkan istirahat .” tarik napas dalam dan latihan O : gerak kaki .” nyeri yang dirasakan.Mengajarkan teknik udah kurang jadi 4 nok.. . Ya kalau dari 1-10 linunya . aktivitas. M berkurang A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi . hubungan dengan orang lain) . Klien berkata. Ya yang nonfarmakologi untuk kemarin diajarkan tak lakukan mengatasi nyeri yaitu dengan terus pas pagi nok.

Klien berkata “ Iya jelas mau KATZ E . ada bu dosenmu nok” dari indeks ROM .Menyediakan alat bantu . Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu dengan tarik napas dalam dan latihan gerak kaki . Kakine kekuatan otot peningkatan meningkat dengan secara mandiri sakit” mobilitas dengan kriteria hasil : . 4 Januari 2017 S: mobilitas fisik tindakan tindakan . penyebab dan cara mengantisipasinya . Tingkatkan istirahat 2 Hambatan Setelah dilakukan Setelah dilakukan Rabu.Klien berkata.Mengkaji kemampuan klien . Berikan informasi tentang nyeri yang dirasakan. kalau ndak yo mbahe penurunan terjadi kekuatan otot pemenuhan kebutuhan ADLs ndak iso jalan to nok.Klien mampu meningkatkan kekuatan otot latihan senam lagi tho nok biar .Klien mampu mobilisasi di samping tempat kemarin udah pernah dilatih .Status menyebutkan tidur klien senam juga sama mbak-mbak fungsional klien tujuan dan .Melatih klien dalam dari panti. “Ya gini nek mau berhubungan keperawatan keperawatan selama dalam mobilisasi jalan ya pakai alat ini nok yang dengan selama 2 minggu. Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan .Motivasi klien untuk yang praktek sama kalau kemarin dapat meningkat manfaat latihan melakukan latihan gerak sendi. “Oh iya nok kriteria hasil : . 7x20 menit. nyeri .Klien berkata. .Melakukan ROM untuk .

3/5 meningkat dari A : Masalah belum teratasi 3 menjadi 4 P : Lanjutkan intervensi .Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi . soal nek jalan jauh .Klien melakukan gerakan ROM dan ekstremitas di tempat tidur atas sinistra .Lakukan ROM untuk meningkatkan kekuatan otot lansia Kamis.Kekuatan otot kaki 3/5.Kekuatan otot diajarkan ROM yang diajarkan namun ekstremitas gerakan belum maksimal.Klien berkata.Melatih klien dalam ke belakang cuma pipis itu ndak pemenuhan kebutuhan ADLs bisa. tapi tadi yo ke .Klien mempraktekkan gerakan .Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri . menjadi mendemonstrasik lansia kakine ndak sakit kok” golongan indeks an latihan ROM . . “Ini saya pake dalam mobilisasi pampers nok.Mengkaji kemampuan klien .Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien . baru berdiri aja udah keluar secara mandiri pipisnya nok. 5 Januari 2016 S: .Menjelaskan tujuan latihan O : KATZ A yang telah gerak (ROM) pada klien. bawah dekstra .

ya bisa jalan tapi pelan-pelan pakai kruk ini nok.” O: .. 3/5 A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi . mobilisasi di samping tempat ya pakai alat itu. Tapi kalo urutannya saya ndak inget. “Setiap pagi pas bangun tidur gitu. lupa nok.Melakukan ROM untuk . Klien berkata. soal kakine tidur klien gemetar nok. Klien berkata. Ya seingetnya aja gerakannya.Klien terlihat lebih bersemangat mengikuti latihan .Klien terlihat dapat berjalan dengan alat bantu walker .” .Klien terlihat melakukan latihan ROM di kursi dekat tempat tidur . “Ya tadi meningkatkan kekuatan otot Alhamdulillah bisa ikut pengajian lansia di aula depan nok.” . saya latihan gerak sendiri nok biasanya.Kekuatan otot kaki 3/5. Menyediakan alat bantu belakang soal kebelet berak nok.

