LAPORAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT

UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

PENYULUHAN GIZI
UNTUK PENDERITA DIABETES MILITUS (DM)
DI POSYANDU LANSIA LOSARI

Pendamping
dr. Dwi Retno S

Disusun Oleh
dr. Maria Septiana Setyaningrum

DINAS KESEHATAN KABUPATEN SEMARANG
UPTD PUSKESMAS AMBARAWA
KABUPATEN SEMARANG
2017

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT
UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

PENYULUHAN GIZI
UNTUK PENDERITA DIABETES MILITUS (DM)
DI POSYANDU LANSIA LOSARI

Disusun Oleh
dr. Maria Septiana Setyaningrum

Telah Disahkan pada
Tanggal 2017

Pendamping

Dr. Dwi Retno S.
NIP. 197403132006042017

pada umumnya rendah. Diabetes mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit menahun. dan 80 % tidak mengikuti diet yang tidak dianjurkan. Jumlah penderita penyakit diabetes melitus akhir-akhir ini menunjukan kenaikan yang bermakna di seluruh dunia. kerja insulin atau kedua-duanya. polidipsia. atau setidaknya dihambat. sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi. seperti penyakit serebrovaskular. Namun penyakit DM dapat dicegah jika kita . Berbagai penelitian menunjukan bahwa kepatuhan pada pengobatan penyakit yang bersifat kronis baik dari segi medis maupun nutrisi. penyakit jantung koroner. dan syaraf. DM dapat saja timbul pada orang tanpa riwayat DM dalam keluarga dimana proses terjadinya penyakit memakan waktu bertahun-tahun dan sebagian besar berlangsung tanpa gejala. polifagia. penyakit pembuluh darah tungkai. ginjal. Oleh karenanya. dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Secara epidemiologik diabetes seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulai terjadinya adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan. Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria. diharapkan semua penyakit menahun tersebut dapat dicegah. BAB I PENDAHULUAN Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. Perubahan gaya hidup seperti pola makan dan berkurangnya aktivitas fisik dianggap sebagai faktor-faktor penyebab terpenting. Dan penelitian terhadap penyandang diabetes mendapatkan 75 % diantaranya menyuntik insulin dengan cara yang tidak tepat. lingkungan dan cara hidup berperan dalam perjalanan penyakit diabetes. penyakit pada mata. Berbagai faktor genetik. Jika kadar glukosa darah dapat selalu dikendalikan dengan baik. 58 % memakai dosis yang salah.

4 % pada tahun 2004. dan dengan angka kematian sekitar 3.4 juta jiwa pada tahun 2000. terjadi pengukuran prevalensi Diabetes mellitus (DM) dari tahun 2001 sebesar 7. Penyumbang peningkatan angka tadi merupakan negara- negara berkembang.7 % di perkotaan dan 7. Amerika Serikat (16 juta orang). sementara hasil survey BPS tahun 2003 menyatakan bahwa prevalensi diabetes mellitus mencapai 14. India dan Cina. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT). dan Jepang (6.2 juta orang. penderita diabetes mellitus di Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan 8.672 penderita. Cina (23. Penderita diabetes mellitus dari tahun ke tahun mengalami peningkatan menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF). 4 . Penderita DM sendiri dikabupaten Semarang pada tahun 2014 mencapai angka 12.5 % menjadi 10.3 juta jiwa pada tahun 2030.5 juta orang). Tingginya angka kematian tersebut menjadikan Indonesia menduduki ranking ke-4 dunia setelah Amerika Serikat.8 juta orang). WHO memprediksikan penderita diabetes mellitus akan menjadi sekitar 366 juta orang pada tahun 2030.mengetahui dasar-dasar penyakit dengan baik dan mewaspadai perubahan gaya hidup kita. Rusia (9.7 juta orang).2 % di pedesaan.7 juta orang).328 orang terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya terdapat 7.menjadi 21. penduduk dunia yang menderita diabetes mellitus sudsh mencakupi sekitar 197 juta jiwa. WHO menyatakan. yang mengalami kenaikan penderita diabetes mellitus 150 % yaitu negara penderita diabetes mellitus terbanyak adalah India (35.

