1.

BOR (Bed Occupancy Ratio) = Rata-rata jumlah pasien keluar * jumlah
kapasitas tempat tidur * 100%. Angka yang menunjukkan presentase tempat tidur
yg digunakan dalam satu tahun, BOR ideal = 75 – 85 %.
2. AVLOS (Average Lengt Of Stay) = rata jumlah pasien keluar * periode *
jumlah hari perawatan. Angka yang menunjukkan rata-rata lamanya seorang
pasien dirawat, AVLOS ideal = 3 -12 hari.
3. TOI (Turn Over Interval) = (jumlah kapasitas tempat tidur – rata jumlah pasien
keluar) * periode / jumlah hari perawatan. Rata-rata jumlah hari sebuah tempat
tidur tidak terisi, yaitu waktu antara sebuah tempat tidur ditinggalkan pasien
sampai dengan saat ditempati lagi oleh pasien lain berikutnya, TOI ideal = 1 – 3
hari.
4. BTO (Bed Turn Over) = jumlah hari perawatan / jumlah kapasitas tempat tidur.
Angka yang menunjukkan tingkat penggunaan sebuah tempat tidur, rata-rata
jumlah pasien yang menggunakan setiap tempat tidur dalam tahun yang
bersangkutan. BTO ideal => 30 kali.

1. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to inpatient
bed count days in a period under consideration”. Sedangkan menurut Depkes RI
(2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu.
Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat
tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes
RI, 2005).

Rumus :

(jumlah hari perawatan di rumah sakit) × 100%
(jlh tempat tidur × jlh hari dalam satu periode)

2. ALOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
ALOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of inpatient
discharged during the period under consideration”. ALOS menurut Depkes RI (2005)
adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan
gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan,
apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu
pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari
(Depkes, 2005).
Rumus :

(jumlah lama dirawat)
(jlh pasien keluar (hidup + mati))

3. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran
tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi
pada kisaran 1-3 hari.

Rumus : ((jumlah tempat tidur × Periode) − Hari Perawatan) (jlh pasien keluar (hidup + mati)) 4.dengan standar sebagai berikut : Tipe RS TM/TT TPP/TT TPNP/TT TNM/TT . NDR (Net Death Rate) NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar.Cara rasio yang umumnya digunakan adalah berdasarkan surat keputusan menkes R. Nomor 262 tahun 1979 tentang ketenagaan rumah sakit.tipe. Cara rasio Metoda ini menggunakan jumlah tempat tidur sebagai denominator personal yang diperlukan. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur) BTO menurut Huffman (1994) adalah “…the net effect of changed in occupancy rate and length of stay”.I.Metoda ini paling sering digunakan karena sederhana dan mudah. Idealnya dalam satu tahun. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. dan volume pelayanan kesehatan relatif stabil.jenis. Rumus : Jumlah pasien dirawat (hidup + mati) (jumlah tempat tidur) 5.Bisa digunakan bila: kemampuan dan sumber daya untuk prencanaan personal terbatas. berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Rumus : Jumlah pasien mati seluruhnya × 100% (jumlah pasien keluar (hidup + mati)) MENGHITUNG TENAGA PERAWAT A.da kapan personal tersebut dibutuhkan oleh setiap unit atau bagian rumah sakit yang mebutuhkan. Rumus : Jumlah pasien mati > 48 jam × 100% (jumlah pasien keluar (hidup + mati)) 6. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode. GDR (Gross Death Rate) GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar. satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.Metoda ini hanya mengetahui jumlah personal secara total tetapi tidak bisa mengetahui produktivitas SDM rumah sakit.

4 3 Campuran bedah dan non bedah 3.0 5 Bayi baru lahir 2.5 4 Pos partum 3. Cara Gillies Gillies (1989) mengemukakan rumus kebutuhan teanaga keperawatan di satuy unit perawatan adalagh sebagai berikut: Keterangan : .4 2 Bedah 3.31 menit  untuk kasus mendesak : 71. A&B 1/(4-7) (3-4)/2 1/3 1/1 C 1/9 1/1 1/5 ¾ D 1/15 1/2 1/6 2/3 Khusus Disesuiakan Keterangan : TM = Tenaga Medis TT = Tempat Tidur TPP = Tenaga Para Medis Perawatan TPNP = tenaga para medis non perawatan TNP = tenaga non medis Cara perhitungan ini masih ada yang menggunakan.5 Konversi kebutuhan tenaga adalah seperti pada perhitungan cara Need. Menurut Tutuko (1992) setiap klien yang masuk ruang gawat darurat dibutuhkan waktu sebagai berikut:  untuk kasus gawat darurat : 86.28 menit  untuk kasus tidak mendesak : 33. menghasilkan data sebagai berikut: N Jenis pelayanan Rata – rata jam o perawatan / hari 1 Non bedah 3. C. B. Cara Demand Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga mennurut kegiatan yang memang nyata dilakukan oleh perawat.09 menit Hasil penelitian di rumah sakit di Filipina. namun banyak rumah sakit yang lambat laun meninggalkan cara ini karena adanya beberapa alternatif perhitungan yang lain yang lebih sesuai dengan kondisi rumah sakit dan profesional.