Lakukan ROM untuk meningkatkan kekuatan otot lansia Sabtu. Klien berkata. Cuman yang . . Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri . Kalo ndak ada secara mandiri kruk ya ndak bisa jalan kekamar .Melakukan ROM untuk paling inget bagian tangan sama meningkatkan kekuatan otot kaki nok.Menyediakan alat bantu mandi atau kemana gitu nok. Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien .Melatih klien dalam mandi udah ndak keburu. Klien dapat menggerakkan kaki kanannya dengan baik .” lansia O: . Klien terlihat melakukan ROM di kursi dekat tempat tidur . ya pake pemenuhan kebutuhan ADLs ember itu nok. Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi . gerakannya. 7 Januari 2017 S: .Mengkaji kemampuan klien . hla mau kekamar . “Ini tadi saya pipis dalam mobilisasi di sini nok.” mobilisasi di samping tempat . “Dah lupa lagi tidur klien nok. Klien berkata.

Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi .Monitor lokasi ketidaknyamanan bagian tubuh klien ketika melakukan latihan gerak . “Ya ini nok ketidaknyamanan bagian tubuh sekarang kakinya udah enakan. ya secara mandiri tetep pakai kruk ini nok.Klien berkata. dari tempat pemenuhan kebutuhan ADLs tidur ke depan sana aula nok.Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien . . nek .Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri .” mobilisasi di samping tempat .Kekuatan otot 3/5. klien ketika melakukan latihan nyaman udah bisa digerakin. 9 Januari 2017 S: .Klien berkata. kalau .Melatih klien dalam jalan agak jauh nok.Memonitor lokasi .” gerak .Menyediakan alat bantu ngga ya jatuh. “Saya udah bisa . “Enak nok.Klien berkata.Lakukan ROM untuk meningkatkan kekuatan otot lansia Senin. 3/5 A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi .

Klien dapat menggerakkan kaki kanan dan kiri dengan baik .Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri .Kekuatan otot 3/5.Melakukan ROM untuk gerakannya kok nok. 10 Januari 2017 S: .Lakukan ROM untuk meningkatkan kekuatan otot lansia Selasa. 3/5 A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi .Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi .Mengkaji kemampuan klien .” meningkatkan kekuatan otot O : lansia . .Klien dapat berjalan dengan menggunakan walker dari tempat tidur sampai aula . tidur klien tiap hari senam.Klien berkata. “Ya ini nok dalam mobilisasi sekarang kakinya udah enakan.Klien terlihat melakukan ROM di kursi dekat tempat tidur . masih inget .Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien .

Kekuatan otot 3/5..” .Klien terlihat melakukan ROM di kursi dekat tempat tidur .Klien dapat berjalan dengan menggunakan walker dari tempat tidur sampai aula .Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi . 3/5 A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi .” pemenuhan kebutuhan ADLs . “Saya udah bisa secara mandiri jalan agak jauh nok. nek meningkatkan kekuatan otot tiap hari senam. Melatih klien dalam nyaman udah bisa digerakin. dari tempat . Menyediakan alat bantu tidur ke depan sana aula nok.Klien dapat menggerakkan kaki kanan dan kiri dengan baik . Klien berkata. kalau tidur klien ngga ya jatuh. Melakukan ROM untuk . ya mobilisasi di samping tempat tetep pakai kruk ini nok. masih inget lansia gerakannya kok nok.Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri .” O: . “Enak nok. Klien berkata.

“Ya ini nok dalam mobilisasi sekarang kakinya udah enakan. Klien berkata. Klien terlihat melakukan ROM di kursi dekat tempat tidur . “Enak nok. “Saya udah bisa secara mandiri jalan agak jauh nok. . Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien . Klien dapat berjalan dengan menggunakan walker dari tempat tidur sampai aula .Melakukan ROM untuk .” O: . nek meningkatkan kekuatan otot tiap hari senam. Klien berkata. Lakukan ROM untuk meningkatkan kekuatan otot lansia Kamis.Mengkaji kemampuan klien . Klien berkata. dari tempat .” . kalau tidur klien ngga ya jatuh. ya mobilisasi di samping tempat tetep pakai kruk ini nok.Menyediakan alat bantu tidur ke depan sana aula nok.Melatih klien dalam nyaman udah bisa digerakin. masih inget lansia gerakannya kok nok. .” pemenuhan kebutuhan ADLs . Klien dapat menggerakkan kaki kanan dan kiri dengan baik . 12 Januari 2017 S: .