Kader kesehatan a. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI PERENCANAAN DAN PERMASALAHAN PEMILIHAN INTERVENSI Masyarakat Kurangnya pengetahuan lansia Memberikan penyuluhan mengenai tentang gizi pada penderita DM. BAB II BENTUK KEGIATAN I. Kurangnya pengetahuan lansia tentang gizi pada penderita DM. 2. PERMASALAHAN 1. Masyarakat a. Kurangnya sarana dan prasarana dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait gizi penderita DM. mengenai komplikasi akibat cara diit yang tidak tepat pada penderita DM. gizi pada lansia yang menderita DM Kurangnya pengetahuan lansia Memberikan penyuluhan mengenai komplikasi yang mungkin terjadi. Kurangnya pengetahuan lansia mengenai komplikasi akibat cara diit yang tidak tepat pada penderita DM. b. II. Kader Kesehatan Kurangnya sarana dan prasarana Membekali kader kesehatan dengan materi penyuluhan terkait diit & dalam memberikan pengetahuan dan gizi pada lansia yang mendderita DM 5 .

6 .pemahaman terkait gizi penderita DM.

kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. 2. Hasil : Masyarakat tampak antusias dan memperhatikan dalam mengikuti penyuluhan. Peserta : Lansia di Posyandu Losari 5. Materi yang diberikan adalah tentang diit pada penyakit DM dan gizi yang baik pada penyakit DM. peserta dikumpulkan dan diberikan gambaran singkat mengenai kegiatan yang akan dilakukan. 19 Desember 2016 2. Kegiatan : Penyuluhan gizi pada lansia 6. Sasaran Sasaran pada penyuluhan ini adalah lansia yanng mengikuti posyandu di Posyandu Lansia Losari. sesi tanya jawab berjalan lancar dan masyarakat terpuaskan dengan jawaban yang diberikan C. Waktu : 09. Tanggal : Senin.00 3. Metode : Penyuluhan dan sesi tanya jawab 7.00 -11. Tempat : Posyandu Losari 4. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dibagi menjadi beberapa tahap 1. BAB III PELAKSANAAN PROSES INTERVENSI A. Tahap Persiapan Dalam tahap persiapan. 7 . Pelaksanaan 1. Tahap Penyajian Materi Penyajian materi penyuluhan diawali dengan ceramah. B.

mata kabur. Bagaimana cara mengetahui terkena penyakit DM atau tidak? Jawab : a. gatal-gatal. gatal. kesemutan pada jari tangan dan kaki. polidipsia. luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi diatas 4 kg. Beberapa pertanyaan dan jawaban yang dimunculkan dalam sesi ini antara lain adalah: a. banyak makan serta berat badan yang turun dengan cepat. Disamping itu kadang-kadang ada keluhan lemah. Terdapat keluhan khas yang tidak lengkap atau terdapat keluhan tidak khas (lemah. penglihatan jadi kabur. gairah seks menurun. b. polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya) disertai dengan satu nilai pemeriksaan glukosa darah tidak normal (glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dl atau glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl). kesemutan. sering kencing terutama pada malam hari . Kadang-kadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya keluhan. pruritus vulvae) disertai dengan dua nilai pemeriksaan glukosa darah tidak normal (glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl dan atau glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl yang diperiksa pada hari yang sama atau pada hari yang berbeda). disfungsi ereksi. Dok. Sesi Tanya Jawab Sesi tanya jawab berlangsung sekitar 20 menit. b. apa tanda terkena penyakit DM? Jawab : Gejala klasik DM adalah rasa haus yang berlebihan. 8 . Terdapat keluhan khas diabetes (poliuria. cepat lapar. Mereka mengetahui adanya DM hanya pada saat chek up ditemukan kadar glukosa darahnya tinggi.3.

Makanan apa yang harus dihindari dan yang harus dimakan? Jawab : Makanan yang mengandung kadar gula berlebih seperti gula. Apakah penyakit DM harus langsung diobati dan pengobatannya rutin? Jawab : Iya harus langsung diobati agar kadar gula didalam darah tidak melonjak begitu tinggi.Neuropati e. pemateri mengajak peserta kembali untuk sharing mengenai permasalahan terkait gizi DM. 9 .Retinopati . dan bahan karbohidrat tinggi. d.Diabetic ketoasidosis . Perbanyak makan sayuran dan buah buahan.Hipoglikemi . Tahap Penutupan dan Evaluasi Diakhir penyuluhan. Apakah dampak dari tidak minum obat secara teratur? Jawab : Terdapat 2 macam komplikasi yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronis. Pemateri juga menekankan kembali poin-poin penting mengenai materi gizi pada DM. c. 4.Nefropati . Obat DM juga harus rutin diberikan setiap hari. nasi putih. Pengobatan diberikan setelah hasil laboratorium keluar dan dinyatakan menderita DM. Komplikasi akut meliputi : .Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Nonketotik Komplikasi kronik meliputi : .