sedangkan menurut Wolfe & Young (Gillies.6 jam perhari)  Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan di satu unit harus ditambah 20% (untuk antisiapasi kekurangan/ cadangan) . menulis dan membaca catatan kesehatan. 1989. h 245) = 38 menit/ klien/ hari. Berdasarkan tingkat ketergantungan pasien padfa perawat maka dapat diklasifikasikan dalam empat kelompok.A = rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari B = rata-rata jumlah pasien /hari C= Jumlah hari/tahun D = Jumlah hari libur masing-masing perawat E = jumlah jam kerja masing-masing perawat F = Jumlah jam perawatan yang dibutuhkan per tahun G = Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun H = Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit tersebut Prinsip perhitungan rumus Gillies: Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada tiga jenis bentuk pelayanan.1½ x 4 jam : 4-6 jam  Intensive care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam b) Perawatan tak langsung. melaporkan kondisi pasien. 1994) c) Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi: aktifitas. 245) = 60 menit/ klien/ hari dan penelitian di Rumah Sakit John Hpokins dibutuhkan 60 menit/ pasien (Gillies. hari minggu= 52 hari dan hari sabtu = 52 hari. Dari hasil penelitian RS Graha Detroit (Gillies. meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan. psikologis. h. yaitu 128 hari. hari libur nasional = 12 hari dan cuti tahunan = 12 hari. . pengobatan serta tindak lanjut pengobatan. kalau ini merupakan hari libur maka harus diperhitungkan. kalu hari kerja efektif 6 hari per minggu maka 40/6 jam = 6.konsultasi dengan anggota tim. yaitu: a) Perawatan langsung. memasang/ menyiapkan alat. Untuk hari sabtu tergantung kebijakan RS setempat. dan spiritual. begitu juga sebaliknya. waktu yang dibutuhkan untuk pendidikan kesehatan ialah 15 menit/ klien/ hari. yaitu: self care. yaitu 365 hari  Hari libur masing-masing perawat pertahun. 1989.  Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja efektif 5 hari maka 40/5 = 8 jam. Menurut Mayer dalam Gillies (1994). v Rata-rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatau unit berdsasarkan rata-ratanya atau menurut “ Bed Occupancy Rate” (BOR) dengan rumus: o Jumlah hari perawatan rumah sakit dalam waktu tertentu x 100%  Jumlah tempat tertentu x 365  Jumlah hari pertahun. adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada hubungan secara khusus dengan kebutuhan fisik. Menurut Minetti Huchinson (1994) kebutuhan keperawatan langsung setiap pasien adalah empat jam perhari sedangkan untuk:  self care dibutuhkan ½ x 4 jam : 2 jam  partial care dibutuhkan ¾ x 4 jam : 3 jam  Total care dibutuhkan 1. partial care. total care dan intensive care.

Metoda Formulasi Nina Nina (1990) menggunakan lima tahapan dalam menghitung kebutuhan tenaga. . dimana 60% x 300 = 180. Metoda hasil Lokakarya Keperawatan Menurut hasil lokakarya keperawatan (Depkes RI 1989). Dari contoh diatas A= 4 jam/ hari  Tahap II Dihitung B= jumlah rata-erata jam perawatan untuk sekuruh klien dalam satu hari. E= 985500/ 1878 = 524.D. tetapi ada penambahan pada rumus ini yaitu 25% untuk penyesuaian ( sedangkan angka 7 pada rumus tersebut adalah jumlah hari selama satu minggu). B = A x tempat tidur = 4 x 300 = 1200  Tahap III Dihitung C= jumlah jam perawatan seluruh klien selama setahun.  Tahap V Didapat E= jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan. Sedangkan 80 adalah nilai tetap untuk perkiraan realistis jam perawatan. C= B x 365 hari = 1200 x 365 = 438000 jam  Tahap IV Dihitung D = jumlah perkiraan realistis jam perawatan yang dibutuhkan selama setahun. didapatrkan jumlah rata-rata klien yang dirawat (BOR) 60 %. rumusan yang dapat digunakan untuk perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan adalah sebagai berikut : Prinsip perhitungan rumus ini adalah sama dengan rumus dari Gillies (1989) diatas. Contoh pengitungannya: Hasil observasi terhadap RS A yang berkapasitas 300 tempat tidur. sedangkan rata-rata jam perawatan adaalah 4 jam perhari.76 (525 orang) Angka 1878 didapat dari hari efektif pertahun (365 – 52 hari minggu = 313 hari) dan dikalikan dengan jam kerja efektif perhari (6 jam) E. D= C x BOR / 80 = 438000 x 180/ 80 = 985500 Nilai 180 adalah BOR total dari 300 klien. Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah kebutuhan tenaga perawat di ruang tersebut adalah sbb:  Tahap I Dihitung A = jumlah jam perawatan klien dalam 24 jam per klien.