.Kekuatan otot 3/5. ya ngga lama secara mandiri Cuma beberapa menit tok.Klien berkata.Melatih klien dalam buat berdiri sendiri tanpa pemenuhan kebutuhan ADLs pegangan nok. “Saya udah bisa tidur klien jalan agak jauh nok.Klien berkata. .Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri . kalau ngga ya jatuh.Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi .” mobilisasi di samping tempat .” . meningkatkan kekuatan otot terus jalan ke kamar mandi.Mengkaji kemampuan klien .Lakukan ROM untuk meningkatkan kekuatan otot lansia Senin. “Alhamdulillah dalam mobilisasi nok sekarang kakinya udah bisa .Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien .Menyediakan alat bantu enakan udah bisa digerakin. 3/5 A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi . ya lansia tetep pakai kruk ini nok.Melakukan ROM untuk tidur ke depan sana aula nok. dari tempat . 16 Januari 2017 S: .

“Enak nok.Lakukan ROM untuk . nek tiap hari senam.Klien dapat berjalan dengan menggunakan walker dari tempat tidur sampai aula . pagi saya senam sendiri nok. .Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri .” O: .Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi .Klien terlihat melakukan ROM di kursi dekat tempat tidur . Klien berkata.Klien dapat berdiri tanpa berpegangan ± 2-3 menit . masih inget gerakannya kok nok.Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien . 4/5 A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi .Kekuatan otot 4/5.Klien dapat menggerakkan kaki kanan dan kiri dengan baik .

” Q : Klien berkata. EVALUASI SUMATIF Hari. Tanggal Diagnosa Keperawatan Evaluasi Sumatif Rabu. “Sebelah sini lho mbak depan sama belakang lutut (lutut kanan dan kiri bagian depan dan belakang).” R : Klien berkata. 18 Januari Hambatan mobilitas fisik S: . dan juga sambil memijat-mijat kakinya A : Masalah teratasi sebagaian P : Menyusun RTL yang disetujui oleh lansia Rabu. Tapi nek jalan kemana tetep pakai kruk nok takut jatuh. “Le sakit kadang-kadang muncul mbak. ben terasa enak lututnya nok biar ndak linu lagi tho kayak yang diajarke kemarin. meningkatkan kekuatan otot lansia VI. tiap pagi aku senam gerak-gerak kakinya tak hitung sampai 20 kali nok.” O : Klien terlihat memperagakan teknik relaksasi napas dalam saat kakinya terasa sakit. “Alhamdulillah udah enakan nok.” S : Klien berkata. “Rasane kemeng mbak cenut-cenut gitu kalau pas sakit. “Alhamdulillah sekarang kalau sakit ya sakit tapi gak kayak pas pertama sekarang sudah skala 4 kalau ditanya 1 sampai 10 mbak. 18 Januari Nyeri akut berhubungan dengan S: 2017 agens cidera fisik P : Klien berkata.” T : Klien berkata.

4/5 A : Masalah teratasi sebagian P : Menyusun RTL yang disetujui oleh lansia VII. Klien berkata. Klien berkata. 2017 berhubungan dengan penurunan .Klien berjalan dengan lancar . RENCANA TINDAK LANJUT Nama lansia/wisma: Ny. saya hafalnya itu ya pas kepala nek pas kaki sama tangan sering kuwalik nok. Milatun/Mawar Alamat: Semarang . Klien berkata. Sudah mulai lemes gak kaku sama ndak begitu sakit” O: . “Kakinya sekarang udah lebih enakan daripada pas dulu awal pas kamu ke sini nok. “Saya latihan setiap pagi mbak habis sholat kekuatan otot subuh itu saya mulai latihan menggerak-gerakkan badan terutama kaki sama tangan biar gak kaku.Klien melakukan ROM di kursi dekat tempat tidur . “Ya gerakannya yang saya inget mbak.Kekuatan otot kaki 4/5.” .” .