Diharapkan dengan pemantauan ini tenaga kesehatan dapat mendeteksi secara dini adanya kondisi DM yang memburuk. 2. Monitoring Monitoring dilakukan dengan pemantauan kadar gula darah. BAB IV MONITORING DAN EVALUASI 1. 10 . Diharapkan dengan pemantauan ini banyak lansia yang mengidap DM menjadi stabil hasil gula darahnya. Evaluasi Evaluasi terhadap kegiatan ini dilakukan dengan memantau kadar gula darah.

Sebagian besar peserta masih belum mengetahui tanda dan gejala DM. Sebagian peserta masih belum mengetahui gizi yang bagus untuk penderita DM. Membina kerjasama dengan tokoh masyarakat dan kader kesehatan setempat untuk mempromosikan posyandu lansia sebagai sarana pemantauan gizi pada penderita DM b. Kesimpulan a. c. Masyarakat tampak antusias mengikuti kegiatan penyuluhan permasalahan diabetisi selama melakukan ibadah puasa. b. 2. Mempromosikan gizi yang tepat untuk penderita DM melalui kegiatan seperti penyuluhan 11 . BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. Saran a.

DOKUMENTASI KEGIATAN 12 .

1. 2. dan berat badan yang diinginkan. walaupun berat badan idaman tidak dicapai. ADA pada saat ini menganjurkan mengkonsumsi 10% sampai 20% energi dari protein total. sudah terbukti dapat meningkatkan kontrol diabetes. lipid. Penurunan berat badan dapat diusahakan dicapai dengan baik dengan penurunan asupan energi yang moderat dan peningkatan pengeluaran energi. Penurunan berat badan ringan atau sedang (5 – 10 kg).8 g/kg perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologi tinggi. Perlu penurunan asupan protein menjadi 0. Total Lemak. KEBUTUHAN ZAT GIZI DAPAT DIURAIKAN DIBAWAH INI. TINJAUAN PUSTAKA KEBUTUHAN ZAT GIZI PADA PENDERITA DIABETES Perencanaan makan hendaknya dengan kandungan zat gizi yang cukup dan disertai pengurangan total lemak terutama lemak jenuh. Hanya sedikit data ilmiah untuk membuat rekomendasi yang kuat tentang asupan protein orang dengan diabetes. Asupan lemak dianjurkan < 10% energi dari lemak jenuh dan tidak lebih 10% energi dari lemak tidak jenuh ganda. Anjuran persentase energi dari lemak tergantung dari hasil pemeriksaan glukosa. Protein. sedangkan selebihnya yaitu 60 – 70% total energi dari lemak tidak jenuh tunggak dan karbohidrat. Distribusi energi dari lemak dan karbohidrat dapat berbeda-beda setiap individu berdasarkan pengkajia gizi dan tujuan pengobatan. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia kebutuhan protein untuk orang dengan diabetes adalah 10 – 15% energi. Dianjurkan pembatasan kalori sedang yaitu 250-500 Kkal lebih rendah dari asupan rata-rata sehari. Untuk individu yang mempunyai kadar lipid normal dan dapat mempertahankan berat badan yang memadai (dan untuk pertumbuhan . Pengetahuan porsi makanan sedemikian rupa sehingga supan zat gizi tersebar sepanjang hari.

Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolestrol adalah untuk menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler. Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal. menilai kembali fruktosa dan lebih konservatif untuk serat. Karbohidrat dan Pemanis. dan perkembangan normal pada anak dan remaja) dapat dianjurkan tidak lebih dari 30% asupan energi dari lemak total dan < 10% energi dari lemak jenuh. Walaupun berbagai tepung-tepungan mempunyai respon glikemik yang berbeda. Pasien dengan kadar trigliserida > 1000 mg/dl mungkin perlu penurunan semua tipe lemak makanan untuk menurunkan kadar lemak plasma dalam bentuk kilomikron. dapat diikuti anjuran diet dislipidemia tahap II yaitu < 7% energi total dari lemaj jenuh. alpukat dan minyak zaitun. Perencanaan makan tinggi lemak tidak jenuh tunggal dapat dilakukan antara lain dengan penggunaan nuts. Rekomendasi tahun 1994 lebih menfokuskan pada jumlah total karbohidrat dari pada jenisnya. 4. Namun demikian rekomendasi ini harus disesuaikan dengan latar belakang budaya dan etnik. 3. Namun demikian pada individu yang kegemukan peningkatan asupan lemak dapat memperburuk kegemukannya. Lemak Jenuh dan Kolesterol. nasi dan kentang. Dalam hal ini anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20 – 25% energi. Apabila peningkatan trigliserida dan VLDL merupakan masalah utama. pendekatan yang mungkin menguntungkan selain menurunkan berat badan dan peningkatan aktivitas adalah peningkatan sedang asupan lemak tidak jenuh tunggal 20% energi dengan < 10% masing energi masing-masing dari lemak jenuh dan tidak jenuh ganda sedangkan asupan karbohidrat lebih rendah. 14 . Oleh karena itu < 10% asupan energi sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan makanan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari. tidak lebih dari 30% energi dari lemak total dan kandungan kolesterol 200 mg/hari. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik menyerupai roti. Apabila peningkatan LDL merupakan masalah utama.

Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil dari pada sukrosa dan kebanyakannya karbohidrat jenis tepung-tepungan. prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi dari pada sumber karbohidrat. karena pengaruh penggunaan dalam jumlah besar (20% energi) yang potensial merugikan pada kolesterol dan LDL. Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa harus diperhitungkan sebagai pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya pada perencanaan makan. namun tidak ada alasan untuk menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengnadung fruktosa alami ataupun konsumsi sejumlah sedang makanan yang mengandung pemanis fruktosa. demikian juga adanya zat gizi-zat gizi lain pada makanan tersebut seperti lemak yang sering dimakan bersama sukrosa. Dalam melakukan substitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makanan manis yang pekat dan kandungan zat gizi makanan yang mengandung sukrosa harus dipertimbangkan. b. fruktosa tidak seluruhnya menguntungkan sebagai bahan pemanis untuk orang dengan diabetes. a. mannitol dan xylitol adalah gula alkohol biasa (polyols) yang menghasilkan respon glikemik lebih rendah dari pada sukrosa dan 15 . Mengkonsumsi makanan yang bervariasi memberikan lebih banyak zat gizi dari pada makanan dengan sukrosa sebagai satu-satunya zat gizi. Pemanis. Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 60 – 70% energi. Sukrosa. 5. Sorbitol. Dalam hal ini fruktosa dapat memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu dengan diabetes tipe 1 dan 2. Namun demikian. 6. Penderita dislipidemia hendaknya menghindari mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah besar.

10 . sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang. PRINSIP PERENCANAAN MAKAN ORANG DENGAN DIABETES DI INDONESIA A. Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes. yaitu untuk pasien kurus 2300 – 2500 kalori. Dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut : Berat badan idaman = 90% x (TB dalam 16 . Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes. Serat. kehamilan/laktasi. adanya komplikasi dan berat badan. 7. Diantaranya adalah dengan memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal. Cara lain adalah seperti tabel 1. ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis kelamin.15% dari protein dan 20 – 25% dari lemak. Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mg. umur. c.1500 kalori. acesulfame adalah pemanis tak bergizi yang dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM. aspartam. Kebutuhan Kalori. Dianjurkan mengkonsumsi 20 – 35 g serat makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Di Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut. Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mepertahankan berat badan ideal komposisi energi adalah 60 – 70% dari karbohidrat. 8. normal 1700 – 2100 kalori dan gemuk 1300 . dianjurkan 2400 mg natrium perhari. Sedangkan cara yang lebih gampang lagi adalah dengan pegangan kasar. Perhitungan Berat Badan Idaman. Penggunaan pemanis tersebut secra berlebihan dapat mempunyai pengaruh laxatif. karbohidrat lain. aktifikasi. Natrium. Sakarin.