kualitas.Monitor reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan . pekerjaan.Kaji nyeri secara komprehensif dan latihan gerak kaki yang telah diajarkan karakteristik. durasi. aktivitas.Evaluasi keefektifan cara yang telah dilakukan pasien dalam mengatasi nyeri . intensitas / keparahan dan faktor presipitasi banyak istirahat .Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk / meningkatkan nyeri . lokasi. penyebab dan cara mengantisipasinya .Monitor tanda vital dan skala nyeri .Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu . saat merasakan nyeri kaki serta lebih frekuensi. hubungan dengan orang lain) . Masalah Kesehatan Intervensi yang telah dilakukan Rencana Tindak Lanjut Paraf Nyeri akut berhubungan Pain Management Melakukan teknik relaksasi nafas dalam Fauziyah dengan agens cidera fisik .Kaji dampak nyeri terhadap kualitas hidup pasien (mengganggu tidur.Berikan informasi tentang nyeri yang dirasakan.

Kaji kemampuan klien dalam hari mobilisasi penurunan kekuatan otot .Sediakan alat bantu mobilisasi di samping tempat tidur klien . . Menjelaskan tujuan latihan gerak (ROM) pada klien.Motivasi klien untuk melakukan latihan gerak sendi.Latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri .Evaluasi kepuasan pasien terhadap intervesi yang telah diberikan Tingkatkan istirahat Hambatan mobilitas fisik Exercise Therapy: Ambulation Latihan ROM aktif setiap pagi dan sore Fauziyah berhubungan dengan . dengan tarik napas dalam dan senam lansia (mengurangi nyeri lutut) .Lakukan ROM untuk meningkatkan kekuatan otot lansia ExercisTherapy : Muscle Control .

2014). nyeri terasa senut-senut. nyeri terasa terus menerus. Teknik relaksasi juga dapat mengatur emosi dan menjaga keseimbangan emosi. Selain memberikan intervensi teknik relaksasi napas dalam. M adalah teknik relaksasi nafas dalam dan latihan gerak kaki (stretching). 2014). Relaksasi napas dalam dapat menurunkan intensitas nyeri. BAB IV PEMBAHASAN A. M yaitu klien mengeluh nyeri pada kaki kanan dan kiri bagian lutut depan dan belakang jika berjalan dan berdiri terlalu lama. Intervensi yang diberikan kepada Ny. meningkatkan oksigenasi darah. perawat juga memberikan intervensi berupa latihan gerak kaki (stretching). sehingga emosi marah tidak berlebihan dan tidak terjadi pada tingkat intensitas tinggi (Smeltzer & Bare. Dari hasil pengkajian masalah keperawatan yang muncul yaitu nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik. skala 5 (skala 1-10). 2005). mengurangi stress baik fisik maupun emosional. memberikan perasaan tenang. meningkatkan ventilasi alveoli. dalam Rahmiati dkk. Teknik relaksasi nafas adalah napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan menghembuskan napas secara perlahan. 2002). Hasil pengkajian pada Ny. Selain itu nyeri juga dapat dikatakan sebagai pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan (Potter & Perry. Stretching sangat efektif dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi sehingga dapat memberikan efek penurunan atau hilangnya rasa nyeri sendi pada lansia (Crossfit Journal Article. 2006. memelihara pertukaran gas. . Stretching merupakan salah satu aktivitas untuk meregangkan otot untuk meningkatkan fleksibilitas otot dan jangkauan gerakan persendian (Rahmiati dkk. mencegah atelektasi paru. Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman dan sangat individual yang tidak dapat dirasakan atau dibagi dengan orang lain.

Skala Nyeri Setelah Dilakukan Intervensi Relaksasi Nafas Dalam dan Latihan Gerak Kaki (Stretching) Skala Nyeri 6 5 4 Skala nyeri 3 2 1 0 hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 Skala Nyeri 5 5 5 5 5 4 4 Dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa intervensi nafas dalam dan latihan gerak kaki yang diberikan kepada Ny.2. Grafik 4. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi stretching. M. latihan gerak kaki memiliki pengaruh terhadap nyeri lutut yang dialami oleh lansia. Hal ini menunjukkan keefektifan intervensi relaksasi napas dalam dan latihan gerak kaki pada penurunan skala nyeri klien. Grafik tersebut menunjukkan bahwa Ny. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan Rahmiati dkk tahun 2014 yang berjudul “Efektivitas Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Sendi Lutut Pada Lansia” dapat disimpulkan bahwa latihan gerak kaki (stretching) ini efektif mengatasi nyeri lutut pada lansia. M mengalami penurunan skala nyeri di hari ke 6 yaitu dari skala 5 menjadi skala 4 dan hari ke 7 skala nyeri klien masih berada di skala 4. . M juga mengalami penurunan skala nyeri setelah dilakukan intervensi nafas dalam serta latihan gerak kaki (stretching). sesuai dengan penelitian ini bahwa Ny. M memiliki pengaruh untuk mengatasi nyeri yang dialami Ny.

M setelah pemberian latihan ROM selama 7 hari .1 Grafik perkembangan skala kekuatan otot Ny. toleting dan satu fungsi lain yaitu berpindah. Latihan ROM merupakan latihan dengan menggerakkan persendiaan seoptimal dan seluas mungkin sesuai kemampuann seseorang dengan tidak menimbulkan rasa nyeri pada sendi yang digerakkan (Siswoyowati. M yaitu klien mengatakan semenjak jatuh. Hasil pengkajian pada Ny. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah. meningkatkan peredaran darah ke esktremitas. berpakaian. 2012). Intervensi yang diberikan untuk mengatasi masalah keperawatan tersebut adalah mengajarkan latihan fisik Range of Motion (ROM) aktif.B. atropi otot. mengurangi kelumpuhan vaskular. kekuatan otot ekstremitas bawah dan atas 3. 2013). Grafik 4. Funsi dilakukannya ROM adalah dapat mencegah terjadinya kontraktor. klien beraktivitas menggunakan alat bantu walker. klien kesulitan untuk berdiri secara mandiri setelah duduk. dan memberikan kenyamanan pada klien (Lukman & Ningsih. M mendapat skor 2 dalam indeks KATZ hal tersebut tergolong indeks KATZ E yaitu mandiri kecuali mandi. Dari hasil pengkajian tersebut muncul masalah keperawatan yaitu hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot. Didapatkan juga hasil pengkajian status fungsional pada Ny.

sebanyak 31 (58. 2008). Pada penelitian yang dialakukan ini sama dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Andriani dkk bahwa didapatkan peningkatan kekuatan otot pada lansia yaitu dari 3 menjadi 4 setelah dilakukan ROM.5 0 hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 Kekuatan Otot 3 3 3 3 3 4 4 Dari grafik diatas terdapat hasil bahwa skala kekuatan otot Ny.5%) responden memiliki skala otot 2 dan 22 (41. merangsang sirkulasi darah dan mencegah kelainan bentuk (Suratun.5 1 0.3%) responden memiliki skala otot 4. memelihara mobilitas persendian.5 2 1.008).4%) responden memiliki skala otot 3.7%) responden memiliki skala otot 3 dan sebanyak 15 (28. Sebelum diberikan ROM.5 3 2. Setelah diberikan ROM didapatkan hasil penelitian sebanyak 38 (71. Kekuatan Otot 4. hal ini menunjukkan keefektifan intervensi ROM yang dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot klien. mengalami peningkatan pada hari ke-7 dari skala 3 menjadi skala 4. . Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa tujuan Range of Motion (ROM) adalah mempertahankan atau memelihara kekuatan otot. Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Andriani dkk tahun 2013 dengan judul “Pengaruh Range of Motion (ROM) Aktif Terhadap Kekuatan Otot Ekstremitas Atas” terdapat pengaruh ROM terhadap kekuatan otot lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang (p value=0.5 4 Skala Kekuatan Otot 3.