rumus dimodifikasi menjadi. Umur. 17 . ß Penurunan kebutuhan kalori diatas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap dekade antara 40 dan 59 tahun. ß Ringan : pegawai kantor. atau bagi mereka yang berumur lebih dari 40 tahun. guru. pegawai toko. Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. 1. untuk ini dapat dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/kg BB untuk pria. kebutuhan dinaikkan menjadi 30% dari basal. ß Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anakanak lebih daripada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya.cm – 100) x 1 kg. mahasiswa. sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%. Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori. militer yang sedang tidak perang. ahli hukum. Jenis Kelamin. diatas 70 tahun dikurangi 20%. dan lain-lain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal. Jenis aktifitas dikelompokan sebagai berikut : ß Keadaan istirahat : kebutuhan kalori basal ditambah 10%. dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB. 2. Berat badan ideal = (TB dalam cm – 100) x 1 kg. Jenis aktifitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. ibu rumah tangga. ß Sedang : pegawai di insdustri ringan. ß Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada orang dewasa. Sedangkan menurut Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu berat badan (kg) TB2 sebagai berikut : Berat ideal : BMI 21 untuk wanita BMI 22. Bagi pria dengan tinggi badan dibawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm. 3. Aktifitas Fisik atau Pekerjaan.5 untuk pria.

tukang gali. dalam jumlah terbatas. Untuk perencanaan pola makan sehari. Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikelompokkan berdasarkan kandungan kalori. penari. misalnya pasien dengan diet rendah protein dan yang mendapat makanan cair. protein. kebutuhan ditambah 40%. pasien diberi petunjuk berapa kebutuhan bahan makanan setiap kali makan dalam sehari dalam bentuk Penukar. gula boleh diberikan untuk mencukupi kebutuhan kalori. Penggunaaan gula sedikit dalam bumbu diperbolehkan sehingga memungkinkan pasien dapat makan makanan keluarga. ß Sangat berat : tukang beca. Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/hari dan pada trimester II dan III 350 kalori/hari. militer dalam keadaan latihan. lemak dan hidrat arang. dapat disuusn menu makanan sehari-hari. Gula dan produk-produk lain dari gula dikurangi. Berdasarkan pola makan pasien tersebut dan daftar bahan makanan penukar. Berat Badan. B. ß Berat : petani. Kehamilan/Laktasi. Trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikkan 1 derajat celcius. Penggunaaan gula untuk minuman dapat diberikan sesuai petunjuk bila diperlukan. kebutuhan harus ditambah 50% dari basal. Adanya komplikasi. Bila kegemukan/terlalu kurus. atlit. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama . D. pandai besi. dikurangi/ditambah sekitar 20- 30% bergantung kepada tingkat/kekurusannya. Daftar Makanan Penukar. 5. C. 18 . kecuali pada keadaan tertentu. Gula. 4. Infeksi. Standard Diet Diabetes Mellitus. 6. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari.

ß Golongan 2 : bahan makanan sumber protein hewani. ß Golongan 5 : buah-buahan.Dikelompokkan menjadi 7 kelompok bahan makanan yaitu : ß Golongan 1 : bahan makanan sumber karbohidrat. ß Golongan 4 : sayuran. ß Dolongan 7 : Minyak ß Golongan 8 : makanan tanpa kalori. 19 . ß Golongan 6 : Susu. ß Golongan 3 : bahan makanan sumber protein nabati.

Bajaj. Krall. (1974). DAFTAR PUSTAKA 1.. 5. Sarwono W. Subbag metabolik-Endokrin FKUI & Instansi Gizi RSCM. PERKENI. SB 1989. London Lea & Febiger. LP.. Kartini S. 3. 2. JS (1983). 4. WHO monograph series 61. 1997. Rosa R. Twelfth Edition Philadelpia.. Malnutrition Diabetes-Pre Federation Post Graduate Course on Diabetes Mellitus in General Medicine. Richard. Geneva. Slamet S. “Nutrition and Diabetes” Joslin Diabetes Manual. Bangkok. 1997. Daftar bahan makanan penukar petunjuk praktis sistematik dan lengkap untuk perencanaan makan. WHO. 20 . Konsensus pengelolaan diabetes mellitus di Indonesia. Handbook of human nutritional requirements.