Intervensi yang diberikan kepada klien harus disesuaikan dengan kondisi pasien saat ini b. Tindakan keperawatan sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan. melainkan kebutuhan dasara manusia harus dipenuhi 2. tidak hanya berfokus pada masalah keperawatan yang muncul. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa masalah keperawatan nyeri akut pada Ny. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik pada Ny. komprehensif. M teratasi sebagian dengan pemberian intervensi teknik relaksasi nafas dalam dan latihan gerak kaki (stretching) selama 7 hari didapatkan hasil terdapat penurunan skala nyeri ekstremitas bawah dekstra sinistra dari skala 5 menjadi skala 4. M teratasi sebagian dengan pemberian intervensi berupa latihan ROM aktif selama 7 hari didapatkan hasil terjadi peningkatan kekuatan otot ekstremitas bawah dekstra dari 3 menjadi 4. B. Pengasuh a. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 2. Kesimpulan 1. Pengasuh berperan sebagai fasilitator lansia dalam melakukan rencana tindak lanjut dari intervensi yang telah disetujui oleh klien dan pengasuh . Mahasiswa a. Saran 1.

Pengaruh Range of Motion (ROM) Aktif terhadap Kekuatan Otot Ekstremitas Atas Lansia. (2009). Asih. (2009). Gangguan Sistem Muskuloskeletal. T. 1(8). (2008). Jakarta : Salemba Medika M. 2012. Latipun. Lukman dan Ningsih. DAFTAR PUSTAKA Andriani. P. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Edisi 4.Malang:Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang. Kesehatan Mental. Heni.Edisi ke-3. Indriati. Nugroho. Herdman. Jilid 1. 51-59. Proses.dkk. 2011. NANDA International : Diagnosis Keperawatan. Keperawatan Gerontik. dan Praktik. Sri Sat. (2005). Mengenal usia lanjut dan perawatannya. 8(1). Jakarta: EGC Potter. (2013). Terapi Jus dan Ramuan Tradisional Untuk Hipertensi. Jakarta: Argo Media Pustaka Effendy. (2015). Alih Bahasa : Renata Komalasari. Jakarta: EGC. Junaidi.. Imron. Pengaruh Latihan ROM Aktif terhadap Keaktifan Fisik Pada Lansia di Dusun Karang Templek Desa Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Keperawatan dan Kebidanan (JIKK). . Jurnal Edu Health. 470-476. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep. (2007). Efektifitas Senam Aerobik Low Impact Terhadap Penurunan Nyeri Sendi di Ekstremitas Bawah Pada Lansia di Dukuh Juwangi Tempursari Ngawen. Jakarta : Salemba Medika Maryam S. J. Perry... PA. 198.Ghalia Indonesia. Muhajir. PT. Volume 2.(2008). Jakarta : Salemba Medika.A.. Susi Wahyuning. Journal of Nursing Science. Jakarta:EGC. M. Hamranani. Wahyudi. Ferry & Makhfudi. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan. Bangun.G. Notosoedirdjo. Supriyadi. A. (2014). 2012. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. 5(1).

1(2). Smeltzer. Pengaruh Latihan Range of Motion (ROM) terhadap Fleksibilitas Sendi Lutut pada Lansia di Panti Wreda Wening Wardoyo Ungaran. (2008). (2002). [diakses pada 29 November 2016] Santoso. Imobilisasi pada Pasien Usia Lanjut: Pendekatan dan Pencegahan Komplikasi. 1-12. et all.. Kushartanti. 72-78 . Sarah. Jakarta: Rineka Cipta Siswoyowati. Suzanne C. (2013).Rahmiati..org. (2010). dkk. Indhah. Jakarta : EGC. EGC : Jakarta. Kesehatan dan Gizi. (2007). Bambang. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart Edisi 8. Ulliya. Pengaruh Latihan Range Of Motion (ROM) Aktif Terhadap Fleksibilitas Sendi Lutut Pada Lansia di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. Aulia. www. Jurnal Ilmu Keperawatan ISSN: 2338-6371. (2009). Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Soempeno. Cut. Media Ners. BM Wara. Suratun dkk. Banda Aceh: Magister Ilmu Keperawatan Universitas Syiah Kuala Rizka. (2014).. Efektivitas Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Sendi Lutut Pada Lansia.papdijaya.